JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-15


Melihat Kui Tung maju, Siang In langsung menyambut dengan sepasang pedangnya. Dia sangat membenci lelaki ini yang dulu memimpin perampokan dan telah melukai ayahnya. Sepasang pedangnya menyambar-nyambar ganas.

Namun Kui Tung bukan seorang lawan yang lemah. Dia adalah murid Lam-kai, seorang di antara Empat Datuk Besar yang sejak dia kecil sudah menggemblengnya sehingga ilmu kepandaiannya juga sudah mencapai tingkat tinggi. Kui Tung cepat memutar tongkat yang berisi pedang menyambut sambaran sepasang pedang Siang In.

“Trangg…! Tranggg...!”

Bunga api berpijar dan Kui Tung terhuyung ke belakang. Ternyata tenaga saktinya masih kalah kuat jika dibandingkan Siang In! Akan tetapi cepat dia memutar tongkat pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari serangan lawan.

Benar saja. Begitu melihat lawannya terhuyung-huyung, Siang In cepat menerjang dengan dahsyatnya. Kembali terdengar suara nyaring dan nampak bunga api berpijar ketika Kui Tung menangkis.

Mereka lantas saling serang dengan mati-matian. Betapa pun lihainya Kui Tung, sekali ini dia bertemu lawan yang benar-benar lihai bukan main. Perlahan-lahan dia mulai terdesak sehingga hanya dapat menangkis dan berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari sambaran sepasang pedang. Dia terdesak hebat dan berada dalam bahaya.

Tetapi setelah ditinggalkan Siang In, Pek Hong yang harus menghadapi Can Kok seorang diri, merasa berat sekali. Pemuda itu benar-benar sangat lihai. Kalau tadi berdua dengan Siang In dia mampu mendesak Can Kok, kini setelah Siang In menghadapi Kui Tung, Pek Hong menjadi kewalahan menghadapi desakan lawan.

Karena menghadapi lawan yang lebih ringan, kadang kala Siang In mendapat kesempatan untuk memperhatikan keadaan Pek Hong. Saat melihat Pek Hong beberapa kali terancam pedang Can Kok, dia pun segera melompat ke samping dan membantu.

Kembali kedua orang gadis itu mendesak Can Kok, maka Kui Tung cepat membantu Can Kok. Dengan demikian terjadilah perkelahian empat orang dan ternyata kekuatan mereka seimbang sehingga terjadilah perkelahian yang seru dan mati-matian.

Anak buah gerombolan perampok yang berjumlah tiga puluh orang itu hanya mendengar suara perkelahian dari luar, akan tetapi mereka tidak berani masuk karena mereka amat takut kepada Kui Tung yang galak. Mereka tidak akan masuk tanpa dipanggil.

Selagi mereka bergerombol di sekeliling kuil, mendadak terdengar suara gaduh kemudian muncullah banyak sekali prajurit yang dipimpin tiga orang perwira, dan di antara mereka terdapat Cin Han yang menunggang seekor kuda!

Melihat pasukan yang jumlahnya tak kurang dari seratus orang ini, anak buah gerombolan menjadi terkejut dan panik sekali. Tanpa komando mereka terpaksa mempertahankan diri dan melawan ketika pasukan itu menyerbu sambil bersorak. Maka terjadilah pertempuran yang berat sebelah di luar kuil.

Mendengar suara pertempuran, teriakan serta sorakan yang hiruk-pikuk itu, empat orang yang sedang berkelahi di ruangan dalam kuil itu menjadi terkejut bukan main. Kedua belah pihak sama-sama tidak tahu apa yang terjadi, tidak tahu apakah kejadian yang riuh di luar itu menguntungkan atau merugikan mereka.

“Kui Tung, kita keluar!” seru Can Kok.

Kui Tung tidak dapat menandingi Can Kok dalam hal kecepatan sehingga Can Kok sudah melompat terlebih dulu keluar ruangan. Can Kok cepat menggerakkan tangan kirinya yang kini berubah merah. Itulah Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah) yang mengandung hawa pukulan beracun, menyambar ke arah Siang In. Akan tetapi Siang In dapat mengelak ke samping dan kesempatan itu segera dipergunakan oleh Kui Tung untuk melompat keluar dan menyusul temannya.

Pek Hong dan Siang In yang tidak tahu apa yang terjadi di luar, tidak berani mengejar dan mereka pun cepat keluar dari situ untuk melihat apa yang terjadi.

Ketika Can Kok dan Kui Tung sampai di luar, mereka terkejut bukan main melihat betapa anak buah Kui Tung yang berjumlah hanya tiga puluh orang lebih itu kini sedang dihimpit pasukan pemerintah yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang! Sudah banyak anak buah yang bergelimpangan dan sisanya hanya dapat mati-matian mempertahankan diri.

Melihat keadaan yang berbahaya dan tidak menguntungkan ini, maka tanpa banyak cakap lagi Can Kok dan Kui Tung segera berlompatan melarikan diri dari tempat itu. Ketika ada prajurit yang berani menghalangi, mereka berdua merobohkan para penghalang dan terus melarikan diri secepatnya tanpa mempedulikan nasib para anak buah yang telah terhimpit dan tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri.

Pek Hong dan Siang In juga tiba di luar dan mereka berdua girang bukan main melihat pasukan pemerintah sedang menghajar anak buah gerombolan. Melihat betapa pasukan itu jauh lebih banyak jumlahnya dan para anggota gerombolan sudah banyak yang roboh, maka mereka pun tidak membantu dan hanya berdiri di ruangan depan kuil.

Tak lama kemudian sisa sembilan orang anak buah gerombolan yang masih belum roboh sudah membuang senjata mereka dan cepat menjatuhkan diri berlutut, menakluk. Mereka lalu diringkus dan menjadi tawanan bersama kawan-kawan mereka yang terluka.

Cin Han yang sejak tadi hanya menonton karena dia sendiri adalah seorang sasterawan yang tidak pandai dan tidak suka bertempur, kini melangkah dan menghampiri dua orang gadis itu. Sesudah berhadapan dia menjadi bingung karena dua orang gadis itu wajahnya serupa. Akan tetapi dia mengenal Pek Hong yang pernah datang ke rumah orang tuanya, mengenalnya dari pakaian puteri itu yang serba putih. Dia lalu memandang kepada Siang In dan hatinya merasa sedih, teringat betapa pinangannya terhadap gadis itu ditolak. Akan tetapi dia tidak memperlihatkan perasaan apa pun dan segera mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan.

“Dinda Moguhai! Bahagia sekali melihat engkau dalam keadaan selamat!”

Dia memandang kepada Siang In dan meragu. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada gadis yang wajahnya serupa benar dengan wajah Puteri Moguhai itu. Melihat ini, Pek Hong menoleh kepada Siang In dan segera tersenyum ketika melihat betapa Siang In juga memandang kepada Cin Han dengan pandang mata kagum dan bimbang.

“Siang In, perkenalkan. Ini adalah kakak misanku yang bernama Cin Han, putera tunggal Paman Pangeran Cin Boan!”

Mendengar ini, wajah Siang In seketika berubah merah. Jantungnya berdebar tegang dan dia merasa serba salah. Jadi inikah orangnya yang dahulu pernah meminangnya? Sama sekali tidak pernah dia menduga bahwa putera Pangeran Cin Boan yang melamarnya ini merupakan seorang pemuda yang luar biasa tampan! Dia menjadi gagap dan gugup.

“Ehh... ohh... senang sekali dapat berkenalan dengan... Cin-kongcu (Tuan Muda Cin)...”

Cin Han tersenyum. Wajahnya yang berkulit putih kemerahan itu berseri. Sebagai seorang siu-cai (sastrawan) tentu saja dia pandai membawa diri, sikapnya lembut dan sopan, juga kata-katanya teratur indah.

“Thio-siocia (Nona Thio), sayalah yang merasa berbahagia sekali. Merupakan kehormatan besar sekali bagi saya dapat berkenalan dengan Nona yang namanya sudah lama saya kenal.”

“Ehh, Kanda, bagaimana engkau dapat muncul di tempat ini bersama pasukan? Apakah engkau yang mengerahkan pasukan ini?”

“Nanti akan kuceritakan padamu, Dinda. Yang terpenting sekarang, apakah engkau telah dapat menemukan barang-barang Paman Thio yang dirampok itu?”

“Barang-barang itu lengkap berada di ruang dalam kuil tua ini, Kanda. Termasuk barang-barang milik Paman Pangeran Cin Boan juga berada di dalam.”

“Syukurlah kalau begitu,” kata Cin Han lantas dia memandang kepada tiga orang perwira setengah tua yang datang menghampirinya. Seorarig di antara mereka kemudian berkata dengan sikap hormat.

“Cin-kongcu, semua anggota gerombolan telah dapat dilumpuhkan. Sebagian tewas. Kami menangkap yang terluka dan yang menyerah. Sekarang kami menanti perintah Kongcu.”

“Bagaimana dengan kerugian di pihak kita?”

“Tidak ada yang tewas, Kongcu, hanya ada enam orang yang terluka ringan.”

“Bagus, Lu-ciangkun (Perwira Lu). Obati prajurit kita yang terluka, lalu angkutlah semua barang milik Paman Thio Ki dan Ayah yang ada di dalam. Bawa semua barang-barang itu bersama semua tawanan ke kota Kang-cun sekarang juga. Jangan lupa tinggalkan prajurit secukupnya untuk mengubur semua mayat, kemudian suruh bakar kuil tua ini!”

Pek Hong tersenyum kagum melihat betapa kakak misannya yang sasterawan lemah itu dapat memberi perintah sedemikian tegasnya, seperti seorang jenderal saja.

“Siap laksanakan perintah, Kongcu!” kata perwira itu dan mereka bertiga lalu memimpin anak buah untuk mengangkat barang-barang, lalu siap untuk berangkat ke kota Kang-cun. Lima puluh orang prajurit ditinggalkan untuk melaksanakan tugas mengubur semua mayat dan membakar kuil tua yang dijadikan sarang perampok itu.

Cin Han, Pek Hong, dan Siang In menunggang kuda berdampingan. Mereka menjalankan kuda perlahan-lahan sambil bercakap-cakap. Siang In masih merasa sungkan dan malu, maka dia lebih banyak mendengarkan saja percakapan mereka.

“Nah, sekarang ceritakanlah, Kanda, bagaimana engkau dapat muncul bersama pasukan untuk membantu kami. “

“Begini, Dinda Moguhai. Setelah engkau pergi, aku pun mulai merasa curiga terhadap diri Bhe Liang. Siapa tahu dia mempunyai hubungan dengan perampokan itu atau setidaknya dia tahu siapa yang melakukan. Maka sesudah berunding dengan Ayah, kami menyuruh Lu-ciangkun supaya mengutus seorang prajurit yang pandai untuk cepat pergi melakukan penyelidikan ke rumah Bhe Liang. Ketika tiba di sana prajurit itu melihat engkau dan Thio-siocia keluar dari rumah bersama Bhe Liang yang agaknya kalian paksa menunjukkan tempat perampok. Prajurit itu diam-diam mengikuti dari kejauhan dan setelah tahu bahwa sarang para perampok berada di kuil tua yang tidak jauh dari kota Kang-cun, dia cepat memberi laporan. Maka aku lalu minta bantuan Lu-ciangkun dan dua orang perwira lain agar membawa pasukan dan mengejar ke tempat itu.”

“Wah, tidak kusangka engkau ternyata begitu pandai, Kanda!”

“Ahh, aku tidak bisa apa-apa. Engkau dan Thio-siocia inilah yang hebat. Bagaimana hasil buruanmu? Siapa yang memimpin perampokan itu, Adinda Moguhai?”

“Kanda Cin Han, memang benar dugaanku. Setelah kami berdua melakukan penyelidikan, ternyata Bhe Liang itulah yang mendalangi perampokan. Kami lantas memaksa dia untuk mengaku, dan memang dialah yang memberi-tahu kepada gerombolan perampok tentang pengiriman barang-barang berharga itu dipimpin seorang pemuda bernama Kui Tung yang lihai, kemudian muncul temannya seorang pemuda lain bernama Can Kok yang bahkan lebih lihai lagi. Mereka berdua itu pasti bukan orang-orang sembarangan, bukan sebangsa kepala perampok biasa. Kami berdua bertanding melawan mereka. Lalu pasukan datang dan kedua orang muda lihai itu melarikan diri.”

Pek Hong Nio-cu atau Puteri Moguhai sengaja tidak menceritakan secara rinci mengenai pertandingan seru antara mereka itu karena Cin Han yang tidak pernah belajar ilmu silat itu tentu tidak akan mengerti.

“Aihh, sayang sekali kedua orang penjahat itu tidak dapat ditangkap,” kata Cin Han.

“Mereka itu lihai bukan main, Kanda Cin Han.”

“Bagaimana dengan si jahat Bhe Liang?”

“Ahh, dia telah tewas di tangan Siang In!”

Cin Han memandang kagum kepada Ang Hwa Sian-li Thio Siang In. “Bagus, terima kasih, Thio-siocia (Nona Thio), jasamu sungguh besar. Orang itu jahat sekali, mengadu domba, melakukan fitnah, bahkan mengundang penjahat-penjahat yang lihai untuk mengacau.”

“Ah, Pek Hong inilah yang lebih berjasa, Cin-kongcu (Tuan Muda Cin), bahkan kalau tidak ada dia, mungkin saya sudah celaka di tangan penjahat yang amat lihai itu.”

Melihat pandang mata penuh kagum dari pemuda itu kepada Siang In, dan melihat pula betapa sepasang pipi Siang In kemerahan dan matanya hanya mengerling tanpa berani memandang langsung kepada pemuda itu tapi hanya senyum malu-malu, Puteri Moguhai tertawa senang. Ia akan ikut merasa bahagia kalau saudara kembarnya itu dapat berjodoh dengan Cin Han, pemuda bangsawan yang dia tahu amat bijaksana, ahli sastra, tampan dan berpemandangan luas itu.

Mereka kembali ke kota Kang-cun. Tentu saja kembalinya dua orang gadis bersama Cin Han yang telah berhasil menumpas gerombolan penjahat dan membawa kembali barang-barang yang dirampok, sangat membahagiakan Thio Ki dan Miyana, juga menyenangkan hati Pangeran Cin Boan dan isterinya. Yang lebih membahagiakan hati keluarga pangeran ini adalah bahwa nama baik mereka yang difitnah oleh Bhe Liang telah dapat dibersihkan dan penjahat itu sudah terbunuh. Kini tentu keluarga Thio Ki tidak lagi menyangka bahwa dia yang mendalangi perampokan itu.

Sesudah tinggal selama tiga hari di rumah keluarga Thio Ki dan melihat keadaan Thio Ki yang telah sembuh kembali dari lukanya, Puteri Moguhai lalu berpamit meninggalkan kota Kang-cun untuk kembali ke kota raja. Siang In berjanji akan mengunjungi puteri itu dalam waktu dekat. Sebelum meninggalkan Kang-cun, Puteri Moguhai lebih dulu berkunjung ke rumah keluarga Pangeran Cin Boan dan dia disambut dengan gembira oleh Pangeran Cin Boan, isterinya, dan Cin Han.

“Dinda Moguhai, bagaimana kesehatan Paman Thio Ki sekarang? Apakah semua lukanya telah sembuh kembali?” Cin Han menyambut kedatangan puteri itu dengan pertanyaan ini.

Moguhai tersenyum.

“Eh, Kanda Cin Han, yang kau tanyakan itu sesungguhnya keadaan Paman Thio ataukah keadaan Siang In?”

Mendengar ini Cin Han tersipu dan ayah ibunya tertawa.

“Aih, Moguhai, engkau tega sekali menggoda kakakmu, padahal engkau telah mengetahui bahwa pinangan kami atas diri Siang In ditolak, Cin Han tidak mempunyai harapan lagi.”

“Eh, mengapa Bibi berkata demikian? Dulu Siang In menolak karena dia belum mengenal Kanda Cin Han, bahkan melihat pun belum. Akan tetapi sekarang...”

“Sekarang bagaimana? Wah, Moguhai, jangan main teka-teki. Katakan saja, bagaimana sekarang? Apakah ada harapan?”

“Paman Pangeran, saya belum dapat mengatakan apa-apa. Akan tetapi sebaiknya dekati saja keluarga Thio. Ada baiknya kalau Kanda Cin Han datang menengok keadaan... ehh, Paman Thio Ki, menanyakan kesehatannya. Nanti Paman, Bibi, dan Kanda dapat melihat sendiri bagaimana sikap Siang In dan orang tuanya, dan akhirnya terserah kepada Paman dan Bibi apakah ada baiknya kalau pinangan itu diulang.”

“Eh, jangan main-main, Dinda! Mana kami berani mengajukan pinangan kembali setelah ditolak satu kali? Kalau untuk kedua kalinya ditolak, akan kutaruh di mana mukaku?”

Puteri Moguhai tertawa, tertawa bebas, tidak seperti para puteri istana yang kalau tertawa diatur agar tampak sopan, tertawa kecil hampir tanpa suara dan menutupi mulut dengan ujung lengan baju sambil memiringkan mukanya. Akan tetapi tawa Puteri Moguhai adalah tawa lepas, tanpa ragu membuka mulut memperlihatkan giginya sehingga tampak deretan gigi yang putih rapi seperti mutiara dan rongga mulut yang merah, ujung lidah yang merah muda.

Sama sekali tidak mendatangkan pemandangan yang tidak sopan atau menjijikan, malah sebaliknya, tawa itu membuat wajahnya tampak manis sekali dan tawa itu menyengat lalu menular karena orang yang mendengar dan melihatnya, tidak dapat mencegah dorongan dari dalam untuk ikut tertawa!

Begitu mendengar mereka tertawa dan melihat isteri Pangeran Cin Boan tertawa sambil menutupi mulut dengan ujung bajunya, Moguhai lalu teringat akan tata susila yang pernah ditanamkan kepadanya ketika kecil dahulu, maka ia pun cepat menutupi mulutnya dengan ujung lengan bajunya. Akan tetapi gerakan ini malah tampak lucu sehingga tiga orang itu tertawa semakin geli.

“Ehh, Kanda Cin Han, ke mana lagi engkau akan menaruh mukamu kalau tidak di bagian depan kepalamu? Kalau kau simpan dalam almari, lalu bagaimana kalau engkau hendak mencuci muka?”

Ucapan Moguhai ini membuat mereka semakin geli sehingga mereka tertawa terpingkal-pingkal. Suasana ini terbawa kegembiraan hati mereka, bukan saja karena barang-barang kembali dan nama mereka tercuci, akan tetapi juga mendengar adanya harapan baru bagi keinginan mereka untuk meminang Siang In. Setelah mereka berhenti tertawa, Pangeran Cin Boan dan isterinya saling pandang dan pangeran itu bertanya dengan suara sungguh-sungguh.

“Moguhai apakah engkau sungguh-ungguh dan tidak main-main mengenai kemungkinan perjodohan antara Cin Han dan Thio Siang In?”

“Kami masih merasa ragu dan khawatir kalau-kalau pinangan kami ditolak lagi, Moguhai,” kata pula isteri pangeran itu.

“Harap Paman dan Bibi tidak khawatir. Saya mengenal benar watak sahabatku Siang In itu. Biar pun dia tidak berkata apa-apa, namun sikapnya terhadap Kakanda Cin Han dapat saya lihat dengan jelas bahwa dia juga tertarik. Akan tetapi Siang In adalah seorang gadis kang-ouw yang gagah perkasa, tentu saja dia tidak mau dipaksa dalam soal perjodohan. Karena itu, sebaiknya Paman dan Bibi tidak mengajukan pinangan lebih dulu, akan tetapi memberi kesempatan kepada Kanda Cin Han untuk bergaul dengan Siang In. Dekatilah dia, Kanda. Kalau nanti sudah ada persetujuan kedua pihak, kalau Siang In sudah dapat menerima perasaan cinta Kakanda, barulah pinangan diajukan lagi sehingga tak mungkin gagal untuk kedua kalinya.”

Selagi mereka bercakap-cakap itu, seorang pengawal memberi-tahu Pangeran Cin Boan bahwa di luar ada seorang tamu mohon bertemu Pangeran Cin Boan. Ketika mendengar bahwa tamu itu adalah Thio Ki, Pangeran Cin Boan segera menyuruh pengawal itu untuk membawa tamunya ke ruangan tamu lalu dia mengajak isterinya, Cin Han, serta Moguhai untuk menemaninya menerima kunjungan Thio Ki.

Thio Ki memasuki ruangan tamu. Begitu melihat pangeran Cin Boan menyambut bersama isteri serta puteranya, juga melihat Puteri Moguhai berada di sana, wajah Thio Ki menjadi kemerahan dan dia tampak gugup.

“Ahh, maafkan saya, Pangeran. Kalau saya mengganggu Paduka sekeluarga...”

“Tenanglah, Saudara Thio Ki, silakan duduk,” kata Pangeran Cin Boan. Sesudah semua orang mengambil tempat duduk, dia lalu berkata lagi, “Saudara Thio, engkau sama sekali tidak mengganggu kami, bahkan kami pun turut merasa gembira melihat engkau sekarang telah sembuh dan sehat kembali. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan selamat atas kembalinya semua barang yang dirampok itu.”

Melihat sikap dan mendengar ucapan yang amat ramah dari pangeran itu, Thio Ki merasa semakin terpukul dan dia berkata dengan suara gemetar.

“Pangeran, saya memberanikan diri menghadap Paduka sekeluarga ini, betul-betul untuk mohon maaf, bukan hanya karena sudah mengganggu Paduka dengan kedatangan saya ini, melainkan untuk hal lain yang membuat saya merasa tidak enak hati dan malu.”

Puteri Moguhai berkata, “Karena Paman Thio Ki hendak bicara dengan Paman Pangeran sekeluarga, maka lebih baik aku keluar dari ruangan ini.”

“Ah, Moguhai, engkau termasuk keluarga kami, tentu saja engkau boleh ikut mendengar juga. Bukankah begitu, Saudara Thio Ki?”

Thio Ki mengangguk. “Saya malah merasa senang jika Puteri Moguhai sudi menjadi saksi dan ikut mendengarkan. Pangeran, sesungguhnya ketika Bhe Liang melaporkan kepada saya sekeluarga bahwa Paduka yang mendalangi perampokan itu, saya pernah bimbang dan percaya akan keterangan itu yang ternyata hanya merupakan fitnah belaka. Karena itu saya mohon maaf sebesar-besarnya, apa lagi sesudah mendengar bahwa Cin-kongcu yang membawa pasukan sehingga menyelamatkan puteri saya dan semua barang dapat direbut kembali. Sungguh kami merasa amat menyesal pernah meragukan kebijaksanaan dan kebaikan hati Paduka.”

Pangeran Cin Boan tersenyum, kemudian dengan ramah berkata, “Saudara Thio, engkau sekeluarga tidak perlu merasa bersalah dan minta maaf. Kalian sama sekali tak bersalah. Puteri Moguhai sudah menceritakan semuanya kepada kami dan keluargamu sama sekali tidak mempunyai prasangka buruk terhadap kami. Hanya Si Jahat Bhe Liang yang sudah menjatuhkan fitnah kepada kami. Bagaimana mungkin kami akan meragukan ketulusan hatimu, Saudara Thio Ki? Engkau melindungi barang-barang kami dengan taruhan nyawa hingga terluka. Kemudian, dalam usaha menumpas gerombolan perampok hingga barang-barang berhasil direbut kembali, puterimu juga memegang peran penting. Tidak, engkau sekeluarga tidak mempunyai kesalahan apa pun. Bahkan kamilah yang membuat engkau mengalami kesusahan dengan penitipan barang-barang kiriman itu sehingga memancing munculnya perampok.”

Hati Thio Ki amat lega mendengar jawaban itu. Dia lalu bercakap-cakap dengan keluarga pangeran itu dalam suasana yang ramah dan akrab seperti dua orang sahabat lama yang sudah lama tidak bertemu. Melihat ini Puteri Moguhai menjadi senang sekali. Maka, ketika Thio Ki berpamit hendak pulang, dia berkata kepada Cin Han.

“Kanda Cin Han, sebaiknya Kanda mengantar Paman Thio Ki pulang untuk membuktikan bahwa keluarga Paman Pangeran Cin Boan tidak mempunyai perasaan buruk terhadap keluarga Paman Thio.”

Thio Ki terkejut dan cepat berkata, “Ah, mana saya berani menerima kehormatan seperti itu? Saya tidak berani merepotkan Cin-kongcu...!”

Cin Han yang sudah menangkap apa yang tersirat di dalam ucapan Puteri Moguhai tadi, sudah bangkit lantas berkata, “Paman Thio Ki, sama sekali Paman tidak merepotkan dan ucapan Dinda Moguhai tadi memang tepat sekali. Sudah sewajarnya kalau saya mewakili Ayah mengantar Paman pulang sebagai bukti bahwa tidak ada perasaan buruk sedikit pun di antara keluarga kami dan keluarga Paman.”

Mendengar ucapan itu tentu saja Thio Ki tak berani membantah lagi dan pergilah mereka berdua menuju rumah Thio Ki. Sesudah mereka pergi, sambil tersenyum senang Puteri Moguhai berkata kepada Pangeran Cin Boan dan isterinya.

“Nah, dugaanku tadi benar, bukan? Percayalah, Paman dan Bibi, apa bila Kanda Cin Han sudah berkenalan langsung dengan Siang In, maka perjodohan antara mereka itu bukan merupakan persoalan yang sulit lagi.”

Suami isteri itu tertawa, kemudian isteri Pangeran Cin Boan bertanya. “Moguhai, engkau tampaknya bersungguh-sungguh ingin melihat kakakmu berjodoh dengan Siang In!”

“Dan betapa sama benar wajahmu dengan Thio Siang In!” kata pula Pangeran Cin Boan.

Moguhai tertawa. “Paman dan Bibi, Siang In adalah seorang sahabatku yang paling baik, juga saudara seperguruanku. Di samping itu kami berdua juga amat mirip satu sama lain. Kami saling menyayangi dan saya ingin melihat Siang In hidup berbahagia. Saya merasa yakin bahwa jika dia menjadi isteri Kanda Cin Han maka dia pasti akan menjadi seorang isteri yang baik dan berbahagia.”

Pangeran Cin Boan lantas mendesak. “Dan engkau sendiri, Moguhai? Engkau pun sudah dewasa, sudah sepantasnya kalau engkau juga menjadi seorang ibu rumah tangga.”

Moguhai tertawa. “Wah, kalau saya... hemm, saya belum menemukan jodoh yang cocok, Paman.” Berkata demikian, wajah Souw Thian Liong terbayang dalam ingatannya. “Kalau tidak ada yang cocok maka saya tidak akan menikah.”

Suami isteri itu saling pandang lalu isteri pangeran itu berkata, “Hemm…, anak sekarang memang aneh-aneh jalan pikirannya. Selain sering tidak sejalan dengan pikiran orang tua dan suka mencari jalan sendiri, juga terkadang bersikap aneh-aneh.”

Moguhai tersenyum. “Tidak semua, Bibi. Bukankah Kanda Cin Han adalah seorang anak yang penurut, taat, berbakti dan baik?”

“Memang dia sangat baik,” ibu itu mengangguk-angguk. “Akan tetapi dia juga mempunyai kebiasaan yang amat aneh. Sering kali dia mengunci diri dalam kamarnya dan tidak mau bertemu dengan siapa pun juga. Kalau dia sedang dalam kamarnya, bahkan Ayahnya dan aku pun tidak dapat mengganggunya.”

“Itu tidak aneh, Bibi, bukankah Kanda Cin Han seorang pemuda yang amat tekun belajar sastra sehingga dia berhasil lulus ujian dan menjadi siu-cai (satrawan)?”

“Memang dia sangat aneh kalau sudah mengeram diri di dalam kamarnya, Moguhai,” kata Pangeran Cin Boan. “Dari luar kamarnya kami sering mendengar dia bicara seorang diri.”

“Ahh, tentu dia sedang membuat dan membaca sajak, Paman!”

“Kami juga berpendapat begitu maka kami tidak mau mengganggunya. Akan tetapi hal itu dia lakukan bertahun-tahun dan tentu saja kami beranggapan bahwa dia pun mempunyai keanehan seperti orang muda lainnya!”

“Jangan khawatir, Paman dan Bibi. Apa bila sudah menikah maka dia tidak akan seorang diri lagi kalau mengunci kamarnya!” kata Moguhai sambil tertawa.

Suami isteri itu saling pandang, keheranan mendengar kelakar seperti itu keluar dari mulut Sang Puteri. Akan tetapi Moguhai hanya tertawa dan dia lalu berpamit untuk pergi ke kota raja karena sudah setahun lebih dia meninggalkan istana.....

********************

Lima belas orang lelaki berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun itu bergerak menyusup-nyusup di antara semak belukar dan pohon-pohonan dalam hutan di tepi jalan raya itu. Pakaian mereka ringkas dan pada punggung mereka tergantung golok telanjang yang mengkilap saking tajamnya. Wajah mereka bengis dan sikap mereka kasar. Mereka adalah segerombolan perampok yang tidak segan melakukan segala macam perbuatan jahat. Mencuri, merampok, menganiaya, membunuh merupakan pekerjaan mereka sehari-hari.

Di antara lima belas orang itu terdapat seorang lelaki yang berusia empat puluh tahun dan mukanya penuh brewok, tubuhnya tinggi besar dan matanya lebar serta liar. Orang inilah yang menjadi pemimpin gerombolan berjuluk Hek-kwi (Setan Hitam) yang terkenal kejam, ganas, namun juga tangguh sekali karena memiliki ilmu silat tinggi.

Memang Hek-kwi pantas sekali menjadi pemimpin mereka karena dialah yang paling buas di antara mereka. Dia senang memperkosa wanita, menganiaya serta membunuh sambil tertawa-tawa karena semua perbuatan kejam dan jahat merupakan kesenangan baginya. Entah sudah berapa banyak wanita yang dia permainkan dan orang-orang yang dibunuh olehnya.

Namanya sudah sangat terkenal dan ditakuti di sekitar daerah Kam-tin. Bahkan pasukan keamanan Kam-tin juga tak berdaya karena gerombolan ini pandai menyembunyikan diri. Mereka mendadak menghilang apa bila disergap oleh pasukan yang kuat, tetapi jika pihak penyerbu kurang kuat, tentu akan dibasmi habis oleh gerombolan yang ganas ini.

Banyak saudagar yang mengalihkan daerah perdagangan mereka ke lain tempat sehingga jalan menuju ke Kam-tin menjadi sunyi. Karena tidak banyak yang dapat dirampok di jalan yang melalui hutan itu, Hek-kwi kadang membawa anak buahnya untuk merampok dusun-dusun di daerah itu. Gerombolan kejam ini tidak segan untuk mengganggu dan merampok penduduk yang sudah melarat hidupnya.

Pada pagi hari itu, lima belas orang ini menyelinap di antara pohon-pohon, mengikuti dan mengintai seorang pejalan kaki yang mereka anggap aneh. Orang itu bertubuh kecil saja, dari belakang tampak seperti seorang pemuda remaja. Kepalanya tertutup sebuah caping lebar sehingga mukanya tidak bisa terlihat jelas akibat tertutup bayangan capingnya. Dari belakang orang itu tampak kecil tidak mengesankan, pakaiannya serba merah muda dan dari warna pakaiannya ini saja gerombolan itu segera menduga bahwa orang itu tentulah seorang wanita! Wanita yang dilihat dari bentuk tubuhnya yang kecil langsing tentu masih seorang gadis muda atau mungkin juga seorang nenek yang sudah tua. Akan tetapi kalau dia seorang nenek, tentu tidak memakai pakaian berwarna merah muda seperti itu.

Hek-kwi memberi isyarat kepada anak buahnya dan lima belas orang itu lalu berloncatan sambil mengeluarkan pekikan seperti segerombolan binatang buas, menghadang pejalan kaki itu. Mereka memandang penuh perhatian kepada orang bercaping itu dan terpesona. Hek-kwi sendiri yang berdiri paling depan langsung terbelalak dan berdecak kagum, lalu menyeringai gembira.

Orang ini ternyata adalah seorang gadis yang berusia sekitar dua puluh tahun. Kepalanya tertutup caping, tetapi masih dapat dilihat bahwa rambutnya hitam dan panjang, digelung ke atas dan ditutupi caping. Pakaiannya dari sutera merah muda, bentuknya sederhana saja namun bersih dan rapi.

Wajah gadis itu bulat telur, sinom (anak rambut) di dahi dan pelipisnya membuat wajah itu tampak manis, dahinya halus, alisnya hitam tebal tetapi kecil panjang, matanya bersinar-sinar laksana bintang, bersinar tajam namun kelihatan sayu seperti merenung, hidungnya kecil mancung, mulutnya indah dengan bibir merah basah serta lesung pipit di kanan kiri mulutnya yang menambah kejelitaannya. Dagunya agak runcing. Kulitnya putih mulus dan tubuhnya ranum, padat dengan pinggang ramping. Tubuhnya bagian atas tertutup sebuah jubah yang lebar berwarna biru. Gadis ini bukan lain adalah Han Bi Lan.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner