JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-14


Kiranya kuil tua kosong itu kini dijadikan sarang penjahat yang memasang pintu rahasia. Akan tetapi tentu saja dua orang dara perkasa itu sama sekali tak merasa gentar. Mereka menutupkan kembali dua peti itu lantas menanti dengan sikap waspada.

Tiba-tiba saja dua benda melayang masuk ke dalam ruangan itu. Terdengar ledakan dan asap putih tebal mengepul memenuhi ruangan itu! Bau yang keras menyengat memenuhi ruangan yang penuh asap itu. Perlahan-lahan asap membubung dan keluar dari ruangan melalui atap. Saking tebalnya asap, orang tak dapat melihat keadaan ruangan itu, bahkan jika ada orang di luar kuil yang melihat asap tebal membubung keluar dari atas kuil, tentu akan mengira bahwa di situ terjadi kebakaran.

Banyak orang berkumpul di ruangan depan dan ruangan belakang, dan mereka telah siap dengan senjata di tangan, menghadang kalau-kalau dua orang gadis itu dapat lolos lewat ruang belakang atau depan. Akan tetapi tidak ada gerakan apa pun di dalam ruang tengah yang dilempari bahan peledak yang mengandung pembius kuat sehingga dapat membuat orang pingsan itu. Mereka adalah gerombolan perampok yang oleh Bhe Liang diceritakan sebagai teman-temannya kepada dua orang gadis itu.

Sesudah asap meninggalkan ruangan itu melalui atap, mereka segera mengintai ke dalam lalu bersorak ketika melihat betapa dua orang gadis itu telah roboh, menelungkup di atas lantai ruangan itu dalam keadaan pingsan!

“Dua ekor ikan itu sudah terjaring!”

“Mereka sudah roboh pingsan!”

“Aduh, cantik-cantik bukan main!”

Pada saat mereka membuka pintu yang menembus ruang depan dan ruang belakang lalu memasuki ruangan itu, menghampiri dua orang gadis yang menggeletak pingsan, tiba-tiba terdengar suara nyaring penuh wibawa yang menggetarkan.

“Kalian mundur semua! Siapa berani menyentuh tubuh dua orang gadis itu, akan kusiksa sampai mati. Mereka itu milikku! Hayo kalian keluar semua dan jaga di luar kuil. Jangan ada yang berani masuk kalau tidak kupanggil!”

Suara orang itu sungguh memiliki wibawa yang amat kuat. Gerombolan itu sedikitnya ada tiga puluh orang dan mereka rata-rata bertubuh kekar dan berwajah bengis dengan sinar mata kejam. Akan tetapi begitu mendengar suara itu, mereka tiba-tiba berhenti bergerak dengan wajah dicekam ketakutan, lalu keluar dari ruangan itu sambil menundukkan muka, seperti segerombolan anak-anak yang takut kepada ayah atau guru yang galak dan yang menegur mereka karena perbuatan mereka yang salah.

Sebentar saja ruangan itu telah ditinggalkan semua anggota gerombolan yang kini tinggal di luar kuil. Ada yang duduk-duduk di depan kuil, ada pula yang melakukan penjagaan di belakang kuil di mana terdapat sebuah kereta kosong dan beberapa ekor kuda, dan ada pula yang berjaga di kanan kiri kuil. Kuil itu telah dikepung penjagaan mereka. Ruangan di mana dua orang gadis itu rebah menelungkup kini sudah bersih dari asap putih.

Seorang laki-laki memasuki ruangan itu dari pintu yang menembus ruangan belakang. Dia seorang pemuda yang usianya sekitar dua puluh tujuh tahun. Tubuhnya jangkung kurus, langkahnya dibuat gagah dengan dada dibusungkan. Akan tetapi lagak gagah itu malah tampak lucu karena tubuhnya memang kerempeng. Sebenarnya wajahnya tampan juga, akan tetapi karena bentuk mukanya agak panjang ke depan seperti muka seekor kuda, maka ketampanannya juga lucu. Sepasang matanya sipit dengan sinar mata mencorong, bola matanya bergerak liar ke kanan kiri. Hidungnya mancung dihias kumis tipis. Bibirnya cemberut seperti orang marah.

Yang tampak aneh adalah pakaiannya. Pakaian itu ringkas dan bentuknya seperti pakaian yang biasa dipakai pendekar silat, akan tetapi pakaian itu terbuat dari kain yang ditambal-tambal, padahal kainnya masih bersih dan tampak baru! Jelas bahwa tambal-tambal itu bukan dilakukan karena pakaiannya sudah robek, melainkan pakaian baru yang sengaja ditambal-tambal dengan kain yang berkembang dan warnanya berlainan sehingga tampak ramai dan aneh.

Di punggungnya terselip sebatang tongkat hitam. Biar pun pakaiannya bermodel pakaian pengemis tapi orang ini pesolek sekali. Rambutnya mengkilat karena diminyaki, digelung ke atas dan diikat dengan pita sutera merah. Seuntai kalung emas tergantung di lehernya. Sepatu botnya terbuat dari kulit hitam mengkilat dan baru. Pendeknya, dia tampak seperti seorang pengemis aneh yang pesolek dan sama sekali tidak mencerminkan kemiskinan.

Pemuda aneh ini memasuki ruangan itu, lalu berdiri memandang kepada dua orang gadis yang rebah menelungkup. Kemudian terdengar dia bicara lirih seperti berbisik.

“Bukan main! Tubuh dua orang gadis yang denok, ramping dan padat, seperti dua kuntum bunga yang sedang mekar!” Dia memandang kagum kepada tubuh belakang kedua orang gadis itu yang memang denok dan indah. Tubuh dua orang gadis yang sedang menanjak dewasa dan karena semenjak kecil selalu berlatih olah raga silat, maka tentu saja bentuk tubuh itu indah dan padat.

Namun agaknya pemuda ini hendak memperlihatkan bahwa dia bukan orang yang mudah terpikat oleh tubuh indah wanita, maka dia menghampiri dan membungkuk lalu mendorong tubuh Pek Hong dan Siang In hingga tubuh mereka kini telentang dan tampak jelas tubuh bagian depan yang lebih indah lagi, juga wajah mereka yang cantik jelita dan sama. Kini sepasang mata yang sipit itu dibelalakkan, walau pun tetap saja sipit.

“Amboi...! Mimpi apa aku semalam? Selama hidupku belum pernah aku melihat dua orang gadis yang demikian cantik jelita dan keduanya sama pula! Kui Tung..., sekali ini engkau memang beruntung bukan main!”

Namun sebelum dia melakukan sesuatu yang sudah pasti amat keji, mendadak sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ sudah berdiri pula seorang pemuda! Masuknya pemuda ini ke dalam ruangan itu sungguh mengejutkan hati pemuda muka kuda bernama Kui Tung itu sehingga dia cepat melompat ke belakang. Mereka saling berhadapan, saling pandang dengan sinar mata mencorong dan penuh selidik.

Pemuda yang baru muncul ini berusia dua puluh tiga tahun, bertubuh sedang dan tegap. Wajahnya bulat dengan kulit putih. Alis matanya hitam tebal berbentuk golok, hidungnya mancung dan pada mulutnya selalu tersungging senyum sinis. Matanya mencorong aneh. Rambutnya dikucir dan pakaiannya mewah.

Kui Tung merasa heran sekali. Dia tahu bahwa kuil itu sudah dikepung dengan ketat dan dijaga anak buahnya yang jumlahnya lebih dari tiga puluh orang. Lalu bagaimana mungkin orang ini masuk ke ruangan itu tanpa diketahui anak buahnya? Akan tetapi kemarahannya lebih besar dari keheranannya. Dia marah karena merasa terganggu sekali.

Maka, menurutkan sifatnya yang selalu mengagulkan diri sendiri dan memandang rendah orang lain, tanpa bertanya lagi dia pun segera menerjang maju dengan pukulan kuat yang mengandung sinkang (tenaga sakti) yang sangat dahsyat. Akan tetapi dengan tidak kalah cepatnya pemuda tampan itu bergerak, mengelak dan cepat membalas dengan serangan tamparan ke arah kepala Kui Tung.

Si Muka Kuda ini terkejut bukan main karena gerakan lawannya sungguh aneh dan hebat. Dia bisa merasakan sambaran angin pukulan yang dahsyat itu, maka cepat dia melompat ke samping sambil mencabut tongkat hitam yang terselip di punggungnya! Kemudian dia mainkan tongkat itu seperti orang bermain pedang dan tongkat itu sudah berubah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar dahsyat!

Akan tetapi alangkah herannya ketika dia melihat lawan itu dapat menghindarkan diri dari semua serangannya. Tongkatnya itu sebetulnya merupakan pedang yang disembunyikan dalam tongkat bambu agar lebih tepat dibawa seorang berpakaian pengemis. Dia mainkan ilmu pedang simpanannya, namun hebatnya, pemuda itu seolah-olah telah mengenal baik semua gerakannya sehingga dapat menghindarkan diri dengan amat mudahnya.

Kui Tung mengeluarkan jurus-jurus yang terampuh dari ilmu silatnya. Ilmu silatnya adalah ciptaan gurunya sendiri, bukan merupakan ilmu dari aliran yang mungkin dipelajari banyak orang. Namun alangkah herannya ketika lawannya itu mampu menghindarkan diri, bahkan saat lawannya itu membalas dengan serangan-serangan yang dahsyat, dia segera dapat mengenali bahwa lawannya juga menggunakan ilmu yang sama!

“Hei...! Ini... ini ilmuku...!” Kui Tung berseru.

Pada saat itu pula sebuah tendangan dari lawannya menyambar. Sebenarnya Kui Tung mengenal jurus tendangan ini karena sama dengan ilmu yang selama puluhan tahun dia pelajari, akan tetapi tendangan itu datang demikian cepatnya sehingga perutnya terkena tendangan. Cepat dia melindungi perutnya dengan tenaga saktinya.

“Wuuutt...! Bukkk!”

Meski perutnya sudah terlindung tenaga sakti dan tidak terluka, namun tenaga tendangan yang kuat itu membuat tubuhnya terlempar menabrak dinding ruangan itu sehingga jebol. Biar pun tidak terluka, namun tetap saja Kui Tung merasa kepalanya agak pening. Cepat dia bangkit dan memandang pemuda tampan itu dengan terheran-heran.

“Siapakah engkau? Mengapa engkau mengenal ilmu silatku?”

Pemuda itu tersenyum lebar dengan pandangan mata mengejek. “Hemmm, engkau tentu murid Lam-kai (Pengemis Selatan) Gui Lin, betulkah?”

“Engkau mengenal Suhu? Memang benar, aku murid Suhu Lam-kai Gui Lin, namaku Kui Tung. Engkau siapakah?”

“Namaku Can Kok.”

“Ah, aku pernah mendengar tentang dirimu! Bukankah engkau yang menjadi murid Empat Datuk Besar? Lam-kai Gui Lin adalah salah seorang di antara Empat Datuk Besar. Pantas engkau menguasai ilmu yang kupelajari darinya! Kalau benar begitu, di antara kita masih ada hubungan seperguruan! Biar pun ilmu kepandaianmu lebih tinggi dari pada aku, tapi karena aku lebih dulu menjadi murid Lam-kai, dan usiaku juga lebih tua dari pada usiamu, maka aku adalah suheng-mu dan engkau adalah sute-ku.”

“Huhh, engkau bukan suheng-ku (Kakak seperguruanku)! Kalau aku tadi tidak mengenal ilmu silatmu, tentu sekarang engkau sudah menjadi mayat! Kui Tung, kalau engkau ingin berteman dengan aku maka engkau harus menyebutku Taihiap (Pendekar Besar), karena aku adalah Bu-tek Taihiap Can Kok (Can Kok Si Pendekar Besar Tanpa Tanding)! Kalau engkau tidak mau, lekaslah pergi dari sini sebelum kubunuh!”

Kui Tung merasa penasaran sekali. Pemuda ini begitu sombongnya! Akan tetapi Kui Tung juga seorang yang amat cerdik. Dia tahu betul bahwa Can Kok adalah seorang yang Iihai bukan main, bahkan menurut cerita gurunya yang baru-baru ini dia jumpai, murid Empat Datuk Besar ini tingkat kepandaiannya bahkan lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Empat Datuk Besar! Juga gurunya bercerita bahwa Can Kok kini menjadi orang sakti yang jalan pikirannya aneh karena otaknya sudah terguncang akibat penyatuan empat macam aliran tenaga dalam yang digabung. Orang begini lihai sebaiknya dijadikan kawan, bukan lawan!

“Ahh, baiklah, Can-taihiap (Pendekar Besar Can)! Lihat, aku telah dapat menangkap dua orang bidadari yang cantik molek. Engkau boleh memiliki salah satu dari mereka!” Untuk mengambil hati kawan baru ini, Kui Tung menunjuk ke arah tubuh dua orang gadis yang masih menggeletak telentang di atas lantai ruangan itu.

Can Kok menyapu kedua tubuh gadis itu dengan pandang matanya yang aneh. “Mereka ini mengapa?”

“Mereka adalah dua orang gadis yang sangat lihai dan mereka datang untuk merampas kembali barang-barang yang kami rebut dari tangan pedagang Thio Ki dari kota Kang-cun. Sebagian dari barang-barang itu adalah barang-barang berharga milik Pangeran Cin Boan yang menjadi pembesar tinggi di kota itu. Selain engkau boleh memilih seorang di antara mereka berdua, engkau juga boleh memilih di antara barang rampasan ini, ambillah mana yang kau sukai.”

Can Kok tersenyum mengejek. “Kui Tung, engkau memang tolol! Kalau aku menghendaki sesuatu, wanita atau benda apa saja, tanpa perlu kau tawarkan pun dapat kuambil sendiri. Siapa yang dapat melarang aku berbuat sesukaku? Dan ketololanmu yang kedua, engkau menganggap dua orang gadis ini sudah tidak berdaya. Begitukah? Heh-heh-heh!”

“Apa maksudmu, Can-taihiap? Dua orang gadis ini memang sudah tidak berdaya, paling sedikit selama seperempat hari mereka akan tinggal pingsan karena mereka telah terbius oleh asap pembius kami yang amat manjur,” kata Kui Tung.

“Inilah yang membuktikan ketololanmu! Aku sama sekali tidak melihat mereka berdua itu terbius atau pingsan! Sejak tadi pun mereka itu tidak apa-apa. Engkau sudah terkena tipu mereka, Kui Tung!”

“Ahh, benarkah itu, Taihiap?” Kui Tung membelalakkan kedua matanya.

“Tidak percaya? Perhatikan ini!” Can Kok menendang sebuah kursi dan benda itu segera melayang cepat ke arah tubuh dua orang gadis yang rebah telentang itu.

“Wuuttt...! Krekkk!”

Kursi itu hancur berkeping-keping ketika Siang In yang rebah terdekat, tiba-tiba melompat bangkit dan sekali tangan kirinya bergerak menghantam, kursi itu pun hancur berantakan! Pek Hong juga sudah melompat bangkit dan berdiri di samping Siang In. Mereka berdua tersenyum mengejek.

Kedua orang dara perkasa ini memang sama sekali tidak pingsan! Ketika terjadi ledakan dan asap putih tebal memenuhi ruangan, mereka berdua cepat bertiarap. Kedua gadis ini adalah gadis-gadis yang sudah banyak pengalaman menghadapi penjahat-penjahat, maka mereka berdua tahu akan bahayanya asap beracun itu, dan mereka juga tahu bagaimana cara mengatasinya.

Bisa saja mereka menerjang keluar untuk menghindarkan diri dari serangan asap pembius itu. Namun mereka ingin melihat kemunculan para penjahat yang sudah merampok harta benda Thio Ki dan Pangeran Cin Boan, ingin tahu siapa yang menjadi pemimpin.

Jika mereka menerjang keluar, besar kemungkinan pimpinan gerombolan akan melarikan diri. Maka mereka cepat merebahkan diri sambil menelungkup. Mereka tahu bahwa asap pasti akan membubung ke atas sehingga tidak akan tersedot oleh mereka karena mereka menelungkup dan hidung mereka berada di bawah menempel pada lantai.

Meski pun begitu, mereka tetap menahan napas sambil meniup dari mulut mereka untuk mengusir kalau-kalau ada asap mendekat. Sebagai orang-orang yang sudah mahir dalam olah pernapasan, tentu saja dua orang gadis ini mampu menahan napas jauh lebih lama dari pada orang biasa.

Sesudah asap menghilang dan ketika gerombolan itu menyerbu masuk, keduanya sudah hendak bergerak menyambut. Akan tetapi mendadak terdengar suara Kui Tung melarang lalu para anak buah gerombolan itu keluar dari ruangan. Mereka kembali menanti, hendak melihat siapa pemimpin mereka.

Ketika Kui Tung masuk kemudian membalikkan tubuh mereka hingga telentang, mereka masih pura-pura pingsan, walau pun tangan mereka sudah gatal-gatal untuk turun tangan membekuk pimpinan gerombolan itu. Akan tetapi tiba-tiba muncul pemuda tampan yang bernama Can Kok itu.

Mereka berdua menyaksikan perkelahian itu dan diam-diam terkejut. Dengan tongkatnya, kepandaian orang yang bernama Kui Tung itu sudah hebat sekali, akan tetapi yang datang belakangan, yang mengaku bernama Can Kok, ternyata lebih lihai lagi!

Maka tahulah mereka bahwa mereka tengah menghadapi orang-orang yang tangguh. Apa lagi setelah mereka melihat kedua orang pemuda itu kini berteman, berarti mereka harus menghadapi dua orang pemuda lihai itu. Mereka juga amat terkejut ketika kedua pemuda itu menyebut nama Lam-kai dan Empat Datuk Besar. Lebih kaget lagi ketika ternyata Can Kok mengetahui bahwa mereka hanya berpura-pura pingsan kemudian menendang kursi untuk memaksa mereka bangkit!

Kini Pek Hong Nio-cu dan Ang Hwa Sian-li berdiri tegak berhadapan dengan dua orang pemuda itu. Mereka berempat saling beradu pandang mata, seolah-olah hendak mengukur kekuatan lawan melalui pandang mata mereka.

Kedua dara perkasa itu melihat betapa pandang mata pemuda yang bernama Can Kok itu luar biasa sekali. Mencorong seperti mata kucing dalam kegelapan, tetapi bergerak-gerak aneh dan menyeramkan, tidak wajar dan seperti mata orang yang otaknya miring.

Sementara itu Can Kok juga memperhatikan mereka berdua, dan dia merasa kagum dan heran sekali.

“Bukan main!” katanya sambil tersenyum sehingga wajah yang tampan itu, bila saja sinar matanya tidak begitu aneh menyeramkan, tampak menarik. “Bagaimana mungkin ada dua orang wanita yang begini sama kecuali kalau mereka kembar! Hei, Nona berdua, kalian tadi telah mendengar nama kami. Kui Tung ini adalah murid Lam-kai Gui Lin, datuk besar selatan. Dan aku Can Kok adalah seorang yang telah menguasai semua ilmu dari Empat Datuk Besar! Nah, sekarang katakan, siapa nama kalian?”

Biar pun wataknya aneh dan dia pun terpesona oleh kecantikan dua orang gadis itu, akan tetapi dia tetap bersikap ‘sopan’ dan lembut, tidak memuji kecantikan secara kasar seperti para pria yang ugal-ugalan.

Pek Hong Nio-cu yang tahu bahwa dua orang calon lawannya ini memang lihai, ingin pula menggertak mereka yang sudah memamerkan nama guru-guru mereka yang terkenal di dunia kang-ouw. Dia tersenyum mengejek dan pandang matanya berkilat.

“Hemm, kiranya kalian murid-murid datuk sesat. Pantas saja sebagai murid mereka kalian juga menjadi penjahat-penjahat busuk! Kalian ingin tahu nama kami? Terlalu bersih nama kami untuk diperkenalkan kepada manusia-manusia busuk macam kalian. Ketahuilah saja bahwa aku dikenal sebagai Pek Hong Nio-cu dan ini adalah Ang Hwa Sian-li. Kami berdua adalah murid-murid Yok-sian Tiong Lee Cin-jin!”

Kui Tung yang telah mendengar julukan dua orang gadis itu yang memang amat terkenal, menjadi terkejut bukan main. Apa lagi mendengar bahwa mereka adalah murid Tiong Lee Cin-jin. Mukanya menjadi pucat dan jantungnya berdebar tegang.

“Taihiap, Pek Hong Nio-cu ini adalah puteri Kaisar Kin!” bisiknya gentar kepada Can Kok.

Akan tetapi ketika Can Kok mendengar bahwa yang berdiri di hadapannya ini adalah dua orang murid Tiong Lee Cin-jin, tiba-tiba dia tertawa bergelak. Dia digembleng oleh Empat Datuk Besar memang untuk mewakili mereka membunuh Tiong Lee Cin-jin, dan kini dua orang murid musuh besar itu berada di depannya!

Dia tertawa, akan tetapi bukan sembarang tawa karena dia mengerahkan sinkang dalam tawanya itu. Dia sudah menyerang dengan suara seperti yang diajarkan oleh See-ong Hui Kong Hosiang. Di dalam suara tawa itu terkandung hawa sakti bercampur kekuatan sihir yang memaksa orang yang mendengarnya tidak dapat bertahan untuk tidak ikut terbawa, sehingga terseret pula ke dalam tawa. Getaran yang terkandung dalam tawa Can Kok itu datang bergelombang, atau seperti angin topan yang amat kuat!

Yang segera terpengaruh adalah Kui Tung. Sungguh pun murid Lam-kai ini juga seorang yang lihai dan dia memiliki sinkang kuat yang sudah cepat dia kerahkan, tetapi tetap saja dia tidak mampu bertahan. Pertahanannya seolah bobol dan dia pun segera tertawa-tawa, malah lebih terbahak-bahak dibandingkan tawa Can Kok. Dia tertawa sampai terbongkok-bongkok sambil menekan perutnya dan air matanya bercucuran!

Sebagai murid Tiong Lee Cin-jin yang dikenal sebagai manusia setengah dewa, Pek Hong beserta Siang In tidak menjadi gentar atau gugup menghadapi serangan suara tawa yang kekuatannya sangat dahsyat itu. Mereka berdua segera menggunakan ilmu yang disebut Tho-hun (Sukma Tanah), yang sifatnya membiarkan diri menerima tanpa melawan seperti tanah, namun yang melarutkan segala yang menerjangnya. Mereka berdua menghadapi angin topan seolah bersikap seperti rumput, lentur, lemas dan rendah sehingga biar pun tergoyang tetapi sama sekali tak bisa dirusak. Tubuh mereka bergoyang-goyang perlahan seperti menari, mata terpejam dan getaran dahsyat suara tawa itu lewat begitu saja.

Bahkan dalam puncak pertahanannya Pek Hong masih dapat berkelakar dengan Siang In dan berkata, “Lihat, dia tertawa-tawa seperti orang gila!”

Siang In menjawab. “Memang otaknya miring!”

Mendengar ejekan ini, Can Kok menjadi marah sekali. Mukanya berubah merah lantas dia menghentikan tawanya.

Untunglah Can Kok cepat menghentikan tawanya karena keadaan Kui Tung sudah amat payah. Tubuhnya lemas karena tertawa terbahak-bahak tanpa dapat ditahan, air matanya bercucuran dan napasnya mulai memburu. Bila dibiarkan terus, tentu dari lubang telinga, hidung, mata dan mulutnya akan keluar darah dan jika sudah terlalu parah, nyawanya tak akan tertolong lagi! Dia cepat duduk bersila untuk memulihkan tenaga dalamnya yang tadi dia kerahkan untuk melawan pengaruh suara dahsyat itu.

“Hei, orang she Can yang berotak miring. Engkau bisa tertawa, kenapa sekarang engkau tidak menangis?” Siang In mengejek.

“Hemm, gadis-gadis sombong. Sebelum mati, kalian berdoalah dulu kepada arwah nenek moyangmu karena kalian akan mati di tanganku!”

Mendadak Kui Tung berkata, “Can-taihiap, sayang kalau langsung dibunuh. Bunga-bunga harum seperti ini sebaiknya dinikmati dulu baru dibunuh!”

“Hemm, otakmu hanya penuh gairah yang membuat engkau lemah, Kui Tung. Akan tetapi akan kupertimbangkan usulmu itu!”

Siang In sudah marah sekali, akan tetapi Pek Hong menahan kesabarannya dan dia ingin sekali mengetahui mengapa murid-murid Lam-kai dan Empat Datuk Besar memusuhi dan bahkan hendak membunuh dia dan Siang In.

“Heh, monyet babi tikus kecoa cacing busuk!” dia memaki untuk memanaskan hati orang agar merasa terhina dan mau mengaku apa yang menyebabkan Can Kok memusuhinya. “Dalam mimpi pun belum pernah aku dan saudaraku ini bertemu dengan kamu. Mengapa kamu gila-gilaan ingin membunuh kami?”

Mata Can Kok laksana memancarkan kilat saking panas hatinya mendengar penghinaan itu. “Mau tahu mengapa? Baik, akan kuberi tahu supaya kalian tidak mati penasaran. Aku mewakili Empat Datuk Besar untuk membunuh Tiong Lee Cin-jin, dan dia telah kuanggap sebagai musuh besarku satu-satunya di dunia, dan karena kalian adalah murid-muridnya, maka tentu saja kalian juga hendak kubunuh!”

Siang In tertawa, diikuti Pek Hong. Mereka tertawa bebas seperti kebiasaan para wanita di kalangan dunia persilatan, bebas dan tidak malu-malu, tetapi mereka masih mengingat akan kesopanan maka mereka menggunakan tangan untuk menutupi mulut mereka yang tertawa. Mereka merasa geli seolah mendengar lawakan badut.

“Heh-he-he-heh! Kunyuk (monyet) kecil macam kau ini hendak membunuh Yok-sian Tiong Lee Cin-jin? He-he-he! Melawan kami pun engkau tidak akan menang, bahkan kami yang akan membasmi dan mengirim kembali ke neraka jahanam dari mana kau berasal!”

“Perempuan sombong!” Can Kok berteriak, matanya liar dan menyeramkan sekali, seperti mata singa marah. Dia mengerahkan tenaga gabungan Empat Datuk Besar dan menekuk kedua lutut lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah dua orang gadis itu.

“Mampuslah kalian! Hyaaaaattt...!”

Pek Hong dan Siang In maklum akan kedahsyatan tenaga lawan. Keduanya telah saling memahami, seolah ada suatu hubungan batin yang sangat erat sehingga secara otomatis tangan kiri Pek Hong bertemu dengan tangan kanan Siang In dengan kelima jari tangan mereka saling cengkeram sehingga dua tenaga sakti mereka bertemu dan bergabung, lalu tangan kanan Pek Hong serta tangan kiri Siang In didorongkan ke depan dengan telapak tangan terbuka, menyambut pukulan jarak jauh yang dilontarkan dengan marah.

“Syuuuuttt...! Blaarr...!”

Pek Hong dan Siang In terpaksa mundur tiga langkah saking hebatnya tenaga serangan Can Kok, namun Can Kok juga terhuyung-huyung ke belakang. Bukan main dahsyatnya tenaga Can Kok sehingga gabungan tenaga dua orang gadis gemblengan Tiong Lee Cin-jin itu hanya lebih kuat sedikit saja.

Can Kok mengeluarkan suara tawa menyeramkan yang terdengar seperti suara tangisan mengguguk. Ini merupakan tanda bahwa Can Kok sedang dilanda kemarahan hebat! Dia meraba punggungnya, kemudian tampak sinar berkelebat menyilaukan mata saat pedang Giam-ong-kiam (Pedang Raja Maut) yang sinarnya kemerahan telah tercabut.

“Huh, belum lecet kulitnya sudah mengeluarkan senjata!” Pek Hong mengejek dan ketika kedua tangannya bergerak, tangan kirinya sudah melolos sabuk sutera merah dan tangan kanannya memegang sebatang pedang bengkok bersinar emas.

“Siapa bilang dia orang gagah dan bukan pengecut?” kata pula Siang In mengejek dan dia pun sudah mencabut sepasang pedangnya yang bersinar kehitaman karena siang-kiam (sepasang pedang) ini mengandung racun dan bernama Toat-beng Siang-kiam (Sepasang Pedang Pencabut Nyawa)!

Melihat dua orang gadis itu sudah mencabut senjata mereka, Can Kok lalu mengeluarkan suara mengaum seperti singa. Itulah ilmu Sai-cu Ho-kang (Auman Singa) yang dia pelajari dari Tung-sai (Singa Timur) Kui Tong. Auman atau gerengan yang sangat kuat itu dapat menggetarkan jantung lawan sehingga kaki tangan lawan akan terasa lumpuh.

Singa juga mempunyai wibawa seperti itu. Kalau dia hendak menyerang calon korbannya, hanya dengan mengaum maka seekor kelinci atau pun domba calon mangsanya menjadi lumpuh ketakutan sehingga akan mudah diterkamnya. Auman yang dikeluarkan Can Kok ini pun hebat sekali, akan tetapi sama sekali tidak mampu menggoyahkan ketabahan hati Pek Hong dan Siang In. Getaran auman itu lewat begitu saja tanpa mendatangkan akibat apa pun.

Selagi gema auman itu masih terpantul di empat penjuru dinding ruangan, Can Kok sudah menerjang ke depan dan sinar pedangnya menyambar ke arah dua orang gadis itu.

“Cringg...! Trangg...!”

Bunga api berpijar terang ketika pedang Giam-ong-kiam di tangan Can Kok itu bertemu dengan pedang bengkok naga emas di tangan Pek Hong dan sepasang Toat-beng Siang-kiam di kedua tangan Siang In. Sesudah mereka tidak menggabungkan tenaga sinkang mereka, dua orang gadis itu baru merasakan betapa kuatnya tenaga pemuda itu. Senjata mereka terpental ketika bertemu pedang Can Kok dan tangan mereka tergetar.

Akan tetapi selama setahun dua orang puteri Tiong Lee Cin-jin itu mendapat gemblengan ilmu-ilmu yang tinggi dari ayah mereka sehingga kini tingkat kepandaian mereka menjadi jauh lebih tinggi dari pada sebelumnya. Memang Pek Hong masih menggunakan Sin-coa Kiam-sut (Ilmu Pedang Ular Sakti) dibantu gerakan sabuk merahnya yang melecut-lecut ganas. Juga Siang In masih menggunakan ilmu pedangnya yang dahulu, yaitu Toat-beng Siang-kiam-sut (Ilmu Pedang Pasangan Pencabut Nyawa). Namun ilmu-ilmu mereka telah diperdalam dan disempurnakan di bawah bimbingan Tiong Lee Cin-jin sehingga menjadi lihai bukan main.

Kedua gadis ini mengamuk, bagai sepasang naga terbang menyambar-nyambar. Senjata mereka berubah menjadi gulungan sinar. Dua gulungan sinar kehitaman dari Toat-beng Sin-kiam berpadu dengan gulungan sinar merah sabuk sutera dan gulungan sinar emas pedang bengkok, mengepung dan menyerang Can Kok dari segala jurusan!

Can Kok yang berwatak tinggi hati dan menganggap diri sendiri sebagai orang yang tanpa tanding itu, secara diam-diam menjadi terkejut bukan main. Dia memutar pedangnya dan melakukan perlawanan mati-matian, mengeluarkan seluruh kemampuannya. Namun sinar pedang yang bergulung-gulung dan amat kuat itu tetap terdesak juga oleh pengeroyokan empat sinar senjata lawan, yaitu sepasang pedang, sabuk dan pedang bengkok. Gerakan dua orang gadis itu cepat bukan kepalang sehingga Can Kok harus menjaga diri dengan sepenuh tenaga.

Setelah bertanding dengan seru selama kurang lebih limapuluh jurus, mulailah dia merasa bahwa jika dilanjutkan maka dia tidak akan dapat mengalahkan pengeroyokan dua orang gadis yang dapat bekerja sama sangat baiknya. Senjata mereka saling menunjang, saling memperkuat serangan, juga saling membantu menggagalkan serangannya.

“Kui Tung, sampai sekarang engkau masih enak-enak saja? Kawan macam apa engkau ini?” Can Kok berseru marah.

Sejak tadi Kui Tung hanya berdiri di sudut dan menjadi penonton. Dia telah menghentikan olah pernapasan dan tenaganya sudah pulih kembali. Kalau dia hanya menonton, karena dia merasa yakin akan kelihaian Can Kok, dan bagaimana pun juga dia tidak jeri melihat kecepatan gerakan empat senjata dua orang gadis itu menyambar-nyambar.

Akan tetapi mendengar ucapan Can Kok, Kui Tung baru menyadari bahwa kalau dia tidak membantu kemudian Can Kok roboh oleh dua orang gadis itu, dia sendiri pasti tidak akan mendapat ampun karena dialah yang memimpin perampokan. Maka dia segera memutar tongkatnya kemudian terjun ke medan pertempuran sambil mengeluarkan suara bentakan nyaring.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner