CHENG HOA KIAM : JILID-04


Pada saat itu terdengar suara keras berpengaruh.

"Semua orang berhenti bertempur!"

Hek-mo Sai-ong dan kawan-kawannya mengenal suara koksu, juga tiga orang pendekar itu mengenal suara suhu mereka, maka otomatis mereka menarik senjata masing-masing dan melangkah mundur.

Beng Kun Cinjin muncul, tubuhnya semakin gagah, mukanya nampak berseri dan muda, pakaiannya mewah dan kepalanya yang dulu gundul pelontos itu mulai ditumbuhi rambut.

Thio Houw, Kwee Goat dan Kwee Sun Tek hampir tidak mengenal suhu mereka lagi. Akan tetapi begitu Beng Kun Cinjin membuka suara, mereka segera mengenal dan kini mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Beng Kun Cinjin.

"Suhu...!" kata mereka hampir berbareng.

Keadaan sunyi sekali. Para pengawal berdiri laksana patung dengan hati tegang, hendak melihat apa yang selanjutnya akan terjadi antara guru dan ketiga orang muridnya itu. Para korban sudah diangkat pergi.

"Thio Houw, apa maksudmu membawa isteri dan adikmu datang membikin ribut di sini?" terdengar Beng Kun Cinjin berkata dengan nada suara tak senang.

"Suhu, teecu bertiga bermaksud menghadap dan menemui suhu, akan tetapi para srigala utara ini menghalangi maksud teecu sehingga terjadilah pertempuran:" jawab Thio Houw dengan terus terang dan sengaja menyebut para pengawal istana itu ‘srigala utara’ untuk mengingatkan suhu-nya bahwa mereka semua itu adalah penjajah yang harus dimusuhi.

Merah sekali wajah Beng Kun Cinjin, bukan merah karena malu atau merasakan sindiran, melainkan merah karena marah.

"Thio Houw, kau sungguh tidak tahu aturan! Mau menghadap pinceng mengapa datang di tengah malam buta dan membikin kacau? Kenapa tidak pada siang hari dan menghadap secara baik-baik? Benar-benar memalukan pinceng yang menjadi gurunya!"

"Suhu!" Kwee Goat berseru penasaran, "Bagaimana suhu berkata begitu? Teecu bertiga datang untuk mengajak suhu pergi dari sini. Marilah kita basmi srigala-srigala ini sebelum suhu pergi bersama teecu bertiga. Suhu, mereka ini adalah musuh-musuh kita, bukan?"

Beng Kun Cinjin memandang murid perempuannya, murid yang dulu sangat disayangnya seperti kepada anak sendiri.

"Goat-ji. aku mendengar kau sudah menjadi ibu. Mengapa kau tidak tinggal di rumah dan menjaga anakmu? Pulanglah kau bersama suamimu dan adikmu dan jangan mencampuri urusanku."

"Suhu, tidak mungkin teecu bertiga pulang tanpa suhu ikut dengan kami!" kata Kwee Sun Tek bernafsu. "Suhu adalah junjungan kami. Setiap perbuatan suhu langsung ditanggung oleh kami, seperti juga semua perbuatan kami adalah tanggung jawab suhu. Lebih baik kami mati dari pada melihat suhu menjadi kaki tangan penjajah laknat!" Memang Kwee Sun Tek orangnya berdarah panas, maka dia tak dapat menahan kemarahannya melihat sikap suhu-nya yang memalukan itu.

Beng Kun Cinjin mendelikkan matanya. Kwee Goat yang merasa bahwa adiknya sudah bicara keterlaluan, cepat berkata kepada suhu-nya dengan suara membujuk, "Suhu, kalau yang mengikat suhu di sini itu adalah puteri yang menjadi isteri suhu. mari kita mengajak dia pergi dari sarang musuh ini. Apa sukarnya?”

"Tidak bisa... tidak bisa... pinceng sudah banyak menerima budi hong-siang dan pinceng berada di sini hanya untuk melindungi keselamatan hong-siang. Pinceng sama sekali tidak memusuhi bangsa sendiri."

"Suhu. benarkah suhu tidak mau insyaf dan tetap hendak membela kepentingan musuh? Semua orang gagah di dunia kang-ouw akan mengutuk perbuatan suhu dan kami sendiri pasti akan menjadi bahan makian di mana-mana sebagai murid-murid seorang penghianat bangsa!" kata Thio Houw.

"Keparat, tutup mulut!" bentak Beng Kun Cinjin dengan marah sekali.

Pada saat itu pula Ta Gu Thai melangkah maju dan mencoba untuk mencari muka.

"Koksu, murid-murid koksu ini gagah perkasa. Alangkah baiknya kalau mereka juga suka membantu pekerjaan koksu supaya mereka tahu hingga di mana kebijaksanaan junjungan kita dan sampai di mana kebesaran pemerintah yang baru."

Mendengar ini Beng Kun Cinjin mengangguk-angguk. Memang dia pun merasa tidak enak sekali harus bermusuhan dan ribut-ribut dengan murid-muridnya sendiri, "Kau dengar itu, Thio Houw, Goat-ji dan Sun Tek! Ini adalah jalan terbaik bagi kalian. Tinggallah di sini dan bantu pekerjaan pinceng. Di antara, kita tidak semestinya ada pertikaian.”

Mendengar kata-kata ini, bukan main panasnya hati tiga orang pendekar itu. Kalau tadi mereka berlutut, kini serentak ketiganya berdiri tegak.

"Suhu, sekali lagi. Sudah tetapkah pendirian suhu takkan meninggalkan musuh dan tetap menjadi koksu di sini, hidup mewah dan berenang dalam kemuliaan palsu yang diadakan oleh musuh bangsa?” tanya Thio Houw.

"Pinceng telah menentukan jalan hidup sendiri, kalian ini orang-orang muda mau apakah? Apakah pinceng tidak berhak untuk memilih jalan hidup sendiri dan tidak berhak mencari kebahagiaan? Persetan dengan kalian dan pergilah dari sini kalau tidak mau mendengar omonganku!"

"Bagus!" Thio Houw juga membentak marah. "Beng Kun Cinjin, mulai saat ini aku, isteriku Kwee Goat serta adik iparku Kwee Sun Tek sudah bukan murid-muridmu lagi! Kami tidak sudi menjadi murid pengkhianat, dan hal ini akan kami umumkan di dunia kang-ouw. Mulai saat ini tidak ada sangkut-paut lagi antara kau dengan kami, dan kedosaanmu boleh kau tanggung sendiri!"

Kemarahan Beng Kun Cinjin meluap. "Begitukah? Kalau begitu serahkan kembali senjata-senjatamu yang dulu sudah kalian terima dariku!" Tubuhnya bergerak cepat sekali ke arah murid-muridnya.

Thio Houw yang maklum bahwa bekas gurunya itu hendak merampas senjata, menjadi terkejut sekali. Dia berada di dalam goa macan, artinya di dalam tempat musuh, maka jika senjatanya dirampas berarti dia dan isteri serta adiknya akan menghadapi bahaya besar. Maka cepat ia menggerakkan tongkat pendeknya untuk menotok dada bekas gurunya.

Kwee Goat dan Kwee Sun Tek juga maklum akan maksud bekas guru ini, maka mereka tidak mau mengalah mentah-mentah dan segera menggerakkan pedang masing-masing untuk menyerang!

Terjadi pertempuran hebat antara guru dan tiga orang muridnya! Sungguh pun bertangan kosong, dengan mudah saja Beng Kun Cinjin dapat menghindarkan diri dari tiga macam serangan itu. Tetapi murid-muridnya yang selama ini sudah memperoleh kemajuan pesat, cepat menyusul dengan serangan kedua membuat Beng Kun Cinjin kewalahan.

Memang kepandaian Thio Houw dan Kwee Goat sudah tinggi, malah agaknya lebih tinggi dari pada kepandaian para panglima istana. Betapa pun juga, karena semua kepandaian mereka itu asalnya dari Beng Kun Cinjin, maka tentu saja sebentar kemudian Beng Kun Cinjin sudah dapat menguasai keadaan.

Dengan gerak tangan yang sangat gesit dan kuat sekali, hawa pukulan Lui-kong-jiu dapat memukul seluruh serangan mereka, kemudian dengan Ilmu Silat Pai-in-ciang, hwesio itu dapat membuat pertahanan tiga orang muridnya menjadi kalang kabut. Akan tetapi karena bukan maksudnya ingin merobohkan murid-muridnya, hanya hendak merampas senjata, maka tak mudah baginya untuk mencapai maksud hatinya. Apa lagi tiga orang muridnya itu telah maklum akan kehendaknya ini sehingga mempertahankan senjata mereka secara mati-matian.

Dua puluh jurus lewat sudah dan Beng Kun Cinjin menjadi amat marah. Dia merasa malu sampai sekian lama belum dapat berhasil dalam usahanya, di depan mata para panglima. Masa menghadapi murid-muridnya sendiri dia menjadi mati kutu? Dengan gerengan hebat tahu-tahu tasbeh yang dikalungkan di leher telah berada di tangannya.

Thio Hduw, Kwee Goat, dan Kwee Sun Tek kaget bukan main. Betul-betulkah bekas suhu ini sudah demikian rusak moralnya dan hendak membunuh-bunuhi murid sendiri?

Tiga orang murid itu sudah cukup maklum betapa hebat dan lihainya senjata tasbeh guru mereka, yang sepanjang ingatan mereka belum pernah dikalahkan orang. Maka sekarang, melihat suhu mereka menggunakan tasbeh ini, mereka menjadi gentar juga. Akan tetapi karena mereka sudah merasa benci kepada bekas guru yang menyeleweng ini, mereka menjadi nekat dan malah menyerang lebih hebat lagi dari pada tadi.

"Kalian benar-benar berkepala batu!" bentak Beng Kun Cinjin.

Tasbehnya menyambar mengeluarkan angin pukulan yang membuat tiga orang muridnya itu terhuyung ke belakang. Sebelum mereka dapat mencegah, tahu-tahu tasbeh itu sudah membelit tongkat Thio Houw sedangkan tangan kiri hwesio itu sudah menyambar pedang di tangan Kwee Sun Tek. Sekali dia berseru sambil mengerahkan tenaga, dua senjata itu telah dirampasnya!

Thio Houw dan Kwee Sun Tek terkejut bukan main. Mereka hanya memandang dengan mata terbelalak, melihat bagaimana senjata mereka dirampas oleh bekas guru itu. Beng Kun Cinjin tertawa.

"Kalian anak-anak muda benar-benar tidak tahu diri! Disuruh pergi secara baik-baik tidak mau, disuruh tinggal juga tidak mau, sebaliknya menghina dan membikin malu guru. Maka jangan salahkan pinceng apa bila pinceng merampas kembali senjata sebagai hukuman. Hanya pedang Cheng-hoa-kiam yang berada di tangan Goat-ji (anak Goat) tidak pinceng minta kembali, mengingat kebaikan hati serta kebaktian Goat-ji dulu-dulu. Nah, sekarang pergilah kalian!"

Sesudah berkata demikian, sekali berkelebat hwesio itu telah lenyap dari situ, kembali ke kamarnya di mana kekasihnya, Kiu Hui Niang telah menunggunya. Akan tetapi segera dia mengerutkan kening ketika mendengar suara ramai-ramai di luar orang bertempur. Maka tahulah dia bahwa tiga orang muridnya itu berkeras hati dan tidak mau pergi, bahkan kini bertempur lagi melawan para panglima istana.

Sukar baginya untuk mencegah, karena tiga orang muridnya itulah yang sudah membikin rusuh di istana, tentu saja tidak akan dibiarkan pergi begitu saja oleh para pengawal. Apa lagi setelah para pengawal itu mendengar bahwa sekarang tiga orang itu sudah tidak mau mengaku sebagai muridnya, tentu para pengawal tidak segan-segan lagi turun tangan dan tidak sungkan lagi kepadanya yang sekarang sudah bukan guru lagi dari tiga orang itu.

Diam-diam hati Beng Kun Cinjin menjadi tidak enak sekali. Ia cepat menutup semua pintu dan jendela rapat-rapat agar tidak mendengar suara pertempuran di luar dan menghampiri kekasihnya yang sudah menanti di situ.

"Bagaimana, apakah penjahat-penjahat itu sudah kau bekuk?" tanya Kiu Hui Niang yang menyambut kedatangan suaminya dengan muka khawatir, "Aku masih mendengar suara pertempuran di luar."

"Biarlah, senjata-senjata mereka telah kurampas. Para pengawal sudah cukup kuat untuk membereskan mereka," jawab hwesio itu sambil duduk di sebuah bangku dan menghirup habis secawan besar arak wangi.

"Aku mendengar bahwa mereka adalah bekas murid-muridmu, benarkah itu?" tanya Hui Niang, wajahnya yang cantik masih memperlihatkan kekhawatiran.

"Jangan takut, manisku. Tidak baik berkhawatir waktu mengandung. Mereka hanya bekas murid-muridku, bukan apa-apa. Sebentar lagi tentu mereka akan tertawan atau tewas oleh para pengawal."

"Apakah murid-muridmu hanya tiga orang itu saja? Mereka bekerja apa dan bagaimana keadaan mereka?" Hui Niang mendesak sambil mendengarkan suara ribut-ribut di luar.

Beng Kun Cinjin tersenyum, kemudian menarik napas panjang untuk mengusir kenangan-kenangan lama antara guru dan murid-murid yang ketika itu malah mengesalkan hatinya. "Yang dua adalah suami isteri membuka piauw-kiok di selatan, yang seorang adalah adik si isteri. Mereka memang besar kepala dan patut mendapat hukuman."

"Suamiku yang baik, suamiku yang gagah, kenapa tidak kau sendiri keluar menghabiskan nyawa mereka? Aku khawatir kalau-kalau mereka bisa meloloskan diri dari kepungan para pengawal." kata Hui Niang memohon.

Memang diam-diam Beng Kun Cinjin mengharapkan ketiga orang muridnya itu akan dapat meloloskan diri dan pergi dari situ. Bagaimana pun juga dia tidak menghendaki tiga orang muridnya tewas oleh para pengawal.

Ia tadi sengaja merampas senjata Thio Houw dan Kwee Sun Tek karena dia pun maklum bahwa tanpa senjata, mereka pasti tak akan kuat menghadapi para panglima. Yang lihai adalah senjata-senjata mereka yang memang bukan senjata biasa, tetapi senjata-senjata pusaka yang dahulu dia berikan kepada murid-muridnya. Hanya pedang Cheng-hoa-kiam di tangan Kwee Goat yang tidak tega dirampasnya. Dia memberi kesempatan sebesarnya bagi murid perempuan itu untuk meloloskan diri dengan mengandalkan pedangnya.

Selagi di dalam kamarnya Beng Kun Cinjin dibujuk-bujuk oleh isterinya supaya membantu para pengawal, pertempuran di luar berlangsung semakin menghebat. Thio Houw, Kwee Goat dan Kwee Sun Tek bukan saja tidak mempunyai niat untuk meninggalkan tempat itu sebelum melampiaskan kemarahan mereka, juga andai kata mereka ingin pergi melarikan diri, kiranya para pengawal istana takkan mau membiarkan begitu saja. Setelah Beng Kun Cinjin pergi, tanpa diberi komando lagi para pengawal langsung menyerbu dan mengurung mereka.

Walau pun sudah bertangan kosong, Thio Houw dan Kwee Sun Tek tidak merasa gentar. Sambil mengeluarkan suara gerengan hebat keduanya mengamuk seperti dua ekor naga yang sedang marah. Sedangkan Kwee Goat yang masih memegang pedang, juga tidak tinggal diam. Pedangnya berkelebatan mencari korban. Sebentar saja banyak pengawal yang kepandaiannya kurang tinggi sudah roboh menjadi korban tiga orang pendekar yang sedang marah dan mengamuk ini.

Akan tetapi para pengawal itu semakin banyak saja mendatangi tempat pertempuran dan kini yang maju mengeroyok hanyalah pengawal-pengawal kelas satu, dipimpin Sin-chio Lo Thung Khak, Hek-mo Sai-ong, Ta Gu Thai dan tiga orang panglima yang kepandaiannya juga amat tinggi, yang dikenal sebagai tiga saudara Lee yang gagah perkasa.

Menghadapi mereka, barulah Thio Houw dan isteri serta adiknya menjadi terdesak hebat. Thio Houw yang menjadi pusat penyerangan lawan sudah menderita luka di pundaknya, kena sambaran senjata gembolan Hek-mo Sai-ong. Kini dia hanya bisa mempertahankan diri dengan sebelah tangan saja. Juga Kwee Goat dan Kwee Sun Tek sudah lelah sekali, malah Kwee Sun Tek juga mendapat luka ringan pada lengannya, kulitnya robek berdarah karena dia terpaksa menangkis senjata tajam.

Jalan keluar tidak ada lagi, namun menyerah merupakan pantangan besar bagi mereka. Kwee Goat insyaf benar akan hal ini karena dia sudah terluka dan dia sendiri sudah tidak bertenaga, maka maklumlah nyonya ini nasib apa yang akan menimpa keluarganya. Dia lalu teringat akan puteranya yang dititipkan di kelenteng, maka tiba-tiba dia menyerahkan pedangnya kepada Kwee Sun Tek sambil berbisik.

"Adikku yang baik, lekas kau lari dan selamatkan keponakanmu!"


Sun Tek kaget bukan main. Mana bisa dia meninggalkan enci dan iparnya tewas di situ tanpa membantu sampai titik darah penghabisan?

"Kau saja yang lari, cici. Wi Liong perlu dengan ibunya, biar aku yang mempertahankan di samping cihu," jawab pemuda itu dengan suara tetap.

"Bodoh, kalau cihu-mu tewas apa kau sangka aku masih suka hidup? Suami isteri tewas berbareng adalah hal yang baik sekali. Kau rawat Wi Liong dan berikan Cheng-hoa-kiam ini padanya. Biar kelak dia yang membasmi penghianat Beng Kun Cinjin dari muka bumi!"

Sun Tek tidak dapat menolak lagi. Pedang sudah diberikan di tangannya, sedangkan para pengeroyok juga telah mendesak, maka terpaksa ia menggunakan pedang cici-nya untuk membabat dan berhasil melukai seorang pengawal.

Cici-nya telah terjun lagi ke dalam pertempuran, bahu-membahu dengan suaminya hanya dengan mempergunakan Ilmu Silat Pai-in-ciang untuk melawan sekian banyaknya musuh yang bersenjata tajam.

Sun Tek maklum bahwa salah seorang di antara mereka harus hidup dan dapat melarikan diri untuk merawat Wi Liong keponakannya itu. Melihat keadaan Thio Houw dan isterinya, dia maklum bahwa memang tak mungkin memisahkan mereka. Dia cukup maklum betapa besar cinta kasih cici-nya terhadap suaminya dan tentu saja kakak perempuannya itu rela tewas di samping suaminya.

"Baiklah, enci Goat dan cihu, aku akan merawat Liong-ji. Selamat berpisah!" kata Sun Tek dengan mata basah karena tanpa tertahankan lagi air matanya membasahi matanya. Dia memutar pedangnya dan mencari jalan keluar.

Para pengawal tentu saja tidak mau membiarkan dia pergi, maka cepat dia dikurung. Thio Houw dan isterinya yang menggantungkan harapan kepada Sun Tek untuk merawat anak mereka, langsung menubruk maju lantas menyerang para pengawal dengan mati-matian. Mereka tidak mempedulikan nyawa sendiri agar Sun Tek dapat bebas dan dapat merawat hidup Liong-ji mereka.

Karena gerakan mereka yang terlalu nekat untuk menolong Sun Tek ini, dalam sekejap saja mereka menjadi korban senjata para pengeroyok. Thio Houw roboh karena pukulan gembolan di tangan Hek-mo Sai-ong pada kepalanya, ada pun Kwee Goat roboh terkena bacokan golok pada punggungnya.

"Adikku, rawat Liong-ji baik-baik..."

Kwee Goat masih sempat bersuara sebelum nyawanya melayang meninggalkan raganya.

Melihat cici dan cihu-nya roboh, mana bisa Kwee Sun Tek pergi begitu saja? Tadinya dia telah berusaha membuka jalan keluar, akan tetapi melihat keadaan kakak perempuan dan iparnya, sambil berseru marah dia menerjang kembali, dalam kekalapannya merobohkan dua orang pengeroyok dengan pedangnya.

Akan tetapi segera ia dikurung rapat dan hanya bisa memutar pedang melindungi diri saja dari pada hujan senjata itu. Keadaan Kwee Sun Tek sudah sangat berbahaya dan dapat diramalkan bahwa tak lama kemudian dia pun tentu akan roboh seperti kakak perempuan dan iparnya yang sudah tewas. Akan tamatkah riwayat tiga orang pendekar murid Beng Kun Cinjin itu secara demikian mengecewakan?

Tiba-tiba terdengar seruan Beng Kun Cinjin dari dalam kamarnya.

"Yang lain-lain boleh bunuh, akan tetapi yang memegang pedang Cheng-hoa-kiam harus dibiarkan pergi!"

Suara hwesio ini berpengaruh sekali sehingga tak ada seorang pun pengawal yang berani membantah. Apa lagi mereka telah berhasil menewaskan dua orang musuh, hal itu sudah cukup meredakan kemarahan mereka biar pun di fihak mereka ada enam orang pengawal yang roboh tewas dalam pertempuran itu dan ada lima orang lain yang terluka! Kurungan terhadap Kwee Sun Tek dibuka dan tak seorang pun pengawal menyerang pemuda ini.

Kwee Sun Tek tidak tahu mengapa gurunya membiarkan dia terbebas, akan tetapi ia tidak pergi sebelum menyambar tubuh clci dan cihu-nya lalu dengan sedih ia memanggul kedua mayat itu dan berlari keluar dari lingkungan istana.

Setelah pertempuran berhenti dan di luar sunyi, barulah Beng Kun Cinjin mau keluar dan mendengarkan laporan para pengawal tentang pertempuran itu. Biar pun mukanya tidak memperlihatkan sedikit pun perasaan ketika mendengar laporan itu, tapi di dalam hatinya Beng Kun Cinjin terkejut setengah mati ketika mendapat laporan bahwa Kwee Goat juga tewas dan yang dapat membebaskan diri adalah Kwee Sun Tek!

Ketika dia memberi perintah dari dalam kamarnya untuk melepaskan pemegang pedang Cheng-hoa-kiam, ia bermaksud untuk mengampuni dan melepas murid perempuan yang ia sayang itu agar dapat pergi dan merawat anak tunggalnya. Siapa duga bahwa ternyata nyonya muda itu telah memberikan pedang kepada adiknya sehingga dengan demikian ia bersama suaminya yang tewas dan Kwee Sun Tek dapat menyelamatkan diri.

Beng Kun Cinjin maklum akan watak Kwee Sun Tek yang keras, dan tahu pula bahwa di antara ketiga muridnya itu, Kwee Sun Tek yang paling bersemangat dalam membela nusa bangsa, paling patriotik. Oleh karena itu, tentu dari fihak Kwee Sun Tek ia akan mendapat permusuhan yang tidak kunjung padam. Apa lagi kalau putera Kwee Goat itu dirawat oleh Kwee Sun Tek, tentu kelak akan menambahkan musuh saja.

Akan tetapi semua ini hanya disimpan di dalam hatinya sendiri saja dan dia tidak berkata sesuatu kepada para pengawal, melainkan menyuruh mereka merawat mereka yang luka dan mengurus mereka yang tewas. Juga tidak lupa dia membagi-bagi hadiah, baik kepada para pengawal mau pun kepada para keluarga pengawal yang tewas.

Kiu Hui Niang dapat melihat kemasgulan hati suaminya. Ia lalu mendesak.

"Mengapa kau tampak berduka? Apakah kau bersedih bagi kematian murid-muridmu yang murtad terhadapmu itu?”

Beng Kun Cinjin menggeleng kepala dan sedianya dia tak mau bercerita. Namun isterinya terus mendesak dan karena hwesio ini memang sudah bertekuk lutut terhadap kecantikan Hui Niang, maka akhirnya dia pun mengaku bahwa dibebaskannya Kwee Sun Tek yang akan merawat putera Kwee Goat mendatangkan kecemasan baginya.

"Aah, mengapa kau begitu bodoh? Dia baru malam tadi pergi, membawa dua mayat pula. Mana dia bisa pergi jauh? Suamiku, ingat bahwa dia itu kelak akan menjadi musuh besar. Apa lagi bocah yang dia rawat, tentu kelak akan menjadi rintangan hidup kita saja. Andai kata bocah itu kelak tidak dapat bertemu denganmu, engkau harus ingat akan anak yang kukandung, anakmu. Apakah penghidupan anakmu ini akan menjadi aman tenteram kalau kita mempunyai musuh besar? Sebelum terlambat, dan sebelum mereka pergi jauh, lebih baik kau lekas menyusul dan membunuh mereka paman dan keponakan itu."

"Itu terlalu kejam...," keluh Beng Kun Cinjin,

"Mana bisa disebut kejam? Ini demi menyelamatkan penghidupan anak kita sendiri kelak. Lagi pula, apa bila anak itu dibiarkan hidup, bukankah dia akan hidup sebagai anak yatim piatu dan malah menjadi terlantar? Lebih baik dia disuruh menyusul ayah bundanya."

Seperti biasa, luluh hati Beng Kun Cinjin oleh bujukan isterinya, apa lagi ketika Hui Niang menangis terisak-isak karena amat gelisah memikirkan nasib anaknya yang masih dalam kandungan itu. Selain tergerak oleh bujukan isterinya yang cantik jelita, Beng Kun Cinjin juga menganggap bahwa sekali ini isterinya bicara betul. Dia bisa membayangkan betapa anak Kwee Goat itu kelak tentu akan berusaha untuk membalas dendam, kalau tidak bisa kepadanya tentu kepada anaknya.

Berangkatlah Beng Kun Cinjin siang hari itu. keluar dari gedungnya untuk mengejar Kwee Sun Tek! Karena urusan ini lebih bersifat urusan pribadi, maka ia tidak memberi-tahu para pengawal, pula dia anggap urusan mudah untuk mengejar dan membinasakan muridnya itu.

Ada pun Kwee Sun Tek sudah berhasil keluar dari istana sambil membawa jenazah cici dan cihu-nya, dengan bercucuran air mata terus-menerus. Atas bantuan hwesio penjaga kelenteng, dengan hati hancur dia menguburkan jenazah-jenazah itu di halaman belakang kelenteng dan menyembahyangi. Thio Wi Liong, bocah yang baru berusia satu tahun dan tidak tahu apa-apa itu, juga dia pondong dan dia bawa bersembahyang di depan kuburan yang baru dari ayah bundanya.

"Wi Liong, barlah aku mewakili kau bersumpah kepada arwah ayah bundamu bahwa kelak bila mana kita sudah kuat, kita berdua akan mencari jahanam keji penghianat bangsa itu dan akan mencabut keluar jantungnya untuk dipakai bersembahyang di hadapan kuburan-kuburan ini. Cheng-hoa-kiam inilah yang akan mendodet perutnya dan mencabut keluar jantungnya." Dengan wajah menyeramkan Kwee Sun Tek mencabut pedang Cheng-hoa-kiam. Wi Liong menangis ketika melihat wajah pamannya ini.

Hwesio penjaga kelenteng menjadi ketakutan, apa lagi dia tahu bahwa yang dimaki-maki adalah koksu yang baru.

"Sicu, pinceng harap sicu cepat-cepat meninggalkan kota raja. Tentu sicu maklum bahwa pinceng yang sudah tua dan tidak mau tersangkut urusan keduniaan lagi, merasa gelisah kalau-kalau terjadi sesuatu di kelenteng ini."

Kwee Sun Tek maklum akan perasaan takut hwesio tua itu, maka ia cepat menghaturkan terima kasih, lalu mengumpulkan pakaian Wi Liong dan sambil memondong anak cici-nya itu, dia berangkat keluar dari kota raja dengan cepat. Ketika itu matahari telah naik tinggi dan perasaan Kwee Sun Tek menjadi lega karena tidak menemui rintangan ketika melalui pintu gerbang kota raja.

"Aku harus membawa Liong-ji sejauh mungkin," pikirnya. "Aku harus dapat mencarikan guru yang sakti untuk anak ini."

Tapi diam-diam ia meragukan sendiri apakah ia dan keponakannya ini ada harapan untuk membatas dendam kepada seorang yang ilmunya demikian tinggi seperti bekas gurunya. Beng Kun Cinjin! Karena masih khawatir kalau-kalau Beng Kun Cinjin atau para pengawal Istana akan mengejarnya, Sun Tek lalu melakukan perjalanan cepat sekali, mengerahkan tenaganya dan berlari cepat melalui pintu gerbang sebelah selatan.

Dia tidak tahu bahwa setelah dia meninggalkan pintu gerbang itu kurang lebih sepuluh lie jauhnya, Beng Kun Cinjin juga tiba di pintu gerbang selatan. Dia segera disambut dengan penghormatan oleh penjaga pintu.

"Apakah tadi pagi kau melihat seorang lelaki memondong seorang anak kecil lewat keluar pintu gerbang ini?” tanya Beng Kun Cinjin tanpa membalas penghormatan penjaga itu.

“Ada, koksu, ada! Tadi memang ada seorang pemuda yang tampak gagah, di pinggangnya tergantung pedang dan dia memondong seorang anak laki-laki berusia satu tahun kurang lebih. Malah anak itu menangis saja memanggil-manggil ibunya." kata si penjaga.

Mendengar Ini, tanpa berkata apa-apa lagi Beng Kun Cinjin segera berkelebat dan berlari cepat mengejar ke barat. Kalau orang keluar dari pintu gerbang selatan ini, memang jalan selanjutnya pasti menuju ke barat.

Biar pun ilmu berlari cepat dari Kwee Sun Tek sudah mencapai tingkat tinggi, namun jika dibandingkan dengan Beng Kun Cinjin. ia masih kalah jauh sekali. Tanpa menyadari akan datangnya bahaya, Sun Tek berlari terus ke arah barat. Tujuannya adalah Kuil Siauw-lim-si yang terletak kurang lebih sepuluh lie lagi di depan.

Ia mengenal Siang Tek Hosiang. ketua kuil itu yang merupakan cabang Kelenteng Siauw-lim-si yang terkenal dipimpin oleh orang-orang gagah perkasa di dunia kang-ouw. Siang Tek Hosiang sendiri adalah tokoh keluaran Siauw-lim-si yang sudah berkepandaian tinggi sehingga sudah mendapat kepercayaan dari para guru-guru besar di Siauw-lim-pai untuk membuka cabang di tempat itu. Maksud hati Kwee Sun Tek hendak menemui sahabatnya itu kemudian minta surat perkenalan karena ia bermaksud hendak memasukkan Wi Liong menjadi murid Siauw-lim-pai yang terkenal sebagai partai persilatan yang besar.

Kuil Siauw-lim-si masih berada kurang lebih tiga lie lagi di sebelah depan ketika tiba-tiba Kwee Sun Tek mendengar seruan keras dan nyaring dari belakang.

"Sun Tek, berhentilah kau!"

Kalau ketika itu ada suara geledek menyambar di dekat telinganya, belum tentu Sun Tek akan sekaget ketika dia mendengar dan mengenal suara ini. Walau pun orangnya belum kelihatan tetapi ia maklum bahwa gurunya telah mengejarnya dan baru saja mengeluarkan seruan dengan pengerahan tenaga khikang tingkat tinggi, semacam Ilmu Coan-im jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh).

Mendengar seruan ini Sun Tek bukannya mentaati permintaan suhu-nya, namun pemuda ini bahkan mempercepat larinya ke depan sambil memeluk Wi Liong erat-erat. Dia sudah melewati satu lie lagi. Hutan di mana terdapat Kuil Siauw-lim-si itu kini sudah nampak di depan.

"Sun Tek, tunggu...!" terdengar lagi suara suhu-nya.

Kwee Sun Tek makin ‘tancap gas’ mendengar suara yang sudah dekat sekali ini, seakan-akan suhu-nya sudah berada di belakang tubuhnyal Diam-diam dia menyiapkan pedang Cheng-hoa-kiam karena ia mengambil keputusan kalau ia tersusul oleh suhu-nya sebelum mencapai Kuil Siauw-lim-si, maka ia akan nekat melakukan perlawanan mati-matian.

Baiknya Beng Kun Cinjin tidak berlaku tergesa-gesa. Dia telah maklum bahwa bagaimana pun juga, bekas muridnya itu takkan mampu melarikan diri dan terlepas dari tangannya.

Lega hati Sun Tek ketika ia memasuki hutan itu dan ia tidak peduli akan seruan gurunya yang sekali lagi datang menggeledek, tanda bahwa gurunya telah dekat sekali. Bangunan Kuil Siauw-lim-si sudah nampak, gentengnya yang merah sudah kelihatan di antara daun-daun pohon. Sun Tek segera mengerahkan segenap tenaga kakinya dan berlari kencang sekali menuju ke kuil itu.

Dengan napas hampir putus dia melompat masuk ke dalam ruangan, lantas menjatuhkan diri sambil terengah-engah di antara tujuh orang hwesio yang sedang melakukan upacara sembahyang dan berdoa. Tentu saja tujuh orang hwesio itu terheran-heran melihatnya.

Seorang hwesio yang usianya lebih dari enam puluh tahun, berjenggot panjang dan putih, cepat berdiri dari tempat duduknya, memandang tajam lalu berkata,

"Omitohud! Kalau mata pinceng yang sudah lamur tidak keliru lihat, bukankah sicu adalah Kwee-sicu?”

"Losuhu, tolonglah teecu! Teecu sedang dikejar-kejar oleh Beng Kun Cinjin...!" kata Sun Tek terengah-engah.

Hwesio tua itu mengelus-elus jenggotnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tahu siapa Beng Kun Cinjin, yakni koksu yang baru saja diangkat oleh Kaisar Mongol. Juga ia tahu bahwa Beng Kun Cinjin adalah guru orang muda ini.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner