JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-10


“Ha-ha-ha! Omitohud, agaknya Lam-kai telah memperdalam ilmu silatnya maka sekarang mengejek apakah yang lain sudah memperoleh kemajuan selama delapan tahun ini!” kata See-ong, hwesio pendek gendut itu sambil tertawa.

“Akan tetapi memang sepatutnya kalau kita semua memperdalam ilmu kita, karena selain harus mengajar murid kita itu masing-masing dua tahun, tentu saja di antara kita tak ada yang mau mengulangi kekalahan kita dari Yok-sian (Dewa Obat)!” kata Pak-sian dengan suaranya yang seperti suara wanita.

“Hemmm...!” Tung-sai menggereng. “Aku telah mempersiapkan diri. Aku akan membalas kekalahanku kalau aku dapat bertemu dengan Tiong Lee Cin-jin!”

Tentu saja Thian Liong terkejut sekali mendengar percakapan mereka itu. Mereka sedang membicarakan gurunya! Kini dia dapat menduga kenapa gurunya berpesan agar dia tidak mengaku sebagai murid Yok-sian Tiong Lee Cin-jin kalau bertemu Empat Datuk Besar ini. Kiranya mereka berempat pernah dikalahkan gurunya dan agaknya mereka merasa amat penasaran kemudian selama delapan tahun mereka memperdalam ilmu silat mereka, juga mereka berempat agaknya menurunkan ilmu mereka secara bergantian kepada seorang murid! Murid mereka itu dilatih sejak usia lima belas tahun, berarti sekarang telah berusia dua puluh tiga tahun.

Dia lalu memandang dengan penuh perhatian dan berhati-hati sekali agar jangan sampai ketahuan oleh mereka karena dia maklum bahwa empat orang itu tentu lihai bukan main.

“Lam-kai, apakah selama dua tahun ini engkau selalu menjaga rahasia kita sehingga tak ada seorang pun yang tahu akan murid yang sedang kau gembleng itu seperti yang telah kami lakukan ketika tiba giliran kami?” tanya See-ong.

“Tentu saja! Kalian lihat, aku bahkan tidak memakai pakaian kebesaranku sebagai datuk para pengemis. Aku menyamar sebagai seorang tukang perahu supaya tidak ada seorang pun yang menduga bahwa aku adalah Lam-kai dan tak seorang pun yang tahu akan murid kita.”

Mendengar ini, sekarang Thian Liong tidak merasa heran lagi mengapa Pengemis Selatan yang merupakan datuknya seluruh kai-pang (perkumpulan pengemis) di daerah selatan itu menyamar sebagai tukang perahu.

“Bilakah dia selesai dengan semedhinya?” tanya Pak-sian tidak sabar. “Berapa lama aku harus menunggu?”

Lam-kai menoleh lantas memandang ke arah pondok. “Menurut perhitunganku, hari ini dia akan selesai melatih pengerahan sinkang (tenaga sakti). Akan tetapi karena dia menerima empat macam aliran sinkang, rupa-rupanya telah terjadi kelainan. Apa bila penggabungan empat aliran itu berhasil dengan baik, maka dia akan memiliki kekuatan dan kemampuan yang tak kalah dengan kita berempat. Akan tetapi kalau dia gagal, hal itu dapat membuat batinnya menjadi kacau dan sulit diatur.”

“Hemm, begitukah? Kenapa dia tidak kita gugah saja?” tanya Tung-sai Si Muka Singa itu dan sepasang alisnya yang tebal itu berkerut.

“Jangan!” kata Lam-kai. “Hal itu akan mengganggu dan mengacau dia, dan kemungkinan akibatnya akan buruk. Kita tunggu saja di sini sampai dia selesai dan keluar. Itu See-ong sudah mendapat tempat duduk. Mari kita duduk di sini dan menunggu dengan sabar. Kita sudah menanti selama delapan tahun, masa sekarang hanya tinggal menunggu beberapa lamanya saja tidak sabar?”

Lam-kai lalu menghampiri sekumpulan batu-batu besar, sebesar perut kerbau dan dengan ringan saja dia mengangkat batu-batu itu satu demi satu lalu dilontarkan ke arah Pak-sian dan Tung-sai. Batu itu tentu saja berat sekali dan ditambah dengan tenaga lontaran kakek kurus pucat itu, maka batu itu pun melayang cepat ke arah dua orang itu.

Pak-sian yang tinggi kurus berambut putih itu mengeluarkan suara melengking, kemudian tubuhnya melambung tinggi ke atas dan tahu-tahu dia sudah hinggap di atas batu yang terbang ke arahnya, lalu batu itu turun di tempat dia berdiri tadi, dengan dia duduk bersila di atasnya!

Thian Liong memandang dengan kagum. Pak-sian itu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sangat hebat, juga tenaga saktinya kuat sekali.

Sementara itu Tung-sai juga menggereng. Ia tidak melompat menghindar atau menangkis, melainkan menyambut batu besar itu dengan tombaknya. Batu besar itu diterima di ujung tombak dan batu itu berputar di atas ujung tombak. Setelah berpusing beberapa lamanya di ujung tombak, Tung-sai menurunkan tombaknya dengan batu masih menempel sambil berputaran sampai tiba di atas tanah. Tung-sai lalu duduk di atasnya, bersila seperti yang dilakukan See-ong dan Pak-sian.

Thian Liong juga kagum sekali kepada Singa Timur, karena caranya menyambut lontaran batu tadi menunjukkan bahwa datuk itu memiliki ilmu tombak yang amat dahsyat.

Lam-kai sendiri mengambil sebongkah batu dan kini mereka masing-masing duduk bersila dengan kedudukan seperti tadi, sesuai dengan julukannya masing-masing. Si Dewa Utara duduk di sebelah utara, Pengemis Selatan duduk di selatan, Singa Timur duduk di timur, ada pun Raja Barat duduk di barat! Jarak di antara mereka kurang lebih tujuh meter.

Thian Liong melihat semuanya itu dengan hati tegang. Apakah yang sedang direncanakan Empat Datuk Besar itu? Apakah yang hendak mereka lakukan dan siapa pula murid yang menerima gemblengan mereka berempat?

Sebenarnya dia hendak pergi saja karena merasa tidak enak mengintai orang-orang yang tidak ada urusan dengan dia. Akan tetapi dia ingin melihat murid mereka itu lebih dahulu sebelum pergi meninggalkan Pulau Iblis.

Tidak lama Thian Liong menunggu. Tiba-tiba saja terdengar suara keras dan atap pondok kayu itu jebol. Dari dalam pondok itu nampak sesosok bayangan orang meluncur ke atas sampai tinggi, kemudian tubuh orang itu berjungkir balik di udara beberapa kali dan turun di tengah-tengah antara empat orang yang duduk bersila itu. Ketika turun, kedua kakinya hinggap di tanah bagaikan seekor kucing melompat, sama sekali tidak menimbulkan suara sehingga dari ini saja sudah dapat diketahui bahwa orang itu memiliki ginkang yang sudah tinggi sekali.

Thian Liong memandang penuh perhatian. Orang itu adalah seorang pemuda, pasti dialah yang dimaksudkan Empat Datuk Besar itu karena pemuda itu usianya sekitar dua puluh tiga tahun.

Pemuda itu bertubuh sedang namun tegak, dengan dada yang bidang serta kepala tegak angkuh. Rambutnya hitam, dan saat itu rambutnya dikuncir tebal bergantung di belakang. Wajahnya yang berkulit putih itu berbentuk bulat. Dahinya lebar, alisnya hitam dan tebal, melindungi sepasang mata yang mencorong namun sinarnya liar dengan pandang mata tak acuh, hidungnya mancung sedangkan mulutnya berbentuk bagus dan jantan, namun mulut itu mengembangkan senyum sinis seakan memandang rendah apa yang berada di depannya. Pakaiannya dari sutera serba putih, dengan potongan pakaian pendekar yang ringkas.

Seorang pemuda yang gagah dan tampan, tetapi membayangkan sikap yang angkuh dan memandang rendah orang lain, juga matanya yang liar itu terkadang mengeluarkan sinar kejam!

Empat Datuk Besar juga memandang pemuda itu dengan sinar mata gembira. Terutama sekali Tung-sai Kui Tong, dia mengeluarkan suara gerengan dahsyat yang menggetarkan bumi di sekelilingnya, kemudian berkata dengan suaranya yang parau dan besar.

“Heemmmm, anakku yang baik, muridku yang pintar. Selama delapan tahun engkau kami gembleng secara bergiliran, dan sekarang sudah saatnya kami berempat menguji apakah kemampuanmu sudah cukup untuk membalaskan dendam kami, membunuh Si Sombong Yok-sian (Dewa Obat) Tiong Lee Cin-jin itu. Bersiaplah engkau menghadapi seranganku. Awas, kami tidak main-main, apa bila engkau kurang waspada mungkin saja engkau akan tewas di tangan kami!”

Setelah berkata demikian Tung-sai mengeluarkan suara mengaum, lantas laksana seekor singa kelaparan, dari atas batu di mana dia tadi duduk bersila, tubuhnya sudah melayang dan menyerang pemuda itu seperti seekor singa menerkam korbannya!

Namun dengan mudahnya pemuda itu menggeser kaki mengelak ke kiri. Tung-sai dengan gerakan cepat dan kuat memutar tombaknya ke kanan dan tombak itu sudah meluncur ke arah dada pemuda itu. Hebat dan cepat bukan main gerakan tombak Tung-sai Kui Tong ini sehingga tidak kosong belaka kalau di dunia kang-ouw dia disebut Si Tombak Maut!


Akan tetapi pemuda itu agaknya sudah hafal dengan gerakan tombak itu dan kembali dia dapat menghindarkan diri dengan amat mudah. Setelah membiarkan Tung-sai melakukan serangan sampai lima kali, pada waktu tombak menyerang untuk keenam kalinya dengan sabetan kuat ke arah lehernya, pemuda itu hanya membiarkan tombak menyambar dekat dan setelah dekat, tangannya bergerak dari samping bawah dan menangkis.

“Cringgg...!”

Tombak yang gagangnya terbuat dari baja pilihan itu terpukul ke samping, ada pun Tung-sai merasa betapa kedua tangannya tergetar hebat!

“Lam-kai, bantulah aku!” Tung-sai berseru.

Lam-kai Gui Lin bergerak dari atas batu yang didudukinya, lalu tiba-tiba saja tampak sinar berkilat dan ketika tubuhnya turun, tahu-tahu dia telah memegang sebatang pedang yang gemerlapan. Thian Liong yang tadi mengamatinya dengan penuh perhatian, baru mengerti bahwa kakek yang menyamar sebagai tukang perahu itu menyembunyikan pedangnya di dalam salah satu di antara kedua dayungnya. Dia mematahkan sebatang dayungnya dan keluarlah sebatang pedang yang mengeluarkan sinar berkilauan!

Begitu menerjang, Pengemis Selatan telah menggerakkan pedangnya menyerang pemuda itu dengan cepat dan kuat sekali. Serangannya tak kalah dahsyat dibandingkan serangan Tung-sai tadi dan kini pemuda itu dikeroyok oleh dua orang yang mempunyai kepandaian tinggi.

Tombak itu menyambar-nyambar dengan tusukan kilat sedangkan pedang itu berdesingan dan berubah menjadi sinar bergulung-gulung. Dari suara desingnya saja sudah bisa dinilai betapa dahsyatnya serangan itu, dan juga ketika tombak itu luput menusuk, ujung tombak itu lantas tergetar seolah menjadi banyak sekali. Betapa hebatnya serangan tombak itu.

Thian Liong memandang dengan kagum. Dia tahu bahwa dua orang datuk itu benar-benar tidak main-main dan serangan mereka merupakan serangan maut. Kalau pemuda itu tidak memiliki gerakan cepat dan terkena bacokan pedang atau tusukan tombak, tentu dia akan terluka parah atau bahkan tidak mustahil tewas seketika!

Tetapi bayangan pemuda itu berkelebatan dan dia mampu menghindarkan pengeroyokan pedang serta tombak itu dengan elakan atau tangkisan. Yang mengagumkan, terkadang pemuda itu berani menangkis mata tombak dan pedang dengan kebutan tangan kosong!

“Suhu Pak-sian dan Suhu See-ong, majulah sekalian agar kalian semua mengeroyokku! Aku tidak akan menyesal seandainya terluka atau tewas!” pemuda itu menantang dengan suaranya yang terdengar lembut dan merdu, manis menyenangkan!

Pak-sian Liong Su Kian melengking, lantas tubuhnya berkelebat laksana kilat dan tongkat hitamnya yang berkepala ular itu sudah menotok tujuh jalan darah pada tubuh pemuda itu. Namun pemuda itu dapat menghindarkan semua totokan karena dia pun sudah hafal akan ilmu tongkat yang dimainkan Pak-sian.

“Omitohud! Engkau membuat hati pinceng (aku) gembira sekali, Can Kok!” kata See-ong Hui Kong Hosiang.

Pendeta pendek gendut ini pun sudah mengeroyok. Dia tidak menyerang dengan senjata, namun kedua ujung lengan bajunya yang panjang merupakan sepasang senjata yang tak kalah ampuhnya dibandingkan senjata tajam dan runcing yang terbuat dari baja.

Kini Thian Liong benar-benar merasa kagum dan juga heran. Pemuda itu dikeroyok empat orang, padahal mereka itu adalah Empat Datuk Besar yang rata-rata memiliki kesaktian! Apa lagi empat orang itu menyerangnya dengan senjata dan bukan main-main, melainkan menyerang dengan sungguh-sungguh. Senjata-senjata itu berkelebatan bagaikan tangan-tangan maut yang mengancam nyawa pemuda itu!

Pemuda yang tadi oleh See-ong disebut Can Kok itu menyambut serangan empat orang itu dengan tangan kosong saja! Dia bergerak sangat cepat dan ringan, bagaikan berubah menjadi beberapa bayangan yang menyambut semua serangan itu dengan elakan atau tangkisan kedua tangannya yang berani beradu dengan senjata tajam dan runcing!

Bukan main, pikir Thian Liong. Pemuda ini betul-betul hebat sekali. Dia sendiri pasti akan kerepotan kalau dikeroyok empat orang datuk itu. Can Kok! Dia akan mengingat nama itu. Thian Liong seolah mendapat firasat buruk bahwa kelak Can Kok akan menjadi lawannya! Apa lagi jika mengingat bahwa Empat Datuk Besar itu mendendam kepada suhu-nya dan hendak membalas kekalahan yang pernah diderita mereka dari suhu-nya!

Maklum bahwa kalau mereka melihatnya maka tentu akan timbul keributan, maka Thian Liong merasa tidak enak apa bila mengintai terus. Dengan hati-hati dia lalu meninggalkan tempat itu. Sesudah tiba di pantai di mana dia meninggalkan perahunya, dia melihat lima orang tuli gagu tadi masih berada di situ, menunggui perahu mereka.

Thian Liong tidak memperhatikan mereka. Akan tetapi lima orang itu ketika melihat Thian Liong datang, mereka segera mencabut senjata dan siap hendak menyerang. Thian Liong tak ingin berkelahi, apa lagi dia tidak ingin kehadirannya di pulau itu ketahuan oleh Empat Datuk Besar dan murid mereka yang aneh dan lihai itu. Maka dia menghampiri sebatang pohon lalu mencabut pohon itu yang menjadi jebol berikut akarnya.

Melihat ini, lima orang itu terbelalak dan mereka cepat mundur ketakutan. Kesempatan ini dipergunakan Thian Liong untuk menarik perahu kecilnya ke air lantas mendayung perahu itu meninggalkan pulau. Lima orang tadi hanya memandang ke arah perginya Thian Liong. Tangan mereka bergerak-gerak, mewakili kata-kata untuk berbicara dengan teman-teman mereka.

Siapakah pemuda lihai yang mampu menandingi pengeroyokan Empat Datuk Besar itu? Delapan tahun yang lampau, pemuda itu adalah murid Tung-sai (Singa Timur) Kui Tong. Datuk Timur ini amat menyayang pemuda yang bernama Can Kok itu karena di samping merupakan seorang murid yang pandai, juga pemuda itu adalah keponakannya sendiri, yaitu putera adik perempuannya yang menikah dengan sute-nya (adik seperguruan) yang bernama Can Giam dan berjuluk Huang-sin-eng (Garuda Sakti Kuning).

Tiga belas tahun yang lalu, pada waktu Can Kok berusia sepuluh tahun, pada suatu hari ayahnya, Huang-sin-eng Can Giam, tewas ketika dia hendak merampas kitab-kitab yang dibawa oleh Tiong Lee Cin-jin. Dalam perkelahiannya melawan Si Dewa Obat, Can Giam menderita luka dalam yang parah karena tenaga sinkang-nya membalik lantas memukul dirinya sendiri ketika dia menyerang Yok-sian Tiong Lee Cin-jin.

Meski pun terluka parah, tapi dia menolak ketika Tiong Lee Cin-jin hendak mengobatinya. Dia memaksa dirinya yang sudah sangat payah itu untuk pulang dan setibanya di rumah, dia segera tewas karena luka dalam yang parah itu. Isterinya, adik perempuan Tung-sai, kemudian menyusul suaminya, meninggal dunia karena sakitnya menjadi semakin berat sepeninggal suaminya.

Demikianlah, Can Kok yang menjadi yatim piatu itu dibawa paman tuanya ke pantai Laut Timur daerah Ce-kiang. Tung-sai Kui Tong tinggal di sebuah pulau kecil dan menjadi to-cu (majikan pulau) dari Pulau Udang, hidup sebagai seorang yang kaya raya dan berkuasa sepenuhnya. Penghuni pulau yang jumlahnya sekitar seratus kepala keluarga itu menjadi anak buahnya.

Tung-sai Kui Tong adalah seorang datuk yang berwatak keras dan aneh. Dia memiliki dua puluh orang pengawal yang merupakan anak buah sekaligus murid-muridnya yang paling dipercaya, merupakan pengawal-pengawal pribadi.

Akan tetapi dua puluh orang ini semuanya tuli dan gagu! Bukan gagu tuli sejak kecil atau terkena penyakit, tetapi sengaja dibikin gagu tuli oleh Tung-sai Kui Tong. Sebagai seorang ahli, dia dapat membuat mereka itu tak mampu mendengar dan tak mampu bicara dengan merusak syaraf yang bekerja untuk kedua keperluan itu!

Pulau Udang merupakan sebuah kerajaan kecil di mana Tung-sai menjadi rajanya! Seluruh penghasilan mereka diperoleh dari dalam lautan, yaitu dengan menangkap ikan terutama udang-udang yang dapat dijual dengan harga tinggi karena amat disukai oleh orang kota. Dan yang terutama sekali, hasil penyelaman untuk dapat menemukan mutiara di kerang-kerang besar. Hasil mutiara ini yang membuat Singa Timur menjadi kaya raya.

Tung-sai Kui Tong sendiri tidak mempunyai anak walau pun dia memiliki tiga orang isteri. Karena itu, sesudah dia membawa Can Kok ke Pulau Udang dan melihat anak itu sangat cerdik, berbakat besar serta bertulang kuat, juga melihat Can Kok amat pandai membawa diri dan berwajah tampan pula, Singa Timur menjadi sayang padanya. Can Kok dianggap sebagai puteranya sendiri lalu digembleng ilmu silat dan juga ilmu baca tulis sehingga Can Kok menjadi seorang pemuda bun-bu-coan-jai (ahli silat dan sastra).

Ketika Can Kok berusia lima belas tahun, Tung-sai Kui Tong meninggalkan pulau selama sebulan, dan ketika pulang ditemani oleh tiga orang laki-laki, yaitu Pak-sian Liong Su Kian, See-ong Hui Kong Hosiang, dan Lam-kai Gui Lin, yang masing-masing merupakan datuk utara, datuk barat, dan datuk selatan. Sedangkan Tung-sai sendiri adalah datuk timur dan mereka berempat inilah yang dikenal dengan sebutan Empat Datuk Besar.

Akan tetapi yang amat mengejutkan hati Can Kok adalah bahwa mereka berempat sudah menderita luka-luka walau pun tidak parah. Dari gurunya, atau paman tuanya yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri, dia mendengar bahwa Empat Datuk Besar itu terluka karena kalah bertanding melawan Yok-sian (Dewa Obat) Tiong Lee Cin-jin.

“Keparat jahanam Tiong Lee Cin-jin!” Can Kok, pemuda remaja berusia lima belas tahun itu berteriak sambil mengepal kedua tangannya. Matanya mencorong penuh kemarahan dan wajahnya yang tampan menjadi merah. “Kelak aku pasti akan membunuhnya untuk membalas kematian ayah dan membalas kekalahan Pek-hu (Paman Tua)!”

Melihat kemarahan pemuda itu, tiga orang datuk lain memandang Can Kok dengan penuh perhatian dan hati mereka tertarik sekali. Mata mereka yang penuh pengalaman itu dapat menilai bahwa pemuda itu memiliki semangat besar dan sinar matanya yang mencorong menunjukkan bahwa dia memiliki batin yang kuat dan penuh keberanian.

“Omitohud, Singa Timur, siapakah pemuda ini?” tanya See-ong dan dua orang datuk yang lain juga mengamati wajah Can Kok penuh perhatian.

“Anak ini bernama Can Kok. Dia adalah keponakanku, anak mendiang adik perempuanku, dan dia sudah yatim piatu. Dia juga muridku terbaik dan anak angkatku. Kelak dialah yang kuharapkan akan dapat membalaskan kekalahanku sekarang, juga membalaskan dendam ayah kandungnya yang tewas pula karena bertanding melawan Yok-sian Tiong Lee Cin-jin. Ayah kandungnya adalah sute-ku sendiri.”

“Maksudmu mendiang Huang-sin-eng Can Giam?” tanya Pak-sian Liong Su Kian.

“Benar, karena itu aku akan mengajarkan seluruh ilmuku kepadanya agar kelak dia dapat membalaskan dendam ini.”

“Aih, Tung-sai, bukan maksudku memandang rendah kepandaianmu. Tetapi kalau engkau sendiri, bahkan kita berempat, masih tidak mampu menandingi Yok-sian, lalu bagaimana engkau dapat mengharapkan muridmu dapat mengalahkannya?” kata Lam-kai Gui Lin.

Mendengar ucapan Pengemis Selatan, Singa Timur mengerutkan kedua alisnya. Hatinya tidak senang, akan tetapi dia tidak dapat membantah ucapan itu karena memang benar. Dia bersama tiga orang rekannya, Empat Datuk Besar, maju bersama namun masih juga belum mampu mengalahkan Tiong Lee Cin-jin. Maka biar pun seluruh ilmunya diturunkan kepada Can Kok, tidak mungkin pemuda itu sanggup menandingi Tiong Lee Cin-jin yang mereka anggap sebagai musuh besar itu.

“Aku harus mengakui kebenaran ucapanmu, Pengemis Selatan. Akan tetapi apa lagi yang dapat kulakukan?” katanya kesal.

“Omitohud! Pinceng memiliki gagasan yang sangat baik! Bila kita berempat mengajarkan inti ilmu masing-masing yang paling ampuh kepadanya, maka dengan penggabungan ilmu kita berempat, tentu lebih besar harapannya anak ini kelak akan dapat mengalahkan Yok-sian! Tetapi kita harus selidiki dulu apakah kiranya dia mampu menerima penggabungan ilmu-ilmu kita yang paling berat.”

Mendengar ucapan See-ong Hui Kong Hosiang itu, semua orang setuju. “Aku menjamin bahwa dia mempunyai tulang bersih dan kuat, juga bakatnya besar dan otaknya cerdik. Kalian boleh memeriksanya sendiri!” kata Tung-sai gembira karena gagasan itu agaknya merupakan satu-satunya jalan untuk dapat membalas dendam dengan berhasil.

Tiga orang datuk itu segera menghampiri Can Kok dan mulai memeriksa keadaan tubuh pemuda remaja itu. Ada yang meraba-raba kepalanya, ada yang memijat-mijat lengan dan kakinya, ada pula yang mengetuk-ngetuk dadanya. Sejenak kemudian mereka bertiga mengangguk-angguk, bahkan mengeluarkan suara memuji dan kagum.

“Aku setuju dengan gagasan Raja Barat tadi!” kata Dewa Utara.

“Aku pun cocok!” kata Pengemis Selatan.

“Omitohud, kalau semua setuju, mari kita atur bagaimana baiknya. Singa Timur, engkau sebagai Paman tua, guru pertama dan juga orang tua angkat Can Kok, coba kau katakan bagaimana pendapat dan rencanamu untuk melaksanakan gagasan kita itu.”

Tung-sai Kui Tong mengangguk-angguk, lalu berkata dengan suaranya yang seperti aum singa itu kepada Can Kok. “Kok-ji (Anak Kok), bagaimana? Mau dan sanggupkah engkau digembleng secara bergantian oleh kami berempat supaya engkau dapat menggabungkan inti sari ilmu-ilmu aliran kami masing-masing sehingga kelak engkau bisa mewakili kami membunuh Yok-sian Tiong Lee Cin-jin?”

“Saya sanggup Pek-hu (Paman Tua)!” jawab Can Kok dengan suara mantap dan tegas.

“Bagus! Kalau begitu sebaiknya diatur begini. Selama dua tahun aku sendiri yang akan mulai mengajarkan semua ilmuku yang paling ampuh kepadanya. Setelah itu kalian boleh bergantian mengajarnya, menurunkan ilmu kalian yang paling ampuh, masing-masing dua tahun. Dia akan berusia dua puluh tiga tahun sesudah digembleng selama empat kali dua tahun.”

“Setuju!” kata Pak-sian dengan suaranya yang melengking mirip suara wanita. “Aku akan menjadi orang kedua yang menurunkan semua ilmu yang paling ampuh kepadanya.”

“Omitohud, biar pinceng menjadi guru ketiga selama dua tahun setelah dia selesai belajar pada Dewa Utara!”

“Bagus, kalau begitu rencana kita sudah dipastikan. Dan Pengemis Selatan akan menjadi guru terakhir selama dua tahun,” kata Tung-sai.

Lam-kai Gui Lin mengangguk-angguk. “Baik, setelah Raja Barat mengajarnya selama dua tahun, aku akan membawanya pergi untuk menggemblengnya selama dua tahun.”

“Akan tetapi, ke mana engkau hendak membawa dia pergi, Lam-kai? Selama ini engkau adalah seorang pengemis yang merantau di daerah selatan, tidak memiliki tempat tinggal tertentu.”

“Jangan khawatir. Setelah dia belajar selama dua tahun, aku akan mengirim kabar kepada kalian semua untuk datang berkunjung ke tempatku, lalu kita berempat dapat melihat dan menguji bagaimana hasil jerih payah kita masing-masing dua tahun itu.”

Demikianlah, mulai hari itu, selama dua tahun Can Kok digembleng secara istimewa oleh Tung-sai Kui Tong. Paman tua ini mengajarkan semua ilmunya yang terampuh, juga cara menghimpun tenaga sakti menurut ajaran alirannya. Setelah dua tahun terlewat, Pak-sian Liong Su Kian datang kemudian mengajak Can Kok ke Cin-ling-san, di mana dia menjadi pertapa di sebuah puncak pegunungan itu. Sesudah Dewa Utara itu mengajarkan semua ilmu rahasianya yang paling ampuh selama dua tahun, See-ong Hui Kong Hosiang datang menjemput Can Kok lantas membawanya ke Pegunungan Beng-san di barat di mana dia tinggal seorang diri dalam sebuah kuil tua yang disebut Thian-kok-si. Di tempat sunyi ini kembali Can Kok digembleng secara istimewa oleh hwesio itu selama dua tahun.

Terakhir Can Kok diajak Lam-kai Gui Lin ke selatan. Karena Pengemis Selatan ini tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan dia tidak ingin ada orang lain yang melihat bahwa dia menggembleng Can Kok, maka dia lalu memilih Pulau Iblis di Telaga Barat untuk menjadi tempat tinggalnya. Dia membangun sebuah pondok di pulau yang ditakuti oleh penduduk sekitar telaga lalu menggembleng Can Kok di situ. Supaya tidak menarik perhatian orang, dia menyamar sebagai tukang perahu dan nelayan. Sesudah masa dua tahun akan habis, Lam-kai Gui Lin lalu mengirim kabar kepada tiga orang datuk yang lain, dan pada hari itu mereka berempat berkumpul di Pulau Iblis.

Sesudah Can Kok selesai dengan latihan menggabungkan tenaga sakti dari empat aliran yang berbeda, pemuda itu melompat keluar secara luar biasa, menjebol atap. Perbuatan ini saja telah menunjukkan bahwa latihan yang berbeda-beda dari empat orang datuk dan kemudian dia disuruh menggabungkannya, memang dapat ditahan tubuhnya, akan tetapi mengguncang jiwanya sehingga mendatangkan kelainan pada sikapnya, menjadi aneh.

Seperti kita ketahui, Can Kok sedang diuji oleh Empat Datuk Besar dan dia sudah hafal dengan sifat serangan empat orang datuk itu. Bahkan kini dia memiliki tenaga sakti yang diajarkan Empat Datuk Besar itu sehingga mendatangkan tenaga sakti yang ajaib namun amat kuat!

Empat Datuk Besar itu mengeroyok hingga seratus jurus, akan tetapi mereka tak mampu mendesak murid bersama mereka itu, bahkan serangan balasan membuat mereka harus melompat mundur untuk menghindarkan diri dari terjangan Can Kok yang sangat hebat! Setelah merasa puas menguji ilmu silat, Tung-sai Kui Tong berseru.

“Kita kini uji tenaga sinkang-nya!”

Empat Datuk Besar itu segera berlompatan ke belakang, lalu mereka menyatukan tenaga sakti mereka. Dengan mengerahkan sinkang (tenaga sakti) sekuatnya, kemudian mereka mendorongkan kedua tangan ke arah Can Kok. Angin besar bergemuruh menyambar ke arah pemuda itu.

Ini merupakan serangan jarak jauh yang teramat berbahaya! Empat orang datuk besar ini, memang merupakan tokoh-tokoh, yang selain sakti juga terkenal berwatak aneh dan sulit dimengerti orang-orang biasa. Mereka menyayang Can Kok sebagai murid mereka, juga masing-masing sudah mengorbankan waktu selama dua tahun untuk menggemblengnya. Namun sekarang, untuk mengujinya mereka telah menyerang dengan pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sakti sepenuhnya dan bukan mustahil akan dapat menewaskan murid itu!

“Wuuuuttt...! Blarrr...!”

Can Kok menyambut serangan itu dengan merendahkan tubuh, menekuk lutut sehingga hampir berjongkok dan kedua tangannya didorongkan ke depan. Ketika tenaga sakti yang didorongkan keempat Datuk Besar itu bertemu dengan sambutan tenaga sakti Can Kok, tubuh empat orang kakek itu terpental sampai lima meter dan terbanting roboh! Dari mulut mereka keluar darah segar. Mereka cepat bangkit duduk bersila untuk memulihkan tenaga dan mencegah agar luka dalam yang mereka derita tidak menjadi semakin parah.

Can Kok sendiri masih berdiri setengah berjongkok, tidak tergeser dari tempat dia berdiri, akan tetapi kedua kakinya terpendam masuk ke dalam tanah sampai sebatas lutut! Dari pertemuan tenaga sakti ini saja sudah dapat terbukti bahwa tenaga sakti yang dimiliki Can Kok ini bahkan lebih kuat dari pada tenaga keempat gurunya digabung menjadi satu!

Can Kok menarik kedua kakinya dari dalam tanah, berdiri tegak memandang empat orang gurunya yang duduk bersila memejamkan mata itu. Dia lalu menengadah sambil tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha-ha-ha...!”

Tubuhnya lantas berkelebat lenyap dari situ, akan tetapi suara tawanya masih terdengar berkepanjangan dan bergema, semakin lama semakin perlahan sehingga akhirnya lenyap terbawa angin.

Empat orang datuk besar itu menghela napas panjang. Diam-diam mereka merasa sangat khawatir karena sungguh pun murid mereka itu dapat diharapkan akan mampu membalas dendam dan kebencian mereka dengan membunuh Tiong Lee Cin-jin, namun dia pun kini menjadi aneh dan tidak mempedulikan empat orang gurunya lagi. Kalau sampai pemuda itu tidak terkendali, siapa yang akan mampu menundukkannya kalau dia menjadi liar dan merusak…..?

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner