JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-21


Para petugas jaga tidak ada yang berani menentangnya, bahkan menyambutnya dengan hormat lalu melaporkan kedatangannya itu kepada Kui Tong. Mendengar akan kunjungan pemuda itu, dengan girang Kui Tong keluar menyambut.

“Ah, engkau Can Kok? Aku girang sekali engkau pulang!” kata datuk itu sambil tersenyum dengan wajah berseri.

Dia merasa bangga kepada Can Kok. Pemuda ini adalah keponakannya, juga muridnya dan kini dia tahu bahwa pemuda ini telah memiliki ilmu kepandaian hebat, lebih tinggi dari pada tingkat kepandaiannya sendiri. Sungguh membanggakan sekali untuk memamerkan Can Kok sebagai keponakan dan muridnya!

“Paman,” kata Can Kok sambil memberi hormat.

Kui Tong merasa gembira bahwa kini Can Kok tidak liar lagi. Agaknya pemuda itu telah mulai terbiasa dan dapat mengendalikan tenaga sakti yang sangat dahsyat dalam dirinya, yang membuat dia ketika itu menjadi liar tak terkendali sehingga mengamuk, bahkan telah membunuh lima orang pengawalnya di Pulau lblis itu. Kui Tong lalu menggandeng tangan pemuda itu.

“Mari masuk, kita bicara di dalam, Can Kok!”

Sesudah duduk berdua dalam ruangan, Kui Tong segera bertanya, “Bagaimana hasilnya usahamu mencari dan membunuh Tiong Lee Cin-jin, Can Kok'?”

“Kedatanganku ini justru untuk membicarakan itu, Paman. Aku belum dapat menemukan di mana adanya Tiong Lee Cin-jin, tetapi aku telah bertemu dengan dua orang muridnya.”

“Siapa mereka?”

“Mereka berjuluk Pek Hong Nio-cu dan Ang Hwa Sian-li.”

“Ahh, aku pernah mendengar nama kedua gadis tokoh kang-ouw itu! Hemm, jadi mereka adalah murid-murid Tiong Lee Cin-jin? Lalu bagaimana, apakah engkau telah menangkap atau membunuh mereka?”

Can Kok menggeleng kepalanya. “Ketika itu aku bertemu dengan Kui Tung.”

“Ehh? Siapa orang yang namanya mirip dengan namaku itu?”

“Kui Tung adalah murid Suhu Lam-kai (Pengemis Selatan) Gui Lin dan kami berdua telah bertanding melawan dua orang gadis murid Tiong Lee Cin-jin. Sebenarnya kami sudah hampir dapat menundukkan mereka ketika tiba-tiba muncul sekitar seratus orang pasukan pemerintah. Maka sayang sekali, Paman, aku tidak berhasil menangkap atau membunuh mereka.”

“Bagaimana tingkat kepandaian mereka?”

“Sudah cukup tinggi. Murid Suhu Lam-kai masih kalah setingkat dibandingkan seorang di antara mereka. Akan tetapi aku masih dapat mengungguli mereka kalau bertanding satu lawan satu. Karena aku belum berhasil menemukan di mana adanya musuh besar kita itu, maka aku datang untuk minta petunjuk Paman. Lagi pula, mengingat bahwa Tiong Lee Cin-jin mempunyai murid-murid yang sangat lihai, maka setelah kita mengetahui di mana dia berada, agar tidak sampai gagal, sebaiknya Paman dan ketiga Suhu lainnya bersama aku menyerbu agar dia dapat kita bunuh.”

Kui Tong mengangguk-anggukkan kepala. “Hemm, memang Tiong Lee Cin-jin mempunyai kepandaian yang sangat hebat. Engkau benar, Can Kok. Kita semua harus bekerja sama. Aku mengundang See-ong (Raja Barat), Pak-sian (Dewa Utara) dan Lam-kai (Pengemis Selatan) untuk datang dan berkumpul di sini. Siapa tahu di antara mereka ada yang sudah dapat mengetahui di mana adanya Tiong Lee Cin-jin. Bila kita sudah mengetahui tempat tinggalnya, kita semua beramai-ramai menyerbu ke sana dan membunuhnya. Akan tetapi sementara itu, aku hendak membicarakan hal yang amat penting denganmu, Can Kok.”

Can Kok menatap wajah paman tuanya. “Ada urusan apakah, Paman?”

“Begini Can Kok. Sejak kecil engkau sudah ikut denganku di sini dan kami semua sudah menganggap engkau sebagai keluarga sendiri. Sekarang katakan, Can Kok, bagaimana pendapatmu tentang Leng Hwa, anakku?”

“Hemm, apa maksudmu, Paman? Pendapatku tentang Adik Leng Hwa? Ah, kenapa? Dia baik sekali.”

“Maksudku, menurut pandanganmu, apakah dia cukup cantik menarik?”

“Wah, Paman ini aneh. Tentu saja Leng Hwa cantik sekali dan amat menarik. Jarang aku bertemu seorang gadis secantik Leng Hwa!”

“Dan cukup pandai?”

“Pandai dan cerdik.”

“Can Kok, begini maksud aku dan bibimu. Kami ingin menjodohkan Leng Hwa denganmu. Bagaimana pendapatmu?”

Sepasang mata itu mencorong dan terbelalak sejenak, lalu biasa kembali. “Wah, Paman, tentu saja aku merasa girang sekali! Memang sejak dulu aku merasa kagum kepada Adik Leng Hwa, maka alangkah senangnya kalau dia menjadi isteriku!” kata Can Kok.

Dari ucapannya ini saja sudah menunjukkan bahwa sikapnya memang sudah luar biasa. Agaknya dia tidak lagi mempunyai perasaan rikuh terhadap datuk yang menjadi gurunya dan juga pengganti orang tuanya itu.

“Ha-ha-ha!” Tung-sai Si Singa Timur tertawa bergelak hingga suara tawanya bergema di pulau itu, menggetarkan hati orang yang mendengarnya. “Bagus! Bagus sekali!” Dia lalu bertepuk tangan.

Ini merupakan isyarat bagi para pelayan yang berada di dalam rumah bahwa majikannya itu memanggil mereka. Seorang pelayan wanita yang kebetulan berada di luar ruangan itu dan mendengar panggilan ini, segera memasuki ruangan dengan sikap hormat.

“Cepat panggil Toanio (Nyonya Besar) dan Siocia (Nona) ke sini!” perintah Tung-sai Kui Tong yang masih menyeringai tanda gembira hatinya.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki lembut dan muncullah Nyonya Kui, memasuki ruangan itu dengan alis berkerut dan sinar mata menunjukkan kegelisahan.

“Mana Leng Hwa? Aku minta dia cepat datang ke sini. Kami ingin membicarakan urusan perjodohannya!”

Can Kok yang melihat bibinya, hanya mengangguk saja tanpa bangkit dari kursinya. “Bibi, harap undang Adik Leng ke sini, aku sudah merasa rindu padanya,” katanya.

Nyonya Kui menekan rasa tidak senangnya dan dia tidak mempedulikan ucapan pemuda itu, melainkan berkata kepada suaminya. “Leng Hwa tidak berada dalam kamarnya.”

“Ehh? Ke mana dia pergi?”

“Aku tidak tahu. Sejak tadi telah kucari-cari di seluruh ruangan dan taman, akan tetapi dia tidak ada. Dan ketika aku memeriksa kamarnya, aku menemukan bahwa sebagian dari pakaiannya yang baru sudah tidak ada.”

“Apa? Keparat! Dia minggat?” bentak Tung-sai sambil bangkit berdiri, lalu dia melangkah lebar keluar dari ruangan itu menuju ke kamar puterinya, diikuti oleh Can Kok yang tidak berkata apa-apa.

Nyonya Kui berlari kembali ke kamarnya sambil menahan tangisnya.

Setelah tiba di kamar Leng Hwa, Tung-sai menggeledah kamar itu dengan marah-marah. Dia lalu berteriak memanggil pelayan yang biasa melayani puterinya. Pelayan itu, seorang wanita berusia empat puluh tahunan, masuk dengan tubuh gemetar dan wajah pucat.

“Hayo katakan ke mana Nona pergi?!” bentak Singa Timur itu.

“Saya... saya tidak tahu, Tuan Besar... sejak sore tadi Nona mengeram diri dalam kamar dan melarang siapa pun memasuki kamarnya.”

“Bodoh! Sejak kapan dia tidak berada di kamarnya?” Si Singa Timur membentak.

“Saya... saya tidak tahu... kami semua baru tahu bahwa Nona tidak berada lagi di dalam kamarnya ketika Nyonya Besar membuka pintu kamarnya dan ternyata Nona sudah tidak berada di dalam kamar. Kami semua segera mencarinya, akan tetapi Siocia (Nona) tidak dapat ditemukan.”

“Keparat! Apa artinya engkau menjadi pelayan kalau begitu? Lebih baik mampus saja!” Si Singa Timur melangkah maju. Dia hendak membunuh wanita pelayan yang ketakutan dan sudah terkulai dan berlutut saking takutnya itu.

“Jangan pukul dia!” tiba-tiba terdengar bentakan lembut, kemudian muncullah Nyonya Kui yang langsung melangkah menghampiri pelayan itu lalu menariknya bangun. “Pergilah ke belakang sana!” katanya, kemudian setelah pelayan pergi wanita itu mendekati suaminya.

“Mengapa menyalahkan orang lain? Kalau anak kita pergi, engkaulah yang menjadi biang keladinya, engkaulah penyebabnya! Engkau memaksanya untuk menikah! Mungkin kini ia telah mati membunuh diri dan engkaulah pembunuhnya! Engkau membunuh anakku...!”

Nyonya itu menangis, sedangkan Si Singa Timur berdiri bagaikan patung. Hilang segenap kegalakan dan kemarahannya, bahkan kini dia menjadi tertegun mendengar kemungkinan anaknya membunuh diri. Bagaimana pun juga, datuk ini amat mencinta puterinya.

Tiba-tiba Can Kok berkata. “Paman, tidak mungkin orang membunuh diri membawa pergi pakaian-pakaiannya!”

“Ahh, benar!” Si Singa Timur seperti sadar. “Dia tidak bunuh diri, melainkan minggat! Mari kita cari, Can Kok!”

Dua orang itu segera berlari keluar dari rumah meninggalkan Nyonya Kui yang kembali ke kamarnya dengan kaki gemetar. Dia merasa amat khawatir. Tadi hampir saja dia berhasil membuat suaminya percaya bahwa anaknya bunuh diri sehingga tidak akan melakukan pengejaran. Akan tetapi siapa kira, justru pemuda gila itu yang menyadarkannya dan kini mereka mulai mencari Leng Hwa. Ah, bagaimana kalau mereka sampai dapat menyusul dan menemukannya?

Wanita itu gelisah sekali dan dia menjatuhkan diri menelungkup di atas pembaringannya lalu menangis terisak-isak, mengeluh dan memohon kepada Thian (Tuhan) agar puterinya diselamatkan. Dia yang mengatur kepergian Leng Hwa. Diaturnya sejak mulai gelap tadi agar Leng Hwa dan Ho Lam, pemuda putera seorang anggota Pulau Udang yang sudah tua, dapat melarikan diri dari pulau itu dalam sebuah perahu tanpa terlihat oleh siapa pun juga…..

********************

Tung-sai yang diikuti Can Kok mencari-cari di seluruh pulau dan bertanya kepada semua anggota Pulau Udang. Akan tetapi tiada seorang pun yang mengetahui atau melihat Leng Hwa sehingga mereka tak berhasil menemukan gadis itu. Melihat majikan mereka marah-marah mencari Leng Hwa, semua orang menjadi panik kemudian ikut mencari.

“Paman, aku yakin bahwa Adik Leng Hwa pasti sudah melarikan diri dari pulau ini dengan menggunakan perahu. Sebaiknya Paman periksa apakah ada perahu yang hilang.”

“Ahh, engkau benar lagi, Can Kok!”

Tung-sai segera memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa kalau-kalau ada perahu yang tidak berada di pulau. Pada waktu malam biasanya seluruh perahu pasti berada di pulau. Para anak buah itu dengan gugup melaksanakan perintah dan tak lama kemudian mereka melaporkan bahwa ada sebuah perahu yang hilang, yaitu perahunya Ho Lam.

“Ah, tidak salah lagi, Paman. Pasti si keparat Ho Lam itu yang melarikan Adik Leng Hwa!”

“Hmm, Ho Lam adalah keponakan isteriku. Tentu ibunya Leng Hwa yang merencanakan ini semua!”

Tergesa-gesa Tung-sai dan Can Kok berlari dari pantai pulau, pulang ke rumah kemudian dengan kasar Singa Timur itu membuka pintu kamarnya. Isterinya masih menelungkup di atas pembaringan sambil menangis.

Tung-sai mengguncang pundak isterinya. Ketika wanita itu bangkit duduk, dia pun berkata dengan marah. “Tentu engkau yang sudah menyuruh keponakanmu, si jahanam Ho Lam itu untuk membawa minggat Leng Hwa!”

Mendadak wanita itu menghentikan tangisnya, dengan muka masih basah air mata lantas berkata dengan lantang. “Benar! Aku yang menyuruh mereka pergi! Habis kau mau apa? Mau membunuh aku? Bunuhlah, aku pun lebih suka mati dari pada selalu menderita batin sengsara menghadapi kekejamanmu!”

Wanita itu mengedikkan kepalanya sambil membusungkan dadanya, menantang. Si Singa Timur yang biasanya galak itu tertegun melihat isterinya menantang seperti itu.

“Paman, mereka tentu belum pergi jauh. Biar aku yang mengejar mereka dan membunuh jahanam Ho Lam itu dan membawa kembali Adik Leng Hwa!” Tanpa menanti jawaban, Can Kok sudah berkelebat keluar dari rumah itu.

“Aih, kenapa engkau melakukan ini?” Tung-sai mengeluh sambil menatap wajah isterinya yang amat disayangnya itu.

“Kenapa? Tanyalah kepada dirimu sendiri. Anak kita itu sudah saling mencinta dengan Ho Lam, mereka telah bersumpah sehidup semati. Akan tetapi engkau hendak memaksanya berjodoh dengan Can Kok itu. Biarkan mereka berdua kabur meninggalkan pulau neraka ini, terbang bebas seperti sepasang burung merpati menuju kebebasan dan kebahagiaan. Jangan kejar mereka! Jangan ganggu mereka!”

Tung-sai ingin menumpahkan kemarahannya, namun seperti biasa, menghadapi isterinya dia pun mati kutu.

“Keparat!” Dia memaki seperti kepada diri sendiri lalu dia pun berkelebat lari meninggalkan isterinya yang menangis kembali di atas pembaringannya karena hatinya merasa khawatir bukan main memikirkan keselamatan puterinya.

Ketika tiba di pantai pulau, Tung-sai mendengar dari anak buahnya bahwa sejak tadi Can Kok sudah naik perahu kecil meninggalkan pulau. Tung-sai lalu memerintahkan pengawal-pengawalnya yang gagu tuli itu untuk mempersiapkan perahunya dan tak lama kemudian perahunya sudah berlayar meninggalkan pulau untuk ikut melakukan pengejaran terhadap puterinya yang melarikan diri bersama Ho Lam, keponakan isterinya.....

********************

Pemuda itu mendayung perahu kecil dengan sekuat tenaga. Dari cara dia mendayung ini bisa diketahui bahwa pemuda itu adalah seorang ahli dan juga mempunyai tenaga besar. Perahu kecil itu meluncur cepat di permukaan air laut yang pada malam itu tenang. Hulu perahu yang runcing bagaikan sebatang pedang menusuk dan membelah air.

Rambut dan kain pengikat rambut pemuda itu berkibar tertiup angin saking lajunya perahu meluncur. Ketika merasa betapa perahunya meluncur semakin kuat, pemuda itu menoleh dan dia melihat gadis yang duduk di belakangnya itu ternyata telah menggunakan dayung cadangan untuk membantunya mendayung perahu.

“Hwa-moi (Adik Hwa), engkau tak perlu membantu, nanti engkau lelah,” tegurnya dengan lembut.

“Ah, tidak mengapa, Lam-ko (Kakak Lam). Aku juga terbiasa dan pandai mendayung. Kita lari bersama, harus bekerja sama. Masa engkau bersusah payah mendayung, aku hanya enak-enak saja?”

“Leng Hwa, kalau ayahmu sudah mengetahui bahwa kita berdua melarikan diri, dia tentu akan mengejar dan akan celakalah kita.”

“Aku tidak takut menghadapi segala akibatnya, Lam-ko. Apakah engkau takut?”

“Aku tidak mengkhawatirkan diriku sendiri, untukmu aku rela mengorbankan nyawa sekali pun! Akan tetapi aku mengkhawatirkan keselamatanmu, Hwa-moi.”

“Kenapa khawatir, Koko? Apa pun yang terjadi, kita hadapi berdua. Kalau kita harus mati, maka kita mati berdua! Syukur kalau Thian melindungi kita sehingga kita akan dapat hidup berdua selamanya.”

“Terima kasih, Moi-moi... kini aku tidak khawatir lagi. Aku bahagia sekali dan akan selalu berbahagia selama aku bersamamu, hidup atau pun mati.”

Kini mereka tidak bicara lagi, melainkan mengerahkan seluruh tenaga dan perhatian untuk mendayung perahu itu ke daratan sana. Sinar lampu kecil-kecil di daratan itu seolah-olah menggapai-gapai agar mereka datang lebih cepat ke sana.

Memang dua orang muda ini telah cukup lama menjalin cinta. Mereka bergaul sejak kecil di pulau itu dan setelah beranjak dewasa, mereka saling tertarik dan akhirnya saling jatuh cinta. Akan tetapi mereka adalah sepasang orang muda yang patut dijadikan teladan.

Mereka saling mencinta sepenuh hati, merasa kehilangan dan rindu kalau tidak berjumpa sehari saja. Akan tetapi keduanya bisa menjaga diri, saling menghormati dan menghargai. Mereka saling menjaga kehormatan masing-masing, tidak mau membiarkan diri terseret oleh nafsu birahi. Mereka yakin betul bahwa menjaga kesusilaan dan kehormatan masing-masing sebelum menikah merupakan modal batin yang paling berharga dan indah untuk membangun rumah tangga kelak.

Seperti nafsu-nafsu lain, nafsu birahi bukanlah sesuatu yang buruk, bahkan semua nafsu merupakan anugerah dari Tuhan yang telah diikutkan pada manusia sejak dia lahir. Akan tetapi, bila mana nafsu birahi yang membawa kepada hubungan badan itu dilakukan oleh mereka yang bukan suami isteri, maka hubungan itu menjadi kotor dan mencemarkan cinta itu sendiri. Akan tetapi, bila suami isteri yang melakukan, maka hal itu bukan saja wajar, bahkan indah dan bersih dari dosa. Malah dapat dikatakan bahwa hubungan suami isteri tanpa nafsu birahi, adalah tidak mungkin. Namun sebaliknya, bila hubungan birahi dilakukan oleh bukan suami isteri, adalah kotor dan berdosa!

Cinta kasih yang mengikat hati Ho Lam dan Leng Hwa murni dan bersih, dan semua ini berkat pendidikan Nyonya Kui Tong yang memiliki budi pekerti baik, sama sekali berbeda dari suaminya, datuk Si Singa Timur yang kejam itu. Nyonya Kui mendidik puterinya sejak kecil, juga dia mendidik Ho Lam yang menjadi keponakannya itu dengan budi pekerti baik sehingga kedua orang muda itu memiliki batin yang kuat untuk mengekang gairah nafsu mereka sendiri dan dapat membedakan mana cinta dan mana pula cinta birahi.

Dapat dibayangkan betapa lega rasa hati mereka ketika akhirnya perahu mereka sampai di pantai daratan. Bulan sepotong tersenyum di langit cerah.

Dua orang nelayan setengah tua yang sedang bersiap-siap untuk keperluan mencari ikan pada pagi nanti, menghampiri perahu mereka karena tadinya mereka menyangka bahwa perahu kecil yang mendarat itu adalah perahu rekan mereka yang mencari ikan di waktu malam. Namun mereka segera terheran-heran ketika tiba dekat mereka melihat seorang pemuda dan seorang gadis cantik yang turun dari perahu, sama sekali bukan nelayan! Kedua orang muda itu pun tidak membawa ikan hasil tangkapan, atau jala dan pancing, tapi membawa dua buntalan pakaian seperti orang yang sedang melakukan perjalanan.

“Selamat malam, Paman berdua,” sapa Ho Lam dengan sopan dan ramah.

“Selamat malam, Kongcu (Tuan Muda) dan Siocia (Nona). Sungguh kami merasa heran sekali. Ji-wi (kalian berdua) datang dari manakah dan hendak ke manakah malam-malam begini?” tanya seorang di antara mereka yang bertubuh jangkung kurus.

Tiba-tiba Ho Lam mendapat satu gagasan yang dia anggap baik dan bisa menyelamatkan mereka berdua.

“Paman berdua, apakah kalian mau menolong kami yang sedang menderita dan terancam bahaya?”

Dua orang lelaki setengah tua itu saling berpandangan, lalu yang bertubuh pendek gendut menjawab. “Tak perlu sungkan, Kongcu. Memang sudah menjadi kebiasaan para nelayan untuk saling tolong menolong. Bahaya apakah yang mengancam Ji-wi (Anda berdua) dan bagaimana pula kami dapat menolong kalian?”

“Begini, Paman. Aku bersama... isteriku ini sedang melarikan diri karena terancam hendak dibunuh orang jahat yang mengejar kami. Karena itu kami minta tolong kepada kalian, apa bila nanti atau besok atau kapan saja ada orang yang datang lalu bertanya kepada kalian mengenai diri kami berdua, harap Paman suka mengatakan bahwa Paman berdua tidak tahu dan tidak pernah melihat kami. Maukah Paman berdua menolong kami begitu? Kami akan memberi imbalan atas pertolongan Paman berdua.”

“Aih, kalau cuma begitu tentu saja kami akan menolong Ji-wi, Kongcu dan Siocia. Sama sekali kami tak mengharapkan imbalan karena kami pun tidak melakukan apa-apa, hanya mengatakan tidak tahu dan tidak melihat Ji-wi. Jangan khawatir, Kongcu, kami pasti akan ingat dan melaksanakan pesanmu ini,” kata yang jangkung kurus.

Ho Lam dan Leng Hwa girang bukan main mendengar jawaban ini.

“Benarkah Paman bersedia menolong kami?” tanya Leng Hwa. “Paman betul-betul berjanji akan mengatakan tidak melihat kami?”

Orang tinggi kurus itu mengangguk mantap. “Tentu, Siocia. Kami berjanji.”

“Terima kasih, Paman,” kata dua orang muda itu. “Nah, kami akan melanjutkan perjalanan kami dan perahu kami ini kami berikan kepada Paman berdua.”

Dua orang nelayan itu terbelalak “Wah, kami sungguh tidak minta imbalan, Kongcu!” kata yang jangkung.

“Ini bukan imbalan, Paman. Kami memang tidak memerlukannya lagi, maka kami berikan kepada Paman agar dapat digunakan untuk menangkap ikan. Kami mohon diri, Paman!” kata Ho Lam dan dia segera menggandeng tangan Leng Hwa, lalu diajaknya melangkah cepat meninggalkan tempat itu.

Ho Lam cukup cerdik untuk tidak mengambil jalan melalui jalan umum yang ada di sana. Dia justru membelok ke kiri menyusuri pantai menuju ke arah selatan.

Dua orang nelayan itu berdiri bengong sambil mengikuti bayangan kedua orang muda itu dengan pandangan mata sampai bayangan itu lenyap ditelan cuaca yang masih remang-remang gelap karena matahari masih terbenam di kaki langit di ujung lautan.

Tentu saja dua orang nelayan itu gembira bukan main. Mereka merasa seolah menerima harta karun. Bagi mereka perahu merupakan modal untuk mencari ikan. Biasanya mereka yang tidak memiliki perahu hanya menjala atau memancing ikan di tepi pantai, memasuki lautan sampai sedalam pinggang. Kini, dengan adanya perahu maka mereka bisa mencari ikan ke tengah lautan dan hasilnya tentu jauh lebih banyak. Apa lagi perahu itu masih baik sekali keadaannya. Mereka merasa seperti bermimpi. Dan untuk mendapatkan perahu itu mereka hanya disuruh tutup mulut. Betapa mudahnya dan betapa besar imbalannya!

Namun kegirangan hati mereka itu ternyata tak bertahan lama. Setelah matahari muncul sebagai bola merah yang amat besar di permukaan laut sebelah timur, dan selagi kedua orang itu hendak mulai dengan kehidupan baru sebagai nelayan berperahu tiba-tiba saja sebuah perahu meluncur ke tepi dan Can Kok melompat ke darat lalu menarik perahunya ke atas pantai.

Dia melihat dua orang nelayan yang sedang bersiap menyeret perahu ke air dan sebagai seorang yang sejak kecil hidup di Pulau Udang, tentu saja dia langsung mengenal perahu dua orang nelayan setengah tua itu. Itu adalah perahu dari Pulau Udang! Maka cepat dia menghampiri dua orang itu.

Melihat ada seorang pemuda tampan berpakaian mewah menghampiri mereka, dua orang nelayan itu memandangnya dan Si Gemuk Pendek segera memberi salam.

“Selamat pagi, Kongcu.”

Akan tetapi Can Kok tidak menjawab salam itu dan mengamati perahu mereka.

“Hei!” Dia membentak. “Dari mana kalian mendapatkan perahu itu?”

“Dari... dari...” Si Gemuk tergagap.

“Kongcu, ini adalah perahu milik kami sendiri,” Si Jangkung menjawab tenang.

“Jangan bohong! Tentu ada dua orang yang memberi perahu ini kepada kalian!”

“Kami... kami...” Si Gemuk tergagap lagi.

“Terus terang saja, Kongcu. Tadi kami menemukan perahu ini di tepi laut, tidak ada yang punya, maka kami lalu mengambilnya,” kata Si Jangkung.

“Tidak perlu bohong! Kalian tentu melihat pemuda dan gadis yang naik perahu ini! Hayo katakan, di mana mereka itu sekarang!”

“Kami tidak melihat mereka, Kongcu. Kami tidak tahu...,” kata pula Si Jangkung.

“Hayo katakan di mana mereka sekarang! Atau kalian ingin kupukul? Kubunuh?” Can Kok membentak, kemudian sekali tangannya bergerak ke arah perahu itu, segera terdengarlah suara seperti ledakan keras.

“Brakkkk…!” Dan perahu itu pecah berkeping-keping.

Dua orang nelayan itu menjadi pucat dan tubuh Si Gemuk gemetar.

“Sekali lagi, katakan di mana pemuda dan gadis itu berada atau ke mana mereka pergi! Kalau tidak maka kalian akan kubunuh!”

“Mereka... mereka...”

“A Sam, diam kau! Kita adalah orang-orang miskin, tidak mempunyai apa-apa, yang ada hanya kehormatan! Kalau kita melanggar janji, berarti kehormatan pun kita tidak punya!” Si Jangkung membentak kawannya.

“Mampus kau!” Can Kok menggerakkan tangan kirinya. Tangannya itu tidak menyentuh si nelayan jangkung karena jaraknya masih dua meter lebih, akan tetapi tubuh Si Jangkung lantas terpelanting seperti disambar kilat. Dia pun roboh dan tewas seketika dengan muka berubah kehitaman!

Melihat ini tubuh Si Gendut menggigil seperti orang terserang penyakit demam dan kedua lututnya menjadi lemas sehingga dia terkulai dan berlutut.

“Kau! Hayo katakan ke mana pemuda dan gadis itu pergi!” Can Kok membentak.

Si Gemuk Pendek semakin menggigil. “Saya... saya tidak berani...”

Can Kok menggerakkan tangannya dan telunjuknya menotok tengkuk nelayan gemuk.

Nelayan itu roboh dan bergulingan, merintih-rintih dan mengaduh-aduh, seluruh tubuhnya terasa nyeri bukan main, seperti ditusuk-tusuk dari dalam.

“Aduh..., ampun... ampun... aduh...”

“Katakan ke mana mereka!”

Dengan tubuh menggigil ketakutan, Si Gemuk menudingkan telunjuknya ke arah selatan. “Mereka... mereka tadi berjalan ke arah sana...”

“Engkau tidak berbohong?”

“Tidak, sungguh mati... mereka berjalan ke arah sana...”

“Baik, aku akan mengejar ke sana. Jika engkau ternyata bohong, nanti aku akan kembali untuk mencabut nyawamu!” Setelah berkata demikian, Can Kok lalu berkelebat dan berlari cepat menuju ke arah yang ditunjukkan nelayan gemuk, ke arah selatan.

Nelayan gemuk itu merintih-rintih. Ketika dia memandang ke arah mayat temannya, dia mengerang dan menangis. Dia menoleh ke arah perahu pemberian yang sekarang hancur berkeping-keping dan rintihannya semakin keras. Dia menangis mengguguk. Betapa rasa senang dalam waktu sebentar saja kini berubah menjadi rasa susah dan sakit.

Dia mencoba untuk bangkit berdiri, akan tetapi terkulai kembali karena rasa nyeri yang tak tertahankan. Dia ingin kembali ke kampung, minta pertolongan penduduk, akan tetapi dia tidak sanggup bangkit berdiri. Dia mencoba maju sambil merangkak-rangkak dan hatinya penuh penyesalan.

Sahabatnya itu jauh lebih baik nasibnya, pikirnya penuh penyesalan. Si Jangkung itu tetap mempertahankan kesetiaan akan janjinya sampai mati dan kini telah mati, tidak menderita lagi dan mati sebagai seorang terhormat!

Akan tetapi dia? Dia sudah melanggar janji, dia kehilangan kehormatannya dan sekarang harus menderita kesakitan yang lebih hebat deritanya dari pada kematian sendiri! Sambil menangis seperti anak kecil nelayan gemuk itu merangkak dengan susah payah.

Tiba-tiba terdengar sebuah bentakan yang menggetarkan tanah di mana dia merangkak, mengejutkan hatinya.

“Hai! Katakan di mana dua orang pelarian dan pengejarnya tadi!”

Nelayan gemuk berhenti merangkak, berlutut dan mengangkat mukanya. Ia melihat Tung-sai Singa Timur itu berdiri seperti seorang raksasa di depannya, tangan kanan memegang sebatang tombak, menyeramkan sekali. Biar pun dia tidak tahu apa yang terjadi dan siapa orang-orang yang ditanyakan, namun dia dapat menduga bahwa tentu yang ditanyakan adalah pemuda dan gadis pemberi perahu, lalu pemuda pengejarnya tadi.

“Mereka... mereka ke sana...” Dia menuding ke selatan.

Tung-sai Kui Tong menendang dan tubuh Si Gemuk itu terlempar jauh lalu jatuh berdebuk ke atas tanah. Akan tetapi sekali ini dia tidak mengeluh dan tidak merasa nyeri. Dia sudah tidak merasakan apa-apa karena tendangan itu telah membuat dia tewas seketika!

Setelah memberi isyarat kepada sepuluh orang pengawalnya untuk menanti di situ, Tung-sai Kui Tong kemudian berlari cepat ke arah selatan, menyusuri pantai...

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner