JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-13


“Ehh, engkau... engkau... Thio-siocia (Nona Thio)…?!”

Diam-diam Puteri Moguhai atau Pek Hong Nio-cu merasa kagum sekali kepada pemuda yang sangat tampan dan sikapnya lemah lembut itu. Dia menduga bahwa inilah agaknya putera Pangeran Cin Boan itu. Rasanya dahulu dia pernah bertemu dengan pemuda ini, sekitar enam tahun lebih yang lalu. Tentu saja ketika mereka masih remaja dan dia sudah tidak ingat lagi wajah pemuda itu.

“Engkau siapakah, Kongcu?” tanyanya.

“Aku bernama Cin Han, putera Pangeran Cin Boan.”

Ucapan pemuda itu seolah mengingatkan dan dia menatap tajam wajah yang tampan itu. “Ah, kiranya Cin-kongcu. Apakah Pangeran Cin Boan berada di rumah? Aku ingin bertemu dengannya.”

“Mari, silakan, Thio-siocia. Silakan menunggu di ruangan tamu, aku akan memanggil Ayah ke sini.”

Mereka memasuki ruangan tamu dan Pek Hong lalu duduk menunggu di situ sedangkan Cin Han masuk ke ruangan dalam menemui ayah ibunya.

“Ayah, gadis itu adalah Nona Thio Siang In!” kata pemuda itu yang hatinya masih merasa tegang akibat bertemu dengan gadis yang pernah menundukkan hatinya itu.

Pangeran Cin Boan menaikkan alisnya dengan heran, ada pun isterinya mengerutkan alis dan berkata, “Hemm, mari kita temui!”

Suami isteri beserta putera mereka itu lalu keluar dari ruangan dalam, memasuki ruangan tamu. Pek Hong segera bangkit berdiri dan dia berhadapan dengan mereka bertiga.

“Nona Thio...!” kata Pangeran Cin Boan sambil memandang gadis itu penuh selidik. Dia merasa kagum akan kecantikan gadis itu. Pantas puteranya tergila-gila, pikirnya.

“Engkau yang bernama Thio Siang In?” mendadak Nyonya Cin bertanya, nada suaranya ketus. “Dulu engkau menolak pinangan kami. Sekarang datang berkunjung ada keperluan apakah?”

Pek Hong tersenyum melihat Pangeran Cin Boan dan Cin Han memandang Nyonya Cin dengan alis berkerut tanda tidak senang mendengar kata-kata yang ketus itu. Akan tetapi Pek Hong tidak merasa marah mendengar teguran nyonya itu karena dia maklum betapa kecewanya seorang ibu mendengar pinangan puteranya ditolak.

“Kalian bertiga keliru. Aku bukan Thio Siang In,” katanya sambil tersenyum.

Tiga orang itu terbelalak. “Harap Siocia (Nona) tidak main-main. Aku mengenalmu dengan baik dan jelas bahwa engkau adalah Nona Thio Siang In!” kata Cin Han sambil tersenyum pula, mengira gadis itu sedang main-main.

“Aku tidak main-main. Memang aku sangat mirip dengan Thio Siang In, tetapi aku bukan dia. Paman Pangeran, apakah Paman sudah lupa kepadaku?”

Pangeran Cin Boan memandang penuh perhatian. “Siapakah engkau sesungguhnya kalau engkau bukan Thio Siang In?”

“Sekitar enam tahun yang lalu aku sering bertemu Paman di kota raja.”

“Enam tahun yang lalu di kota raja? Ahh, aku tidak ingat...”

Pek Hong Nio-cu lalu mengeluarkan pedang bengkok berukir naga emas dari pinggangnya dan memperlihatkannya kepada pangeran itu.

“Paman tentu mengenal ini, bukan?”

Melihat pedang bengkok tanda kekuasaan itu, sepasang mata Pangeran itu terbelalak.

“Dan apakah Paman tidak mengenal hiasan rambutku ini?”

“Ahh... engkau... Puteri Moguhai yang dikenal sebagai Pek Hong Nio-cu…?”

Pek Hong tersenyum lalu menyimpan kembali pedangnya. “Nah, sekarang Paman sudah mengerti bahwa aku bukan Thio Siang In.”

“Ahh, maafkan kami... kiranya keponakanku yang amat terkenal yang datang berkunjung! Selamat datang, Ananda Moguhai. Kami merasa gembira sekali mendapat kesempatan menerima kunjungan ini.”

Lalu kepada isteri dan puteranya yang masih memandang terheran-heran dia pun berkata, “Mengapa kalian bengong saja? Ini adalah keponakanku sendiri, puteri Sri Baginda Kaisar yang bernama Puteri Moguhai yang akhir-akhir ini terkenal sekali sebagai Pek Hong Nio-cu, pemilik pedang pusaka tanda kekuasaan tertinggi mewakili Sri Baginda?”

Seketika Nyonya Cin Boan mengubah sikapnya, sekarang dia bersikap hormat dan ramah sekali. “Aihh, harap memaafkan kami yang tidak mengenalmu.”

Cin Han masih terpesona. Kiranya gadis yang wajahnya persis Thio Siang In ini adalah puteri kaisar!

“Ahh, Nona Puteri, harap maafkan aku...,” katanya gagap.

Pek Hong tersenyum kepada pemuda itu. “Kita adalah saudara misan, mengapa masih memakai sebutan sungkan seperti itu? Engkau bernama Cin Han, bukan? Tentu lebih tua dari pada aku maka akan kusebut Kanda Cin Han saja.”

Wajah pemuda yang tampan dan berkulit putih itu menjadi kemerahan. “Baiklah, Adinda Moguhai, dan terima kasih atas keramahan sikapmu.”

“Aku akan menyuruh menyiapkan minuman...”

“Tidak usah, Bibi. Aku datang untuk membicarakan suatu hal penting.”

“Ada urusan apakah, Moguhai? Persamaanmu dengan Thio Siang In sungguh membuat kami terkejut dan heran.”

“Kami memang sangat mirip, Paman Pangeran. Siang In adalah saudara seperguruanku yang akrab sekali dengan aku. Kedatanganku ini pun atas namanya untuk membicarakan tentang peristiwa perampokan atas diri Paman Thio Ki, ayah Siang In.”

“Ya, kami juga sudah mendengar akan peristiwa yang menyedihkan itu. Kabarnya Thio Ki terluka parah. Benarkah itu?”

“Benar, Paman Pangeran, akan tetapi keadaannya sudah tidak berbahaya lagi. Dua orang piauwsu yang membantunya tewas dan masih ada beberapa lainnya yang terluka. Semua harta benda yang dikawal Paman Thio Ki dirampas perampok.”

“Kami sudah mendengar dan mendapat laporan tentang hal itu karena titipan barang kami juga ikut dilarikan perampok.”

“Banyakkah barang yang Paman titipkan itu?”

“Hemm, cukup banyak dan berharga karena kiriman itu kami tujukan kepada ibu kami dan adik-adik kami di kota raja.”

“Tentu Paman Pangeran akan menuntut kepada Paman Thio Ki supaya mengganti semua kehilangan itu, bukan?”

“Ahh, sama sekali tidak, Moguhai. Thio Ki mendapatkan kecelakaan yang membuat harta bendanya habis dan dia sendiri terluka. Kehilangan harta yang kami titipkan itu hanyalah karena kecelakaan belaka.”

“Itu benar, Adinda, Paman Thio Ki sedang menderita hebat, bagaimana kami tega untuk menambahi penderitaannya? Kami malah kasihan sekali mendengar akan peristiwa itu.”

Moguhai, atau kita sebut saja Pek Hong, memandang ketiga orang itu bergantian. Wajah Pangeran Cin Boan dan wajah Cin Han tampak wajar saja membayangkan bahwa ucapan mereka tadi memang sejujurnya. Akan tetapi dia melihat betapa wajah Nyonya Cin yang cantik itu agak muram dan sepasang alisnya berkerut.

“Paman Pangeran, aku mendengar bahwa setahun lebih yang lalu, Paman mengajukan pinangan kepada keluarga Paman Thio Ki, untuk menjodohkan Kanda Cin Han ini dengan Thio Siang In, benarkah itu?”

“Ya, benar.”

“Dan pinangan itu ditolak?”

Pangeran Cin Boan menghela napas panjang, lalu berkata. “Ya, ditolak karena Nona Thio Siang In belum mau terikat perjodohan. Kami bisa menerima alasan itu karena kami tahu bahwa gadis itu adalah seorang pendekar wanita yang ilmunya tinggi sehingga tentu saja soal perjodohan tidak dapat dipaksakan kepadanya.”

“Hemm, tentu Paman sekeluarga menjadi kecewa dan penasaran, bukan?”

“Tentu saja kami kecewa, akan tetapi penasaran? Tidak! Kenapa kami mesti penasaran? Pinangan hanya mempunyai dua keputusan, diterima atau ditolak.”

“Apakah keluarga Paman tidak merasa terhina dengan penolakan pinangan itu kemudian mendendam sakit hati?”

“Puteri Moguhai! Mengapa engkau bertanya seperti itu? Kami bukan orang-orang sepicik itu!” kata Pangeran Cin Boan dengan suara mengandung kemarahan.

“Ayah, Adinda Moguhai mengajukan pertanyaan itu pasti ada sesuatu yang dimaksudkan dan dikehendaki. Adinda Moguhai, harap engkau suka berkata terus terang saja kepada kami. Sebetulnya ada persoalan apakah pada keluarga kami yang sedang kau selidiki?”

Sambil tersenyum Pek Hong memandang kakak misannya yang tampan itu. Pemuda ini cerdik juga, pikirnya kagum.

“Begini, Paman, Bibi, dan Kanda. Sebenarnya keluarga Paman Thio Ki sudah mendengar berita yang tidak baik, yang membayangkan seakan-akan urusan penolakan pinangan itu ada hubungannya dengan terjadinya perampokan terhadap Paman Thio Ki itu.”

“Dinda Moguhai! Apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau menyangka kamilah yang mendalangi perampokan itu karena kami hendak membalas dendam atas ditolaknya pinangan kami itu?” tanya Cin Han penasaran, walau pun suaranya masih lembut.

Pek Hong tersenyum lebar. “Tenang, Kanda. Itu bukan persangkaanku. Justru aku datang ke sini untuk menyelidiki tentang persangkaan itu. Sekarang harap Paman Pangeran suka menjawab sejujurnya. Apakah Paman kenal dengan seseorang bernama Bhe Liang yang berjuluk Twa-to (Si Golok Besar)?”

“Bhe Liang?” Pangeran Cin Boan mengerutkan alisnya dan sinar matanya membayangkan kemarahan. “Tentu saja kami mengenalnya. Dahulu dia menjadi salah seorang di antara para pengawal kami di sini. Akan tetapi kami telah menghentikan dan mengusirnya!”

“Mengusirnya...? Akan tetapi mengapa, Paman? Mengapa Paman mengusirnya?”

Pangeran itu bertukar pandang dengan isterinya, kemudian dengan sepasang alis masih berkerut dia bertanya kepada Pek Hong. “Hemm, apakah pertanyaan itu perlu dijawab?”

“Perlu sekali, Paman, untuk melengkapi penyelidikanku. Karena itu kuharap Paman suka menjawab pertanyaan itu sejujurnya. Ini demi kebaikan keluarga Paman sendiri.”

Pangeran Cin Boan memandang isterinya. “Bagaimana? Apakah kita akan memberi-tahu kepada Puteri Moguhai?”

Isterinya termangu sejenak, kemudian mengangguk. “Boleh saja kalau itu demi kebaikan keluarga kita.”

“Begini, Moguhai. Sebenarnya penyebabnya hanya urusan kecil saja, akan tetapi cukup menjengkelkan kami. Bhe Liang memperlihatkan sikap yang kurang ajar kepada isteriku. Pandang matanya kurang ajar dan dia berani tersenyum-senyum penuh arti...” Pangeran itu memandang kepada isterinya.

“Keparat itu memang benar-benar kurang ajar. Pandang matanya dan senyumnya itu jelas menjadi tanda bahwa dia mengajak main gila! Dikiranya aku ini wanita macam apa! Maka aku memberi-tahu suamiku sehingga dia lalu diusir.”

Sesudah mendengar keterangan suami isteri itu Pek Hong mengangguk-angguk, lalu dia bangkit berdiri. “Terima kasih banyak atas semua keterangan Paman, Bibi, dan Kanda Cin Han. Sekarang aku mohon diri, hendak kembali ke rumah Paman Thio Ki.”

Pangeran Cin Boan beserta isteri dan puteranya mencoba untuk menahannya, akan tetapi Pek Hong mengucapkan terima kasih.

“Biarlah lain kali saja kita berjumpa lagi. Sekarang aku harus kembali ke sana menemui Siang In.”

Keluarga pangeran itu mengantar Pek Hong sampai ke pintu depan.....

********************

Thio Ki, Miyana dan Siang In menyambut kedatangan Pek Hong, dan Siang In langsung menggandeng tangan Pek Hong untuk diajak masuk.

“Pek Hong bagaimana hasilnya? Benarkah mereka yang mendalangi semua itu?” Siang In bertanya ketika mereka berempat sudah berada di ruangan dalam.

Pek Hong tersenyum. “Sabar dulu, Siang In. Penyelidikanku belum tuntas. Sekarang aku harap Paman Thio Ki dan Bibi Miyana suka berterus terang kepadaku. Jawaban yang jujur dari Paman berdua mungkin akan dapat membawa kita kepada dalang perampokan ini.”

“Aihh, Pek Hong. Kenapa malah kami yang harus menjawab dengan jujur?” tanya Miyana heran.

“Ya, Pek Hong. Seolah kami yang akan kau selidiki?” kata pula Thio Ki penasaran.

“Tenanglah, Paman dan Bibi, percayalah padaku. Harap suka menjawab pertanyaanku ini dengan sejujurnya. Paman, apakah pekerjaan pengawalmu yang bernama Bhe Liang itu di sini baik-baik saja?”

Thio Ki memandang heran lalu mengangguk. “Ya, pekerjaannya cukup baik. Beberapa kali dia mengawal kiriman barang dan tidak pernah gagal. Juga dia mempunyai ilmu silat yang cukup tangguh. Julukannya sebagai Twa-to agaknya cukup dikenal oleh golongan sesat sehingga pengawalannya tidak pernah diganggu.

“Apakah dia tidak pernah melakukan sesuatu yang tercela?”

“Kurasa tidak.”

“Dan Paman tidak pernah memarahinya karena suatu tindakan yang tercela?”

Thio Ki menggeleng kepala. “Seingatku tidak. Akan tetapi apa maksudmu dengan semua pertanyaan itu?”

“Nanti akan kujelaskan, Paman. Sekarang aku ingin mengajukan pertanyaan kepada Bibi Miyana dan kuharap Bibi akan menjawab sejujurnya tanpa menyembunyikan sesuatu.”

Miyana mengerutkan alisnya. Wajahnya yang masih cantik itu tampak tegang. “Tanyalah, Pek Hong!”

“Begini, Bibi. Apakah Bhe Liang pernah berbuat atau bersikap yang tidak wajar terhadap Bibi?”

Miyana membelalakkan matanya. “Tidak wajar? Apa... apa maksudmu?”

“Hemm, misalnya dia melakukan sesuatu atau bersikap yang tidak sopan atau kurang ajar terhadap Bibi.”

Miyana menundukkan mukanya yang berubah merah dan sejenak dia diam saja.

“Ibu, jawablah pertanyaan Pek Hong sejujurnya. Percayalah, dia bermaksud baik, Ibu.”

Miyana kembali memandang kepada suaminya. Thio Ki yang kini menduga tentu ada apa-apa yang hendak dikatakan isterinya, lalu berkata, “Benar, Miyana. Ceritakan saja dengan sejujurnya apa yang telah terjadi.”

Setelah menghela napas panjang beberapa kali Miyana baru berkata. “Memang beberapa kali dia pernah bersikap kurang ajar kepadaku, merayuku. Mula-mula aku tak peduli, akan tetapi ketika dia semakin berani, malah pernah memegang tanganku, aku menjadi marah kemudian memaki-makinya.”

“Keparat!” bentak Siang In. “Kuhajar jahanam itu!”

“Nanti dulu Siang In. Bersabarlah,” kata Pek Hong, lalu dia menoleh kepada Miyana yang sekarang menundukkan mukanya. “Bibi, mengapa Bibi tidak melaporkan kekurang-ajaran itu kepada Paman Thio Ki?”

Miyana memandang suaminya yang juga memandang kepadanya dengan alis berkerut. “Ketika peristiwa itu terjadi, engkau belum pulang Siang In. Kalau ada engkau di sini, pasti langsung kuberi-tahukan padamu. Akan tetapi engkau tidak ada dan aku takut memberi-tahukan hal itu kepada ayahmu. Bhe Liang itu orangnya menyeramkan dan kabarnya dia lihai sekali. Aku takut kalau kuberi-tahukan ayahmu, mereka berkelahi dan ayahmu akan celaka di tangannya...”

“Terima kasih, Bibi. Sekarang jelaslah sudah. Paman, Bibi, dan Siang In, ketahuilah. Aku telah melakukan penyelidikan kepada Paman Pangeran Cin Boan sekeluarga, akan tetapi tidak ada tanda-tandanya mereka mendalangi perampokan itu. Pangeran Cin Boan terlalu baik hati untuk melakukan kekejaman. Bahkan dia tak ingin menuntut Paman Thio untuk membayar barang-barangnya yang dirampok. Akan tetapi aku mendapat keterangan yang penting. Pada saat Bhe Liang menjadi pengawal mereka, jahanam itu pun pernah bersikap kurang ajar kepada isteri Paman Pangeran sehingga dia dipecat dan diusir. Dan sekarang dia pula yang memberi kabar yang mendalangi perampokan adalah Pangeran Cin Boan! Jelas bahwa dia hendak membalas dendam kepada Pangeran Cin Boan karena pernah memecat dan mengusirnya, dan juga membalas dendam kepada keluarga ini karena Bibi Miyana pernah memakinya dan menolak rayuannya. Jadi mudah sekali diduga siapa kira-kira yang mendalangi perampokan ini, bukan?”

Siang In bangkit berdiri. “Jahanam, kuhajar dia!”

Pek Hong juga bangkit dan cepat-cepat memegang lengan Siang In. “Siang In, tenanglah, jangan menuruti nafsu amarah. Kalau engkau emosi lantas membunuhnya, akan sukarlah bagi kita untuk menemukan kembali barang-barang yang dirampok itu. Mari kita cari dia, lalu kita paksa agar mengakui perbuatannya dan memberi-tahu di mana adanya barang-barang rampokan itu. Paman, di manakah kami dapat menemukan jahanam itu?”

“Rumahnya tak jauh dari sini. Dia tidak mau tinggal di sini dan menyewa rumah sendiri, rumah kecil di sebelah kiri dari rumah ini. Biar pelayan mengantar kalian ke sana.”

Dengan diantarkan seorang pelayan, dua orang gadis itu lalu pergi menuju rumah sewaan Bhe Liang. Setelah tiba di luar rumah itu, Siang In menyuruh pelayan itu pulang. Mereka berdua lalu menghampiri pintu depan rumah itu dan mengetuknya.

Daun pintu dibuka dari dalam dan Bhe Liang yang tinggi besar dan bermata lebar melotot itu muncul di ambang pintu. Dia membelalakkan kedua matanya yang lebar ketika melihat dua orang gadis cantik jelita berdiri di depannya. Karena pada dasarnya dia seorang mata keranjang dan dia mengandalkan ketangguhannya sehingga membuat dia berani, melihat sepasang gadis cantik jelita itu dia segera menyeringai lebar sehingga tampaklah giginya yang besar-besar menguning.

“Heh-heh, nona-nona manis, kalian mencari aku?”

Tiba-tiba dari dalam rumah itu muncul pula seorang wanita muda yang wajahnya menor, seperti topeng dibedak dan digincu tebal, lantas dengan lagak genit berkata. “Orang she Bhe, dengan aku pun engkau belum membayar dan sekarang sudah mendatangkan dua orang pelacur lain?”

“Plakk! Plakk!”

Bhe Liang terhuyung ke dalam sedangkan wanita itu menjerit dan terpelanting roboh. Dia menangis memegangi pipinya yang bengkak, kemudian dia berlari keluar dari pintu sambil menangis.

Sementara itu Bhe Liang marah bukan main, memandang Siang In yang tadi menampar dia dan pelacur langganannya. Darah mengalir dari ujung bibirnya dan sepasang matanya yang lebar itu sekarang melotot. Hampir dia tidak percaya ada seorang gadis yang berani menamparnya!

“Keparat! Berani engkau memukul aku?!” bentaknya, lalu sambil mengeluarkan gerengan menyeramkan dia mengembangkan kedua lengannya yang panjang dan menerjang Siang In dengan terkaman karena dia hendak mendekap gadis cantik yang berani menamparnya itu.

“Wirrrrr...! Plakk!”

Tangan Siang In sudah menyambar dengan cepat sekali, menampar pundak Bhe Liang. Seperti disambar petir tubuh Bhe Liang terpental dan terputar, lalu dia jatuh terpelanting.

Bhe Liang merangkak bangkit. Hampir dia tidak dapat percaya. Tadi dia menyerang akan tetapi tahu-tahu pundaknya seperti dihantam palu godam yang amat kuat. Rasanya nyeri menyusup tulang!

Bagaimana mungkin ini? Dia adalah seorang lelaki perkasa yang sulit dicari tandingannya di kota Kang-cun. Akan tetapi kini menghadapi seorang gadis muda dia bagaikan menjadi seorang anak kecil yang sama sekali tidak berdaya!

Tentu saja dia menjadi penasaran dan menganggap kejadian tadi hanya kebetulan saja, tetapi betapa pun juga dia menyadari bahwa gadis cantik ini bukan seorang yang lemah. Maka setelah dapat bangkit berdiri, Bhe Liang lalu mencabut golok besarnya, senjatanya yang amat diandalkan dan yang selama ini mengangkat namanya sebagai jagoan dengan julukan Si Golok Besar. Begitu dicabut dia lantas memutar-mutar golok yang besar, berat dan mengkilap tajam itu di depan tubuhnya dengan wajah bengis mengancam.

“Perempuan jahanam, kini mampuslah!” Dia membentak dan tiba-tiba saja dia menerjang maju, goloknya menyambar ke arah leher Siang In dengan cepat dan kuat.

Akan tetapi bagi Siang In yang kini telah memiliki ilmu kepandaian tinggi sesudah selama setahun digembleng ayah kandungnya, gerakan hebat itu tampak amat lamban dan hanya merupakan serangan ringan saja.

Dia miringkan tubuh ke kiri. Ketika golok menyambar lehernya dia merendahkan tubuhnya sehingga golok menyambar lewat di atas kepalanya. Pada saat itu kakinya mencuat dan menendang perut Bhe Liang. Tentu saja dia membatasi tenaganya karena dia tidak ingin membunuh orang itu.

“Wuuuttt...! Ngekk!”

Tubuh Bhe Liang terjengkang dan sebuah tendangan langsung menyusul, tepat mengenai pergelangan tangan kanan sehingga membuat goloknya terlepas dan terlempar.

Sekali ini Bhe Liang tidak dapat lagi menahan rasa nyeri di dalam perutnya. Agaknya usus buntunya yang terkena tendangan, rasanya mulas dan nyeri bukan main. Dia tidak tahan sehingga mengaduh-aduh sambil memegangi dan menekan-nekan dengan kedua tangan. Ia memaksa diri bangkit berjongkok dan menjadi ketakutan, sadar sepenuhnya bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan yang sakti dan amat tangguh!

“Aduh... aduh... Nona, mengapa Nona menyerangku? Apa kesalahanku kepadamu?” Dia mengeluh.

“Manusia busuk Bhe Liang! Apa yang kau ketahui tentang perampokan terhadap barang-barang ayahku? Hayo jawab!” Siang In membentak.

Bhe Liang terkejut dan terheran. Ketika dia bekerja di perusahaan Thio Ki, Siang In tidak berada di rumah. Dia sudah mendengar bahwa Thio Ki memiliki seorang anak perempuan yang lihai, akan tetapi dia tidak percaya dan menertawakan. Selihai-lihainya, apa sih yang dapat dilakukan seorang gadis? Dan kini gadis yang amat tangguh ini, yang hanya dalam satu gebrakan saja dapat merobohkan dia yang memegang goloknya, tadi menyebut Thio Ki sebagai ayah!

“Nona... Nona... siapakah?”

Sekarang Pek Hong Nio-cu yang menjawab setelah tertawa mengejek. “He-he-he, cacing lumpur! Buka matamu lebar-lebar, juga telingamu! Gadis ini adalah puteri Paman Thio Ki yang bernama Thio Siang In dan berjuluk Ang Hwa Sian-li. Nah, sekarang cepat kau jawab pertanyaannya tadi. Apa yang kau ketahui tentang perampokan terhadap barang-barang Paman Thio Ki?”

“Saya... saya tidak tahu apa-apa...” Bhe Liang yang sekarang mati kutu dan kehilangan kegarangannya itu berkata dengan muka masih menyeringai akibat menahan rasa mulas di perutnya.

“Dengar, Cacing!” bentak Pek Hong Nio-cu. “Engkau mendendam kepada Pangeran Cin Boan karena dipecat dan diusir! Kemudian engkau mendendam terhadap Paman Thio Ki karena engkau menggoda isterinya tetapi engkau ditolak dan dimaki-maki! Maka engkau lalu mengatur perampokan itu, bukan?”

“Tidak...! Tidak...!” kata Bhe Liang, akan tetapi seketika itu mukanya menjadi pucat dan tubuhnya yang tinggi besar itu menggigil.

“Hayo mengaku, di mana barang-barang rampokan itu?!” Pek Hong membentak.

Bhe Liang menggeleng-gelengkan kepala. “Saya... saya tidak... tahu... saya tidak tahu...”

“Pek Hong, bangsat seperti ini sebaiknya dicokel kedua matanya agar jangan berbohong!” Siang In berkata, sengaja untuk mengancam pengawal ayahnya itu.

Tentu saja Bhe Liang menjadi semakin ketakutan ketika mendengar ancaman ini.

“Ampun, Nona... ampun, saya tidak bersalah... saya tidak tahu...!”

Pek Hong Nio-cu menggerakkan jari tangan kanannya dua kali, cepat sekali.

“Tuk! Tuk!” Jari tangan itu telah menotok kedua pundak Bhe Liang, di kanan kiri leher.

“Aduhh...! Ahh, ampun... aduuuhhh...!” Tubuh Bhe Liang bergulingan di atas lantai. Kedua tangannya menekan seluruh tubuhnya yang terasa nyeri semua bagaikan ditusuk-tusuk jarum. Kakinya, lengannya, perutnya, dadanya, bahkan kepalanya.

Ia mengaduh-aduh sambil bergulingan, bangkit dan rebah kembali, mulutnya minta-minta ampun, tubuhnya menggigil saking nyerinya, seluruh tubuhnya terasa kiut-miut, terutama kepalanya yang rasanya hendak pecah. Keringat dingin sebesar kedele memenuhi muka serta lehernya dan wajahnya menjadi pucat bukan main. Dia menggigit bibirnya yang telah berdarah sambil mendengus-dengus dan merintih-rintih, napasnya terengah-engah.

“Kalau engkau tidak mau mengaku maka kami akan membiarkan engkau tersiksa begini sampai mampus!”

“Aduh... ampun, Nona... ampun, saya tidak berani lagi...!”

Siang In melihat sebuah arca singa di sudut ruangan itu, arca sebesar kepala orang. Dia mengambil arca itu lalu dibawanya ke depan Bhe Liang.

“Lihat, engkau masih belum mau mengaku?” Gadis itu lalu menampar arca yang berada di atas telapak tangan kirinya.

“Pyarrr...!” Arca itu pecah dan kedua tangannya mengambil beberapa pecahan arca lalu sekali meremas, pecahlah batu itu hancur menjadi tepung! Bhe Liang terbelalak melihat ini. Wajahnya pucat sekali.

“Jawab, engkau mau mengaku tidak?!” bentak Siang In.

“Mau... mau... ampunkan saya...”

Pek Hong menepuk dua pundaknya dan rasa nyeri itu pun tak terasa lagi oleh Bhe Liang. Ia jatuh terduduk, kemudian menggunakan kedua tangannya untuk mengelus pundaknya. Kedua matanya masih basah karena tadi tanpa terasa dia menangis saking nyerinya. Dia menghela napas berulang-ulang.

“Duduk dan ceritakan semua!” bentak Siang In.

Bhe Liang benar-benar mati kutu karena sekarang dia tahu bahwa dua orang gadis yang wajahnya serupa ini keduanya ternyata memiliki kesaktian hebat sekali. Ia cepat bangkit, lalu duduk di atas sebuah kursi, dihadapi dua orang gadis yang berdiri dengan sinar mata mencorong.

“Saya... saya memang merasa sakit hati kepada Pangeran Cin Boan karena saya dipecat dan diusir. Juga saya merasa sakit hati kepada Thio-twako karena... karena...”

“Hayo bicara terus terang!” Siang In membentak lagi.

“Karena... isterinya menghina dan memaki saya...”

“Engkau berani menggoda ibuku? Kau anjing babi, wajahmu buruk seperti monyet hatimu seperti iblis begini tapi berani menggoda Ibuku? Kau layak mampus!” Siang In yang sudah marah sekali mengayun tangan memukul kepala Bhe Liang, akan tetapi Pek Hong cepat menangkap lengannya.

“Siang In, ingat, kita masih membutuhkan monyet ini.”

Siang In teringat, kemudian membentak Bhe Liang yang telah begitu ketakutan sehingga tubuhnya menggigil lagi seperti kedinginan.

“Hayo lanjutkan keteranganmu. Awas, kalau berani berbohong, kucokel keluar matamu!”

“Baik, Nona. Ampunkan saya. Ketika Thio-twako sendiri pergi mengawal barang-barang berharga, apa lagi di sana terdapat pula titipan barang-barang milik Pangeran Cin Boan, saya lalu menghubungi teman-teman saya dan... dan mereka melakukan penghadangan dan perampokan itu...”

“Hemm, siapa pemimpin perampokan itu?”

“Seorang pemuda yang baru saya kenal melalui teman-teman, namanya Kui Tung.”

“Di mana barang-barang itu?” tanya Siang In.

“Sekarang disembunyikan di sebuah kuil tua yang telah kosong, di kaki bukit di luar kota ini. Memang sengaja dibawa ke dekat kota ini agar jangan ada yang menduga.”

“Kuil tua di kaki bukit sebelah utara kota ini?” tanya Siang In.

“Betul, Nona.”

“Hayo antar kami ke sana! Sekarang juga!” bentak Pek Hong.

Bhe Liang yang sudah ketakutan itu tidak berani membantah. Dia segera bangkit berdiri dan diikuti oleh dua orang dara perkasa itu, dia berjalan keluar kota melalui pintu gerbang utara. Mereka bertiga berjalan cepat ke arah bukit kecil yang berada tidak jauh dari situ. Bukit ini sunyi karena tidak berada di tepi jalan raya. Setelah dekat, sudah tampak sebuah bangunan kuil yang sudah tua dan tak terpakai lagi.

Setelah mereka tiba di depan kuil, pada saat dua orang tadi mencurahkan perhatian pada kuil tua, tiba-tiba Bhe Liang melompat ke depan lalu berlari ke arah kuil sambil berteriak, “Kawan-kawan, awas! Musuh datang...!”

“Tikus busuk!” Siang In memaki, lantas sekali tangan kirinya bergerak mendorong ke arah orang yang melarikan diri itu, tubuh Bhe Liang langsung terguling tanpa mampu bergerak lagi. Tewas seketika! Pukulan jarak jauh Siang In itu memang dahsyat bukan main dan ini membuktikan betapa kini Siang In telah memiliki tenaga sakti yang amat kuat.

Dua orang gadis itu lalu melompat dengan ringan, memasuki kuil yang bagian depannya terbuka itu. Kuil ini sudah tua dan dindingnya telah banyak yang runtuh, akan tetapi masih bersih dan pintunya yang menuju ke bagian dalam masih berkosen kokoh walau pun tidak berdaun lagi. Dari bagian depan yang dulunya menjadi ruang sembahyang, tampak bagian dalam melalui lubang pintu menganga itu. Bagian dalam itu pun tampak bersih akan tetapi sunyi sekali, tidak tampak seorang pun manusia!

“Hemm, tidak ada orang. Mungkin tikus itu telah membohongi kita dan barang-barangnya tidak disimpan di sini.”

“Hemm, kukira dia tidak akan berani. Pasti teman-temannya bersembunyi di sini maka dia berani membawa kita ke sini. Teriakannya tadi menjadi peringatan bagi teman-temannya agar membantunya dan menyerang kita. Tapi sungguh mengherankan, mengapa mereka tidak muncul?”

“Mari kita periksa ke dalam, Pek Hong.”

“Mari, akan tetapi kita harus waspada dan berhati-hati terhadap serangan gelap. Tempat ini terpencil, memang pantas untuk dijadikan tempat persembunyian para penjahat.”

Dengan tenang tetapi waspada, dua orang gadis itu lalu memasuki ruangan dalam melalui lubang pintu tanpa daun itu. Ruangan sebelah dalam itu luas dan bersih dan di sudut sana barulah tampak tumpukan peti yang cukup banyak.

“Hemm, benar juga. Barang-barang itu disembunyikan di sini!” kata Siang In girang.

Keduanya cepat menghampiri tumpukan peti itu dan mulai memeriksa dengan membuka tutup peti. Ketika mereka membuka tutup dua buah peti dan melihat bahwa memang peti itu berisi barang-barang dagangan berupa kain-kain, tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk di belakang mereka. Mereka cepat membalikkan tubuh dan tampak debu mengepul.

Suara tadi adalah suara turunnya sehelai daun pintu baja dari atas, menutup lubang pintu yang menyambung ruangan itu dengan ruangan depan tadi! Mereka telah terjebak.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner