JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-12


“Hemm, jika Siang In berada di rumah, pasti dia akan mampu merampas kembali barang-barang itu dari gerombolan perampok. Mengapa dia belum juga pulang? Bukankah dulu Tiong Lee Cin-jin mengirim kabar kepada kita bahwa dia akan mengajarkan ilmu kepada Siang In hanya selama satu tahun saja? Dan sekarang, kalau tidak salah, sudah setahun lamanya.”

“Sudahlah, jangan pikirkan semua urusan itu dulu,” Miyana kembali menghibur suaminya. “Tiduran saja dulu, tenangkan hatimu. Kalau sudah sembuh benar, baru kita memikirkan urusan itu.” Dia membantu suaminya rebah kembali, menyelimuti tubuh suaminya lantas membantu pelayan mempersiapkan makan obat untuk suaminya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ada seorang lelaki datang berkunjung ke rumah Thio Ki. Pria berusia empat puluh tahun yang bertubuh pendek gendut ini diterima dengan baik oleh Miyana karena dia telah mengenalnya dengan baik.

Orang itu adalah Bhe Liang yang berjuluk Twa-to (Golok Besar) karena dia terkenal lihai dengan permainan golok besarnya. Bhe Liang merupakan salah seorang di antara para pimpinan pasukan piauw-su (pengawal kiriman barang) yang telah bekerja kepada Thio Ki selama setahun lebih. Akan tetapi ketika terjadi perampokan barang itu, yang mengawal bukan giliran kelompoknya. Sebelum menjadi piauw-su Bhe Liang pernah bekerja sebagai pengawal pada keluarga Pangeran Cin Boan.

Setelah berada dalam kamar Thio Ki yang dijenguknya, Bhe Liang dipersilakan duduk di kursi dekat pembaringan di mana Thio Ki berbaring.

“Bagaimana keadaanmu Thio-twako?” tanya Bhe Liang dengan penuh perhatian.

“Luka-luka di pelipis dan lengan kiri sudah tidak begitu nyeri lagi, Bhe-te (Adik Bhe). Akan tetapi tubuh ini rasanya masih lemas,” jawab Thio Ki dengan suara sedih.

“Hemm, kalau saja ketika itu saya yang mengawal, pasti tidak akan terjadi hal ini, Twako. Saya tentu sudah menghajar para perampok keparat itu!” Si Pendek Gendut ini mengepal tinju dengan penasaran.

Thio Ki menarik napas panjang. “Apa hendak dikata. Semua telah terjadi. Kalau saja saat ini puteriku Siang In berada di sini, pasti dia akan mencari lantas membasmi gerombolan perampok itu dan merampas kembali semua barangku.”

“Thio-twako, di samping hendak melihat keadaan, Twako, kedatangan saya ini juga untuk menyampaikan kabar yang penting bagimu. Twako, saya tahu siapa yang menjadi dalang perampokan ini!”

“Ehh?” Thio Ki tertarik sekali dan memandang penuh selidik. “Benarkah itu, Bhe-te? Siapa yang mendalangi?”

Pada saat itu Miyana memasuki kamar dan dia mendengar ucapan terakhir suaminya itu. “Ehh?! Ada yang mendalangi perampokan?” Dia lalu duduk di tepi pembaringan dan ikut memandang Bhe Liang dengan sinar mata menyelidik.

“Benar, Twaso.”

Sudah menjadi kebiasaan umum di Tiongkok, seseorang yang hendak menghormati orang lain menyebutnya Twako (Kakak Tertua) dan isterinya disebut Twaso (Kakak Ipar Tertua), biar pun laki-laki itu bukan kakaknya sendiri dan isteri temannya itu bukan kakak iparnya. “Saya tahu betul siapa yang mengatur perampokan ini.”

“Siapa dia...?” Suami isteri itu bertanya dengan suara hampir berbareng.

“Siapa lagi kalau bukan Pangeran Cin Boan!”

Suami isteri itu saling pandang dan keduanya mengerutkan alisya, menatap tajam wajah Bhe Liang dengan ragu. “Bhe-te, jangan main-main kau!” kata Thio Ki. “Jangan menuduh tanpa bukti, itu fitnah namanya!”

“Aihh, Twako. Sudah setahun lebih saya membantu Twako dengan setia, apakah Twako masih meragukan keterangan saya? Saya bukannya menuduh sembarangan saja. Twako tentu masih ingat, setahun yang lalu saya masih menjadi pengawal di keluarga Pangeran Cin Boan itu. Nah, ketika pinangan keluarga itu terhadap puteri Twako ditolak, Pangeran Cin Boan marah bukan main. Saya mendengar sendiri kata-katanya bahwa sekali waktu dia akan membalas penghinaan itu.”

“Penghinaan?” Miyana bertanya heran.

“Benar, Twako. Penolakan pinangan itu dianggap sebagai penghinaan oleh Pangeran Cin Boan. Maka, sesudah terjadi perampokan ini, padahal dia juga menitipkan kiriman barang yang besar nilainya, siapa lagi yang mendalanginya kalau bukan dia?”

Setelah Bhe Liang meninggalkan rumah itu, Thio Ki dan Miyana masih duduk termenung, memikirkan keterangan Bhe Liang tadi dengan hati risau.

“Mungkinkah itu? Memang tidak biasanya dia menitipkan barang sedemikian banyaknya dalam perjalananku... betulkah Pangeran Cin Boan membalas dendam akibat lamarannya ditolak? Semua hartaku dirampas, bahkan diriku dilukai... alangkah kejamnya...”

“Nanti dulu, kita harus berhati-hati dan jangan dulu memastikan bahwa dugaan Bhe Liang itu benar. Pertama, apakah buktinya bahwa perampokan ini didalangi oleh Pangeran Cin Boan yang hendak membalas dendam kepadamu? Kedua, kita juga telah mendengar dan mengenal siapa Pangeran Cin Boan. Dia seorang bangsawan kaya raya yang dermawan dan selalu bersikap baik dan ramah terhadap siapa pun juga. Jadi amat meragukan kalau dia dapat melakukan tindakan sejahat itu.”

“Akan tetapi dia seorang Pangeran Kin, mungkin saja secara diam-diam dia membenci aku, seorang pribumi bangsa Han.”

“Tidak mungkin! Kalau dia membencimu, lalu mengapa dia melamar anak kita dan hendak menjadikan engkau besannya?”

Mereka terdiam dan termenung, kemudian Thio Ki menghela napas panjang dan berkata, “Betapa pun juga dugaan Bhe Liang tidaklah ngawur. Memang besar sekali kemungkinan Pangeran Cin Boan merasa terhina. Bagaimana mungkin dia takkan merasa terhina oleh penolakan kita? Dia seorang pangeran, berkedudukan tinggi, kaya raya dan kita ini orang-orang biasa saja. Pinangannya kita tolak, tentu hal itu bagi mereka merupakan pukulan dan bila terdengar orang akan memalukan sekali. Pinangan seorang pangeran kaya raya ditolak seorang rakyat kecil biasa! Biar pun dia baik hati, namun dendam sakit hati dapat saja membuat seorang yang baik hati menjadi kejam karena dendam kemarahannya itu. Kiranya hanya dia seorang yang paling pantas dicurigai mendalangi perampokan itu.”

Miyana termenung, lalu dia pun menghela napas panjang dan berkata. “Andai kata benar dugaan itu, lalu kita bisa berbuat apa? Pertama, dugaan itu tak ada buktinya, dan kedua, apa yang bisa kita lakukan terhadap Pangeran Cin Boan? Dia seorang bangsawan tinggi, keluarga kerajaan yang kedudukannya kuat sekali.”

“Ahh, kalau saja Siang In ada...” Keduanya mengeluh dan merasa tidak berdaya.

Ternyata harapan mereka segera terkabul. Pada keesokan harinya, pagi-pagi muncul Thio Siang In, seperti biasa berpakaian serba hijau dan ada setangkai bunga merah menghias rambutnya. Wajahnya masih cantik jelita dan berseri gembira. Gadis ini muncul bersama Puteri Moguhai yang berpakaian serba putih dengan sabuk panjang berwarna merah, dan di atas kepalanya terhias burung Hong dari perak yang ukirannya amat indah.

“Ayah, apa yang terjadi denganmu?” ketika Thio Ki dan Miyana muncul, Siang In langsung berseru kaget melihat lengan kiri dan kepala Thio Ki dibalut kain putih dan wajah ayahnya tampak sangat pucat.

“Siang In...!” Miyana maju merangkul anaknya sambil menangis. “Aih, Siang In, mengapa engkau baru pulang? Ayahmu mendapat mala petaka, dirampok habis-habisan dan dilukai para penjahat...”

“Hemmm, kapan terjadinya, di mana dan siapa perampoknya?” Siang In bertanya dengan wajah yang sudah berubah kemerahan karena marah.

Akan tetapi Thio Ki yang memandang ke arah Puteri Moguhai merasa sangat terkejut dan terheran-heran ketika melihat betapa gadis itu serupa benar dengan puterinya dan hanya pakaian mereka saja yang berbeda. Karena itu dia pun cepat berkata,

“Siang In, nanti saja kita bicara di dalam supaya lebih leluasa. Sekarang perkenalkan dulu siapa temanmu ini.”

Baru sekarang Miyana menyadari bahwa anaknya tidak pulang seorang diri, dan dia pun memandang kepada Moguhai. Mata wanita itu terbelalak lebar ketika melihat wajah puteri itu. Lalu dia menoleh dan memandang wajah anaknya, lalu menoleh lagi kepada Moguhai, begitu berulang-ulang, ganti berganti.

“Siang In... ini... ini... siapakah ini...?” Akhirnya dia bisa bertanya dan kembali dia meneliti wajah puterinya karena dia merasa bingung dan ragu apakah yang dirangkulnya itu benar Siang In, ataukah gadis yang lain itu yang sesungguhnya anaknya!

Siang In juga baru teringat akan kehadiran Moguhai karena tadi dia merasa khawatir dan tegang melihat keadaan ayahnya. Dia lalu menoleh kepada orang tuanya.

“O ya, Ayah dan Ibu, perkenalkan. Ini adalah sahabat baikku yang juga menjadi saudara seperguruanku. Dia terkenal dengan sebutan Pek Hong Nio-cu, tapi nama aslinya adalah Puteri Moguhai.”

“Puteri...?” Miyana semakin terkejut.

“Benar, Ibu. Puteri Moguhai adalah Puteri Kaisar Kerajaan Kin. Ibunya selir kaisar, yaitu seorang wanita Han bernama Tan Siang Lin.” Siang In memperkenalkan dengan suara biasa saja. “Pek Hong, perkenalkanlah, ini ayahku Thio Ki dan ibuku ini bernama Miyana.” Kini Siang In memang menyebut Moguhai dengan nama pemberian ayah mereka, yaitu Sie Pek Hong.

Pek Hong memberi hormat dengan mengangkat tangan di depan dada dan berkata sambil tersenyum, “Paman dan Bibi, senang sekali dapat berkenalan dengan kalian.”

Hampir pingsan rasanya Miyana pada saat itu. Thio Ki melihat keadaan isterinya. Biar pun dia sendiri amat terkejut dan tubuhnya masih lemas karena luka-lukanya, dia cepat-cepat memegang lengan isterinya yang agaknya menjadi pening dan terhuyung.

Miyana tidak ragu lagi bahwa yang datang ini adalah saudara kembar Siang In, dan Thio Ki yang pernah mendengar cerita isterinya juga mengerti. Akan tetapi tentu saja mereka berdua tidak ingin memperlihatkan kepada siapa pun juga, terutama kepada anak mereka, bahwa mereka telah mengetahui rahasia dua orang gadis itu.

“Ah, Ibu terkejut melihat persamaan antara aku dan Pek Hong? Memang kami mirip sekali satu sama lain, akan tetapi dia adalah puteri kaisar dan aku hanyalah anak Ayah dan Ibu,” kata Siang In.

“Ampun, Tuan Puteri. Tadi hamba tidak mengenal maka sudah bersikap kurang hormat...” kata Miyana sambil memberi hormat dengan sembah dan menekuk kedua lututnya. Akan tetapi Pek Hong segera membungkuk dan memegang lengannya, mencegah dia berlutut.

“Bibi, jangan begitu. Kalau sudah keluar dari istana, aku justru lebih suka dikenal sebagai Pek Hong Nio-cu. Siang In juga menyebut namaku Pek Hong, maka kuharap Paman dan Bibi juga menyebutku begitu.”

“Mari, marilah kita semua masuk dan bicara di dalam,” kata Thio Ki.

Mereka berempat masuk ke ruangan dalam, lalu duduk menghadapi sebuah meja besar. Miyana menutup daun pintu dan jendela agar tidak ada pelayan yang berani masuk atau mendengarkan percakapan mereka.

“Nah, Ayah. Sekarang ceritakanlah apa yang terjadi padamu,” kata Siang In, sudah dapat menekan kemarahannya.

“Terjadinya lima hari yang lalu. Bersama beberapa orang piauwsu, aku membawa barang-barang daganganku sendiri dan juga titipan barang-barang Pangeran Cin Boan menuju ke kota raja. Ketika rombongan kami sampai di kaki Pegunungan Cin-ling-san sebelah timur, kami dihadang oleh segerombolan perampok. Kami lalu melawan, tapi karena pihak kami kalah banyak maka semua barang-barang itu dapat dirampas mereka dan aku terluka.”

“Hemm, di mana terjadinya itu, Ayah?”

“Di kaki Pegunungan Cin-ling-san sebelah timur, di dalam hutan yang berada di tepi jalan raya menuju kota Kai-feng.”

“Tahukah Ayah siapa pemimpin gerombolan itu?”

“Aku tidak mengenalnya. Orangnya tinggi kurus dan permainan siang-to-nya (sepasang golok) amat lihai. Dia tidak menyebutkan namanya dan anak buahnya berjumlah lebih dari tiga puluh orang. Di dalam rombongan kami banyak yang terluka, bahkan ada dua orang piauwsu yang tewas.”

“Dan harta benda Ayah habis?”

“Hemm, terlukanya badanku dan habisnya hartaku tidak menjadi soal berat bagiku, Siang In. Kita dapat mencari lagi dengan bekerja keras. Akan tetapi yang sangat menyusahkan hati adalah barang titipan Pangeran Cin Boan yang ikut hilang dibawa perampok, padahal barang-barang itu sangat mahal harganya. Bagaimana aku dapat membayarnya?” Kalimat terakhir ini diucapkan Thio Ki dengan keluhan.

“Jangan khawatir, Ayah. Aku akan segera mencari ke tempat Ayah dihadang perampok. Aku akan membasmi mereka semua, kemudian mengambil kembali barang-barang milik Ayah!” kata Siang In.

“Benar, Paman, aku akan membantu Siang In. Kami berdua pasti akan dapat merampas kembali barang-barang Paman,” kata Pek Hong dengan suara menyakinkan.

Miyana memandang kepada suaminya dan berkata lirih, “Apakah tidak perlu menceritakan kepada Siang In tentang dugaan piauwsu Bhe Liang?”

“Laporan apakah, Ayah? Ceritakan kepadaku!” kata Siang In kepada ayahnya.

Thio Ki menghela napas panjang. “Bhe Liang melaporkan kepadaku, mengatakan bahwa yang mendalangi perampokan itu adalah Pangeran Cin Boan.”

“Ehh, Pangeran Cin Boan? Apa buktinya, Ayah?”

“Itulah, Siang In. Aku juga bilang kepada ayahmu supaya jangan mudah percaya dengan dugaan Bhe Liang itu karena tidak ada buktinya,” kata Miyana.

“Memang tidak ada buktinya. Menurut laporan Bhe Liang, pada waktu pinangan keluarga Pangeran Cin Boan itu kita tolak, Bhe Liang yang ketika itu menjadi pengawal Pangeran Cin, sempat mendengar betapa Pangeran itu amat marah kepada kita dan mengeluarkan ancaman akan membalas penghinaan itu. Penolakan kita dianggap sebagai penghinaan. Kemudian, ketika aku membawa barang ke utara, dia menitipkan barang-barang berharga, lalu terjadilah perampokan itu. Karena itulah Bhe Liang menduga bahwa yang mendalangi perampokan adalah Pangeran Cin Boan.”

“Hemm, masuk akal juga...” kata Siang In. “Aku akan menyelidiki dulu keluarga Pangeran Cin Boan sebelum melacak ke tempat terjadinya perampokan. Kalau benar Pangeran Cin Boan yang mendalangi perampokan itu, hemm…, akan kuhajar dia! Tidak tahu malu kalau pinangan ditolak lalu merasa terhina dan mendendam.”

“Nanti dulu, Siang In. Aku juga mengenal Pangeran Cin Boan sebab dia masih merupakan Paman luarku. Selama ini aku mengenal dia sebagai orang yang berwatak baik. Sejak dia pindah ke sini memang aku tak pernah lagi bertemu dengan dia. Sudah kurang lebih enam tahun aku tidak bertemu keluarga Paman Pangeran Cin Boan, sebab itu biarlah aku yang pergi berkunjung ke sana. Akan kuselidiki apakah benar dia yang mendalangi perampokan ini. Kalau benar, akulah yang akan menegur, kalau perlu menghukumnya. Kalau engkau yang ke sana, mungkin engkau akan dipengaruhi emosi sehingga melakukan kesalahan.”

Siang In tersenyum. “Engkau selalu menganggap aku galak, Pek Hong. Engkau khawatir kalau aku akan membikin keributan? Baiklah, kalau bukan engkau yang mengajukan usul dan menggantikan aku menyelidiki Pangeran itu, pasti akan kutolak.”

“Nah, aku akan pergi sekarang. Paman dan Bibi Thio, permisi dulu, aku akan berkunjung ke rumah Pangeran Cin Boan. Nanti kalau sudah ada hasilnya, aku akan kembali ke sini.”

“Baik dan terima kasih, puteri... ehh, Pek Hong!” kata Thio Ki gembira.

Setelah puterinya pulang maka harapannya muncul kembali dan dia merasa yakin bahwa barang-barangnya pasti akan bisa didapatkan kembali. Dia yakin sekali akan kemampuan puterinya, apa lagi kini setelah selama setahun dia digembleng oleh Tiong Lee Cin-jin!

Pek Hong Nio-cu lalu meninggalkan rumah Thio Ki, dan setelah dia pergi Thio Ki beserta isterinya minta kepada Siang In supaya menceritakan semua pengalamannya selama dia pergi meninggalkan rumah. Terutama sekali Miyana bertanya kepada puterinya tentang Pek Hong dan menduga-duga apakah puterinya sudah tahu akan rahasia dirinya, bahwa dia adalah Puteri Kaisar Kin dan mereka berdua hanya orang tua angkat.

Siang In menceritakan pengalamannya, akan tetapi dia tidak mau menceritakan bahwa dia telah tahu akan rahasia dirinya, juga sama sekali tidak menceritakan bahwa Tiong Lee Cin-jin adalah ayah kandungnya. Dia memenuhi pesan ayah kandungnya itu untuk tetap merahasiakan tentang hubungan antara Tiong Lee Cin-jin, Tan Siang Lin, Puteri Moguhai dan dirinya sendiri. Biarlah ayah ibunya, Thio Ki dan Miyana yang baik hati dan sejak kecil sampai sekarang sangat menyayangnya, tidak akan merasa sedih kalau dia mengatakan bahwa dia tahu bahwa mereka bukanlah ayah dan ibu kandungnya.

“Siang In, sungguh aneh sekali melihat persamaanmu dengan puteri... dengan Pek Hong itu. Benar-benar sukar bagiku untuk membedakannya, kecuali pakaian kalian yang sangat berbeda. Kalau kalian berdua pergi bersama, tentu orang-orang akan menyangka bahwa kalian adalah saudara kembar.”

Mendengar ucapan itu, Siang In maklum bahwa ibunya sengaja hendak memancing untuk mengetahui apakah dia sudah tahu akan rahasia itu ataukah belum! Tentu saja ibunya ini, Miyana, mengetahui bahwa dia dan Pek Hong adalah saudara kembar karena dialah yang menolong ibu kandungnya, dengan membawa pergi dia, seorang di antara sepasang bayi kembar, untuk menyelamatkan sepasang bayi kembar dari ancaman dibunuh oleh Kaisar. Kalau dia mengaku sudah tahu, pasti hati wanita yang baik hati ini akan menjadi kecewa dan khawatir kalau-kalau rasa sayang Siang In terhadap Ibunya ini akan berkurang.

“Memang wajah kami mirip sekali, Ibu, tetapi jelas kami berbeda jauh. Dia adalah Puteri Kaisar Kin dan aku hanyalah puteri Ayah dan Ibu di sini. Akan tetapi aku sama sekali tidak merasa iri atau rendah. Aku amat berbahagia menjadi anak Ayah dan Ibu, dan Pek Hong itu baik sekali, tidak angkuh dan tidak memandang rendah kepadaku sehingga kami akrab seperti saudara saja. Urusan dengan Pangeran Cin Boan ini pun sudah pasti akan beres jika Pek Hong yang menanganinya. Ibu tahu, dia amat disayang oleh Kaisar Kin. Bahkan ayahnya itu memberi pedang bengkok berukir naga emas, yaitu pedang yang merupakan tanda kekuasaan sehingga apa pun yang diperintahkan Pek Hong kepada semua pejabat pemerintah Kerajaan Kin dianggap seperti perintah Kaisar Kin sendiri. Karena itu, semua pejabat dari yang rendah sampai yang tinggi, semua tunduk dan taat kepadanya bila dia memperlihatkan pedangnya itu.”

“Hebat...!” kata Thio Ki.

“Pantas saja kalau Kaisar mencintanya, karena dia seorang gadis yang cantik dan gagah perkasa seperti engkau! Siapa yang tidak akan menyayangnya?”

“Aihh, Ibu...!” kata Siang In manja sambil merangkul Ibunya.

Seperti tidak akan ada habisnya tiga orang itu bercakap-cakap melepaskan kerinduan hati masing-masing. Selain mendatangkan harapan besar, kepulangan Siang In benar-benar sudah mempengaruhi keadaan tubuh Thio Ki sehingga dia segera sehat kembali! Apa lagi setelah dengan tenaga saktinya yang kini menjadi amat dahsyat, Siang In menyalurkan ke dalam tubuh ayahnya melalui telapak tangan yang ditempelkan di punggung. Wajah Thio Ki kini menjadi kemerahan lagi dan dia merasa tubuhnya kuat.....!

********************

Rumah tinggal Pangeran Cin Boan merupakan sebuah gedung istana yang biar pun tidak sebesar dan semegah gedung-gedung istana para pangeran lain yang berada di kota raja, namun untuk ukuran rumah-rumah di kota Kang-cun, sudah termasuk megah dan mewah. Hal ini tidaklah mengherankan karena Pangeran Cin Boan merupakan seorang pangeran yang mendapat kepercayaan dan tugas dari Kaisar Kin untuk menjadi pengawas di daerah perbatasan, menerima laporan dari para pejabat di daerah serta mengeluarkan peraturan-peraturan atas nama Kerajaan Kin.

Dia terkenal sebagai seorang pejabat tinggi yang bijaksana, tidak melakukan korupsi dan ketika pindah ke Kang-cun lima atau enam tahun yang lalu memang sudah kaya raya. Dia bersikap jujur dan adil, juga bertindak keras terhadap bawahan yang terbukti melakukan penyelewengan uang pemerintah atau penindasan terhadap rakyat jelata.

Selain itu, Pangeran Cin Boan terkenal pula sebagai seorang dermawan, suka menolong dusun-dusun di mana rakyatnya hidup serba kekurangan. Ia memberi banyak pertolongan kepada daerah yang dilanda banjir pada waktu Sungai Yan-ce meluap. Dia pun tidak sudi disogok. Karena dia adalah pemimpin para pejabat di daerah perbatasan, maka sikapnya yang adil dan keras membuat para pejabat bawahannya merasa gentar untuk melakukan penyelewengan.

Benarlah bila ada orang bijaksana mengatakan bahwa akar penyelewengan atau korupsi dan sebagainya dalam sebuah pemerintahan bukan berada di bawah seperti akar pohon, melainkan berada di atas! Segala keadaan dalam suatu pemerintahan, menjadi baik atau pun buruk, dimulai dari atas!

Apa bila atasannya kotor, sudah dapat dipastikan bahwa bawahannya juga semua kotor karena selain atasan menjadi panutan bawahan, juga jika atasannya kotor tentu saja dia tidak berani menindak bawahannya yang kotor. Dalam keadaan seperti itu semua pejabat akan menjadi kotor, dan pemerintah akan menjadi lemah dan miskin karena digerogoti para pembesar. Yang makmur hanyalah para pejabatnya!

Sebaliknya jika atasannya bersih, bawahannya tidak berani menyeleweng, demikian pula bawahannya lagi dan bawahannya lagi seterusnya, para pembesar itu dari yang terbesar sampai yang terkecil, bekerja dengan setia, jujur dan bersih. Dalam keadaan seperti itu dapat dipastikan bahwa pemerintahannya menjadi kuat, semua penghasilan dapat masuk dengan sempurna tidak ada yang bocor di jalan sehingga pemerintah menjadi kaya. Kalau pemerintah kaya, sudah pasti dapat menyejahterakan rakyat jelata. Keadilan akan terjadi di mana-mana. Yang jahat akan dihukum berat, yang baik dan berjasa mendapat tempat yang layak.

Betapa akan bahagianya rakyat yang hidup di bawah pemerintahan seperti itu! Tidak ada penggerogotan uang pemerintah yang berasal dari rakyat, tidak ada penindasan, tidak ada sogok dan suap yang melahirkan ketidak-adilan. Alangkah indahnya!


Pangeran Cin Boan kini berusia sekitar lima puluh tahun. Seperti semua bangsawan dan pembesar di jaman itu, selain memiliki seorang isteri Pangeran Cin Boan juga mempunyai beberapa orang selir. Akan tetapi dia hanya mempunyai seorang anak laki-laki yang lahir dari isterinya.

Pangeran itu bertubuh sedang, wajahnya tampan, sikapnya halus dan dia ramah terhadap siapa saja, mulutnya selalu tersenyum namun sikap yang lembut itu mengandung wibawa. Isterinya juga cantik dan lembut, seorang wanita bangsawan Kin yang terpelajar, berusia empat puluh tahun.

Anak tunggal mereka itu bernama Cin Han, dan dari nama ini saja sudah tampak betapa Pangeran Cin Boan menyesuaikan diri dengan pribumi yang dijajah Kerajaan Kin. Nama marganya Cin dan puteranya diberi nama Cin Han.

Pemuda berusia dua puluh dua tahun ini tampan sekali, seperti ibunya. Seorang pemuda yang telah lulus ujian sastra dan mendapat ijazah siu-cai (Sastrawan). Tampan, terpelajar, lemah lembut dan bijaksana seperti ayahnya sehingga siapa pun yang mengenalnya tentu merasa kagum dan suka. Sudah sejak dua tahun yang lalu ayah ibunya selalu mendesak pemuda itu untuk menikah, akan tetapi dia selalu menolak.

Tetapi satu tahun yang lalu, ketika ayahnya hendak menjodohkannya dengan Thio Siang In yang juga terkenal dengan julukan Ang Hwa Sian-li, barulah Cin Han tidak menolak. Dia pernah melihat gadis itu dan diam-diam mengaguminya.

Akan tetapi sekali ini dialah yang ditolak! Pinangan itu tidak diterima oleh Thio Ki dengan alasan bahwa puterinya belum mau dijodohkan! Pangeran Cin Boan dan isterinya merasa kecewa sekali, akan tetapi Cin Han yang bijaksana dapat memaklumi penolakan Siang In.

Gadis itu sama sekali tidak mengenalnya, bahkan melihatnya pun belum pernah. Seorang gadis pendekar seperti itu tentu saja tidak mau dijodohkan secara ‘tabrakan’ begitu saja. Pemuda ini memaklumi penolakan Thio Siang In. Akan tetapi sejak penolakan itu, sudah setahun lebih, dia selalu menolak kalau orang tuanya hendak menjodohkannya. Bahkan, tidak seperti pemuda bangsawan lainnya, dia pun menolak ketika hendak dicarikan selir.

Pada pagi hari di waktu matahari sudah naik semakin tinggi, Pangeran Cin Boan duduk di ruangan dalam bersama isteri dan puteranya.

“Ayah, aku mendengar bahwa beberapa hari yang lalu Paman Thio Ki dirampok penjahat habis-habisan, bahkan dia pun ikut terluka dan dua orang pengawalnya tewas. Bukankah Ayah ada menitipkan kiriman barang ke kota raja kepada Paman Thio Ki?”

“Benar, Han-ji (Anak Han), aku pun sudah mendapat laporan dari utusan Thio Ki. Barang-barang kita ikut terampas penjahat,” jawab Pangeran Cin Boan.

“Hemm, padahal barang-barang itu amat berharga dan penting. Barang-barang itu dikirim ke kota raja untuk Nenekmu dan para Pamanmu, tetapi sekarang telah hilang! Thio Ki itu harus bertanggung jawab!” kata Nyonya Cin sewot (marah-marah).

“Jangan begitu, kejadian itu merupakan kecelakaan, bukan? Thio Ki sendiri sudah habis-habisan, bahkan terluka. Jangan kita menambahkan penderitaannya dengan tergesa-gesa menuntut barang-barang kita yang hilang agar dipertanggung-jawabkan.”

“Salahnya sendiri. Dulu menolak pinangan kita, dan sekarang barang kita yang berharga mahal dibikin hilang. Enak dia dan rugi kita jika didiamkan saja!” Agaknya isteri pangeran ini masih merasa kecewa, penasaran dan marah karena pinangannya setahun yang lalu ditolak oleh keluarga Thio Ki.

“Ibu, kiranya tidak perlu lagi membicarakan tentang pinangan itu. Sekarang yang penting, bagaimana caranya untuk membantu Paman Thio mengatasi keadaannya yang terluka dan habis-habisan itu.”

“Hemm, mengapa kita jadi ikut repot? Bukankah puteri mereka yang cantik seperti dewi, bahkan julukannya juga Ang Hwa Sian-li (Dewi Bunga Merah), adalah seorang pendekar wanita yang amat lihai? Biar gadis itu yang merampas kembali harta yang telah dirampok penjahat!” kata Nyonya Cin yang masih marah.

Sebelum suami dan anaknya menjawab, daun pintu ruangan itu diketuk orang.

“Siapa?” Pangeran Cin bertanya sambil mengerutkan alisnya karena merasa tidak senang percakapannya dengan isteri dan puteranya ada yang mengganggu.

“Ini hamba, yang mulia. Hamba hendak melaporkan bahwa di luar datang seorang gadis yang ingin menghadap paduka,” terdengar suara pengawal yang mereka sudah kenal.

“Siapa dia? Siapa namanya?” tanya Pangeran Cin Boan dengan heran. Dia tidak pernah ada urusan dengan seorang gadis. Belum pernah ada gadis minta menghadap padanya.

Suara pengawal itu menjawab lagi. “Dia tak mau mengatakannya, Yang Mulia. Dia hanya berkata bahwa paduka pasti akan mengenalnya kalau dia sudah menghadap Paduka.”

“Ayah, biar aku yang keluar dulu melihat siapa yang hendak menghadap Ayah.”

“Baiklah, Cin Han, keluarlah dan lihat siapa gadis itu.”

Cin Han keluar dari ruangan itu, lalu diantar pengawal itu dia melangkah keluar. Sesudah tiba di serambi depan, dia melihat seorang gadis berpakaian serba putih dari sutera halus, kepalanya dihias burung Hong perak, berdiri dan menyongsongnya dengan pandang mata yang mencorong tajam. Gadis yang luar biasa cantiknya. Akan tetapi setelah berhadapan, Cin Han berseru terkejut.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner