JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-17


Semua pembicaraan tadi terdengar jelas oleh Bi Lan. Kebencian memenuhi hatinya. Bila menuruti hatinya, ingin dia membunuh empat orang laki-laki itu di situ pada saat itu juga. Akan tetapi dia amat cerdik dan tahu betul bahwa kalau dia melakukan hal ini, maka kota raja tentu geger karena pemuda itu adalah putera dari seorang pangeran.

Kalau terjadi keributan sehingga dia diburu pasukan keamanan, hal ini akan menghalangi niatnya membalas dendam kepada Ouw Kan dan dua orang muridnya, juga kepada Kaisar Kerajaan Kin! Ia pasti akan membunuh mereka, akan tetapi tidak di sini, di tempat umum begini. Ia akan membunuh mereka tanpa ada orang lain yang mengetahuinya.

Bi Lan sengaja melambatkan makannya sehingga dia baru mengakhiri makannya setelah melihat empat orang itu selesai makan. Ia lalu bangkit berdiri dan memberi isyarat kepada pelayan tua untuk menyingkirkan perabot makan. Pada saat itu dia mendengar pemuda bangsawan itu berbisik kepada tiga orang pengawalnya.

“Kita bayangi dia, aku ingin tahu di mana dia tinggal.”

Mendengar ini, Bi Lan lalu berjalan meninggalkan rumah makan itu. Dia tidak kembali ke kamarnya melainkan pergi ke jalan raya di depan rumah makan. Biar pun dia tidak pernah menengok, tetapi dia tahu benar bahwa empat orang laki-laki itu mengikutinya. Bi Lan lalu berjalan perlahan menuju ke pintu gerbang sebelah selatan.

Ketika ia memasuki kota raja tadi, ia melihat bahwa di luar pintu gerbang sebelah selatan itu, di tepi jalan raya, terdapat sebuah hutan, mungkin hutan buatan di mana kaisar suka pergi berburu. Tempat itu sangat sepi, apa lagi di waktu malam. Dan malam ini kebetulan bulan telah muncul sejak lewat senja sehingga cuaca tidak terlampau gelap.

Empat orang itu merasa heran sekali ketika melihat gadis yang mereka bayangi itu keluar dari pintu gerbang selatan! Beberapa orang prajurit yang berjaga di situ segera memberi hormat kepada Hiu-kongcu, namun pemuda bangsawan itu menanggapinya dengan acuh tak acuh.

Pada waktu mereka keluar dari pintu gerbang selatan dan melihat gadis itu berjalan terus menuju ke hutan yang berada di pinggir jalan, Hiu-kongcu terheran-heran. Kalau saja tidak ada tiga orang pengawal yang menemaninya, tentu dia akan kembali ke kota raja, tidak berani melanjutkan.

“Ah, Kongcu sungguh beruntung. Dia menuju ke tempat sunyi sehingga kita dapat segera menangkapnya tanpa ada orang lain melihatnya,” kata Jiu To sambil menyeringai.

Mendengar ini, Hiu Kan tersenyum dan hatinya senang sekali. Dia sudah membayangkan betapa senangnya kalau dia dapat mendekap gadis yang cantik jelita itu.

Sesudah tiba di tempat yang dituju, Bi Lan meninggalkan jalan raya dan memasuki hutan! Melihat ini, empat orang itu menjadi semakin heran, akan tetapi mereka terus mengikuti gadis itu.

Sebelum hilang rasa heran mereka, tiba-tiba Bi Lan berhenti melangkah. Tempat itu agak terbuka sehingga cahaya bulan dapat menerangi tubuh mereka, maka mereka bisa saling memandang dengan jelas.

Melihat gadis itu berhenti melangkah lantas memutar tubuh menghadapi mereka, empat orang itu pun berhenti dan mereka berdiri di depan Bi Lan, dalam jarak hanya tiga meter. Di bawah sinar bulan yang redup dan lembut, gadis itu tampak laksana seorang bidadari.

“Mau apa sejak tadi kalian mengikutiku?” Bi Lan bertanya dengan suara datar, suara yang tidak memperlihatkan perasaan hatinya, bukan suara marah atau girang atau malu, hanya datar dan dingin saja.

Karena mereka berada di tempat sunyi dan dia sendiri dijaga tiga orang pengawal, maka timbullah keberanian hati Hiu Kan. Dia tersenyum semanis mungkin, lalu melangkah maju mendekati Bi Lan sambil berkata,

“Duhai Nona yang cantik jelita seperti bidadari! Aku cinta padamu, Nona. Marilah engkau ikut denganku dan hidup berbahagia di istanaku, menjadi selirku yang tercinta. Aku akan memberikan pakaian sutera paling halus, perhiasan emas yang lengkap. Manisku, engkau pasti hidup berbahagia. Marilah, manis!”

Dalam pandangan Bi Lan, putera pangeran ini tidak lebih baik dari pada pria bangsawan dan hartawan yang pernah diamuk dan dihajarnya di rumah-rumah pelesir. Apa lagi orang ini berani kurang ajar kepadanya.

“Laki-laki jahanam, kotor dan busuk. Engkau memang tidak layak hidup!” kata Bi Lan dan sekali tangan kirinya bergerak, hawa pukulan yang dahsyat telah menyambar dari telapak tangannya, menghantam dada Hiu Kan.

“Desss...!”

Tubuh Hiu Kan terlempar ke belakang lantas dia terjengkang roboh, tidak mampu bangkit atau bergerak lagi karena dia tewas seketika terkena pukulan maut Bi Lan.

Sam-pak-liong, Tiga Naga Utara itu terkejut bukan main. Sama sekali tidak disangkanya gadis itu akan memukul majikan mereka dan cepat Jiu To berjongkok memeriksa keadaan Hiu Kan. Matanya segera terbelalak dan wajahnya menjadi pucat ketika melihat majikan mudanya itu telah tewas dengan baju dan dadanya menghitam seperti terbakar!

“Keparat! Kongcu telah mati...!” teriaknya.

Kai Ek dan Lee Song terkejut dan marah sekali mendengar majikan mereka tewas dipukul gadis itu. Lee Song yang bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok, menerkam gadis itu dengan marah. Kedua tangannya membentuk cakar dan dia hendak menangkap kedua tangan gadis itu. Gadis pembunuh majikannya ini harus ditangkap dan dihadapkan kepada keluarga Hiu Kan lalu diseret ke pengadilan untuk mendapat hukuman berat.

“Plakkk!”

Bi Lan menggerakkan kedua tangan menangkis dan ketika sepasang tangannya bertemu dengan lengan Lee Song, dia mendapat kenyataan bahwa laki-laki brewok itu mempunyai tenaga sinkang yang amat kuat. Benturan tenaga itu hanya membuat Lee Song terpental ke belakang akan tetapi tidak merobohkannya.

Di lain pihak Lee Song terkejut setengah mati. Dia bersama dua orang suheng-nya (kakak seperguruannya) adalah murid-murid Pak-sian Liong Su Kian, datuk utara yang terkenal sakti dan mereka bertiga mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Dia sendiri memiliki tenaga sinkang yang sangat kuat dan tadi dia sudah mengerahkan tenaganya dan sudah merasa yakin bahwa dia akan dapat meringkus pembunuh majikannya itu. Namun siapa sangka, tangkisan gadis itu membuat dia terpental!

Kai Ek dan Jiu To juga sangat terkejut melihat sute (adik seperguruan) mereka terpental ketika beradu tangan dengan gadis itu. Mereka berdua tidak mempunyai niat yang sama dengan Lee Song. Kalau orang termuda dari Tiga Naga Utara ini ingin menangkap Bi Lan, dua orang kakak seperguruannya ini ingin langsung membunuh gadis yang sudah berani membunuh majikan mereka.

Maka tanpa banyak bicara lagi mereka berdua sudah mencabut pedang mereka. Mereka maklum bahwa gadis yang mampu membuat sute mereka terpental dengan tangkisannya itu tidak boleh dipandang ringan, karena itu mereka langsung menyerang dengan pedang mereka.

“Singgg...! Singgg...!”

“Syuuuttttt...!”

Pedang dua orang ini memang dahsyat bukan main. Dua pedang itu menyambar dengan amat cepat seperti kilat dan mengandung tenaga yang besar sekali.

Diam-diam Bi Lan menjadi waspada. Dia melihat gerakan pedang yang amat dahsyat dan maklum bahwa dia berhadapan dengan orang-orang yang tangguh. Jika diingat, menurut pengakuan mereka tadi bahwa mereka adalah murid-murid Pak-sian (Dewa Utara), maka tidak aneh kalau ketiganya memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.

Ketika dia baru tamat belajar silat dari guru pertamanya, yaitu Jit Kong Lhama, mungkin tingkat kepandaiannya hanya menang sedikit saja dibandingkan salah seorang di antara mereka. Akan tetapi semenjak itu dia telah mendapat tambahan ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat dari kitab milik Kun-lun-pai yang dicurinya dari Souw Thian Liong, kemudian dia malah yang terakhir digembleng Si Mayat Berjalan sehingga tingkat kepandaiannya sudah berlipat ganda.

Kalau Tiga Naga Utara ini maju satu demi satu, dalam beberapa jurus saja dia pasti akan dapat merobohkan mereka. Akan tetapi mereka kini maju bertiga dan semua memegang pedang yang menyambar-nyambar dahsyat dari segenap penjuru. Maka terpaksa Bi Lan harus mengerahkan seluruh tenaganya sambil menggunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh) sehingga tubuhnya seolah berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara gulungan sinar tiga batang pedang itu.

Hebatnya, dengan dua lengan telanjang gadis itu beberapa kali berani menangkis pedang lawan! Tentu saja tiga orang jagoan itu menjadi kaget setengah mati. Sama sekali mereka tak pernah menyangka bahwa gadis yang membuat majikan mereka tergila-gila itu adalah seorang wanita yang memiliki kepandaian seperti iblis betina!

Setelah perkelahian itu berlangsung selama lima puluh jurus lebih dan dia belum mampu merobohkan lawan walau pun tiga orang pengeroyoknya juga tidak dapat melukainya, Bi Lan menjadi marah sekali. Tiba-tiba dia berkelebat menjauhi tiga orang lawannya, lantas mulutnya mengeluarkan pekik melengking dan dua lengannya dikembangkan, kemudian perlahan-lahan kedua tangan itu disatukan kembali dan diangkat seolah dia menyembah langit. Itulah pembukaan dari ilmu silat Sin-ciang Tin-thian yang dia pelajari selama satu tahun dari Si Mayat Berjalan!

Suara lengkingan itu meninggi dan dengan kaget tiga orang pengeroyok itu mengerahkan sinkang mereka sekuatnya menahan serangan suara yang seolah-olah menyerbu telinga mereka dan langsung menyerang jantung.

“Hyaaaaahhh…!” Tubuh Bi Lan berubah menjadi bayangan yang meluncur ke depan.

Tiga orang jagoan itu berusaha untuk menyambut dengan pedang mereka. Namun jurus pukulan ilmu Sin-ciang Tin-thian itu dahsyat luar biasa dan sangat aneh. Dua buah tangan terbuka Bi Lan menyambar sambil mengeluarkan suara bercicit laksana suara kelelawar kesakitan. Tiga orang itu mencoba untuk bertahan, namun tetap saja pukulan-pukulan dari kedua tangan itu mengenai dada mereka.

Kai Ek dan Lee Song terpental dan terjengkang roboh dengan mata mendelik dan tewas seketika. Tetapi Jiu To hanya roboh dan mengeluh, duduk di atas tanah sambil menahan napas dan kedua tangan menekan dadanya.

Selain Jiu To mempunyai tenaga sinkang yang lebih kuat dari pada kedua orang sute-nya, juga Bi Lan memang sengaja tidak membunuhnya, maka dia masih terhindar dari maut. Akan tetapi wajahnya berubah pucat ketika dia melihat gadis itu menghampirinya.

Jiu To adalah murid pertama dari Pak-sian dan dia seorang yang biasanya mengandalkan kekuatan serta kelihaiannya untuk menindas orang lain. Dia dapat bertindak sangat kejam dan sejak menjadi pengawal Hiu-kongcu, dia tak segan-segan melakukan apa saja untuk mentaati perintah majikannya. Akan tetapi selama hidupnya baru sekarang ini dia merasa amat ketakutan.

Melihat Hiu-kongcu tewas, juga kedua orang sute-nya tewas secara mengerikan, dan dia sendiri terluka dan tidak berdaya, dia memandang kepada gadis cantik itu seperti melihat setan yang hendak mencabut nyawanya! Kedua matanya terbelalak, mukanya pucat dan kumisnya yang tebal itu tergetar.

“Ampun... ampunkan saya...” katanya lirih karena meski pun dia sangat ketakutan, akan tetapi ada perasaan malu juga di dalam hatinya bahwa sekarang dia harus minta ampun kepada seorang gadis muda!

“Hemm, orang macam engkau ini tidak patut diampuni.”

“Ahh, ampunkan saya, jangan bunuh saya...” Jiu To meratap dengan lirih seolah jangan sampai terdengar orang lain.

“Aku tidak akan membunuhmu kalau engkau mau memenuhi permintaanku.”

“Katakan, Lihiap (Pendekar Wanita), permintaan apakah yang Nona inginkan? Saya pasti akan memenuhi permintaan itu,” kata Jiu To penuh harapan. Tadi sedikit sekali harapan bahwa dia akan dapat terbebas dari kematian. Akan tetapi mendengar ucapan gadis aneh ini, kini muncul harapan baru dalam pikirannya.

“Katakan, di mana aku dapat menemukan Toat-beng Coa-ong Ouw Kan dan kedua orang muridnya.”

“Lihiap... jika saya memberi-tahu, maukah Lihiap mengampuni saya dan tidak membunuh saya?”

“Aku tidak akan membunuhmu kalau engkau memberi-tahu di mana mereka.”

“Tentu, Lihiap. Tentu saya akan memberi tahu di mana mereka. Toat-beng Coa-ong kini tinggal di kota Ceng-goan, di sebelah selatan kota raja. Dua orang muridnya adalah Bouw Kiang dan Bong Siu Lan, akan tetapi saya tidak tahu di mana adanya mereka. Mungkin saja mereka berada di Ceng-goan pula, atau kalau mereka tidak berada di sana, tentu Ouw Kan mengetahui di mana dua orang muridnya itu berada.”

“Awas, kalau engkau bohong, aku akan mencarimu dan membunuhmu!”

Tiba-tiba saja Bi Lan menggerakkan tangannya. Sinar hitam menyambar ketika tangannya meluncur ke arah lengan Jiu To.

“Krekkk!”

Jiu To terguling dan merintih. Lengan kirinya lumpuh karena tulang lengannya di bawah siku remuk dan terasa sangat panas. Ketika dia mengangkat muka, gadis itu telah lenyap dari situ.

Jiu To mencoba untuk menggerakkan lengan kiri dan dia terkejut sekali karena lengan kirinya, mulai siku ke bawah, tidak dapat merasakan apa-apa. Rasa nyeri hanya dari siku ke atas akan tetapi dari siku ke bawah tidak ada perasaan apa-apa seolah-olah setengah lengannya bagian bawah itu telah mati! Dia lalu meninggalkan tempat itu, menuju ke kota raja untuk minta bantuan untuk mengangkat mayat Hiu-kongcu, Kai Ek dan Lee Song.

Gegerlah para bangsawan di kota raja ketika mendengar akan kematian Hiu Kan dan dua orang pengawalnya yang terkenal lihai. Akan tetapi kematian Hiu Kan ini sama sekali tidak mengguncangkan keluarga kaisar karena Hiu Kan memang tidak disukai oleh keluarga kaisar. Hal ini karena pertama, Hiu Kan adalah putera mendiang Pangeran Hiu Kit Bong yang dulu memberontak terhadap kaisar dan kedua karena pemuda itu terkenal sebagai pemuda tidak berguna, hanya berfoya-foya menghabiskan harta peninggalan ayahnya.

Jiu To yang lengan kirinya tidak dapat digerakkan lagi, segera pergi ke Cin-ling-san untuk menghadap gurunya, yaitu Pak-sian Liong Su Kian, dan melaporkan mengenai kematian dua orang sute-nya.....

********************

Ceng-goan adalah sebuah kota yang cukup besar dan ramai. Kota ini terletak di sebelah selatan kota raja. Karena kota ini berada di daerah perbukitan yang berhawa sejuk dan pemandangannya amat indah, maka banyak para bangsawan kota raja mendirikan rumah peristirahatan di situ. Maka, di daerah perbukitan itu terdapat banyak rumah-rumah yang mungil dan indah, yang hanya dipergunakan terutama di musim panas ketika hawa udara di kota raja luar biasa panasnya.

Di antara rumah-rumah peristirahatan yang terdapat di dalam dan di luar kota Ceng-goan, terutama di lereng-lereng perbukitan, terdapat sebuah rumah mungil yang berdiri di lereng. Rumah itu agak terpencil, tidak mempunyai tetangga dekat dan letaknya di pinggir jurang. Pemandangan alam dari lereng ini memang amat indahnya. Tempatnya sunyi dan tenang, hawanya sejuk. Tempat yang sangat baik bagi mereka yang hendak menjauhkan diri dari semua keramaian yang bising, sibuk, dan panas. Tempat yang diidam-idamkan oleh para pertapa yang ingin mengasingkan diri dari keramaian dunia.

Pondok kecil sederhana ini adalah tempat tinggal Ouw Kan, yaitu seorang datuk berjuluk Toat-beng Coa-ong (Raja Ular Pencabut Nyawa) yang kini telah berusia sekitar tujuh puluh lima tahun. Dia adalah seorang suku Uigur yang amat terkenal, bukan hanya di kalangan sukunya sendiri, namun juga di seluruh wilayah Kerajaan Kin, bahkan namanya sebagai Datuk Sesat terkenal pula sampai jauh di selatan, di wilayah Kerajaan Sung. Dia terkenal sebagai seorang datuk yang berilmu tinggi, sakti dan ditakuti banyak tokoh persilatan.

Pemilik rumah yang merupakan pondok mungil sederhana ini adalah Ouw Kan. Datuk yang berjuluk Toat-beng Coa-ong (Raja Ular Pencabut Nyawa) ini sudah berusia sekitar tujuhpuluh lima tahun. Dia adalah seorang suku Uigur yang amat terkenal, bukan hanya di kalangan sukunya sendiri, akan tetapi juga di seluruh wilayah Kerajaan Kin, bahkan namanya sebagai Datuk Sesat terkenal pula sampai jauh di selatan, di wilayah Kerajaan Sung. Dia terkenal sebagai seorang datuk yang berilmu tinggi, sakti dan ditakuti banyak tokoh persilatan.

Selama puluhan tahun Ouw Kan bertualang di dunia persilatan dan sebagai seorang datuk sesat hampir tidak ada kejahatan yang belum pernah dilakukannya! Akan tetapi tidak ada kesenangan apa pun di dunia ini yang takkan berakhir dengan kebosanan. Dalam usianya yang sudah tua itu, Toat-beng Coa-ong Ouw Kan mulai merasa bosan dengan kegiatan dalam hidupnya. Dia merasa jemu dengan segala perbuatan jahatnya. Bahkan dia mulai menyesali semua perbuatan jahat yang pernah dia lakukan. Dia mulai merasa takut akan masa depannya, takut akan bayangan keadaan dirinya setelah dia mati nanti.

Dia menyadari bahwa usianya yang semakin tua itu makin mendekatkan dirinya dengan akhir kehidupannya. Setelah itu bagaimana? Dia mulai merasa takut, apa lagi bila teringat akan cerita bahwa dosa-dosa yang dilakukan manusia sewaktu hidupnya akan diadili dan si pelaku kejahatan akan menerima hukuman atas segala perbuatannya yang jahat. Dia mulai merasa ngeri karena setelah mati dia tidak akan dapat lagi mengandalkan kesaktian yang dimilikinya.

Selagi hidup dia tidak takut menghadapi segala akibat dari perbuatannya karena dia dapat menggunakan segala kemampuannya untuk membela diri. Akan tetapi bagaimana setelah dia mati dan tidak lagi dapat menggunakan segala macam ilmu yang pernah dia pelajari? Dalam keadaan tidak berdaya dia harus berhadapan dengan Giam-lo-ong (Raja Akhirat). Ouw Kan mulai merasa ngeri sehingga mulailah dia mengasingkan diri di tempat sunyi itu, merenungkan segala perbuatannya di masa lalu dan mulai merasa menyesal.

Demikianlah keadaan Toat-beng Coa-ong Ouw Kan yang kini sudah berusia tujuh puluh lima tahun. Sekarang dia lebih banyak duduk bersemedhi, tidak mau mencampuri urusan duniawi. Segala keperluannya sehari-hari dilayani oleh seorang pembantu wanita setengah tua, penduduk dusun di bawah lereng, seorang janda dusun sederhana. Kakek ini tidak pernah kekurangan sesuatu karena semua kebutuhannya dicukupi oleh Kaisar Kerajaan Kin. Bahkan rumah itu pun merupakan pemberian kaisar kepada datuk ini.

Pada pagi itu Ouw Kan duduk bersila di sebuah bangku yang berada di pekarangan depan rumahnya. Setiap pagi, setelah matahari bersinar, dia selalu duduk bersila di atas bangku depan rumah itu untuk membiarkan dirinya bermandi sinar matahari yang menyehatkan. Kehangatan sinar matahari membuat hawa udara yang dingin menjadi sejuk dan nyaman. Di hadapannya terdapat sebuah meja kecil dan tadi pelayannya menghidangkan minuman air teh hangat dengan poci dan cangkirnya yang diletakkannya di atas meja.

Kini Ouw Kan sedang tenggelam dalam Siu-lian (semedhi) sehingga dia tidak melihat dan tidak tahu bahwa ada seorang gadis yang berpakaian serba merah muda dan kepalanya tertutup caping lebar memasuki pekarangan, berhenti dan berdiri memandang kepadanya dengan penuh perhatian. Gadis ini bukan lain adalah Han Bi Lan. Sesudah mendapatkan keterangan Jiu To bahwa Ouw Kan tinggal di Ceng-goan, Bi Lan segera saja menuju ke kota itu. Di Ceng-goan dia kembali mencari keterangan tentang Ouw Kan.

Ternyata tidak sukar mencari keterangan ini karena hampir semua penduduk kota Ceng-goan tahu akan nama datuk besar itu, maka dengan mudah Bi Lan mendapat keterangan bahwa orang yang dicarinya itu tinggal di lereng bukit ini. Setelah tiba di situ, dia langsung memasuki pekarangan dan begitu melihat seorang lelaki tua duduk bersila di atas bangku bermandi sinar matahari, dia berhenti melangkah lalu berdiri memandang penuh perhatian.

Kakek itu tampak tua sekali. Rambut dan jenggotnya yang panjang sudah putih semua. Badannya masih tegak namun kurus. Walau pun kini Ouw Kan sudah jauh lebih tua dari pada belasan tahun yang lalu, namun Bi Lan masih dapat mengenalnya.

Kakek inilah yang dahulu menculik dan melarikannya. Inilah Toat-beng Coa-ong Ouw Kan. Keyakinannya bertambah kuat ketika dia melihat sebatang tongkat dari ular kobra kering berada di atas meja depan kakek itu.

“Ouw Kan...!” Bi Lan berseru memanggil.

Kakek yang duduk bersila dengan kedua mata terpejam itu segera membuka matanya. Setelah sepasang mata itu dibuka, wajah Ouw Kan tampak menyeramkan. Mata itu lebar dan bersinar tajam dan liar, biji matanya bergerak berputar-putar. Dia memandang kepada gadis yang berdiri dalam jarak sepuluh meter di depannya itu, lalu mengerutkan alisnya, merasa ragu apakah benar pendengarannya tadi menangkap suara gadis itu memanggil namanya. Rasanya tidak mungkin ada seorang gadis berani memanggil namanya begitu saja!

“Hemm, engkaukah yang tadi memanggil namaku?”

”Ouw Kan, aku datang untuk mencabut nyawamu!”

Ouw Kan merasa semakin heran. Dia melihat betapa sinar mata gadis itu dingin luar biasa sehingga nampak menyeramkan. Akan tetapi dia merasa geli dan aneh. Dia yang berjuluk Raja Ular Pencabut Nyawa, kini malah akan dicabut nyawanya oleh seorang gadis muda!

“Bocah lancang! Siapakah engkau yang begitu kurang ajar terhadap Toat-beng Coa-ong Ouw Kan?”

“Hemm, tua bangka keparat! Lupakah engkau akan anak perempuan yang belasan tahun lalu kau culik dan kau larikan dari Lin-an (kota raja Kerajaan Sung Selatan)?”

Ouw Kan membelalakkan matanya dan memandang penuh perhatian. Tentu saja dia tidak pernah melupakan peristiwa yang memalukan hatinya itu.

Dia mendapat tugas dari Kaisar Kin untuk membalaskan kematian Pangeran Cu Si yang tewas dalam perang di tangan suami isteri Han Si Tiong dan Liang Hong Yi. Tetapi ketika dia mendatangi rumah Han Si Tiong, suami isteri yang dicarinya itu tidak ada, yang ada hanya anak tunggal mereka, seorang anak berusia tujuh tahun. Dia lalu menculik anak itu untuk diserahkan kepada Kaisar Kin, akan tetapi di tengah perjalanan, anak itu dirampas oleh Jit Kong Lhama. Dia terpaksa melarikan diri dan meninggalkan anak perempuan itu karena dia tidak mampu menandingi kelihaian pendeta Lhama dari Tibet itu.

Dalam penasarannya dia masih berusaha untuk membunuh suami isteri itu, namun gagal. Akhirnya dia menugaskan dua orang muridnya, yaitu Bouw Kiang dan Bong Siu Lan untuk membunuh Han Si Tiong dan Liang Hong Yi.

Hatinya terasa puas mendengar keterangan dua orang muridnya bahwa mereka berhasil merobohkan suami isteri itu yang akhirnya membuat Han Si Tiong tewas. Akan tetapi dua orang muridnya tidak berhasil membunuh Liang Hong Yi karena mereka merasa jeri ketika menemukan surat yang terselip pada ikat pinggang wanita itu, surat yang ditulis oleh Pek Hong Nio-cu atau Puteri Moguhai!

Akan tetapi hati Ouw Kan sudah merasa puas karena Han Si Tiong dikabarkan tewas oleh dua orang muridnya itu. Dan kini, tiba-tiba saja anak perempuan yang dulu diculiknya lalu dirampas oleh Jit Kong Lhama itu muncul di depannya dan mengancam akan membunuh dia!

Ouw Kan mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Ho-ho-ho, aku ingat sekarang! Engkau bocah nakal itu! Hemm, siapa pula namamu? Aku sudah lupa lagi.”

“Namaku Han Bi Lan, ingat itu agar engkau tidak menjadi setan penasaran dan tahu siapa yang membunuhmu.”

Tiba-tiba Ouw Kan tertawa, suara tawanya bergaung dan mengandung getaran dahsyat yang memiliki wibawa amat kuat. “Ho-ho-ho-ha-ha! Han Bi Lan bocah nakal, hayo tertawa bersamaku, ha-ha-ha!”

Namun suara tawa kakek itu makin melemah dan akhirnya berhenti, matanya terbelalak memandang ke arah gadis itu, terheran-heran melihat gadis muda itu sama sekali tidak terpengaruh oleh kekuatan sihir yang terkandung dalam suara tawanya.

Tawanya tadi merupakan serangan pertamanya yang hebat. Biasanya, lawan yang cukup tangguh pun akan terpengaruh oleh kekuatan sihir dalam tawa itu sehingga turut tertawa sampai terpingkal-pingkal dan kalau tidak segera dia hentikan, bukan mustahil lawan yang terpengaruh itu akan tertawa sampai rusak isi perutnya dan mati.

Akan tetapi gadis muda itu tetap berdiri tegak. Wajahnya tetap dingin tanpa ada bayangan perasaan apa pun, dan sinar matanya tetap mencorong namun dingin seperti membeku. Serangan sihirnya itu gagal sama sekali, menerpa gadis itu seperti semilirnya angin lalu.

Tentu saja sebagai seorang datuk besar Ouw Kan merasa penasaran sekali. Dia terkenal sebagai seorang datuk besar yang tidak saja memiliki ilmu silat tinggi, tetapi juga terkenal sebagai ahli racun dan ahli sihir. Melihat serangan ini sama sekali tidak terasa oleh Bi Lan, dia merasa terhina sekali.

“Rasakan gigitan ularku!” Ia membentak sambil mengerahkan seluruh tenaga sihirnya, lalu melemparkan tongkat dari ular kobra kering itu ke atas. Tongkat itu melayang ke atas lalu meluncur ke arah Bi Lan, berubah menjadi seekor ular terbang yang menyerang ke arah leher gadis itu dengan moncong terbuka!

Melihat serangan yang dahsyat ini, Bi Lan bersikap tenang saja. Tadi pada saat diserang gelombang suara tawa dia hanya mengerahkan sinkang (tenaga sakti) yang dilatihnya dari Si Mayat Berjalan dan suara tawa itu lewat begitu saja tanpa bisa mengusik perasaannya sehingga dia sama sekali tidak terpengaruh.

Sekarang dia menghadapi serangan tongkat yang menjadi ular terbang yang dia tahu juga merupakan serangan yang didorong kekuatan sihir. Selain tenaga sihir, juga tongkat ular itu mengandung racun sehingga dapat mendatangkan kematian apa bila terkena serangan moncong ular itu.

Tapi Han Bi Lan sama sekali tidak merasa gentar atau gugup. Begitu tongkat menyambar bagai anak panah ke arah lehernya, dia menggerakkan tangan kiri yang dimiringkan untuk menangkis dan sekaligus menyerang ular jadi-jadian itu dengan sabetan tangannya yang membuat gerakan membacok.

“Wuuttt...! Plakk!”

Tongkat yang berubah menjadi ular itu terpukul dan terbanting ke atas tanah, lalu mental dan melayang kembali ke tangan Ouw Kan yang cepat menyambut dan memegangnya. Kini dia marah sekali. Tubuhnya yang sudah tua renta itu dengan cekatan sekali langsung melompat ke depan. Gerakannya ringan dan gesit.

Karena kini sudah menyadari bahwa gadis muda itu benar-benar merupakan lawan yang tangguh dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan, maka Ouw Kan tidak berani main-main lagi. Dia maklum bahwa ilmu sihir tidak akan dapat mengalahkan gadis ini, maka kini dia mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua jurus simpanannya untuk menyerang dengan tongkatnya.

Karena datuk ini memiliki ilmu silat tingkat tinggi, maka serangannya juga dahsyat sekali. Tongkatnya berubah menjadi gulungan sinar yang mengeluarkan bunyi berdengung ketika menyambar-nyambar ke arah tubuh Bi Lan dengan serangan beruntun dan bertubi-tubi.

Bi Lan juga sudah mengerahkan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang istimewa karena gemblengan Si Mayat Berjalan membuat semua ilmunya maju pesat. Tubuhnya berubah menjadi bayangan yang berkelebatan cepat bukan main, menyelinap di antara sambaran gulungan sinar tongkat.

Tetapi serangan-serangan Ouw Kan memang dahsyat sekali, maka beberapa kali hampir saja tubuhnya menjadi sasaran sambaran tongkat maut itu. Bi Lan maklum bahwa dia tak akan menang kalau hanya mengandalkan kelincahan gerakannya untuk mengelak terus, tetapi untuk menangkis tongkat itu dengan tangan, dia tidak berani melakukannya.

Tongkat itu berada di tangan Ouw Kan, maka menjadi berbahaya sekali dan jika ditangkis, bukan tak mungkin tangannya akan terluka atau keracunan. Juga kalau hanya mengelak, dia tidak mempunyai kesempatan untuk membalas dan dalam sebuah perkelahian, tidak mungkin mengandalkan pertahanan saja tanpa penyerangan. Karena itu, sesudah lewat lima puluh jurus lebih, tiba-tiba Bi Lan menanggalkan mantel serta capingnya dan kini dia melawan Ouw Kan dengan dua macam senjata.

Mantelnya berada di tangan kirinya dan capingnya berada di tangan kanannya. Ketika dia menggerakkan dua buah benda itu, Ouw Kan terkejut bukan main. Pada saat digerakkan mantel itu seolah berubah menjadi perisai lebar dan sangat kuat, yang mampu menangkis dan membendung hujan serangan tongkatnya. Dan caping itu pun kini mulai menyambar-nyambar dengan serangan yang dahsyat!

Setelah menjadi murid Si Mayat Berjalan, kepandaian Bi Lan telah meningkat sedemikian tinggi sehingga dia tak perlu membawa senjata tajam lagi karena segala benda dapat saja dijadikan senjata yang ampuh.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner