JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-06


Mereka bertiga duduk di luar pondok yang berdiri di puncak bukit itu. Pondok kayu yang terlihat kokoh dan cukup besar, dengan pekarangan yang cukup luas mengelilingi pondok. Di pekarangan kanan kiri pondok ditanami dengan pohon-pohon buah, dan di pekarangan depan ditanami dengan tumbuh-tumbuhan yang dapat dipakai untuk pengobatan dan ada pula bunga-bunga beraneka warna. Nyaman sekali duduk di depan pondok di waktu pagi itu.

Matahari tersenyum cerah, sinarnya menyengat, hanya mendatangkan kehangatan yang membangkitkan semangat. Pemandangan dari puncak Bukit Pelangi itu amat indah, salah satu di antara ratusan bukit yang terdapat di Pegunungan Gobi. Orang menamakannya Bukit Pelangi karena di bukit itu sering kali tampak pelangi.

Dia adalah seorang lelaki berusia sekitar enam puluh dua tahun. Wajahnya masih tampak segar dan jauh lebih muda dari usianya. Rambutnya telah dihias uban, akan tetapi terawat bersih seperti juga tampak pada wajah, kaki tangan, dan pakaiannya yang tampak terawat dan bersih.

Sepasang alisnya hitam agak tipis, sepasang matanya tajam berwibawa namun sinarnya lembut. Hidungnya mancung dan bibirnya selalu tersungging senyuman penuh pengertian. Wajah yang agak bulat itu kelihatan masih tampan. Tubuhnya sedang namun berisi dan tegak sehingga dia tampak gagah.

Wajah itu bersih, tanpa kumis dan jenggot. Pakaiannya yang bersih itu sederhana sekali, hanya kain kuning yang melibat-libat di tubuhnya seperti yang biasa dipakai para pertapa. Sepatunya dari kain yang bawahnya berlapis besi. Rambutnya panjang, dihiasi uban dan diikat ke atas dengan pita kain kuning pula.

Dia amat dikenal oleh penduduk pedusunan di sekitar bukit karena dia selalu mengulurkan tangan memberi pengobatan kepada mereka yang sedang sakit. Obatnya yang dari daun-daunan dan rempah-rempah sangat manjur sehingga dia dikenal sebagai Yok-sian (Dewa Obat atau Tabib Dewa).

Di dunia kang-ouw dia terkenal dengan nama Tiong Lee Cin-jin. Namanya dihormati dan disegani semua tokoh dan aliran silat di dunia kang-ouw karena selain dia ahli pengobatan dan ahli silat yang sakti, juga dia terkenal baik dan bersikap adil serta bersahabat kepada semua golongan.

Belasan tahun yang silam dia pernah merantau jauh ke dunia barat, melalui Pegunungan Himalaya, melalui Tibet untuk memperdalam ilmu-ilmunya. Ketika dia merantau itulah dia bisa mendapatkan kembali beberapa buah kitab milik perguruan-perguruan silat terkenal seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, dan Bu-tong-pai yang puluhan tahun lalu dicuri orang, dan dia mengembalikan semua kitab-kitab ilmu silat itu kepada mereka yang berhak.

Dua orang gadis yang duduk berhadapan dengan Tiong Lee Cin-jin itu berusia dua puluh tahun. Semua orang tentu merasa terpesona karena kagum dan juga heran kalau melihat mereka bersama. Dua orang gadis itu cantik jelita dan mereka itu persis sama, baik wajah mau pun bentuk tubuh mereka.

Wajah keduanya berbentuk bulat dengan dagu meruncing, kulitnya putih mulus dan kulit wajah mereka itu dihias warna merah pada kedua pipi bawah mata. Warna merah alami, bukan dengan alat perias sehingga tampak segar dan manis sekali laksana bunga mawar yang sedang mekar.

Mata mereka bersinar bagai bintang, hidung mancung dan bibir mereka merah membasah tanpa gincu. Bibir yang penuh berkulit tipis itu hidup, dapat bergerak-gerak dengan lincah dan manis bukan main. Mata dan mulut mereka itulah yang mengandung daya tarik amat kuat, terutama bagi mata pria yang memandangnya.

Tidak mungkin ada orang yang dapat membedakan di antara mereka kalau saja mereka mengenakan pakaian dan menyanggul rambut dengan bentuk yang sama. Namun mereka memang sengaja tidak mengenakan pakaian yang sama, bahkan tatanan rambut mereka berbeda. Mereka sebetulnya adalah dua orang gadis kembar!

Yang seorang adalah Puteri Moguhai, puteri dari Raja Kin beribu seorang wanita pribumi Han yang bernama Tan Siang Lin dan menjadi selir Raja Kin (bangsa Nuchen). Semenjak kecil dia belajar silat sehingga akhirnya memiliki kepandaian tinggi dan di dunia persilatan dikenal sebagai Pek Hong Nio-cu (Nona Burung Hong Putih). Julukan ini diberikan karena puteri ini selalu mengenakan hiasan rambut seekor burung Hong dari perak di rambutnya, juga karena dia selalu mengenakan pakaian yang terbuat dari sutera serba putih.

Sabuknya dari sutera merah itu juga menjadi senjata yang amat ampuh. Jubahnya dihias dengan bulu indah pada bagian lehernya. Rambutnya yang hitam panjang dikuncir tebal dengan ikatan pita merah hingga nampak lucu, dan di atas kepalanya dihias burung Hong perak itu. Di pinggangnya tampak sebatang pedang bengkok dengan gagang dan sarung pedang terukir indah, ukiran naga emas sebagai tanda Kerajaan Kin.

Ada pun gadis yang kedua, yang lahir belakangan, adalah Thio Siang In. Dia pun terkenal sebagai pendekar wanita yang lihai. Ayahnya bernama Thio Ki dan ibunya adalah seorang puteri kepala suku Uigur yang bernama Miyana. Karena sepak terjang gadis ini juga amat gagah perkasa dan ilmu silatnya juga lihai karena sebetulnya dia adalah murid datuk Suku Uigur yang terkenal, yaitu Ouw Kan, maka di dunia persilatan dia dikenal dengan julukan Ang Hwa Sian-li (Dewi Bunga Merah). Nama julukan ini diberikan karena selain dia cantik seperti dewi, juga dia selalu memakai setangkai bunga merah di rambutnya.

Kecantikannya sama persis dengan Puteri Moguhai, namun rambutnya disanggul model sanggul wanita Han. Mungkin karena ayahnya seorang pribumi Han, maka gadis ini juga berpakaian seperti seorang gadis Han, hanya pakaiannya serba hijau. Sebagai murid Ouw Kan, selain ilmu silat tinggi, juga Ang Hwa Sian-li Thio Siang In menguasai ilmu tentang racun.

Karena tingkat kepandaian Ouw Kan, guru Siang In, masih di bawah tingkat Paman Sie, guru Puteri Moguhai, maka kepandaian Siang In juga masih sedikit kalah tinggi apa bila dibandingkan dengan tingkat kepandaian Puteri Moguhai, yaitu sebelum mereka berdua selama satu tahun digembleng oleh Tiong Lee Cin-jin di Puncak Pelangi. Sekarang tingkat kepandaian mereka telah seimbang, hanya Puteri Moguhai memiliki ilmu silat yang bersih karena sejak dulu dia mempelajari ilmu-ilmu dari kitab pemberian Tiong Lee Cin-jin.

Sebetulnya dua orang gadis ini adalah saudara kembar dan ayah kandung mereka bukan lain adalah Tiong Lee Cin-jin sendiri. Di waktu mudanya, Tiong Lee Cin-jin yang bernama Sie Tiong Lee saling mencinta dengan Tan Siang Lin. Namun karena dia hanya seorang pemuda miskin, orang tua Tan Siang Lin tidak mau menerimanya sebagai mantu, bahkan menyerahkan Siang Lin menjadi selir Raja Kin!

Siang Lin tidak berdaya menolak kehendak orang tuanya, namun karena dia sudah benar-benar jatuh cinta kepada Sie Tiong Lee, maka dia lalu menyerahkan diri kepada pemuda itu. Pada mulanya Sie Tiong Lee menolak, akan tetapi karena Siang Lin mengancam akan membunuh diri kalau kekasihnya menolak, maka terpaksa Sie Tiong Lee menanggapi.

Dari hubungan inilah Siang Lin mengandung saat dia diboyong ke istana Raja Kin. Ketika dia melahirkan, maka yang terlahir adalah dua orang anak perempuan kembar, dan itulah Puteri Moguhai dan Thio Siang In.

Tan Siang Lin tentu saja menjadi amat panik sebab menurut kepercayaan Raja Kin, anak kembar berarti akan mendatangkan mala petaka sehingga dua anak kembar itu mungkin akan dibinasakan. Maka Tan Siang Lin lalu menyerahkan seorang di antara anak kembar itu kepada sahabat baiknya, yaitu puteri kepala Suku Uigur bernama Miyana yang sudah menjadi janda muda tanpa anak.

Miyana menerima dengan senang hati, lalu melarikan anak kembar kedua setelah secara diam-diam dia menyuruh membunuh bidan yang menolong kelahiran itu supaya rahasia ini tersimpan rapat. Miyana lalu membawa anak itu pergi dan dia kemudian menikah dengan seorang Han bernama Thio Ki. Pria inii dapat menerima anak itu sebagai anak tirinya dan menyayangnya seperti anak kandung. Anak itu lalu diberi nama Thio Siang In, sedangkan anak kembar yang pertama menjadi puteri Raja Kin dan diberi nama Puteri Moguhai!

Rahasia itu baru diketahui kedua anak kembar itu setelah Tiong Lee Cin-jin menceritakan kepada mereka. Tiong Lee Cin-jin lalu membawa mereka berdua, yaitu puteri kembarnya, ke Puncak Pelangi untuk digembleng dengan ilmu-ilmu yang lebih tinggi, setelah memberi kabar kepada Raja Kin dan kepada Thio Ki bahwa dia ingin mengajarkan ilmunya kepada dua orang gadis itu. Raja Kin mau pun Thio Ki rela saja mendengar bahwa tokoh besar yang terkenal sakti dan dihormati semua orang itu menjadi guru anak mereka.

Demikianlah, selama satu tahun Tiong Lee Cin-jin menurunkan ilmu-ilmunya kepada dua orang puterinya. Dia pun memberi nama lain kepada Puteri Moguhai, yaitu Sie Pek Hong, sedangkan Thio Siang In menjadi Sie Siang In. Akan tetapi nama-nama ini hanya menjadi rahasia mereka karena di luar mereka masih bernama Puteri Moguhai dan Thio Siang In, atau lebih terkenal dengan sebutan Pek Hong Nio-cu dan Ang Hwa Sian-li.

Setelah digembleng selama satu tahun, kini dua orang gadis kembar itu memiliki tingkat kepandaian yang seimbang. Pada pagi hari itu, ayah bersama kedua orang puterinya itu bercakap-cakap di depan pondok.


“Nah, kuulangi sekali lagi, Pek Hong dan Siang In. Kalian berdua sudah selama setahun berada di sini untuk memperdalam ilmu. Sekarang tiba saatnya bagi kalian untuk kembali kepada orang tua kalian masing-masing.”

“Akan tetapi, Ayah. Berilah kami waktu untuk melayani Ayah di hari tua Ayah sekarang!” kata Pek Hong Nio-cu.

“Hemm, Pek Hong, kau lihat sendiri, Ayahmu ini masih kuat untuk mengurus diri sendiri, belum jompo, maka tidak perlu engkau mengkhawatirkan diriku.”

“Engkau adalah ayah kandung kami sendiri dan sudah banyak sekali budi kebaikan yang Ayah berikan kepada kami. Apa bila sekarang kami tidak diberi kesempatan untuk sedikit membalas budi kebaikan Ayah dengan pelayanan kami, lalu kapan lagi? Kami tidak ingin menjadi anak-anak yang tidak berbakti, Ayah!” bantah pula Ang Hwa Sian-li.

Mendengar bantahan adik kembarnya ini, Pek Hong Nio-cu segera mengangguk-angguk membenarkan.

Tiong Lee Cin-jin tertawa. “Heh-heh-heh! Anak-anakku, ketahuilah bahwa berbakti berarti menyenangkan hati orang tua, dan menyenangkan hati orang tua berarti menaati semua perintah serta petunjuknya. Aku menghendaki agar kalian berdua kembali ke rumah orang tua kalian masing-masing. Jika kalian tidak menaati, berarti kalian tidak membikin senang hatiku. Orang tua kalian masing-masing yang amat menyayang kalian juga akan menjadi susah hatinya. Selama satu tahun di sini kalian sudah memperdalam ilmu silat, juga telah memperluas wawasan dan pandangan kalian mengenai kehidupan. Nah, sekarang untuk yang terakhir kalinya aku memberi kesempatan kepada kalian untuk bertanya kepadaku apa yang kalian belum mengerti tentang kehidupan ini.”

“Ayah, mengapa dalam kehidupan manusia di dunia ini begitu banyak terdapat kejahatan? Bila Tuhan membenci kejahatan, kenapa dengan kekuasaanNya Tuhan tidak membasmi saja segala bentuk kejahatan itu?” tanya Pek Hong Nio-cu.

Tiong Lee Cin-jin tersenyum. “Siancai (damai)...! Jangan menggunakan akal pikiran kita yang sangat terbatas dan sempit, Pek Hong. Ketahuilah, segala sesuatu di alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan dan memang telah menjadi kehendaknya bahwa segala sesuatu itu ada dua sifat yang saling bertentangan namun saling menunjang keberadaan masing-masing. Bahkan perkembangan keadaan hasil ciptaan itu diadakan karena kedua sifat itu bertemu dan bersatu. Semuanya digerakkan oleh kekuasaan Tuhan yang disebut Im dan Yang (Positive dan Negative). Oleh karena itu terdapatlah kebaikan dan kejahatan, karena tanpa adanya yang satu, tak akan ada pula yang lain. Keadaan mereka saling menunjang biar pun sifat keduanya saling bertentangan. Ada siang ada malam, ada panas ada dingin, ada pria ada wanita, dan selanjutnya. Kepada manusia sudah dikaruniai hati akal pikiran, juga kebebasan untuk menyesuaikan diri dan memilih, maka manusia diberi pengetahuan baik dan buruk agar dapat menentukan pilihannya. Kalau malam gelap, maka kita harus menggunakan akal pikiran untuk mengatasi kegelapan, kalau siang terang dan panas kita pun harus berupaya untuk mengatasinya dengan menjaga agar jangan langsung menatap matahari, kalau kepanasan kita berlindung kalau kehujanan kita berteduh. Demikian pula dengan adanya kejahatan. Kalau ada kebaikan, maka kejahatan harus ada, karena kalau tidak ada yang jahat, mana mungkin ada yang baik? Apa bila tidak ada perasaan susah, mana bisa merasakan senang? Kita diberi kebebasan untuk memilih. Kalau kita melihat kejahatan dan kebaikan, manakah yang kita pilih? Engkau tentu tahu, Pek Hong, bahwa engkau memilih kebaikan karena itu menentang kejahatan. Karena itu, kejahatan itu bagi kita ada manfaatnya juga, yaitu kejahatanlah yang membawa manusia berusaha untuk menjadi baik.”

“Lalu bagaimana supaya semua orang mau bersikap baik kepada kita, Ayah?” tanya pula Pek Hong Nio-cu.

“Sebabnya keluar dari kita dan akibatnya akan kembali kepada kita, Anakku. Mengasihi, menghormati, bersikap baik kepada orang lain berarti menanam sesuatu yang baik, maka buahnya pasti baik pula dan menjadi bagian kita, karena orang lain tentu akan mengasihi, menghormati dan bersikap baik juga kepada kita. Kalau kita bersikap buruk kepada orang lain, tentu saja akibatnya orang lain pun akan bersikap buruk kepada kita. Melempar batu ke atas akan jatuh kembali kepada kita juga, menanam pohon kita mendapatkan buahnya sebaliknya menanam semak belukar kita mendapatkan durinya.”

“Ayah,” kini Ang Hwa Sian-li yang berkata. “Saya melihat betapa kehidupan dalam dunia ini amat tidak adil. Ada orang-orang yang kaya raya, tapi ada pula yang miskin. Ada pula pembesar yang berkuasa, tetapi ada pula rakyat kecil yang tak berdaya. Di mana adanya keadilan itu, Ayah?”

“Siang In, keadaan yang kau sebut itu justru menandakan adanya dua sifat Im dan Yang tadi. Justru karena adanya perbedaan yang bertentangan itulah segalanya dapat berjalan dengan baik. Coba bayangkan bagaimana kalau semua rakyat ini kaya raya? Kita semua akan kelaparan karena tidak ada yang mau bertani, tidak ada yang mau bekerja, tidak ada yang berjualan bahan makanan. Apa bila semua orang kaya raya, maka kalau seseorang hendak makan dia harus menanam padi sendiri, lalu menumbuknya sendiri, memasaknya sendiri dan selanjutnya. Dapatkah kehidupan berlangsung seperti itu? Sebaliknya, kalau semua rakyat miskin, maka kita semua akan menderita kekurangan dan kelaparan karena tidak punya uang sama sekali untuk membeli dan mendatangkan segala keperluan hidup dari daerah lain. Si kaya membutuhkan si miskin dan si miskin membutuhkan si kaya. Si kaya sebagai pemilik modal memberi peluang kerja bagi mereka yang miskin, sebaliknya si miskin sebagai tenaga kerja untuk melaksanakan terputarnya roda perusahaan si kaya. Mereka saling membutuhkan, karena itu harus dapat bekerja sama dengan baik karena kedua pihak saling menolong. Siapa yang berlebihan seyogianya menolong yang kurang, atau tepatnya, yang mendapat berkah yang berlebihan itu memang diadakan supaya bisa menyalurkan berkah dari Tuhan itu kepada orang-orang yang membutuhkan. Tuhan yang menolong dan memberi kepada mereka yang membutuhkan itu, sedangkan si kaya hanya menjadi perantara atau pembagi rejeki yang kesemuanya datang dari Tuhan. Lalu adanya pembesar yang berkuasa atau kita sebut saja Raja yang berkuasa dan rakyat jelata yang lemah, itu pun sudah semestinya karena keduanya ada bukan untuk bertentangan, tetapi justru untuk saling menunjang demi kebaikan semuanya. Apa artinya Raja kalau tidak ada rakyatnya? Sebaliknya bagaimana jadinya dengan rakyat jika tidak ada yang memimpin? Keduanya saling membutuhkan.”

“Akan tetapi, Ayah. Saya melihat alangkah banyaknya pembesar melakukan kecurangan dan korupsi untuk memperkaya diri sendiri, hampir semua pejabat kerajaan melakukan hal buruk itu, dari yang tinggi kedudukannya sampai yang paling rendah. Bagaimana caranya untuk mengatasi dan memberantas hal ini supaya kerajaan menjadi kuat tanpa digerogoti oleh para punggawanya sendiri sehingga kehidupan rakyat menjadi makmur?”

“Siang In, keadaan seperti itu memang selalu menjadi kelemahan kerajaan ini,” Tiong Lee Cin-jin menarik napas panjang teringat akan mendiang Perdana Menteri Chin Kui beserta seluruh bawahannya yang melakukan korupsi besar-besaran. “Sebetulnya itu mudah saja. Pertama sekali, yang berada paling atas, yaitu Kaisar, harus membersihkan dirinya. Kalau Kaisar bersih tidak korup, tentu dia berani menegur dan menghukum para menteri yang bertindak korup. Kemudian, Sang Menteri yang sudah bersih juga menindak bawahannya yang korup. Demikianlah seterusnya menurun ke bawah. Atasan yang bersih pasti berani menindak bawahan yang kotor sampai kepada pejabat yang kedudukannya paling rendah. Jika semua pejabat dan pemimpin sudah betul-betul bersih, maka akan mudah mengatur rakyatnya supaya tertib dan makmur. Sebaliknya kalau atasan kotor, bagaimana mungkin dapat menindak bawahan yang kotor? Manusia membutuhkan teladan, dan teladan harus dimulai dari yang paling atas, terus menurun ke bawah.”

“Akan tetapi yang paling atas itu meneladani siapa?” Pek Hong Nio-cu bertanya.

“Tentu saja meneladani Yang Paling Atas, yang telah memberi petunjuk-petunjuk melalui wahyuNya yang terdapat dalam kitab suci agama-agama di dunia. Setiap orang manusia telah diberi pengertian tentang perbuatan baik dan perbuatan jahat. Perbuatan baik adalah perbuatan yang berguna dan membahagiakan orang lain tanpa pamrih demi keuntungan diri sendiri. Sebaliknya perbuatan jahat bersumber pada keinginan untuk menyenangkan diri sendiri dengan mencelakakan dan menyusahkan orang-orang lain. Sebenarnya, anak-anakku, perbuatan baik atau jahat itu hanyalah penyaluran dari keadaan dalam hati kita. Kalau kita menyadari bahwa Tuhan menciptakan kita hidup di dunia ini dengan kewajiban yang harus kita laksanakan, yaitu berguna bagi manusia dan dunia, maka perbuatan baik itu hanyalah pelaksanaan kewajiban itu, sedangkan perbuatan jahat adalah pengingkaran diri dari kewajiban itu. Melakukan kebaikan kepada orang lain berarti kita melaksanakan kewajiban manusia hidup sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Pengingkaran terhadap kewajiban manusia hidup timbul dari kelemahan kita sendiri yang sering menghambakan diri kepada nafsu-nafsu kita sendiri yang dipergunakan Iblis untuk membujuk dan menjerat kita. Terserah kepada kita yang diberi kebebasan oleh Tuhan, hendak menjadi alat Tuhan ataukah menjadi alat iblis! Kalau menjadi alat Tuhan berarti di dalam hati ini penuh rasa kasih sayang kepada sesama hidup dan buah dari pada kasih sayang itu pasti perbuatan-perbuatan baik dan berguna bagi sesama kita. Sebaliknya, menjadi alat Iblis berarti dalam hati ini penuh dengan rasa cinta kepada diri sendiri, keinginan untuk menyenangkan diri sendiri terlalu besar sehingga terkadang tega mengorbankan dan mencelakai orang lain demi tercapainya kesenangan yang diinginkannya.”

“Ayah, ada satu hal lagi yang ingin saya ketahui. Sering sekali saya mendengar orang berkata bahwa Thian (Tuhan) itu Maha Adil. Akan tetapi mengapa saya melihat banyak orang yang jahat yang keadaan hidupnya penuh kebahagiaan, kaya raya, terhormat dan tak pernah kekurangan sesuatu, sebaliknya lebih banyak lagi orang yang dalam hidupnya menjadi orang baik-baik, tidak pernah melakukan kejahatan, akan tetapi hidupnya selalu sengsara, miskin dan serba kekurangan, banyak menderita kesusahan? Bukankah hal ini amat tidak adil, Ayah?”

Tiong Lee Cin-jin tersenyum. “Pek Hong, mungkin pertanyaanmu ini menjadi pertanyaan jutaan orang manusia yang hidup di dunia dan yang merasa hidupnya serba kekurangan. Camkanlah ini baik-baik, Pek Hong, dan engkau juga, Siang In. Sudah menjadi anggapan umum yang salah bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan hidup manusia harus dinilai dari kekayaan dan kemiskinan. Kita menganggap orang yang kaya itulah yang diberkahi oleh Tuhan, sedangkan orang miskin tidak! Betulkah bahwa berkah dari Tuhan yang terpenting adalah harta kekayaan sehingga manusia mengukur berkah Tuhan dari kaya miskinnya seseorang? Anggapan itu sungguh picik dan bodoh sekali, anak-anakku. Berkah Tuhan itu berlimpahan kepada semua orang, bahkan semua mahluk yang hidup, bergerak mau pun tak bergerak, semua itu sudah, sedang dan akan menerima berkah Tuhan, Sumber Abadi segala berkah! Berlimpah dan bermacam-macam, tidak terhitung banyaknya! Ketahuilah dan sadarlah bahwa harta kekayaan itu hanya menjadi sebagian saja dari berkah yang tak terhitung banyaknya. Kita menyangka hanya orang kaya saja yang mendapat berkah dan hidup senang karena hati kita sudah dibuat buta oleh kemilaunya harta benda! Bagaimana kalau orang kaya itu umurnya pendek? Tentu dia tidak mau karena di samping harta dia membutuhkan umur panjang. Bagaimana kalau si kaya menderita sakit berat? Hartanya tidak dapat menolong, berarti di samping harta benda dia membutuhkan pula kesehatan! Bukan hanya kesehatan dirinya saja, tapi kesehatan seluruh keluarganya sebab seorang saja di antara mereka sakit atau mati, maka kesenangannya karena memiliki harta benda takkan terasa lagi. Apakah hanya harta benda, sehat walafiat dan panjang umur saja yang bisa dianggap berkah. Apakah kalau orang sudah memiliki ketiganya itu pasti dapat hidup bahagia? Juga tidak! Di samping kaya, sehat dan panjang umur, masih ada kebutuhan lain. Misalnya kerukunan rumah tangga, kerukunan antar manusia. Apa artinya kaya raya dan sehat kalau setiap hari suami cekcok dengan isterinya? Rumah gedung akan terasa seperti neraka! Harta banyak hanya akan memusingkan saja! Orang kaya raya akan rela mengorbankan seluruh kekayaannya asalkan dia sembuh dari penyakit yang berat dan mengancam nyawanya. Orang sehat berani mengorbankan kesehatannya untuk mengejar sesuatu yang dikehendakinya. Karena itu, keliru kalau dianggap bahwa kaya raya berarti berkah istimewa dari Tuhan sehingga kalau ada orang jahat kaya dan orang baik miskin lantas dianggap bahwa Tuhan tidak adil! Keliru sama sekali. Tuhan Maha Adil, akan tetapi keadilanNya tidak dapat diukur, apa lagi diukur dengan keadilan bagi manusia karena tiap manusia akan mengukur keadilan dari kepentingan diri sendiri. Jika menguntungkan aku, namanya adil dan baik, tetapi jika merugikan aku, adalah tidak adil dan buruk!”

“Wah, kalau direnungkan, kebenaran yang Ayah ungkapkan itu tidak dapat dibantah lagi!” kata Siang In. “Kalau begitu, kekayaan itu berkah, tetapi kesehatan juga berkah yang tak kalah nilainya! Akan tetapi, Ayah, kenapa pada umumnya orang kaya menganggap orang miskin sengsara, sebaliknya orang miskin menganggap orang kaya bahagia? Siapa yang benar dalam anggapan ini?”

“Anggapan itu sama salahnya. Anggapan itu muncul karena hati mereka sudah dikuasai oleh nafsu kebendaan sehingga kedua-duanya hanya mengagung-agungkan harta benda saja, atau kesehatan saja, atau kerukunan saja. Ada yang mengagungkan kepandaiannya saja, atau kedudukannya saja, dan sebagainya. Padahal semuanya itu hanya merupakan sebagian saja dari berkah Tuhan, hanya manusia yang menerima segala macam keadaan sebagai berkahNya dan bersyukur kepadaNya lalu menyalurkan segala berkah itu kepada sesamanya, dialah yang berhak merasakan apa sesungguhnya hidup tenteram, damai dan berbahagia itu.”

“Menyalurkan segala berkah kepada sesama? Bagaimana maksud Ayah?”

“Segala berkah itu datangnya dari Thian, berarti segala sesuatu itu milik Thian. Kita hidup sebagai manusia memiliki kewajiban, yaitu membawa kesejahteraan di dunia, khususnya terhadap sesama manusia dan umumnya kepada segala mahluk dan lingkungan. Bila ada berkah harta yang dilimpahkan kepada kita, maka sepatutnya kita bersyukur dengan cara menyalurkan berkah itu kepada mereka yang benar-benar sangat membutuhkan sehingga yang kaya menolong yang miskin. Kalau berkah itu berupa kepandaian yang berlebihan, sudah sepatutnya kita bersyukur dengan cara menyalurkan berkah itu kepada siapa pun yang memerlukannya sehingga yang pintar menolong yang bodoh. Jika berkah itu berupa kekuatan, maka sudah sepatutnya kita menolong yang lemah. Yang kaya menolong yang miskin, yang pintar menolong yang bodoh, yang kuat menolong yang lemah. Demikianlah keadilan yang kiranya sesuai dengan kehendak Thian.”

“Kami mengerti, Ayah,” Sie Pek Hong atau Puteri Moguhai atau Pek Hong Nio-cu berkata sambil memegang tangan kiri ayahnya dengan sikap manja dan pandangan mata penuh hormat dan kasih sayang. “Akan tetapi, Ayah pernah mengatakan bahwa manusia hidup harus saling tolong, saling memberi. Lalu bagaimana dengan dia yang miskin, bodoh dan lemah. Apakah dia itu hanya tahunya minta saja tanpa mampu memberi apa pun? Apa yang dapat dia berikan kepada sesama manusia kalau dia miskin, bodoh dan lemah?”

“Pertanyaan yang bagus! Dan jawabannya semoga dapat menghilangkan rasa rendah diri dan rasa tiada guna bagi mereka yang merasa miskin, bodoh dan lemah. Mereka ini pun dapat memberi, bahkan memberi yang tidak kalah besar nilainya dibandingkan pemberian yang lain tadi. Yaitu, mereka dapat memberikan kejujuran, kesetiaan, dan terutama sekali memberi sikap yang ramah, manis budi bahasa, senyum yang tulus, yang keluar dari hati penuh kasih kepada sesama manusia. Justru pemberian ini merupakan kewajiban yang harus dilakukan semua orang, kaya miskin, pintar bodoh, kuat lemah tanpa kecuali. Andai kata engkau diberi harta kepandaian dan tenaga, akan tetapi semuanya itu diberikan oleh orang dengan muka cemberut, dengan sikap menghina dan membenci, apakah engkau dapat menerimanya dengan senang? Bukankah lebih senang menerima tegur sapa yang ramah dan hormat, disertai senyum yang tulus dari seorang yang tidak mampu memberi harta dan sebagainya itu? Jadi, hati yang penuh kasih sehingga membuahkan ketulusan, kejujuran, kesetiaan dan keramahan itu bahkan jauh lebih tinggi nilainya dari pada harta benda dan lain-lain yang hanya dapat menyenangkan badan namun tidak mendatangkan kenyamanan di hati.”

Dua orang gadis itu mendengar dengan penuh perhatian sambil memegang tangan ayah mereka. Pek Hong Nio-cu memegang tangan kiri dan Ang Hwa Sian-li memegang tangan kanan.

“Ayah, saya ingin tinggal di sini saja, bersama Ayah!” kata Ang Hwa Sian-li Thio Siang In atau sesungguhnya Sie Siang In dengan suara gemetar karena dia merasa terharu.

“Saya juga, Ayah! Rasanya hanya dekat Ayah saya dapat merasa tenteram, penuh damai dan kehidupan terasa nyaman, nikmat dan penuh kebahagiaan,” kata pula Pek Hong Nio-cu Sie Pek Hong atau Puteri Moguhai.

Dia juga merasa amat terharu hingga rasanya ingin menangis karena harus berpisah dari ayah kandung yang mendatangkan kasih sayang amat mendalam dalam hatinya, setelah selama setahun tinggal bersama ayahnya di tempat sunyi itu.

“Aihh, marilah kita belajar jangan terlampau menurutkan keinginan hati, akan tetapi harus menggunakan pertimbangan demi kebaikan semua pihak. Kalian merasa senang di sini, juga aku akan merasa senang kalau berdekatan dengan kalian kedua anak-anakku. Akan tetapi kesenangan kita itu menyusahkan hati kedua orang tua kalian! Aku sudah terbiasa merantau seorang diri, maka jangan mengkhawatirkan diriku. Juga jangan lupa, semenjak kecil kalian telah bersusah payah mempelajari ilmu silat. Apa artinya menguasai ilmu bila tidak dipergunakan dalam kehidupan? Karena itu kalian harus kembali ke dunia ramai dan mengamalkan kepandaian kalian. Jangan lupa, tentu saja mengamalkan untuk kebaikan, membebaskan orang-orang lemah dari penindasan, membela kebenaran serta keadilan, menentang yang jahat. Nah, sekarang kalian pergilah, aku sendiri pun sudah terlalu lama di sini dan ingin merantau lagi.”

Namun dua orang gadis itu masih terus memegangi kedua tangan ayah mereka, merasa enggan melepaskannya.

“Ayah, saya belum ingin berpisah darimu!” kata Pek Hong Nio-cu.

“Kalau kita berpisah, kapankah kita dapat saling bertemu kembali, Ayah?” kata Ang Hwa Sian-li.

Tiong Lee Cin-jin tertawa. Hati ayah mana yang tak merasa senang melihat anak-anaknya demikian sayang kepadanya? “Ha-ha-ha-ha, kalian tidak boleh cengeng begini! Ada waktu bertemu, ada waktu berkumpul, tentu akan diakhiri dengan waktu berpisah! Akan tetapi, sesudah berpisah, bukan hal yang mustahil untuk berkumpul kembali. Kita harus percaya bahwa ada saatnya kita akan dapat saling bertemu kembali, anak-anakku. Nah, sekarang berkemaslah. Kumpulkan pakaian kalian dan bersiaplah untuk berangkat!”

Kini dua orang gadis itu menyadari betul bahwa mereka berdua harus pergi meninggalkan ayah atau guru mereka, maka dengan patuh mereka lantas memasuki pondok kemudian berkemas dalam kamar mereka. Mereka membungkus pakaian mereka dengan kain, lalu menggendong bungkusan masing-masing dan keluar dari pondok.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner