CHENG HOA KIAM : JILID-02


Setelah berkata demikian, untuk membesarkan hati kawan-kawannya Lo Thung Khak lalu memutar-mutar tombaknya dan membentak makhluk di atas genteng itu.

"Siapakah kau?! Manusia atau setan? Ada niat apa datang di sini?!”

Suara pertanyaan ini bergema di tengah malam, keras dan panjang karena Lo Thung Khak menggunakan tenaga khikang-nya. Semua orang berdebar menanti untuk mendengarkan jawaban makhluk yang berdiri tegak tak bergerak di atas wuwungan yang tinggi itu.

Jawaban itu datang dan hanya merupakan suara ketawa bergelak yang panjang menusuk telinga. Suara ketawa itu makin lama semakin meninggi, dan mendadak terdengar suara beberapa orang menjerit kesakitan kemudian roboh seperti orang lumpuh. Mereka adalah orang-orang yang kurang tinggi kepandaiannya sehingga tidak kuat mendengarkan suara ketawa itu lebih lama lagi. Mereka yang lweekang-nya sudah tinggi dapat mengerahkan tenaga dalam untuk menolak pengaruh suara ini dan memperkuat isi dada.

Suara tawa ini bukan lain adalah semacam cara menyerang yang menggunakan getaran suara lweekang untuk merusak telinga serta jantung lawan! Inilah semacam kepandaian berdasarkan lweekang yang tingkatnya sudah tinggi sekali dan akibatnya, ada lima orang pengawal yang roboh dengan jantung pecah dan binasa di tempat pada saat itu juga!

Suara ketawa berhenti dan terdengarlah suara Beng Kun Cinjin yang menggeledek.

"Kawanan, tikus! Siang tadi kalian telah membakar kelenteng dan hampir saja membakar diriku. Hemm, makin didiamkan kalian semakin menjadi-jadi! Sekarang saatnya Beng Kun Cinjin membalas dendam. Bersiaplah untuk mampus sebelum kaisarmu kubinasakan!"

Suara ini demikian berpengaruh dan menakutkan sehingga untuk sejenak semua Kim-i-wi, para siwi dan busu lain, berdiri terpaku dengan muka berubah. Namun keadaan ini hanya sebentar saja karena segera timbul kemarahan mereka.

Mereka terdiri dari orang-orang pilihan, ahli silat tinggi yang kepandaiannya sudah sampai pada tingkat atas. Mereka adalah jagoan-jagoan Bangsa Mongol dan Bangsa Cin, bahkan ada pula Bangsa Han yang menjadi kaki tangan pemerintah Boan karena ingin menikmati kemuliaan duniawi.

Lo Thung Khak juga marah sekali. Dia menuding dengan tombaknya sambil memaki.

"Bangsat gundul yang sombong! Siapa takut mendengar obrolan kosongmu?" Sekali dia menggerakkan kedua kaki, dia sudah melompat naik ke atas genteng, diikuti oleh belasan orang Kim-i-wi yang tingkat kepandaiannya sudah tinggi.

Gerakan mereka ini demikian ringan hingga kaki mereka tidak mengeluarkan suara ketika mereka tiba di atas genteng, tanda bahwa ginkang mereka sudah sempurna. Kemudian mereka berlompat-lompatan semakin tinggi untuk mendatangi hwesio yang berdiri tegak di atas wuwungan itu.

Beng Kun Cinjin hanya berdiri tegak, sambil tertawa-tawa dan kedua tangannya bertolak pinggang. Dia menunggu sampai belasan orang lawannya itu tiba di atas wuwungan, lalu secara mendadak melakukan pukulan dengan kedua tangannya. Dua lengan tangan yang kuat dan berotot ini digerakkan ke depan bertubi-tubi seperti orang mendorong.

Belasan orang Kim-i-wi itu berpencar dan menghadapi pukulan jarak jauh ini dengan sikap masing-masing, tergantung tingkat ilmu silat mereka. Ada yang merendahkan tubuh dan memasang kuda-kuda sambil mengerahkan lweekang, ada yang melompat tinggi sekali untuk menghindarkan diri, bahkan ada pula yang melakukan gerakan menangkis dengan pengerahan tenaga lweekang.

Hanya dua orang yang terpelanting roboh karena tidak dapat menahan gelombang hawa pukulan yang dilancarkan oleh Beng Kun Cinjin. Tapi yang dua ini pun hanya terpelanting karena kuda-kudanya tergempur, sama sekali tidak menderita luka.

Beng Kun Cinjin maklum bahwa kali ini dia sedang menghadapi lawan-lawan yang berat, jauh bedanya dengan pasukan yang siang tadi menyerbunya di dalam Kelenteng Kwan-te-bio. Oleh karena itu dia pun tidak mau membuang waktu sia-sia dan cepat melompat lalu menyambut mereka dengan ilmu pukulan tangan kosong yang luar biasa hebatnya.

Ilmu silat ini dilakukan dengan gerakan yang lambat dan kelihatannya perlahan saja. Akan tetapi oleh karena penggunaannya didasarkan pada tenaga lweekang dan sinkang, maka setiap senjata lawan yang datang menyambar selalu tertolak oleh hawa pukulan ini dan terpental sebelum mengenai tubuh Beng Kun Cinjin.

Hwesio yang kini menjadi hitam seluruhnya ini memang seorang yang sakti. Ilmu pukulan jarak jauh yang tak sembarang orang sanggup menerima adalah ilmu pukulan ciptaannya sendiri berdasarkan lweekang yang disebut Lui-kong-jiu (Tangan Sinar Kilat). Ilmu pukulan ini memang amat dahsyat dan kalau menghadapi lawan yang kurang pandai, biar pun ada berapa banyak, dari jarak tiga empat tombak saja Beng Kun Cinjin sanggup memukulnya roboh dan tewas atau setidaknya terluka hebat di bagian dalam tubuh.

Selain ilmu pukulan jarak jauh yang sangat dahsyat ini, tentu saja Beng Kun Cinjin masih memiliki banyak sekali macamnya ilmu silat tinggi, tetapi di antaranya yang paling terkenal adalah ilmu silat warisan dari gurunya pertapa di Himalaya itu, yakni Ilmu Silat Pai-in-ciang (Ilmu Silat Pendorong Awan).

Ilmu ini tidak mengandalkan kecepatan gerakan, melainkan berdasarkan tenaga lweekang yang sudah mendalam. Gerakan-gerakannya lambat saja. tapi biar pun lawan bersenjata, ilmu silat ini dapat dipergunakan untuk menghadapi lawan itu.

Di samping dua macam ilmu silat tangan kosong jarak jauh dan jarak dekat ini, masih ada banyak ilmu silat tangan kosong yang dapat dia mainkan, bahkan hampir seluruh ilmu silat tinggi pernah dilihatnya dan dia dapat mengenal gerakan lawan. Selain ini Beng Kun Cinjin juga pandai mempergunakan delapan belas macam senjata persilatan, biar pun dia iebih suka mempergunakan senjata yang lain dari pada yang lain, yakni tasbehnya!

Dahulu, sebelum menjadi hwesio, dia memang ahli mempergunakan senjata rantai. Akan tetapi setelah dia menjadi hwesio dan setiap hari memegang tasbeh, dia lalu menciptakan ilmu silat dengan tasbeh yang berdasarkan ilmu silat rantai. Demikian lihainya dia dalam menggunakan senjata istimewa ini sehingga di bagian depan telah dituturkan bagaimana dengan tasbeh tergantung pada leher dia dapat menangkis serangan tiga macam senjata dengan hanya menggerakkan kepala, dan tasbeh itu bisa menangkis sendiri ke atas!

Terlalu panjang kalau dituturkan tentang semua kepandaian hwesio sakti ini. Pendek kata dia adalah seorang tokoh besar dunia persilatan yang pada masa itu amat jarang bertemu tandingannya.

Demikianlah, sesudah Beng Kun Cinjin menyerang, meski dia dikeroyok oleh empat belas orang Kim-i-wi yang berkepandaian sangat tinggi, dalam sepuluh jurus dia sudah berhasil menendang dua orang busu sampai terlempar dari atas wuwungan dan binasa pada saat itu juga! Pertempuran berlangsung semakin ramai dan kini yang naik ke atas wuwungan tidak kurang dari tiga puluh orang pengawal kaisar yang lihai!

Belasan jurus berlalu dan keadaan di atas istana itu ramai bukan kepalang. Suara orang bertempur seakan-akan merupakan pertempuran besar-besaran, padahal pertempuran itu hanyalah seorang hwesio yang dikeroyok oleh para busu dan Kim-i-wi.

Gerakan para pengawal itu ribut dan cepat, sebaliknya Beng Kun Cinjin bergerak lambat dan tenang. Akan tetapi, sesudah lewat belasan jurus, kembali ada tiga orang busu yang terlempar, seorang dengan kepala pecah dan dua orang dengan tulang-tulang iga patah-patah terkena hantaman tangan Beng Kun Cinjin yang kerasnya melebihi besi!

Akan tetapi sekarang para pengawal yang tingkatnya tinggi dan boleh dibilang menduduki tingkat pertama dan ke dua, juga telah naik ke wuwungan lalu ikut mengeroyok. Beng Kun Cinjin kewalahan menghadapi puluhan orang busu, apa lagi dia harus menghadapi banyak lawan di atas wuwungan yang tidak rata dan licin sedangkan keadaan mulai gelap, maka sambil tertawa bergelak dia lalu melayang turun ke bawah.

Sambil berteriak-teriak Lo Thung Khak beserta kawan-kawannya juga ikut melompat turun mengejar. Lo Thung Khak lebih cepat dari kawan-kawannya, maka dialah orang pertama yang menghadapi Beng Kun Cinjin dan inilah kesalahannya.

Dengan bantuan kawan-kawannya, Panglima Kim-i-wi ini masih dapat mengimbangi Beng Kun Cinjin. Akan tetapi ketika kini berhadapan satu lawan satu, dia seperti murid bertemu gurunya. Sekali saja Beng Kun Cinjin menggerakkan kedua tangan menyerang, meski pun Lo Thung Khak memutar tombaknya, tetap saja dia terdorong ke belakang kemudian jatuh terjengkang. Kalau saja para Kim-i-wi yang lain tidak keburu datang, nyawanya tentu akan melayang karena Beng Kun Cinjin sudah melompat maju untuk memukulnya lagi.

Begitu melihat Lo Thung Khak roboh, mereka segera maju mengeroyok sehingga hwesio itu dihujani senjata. Terpaksa Beng Kun Cinjin membatalkan niatnya membunuh Lo Thung Khak, lantas dengan tenang dia memutar kedua lengannya menghadapi keroyokan para Kim-i-wi.

Lo Thung Khak merayap bangun, dadanya terasa sakit dan ketika dia membuka bajunya, dada itu matang biru tanda telah terluka. Panglima ini tidak berani maju lagi dan terpaksa ia berlari ke tempat canang bahaya digantung, kemudian memukul canang itu bertalu-talu untuk memberi tahu kepada kawan-kawan lain dan seisi istana bahwa ada bahaya besar mengancam!

Karuan saja semua penghuni istana menjadi gempar dan menyangka bahwa ada pasukan musuh menyerbu istana. Jika mereka tahu bahwa yang datang menyerbu hanya seorang hwesio, tentu mereka ini akan terheran-heran dan tidak percaya.

Kembali dalam waktu pendek saja Beng Kun Cinjin telah berhasil merobohkan lima orang pengeroyok, bahkan dia mulai mendesak belasan yang lain. Sesudah hwesio itu turun di atas lantai dan tersorot sinar penerangan yang bergantungan di ruangan itu, kelihatanlah keadaannya dengan nyata.

Benar-benar hwesio sakti yang aneh. Pakaiannya compang-camping dan bekas terbakar, akan terapi kulitnya hanya berubah hitam seperti pantat kuali dan tak terluka sama sekali. Biasanya kulit manusia akan melepuh dan terluka kalau terkena api, akan tetapi hwesio ini hanya hangus saja!

Kembali terdengar jerit mengerikan ketika dua orang Kim-i-wi terpelanting dengan kepala pecah akibat terkena hantaman tasbeh! Kini Beng Kun Cinjin yang sudah mulai marah itu memegang tasbehnya, senjatanya yang amat hebat. Dan gerakan pertama dari tasbeh itu langsung berhasil menghancurkan kepala dua orang Kim-i-wi.

Biar pun jumlah para pengawal itu makin bertambah, namun mereka menjadi gentar juga melihat kedahsyatan hwesio ini. Maka mereka hanya berani menyerang dengan hati-hati sekali dan selalu siap sedia untuk menjauhkan diri apa bila senjata hwesio menyambar.

Oleh karena itu keadaan Beng Kun Cinjin kini seperti seekor harimau terjebak, terkurung di tengah-tengah tanpa ada yang berani menyerang terlampau dekat, hanya mengganggu saja dengan gertakan dan serangan jarak jauh.

"Tikus-tikus tiada guna, hayo maju kalau kalian berani! Kalau takut mundur saja, biar aku bisa segera mencari dan membunuh kaisarmu!" seru Beng Kun Cinjin dengan mata yang terbelalak, sikapnya semakin liar menakutkan.

Tiba-tiba saja berkelebat dua buah senjata gembolan yang digerakkan demikian kerasnya hingga mengeluarkan angin. Sepasang gembolan itu menyambar ke arah tubuh Beng Kun Cinjin dibarengi dengan suara menggereng dari pemegangnya.

Beng Kun Cinjin mengeluarkan suara ketawa mengejek dan tasbehnya menyambar cepat sekali melebihi cepatnya kedatangan gembolan, dan tasbeh ini sudah menyambar ke arah sepasang lengan yang memegang senjata-senjata itu!

"Curang!" bentak orang yang baru datang dan terpaksa cepat menarik kembali sepasang gembolannya karena apa bila dilanjutkan, sebelum sepasang senjatanya mengenai lawan, lebih dulu lengannya akan dihajar oleh tasbeh itu.

Akan tetapi Beng Kun Cinjin luar biasa cepatnya. Tasbehnya sudah menyusul lagi dengan serangan ke arah dada lawan yang baru datang ini. Akan tetapi sepasang gembolan itu pun dengan cepatnya menangkis.

"Trangggg...!"

Beng Kun Cinjin melangkah mundur dan memandang tajam. Ia agak kaget mendapatkan orang yang dapat menangkis tasbehnya. Di hadapannya berdiri seorang bertubuh pendek namun kekar, nampak kuat bukan main, mukanya penuh bulu sehingga kelihatan seperti seekor singa.

Kembali Beng Kun Cinjin terkejut. Biar pun orang ini memakai pakaian sebagai Panglima Kim-i-wi kelas satu, namun dia belum pangling. Apa lagi sepasang gembolan itu dia kenal baik. Orang ini dahulu adalah seorang tokoh kang-ouw di daerah selatan, Hek-mo Sai-ong nama julukannya. Tertawalah Beng Kun Cinjin, karena dahulu Singa Hitam ini pernah satu kali kalah olehnya dalam pertandingan pibu antara orang-orang gagah di selatan.

"Ha-ha-ha, pinceng kira siapa, tak tahunya Hek-mo Sai-ong. Kau juga menjadi pengawal kaisar? Ha-ha-ha!"

Hek-mo Sai-ong tidak menghiraukan ejekan itu, bahkan dia lalu berkata membujuk.

"Beng Kun Cinjin. sesungguhnya akulah orangnya yang mengusulkan kepada Hong-siang (kaisar) agar kau diberi kedudukan di dalam istana untuk menjadi pemimpin para Kim-i-wi, karena aku yakin bahwa engkaulah orangnya yang paling tepat untuk menjadi pembesar seperti itu. Hong-siang bermaksud baik dan apakah gunanya kepandaianmu kalau dalam kesempatan ini kau tidak membantu pemerintah baru mengamankan negara? Marilah kita bicara baik baik. dan aku yang akan mintakan ampun kepada Hong-siang agar kau dapat diterima menjadi pengawal dan hidup mulia di sini."

Beng Kun Cinjin tertawa bergclak. "Setan hitam, kata-katamu mengandung racun jahat. Orang sudah membakar kelenteng dan membuat pinceng hangus seperti ini, mau bicara apa lagi? Akan kubunuh kaisarmu dan akan kubasmi setan-setan macam engkau!"

"Manusia sombong dan kepala batu!” kata Hek-mo Sai-ong sambit memutar gembolannya menyerang.

Dua orang lihai ini segera bertempur dengan hebatnya. Hek-mo Sai-ong adalah Panglima Kim-i-wi yang memimpin para pengawal di dalam istana bagian depan. Dia seorang tokoh kang-ouw di selatan, seorang ahli silat yang mengandalkan tenaga gwakang. Tenaganya besar seperti tenaga gajah dan ilmu silatnya juga cepat dan kuat. Biar pun usianya sudah mendekati lima puluh tahun, namun tenaganya tidak berkurang, bahkan dari latihan yang tekun, tenaga dan kepandaiannya meningkat kalau dibandingkan dengan dahulu ketika ia pernah dikalahkan oleh Beng Kun Cinjin.

Senjata gembolan adalah penggada yang ujungnya besar. Senjata ini berat sekali, maka sekali menyerempet kepala pasti kepala itu akan segera pecah, apa bila mengenai tubuh tentu akan membikin remuk tulang dan membikin hancur kulit daging. Apa lagi kalau yang memainkan senjata ini Hek-mo Sai-ong, bukan main hebatnya. Laksana sepasang garuda hitam yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya, menimbulkan angin yang berbunyi karena meniup-niup keras.

Ia ingin sekali merobohkan hwesio yang pernah mengalahkannya dan sekarang berkepala batu ini, maka serangannya pun bertubi-tubi dan yang dikeluarkan hanya jurus-jurus yang paling berbahaya. Namun dua puluh jurus kemudian dia harus mengaku bahwa selama ini kepandaian Beng Kun Cinjin juga meningkat dan diam-diam Hek-mo Sai-ong mengeluh.

Para pengawal lainnya tidak berani turun tangan membantu karena setiap ahli silat tinggi memang merasa enggan dibantu ketika sedang bertempur. Selain hal ini memalukan juga dapat mengacaukan permainan silatnya sendiri, dapat mengacaukan siasat penyerangan.

Namun jika dilanjutkan Hek-mo Sai-ong pasti akan kalah. Dia sudah sangat terdesak dan hal ini pun dia maklum. Bila dia kalah, kali ini Beng Kun Cinjin takkan mengampuninya seperti dulu ketika bertanding dalam pibu. Sekarang ini kalah berarti binasa. Tapi Hek-mo Sai-ong merasa malu untuk minta bantuan!

Sambil mengeluarkan gerengan keras tiba-tiba Hek-mo Sai-ong mengayun gembolannya yang kanan menyerang ke arah kepala, yang kiri mengikuti gerakan pertama dan hendak menyusulkan serangan ke dua apa bila serangan pertama gagal. Dia menggunakan gerak tipu Ji-sai-chio-cu (Dua Singa Berebut Mustika), sebuah serangan yang amat berbahaya.

Bagi seorang yang kepandaian ilmu silatnya sudah tinggi, serangan gembolan kanan yang menyambar ke arah kepala itu memang tidak begitu berbahaya. Akan tetapi orang harus berhati-hati terhadap gembolan kiri yang kelihatannya diam saja itu, karena ke mana pun juga lawan mengelak dari gembolan kanan, akan segera disambut oleh gembolan kiri!

Tetapi Beng Kun Cinjin bukan seorang luar biasa bila tidak mengenal siasat pancingan ini. Sambil tersenyum mengejek tasbehnya bergerak cepat membelit ujung gembolan kanan dan sambil membetot tasbehnya sehingga lawannya tertarik dan kuda-kudanya miring, dia segera mengirim pukulan Pai-in-ciang dengan tangan kirinya ke arah tangan lawan yang memegang gembolan kiri.

Hek-mo Sai-ong mengeluarkan teriakan keras dan kedua gembolannya telah terlepas dari pegangan. Ia sendiri lalu menjatuhkan diri bergulingan sambil kedua tangannya diayun ke depan. Empat butir pelor batu melayang ke arah empat bagian jalan darah di tubuh Beng Kun Cinjin yang berbahaya.

Inilah keistimewaan dari Hek-mo Sai-ong. Sering kali serangan terakhir pada saat ia amat terdesak ini bisa merubah kedudukan sehingga lawannya berhasil dikalahkan. Akan tetapi kali ini serangannya yang dilakukan secara menggelap dan mendadak itu hanya berhasil menyelamatkan dirinya saja akan tetapi sama sekali tidak berhasil merobohkan lawan.

Dengan dua gembolan rampasannya Beng Kun Cinjin memukul runtuh empat pelor batu itu. kemudian sambil tertawa mengejek dia mengangkat dua gembolan lalu mengadu dua senjata itu dengan keras sekali satu kepada yang lain. Terdengar suara keras sekali dan sepasang gembolan itu pecah berkeping-keping!

Hek-mo Sai-ong boleh menghela napas panjang dan lega karena dia sudah terbebas dari maut. Kini seorang tinggi kurus bermuka hijau yang memegang senjata aneh sekali berdiri menggantikannya menghadapi Beng Kun Cinjin. Hek-mo Sai ong nampak girang melihat munculnya sahabatnya ini.

Melihat muka dan sikapnya, mudah diduga bahwa si tinggi kurus ini seorang Mongol asli. Orangnya kelihatan lemah, mukanya kehijauan, tapi dia adalah seorang ahli lweekeh yang disegani di Mongolia. Namanya Tagudai dan sesudah berada di kota raja, para pengawal lain yang berlidah Tionghoa menyebutnya Ta Gu Thai.

Sepasang senjatanya sungguh istimewa, merupakan lingkaran golok atau pisau sebanyak tujuh batang yang gagangnya disambungkan menjadi satu pada sebuah gelang sehingga merupakan roda dari golok dengan runcingnya menghadap ke luar. Ta Gu Thai memegang sepasang roda golok ini di tengah-tengah, yakni gelangan yang ditancapi gagang golok-golok kecil itu. Selain aneh, juga senjata ini nampak mengerikan sekali berkilauan terkena cahaya lampu saking tajamnya golok-golok kecil itu.

Berbeda dengan kedudukan Hek-mo Sai-ong sebagai komandan Kim-i-wi tingkat satu di bagian depan, adalah Ta Gu Thal ini komandan Kim-i-wi tingkat satu di bagian dalam, jadi boleh dibilang bahwa dialah sesungguhnya pengawal pribadi kaisar! Dibandingkan dengan Hek-mo Sai-ong, tingkat kepandaiannya seimbang hanya bedanya kalau Hek-mo Sai-ong adalah ahli gwakang sebaliknya Ta Gu Thai ini seorang ahli lweekang.

Akan tetapi mengingat bahwa senjata dari Ta Gu Thai lebih aneh dan ilmu silatnya adalah ilmu silat Mongolia asli, maka bagi seorang ahli silat Tiongkok, Ta Gu Thai terhitung lebih ‘berat’ untuk dilawan.

Ta Gu Thai menghadapi Beng Kun Cinjin dengan mata bersinar-sinar, katanya mencela. "Beng Kun Cinjin, kau benar-benar tidak mengenal kemuliaan hati Hong-siang yang sudah bermaksud baik padamu."

"Maksud baik? Apakah membakar kelenteng dan niat membakar aku hidup-hidup itu kau katakan dia bermaksud baik?” Beng Kun Cinjin tersenyum sindir. "Aku hendak membunuh kaisarmu itu!"

"Hmm, enak saja kau bicara. Aku adalah Ta Gu Thai, aku yang menjadi pengawal pribadi kaisar. Sebelum putus leherku bagaimana kau bisa bicara tentang niatmu yang jahat itu?"

"Kalau begitu mampuslah!" Dengan marah sekali Beng Kun Cinjin lalu menyerang dengan tasbehnya, serangannya keras dan cepat sekali.

Ta Gu Thai memutar roda golok sebelah kiri dan menangkis. Terdengar suara keras dan bunga api berpijar pada saat dua senjata ini bertemu. Beng Kun Cinjin merasa tangannya tergetar, maka maklumlah dia bahwa lawannya adalah seorang ahli lweekeh yang tenaga lweekang-nya tak boleh dipandang ringan dan seimbang dengan tenaganya sendiri.

Dari benturan senjata tadi Ta Gu Thai juga maklum bahwa hwesio itu benar-benar kosen seperti yang sering kali dia dengar dari Hek-mo Sai-ong, maka dia tak mau berlaku lambat dan segera dua buah roda goloknya diputar cepat sekali sehingga berubah menjadi kitiran berkilauan yang menyambar-nyambar di atas kepala, turun naik nampak indah kali.

Akan tetapi jangan memandang ringan senjata yang nampak indah ini karena sedikit saja terkena atau tersentuh oleh roda golok yang terputar-putar itu, jangan kata baru anggota tubuh yang terdiri dari kulit daging dan tulang, meski pun senjata baja kalau pemegangnya kurang pandai dapat terbabat putus!

"Bagus, senjata yang baik dan ilmu silat yang lihai!" Beng Kun Cinjin memuji.

Beberapa tahun yang lalu ketika tentara Mongol mulai menyerbu ke selatan, sudah sering kali dia menghadapi perwira-perwira Mongol yang lihai dalam pertempuran. Namun harus diakui bahwa baru ini kali dia menghadapi seorang Panglima Mongol yang selain lihai ilmu silatnya dan besar tenaga lweekang-nya juga memiliki sepasang senjata yang aneh dan tak pernah dilihatnya. Oleh karena itu, untuk belasan jurus lamanya dia hanya menangkis, mengelak dan mempertahankan diri saja, karena dia ingin sekali melihat jelas bagaimana sepasang senjata aneh itu dimainkan lawan.

Akan tetapi dia tidak dapat bertahan terus karena sesungguhnya lawan amat berbahaya. Setelah dua puluh jurus lewat, barulah Beng Kun Cinjin mulai membuat serangan balasan dan sebentar saja ternyata bahwa betapa pun lihai lawannya, hwesio ini tetap saja masih menang satu tingkat. Makin lama Panglima Mongol yang kosen itu semakin terdesak dan gulungan sinar sepasang senjatanya semakin menciut, sebaliknya tasbeh di tangan Beng Kun Cinjin menyambar-nyambar mencari nyawa.

Kalau ketika melawan Beng Kun Cinjin tadi Hek-mo Sai-ong merasa malu untuk meminta bantuan adalah karena dahulu dia adalah seorang tokoh kang-ouw yang kenamaan, dan memang sudah menjadi watak seorang kang-ouw yang gagah untuk pantang mundur dan pantang minta bantuan dalam sebuah pertempuran, apa lagi kalau menghadapi sesama tokoh kang-ouw, namun tidak demikian dengan Ta Gu Thai.

Setelah mengerti bahwa bila pertempuran itu dilanjutkan dia akan kalah, Panglima Mongol itu lantas memberi aba-aba kepada kawan-kawannya. Menyerbulah beberapa orang busu yang tinggi ilmu silatnya, bahkan Hek-mo Sai-ong juga turut menyerbu. Panglima Kim-i-wi ini telah mengambil senjata gembolan baru dan kini dia menyerbu dengan sengitnya.

Sekali ini Beng Kun Cinjin betul-betul terdesak, akan tetapi dia benar-benar hebat sekali. Tidak saja tasbehnya merupakan gulungan sinar putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya sehingga jangankan baru senjata lawan, biar pun dia disiram air hujan pun kiranya takkan basah tubuhnya. Demikian cepatnya tasbeh itu berputar. Dan di samping ini ia pun masih menggerakkan tangan kirinya, membagi-bagikan pukulan jarak jauh dengan Ilmu Silat Lui-kong-jiu.

Beberapa orang busu terpaksa menjauhkan diri karena pukulan ini tidak boleh dipandang ringan. Bahkan dalam sebuah rangsekan hebat, sebuah dari gembolan di tangan Hek-mo Sai-ong kembali pecah terpukul secara telak sekali oleh telapak tangan kiri hwesio itu!

"Hebat..., tapi sayang Beng Kun Cinjin tak mau kami angkat menjadi kepala pengawal...!” tiba-tiba terdengar orang berkata. Suaranya berpengaruh dan nyaring, tanda bahwa yang bicara bukanlah seorang biasa melainkan orang yang mempunyai kepandaian tinggi dan wibawa besar.

Beng Kun Cinjin melirik ke kiri. Dari balik tirai bambu yang amat halus dia melihat seorang laki-laki berdiri tegak menonton pertempuran. Laki-laki ini bertubuh tinggi besar, bersikap gagah sekali dan meski pun sudah tua namun masih kelihatan bertenaga kuat.

Pakaian orang ini bukan main indah dan gagahnya. Mukanya persegi dan gagah seperti muka singa, jenggotnya panjang tetapi teratur rapi, kumisnya tebal, daun telinganya lebar. Sepasang matanya bersinar lembut, akan tetapi mengandung bayangan sifat yang keras hati dan bersemangat! Pakaiannya bersulamkan benang emas dengan lukisan naga dan burung hong.

Hati Beng Kun.Cinjin berdebar. Inilah kaisar, tak salah lagi, pikirnya. Inilah orangnya yang menggerakkan tentara Mongol, yang telah menyerbu tanah airnya dan telah menewaskan laksaan rakyat Tiongkok. Mendadak timbul kebencian besar di dalam dadanya, apa lagi kalau dia mengingat bahwa hampir saja dia mati terbakar di dalam kelenteng.

"Kaisar lalim, kau harus mati lebih dulu!" bentaknya dan secepat kilat tubuhnya melesat ke arah tirai bambu.


Terdengar bunyi nyaring ketika tirai bambu itu pecah dan tanpa memberi kesempatan lagi Beng Kun Cinjin sudah menggerakkan tasbehnya memukul ke arah kepala kaisar!

Akan tetapi ternyata kaisar bukan seorang lemah. Memang siapa yang mengenal Jengis Khan. akan tahu bahwa kaisar ini dahulu adalah seorang pemuda Mongol bernama Temu Cin yang gagah perkasa dan bersemangat baja. Kalau dia bukan seorang luar biasa, tak mungkin dia akan dapat membawa bangsanya yang tadinya dihina kanan dan kiri menjadi bangsa yang kuat dan hebat.

Serangan Beng Kun Cinjin berhasil dielakkannya dengan mudah. Namun sebagai seorang kaisar, tentu saja ia tidak mau melayani hwesio ini dan secepat kilat ia melangkah mundur lalu tiba-tiba saja lenyap dari depan Beng Kun Cinjin!

Hwesio ini tercengang dan tidak percaya jika kaisar dapat menghilang begitu saja seperti setan. Ketika ia melangkah maju. tahulah ia bahwa kaisar telah lari melalui pintu rahasia yang berada tepat di belakang kaisar, terbenam di dalam dinding tembok tebal. Beng Kun Cinjin marah bukan main. Diayunnya tasbeh dan terdengar suara keras dibarengi jebolnya tembok itu!

Sementara itu Ta Gu Thai, Hek-mo Sai-ong bersama kawan-kawannya sudah menyerbu ke dalam ruangan ini dan kembali Beng Kun Cinjin dikeroyok. Akan tetapi setelah melihat kaisar, Beng Kun Cinjin tidak ada nafsu lagi untuk melawan para pengawal. Kini niat satu-satunya hanya mencari dan mendapatkan kaisar untuk dibunuhnya.

Maka sambil memutar tasbeh untuk melindungi dirinya dari serangan lawan dari belakang, dia lalu melompat ke depan, menerjang tembok yang sudah jebol dan cepat mengejar dan mencari kaisar yang sudah tidak kelihatan lagi bayangannya. Gerakannya demikian cepat sehingga sebentar saja dia telah meninggalkan para pengawal, masuk ke sebelah dalam istana yang besar dan luas sekali itu

Dia tiba di ruangan yang amat indah dan berhawa sejuk. Ruangan ini merupakan ruangan terbuka, walau pun di bawahnya berlantai mengkilap dan bersih, akan tetapi atasnya tidak beratap. Di sini penerangan berwarna kehijauan dan hawa bukan main segarnya di tempat ini.

Tiba di tempat yang demikian indah dan sejuk, Beng Kun Cinjin baru merasa betapa lelah tubuhnya. Dia merasa bingung, tidak tahu harus mencari ke mana lagi. Jalan dari ruangan ini begitu banyaknya, lebih dari sepuluh lorong yang menjurus ke ruangan-ruangan lain.

Anehnya, kalau tadi dia dikeroyok oleh banyak pengawal, kini tidak kelihatan seorang pun manusia. Memang ada seorang dua orang lewat di lorong depan, tetapi mereka hanyalah pelayan-pelayan wanita yang membawa teng (lampu), jalannya demikian halus dan lemah lembut. Memang sebuah pantangan besar bagi Beng Kam Cinjin untuk menyerang kaum wanita. Kalau saja terlihat seorang pelayan pria, tentu akan ditangkapnya dan dipaksanya menunjukkan di mana tempat atau kamar dari kaisar.

Selagi dia kebingungan, dia melihat berkelebatnya kaisar di ujung kanan. Cepat dia berlari memasuki lorong itu. Akan tetapi seperti juga tadi, kaisar lantas lenyap begitu saja. Beng Kun Cinjin penasaran dan mengejar terus, akan tetapi lorong itu memutar dan kembali dia tiba di ruang terbuka yang tadi! Beberapa kali dia memasuki lorong-lorong berputar yang ujungnya kembali ke ruangan tadi lagi.

Beng Kun Cinjin semakin bingung. Dia berdiri di tengah ruangan sambil bertolak pinggang, tasbehnya sudah digantungkan lagi di leher. Dia mendongak dan melihat langit biru gelap penuh bintang, pemandangan yang tentu akan menyenangkan hatinya kalau saja dia tidak sedang penasaran dan bernafsu hendak membunuh kaisar.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner