JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-23


Thian Liong memperhatikan mereka yang berkerumun di situ. Tidak kurang dari seratus lima puluh orang yang berkumpul di situ sambil berteriak-teriak. Melihat keadaan mereka, Thian Liong kembali merasa kaget dan heran.

Pakaian mereka sebagian besar juga kotor dan compang-camping seperti pakaian anak-anak tadi. Hanya ada belasan orang saja yang berpakaian tidak compang-camping, tetapi pakaian mereka juga kotor dan dari kain murah. Sungguh jauh bedanya bila dibandingkan dengan pakaian para penjaga rumah itu!

Mereka terus berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tangan-tangan yang kasar dan kulitnya hitam terbakar sinar matahari, tangan-tangan yang biasa kerja berat.

“Pembesar lalim!”

“Munafik!”

“Penipu!”

Demikian mereka berteriak-teriak dan berdesak-desakan hendak memasuki pintu gerbang sebuah di antara gedung-gedung itu yang berada di tengah. Gedung ini tidaklah semewah gedung-gedung di kanan kirinya, biar pun cukup besar namun tidaklah tampak mentereng.

Akan tetapi barisan penjaga itu menghadang dengan senjata mereka dan seorang kepala pasukan jaga membentak, “Hayo mundur semua! Apakah kalian hendak memberontak? Mundur atau kami bunuh kalian yang berani melawan penguasa!”

“Kami bukan memberontak, kami tidak melawan!” terdengar salah seorang di antara para penduduk miskin itu berseru.

Suaranya cukup lantang dan dia adalah seorang lelaki berusia lima puluh tahun lebih yang pakaiannya amat sederhana, walau pun tidak compang-camping. Wajahnya lembut, akan tetapi matanya mengeluarkan sinar berapi penuh keberanian. “Kami hanya ingin menuntut keadilan! Kami minta agar Mo-chungcu (Kepala Dusun Mo) menemui kami dan memenuhi janji-janjinya kepada kami, rakyat dusun Be-san ini!”

“Keparat, engkau yang memimpin pemberontakan ini, ya?” Komandan penjaga itu segera menggerakkan cambuk di tangannya.

“Tarrr…! Tarrrr...!”

Lelaki yang bicara lantang tadi cepat melindungi mukanya dengan kedua tangan. Cambuk melecuti tubuhnya dan dia pun terpelanting roboh, bajunya robek tercabik-cabik sengatan ujung cambuk sehingga tampaklah darah di sana sini keluar dari kulit yang ikut pecah.

Penduduk yang berkerumun di sana menjadi panik dan mereka segera bergerak mundur. Komandan gerombolan penjaga itu menyeringai, merasa mendapat angin setelah melihat wajah para penduduk yang nampak ketakutan. Dengan wajah bengis dia melangkah maju, lalu mengangkat cambuknya untuk menghajar laki-laki yang sudah roboh itu.

“Mampuslah engkau, pemberontak!” bentaknya.

Namun sebelum cambuknya menyambar ke bawah, tiba-tiba cambuk itu direnggut orang. Renggutan itu kuat bukan main sehingga dia tidak mampu mempertahankan cambuk dan tahu-tahu sudah terlepas dari pegangannya dan dirampas orang. Ketika dia membalikkan tubuh dan memandang, ternyata yang merampas cambuknya itu seorang pemuda asing yang berpakaian sederhana. Pemuda itu jelas bukan penduduk dusun Be-san itu karena dia tidak mengenalnya.

“Jahanam busuk, siapa kamu berani merampas cambukku? Hayo kembalikan, cepat!” Dia melangkah maju dan hendak merampas kembali cambuknya yang berada di tangan Souw Thian Liong.

Pemuda yang merampas cambuk kepala pasukan penjaga itu adalah Thian Liong. Tadi dia marah sekali melihat perbuatan kepala jaga itu mencambuki orang yang tidak dapat melawan, maka dia lalu merampas cambuk itu. Kini, melihat tukang pukul itu memakinya dan hendak merampas kembali cambuknya, Thian Liong cepat menangkis dengan tangan kirinya dan begitu lengan mereka bertemu, tukang pukul itu pun terpelanting roboh.

Dia marah bukan main. Cepat dia bangkit berdiri, mencabut goloknya dan membacok ke arah kepala Thian Liong.

Thian Liong menggerakkan tangan sambil mencondongkan tubuh ke kiri mengelak. Ketika golok itu meluncur lewat, tangan kirinya menyambar dan dia pun sudah merampas golok penyerangnya. Dengan mudah seperti orang mematahkan batang ranting kecil saja, Thian Liong mematah-matahkan golok itu kemudian membuang ke atas tanah. Sesudah itu dia menggerakkan cambuk rampasan itu sehingga terdengar ledakan-ledakan cambuk yang menari-nari di atas tubuh kepala jaga itu.

Tukang pukul itu mengaduh-aduh dan roboh menggeliat-geliat, bajunya robek-robek dan berlepotan darah.

Melihat ini, timbul keberanian para penduduk. Mereka berdesakan maju kemudian dengan wajah beringas mereka hendak mengeroyok komandan jaga yang galak itu. Kalau hal ini dibiarkan, tentu komandan jaga itu akan dihujani pukulan dan tak dapat ditolong lagi. Akan tetapi Thian Liong cepat menghadang sambil mengayunkan cambuknya ke atas sehingga terdengar meledak-ledak.

“Mundur! Ada urusan dapat dibicarakan, tidak perlu menggunakan kekerasan!” bentaknya.

Para penduduk itu lalu menghentikan niat mereka menghajar komandan jaga itu. Setelah Thian Liong tidak mencambuki lagi, dengan tertatih-tatih komandan jaga itu bangkit berdiri lalu ditolong oleh beberapa orang temannya.

Pada saat itu muncul seorang laki-laki dari dalam gedung. Karena pendapa rumah besar itu lebih tinggi dari pada pekarangan, maka semua orang bisa melihatnya, seolah-olah dia berdiri di atas panggung. Kalau tadinya para penduduk itu saling bicara dengan suara riuh, kini mereka berhenti mengeluarkan suara sehingga suasananya hening.

Thian Liong sendiri memandang ke arah pendapa dan melihat lelaki itu melangkah dengan tenang sampai ke pinggir pendapa menghadapi orang-orang yang berdiri di pekarangan, di bawah pendapa.

Laki-laki itu sudah tua, usianya sekitar tujuh puluh tahun. Rambutnya sudah putih semua, wajahnya dihiasi senyuman dan sikapnya tampak lembut sehingga diam-diam Thian Liong merasa sangat heran. Kakek ini tampaknya baik hati dan penuh kesabaran. Mengapa kini penduduk ribut-ribut dan dari teriakan-teriakan mereka tadi seolah merasa penasaran dan menuntut? Kakek inikah yang tadi dimaki sebagai pembesar lalim, munafik dan penipu?

Sejenak kakek itu melayangkan pandangan matanya kepada semua orang dan kini Thian Liong baru melihat bahwa di balik kelembutannya, kakek itu memiliki pandang mata yang membayangkan kekerasan hati. Semua penduduk terdiam dan tampak gelisah. Kemudian terdengar suara kakek itu, suaranya juga terdengar lembut namun cukup lantang hingga terdengar oleh semua orang.

“Hei, para penduduk Be-san. Kalian ini mau apa ribut-ribut di sini? Jika ada urusan, siapa pun boleh menghadap kepadaku untuk membicarakannya, bukan ribut-ribut datang ke sini seperti perampok. Kalau kalian menggunakan kekerasan, aku pun dapat memerintahkan para pengawalku untuk membasmi kalian!” Setelah berkata demikian kakek itu menggapai ke dalam dan muncullah lima orang laki-laki tinggi besar yang berwajah menyeramkan.

“Lihat, kalian semua sudah tahu bahwa Twa-to Ngo-houw (Lima Harimau Bergolok Besar) ini adalah para pengawal pribadiku. Kalau kalian hendak mempergunakan kekerasan dan hendak memberontak, aku pun dapat memberi perintah kepada mereka untuk membunuh kalian!” Kini suara yang lembut itu mengandung ancaman.

Lima orang tinggi besar itu berdiri tegak sambil tersenyum simpul, mengangkat dada dan memandang rendah semua orang yang berdiri di pekarangan.

Lelaki yang tadi dicambuk berdiri paling depan. Dia berseru dengan lantang. “Mo-chungcu (Kepala Dusun Mo), kami sama sekali bukan hendak memberontak, hanya ingin menuntut hak kami dan menagih semua janji Chungcu kepada kami beberapa tahun yang lalu. Kami merasa dibohongi!”

“Apa?!” Lurah Mo itu membelalakkan matanya dan kini wajahnya berubah merah. “Kamu berani menuduh aku membohongimu? Aku telah berjuang mati-matian demi kemakmuran desa dan rakyat, dan kamu bilang aku berbohong? Pengawal, tangkap pemberontak itu!” Lurah Mo menuding ke arah laki-laki yang menjadi wakil pembicara penduduk dusun itu.

Seorang di antara lima pengawal itu menyeringai, lalu melangkah maju hendak turun dari atas pendapa, tangannya meraba gagang golok dengan sikap bengis mengancam. Akan tetapi sebelum dia turun, tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu Thian Liong sudah berdiri di depannya.

Ketika Thian Liong menghajar kepala penjaga tadi, Lurah Mo dan lima orang pengawalnya tidak melihat hal itu. Maka kini melihat mendadak muncul seorang pemuda asing, bukan penduduk dusun Be-san, Lurah Mo langsung membentak marah. “Hei, siapa kamu berani naik ke sini tanpa kami panggil?!”

Sementara itu lima orang Twa-to Ngo-houw telah bergerak maju, mengepung Thian Liong dengan sikap mengancam. Thian Liong bersikap tenang saja, lalu dengan suara lantang dia berkata,

“Saya bernama Souw Thian Liong. Kebetulan saya sedang lewat di dusun Be-san ini dan melihat para penduduk hendak menyatakan isi hati mereka kepada Mo-chungcu. Engkau sendiri yang tadi mengatakan bahwa kalau ada urusan, mereka boleh bicara denganmu, akan tetapi mengapa, setelah kini ada yang mewakili para penduduk untuk bicara, malah kau ancam dan hendak menyuruh anjing-anjingmu untuk menggonggong dan menggigit penduduk?”

Tentu saja Lurah Mo marah sekali mendengar ucapan itu. Juga Twa-to Ngo-houw yang disebut anjing-anjing oleh pemuda asing sederhana ini.

“Tangkap bocah lancang mulut ini!” bentak Lurah Mo.

Karena mereka memang sudah amat marah terhadap Thian Liong, maka tanpa diperintah dua kali, lima orang tukang pukul itu langsung menerjang, ada yang menubruk, ada yang mencengkeram, ada yang memukul atau menendang. Agaknya mereka berlima berlomba untuk lebih dulu merobohkan pemuda itu.

Para penduduk dusun yang menonton dari bawah pendapa, memandang dengan cemas karena mereka semua tahu betapa lihai dan kejamnya lima orang jagoan andalan Lurah Mo itu.

Akan tetapi terjadilah hal yang membuat semua orang terperangah. Tiba-tiba tubuh Thian Liong berpusing seperti gasing dan tangannya berubah banyak, membagi-bagi tamparan kepada lima orang penyerangnya.

“Plak-plak-plak-plak-plak...!”

Dan lima orang tinggi besar itu berpelantingan roboh di atas lantai pendapa!

Lima orang jagoan itu sendiri terbelalak, heran dan juga pening. Akan tetapi mereka kini menjadi bertambah marah, maklum bahwa pemuda ini bukan seorang lemah. Maka tanpa menanti komando lagi mereka sudah mencabut golok besar mereka dan kembali mereka mengepung Thian Liong.

“Hemm, orang-orang yang mengandalkan kekuasaan berbuat sewenang-wenang terhadap orang lain adalah siauw-jin (orang berbudi rendah) dan menjadi permainan iblis yang akan menyeretnya ke neraka jahanam!” kata Thian Liong. “Mundurlah kalian sebelum terlambat dan bertobatlah!”

Akan tetapi ucapan ini justru menjadi minyak yang disiramkan ke api, membuat lima orang itu menjadi semakin marah. Mereka membentak nyaring lalu golok mereka berkelebatan, diputar menjadi sinar bergulung-gulung yang menyelimuti tubuh mereka, kemudian secara tiba-tiba mencuat dan menyambar ke arah Thian Liong!

Thian Liong maklum bahwa lima orang jagoan yang menggunakan julukan Lima Harimau Bergolok Besar ini tentu merupakan ahli-ahli golok yang tangguh dan sangat berbahaya. Maka dia pun segera mencabut Thian-liong-kiam (Pedang Naga Langit), lantas sekali dia berseru, pedangnya menjadi sinar panjang yang menyilaukan mata.

“Trang-trang-trang-trang-trang...!”

Tampak percikan api berpijar-pijar, disusul robohnya lima orang pengeroyok. Kejadian itu berlangsung demikian cepatnya, tidak dapat diikuti pandang mata dan ketika semua orang memandang lagi, tahu-tahu Thian Liong telah berdiri santai dan pedangnya sudah kembali ke tempatnya.

Lima orang itu mengaduh-aduh. Lengan kanan mereka berdarah karena terluka goresan pedang yang cukup dalam pada pangkal lengan kanan. Golok-golok besar mereka sudah berserakan di atas lantai dalam keadaan patah menjadi dua potong!

Pada saat itu pula dari dalam gedung bermunculan empat orang lelaki berusia antara tiga puluh sampai empat puluh lima tahun, dan seorang lelaki berusia sekitar enam puluh lima tahun. Lima orang laki-laki ini bukan tukang pukul. Pakaian mereka kelihatan mewah dan mereka berdiri di belakang Lurah Mo dengan wajah pucat pula, seperti wajah Lurah Mo yang pucat dan matanya terbelalak, jeri memandang kepada Souw Thian Liong.

Akan tetapi, agaknya karena sudah banyak pengalaman, Lurah Mo dapat bersikap tenang dan dia lalu berkata kepada Thian Liong dengan suara yang lembut ramah dan membujuk setelah tahu bahwa pemuda ini tidak dapat dilawan dengan kekerasan.

“Souw-sicu (orang gagah Souw), sesungguhnya apakah yang kau inginkan? Bila engkau menginginkan uang, katakanlah berapa kebutuhanmu? Pasti akan kami cukupi. Ataukah engkau menghendaki kedudukan? Akan kami beri kedudukan yang layak dan terhormat.”

“Tidak, Chung-cu, aku tidak butuh apa-apa. Aku hanya minta agar sekarang juga engkau mendengarkan tuntutan penduduk dusun yang kau pimpin ini.” Sesudah berkata demikian Thian Liong lalu berdiri menghadapi penduduk, kemudian berkata dengan suara lantang. “Saudara-saudara sekalian, sekarang bicaralah, ceritakan semua isi hati dan tuntutanmu. Jangan takut, bukalah semua, aku yang menanggung bahwa tidak akan ada orang yang akan mengganggu kalian!”

Laki-laki yang menjadi juru bicara para penduduk itu segera melangkah maju lalu berkata dengan suara lantang. “Saya Liu Cin mewakili seluruh penduduk Be-san, menyampaikan rasa penasaran serta tuntutan kami kepada Lurah Mo. Beberapa tahun yang lalu, ketika diadakan pemilihan lurah baru untuk dusun ini, Lurah Mo telah berjanji kepada kami untuk berjuang memajukan dusun ini dan mendatangkan kemakmuran bagi kami semua. Untuk usaha itu Lurah Mo lalu mengadakan peraturan-peraturan yang amat memberatkan kami seperti pajak-pajak, sumbangan-sumbangan, dan lain-lain. Selama bertahun-tahun hidup kami menjadi semakin berat. Hasil sawah ladang kami memang subur dan banyak, tetapi semua itu sebagian besar habis untuk membayar pajak dan sumbangan-sumbangan yang mencekik sehingga hidup kami amat melarat. Untuk memberi makan semua keluarga pun terkadang kurang, apa lagi untuk membeli pakaian dan membetulkan rumah.”

“Tetapi bukankah sudah sering kami katakan bahwa untuk mendatangkan kesejahteraan maka kita harus prihatin? Bukankah telah sering pula kami katakan bahwa ada pribahasa: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian? Kita berprihatin sekarang ini untuk membangun desa, untuk mempersiapkan kehidupan yang makmur bagi anak-anak keturunan kita!” Demikian Lurah Mo membantah dengan suaranya yang khas, lembut namun lantang.

Tiba-tiba para penduduk menjadi gaduh lagi. Ada yang berteriak-teriak.

“Munafik...!”

“Penipu...!”

Thian Liong mengangkat kedua tangannya ke atas. “Saudara-saudara harap tenang dan dengarkan dahulu pembicaraan yang dilakukan wakil kalian dan Lurah Mo!” Semua orang lalu diam.

“Itulah yang selalu dikatakan Lurah Mo kepada kami seluruh penduduk dusun. Kami harus prihatin, hidup sederhana seadanya, demi pembangunan dusun, demi kemakmuran anak cucu. Kami menaati semua nasihat dan petunjuknya karena menganggap dia benar-benar berjuang demi kesejahteraan dusun dan penduduknya, akan tetapi apakah kenyataannya? Mungkin Lurah Mo sendiri tidak menonjolkan kekayaannya, tetapi lihatlah! Anak-anaknya dan saudaranya membangun gedung-gedung besar! Itu mereka berdiri di belakang Lurah Mo! Anak-anaknya dan saudaranya menjadi kaya raya, memiliki rumah gedung, ratusan ekor ternak, membeli hampir semua sawah ladang sehingga kami yang terpaksa menjual tanah untuk makan kini hanya menjadi buruh tani. Dan ke mana larinya semua hasil pajak yang kami bayar, semua sumbangan-sumbangan yang begitu banyak diambil dari hasil keringat kami? Mana pembangunan untuk dusun ini? Yang ada hanyalah pembangunan untuk Lurah Mo sekeluarganya yang menjadi kaya raya. Begitu kayanya sampai gandum di lumbung mereka membusuk. Mereka juga sering mengadakan pesta pora dengan para hartawan dari kota.”

Laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun yang berdiri tepat di belakang Lurah Mo dan yang mengenakan pakaian mewah itu menjawab dengan suara lantang dan sikap gagah-gagahan.

“He, kalian orang-orang bodoh. Jangan menuduh sembarangan dan seenaknya saja! Kami memang kaya raya, akan tetapi kekayaan kami adalah hasil kami berdagang dengan para saudagar di kota!”

Empat orang Iaki-laki yang lebih muda juga berseru marah.

“Itu memang betul! Kami berdagang dan apa salahnya menjadi kaya karena keberhasilan kami berdagang?”

“Kalian hanya iri karena kalian tidak becus mencari uang! Karena kalian ini orang-orang desa yang bodoh! Kalau kami menjadi kaya karena pandai berdagang, dan kalian miskin karena kalian bodoh dan tidak becus, mengapa mau menyalahkan kami?”

Mendengar alasan-alasan keluarga lurah itu maka terjadilah kegaduhan kembali sehingga sekali lagi Thian Liong mengangkat kedua tangan ke atas. “Tenanglah, biarlah wakil kalian yang bicara!”

Setelah suasana menjadi hening, wakil pembicara penduduk itu lalu berkata lagi dengan suara lantang. “Kami semua telah mendengar ucapan keluarga Mo, putera-puteranya dan saudaranya. Jadi kalian menjadi kaya raya karena pandai dan berdagang sedangkan kami menjadi miskin karena bodoh? Kami akui, memang kami bodoh sekali karena mudah saja dibodohi kalian. Tetapi kami masih ingat. Dulu sebelum Lurah Mo menjadi lurah, Lurah Mo sekeluarganya, anak-anaknya serta saudaranya, kalian semua tidak ada bedanya dengan kami! Kalian dulu hanyalah orang desa, kalian dulu juga miskin tak punya apa-apa. Akan tetapi setelah Lurah Mo menjadi lurah di sini, kalian lalu menjadi pedagang dan tuan tanah yang kaya raya dan berlebih-lebihan. Coba terangkan, dari mana kalian mendapatkan itu semua? Dari mana kalian mendapatkan modal untuk berdagang secara besar-besaran, membeli ratusan ekor hewan ternak dan tanah yang demikian luas?”

Empat orang anak lurah serta seorang saudaranya itu menjadi pucat wajahnya dan tidak mampu menjawab, sekarang mereka semua memandang kepada Lurah Mo seolah minta pertolongan agar Sang Lurah yang menjawab.

Melihat enam orang itu hanya diam saja, mulailah penduduk ramai lagi saling bicara dan kata-kata keras dilontarkan mereka kepada keluarga itu.

Thian Liong mengangkat tangannya meminta supaya semua orang tenang, kemudian dia berkata kepada sang Lurah. “Mo-chungcu, silakan jawab pertanyaan mereka. Dari mana keluargamu itu mendapatkan uang begitu banyak untuk dipakai modal berdagang? Kalau kalian tidak mau menjawab terus terang, terpaksa aku akan membiarkan para penduduk ini menggunakan kekerasan dengan cara mereka sendiri!”

Wajah Lurah Mo menjadi pucat dan wajahnya kini kelihatan lebih tua dari pada biasanya. Berulang kali dia menarik napas panjang, memandang pada anak-anak dan saudaranya, lalu berkata, “Mereka mendapatkan... dari... dari aku...”

Wakil pembicara para penduduk itu cepat bertanya lantang.

“Lalu dari mana engkau mendapatkan uang demikian banyaknya itu, Mo-chungcu?!?”

“Dari... dari penghasilan kelurahan...!”

Thian Liong merasa betapa dadanya amat panas mendengar ini semua. Jelaslah baginya bahwa kepala dusun ini telah mempergunakan kesempatan selagi dia berkuasa di dusun ini untuk memperkaya diri sendiri serta keluarganya, tanpa mempedulikan penduduk yang hidupnya di bawah garis kemiskinan, padahal seluruh harta yang mereka miliki itu berasal dari hasil perahan keringat penduduk dusun Be-san. Maka, setelah mengerti dengan jelas permasalahannya, sekarang Thian Liong mewakili penduduk dan bertanya dengan suara mengguntur.

“Mo-chungcu, apakah penghasilan kelurahanan yang kau maksud itu adalah hasil tarikan pajak dan sumbangan dari penduduk, sebagian besar hasil sawah ladang mereka dan dari tanah mereka yang terpaksa dioperkan kepadamu karena mereka kekurangan makanan? Begitukah? Tidak perlu berbohong lagi, jawablah!”

Mo-chungcu tidak dapat mengeluarkan suara, hanya mengangguk-angguk.

“Mo-chungcu, jelas engkau telah menyalah gunakan kekuasaanmu untuk memperkaya diri sendiri dan keluargamu, tanpa mempedulikan rakyat dusun ini! Seluruh harta kekayaanmu serta keluargamu berasal dari hasil sawah ladang yang bersiram keringat para penduduk. Sadarkah engkau akan hal itu?”

Kembali Lurah Mo mengangguk. Dia tampak lemah sekali, tubuhnya menggigil, mukanya pucat. Kemudian dia terhuyung-huyung lalu tangannya bergerak, telunjuknya menuding ke arah empat orang anaknya dan seorang saudaranya itu sambil berkata, “Kalian... bodoh... kalian terlalu pamer...” Dia lalu terguling roboh ke atas lantai dan ketika diperiksa, ternyata Lurah Mo sudah tewas. Mungkin rasa takut, malu dan tegang sudah menekan jantungnya sehingga menewaskannya.

Thian Liong tidak mau kepalang tanggung dalam menolong penduduk dusun Be-san itu. Dia bermalam di situ untuk beberapa hari lamanya dan melakukan pembenahan. Setelah mengadakan musyawarah, atas keputusan orang-orang yang dianggap sebagai sesepuh dan pemuka di dusun itu, lalu diputuskan bahwa semua harta kekayaan Lurah Mo berikut semua keluarganya, sanak kerabatnya yang juga kebagian harta tidak halal itu, disita oleh kepala dusun dan para pembantunya yang baru atas pilihan rakyat.

Harta sitaan itu lalu dipergunakan untuk memperbaiki rumah-rumah penduduk, juga untuk pembangunan dusun yang diperuntukkan bagi kesejahteraan penduduk. Sawah ladang penduduk dikembalikan kepada pemilik lama. Rumah besar itu menjadi rumah kelurahan dari lurah yang baru, sedangkan rumah-rumah gedung yang tadinya milik para putera dan saudara mendiang Lurah Mo, sekarang dijadikan gedung-gedung yang digunakan untuk penduduk melakukan berbagai kegiatan kesenian dan lain-lain.

Atas usul Thian Liong yang dianggap sebagai pahlawan dan penolong penduduk Be-san, keluarga mendiang Lurah Mo tetap diperbolehkan tinggal di Be-san dan menempati rumah yang tidak banyak bedanya dengan perumahan penduduk. Mereka disadarkan dan sudah mengakui bahwa selama ini mereka dibutakan oleh pengaruh harta dan kekuasaan.

Setelah hidup sebagai penduduk biasa, sederajat dengan para penduduk lainnya, mereka malah merasa tenteram dan damai. Para tukang pukul yang memiliki watak kejam diusir dari dusun itu, dan bagian keamanan dusun diserahkan kepada para pemuda.

“Kalian dengar baik-baik,” kata Thian Liong ketika hendak meninggalkan dusun itu. “Kalian seluruh penduduk dusun ini harus bersatu padu bergotong-royong saling bantu, bersama-sama menghadapi dan menentang kekuasaan yang sewenang-wenang hendak menindas kalian. Sama sekali bukannya jahat dan tak boleh untuk menjadi orang berharta, asalkan harta itu didapatkan dengan cara yang wajar dan baik, bukan hasil pemerasan, pencurian, atau penipuan. Yang kaya membantu yang miskin, yang miskin pun dibutuhkan oleh yang kaya. Baik kaya mau pun miskin tak mungkin hidup menyendiri tanpa bantuan orang lain. Ingatlah kata-kata bijaksana dari Guru Besar Khong Cu, Se-hai-ce-nei-cai-syung-ti-ye (Di empat penjuru lautan kita semua adalah saudara). Karena itu kita harus tolong menolong seperti saudara, jangan berpesta pora di depan orang-orang yang kelaparan, juga jangan bermewah-mewah dan berfoya-foya di depan orang-orang yang miskin dan papa.”

Setelah memberi nasihat kepada penduduk, Thian Liong juga meninggalkan pesan kepada lurah baru beserta para pembantunya, terutama kepada lurah baru itu.

“Ingatlah selalu bahwa kedudukan kalian ini diberikan oleh rakyat dusun ini. Kalian dapat menjadi pemimpin karena dipilih dan ditentukan oleh mereka. Kalian dijadikan pemimpin untuk mengatur dusun ini agar rakyatnya hidup sejahtera. Tanpa rakyat dusun ini, kalian bukanlah apa-apa. Maka bekerjalah sebaik mungkin demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Kalau kalian menjadi penguasa yang bijaksana dan mencinta rakyat, tentu rakyat akan mencinta kalian pula dan jika sudah begitu, setiap perintah dan petunjuk kalian pasti akan ditaati dan dilaksanakan rakyat dengan senang hati dan patuh. Menjadi penguasa bukan berarti tidak boleh hidup makmur, malah sudah sewajarnya bila seorang pemimpin dapat hidup berkecukupan sebagai imbalan jasanya yang sudah menyejahterakan rakyat, dan sudah menjadi kewajiban rakyat membagi sebagian dari penghasilannya kepada para pemimpin sebagai imbalan jasa. Akan tetapi sama sekali tidak benar kalau ada pemimpin yang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan cara tidak wajar. Jangan ulangi lagi kesalahan pemimpin seperti yang sudah. Keluarga sendiri menumpuk harta sampai berlebihan, sementara sebagian besar rakyatnya hidup miskin sekali, padahal merekalah yang memilih pemimpin mereka. Penguasa yang mengandalkan kekuasaan dan mencari kesempatan memperkaya diri sendiri, bersenang-senang dan menari-nari di atas kepala rakyatnya, pasti takkan diberkati Thian dan akan terkutuk hingga akhirnya mencelakakan diri dan keluarganya sendiri.”

Setelah memberi banyak nasihat Thian Liong kemudian meninggalkan dusun Be-san dan melanjutkan perjalanannya menuju kota raja Lin-an (Hang-chouw), yaitu kota raja Sung Selatan...

********************

Thian Liong melakukan perjalanan menuju ke Lin-an. Hatinya masih merasa risau dan pilu kalau dia memikirkan Bi Lan, yang sudah berbulan-bulan meninggalkan dusun Kian-cung di dekat Telaga Barat. Dia merasa iba kepada gadis itu, juga merasa bersedih mendengar akan kematian Han Si Tiong.

Mudah-mudahan saja dugaannya benar bahwa Bi Lan dan ibunya pergi ke kota raja Lin-an, ke rumah keluarga Panglima Kwee dan mungkin kini telah menjadi isteri Kwee Cun Ki, putera Panglima Kwee dan hidup berbahagia di kota raja. Kalau sekiranya dibutuhkan, dia akan membantu gadis itu mencari para pembunuh ayahnya.

Ketika dia memasuki wilayah kota raja, segera dia mendengar berita tentang Ang I Mo-li (Iblis Betina Baju Merah) yang mengamuk di kota-kota besar, terutama di kota Cin-koan. Menurut kabar itu, Ang I Mo-li ini mengamuk, menghajar banyak laki-laki bangsawan dan hartawan yang sedang bersenang-senang di rumah-rumah pelesir.

Wanita itu kabarnya amat lihai dan para laki-laki hidung belang itu ia lukai dan diberi cacat mukanya, akan tetapi tidak dibunuh. Rumah-rumah pelesir itu dirusak. Agaknya wanita itu amat mendendam dan membenci para pria yang suka berkeliaran dan bersenang-senang di rumah-rumah pelesir itu! Sungguh aneh, pikirnya.

Ketika dia mencari keterangan lebih lanjut dan mendengar bahwa selain lihai Ang I Mo-li itu juga masih muda dan cantik jelita, pikirannya melayang dan membayangkan Han Bi Lan. Gadis itu juga selalu berpakaian merah!

Apakah Ang I Mo-li, Si Iblis Betina Baju Merah itu Han Bi Lan? Akan tetapi kalau benar, mengapa gadis itu mengamuk di rumah-rumah pelesir dan membikin cacat para pria yang berpelesir di situ? Rasanya tidak masuk akal. Apa hubungannya Han Bi Lan dengan para pria yang berpelesir?

Ayahnya dibunuh seorang pemuda dan seorang gadis, demikian menurut penjaga rumah Han Si Tiong yang telah ditinggalkan keluarga itu. Akan tetapi kalau memang Ang I Mo-li itu Han Bi Lan, mengapa dia membenci para pria yang berada di rumah pelesir? Apakah dua orang pembunuh Han Si Tiong itu ada hubungannya dengan rumah pelesir? Hal ini meragukan hati Thian Liong. Kalau begitu agaknya Si Iblis Betina Baju Merah itu bukan Han Bi Lan.

Thian Liong melamun dan membayangkan wajah Han Bi Lan. Terbayang olehnya betapa Han Bi Lan mati-matian membelanya ketika dia difitnah dan hendak menerima hukuman dari para pimpinan Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai karena fitnah yang ditimpakan padanya oleh Cia Song. Kemudian betapa dia yang ketika itu merasa penasaran dan marah pada gadis yang mencuri kitab untuk Kun-lun-pai dari tangannya, sudah dia tampari pinggulnya sampai sepuluh kali seperti yang dia janjikan dalam hatinya. Sejak pertemuan terakhir itu, satu tahun lebih telah lewat.

Pada pagi hari itu Thian Liong menuruni sebuah bukit di puncak di mana dia melewatkan malam yang dingin. Di sekitar bukit itu tidak ada dusun. Akhirnya dia menemukan jalan umum yang kasar dan dia segera teringat bahwa jalan ini menuju ke kota raja di sebelah timur, walau pun perjalanan dari tempat itu ke kota raja masih sekitar sehari penuh.

Jalan umum itu memasuki sebuah hutan yang sangat lebat. Matahari pagi hanya mampu menyusup di antara daun-daun yang rimbun sehingga membentuk garis-garis sinar putih yang menembus keremangan hutan. Indah sekali pemandangan itu. Thian Liong merasa seperti dalam dunia yang aneh dan asing, berjalan melalui berkas-berkas sinar putih itu.

Sunyi bukan main di jalan itu, tak tampak seorang pun manusia. Akan tetapi suasananya cukup riang dengan adanya kicau burung-burung yang berloncatan di dahan dan ranting pohon.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner