CHENG HOA KIAM : JILID-03


Mendadak dia mendengar suara alat musik khim ditabuh. Alangkah merdu suara itu dan nyata sekali pemainnya seorang ahli. Beng Kun Cinjin merasa bulu tengkuknya berdiri dan sekaligus seluruh perhatiannya tertuju kepada suara itu.

Hm, lagu ‘Mencari kekasih di antara seribu bintang’, lagu yang amat populer semasa dia masih muda dan sebelum bala tentara Mongol menyerbu ke selatan. Bagaimana kini ada orang berani memainkan lagu ini di dalam istana?

Beng Kun Cinjin mendengarkan terus dengan penuh perhatian, sambil kepalanya sedikit dimiringkan seperti biasanya seorang ahli mendengarkan musik kesayangannya.

"Sayang, ibu jari tangan pemain itu kurang bertenaga dalam membunyikan tali terbesar," kata Beng Kun Cinjin perlahan. Namun diam-diam dia mengakui bahwa pemainnya sudah ulung, dan lagu itu dimainkan dengan amat baiknya.

Tiba-tiba terdengar suara nyanyian yang diiringi suara khim itu. Kembali Beng Kun Cinjin merasa punggungnya dingin sekali, tanda bahwa perasaan halusnya tersentuh. Memang inilah lagu kesukaannya di waktu dia masih muda dan dia memang memiliki kelemahan terhadap semua ini.

"Hebat..." keluhnya mendengar suara wanita yang bernyanyi itu.

Beng Kun Cinjin mendengarkan dan sekarang dia berdiri tidak tetap lagi, kedua matanya dipejamkan dan tubuhnya bergoyang-goyang. Dia merasa lemas dan nikmat, dan seluruh perhatiannya tercurah kepada suara nyanyian yang amat merdu itu.

"Seribu bintang di langit gemerlapan
cantik indah membirahikan
akan tetapi dimana dia kekasihku?
Tak kulihat di antara bintang seribu...
seribu bintang cantik nian
namun tiada seperti kekasihku rupawan!
Bagai bulan purnama di antara bintang-bintang
kekasihku dalam hati menjadi penerang!
"

Demikian merdu dan halus suara itu, demikian indah suara khim yang mengiringinya, dan tanpa disadari Beng Kun Cinjin melangkahkan kaki perlahan mendekati tempat dari mana suara itu datang. Hwesio ini segera terkena hikmat, tak sadar akan diri pribadi dan seolah-olah berada di bawah pengaruh gaib, terpesona oleh keindahan yang menyentuh jiwanya.

Beng Kun Cinjin tiba di depan sebuah jendela kamar. Jendela itu tertutup oleh sutera hijau yang bersulam kembang-kembang merah, tersorot lampu dari dalam kamar sehingga dari luar kelihatan amat indahnya. Dari dalam kamar inilah keluarnya suara nyanyian dan khim yang menggetarkan jiwanya.

Beng Kun Cinjin menggerakkan tangan kanan dan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, sutera hijau itu bolong, cukup lebar sehingga pandangan matanya dapat menembus dan melihat keadaan di dalam kamar.

Tiba-tiba saja sepasang mata Beng Kun Cinjin bersinar-sinar, mulutnya tersenyum aneh, keningnya berdenyut dan napasnya seolah menjadi berat. Apa yang dilihatnya di dalam itu membuat dia makin terpesona hingga dia seperti lupa siapa dia dan di mana dia berada, Serasa dalam surga dan berjumpa dengan bidadari.

Di dalam kamar yang perabotnya serba indah dan bersih itu duduk seorang wanita berusia paling banyak dua puluh lima tahun. Cantik rupawan bagaikan mawar merah yang baru mekar. Pakaiannya dari sutera kuning dan biru tipis, gelungnya model puteri istana, agak lepas-lepas dan sedikit rambut berjuntai di depan keningnya. Ia menundukkan muka, jari-jari tangannya bergerak di atas tali-tali khim dan bibirnya bergerak perlahan menyanyi.

Beng Kun Cinjin berdiri bengong. Kalau saja wanita itu tidak menabuh khim, kalau saja si cantik jelita itu tidak bernyanyi pada waktu seperti ini, kiranya hwesio ini tidak akan begitu terpengaruh. Akan tetapi kali ini Beng Kun Cinjin benar-benar lupa diri.

Sepasang matanya bergerak-gerak dari atas ke bawah, dari bibir yang merah mungil itu, yang ketika bernyanyi kadang-kadang terbuka, sedikit memperlihatkan deretan gigi kecil-kecil putih seperti mutiara. Kemudian pandang matanya menurun, ke arah jari-jari tangan yang mungil, halus meruncing, demikian halusnya sehingga seakan-akan tidak bertulang dan kulitnya begitu tipis seakan-akan orang dapat melihat urat-urat merah yang berada di dalamnya.

Ketika masih muda Beng Kun Cinjin memang amat suka akan keindahan, terutama sekali keindahan wajah wanita, juga tentang musik dan nyanyian. Dahulu dia terkenal sebagai pemuda yang suka keluyuran, suka bergaul dengan wanita-wanita penari dan penyanyi, pemuda yang berulang kali bertukar kekasih sehingga dia ditolak ketika melamar seorang gadis pujaan hatinya.

Hal ini membuat ia patah hati dan semenjak itu, setelah ia mendengar penghinaan gadis itu yang mengecapnya sebagai laki-laki hidung belang dan tak tahu malu, Beng Kun Cinjin memperdalam ilmu silatnya hingga akhirnya masuk menjadi hwesio. Ia sudah mengambil keputusan untuk menjauhkan diri dari keduniaan, terutama sekali dari memikirkan wanita cantik dan mendekati musik dan nyanyian.

Sudah berpuluh tahun dia mempertahankan nafsu hatinya yang sering kali timbul. Selama itu dia berhasil mempertahankan keteguhan iman serta batinnya. Namun selama puluhan tahun itu belum pernah ia melihat yang seperti ini, belum pernah ia melihat seorang wanita secantik ini, apa lagi yang pintar menabuh khim dan bernyanyi, nyanyian kesayangannya di waktu muda lagi! Benar-benar hal yang amat luar biasa, mengapa begitu kebetulan?

Beng Kun Cinjin sudah tidak dapat menguasai diri lagi, sudah berada dalam cengkeraman hawa nafsu, berada di bawah pengaruh yang halus memenuhi hati dan pikirannya. Bagai dalam alam mimpi kakinya bergerak menuju ke pintu kamar itu dan di lain saat dia sudah membuka daun pintu lalu melangkah masuk.

"Nona, nyanyianmu merdu sekali." katanya ramah dan kini dia dapat melihat jelas betapa cantik jelitanya wanita itu setelah kini dia mengangkat muka dan memandang kepadanya dengan sepasang mata yang seperti bintang. Mula-mula mata itu seperti orang ketakutan, kemudian menjadi tenang seakan-akan hwesio itu tidak mendatangkan rasa takut lagi, lalu berkatalah si cantik dengan suara halus merdu,

"Suhu membikin aku malu dan kaget saja. Nyanyianku amat buruk dan... siapakah suhu yang gagah perkasa ini? Bagaimana bisa sampai di sini? Apakah suhu seorang pengawal baru?"

Beng Kun Cinjin menggelengkan kepalanya, sepasang matanya masih menatap wanita itu dengan penuh kekaguman.

"Bukan, nona Memang kaisar minta pinceng menjadi koksu atau kepala pengawal di sini, akan tetapi pinceng tidak sudi sehingga timbul pertempuran."

Wanita cantik itu nampak kaget sekali, sepasang mata yang seperti mata burung hong itu terbelalak bening, alisnya yang seperti bulan muda itu berkerut, bibirnya yang kecil merah bergerak dalam seruan kaget.

"Ahh, jadi suhu ini adalah... Beng Kun Cinjin yang datang hendak menghancurkan istana? Aduhh... suhu ampunkanlah jiwaku seorang wanita lemah..."

Serta-merta wanita itu melangkah maju lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Beng Kun Cinjin. Terdengar ia terisak menangis.

Gemetar seluruh tubuh Beng Kun Cinjin. Pria gagah perkasa yang tak keder menghadapi seratus orang musuh tangguh ini, sekarang menjadi lemah lunglai menghadapi seorang wanita cantik jelita yang menangis dan minta ampun di hadapan kakinya. Tercium olehnya keharuman yang luar biasa seperti seribu satu sari bunga semerbak keluar dari wanita di hadapan kakinya itu.

Ia membungkuk kemudian menyentuh sepasang pundak wanita itu, "Berdirilah kau nona, pinceng tak akan mengganggu selembar pun rambut di kepalamu."

Biar pun dia sudah menekan perasaannya, tidak urung suaranya terdengar gemetar dan parau pada saat Beng Kun Cinjin merasa betapa lunak dan halus kulit pundak di bawah pakaian indah itu. Memang alam sudah memberi senjata yang amat ampuh kepada kaum wanita yang dianggap sebagai kaum lemah. Senjata ini adalah sifat-sifatnya yang lemah lembut dan indah, yang cukup kuat untuk merobohkan hati laki-laki yang bagaimana keras dan kuat pun!

"Nona, siapa namamu dan kau berada di istana ini sebagai apakah?”

Wajah yang halus dan manis itu seketika berubah menjadi merah padam. Pertanyaan ini sudah bukan semestinya dan jelas menunjukkan bahwa hwesio tinggi besar dan berkulit hitam hangus di depannya ini sudah roboh betul-betul di bawah pengaruh kecantikannya. Wanita itu lantas tersenyum, tersenyum penuh kemenangan, juga penuh kelembutan dan daya penarik yang makin menggairahkan hati Beng Kun Cinjin.

"Cinjin yang gagah harap tidak memandang rendah kepadaku. Aku baru tiga bulan berada di istana dan mendapat kehormatan menjadi selir ke tujuh belas dari kaisar. Kaisar sangat sayang padaku, tapi sebaliknya aku tidak suka dijadikan selir yang ke sekian banyaknya. Hal ini pun kaisar sudah mengetahui dan beliau berjanji akan menghadiahkan aku kepada seorang yang berjasa besar kelak..."

”Hemm, siapakah namamu, nona?"

"Aku yang buruk dan bodoh bernama Hui Niang dari keluarga Kiu di Tai-goan. Aku sudah mendengar mengenai kegagahan Cinjin yang sakti luar biasa dan... dan aku akan merasa aman sekali apa bila mendapat perlindungan dari orang seperti Cinjin..." Suara Hui Niang turun naik seperti orang bernyanyi merdu.

"Apa maksudmu...?" Beng Kun Cinjin bertanya sambil melangkah dekat.

"Cinjin yang gagah perkasa, jika Hong-siang sudah berkenan mengangkat Cinjin menjadi koksu bukankah itu baik sekali? Cinjin dapat hidup mulia di sini dan aku... tidak perlu lagi aku menanti untuk dihadiahkan kepada orang lain. Aku lebih suka melayani Cinjin selama hidupku, hidup dekat dengan seorang gagah perkasa yang dapat melindungi diriku selama hidup."

Mendengar ucapan yang keluar dari bibir mungil dengan suara merdu merayu ini, apa lagi ditambah dengan semerbak harum yang keluar dari si jelita, jatuhlah hati Beng Kun Cinjin. Lupa dia akan kepalanya yang gundul sebagai tanda bahwa adalah seorang pendeta yang sudah melepaskan semua nafsu keduniawian, lupa dia kepada tasbeh yang tergantung di lehernya sebagai alat memusatkan pikiran dalam berdoa, juga lupa kepada usianya yang sudah tua.

Nafsu membakar dirinya, membuat dia merasa seperti masih muda belia, masih seperti dulu ketika ia bernama Gan Tui, menjadi seorang pemuda pemogoran dan hidung belang. Bagaikan seekor kerbau jinak yang mandah saja dituntun oleh algojo menuju ke tempat penyembelihan, kini ia mandah saja dituntun oleh nafsu yang menghancurkan semua sifat kejantanannya!

Pada keesokan harinya, ketika Beng Kun Cinjin bangun dari tidurnya di atas pembaringan dalam kamar yang indah itu, datang pelayan-pelayan wanita yang muda-muda dan cantik-cantik, dengan langkah berlenggang memasuki kamar itu sambil tersenyum-senyum dan membawa segala macam keperluan untuk mandi, berganti pakaian hingga sarapan pagi. Semuanya serba lengkap dan serba indah! Juga para pelayan ini menyebut ‘koksu yang terhormat’ kepada Beng Kun Cinjin.

Beng Kun Cinjin merasa agak malu dengan perbuatannya sendiri, akan tetapi dia maklum bahwa semenjak saat itu dia tak mungkin lagi meninggalkan Hui Niang. Wanita ini benar-benar telah menjatuhkan hatinya dan di dalam dadanya bersemi kembali cinta kasih yang dahulunya hanya dia tujukan kepada gadis yang menolak cintanya.

Cinta kasih yang sebenarnya masih belum mati di dalam kalbunya, yang selama puluhan tahun ini dia tekan-tekan, sekarang bersemi kembali dan cepat berakar kuat, membuat dia menikmati kebahagiaan hidup yang belum pernah ia alami bersama Kiu Hui Niang, wanita cantik jelita itu. Cinta kasihnya terhadap Hui Niang amat besar, mengalahkan rasa segan dan malunya.

Tadinya ia hendak menculik dan membawa pergi Hui Niang, tapi dengan bujuk rayu yang mesra wanita ini menyatakan hendak membunuh diri kalau dibawa keluar istana. Akhirnya Hui Niang berhasil menundukkan hati Beng Kun Cinjin dan berhasil membuat hwesio ini berjanji akan tinggal di situ, dan menerima pangkat yang diberikan oleh kaisar kepadanya!

Beng Kun Cinjin adalah seorang tokoh kang-ouw yang ulung dan sudah kawakan, maka segera dia dapat menindih rasa malu atau segannya. Bahkan dengan wajah gembira dia membiarkan Kiu Hui Niang kekasihnya itu melayaninya, berganti pakaian baru yang serba indah, kemudian menghadapi meja makan untuk sarapan pagi yang serba lezat bersama kekasihnya, dilayani para dayang istana! Seorang aneh seperti Beng Kun Cinjin sebentar saja dapat menyesuaikan diri, bahkan dapat menikmati hidup yang serba mewah ini.

Setelah selesai makan pagi, datanglah seorang pembesar setengah tua yang diikuti oleh perwira-perwira istana yang malam tadi mengeroyoknya. Kedatangan mereka merupakan kunjungan kehormatan dan dari jauh mereka telah tersenyum-senyum sambil mengangkat tangan memberi hormat dan memberi setamat!

Beng Kun Cinjin berdiri dari tempat duduknya dan menunggu mereka dengan senyum di mulut. Ia diam saja, menanti apa yang hendak mereka katakan. Pembesar yang bertubuh kurus tinggi itu maju memberi hormat, dibalas oleh Beng Kun Cinjin.

"Siauwte Hoan Cin Ong mengucapkan selamat kepada koksu baru. Kedatangan siauwte adalah untuk menyampaikan ucapan terima kasih dari Hong-siang (kaisar) atas kerelaan dan kesediaan koksu membantu negara."

Beng Kun Cinjin cepat memberi hormat dan diam-diam dia merasa bangga. Kaisar benar-benar tahu cara memikat hati orang, sampai-sampai dia mengutus Menteri Hoan Cin Ong yang terkenal tinggi kedudukannya itu untuk memberi selamat dan menyampaikan terima kasih kepadanya.

"Ong-ya telah memberi kehormatan besar kepada pinceng dengan kunjungan ini. Hanya sebutan koksu itu membikin pinceng merasa tidak enak dan kurang mengerti," katanya.

Tagudai atau Ta Gu Thai, Panglima Mongol bersenjata roda golok yang semalam sudah bertempur dengan dia, segera maju dan memberi hormat sambil berkata tertawa.

"Beng Kun Cinjin sudah menerima anugerah hong-siang, diangkat menjadi koksu negara, aku yang muda dan bodoh menghaturkan selamat dan aku merasa amat bangga memiliki pemimpin seperti Cinjin yang gagah perkasa."

Beng Kun Cinjin tertawa senang. "Ciangkun terlalu merendahkan diri. Kepandaianmu juga hebat dan untuk masa kini sukar dicari keduanya. Untuk bekerja sama dengan ciangkun, benar-benar merupakan hal yang menggembirakan."

Hoan Cin Ong berkata lagi. "Kalau koksu sudah sempat, siauwte diutus memberi-tahukan bahwa hong-siang telah menanti koksu di ruangan dalam istana."

Dengan tabah Beng Kun Cinjin lalu diiringkan oleh mereka itu menuju ke ruangan sidang di mana dia diperkenankan menghadap kaisar. Kaisar mengucapkan selamat kepadanya dan mengucapkan terima kasih bahwa hwesio kosen ini suka membantu pergerakannya. Dengan manis budi kaisar menghadiahkan Kiu Hui Niang kepadanya.

"Dia anak baik. syukur kalau koksu suka kepadanya. Kalau koksu memerlukan sesuatu. sampaikan saja kepada Hoan Cin Ong, tentu segala keperluan koksu akan tersedia," kata kaisar itu sambil tersenyum.

Beng Kun Cinjin menghaturkan terima kasih dan berjanji akan membantu kaisar. "Hanya satu hal hamba harus memberi-tahu kepada paduka, bahwa dalam pekerjaan ini, hamba hanya sanggup untuk menghalau musuh negara yang bukan bangsa hamba sendiri, juga melindungi paduka dari serangan-serangan gelap. Kalau hamba disuruh untuk membantu menindas bangsa sendiri, maka terpaksa hamba tidak sanggup melakukannya.”

Bagaimana pun juga, hwesio ini ternyata masih ingat dengan kebangsaan dan tidak mau mengkhianati bangsa sendiri! Kaisar Jengis Khan tertawa, biar pun di dalam hatinya agak kecewa.

"Koksu jangan kawatir. Kami pun sudah mempunyai rencana untuk mengundurkan semua pasukan dan akan melakukan gerakan ke barat. Karena itu koksu hanya akan bertemu dengan musuh-musuh asing di dunia barat. Kami tidak akan melanjutkan gerakan kami ke selatan."

Memang pada waktu itu Jengis Khan baru mulai dengan rencananya menyerbu ke barat. Ia sedang menghimpun kekuatan dan mendapatkan seorang pembantu seperti Beng Kun Cinjin benar-benar menyenangkan hatinya karena tenaga hwesio ini merupakan bantuan yang amat berharga dalam menghadapi panglima-panglima musuh yang tangguh.

Kaisar lalu mulai membeberkan rencananya. Setelah menghimpun kekuatan dan memberi waktu kepada bala tentara untuk beristirahat, barulah mereka akan menyerbu ke wilayah barat. Sesudah semua dijelaskan akhirnya Beng Kun Cinjin diperkenankan mundur.

Selama tiga bulan Beng Kun Cinjin hidup bagaikan di dalam surga, penuh kenikmatan dan kemuliaan sehingga tubuhnya menjadi makin gemuk. Kulitnya yang hangus sudah diobati dan mulai menghilang. Dia menjadi lebih terikat oleh Hui Niang dan menjadi lebih bahagia dalam kedudukannya yang baru setelah mendapat kenyataan bahwa ternyata Hui Niang telah mengandung…..!

********************

Peristiwa di atas, yaitu runtuhnya hati Beng Kun Cinjin terhadap kecantikan Kiu Hui Niang sehingga mengakibatkan dia rela menjadi koksu dan menjadi apa yang oleh orang-orang gagah disebut 'anjing Bangsa Mongol’, langsung menggegerkan dunia kang-ouw di daerah selatan.

Nama Beng Kun Cinjin sudah terkenal sebagai seorang gagah yang berjiwa patriot, maka berita bahwa hwesio kosen itu bersedia menjadi kaki tangan kaisar penjajah hanya karena tergila-gila terhadap seorang wanita cantik, benar-benar mendatangkan heboh di kalangan kang-ouw. Banyak orang gagah menjadi marah dan mencaci-maki Beng Kun Cinjin.

Yang paling merasa sedih dan marah di antara semua orang gagah, adalah murid-murid Beng Kun Cinjin sendiri. Beng Kun Cinjin mempunyai tiga orang murid yang ia sayang dan tiga orang ini sudah menjadi pendekar-pendekar yang ternama. Murid pertama dan kedua adalah suami isteri Thio Houw dan Kwee Goat. Murid ketiga adalah adik Kwee Goat yang bernama Kwee Sun Tek.

Thio Houw dan isterinya membuka perusahaan piauwkiok (perusahaan expedisi mengirim barang) dan sudah memiliki seorang anak laki-laki berusia satu tahun lebih. Mereka hidup bahagia dan sering kali pasangan suami isteri pendekar ini mengulurkan tangan menolong orang-orang yang sengsara, baik berupa pertolongan benda mau pun tenaga. Karena itu mereka amat dihormati dan disegani oleh kalangan kang-ouw, bahkan golongan Liok Lim (para perampok) juga tak berani sembarangan mengganggu barang kiriman yang dikawal oleh perusahaan mereka. Tidak saja para penjahat segan mengganggu suami isteri yang budiman ini, juga mereka takut akan nama besar Beng Kun Cinjin, guru dari suami isteri itu.

Walau pun sudah berusia hampir tiga puluh tahun, Kwee Sun Tek masih tetap jejaka. Dia membujang dan merantau ke mana saja untuk meluaskan pengalaman. Pendekar muda ini juga banyak menumpas kejahatan dan menolong orang yang sengsara. Dari tiga orang muridnya ini, Beng Kun Cinjin memperoleh nama harum.

Karena itu betapa kaget hati Kwee Sun Tek ketika dia merantau ke utara dan mendengar tentang keadaan suhu-nya yang telah menikah dengan seorang puteri istana Mongol dan menjadi koksu negara penjajah! Pendekar muda ini membanting-banting kaki, lupa makan lupa tidur memikirkan keadaan gurunya.

Ia merasa malu untuk hidup di dunia kang-ouw, malu karena tingkah laku suhu-nya, yang benar-benar di luar dugaan ini. Selama mengenal suhu-nya, orang tua itu adalah seorang hwesio yang hidup saleh, lantas bagaimana sekarang mendadak menjadi begitu tak tahu malu! Tanpa membuang waktu lagi, Kwee Sun Tek lalu lari menuju ke Shan-tung di mana enci-nya dan iparnya tinggal.

Thio Houw dan isterinya kaget setengah mati mendengar berita yang dibawa oleh Kwee Sun Tek. Thio Houw mengepal-ngepal tinjunya dan Kwee Goat menangis sedih.

"Suhu benar-benar melakukan perbuatan yang aneh Aku hampir tak dapat percaya kalau bukan kau yang membawa berita ini, sute," kata Thio Houw.

"Tadinya aku sendiri pun tak mau percaya, tapi sudah kuselidiki dan memang suhu telah berada di istana. Tadinya suhu sempat melakukan perlawanan, bahkan kelenteng di mana suhu tinggal sudah dibakar habis oleh bala tentara musuh. Kemudian suhu menyerbu ke istana hendak membunuh kaisar. Akan tetapi entah mengapa dan entah apa yang terjadi di sana, tahu-tahu dikabarkan orang bahwa kaisar telah mengangkat seorang koksu baru bernama Beng Kun Cinjin dan koksu itu menikah dengan seorang puteri Istana!"

“Memalukan! Memalukan sekali!" Kwee Goat mengeluh. "Kita harus segera ke sana dan membujuk suhu supaya keluar dari istana!”

"Memang kita harus bertindak. Kalau dibiarkan saja maka nama kita semua akan menjadi busuk." kata Thio Houw. "Akan tetapi kau tinggallah saja di rumah, isteriku, dan menjaga anak kita. Perjalanan ini belum tentu tidak menghadapi bahaya, maka biar aku dan Kwee-sute saja yang pergi."

"Tidak, aku sangat penasaran, jadi aku akan ikut. Aku harus memperingatkan suhu," kata isterinya membantah.

"Sukar juga," kata Kwee Sun Tek. "Cihu juga tahu, biasanya suhu hanya memperhatikan kata-kata enci Goat dan sejak dulu suhu selalu menuruti permintaan enci Goat yang amat disayangi. Memang baiknya enci Goat yang sekarang memperingatkannya, tentu ia akan malu dan akan menurut. Akau tetapi enci mempunyai anak yang baru berusia setahun..."

"Apa salahnya? Liong-ji (anak Liong) sudah besar dan tubuhnya kuat. Lagi pula dengan adanya kita bertiga, dia sudah cukup terlindung. Jika suhu tidak menuruti permohonanku, dengan melihat Liong-ji kiranya hatinya akan tergerak. Urusan ini menyangkut nama baik kita sekeluarga, cukup pantas kalau kita semua berkorban waktu dan tenaga."

Akhirnya berangkatlah ketiga orang murid ini, bersama Thio Pek Liong yang baru berusia satu tahun lebih, ke arah utara, menuju ke kota raja yang belum lama dirampas oleh bala tentara Mongol. Tak sulit bagi mereka untuk menyelidiki keadaan koksu baru dan ternyata memang betul bahwa koksu yang baru diangkat itu adalah guru mereka!

Kepandaian suami isteri Thio Houw dan Kwee Goat sudah mencapai tingkat tinggi sekali karena mereka ini sudah mewarisi tiga perempat bagian dari kepandaian Beng Kun Cinjin. Hanya Kwee Sun Tek yang tingkatnya belum setinggi mereka, karena baru belakangan ia menjadi murid Beng Kun Cinjin. dan sebagian besar kepandaiannya dia dapatkan dari enci dan iparnya.

Karena tak mau membikin malu suhu mereka, maka mereka mengambil keputusan untuk mendatangi Beng Kun Cinjin secara diam-diam dan pada waktu tengah malam. Apa lagi mereka juga harus menanti sampai anak kecil itu tidur, karena tidak mungkin membawa-bawa anak itu ke istana. Mereka bermalam di dalam sebuah kelenteng dan setelah anak itu tidur, Thio Houw lalu menitipkan anaknya kepada hwesio penjaga kelenteng. Sesudah itu mereka bertiga berangkat ke istana.

Kepandaian mereka telah mencapai tingkat tinggi, maka dengan mudah saja tembok yang melingkungi istana mereka lompati dan bagaikan tiga bayangan setan mereka melompat-lompat di atas wuwungan bangunan-bangunan istana itu sambil mencari tempat tinggal Beng Kun Cinjin.

Akan tetapi, seperti sudah diketahui, istana juga mempunyai banyak pengawal yang lihai. Jika para penjaga dan peronda yang terdiri dari tentara biasa tidak bisa melihat masuknya tiga orang pendekar ini, adalah para pengawal istana sudah mengetahui. Maka begitu tiga orang ini melompat turun ke ruangan tengah, mereka langsung terkurung oleh lima orang pengawal yang dikepalai oleh Hek-mo Sai-ong yang telah memegang sepasang gembolan di kedua tangannya.

"Kalian ini orang-orang berani mati, siapakah kalian dan apa maksud kedatangan kalian di sini?!” bentak Hek-mo Sai-ong. tidak berani berlaku terlalu kasar karena dia tadi melihat gerak-gerik tiga orang yang gesit, tanda bahwa yang datang adalah orang-orang berilmu. Apa lagi dia belum tahu apa maksud kedatangan mereka.

Thio Houw bertiga tertegun juga melihat bahwa para pengawal itu ternyata telah bersiap-siap dan tahu mengenai kedatangan mereka. Mereka datang bukan untuk membikin ribut di istana, melainkan untuk membujuk suhu mereka keluar dari situ, maka Thio Houw lalu menjawab singkat,

"Kami datang untuk bertemu dengan suhu Beng Kun Cinjin."

Hek-mo Sai-ong menjadi curiga. Ingin bertemu dengan orang pada waktu tengah malam dan melalui jalan seperti maling, benar-benar tak boleh dipercaya. Tentu mengandung niat buruk.

"Sekarang koksu sedang beristirahat, tidak boleh diganggu. Apa bila ada keperluan, boleh datang menghadap besok. Kenapa mencari koksu pada tengah malam buta?” tegur Hek-mo Sai-ong.

"Mereka tentu bukan orang baik-baik," menyambung seorang pengawal yang tangannya sudah gatal-gatal untuk segera menyerang. Dia memandang ringan kepada tiga orang ini.

Thio Houw berpengawakan tinggi tegap dan gagah, isterinya cantik dan kereng, ada pun Kwee Sun Tek tampan dan agak kurus. Tidak ada yang aneh pada tiga orang yang masih muda ini, maka para pengawal memandang rendah.

Thio Houw tersenyum tenang. “Harap kalian jangan menghalangi kami yang tidak memiliki maksud buruk terhadap istana atau pun kalian. Kami adalah murid-murid Beng Kun Cinjin dan ingin bertemu dan bicara urusan penting dengan suhu."

Mendengar ini Hek-mo Sai-ong dan kawan-kawannya menjadi kaget sekali. Kalau mereka ini murid-murid koksu, tentu saja tidak boleh diperlakukan secara kasar. Akan tetapi tetap saja kedatangan mereka pada tengah malam buta menimbulkan kecurigaan.

Semua orang tahu belaka bahwa sebelum menjadi koksu negara, Beng Kun Cinjin adalah seorang tokoh yang memusuhi bala tentara Mongol. Tentu murid-muridnya juga terhitung musuh mereka. Laginya Beng Kun Cinjin baru saja menjadi koksu, belum memperlihatkan jasa sedikit pun. Bagaimana murid-muridnya bisa dipercaya?

"Ah, jadi samwi ini murid-murid koksu yang terhormat? Maaf kalau kami tidak menyambut secara hormat. Tapi karena kedatangan samwi bukan pada waktu yang tepat, tentu saja tadi kami menjadi curiga. Untuk menghilangkan kecurigaan ini, harap samwi suka datang lagi esok pagi. Kami akan menyambut sebagaimana mestinya dan akan kami sampaikan kunjungan samwi itu kepada koksu," kata Hek-mo Sai-ong dengan ramah, tetapi matanya memandang tajam penuh selidik.

Thio Houw menjadi tidak senang. "Kami berurusan dengan guru sendiri, ada sangkut-paut apakah dengan kalian? Harap kalian menyingkir dan biar kami mencari sendiri dan bicara dengan suhu!"

Hek-mo Sai-ong juga mulai marah. Ia menganggap Thio Houw sombong sekali.

"Biar pun samwi adalah murid-murid koksu. akan tetapi aku dan kawan-kawanku bertugas menjaga keamanan di sini. Tanpa perkenan kami, tidak boleh siapa pun juga berkeliaran di lingkungan istana. Harap samwi keluar dengan baik-baik dari tempat ini, atau terpaksa kami menggunakan kekerasan." Sepasang gembolannya sudah digerak-gerakkan penuh ancaman.

Kwee Sun Tek tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Sungguh tidak dapat ia mengerti bagaimana suhu-nya bisa bekerja sama dengan orang-orang macam ini.

"Cihu, babi macam ini sikat saja sudah!" katanya marah sambil mencabut pedangnya.

Dua orang pengawal mendengar makian pemuda ini, serentak maju sambil menggerakkan tombak mereka untuk menyerang. Tetapi Kwee Sun Tek yang sudah marah sekali cepat memutar pedangnya dengan gerak tipu Giok-tai-wi-yauw (Sabuk Kemala Melilit Pinggang) dan pedangnya dengan cepat sekali berkelebat memutar.

Terdengar suara keras dan dua batang tombak itu terbabat parah, bahkan karena kurang cepat mengelak, salah seorang di antara dua pengawal yang menyerangnya tadi terbabat pula pundaknya hingga terluka parah dan menggelundung pergi. Yang seorang melompat ke belakang dengan muka pucat.

"Ada penjahat! Kepung...! Tangkap...! Bunuh…!" teriak Hek-mo Sai-ong dengan keras dan marah. Sepasang gembolannya menyambar ke depan, ke arah kepala Kwee Sun Tek.

"Plakk!"

Gembolan kiri yang meluncur maju itu tertahan oleh benda keras, membalik dan hampir memukul kepalanya sendiri. Hek-mo Sai-ong kaget bukan kepalang ketika melihat bahwa gembolannya itu tertangkis oleh tongkat pendek di tangan Thio Houw. Tahulah dia bahwa lawannya ini bertenaga besar dan memiliki kepandaian tinggi.

Akibat teriakan Hek-mo Sai-ong, banyak pengawal lari mendatangi. Memang Hek-mo Sai-ong berlaku cerdik dan hati hati. Ia tak mau mengambil resiko dimarahi oleh koksu. maka ia sengaja berteriak ada penjahat agar bila dia dan kawan-kawannya dapat menewaskan tiga orang ini, dia dapat mengambil alasan bahwa tiga orang itu adalah penjahat-penjahat yang hendak mengacau istana!

Pertempuran hebat terjadi di ruangan yang luas itu. Para pengawal datang makin banyak sehingga sebentar saja tiga orang pendekar itu sudah terkepung.

Thio Houw dan Kwee Goat yang bersenjata pedang dikeroyok oleh Hek-mo Sai-ong, Sin-chio Lo Thung Khak dan Ta Gu Thai yang kosen, masih dibantu oleh tiga orang pengawal lain yang memiliki kepandaian tinggi, sedangkan Kwee Sun Tek dikeroyok oleh lima orang pengawal lain.

Akan tetapi karena kepandaian para pengeroyok pemuda ini kurang tinggi, maka dalam dua puluh jurus saja Kwee Sun Tek sudah berhasil merobohkan tiga orang pengeroyok. Pengawal-pengawal lain cepat datang menggantikan mereka yang roboh dan pertempuran berjalan lagi lebih seru.

Sementara itu Thio Houw dan isterinya, meski pun dikepung oleh tiga orang jago istana bersama tiga orang pengawal lainnya, berhasil merobohkan dua orang pengeroyok dan mengamuk terus biar pun mereka kini dikepung sampai rapat betul.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner