JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-24


Mendadak Thian Liong berhenti melangkah. Di antara suara kicau burung-burung itu, dia mendengar suara lain yang aneh. Isak tangis tertahan! Dia pun memejamkan mata sambil mengerahkan pendengarannya.

Tak salah lagi. Ada orang menangis dengan isak ditahan-tahan. Agak jauh dan lirih tetapi pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara itu. Dia lalu melangkah perlahan dan hati-hati menuju ke arah suara. Dia tidak ingin mengganggu orang yang sedang menangis itu, hanya ingin melihat apa yang terjadi, maka dia berjalan perlahan agar jangan sampai diketahui orang yang sedang menangis dan dia hampiri itu.

Tak lama kemudian dia melihat seorang gadis yang sedang duduk bersandar pada batang pohon sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan. DiIa menangis terisak-isak, akan tetapi jelas bahwa dia berusaha menahan agar tangisnya tidak terlalu nyaring.

Jantung dalam dada Thian Liong berdebar keras, hatinya merasa tegang sekali. Melihat bentuk tubuhnya, gadis itu masih muda dan pakaiannya serba merah muda! Han Bi Lan? Ahh, dia tidak dapat melihat mukanya, maka dia masih ragu, tidak yakin apakah gadis itu Han Bi Lan.

Seingatnya, gadis itu berwatak lincah jenaka dan galak, sama sekali bukan model wanita yang cengeng. Akan tetapi, kalau gadis itu memang Bi Lan, mengapa dia menangis? Dan yang lebih aneh lagi, mengapa dia berada di hutan ini seorang diri? Mestinya dia berada di kota raja Lin-an bersama ibunya!

Dengan hati-hati sekali Thian Liong menghampiri, kemudian sengaja batuk-batuk setelah berdiri dalam jarak sekitar tiga tombak dari gadis itu.

“Ugh-ugh-ugh...!”

Tiba-tiba saja gadis itu menghentikan tangisnya, menggunakan kedua tangan mengusap kedua matanya untuk menghapus sisa air mata, kemudian menurunkan kedua tangannya dan memandang. Sepasang mata bintang menatap dengan tajam dan Thian Liong segera terbelalak.

“Kau... ehh, kau... Nona Han Bi Lan...?”

Gadis itu memang Han Bi Lan. Sama sekali tidak pernah diduganya seujung rambut pun bahwa orang yang dicari-carinya selama ini, orang yang membuatnya mengertakan gigi saking gemas dan penasaran, membuat hatinya menjadi panas setiap kali mengingatnya, tahu-tahu kini berada di depannya!

Kalau tahu bahwa Souw Thian Liong datang, sudah pasti dia tidak akan memperlihatkan tangisnya. Dia merasa malu bukan main karena sudah dilihat orang bahwa dia menangis, apa lagi yang melihatnya adalah Souw Thian Liong!

Perasaan malu ini bagaikan minyak dituangkan ke dalam api, membuat hatinya menjadi semakin bernyala panas! Dia segera meloncat bangkit berdiri dengan cekatan sekali dan kini mereka berdiri saling berhadapan, dalam jarak sekitar tiga tombak (lima meter), saling pandang dengan penuh perhatian.

Diam-diam Thian Liong merasa kagum sekaligus juga kasihan melihat Han Bi Lan. Gadis itu masih cantik jelita seperti dahulu walau pun kini rambutnya kusut dan wajahnya tidak berseri. Akan tetapi dia masih nampak jelita dan manis sekali. Wajahnya yang bulat telur itu agak pucat dan sedikit kurus, rambutnya yang panjang hitam digelung sederhana dan sebagian terurai lepas, anak rambutnya semakin binal bermain di dahi dan pelipisnya.

Dahi yang berkulit halus putih kemerahan itu kini terhias dua garis melintang tanda bahwa gadis ini menderita batin. Alisnya hitam kecil dan tebal, matanya yang laksana sepasang bintang itu berkilauan, akan tetapi Thian Liong dapat menangkap kesayuan membayang di dalam mata itu. Dia ingat betapa dahulu mata itu tajam dan penuh gairah hidup, penuh semangat. Hidung yang mancung itu sesuai sekali dengan bibirnya yang berbentuk indah penuh dan tipis kemerahan. Lesung pipi di kedua ujung mulut itu masih tampak. Dagunya agak meruncing seperti menantang. Kulitnya putih mulus. Tubuhnya yang ramping padat itu agak kurus.

“Nona Han Bi Lan, mengapa Nona menangis?” tanya Thian Liong dengan lembut, karena dia tidak tahu harus bicara apa. Begitu berhadapan dengan gadis itu, dia seolah menjadi gugup dan bingung.

“Bukan urusanmu!” Bi Lan menjawab dengan suara membentak marah, lalu melanjutkan. “Sungguh kebetulan sekali, sudah lama aku mencarimu, Souw Thian Liong!”

Thian Liong tersenyum, hatinya gembira mendengar ucapan itu.

“Ah, aku juga girang sekali dapat bertemu denganmu secara tak tersangka-sangka seperti ini, Nona. Aku sedang mencari dan hendak menyusulmu ke kota raja Lin-an.”

“Hemm, mau apa engkau mencari dan menyusulku?” pertanyaan ini keluar dengan ketus.

“Aku hendak menyatakan duka citaku kepada engkau dan ibumu atas kematian ayahmu, dan aku... aku hendak minta maaf kepadamu atas perlakuanku kepadamu dahulu itu...” Lalu disambungnya, “dan engkau mencariku dengan keperluan apakah, Nona?”

“Enak saja sudah menghina orang lantas minta maaf begitu saja! Aku mencarimu untuk membalas dendam atas penghinaanmu dulu! Bersiaplah engkau, Souw Thian Liong! Aku hendak menebus kekalahanku dan membalas penghinaanmu dengan menampar mukamu sebanyak dua puluh kali!”

Setelah berkata demikian, gadis itu lantas memasang kuda-kuda. Aneh kuda-kudanya ini, tubuhnya berdiri tegak, kedua lengannya tergantung lurus ke bawah, kaku seperti patung atau seperti... mayat karena wajahnya yang agak pucat itu kini benar-benar seperti wajah mayat dengan mata yang ‘mati’ dan kulit muka kaku!

Inilah ilmu silat Sin-ciang Tin-thian (Tangan Sakti Menaklukkan Langit) yang hanya terdiri dari tiga belas jurus, yang baru selesai dia pelajari dari gurunya yang terakhir, Si Mayat Hidup. Pembukaannya adalah seperti itu, kaku menyeramkan!

Thian Liong terbelalak heran dan juga merasa seram. Dia mengira bahwa ilmu andalan gadis itu tentu adalah Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat dari Kun-lun-pai itu, dari kitab yang dulu dicurinya, akan tetapi setelah ia menguasainya dan mengembalikan kitab itu kepada Kun-lun-pai, ia bahkan diterima menjadi murid. Akan tetapi kuda-kuda aneh menyeramkan itu jelas bukan dari ilmu silat Kun-lun-pai.

“Bersiaplah!”

Thian Liong semakin terkejut dan seram ketika mendengar bentakan itu seolah keluar dari dalam perut Bi Lan tanpa gadis itu membuka mulut! Dia memang tidak ingin berkelahi dan tidak mau melawan.

“Tidak, Nona. Memang dulu aku telah bersalah kepadamu. Jika sekarang engkau hendak membalas dan hendak menampari aku, jangankan hanya dua puluh kali, biar pun sampai seratus kali aku akan menerimanya dan tidak akan melawan.”

Mendengar ucapan ini, Bi Lan mengurungkan kuda-kuda ilmu silatnya dan ia menghampiri Thian Liong dengan kedua pipi kini berubah merah saking marahnya.

“Engkau harus melawanku! Aku ingin mengalahkanmu lalu membalas tamparanmu dahulu itu. Hayo lawan aku!”

Thian Liong tersenyum sambil menggeleng kepalanya. “Tidak, Nona Han Bi Lan. Engkau adalah puteri Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi yang amat kuhormati, dan aku memang pernah bersalah kepadamu. Maka, kalau engkau hendak membalas, tamparlah aku sesukamu, aku tidak akan membalas.”

“Keparat jahanam kau! Engkau hendak membuat aku menjadi seorang pengecut curang yang menyerang orang yang tak mau melawan? Engkau telah menghinaku, dan sekarang engkau ingin membuat aku menjadi seorang pengecut pula?”

“Tidak, Nona, bukan itu maksudku. Jika engkau merasa terhina akibat perbuatanku dulu, sekarang engkau boleh balas menghinaku kembali, juga kalau engkau hendak membalas tamparanku, engkau boleh menampar sesuka hatimu. Ini untuk membuktikan bahwa aku benar-benar menyesali perbuatanku kepadamu yang dulu itu. Tamparlah, Nona, engkau berhak melakukan itu!”

Bi Lan yang marah sekali apa bila mengingat betapa pinggulnya sudah ditampari sehingga kalau ia teringat, sampai sekarang kedua bukit pinggulnya masih terasa panas dan pedas, lalu melangkah maju dan kedua tangannya menampar dari kanan kiri.

“Plak-plak!”

Tamparan Bi Lan kuat sekali, mengenai kedua belah pipi Thian Liong. Kepala pemuda itu sampai terguncang ke kanan kiri oleh kerasnya tamparan. Karena dia hendak menampar sedikitnya sepuluh kali untuk membalas, Bi Lan melanjutkan tamparannya, bertubi-tubi.

“Plak-plak-plak...!”

Mendadak Bi Lan menahan gerakan tangannya lantas terbelalak memandang Thian Liong yang terhuyung-huyung ke belakang sampai belasan langkah dengan darah mengalir dari kedua ujung bibir pemuda itu! Bi Lan terkejut bukan main. Ia memang tidak menggunakan sinkang (tenaga sakti) ketika menampar tadi, karena bukan maksudnya untuk mencelakai pemuda itu, akan tetapi ia telah menggunakan tenaga kasar yang cukup kuat. Ia mengira bahwa pemuda itu tentu akan mengerahkan tenaga untuk melindungi kedua pipinya.

Akan tetapi ternyata Thian Liong sama sekali tidak melindungi sepasang pipinya dengan tenaga sehingga ketika dia menerima tamparan-tamparan itu begitu saja, bibirnya pecah, mulutnya berdarah dan matanya berkunang-kunang, kepalanya berpusing sehingga dia pun terhuyung-huyung ke belakang sambil memejamkan kedua matanya.

Ketika itu tiba-tiba muncul dua orang. Yang seorang berpakaian tosu, berusia enam puluh tahun lebih, membawa sebatang tongkat hitam berkepala ular, dan orang kedua seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar dan berkumis tebal.

Mereka tahu-tahu muncul dari balik sebatang pohon besar dan berada dekat Thian Liong yang terhuyung-huyung dengan mata terpejam. Tanpa berkata apa pun juga, orang yang muda sudah menggerakkan tangan yang memegang pedang, lalu dia membacok ke arah leher Thian Liong yang terhuyung-huyung mundur di dekatnya.

Ketika itu Thian Liong merasa kepalanya pening karena terguncang oleh tamparan Bi Lan yang lima kali itu. Karena dia menerima tamparan tanpa melindungi dengan tenaga, maka selain bibirnya pecah, juga kepalanya terguncang sehingga dia terhuyung ke belakang.

Akan tetapi, ketika ada pedang menyambar ke arah lehernya, pendengarannya yang peka tajam itu dapat menangkap desingan pedang. Dia mencoba untuk mengelak dengan cara membuang tubuh ke kiri.

“Singgg...! Crott...!”

Pedang itu masih menyambar bahu lengan kanannya sehingga darah lantas muncrat dari bahunya yang terluka cukup parah. Akan tetapi tubuh Thian Liong telah memiliki gerakan otomatis. Biar pun kepalanya masih pening dan pangkal lengannya terluka parah, terasa panas dan pedih, tetapi secara otomatis tubuhnya sudah cepat memutar ke kanan sambil tangannya menampar ke depan, ke arah orang yang membacoknya.

“Wuuuttt...! Dessss...!”

Tubuh pemegang pedang itu terlempar ke belakang, akan tetapi pada saat itu juga tubuh Thian Liong terpelanting karena sebuah pukulan dengan telapak tangan sudah mengenai punggungnya. Ternyata lelaki tua itu yang memukulnya dari belakang dan pukulannya itu mengandung tenaga sinkang yang amat kuat.

Melihat Thian Liong terbacok pedang dan terpukul secara dahsyat, Bi Lan mengeluarkan pekik melengking lantas tubuhnya sudah melayang ke depan, menyambar ke arah tubuh kakek yang tadi memukul punggung Thian Liong. Melihat serangan yang hebat datangnya itu, kakek berambut putih yang berpakaian jubah tosu terkejut setengah mati lalu dia pun mengeluarkan jeritan melengking tinggi dan mendorongkan kedua tangannya menyambut serangan Bi Lan.

“Wuuuttt...! Dessss...!”

Dua tenaga sakti bertemu dengan dahsyatnya di udara dan akibatnya, tubuh Bi Lan yang masih berada di udara langsung terpental ke belakang. Namun gadis itu cepat membuat poksai (salto), berjungkir balik lima kali lalu turun ke atas tanah dengan ringannya.

Sebaliknya kakek itu terhuyung ke belakang dan wajahnya yang kurus menjadi pucat. Dia terkejut bukan main karena pertemuan tenaga itu telah mendatangkan guncangan dalam dadanya dan ini menunjukkan bahwa gadis itu memiliki tenaga sakti yang kuat sekali.

Apa lagi ketika melihat Thian Liong sudah bangkit lagi sambil menyeringai dan menahan rasa nyeri, dia pun menjadi bertambah kaget. Padahal pukulannya tadi hebat bukan main, dilakukan dengan pengerahan tenaga sinkang. Lawan yang tangguh pun akan tewas jika terkena pukulannya semacam itu. Akan tetapi pemuda itu masih mampu bangkit! Ini juga membuktikan bahwa pemuda itu pun lihai bukan main. Kalau pemuda dan gadis itu maju bersama, dia pasti kalah.

“Hemm... ternyata Pak-sian (Dewa Utara) seorang yang curang,” kata Thian Liong dan mendengar ini, kakek berambut putih dengan tubuh tinggi kurus berjubah seperti tosu itu menjadi semakin jeri.

Ternyata pemuda ini sudah mengenalnya. Maka tanpa banyak cakap lagi Pak-sian Liong Su Kian, datuk besar dari utara itu berkata kepada laki-laki berkumis itu.

“Mari kita pergi!” Keduanya lalu melompat jauh dan melarikan diri.

Bi Lan hendak mengejar, akan tetapi dia melihat Thian Liong terhuyung kemudian roboh telentang di atas tanah. Dia tidak jadi melakukan pengejaran, segera menghampiri Thian Liong lalu berjongkok di dekatnya dan memeriksanya. Bi Lan terkejut bukan main setelah memeriksa dengan teliti.

Tamparan-tamparannya sendiri tidak mendatangkan luka parah, hanya membuat kedua bibir pemuda itu pecah-pecah. Luka bacokan pedang pada pangkal lengan kanan itu jauh lebih parah, dan ketika ia memeriksa punggung, wajah Bi Lan berubah pucat.

Thian Liong sudah menderita luka dalam yang amat parah akibat terkena pukulan kakek tadi. Selain sangat dahsyat, pukulan itu juga mengandung hawa beracun yang berbahaya. Kalau hawa beracun itu tidak cepat dikeluarkan dari rongga dadanya, nyawa pemuda itu takkan dapat diselamatkan lagi!

Melihat wajah pemuda yang telentang itu amat pucat, di kedua ujung mulutnya berlepotan darah dan kedua matanya terpejam, napasnya agak terengah dan lemah, Bi Lan merasa jantungnya seperti diremas.

“Thian Liong...!” Ia berbisik, merasa menyesal sekali.

Kalau dia tidak menampar pemuda yang sama sekali tidak melindungi dirinya itu sehingga terhuyung dan pening, tak mungkin dia akan terluka oleh bacokan pedang dan menerima pukulan yang amat dahsyat tadi. Ia yang menyebabkan pemuda itu sampai begini.

Hatinya yang sejak tadi sangat gundah sehingga tadi dia menangis, kini menjadi semakin sedih. Sambil menyusut darah dari kedua ujung bibir Thian Liong dengan sapu tangannya, Bi Lan mengusap sepasang matanya yang basah dengan punggung tangan. Kemudian dia membuka kancing baju pemuda itu, menanggalkan baju itu sehingga kini bagian atas tubuh Thian Liong dalam keadaan telanjang.

Bi Lan mendorong tubuh pemuda itu hingga miring dan hampir menelungkup, lalu sambil duduk bersila di belakang tubuh itu, dia menempelkan tangan kanannya pada punggung Thian Liong yang terdapat tanda telapak tangan menghitam. Bi Lan menyalurkan tenaga saktinya untuk mendorong dan mengusir hawa beracun itu dari rongga dada Thian Liong. Akan tetapi ia harus berhati-hati sekali karena kalau salah perhitungan dan menggunakan tenaga terlalu besar, bukan tidak mungkin tenaganya itu malah akan merusak jantung dan paru-paru pemuda ini!

Sampai beberapa lamanya Bi Lan melihat bahwa usahanya itu belum juga berhasil. Dia menjadi bingung dan serba salah. Mengerahkan tenaga terlalu besar, dia takut kalau akan mendatangkan luka pada isi rongga dada. Kalau terlalu lemah, tidak kuat untuk mengusir hawa beracun dari dalam rongga dada Thian Liong.

“Ahh... Thian Liong...” Ia mengeluh lagi dengan bingung dan panik karena melihat betapa pernapasan pemuda itu semakin melemah.

Begitu memandang wajah itu, kembali jantungnya bagaikan diremas dan kembali matanya menjadi basah. Dua butir air mata mengalir keluar dari pelupuk matanya, jatuh menetes di punggung pemuda itu.

Tiba-tiba saja Bi Lan merasa betapa sesungguhnya wajah yang berada di hadapannya ini belum pernah hilang dari kenangannya. Wajah ini selalu terbayang, namun dia memaksa hatinya menganggap bahwa dia mengenang pemuda itu karena sakit hati, karena merasa terhina, karena jengkel dan marah.

Akan tetapi sebenarnya, di balik itu semua, terdapat perasaan rindu dan sakit hatinya itu lebih disebabkan kekecewaan mengapa pemuda yang dikaguminya itu malah menampari pinggulnya. Mengapa pemuda itu membencinya! Padahal dia mengharapkan pemuda itu memperlihatkan keramahan kepadanya. Kini laksana sinar kilat memasuki kesadarannya bahwa sesungguhnya, sejak pertemuan pertama, tanpa disadarinya, dia sudah mencinta Thian Liong!

“Thian Liong...!” Ia mencoba lagi, berusaha sedapatnya untuk mengusir hawa beracun itu dengan menambah tenaganya, akan tetapi dengan hati-hati sekali sambil memperhatikan wajah Thian Liong. Kalau ada tanda sedikit saja bahwa tenaganya terlalu besar sehingga pemuda itu kesakitan, tentu akan cepat-cepat dihentikannya.

Ia melihat sepasang mata itu bergerak, berkedip, akan tetapi wajah yang pucat itu tidak tampak kesakitan. Hatinya menjadi girang sekali, Thian Liong telah siuman!

Pemuda itu membuka kedua matanya dan menggerakkan kepalanya, menoleh agar dapat melihat siapa yang berada di belakang tubuhnya yang agak miring. Dia bertemu pandang dengan Bi Lan yang sedang menyalurkan sinkang melalui tangan kanan yang ditempelkan di punggungnya.

Dengan heran Thian Liong melihat wajah itu, bibirnya tersenyum akan tetapi mata bintang itu basah air mata! Lalu dia teringat bahwa dia terkena pukulan ampuh dan Bi Lan sedang berusaha mengobatinya dengan penyaluran sinkang untuk mengusir hawa beracun dari dalam rongga dadanya. Bi Lan mengobatinya? Tidak mimpikah dia?

“Nona Han Bi Lan, engkau... engkau mengobati aku...?”

“Diamlah, Thian Liong. Engkau terkena pukulan beracun yang sangat berbahaya, mudah-mudahan aku akan dapat mengusir hawa beracun dari dadamu.”

Thian Liong tersenyum! Hatinya girang bukan main melihat sikap Bi Lan. Gadis itu sedang berusaha menolongnya, berarti telah memaafkan dia.

“Nona, cabutlah pedangku... Thian-liong-kiam... tempelkan pada punggungku...,” katanya sambil terengah karena rongga dadanya terasa panas yang membuat dia sesak napas.

Bi Lan mengerti. Ia tadi menanggalkan pedang dari punggung Thian Liong ketika melepas baju pemuda itu. Pedang itu dia letakkan di atas tanah. Dia lalu mencabut pedang itu dari sarungnya dan kagum sekali melihat pedang itu berkilau. Kemudian dia menempelkan pedang itu di punggung Thian Liong.

Thian-liong-kiam (pedang naga langit) adalah sebatang pedang pusaka yang amat langka. Pedang ini mengandung daya untuk menyedot hawa beracun, bahkan air rendamannya dapat digunakan untuk mengobati segala macam luka yang mengandung racun. Pedang ini pemberian Tiong Lee Cin-jin kepada muridnya itu.

Tak lama kemudian setelah pedang itu menempel di punggung Thian Liong, tampak asap hitam perlahan-lahan mengepul keluar dari punggung itu! Bi Lan memandang dengan hati kagum sekali, juga dia merasa sangat girang karena tidak lama kemudian, warna telapak tangan hitam di punggung itu perlahan-lahan menipis dan semakin menghilang.

Thian Liong mulai dapat bernapas dengan longgar. Dia pun bangkit duduk lalu membantu daya sedot pedang itu dengan mengerahkan sinkang untuk mengusir bersih semua hawa beracun.

“Cukup, Nona. Bahaya yang mengancam jiwaku sekarang telah lewat. Terima kasih atas pertolonganmu, Nona. Engkau sungguh mulia.”

“Jangan banyak bicara dulu, lukamu di pangkal lenganmu juga perlu diobati.”

Bi Lan lalu mengambil obat bubuk dari buntalan pakaiannya. Ia memang selalu membawa obat bubuk itu untuk mengobati luka. Setiap orang kangouw selalu membawa obat seperti ini.

Setelah menaruh obat bubuk pada luka menganga di pangkal lengan kanan Thian Liong, Bi Lan lalu mengambil sehelai pita rambutnya dari buntalan itu untuk digunakan membalut pangkal lengan Thian Liong.

“Cukuplah, Nona Han Bi Lan. Sungguh aku merasa berhutang budi dan berterima kasih sekali padamu,” kata Thian Liong yang lalu mengenakan kembali bajunya.

“Akan tetapi bibirmu...” Bi Lan hendak menyentuh ke arah muka Thian Liong, akan. tetapi tangan itu langsung ditariknya kembali karena merasa tidak pantas. Dia memandang bibir yang pecah itu dengan hati penuh penyesalan.

“Ahh, bibir begini saja tidak mengapa, Nona. Nanti juga akan sembuh sendiri. Hanya lecet sedikit saja.”

“Curang sekali Pak-sian Liong Su Kian tadi. Tetapi aku belum tahu siapa orang berkumis yang membacok lenganku tadi,” kata Thian Liong.

“Aku mengenalnya. Dia adalah Jiu To, seorang dari Sam-pak-liong yang pernah bentrok denganku. Sam-pak-liong (Tiga Naga Utara) menjadi pengawal Hiu Kan, putera mendiang Pangeran Hiu Kit Bong. Mereka berempat menggangguku, lalu mereka kubunuh semua, hanya Jiu To seorang yang kubiarkan hidup karena dia mau memberi-tahu kepadaku di mana adanya Toat-beng Coa-ong Ouw Kan.”

“Ah, dan engkau sudah dapat bertemu dengan musuh besarmu itu? Aku telah mendengar dari orang tuamu bahwa dulu yang menculikmu adalah Ouw Kan.”

“Aku sudah membunuhnya!” kata Bi Lan singkat.

Diam-diam Thian Liong merasa ngeri dan menyesal mengapa gadis yang sesungguhnya amat baik ini dapat begitu liar dan kejam.

“Aku pernah mendengar tentang Ang I Mo-li yang mengamuk melukai banyak bangsawan dan hartawan...”

“Akulah yang disebut Ang I Mo-li!” Bi Lan berkata pula, singkat.

Thian Liong merasa semakin menyesal sehingga dia tidak dapat mengeluarkan kata-kata Iagi. Juga Bi Lan tampak termenung. Mereka duduk di atas rumput tebal di bawah pohon besar itu. Matahari sudah naik agak tinggi sehingga cuaca dalam hutan lebat itu semakin terang.

Beberapa kali Thian Liong menghela napas panjang, dan kebetulan sekali gadis itu juga menarik napas panjang. Suasana menjadi kaku. Gadis itu diam bagaikan patung, seolah-olah tidak mengacuhkan segala sesuatu, membuat Thian Liong menjadi salah tingkah dan merasa hatinya tidak nyaman. Dia memaksa diri membuka percakapan untuk mencairkan suasana yang seolah membeku itu.

“Nona...”

“Tidak usah menyebut Nona padaku!” Bi Lan memotong cepat. “Engkau tahu, namaku Bi Lan, Han Bi Lan.”

Thian Liong tertegun, akan tetapi dia lalu tersenyum. Pembukaan percakapan yang baik, pikirnya.

“Baiklah, Bi Lan. Aku hendak mengulang permintaan maafku kepadamu atas perbuatanku yang sungguh tidak pantas terhadap dirimu beberapa waktu yang lalu.”

“Tidak perlu minta maaf karena aku pun tidak pernah minta maaf kepadamu. Aku malah telah melakukan dua kali kesalahan terhadap dirimu. Dulu aku telah mencuri kitab darimu, dan tadi... aku sudah menampari pipimu tanpa engkau melawan sehingga hampir saja aku menyebabkan kematianmu.”

“Tidak, Bi Lan. Engkau berhak sekali menampari atau memukuli aku! Aku memang telah menghinamu, padahal sebaliknya engkau telah berkali-kali menolongku. Pertama engkau membantuku ketika aku difitnah dan diserang para tokoh Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai. Kedua kalinya, tadi kalau tidak ada engkau yang menolongku, pasti aku sudah mati oleh serangan gelap Pak-sian. Sungguh aku sudah berhutang budi, bahkan berhutang nyawa padamu, Bi Lan.”

“Sudahlah, jangan bicara tentang hal itu lagi. Aku merasa malu bila mengingat betapa aku memukuli orang yang sama sekali tidak membela diri. Perbuatanku itu curang sekali dan aku menjadi pengecut. Kita bicara urusan lain saja, Thian Liong.”

“Kalau begitu, sudah tidak ada lagi dendam permusuhan di antara kita?”

“Kalau engkau mau, kita lupakan saja semua itu dan menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Tetapi kalau engkau mendendam dan hendak membalas, tentu saja...” suaranya menantang.

“Ahh, sama sekali tidak, Bi Lan. Aku merasa bahagia sekali kalau kita lupakan semua itu. Sekarang kalau aku boleh bertanya, mengapa engkau tadi menangis?”

“Aku tadi sedih sekali.”

“Aku tahu, Bi Lan. Ayahmu meninggal dunia setelah dilukai orang. Aku juga ikut bersedih karena mendiang ayahmu adalah seorang sahabat baikku yang kukagumi dan kuhormati. Akan tetapi aku mendengar bahwa engkau pergi ke kota raja bersama Ibumu. Mengapa sekarang engkau berada di sini?”

“Aku sedang mencari dua orang murid Ouw Kan yang menyerang Ayah, akan tetapi aku belum mendapatkan keterangan di mana mereka berada.”

“Dan engkau mencari mereka di daerah Kerajaan Kin ini?”

“Mereka itu murid-murid Ouw Kan, tentu saja aku mengira bahwa mereka berada pula di daerah ini. Lagi pula sejak kemarin-kemarin aku memang telah berada di daerah ini untuk mencari Ouw Kan. Sesudah berhasil membunuh Ouw Kan, aku juga menyusup ke istana kaisar dengan maksud untuk membunuhnya.”

“Ahh...? Mengapa, Bi Lan?”

“Aku pernah mendengar dari Ibuku bahwa yang mula-mula menjadi penyebab Ayah Ibuku dimusuhi Ouw Kan adalah karena Ayah dan Ibu membunuh seorang Pangeran Kin dalam perang. Kaisar Kin marah, kemudian mengutus Ouw Kan supaya mencari Ibu dan Ayah untuk membunuh mereka. Karena Ouw Kan tidak dapat menemukan Ayah dan Ibu, maka dia pun menculik aku. Demikianlah, kuanggap Kaisar Kin yang menjadi musuh besar yang mengutus Ouw Kan, maka aku pergi ke istananya untuk membunuhnya.”

Thian Liong terbelalak. “Dan engkau... engkau berhasil?”

Bi Lan menggeleng kepala. “Aku dihadapi Puteri Moguhai dan dibujuk, dan akhirnya aku mendengar darinya bahwa Kaisar Kin tidak menyuruh Ouw Kan membunuh orang tuaku. Adalah Ouw Kan sendiri yang memusuhi orang tuaku karena dia kecewa dan malu tidak dapat membunuh mereka, bahkan gagal pula menculikku karena guruku Jit Kong Lhama merampas aku dari tangannya. Aku pun menjadi sadar, terlebih lagi Puteri Moguhai itulah yang menyelamatkan Ibuku dari kematian.”

“Hemm, bagaimana ceritanya?”

“Begini, dahulu orang tuaku pernah diserang oleh Ouw Kan, akan tetapi Puteri Moguhai... dan engkau sendiri menyelamatkan mereka. Lalu Puteri Moguhai meninggalkan tulisan di atas kain yang diberikannya kepada Ayah, sambil berpesan agar tulisan itu diperlihatkan kalau Ouw Kan berani mengganggu lagi.”

Thian Liong mengangguk-angguk. “Ya, ya, aku ingat itu...”

“Engkau pasti ingat, Thian Liong. Engkau akrab sekali dengannya dan selalu bersamanya. Dia memang seorang puteri yang anggun, cantik jelita, dan lihai ilmu silatnya. Siapa tidak terkagum-kagum dibuatnya?”

Thian Liong memandang heran. Salah dengarkah dia jika menangkap kepanasan hati dan kecemburuan dalam ucapan Bi Lan itu?

“Ah, hanya secara kebetulan saja kami melakukan perjalanan bersama, Bi Lan. Teruskan ceritamu tadi.”

“Dua orang murid Ouw Kan itu bernama Bouw Kiang dan Bong Siu Lan. Mereka datang ke rumah, lalu merobohkan Ayah yang terluka berat. Ketika mereka hendak membunuh Ibuku pula, mereka melihat tulisan pemberian Puteri Moguhai itu terselip di ikat pinggang Ibu. Setelah membaca tulisan itu mereka lalu melarikan diri tanpa mengganggu Ibu. Surat Puteri Moguhai itulah yang menyelamatkan Ibu.”

“Bi Lan, ketika aku mendengar keterangan A Siong di rumah Paman Han Si Tiong bahwa engkau dan Ibumu pergi ke kota raja, aku mengira bahwa engkau tentu pergi berkunjung ke rumah Panglima Kwee Gi. Benarkah itu?”

Gadis itu mengangguk, lalu menundukkan muka karena hatinya perih ketika Thian Liong berbicara tentang kunjungannya ke kota raja. Kunjungan itulah yang menjadi permulaan ia mengalami kehancuran hati.

“Aku tahu, engkau dan Ibumu tentu ke sana karena bukankah engkau telah menjadi calon keluarga Panglima Kwee?”

Bi Lan mengangkat mukanya dan sepasang matanya seolah berubah menjadi dua sinar terang yang menyoroti wajah Thian Liong dengan penuh selidik. “Apa maksudmu, Thian Liong?”

“Maksudku... ehh, ketika dulu aku bersama Pek Hong Nio-cu...”

“Pek Hong Nio-cu...?”

“Maksudku Puteri Moguhai. Pada waktu kami berada di rumah keluarga Panglima Kwee, mereka membicarakan tentang engkau dan... dan... mereka mengatakan bahwa mereka hendak menjodohkan putera mereka, Kwee Cun Ki, denganmu...”

“Cukup! Aku tidak mau bicara tentang hal itu!” tiba-tiba Bi Lan berkata dengan ketus dan marah.

Thian Liong melihat betapa sepasang pipi gadis itu menjadi merah sekali, bukan merah karena malu, melainkan merah karena marah. Sepasang matanya berkilat. Dia merasa heran dan terkejut.

“Ahh, maafkan aku, Bi Lan. Sekarang, di manakah Bibi Liang Hong Yi?”

“Aku tidak mau bicara tentang dirinya!”

“Tapi... tapi dia adalah Ibumu...!”

“Cukup, jangan bicara tentang mereka atau pergilah tinggalkan aku!” Bi Lan membentak.

“Maaf, Bi Lan. Baiklah, sekarang ke mana engkau hendak pergi?”

“Sudah kukatakan aku sedang mencari dua orang murid Ouw Kan itu.”

“Kalau begitu aku akan membantumu, Bi Lan. Mari kita mencari mereka bersama.”

“Aku tidak butuh bantuanmu atau bantuan siapa pun juga!”

“Aku percaya bahwa engkau sendirian akan mampu menghadapi mereka, Bi Lan, tetapi aku pun berhak mencari mereka. Mendiang Paman Han Si Tiong adalah sahabat baikku, bahkan kami sama-sama menghadapi fitnah dan bahaya ketika menentang Menteri Chin Kui, sama-sama ditahan dalam penjara. Aku pun ingin menghajar dua orang murid Ouw Kan yang sudah menyerang dan melukainya sehingga dia meninggal. Selain itu, aku juga hendak mencari guruku, Tiong Lee Cin-jin.”

“Sudah banyak aku mendengar nama Tiong Lee Cin-jin.”

“Ketahuilah, Bi Lan. Suhu Tiong Lee Cin-jin sedang terancam bahaya. Empat Datuk Besar kini bersekutu dan melatih seorang murid secara khusus untuk membunuh Suhu Tiong Lee Cin-jin. Empat Datuk Besar dari empat penjuru itu bersama murid istimewa dan para murid mereka akan mengeroyok Suhu. Kalau engkau tidak keberatan, aku mengharapkan bantuanmu untuk bersama Suhu menghadapi mereka.”

Sunyi sejenak. Bi Lan mengerutkan alisnya. Meski pun sama sekali tidak terbayang pada wajahnya yang jelita, namun di lubuk hatinya dia merasa gembira sekali membayangkan bahwa dia akan melakukan perjalanan bersama Thian Liong, pemuda yang selama ini tak pernah ia lupakan, dengan berbagai macam perasaan. Ada kagum, ada suka, ada marah, penasaran dan kecewa. Akan tetapi sekarang semua perasaan marah dan mendendam sudah tidak ada sama sekali dalam hatinya sehingga yang tinggal hanya rasa kagum dan suka.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner