JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-22


“Lam-ko, aku lelah sekali...!” Leng Hwa mengeluh. Biar pun dia juga telah menguasai ilmu silat dan tubuhnya cukup kuat, namun dia tidak pernah berlari-larian sampai sejauh dan selama itu.

Semenjak malam tadi, sesudah memberikan perahu kepada dua orang nelayan, Ho Lam mengajak dia berlari-lari menyusuri pantai menuju ke selatan. Ketika ada gunung karang menghalang pantai, kekasihnya mengajak dia melanjutkan pelarian mereka mendaki bukit karang yang keras, kasar dan tajam meruncing sehingga sepatunya terobek dan telapak kedua kakinya terasa nyeri. Mereka berlari sampai matahari naik tinggi dan hawa udara mulai panas.

“Baiklah, Hwa-moi. Kasihan sekali engkau! Lihat, di atas sana ada goa. Kita beristirahat di sana melepas lelah.”

Mereka berdua mendaki bukit itu ke atas dan tiba di depan sebuah goa yang cukup luas. Kebetulan sekali lantai goa itu kering dan rata. Leng Hwa segera menjatuhkan diri duduk di dalam goa, menjulurkan kedua kakinya dan memijati paha serta betisnya.

Ho Lam duduk di dekatnya. Dia memandang ke arah sepatu yang pecah-pecah itu. “Aduh, kasihan betul kedua kakimu, Moi-moi. Bukalah sepatunya. Akan kuperiksa apakah kedua kakimu lecet terluka. Aku membawa obat luka.”

Sesudah gadis itu mengangguk, dengan hati-hati dan sopan Ho Lam membantu gadis itu membuka kedua sepatunya. Sepasang kaki yang berkulit putih halus itu terlihat kemerah-merahan, akan tetapi tidak terluka parah, hanya lecet-lecet sedikit. Dengan amat hati-hati Ho Lam mengoleskan obat luka di bagian yang lecet-lecet itu, kemudian membantu Leng Hwa mengenakan sepatunya kembali.

“Aku haus, Lam-ko.”

“Untung sejak tadi aku telah siap. Ini aku membawa seguci air dan roti daging (bak-pauw) untuk menahan haus dan lapar,” kata Ho Lam, lalu dia mengambil makanan dan minuman itu dari buntalan pakaiannya.

“Aku tidak lapar, hanya haus, Koko.” Leng Hwa segera minum air dari guci itu dan merasa segar kembali.

“Lam-ko, kita akan pergi ke mana?”

“Rencanaku begini, Hwa-moi. Kita pergi dulu ke kota Cin-le yang tinggal sehari perjalanan dari sini. Jika kita berjalan agak cepat, sore atau paling lambat malam nanti kita akan tiba di sana. Nah, di Cin-le nanti kubeli dua ekor kuda, lalu kita melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda agar lebih cepat dan tidak terlalu melelahkan.”

“Pakailah perhiasanku untuk membeli kuda, Lam-ko. Aku membawa perhiasan pemberian Ibu di dalam buntalan ini.”

“Aku juga membawa semua hasil tabunganku, Hwa-moi. Kalau nanti kurang, barulah aku akan menggunakan perhiasanmu.”

“Akan tetapi ke mana kita akan pergi, Koko?”

“Hwa-moi, kita harus pergi sejauh mungkin dari sini dan mengganti nama kita, lalu tinggal di sebuah dusun yang terpencil. Kita harus bersembunyi sampai beberapa tahun lamanya karena kalau tidak maka kita akan dapat ditemukan Ayahmu. Engkau mau bukan, hidup di tempat sunyi dalam keadaan melarat sebagai petani sederhana?”

Sejenak Leng Hwa menatap wajah kekasihnya dengan penuh kepasrahan, lalu menjawab, “Mengapa engkau masih bertanya seperti itu, Koko? Apakah engkau belum percaya akan kesetiaanku? Aku dengan senang hati akan menemanimu, hidup bersamamu di mana pun juga dan dalam keadaan apa pun juga.”

“Moi-moi...!” Ho Lam merangkul dan mendekap kepala gadis itu ke dadanya.

“Aku rela berkorban nyawa untukmu! Aku cinta padamu, Hwa-moi!”

“Aku juga, Lam-ko,” kata Leng Hwa dengan suara lirih sambil memejamkan mata di dalam dekapan kekasihnya itu, merasa sangat berbahagia. “Lam-ko, kita beristirahat dulu di sini sampai kedua kakiku sembuh dari rasa pegal dan lelah, ya?”

“Baiklah, Hwa-moi. Akan tetapi jangan terlalu lama. Aku khawatir ayahmu dapat menyusul kita.”

“Kalau hal itu terjadi, aku tidak takut, Lam-ko. Aku siap mati bersamamu.”

“Hwa-moi...!” Ho Lam mempererat dekapannya dengan perasaan penuh kasih sayang dan beberapa lamanya keduanya diam tak bergerak dalam suasana mesra itu.

Mungkin saking lelahnya dan semalam suntuk tidak tidur, ditambah kelegaan hati berada dalam dekapan kekasihnya setelah mengalami ketegangan dan kegelisahan semalam, tak lama kemudian Leng Hwa tertidur dalam dekapan, bersandar di dada Ho Lam. Melihat ini Ho Lam tidak tega untuk membangunkan kekasihnya dan dia bahkan tidak mau membuat gerakan agar Leng Hwa dapat tidur dengan pulas.

Akan tetapi hati Ho Lam mulai merasa khawatir sesudah lewat tiga jam Leng Hwa belum juga bangun. Matahari sudah mulai condong ke barat. Akan tetapi untuk membangunkan kekasihnya, dia tidak tega.

Tiba-tiba Ho Lam tersentak kaget dan matanya terbelalak memandang kepada Can Kok yang tahu-tahu sudah berdiri di depan goa! Can Kok memandang dengan matanya yang mencorong aneh dan bibirnya tersenyum sinis. Karena Ho Lam tersentak kaget Leng Hwa segera terbangun. Begitu membuka matanya dia juga melihat Can Kok, dan cepat gadis itu melompat dan bangkit berdiri.

“Can Kok, mau apa engkau menyusul kami?!” Leng Hwa membentak. Dalam kemarahan dan kebencian dia menyebut nama Can Kok begitu saja, padahal dulu dia akrab dengan pemuda itu dan menyebutnya kakak.

“Adik Leng Hwa yang manis, aku diutus Paman Kui Tong untuk membawamu pulang ke Pulau Udang dan membunuh tikus busuk ini!” Can Kok menudingkan telunjuknya ke arah muka Ho Lam yang juga sudah cepat berdiri di dekat Leng Hwa dengan sikap melindungi kekasihnya itu.

“Can Kok Suheng, di antara kita ada pertalian persaudaraan seperguruan dan sejak dulu hubungan di antara kita baik. Apakah engkau tidak merasa kasihan kepada kami berdua? Kami saling mencinta dan kami pun telah bersumpah untuk sehidup semati. Biarkan kami pergi, Suheng, dan kami tidak akan melupakan budi kebaikanmu ini.”

Can Kok tertawa. Tawanya aneh, bergelak namun terdengar mengguguk seperti tangisan! Ini menunjukkan bahwa hatinya dibakar kemarahan.

“Ha-ha-hu-hu-huk! Engkau telah berkhianat terhadap Paman, maka engkau harus mati di tanganku. Adik Leng Hwa ini adalah calon isteriku tetapi engkau berani membawanya lari, keparat!”

“Can Kok, aku tidak sudi menjadi isterimu. Lebih baik mati dari pada menjadi isteri orang gila seperti engkau!” Leng Hwa berteriak dengan marah dan nekat.

“Can-suheng, kami tak ingin bermusuhan denganmu. Kuharap engkau suka meninggalkan kami, kalau tidak kami terpaksa akan melawan mati-matian!” kata Ho Lam yang maklum bahwa tidak mungkin meloloskan diri dari ancaman Can Kok.

“Hemm, tikus busuk, mampuslah!” Can Kok membentak dan menyerang ke depan dengan dorongan tangan kanan ke arah Ho Lam.

Melihat Can Kok menyerang kekasihnya, cepat sekali Leng Hwa telah melompat ke depan lalu menyambut serangan jarak jauh itu dengan kedua tangannya, melindungi Ho Lam.

“Wuuuttt...! Desss...!” Tubuh Leng Hwa terpental dan jatuh terjengkang.

“Jahanam!” Ho Lam marah sekali melihat kekasihnya roboh.

Dia segera mencabut pedangnya lantas menerjang Can Kok dengan nekat. Gerakannya cukup kuat dan cepat. Namun, dibandingkan dengan Can Kok, kekuatannya itu tidak ada artinya sama sekali.

Can Kok tidak mengelak, tetapi ketika pedang itu sudah meluncur dekat hendak menusuk dadanya, tangan kanannya lalu menyambar dan tahu-tahu pedang itu telah ditangkapnya. Dengan sekali renggut pedang itu pun pindah tangan.

Ho Lam terkejut, akan tetapi Can Kok sudah menggerakkan tangannya yang menangkap pedang itu, kemudian dengan sekali sentakan pedang itu membalik dan meluncur seperti anak panah cepatnya ke arah dada Ho Lam! Ho Lam tidak sempat lagi menghindar.

“Capppp...!”

Pedang itu menancap tepat di tengah dada Ho Lam. Pemuda itu terhuyung ke belakang kemudian roboh telentang.

Leng Hwa yang tadi hanya terjengkang dan kini sudah bangkit berdiri, terbelalak melihat kekasihnya roboh dengan dada ditembusi pedang.

“Iblis jahat, kau... kau membunuh Lam-ko...!” Sambil menangis Leng Hwa lalu menyerang Can Kok dengan pedangnya.

Akan tetapi sekali mengibaskan tangannya, pedang itu terlepas dari tangan Leng Hwa dan sebelum gadis itu dapat menyerang lagi, Can Kok sudah memeIuknya sehingga dia tidak mampu bergerak. Can Kok tertawa dan menciumi muka Leng Hwa yang meronta-ronta.

“Heh-heh, engkau mencinta tikus ini, ya? Nah, biarlah sebelum mampus tikus ini melihat betapa engkau bermesraan dengan aku!”

Can Kok duduk dekat Ho Lam yang belum tewas, yang telentang dengan mata terbelalak dan pedang menancap di dada. Leng Hwa meronta-ronta, akan tetapi Can Kok merobek bajunya dan sengaja hendak pamer mempermainkan gadis itu di hadapan Ho Lam yang masih belum mati.

Akan tetapi pada saat itu pula terdengar suara orang menegur. “Sungguh perbuatan yang terkutuk dan biadab! Engkau ini iblis berwajah manusia!”

Berbareng dengan teguran itu muncul angin kuat yang menyambar ke arah Can Kok. Can Kok cepat melepaskan tubuh Leng Hwa yang bajunya telah robek, lalu menangkis ke arah angin yang menyambar dari sebelah kanan.

“Wuuuttt...! Desss…!”

Can Kok terkejut bukan main dan berseru keras sambil melompat jauh ke belakang ketika dia merasa betapa tangkisannya bertemu dengan hawa yang amat kuat hingga lengannya tergetar hebat.

Mereka saling pandang dengan sinar mata mencorong. Kiranya yang menyerang Can Kok tadi bukan lain adalah Souw Thian Liong!

Seperti telah kita ketahui, Thian Liong berkunjung ke dusun Kian-cung dekat Telaga See-ouw untuk mengunjungi rumah Han Si Tiong. Di sana dia mendengar bahwa Han Si Tiong sudah tewas ketika diserang oleh dua orang muda dan bahwa Han Bi Lan sudah pulang, akan tetapi kemudian bersama ibunya meninggalkan Kian-cung menuju ke kota raja. Dia menduga bahwa ibu dan anak itu tentu pergi ke rumah Panglima Kwee di kota raja karena Han Bi Lan hendak dijodohkan dengan Kwee Cun Ki, putera Panglima Kwee.

Setelah bersembahyang di depan kuburan Han Si Tiong, Thian Liong segera melanjutkan perantauannya. Kebetulan dia tiba di bukit dekat pantai itu lantas melihat Can Kok hendak memperkosa seorang gadis di depan seorang pemuda yang sudah hampir mati. Dia juga mendengar ucapan Can Kok, maka dia menjadi marah lalu menyerang pemuda gila itu.

Sekarang mereka saling berhadapan dalam jarak sekitar tiga tombak. Thian Liong segera mengenal pemuda yang menjadi murid Empat Datuk Besar seperti dilihatnya di Pulau lblis dahulu. Sebaliknya Can Kok tidak mengenalnya dan Can Kok marah bukan main melihat ada orang yang berani menghalanginya.

“Keparat, siapa engkau berani mencampuri urusanku?” bentak Can Kok.

Kalau saja yang berbuat itu orang lain, tentu dia sudah turun tangan membunuhnya. Akan tetapi, dari tangkisannya tadi, dia tahu bahwa pemuda sederhana di depannya ini seorang yang memiliki kepandaian tinggi, maka dia ingin mengetahui siapa orang ini.

“Can Kok, aku bernama Souw Thian Liong.”

“Hemm, engkau mengenal namaku?”

“Tentu saja, engkau Can Kok murid Empat Datuk Besar dan engkau telah menguasai ilmu yang amat tinggi. Hanya sayang seribu sayang, ilmu yang tinggi itu kini diperalat oleh iblis yang menguasai dirimu!”

Tiba-tiba terdengar jerit tangis. Dua orang pemuda itu menengok ke arah Leng Hwa. Tadi perhatian mereka sepenuhnya diarahkan pada lawan sehingga tidak memperhatikan Leng Hwa. Gadis itu juga tidak mempedulikan mereka, melainkan lari menubruk tubuh Ho Lam yang masih telentang hampir mati dengan mata masih terbuka. Mata pemuda itu basah dan dua butir air mata bergulir turun ke atas pipinya ketika dia memandang Leng Hwa.

“...Hwa... Hwa-moi...” kedua mata itu terpejam.

“Lam-ko... tidak... engkau tidak boleh mati sendiri!”

Leng Hwa lalu menggunakan kedua tangannya untuk mencabut pedang yang menancap di dada Ho Lam, dan darah muncrat dari dada Ho Lam. Leng Hwa menjerit ketika melihat muncratnya darah itu, lantas dia pun menusukkan pedang itu ke dadanya sendiri sampai tembus, kemudian terkulai dan roboh di atas dada Ho Lam. Darah muncrat-muncrat dari dua dada sepasang kekasih itu, bercampur dan membasahi tubuh mereka yang perlahan-lahan menghembuskan napas terakhir.

Thian Liong merasa ngeri dan terharu, juga menyesal bahwa dia tidak mampu mencegah hal itu terjadi. Kini dia memandang lagi kepada Can Kok, pandang matanya tajam penuh teguran.

“Can Kok, lihat itu korban dari kekejianmu! Engkau bukan manusia, melainkan iblis jahat yang harus dibasmi dari permukaan bumi ini!”

“Ha-ha-hu-hu-huk!” Can Kok tertawa seperti tangis mengguguk karena marahnya. “Souw Thian Liong bocah sombong. Engkaulah yang akan mampus menemani mereka berdua! Haaiiiiikkkk…!”

Can Kok telah menyerang dengan amat dahsyat. Tangan kirinya yang terbuka menampar dan dari telapak tangannya yang kini berubah menjadi kemerahan itu keluar hawa pukulan yang panas. Inilah Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah), ilmu andalan milik Lam-kai Gui Lin, Pengemis Selatan itu.

Akan tetapi Thian Liong yang sudah tahu akan kelihaian Can Kok dapat mengelak dengan gesit, lantas dari samping tangan kirinya membalas dengan tamparan yang mengandung hawa sakti yang kuat pula. Namun Can Kok dapat pula mengelak.

Can Kok yang juga sudah menduga bahwa lawannya ini tidak seperti semua lawan yang pernah dihadapinya, melainkan mempunyai kesaktian, kini bersilat dengan gerakan yang amat aneh dan setiap gerakan kedua tangan serta kakinya membawa hawa pukulan yang dahsyat. Inilah ilmu silat gabungan dari ilmu-ilmu Empat Datuk Besar menjadi satu. Aneh, dahsyat dan sungguh berbahaya karena setiap sambaran tangan atau kaki itu merupakan serangan maut! Bukan saja serangan-serangan itu sangat kuat, namun juga mengandung hawa beracun yang jahat.

Thian Liong bersilat dengan tenang dan hati-hati sekali. Ketika dia mengintai di Pulau Iblis dan melihat Can Kok, dia telah tahu bahwa pemuda yang dipersiapkan oleh Empat Datuk Besar untuk membunuh Gurunya, Tiong Lee Cin-jin ini merupakan lawannya yang paling kuat dan berbahaya. Maka sekarang, setelah tanpa disengaja mereka saling bertemu dan bertanding, dia bersilat dengan hati-hati sekali. Dia mengerahkan seluruh sinkang (tenaga sakti) sambil mengeluarkan jurus-jurus yang paling ampuh untuk mengimbangi serangan lawan dengan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya.

“Haaaaiiikkk...!”

“Hyaaaattt...!”

“Blaarrrrr...!”

Untuk kesekian kalinya dua tenaga sakti bertemu di udara dan tubuh keduanya terdorong ke belakang. Bahkan dalam hal tenaga sakti, kekuatan mereka juga seimbang.

Hanya ada sebuah perbedaan yang jauh dalam pertandingan hebat tanpa saksi ini karena dua orang lain yang berada di situ, yaitu Ho Lam dan Kui Leng Hwa, telah menjadi mayat. Perbedaan itu adalah bahwa kalau Can Kok mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyerang dengan tujuan membunuh, sebaliknya Thian Liong sama sekali tidak memiliki niat untuk membunuh. Ia hanya ingin merobohkan dan menaklukkan lawannya saja, tidak pernah mau menggunakan serangan maut.

Ketika mereka terdorong ke belakang sehingga mereka berpisah dalam jarak lima enam tombak, sebelum mereka bergerak menerjang lagi, tiba-tiba terdengar suara yang sangat nyaring sehingga menggetarkan seluruh tempat itu. Suara gerengan seperti auman singa!

Dua orang pemuda itu telah mengenal suara ini, suara yang dikeluarkan dengan ilmu Sai-cu Ho-kang (Suara Sakti Auman Singa) dari Tung-sai Kui Tong! Kalau Thian Liong yang mendengar ini menjadi terkejut dan gentar, sebaliknya Can Kok merasa gembira sekali. Lawannya amat kuat, maka munculnya Singa Timur itu tentu saja akan memudahkan dia membunuh Souw Thian Liong.

Sebaliknya Si Naga Langit ini maklum bahwa dia tidak akan mungkin mampu menandingi pengeroyokan Can Kok dan Singa Timur. Apa lagi kini tidak ada pula yang harus ditolong. Sepasang muda-mudi itu telah tewas dan dia tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Maka, begitu mendengar auman yang menggetarkan itu, Thian Liong cepat melompat kemudian berkelebat pergi dari situ. Can Kok merasa ragu-ragu untuk mengejar seorang diri.

Si Singa Timur muncul dengan tombak di tangan kanannya.

“Paman, mari kita kejar Souw Thian Liong!” kata Can Kok dengan girang. Kalau mereka mengejar berdua, besar kemungkinan mereka akan dapat membunuh lawan yang berat itu.

Akan tetapi Tung-sai tidak menjawab. Dia malah melangkah menghampiri dua tubuh yang bertumpuk di depan goa dan mandi darah itu. Ketika memperoleh kenyataan bahwa tubuh yang menindih tubuh lain dan yang mandi darah serta sudah tewas itu adalah Leng Hwa, wajahnya yang merah langsung berubah pucat.

“Tidak...!” Tung-sai Kui Tong menancapkan tombaknya di atas tanah lalu berlutut di dekat dua tubuh yang tumpang tindih itu. Dia membalikkan tubuh Leng Hwa yang tertelungkup seolah masih tidak percaya bahwa yang mati itu adalah puterinya. Ketika wajah Leng Hwa sudah tampak, Tung-sai mendekap mukanya dengan kedua tangannya.

“Tidak...! Leng Hwa... ahh, anakku...!”

Tiba-tiba Singa Timur ini bangkit berdiri lalu membalikkan tubuhnya menghadapi Can Kok. Wajahnya tampak menyeramkan sekali, matanya mencorong seperti mata seekor singa yang marah.

“Siapa membunuh anakku?!” bentaknya.

“Paman, aku berhasil membunuh Ho Lam. Akan tetapi pada saat itu muncul jahanam itu dan kami berkelahi sehingga aku tidak sempat mencegah Adik Leng Hwa membunuh diri.”

“Bunuh diri?” Kembali Singa Timur menoleh dan memandang ke arah jenazah puterinya. Pedang itu masih menancap di dada Leng Hwa. Sekarang dia maklum. Ho Lam terbunuh dan puterinya itu membela kekasihnya dengan membunuh diri! Mendadak kemarahannya ditumpahkan kepada Ho Lam.

Tung-sai menyambar jenazah puterinya dengan rangkulan lengan kirinya sambil mencabut pedang yang tertancap di dada Leng Hwa, lalu dia membentak-bentak dengan kalap.

“Engkau membunuh anakku! Keparat, engkau sudah membunuh anakku!” Tangan kanan yang memegang pedang itu bergerak.

“Crak-crak-crakk!”

Mayat Ho Lam menjadi empat potong. Leher, pinggang, dan lutut terbabat putus.

Sambil menggereng-gereng Singa Timur membuang pedang itu dan mencabut tombaknya, lalu berlari sambil memondong jenazah puterinya, menuju pulang. Dia seakan sudah lupa kepada Can Kok. Pemuda ini pun tertawa sinis lalu berlari mengejar Singa Timur, majikan Pulau Udang.

Kedatangan Tung-sai yang memondong jenazah puterinya di Pulau Udang disambut hujan tangis. Seluruh penduduk pulau itu menangisi kematian Kui Leng Hwa, bahkan Nyonya Kui menjerit-jerit dan jatuh pingsan melihat puterinya dibawa pulang sebagai mayat yang berlumuran darah.

“Leng Hwa... Leng Hwa anakku...!” Begitu sadar nyonya itu menjerit-jerit sambil memeluk dan menciumi anaknya yang sudah menjadi mayat.

Ketika Tung-sai Kui Tong memegang pundak isterinya yang sedang kesetanan itu untuk menghiburnya, tiba-tiba Nyonya Kui membalik kepadanya.

“Engkau...! Engkau yang sudah membunuhnya!” Dia membentak dan matanya terbelalak lebar, rambutnya awut-awutan, kemudian wanita yang lemah ini tiba-tiba telah menyerang suaminya, mencakar dengan kedua tangannya.

“Tenang..., anak kita membunuh diri, gara-gara si jahanam Ho Lam!” katanya.

“Tidak! Engkau yang membunuhnya! Engkau terkutuk, engkau telah membunuh anakku!” Wanita itu berteriak-teriak dan menangis, lalu terkulai dan jatuh pingsan.

Tung-sai Kui Tong memondongnya dan membawanya ke dalam kamar. Hati datuk yang biasanya sangat keras itu kini bersedih melihat keadaan isterinya dan anaknya. Sekarang baru terasa olehnya betapa dia amat menyayang puterinya sehingga kematiannya sudah mendatangkan luka parah di dalam hatinya.

Hati datuk timur itu semakin remuk ketika isterinya siuman dari pingsan lalu mengamuk, menangis dan tertawa. Isterinya mengalami tekanan batin yang demikian hebatnya hingga membuat pikirannya terguncang dan berubah. Yang lebih menyedihkan hati Singa Timur, tiga hari kemudian isterinya itu tewas menggantung diri dalam kamarnya! Hal itu dilakukan di tengah malam, ketika dia sedang tidur nyenyak karena sorenya dia minum arak sampai mabuk.

Tiga orang datuk besar yang lain datang melayat. Setelah upacara penguburan isteri dan anaknya selesai, empat orang datuk itu mengadakan perundingan bersama Can Kok.

Di depan mereka, Can Kok menceritakan tentang kematian Leng Hwa. “Kalau saja tidak muncul jahanam itu, pasti aku dapat mencegah Adik Leng Hwa membunuh diri. Jahanam itulah yang memberi kesempatan kepada Leng Hwa untuk membunuh diri. Jahanam itulah yang seolah telah membunuh Leng Hwa.”

“Can Kok, mengapa ketika itu engkau tidak cepat-cepat membunuhnya agar engkau bisa menyelamatkan Leng Hwa?” Singa Timur bertanya, suaranya bernada menegur.

“Paman, jahanam itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat bukan main dan ilmu silatnya mengingatkan aku kepada ilmu silat yang dimainkan dua orang gadis yang mengeroyok aku dulu itu. Tentu ada hubungannya antara dia dan kedua orang gadis itu.”

“Maksudmu Pek Hong Nio-cu dan Ang Hwa Sian-li, dua orang anak murid Tiong Lee Cin-jin itu?”

“Benar, Paman. Aku yakin bahwa dia tentu murid Tiong Lee Cin-jin pula.”

“Murid-murid Tiong Lee Cin-jin? Hemmm, apa maksudnya?” tanya Pak-sian (Dewa Utara) Liong Su Kian. See ong (Raja Barat) Hui Kong Hosiang dan Lam-kai (Pengemis Selatan) Gui Lin juga ikut memandang dengan pertanyaan yang sama.

“Secara kebetulan aku sudah bertemu dan bertanding dengan Pek Hong Nio-cu dan Ang Hwa Sian-li...”

“Hemm, aku tahu bahwa Pek Hong Nio-cu adalah Puteri Moguhai, puteri Kaisar Kin!” kata Pak-sian.

“Dan aku pun pernah mendengar akan nama Ang Hwa Sian-li. Ia seorang gadis pendekar yang malang melintang di daerah Kerajaan Sung!” kata pula Lam-kai.

“Omitohud, apakah engkau yakin bahwa kedua orang gadis itu adalah murid-murid Tiong Lee Cin-jin, Can Kok?” tanya See-ong.

“Tentu saja aku yakin, See-suhu (Guru Barat). Ketika itu mereka memperkenalkan nama mereka dan juga guru mereka.”

“Wah, lalu bagaimana tingkat kepandaian mereka, Can Kok?” tanya Pak-sian.

“Pak-suhu (Guru Utara), mereka cukup lihai, akan tetapi kalau menghadapi seorang dari mereka, aku pasti dapat mengalahkannya.”

“Hemm, lantas bagaimana ketika mereka maju berdua? Apakah engkau dapat menandingi pengeroyokan mereka?” tanya Lam-kai.

“Memang cukup berat bila mereka maju berdua mengeroyokku, Lam-suhu (Guru Selatan), namun aku tidak akan kalah! Ketika itu aku menghadapi mereka dengan murid suhu Kui Tung, dan kami berdua sudah hampir berhasil mengalahkan mereka, akan tetapi muncul ratusan orang prajurit kerajaan. Terpaksa kami meninggalkan musuh yang terlalu banyak itu.”

“Can Kok, ceritakan tentang jahanam yang menghalangimu sehingga engkau tak sempat mencegah anakku membunuh diri. Siapakah dia? Benarkah dia itu murid Tiong Lee Cin-jin juga?” tanya Tung- sai.

“Dia adalah seorang pemuda, usianya sekitar dua puluh dua tahun. Orangnya biasa saja, pakaiannya juga sederhana seperti seorang petani. Namanya Souw Thian Liong, Paman. Dari gerakan silatnya ketika kami bertanding, aku dapat melihat persamaan dasar dengan ilmu silat yang dimainkan dua orang gadis murid Tiong Lee Cin-jin itu, Paman. Maka aku hampir yakin bahwa dia juga seorang murid dari musuh kita itu!”

“Omitohud!” See-ong Hui Kong Ho-siang menggeleng-gelengkan kepalanya yang gundul. “Kalau manusia sombong itu mempunyai tiga orang murid yang lihai maka kedudukannya menjadi kuat. Tentu terlampau kuat kalau dihadapi Can Kok seorang diri!”

“Karena itulah aku mengajak kalian mengadakan perundingan,” kata Tung-sai Kui Tong. “Kalau kita hanya menyuruh Can Kok mewakili kita untuk menghadapi Tiong Lee Cin-jin seorang diri, tentu saja akan terlampau berat bagi Can Kok untuk menghadapi keparat itu yang dibantu oleh tiga orang muridnya. Akan sukarlah diharapkan hasilnya kalau Can Kok dikeroyok empat!”

“Tak dapat disangkal kebenaran kata-katamu, Tung-sai. Lalu bagaimana baiknya?” tanya Pak-sian dengan suaranya yang melengking tinggi.

“Aku punya usul, Pak-suhu, See-suhu dan Lam-suhu. Seperti yang sudah aku sampaikan kepada Paman Tung, satu-satunya cara supaya kita bisa berhasil adalah kita harus maju bersama. Kita beramai-ramai melakukan penyerbuan ke tempat tinggal Tiong Lee Cin-jin, membunuh dia dan semua muridnya. Akan tetapi sayang, aku belum dapat menemukan di mana dia tinggal.”

“Omitohud...! Kebetulan sekali aku mendengar berita bahwa dia kini di Puncak Pelangi, sebuah di antara puncak-puncak Go-bi-san (Pegunungan Gobi),” kata See-ong.

”Bagus kalau begitu, kita beramai-ramai ke sana. Sekali ini kita tidak boleh gagal. Ingat, kalau kita berhasil, bukan saja kita dapat membalas kekalahan kita, akan tetapi aku juga yakin bahwa manusia sombong itu masih menyimpan banyak kitab-kitab langka. Kita bisa memiliki kitab-kitab yang amat berharga itu!” kata Tung-sai.

Ucapan Singa Timur ini disambut gembira oleh rekan-rekannya, maka mereka berlima lalu berunding untuk menyusun rencana dan membuat persiapan keberangkatan mereka ke Puncak Pelangi di Pegunungan Go-bi.....

********************

Thian Liong yang terpaksa melarikan diri karena merasa tidak akan dapat mengalahkan Can Kok apa bila Tung-sai datang membantu, pula karena melihat bahwa dua orang yang harus dilindunginya itu sudah tewas, menghentikan larinya setelah sampai di bawah bukit karang itu. Kemudian dia mengambil jalan memutar untuk mengintai apa yang terjadi di depan goa. Dia melihat Tung-sai memondong jenazah gadis yang ternyata puterinya itu sambil menangis dan pergi dari depan goa. Kemudian Can Kok juga mengikutinya.

Setelah dua orang itu pergi, barulah Thian Liong kembali ke depan goa. Dia mengerutkan alisnya melihat mayat pemuda itu terpotong menjadi empat.

“Kejam, mereka itu bukan manusia!” gerutunya dan dia pun segera menggali tanah lalu mengubur mayat pemuda yang tidak diketahuinya siapa itu. Akan tetapi dia menemukan dua buntalan pakaian pria dan wanita, maka dia dapat menduga bahwa gadis puteri Tung-sai itu agaknya melarikan diri dengan pemuda ini, kemudian dikejar Can Kok dan Tung-sai. Si pemuda tewas di tangan Can Kok dan gadis itu membunuh diri!

Setelah selesai mengubur jenazah yang terpotong empat itu, Thian Liong lalu melanjutkan perjalanannya. Ia berniat mencari Bi Lan dan ibunya yang pergi ke kota raja untuk melihat apakah dugaannya benar bahwa ibu dan anak itu berkunjung ke rumah keluarga Panglima Kwee dan untuk melangsungkan pernikahan seperti yang direncanakan Panglima Kwee dan isterinya.

Dia tidak akan menemui mereka. Apa bila Bi Lan sudah menikah dengan putera Panglima Kwee maka dia akan turut merasa bahagia. Bahagia? Memang ada perasaan tidak enak dan hampa, akan tetapi dia tetap akan merasa bahagia melihat gadis itu mendapatkan suami yang baik dan kehidupannya dengan ibunyanya tenteram dan berbahagia.

Menjelang sore Thian Liong tiba di luar sebuah dusun yang cukup besar. Melihat sawah ladang di luar dusun demikian luas, dengan tanaman yang subur, juga ada sebuah anak sungai yang airnya cukup banyak dan jernih mengalir di luar dusun, ia pun dapat menduga bahwa keadaan penduduk dusun itu tentu cukup makmur. Apa bila sebuah dusun memiliki tanah subur dan air cukup, maka sudah dapat dipastikan bahwa penduduknya tentu hidup makmur, cukup sandang pangan papannya.

Dari pengalamannya Thian Liong mengetahui bahwa kebutuhan hidup penduduk dusun tidaklah banyak. Asalkan sebuah keluarga setiap hari dapat makan kenyang, berpakaian utuh dan mempunyai pakaian pengganti, lalu memiliki sebuah rumah untuk berteduh dan tidur, walau pun ketiga kebutuhan hidup itu tidaklah mewah, mereka akan merasa cukup makmur! Cukup sandang pangan papan, keluarga sehat, itulah dambaan setiap keluarga dusun.

Akan tetapi dia melihat di luar dusun itu amat sepi dan setelah agak dekat dia mendengar suara ribut-ribut di dalam dusun. Dia merasa heran dan cepat dia berlari memasuki dusun itu.

Pertama-tama yang tampak adalah rumah-rumah yang sama sekali di luar perkiraannya. Rumah-rumah itu sebagian besar hanya merupakan gubuk-gubuk reyot, bukan sederhana lagi akan tetapi lebih tepat disebut miskin, sepantasnya menjadi gubuk para gelandangan. Juga dia melihat beberapa orang anak-anak yang berseliweran di sekitar rumah-rumah gubuk itu berpakaian kotor dan compang-camping seperti pakaian pengemis!

Tetapi Thian Liong tidak sempat terlalu memperhatikan keadaan yang di luar perkiraannya tadi karena dia sudah lari ke tengah dusun di mana terdapat banyak orang yang berteriak-teriak. Mereka berkumpul di depan rumah-rumah gedung yang mentereng dan mewah!

Apa bila dibandingkan dengan gubuk-gubuk reyot milik penduduk dusun, keadaan deretan gedung yang terdiri dari sepuluh bangunan besar itu benar-benar seperti langit dan bumi. Gedung-gedung itu kokoh dan indah, seperti bangunan rumah-rumah para hartawan dan bangsawan di kota-kota, dikelilingi dinding tembok yang dihiasi patung-patung singa dan binatang lain dan memiliki pintu gerbang besi! Hebatnya lagi, di depan gedung-gedung itu pada saat itu terdapat puluhan orang berbaris melindungi gedung-gedung itu, dan mereka ini mengenakan pakaian seragam seperti prajurit, dengan memegang senjata tombak atau pedang di tangan! Sikap mereka itu galak dan gagah, wajah mereka bengis memandang ke arah kerumunan orang di jalan depan gedung-gedung itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner