JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-20


“Sudahlah, Moguhai, jangan membantah ayahmu. Bagaimana pun juga dia seorang yang teramat mencintamu. Semua keinginannya itu bukan karena membenci Souw Thian Liong melainkan karena tidak ingin engkau berjodoh dengan seorang Han.”

“Kalau begitu, Ibu sudah menceritakan tentang perasaanku kepadanya?”

“Benar, dan dia sama sekali tidak setuju. Dia terus berkeras agar engkau dapat berjodoh dengan bangsa Yucen yang mendirikan Wangsa Kin ini.”

“Akan tetapi, Ibu. Mengapa ayah mempunyai pendirian seperti itu? Bukankah ayah sendiri juga mengambil Ibu sebagai isterinya?”

“Ketahuilah, Moguhai. Bagi bangsa ini, yang dianggap sebagai keturunan langsung adalah dari ayah. Kalau ayahnya bangsa Yucen, maka anaknya pun bangsa Yucen, tidak peduli isterinya dari bangsa apa pun. Apa bila engkau menikah dengan seorang berbangsa Han, kalau kelak mempunyai anak, keturunan itu akan dianggap sebagai bangsa Han dan tidak dapat mewarisi tahta kerajaan. Inilah sebabnya ayahmu berkeras mengharuskan engkau berjodoh dengan seorang pemuda bangsa Yucen. Bukan sekali-kali dia tidak suka kepada Souw Thian Liong.”

“Aku tidak ingin mewarisi tahta kerajaan, juga tidak ingin anakku mewarisi tahta kerajaan! Bagaimana pun juga, aku adalah seorang berdarah Han murni!”

“Hushh, jangan begitu, anakku. Apakah engkau hendak mencemarkan namaku? Apakah engkau hendak melumuri aib kepada ibumu sendiri?” Tan Siang Lin berkata dengan suara gemetar karena dia sudah menangis sesenggukan.

Moguhai menyadari kesalahannya, maka dia segera merangkul ibunya, menciumi ibunya. “Aduh, ampunkan aku, Ibu. Bukan maksudku untuk... ahh, sudahlah, aku mengaku salah. Akan tetapi, Ibu. Bagaimana pun juga aku belum ingin menikah, bahkan aku hendak pergi lagi untuk mencari dua orang murid Ouw Kan. Aku harus turun tangan sendiri menghukum mereka!”

Tan Siang Lin mengenal watak puterinya yang keras, maka akan percuma saja kalau dia melarang. “Terserah kepadamu, anakku. Akan tetapi kuminta kepadamu, taatilah perintah ayahmu. Lupakan Souw Thian Liong dan pilihlah seorang di antara para pemuda Yucen yang meminangmu. Di antara mereka pun terdapat banyak pemuda yang sangat tampan dan baik.”

“Aku tidak dapat menjanjikan apa-apa, Ibu. Akan tetapi aku dapat memastikan bahwa aku masih belum memikirkan tentang jodoh. Ada pun mengenai Souw Thian Liong, aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap diriku, karena itu tentu saja aku pun tak akan terlalu memikirkan dia.”

********************

Pada keesokan harinya, pada saat Kaisar mendengar laporan dari selirnya yang terkasih, Tan Siang Lin, bahwa Moguhai telah meninggalkan istana lagi, dia hanya dapat menghela napas panjang sambil menggeleng-geleng kepalanya. Dia terlalu sayang kepada puterinya itu, maka dia tidak mau melakukan kekerasan melarangnya keluar dari istana setiap saat yang dikehendakinya.

Akan tetapi tetap saja dia tidak akan menyetujui dan mengijinkan bila puterinya menikah dengan bangsa Han sehingga kelak cucunya terlahir sebagai orang Han. Semenjak dulu dia menganggap bangsa Han adalah bangsa yang lemah, meski pun dia harus mengakui bahwa ada juga orang-orang Han yang gagah perkasa seperti Tiong Lee Cin-jin dan lain-lain. Akan tetapi tetap saja dia menganggap bangsa Han adalah bangsa yang lemah. Hal ini terpengaruh oleh Kaisar Sung yang dianggapnya lemah…..

********************

Sementara itu, pagi-pagi sekali Moguhai sudah meninggalkan istana. Tidak ada seorang pun pengawal berani menghalanginya. DIa menunggang seekor kuda putih yang bagus, melarikan kudanya dengan santai keluar kota raja melalui pintu gerbang selatan.

Pagi hari itu hawanya sangat sejuk. Matahari belum nampak, akan tetapi sinarnya sudah mendatangkan kehangatan dan memberi penerangan pada permukaan bumi. Di jalan raya yang menuju ke pintu gerbang kota raja, hanya ada beberapa orang petani yang memikul dagangan hasil bumi. Jalan raya itu masih sepi dan Moguhai masih menjalankan kudanya dengan santai.

Seperti biasa, kalau dia keluar dari kota raja dan tiba di daerah yang sepi, di alam terbuka dengan sawah ladang yang terbentang luas, di mana angin semilir berhembus segar dan udara yang amat jernih dapat direguk sepuasnya, dia merasa seolah dirinya terbebas dari himpitan.

Di istana dia merasa terhimpit, bukan hanya terhimpit oleh bangunan istana yang besar dan tinggi, di mana-mana bertemu dinding, ruangan dan kamar-kamar, bertemu dengan banyak penghuni istana, bukan saja keluarga Kaisar, melainkan lebih banyak lagi dayang, pelayan dan pengawal, akan tetapi juga terhimpit dengan segala macam peraturan yang harus ditaatinya sebagai seorang puteri Kaisar.

Dia merasa terlalu dihormati dan disanjung-sanjung, dan dia pun harus mengatur tingkah lakunya, mana yang tidak patut dilakukan seorang puteri istana, mana yang seharusnya ia lakukan dan sikap tertentu bagaimana yang harus dia ambil. Terkadang dia merasa jenuh dan muak dengan itu semua!

Dia ingin bebas! Tertawa bebas sesukanya tanpa sikap dibuat-buat, bicara keras menurut dorongan hatinya, mengeluarkan pendapat apa saja yang timbul di dalam hatinya, duduk atau berdiri sesukanya dan seenaknya tanpa dikekang peraturan.

Kini, begitu keluar dari kota raja dan berada di alam terbuka, dia merasa bebas, segar dan bahagia bagaikan seekor burung yang baru terlepas dari sangkar emas!

Tiba-tiba dia mendengar derap kaki kuda dari belakang. Dia menoleh dan melihat seorang laki-laki menunggang kuda yang berlari cepat. Moguhai mengerutkan alisnya.

Mengganggu ketenangan orang saja, pikirnya. Akan tetapi dia tidak bisa melarang. Orang itu berkuda di jalan raya, jalan umum dan biar pun dia seorang puteri Kaisar, dia merasa tidak berhak melarang atau menegurnya. Supaya orang itu cepat lewat sehingga dia dapat menikmati keheningan kembali, Moguhai meminggirkan kuda putihnya dan menanti untuk membiarkan orang itu lewat.

Akan tetapi penunggang kuda itu menghentikan kudanya tepat di depan Moguhai! Gadis itu memandang penuh perhatian. Penunggang kuda itu seorang pemuda berusia sekitar dua puluh satu tahun, wajahnya tampan dan pandang matanya lembut, tubuhnya sedang dan melihat pakaiannya, jelas bahwa dia seorang pemuda bangsawan Kerajaan Kin!

Moguhai merasa sudah mengenal wajah pemuda ini, akan tetapi dia lupa lagi di mana dan siapa dia. Pemuda itu menahan kudanya yang masih terengah, lalu melompat turun dan memegang kendali dekat mulut kudanya yang kini tenang kembali. Kemudian barulah dia memandang kepada Moguhai dan tersenyum.

“Adinda Moguhai, lupakah engkau kepadaku?”

Moguhai mengerutkan alisnya dan melihat pemuda itu turun dari atas kudanya. Pemuda itu jelas seorang bangsawan dan dia pun merasa terikat peraturan sopan santun. Maka dia segera melompat turun, lalu dengan tangan kiri memegangi kendali kudanya. Mereka saling pandang dan Moguhai bertanya ragu.

“Ehh, sungguh aku tidak kenal... siapakah engkau?”

“Aku Kuang Lin.”

“Kuang Lin...? Siapa, ya...?”

“Aih, agaknya engkau sudah lupa sama sekali. Akan tetapi aku tidak lupa padamu, meski hanya beberapa kali saja bertemu denganmu ketika kita masih remaja,. Adinda Moguhai, aku adalah putera Pangeran Kuang. Bukankah engkau akrab dengan Ayahku?”

“Ahh...! Kiranya engkau putera Paman Kuang? Ya, aku ingat sekarang! Bukankah engkau yang menurut Paman Kuang dulu dikirim ke selatan agar mempelajari sastra Han kepada para sastrawan di Kerajaan Sung?”

“Benar! Kita pernah saling bertemu beberapa kali sebelum aku dikirim ke selatan, kurang lebih empat tahun yang lalu.”

“Ya, ya, aku ingat sekarang. Ketika itu aku berkunjung ke benteng di perbatasan selatan di mana Paman Kuang bertugas memimpin pasukan. Engkau... rasanya ketika itu engkau masih kecil, Kuang Lin!”

Pemuda itu tersenyum dan matanya bersinar-sinar. Gadis itu menyebut namanya begitu saja, tanpa tata-cara lagi. Karena dia lebih tua, sebenarnya gadis itu harus menyebutnya kakanda dan dia tadi sudah menyebutnya adinda. Tetapi mendengar gadis itu menyebut namanya begitu saja yang tentu lebih akrab tanpa embel-embel seperti kebiasaan bangsa pribumi Han, dia pun merasa lebih bebas.

“Tentu saja tidak sedewasa sekarang, Moguhai, akan tetapi ketika itu aku pun bukan anak kecil lagi. Kita sama-sama sudah remaja. Akan tetapi bagiku, rasanya sejak dulu engkau tidak banyak berubah, maka dengan mudah aku dapat mengenalmu. Engkau masih tetap mungil dan cantik!”

Bagi bangsa Yucen pujian seperti ini merupakan hal biasa, walau pun bagi bangsa pribumi Han mungkin dianggap tidak sopan.

Moguhai tersenyum. “Selama empat tahun di selatan engkau telah mempelajari apa saja, Kuang Lin?”

“Ahh, bermacam-macamlah, tetapi lebih banyak kesusasteraan dan membaca kitab-kitab, terutama Su Si (Empat Kitab).”

“Wah tentu sekarang engkau sudah menjadi seorang sastrawan besar, Kuang Lin, pantas engkau pandai merayu!”

Kuang Lin membelalakkan kedua matanya, seperti terheran, akan tetapi dia lalu tertawa. Tawanya bebas lepas dan wajahnya menjadi cerah dan tampan sekali ketika tertawa.

“Ha-ha-ha, aku memuji engkau cantik mungil itu kau katakan merayu? Ha-ha-ha, agaknya engkau telah ketularan kebiasaan para gadis Han yang menganggap pujian tulus sebagai rayuan. Engkau memang cantik, Moguhai, cantik jelita, bagaimana aku bisa berkata lain? Kalau aku bilang engkau jelek, berarti aku berbohong!”

Moguhai tertawa. Boleh juga pemuda ini, pikirnya, dapat mendatangkan suasana gembira. Pemuda terpelajar yang tampaknya lembut ini ternyata lincah dan gembira, seperti Paman Kuang, pikirnya.

“He-he-heh, engkau lucu sekali, Kuang Lin. Mengingatkan aku kepada ayahmu. Sekarang katakan terus terang, mengapa engkau menyusul aku?”

“Moguhai, rasanya tidak enak kalau kita bicara di tengah jalan begini. Mari kita tambatkan kuda kita di pohon itu dan kita duduk di atas batu-batu di sana itu agar kita dapat bicara lebih leluasa. Bagaimana, engkau tidak keberatan menerima ajakanku, bukan? Sebentar saja kita bicara dan aku akan menjawab pertanyaanmu tadi.”

“Baiklah, aku pun tidak tergesa-gesa, Kuang Lin.”

Mereka menambatkan kuda mereka pada batang pohon, lalu mereka duduk di atas batu-batu yang terdapat di pinggir jalan. Orang-orang yang berlalu lalang mulai banyak. Tetapi melihat dua orang muda yang dari pakaiannya jelas menunjukkan muda-mudi bangsawan itu, para pedagang hasil bumi yang datang dari dusun-dusun itu mengambil jalan di tepi yang berlawanan dan dengan hormat mereka berjalan dengan menundukkan muka, tidak berani memandang.

Di antara mereka tidak ada yang mengetahui bahwa dua orang muda itu adalah keturunan bangsawan tinggi. Si Gadis adalah puteri Kaisar dan Si Pemuda adalah putera pangeran yang menjadi panglima besar!

“Nah, sekarang katakan, kenapa engkau menyusulku dan bagaimana engkau tahu bahwa aku sedang hendak meninggalkan kota raja?”

“Nanti dulu, Moguhai. Maukah engkau lebih dulu mengatakan, bagaimana engkau dapat menduga bahwa aku sengaja menyusulmu?”

Moguhai tersenyum. “Apa sukarnya hal itu? Engkau melarikan kuda secara terburu-buru dan langsung berhenti ketika melihat aku. Apa lagi artinya kalau bukan engkau memang sengaja menyusulku? Hanya aku tidak tahu bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa aku keluar kota raja, dan apa maksudmu menyusul aku?”

Pemuda itu menghela napas panjang. “Sungguh berat bagiku melakukan hal ini, Moguhai. Aku sama sekali tak berhak mencampuri urusanmu. Akan tetapi aku terpaksa melakukan ini untuk mentaati perintah.”

“Hemm, perintah siapa, Kuang Lin?”

“Perintah ayahku.”

“Paman Kuang? Apa urusannya Paman Kuang menyuruh engkau menyusulku?” Moguhai bertanya dengan penuh penasaran.

Mendengar suara gadis itu yang agak ketus, Kuang Lin cepat berkata dengan lembut dan bernada membujuk. “Moguhai, engkau tahu betapa sayangnya ayah kepadamu. Biasanya engkau demikian akrab dengan dia.”

“Memang, dia kuanggap sebagai orang tua sendiri atau sebagai guru yang sering kumintai nasihat, akan tetapi urusan pribadiku tidak boleh dicampuri siapa pun juga, termasuk oleh ayahmu atau orang tuaku sendiri sekali pun!”

“Maafkan aku, Moguhai, dan maafkan ayahku. Sesungguhnya ayahku juga mengetahui benar bahwa dia tidak berhak mencampuri urusan pribadimu, akan tetapi dia pun terpaksa menyuruh aku menyusulmu ini, Moguhai.”

“Terpaksa? Siapa yang memaksanya?”

“Tidak ada yang memaksanya, akan tetapi dia tidak dapat menolak permintaan ibumu.”

“Permintaan Ibuku? Apa maksudmu, Kuang Lin?”

“Begini, Moguhai, akan kuceritakan semuanya kepadamu. Tadi malam tanpa diduga-duga ibumu datang berkunjung ke rumah kami. Yang menemuinya adalah ayahku, ibuku dan aku sendiri. Di dalam pertemuan itu ibumu menceritakan kepada ayahku, bahwa engkau hendak meninggalkan istana lagi pada pagi hari ini. Kata ibumu, Sri Baginda Kaisar dan ibumu tidak dapat mencegahmu pergi padahal mereka berdua tidak menghendaki engkau pergi. Mereka terlampau sayang kepadamu, Moguhai, dan sudah terlalu sering dan terlalu lama engkau meninggalkan mereka hingga mereka selalu khawatir akan keselamatanmu. Maklumlah, perasaan semua orang tua tentu seperti itu, apa lagi engkau adalah seorang anak perempuan. Kemudian ibumu minta kepada ayahku agar ayah suka membujukmu supaya engkau tidak pergi meninggalkan istana. Nah, tentu saja ayah tidak bisa menolak permintaan Ibumu, maka ayah lalu memerintahkan aku agar menghadang engkau di pintu gerbang selatan karena ayah menduga bahwa engkau tentu akan merantau ke selatan. Akan tetapi aku justru terlambat tiba di pintu gerbang. Ketika kutanyakan kepada prajurit penjaga pintu gerbang, aku diberi-tahu bahwa engkau telah keluar dari pintu gerbang itu, menunggang kuda ke selatan. Demikianlah, aku segera mengejarmu dan untung engkau menjalankan kuda dengan perlahan-lahan sehingga aku bisa menyusulmu. Nah, begitulah ceritanya mengapa aku menyusulmu, Moguhai. Kalau perbuatanku ini telah menyinggung hatimu dan membuat engkau marah dan tidak senang, aku minta maaf dan aku mintakan maaf pula untuk ayahku.”

Moguhai menghela napas panjang.

Tidak mungkin dia dapat marah kalau pemuda ini bersikap dan bercerita seperti itu. Pula, dia pun tidak dapat marah kepada Paman Kuang yang sejak dulu dihormatinya. Kuang Lin tak bersalah, juga Paman Kuang tidak bersalah. Apa pun yang dilakukan oleh ibunya, juga ayahnya, menunjukkan bahwa mereka sangat menyayangnya, maka usaha mereka untuk menghalanginya pergi meninggalkan istana adalah wajar dan tidak bisa disalahkan.

“Kuang Lin, apakah ibu juga menceritakan mengapa aku hendak pergi merantau lagi?”

“Tidak, Moguhai. Hal itu pun sempat ditanyakan ayahku kepada ibumu, akan tetapi ibumu menjawab bahwa beliau juga tidak tahu kenapa engkau hendak pergi. Dan sekiranya aku boleh mengetahui, kenapa engkau hendak pergi meninggalkan istana dan membuat ayah bundamu bersedih, Moguhai?”

Moguhai memandang ragu. Tentu saja dia tak akan mau bercerita kepada siapa pun juga tentang persoalan yang dihadapinya, yaitu tentang perjodohan, tentang dia harus berjodoh dengan bangsa Yucen dan tentang dia tidak boleh bergaul dengan Souw Thian Liong.

“Maaf, Moguhai. Aku bukan bermaksud mencampuri urusan pribadimu. Akan tetapi kalau engkau bersedia menceritakan mengapa engkau hendak meninggalkan istana, siapa tahu barang kali aku bisa membantumu.”

Moguhai tersenyum. “Bagaimana engkau akan bisa membantuku, Kuang Lin? Baiklah jika engkau memang ingin mengetahui. Aku meninggalkan kota raja untuk mencari dua orang yang harus kuberi hukuman berat karena mereka berdua melanggar laranganku dan telah membunuh sahabat yang sangat kuhormati.”

“Hemm…, begitukah? Siapakah mereka yang berani menentangmu itu? Dan siapa pula yang mereka bunuh?”

“Yang mereka bunuh adalah Paman Han Si Tiong.”

“Ah, bekas Panglima Pasukan Halilintar Kerajaan Sung yang gagah perkasa itu? Aku pun pernah mendengar cerita ayah tentang Han Si Tiong dan isterinya yang gagah perkasa, bahkan suami isteri itu ikut berjasa ketika menggulingkan Perdana Menteri Chin Kui yang korup dan hendak memberontak. Bahkan menurut cerita ayahku, engkau juga membantu Kerajaan Sung menjatuhkan pengkhianat itu.”

“Benar, Paman Han Si Tiong itulah yang terbunuh sedangkan Bibi Liang Hong Yi terluka. Padahal aku sudah memberi surat kepada mereka untuk memperlihatkan kepada orang-orang yang berani mengganggunya!”

''Siapakah mereka yang begitu jahat?”

“Mereka adalah Bouw Kiang dan Bong Siu Lan, dua orang murid Toat-beng Coa-ong Ouw Kan.”

“Hemm…, aku tahu siapa Toat-beng Coa-ong Ouw Kan, datuk sesat itu. Bukankah belum lama ini dia telah dibunuh oleh... seseorang yang berjuluk Ang I Mo-li?”

“Benar, Ang I Mo-li itu adalah seorang pendekar wanita, puteri Paman Han Si Tiong. Akan tetapi mendiang Ouw Kan menyuruh dua orang muridnya untuk membunuh Paman Han Si Tiong. Karena Ang I Mo-li tadinya menyangka bahwa Ayahanda Kaisar yang mengutus para pembunuh ayahnya, maka aku sendiri harus membantunya untuk mencari dua orang pembunuh itu. Selain untuk menghukum mereka yang sudah mengabaikan laranganku, juga untuk membersihkan nama Sri Baginda Kaisar.”

“Aku mengerti sekarang dan aku tidak menyalahkan jika engkau hendak mencari mereka, Moguhai. Kalau begitu, aku akan membantumu, Moguhai!”

Moguhai tertawa. “He-he-heh, dengan apa engkau akan membantu aku, Kuang Lin? Dua orang murid Ouw Kan itu lihai sekali, ada pun engkau adalah seorang sastrawan! Apakah engkau akan mengalahkan mereka dengan... menulis sajak dan huruf-huruf yang indah?”

Pemuda itu tidak marah, bahkan tertawa pula. “Ha-ha-ha, kalau perlu. Siapa tahu dengan tulisan sajakku mereka akan takluk, Moguhai!”

“Sudahlah, Kuang Lin. Harap sampaikan saja terima kasihku kepada Paman Kuang atas perhatiannya dan terima kasih pula kepadamu yang menawarkan bantuan. Sekarang aku harus pergi. Lihat, matahari sudah tampak!”

Tiba-tiba Moguhai melompat ke atas punggung kudanya, melepaskan ikatan kendali dan membedal kudanya sehingga binatang itu meringkik kemudian berlari dengan cepat sekali meninggalkan tempat itu.

“Moguhai...!” Kuang Lin memanggil, akan tetapi gadis itu telah membalapkan kudanya dan telah jauh, sama sekali tidak menoleh atau menjawab.

Kuang Lin berdiri mengikuti bayangan gadis itu dengan matanya, menarik napas panjang, kemudian dia pun menunggang kudanya dan kembali ke kota raja. Dia harus melaporkan kepada ayahnya tentang kegagalan usahanya membujuk Moguhai.....

********************

Pulau yang berada di Laut Timur itu letaknya terpencil. Dari jauh tampak bentuknya yang melengkung seperti tubuh seekor udang. Karena bentuknya inilah maka pulau ini disebut Pulau Udang. Sebenarnya pulau itu tidak terlampau jauh dari pantai daratan dan mudah dikunjungi para nelayan. Akan tetapi tidak ada seorang pun nelayan berani berkunjung ke pulau itu, bahkan mendekatinya pun mereka tidak berani. Mereka hanya berani mencari ikan paling dekat dua lie jauhnya dari Pulau Udang.

Semua orang tahu belaka bahwa pulau itu dikuasai oleh seorang yang amat ditakuti. Tocu (Majikan Pulau) itu adalah Tung-sai (Singa Timur) Kui Tong yang dikenal sebagai seorang datuk kang-ouw yang menyeramkan. Setelah setiap nelayan yang berani mendekati pulau itu ditemukan tewas, maka tidak ada lagi yang berani melanggar batas yang ditetapkan penguasa pulau itu, yakni tidak lebih dekat dari dua lie dari pantai pulau itu.

Yang tinggal di Pulau Udang adalah Tung-sai Kui Tong serta anak buahya yang bersama keluarga mereka tinggal di pulau itu. Jumlah mereka berikut keluarga mereka ada sekitar tiga ratus orang. Yang menjadi kepala dari keluarga-keluarga itu adalah murid atau anak buah Pulau Udang. Di antara mereka, yang menjadi pengawal pribadi Singa Timur adalah lima belas orang gagu tuli. Seperti telah diceritakan pada bagian depan, tadinya pengawal pribadi ini ada dua puluh orang, akan tetapi lima orang di antara mereka sudah tewas di tangan Can Kok.

Kui Tong yang bertubuh tinggi besar bermuka singa yang menyeramkan, hidup bagaikan seorang raja di pulau itu. Tidak seperti para pria yang memiliki kekuasaan dan kekayaan seperti dia, Kui Tong hanya mempunyai seorang isteri. Padahal pada jaman itu setiap pria yang kaya dan berkuasa biasanya memiliki sedikitnya tiga orang selir di samping isterinya.

Kui Tong mempunyai seorang isteri yang amat dicintanya. Dia berusia enam puluh tahun lebih dan isterinya berusia empat puluhan tahun, seorang wanita yang cantik dan lembut. Mereka mempunyai seorang anak perempuan yang kini telah berusia delapan belas tahun bernama Kui Leng Hwa. Gadis ini cantik dan lembut seperti ibunya, akan tetapi dia sama sekali bukan gadis lemah. Sejak kecil dia sudah mempelajari ilmu silat dari ayahnya yang amat mencintainya.

Hari itu menjelang sore. Para anak buah Pulau Udang sudah pulang ke pondok masing-masing setelah melaksanakan pekerjaan sehari-hari mereka. Ada yang menjadi nelayan dan ada pula yang menggarap tanah di pulau itu.

Tiba-tiba semua orang dikejutkan suara menggereng atau mengaum seperti auman singa yang menggetarkan seluruh pulau. Mereka hanya menengok ke arah rumah induk tempat tinggal ketua atau majikan mereka dan tidak ada yang berani bersuara. Mereka merasa amat gentar sebab mengenal bahwa suara dahsyat itu adalah suara majikan mereka yang mengeluarkan auman seperti itu apa bila dia sedang marah.

Mereka semua tahu bahwa kalau suara itu dikerahkan dan dipusatkan untuk menyerang lawan, maka suara itu akan menjadi ilmu Sai-cu Ho-kang (Auman Singa Sakti) yang dapat merobohkan lawan. Orang yang tidak amat kuat tenaga saktinya, diserang dengan auman ini dapat roboh dan mati seketika karena jantung mereka terguncang hebat!

Akan tetapi auman yang sekarang dikeluarkan majikan mereka itu hanya menggetarkan seluruh pulau dengan gemanya dan tidak mengandung tenaga menyerang, tanda bahwa majikan mereka sedang marah besar.

Di ruangan sebelah dalam rumah besar itu, Kui Tong memang sedang marah bukan main. Dia duduk di atas kursi menghadapi sebuah meja besar. Di sudut kamar, menghadapnya, berdiri seorang wanita setengah tua dan seorang gadis. Dua orang wanita ini cantik jelita dan mempunyai bentuk wajah yang mirip satu sama lain. Mereka adalah Nyonya Kui dan puterinya, Kui Leng Hwa. Mereka berdua berdiri dan Leng Hwa merangkul pundak ibunya seolah hendak melindunginya. Mereka berdua sedang menghadapi Kui Tong yang marah-marah.

“Sama sekali engkau tak boleh memaksa anak kita yang satu-satunya ini untuk berjodoh dengan keponakanmu yang gila itu! Seekor harimau pun takkan mencelakakan anaknya! Apakah engkau hendak menyengsarakan hidup Leng Hwa dengan memaksanya menjadi isteri orang gila?” kata Nyonya Kui, suaranya tetap lembut walau pun dia marah sekali.

“Siapa bilang Can Kok gila? Dia menjadi seorang yang sakti luar biasa, maka wataknya menjadi aneh. Akan tetapi dialah harapan kami, Empat Datuk Besar, untuk membalaskan sakit hati kami. Untuk itu sudah sepatutnya kalau dia menjadi mantuku!” bentak Kui Tong.

Dia marah sekali, mukanya yang seperti muka singa itu berubah merah, akan tetapi dia tak berani menentang pandang mata isterinya karena Datuk Besar yang sesat dan kejam ini tiba-tiba menjadi lemah kalau bertemu dengan sinar mata isterinya. Dia amat mencinta isterinya, lebih dari apa pun di dunia ini!

“Ayah, aku tidak mau menjadi isteri Can Kok. Dari pada menjadi isteri orang gila itu, lebih baik aku mati!” Tiba-tiba Kui Leng Hwa berkata dengan tegas.

“Brakkkk…!”

Meja kayu itu hancur berkeping-keping ketika Kui Tong menghantamnya dengan tamparan tangannya. Dia bangkit berdiri dan matanya mencorong karena marah, memandang ke arah puterinya.

“Apa?! Engkau bilang lebih baik mati? Kalau begitu matilah!”

Dia telah menyambar sebatang tombak dari rak, yaitu senjata andalannya yang membuat dia disebut Bu-tek Sin-jio (Tombak Sakti Tanpa Tanding) dan siap membunuh puterinya dengan tombak itu.

Akan tetapi tiba-tiba Nyonya Kui menghadang di depannya sambil membusungkan dada. “Langkahi mayatku dulu bila engkau hendak membunuh anakku!” Nyonya yang biasanya lembut itu kini menatap wajah suaminya dengan sinar mata bersinar-sinar.

Sejenak mereka saling berpandangan, tetapi tak berlangsung lama. Kui Tong Datuk Besar yang terkenal sebagai Singa Timur dan yang ditakuti orang-orang di dunia kang-ouw tidak kuat bertahan bila beradu pandang dengan isterinya yang lembut dan lemah itu. Dia telah menundukkan pandang matanya.

“Sialan!” Dia menggerutu lalu menancapkan tombaknya di lantai. Tombak itu menghujam lantai sampai setengahnya dan dia lalu meninggalkan ruangan itu dengan muka tunduk.

“Ibu...!” Leng Hwa kini menubruk dan merangkul ibunya sambil menangis.

Tadi, di depan ayahnya yang marah-marah dan yang siap membunuhnya, gadis ini tidak tampak gentar dan sama sekali tidak menangis. Akan tetapi sesudah ayahnya pergi, dia tidak mampu menahan kesedihan hatinya lalu merangkul ibunya sambil menangis.

Mengagumkan sekali sikap Nyonya Kui, wanita yang lemah lembut itu. Dia sama sekali tidak menangis, hanya alisnya berkerut dan ia berkata kepada puterinya. “Sudahlah, Leng Hwa. Mari kita bicara di dalam kamar.” Ia mengajak puterinya masuk ke kamar Leng Hwa dan keduanya duduk di tepi pembaringan.

“Nah, sekarang katakan secara terus terang. Tadi engkau mati-matian menolak kehendak ayahmu untuk menjodohkanmu dengan Can Kok. Sebenarnya, apa alasannya? Apakah hanya karena Can Kok itu seperti orang yang miring otaknya?”

“Ibu, bagaimana mungkin aku dapat menjadi isteri seorang yang gila dan mengerikan itu? Dulu Can Kok memang seorang pemuda yang baik dan sejak kecil menjadi teman baikku. Akan tetapi setelah dia dilatih oleh Empat Datuk Besar, dia menjadi gila dan mengerikan. Bahkan dia telah membunuh lima orang pengawal tuli gagu dari ayah. Dulu memang aku tidak menolak ketika Ayah merencanakan untuk menjodohkan aku dengan Can Kok. Akan tetapi sekarang, ahh, aku tidak sudi, Ibu.”

“Akan tetapi, mengapa engkau memilih mati dari pada menikah dengan dia, Leng Hwa?”

“Aku... aku sudah bersumpah, lbu...”

“Bersumpah?”

“Ya, Ibu. Aku telah bersumpah tidak akan menikah dan kalau dipaksa lebih baik aku mati, kecuali...”

“Ya...?”

“...kecuali dengan dia... ahh, Ibu tentu sudah tahu...”

“Hemm, engkau sungguh mencinta Ho Lam itu?”

Kedua pipi gadis itu menjadi merah dan dia mengangguk. “Dia seorang yang sangat baik, Ibu. Dia lembut, bijaksana, dan dia selalu bersikap menentang kalau ada anak buah Pulau Udang melakukan kekejaman.”

Ibunya menghela napas panjang. “Ya, dia adalah keponakanku dan dia memang berbeda. Karena wataknya yang bersih itu maka dia dibenci oleh ayahmu dan sekiranya dia bukan keponakanku yang kulindungi, tentu semenjak dulu dia sudah dibunuh oleh ayahmu. Akan tetapi dia yatim piatu, tiada sanak keluarga..., hanya aku satu-satunya keluarga. Aku adik ayahnya...”

“Kami sudah berjanji sehidup semati, Ibu. Aku sudah siap hidup sederhana dan seadanya, sebagai isterinya.”

Nyonya Kui menarik napas panjang. “Aku dapat memahami perasaanmu, Leng Hwa, dan aku tidak menyalahkanmu. Aku bahkan setuju sepenuhnya kalau engkau dapat berjodoh dengan Ho Lam. Akan tetapi apakah Ho Lam juga amat mencintamu?”

“Dia sanggup mengorbankan apa saja, bahkan nyawanya untukku, Ibu.”

“Hemm. Ayahmu tentu akan mati-matian menentang perjodohanmu dengan Ho Lam.”

“Kami sudah mengambil keputusan bulat, ibu. Kami akan bertindak nekat dan siap untuk mati di tangan ayah, kalau ayah memang tega kepadaku.”

“Ayahmu pasti tega. Meski pun dia amat sayang kepadamu, namun dia jauh lebih sayang kepada dirinya sendiri. Tidak ada jalan lain, Leng Hwa. Engkau dan Ho Lam harus segera pergi dari pulau ini. Malam ini juga sebelum terlambat!”

“lbu...!”

“Sudahlah, sekali ini engkau harus menurut kata-kataku. Inilah jalan satu-satunya. Kalau terlambat, jangan harap engkau akan dapat berjodoh dengan Ho Lam. Ayahmu tidak akan membunuhmu, akan tetapi dia dapat memaksamu. Dia sangat licik dan cerdik. Dia dapat menggunakan racun untuk menjebakmu sehingga engkau akan menyerahkan diri dengan rela kepada siapa pun yang dikehendaki ayahmu. Cepat berkemas! Aku sendiri yang akan mengatur agar Ho Lam bersiap-siap dan menyediakan perahu untuk kalian.”

Malam itu Pulau Udang kedatangan seorang tamu yang telah dikenal oleh semua anggota Pulau Udang, dan juga ditakuti karena tamu itu pernah membunuh lima orang pengawal Kui Tong yang gagu dan tuli. Tamu itu bukan lain adalah Can Kok.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner