JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-07


Setibanya di beranda, mereka melihat ayah mereka sedang duduk bersemedhi. Mereka berdua tahu bahwa dalam keadaan seperti itu ayah mereka tidak dapat diganggu karena apa pun yang mereka lakukan takkan mampu membuat ayah mereka terbangun! Mereka tahu bahwa ayah mereka tidak ingin terpengaruh oleh perasaan sendiri karena perpisahan dengan kedua orang anaknya yang terkasih, maka sebelum mereka berangkat dia sudah tenggelam ke dalam semedhi.

Pek Hong Nio-cu menahan isak, lalu merangkul leher ayahnya dan mencium kedua pipi ayahnya, baru melepaskannya. Perbuatan ini ditiru oleh Ang Hwa Sian-li.

“Selamat tinggal, Ayah,” kata mereka hampir berbareng, lalu mereka melompat dari atas lantai beranda dan keluar.

Gerakan mereka demikian cepat sehingga mereka seolah pandai menghilang! Dua orang gadis ini ingin cepat-cepat meninggalkan ayah mereka karena bila berlama-lama mereka tentu tidak akan tega meninggalkan orang tua yang mereka kasihi itu.

Setelah tiba di kaki bukit, keduanya berhenti berlari dan memutar tubuh, memandang ke arah Puncak Pelangi lalu keduanya menghela napas panjang.

“Kasihan Ayah, di sana kesepian seorang diri,” Ang Hwa Sian-li mengeluh.

“Ya, akan tetapi sudahlah. Kita tahu betapa bijaksana Ayah. Dia benar, kita tidak mungkin tinggal di situ terus. Orang tua kita pasti sudah amat menanti-nanti kita. Siang In, engkau hendak ke mana sekarang?”

“Tentu saja pulang, Pek Hong. Orang tuaku tinggal di kota Kang-cun, di lembah Sungai Kuning. Dan engkau?”

“Aku juga akan pulang ke kota raja. Kalau begitu kita sama-sama menuju ke timur, maka kita bisa melakukan perjalanan bersama sampai ke kota Kang-cun, di mana engkau akan berhenti sedangkan aku melanjutkan perjalanan ke kota raja.”

“Wah, bagus sekali. Kalau begitu engkau harus singgah dahulu di rumah kami karena engkau akan kuperkenalkan kepada ayah ibuku.”

“Ah, senang sekali!” kata Pek Hong Nio-cu. “Aku pun ingin sekali bertemu dengan Ibumu. Bibi Miyana adalah sahabat baik Ibuku, dan dialah yang menolong Ibu, bahkan menolong kita karena kalau tidak ada dia yang memisahkan kita, mungkin kita berdua telah dibunuh oleh Kaisar Kin yang mempunyai kepercayaan aneh tentang orang kembar!”

“Kelak aku pun akan mengunjungimu, Pek Hong. Aku sudah sangat rindu sehingga ingin sekali bertemu dengan ibumu... ehh, ibu kandungku juga!”

“Ya, datanglah, Siang In! Pertemuan itu pasti akan membahagiakan kita semua!”

Sebentar saja kedua orang gadis itu sudah pulih lagi dalam sifat mereka yang memang biasanya selalu cerah ceria, cerdik dan lincah. Keharuan yang tadinya menyedihkan hati mereka karena harus berpisah dari ayah mereka, hanya sebentar saja menjadi mendung. Akan tetapi hanya mendung tipis yang mudah ditiup pergi angin lalu.....

********************

Souw Thian Liong tiba di sebuah dusun di kaki bukit. Akan tetapi sebelum dia memasuki dusun itu, dia melihat puluhan penduduk dusun, lelaki mau pun perempuan, berbondong keluar dari dusun menuju ke bukit yang berada tak jauh dari dusun itu, hanya sekitar dua lie (mil) jaraknya. Yang amat menarik hati Thian Liong adalah ketika dia melihat dua orang gadis muda berusia sekitar enam belas tahun yang berjalan di depan rombongan sambil menangis.

Dua orang gadis remaja itu mengenakan pakaian dari sutera merah, dan wajah mereka cukup cantik. Rambut mereka diberi hiasan yang indah, mengingatkan Thian Liong akan pakaian pengantin wanita. Apakah dua orang gadis itu pengantin-pengantin yang sedang diantar rombongan itu menuju ke rumah calon suami mereka di dusun lain?

Akan tetapi tak mungkin kalau mereka itu hendak menikah karena selain dua orang gadis itu selalu menangis sedih di sepanjang perjalanan, juga wajah rombongan yang terdiri dari sekitar empat puluh orang itu semua tampak muram dan murung. Bahkan ada beberapa orang wanita di dalam rombongan itu juga menangis! Rombongan itu lebih pantas sedang mengiringi jenazah yang akan dimakamkan dari pada mengiringi pengantin wanita!

Thian Liong jadi sangat tertarik. Agaknya mereka bukan rombongan pengiring pengantin, pikirnya. Atau, kalau benar mengiringkan pengantin, agaknya dua orang pengantin wanita ini dipaksa menjadi pengantin dan para penduduk itu tidak berani membantah.

Apakah ada hartawan atau orang berpangkat yang memaksa agar dua gadis ini diantarkan ke rumahnya, mungkin di dusun atau di kota lain, untuk dijadikan selir-selirnya? Dan para penduduk dusun ini tidak berani menolak paksaannya?

Diam-diam Thian Liong membayangi, siap menolong bila dua orang gadis ini benar-benar dipaksa orang untuk menikah di luar kehendak mereka. Siap pula untuk menentang orang yang menggunakan kekuasaan untuk memaksakan kehendaknya kepada para penduduk dusun!

Rombongan itu ternyata menuju ke sebuah bukit, kemudian perlahan-lahan mendaki bukit itu seolah-olah merasa ragu atau takut. Dua orang gadis remaja tetap menangis sambil melangkah perlahan-lahan.

Ketika rombongan itu tiba di lereng bukit, mereka berhenti di depan sebuah kuil tua. Kuil itu agaknya kuil kuno yang tak terpelihara. Temboknya ditumbuhi lumut dan sebagian ada yang retak, juga gentingnya sudah banyak yang pecah.

Thian Liong yang membayangi dari belakang mengintai dari balik sebatang pohon besar. Dia merasa semakin heran melihat betapa rombongan itu semua berhenti di depan kuil, di pekarangan kuil yang luas dan penuh daun kering. Dua orang gadis berpakaian merah itu tidak menangis lagi, akan tetapi dengan muka pucat dan mata terbelalak seperti dua ekor domba yang dibawa ke depan tempat penjagalan mereka memandang ke arah pintu kuil yang besar. Daun pintu kuil yang terbuat dari kayu tebal namun pinggirnya telah lapuk itu dalam keadaan tertutup.

Thian Liong lalu memandang ke arah daun pintu yang tertutup itu dengan hati tegang. Dia belum dapat menduga apa yang akan dilakukan rombongan orang dusun itu, tapi mereka semua tampak begitu ketakutan. Apa yang sudah, sedang dan akan terjadi?

Dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh, Thian Liong menyelinap dari pohon ke pohon dan mendekati mereka sehingga dia tidak hanya dapat melihat mereka, akan tetapi juga akan dapat mendengarkan percakapan mereka. Tetapi semua orang itu berdiam diri, tak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun, bahkan agaknya kebanyakan dari mereka menahan napas!

Bunyi berderit dari daun pintu mengejutkan semua orang yang cepat memandang ke arah pintu. Daun pintu dibuka dari dalam sehingga pintunya kini ternganga lebar. Thian Liong juga memandang ke arah pintu dengan penuh perhatian. Tampak remang-remang sebuah meja sembahyang besar dengan hidangan sembahyang sebagai korban terdiri dari buah-buahan. Di belakang meja itu terdapat sehelai kain putih yang digambari seekor ular hitam besar dengan mata seolah bernyala mencorong dan moncongnya terbuka mengeluarkan api!

Akan tetapi semua itu hanya tampak secara remang-remang karena ruangan itu dipenuhi asap yang mengepul keluar dari banyak hio (dupa) yang dibakar. Baunya harum-harum memusingkan, tercium sampai tempat di mana Thian Liong mengintai.

Kemudian muncullah tiga orang dari dalam kuil lalu mereka berdiri di depan pintu. Mereka adalah tiga orang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun. Rambut mereka semua diikat ke atas dengan pita putih, akan tetapi pakaian mereka serba hitam. Pada bagian dada terdapat lingkaran besar dengan dasar putih dan di tengah lingkaran terdapat gambar ular seperti yang dipasang di belakang meja sembahyang. Sepatu mereka juga hitam dan di punggung tiga orang itu tergantung sebatang pedang.

Tubuh mereka tinggi besar dan kokoh. Wajah mereka tampak kaku menyeramkan, akan tetapi tampak serius seperti seorang yang agaknya tidak acuh lagi terhadap urusan dunia!

Seorang lelaki berusia enam puluh tahun yang menjadi wakil penduduk karena dia adalah kepala dusun lalu melangkah maju, kemudian segera memberi hormat kepada tiga orang berpakaian hitam itu sambil membungkuk dalam.

“Sam-wi Totiang (Bapak Pendeta Bertiga), kami datang untuk memenuhi perintah yang mulia Hek-coa-sian (Dewa Ular Hitam), menyerahkan dua orang gadis kami untuk menjadi pengantin Dewa Penjaga Bukit,” kata kepala dusun dengan suara gemetar.

Salah seorang di antara tiga orang berpakaian hitam-hitam yang disebut bapak pendeta itu berkata, suaranya tegas dan lantang. “Pimpin dua calon pengantin untuk sembahyang, kemudian barulah kita akan mendengar sendiri dari Kauwcu (ketua agama) Hek-coa-kauw (Perkumpulan Agama Ular Hitam) apakah persembahan ini dapat diterima oleh Hek-coa-sian ataukah tidak!”

“Baik, Totiang. Mari, anak-anak, kita bersembahyang.”

Kepala dusun kemudian menggandeng tangan kedua orang gadis remaja yang wajahnya menjadi pucat sekali, dituntun memasuki pintu lebar setelah ketiga pendeta perkumpulan Ular Hitam itu mundur memasuki ruangan sembahyang kuil itu.

Para penduduk hanya melihat dari luar kuil. Karena pintu itu memang lebar sekali, maka mereka dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di ruang sembahyang. Bahkan Thian Liong yang bersembunyi dan mengintai, juga dapat melihat ke dalam ruangan asap itu.

Dua orang gadis itu segera disuruh bersembahyang, mengacungkan hio-swa (dupa biting) yang ujungnya membara, kemudian setelah dupa biting itu ditancapkan di hio-lou (tempat abu dupa), mereka berdua disuruh berlutut dan melakukan pai-kwi (menyembah dengan dahi menyentuh lantai) sampai delapan kali. Sesudah upacara sembahyang selesai, dua orang gadis itu dan si kepala dusun diminta agar keluar kembali dan berdiri di depan pintu seperti tadi.

“Kalian tunggu dulu di sini. Kami akan mengundang Ketua kami yang akan memutuskan apakah Hek-coa-sian berkenan menerima dua orang gadis korban ini atau tidak.” Setelah berkata demikian, tiga orang pendeta itu bersembahyang di depan meja sembahyang dan membakar banyak dupa sehingga di ruangan itu kini tertutup asap yang mengepul tebal. Terdengar seruan mereka.

“Kami mengundang yang mulia Kauwcu (Kepala Agama) untuk datang memberi perintah dan penjelasan!”

Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan dan tampak asap hitam mengepul di tengah asap putih. Lalu dari asap hitam itu muncul seorang laki-laki yang tubuhnya seperti raksasa, matanya lebar mencorong. Tiga orang pendeta itu tampak kecil dibandingkan raksasa ini.

Mukanya hitam menakutkan. Dia pun mengenakan pakaian hitam dengan tanda gambar ular hitam seperti ketiga orang anak buahnya. Akan tetapi ada seekor ular hitam sebesar lengannya mengalungi leher dan tangan kirinya memegang leher ular itu. Kepala ular itu menjulur ke depan, moncongnya dan matanya kemerahan, lidahnya yang bercabang itu keluar masuk moncong. Semua orang merasa ngeri dan hampir tidak berani memandang raksasa hitam yang disebut sebagai kauwcu (kepala agama) dari Hek-coa-kauw (Agama Ular Hitam) itu.

Kemudian terdengar raksasa hitam itu bicara. Suaranya parau dan besar, dengan logat asing. “Hek-coa-sian dapat menerima korban dua orang gadis ini dan mau mengampuni semua penduduk. Akan tetapi Hek-coa-sian minta agar mereka menjalani pembersihan diri dahulu lalu berganti pakaian yang sudah disediakan, baru kita semua akan mengantar mereka ke puncak bukit. Kami minta dua orang wanita memandikan mereka. Air kembang telah tersedia di dalam, dan setelah dimandikan bersih mereka harus diasapi dengan dupa harum agar layak berdekatan dengan Dewa Ular Hitam!”

Seorang wanita setengah tua disuruh maju oleh kepala dusun. Dengan gemetar wanita itu menghampiri dua orang gadis. Akan tetapi dua orang gadis itu tiba-tiba saja menjerit dan menangis sehingga para penduduk menjadi terkejut dan ketakutan. Mereka takut kalau-kalau kerewelan dua orang gadis yang hendak dikorbankan itu akan membuat sang dewa marah lalu mereka semua akan ditumpas binasa seperti yang sudah diancamkan kepada mereka.

“Ah, diamlah kalian!” bentak kepala dusun, lalu dia pun memberi hormat kepada Hek-coa-kauwcu. “Kauwcu, maafkan kami...”

Laki-laki bertubuh raksasa dengan muka hitam itu tertawa, lantas menghampiri dua orang gadis yang menangis tersedu-sedu. Kepala ular itu menjulur mendekati dua orang gadis, moncongnya agak terbuka dan lidahnya menjilat-jilat. Dua orang gadis ketakutan. Kepala ular mulai bergerak terayun ke kanan kiri. Dua orang gadis itu memandang dengan mata terbelalak dan mendadak mereka berhenti menangis. Hanya air mata mereka saja yang masih berlinang.

“Hehh, dua orang Nona pengantin! Kalian taat dan akan melakukan segala perintah kami dengan senang hati. Mengerti?”

Aneh! Dua orang gadis itu mengangguk dan mereka tampak begitu penurut ketika wanita setengah tua itu, atas petunjuk salah seorang di antara tiga orang pendeta tadi menuntun mereka masuk.

Mereka berdua dimandikan dengan air kembang, kemudian diasapi dupa harum. Mereka amat taat dan sama sekali tidak membantah, juga tidak menangis lagi! Setelah mandi dan diasapi sehingga seluruh tubuh mereka selain bersih juga berbau harum bunga dan dupa, kemudian mereka disuruh mengenakan pakaian dari sutera putih yang halus dan tembus pandang.

Ketika mereka dituntun keluar, semua orang memandang dengan heran dan kagum. Dua orang gadis remaja itu tampak seolah dewi dari kahyangan, dengan pakaian sutera putih yang amat tipis itu.

Ketua agama Hek-coa-kauw lantas menggandeng tangan kedua orang gadis itu, di kanan kirinya. Ia mengajak mereka berdua berjalan keluar dari kuil dan mendaki ke puncak bukit. Para penduduk dusun diperbolehkan ikut untuk menyaksikan bahwa dua orang gadis itu benar-benar dikorbankan kepada Dewa Ular Hitam penjaga bukit.


Berbondong-bondong semua orang mengikuti Hek-coa-kauwcu yang menggandeng dua orang gadis ‘pengantin’ itu dengan kagum dan heran karena kini dua orang gadis itu sama sekali tidak sedih dan takut, tidak menangis lagi bahkan ada senyum berkembang di bibir mereka! Tiga orang pendeta atau anggota Hek-coa-kauwcu tadi tidak ikut mendaki bukit. Semua orang mengira bahwa mereka bertiga bertugas di kuil sehingga tidak ikut naik ke puncak.

Karena letak kuil itu memang sudah dekat puncak, maka sebentar saja mereka sudah tiba di puncak. Semua orang memandang ngeri pada sebuah lubang besar seperti sumur yang dikelilingi batu-batu hitam. Itulah lubang yang oleh Hek-coa-kauwcu disebut Pintu Istana Dewa Ular Hitam! Selama tiga bulan ini sudah beberapa kali mereka menyaksikan korban dijatuhkan ke dalam lubang yang lebar itu. Bahkan kerbau pun bisa dimasukkan ke lubang itu!

Sesudah Hek-coa-kauwcu dan dua orang gadis berdiri di tepi lubang, dan kedua gadis itu sama sekali tidak tampak takut, Hek-coa-kauwcu lalu mengadakan upacara sembahyang singkat. Dia membakar dupa sembahyang, lantas memberi hormat ke arah lubang sambil berseru lantang sekali. “Oh, Dewa Ular Hitam yang mulia! Terimalah korban persembahan penduduk dusun ini dan berkahi mereka semua!”

Sesudah bersembahyang, raksasa muka hitam itu lalu mempergunakan kedua tangannya yang besar, menangkap dua orang gadis itu dan... melempar kedua orang gadis itu dalam lubang! Terdengar suara menggelegar dari bawah, suara yang bergema seperti guntur.

“Kami terima persembahan!”

Semua orang menundukkan muka. Ada yang berkemak-kemik sembahyang.

Hek-coa-kauwcu lalu melangkah menuruni puncak, diikuti semua penduduk yang merasa ngeri dan tidak berani berlama-lama berada di puncak itu yang menjadi ‘istana’ Dewa Ular Hitam!

Namun jika semua orang terburu-buru mengikuti Hek-coa-kauwcu menuruni puncak, ada dua orang wanita setengah tua yang turun tertatih-tatih lemas sambil menangis sehingga mereka tertinggal amat jauh oleh orang-orang lain. Mendadak mereka berhenti melangkah kemudian terbelalak memandang seorang pemuda yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka. Pemuda ini adalah Thian Liong.

Dia menyaksikan semua yang terjadi. Sejak munculnya tiga orang pendeta tadi, dia telah merasa curiga sekali. Apa lagi setelah muncul Hek-coa-kauwcu yang menggunakan asap hitam tebal untuk muncul secara ajaib lalu melihat betapa Hek-coa-kauwcu menggunakan sihir untuk membuat dua orang gadis itu menjadi penurut, hatinya sudah menduga bahwa dia berhadapan dengan orang-orang jahat yang berkedok agama sesat. Akan tetapi dia tidak segera turun tangan karena ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ketika dia melihat dua orang gadis itu benar-benar dilempar ke dalam sumur, dia terkejut. Tadinya dia menyangka bahwa penjahat-penjahat itu akan mengambil dua orang gadis itu untuk mereka sendiri. Tidak tahunya mereka dilempar ke dalam sumur yang dinamakan ‘Pintu Istana Dewa Ular Hitam’! Dia pun menjadi ragu-ragu dan melihat dua orang wanita setengah tua itu pergi dengan lemas sambil menangis, dia cepat menghadang mereka.

“Jangan takut, Bibi!” katanya lembut melihat dua orang wanita itu memandang kepadanya dengan wajah ketakutan. “Memang aku bukan penduduk sini, tetapi aku berniat menolong kalian. Ceritakanlah, mengapa kalian menangis?”

Melihat penampilan dan mendengar suara lembut Thian Liong, dua orang wanita itu tidak takut dan ragu-ragu lagi. “Kami sedih karena dua orang gadis yang dikorbankan itu adalah puteri kami.”

“Hemm, mengapa puteri kalian yang dikorbankan?”

“Karena anak-anak kami berdua itu termasuk cantik, juga karena kami sudah janda, maka kepala dusun dapat memaksa kami dua orang janda yang tidak berdaya untuk merelakan anak kami dijadikan korban.”

“Akan tetapi apa yang terjadi? Siapakah Hek-coa-kauwcu itu dan kenapa para penduduk dusun menyerahkan anak gadis kalian sebagai korban untuk Dewa Ular Hitam? Siapakah Dewa Ular Hitam itu?”

Secara bergantian, saling bantu dan saling melengkapi, dua orang janda itu lalu bercerita. Dimulainya pada tiga bulan yang lalu. Tiga orang pendeta berpakaian hitam dengan tanda gambar ular hitam di dada itu memasuki dusun, lalu memperkenalkan agama baru yang mereka namakan Hek-coa-kauw (Agama Ular Hitam) kepada mereka. Ketiga pendeta itu mengatakan bahwa mereka menggunakan kuil tua di lereng bukit sebagai kuil mereka dan mereka mengundang para penduduk untuk bersembahyang ke kuil agar bisa memperoleh bantuan berupa apa saja, baik itu penyembuhan orang sakit, mempermudah datangnya jodoh, memperbanyak rejeki, meramal nasib dan sebagainya.

Para penduduk percaya, apa lagi setelah kabarnya banyak penduduk yang keinginannya terkabul. Dan yang paling mengesankan, mereka melihat kemunculan ketua agama, yaitu Hek-coa-kauwcu secara gaib, melihat pula betapa ketua itu amat sakti dan pandai, maka semua orang semakin percaya dan tunduk. Kemudian mulailah Hek-coa-kauwcu, melalui tiga orang anak buahnya, mengajukan permintaan yang bukan-bukan.

“Mula-mula mereka minta agar korban berupa emas dan perak dihaturkan kepada Dewa Ular yang berdiam di puncak sebagai penjaga bukit. Kemudian mereka minta korban yang berupa ternak kerbau, kambing atau ayam. Katanya perintah itu datangnya dari Dewa Ular Hitam.

“Kami percaya karena semua korban itu dilempar ke dalam sumur mengerikan itu!”

“Mengapa penduduk dusun menurut saja dan tidak menolak?” tanya Thian Liong heran.

“Mula-mula kami menolak, akan tetapi setiap kali ada satu permintaan yang tak dipenuhi, pasti ada seorang penduduk yang tewas secara aneh, tanpa luka sedikit pun dan para pendeta itu mengatakan bahwa itu adalah kutuk dari Dewa Ular Hitam! Setelah ada lima orang yang tewas akibat penolakan kami, semua orang tidak berani lagi menolak. Bahkan tak ada yang berani menolak ketika ada permintaan agar dikorbankan gadis-gadis cantik. Sudah empat orang gadis dikorbankan, enam orang termasuk anak kami tadi.” Dua orang janda itu menangis lagi.

Thian Liong menekan hatinya agar kemarahannya jangan meledak. Sungguh jahat para penjahat yang menggunakan kedok agama baru itu! Harta benda dan hewan ternak para penduduk dusun yang hidupnya tidak dapat dibilang berlebihan itu mereka minta dengan paksaan, bahkan enam orang gadis para penduduk dusun itu pun mereka ambil. Juga ada beberapa orang yang sudah mereka bunuh untuk membuat para penduduk menjadi takut sehingga mau menaati segala perintah para penjahat itu, memenuhi segala tuntutannya.

“Pulanglah, Bibi. Aku akan membebaskan anak-anak kalian kemudian membawa mereka pulang ke dusun kalian.”

Sesudah berkata demikian, sekali berkelebat tubuh Thian Liong sudah lenyap dari depan dua orang janda itu. Mereka terbelalak, saling pandang, lantas menjatuhkan diri berlutut menghaturkan terima kasih kepada Thian sebab mereka merasa yakin bahwa Tuhan telah mengutus seorang dewa penolong untuk menyelamatkan dua orang anak mereka beserta seluruh penduduk dusun!

Sesudah menghaturkan terima kasih, kedua orang janda ini berlari secepatnya pulang ke dusun mereka kemudian menceritakan kepada semua orang tentang pertemuan mereka dengan seorang dewa yang berjanji hendak menolong dan memulangkan dua orang anak gadis mereka.

Mendengar cerita ini, kepala dusun beserta para penduduk lalu beramai-ramai melakukan sembahyang, menghaturkan terima kasih kepada Thian dan mendoakan semoga ‘pemuda dewa’ yang akan menolong mereka itu akan berhasil membasmi Hek-coa-kauw yang jahat itu sehingga dusun mereka akan terbebas dari ancaman dan pemerasan pendeta itu…..

********************

Sementara itu Thian Liong berlari cepat mendaki puncak itu dan sesudah tiba di puncak, dia menghampiri lubang yang disebut sebagai pintu istana Dewa Ular Hitam! Dia melihat ke bawah. Gelap dan tidak tampak sesuatu karena bayangan batu-batu menutupi lubang itu sehingga gelap. Tadi, pada saat dua orang gadis itu dilempar ke dalam sumur ini, tidak terdengar bunyi benda jatuh karena saat itu pula terdengar suara yang menggelegar dari bawah sehingga tentu saja suara itu menutupi semua suara lain yang keluar dari sumur itu.

Thian Liong mengambil sepotong batu dan melemparkan batu itu ke dalam sumur sambil mendengarkan dengan penuh perhatian. Pendengarannya amat peka dan terlatih. Dalam waktu pendek dia mendengar suara, bukan berdebuknya suara batu jatuh di tanah, akan tetapi suara batu itu jatuh di tempat yang lunak karena yang tertangkap pendengarannya hanya suara “wutt!” yang lemah.

Dengan mengandalkan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah tinggi tingkatnya, dia melayang ke dalam sumur sambil mencabut Thian-liong-kiam (Pedang Naga Terbang) untuk menjaga kalau-kalau ada serangan menyambutnya. Akan tetapi serangan itu tidak ada, dan kakinya menyentuh tali temali. Keadaan di dasar sumur itu ternyata tidak terlalu gelap dan remang-remang dia dapat melihat bahwa dia hinggap di dalam kantung dari jala atau jaring terbuat dari tali yang kuat!

Ah, kedua orang gadis itu tadi tentu tidak terluka dan terjatuh ke dalam jaring ini, pikirnya. Hemm, tidak salah dugaannya. Pelemparan korban ke dalam sumur itu hanya tipuan saja untuk mengelabui penduduk dusun supaya mereka percaya bahwa yang minta disediakan korban-korban itu benar-benar Dewa Ular Hitam penunggu bukit!

Akan tetapi Thian Liong segera mendengar langkah kaki mendatangi tempat itu. Ah, jaring ini pasti dihubungkan dengan suatu alat yang menggerakkan sesuatu yang menimbulkan suara atau tanda bahwa ada yang terjatuh ke dalam jaring. Dia mendengarkan dan tahu bahwa yang datang ada tiga orang.

Dari langkah mereka itu dia dapat mengukur ilmu meringankan tubuh mereka. Memang lebih dari orang biasa, akan tetapi bagi dia tidak seberapa mengkhawatirkan. Cepat dia menyarungkan pedangnya lalu menyembunyikan pedang itu di balik bajunya, diselipkan di balik baju di ikat pinggangnya. Dia ingin melihat apa yang akan dilakukan para penjahat itu.

Bersama dengan datangnya tiga orang itu, tampak sinar menerangi tempat itu. Ternyata seorang di antara mereka bertiga membawa sebatang obor yang bernyala terang. Thian Liong segera mengenal ketiga wajah pendeta-pendeta yang tadi menyambut orang-orang dusun yang mengantarkan dua orang gadis ke kuil. Tiga orang tinggi besar yang memakai pakaian serba hitam dengan gambar ular hitam berlatar belakang lingkaran putih di dada.

Melihat bahwa yang terjatuh ke dalam jaring adalah seorang pemuda yang tidak mereka kenal, tiga orang itu segera mengerutkan alis. Dengan wajah beringas mereka mendekati Thian Liong yang seperti seekor ikan besar di dalam jaring itu.

“Hei, siapa engkau?!” seorang dari mereka membentak.

“Aku...?” Thian Liong bersikap ketakutan. “Saya... saya dimasukkan ke pintu istana Dewa Ular Hitam oleh penduduk dusun, dijadikan korban untuk menyenangkan hati Dewa yang mulia. Barang kali Dewa Ular Hitam membutuhkan seorang laki-laki sebagai pelayan.”

“Hemm, boleh juga. Kita memang membutuhkan pelayan untuk disuruh-suruh,” kata salah seorang dari mereka yang hidungnya besar seperti disengat tawon hingga membengkak, kepada dua orang kawannya.

“Ahh! Lebih baik kita bunuh saja orang lancang ini! Dia dapat membocorkan rahasia kita!” kata orang kedua yang kepalanya botak sehingga licin mengkilap ketika tertimpa cahaya obor.

“Ehh, kalian jangan tergesa-gesa mengambil keputusan seenaknya sendiri. Yang berhak mengambil keputusan adalah Gu-twako... eh, Kauwcu. Mari kita bawa tawanan ini kepada Kauwcu, terserah padanya mau diapakan bocah ini. Mau dijadikan pelayan atau dibunuh, kita tinggal melaksanakan. Kalau kita mendahului mengambil keputusan di luar tahunya, tentu dia akan marah dan celakalah kita.”

Dua orang yang lain membenarkan ucapan orang ketiga yang memakai jenggot pendek kaku laksana kawat dan matanya lebar. Mereka lalu melepaskan ikatan jaring sehingga Thian Liong terlepas dari jaring yang tergantung sekitar lima kaki (1,5 meter) dari tanah itu. Thian Liong membiarkan dirinya lemas sehingga dia pun jatuh berdebuk di atas tanah. Melihat betapa pemuda itu seorang lemah, maka tiga orang pendeta atau anak buah Hek-coa-kauw itu tidak merasa perlu untuk meringkus atau membelenggunya.

“Hayo, jalan kau!” bentak Si Hidung Bengkak yang memegang obor sambil mendorong Thian Liong dengan tangan kiri. Tenaga dorongan itu cukup kuat, tetapi bagi Thian Liong tentu saja tidak ada artinya. Akan tetapi dia pura-pura terhuyung, lalu dia melangkah maju memasuki terowongan yang jalannya menurun.

Secara diam-diam Thian Liong memperhitungkan. Terowongan itu cukup jauh, merupakan terowongan yang tingginya sekitar dua meter, lebarnya satu setengah meter. Hemm, jika perkiraannya tidak salah, terowongan itu terus menurun menuju ke arah kuil!

Setelah cukup jauh mereka berjalan, mereka tiba di sebuah ruangan yang cukup luas dan Si Hidung Bengkak memadamkan obornya karena ruangan itu terang, selain mendapat cahaya matahari yang datang dari bagian atas yang berlubang-lubang dan berbatu, juga di situ terdapat penerangan lampu-lampu gantung yang cukup banyak.

Begitu memasuki ruangan yang luas itu, segera Thian Liong mendengar isak tertahan dari sebelah kanan. Dia menoleh dan melihat sebuah kamar yang pintunya berterali (memakai kisi-kisi) sehingga dia dapat melihat keadaan dalam kamar itu.

Dia melihat empat orang gadis muda duduk di atas sebuah pembaringan dan keempatnya menangis tanpa suara, hanya terisak-isak. Wajah mereka sangat pucat, rambut mereka kusut dan mereka kelihatan ketakutan dan berduka.

Thian Liong lalu teringat akan cerita dua orang janda bahwa selain dua orang gadis anak mereka, lebih dulu sudah ada empat orang gadis yang dijadikan korban dilempar ke dalam pintu istana Dewa Ular Hitam itu. Tentu inilah empat orang gadis yang dijadikan korban itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner