JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-08


“Hayo jalan terus, jangan berhenti dan memandang ke mana-mana!” bentak Pendeta yang kepalanya botak sambil mendorong punggung Thian Liong sehingga pemuda itu terhuyung ke depan.

Sesudah melewati ruangan itu, mereka tiba di sebuah ruangan lain. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah meja besar, empat buah kursi dan sebuah pembaringan besar. Di sudut terdapat dua buah bangku dan panaslah hati Thian Liong melihat betapa di setiap bangku rebah telentang seorang gadis yang kaki serta tangannya terikat pada bangku. Itulah dua orang gadis remaja yang tadi dilemparkan ke dalam sumur! Kedua orang gadis itu juga menangis tanpa suara, tampak ketakutan dan tidak berdaya. Thian Liong merasa lega karena dia dapat melihat bahwa dua orang gadis remaja yang baru saja ditawan itu belum diganggu. Kedatangannya tidak terlambat!

Dia melihat seorang laki-laki raksasa yang tadi mengaku sebagai Hek-coa-kauwcu, duduk menghadapi meja yang besar di mana terhidang beberapa mangkok masakan dan seguci arak dengan cawannya. Dan di sudut ruangan itu Thian Liong melihat sebuah peti besar. Pasti peti itu merupakan tempat penyimpanan harta benda yang mereka peroleh dari para penduduk, pikir Thian Liong.

“Hemm, bagaimana kalian dapat menangkap anjing ini?” Hek-coa-kauwcu bertanya sambil memandang rendah kepada Thian Liong.

“Dia jatuh ke dalam jaring, Kauwcu. Katanya dia memang dijadikan korban agar menjadi pelayan di sini,” kata Si Kepala Botak.

“Bohong! Tidak mungkin penduduk dusun itu memberikan sesuatu yang tidak kita minta. Paksa dia untuk mengaku!” kata raksasa bermuka hitam itu.

“Berlutut kau!” Si Hidung Besar membentak sambil mendorong Thian Liong agar berlutut menghadap raksasa muka hitam itu.

Akan tetapi sekarang, sesudah Thian Liong tahu bahwa gerombolan penjahat itu hanya terdiri dari empat orang itu, dia segera bertindak. Ketika Si Hidung Besar mendorongnya, tubuhnya sama sekali tidak terguncang dan dia cepat membalik, menangkap lengan orang yang mendorongnya lantas sekali tarik dengan pengerahan tenaga, Si Hidung Besar itulah yang roboh berlutut!

Melihat hal ini, dua orang kawannya, yaitu Si Botak dan Si Mata Lebar berjenggot menjadi marah. Tanpa berkata apa-apa lagi mereka berdua segera menerjang Thian Liong sambil mencabut pedang yang tergantung di pungung mereka.

Thian Liong cepat mengelak. Si Hidung Besar sudah bangkit pula dan dengan pedang di tangan dia pun mengeroyok Thian Liong.

Pemuda ini tidak mau memberi hati lagi. Tubuhnya bergerak cepat sekali sehingga yang tampak hanya bayangannya saja berkelebat, kaki serta tangannya menyambar-nyambar lantas terdengarlah teriakan tiga orang pengeroyok itu dan satu demi satu mereka roboh dengan tubuh terluka berdarah oleh pedang mereka sendiri.

Ternyata dengan cepat sekali Thian Liong dapat menangkap satu demii satu pergelangan tangan para pengeroyok yang memegang pedang lalu membalikkan tangan itu sehingga pedangnya melukai si pemegang sendiri. Ada yang pundaknya terbacok, ada yang lengan kirinya terbacok, dan ada yang pedangnya meluncur ke bawah melukai paha sendiri. Tiga orang itu terpelanting, lalu mengaduh-aduh sambil memegangi bagian tubuh yang terluka mengucurkan darah.

Hek-coa-kauwcu menjadi terkejut, akan tetapi juga marah bukan main. Dia bangkit berdiri kemudian membuka lingkaran ular hitam yang melilit pinggangnya. Entah apa yang sudah dilakukannya terhadap ular hitam itu karena mendadak ular hitam itu mengangkat kepala tinggi-tinggi, kemudian mengeluarkan suara mendesis-desis marah dan dari moncongnya menyambar uap kehitaman yang mengeluarkan bau amis!

Thian Liong maklum bahwa ular hitam itu adalah ular berbisa dan amat berbahaya, maka sekaIi kakinya mencuat, meja yang berada di depan raksasa muka hitam itu sudah ditendangnya sehingga meja itu langsung melayang ke arah Hek-coa-kauwcu, didahului oleh mangkok-mangkok sayur, guci dan cawan arak!

Akan tetapi walau pun memiliki tubuh tinggi besar dengan perut gendut, ternyata raksasa muka hitam itu dapat bergerak dengan begitu gesitnya. Tubuhnya sudah cepat mencelat ke kiri sehingga serangan meja itu tidak mengenai dirinya.

“Anjing kecil, mampus kau!” bentaknya dan sinar hitam menyambar leher Thian Liong. Itu adalah ular yang dipegang ekornya oleh Hek-coa-kauwcu lantas diayun menyerang Thian Liong. Moncong ular itu terbuka dan siap menggigit leher pemuda itu.


Tapi dengan mudah saja Thian Liong menghindar dengan langkah kakinya, kemudian dari samping dia membalas dengan serangan kakinya yang mencuat dalam sebuah tendangan kilat yang mendatangkan angin dahsyat ke arah perut gendut lawannya. Hek-coa-kauwcu menggerakkan tangan kirinya yang besar dan panjang, mengerahkan tenaga menangkis ke arah kaki yang menyambar dengan maksud untuk memukul patah kaki lawan.

“Syuuuttt...! Dukkk!”

Hebat bukan main benturan antara kaki dan lengan yang besarnya seimbang dengan kaki Thian Liong. Seluruh ruangan itu seperti tergetar oleh pertemuan dua tenaga dahsyat itu dan akibatnya, tubuh Hek-coa-kauwcu lantas terhuyung ke belakang dan lengannya yang menangkis terasa panas dan nyeri!

Hek-coa-kauwcu menjadi semakin marah, juga dia menyadari bahwa pemuda itu bukanlah seorang korban seperti pengakuannya tadi, melainkan seorang pendekar yang jelas-jelas hendak menentangnya.

Melihat bahaya mengancam, sementara tiga orang murid yang membantunya dalam aksi kejahatan yang berkedok agama baru Hek-coa-kauwcu itu kini telah terkapar dan terluka sehingga tidak dapat membantunya lagi, dia menjadi nekat. Akan tetapi dia pun mencari jalan untuk dapat menggunakan ilmu sihirnya, maka setelah adu tenaga tadi, dia berseru.

“Tahan dulu! Orang muda, jelas bahwa engkau bukanlah seorang penduduk dusun, tetapi engkau sengaja datang hendak mengganggu kami! Katakan, siapakah engkau?”

“Namaku Souw Thian Liong. Jangan mengatakan bahwa aku datang hendak mengganggu karena kalau bicara tentang gangguan, maka engkau dan tiga pembantumulah yang telah mengganggu penduduk dusun selama tiga bulan ini! Engkau dapat membodohi penduduk dusun dengan Dewa Ular Hitam itu, namun aku tahu bahwa engkau sudah membohongi rakyat. Aku datang untuk menghentikan kejahatanmu yang sangat keji itu! Engkau bukan saja memeras rakyat agar menyerahkan harta benda dan ternak mereka, akan tetapi juga mengganggu gadis-gadis mereka!”

Secara diam-diam Hek-coa-kauwcu membaca mantera dan mengerahkan kekuatan sihir dalam pandang matanya, lalu membentak. “Souw Thian Liong! Aku tidak berbohong. Lihat baik-baik, aku adalah penjelmaan Dewa Ular Hitam!”

Raksasa itu membuat gerakan dengan dua tangannya ke arah Thian Liong, lalu tiba-tiba dia mengeluarkan suara mendesis-desis dan mengalungkan ular hitamnya di leher. Kedua matanya mencorong dan mengandung getaran tenaga sihir yang amat kuat! Thian Liong kagum juga karena getaran tenaga sihir itu sedemikian kuatnya sehingga mendadak dia melihat betapa kepala laki-laki tinggi besar itu berubah menjadi kepala ular raksasa yang amat mengerikan!

Akan tetapi Thian Liong adalah murid Tiong Lee Cin-jin yang sakti dan yang tahu tentang segala macam ilmu sihir yang berasal dari negara barat (India) dan tahu pula bagaimana untuk mengatasinya. Maka, melihat perubahan kepala itu, Thian Liong tersenyum tenang dan begitu dia mengerahkan kekuatan batinnya, kepala raksasa itu pulih kembali seperti biasa.

Hek-coa-kauwcu tidak menyadari bahwa Thian Liong tidak terpengaruh oleh sihirnya dan menyangka bahwa pemuda itu telah dapat dia pengaruhi. Dia lalu berseru nyaring dengan suara memerintah.

“Souw Thian Liong, berlututlah engkau dan beri hormat kepada Hek-coa-sian (Dewa Ular Hitam)!”

Thian Liong bisa merasakan getaran kuat yang menyerangnya dan hendak memaksanya menjatuhkan dirinya berlutut. Akan tetapi dengan pengerahan tenaga dalamnya dia dapat menangkis serangan ini, bahkan dia tersenyum dan berkata dengan suara lembut namun mengandung wibawa yang kuat.

“Hek-coa-kwi (Setan Ular Hitam)! Jika engkau ingin berlutut maka berlututlah sendiri, tidak perlu mengajak aku!”

Mendadak kedua kaki raksasa itu bertekuk lutut! Dia menjadi terkejut bukan main. Tidak disangkanya bahwa akan begini jadinya! Barulah dia menyadari bahwa pemuda itu bukan saja tidak terpengaruh sihirnya, akan tetapi bahkan dapat menyerang balik sehingga dia sendiri yang berlutut.

Akan tetapi dia dapat menguasai dirinya dengan cepat. Kini dia telah melompat berdiri lalu melepaskan ular hitam itu dari lehernya, kemudian menyerang Thian Liong dengan ular itu yang dia gunakan sebagai cambuk. Kepala ular itu menyambar dengan moncong terbuka.

Akan tetapi dengan mudah Thian Liong dapat menghindarkan diri dengan elakan-elakan. Ular itu menyambar-nyambar, mengeluarkan suara mendesis-desis dan bercuitan saking cepat dan kuatnya ular itu digerakkan oleh tangan raksasa muka hitam itu. Namun Thian Liong bergerak dengan tenang, mengelak ke sana-sini sambil berloncatan dan ketika dia mendapat kesempatan, kaki kirinya langsung menendang.

“Bukkk!”

Perut gendut itu terkena tendangan. Raksasa yang nama aslinya Gu Pang itu melindungi perutnya dengan kekebalan sehingga tidak terluka dalam, namun tetap saja tubuh yang tinggi besar dan amat berat itu terlempar oleh tendangan itu sampai menabrak dinding!

Gu Pang mengeluarkan gerengan laksana seekor singa marah. Mukanya yang hitam itu menjadi semakin hitam karena darah telah naik ke kepalanya. Dia tidak menderita rasa nyeri, hanya kemarahan yang semakin berkobar. Dia bangkit berdiri dan kini dia memutar-mutar ular hitam itu di atas kepalanya.

Thian Liong mengira bahwa Iawannya itu akan menyerangnya lagi dengan ular hitam itu sebagai senjata. Akan tetapi ternyata tidak. Gu Pang memutar-mutar ularnya lalu tiba-tiba dia melepaskan ekor ular yang dipegangnya sehingga ular itu meluncur seperti sebatang tombak yang dilontarkan ke arah Thian Liong!

“Hemmm...!” Dengan tenang Thian Liong menggeser kakinya ke kanan, lalu ketika ular itu meluncur lewat, dia langsung menggerakkan tangan kanan yang miring, memukul ke arah kepala ular itu.

“Prakk!” Ular itu terlempar menabrak dinding dan jatuh berkelojotan dengan kepala remuk.

Melihat ini, raksasa itu semakin kaget dan mulai gentar. Akan tetapi karena tidak melihat jalan keluar, dan ketiga orang pembantunya masih tidak berdaya, duduk dan merintih, dia menjadi nekat. Dicabutnya pedang dari punggungnya, kemudian dengan lompatan buas dia menerjang ke arah Thian Liong, pedangnya diputar sehingga menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar!

Melihat gerakan pedang orang itu cukup cepat dan kuat sehingga berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan mengeluarkan suara berdesing, Thian Liong juga cepat mengambil pedang Thian-liong-kiam dari balik bajunya. Maka terjadilah pertandingan yang seru, kali ini keduanya sama-sama memegang sebatang pedang.

Bagi Thian Liong, sebenarnya tingkat kepandaian lawannya itu tidaklah seberapa kuat dan kalau dia menghendaki, dalam sepuluh jurus saja dia akan mampu merobohkannya. Akan tetapi Thian Liong tidak ingin membunuh lawan. Gurunya, Tiong Lee Cin-jin, mengajarnya agar dia tidak membunuh lawannya, betapa jahat pun lawan itu.

Sedapat mungkin dia berusaha untuk menyadarkan orang yang tersesat supaya kembali ke jalan kebenaran. Jika perlu mengalahkannya dengan kekerasan dan memberi hajaran agar bertobat, akan tetapi dia dianjurkan oleh gurunya agar tidak membunuh orang. Maka kini pun Thian Liong tidak mau membunuh Iawannya dan hanya ingin membuatnya tidak berdaya tanpa melukainya dengan parah.

Namun karena laki-laki raksasa ini memang bukan lawan sembarangan, memiliki tenaga yang amat besar, maka tidak terlalu mudah bagi Thian Liong untuk dapat merobohkannya tanpa melukainya dengan berat. Dan sesudah lewat tiga puluh jurus, barulah Thian Liong berhasil mendapat kesempatan.

“Hyaaaatttt...!” Thian Liong berseru.

Ketika pedang lawan menyambar, dia menangkis dan dengan penggunaan tenaga sakti, dia membuat pedang lawan menempel pada pedangnya dan pada saat Hek-coa-kauwcu Gu Pang bersitegang mencoba untuk menarik lepas pedangnya, Thian Liong sudah cepat memukul dengan tangan kirinya, mengenai pundak lawan.

“Krekk…!”

Tubuh Gu Pang terjengkang. Pedangnya terlepas dari tangan kanan yang menjadi lumpuh dan terasa nyeri bukan kepalang karena tulang pundak kanannya sudah patah-patah oleh pukulan tangan kiri Thian Liong! Raksasa itu hanya dapat bangkit duduk sambil meringis dan merintih, memegang pundak kanan dengan tangan kirinya. Rasa nyeri yang menusuk membuat dia tidak mampu berdiri lagi.

Thian Liong tidak mempedulikan empat orang penjahat itu. Dia cepat membebaskan dua orang gadis remaja, juga membobol daun pintu kamar di mana empat orang gadis lainnya dikurung. Enam orang gadis remaja itu berkumpul, lalu berbarengan mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Thian Liong, menghaturkan terima kasih dengan suara gemetar dan tubuh menggigil ketakutan.

Tiba-tiba saja Thian Liong mendengar suara banyak orang di atas ruangan itu. Thian Liong memandang kepada enam orang gadis itu kemudian bertanya, “Di mana pintu jalan keluar tempat ini?”

Seorang di antara empat gadis yang sudah dua bulan dikurung di situ, menuding ke atas sambil berkata, “In-kong (Tuan Penolong), mereka biasanya turun dari atas langit-langit itu yang dapat dibuka dan ditutup.”

Thian Liong melompat ke atas, lalu menggunakan tangan memukul langit-langit ruangan itu yang tampak jelas terbuat dari papan kayu.

“Braakkkk...!”

Langit-langit itu segera jebol. Ternyata langit-langit itu menembus sebuah bangunan dapur yang menjadi bagian bangunan sebelah belakang dari kuil tua! Kiranya inilah jalan rahasia para penjahat itu sehingga mereka dapat keluar masuk ruangan bawah tanah ini melalui lantai dapur yang dapat dibuka dan ditutup dengan mempergunakan alat rahasia yang kini menjadi rusak karena langit-langit dari papan tebal itu dijebol dengan paksa oleh pukulan Thian Liong tadi!

Tiba-tiba terdengar suara banyak orang dan tampak banyak kepala menjenguk ke bawah. Itu adalah kepala para penduduk dusun yang ternyata telah berkumpul di kuil itu, seratus orang lebih banyaknya. Tadi mereka menjadi berani dan nekat setelah mendengar laporan dua orang janda ibu dua orang gadis remaja yang dijadikan korban bahwa ada seorang manusia sakti bagaikan dewa hendak menolong. Maka, di bawah pimpinan kepala dusun mereka lalu berbondong-bondong mendekati kuil itu dan melihat kuil itu kosong, mereka mengobrak-abrik kuil dan mencari-cari. Namun tiga orang pendeta itu tidak dapat mereka temukan.

Selagi mereka mencari-cari di bagian belakang, mereka mendengar suara pecahnya lantai dapur. Segera mereka menyerbu masuk dan menjenguk ke bawah lantai yang sudah jebol itu. Mereka melihat Thian Liong berdiri di sana bersama enam orang gadis, dan melihat pula Hek-coa-kauwcu yang tinggi besar bersama tiga orang pendeta sudah duduk sambil merintih dan terluka. Orang-orang itu langsung bersorak, kemudian berbondong mereka turun menggunakan tali dan berebutan memasuki ruangan bawah tanah.

Melihat semua orang memasuki ruangan itu, lantas dengan beringas mereka menyerang empat orang penjahat dengan berbagai senjata yang mereka bawa. Thian Liong berusaha mencegah, namun suaranya hilang ditelan suara begitu banyak orang. Dia melihat betapa empat orang penjahat itu minta-minta ampun, akan tetapi suara mereka segera berubah menjadi teriakan kesakitan yang semakin lama semakin melemah. Suara mereka tertutup oleh begitu banyak suara orang yang dengan geram memaki-maki sambil senjata mereka berdebukan menghantami tubuh empat orang penjahat yang sudah tak mampu melawan itu.

Thian Liong menghela napas. Dia tidak berdaya menolong nyawa empat orang itu karena para penduduk dusun memenuhi ruangan itu dan mereka seperti kesetanan menghujani tubuh empat orang penjahat itu dengan hantaman bermacam senjata yang mereka bawa dari rumah tadi. Ada yang menggunakan golok, pisau, linggis, sekop, tongkat, bahkan ada yang menggunakan cangkul untuk menghajar tubuh empat orang penjahat itu.

Karena sudah tidak ada hal yang dapat dia kerjakan lagi, dan dia tidak ingin repot karena penduduk dusun itu pasti akan menyanjung dan menghormatinya, maka Thian Liong pun cepat menggunakan kesempatan selagi mereka berpesta pora. Dia melompat naik melalui langit-langit yang sudah jebol, lalu dengan cepat meninggalkan bukit itu dan melanjutkan perjalanannya.

Pada waktu dia melewati dusun yang dikacau oleh empat orang penjahat yang menyamar sebagai pendeta Hek-coa-kauw itu, dia sedang dalam perjalanan menuju ke dusun Kian-cung di dekat Telaga Barat (See-ouw) karena dia hendak mengunjungi suami isteri Han Si Tiong dan Liang Hong Yi yang telah dikenalnya dengan baik.

Dia harus menemui mereka, orang tua Han Bi Lan itu, untuk menjelaskan mengapa dia sampai menghajar Bi Lan dengan menampar pinggulnya sebanyak sepuluh kali. Dia harus menceritakan hal itu kepada mereka untuk mencegah timbulnya kesalah-pahaman karena kalau Bi Lan lebih dahulu bercerita kepada mereka, tentu dia akan dianggap kurang ajar, tidak sopan dan menghina seorang gadis!

Dengan melakukan perjalanan cepat, kurang lebih dua pekan kemudian tibalah dia di See-ouw (Telaga Barat). Dia langsung saja memasuki dusun Kian-cung dan menuju ke rumah Han Si Tiong yang pernah dia kunjungi bersama Puteri Moguhai. Rumah itu tampak sunyi dan ketika Thian Liong menghampiri pintu depan, dari dalam rumah muncul seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun. Dari pakaian serta sikapnya yang membungkuk dengan hormat, Thian Liong dapat menduga bahwa orang itu tentu seorang pelayan keluarga Han itu.

“Paman, saya ingin bertemu dengan Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi. Tolong laporkan bahwa saya, Souw Thian Liong, ingin bertemu.”

“Maaf, Kongcu (Tuah Muda), rumah ini kosong, hanya ada saya yang bertugas menjaga rumah ini.”

“Bukankah ini rumah keluarga Han?”

“Benar, Kongcu.”

“Lalu ke mana perginya Paman Han Si Tiong?”

“Pendekar Han Si Tiong telah... telah meninggal dunia.”

Thian Liong terkejut sekali dan memandang penjaga rumah itu dengan mata terbelalak.

“Meninggal dunia? Apa... apa maksudmu, Paman?”

Dengan pandangan tajam laki-laki itu mengamati wajah Thian Liong, lalu bertanya, “Souw-kongcu (Tuan Muda Souw), apakah engkau masih ada hubungan dengan mendiang Han-enghiong (Pendekar Han)?”

“Saya bukan keluarga, akan tetapi sahabat keluarga Han, Paman, sahabat baik.”

“Kalau begitu, masuk dan duduklah, Kongcu. Kita berbicara di dalam saja,” ajak penjaga rumah itu.

Setelah mereka duduk di ruangan depan, menghadapi sebuah meja kecil, penjaga rumah itu berkata. “Perkenalkan, Kongcu. Saya biasa disebut A-siong, semua penduduk dusun ini mengenal saya. Ketika Toanio (Nyonya) meninggalkan rumah ini satu bulan lebih yang lalu, dia menugaskan saya untuk menjaga rumah ini.”

Thian Liong tidak sabar lagi, maka dia segera bertanya. “Paman A-siong, cepat ceritakan apa yang sudah terjadi? Bilakah Paman Han Si Tiong meninggal dan apakah penyakitnya sehingga dia meninggal dunia?”

“Satu bulan yang lalu. Menurut cerita beberapa orang tetangga dekat yang menyaksikan peristiwa itu sambil bersembunyi dan mengintai dari dalam rumah mereka, Han-enghiong dan Toanio kedatangan dua orang muda, yaitu seorang pemuda dan seorang gadis yang datang berkunjung. Lalu Han-enghiong bersama isterinya berkelahi melawan pemuda dan gadis itu. Para tetangga ketakutan sehingga mereka bersembunyi sambil mengintai.”

“Mengapa mereka berkelahi, Paman?”

“Saya tidak tahu, Kongcu. Tak ada seorang pun yang tahu karena tidak ada yang berani bertanya kepada Toanio. Keluarga Han amat disegani dan dihormati di daerah ini. Dalam perkelahian itu Han-enghiong roboh terluka parah dan Toanio juga terluka. Sesudah Han-enghiong dan Toanio roboh, pemuda dan gadis itu lalu melarikan diri. Toanio yang terluka pundaknya berusaha mengangkat tubuh Han-enghiong yang berlumuran darah, dibantu oleh Bibi Ji, pelayan mereka yang kini sudah pulang ke kampung semenjak Toanio pergi. Pada saat itu, datang seorang gadis yang ternyata adalah puteri Han-enghiong.”

“Han Bi Lan?”

“Jadi Kongcu telah mengenalnya? Benar, Nona itu bernama Han Bi Lan. Kemudian Han-enghiong meninggal dunia karena lukanya yang terlampau parah, tetapi isterinya selamat. Beberapa hari kemudian Nona Han Bi Lan bersama Ibunya memanggil saya dan memberi tugas kepada saya untuk menjaga rumah mereka ini, lalu mereka berdua pergi.”

“Pergi ke mana, Paman A-siong?”

“Kalau saya tidak salah ingat, Han-toanio (Nyonya Han) berkata bahwa dia hendak pergi ke kota raja.”

Thian Liong teringat akan peristiwa ketika dia bersama Puteri Moguhai, Han Si Tiong, dan Liang Hong Yi, berada di rumah Panglima Kwee Gi di kota raja. Ketika itu Panglima Kwee dan isterinya mengajukan usul kepada Han Si Tiong dan isterinya untuk menjodohkan Han Bi Lan dengan putera mereka, Kwee Cun Ki, dan ayah-bunda Bi Lan setuju.

Namun ketika itu dia sama sekali belum tahu bahwa Han Bi Lan adalah gadis yang telah mencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat milik Kun-lun-pai itu. Apa bila dia mengetahui bahwa gadis pencuri kitab itu adalah puteri mereka, pasti dia tidak akan menghukum Bi Lan dengan menampari pinggulnya sampai sepuluh kali.

Dan sekarang setelah Bi Lan kembali kepada orang tuanya, ia mendapatkan ayah ibunya terluka bahkan ayahnya lalu tewas! Sungguh kasihan gadis itu, maka semakin menyesal rasa hatinya bahwa dia telah menampari pinggul gadis itu!

Kini Bi Lan diajak ibunya pergi ke kota raja. Dia dapat menduga bahwa tentu mereka pergi berkunjung ke rumah Panglima Kwee Gi. Dia sendiri tidak tahu mengapa ketika berpikir sampai di sini, hatinya terasa hampa.

Han Bi Lan hendak dijodohkan dengan Kwee Cun Ki! Hal itu amat baik karena dia melihat bahwa Kwee Cun Ki adalah seorang pemuda yang gagah dan tampan, putera seorang panglima yang bijaksana, setia kepada Kaisar, dan terhormat pula. Ditambah lagi keadaan keluarga Kwee itu kaya raya. Bi Lan pasti akan hidup bahagia sebagai isteri Kwee Cun Ki, sebagai mantu Panglima Kwee Gi. Tetapi mengapa ada perasaan hampa dan perih dalam hatinya?

“Souw-kongcu, engkau tidak apa-apa?” tanya penjaga rumah itu ketika melihat sejak tadi Thian Liong diam saja seperti orang melamun dengan alis berkerut.

Thian Liong tersadar dari lamunannya. “Aku terkejut dan sedih mendengar akan kematian Paman Han Si Tiong karena dia adalah sahabatku yang sangat baik. Paman A-siong, di manakah makamnya? Saya ingin mengunjungi makamnya.”

“Ohh, memang Han-enghiong seorang yang sangat baik hati dan sudah sepatutnya kalau dikenang dan dikasihi sahabat-sahabatnya. Sayang ada juga yang memusuhinya sampai membunuhnya. Mari kuantar mengunjungi makamnya, Souw-kongcu.”

Mereka pun keluar dan A-siong mengunci pintu depan, lalu berangkatlah mereka ke tanah kuburan yang letaknya tidak jauh dari dusun Kian Cung. Kuburan itu masih baru, karena belum ada dua bulan jenazah Han Si Tiong dikubur di situ. Tadi dengan petunjuk A-siong, Thian Liong telah membeli perlengkapan sembahyang dan sekarang di depan makam itu dia melakukan sembahyang dengan khidmat.

Sembahyangan itu dia lakukan bukan sekedar untuk memberi hormat kepada almarhum sahabat baiknya yang sudah bersama-sama dengan dia menghadapi ancaman maut saat melawan Perdana Menteri Chin Kui dan ketika mereka ditahan dalam penjara istana.

Diam-diam Thian Liong berdoa bagi arwah Han Si Tiong semoga arwah pendekar itu akan mendapatkan tempat yang baik di alam baka. Selain itu juga diam-diam dia menceritakan tentang perlakuannya terhadap Bi Lan dan menceritakan mengapa dia sampai memukuli pinggul gadis itu! Setelah melakukan sembahyang, maka barulah hatinya merasa lega.

Setelah selesai sembahyang dan mengucapkan terima kasih kepada A-siong, Thian Liong lalu meninggalkan dusun Kian-cung.....

********************

Pada saat tiba di tepi Telaga Barat dan memandang dari tempat agak tinggi di mana dia berada, Thian Liong melihat pemandangan alam yang amat indah. Matahari cerah sekali, sinarnya menimpa permukaan telaga hingga berkilauan. Pohon-pohon besar yang tumbuh di tepi telaga tampak terbalik di permukaan air, tetapi lebih hidup dari pada aslinya karena kalau pohon-pohon di darat itu diam tidak bergerak karena tidak ada angin, pohon-pohon terbalik di permukaan air telaga itu bergoyang-goyang seperti menari-nari.

Dari tempat itu Thian Liong melihat betapa di sebelah kiri sana terdapat sebuah dusun di tepi telaga dan di dusun itulah tempat para tamu yang berdatangan dari luar daerah dan dari kota-kota besar berkumpul untuk pesiar di telaga yang terkenal itu. Banyak terdapat perahu-perahu di situ, dan para pelancong dapat menyewa perahu. Perahu-perahu besar kecil yang disewa pelancong berluncuran di atas telaga.

Thian Liong teringat akan perjalanannya dahulu di tempat ini. Dulu dia dan Pek Hong Nio-cu atau Puteri Moguhai pernah pula berdiri di tempat dia berdiri sekarang dan menikmati keindahan pemandangan di situ. Teringat akan hal ini membuat dia merasa rindu kepada Puteri Moguhai.

Puteri itu merupakan seorang sahabat yang sangat baik baginya, seorang sahabat yang akrab dan kelincahan puteri itu membuat perjalanan bersamanya menjadi gembira. Meski Puteri Moguhai adalah seorang wanita yang lincah jenaka dan pemberani, gagah perkasa dan cantik jelita, seorang puteri bangsawan agung karena dia Puteri Raja Kin, tetapi gadis itu memiliki watak yang baik sekali. Dia lebih pantas menyandang gelar Pek Hong Nio-cu sebagai seorang pendekar perkasa dari pada sebagai seorang puteri raja.

Terkenang akan Pek Hong Nio-cu amat menyentuh perasaannya dan telah menimbulkan kerinduannya untuk dapat bertemu lantas bercakap-cakap lagi dengan gadis itu. Seorang gadis yang cantik jelita, pandai dan bijaksana. Walau pun wataknya bebas sehingga akan dianggap agak liar oleh wanita pada umumnya, akan tetapi sesungguhnya gadis itu selalu menjaga kesusilaan, sopan dan tidak genit.

Kenangan manis dengan puteri Kerajaan Kin itu membuat Thian Liong ingin mengulangi kembali semua yang pernah dialaminya bersama Pek Hong Nio-cu di Telaga See-ouw ini. Maka dia pun menuruni tempat tinggi itu menuju ke dusun di pinggir telaga yang menjadi pusat perkumpulan para pelancong, di mana dahulu dia bersama Pek Hong Nio-cu juga datang dan berpelesir menyewa perahu. Ia masih ingat betapa dengan kagum dia melihat Pek Hong Nio-cu sangat pandai mendayung perahu. Puteri Raja itu agaknya serba bisa. Tidak ada hal yang tidak dapat ia lakukan dengari baik!

“Nio-cu...,” dia pun mengeluh dan makin merasa betapa dia sangat kesepian dan merasa ditinggalkan. Dia lalu mempercepat langkahnya menuju ke dusun di tepi danau itu.

Dusun Kui-sek itu memanjang di tepi telaga. Biar pun penduduknya hanya sekitar seratus rumah, akan tetapi melihat keadaan rumahnya yang lumayan dan pakaiannya yang cukup bersih dan utuh, dapat diduga bahwa kehidupan mereka tidaklah semiskin para penduduk dusun lain.

Memang para penduduk dusun yang berada di tepi Telaga Barat memiliki mata pencarian yang cukup. Sawah ladang di telaga itu subur sehingga mereka dapat memperoleh hasil yang lumayan dari bercocok tanam. Juga telaga itu mengandung banyak ikan dan saking luasnya telaga itu, agaknya ikan-ikan di situ tidak akan pernah habis walau pun setiap hari ditangkapi mereka yang bekerja sebagai nelayan.

Selain itu masih ada penghasilan tambahan, yaitu menyambut para pelancong dari daerah lain dengan menjajakan makanan, menyewakan perahu dan terkadang juga menyewakan kamar di rumah mereka apa bila ada pelancong hendak menginap. Bagi para penduduk dusun Kui-sek, para pelancong dari kota besar itu merupakan orang-orang yang royal dan membuang uang seperti pasir saja. Harga buah atau apa saja yang mereka naikkan dua kali lipat, dibeli orang-orang kota itu, malah dianggap murah! Tentu saja hal ini membuka kesempatan bagi penduduk dusun Kui-sek untuk memperoleh penghasilan yang lumayan sehingga mereka mampu memperbaiki rumah dan membeli perahu baru.

Ketika Thian Liong sampai di tepi danau, dia melihat bahwa di ujung barat dusun Kui-sek terdapat perahu-perahu para nelayan dan di sana terdapat kesibukan para nelayan. Ada yang memperbaiki jala, ada yang membetulkan perahu yang bocor, ada pula yang sedang mengangkut ikan-ikan dalam keranjang ke darat. Bau ikan tercium sampai ke bagian lain dusun itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner