JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-11


Can Kok berloncatan ke arah pantai pulau itu dan mulutnya berbisik-bisik, “Tiong Lee Cin-jin, tunggulah saat kematianmu di tanganku. Ha-ha-ha, engkau harus menghadap Ayahku di alam baka. Ha-ha-ha!” Sambil tertawa-tawa, kini tawa tanpa bunyi, hanya menyeringai dan terkekeh, seperti seorang yang miring otaknya!

Setelah tiba di pantai, lima orang gagu tuli yang menjadi pendayung dan anak buah Tung-sai memandang ke arahnya dengan pandang mata heran.

Seperti diketahui, semenjak berusia sepuluh tahun Can Kok dibawa paman-tuanya, yaitu Tung-sai (Singa Timur) Kui Tong ke Pulau Udang di Laut Timur, dan selama lima tahun digembleng di sana. Setelah berusia lima belas tahun, barulah dia keluar dari pulau untuk menerima gemblengan empat orang datuk besar itu selama masing-masing dua tahun.

Oleh karena itu, lima orang pendayung perahu yang merupakan sebagian dari penduduk Pulau Udang dan menjadi anak buah Tung-sai, mengenal Can Kok. Mereka adalah orang-orang yang sengaja dibikin gagu dan tuli oleh Tung-sai, dan mereka amat setia kepada Tung-sai. Melihat Can Kok mendatangi perahu mereka dan tanpa banyak cakap hendak melepaskan ikatan perahu, lima orang itu segera menghampirinya kemudian menghalangi dengan gerakan tangan, melarang Can Kok yang hendak menggunakan perahu itu.

Can Kok memandang mereka dengan alis berkerut. “Pergi kalian!” bentaknya.

Akan tetapi lima orang gagu tuli yang merasa berkewajiban menjaga perahu itu berkukuh hendak melarang dengan terus memegangi perahu yang akan ditarik ke air oleh Can Kok. Melihat ini Can Kok menjadi marah dan dia menunjukkan kemarahannya dengan tertawa. Tawa terkekeh dengan suara laksana tangis mengguguk seperti itu merupakan pertanda bahwa pemuda aneh itu sedang marah!

Tiba-tiba tangan kirinya berkelebat ke arah lima orang itu dan mereka pun berpelantingan roboh dan tewas seketika dengan muka berubah menghitam! Can Kok tertawa bergelak, kini tertawa karena hatinya merasa sangat gembira seperti ketika dia merobohkan empat orang datuk besar tadi.

Can Kok mendorong perahu ke air telaga lalu mendayung. Perahu meluncur cepat sekali karena gerakan dayung itu bukan main kuatnya, seolah didayung sepuluh orang, sebentar saja sudah jauh meninggalkan Pulau Iblis.

Ketika empat orang datuk besar tiba di pantai pulau itu, mereka melihat mayat orang gagu tuli yang mukanya kehitaman, dan mereka berempat menghela napas panjang.

“Celaka, dia menjadi liar sampai orang-orang sendiri pun dibunuhnya!” kata Tung-sai Kui Tong.

“Hemm, bukan mustahil kalau kelak bertemu dengan kita, dia juga akan membunuh kita satu demi satu. Otak anak itu sudah rusak oleh sinkang yang sangat kuat namun karena berasal dari empat aliran yang dipersatukan maka merusak dan mengacau pikirannya,” kata Pak-sian Liong Su Kian.

“Bagaimana pun juga dia telah menjadi luar biasa lihainya dan aku yakin dia akan mampu membunuh Tiong Lee Cin-jin,” kata Lam-kai Gui Lin.

“Omitohud! Biarkan dia membunuh Tiong Lee Cin-jin lebih dulu, sesudah itu barulah kita mencari jalan untuk memusnahkan dia karena kalau dibiarkan, dia hanya akan membikin kotor nama kita yang menjadi guru-gurunya,” kata See-ong Hui Kong Hosiang.

Tung-sai Kui Tong kemudian melempar-lemparkan mayat lima orang anak buahnya itu ke tengah telaga dan sebentar saja ikan-ikan di telaga itu berpesta pora. Kekejaman seperti itu bukan merupakan hal yang aneh bagi empat orang datuk besar yang sangat terkenal akan kesesatannya itu. Dengan menggunakan dua buah perahu kecil yang tadi digunakan oleh Pak-sian Liong Su Kian dan See-ong Hui Kong Hosiang, mereka berempat kemudian pergi meninggalkan Pulau Iblis di tengah telaga itu.

Sesudah tiba di daratan mereka berpisah dan kembali ke tempat tinggal masing-masing. Pak-sian kembali ke Cin-ling-san, See-ong kembali ke Beng-san, dan Tung-sai kembali ke Pulau Udang di Laut Timur. Ada pun Lam-kai Gui Lin kembali merantau karena dia adalah seorang datuk pengemis yang amat suka merantau. Dia tinggal di Pulau Iblis hanya untuk sementara, yaitu selama dua tahun ketika dia melatih Can Kok.....

********************

Yang pernah melihat Han Bi Lan tentu tidak akan menyangka bahwa gadis yang sedang berjalan perlahan mendaki bukit itu adalah Han Bi Lan. Sesudah beberapa bulan lamanya meninggalkan ibunya, mengamuk serta menciderai para lelaki bangsawan dan hartawan yang sedang bersenang-senang di rumah-rumah pelacuran, gadis yang tadinya bertubuh denok padat itu kini tampak kurus.

Pakaiannya yang biasanya berwarna merah muda dan rapi bersih, kini lusuh. Rambutnya yang hitam panjang dan biasanya digelung indah, sekarang dibiarkan terurai lepas sampai ke punggung. Wajahnya memang masih tampak cantik menarik tapi kehilangan sinarnya, pandang matanya kosong dan sepasang alisnya yang indah bentuknya itu selalu berkerut.

Berbagai kegetiran sudah mengacaukan ingatannya. Hal pertama yang mengguncangkan hatinya adalah kenyataan bahwa ibunya merupakan seorang bekas pelacur! Kedua adalah kematian ayahnya, sehingga dia bersumpah untuk membalas dendam kematian ayahnya itu kepada Toat-beng Coa-ong Ouw Kan dan dua muridnya, yaitu pemuda bernama Bouw Kiang dan gadis bernama Bong Siu Lan! Dan ketiga, ia harus membalas penghinaan yang dulu dilakukan Souw Thian Liong kepadanya, yaitu telah menampari pinggulnya sebanyak sepuluh kali.

Sampai sekarang kedua pipinya masih terasa panas setiap kali dia teringat akan peristiwa itu. Pinggulnya yang ditampari, tapi hatinya yang sakit dan kedua pipinya yang panas dan kemerahan.

Tunggu saja, aku akan membalas menampari engkau dua kali lipat, bukan hanya sepuluh melainkan dua puluh kali! Tentu saja bukan pada pinggul Thian Liong, tetapi pada kedua belah pipinya, pikirnya dengan hati panas. Akan tetapi untuk dapat melaksanakan semua dendam itu, dia harus memperdalam ilmu silatnya.

Ouw Kan dan dua orang muridnya itu merupakan lawan yang berat. Apa lagi Thian Liong. Tidak gampang mengalahkan pemuda itu. Akan tetapi dia akan belajar lagi, entah dengan cara bagaimana dan kalau sudah merasa kuat dia akan mencari mereka untuk membalas dendamnya.

Ayahnya telah mati dan dia menganggap ibunya telah mati pula! Pikiran ini membuat dia merasa hatinya demikian tertekan, membuat dia seakan kehilangan gairah hidupnya dan kini gadis perkasa yang menderita batin itu mendaki bukit bagaikan orang berjalan dalam mimpi tanpa tujuan, seolah tidak sadar dan hanya menuruti saja ke mana kedua kakinya melangkah dan membawanya.

Bahkan seolah dia tidak melihat keindahan pemandangan alam terbentang di bawah bukit itu. Matanya terbuka namun kosong. Bahkan telah beberapa kali kakinya tersandung batu menunjukkan bahwa dia pun tidak memperhatikan langkahnya. Padahal pemandangan di pagi hari yang cerah itu amatlah indahnya.

Sesudah sampai di puncak bukit barulah dia berhenti melangkah. Pendakian yang cukup melelahkan itu tidak dirasakannya, hanya muka serta lehernya yang basah oleh keringat menunjukkan bahwa untuk mendaki bukit itu sudah menguras banyak tenaganya. Seolah baru tersentak bangun dari tidur Bi Lan seperti terseret kembali ke alam sadar. Dia berdiri memandang ke sekelilingnya. Puncak itu penuh dengan batu-batu besar yang aneh-aneh bentuknya, seolah-olah ada barisan hantu raksasa yang mengepungnya.

“Makin dicari semakin menjauh! Sudah dekat sekali tidak terasa. Alangkah bodohnya!”

Bi Lan terkejut bukan main karena suara itu terdengar begitu dekatnya, seolah mulut yang mengeluarkan kata-kata itu ditempelkan di telinganya! Dia mencari-cari dengan pandang matanya. Akan tetapi dia tidak dapat melihat jauh. Di sekelilingnya berdiri batu-batu besar berderet-deret seperti kepungan raksasa sehingga pandangannya terhalang batu-batu itu. Ia lalu berjalan di antara batu-batu itu sambil memandang ke kanan kiri dan ke atas batu-batu, tetapi setelah berputar-putar di sekitar puncak, dia tidak menemukan seorang pun!

Bi Lan berhenti melangkah, alisnya berkerut, matanya yang selama ini kosong dan sayu, kini mencorong, pertanda bahwa dia mulai mencurahkan perhatiannya dan merasa sangat penasaran. Bahkan dia mulai waspada. Dia seorang gadis yang sudah biasa bertualang, tidak mengenal takut. Bahkan kalau pada waktu itu orang-orang lajim percaya akan tahyul dan takut dengan cerita dan bayangan tentang setan, Bi Lan tidak pernah takut. Iblis yang bagaimana pun akan dihadapi dan kalau perlu ditentangnya!

“Keparat! Siapa yang bicara tadi? Hayo cepat keluar!” ia membentak sambil mengerahkan tenaga saktinya sehingga suaranya itu bergema sampai jauh. Akan tetapi tidak ada yang menjawab ucapannya tadi.

Bi Lan mulai marah karena merasa dipermainkan. Dia memutar tubuh lantas menghantam sebongkah batu sebesar kerbau dengan telapak tangannya.

“Haaiiiittt...!”

“Pyarrrr...!” Batu itu ambyar (hancur) berkeping-keping!

“Tolol, batu tidak berdosa dipukul hancur. Bocah perempuan gila yang tolol.”

Cepat sekali Bi Lan memutar tubuhnya lalu matanya yang mencorong mencari-cari. Akan tetapi dia tidak melihat siapa-siapa kecuali batu-batu, padahal suara tadi terdengar sangat dekat dengan telinganya. Dengan penasaran dia mencari-cari lagi, akan tetapi kembali dia kecewa karena tidak dapat menemukan apa-apa. Bi Lan menjadi semakin marah. Dia lalu mengepal tinju dan mengamangkan tinjunya ke atas.

“Setan iblis! Keluarlah dan mari kita bertanding sampai seribu jurus!” teriaknya.

“Ha-ha-heh-heh-heh...!” Suara tawa itu amat menggelitik, jelas mengandung cemooh atau ejekan, seperti orang tua menertawakan kenakalan seorang anak kecil.

Bi Lan cepat melompat ke belakang sambil membalikkan tubuh karena suara itu terdengar dari arah belakang. Sesudah menyelinap di antara dua buah batu besar yang lebih tinggi dari tubuhnya, barulah dia melihat sesosok tubuh duduk bersila di atas sebuah batu besar yang tingginya sama dengan tubuhnya.

Dia menjadi marah sekali. Sekarang dia telah menemukan pengganggunya! Maka dengan ringan dia segera melompat ke atas batu itu sehingga sekarang dia berdiri di depan sosok tubuh manusia itu. Bi Lan mengerutkan kedua alisnya sambil mengamati orang itu dengan sinar mata penuh selidik dan kemarahan, namun dia tetap waspada dan berhati-hati.

Orang itu duduk bersila dengan tegak dan kaku seolah-olah sudah berubah menjadi arca batu. Rambutnya putih riap-riapan, sebagian menutupi wajahnya yang kurus pucat. Alis dan kumis jenggotnya juga sudah putih semua. Wajah itu tentu sudah tua renta, mungkin ada seratus tahun usianya. Matanya terpejam, mulut tertutup. Wajah kurus pucat itu tidak ada sinar kehidupan, bagaikan wajah mayat! Pakaiannya yang membungkus badan kurus itu hanyalah kain putih yang sudah lusuh. Kepalanya hanya diikat sehelai kain putih pula. Kedua kakinya mengenakan sepatu kain putih yang sudah butut.

'Hei! Kakek tua! Engkaukah yang bicara dan mentertawakan aku tadi?” Bi Lan menegur, agak menyabarkan hatinya karena dia berhadapan dengan seorang kakek tua renta yang pantasnya menjadi kakek buyutnya.

Akan tetapi orang itu sama sekali tidak menjawab, bergerak sedikit pun tidak.

“Hei, Kek! Jawab pertanyaanku! Engkaukah yang bicara tadi?”

Kakek itu tetap diam saja.

Bi Lan menjadi jengkel. “Kakek tua! Tulikah engkau? Apakah engkau gagu? Hayo jawab, jangan membuat aku marah!”

Namun tetap saja kakek itu tidak menjawab.

“Setan, apakah engkau sudah mati?!” bentak Bi Lan, kemudian matanya terbelalak. Mati? Mungkin kakek ini sudah mati!

Bi Lan menjulurkan tangannya meraba dahi yang berkeriput itu. Hihh, Dingin bukan main! Benarkah sudah mati? Akan tetapi walau pun wajah yang pucat itu seperti mayat, namun tubuhnya masih duduk bersila dengan tegak. Mana mungkin mayat dapat duduk bersila tegak terus menerus? Hanya kalau mayat itu membeku atau sudah menjadi batu! Namun mayat ini tidak membeku, kulit dahinya yang dirabanya itu masih lunak.

Bi Lan kembali menjulurkan tangannya, dibawa ke depan hidung itu. Tidak ada hembusan napas sedikit pun. Kakek itu tidak bernapas! Berarti dia telah mati. Juga baju pada bagian dadanya tak bergerak, tanda bahwa dada itu pun tidak mengembang kempis seperti kalau orangnya masih hidup dan bernapas!

Ah, tanda hidup atau mati ada pada detak jantungnya, pikir Bi Lan. Dia akan tahu apakah kakek ini masih hidup atau telah mati jika dia memeriksa denyut nadinya. Ia menjulurkan tangannya lagi, menyentuh bawah dagu, pada leher atas tulang pundak di mana biasanya denyut jantung terasa. Tidak ada denyut!

Kini dia meraba pergelangan tangan kakek itu. Kulit pergelangan tangan itu masih lunak, akan tetapi dingin sekali dan denyut nadinya juga tidak ada sama sekali! Ahh, kiranya dia telah mati, pikir Bi Lan sambil bangkit berdiri dari jongkoknya. Sialan! Dia bertemu mayat. Akan tetapi... kenapa mayat dapat bicara? Bahkan dapat menertawakannya?

Dia memandang lagi dengan terbelalak. Betapa pun tabahnya kini dia merasa tengkuknya dingin dan bulu kuduknya berdiri. Siapa yang tidak merasa ngeri kalau mendengar mayat dapat bicara dan tertawa? Akan tetapi dasar dia seorang gadis bandel dan keras hati, dia mampu mengusir rasa ngerinya dan membentak sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka mayat itu.

“Siapa kau?! Sudah mati masih suka menggoda orang!”

“Dari pada masih hidup suka menggoda orang, lebih baik sesudah mati, tidak berbahaya!”

Bi Lan terbelalak dan mulutnya ternganga. Jelas terdengar oleh telinganya bahwa suara itu keluar dari mayat itu, akan tetapi dia tidak melihat bibir mayat itu terbuka! Sama sekali mulut itu tidak bergerak. Bagaimana mungkin bicara tanpa menggerakkan bibir?

Bulu kuduknya meremang semakin kuat, rasa dingin pada tengkuknya menjalar hingga ke punggung. Tapi Bi Lan cepat mengeraskan hatinya dan menjadi semakin marah sehingga tanpa disadari dia membanting-banting kaki kirinya yang merupakan kebiasaannya sejak kecil kalau dia sedang marah.

“Setan! Engkau setan iblis neraka yang memasuki tubuh mayat ini untuk menggodaku!” Ia memaki sambil menudingkan lagi telunjuknya ke arah muka mayat itu.

“He-he-heh, engkaulah setan betina cilik yang tolol!” kembali terdengar suara dari ‘mayat’ itu, suara yang keluar tanpa menggerakkan bibir!

Kemarahannya telah mengusir semua rasa ngeri dan takut. “Setan busuk, jangan kira aku takut padamu! Mampuslah kamu!”

Bi Lan menggunakan tangan kirinya untuk menampar pundak mayat itu. Karena dia masih ingat bahwa yang dihadapinya adalah mayat seorang kakek, dia masih merasa sungkan, maka yang ditampar hanya pundak, itu pun tanpa mengerahkan tenaga saktinya karena dia tidak ingin merusak ‘mayat’ itu.

“Wuuttt...! Plakk!”

Tangan Bi Lan terpental dan dia merasa telapak tangannya panas dan pedih, seolah dia tadi menampar papan baja yang membara! Tentu saja ia menjadi semakin marah.

“Ihh, engkau hendak melawan, ya? Ingin memamerkan kekuatan setanmu padaku? Akan kuhancurkan kepalamu, setan iblis hantu mayat hidup!” Setelah memaki ia menggerahkan pukulan dengan tenaga sinkang dari Kwan-im Sin-ciang (Tangan Sakti Kwan Im) ke arah dada ‘mayat’ itu.

“Hyaaaaattt...!” Kini telapak tangannya menghantam dengan didahului angin pukulan yang amat dahsyat.

“Wuuuuttt...! Dessss!”

Bukan mayat itu yang terpukul pecah atau roboh. bahkan tubuh itu tetap diam sedikit pun tak terguncang, sebaliknya tubuh Bi Lan yang terjengkang ke belakang. Untung dia dapat cepat berjungkir balik sehingga tubuh belakangnya tidak sampai terbanting ke batu besar yang keras dan lebar itu!

“Heh-heh, sedikit ilmu pukulan lemah dari Tibet hendak dipamerkan? Ha-ha-ha!” mayat itu menertawakan.

Bi Lan terbelalak. Dia bukan terkejut melihat kelihaian setan yang masuk ke dalam mayat kakek itu, akan tetapi juga kaget mendengar kakek itu dapat mengenal pukulannya yang dia pelajari dari guru pertamanya, Jit Kong Lhama yang memang berasal dari Tibet. Akan tetapi ia juga menjadi semakin marah karena pukulannya tadi bertemu dengan hawa yang amat kuat.

Karena tadi dia belum mengerahkan seluruh tenaganya ketika menggunakan pukulan dari Kwan-im-sin-ciang, kini ia memasang kuda-kuda dan menghantam dengan jurus maut dari ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat. Ilmu silat simpanan dari Kun-lun-pai ini memang hebat sekali dan mengandung hawa pukulan yang amat kuat.

“Terimalah ini, setan! Haiiiiiitt...!”

Dua tangan itu menyambar dari kanan kiri, dahsyat bukan main sehingga pukulan kedua tangan gadis itu akan mampu menghancurkan batu karang.

“Syuuuuuttt...! Blaarr...!”

Tubuh Bi Lan terlempar jauh sampai keluar dan jatuh dari atas batu besar itu! Gadis itu terkejut sekali. Untung dia masih mampu mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga dia dapat mendarat di atas tanah dengan kedua kaki lebih dulu dan hanya terhuyung.

Pada saat itu nampak bayangan berkelebat dari atas batu, dan tahu-tahu ‘mayat’ tadi kini sudah berdiri di depan Bi Lan, matanya terbuka dan sepasang mata itu mencorong seperti kilat! Bi Lan memandang dan merasa ngeri juga karena jelas ‘mayat’ itu sakti bukan main. Setelah makhluk itu kini berdiri, semakin tampak betapa kurusnya dia.

“Heh, bocah perempuan liar! Bagaimana mungkin engkau dapat memainkan jurus terakhir dari delapan jurus ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat? Padahal yang kutahu, bahkan Kui Beng Thaisu ketua Kun-lun-pai itu sendiri hanya mampu menguasai tidak lebih dari enam jurus saja! Siapakah engkau ini?”

Bi Lan memperhatikan makhluk yang sedang berdiri di depannya. Melihat tubuh itu dapat bergerak-gerak dengan wajar dan bola mata yang mencorong itu pun bergerak biasa saja, jelas bahwa dia berhadapan dengan makhluk hidup berwujud manusia. Akan tetapi kalau manusia, bagaimana dapat bicara tanpa menggerakkan bibirnya?

Dia cepat memandang ke arah kaki yang bersepatu kain itu. Menurut kabar, setan, hantu atau iblis tidak menginjak tanah. Akan tetapi mayat hidup di hadapannya ini menginjak tanah seperti manusia biasa! Baik iblis mau pun manusia, makhluk ini jelas mempunyai kesaktian yang luar biasa.

Ia hendak memperdalam ilmu-ilmunya, maka alangkah baiknya bila dapat berguru kepada makhluk ini! Gadis yang cerdik ini segera mengambil keputusan dan dia pun menjatuhkan diri berlutut di depan makhluk itu.

“Harap ampunkan teecu kalau tadi teecu sudah bertindak kurang ajar karena teecu tidak mengenal Suhu dan mengira Suhu sedang mempermainkan teecu. Teecu bernama Han Bi Lan dan memang teecu pernah menjadi murid Suhu Jit Kong Lhama, kemudian teecu menjadi murid Kun-lun-pai dan telah mempelajari ilmu dari Kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat. Akan tetapi kepandaian teecu itu tak ada artinya sama sekali di depan Suhu. Teecu mohon agar Suhu sudi menerima teecu menjadi murid.”

“Heh-heh-heh, engkau seorang manusia, gadis muda cantik, ingin berguru kepada setan hantu iblis mayat hidup?” Makhluk itu terkekeh tanpa menggerakkan bibirnya.

Wajah Bi Lan menjadi kemerahan karena dia merasa diejek. Dialah yang tadi menyebut makhluk itu setan hantu iblis mayat hidup.

“Ampunkan teecu, Suhu. Apa pun adanya Suhu, baik malaikat, dewa, manusia, atau pun hantu, teecu tetap ingin menjadi murid Suhu.”

“Ha-ha-ha, Han Bi Lan! Apa sebabnya engkau mengira aku ini setan?”

Bi Lan mengangkat mukanya memandang. “Tadi Suhu duduk bersila tidak bergerak sama sekali, juga tidak ada detak jantung. Ketika teecu meraba, kulit badan Suhu terasa dingin sekali seperti mayat.”

“Heh-heh, engkau yang sudah memiliki ilmu yang lumayan, tentu tahu pula bahwa dalam semedhi kita dapat saja mengatur denyut jantung dan peredaran darah. Apa anehnya?”

“Akan tetapi... Suhu tadi dan bahkan sekarang pun bila bicara tak pernah menggerakkan bibir!”

“Oh, apa sih anehnya hal itu? Setiap orang dapat mempelajarinya! Jangan gerakkan bibir, hanya gunakan lidah dan kerongkongan dibantu gerakan perut, tentu engkau dapat bicara seperti yang kulakukan ini. Dan mengapa engkau yang tadi mengamuk dan menyerangku, kini ingin berguru kepadaku. Apa sebabnya?”

“Suhu mempunyai kesaktian luar biasa sehingga pukulan-pukulan teecu sama sekali tidak mampu menyentuh Suhu, maka teecu ingin mendapatkan pelajaran ilmu dari Suhu. Harap Suhu tidak menolak dan sudi menerima teecu menjadi murid.”

“Hemm, engkau begini muda sudah memiliki ilmu-ilmu yang tinggi dari Tibet dan Kun-lun-pai, untuk apa ingin mempelajari ilmu yang lebih tinggi lagi?”

“Teecu ingin membalas dendam, Suhu. Teecu ingin membalas kepada orang-orang yang membunuh ayah kandung teecu, juga membalas terhadap orang yang pernah menghina teecu. Akan tetapi para musuh teecu itu lihai sekali dan teecu tidak mampu mengalahkan mereka, oleh karena itu teecu mohon Suhu suka membimbing teecu.”

“Heh-heh-heh, Han Bi Lan, tahukah engkau siapa aku?”

“Teecu tidak tahu, akan tetapi teecu yakin sekali bahwa Suhu tentu seorang tokoh dunia persilatan yang terkenal sekali.”

“Hemm, dulu aku disebut Heng-si Cauw-jiok dan semua orang takut padaku!”

Bi Lan kaget bukan main sekaligus juga girang. Gurunya yang pertama, Jit Kong Lhama, pernah bercerita kepadanya tentang seorang datuk persilatan penuh rahasia yang berjuluk Heng-si Cauw-jiok (Mayat Hidup Berjalan), yang dimusuhi hampir semua datuk di daratan Cina. Tidak kurang dari tujuh orang datuk beramai-ramai mengeroyoknya dan dikabarkan bahwa Heng-si Cauw-jiok tewas ketika dikeroyok itu. Bagaimana mungkin sekarang datuk besar itu masih hidup?

“Dahulu teecu pernah mendengar Suhu Jit Kong Lhama bercerita tentang Heng-si Cauw-jiok. Katanya dia dikeroyok tujuh orang datuk besar hingga tewas, dan peristiwa itu sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Bagaimana kini Suhu mengaku bahwa Suhu adalah Heng-si Cauw-jiok yang telah tewas puluhan tahun yang lalu?”

“Ha-ha-ha, mereka itu orang-orang bodoh yang menyangka aku mati. Andai kata aku mati sekali pun, aku akan tetap hidup. Bukankah julukanku Si Mayat Berjalan? Ha-ha-ha!”

Diam-diam Bi Lan bergidik. Jangan-jangan kakek ini benar-benar sudah mati dan menjadi mayat hidup alias setan! Tetapi dia tidak peduli. Kalau dapat mengajarkan ilmu kesaktian kepadanya, baik setan atau pun manusia akan dia angkat menjadi gurunya!

“Mohon Suhu suka menerima teecu sebagai murid,” katanya lagi.

“Hemm, aku sudah bosan hidup, sudah terlalu lama hidup di dunia yang penuh kepahitan ini. Namun tampaknya kita memang berjodoh. Baiklah, Bi Lan. Engkau akan kugembleng selama satu tahun, akan tetapi engkau harus berjanji dahulu bahwa sesudah satu tahun, engkau harus mau mengubur aku hidup-hidup!”

Mata Bi Lan terbelalak. “Mengubur Suhu hidup-hidup? Ah, itu jahat sekali namanya! Teecu akan dikatakan murid durhaka!”

“Pendeknya kau mau atau tidak? Kalau tidak mau, pergilah sana, aku tidak sudi menjadi gurumu. Baru mau mulai saja sudah tidak taat, apa lagi sesudah satu tahun!”

Bi Lan menjadi serba salah. Hemm, dia sedang berhadapan dengan seorang kakek yang sudah sinting. Sanggupi saja, soal setahun nanti, bagaimana nanti sajalah!

“Baiklah, Suhu, teecu menurut.”

“Kalau begitu, mari ikut aku pulang.”

“Pulang?”

“Ya, ke tempat tinggalku di sana.”

Bi Lan mengikuti kakek itu, dan ternyata tempat tinggal Si Mayat Hidup itu tidak jauh dari situ. Dia tinggal di sebuah goa yang tepat berada di bawah puncak. Mulai saat itu Bi Lan menjadi murid manusia aneh itu dan dia digembleng dengan keras. Selama satu tahun Bi Lan mendapat pelajaran ilmu silat yang amat aneh dan dahsyat yang oleh Si Mayat Hidup disebut Sin-ciang Tin-thian (Tangan Sakti Menjagoi Langit) yang terdiri dari tiga belas jurus ampuh.....

********************

Thio Ki terkenal sebagai seorang pedagang yang berhasil di kota Kang-cun. Dia sering membawa barang dagangan yang besar jumlahnya ke utara sampai di kota raja Yen-cing (Peking), yaitu kota raja Kerajaan Kin. Terkadang dia pun membawa barang dagangan ke selatan sampai ke kota Hang-couw, yaitu kota raja Kerajaan Sung Selatan.

Dengan perdagangan ke utara dan ke selatan itu, Thio Ki berhasil mendapat keuntungan besar sehingga dia pun terkenal sebagai seorang hartawan di kota Kang-cun yang terletak di lembah Sungai Yang-ce bagian utara. Kota Kang-cun merupakan kota yang berada di tapal batas dua kerajaan itu, namun masih termasuk ke dalam Kerajaan Kin.

Isteri Thio Ki adalah seorang wanita berdarah bangsawan sebab sebelum menikah dengan Thio Ki, dia adalah janda pangeran Kerajaan Kin. Sebelumnya dia sendiri adalah puteri seorang kepala suku bangsa Uigur. Namanya Miyana, usianya sekitar empat puluh tahun tetapi masih tampak bekas kecantikannya.

Thio Ki sendiri berusia empat puluh lima tahun. Biar pun selama menikah dengan Miyana, kurang lebih lima belas tahun, mereka tidak mempunyai keturunan, namun Thio Ki cukup merasa berbahagia dengan anak tirinya, seorang anak perempuan yang berusia empat tahun ketika dia menikah dengan Miyana,. Anak itu bukan lain adalah Thio Siang In yang terkenal dengan julukan Ang Hwa Sian-li!

Thio Ki yang biasa melakukan perjalanan jauh untuk berdagang, selain dikawal beberapa orang piauw-su (pengawal barang dagangan) yang lihai, juga bukan seorang yang lemah. Dia pernah belajar silat beberapa tahun lamanya. Karena itu, ketika anak perempuan yang memakai nama marganya itu tampak suka dengan ilmu silat, dia memberi pelajaran ilmu silat. Ketika isterinya, Miyana memberi tahu bahwa suku bangsanya mempunyai seorang datuk besar yang sakti, yaitu Toat-beng Coa-ong (Raja Ular Pencabut Nyawa) Ouw Kan, Thio Ki lalu menyerahkan Siang In kepada guru besar itu untuk menjadi muridnya.

Sesudah Thio Siang In tamat belajar dan menjadi pendekar wanita yang gagah perkasa, Thio Ki dan Miyana ikut merasa bangga dan berbahagia. Sesudah menjadi seorang gadis yang lihai, ternyata Siang In tidak melupakan pendidikan budi pekerti yang diberikan Ayah Ibunya sehingga ia menjadi seorang lihiap (pendekar wanita) yang dijuluki Ang Hwa Sian-li.

Akan tetapi yang terkadang membuat mereka berdua gelisah dan rindu, adalah kesukaan puteri mereka itu meninggalkan rumah, mengembara dan bertualang. Bahkan akhirnya, setahun yang lalu, puteri mereka itu mengikuti seorang guru lain, yaitu Tiong Lee Cin-jin.

Thio Ki sudah mendengar akan nama besar Tiong Lee Cin-jin yang dijuluki Tabib Dewa itu sebagai seorang yang amat sakti dan budiman serta arif bijaksana. Maka dia bersama isterinya menyatakan persetujuan mereka puterinya menjadi murid Tabib Dewa itu.

Tentu saja Miyana telah berterus terang kepada suaminya bahwa Siang In bukanlah anak kandungnya. Ia menceritakan sejujurnya kepada suami yang amat mencintanya itu bahwa sesungguhnya anak mereka adalah puteri Kaisar Kerajaan Kin! Puteri seorang selir kaisar yang berkebangsaan Han bernama Tan Siang Lin dan menjadi sahabat baiknya ketika dia menjadi selir seorang pangeran dahulu.

Selir kaisar itu melahirkan sepasang bayi kembar. Agar kedua orang bayi itu tidak dibunuh seperti yang sudah menjadi kepercayaan bangsa Kin (Nuchen) bahwa anak kembar akan mendatangkan mala petaka, maka seorang dari bayi kembar itu diserahkan kepadanya. Thio Ki bahkan semakin sayang kepada Siang In yang sesungguhnya adalah puteri kaisar itu!

Akan tetapi hari ini rumah besar keluarga itu terlihat sepi sekali, padahal biasanya seluruh penghuni rumah itu nampak gembira dengan wajah berseri. Kini wajah para pelayan dan pekerja pembantu kelihatan muram dan kalau bicara pun mereka berbisik-bisik sehingga dapat diduga bahwa tentu ada perkara yang amat menyedihkan terjadi di rumah besar itu.

Pada sebuah kamar yang besar di dalam rumah itu, kamar induk, Thio Ki rebah telentang di atas pembaringan. Kepala serta lengan kirinya dibalut. Tubuhnya yang tinggi besar itu tampak lemah dan wajahnya yang gagah agak pucat.

Miyana, isterinya yang masih cantik, duduk di tepi pembaringan. Wajahnya amat muram dan matanya masih tampak kemerahan dan sembab, tanda bahwa dia banyak menangis. Di atas meja dekat pembaringan tampak mangkuk obat yang sudah kosong.

Thio Ki rebah dengan sepasang mata terpejam dan mulutnya agak menyeringai menahan rasa nyeri. Tiba-tiba dia mengeluh dan bergerak hendak bangkit duduk.

Miyana cepat membantunya sambil bertanya lembut, “Mengapa bangkit? Lebih baik rebah dulu. Bukankah tadi tabib mengatakan bahwa engkau kehilangan banyak darah sehingga sebaiknya rebah mengaso dan banyak tidur?”

Thio Ki sudah duduk sambil pundaknya dirangkul isterinya. Dia menghela napas panjang beberapa kali. “Ahh, rasa sakit di badan ini dapat kutahan. Akan tetapi hatiku sakit sekali kalau teringat akan semua barang yang dirampas dan penghinaan yang kudapat dari para jahanam itu...”

“Sudahlah, jangan terlalu memikirkan soal kehilangan harta benda. Harta bisa dicari lagi, yang penting kesehatanmu cepat pulih kembali,” isterinya menghibur.

“Kehilangan harta benda tidak menyusahkan aku,” kata Thio Ki, “aku pernah melarat dan aku tidak takut jika menjadi melarat lagi. Akan tetapi di antara barang-barang itu ada yang menjadi milik orang lain dan aku harus mengganti kehilangan itu! Barang-barangku sendiri sudah habis, dari mana aku dapat mengganti kehilangan itu?”

“Pemilik barang itu pasti akan mengerti bahwa barangnya hilang karena engkau dirampok dan dia mau mengerti. Kita bekerja lagi lalu perlahan-lahan kita dapat mencicil barangnya yang hilang itu.”

“Hemm, mana dia mau? Engkau tahu siapa pemilik barang yang dititipkan padaku untuk dikirim dan ikut dibawa perampok itu? Dia adalah Pangeran Cin Boan!”

“Pangeran Cin Boan? Ahh...!” Miyana terkejut mendengar nama ini.

“Ya, Pangeran Cin Boan yang pernah kita tolak lamarannya terhadap Siang In yang ingin dia jodohkan dengan puteranya karena Siang In selalu menolak pinangan siapa pun juga. Mana mungkin dia mau memberi kelonggaran kepada kita yang tentu dianggapnya telah menyakitkan hatinya karena penolakan pinangan itu? Ahhh!” Thio Ki tampak sedih sekali.

“Aihh... kalau saja dulu Siang In mau menerimanya pinangan itu. Aku pernah melihat Cin-kongcu (Tuan Muda Cin). Dia adalah seorang pemuda yang tampan, halus tutur sapanya, sopan santun dan aku mendengar dia telah lulus ujian sebagai seorang sasterawan. Siang In sungguh keras hati. Belum juga melihat Cin-kongcu tapi dia sudah menolak begitu saja! Sekarang bagaimana baiknya...?” Miyana yang biasanya tabah kini mulai merasa gelisah juga mendengar keterangan suaminya tadi.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner