JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-26


Ouwyang Kun melompat dan langsung menyerang Golam dengan tamparan tangannya. Golam melepaskan rangkulannya kemudian mendorong tubuh Siu Cen sehingga gadis itu terpelanting. Kemudian dia mengangkat tangan menangkis.

“Desss...!”

Pertemuan dua tenaga itu dahsyat sekali dan akibatnya, tubuh Golam terpelanting lantas roboh bergulingan. Pada saat itu terdengar suara nyaring.

“Omitohud! Golam, bawa gadis itu. Engkau berhak memilikinya!”

Tampak bayangan berkelebat dan bayangan itu ternyata seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun, bertubuh tinggi kekar dan mukanya penuh brewok tapi kepalanya gundul. Dari jubahnya dapat diketahui bahwa dia itu seorang pendeta Lhama dari Tibet.

Dengan gerakan yang cepat sekali pendeta itu mendorongkan kedua tangannya ke arah Ouwyang Kun. Hawa pukulan dahsyat disertai uap hitam menyambar ke arah Ouwyang Kun laksana angin badai. Ouwyang Kun terkejut sekali dan dia menyambut dengan kedua tangannya sambil mengerahkan seluruh sinkang (tenaga sakti) karena dia maklum bahwa pendeta Lhama itu menyerangnya dengan pukulan yang amat kuat dan ampuh.

“Blaaaarrrr...!”

Bukan main dahsyatnya pertemuan antara dua tenaga sakti itu. Semua penonton merasa betapa tanah yang mereka injak tergetar oleh benturan hebat itu. Tubuh Ouwyang Kun terpental ke belakang dan sebelum dia dapat bangkit kembali, tubuh pendeta Lhama itu sudah meluncur dekat dan ketika tampak kilat menyambar, pedang di tangan pendeta itu telah memasuki dadanya!

Ketika pedang dicabut, Ouwyang Kun cepat mendekap luka di dadanya dari mana darah mengucur dan dia memandang terbelalak kepada penyerangnya.

“Kau... kau... mengapa menyerangku?”

“Hemmm, engkau yang curang mengeroyok muridku!” kata pendeta Lhama itu. Ouwyang Kun roboh terkulai dan tewas.

“Ayaaahhh...!”

Sebelum Siu Cen yang tadi terpelanting sempat menghindar, Golam sudah menubruk dan menotok pundaknya sehingga ia tidak mampu melawan lagi. Tubuhnya terasa lemas tiada tenaga dan ia pun tidak dapat melawan ketika tubuhnya dipondong Golam. Akan tetapi ia melihat ayahnya tertusuk dan roboh, maka dia menjerit. Golam melompat dan membawa lari gadis itu sambil terkekeh senang.

“Thian Liong, tolong gadis itu, biar kuhajar keledai gundul ini!” kata Han.

“Akan tetapi dia lihai sekali, Han!”

“Dahulu aku sudah pernah menghajarnya, jangan khawatir. Cepat kejar buaya darat yang melarikan Siu Cen itu!”

Thian Liong tidak membantah lagi dan dia sudah berkelebat cepat melakukan pengejaran terhadap Golam yang membawa lari Siu Cen.

Sementara itu pendeta Lhama sangat terkejut ketika tiba-tiba ada bayangan berkelebat di depannya dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang pemuda yang amat tampan.

“Goat Kong Lhama, engkau memang seorang yang jahat dan kejam!”

“Omitohud! Engkau sudah mengenal nama pinceng? Siapakah engkau? Siapa namamu, orang muda?” tanya Goat Kong Lhama dengan heran.

Dia adalah seorang pendeta Lhama dari Tibet yang namanya asing di wilayah Kerajaan Kin mau pun Kerajaan Sung Selatan. Kemunculannya ini baru yang kedua kalinya. Dulu, kurang lebih dua tahun yang lalu, dia pun pernah keluar dari Tibet untuk mencari Jit Kong Lhama, seorang tokoh Lhama yang dianggap murtad dan dicari oleh para Lhama di Tibet. Goat Kong Lhama menjadi utusan para Lhama untuk mencari dan menangkap Jit Kong Lhama.

Ketika itu Jit Kong Lhama yang menjadi guru Han Bi Lan sudah meninggalkan wilayah Sung dan kembali ke Tibet. Goat Kong Lhama tidak dapat bertemu dengan orang yang dicarinya, lalu dia bertemu dengan Bi Lan yang membela Kun-lun-pai karena Goat Kong Lhama menuduh Kun-lun-pai menyembunyikan Jit Kong Lhama. Terjadi perkelahian dan Bi Lan dapat mengalahkan Goat Kong Lhama dengan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang dia pelajari dari kitab yang dia curi dari Thian Liong. Setelah Goat Kong Lhama kalah, barulah dia diberi tahu bahwa Jit Kong Lhama sudah kembali ke Tibet dan dia pun lalu kembali ke barat.

“Tidak perlu engkau tahu siapa aku!” jawab Han dengan ketus. “Sekarang lekas katakan, di mana adanya Jit Kong Lhama?”

Goat Kong Lhama membelalakkan sepasang matanya. “Mengapa engkau menanyakan Jit Kong Lhama? Apa hubunganmu dengan dia?”

“Tak perlu engkau tahu. Katakan saja di mana dia!”

“Omitohud..., ha-ha-ha, orang muda, engkau ingin mengetahui di mana adanya Jit Kong Lhama? Sebentar lagi engkau akan dapat bertemu dengan dia di neraka!”

Han atau Bi Lan terkejut. “Apa... apa maksudmu?”

“Ha-ha-ha, kami telah membunuh murid murtad itu dan sekarang engkau akan menyusul dia!” Tiba-tiba saja Goat Kong Lhama sudah menyerangnya dengan tusukan pedangnya, pedang yang masih bernoda darah dari dada Ouwyang Kun tadi.

Akan tetapi mendengar bahwa gurunya, Jit Kong Lhama dibunuh oleh pendeta Lhama ini, Han sudah menjadi marah sekali. Maka dengan cepat dia sudah miringkan tubuhnya dan gerakannya menjadi kaku juga aneh karena dia sudah mainkan ilmu silat aneh Sin-ciang Tin-thian yang dia pelajari dari Si Mayat Hidup. Meski pun gerakannya kaku sekali, akan tetapi dengan tangan telanjang dia berani menangkis pedang Goat Kong Lhama.

“Cringgg...! Tranggg...!”

Goat Kong Lhama terkejut bukan main ketika pedangnya terpental hingga hampir terlepas dari pegangannya. Hampir dia tidak dapat percaya. Bagaimana mungkin pemuda itu kuat menangkis pedangnya? Dia sendiri juga memiliki kekebalan dan berani menangkis senjata tajam lawan, tapi bukan pedangnya ini! Pedangnya adalah sebatang pedang pusaka yang dapat memotong sepotong besi baja seperti memotong kayu lunak saja.

Dan gerakan pemuda itu sungguh mengerikan! Bukan seperti orang bergerak dalam ilmu silat, melainkan seperti setan atau mayat berjalan, kaku dan menyeramkan sekali!

Goat Kong Lhama mengeluarkan seluruh jurus simpanannya sambil mengerahkan seluruh tenaganya karena ia maklum betapa lihai lawannya yang masih muda itu. Padahal selama ini dia telah memperdalam ilmu-ilmunya. Kini, bagaimana mungkin dia yang bersenjatakan sebatang pedang pusaka ampuh tidak dapat mengalahkan seorang muda yang bertangan kosong?

Saking penasaran, pendeta Lhama itu lalu menyerang dengan hebat, mengamuk sambil mulutnya mengeluarkan suara bacaan mantera yang dapat mendatangkan kekuatan sihir yang ampuh. Tapi agaknya Han tidak terpengaruh sehingga terjadilah pertandingan mati-matian karena sambaran tangan dan kaki Han juga merupakan cengkeraman maut bagi lawannya…..

********************

Sementara itu Thian Liong sudah berlari cepat mengejar Golam yang melarikan diri sambil memondong Ouwyang Siu Cen. Orang Mongol ini lari ke arah telaga lalu dia melepaskan tali sebuah perahu, agaknya hendak melarikan diri dengan perahu itu. Tetapi pada saat itu sudah terdengar bentakan di belakangnya.

“Lepaskan gadis itu!”

Golam cepat membalikkan tubuhnya, lengan kiri masih memanggul tubuh Siu Cen di atas pundaknya, sedangkan tangan kanannya yang besar dan panjang itu menyambar ke arah Thian Liong.

Tamparan itu sungguh kuat. Akan tetapi Thian Liong yang mengkhawatirkan keselamatan gadis itu, takut kalau dia menggunakan kekerasan Siu Cen akan terluka, tidak menangkis melainkan mengelak dan secepat kilat tangan kirinya menotok ke arah pundak kiri Golam.

“Tukk!”

Golam mengeluh karena mendadak lengan kirinya terasa lumpuh dan sebelum dia dapat menguasai dirinya, tahu-tahu tubuh Siu Cen sudah lepas dari pondongannya. Dia menjadi marah bukan main, mengerahkan segenap tenaganya sehingga kelumpuhan sementara pada lengan kirinya itu menghilang. Dengan suara menggereng seperti seekor srigala, dia menubruk ke arah Thian Liong.

Akan tetapi pemuda yang masih memondong tubuh Siu Cen yang dirampasnya tadi telah cepat memutar tubuh setengah lingkaran, lalu kaki kanannya mencuat dengan amat cepat dan kuatnya, merupakan sebuah tendangan kilat.

“Syuuuuttt...! Desss!”

Tubuh Golam terlempar jauh lantas jatuh ke dalam telaga hingga airnya muncrat. Golam yang terkejut dan merasa dadanya nyeri dan napasnya sesak maklum bahwa pemuda itu lihai bukan main. Dia tidak akan menang melawan pemuda itu. Maka, karena takut kalau dikejar dan diserang, dia lalu menyelam ke dalam air.

Tetapi Thian Liong sama sekali tidak mempunyai niat untuk mengejar. Pemuda ini hanya memandang ketika orang Mongol itu muncul di permukaan air, sudah jauh di tengah lalu berenang dengan cepat ke arah menjauh. Dengan hati-hati Thian Liong lalu menurunkan tubuh Siu Cen di atas tanah dan mempergunakan jari tangannya untuk membuka totokan yang dilakukan Golam atas diri gadis itu.

Begitu terbebas dari totokan, Siu Cen bangkit berdiri. Akan tetapi dia langsung terhuyung sambil mengeluh, “Ayah...!”

Ciang Lun, pemuda yang tadi merupakan orang pertama yang memasuki sayembara, dan yang tadi ikut mencoba mengejar ketika melihat Siu Cen dilarikan Golam, tiba-tiba sudah mendekati gadis itu dan memegang lengannya agar tidak jatuh.

“Nona, tenangkan hatimu...” Setelah Siu Cen tidak terhuyung lagi, Ciang Lun melepaskan pegangannya.

“Ahhh... bagaimana keadaan ayahku...?” Dia melihat Thian Liong yang tadi menolongnya sudah berlari cepat ke tempat dilakukan pi-bu tadi.

“Ayahmu terluka oleh pendeta jahat itu, tapi sekarang seorang pemuda sedang berkelahi dengan pendeta itu.”

“Ayah...!” Siu Cen menoleh ke arah tempat tadi lalu dia berlari sambil terisak-isak. Ciang Lun juga ikut berlari mengikuti…..

********************

Perkelahian antara Goat Kong Lhama dan Han berlangsung seru sekali. Pendeta Lhama itu makin terkejut ketika menghadapi serangan-serangan aneh dari Han, dengan gerakan kaku namun setiap gerakan itu mengandung tenaga sinkang yang luar biasa.

Di lain pihak, Han atau Bi Lan sengaja mengeluarkan jurus-jurus andalannya karena dia telah mengambil keputusan untuk membunuh pendeta Lhama yang tadi mengatakan telah membunuh gurunya, yaitu Jit Kong Lhama. Selain itu, juga dia tadi melihat betapa jahat dan kejamnya Goat Kong Lhama yang membantu Golam dengan membunuh Ouwyang Kun dan membiarkan orang Mongol itu menculik Siu Cen.

“Mampuslah...!”

Goat Kong Lhama menyerang dengan dahsyat sekali, menusukkan pedangnya ke arah dada Han sambil mengeluarkan teriakan menggelegar. Bagi lawan yang sinkang-nya tidak kuat, baru menghadapi serangan suara menggelegar ini saja sudah bisa menewaskannya atau setidaknya melumpuhkannya.

Akan tetapi Han tak terpengaruh sama sekali. Bahkan ketika pedang itu meluncur ke arah dadanya, dia hanya miringkan tubuhnya sedikit saja namun cukup untuk menghindarkan diri. Pedang itu meluncur dekat sekali dengan pinggir dada sebelah kiri.

Han membarengi tusukan pedang itu dengan hantaman tangan kanannya, dengan sebuah gerakan kaku, lengannya menusuk seperti sebatang kayu. Gerakannya aneh namun tepat sekali karena pada saat itu Goat Kong Lhama sedang mencurahkan seluruh perhatiannya kepada pedang yang hampir menusuk dada pemuda itu.

“Han, jangan...!” Tiba-tiba terdengar seruan Thian Liong yang baru datang di tempat itu.

Dia terkejut melihat serangan Han kepada pendeta Lhama itu karena dia melihat bahwa serangan itu adalah pukulan maut. Dia dapat melihat sinar meluncur dari tangan Han yang memukul. Akan tetapi Han tidak menarik kembali atau menahan pukulannya. Bahkan dia menambahkan tenaga.

“Wuuuuttt...! Blarrr...!”

Tubuh Gwat Kong Lama terpental lantas terbanting, terjengkang di atas tanah dan tidak mampu bergerak lagi karena dia tewas seketika terkena pukulan ilmu dari Si Mayat Hidup!

“Han...!” Thian Liong menghampiri dan menengur dengan lembut, namun nada suaranya mengandung penyesalan. “Mengapa engkau membunuhnya?”

“Mengapa aku membunuhnya? Tentu saja aku membunuhnya. Dia amat jahat dan kejam. Tidakkah engkau melihat sendiri betapa dia membantu Golam menculik Siu Cen dan dia membunuh Ouwyang Kun? Mengapa masih bertanya dan suaramu seolah mencela kalau aku membunuh orang kejam ini?”

“Han, engkau menganggap dia kejam karena dia membunuh Ouwyang Kun, akan tetapi engkau sendiri membunuh Goat Kong Lhama! Lalu apa bedanya antara dia dan engkau yang sama-sama menjadi pembunuh?”

“Thian Liong, mengapa engkau seolah membela dia?”

“Bukan membela, Han, tetapi setidaknya dia harus ditanya dulu mengapa dia membunuh Ouwyang Kun. Ketahuilah, seperti yang telah kukatakan tadi, Ouwyang Kun adalah murid datuk besar yang sesat dari barat, jadi kita belum tahu ada urusan apa di antara mereka dan siapa tahu sebagai murid See Ong, Ouwyang Kun itu juga bukan orang baik-baik.”

“Dan engkau tidak mengerti, Thian Liong. Aku membunuh Goat Kong Lhama bukan hanya karena dia telah membunuh Ouwyang Kun, akan tetapi lebih dari itu, dia juga membunuh guruku, Jit Kong Lhama! Aku membalas dendam atas kematian Suhu di tangannya.”

Thian Liong mengangguk-angguk dan menghela napas panjang. Dia segera teringat akan wejangan gurunya, Tiong Lee Cin-jin, bahwa di dalam dunia persilatan terdapat banyak permusuhan, bunuh membunuh karena saling mendendam.

Bunuh membunuh karena dendam ini tidak akan ada habisnya. Yang kalah mendendam lalu berusaha membalas. Apa bila berhasil membunuh lawannya maka lawan itu pun akan ganti menjadi pendendam dan berusaha membunuh musuhnya. Demikian tiada habisnya.

Terhentinya dendam mendendam ini berada di tangan kita sendiri. Bila kita menghentikan mata rantai dendam itu ketika tiba pada bagian kita, maka rantai dendam mendendam itu akan menjadi putus.

Bi Lan adalah seorang manusia biasa, apa lagi dia memang memiliki watak yang keras. Tidak terlalu aneh bila dia mendendam kepada Goat Kong Lhama yang telah membunuh gurunya. Apa lagi gadis itu melihat betapa jahat dan kejamnya pendeta Lhama itu ketika membunuh Ouwyang Kun dan membantu Golam menculik Siu Cen. Mungkin kematian pendeta itu merupakan hukuman sebagai buah kejahatannya, dan jatuhnya hukuman itu melalui diri Bi Lan.

Mendadak terdengar suara jerit tangis. Ketika Han dan Thian Liong menengok, ternyata yang menangis adalah Ouwyang Siu Cen yang berlutut di dekat jenazah ayahnya. Ciang Lun berlutut di dekatnya sambil mengucapkan kata-kata menghibur.

“Sudahlah, Nona, harap tenangkan hatimu. Ayahmu telah meninggal dunia, tiada gunanya ditangisi lagi. Lagi pula, pembunuhnya juga sudah menerima hukumannya dan terbunuh. Lebih baik mengurus jenazah ayahmu, kasihan kalau dibiarkan menggeletak di sini.”

Siu Cen memandang ke arah mayat Goat Kong Lhama yang menggeletak tidak jauh dari situ, kemudian ia memandang jenazah ayahnya dan berkata lirih, suaranya parau karena tangis.

“Akan tetapi... bagaimana mengurusnya...? Aku... aku… tidak mempunyai keluarga atau kenalan di sini...”

“Nona Ouwyang, biar aku yang akan mengurusnya, mulai dari upacara persembahyangan sampai pemakaman selesai. Aku yakin ayah dan ibuku akan membantu dengan rela dan senang hati. Ketahuilah, ayahku adalah seorang guru silat yang dikenal di kota ini. Mari, Nona, biar kuatur pengangkutan jenazah ayahmu ke rumah kami.”

“Nanti dulu, Twako (Kakak). Aku harus mengucapkan terima kasih lebih dulu kepada dua orang pemuda yang tadi membela kami.”

Akan tetapi, ketika Siu Cen dan Ciang Lun bangkit dan mencari-cari, Han dan Thian Liong telah pergi meninggalkan tempat itu.

Ciang Lun lalu mendatangkan sebuah kereta untuk mengangkut jenazah Ouwyang Kun ke rumah orang tuanya. Tadinya Siu Cen merasa rikuh sekali harus mengganggu keluarga Ciang yang sama sekali tidak mempunyai hubungan dengannya. Akan tetapi akhirnya dia merasa lega setelah bertemu dengan Ciang-kauwsu (Guru Silat Ciang) dan isterinya yang menyambutnya dengan ramah sekali. Ternyata ayah beserta ibu Ciang Lun merasa setuju sepenuhnya ketika Ciang Lun menceritakan hubungannya dengan Siu Cen, dan betapa di dalam pi-bu (adu silat) tadi dia telah diterima sebagai jodoh gadis itu.

Jenazah Ouwyang Kun lalu diurus sebaik-baiknya hingga selesai dimakamkan. Tentu saja Siu Cen sangat berterima kasih dan karena memang sejak pi-bu tadi ia sudah tertarik dan suka sekali kepada Ciang Lun, maka ia setuju ketika orang tua Ciang Lun dengan resmi mengangkatnya menjadi mantu.....

********************

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Thian Liong dan Bi Lan atau yang kini menyamar sebagai seorang pemuda dengan nama Han, meninggalkan rumah penginapan kemudian melanjutkan perjalanan keluar dari kota Leng-an. Mereka melangkah dengan perlahan di jalan umum yang menuju utara. Pagi itu masih sepi dan mereka berjalan sambil bercakap-cakap, membicarakan peristiwa yang mereka alami kemarin di dekat telaga.

“Engkau agaknya sudah mengenal pendeta Lhama itu, Han. Bagaimana engkau bertemu dengannya?”

“Nanti dulu. Agaknya engkau juga sudah mengenal See Ong, datuk besar yang menjadi guru Ouwyang Kun itu. Ceritakan dulu tentang pertemuanmu dengan datuk itu, baru nanti giliranku bercerita.”

Thian Liong segera menceritakan pengalamannya ketika dia mengintai pertemuan antara Empat Datuk Besar di Pulau Iblis yang terdapat di tengah Telaga Barat.

“Hemm, mau apa Empat Datuk Besar itu berkumpul di sana?”

“Mereka secara bersama menggembleng seorang murid sehingga murid itu kini menjadi seorang yang amat lihai dan berbahaya sekali. Ilmu-ilmu dari Empat Datuk Besar itu telah digabung. Murid itu menjadi luar biasa kuatnya sehingga ketika Empat Datuk itu menguji dengan mengeroyoknya, mereka bahkan tidak mampu mengalahkan pemuda itu.”

“Wah, hebat betul pemuda itu! Siapa dia?”

“Namanya Can Kok. Ia adalah keponakan dari Tung-sai Kui Tong, datuk sesat dari timur, majikan Pulau Udang. Demikianlah pertemuanku dengan Empat Datuk Besar itu, sungguh pun lebih tepat bukan pertemuan. Ketika mereka muncul di pulau itu, aku hanya mengintai sambil bersembunyi. Sekarang giliranmu menceritakan bagaimana engkau bisa mengenal pendeta Lhama tadi.”

Han tersenyum, lalu tiba-tiba cemberut karena teringat akan pesan Thian Liong agar dia jangan tersenyum yang akan memperlihatkan kecantikannya sebagai wanita. Melihat ini, Thian Liong tertawa.

“Ha-ha-ha, bila tidak ada orang lain yang melihatnya, tentu saja engkau boleh tersenyum, bahkan senyumlah yang banyak karena aku senang melihatnya!”

“Tidak perlu memuji! Engkau mau mendengarkan atau tidak?”

“Ya-ya, maafkan aku, Han. Ceritakanlah, aku mendengarkan.”

“Ketika itu aku pergi ke Kun-lun-pai untuk bertemu dengan pimpinan Kun-lun-pai. Di sana aku melihat Goat Kong Lhama sedang mengacau dan menantang para pimpinan Kun-lun-pai. Beberapa orang pemimpin Kun-lun-pai telah dikaIahkan. Aku lalu membela Kun-Iun-pai dan sesudah bertanding, aku berhasil mengalahkan dia berkat... berkat perbuatanku dulu mencuri kitab dari buntalan pakaianmu itu!”

“Ehh? Bagaimana bisa demikian?”

“Setelah mendapatkan kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat itu, aku lalu mempelajarinya dan tekun berlatih di bawah bimbingan guruku, Jit Kong Lhama. Sesudah aku menguasai ilmu itu, aku lalu pergi ke Kun-lun-pai dengan niat untuk mengembalikan kitab itu kepada pemiliknya. Nah, kettika itu aku melihat Goat Kong Lhama mengacau di sana. Dia utusan para Lhama di Tibet untuk mencari guruku, Jit Kong Lhama yang dianggap murtad. Nah, dengan ilmu yang kucuri dari Kun-lun-pai itu aku berhasil mengalahkan Goat Kong Lhama. Para pimpinan Kun-lun-pai memaafkan aku, menerima kembali kitab itu bahkan mengakui aku sebagai murid Kun-lun-pai. Dan tadi ketika aku bicara dengan Goat Kong Lhama, dia telah mengaku sendiri bahwa dia bersama para Lhama telah membunuh guruku.”

“Hemm, kalau begitu pantas saja engkau mendendam padanya,” kata Thian Liong sambil mengangguk-angguk.

“Apa maunya Empat Datuk Besar itu bergabung dan menurunkan ilmu mereka kepada pemuda bernama Can Kok itu? Engkau belum menceritakan hal itu.”

“Mereka memiliki niat yang keji, yaitu agar murid mereka yang digembleng secara khusus itu dapat mewakili mereka untuk membunuh guruku, Tiong Lee Cin-jin.”

“Hemm, mengapa harus bersusah payah mendidik murid itu yang memakan waktu lama? Mengapa tidak langsung saja mereka melaksanakan niat mereka itu?”

Thian Liong tersenyum. “Mereka semua sudah dikalahkan Suhu, jadi mereka tidak berani. Karena itu, mereka masing-masing membuang waktu dua tahun untuk bergantian melatih Can Kok dan kukira, dengan adanya Can Kok tentu saja mereka akan menjadi kuat sekali sehingga keselamatan Suhu menjadi terancam. Karena itu aku hendak menghadap Suhu dan menceritakan tentang bahaya yang mengancamnya itu.”

“Hemm, engkau telah menceritakan hal itu kepadaku. Kukira tak perlu dipusingkan benar. Kalau tingkat kepandaian para Datuk Besar itu hanya seperti itu, melihat tingkat Ouwyang Kun murid seorang dari mereka, apa yang perlu ditakuti? Tiong Lee Cin-jin pasti mampu mengalahkan mereka. Aku mendengar bahwa Tiong Lee Cin-jin mempunyaii kepandaian seperti dewa! Guruku, Jit Kong Lhama sendiri yang memuji-mujinya.”

Thian Liong menggeleng kepala sambil menghela napas panjang. “Engkau tidak mengerti, Han. Suhu Tiong Lee Cin-jin sudah semakin tua dan aku mengetahui benar wataknya. Dia tidak suka bermusuhan dan kalau para datuk ditambah Can Kok dan murid-murid mereka yang lain, Suhu pasti mengalah dan tidak mau membunuh. Betapa pun juga, menghadapi pengeroyokan mereka, apa lagi dengan adanya Can Kok yang lihai, Suhu yang sudah tua akan kesulitan untuk dapat mengatasi mereka.” Thian Liong memandang wajah Han, lalu melanjutkan, “Karena itu, sekali lagi aku minta, maukah engkau membantu suhu-ku untuk menghadapi Empat Datuk Besar dan murid-murid mereka itu?”

“Ahh, apa yang dapat kubantukan? Kepandaianku masih rendah...”

“Wah, jika tingkat ilmu silatmu masih rendah, lalu yang bagaimana tingkat yang tinggi itu? Kepandaianmu tidak rendah, Han, tetapi engkaulah yang merendah. Aku sangat kagum padamu. Selain menguasai Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat dari Kun-lun-pai, engkau juga kebal terhadap serangan sihir seperti yang kulihat tadi ketika engkau melawan Goat Kong Lhama. Selain itu... aku masih terkejut, terheran, dan kagum sekali melihat gerakanmu ketika menyerang tadi. Gerakanmu begitu aneh, kaku dan... menyeramkan. Akan tetapi daya serangannya luar biasa hebatnya. Terus terang saja, karena memperoleh bimbingan Suhu Tiong Lee Cin-jin, aku dapat mengenal hampir semua dasar gerakan ilmu silat dari bermacam aliran. Tetapi melihat gerakanmu tadi, aku sama sekali belum pernah melihat atau mendengarnya. Kalau engkau tidak ingin merahasiakannya, ingin aku mengetahui, dari mana engkau mempelajari ilmu aneh yang menyeramkan dan amat lihai itu?”

Gadis yang menyamar sebagai pemuda itu lalu termenung. Dia terbayang dan terkenang masa lalu ketika menjadi murid Si Mayat Hidup. Selama satu tahun ia digembleng dengan ilmu silat ‘mayat hidup’ yang aneh itu dan Heng-si Ciauw-jiok (Mayat Hidup Berjalan) itu memesan agar setelah belajar setahun dia harus mengubur gurunya itu hidup-hidup! Akan tetapi dia tidak melakukan pesan ini dan setelah selesai belajar selama setahun, dia kabur dan pergi tanpa pamit. Kini Thian Liong bertanya tentang gurunya itu. Dia sudah percaya betul kepada pemuda itu dan mengharapkan dapat bekerja sama dengannya.

“Aku mau menceritakan, akan tetapi engkau harus berjanji untuk merahasiakan hal ini, tak akan mengatakan kepada siapa pun juga.”

“Aku berjanji!”

“Sumpah?”

“Aku bersumpah tidak akan menceritakan rahasiamu itu kepada siapa pun juga!”

“Ehh, sumpah macam apa itu?” Han mengomel.

“Habis bagaimana?”

“Engkau harus bersumpah bahwa jika engkau melanggar sumpahmu, maka akan terjadi sesuatu padamu.”

“Ohh, begitu? Baiklah, aku bersumpah tidak akan menceritakan rahasiamu kepada siapa pun juga, kalau aku melanggar sumpahku ini biarlah... selamanya aku tidak akan berpisah lagi denganmu!”

“Wah, enak betul kamu!”

“Han, kau anggap bahwa kalau kita berkumpul terus takkan pernah berpisah merupakan hal yang enak dan menyenangkan?”

“Kubilang kau yang enak dan senang.”

“Dan engkau sendiri? Tidak senangkah?”

“Sudahlah, jangan macam-macam. Kau harus bersumpah bahwa jika engkau melanggar, engkau akan mengalami hal yang tidak enak, seperti misalnya... tidak bisa tidur dan tidak bisa makan!”

“Wah, kau biarkan aku ngantuk dan kelaparan?”

“Jangan bergurau, cepat bersumpah atau aku takkan sudi menceritakannya kepadamu.”

“Baiklah, Han. Nah, aku mengulang sumpahku. Bila aku menceritakan rahasiamu kepada orang lain, biarlah aku tidak bisa tidur kalau makan dan tidak bisa makan kalau tidur!”

Sejenak Han mengerutkan alisnya, bingung mendengar kata-kata yang dibolak-balik itu. Akan tetapi ketika akhirnya dia mengerti, dia melotot dan marah-marah. “Enak saja kau! Sumpah macam apa itu? Tentu saja kalau tidur tidak bisa makan dan bagaimana mungkin makan sambil tidur? Engkau mau mempermainkan aku, ya?”

“Maaf, Han, terus terang saja aku memang belum pernah bersumpah, jadi tidak mengerti bagaimana seharusnya.”

“Katakan bila engkau melanggar maka kepalamu membengkak, rambutmu rontok gundul, telingamu besar kecil, matamu juling, hidungmu pesek rata, mulutmu sumbing, perutmu busung...“

“Cukup, jangan panjang-panjang, repot aku mengingatnya. Baiklah, kalau aku melanggar, kepalaku bengkak, rambutku rontok, telingaku besar, mataku juling, hidungku pesek, bibir sumbing, perut busung, akan tetapi bertambah tampan!”

“Dasar brengsek! Aku tidak mau menceritakan!”

“Aihh, Han, begitu saja kenapa marah? Sudahlah, biar aku mohon ampun sebanyaknya kepadamu.” Thian Liong merangkap dua tangannya di depan dada dan memberi hormat berulang-ulang. Han tertawa melihat ulah ini.

“Sudah, sekali ini kumaafkan. Awas lain kali kalau berani mempermainkan aku lagi. Nah, dengarlah, guruku yang kedua itu berjuluk Heng-si Ciauw-jiok.”

Sekali ini Thian Liong tidak main-main lagi. Dia malah terbelalak, kaget dan heran. “Ahh, Heng-si Ciauw-jiok? Suhu pernah menyebut nama itu yang kabarnya sudah tewas akibat dikeroyok banyak datuk lain.”

“Benar, dialah guruku yang kedua, yang telah membimbingku selama satu tahun. Suhu Jit Kong Lhama juga pernah bercerita kepadaku seperti itu. Akan tetapi kenyataannya dia masih hidup biar pun lebih pantas kalau disebut mayat hidup. Dia pesan agar setelah aku belajar ilmu selama satu tahun, aku harus mengubur dia hidup-hidup! Tentu saja aku tidak mau melakukan perbuatan kejam itu, apa lagi selama setahun dia menjadi guruku! Maka, setelah belajar setahun lamanya, aku lalu meninggalkannya tanpa pamit.”

“Wah, hebat sekali! Pantas engkau begitu lihai, Han!”

“Apanya yang lihai? Buktinya aku masih tak mampu mengalahkanmu. Padahal aku sudah belajar mati-matian dengan niat untuk mengalahkanmu!”

Thian Liong menghela napas panjang. “Aku masih ingat semuanya itu, Han, dan selama ini aku selalu menyesali perbuatanku terhadapmu. Masih terus terngiang dalam telingaku kata-katamu bahwa engkau akan membalas penghinaanku padamu. Akan tetapi kenapa engkau tidak membalas sepenuhnya, baru menampar beberapa kali saja sudah berhenti, bahkan engkau menyelamatkan aku ketika aku diserang Pak-sian dan muridnya?”

“Karena... karena... ahh, sudahlah! Semuanya itu merupakan sebab akibat yang sambung menyambung dan sangat ruwet. Aku ingin sekali memperdalam ilmu, maka aku mencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat darimu. Sesungguhnya aku menyesal, maka melihat engkau dikeroyok orang-orang Siauw-lim dan Kun-lun, aku lalu membantumu. Kemudian engkau membalas dan menampari aku. Aku merasa sakit hati, lalu memperdalam ilmuku lagi untuk membalasmu. Akhirnya kita saling bertemu dan engkau mengalah sehingga aku pun setengah hati membalas tamparanmu. Kemudian muncul Pak-sian bersama muridnya menyerang engkau yang tidak berdaya. Tentu saja aku membelamu! Semuanya itu wajar, kecuali kalau engkau menganggap aku orang sesat seperti Empat Datuk Besar itu.”

Thian Liong mengangguk-angguk.

“Aku pun merasa menyesal bukan main setelah dulu menamparmu dan baru aku ketahui bahwa gadis baju merah yang mencuri kitabku itu adalah Han Bi Lan, puteri dari Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi yang kuhormati. Kalau aku tahu sebelumnya, tidak mungkin aku berani melakukan hal itu kepadamu.”

“Sudahlah, kita lupakan saja semua itu. Kita sama-sama merasa bersalah, ya sudahlah, kejadian itu menjadi pelajaran bagi kita.”

“Engkau benar, Han. Akan tetapi bagiku, mendapat maaf darimu saja masih belum cukup. Aku ingin sekali mengakui kesalahanku kepada Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi. Akan tetapi... sayang, ayahmu terbunuh orang dan engkau tidak mau mengatakan di mana ibumu berada.”

“Sudah kukatakan, cukup dan jangan bicarakan lagi!”

“Maafkan aku. Engkau benar, membicarakannya hanya akan membangkitkan kenangan sedih tentang kematian ayahmu.”

Kedua orang muda itu melakukan perjalanan ke barat. Tujuan perjalanan mereka adalah Pegunungan Gobi karena Thian Liong hendak menghadap gurunya, Tiong Lee Cin-jin yang tinggal di Puncak Pelangi, satu di antara puncak-puncak Pegunungan Gobi-san. Namun, di sepanjang perjalanan mereka mencari keterangan tentang keberadaan Bouw Kiang dan Bong Siu Lan, dua orang murid Ouw Kan yang telah menewaskan Han Si Tiong.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner