JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-18


Sekarang pertandingan itu menjadi seru bukan kepalang karena Ouw Kan tidak lagi hanya menyerang seperti tadi. Kini mulailah dia harus melindungi dirinya dari caping lebar yang menyambar-nyambar itu. Sebaliknya Bi Lan tidak hanya menghindar terus melainkan kini membalas serangan lawan dengan sama gencarnya. Maka perkelahian itu menjadi seru dan mati-matian. Setiap serangan kedua pihak merupakan cengkeraman tangan maut.

Memang Bi Lan sudah mendapatkan ilmu silat yang amat aneh dan hebat. Gurunya yang pertama, yaitu Jit Kong Lhama, telah mengajarkan ilmu-ilmu silat tinggi, juga mengajarnya tentang racun dan ilmu sihir. Lalu dia sudah mempelajari sampai sepenuhnya menguasai ilmu silat sakti dari Kun-lun-pai, yaitu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat. Sesudah itu, semua ilmunya lalu diperkuat oleh gemblengan Heng-si Ciauw-jiok (Mayat Hidup Berjalan) yang selain memperdalam ilmu-ilmu yang telah dia miliki, juga mengajarkan ilmu Sin-ciang Tin-thian (Tangan Sakti Menjagoi Kolong Langit) yang biar pun hanya tiga belas jurus namun merupakan jurus-jurus aneh dan ampuh sekali. Maka dapat dibayangkan betapa lihainya Bi Lan sekarang.

Namun lawannya juga bukan orang sembarangan. Kakek Ouw Kan adalah seorang datuk besar, terkenal dengan julukan Toat-beng Coa-ong. Selama ini dia tidak pernah berhenti berlatih dan terus memperdalam ilmu-ilmunya sehingga tentu saja dia merupakan seorang lawan yang amat tangguh dan berbahaya sekali bagi Bi Lan.

Bagaimana pun kuat dan tangguhnya seseorang, dia harus tunduk terhadap kodrat alam yang menguasai pula tubuhnya sendiri, yaitu usia tua. Usia tua menggerogoti kekuatan tubuh dari sebelah dalam dan tidak ada ilmu yang dapat menolak kodrat ini.

Kenyataan ini berlaku pula atas diri Ouw Kan. Dia memang seorang yang berilmu tinggi, kuat dan tangguh. Akan tetapi dalam menghadapi usianya sendiri, mau tak mau dia harus tunduk. Tenaganya makin berkurang dan terutama sekali daya tahannya jauh merosot.

Kalau tadi dia masih mampu melakukan perlawanan gigih, bahkan mendesak Bi Lan, kini setelah perkelahian itu lewat dari seratus jurus, napasnya mulai terengah, tubuhnya basah keringat dan tenaganya semakin melemah. Sebaliknya gerakan Bi Lan semakin dahsyat sehingga kini setiap kali tongkat bertemu gulungan kain jubah, Ouw Kan lantas terdorong mundur dan merasa betapa seluruh lengannya yang memegang tongkat tergetar hebat!

Menyadari bahwa tenaganya semakin lemah dan dia pun tidak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri, Ouw Kan menjadi nekat. Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya, menyerang dengan jurusnya yang paling ampuh.

“Hyaaaahhhh…!”

Sambil memekik nyaring dia menyerang dengan tongkatnya yang menghantam ke arah kepala Bi Lan dengan dahsyat sekali.

Bi Lan menggerakkan kain mantel pada tangan kirinya untuk menangkis dan begitu kedua senjata itu bertemu, dengan gerakan pergelangan tangannya Bi Lan dapat membuat ujung gulungan mantelnya itu melibat tongkat di tangan kanan Ouw Kan. Pada saat itu tangan kanannya yang memegang capingnya menyambar ke arah dada Ouw Kan.

Dalam keadaan seperti itu Ouw Kan tidak mampu menghindarkan diri lagi. Maka dengan nekat dia segera menggerakkan tangan kirinya menyambut dan menangkap caping yang meluncur ke arah dadanya itu.

“Wuuttt...! Plakk...!”

Dia berhasil menangkap caping itu dan sekarang sepasang tangan kedua orang itu tidak bebas lagi! Mereka mengerahkan tenaga untuk saling mendorong dengan kedua tangan yang memegang senjata. Maka terjadilah adu tenaga sakti dengan saling mendorong!

Tenaga Ouw Kan memang telah hampir habis, maka adu tenaga sakti ini tentu saja amat menyiksanya. Tubuhnya mulai basah oleh keringat, wajahnya pucat dan uap mengepul dari ubun-ubun kepalanya, menembus topi bulunya. Melihat keadaan lawan sudah payah dan tenaga itu semakin melemah, Bi Lan berkata dengan suara datar dan pandang mata dingin.

“Jahanam Ouw Kan, bersiaplah engkau untuk menghadap arwah ayahku agar dia dapat menghukummu!” Setelah berkata demikian Bi Lan menarik napas dalam-dalam, kemudian dia mengeluarkan suara melengking yang aneh dan menyeramkan. Suara itu terdengar sampai jauh, lalu tiba-tiba kedua tangannya melepaskan caping dan mantel dan secepat kilat kedua tangan itu mendorong ke depan, ke arah dada Ouw Kan.

“Dessss...!”

Tubuh yang kurus itu terlempar ke belakang lantas terbanting roboh, tewas seketika dan dari semua lubang di mulut hidung dan telinganya mengalir darah.

Bi Lan berdiri menatap mayat musuh besarnya dengan wajah dingin tanpa menunjukkan perasaan apa pun. Hati gadis yang dahulu gembira, lincah jenaka penuh gairah hidup itu kini seolah membeku dan dingin. Perubahan ini terjadi semenjak ia meninggalkan ibunya. Wajahnya masih cantik jelita, akan tetapi seperti kecantikan sebuah topeng!

Tiba-tiba tubuhnya bergerak dan dia sudah melompat masuk pondok itu, lalu memegang lengan wanita setengah tua yang menjadi pembantu Ouw Kan. Wanita itu menjadi amat ketakutan, tubuhnya menggigil dan dia berkata dengan suara gemetar,

“Ampun, Nona. Saya... saya hanya seorang pelayan...”

Ketika merasa betapa lengan yang dipegangnya itu sama sekali tak mengandung tenaga, Bi Lan segera melepaskannya dan wanita itu lalu menjatuhkan diri berlutut. Tadi dia hanya mengintai dari balik pintu dan tidak berani keluar melihat majikannya berkelahi.

Begitu melihat majikannya yang sudah tua itu roboh, dia pun menjadi semakin ketakutan dan menahan tangisnya. Meski pun lirih, suaranya itulah yang membuat Bi Lan melompat dan menangkap lengannya.

Sesudah memperoleh kenyataan bahwa wanita pelayan itu seorang lemah, Bi Lan segera melepaskannya. Biar pun dia menjadi seorang yang berhati kaku keras dan dingin, namun Bi Lan tidak berubah menjadi orang jahat yang suka mengganggu orang. Hanya mereka yang bersikap kurang ajar kepadanya dan mengganggunya, yang akan dibunuhnya tanpa kenal ampun. Akan tetapi dia tidak akan mengganggu sedikit pun orang yang tak bersalah kepadanya.

“Aku tidak akan menyakitimu, Bibi. Akan tetapi katakan, di mana adanya Bouw Kiang dan Bong Siu Lan?”

“Maafkan saya, Nona. Saya sungguh tidak tahu di mana adanya mereka.”

“Kenalkah engkau kepada dua orang murid itu?”

“Saya pernah melihat mereka datang menghadap guru mereka di sini, Nona.”

“Tahukah engkau apa yang mereka bicarakan?”

“Saya tidak tahu dan tidak berani ikut mendengarkan.”

“Seperti apa mereka itu? Coba gambarkan.”

“Murid laki-laki yang bernama Bouw Kiang itu bertubuh tinggi besar, mukanya tampan dan kulitnya hitam, usianya sekitar dua puluh enam tahun. Sedangkan murid perempuan itu berusia sekitar dua puluh tahun, wajahnya cantik kulitnya putih, mata dan mulutnya lebar.”

Seperti itu pula penggambaran ibunya tentang dua orang murid Ouw Kan yang menyerang orang tuanya itu. “Apakah dulu mereka itu tidak tinggal di sini bersama guru mereka?”

“Tidak, Nona. Pernah saya mendengar bahwa mereka tinggal di kota raja, tetapi tepatnya entah di mana karena saya sendiri orang dusun, belum pernah pergi ke kota raja.”

Bi Lan mengangguk. “Keteranganmu itu sudah cukup, Bibi. Terima kasih. Sekarang harap beritahukan kepada penduduk dusun terdekat agar mereka membantu penguburan mayat itu. Aku pergi dulu.”

“Nona tunggu sebentar.”

“Hemm, apa lagi?”

”Nona, kasihanilah saya. Bagaimana kalau orang-orang bertanya kepada saya mengenai kematian majikan saya ini? Kalau saya tidak memberi keterangan yang jelas, saya takut kalau-kalau malah dicurigai.”

“Hemmm, beri-tahu saja seperti apa yang kau lihat. Ouw Kan ini adalah musuh besarku. Katakan bahwa dia dibunuh seorang gadis yang mengaku sebagai musuh besarnya.”

“Kalau mereka menanyakan nama Nona?”

“Hemmm, katakan saja bahwa aku adalah Ang I Mo-li (Iblis Betina Baju Merah)!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Bi Lan sudah lenyap dari depan wanita setengah tua itu. Tentu saja wanita itu terbelalak dan menggigil ketakutan, percaya bahwa gadis cantik pembunuh majikannya itu benar-benar seorang iblis betina.....!

********************

Beberapa bulan yang lalu ketika Ouw Kan sedang berada seorang diri di pondoknya dan wanita pembantunya sedang pergi berbelanja bumbu dan bahan masakan, Puteri Moguhai muncul di hadapannya. Ouw Kan terkejut mengenal gadis itu sebagai orang yang pernah bersama seorang pemuda Iihai melawan dan mencegahnya ketika dia hendak membunuh Han Si Tiong dan Liang Hong Yi. Dia sudah bersiap-siap untuk menyerang gadis itu, akan tetapi Puteri Moguhai mencabut pedang bengkok terukir naga emas pemberian kaisar dan berkata.

“Toat-beng Coa-ong Ouw Kan, apakah engkau tidak mengenal ini?”

Ouw Kan terbelalak dan menatap wajah jelita itu penuh perhatian.

“Siapakah engkau?”

“Aku Puteri Moguhai dan di luar aku disebut Pek Hong Nio-cu!”

Ouw Kan terkejut. “Aih, kiranya Paduka Tuan Puteri? Maaf, saya tidak mengenal Paduka karena seingat saya, dulu saya melihat Paduka sebagai seorang puteri yang masih kecil, masih remaja. Jadi... Padukakah yang dulu melindungi Han Si Tiong dan isterinya di tepi Telaga Barat?”

Puteri Moguhai mengangguk. “Betul, akulah yang ketika itu mencegah engkau membunuh mereka!”

“Akan tetapi, Tuan Puteri, mengapa? Sri Baginda Kaisar sendiri yang dulu mengutus saya untuk membunuh suami isteri itu, demi membalas kematian Pangeran Cu Si.”

“Perintah itu sudah lama diberikan Ayahanda Kaisar, belasan tahun yang lalu. Aku sudah menanyakan kepada beliau dan sekarang beliau tidak lagi bermaksud membalas dendam kematian Pangeran Cu Si. Kematian itu terjadi di dalam perang, maka tidak ada dendam pribadi. Akan tetapi mengapa engkau masih bersikeras dalam usahamu membunuh suami isteri itu?”

“Saya... saya merasa malu kepada Sri Baginda karena kegagalanku dahulu itu dan saya ingin menebus kegagalan itu, Tuan Puteri.”

“Hemmm, mulai sekarang harap engkau hentikan usaha pembunuhan itu, karena akulah yang akan menentangmu! Ketahuilah bahwa suami isteri itu kini adalah sahabat baikku dan aku akan melindungi mereka!”

“Baik, Tuan Puteri. Saya berjanji bahwa mulai hari ini saya tidak akan pergi mencari dan memusuhi Han Si Tiong dan Liang Hong Yi.”

Demikanlah, Puteri Moguhai lalu meninggalkan Ouw Kan dan kembali ke istana. Ia sama sekali tidak tahu bahwa ketika berjanji, dalam hatinya Ouw Kan menertawakannya karena beberapa bulan yang lalu dia sudah memberi perintah kepada Bouw Kiang dan Bong Siu Lan, dua orang muridnya untuk mewakili dia pergi mencari suami isteri itu dan membunuh mereka!

Seperti kita ketahui, dua orang murid itu berhasil melukai Han Si Tiong sehingga tewas tidak lama kemudian. Akan tetapi mereka tidak berani membunuh Liang Hong Yi karena menemukan surat yang ditulis oleh Puteri Moguhai dan terselip pada ikat pinggang Liang Hong Yi.

Dua orang murid itu sudah memberi-tahu mengenai hal ini kepada Ouw Kan, maka ketika Moguhai datang kepada Ouw Kan dan melarang Ouw Kan untuk memusuhi suami isteri itu, tanpa ragu-ragu Toat-beng Coa-ong menyanggupi! Dia tahu bahwa Han Si Tiong telah tewas oleh dua orang muridnya itu.

Akan tetapi sama sekali dia tak pernah bermimpi bahwa dua bulan setelah Puteri Moguhai memperingatkannya, muncul Han Bi Lan, bocah yang dahulu diculiknya. Dan akhirnya dia pun tewas di tangan gadis yang kini menjadi luar biasa lihainya itu…..!

********************

Ketika Moguhai pulang ke istana, ayah ibunya, yaitu Sri Baginda Kaisar Kerajaan Kin dan Tan Siang Lin yang menjadi selir kaisar, menyambutnya dengan gembira. Mereka merasa rindu sekali pada puteri mereka yang terkasih ini, yang telah meninggalkan istana selama satu tahun. Sri Baginda Kaisar serta selirnya segera mendesak supaya puteri mereka itu menceritakan semua pengalamannya.

Telah lama Kaisar mendengar akan nama Tiong Lee Cin-jin yang berjuluk Dewa Obat dan dia sangat mengaguminya karena Tiong Lee Cin-jin juga berjasa menyelamatkan kaisar ketika terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh mendiang Pangeran Hiu Kit Bong.

Maka, ketika mendengar bahwa puterinya yang dia tahu telah memiliki ilmu silat tinggi itu hendak digembleng oleh Dewa Obat selama setahun, tentu saja dia menyetujuinya. Ada pun Tan Siang Lin sendiri tentu saja merasa girang sekali dan rela membiarkan puterinya meninggalkannya selama satu tahun untuk berguru kepada Tiong Lee Cin-jin, karena itu berarti bahwa Moguhai berguru kepada ayah kandungnya sendiri!

Moguhai bercerita kepada ayahnya betapa selama setahun ia digembleng ilmu oleh Tiong Lee Cin-jin dan bersama dia ada seorang gadis lain yang menjadi murid Si Dewa Obat.

“Ah, ada murid wanita lain? Apakah dia juga mempunyai tingkat kepandaian tinggi? Siapa namanya, Moguhai?” tanya Kaisar Kin.

“Dia juga lihai sekali. Sebelum menjadi murid... Suhu, dia juga sudah lihai sekali sehingga di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Ang Hwa Sian-li. Dia bernama Thio Siang In, usianya sebaya dengan saya dan kata orang-orang, kami berdua mirip satu sama lain. Ia ingin sekali berkunjung ke sini. Bolehkah, Ayah?”

Semenjak kecil Moguhai amat manja kepada ayahnya dan terhadap ayahnya itu dia tidak menggunakan banyak aturan sebagaimana keluarga kaisar yang lain. Kaisar yang sangat menyayang puterinya itu pun membiarkannya saja.

“Tentu saja boleh! Kapan saja dia boleh datang berkunjung ke istana,” kata Sri Baginda Kaisar.

Puteri Moguhai lalu menceritakan tentang pengalamannya ketika belajar ilmu dari Si Dewa Obat. Tentu saja dia sama sekali tak menyinggung tentang rahasia yang telah dia ketahui tentang riwayatnya dan Siang In, juga tentang gurunya yang sebenarnya adalah ayahnya sendiri dan dalam kesempatan itu dia bercerita pula akan pengalamannya ketika bertemu dengan Han Si Tiong dan Liang Hong Yi.

“Ayah, mereka adalah suami isteri pendekar yang gagah perkasa dan baik budi. Karena itu, ketika Toat-beng Coa-ong Ouw Kan menyerang dan hendak membunuh mereka, saya melindungi mereka. Saya tahu bahwa Ayah sudah tidak menaruh dendam kepada suami isteri itu akibat tewasnya Pangeran Cu Si di dalam perang. Akan tetapi Ouw Kan masih saja memusuhi dan hendak membunuh mereka karena merasa malu atas kegagalannya membunuh mereka belasan tahun yang lalu.”

Kaisar itu menarik napas panjang. “Kami sesungguhnya bukan anak kecil yang tidak tahu bahwa gugur di dalam perang bukan merupakan dendam pribadi. Akan tetapi pada waktu itu, mendiang Pangeran Hiu Kit Bong yang memanasi hatiku sehingga aku lalu mengutus Ouw Kan untuk membalas dendam. Setelah dia gagal, sebetulnya aku sudah menghapus dendam yang sebetulnya salah itu. Aku tidak lagi mendendam, apa lagi hubungan antara kerajaan kita dengan Kerajaan Sung kini sudah menjadi baik. Aku tidak pernah menyuruh Ouw Kan untuk membunuh suami isteri bekas pimpinan Pasukan Halilintar itu. Kalau dia masih berusaha membunuh mereka, itu adalah urusannya sendiri.”

Biar pun di depan Kaisar dia tidak bercerita tentang rahasia ibunya, akan tetapi ketika dia berada berdua saja dengan ibunya, Puteri Moguhai tidak mampu menahan diri lagi untuk merahasiakan semua itu. Tan Siang Lin, selir kaisar itu, agaknya sudah menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu dengan puterinya yang selama setahun hidup bersama gurunya yang juga merupakan ayah kandungnya itu. Dia dapat merasakan ada sesuatu yang telah terjadi karena melihat sinar mata puterinya ketika memandang kepadanya semenjak anak itu pulang.

Kini Moguhai agaknya sengaja menemuinya berdua di dalam kamar itu. Dengan jantung berdebar tegang Tan Siang Lin lalu duduk di atas pembaringan, setengah merebahkan diri sambil memandang puterinya yang sesudah memasuki kamar lalu menutupkan daun pintu dengan hati-hati.

Setelah menutupkan daun pintu Moguhai langsung menghampiri ibunya dan duduk di tepi pembaringan. Dua orang wanita itu saling pandang dan sampai lama keduanya tak bicara, hanya saling pandang dan keduanya tersenyum dengan sinar mata membayangkan kasih sayang yang amat besar. Melihat betapa sinar mata Moguhai mengandung keraguan, Tan Siang Lin berkata lirih sambil memegang lengan puterinya.

“Anakku, agaknya engkau ingin menceritakan sesuatu kepada Ibumu. Jangan ragu-ragu, anakku, kalau ada sesuatu, ceritakanlah saja.”

“Ibu, aku sekarang mempunyai nama baru atau nama alias, pemberian... Suhu Tiong Lee Cin-jin.”

Ibunya memandang tajam sambil mulutnya tersenyum. “Nama baru? Engkau diberi nama apakah, Moguhai?”

“Aku diberi nama Sie Pek Hong, Ibu.”

Sepasang mata yang masih indah itu terbelalak. “... Sie...?”

“Benar, Ibu. Aku diberi marga Sie, sedangkan nama Pek Hong diambil dari julukanku, Pek Hong Nio-cu.”

“Akan tetapi, mengapa marga Sie?”

“Karena guruku juga bermarga Sie, Sie Tiong Lee, Ibu.”

Wajah wanita itu berubah kemerahan. “Akan tetapi... mengapa engkau harus ikut-ikutan bermarga Sie?”

“Ibu, bukankah nama marga seorang anak harus mengikuti marga ayahnya? Ibu bermarga Tan, tidak mungkin aku memakai marga Tan.”

Wajah itu menjadi semakin merah. “Moguhai...!” Dia memegang lengan puterinya dengan kuat. “Kau... kau... tahu...?”

Moguhai tersenyum dan mengangguk.

“Dia... dia yang bercerita kepadamu?”

Kembali Moguhai mengangguk.

“Ohhh...!” Tan Siang Lin bangkit duduk dan memegang kedua tangan puterinya. Moguhai merasa betapa jari-jari tangan ibunya menjadi dingin dan gemetar.

“Apa... apa saja yang dia ceritakan...?”

“Semuanya, Ibu. Tentang Ayah... eh, Paman Sie... eh, Suhu dan Ibu. Aku merasa terharu sekali mendengar akan nasib dia dan Ibu.”

Moguhai merangkul ibunya karena jelas ibunya berusaha menahan tangisnya. Tan Siang Lin merangkul puterinya dan sejenak mereka berangkulan. Wanita itu tidak mengeluarkan suara tangisan, akan tetapi pundaknya bergoyang perlahan. Akhirnya dia bisa menguasai perasaannya. Dia melepaskan rangkulannya, menghapus beberapa tetes air mata yang membasahi pipinya, lalu menghela napas panjang dan berkata lirih.

“Akan tetapi engkau tahu bahwa aku hidup cukup bahagia di istana ini. Sri Baginda amat baik terhadap kita berdua, Moguhai.”

“Hal itu tidak kusangkal, Ibu, dan semua sudah kuceritakan dengan terus terang kepada Suhu. Karena itu nama Sie Pek Hong hanya untuk aku dan Ibu saja, terhadap orang luar aku tetap bernama Puteri Moguhai dan berjuluk Pek Hong Nio-cu. Ibu, selain rahasia yang kuceritakan tadi, masih ada hal lain yang tentu akan membuat Ibu amat berbahagia kalau aku ceritakan.”

Mendengar bahwa puterinya telah mendengar pengakuan Sie Tiong Lee tentang rahasia masa lalunya, Tan Siang Lin yang jantungnya masih berdebar karena tegang dan terharu kini memandang kepada wajah Moguhai dengan kedua mata masih basah. Hatinya sudah terlalu tegang sehingga keharuan membuat dia tidak mampu bicara, hanya bertanya lirih dengan satu kata saja.

“Apa...?”

Moguhai memegang kedua tangan ibunya, lantas berkata dengan wajah berseri gembira. “Ibu, tahukah Ibu siapa gadis yang menjadi saudara seperguruanku dan yang bernama Thio Siang In? Dia adalah puteri Bibi Miyana!”

Sepasang mata itu terbelalak memandang wajah Moguhai. “Puteri... puteri... Miyana...?” Suara itu gemetar dan bibir itu menggigil.

“Ya, Ibu. Dan Siang In itu serupa benar dengan aku, tidak ada yang dapat membedakan kalau kami mengenakan pakaian yang sama. Dia adalah adik kembarku yang dulu dibawa pergi oleh Bibi Miyana.”

Wajah Tan Siang Lin menjadi agak pucat. “Dia... dia tahu… pula akan hal itu?”

“Tahu, Ibu. Suhu... Ayah... menceritakan semua kepada kami berdua. Aku sudah singgah ke rumahnya dan bertemu dengan Bibi Miyana yang sekarang menjadi Nyonya Thio Ki di kota Kang-cun. Ibu, Siang In akan berkunjung ke sini untuk bertemu dengan Ibu!”

Tan Siang Lin tak dapat menahan keharuan dan kebahagiaan hatinya, dia lalu merangkul Moguhai sambil menangis tersedu-sedu. Tangis bahagia. Akan tetapi tiba-tiba dia teringat akan sesuatu dan menghentikan tangisnya, lalu memandang wajah Moguhai dan berkata dengan gelisah.

“Jangan, anakku! Jangan biarkan dia ke sini. Kalau Sri Baginda tahu...”

“Ibu tak perlu khawatir. Siang In juga sudah mengerti bahwa Ayahanda Kaisar tidak boleh mengetahui akan kekembaran kami itu. Ia akan datang ke sini sebagai Thio Siang In yang berjuluk Ang Hwa Sian-li dan mengenakan pakaian yang berbeda sekali denganku. Wajah kami memang sama, namun warna serta bentuk pakaian kami berbeda jauh, juga bentuk sanggul rambut kami. Kemiripan kami itu tidak akan terlampau menyolok dengan adanya perbedaan-perbedaan itu, Ibu.”

Mendengar ucapan Moguhai, hati Siang Lin menjadi tenang kembali. Dengan hati penuh ketegangan dan kegembiraan Ibu ini lalu menunggu pertemuan yang akan terjadi dengan puterinya itu.

Mendengar bahwa kini puteri kembarnya yang kedua itu telah menjadi seorang gadis yang lihai, sudah bertemu ayah kandungnya dan saudara kembarnya, sudah tahu pula bahwa ialah ibu kandungnya dan Miyana hanyalah ibu angkat, tahu bahwa ayah kandung mereka berdua adalah Sie Tiong Lee, hal ini saja sudah mendatangkan kebahagiaan besar dalam hatinya.

Karena telah meninggalkan istana selama satu tahun lebih, maka Kaisar Kin dan selirnya melarang Moguhai untuk pergi lagi. Puteri itu tinggal di istana dan kini dia sedang murung karena baik kaisar mau pun ibunya mendesaknya agar dia mau memilih seorang di antara banyak pinangan yang diajukan padanya.

Para pelamar itu terdiri dari para putera pejabat tinggi, ada pula putera-putera Pangeran yang menjadi saudara misan Sri Baginda Kaisar. Ketika Moguhai menolak, Kaisar menjadi marah. Baru satu kali ini Kaisar memarahi puterinya yang biasanya amat disayang itu.

“Bagaimana engkau ini? Ingat, kini usiamu sudah dua puluh tahun! Kalau tidak sekarang menentukan jodohmu, lalu mau tunggu sampai kapan lagi? Aku telah memberi kebebasan sepenuhnya padamu, tidak memaksamu berjodoh dengan seseorang berdasarkan pilihan kami. Kami sudah memberi kebebasan kepadamu untuk memilih seorang di antara para pemuda yang telah mengajukan pinangan dengan segala kehormatan!”

“Maafkan saya, Ayah. Akan tetapi sebetulnya saya sama sekali belum ingin terikat dalam sebuah pernikahan. Saya masih ingin sendiri...”

Kaisar menjadi marah. “Hemm, beginilah jika anak terlalu dimanja. Semenjak kecil orang tua selalu berusaha untuk membahagiakan hatimu, akan tetapi sekarang, baru diharapkan membahagiakan hati orang tua satu kali saja tidak mau!” Kaisar marah dan meninggalkan Moguhai bersama ibunya.

Sejak tadi Tan Siang Lin hanya diam saja. Dia pun ingin sekali melihat puterinya menikah dan mempunyai anak. Dia sudah ingin sekali menimang cucu.

Sudah menjadi anggapan semua orang tua di masa itu, hati mereka barulah merasa lega dan bahagia bila anak perempuannya sudah menikah. Bagi mereka, pernikahan saja yang akan mendatangkan kebahagiaan dalam hati tiap orang gadis. Menjadi isteri lalu menjadi ibu! Kecuali itu, apa lagi yang akan membahagiakan hati seorang wanita?

Sebaliknya merupakan hal yang amat memalukan, bahkan dapat mendatangkan aib, akan menjadi buah bibir dan diam-diam menjadi bahan ejekan kalau seorang gadis yang sudah dewasa tidak segera mendapatkan jodoh. Disangka tidak laku!

Padahal anaknya sekarang telah berusia dua puluh tahun! Sudah agak terlambat menurut ukuran di jaman itu. Seorang gadis biasanya menikah dalam usia enam belas atau tujuh belas tahun, paling lambat delapan belas tahun.

Dengan lembut Tan Siang Lin mendekati puterinya yang masih duduk termenung setelah dimarahi ayahnya tadi. Ia menaruh tangannya ke pundak Moguhai. Moguhai menoleh dan menghela napas panjang.

“Moguhai, mengapa engkau begitu kukuh menolak anjuran kami untuk menentukan pilihan jodohmu?” kata Ibu itu dengan lembut, Ialu dia duduk di atas kursi depan puterinya.

Moguhai menghela napas panjang lagi, kemudian berkata, “Ibu, kalau aku bersama Ayah Sie Tiong Lee, aku yakin beliau tidak akan memaksaku menikah.”

“Mungkin saja dia akan bersikap begitu, mengingat dia seorang yang sejak muda hidup di dunia kang-ouw. Akan tetapi sikap seperti itu sama sekali tidak sesuai dengan pendapat umum, anakku. Ayahmu, Sri Baginda dan aku, menghendaki engkau menentukan pilihan dan segera menikah adalah tanda kesayangan kami padamu. Kami ingin melihat engkau hidup berbahagia sebagai seorang isteri dan seorang ibu. Kami tidak ingin engkau menjadi bahan pembicaraan dan cemoohan orang, yang mengatakan bahwa engkau tidak laku. Ingatlah, kini usiamu sudah dua puluh tahun dan itu merupakan usia yang sudah lebih dari cukup bagi setiap orang wanita untuk meninggalkan masa kegadisannya dan memasuki kehidupan berumah tangga, berkeluarga.”

“Akan tetapi, Ibu. Kalau aku belum suka menikah, apakah aku harus memaksa diri untuk melakukan hal yang tidak atau belum kusukai itu?”

“Anakku, dalam hal ini tidak ada pemaksaan diri, tapi pelaksanaan kewajiban. Ketahuilah, Moguhai, dalam kehidupan seorang wanita terdapat kewajiban-kewajiban yang tidak boleh kita ingkari. Menikah dan menjadi isteri seorang lelaki, melahirkan dan menjadi ibu anak-anak, melayani suami dan mengurus rumah tangga, semua itu merupakan sebagian dari kewajiban seorang wanita. Wanita adalah induk dan sumber perkembang-biakan manusia di dunia ini, yang merupakan tugas yang teramat mulia. Kalau semua wanita berpendirian seperti engkau dan tidak mau menikah, tidak melahirkan anak, manusia akan musnah.”

“Aih, Ibu. Aku bukan bermaksud untuk tidak menikah selama hidup, hanya saja aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak kusukai. Aku hanya mau menikah dengan seorang pria yang kucinta, Ibu.”

Tan Siang Lin menghela napas panjang. “Aku mengerti perasaanmu dan aku tahu bahwa semua wanita pasti memiliki perasaan yang sama seperti itu, walau pun yang terlaksana keinginannya hanya satu di antara seribu. Sebagian besar gadis dijodohkan orang tuanya, bahkan banyak yang sama sekali belum pernah melihat suaminya. Pertama kali melihat adalah ketika pernikahan dilangsungkan. Akan tetapi Sri Baginda telah bersikap bijaksana kepadamu karena beliau amat mencintamu. Buktinya beliau memberi kebebasan padamu untuk memilih di antara mereka yang telah mengajukan pinangan.”

“Akan tetapi, Ibu. Aku benar-benar belum mempunyai pilihan dan tentang usia... hemm, Siang In juga belum menikah!”

“Kenapa mesti menunggu dia? Apakah selama ini engkau belum pernah bertemu dengan seorang pemuda yang menarik hatimu?”

Wajah Moguhai menjadi kemerahan, lalu menjawab malu-malu. “Sesungguhnya memang ada, Ibu. Akan tetapi aku tidak tahu apakah dia juga tertarik padaku. Kami belum pernah saling menyatakan perasaan hati kami. Di samping itu ia adalah seorang pemuda pribumi Han, apakah mungkin Ayahanda mau menerima seorang Han sebagai mantunya?”

“Hemm, memang mungkin sulit beliau bisa menerimanya. Akan tetapi bukankah aku juga seorang wanita Han? Aku yang akan membujuknya, Moguhai. Aku yakin dapat membujuk beliau untuk menerima seorang mantu bangsa Han. Akan tetapi siapakah dia, anakku?”

“Ibu pernah melihatnya, bahkan dia sudah berjasa besar ketika Ayahanda terancam oleh pemberontakan Paman Pangeran Hiu Kit Bong.”

“Ahh! Aku tahu! Bukankah dia muridnya dan bernama Souw Thian Liong itu?”

Wajah Moguhai berubah semakin merah, akan tetapi dia mengangguk.

Dengan penuh kasih Tan Siang Lin merangkul pundak puterinya. “Anakku, apakah engkau mencinta Souw Thian Liong?”

“Aku tidak tahu, Ibu. Tetapi aku kagum sekali kepadanya. Dia amat baik budi, bijaksana dan rendah hati walau pun ilmu kepandaiannya tinggi sekali. Juga... Ayah Sie 'l'iong Lee memuji-muji muridnya itu. Terus terang saja, hatiku tertarik kepadanya.”

“Dan bagaimaria dengan dia? Apakah Souw Thian Liong mencintamu?”

“Hal itu pun aku tidak tahu, Ibu. Dia selalu bersikap sopan terhadap aku dan tidak pernah memperlihatkan perasaannya. Selama ini kami hanya bersahabat baik dan akrab.”

“Hemm, biarlah aku yang akan membicarakan hal ini dengan Sri Baginda. Aku kira beliau akan setuju kalau bermantukan seorang pemuda seperti Souw Thian Liong itu, meski pun dia seorang pribumi Han.”

“Akan tetapi, Ibu. Sama sekali aku tidak bermaksud untuk memaksa dia... ahh, itu akan memalukan sekali. Aku tidak tahu apakah dia... mencintaku, bahkan aku pun belum yakin benar akan perasaanku sendiri. Aku belum yakin apakah aku memang... mencintanya dan ingin menjadi jodohnya.”

“Tentu saja kita takkan menggunakan paksaan, Moguhai. Aku hanya akan merundingkan dengan Sri Baginda. Setidaknya aku akan memberi penjelasan sehingga Sri Baginda akan dapat mengerti keadaan hatimu dan tidak lagi mendesakmu untuk memilih dan menerima pinangan orang lain.”

Mendengar ucapan ibunya, hati Moguhai menjadi tenang dan dia berterima kasih sekali. Ibu dan anak itu bercakap-cakap sampai jauh malam dan Moguhai menceritakan semua pengalamannya kepada ibunya yang mendengarkan dengan asyik dan penuh perhatian, apa lagi ketika Moguhai bercerita mengenai keadaan dan kehidupan sehari-hari dari Sie Tiong Lee yang dulu menjadi kekasihnya itu.....

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner