JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-16


Seperti yang kita ketahui, Han Bi Lan yang remuk perasaan hatinya mendapat kenyataan bahwa setelah ditinggal mati ayahnya dia memperoleh keterangan bahwa ibunya seorang bekas pelacur, menjadi liar karena malu, marah dan sakit hati. Dia mengamuk di rumah-rumah pelacuran, menghajar serta melukai para laki-laki yang mengunjungi rumah pelesir, terutama para bangsawan dan hartawan, mengobrak-abrik rumah-rumah pelesir sehingga namanya terkenal dan ditakuti, bahkan dijuluki Ang I Moli (Iblis Betina Baju Merah)! Akan tetapi semua itu belum dapat menenteramkan hatinya. Dia menjadi gelisah oleh rasa malu dan duka sehingga dia tidak mengurus dirinya lagi.

Kemudian Bi Lan bertemu dengan seorang yang aneh luar biasa, yang mengaku berjuluk Heng-si Ciauw-jiok (Mayat Hidup Berjalan) dan akhirnya dia menjadi murid manusia aneh seperti setan ini selama kurang lebih setahun. Biar pun dia sudah berjanji bahwa setelah dia dianggap selesai belajar, dia harus mengubur gurunya itu hidup-hidup, namun setelah saatnya tiba, diam-diam Bi Lan minggat, meninggalkan gurunya itu karena bagaimana pun juga tidak mungkin dia tega mengubur gurunya hidup-hidup!

Demikianlah, sekarang Bi Lan merantau lagi dengan hanya ada dua tujuan dalam hatinya. Pertama, ia akan mencari Ouw Kan dan dua orang murid Ouw Kan yang telah membunuh ayahnya. Kedua, dia akan mencari Souw Thian Liong untuk membalas penghinaan yang dilakukan pemuda itu kepadanya. Pemuda itu telah menampar bukit pinggulnya sebanyak sepuluh kali. Dia akan membalas kekalahannya dan membalas penghinaan itu. Dia harus menampar Thian Liong sebanyak dua kali lipat!

Sesudah mendapatkan gemblengan selama satu tahun dari Si Mayat Hidup Berjalan, kini tingkat kepandaian Bi Lan menjadi berlipat ganda tingginya. Padahal ia hanya digembleng untuk memperkuat tenaga saktinya dan mempelajari ilmu silat aneh sebanyak tiga belas jurus yang disebut Sin-ciang Tin-thian (Tangan Sakti Menjagoi Kolong Langit).

Pada pagi hari itu dia berjalan melenggang seenaknya di jalan raya dalam hutan di daerah Kam-tin. Tentu saja pendengarannya yang amat peka itu telah dapat menangkap gerakan lima belas orang yang membayangi dan mengintainya, akan tetapi dia diam saja dan tetap melenggang dengan tenang.

Sesudah melihat bahwa orang yang mereka intai itu hanya seorang gadis yang wajahnya tersembunyi di bawah bayangan caping lebar, Hek-kwi lalu memberi isyarat kepada empat belas orang anak buahnya. Mereka berlompatan keluar dari tempat pengintaian mereka sambil berteriak-teriak dan tertawa-tawa, bahkan ada pula yang menari-nari berjingkrakan di hadapan Bi Lan karena melihat bahwa yang mereka hadang itu ternyata hanya seorang wanita muda!

Bi Lan segera menahan langkahnya lantas mengangkat mukanya menengadah. Gerakan yang disentakkan ini membuat capingnya terlepas dari kepalanya sehingga tergantung di punggungnya dan wajahnya kini tampak seluruhnya.

Mereka yang sedang berteriak-teriak, tertawa dan menari mendadak menghentikan suara serta gerakan mereka. Juga Hek-kwi menjadi tertegun dan terpesona memandang gadis yang berada di depannya itu.

“Bidadari...! Dewi dari sorga...!” kata Hek-kwi.

Lima belas orang lelaki kasar dan buas itu menatap Bi Lan dengan pandangan mata yang seolah-olah hendak menelan hidup-hidup gadis yang cantik jelita itu. Pandang mata Hek-kwi seakan menggerayangi dari kepala sampai ke kaki Bi Lan.

Sesudah menjadi murid Si Mayat Berjalan selama setahun, watak yang lincah jenaka dari Bi Lan seolah menghilang. Atau lebih tepat lagi, sejak dia mendapat kenyataan bahwa ibu kandungnya seorang bekas pelacur, gairah dan kegembiraan hidupnya seolah melayang pergi. Kini wajahnya yang cantik tampak muram seolah matahari tertutup mendung hitam tebal. Bibir yang bentuknya indah dan merah membasah itu kini terkatup dan tidak pernah tersenyum. Sepasang matanya yang biasanya kocak dan lembut gembira, sekarang tajam menusuk dan sering kali mencorong menyeramkan.

Akan tetapi sikap kereng Bi Lan ini tidak terlihat oleh Hek-kwi beserta anak buahnya yang mata keranjang dan selalu memandang rendah orang lain. Hek-kwi tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha! Kawan-kawan, yang ini untuk aku sendiri! Siapa yang berani mengganggunya akan kuhajar sampai mati!”

Dia memandang ke arah anak buahnya. Semua anak buahnya tertawa dan mengangguk menyetujui. Hek-kwi lantas menghadapi Bi Lan yang masih berdiri tegak dan tenang, lalu bertanya dengan suara nyaring dan sikap dibuat-buat agar tampak gagah menarik.

“Wahai bidadari yang cantik jelita. Siapakah namamu, datang dari mana dan hendak pergi ke mana? Ketahuilah, aku adalah yang terkenal di seluruh dunia dengan julukan Hek-kwi, akan tetapi aku tidak kasar seperti setan, melainkan lembut seperti dewa bila berhadapan dengan bidadari seperti engkau. Betul tidak, kawan-kawan?”

“Betul...!” Anak buahnya menjawab sambil tertawa ramai.

Bi Lan diam saja. Tidak bergerak dan tidak menjawab, bahkan pandang matanya tak acuh seolah-olah belasan orang tidak tampak olehnya.

Melihat gadis itu hanya diam saja, sama sekali tidak memandangnya dan tidak bergerak, apa lagi menjawab, Hek-kwi pun mengerutkan alisnya.

“Hei, Nona manis. Mengapa engkau diam saja? Aih, jangan-jangan engkau tuli dan gagu! Wah, sayang kalau begitu, begini cantik tidak dapat mendengar dan tidak dapat bicara.”

“Ha-ha, Twako, (Kakak), kebetulan kalau begitu. Kelak sesudah menjadi isterimu dia tidak banyak rewel dan tidak dapat mengomel!” Anak buah gerombolan itu berkata dan semua kawannya tertawa riuh rendah.

Hek-kwi tersenyum dan mengangguk-angguk. “Wah, benar juga katamu itu! Kalau sudah menjadi isteriku lalu cerewet dan tukang mengomel, minta ampun! Ehh, Nona manis calon biniku, mari ikut pulang bersamaku!” Hek-kwi lalu maju dan hendak merangkul.

Bagaikan baru sadar bahwa di depannya terdapat banyak lelaki yang hendak menyentuh dan merangkulnya, Bi Lan segera menggerakkan tangan kirinya sambil mulutnya berkata lantang. “Mampuslah!”

Hek-kwi adalah seorang yang tangguh, maka begitu melihat berkelebatnya tangan Bi Lan, dia cepat mengangkat lengan kanan ke atas untuk menangkis.

“Krekkk...!”

Hek-kwi menjerit. Tubuhnya segera terpental sampai tiga meter ketika lengannya bertemu dengan tangan kiri Bi Lan! Dia pun cepat melompat bangun sambil menyeringai kesakitan karena tulang lengan kanannya telah patah! Dia bukan hanya terkejut, akan tetapi marah bukan main.

“Perempuan keparat!” Dia memaki dan tangan kirinya mencabut golok yang tergantung di punggungnya.

Hek-kwi terkenal dengan permainan goloknya. Walau pun kini lengan kanannya tak dapat dipergunakan karena tulangnya patah, tetapi dengan tangan kirinya dia dapat memainkan golok itu sama mahirnya dengan tangan kanan. Setelah mencabut golok besarnya, sambil mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau terluka, dia berlari menerjang ke arah Bi Lan lalu menyerang dengan sabetan goloknya ke arah leher gadis itu. Kini semua gairah birahinya lenyap, terganti gairah untuk membalas dendam dan membunuh!

Sepasang mata indah itu berkilat mencorong dan seolah Bi Lan tidak tahu akan bahaya maut yang mengancamnya. Golok itu menyambar cepat sekali, tetapi dara itu masih diam saja. Namun, ketika golok sudah sangat dekat, dia cepat merendahkan kepalanya sambil tangan kanannya bergerak dari bawah ke atas dan tahu-tahu golok itu telah ditangkap jari-jari tangan kanannya. Dengan sekali renggut golok itu lantas terlepas dari pegangan Hek-kwi. Setelah golok terampas, Bi Lan segera menggerakkan tangan kanan ke depan.

“Cappp...!” Golok itu menancap di dada Hek-kwi.

Kedua mata Hek-kwi terbelalak memandang ke arah dadanya, seolah tidak percaya akan apa yang terjadi, kemudian tubuhnya terpental ke belakang karena ditendang kaki Bi Lan. Dia terbanting roboh dan tewas seketika karena goloknya sendiri menembus jantungnya!

Empat belas orang anak buah gerombolan itu terbelalak kaget, tetapi mereka juga marah bukan main. Orang-orang kasar ini selalu merasa diri sendiri paling kuat, apa lagi mereka berjumlah banyak. Mereka tidak menyadari bahwa dari kenyataan tadi, betapa dalam satu gebrakan saja Hek-kwi lantas tewas, telah membuktikan bahwa dara yang mereka hadapi itu lihai bukan main. Orang-orang bodoh itu segera mencabut golok mereka, lalu serentak menyerbu dan mengeroyok Bi Lan!

Orang akan terheran-heran kalau menyaksikan apa yang selanjutnya terjadi di atas jalan dalam hutan itu. Bi Lan sama sekali tidak bergeser dari tempat dia berdiri. Ia menyambut semua serangan yang datang dari segenap penjuru ini dengan hanya menggerakkan kaki tangannya, dan tahu-tahu tubuh para pengeroyok lantas berpelantingan dan terlempar ke belakang sejauh tiga meter lebih dan begitu jatuh mereka langsung tewas!

Dalam waktu beberapa menit saja dua belas orang anak buah gerombolan telah terlempar roboh dan tewas. Dua orang sisanya yang belum sempat menyerang sehingga tidak ikut tewas, kini menjadi pucat ketakutan dan mereka segera memutar tubuh melarikan diri.

Bi Lan menendang dua kali ke arah golok-golok yang berserakan di depan kakinya. Dua batang golok meluncur seperti anak panah lalu dua orang yang melarikan diri itu menjerit dan roboh dengan punggung tertembus golok dalam keadaan tewas seketika. Lima belas orang gerombolan itu dalam waktu singkat tewas semua tanpa Bi Lan bergeser selangkah pun dari tempat dia berdiri!

Bi Lan memandang sekelilingnya, ke arah mayat-mayat yang berserakan di sekitarnya. Wajahnya masih tampak muram tanpa membayangkan perasaan apa pun, lalu hidungnya mendengus seperti orang mencium bau yang tak enak, dan akhirnya dia melangkah pergi dari tempat itu, melangkahi mayat-mayat itu sambil meletakkan kembali capingnya di atas kepalanya.

Bi Lan melanjutkan perjalanan menuju kota raja Kin, dalam usahanya mencari Ouw Kan yang dianggap sebagai musuh besarnya, datuk bangsa Uigur yang dulu pernah menculik dirinya ketika ia masih kecil, juga datuk yang memusuhi orang tuanya, bahkan dua orang murid datuk itu telah menyebabkan kematian ayahnya.

Gadis yang sakit hati ini juga menganggap bahwa Raja Kin turut bersalah sehingga harus dibalasnya karena tentu raja itu yang mengutus Ouw Kan untuk membalas dendam atas kematian Pangeran Cu Si yang tewas di tangan ayahnya dalam perang. Apa lagi ibunya menceritakan betapa dua orang murid Ouw Kan itu tidak jadi membunuh ibunya, setelah mereka melihat surat yang ditinggalkan Puteri Moguhai kepada orang tuanya. Ini hanya berarti bahwa dua orang murid Ouw Kan itu takut kepada puteri raja, maka tentu Raja Kin ada hubungannya dengan pembunuhan terhadap ayahnya. Karena inilah maka sekarang Bi Lan menujukan perjalanannya ke kota raja Kin.

Ketika Bi Lan memasuki kota raja Kerajaan Kin di Peking, Bi Lan melihat bahwa biar pun kota raja ini lebih luas dari pada Lin-an (Hang-chouw), yaitu kota raja Sung di selatan dan memiliki banyak bangunan besar dan kuno, namun kota raja Sung lebih indah. Akan tetapi kehadiran seorang gadis cantik bercaping lebar di kota itu tidak terlalu menarik perhatian orang karena memang banyak macam orang kang-ouw yang berdatangan di Peking, juga banyak suku-suku bangsa di utara dengan beraneka macam pakaian dan model topi atau caping.

Akan tetapi, sejak memasuki pintu gerbang kota raja sebelah selatan, di luar pengetahuan Bi Lan ada beberapa pasang mata yang selalu membayangi gerak-geriknya. Mereka yang membayanginya itu adalah para penyelidik dari pasukan keamanan kota raja.

Mereka selalu mencurigai pendatang baru bangsa Han yang pribumi dari selatan karena bagaimana pun juga, masih ada kecurigaan terhadap Kerajaan Sung di selatan dan setiap pendatang baru dari selatan mungkin saja menjadi mata-mata Kerajaan Sung.

Bi Lan memilih sebuah rumah penginapan besar yang memiliki rumah makan pada bagian depan. Rumah makan Lok-koan merupakan sebuah di antara rumah-rumah makan yang terbesar di kota raja, dengan banyak kamar penginapan yang bersih.

Begitu dia memasuki rumah makan, seorang pelayan tua segera menyambutnya dengan ramah. Pelayan ini tidak merasa heran menyambut seorang gadis cantik jelita berpakaian merah muda yang berwajah dingin. Banyak tokoh aneh yang telah dia jumpai dan dia pun dapat menduga bahwa gadis ini tentu seorang gadis kang-ouw (sungai-telaga, persilatan) yang sedang merantau.

“Selamat sore, Nona, dan silakan duduk, Nona hendak memesan makanan apakah?”

Bi Lan menjawab dengan suara datar. “Aku ingin menyewa kamar dulu kemudian mandi, setelah itu baru makan.”

“Ahh, baik sekali, Nona. Mari, silakan bertemu dengan pengurus kami untuk mendapatkan kamar.” Pelayan itu lalu mengajak Bi Lan pergi ke sudut ruangan dalam di mana terdapat meja panjang dan di belakang meja itu duduk dua orang laki-laki.

“Nona ini ingin menyewa sebuah kamar,” pegawai itu melaporkan.

“Baik, Nona. Kebetulan masih ada beberapa buah kamar yang belum terisi,” kata seorang di antara mereka sambil membuka buku tamu dan siap dengan mouw-pitnya (pena bulu) untuk mencatat. “Harap Nona menyebutkan nama serta tempat tinggal untuk kami catat, juga berapa hari Nona akan tinggal di rumah penginapan kami.”

Bi Lan adalah seorang gadis yang telah banyak melakukan perantauan dan dia tahu betul bahwa ketika menyewa kamar di rumah penginapan maka tamu harus mencatatkan nama serta alamatnya karena pihak penginapan akan dapat mencari dan menagihnya kalau Si Penyewa pergi secara diam-diam tanpa membayar sewa kamar. Maka dia lalu mengambil kantung uangnya, mengeluarkan dua potong perak dan menaruhnya di atas meja.

“Apakah ini cukup untuk menyewa sebuah kamar selama lima hari?”

Dua orang pengurus itu tersenyum dan si penanya tadi cepat berkata. “Wah, biar berikut makan minumnya selama lima hari, uang Nona mungkin masih ada kelebihannya.”

“Kalau begitu terimalah uang ini lebih dahulu untuk membayar sewa kamar dan makanan selama lima hari. Kelebihannya boleh ambil. Ada pun namaku, kiranya tidak perlu dicatat lagi karena sewanya sudah kubayar lunas di muka.”

Dua orang itu saling pandang lalu mengangguk. Tidak biasa seorang tamu membayar di muka berikut makanannya. Akan tetapi karena gadis itu telah membayar selama lima hari, mereka pun tidak merasa perlu lagi untuk mencatat nama dan alamat gadis itu walau pun di dalam hati mereka ingin sekali mengetahui siapa nama gadis yang cantik jelita namun berwajah dan bersinar mata dingin itu.

“Ahh, baiklah kalau Nona menghendaki demikian. Ini kunci kamar Nona.”

“Aku menghendaki sebuah kamar yang tenang di sudut.”

“Baik, Nona. Di sudut bagian belakang ada kamar kosong. Ini kuncinya. A-sam, antarkan Nona ini ke kamarnya,” kata pengurus itu kepada salah seorang pelayan yang bertugas di rumah penginapan. Pelayan itu mengantarkan Bi Lan ke kamarnya.

Bi Lan cukup senang dengan kamar itu karena cukup bersih dan terawat baik. Kain alas pembaringan dan sarung bantalnya semua bersih dan habis dicuci. Kamar itu mempunyai sebuah jendela yang menghadap ke taman yang sederhana. Karena letaknya paling ujung maka lebih sunyi dan tenang dibandingkan dengan kamar-kamar yang berada di sebelah depan dan tengah.

Setelah mandi dan bertukar pakaian bersih, Bi Lan menyerahkan semua pakaian kotornya kepada pelayan untuk dicuci, kemudian ia meninggalkan buntalan pakaiannya, keluar dari kamar, mengunci pintunya dan pergi ke depan, ke rumah makan.

Tubuhnya terasa segar sehabis mandi air dingin. Hawa udara pada waktu itu tidak dingin, bahkan agak panas karena musim panas sedang kuat-kuatnya. Dia memakai mantelnya, bukan karena kedinginan namun untuk menyembunyikan bentuk tubuhnya yang dia tahu hanya akan menarik pandang mata yang kurang ajar dari kaum pria, hal yang terkadang membuatnya marah sekali.

Semenjak menjadi murid Si Mayat Hidup Berjalan, Bi Lan merasa tak perlu lagi membawa senjata tajam walau pun dia mempunyai keahlian bermain silat pedang. Sekarang segala macam benda dapat saja dia gunakan sebagai senjata yang ampuh. Bahkan dua pasang kaki tangannya juga sudah merupakan senjata yang amat ampuh.

Pelayan rumah makan yang setengah tua tadi menyambut Bi Lan yang datang dari rumah penginapan dengan senyum ramah. Kini Bi Lan tidak memakai capingnya dan wajahnya tampak cantik sekali. Pakaiannya berwarna merah muda dan biar pun potongannya amat sederhana namun pakaian itu bersih. Dia tidak mengenakan perhiasan apa pun, tetapi di dalam kepolosannya ini bahkan tampak lebih segar dengan kecantikannya yang asli tanpa bedak atau gincu. Sayang bahwa wajah yang cantik itu muram dan mendatangkan kesan dingin karena sinar mata itu layu dan mulut itu tidak membayangkan perasaan apa pun.

“Selamat sore, Nona. Sayang tempatnya agak penuh, untung masih ada meja kosong di sudut sana. Mari, silakan, Nona,” kata pelayan itu sambil mendahului menuju ke sebuah meja kosong di sudut kanan bagian depan. Rumah makan itu sekarang penuh tamu yang hendak makan malam.

Bi Lan memesan nasi berikut tiga macam masakan, juga minuman yang tidak begitu kuat seperti arak. Ada tersedia minuman anggur atau semacam sari apel yang tak sekuat arak biasa.

Bi Lan menanti datangnya pesanannya sambil duduk diam di atas kursinya, menghadapi meja. Pada saat itu ruangan penuh tamu yang sebagian besar adalah laki-laki. Lima meja yang berada tidak begitu jauh dari meja Bi Lan diduduki rombongan laki-laki dan mereka semua, tak kurang dari dua puluh orang banyaknya, mengarahkan pandang mata mereka kepada Bi Lan.

Bahkan yang duduk di meja yang berada di belakang gadis itu masih juga melayangkan pandang mata mereka ke arah Bi Lan biar pun yang mereka lihat hanya bagian belakang tubuh gadis itu. Di sana-sini terdengar suara tawa dan jelas bahwa mereka itu menujukan kelakar mereka kepada Bi Lan yang membuat mereka semua merasa kagum.

Tiba-tiba banyak tamu bangkit berdiri, mulai dari yang duduk di bagian terdepan. Mereka bangkit berdiri untuk menghormati rombongan yang baru masuk. Karena Bi Lan duduknya menghadap ke arah pintu depan, maka tanpa disengaja dia pun melihat rombongan itu. Rombongan itu terdiri dari empat orang, akan tetapi semua orang itu menghormati orang yang berjalan paling depan.

Dia seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya tinggi kurus dan wajahnya cukup tampan walau pun pandang mata dan senyum mengejek di bibirnya memberi kesan angkuh sekali. Melihat orang-orang memberi hormat kepadanya, dia mengangkat tangan kanan ke atas seperti seorang raja yang menerima penghormatan rakyatnya! Dari pakaian orang ini dapatlah diduga bahwa dia tentu seorang pemuda bangsawan tinggi yang kaya raya. Pakaiannya serba mewah gemerlapan, dengan mantel bulu indah dan topinya juga dari bulu biruang berwarna putih.

Dapat diduga tiga orang yang berjalan di belakangnya adalah para pengawalnya. Pakaian mereka juga indah, akan tetapi tidak semewah pakaian pemuda yang mereka kawal. Tiga orang laki-laki ini berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, ketiganya bertubuh tinggi besar dan tampak kokoh kuat. Pada punggung masing-masing tergantung sebatang pedang yang besar panjang.

Biar pun orang-orang di rumah makan itu menghormati pemuda yang mereka kawal, akan tetapi tiga orang ini berjalan dengan dada dibusungkan dan langkah mereka tegap, sambil tersenyum bangga seolah-olah merekalah yang diberi hormat banyak orang itu.

Bi Lan melihat betapa dua orang pengurus rumah makan dan rumah penginapan itu cepat bangkit berdiri dan menyambut keempat tamu itu. Sambil membungkuk-bungkuk mereka menyambut dan seorang di antara mereka berkata dengan suara merendah dan ramah.

“Selamat datang, Hiu-kongcu (Tuan Muda Hiu)! Sungguh merupakan sebuah kehormatan besar bagi kami untuk menyambut kunjungan Kongcu. Silakan mengambil tempat duduk di sebelah dalam, Kongcu!”

Akan tetapi pemuda yang disebut Hiu-kongcu itu kebetulan memandang ke arah Bi Lan. Wajahnya berseri dan senyumnya melebar, pandang matanya seolah melekat pada tubuh Bi Lan yang dijelajahinya dengan penuh perhatian. Dia segera berkata kepada dua orang pengurus rumah makan itu.

“Aku ingin duduk di meja itu!” Dia menuding ke arah meja yang berada tepat di depan Bi Lan, meja yang sudah diduduki empat orang laki-laki.

“Akan tetapi meja itu...”

“Suruh mereka pindah ke meja lainnya!” bentak seorang di antara tiga pengawal itu, yang berkumis tebal sambil memandang dua orang pengurus itu dengan mata melotot.

Dua orang pengurus itu saling pandang, lalu keduanya bergegas menghampiri meja yang diminta. Dengan suara berbisik-bisik mereka berdua membujuk kepada empat orang laki-laki untuk pindah meja. Empat orang laki-laki itu adalah tamu dari luar kota, dan mereka tidak mengenal rombongan tamu yang baru masuk, maka mereka tentu saja merasa tidak senang harus pindah meja dan memberikan meja mereka kepada orang lain.

Akan tetapi dua orang pengurus itu membujuk akan memberi potongan separuh harga dari harga makanan yang mereka pesan. Ketika mereka memandang ke arah tiga orang tinggi besar yang melotot kepada mereka, akhirnya mereka tak berani membantah lagi. Mereka terpaksa pindah ke meja lain dan masakan di meja mereka lalu diangkut dan dipindahkan pelayan.

Meja itu lalu dibersihkan dan pemuda beserta tiga orang pengawalnya dipersilakan duduk. Pemuda itu mengambil tempat duduk yang menghadap ke arah Bi Lan sehingga dia dapat saling pandang dengan gadis itu. Dia tersenyum-senyum kepada Bi Lan.

Akan tetapi Bi Lan telah menundukkan pandang matanya dan tidak mengacuhkan mereka lagi. Dia melihat betapa rombongan baru ini dengan semena-mena memaksa tamu untuk pindah, akan tetapi karena hal itu bukan urusannya, maka dia pun tak peduli sama sekali.

Semenjak pengalaman pahit menimpa dirinya, apa lagi sesudah mempelajari ilmu dari Si Mayat Berjalan, Bi Lan tak peduli apa pun juga yang tidak menyangkut dirinya. Kalau dulu, melihat kejadian seperti ini dia tentu akan merasa penasaran sekali dan sudah menghajar rombongan yang sewenang-wenang ini! Akan tetapi sekarang dia sama sekali tak peduli. Juga pandang mata yang penuh gairah dari pemuda berpakaian mewah itu dianggapnya seperti angin lalu saja, sama sekali tidak ditanggapinya.

Meski dia tidak mengacuhkan mereka sama sekali, tetapi tetap saja dia merasa dongkol juga ketika beberapa orang pelayan datang menghidangkan belasan macam masakan di meja rombongan itu, padahal ia yang datang dan memesan lebih dulu belum juga dilayani! Mengertilah dia bahwa tentu pemuda. itu merupakan seorang tokoh yang berpengaruh di kota raja sehingga pengurus rumah makan itu menghormatinya secara berlebihan.

Bi Lan mulai mengerutkan alisnya, merasa disepelekan. Ketika ia melihat pelayan tua tadi, ia menggapai dan pelayan itu cepat menghampirinya.

“Bagaimana ini? Aku yang memesan sejak tadi belum dilayani, tapi orang lain baru datang sudah didahulukan pelayanannya!”

“Aihh, maafkan kami, Nona. Baiklah, akan saya ambilkan pesanan Nona sekarang juga!” Pelayan itu bergegas pergi ke dapur.

Hiu-kongcu berbisik kepada seorang di antara tiga orang pengawalnya dan pengawal yang berkumis tebal itu tersenyum mengangguk-angguk lalu menghampiri Bi Lan.

Sambil menyeringai pengawal tinggi besar berkumis tebal ini lantas mengangguk sebagai penghormatan dan berkata, “Nona, Kongcu kami ingin mengetahui siapakah nama Nona dan di mana Nona tinggal?”

Tanpa memandang kepada siapa pun juga Bi Lan berkata, suaranya terdengar datar dan dingin. “Tidak ada nama dan rumah. Pergilah!”

Pengawal itu memandang heran, lantas berkata, “Nona, engkau tidak tahu siapa Kongcu kami. Agaknya engkau bukan orang sini. Ketahuilah bahwa kongcu kami adalah Kongcu Hiu Kan, putera mendiang Pangeran Hiu Kit Bong, keponakan Sri Baginda Kaisar sendiri! Dan kami bertiga adalah Sam-pak-liong (Tiga Naga Utara) yang menjadi pengawal Hiu-kongcu!”

“Aku tidak peduli. Pergilah!”

Jiu To, pengawal pertama berkumis tebal berusia empat puluh tahun itu semakin terheran sekaligus juga marah, walau pun dia tidak berani memperlihatkan kemarahannya sebelum mendapat perintah majikannya. Maka, sambil menggerakkan dua pundaknya dia terpaksa memutar tubuh lantas kembali ke meja rombongannya. Dia lalu berbisik-bisik dengan Hiu Kan atau Hiu-kongcu dan dua orang rekannya yang bernama Kai Ek dan Lee Song.

Sementara itu pelayan tua sudah datang menghidangkan makanan yang dipesan Bi Lan. Hidangan itu hanya nasi serta tiga macam sayur sederhana, amat tiada harganya apa bila dibandingkan masakan serba daging yang dihidangkan di atas meja putera pangeran itu.

Bi Lan mulai menyantap hidangannya tanpa mengacuhkan lagi empat orang yang duduk di meja sebelah depannya itu. Akan tetapi baru sedikit dia makan, Si Kumis Tebal sudah menghampirinya lagi.

“Nona, Kongcu kami merasa kasihan melihat Nona makan seorang diri dengan sayuran yang terlampau sederhana itu. Maka dengan hormat Hiu-kongcu mengundang Nona untuk makan bersama beliau. Mari, silakan, Nona, harap jangan malu-malu. Jarang Hiu-kongcu memberi penghormatan kepada seorang gadis yang tak dikenalnya dan mengundangnya makan bersama.”

“Jangan ganggu aku lagi. Enyahlah!” Bi Lan menghardik dan kini suaranya mengandung ancaman.

Jiu To Si Kumis Tebal itu merasa malu karena bentakan Bi Lan tadi terdengar oleh para tamu lain, maka dia bergegas menghampiri Hiu-kongcu. Mereka berbicara bisik-bisik dan tidak terdengar oleh para tamu lainnya, akan tetapi pendengaran Bi Lan yang terlatih dan amat peka itu dapat menangkap pembicaraan mereka.

“Kongcu, dia menolak dengan tegas. Agaknya dia bukan gadis sembarangan,” kata Jiu To.

“Jiu-ko (Kakak Jiu), mengapa susah-susah amat? Kalau dia membandel, tarik saja ke sini, apa sukarnya?” kata Kai Ek, pengawal kedua yang pipinya codet bekas luka bacokan.

“Hushh, jangan bikin ribut di tempat umum begini. Apa engkau hendak merusak namaku?” bentak Hiu Kan, putera pangeran itu.

“Kalau Kongcu sendiri yang mengundang, tentu dia akan menerima dengan senang hati. Gadis mana yang takkan suka memenuhi undangan Kongcu? Barang kali sikap Jiu-twako terlalu kasar sehingga dia tersinggung dan menolak.”

“Hemm, aku pun tak mau merendahkan diri mengundang sendiri. Jika dia tetap menolak, bukankah aku akan menjadi malu sekali? Akan tetapi aku sangat menginginkannya, maka aku harus mendapatkan gadis ini. Aku sudah tergila-gila kepadanya. Kalau aku tidak bisa mendapatkannya secara halus, aku akan mendapatkannya secara kasar!” kata pemuda bangsawan itu.

“Maksud Kongcu, sekarang juga kami harus menangkapnya?” tanya Jiu To.

“Bodoh kau! Aku tidak ingin membuat keributan yang akan mencemarkan namaku. Kalian harus menangkap dia kemudian membawanya ke kamarku, tetapi hal itu harus dilakukan tanpa sepengetahuan orang lain. Mengerti?”

“Kami mengerti, Kongcu. Jangan khawatir, nanti malam pasti Kongcu dapat bersenang-senang dengannya.” Mendengar ucapan Jiu To ini, Hiu-kongcu menjadi girang sekali dan dia pun tertawa. Tiga orang pengawalnya juga ikut tertawa gembira, kemudian mereka makan minum sepuasnya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner