JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-19


Tujuh orang pengawal istana itu duduk santai sambil saling bicara dengan suara berbisik. Tiap kali berjaga malam yang digilir bergantian, mereka tidak berani bicara secara berisik, khawatir mengganggu keluarga istana yang sedang beristirahat dan tidur. Malam itu udara amat dingin sehingga tujuh orang prajurit pengawal itu mengenakan baju luar mereka yang tebal.

Yang mereka bicarakan adalah peristiwa mengerikan yang terjadi beberapa hari yang lalu. Tuan muda Hiu Kan dan dua orang dari Sam-pak-liong yang menjadi pengawalnya, telah terbunuh di dalam hutan dekat kota raja dan orang ke tiga dari Sam-pak-liong lumpuh dan remuk tulang lengan kirinya. Jiu To, orang ketiga ini dengan susah payah memasuki kota raja untuk minta bantuan.

Kaisar dan keluarga istana lainnya memang tidak begitu mengacuhkan peristiwa kematian keponakan kaisar itu karena Pangeran Hiu Kan merupakan seorang pemuda yang hanya mencemarkan nama dan kehormatan keluarga istana.

Pemuda putera mendiang Pangeran Hiu Kit Bong yang pernah memberontak itu adalah orang yang tidak berguna, kerjanya hanya berfoya-foya menghabiskan harta peninggalan ayahnya dan terkenal sebagai seorang pemuda mata keranjang yang suka mengganggu gadis-gadis, bahkan isteri orang!

Akan tetapi peristiwa itu telah menggemparkan para prajurit dan ahli-ahli silat di kota raja. Bukan kematian Hiu Kan yang menjadi bahan pembicaraan mereka, melainkan robohnya tiga orang pengawalnya, yaitu Sam-pak-liong (Tiga Naga Utara) yang dikenal lihai itu. Dua orang dari mereka tewas dan orang pertama yang bernama Jiu To lengan kirinya lumpuh dan tulang lengannya remuk dari siku ke bawah.

Menurut keterangan Jiu To, yang melakukan pembunuhan itu adalah seorang gadis muda cantik jelita yang amat lihai dan yang memaksanya memberi-tahu di mana tempat tinggal Ouw Kan, Toat-beng Coa-ong yang amat terkenal itu.

Kemudian terdengar berita yang lebih mengagetkan lagi. Toat-beng Coa-ong tewas dan menurut keterangan pelayannya, pembunuhnya adalah seorang gadis muda cantik jelita yang mengaku berjuluk Ang I Mo-li (Iblis Wanita Baju Merah)!

Tentu saja para pengawal itu menjadi gentar juga mendengar akan munculnya Ang I Mo-li yang telah membunuh Hiu Kan dan dua orang di antara Sam-pak-liong, bahkan kemudian membunuh Toat-beng Coa-ong (Raja Ular Pencabut Nyawa) Ouw Kan yang sakti itu.

Tujuh orang pengawal ini pun merasa gentar. Akan tetapi malam itu mereka tenang saja karena merasa bahwa mereka mendapat bagian penjagaan yang ringan, yaitu di sebelah dalam. Penjagaan di istana itu berlapis-lapis. Dari regu-regu penjagaan di kompleks istana itu, dihitung dari regu penjaga di pintu gerbang sampai ke tempat berjaga, mereka berada di lapisan paling dalam atau pada lapisan yang ke enam.

Maka, kalau ada orang jahat hendak mengacau ke istana, dia harus dapat melewati lima lapis regu pengawal dulu sebelum berhadapan dengan mereka! Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan sungguh pun berita tentang Ang I Mo-li itu sangat menyeramkan. Lagi pula, sebagai pengawal yang berjaga paling dalam di istana itu, mereka terdiri dari orang-orang yang mempunyai ilmu silat tinggi dan cukup tangguh untuk melindungi keselamatan kaisar beserta keluarganya.

Selain itu, siapa yang tidak mengenal Puteri Moguhai yang berjuluk Pek Hong Nio-cu dan yang terkenal sakti serta amat lihai itu? Dengan hadirnya puteri yang sering meninggalkan istana itu, maka semua orang merasa aman dan terlindung. Demikian pula dengan tujuh orang pengawal ini. Mereka merasa bahwa kedudukan mereka kuat sekali sehingga tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu.

“Sungguh luar biasa dan mustahil! Bagaimana gadis muda itu mampu mengalahkan tiga orang Sam-pak-liong?” kata seorang dari mereka.

“Itu masih belum luar biasa. Yang lebih hebat dan tak masuk akal lagi, bagaimana gadis itu sanggup membunuh Toat-beng Coa-ong Ouw Kan yang terkenal sebagai datuk besar dunia persilatan?” orang kedua berkata.

“Tidak perlu diherankan. Sekarang memang bermunculan gadis-gadis muda yang sangat lihai. Tidak usah jauh-jauh, apakah kalian lupa bahwa Sang Puteri Moguhai sendiri adalah seorang puteri yang amat tinggi ilmunya?” kata orang ketiga.

“Wah, kalau begini terus, semakin banyak wanita yang sangat lihai dan tangguh, jangan-jangan akhirnya dunia ini akan dikuasai oleh kaum wanita!” kata yang lain.

“Dan kita kaum laki-laki akan menjadi pelayan mereka, mengasuh anak, mencuci pakaian, memasak, mengurus dan membersihkan rumah...”

“Dan bukan pria lagi yang melamar wanita, melainkan wanita yang meminang pria kalau ingin berumah tangga.”

Mereka tertawa, akan tetapi menahan suara mereka agar tidak menimbulkan kegaduhan.

“Ssstt...!” Tiba-tiba seorang di antara mereka mendesis dan menuding ke kanan.

Semua orang menengok dan dengan gesit mereka pun berloncatan. Mereka adalah tujuh orang pengawal dalam istana yang memiliki kependaian tinggi, maka dalam kewaspadaan mereka, mereka segera siap siaga dan dengan cepat sekali sudah mengepung seorang gadis baju merah yang tahu-tahu telah berada di situ!

“Hei! Siapa engkau?!” bentak salah seorang di antara mereka dengan suara lantang dan bengis, sungguh pun dalam hatinya dia gentar dan terkejut sekali karena dia sudah dapat menduga bahwa tentu gadis inilah yang mereka bicarakan tadi. Kalau bukan orang yang mempunyai kesaktian, mana mungkin dia bisa masuk sampai ke sini tanpa menimbulkan keributan melewati lima lapisan regu-regu penjaga istana itu?

Dugaan dalam hati pengawal ini, juga semua rekannya, memang benar. Gadis baju merah ini adalah Han Bi Lan. Seperti yang kita ketahui, Bi Lan telah berhasil membalas dendam kematian ayahnya, membalas dendam kepada orang yang dulu menculiknya, membunuh Toat-beng Coa-ong Ouw Kan.

Tapi hatinya masih merasa penasaran sebab dia tetap menduga bahwa musuh utamanya adalah Kaisar Kin. Tentu Kaisar itu yang telah mengutus Ouw Kan untuk membunuh dan membasmi keluarga mendiang ayahnya. Maka dia akan membunuh Kaisar Kin!

Dengan menggunakan ilmu kepandaiannya yang amat tinggi, gadis yang batinnya sedang tertekan oleh kenyataan tentang riwayat ibunya yang bekas pelacur, juga akibat pengaruh dari pendidikan Heng-si Ciauw-jiok (Mayat Hidup Berjalan) yang membuat hatinya menjadi keras dan aneh, dapat menyusup ke istana tanpa diketahui lapisan penjaga yang pertama sampai yang kelima.

Dengan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi sesungguhnya dia akan dapat pula melewati lapisan ke enam ini tanpa mereka ketahui. Akan tetapi gadis ini menjadi bingung setelah tiba di bagian depan istana ini.

Bangunan istana ini begitu luas. Ke mana dia harus mencari kaisarnya? Karena dia ingin mendapat keterangan tentang hal ini, maka dia sengaja memperlihatkan diri kepada para pengawal yang segera bergerak mengepungnya!

Biar pun tadi para pengawal itu membicarakan tentang Ang I Mo-li dengan hati seram dan gentar, namun sesudah kini mereka berhadapan dengan Bi Lan, rasa takut itu langsung menghilang. Gadis ini begini cantik jelita dan tampaknya lemah lembut, sama sekali tidak menimbulkan perassan gentar! Rasanya mustahil seorang gadis muda secantik ini dapat menjadi makhluk mengerikan seperti yang mereka gambarkan. Lagi pula mereka adalah jagoan-jagoan istana, sungguh menggelikan kalau mereka merasa takut terhadap seorang gadis muda cantik jelita yang begini lembut dan lemah gemulai!

Mendengar pertanyaan kepala regu pengawal dan melihat betapa tujuh orang pengawal itu mengepungnya tanpa mengeluarkan senjata mereka, Bi Lan menjawab dengan suara tegas. “Siapa aku tidak penting. Yang penting, aku ingin tahu di mana adanya kaisar. Aku ingin bertemu dengan dia. Laporkan agar dia keluar menemuiku, atau tunjukkan di mana adanya dia dan aku akan masuk sendiri untuk menemuinya!”

Tujuh orang pengawal itu menahan tawa mereka karena mereka merasa amat geli. Gadis ini ingin bertemu dengan kaisar dengan sikap seperti seorang gadis ingin bertemu dengan pacarnya saja!

“Wah…, tidak semudah dan sesederhana itu, Nona! Siapa pun juga tidak mungkin dapat menghadap Sri Baginda Kaisar di waktu malam begini. Kalau hendak menghadap, datang saja besok pagi dan melapor kepada penjaga di bagian depan.”

“Aku harus bertemu dengan dia sekarang juga! Cepat laporkan dan suruh dia keluar, atau antarkan aku kepadanya!”

Gadis ini sudah gila, pikir para pengawal. Masa ada orang menyuruh Sri Baginda Kaisar keluar untuk menemuinya, malam-malam begini lagi!

“Nona, tidak mungkin kami dapat memenuhi permintaanmu. Kami tidak dapat melaporkan dan tidak dapat mengantarmu menghadap Sri Baginda.”

“Hemm, kalau begitu akan kupaksa seorang dari kalian untuk mengantar aku kepadanya!”

Mendengar ini, tujuh orang pengawal dengan serentak menubruk hendak meringkus dan menangkap gadis itu. Bagaikan tujuh ekor harimau mereka menerkam gadis itu dari tujuh arah secara berbareng sehingga tidak mungkin bagi Bi Lan untuk mengelak lagi. Apa bila pada saat itu ada orang menonton, tentu akan merasa yakin bahwa gadis itu akan dapat diringkus.

Bahkan tujuh orang pengawal itu pun sudah merasa yakin sekali. Mereka bertujuh adalah laki-laki yang memiliki tenaga dalam yang kuat, juga semuanya pandai silat. Tak mungkin gadis itu dapat meloloskan diri. Bahkan seekor burung yang pandai terbang sekali pun tak akan dapat lolos dari terkaman tujuh orang dari segala penjuru itu.

Akan tetapi segera terjadi keanehan. Gadis itu seakan merupakan sebuah bom peledak. Begitu tujuh orang itu menerkam, dia cepat menggerakkan tubuhnya sehingga berputaran sambil kedua tangannya menyambar-nyambar.

Tujuh orang pengawal itu berteriak kaget dan tubuh mereka langsung berpelantingan ke belakang seolah dilanda alat peledak yang amat kuat! Mereka terbanting jatuh sementara Bi Lan masih berdiri tegak dan kini melipat kedua lengan di depan dada.

Tujuh orang pengawal itu tentu saja merasa sangat gentar, akan tetapi mereka lebih takut lagi akan hukuman kalau membiarkan gadis itu lewat dan memasuki istana, apa lagi kalau sampai mengganggu bahkan membunuh kaisar. Maka, sesudah mengetahui bahwa gadis itu benar-benar lihai laksana iblis, mereka segera mencabut pedang mereka dan hendak mengeroyok untuk membunuh gadis yang tidak mungkin mereka tangkap itu.

“Tahan senjata dan mundur semua!” terdengar bentakan nyaring dan begitu mendengar suara wanita yang amat mereka kenal itu, tujuh orang pengawal itu berlompatan mundur.

Tampak banyak pengawal datang berlarian ke tempat itu sehingga dalam waktu sebentar saja di situ sudah berkumpul sedikitnya lima puluh orang prajurit pengawal yang telah siap dengan pedang di tangan.

Akan tetapi Bi Lan tidak memperhatikan mereka. Matanya mencari-cari kalau-kalau kaisar muncul di situ. Namun pandang matanya bertemu dengan pandang mata Puteri Moguhai yang sudah berdiri di hadapannya.

Mereka saling pandang. Dua orang gadis yang sama-sama cantik jelita. Pakaian Moguhai serba putih sedangkan pakaian Bi Lan serba merah muda!

“Mau apa malam-malam begini engkau membuat kekacauan di istana?” Puteri Moguhai menegur, suaranya mengandung wibawa.

“Mau membunuh Kaisar!” Bi Lan menjawab, sedikit pun tidak merasa gentar.

“Gila kau!” Moguhai berseru dan dia sudah menyerang dengan pukulan jarak jauh. Kedua tangannya didorongkan ke arah Bi Lan dan pukulan ini mengandung tenaga sinkang yang menyambar dahsyat ke arah Bi Lan.

Bi Lan tersenyum mengejek lantas dia pun menggerakkan kedua tangannya, menyambut dengan dorongan yang diperkuat ilmu Sin-ciang yang dia dapatkan dari Si Mayat Hidup sehingga dari kedua telapak tangannya terdengar suara bercuitan ketika ada hawa kuat dan panas bagaikan kilat menyambar. Dorongan kedua tangan Bi Lan ini dahsyat sekali, merupakan ilmu yang langka dan tinggi yang dia pelajari dari Si Mayat Hidup.

Akan tetapi yang kini dia hadapi adalah murid, bahkan puteri Tiong Lee Cin-jin yang juga telah menurunkan ilmu yang hebat kepada Moguhai.

“Syuuuuttt...! Blaarrrr...!”

Dua gadis itu terpental dan tentu akan terjengkang kalau saja keduanya tidak cepat-cepat berpoksai (bersalto) ke belakang sampai tiga kali sehingga mereka dapat hinggap di atas tanah dengan tegak. Keduanya terkejut lantas saling pandang penuh perhatian. Kebetulan sekarang para pengawal sudah memasang banyak obor hingga tempat itu menjadi terang sekali. Mereka dapat saling memandang wajah masing-masing dengan jelas.

“Ahh... engkaukah ini? Bukankah engkau ini... yang dahulu membantu Souw Thian Liong menghadapi pengeroyokan orang-orang Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai?”

“Dan engkau... engkau Puteri Kerajaan Kin yang menjadi pasangan akrab dari Souw Than Liong?” Bi Lan berseru pula.

Keduanya saling pandang sampai lama dan semua pengawal di situ hanya memandang, tidak ada yang berani bergerak. Mereka bukan gentar terhadap Bi Lan, melainkan takut kepada Puteri Moguhai. Mereka tidak berani turun tangan tanpa perkenan atau perintah puteri itu.

“Jadi... engkaukah yang memakai julukan Ang I Mo-li itu? Engkaukah yang membunuh putera Pangeran Hiu Kan berikut dua orang pengawalnya, dan membunuh pula Toat-beng Coa-ong Ouw Kan?”

“Benar, aku yang membunuh mereka!”

“Akan tetapi mengapa?”

“Jahanam Hiu Kan dan dua orang pengawalnya itu berani bersikap kurang ajar kepadaku dan menghinaku!”

“Hemm, memang Hiu Kan itu pantas menerima hukuman. Akan tetapi Toat beng Coa-ong Ouw Kan?”

“Dia yang dulu menculik aku dan murid-muridnya yang membunuh ayahku!”

“Ahh, begitukah?” Puteri Moguhai lalu teringat akan pengalamannya bersama Souw Thian Liong. “Dan engkau pula yang pernah mencuri kitab milik Kun-lun-pai yang dibawa Souw Thian Liong?”

“Bukan urusanmu!” Bi Lan menjawab dengan marah karena kalau diingatkan akan hal itu, dia lalu teringat pula betapa karena perbuatannya itu Souw Thian Liong telah menampari pinggulnya sampai sepuluh kali, hal yang tak mungkin ia lupakan selama hidupnya!

“Baiklah. Aku tahu bahwa engkau bukanlah orang jahat. Engkau adalah seorang pendekar wanita, pernah mati-matian membela Souw Thian Liong yang benar dan difitnah sehingga engkau bahkan berani menentang Kun-lun-pai, padahal engkau adalah murid Kun-lun-pai. Tapi mengapa engkau hendak membunuh ayahku, Sri Baginda? Apa kesalahan ayahku?”

“Kaisar yang mengutus Ouw Kan untuk membunuh ayahku!”

“Hemm, siapakah ayahmu?”

“Ayahku adalah Han Si Tiong!”

“Ahh! Jadi engkau... engkau adalah Han Bi Lan puteri Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi? Aku mengenal baik ayah ibumu!”

Dengan sikap tenang Bi Lan mengangguk. “Aku sudah tahu, justru karena engkau pernah menolong orang tuaku dan bersikap baik pada mereka, maka aku mau melayani engkau bicara!”

“Orang tuamu adalah orang-orang gagah yang setia kepada Kaisar Sung. Bersama-sama Souw Thian Liong, Kwee-ciangkun dan beberapa orang pejabat yang setia kepada kaisar, orang tuamu mati-matian menentang Perdana Menteri Chin Kui yang jahat.”

“Aku sudah mendengar soal itu dan aku juga tahu bahwa engkau pun ikut membela orang tuaku, Puteri Moguhai!”

“Ya, kami memang bersahabat baik, bahkan sudah seperti keluarga sendiri. Aku percaya bahwa sebagai puteri mereka, engkau juga seorang pendekar yang memiliki watak gagah. Karena itu, maukah engkau bersikap baik pula kepada ayahku dan mendengarkan dahulu penjelasanku? Engkau salah duga, Bi Lan. Marilah kita masuk dan bicara di dalam. Aku tidak ingin bermusuhan denganmu, mengingat akan hubunganku dengan orang tuamu.”

Bi Lan mengangguk. “Baiklah, Moguhai. Demi membalas kebaikanmu kepada ayah ibuku, aku menerima ajakanmu. Akan tetapi kalau ternyata ayahmu yang mengutus orang untuk membunuh orang tuaku, maka jangan salahkan kalau aku pun berusaha untuk membalas dan membunuh Ayahmu.”

Moguhai memberi isyarat kepada semua prajurit pengawal untuk mengundurkan diri, lalu dia menggandeng tangan Bi Lan dengan sikap akrab dan mengajak gadis itu masuk ke istana. Tidak lama kemudian mereka berdua sudah duduk di dalam kamar Moguhai yang luas, mewah dan indah.

Mereka duduk berhadapan di atas kursi, sejenak saling pandang dengan penuh perhatian. Anehnya, di dalam hati kedua orang gadis ini tiba-tiba saja timbul pikiran dan dugaan yang sama, yaitu seberapa jauh hubungan masing-masing dengan Souw Thian Liong!

“Nah, sekarang apa yang hendak kau bicarakan dengan aku, Moguhai!”

“Dengarkan dulu keteranganku ini, Bi Lan. Engkau tentu sudah bisa menduga bahwa aku juga seorang gadis kang-ouw dengan julukan Pek Hong Nio-cu. Aku paling benci dengan kejahatan dan kecurangan dan aku henci pula dengan kebohongan. Maka apa yang akan kukatakan kepadamu ini sama sekali bukan kebohongan. Untuk apa aku berbohong kalau ancamanmu sama sekali tidak membuatku takut? Aku hanya ingin meluruskan persoalan, menghilangkan salah sangka di hatimu karena engkau sendiri tentu akan menyesal kalau engkau keliru melakukan pembalasan atau pembunuhan.”

“Jelaskanlah, aku mendengarkan.”

“Begini, Bi Lan. Pada belasan tahun yang lalu terjadi perang antara Pasukan Kin melawan Pasukan Sung di perbatasan. Seperti engkau ketahui, ayah ibumu merupakan pemimpin yang gagah perkasa dari Pasukan Halilintar di bawah komando Jenderal Gak Hui yang sangat terkenal itu. Seorang Pamanku, Pangeran Cu Si, menjadi seorang di antara para pimpinan Pasukan Kin. Kemudian, di dalam pertempuran Pangeran Cu Si tewas di tangan ayahmu. Hal ini sebetulnya wajar saja dan ayahku, Sri Baginda Kaisar, juga menganggap hal ini wajar. Kalah menang dalam perang adalah wajar, dan kematian dalam perang juga bukan merupakan persoalan pribadi. Karena itu, meski pun hatinya sedih karena kematian Pangeran Cu Si, namun Sri Baginda Kaisar sama sekali tidak menaruh dendam terhadap siapa pun juga. Kami sekeluarga tahu bahwa dalam perang itu, tentu Pangeran Cu Si juga telah merobohkan dan menewaskan banyak prajurit Sung, apakah keluarga mereka yang tewas dalam perang di tangan Pangeran Cu Si juga menyimpan dendam pribadi terhadap Pangeran Cu Si? Tentu saja tidak!”

“Tapi menurut keterangan ibuku, Ouw Kan itu diutus oleh Kaisar Kin untuk membinasakan ayahku sekeluarga dan karena ketika itu ayah dan ibu tidak ada, dia lalu menculik aku.”

“Mula-mula Sri Baginda Kaisar dihasut dan dibujuk oleh Pangeran Hiu Kit Bong, kakak Pangeran Cu Si yang hendak membalas dendam atas kematian adiknya. Karena hasutan itu maka ayahku tidak melarang ketika Pangeran Hiu Kit Bong menyuruh Ouw Kan untuk membalas dendam kepada Paman Han Si Tiong. Agaknya Ouw Kan lalu menggunakan nama Sri Baginda Kaisar sebagai pengutusnya agar kedudukannya menjadi kuat. Apa lagi Ouw Kan juga mendapat pesan dari Perdana Menteri Chin Kui untuk membasmi keluarga Paman Han Si Tiong, karena Chin Kui menganggap Paman Han Si Tiong adalah orang yang berbahaya sebagai pembantu setia Jenderal Gak Hui yang dibenci dan dimusuhinya. Nah, itulah yang terjadi, Bi Lan. Kalau tidak demikian, tak mungkin Souw Thian Liong mau membantu ayahku menghancurkan pemberontakan Pangeran Hiu Kit Bong. Sebuah bukti lainnya, apa bila keluarga kami, termasuk aku sendiri, mendendam kepada Paman Han Si Tiong, mungkinkah aku bersedia membela ayah ibumu sampai aku dan Souw Thian Liong dijebloskan ke penjara ketika kami menentang Chin Kui? Aku, keponakan Pangeran Cu Si yang terbunuh di dalam perang oleh ayahmu, tidak mendendam kepada ayahmu bahkan bersahabat. Bagaimana sekarang engkau memusuhi ayahku yang kau anggap mengutus Ouw Kan untuk membunuh Ayahmu?”

Bi Lan tertegun, bingung harus berkata apa. Dia dapat melihat kebenaran dalam semua ucapan puteri itu yang otomatis secara tidak langsung menyudutkannya sehingga bila dia membalas dendam terhadap Kaisar Kin akan kelihatan bahwa dialah yang jahat dan tidak mengenal budi!

“Akan tetapi, kalau tidak diutus oleh Kaisar Kin, kenapa Ouw Kan mati-matian memusuhi keluarga ayahku, bahkan menyuruh dua orang muridnya untuk membunuh ayah dan ibu?” tanyanya dengan suara mengandung penasaran namun lemah.

“Aku telah tahu sebabnya, Bi Lan. Karena ayahku tidak mengutusnya, dan karena mereka yang mendukungnya, yaitu Pangeran Hiu Kit Bong dan Menteri Chin Kui telah tiada, maka hanya satu alasan yang membuat Ouw Kan tiada hentinya berusaha membasmi keluarga ayahmu. Datuk itu mempunyai dendam tersendiri kepada Paman Han Si Tiong. Pertama, karena dalam usahanya yang pertama kali dia gagal, bahkan setelah menculik dirimu, dia juga gagal karena akhirnya engkau ditolong Jit Kong Lhama. Kemudian, beberapa kali dia yang merasa penasaran hendak mengulang serangannya terhadap ayah dan ibumu juga gagal ketika aku dan Souw Thian Liong menentang dan mengusirnya. Itulah sebabnya dia menjadi semakin penasaran. Engkau tentu dapat menyadarinya, Bi Lan. Kalau keluargaku memang mendendam kepada orang tuamu, mana mungkin aku malah membela mereka dan menentang Ouw Kan sendiri, bahkan aku meninggalkan tulisan untuk disimpan orang tuamu agar tulisanku itu mencegah Ouw Kan melakukan serangan lagi.”

Bi Lan menarik napas panjang. “Terima kasih atas semua penjelasanmu, Moguhai. Kata-katamu memang benar semua. Syukurlah bahwa aku belum terlanjur menyerang ayahmu. Tulisan yang kau tinggalkan kepada orang tuaku memang sudah menyelamatkan nyawa ibuku, akan tetapi tidak menolong Ayahku.”

“Hemm...!” Moguhai mengerutkan alis dan mengepal tangannya. “Apakah Ouw Kan masih berani menyerang ayah ibumu?”

Bi Lan mengangguk. “Memang bukan dia sendiri yang menyerang, melainkan dua orang muridnya yang mewakilinya. Ayahku tewas dan ibuku nyaris tewas, tetapi akhirnya hanya terluka karena tidak jadi mereka bunuh sesudah mereka melihat tulisanmu yang dibawa ibuku.”

“Bi Lan, siapakah dua orang murid Ouw Kan itu?”

“Ketika aku datang ke rumah Ouw Kan dan berhasil membunuh jahanam itu, dua orang muridnya tidak ada dan menurut keterangan pembantu wanita yang berada di rumahnya, dua orang muridnya itu bernama Bouw Kiang dan Bong Siu Lan.”

“Hemm, aku pernah melihat mereka sekali ketika mereka dimintakan pekerjaan sebagai pengawal istana oleh Ouw Kan tapi ditolak oleh ayahku setelah ayah mendengar ceritaku tentang sepak terjang Ouw Kan sebagai seorang datuk jahat. Jahanam mereka berdua itu! Aku akan mencari dan menghukum mereka! Berani benar mereka melanggar laranganku agar jangan mengganggu Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi.”

“Tidak perlu merepotkanmu, Moguhai. Aku sendiri yang akan mencari dan membunuh dua jahanam itu!”

“Sama sekali tidak merepotkan Bi Lan, tetapi ini sudah merupakan kewajiban kami. Dua orang itu adalah orang utara, termasuk orang dari wilayah Kerajaan Kin, maka jika mereka bersalah, kewajiban kamilah untuk menghukum mereka. Sekarang, setelah Paman Han Si Tiong meninggal dunia, bagaimana keadaan ibumu, Bibi Liang Hong Yi? Aku suka sekali dengan ibumu dan hubungan kami akrab seperti keluarga sendiri.”

“Ibuku... dia baik-baik saja,” jawab Bi Lan sambil menundukkan mukanya. Hatinya terasa seperti diremas setiap dia teringat kepada ibunya.

“Apakah ibumu masih tinggal di dusun Kian-cung dekat telaga See-ouw itu?”

Bi Lan tidak mengatakan apa-apa karena saat itu dia tahu bahwa kalau dia bicara, maka suaranya gemetar. Dia hanya menggeleng kepalanya sambil menekan dan menenangkan hatinya.

“Ah, kalau begitu Bibi Liang Hong Yi sudah pindah? Ke mana pindahnya? Aku ingin sekali berkunjung dan menghiburnya. Kasihan Bibi Liang Hong Yi...”

“Aku tidak tahu...”

“Ehh? Engkau tidak tahu ke mana ibumu pindah? Engkau tidak tahu di mana sekarang dia tinggal? Bagaimana pula ini, Bi Lan?”

“Kami saling berpisah di kota Cin-koan, aku tidak tahu ke mana dia pergi...”

“Akan tetapi... mengapa?”

“Sudahlah, Moguhai, aku tidak dapat menerangkan. Pendeknya, kami bertengkar lalu aku pergi mencari musuh-musuhku.” Bi Lan bangkit berdiri. “Sekarang aku harus pergi. Terima kasih, engkau telah menyadarkan aku bahwa ayahmu tidak bersalah. Maafkan kesalah-pahamanku ini.” Setelah berkata demikian, Bi Lan berkelebat dan keluar dari ruangan itu dengan cepat bagaikan burung terbang.

“Bi Lan...!” Moguhai yang penasaran berseru mengejar. Namun Bi Lan sudah melompat ke atas genteng dan melalui wuwungan istana itu dia menghilang di malam gelap.

Moguhai cepat memanggil pengawal dan memberi perintah agar jangan ada prajurit yang menghalangi Bi Lan keluar dari istana.

Pada keesokan harinya Kaisar Kin terkejut mendengar laporan pengawal tentang adanya seorang gadis yang membikin kacau di istana. Moguhai segera menenangkan ayahnya dan menceritakan kepada kaisar dan semua keluarganya tentang Han Bi Lan, puteri Han Si Tiong yang datang hendak membalas dendam atas kematian ayahnya karena mengira bahwa Ouw Kan diutus oleh Kaisar untuk membunuh keluarga Han Si Tiong.

“Akan tetapi saya telah dapat menyadarkannya dan kini dia tahu bahwa Ayahanda Kaisar tidak bersalah. Malam tadi, sesudah kami bicara, dia mau mengerti dan dia pergi dengan damai.”

“Hemm, jadi berita tentang dibunuhnya Ouw Kan oleh seorang yang berjuluk Ang I Mo-li (Iblis Wanita Baju Merah) itu... Han Bi Lan itukah orangnya?”

“Benar, Ayah. Tapi dia sama sekali bukan iblis wanita. Dia seorang pendekar wanita yang gagah pekasa!”

“Akan tetapi beberapa waktu yang lalu kami pernah mendengar Ang I Mo-li ini mengamuk dan membuat cedera para pria bangsawan dan hartawan di kota Cin-koan!”

“Saya juga mendengar tentang berita itu, Ayahanda Kaisar, tetapi saya tidak menanyakan hal itu kepadanya. Saya anggap hal itu tidak aneh karena para pria itu memang tidak tahu malu dan amat kotor, maka sudah sepatutnya mendapat hajaran agar jangan lagi berani mempermainkan wanita!”

“Ehhh...?!” Kaisar tidak mau berbantahan lagi tentang urusan itu. Memang sudah menjadi kelemahan kaum pria dan dia sendiri pun tidak dapat menyangkal bahwa dahulu dia juga seperti mereka, suka pelesir bersenang-senang di rumah-rumah pelesir.

“Jadi Han Bi Lan sudah membalas dendam. Apakah Ouw Kan yang dibunuhnya itu sudah membunuh orang tuanya?”

“Bukan Ouw Kan, akan tetapi dia menyuruh dua orang muridnya untuk melakukan hal itu. Han Si Tiong tewas dan isterinya terluka. Sungguh menyebalkan Ouw Kan itu. Dulu ketika dia menyerang Paman Han Si Tiong, saya dan Souw Thian Liong mencegahnya dan saya telah meninggalkan tulisan kepada Paman Han Si Tiong untuk mencegah Ouw Kan terus mengganggunya. Namun tetap saja dia menyuruh dua orang muridnya untuk membunuh Paman Han Si Tiong. Hemm, sama saja dengan dia menantang aku!”

Tiba-tiba Kaisar mengerutkan alisnya dan berkata kepada puterinya dengan suara kereng. “Moguhai, mulai sekarang aku melarang engkau bergaul dengan Souw Thian Liong!”

Moguhai terkejut bukan kepalang. Wajahnya sampai berubah pucat mendengar kata-kata yang keras dan melihat wajah ayahnya yang membayangkan kemarahan kepadanya itu. Biasanya, ayahnya ini bersikap lembut dan penuh kasih sayang kepadanya, akan tetapi kini ayahnya dengan sikap galak melarang dia bergaul dengan Souw Thian Liong!

“Ayah! Mengapa Ayah berkata begitu?”

“Tidak perlu membantah. Sekali ini engkau harus mentaati perintah Ayah!”

“Ayah tidak adil! Lupakah Ayah bahwa Souw Thian Liong telah membantu kita, membela kerajaan kita bahkan menyelamatkan Ayah?”

“Moguhai, engkau sudah dewasa dan aku mengharapkan engkau akan berjodoh dengan seorang pemuda bangsa sendiri!”

“Ayah, apakah saya tidak boleh bergaul dengan Souw Thian Liong karena dia seorang bangsa Han? Bukankah ibu juga seorang wanita Han?”

“Cukup!” Kaisar langsung bangkit dengan penuh amarah. “Ingat, Moguhai! Engkau adalah seorang puteri istana, Puteri Kaisar. Selama ini aku selalu menuruti kehendakmu. Apakah sekarang engkau tidak mau menuruti kehendakku yang satu ini? Apakah engkau hendak menjadi seorang puteri istana yang melanggar peraturan dan seorang anak yang murtad kepada ayahnya?” Setelah berkata demikian, Kaisar meninggalkan ruangan itu.

Moguhai juga bangkit dengan marah, tetapi ibunya segera menubruknya karena khawatir anaknya itu akan menjadi lupa diri dan membuka rahasia pribadinya bahwa ia bukan anak kandung Kaisar.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner