JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-09


Di ujung timur merupakan tempat di mana para pelancong berkumpul, menyewa perahu, mandi di telaga, atau makan minum di rumah-rumah makan kecil sehingga lebih pantas disebut warung-warung yang menjajakan mulai dari makanan kecil sampai nasi, minuman air teh hangat sampai arak.

Harum masakan dan arak yang keluar dari warung-warung itu mendatangkan rasa lapar dalam perut Thian Liong sehingga dia memasuki sebuah di antara warung-warung itu dan memesan nasi dan sayur. Lezat rasanya makan di warung itu. Padahal yang dimakannya hanyalah hidangan yang bersahaja, nasi yang tidak begitu putih, lauknya juga hanya ikan danau dan sayur sederhana, minumnya teh pahit. Akan tetapi karena alam di situ masih asli, hawa udaranya sejuk, juga suasananya begitu nyaman dengan adanya air danau dan banyak pohon-pohon, ditambah lagi perut lapar, maka Thian Liong benar-benar menikmati makanan yang sederhana itu.

Sesudah kenyang dan keluar dari warung, empat orang tukang perahu merubungnya dan menawarkan perahu mereka untuk disewa. Melihat bahwa Thian Liong hanyalah seorang pemuda yang berpakaian sederhana walau pun bersih, sama sekali tidak menggambarkan seorang pelancong kaya, maka para tukang perahu itu menawarkan perahu mereka untuk disewa dengan harga murah. Memang hari itu tidak begitu banyak pelancong yang datang sehingga banyak perahu yang tidak mendapatkan penyewa, maka mereka berebut untuk menawarkan perahunya kepada Thian Liong.

Di antara empat orang tukang perahu itu terdapat seorang lelaki tua berusia sekitar enam puluh tahun. Tubuhnya kurus dan wajahnya agak pucat, pakaiannya juga amat bersahaja, bahkan ada dua tambalan pada bagian pundak dan paha. Dia tidak terlalu cerewet dalam menawarkan perahunya, tidak seperti tiga orang yang lain dan masih muda.

Entah mengapa, mungkin karena melihat usianya, atau pakaiannya, atau tubuhnya yang kurus, atau mungkin sekali matanya yang mengeluarkan sinar aneh, Thian Liong memilih perahu laki-laki tua itu untuk disewanya.

“Huh, perahu tua Kakek Tolol malah dipilihnya!” seorang di antara mereka berkata sambil melangkah pergi.

“Kalau bocor dan tenggelam di tengah danau, baru tahu rasa!” kata yang lain.

Mereka semua pergi meninggalkan Thian Liong sambil mengejek dan mengomel, jelas iri dan kecewa. Thian Liong diam saja, hanya tersenyum dan memandang kakek itu penuh perhatian.

Dia berusia sekitar enam puluh tahun lebih. Pakaiannya berpotongan model para nelayan, kepalanya tertutup sebuah caping lebar hingga mukanya diselimuti bayangan gelap. Akan tetapi Thian Liong dapat melihat wajah yang kurus itu, kulit mukanya pucat namun bentuk muka itu masih menunjukkan bekas-bekas ketampanan. Terutama sepasang mata kakek itu yang demikian terang mencorong, sama sekali tidak membayangkan bahwa dia adalah seorang yang bodoh, apa lagi tolol, seperti yang tadi dikatakan oleh salah seorang tukang perahu yang menyebutnya Kakek Tolol.

“Paman, di mana perahumu itu?”

“Di sana, Sicu,” kata kakek itu sambil menuding ke arah sekumpulan perahu yang berada di tepi danau, lalu dia melangkah menuju ke sana tanpa bicara lagi.

Thian Liong mengikutinya dari belakang. Suara kakek itu sama sekali tidak cocok dengan keadaan jasmaninya yang tampak lemah, kurus dan pucat. Suara itu bening lembut. Juga dia merasa heran mengapa kakek ini menyebutnya sicu, sebutan yang biasanya diberikan kepada seorang laki-laki gagah. Padahal dia sama sekali tidak tampak sebagai seorang pendekar. Pakaiannya biasa dan pedang Thian-liong-kiam tersembunyi dalam bungkusan pakaiannya.

Setelah sampai di situ, kakek itu menarik sebuah perahu keluar dari kumpulan perahu itu lalu menyeretnya ke air. Melihat kakek itu kelihatan lemah, Thian Liong membantunya dan akhirnya perahu itu dapat ditarik ke air.

“Sicu hendak menyewa perahu saja, mendayung sendiri atau ingin saya yang menemani dan mendayung?” pertanyaan ini biasa diajukan para pemilik perahu karena di antara para pelancong, ada pula yang minta si pemilik perahu mendayung dan mereka hanya duduk menikmati pemandangan dari dalam perahu.

Thian Liong melihat keadaan perahu itu dengan sapuan pandang matanya. Perahu yang tidak besar dengan payon di bagian tengah. Keadaannya sudah tua dan sederhana, pada kedua ujungnya tampak basah. Agaknya memang ada kebocoran di sana-sini dan meski pun kebocoran itu sudah ditambal dengan kayu, tetap saja air masih merembes sehingga dasar perahu menjadi basah.

Tentu saja dalam hatinya Thian Liong tidak merasa senang dengan perahu yang benar-benar buruk dan kalau bocoran itu pecah lagi memang dapat membahayakan. Akan tetapi dia merasa tidak tega untuk membatalkan. Agaknya kakek tukang perahu itu bisa melihat keraguan pada wajah Thian Liong yang mengerutkan alisnya.

“Jangan khawatir, Sicu. Perahuku ini sudah menemani saya mengarungi telaga ini selama bertahun-tahun. Biar pun tua dan buruk, perahu ini kokoh kuat dan dapat melaju dengan cepat, mempunyai keseimbangan yang baik sekali sehingga tidak mudah terguling.”

Thian Liong melihat betapa kakek itu seperti bicara kepada dirinya sendiri, tanpa menoleh kepadanya. Dia merasa tidak nyaman apa bila harus mendayung sendiri. Kakek ini tentu berpengalaman sekali dan akan lebih aman rasanya kalau ikut dalam perahu. Thian Liong merasa khawatir juga kalau sampai terjadi perahu terguling atau tenggelam. Boleh jadi dia dapat membela diri dengan baik kalau berada di darat. Akan tetapi di air, kepandaiannya renang hanya biasa saja dan kalau sampai terjadi serangan dalam air, dia akan menjadi orang yang lemah. Bahkan dalam hal menggunakan dayung saja dulu dia harus mengaku kalah terhadap Puteri Moguhai!

“Biar engkau saja yang mendayung, Paman. Saya tidak pandai mendayung perahu,” kata Thian Liong.

“Sicu hendak pergi ke manakah?”

“Hanya melihat-lihat saja, Paman. Bawa saja perahu ini ke bagian terindah di telaga ini.”

“Baik, naiklah, Sicu.”

Mereka berdua lalu naik ke atas perahu. Kakek itu mengambil tempat duduk, kemudian memegang dua buah dayung di kanan kiri perahu. Thian Liong duduk di bawah payonan sehingga mereka duduk berhadapan.

“Sicu, sebaiknya sicu menghadap ke depan agar dapat menikmati pemandangan indah di bagian depan.”

“Nanti dulu, Paman. Saya ingin bicara dahulu dengan Paman. Saya harap Paman jangan menyebut sicu kepada saya. Saya hanya seorang biasa seperti Paman, seorang perantau yang sederhana dan tidak punya apa-apa. Nama saya Thian Liong, Souw Thian Liong. Panggil saja nama saya, tanpa Sicu.”

“Akan tetapi, Souw-kongcu (Tuan Muda Souw)...”

“Wah, apa lagi sebutan kongcu itu, sama sekali tidak pantas untuk saya. Paman lihatlah, apakah ada seorang tuan muda berpakaian seperti saya ini? Mungkin saya lebih miskin dari pada Paman. Setidaknya Paman tentu mempunyai tempat tinggal dan punya perahu ini. Sedangkan saya, tempat tinggal pun tidak punya. Sebut saja nama saya, Paman.”

Kakek itu mengamati wajah Thian Liong dengan sinar mata penuh selidik, lalu mulutnya mengembangkan senyum. “Baiklah, Thian Liong. Kalau begitu, engkau datang ke tempat ini hendak mencari apakah?”

“Ahh, saya tidak mencari apa-apa, Paman. Saya hanya tertarik oleh keindahan telaga ini dan ingin melihat-lihat.”

“Kalau begitu berputarlah, Sicu... ehh, Thian Liong dan lihatlah ke depan. Engkau melihat gerombolan pohon di sana? Penduduk sekitar telaga menyebut tempat itu sebagai Hutan Ular. Tidak ada seorang pemburu pun yang berani memasuki hutan itu, karena selain di sana terdapat banyak ular-ular besar yang dapat menelan manusia, juga terdapat banyak ular-ular kecil yang amat berbisa.”

Thian Liong memandang dan merasa gembira. Kakek ini tidak hanya pandai mendayung perahu karena dia merasa betapa perahu ini meluncur dengan mantap dan tak bergoyang sama sekali, akan tetapi kakek ini juga dapat menjadi pemandu yang sangat baik, dapat menceritakan keadaan di sekitar telaga itu. Sekarang dia duduk menghadap ke belakang, membelakangi kakek itu.

Ketika Thian Liong menghadap ke depan, dia merasa seakan-akan perahu itu meluncur makin cepat. Akan tetapi mungkin ini hanya perasaannya saja, pikirnya, karena memang jarang sekali dia duduk di atas perahu yang meluncur di atas air.

“Lihat di depan itu, Thian Liong. Perbukitan di depan itu mempunyai sekumpulan puncak yang memakai nama binatang. Urut-urutannya dari kiri begini. Pertama Puncak Naga, lalu Puncak Burung Hong, Puncak Harimau, Puncak Biruang dan yang paling kecil itu Puncak Srigala.”

Thian Liong memandang ke arah puncak-puncak bukit yang berjajar di sebelah kiri telaga. “Paman, apakah di setiap puncak terdapat binatangnya seperti yang dijadikan nama itu?”

“Ahh…, saya kira tidak. Mana mungkin di Puncak Naga itu ada naganya, atau di Puncak Burung Hong itu terdapat Burung Hong-nya? Itu hanya nama pemberian penduduk untuk membedakan puncak yang satu dari yang lain. Mungkin dulu diberi nama aneh demikian untuk menarik para pelancong.”

Telaga itu luas sekali. Sudah hampir dua jam perahu itu meluncur, akan tetapi belum juga tiba di ujung telaga! Thian Liong melihat sebuah pulau kecil di tengah telaga dan pulau itu penuh dengan pohon-pohon besar sehingga tampak hijau gelap menyeramkan. Tepi pulau itu merupakan tebing yang tinggi sehingga pulau itu seolah berada di atas bukit.

“Ehh, Paman. Lihat di sana itu! Bukankah itu sebuah pulau? Apa nama pulau itu, Paman? Apakah pulau itu juga memiliki nama yang aneh?”

“Orang-orang di sini menyebutnya Pulau Iblis.”

Thian Liong menoleh dan melihat kakek itu mengerutkan alisnya, matanya menerawang ke arah pulau itu. Thian Liong memandang ke arah pulau.

“Pulau Iblis? Mengapa disebut begitu, Paman? Apakah pulau itu berhantu?”

“Saya sendiri tidak tahu jelas, akan tetapi sejak saya datang dan tinggal di sini tiga tahun yang lampau, penduduk telah menamakannya begitu. Menurut dongeng mereka, pulau itu memang berhantu.”

“Dan engkau percaya itu, Paman?” Kembali Thian Liong menoleh karena dia mendengar bahwa suara kakek itu meninggi ketika bicara tentang hantu, seolah-olah sengaja hendak memberi tekanan agar pemuda itu mempercayainya.

“Entahlah..., akan tetapi lebih baik kita tidak bicara tentang hal itu.”

Akan tetapi Thian Liong sudah terlanjur tertarik kepada pulau itu. Kalau diberitakan pulau itu berhantu oleh penduduk, pasti ada hal-hal yang tidak wajar atau aneh di sana. Pulau itu tidak terlampau besar, akan tetapi penuh pohon-pohon yang menjulang tinggi sehingga pantaslah kalau dihuni setan, kalau apa yang disebut hantu atau setan itu memang ada, karena dia sendiri belum pernah bertemu makhluk yang menurut dongeng menyeramkan dan menakutkan itu.

Menurut gurunya, Tiong Lee Cin-jin, yang disebut setan atau iblis adalah roh jahat yang menggerakkan nafsu-nafsu dalam diri manusia sendiri dan menyeret manusia agar selalu menuruti nafsu-nafsunya dan melakukan perbuatan jahat yang merugikan orang lain serta menguntungkan diri sendiri demi mendapatkan kesenangan.

“Paman, tujukan perahu ini ke pulau itu,” katanya mantap.

“Ah, untuk apa, Thian Liong? Sekarang matahari telah mulai condong ke barat, sebaiknya kita kembali saja ke dusun. Kita sudah pergi jauh sekali.”

Thian Liong melihat beberapa buah perahu, namun memang tidak ada sebuah pun berani mendekati pulau itu, bahkan perahu yang ditumpanginya itu yang paling dekat dengan apa yang disebut Pulau Iblis itu! Ketika ada sebuah perahu yang lebih besar lewat, ditumpangi oleh belasan orang pelancong, tukang perahunya berseru kepada kakek yang berada di belakangnya.

“Heei, Kakek Tolol, apakah engkau akan membawa penumpangmu agar dimakan penjaga pulau itu?”

Namun kakek itu tidak menjawab. Setelah perahu besar itu meluncur lewat dan agaknya sedang menuju kembali ke dusun, kakek itu berkata lagi kepada Thian Liong.

“Thian Liong, mari kita kembali saja. Tidak baik pergi ke sana, selain terlampau jauh juga mungkin pulangnya akan kemalaman kalau kita ke sana.”

“Jangan khawatir, Paman. Saya akan membayar lebih. Mari tujukan perahu ini ke pulau itu. Apakah perlu kubantu mendayung?”

Tanpa menanti jawaban lagi, Thian Liong mengambil dayung yang terdapat di dekatnya, kemudian ia menggunakan dua batang dayung itu untuk mendayung di kanan kiri perahu, setelah dua batang dayung itu dipasang pada tempatnya. Perahu meluncur dengan cepat sekali menuju ke pulau itu. Pulau Iblis…..!

Dia mendengar kakek itu menghela napas panjang, lalu terdengar berkata lirih, “Apa boleh buat kalau engkau memaksa. Akan tetapi jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa.”

Thian Liong tersenyum. Dia sedang kesepian, maka dia akan menyambut gembira kalau terjadi apa-apa, terjadi sesuatu yang sangat aneh, apa lagi kalau di pulau itu bersembunyi gerombolan penjahat. Dia mendapat kesempatan untuk mengobrak-abrik sarang penjahat itu dan membubarkan mereka agar tidak mengganggu penduduk di sekitar telaga itu.

“Paman, sudah lamakah Paman tinggal di daerah ini?”

“Tadi sudah saya ceritakan, sudah tiga tahun.”

“Apakah Paman tahu bahwa tidak jauh dari telaga ini terdapat sebuah dusun yang disebut dusun Kian-cung?”

Agak lama Thian Liong menanti jawaban. Kemudian terdengar kakek itu menjawab. “Ya, ya, saya pernah mendengar tentang dusun Kian-cung.”

“Apakah Paman mengenal keluarga Han?”

“Keluarga Han?”

“Ya, keluarga Han Si Tiong yang tinggal di Kian-cung, seorang pendekar budiman.”

Kembali agak lama tidak terdengar jawaban sehingga Thian Liong menengok dan kembali mengulangi pertanyaannya. “Apakah Paman mengenal keluarga Han itu?”

“Tidak, baru tiga tahun saya berada di sini dan saya tidak pernah pergi ke mana-mana.”

Akan tetapi Thian Liong tidak memperhatikan jawaban itu karena tiba-tiba saja ada hal lain yang menarik perhatiannya. Mereka sudah tiba dekat pulau itu dan mendadak dia melihat sebuah perahu yang agak besar muncul dari balik pulau itu. Perahu ini didayung oleh lima orang dan meluncur cepat mendekati tebing pulau itu. Di atas perahu itu, di tengah-tengah berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi besar. Karena jarak antara perahu itu dengan dia masih cukup jauh, maka Thian Liong tidak bisa melihat jelas wajah orang yang berdiri itu. Tetapi tampak olehnya jubah orang itu berwarna hitam panjang sampai ke bawah lutut.

Tiba-tiba terdengar suara gerengan seperti auman singa, terdengar dari perahu itu. Suara gerengan itu sedemikian kuatnya hingga permukaan danau itu mulai bergelombang. Thian Liong yang duduk di atas perahunya dan jaraknya masih ada satu mil lebih, juga merasa tergetar!

Dari arah pulau itu lalu terdengar bunyi melengking yang begitu nyaring, tinggi, dan tajam menusuk telinga. Kembali Thian Liong merasa jantungnya berdebar. Belum lenyap gema lengkingan ini, disusul suara seperti tawa yang menggelegar, yang tak kalah kuatnya jika dibandingkan gerengan pertama dan lengkingan yang menyusul tadi.

Thian Liong terkejut. Dia tahu bahwa gerengan, lengkingan dan suara tawa itu dilakukan orang-orang yang memiliki tenaga sinkang (tenaga sakti) amat kuatnya. Dia sendiri dapat menahan getaran suara itu, akan tetapi orang biasa yang mendengar suara-suara yang mengandung tenaga sakti amat kuat itu dapat saja jantungnya terguncang dan menderita luka parah!

Dia teringat kepada tukang perahu, maka dia segera menoleh. Dia melihat kakek tukang perahu itu masih saja duduk mendayung perahu, sama sekali tak terpengaruh oleh suara-suara yang mengandung daya serang amat kuat tadi! Kakek itu mengerutkan alisnya dan berkata, seperti kepada diri sendiri.

“Hemmm, akhirnya mereka muncul juga. Sudah kuduga...!”

“Paman, apa yang Paman maksudkan?” Thian Liong bertanya sambil memandang wajah kakek itu.

Kakek itu tak menjawab, hanya menuding ke depan. Kembali Thian Liong memutar tubuh memandang ke depan. Dia melihat orang tinggi besar berjubah lebar panjang itu sedang melompat dari atas perahunya dan... berdiri di atas air telaga, lalu angin dari belakangnya yang bertiup cukup keras membuat jubahnya yang lebar itu mengembang. Orang itu lalu membentang kedua lengannya sehingga jubahnya kini berbentuk sayap yang ditiup angin dari belakang dan orang itu pun meluncur maju dengan cepatnya menuju ke tebing pulau!

Thian Liong memandang penuh kagum. Lima orang yang mendayung perahu itu sekarang melanjutkan luncuran perahu mereka ke kiri, agaknya menuju ke tepi pulau yang landai.

“Thian Liong, engkau dayunglah sendiri perahu ini dan segera kembali ke dusun Kui-sek. Jangan mencampuri urusan saya karena dapat membahayakan keselamatan nyawamu!” kata kakek tukang perahu dan ketika Thian Liong menengok ke belakang, dia terbelalak.

Kakek itu melompat keluar dari perahu dan berdiri di atas air, lalu menggunakan kedua dayungnya untuk mendayung sehingga tubuhnya meluncur ke depan, menuju ke tebing pulau yang tingginya tidak kurang dari seratus tombak itu.

Thian Liong memutar perahunya untuk dapat melihat dan mengikuti kakek tukang perahu itu dengan pandangan matanya. Dia melihat orang pertama yang meluncur dengan jubah terkembang seperti sayap itu kini sudah mencapai tebing dan seperti seekor kera orang tinggi besar itu memanjat tebing!

Ada pun kakek tukang perahu itu meluncur dengan cepat dan dia melihat betapa kakek itu menggunakan dua potong papan yang diikatkan pada kedua kakinya sehingga dia dapat terapung di atas air, lalu dengan dorongan dayungnya, tubuhnya meluncur dengan cepat menuju tebing!

Thian Liong merasa kagum bukan kepalang. Kini dia dapat menduga bahwa orang tinggi besar itu pun pasti mempergunakan sesuatu yang diinjaknya sehingga tubuhnya terapung kemudian angin mendorong jubahnya yang mengembang seperti layar itu. Memang hal itu mustahil dapat dilakukan sembarang orang. Akan tetapi dengan menguasai ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi dan dengan tenaga sakti dapat mengatur keseimbangan, mungkin dia sendiri mampu melakukan seperti yang dilakukan dua orang itu. Kini tahulah dia bahwa kakek tukang perahu itu ternyata bukan sembarang orang, melainkan seorang sakti!

Hati Thian Liong tertarik sekali. Pasti ada yang luar biasa terjadi di pulau itu. Maka dia lalu mendayung perahu itu sekuatnya, bukan meninggalkan tempat itu menuju dusun Kui-sek seperti yang dianjurkan kakek tukang perahu, namun justru mendekati Pulau Iblis dengan jalan memutar, mencari bagian pantai yang landai karena dia ingin mendarat dan melihat apa yang terjadi di pulau itu.

Sesudah dia melihat bagian pantai pulau itu yang landai, Thian Liong segera mendayung perahunya ke situ. Dilihatnya perahu yang ditumpangi orang tinggi besar tadi telah berada di pantai. Lima orang pendayungnya juga sudah mendarat dan kini mereka berdiri di dekat perahu yang sudah ditarik ke darat. Thian Liong segera mendarat lalu menarik perahunya ke pantai, tidak jauh dari perahu lima orang itu.

Melihat lima orang itu berdiri seperti menunggu sesuatu, Thian Liong lalu memperhatikan. Mereka berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, tubuh mereka tampak kokoh kuat tetapi wajah mereka seperti wajah orang bodoh. Pakaian mereka seragam, berwarna kuning, dan di pinggang mereka tergantung golok. Kepala mereka diikat kain kuning pula.

Mungkin mereka mengetahui apa yang terjadi di pulau ini, pikir Thian Liong. Maka dia pun menghampiri mereka sambil tersenyum. Setelah berhadapan dengan lima orang itu, Thian Liong memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada.

“Ngo-wi Toa-ko (Kakak Berlima), bolehkah aku mengetahui, apa yang terjadi di pulau ini?” tanyanya sambil menudingkan telunjuknya ke bagian tengah hutan yang dipenuhi pohon-pohon raksasa itu.

Lima orang itu tidak menjawab, hanya saling pandang, lantas tiba-tiba mereka mencabut golok dan segera mengepung Thian Liong. Wajah mereka jelas menunjukkan kemarahan dan permusuhan!

“Hei...! Saya tidak ingin berkelahi, juga tak ingin bermusuhan! Saya tidak mempunyai niat buruk...!” Thian Liong berkata sambil mengangkat kedua tangan ke atas.

Akan tetapi, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lima orang itu sudah maju menyerang dengan golok mereka! Gerakan mereka cukup cepat dan kuat!

Tentu saja Thian Liong merasa sangat terkejut dan dia cepat berkelebat untuk mengelak. Begitu dia melompat keluar dari kepungan, dia mendapat kenyataan aneh. Lima orang itu tampak bingung mencarinya, menggerakkan kepala dan mata mereka mencari-cari!

Bukan demikian sikap orang-orang yang pandai silat. Padahal gerakan mereka tadi cukup tangkas, cepat dan juga sambaran golok mereka mengandung tenaga yang besar. Akan tetapi mengapa sekarang mereka kebingungan mencari di mana dia berada? Bukankah pendengaran orang orang yang ahli silat terlatih dan dapat menangkap beradanya lawan, bahkan lebih tajam dari pada penglihatan?

Ketika seorang di antara mereka memutar tubuh dan melihatnya, orang itu lalu menyentuh lengan teman di dekatnya dan dengan sentuhan tangan, mereka seolah memberi-tahu di mana adanya lawan. Kini mereka serentak menyerang lagi, lebih dahsyat dari pada tadi!

Ahh, agaknya mereka tuli semua, pikir Thian Liong terheran-heran. Akan tetapi dia tidak diberi kesempatan untuk berheran-heran lebih lanjut karena serangan mereka itu memang amat berbahaya. Gerakan mereka saling menunjang dan melengkapi sehingga merupakan kesatuan yang amat kuat.

Thian Liong kembali menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat tinggi itu untuk berkelebat dan di lain saat dia telah melompat ke atas pohon besar yang tumbuh di dekat pantai. Dari atas pohon dia melihat lima orang itu kembali kebingungan, mencari-cari dengan pandang mata mereka sambil berputar-putaran.

Untuk meyakinkan hatinya, Thian Liong lalu berseru, “Heii, aku berada di sini!”

Tetapi lima orang itu tetap saja tidak melihat ke atas pohon. Kemudian dia melihat betapa lima orang itu saling pandang lalu membuat gerakan-gerakan dengan tangan, seperti yang dilakukan orang gagu kalau hendak menyatakan perasaannya kepada orang lain. Gagu! Lima orang ini tuli dan gagu, pikir Thian Liong dengan semakin heran.

Bagaimana ada lima orang kesemuanya gagu dan tuli? Dan mereka berpakaian seragam lagi. Apakah mereka ini para anggota perkumpulan aneh yang semua anggotanya gagu dan tuli? Dia lantas melompat dari pohon ke pohon lain dan meninggalkan lima orang tadi, menuju ke tengah pulau.

Sesudah sampai di tengah pulau yang merupakan bukit kecil yang puncaknya rata, Thian Liong menyelinap di antara pohon-pohon dan melihat bahwa puncak itu tanahnya rata dan terbuka karena pohon-pohon di situ agaknya telah ditebangi. Dia melihat sebuah pondok berdiri di tengah lapangan terbuka di puncak itu, pondok kayu yang kokoh dan sederhana.

Di depan pondok itu terdapat sebuah pekarangan yang luas, dipenuhi rumput tebal dan dia melihat seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun, bertubuh pendek dengan perut gendut sekali dan kepalanya gundul. Pakaiannya yang longgar kedodoran, dan mukanya yang bulat selalu tersenyum lebar itu membuat dia nampak seperti arca Ji-lai-hud, dewa bertubuh gendut yang selalu tersenyum lebar itu.

Kakek ini duduk bersila di atas sebuah batu besar, menghadap ke timur. Meski tubuhnya diam tak bergerak sedikit pun namun mulutnya tersenyum lebar dan matanya menatap ke depan. Hanya mulut dan matanya yang menunjukkan bahwa dia adalah manusia hidup, bukan arca!

Tiba-tiba kakek gundul berjubah lebar seperti yang biasanya menjadi ciri seorang hwesio (pendeta Buddha) itu membuka mulut lebar-lebar lantas terdengarlah suara tawanya yang menggelegar seperti yang tadi didengar Thian Liong dari perahu. Suara itu menggetarkan tanah di mana dia berpijak, bahkan batang pohon di depannya itu seolah tergetar!

“Ha-ha-ha, keluarlah engkau, Pak-sian (Dewa Utara) Liong Su Kian! Sudah datang di sini, mengapa tidak langsung saja menampakkan diri? Ha-ha-ha-ha, apa engkau hendak main kucing-kucingan?” suara tawanya kembali menggelegar.

Karena Si Gendut Gundul itu menoleh ke arah kirinya, yaitu ke arah utara, Thian Liong juga memandang ke arah itu. Mendadak terdengar suara melengking tinggi seperti bunyi tiupan suling dengan nada tertinggi sehingga mendatangkan rasa nyeri di dalam telinga. Thian Liong cepat-cepat mengerahkan tenaga sinkang untuk melindungi diri karena suara seperti itu dapat memecahkan telinga dan membuat telinga menjadi tuli!

Lalu dari balik semak belukar muncullah seorang kakek berusia sekitar enam puluh tahun, rambutnya putih semua dan diikat ke atas dengan pita kuning, jubahnya putih seperti yang biasa dikenakan seorang tosu (pendeta To), tubuhnya tinggi kurus dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat berwarna hitam, berujung runcing dan berkepala ular.

Setelah suara melengking itu berhenti, tosu itu lalu melangkah memasuki pekarangan dan berkata dengan suara yang tinggi kecil seperti suara wanita.

“Heh, See-ong (Raja Barat) Hui Kong Hosiang, kiranya engkau sudah berada di sini! Tadi pinto (aku) sudah mendengar suara tawamu dan mendengar pula auman Singa Timur. Di mana dia?”

Sebagai jawaban kakek tinggi kurus itu, tiba-tiba terdengar gerengan yang mengeluarkan gema menggetar seperti auman singa yang datang dari arah timur, dan muncullah kakek berusia sekitar enam puluh tahun juga.

Dia bertubuh tinggi besar muka hitam, pakaiannya mewah dengan jubah lebar berwarna hitam. Rambutnya riap-riapan, kumis serta jenggotnya lebat, bercambang bauk sehingga mukanya mirip sekali dengan muka seekor singa, tangan kanannya membawa sebatang tombak. Inilah kakek yang tadi dilihat Thian Liong, yang turun dari perahu lalu meluncur di atas air telaga!

“Hemm, kalian pendeta-pendeta palsu sudah tiba di sini lebih dahulu!” Si Muka Singa ini mengaum lagi sehingga pohon-pohon di sekitar tempat itu tergetar! “Mana dia Si Jembel, pengemis kurang makan itu? Tidak tahu malu! Menjadi tuan rumah malah belum tampak hidungnya!”

Kini mereka bertiga telah saling berhadapan. Pak-sian Liong Su Kian yang seperti tosu itu berdiri di utara, See-ong Hui Kong Hosiang menghadap ke timur, dan Tung-sai Kui Tong menghadap ke barat.

Ucapan kakek seperti hartawan muka singa tadi segera mendapat jawaban. Dari selatan muncul seorang kakek tinggi kurus yang bermuka pucat, pakaiannya lusuh dan ditambal, pandang matanya mencorong.

Dia tidak mengeluarkan suara yang dahsyat, tetapi muncul dengan langkah tenang sambil memegang dua batang dayung dengan tangan kanan. Suaranya terdengar lembut ketika dia bicara sesudah berdiri berhadapan dengan tiga orang lain. Mereka saling berhadapan dalam jarak sekitar tiga tombak.

“Wahh, rupanya kalian sudah datang. Selamat datang, Pak-sian Liong Su Kian, See-ong Hui Kong Hosiang dan Tung-sai (Singa Timur) Kui Tong!”

“Ha-ha-ha-ha!” See-ong Hui Kong Hosiang tertawa, kini tertawa biasa. “Lam-kai (Pengemis Selatan) Gui Lin, engkau pembimbing terakhir jagoan kita. Sampai di mana kemajuannya sekarang dan di mana dia?”

“See-ong, bagianku dua tahun ini tidak sia-sia. Murid kita itu kini sudah menguasai tahap berakhir. Dia kusuruh bersemedhi selama sepuluh hari, dan hari ini adalah hari terakhir. Kukira sebentar lagi dia akan sadar dari semedhinya. Bagaimana, apakah kalian bertiga sudah siap memperoleh kemajuan selama delapan tahun ini? Selama delapan tahun kita berempat sudah menggembleng murid kita, sejak dia berusia lima belas tahun, dan baru hari ini kita dapat saling berhadapan muka kembali,” kata kakek bernama Gui Lin berjuluk Lam-kai yang dikenal oleh Thian Liong sebagai tukang perahu itu.

Thian Liong yang mengintai dari tempat persembunyiannya, diam-diam terkejut sekali. Dia sudah pernah mendengar gurunya, Tiong Lee Cin-jin, memberi keterangan singkat bahwa di dunia persilatan terdapat Empat Datuk Besar. Mereka masing-masing berjuluk Pak-sian (Dewa Utara), Lam-kai (Pengemis Selatan), See-ong (Raja Barat), serta Tung-sai (Singa Timur). Mereka merupakan empat orang datuk besar dari empat penjuru yang mempunyai ilmu kesaktian tinggi.


Akan tetapi gurunya juga pernah mengatakan bahwa kalau dia bertemu dengan mereka, jangan katakan bahwa dia adalah murid Tiong Lee Cin-jin! Dan sekarang dia berhadapan dengan Empat Datuk Besar dari empat penjuru itu. Bahkan Lam-kai Gui Lin menyamar sebagai tukang perahu yang perahunya dia sewa.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner