JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-28


Tidak lama kemudian kepala pengawal itu muncul, dan dengan muka berseri dia berkata, “Beliau memerintahkan saya mengantar Nona menghadap beliau. Mari, Nona.”

Dengan jantung berdebar tegang Siang In memasuki istana bagian puteri, dikawal kepala pengawal yang membawanya ke dalam sebuah ruangan tertutup. Pengawal itu mengajak dia masuk dan setibanya di dalam, pengawal itu lantas memberi hormat dengan menekuk sebelah lututnya.

“Nona Thio Siang In datang menghadap!”

Dengan tangannya wanita setengah tua yang duduk seorang diri di ruangan itu memberi isyarat kepada pengawal itu. “Keluarlah!”

Pengawal itu keluar kemudian menutup kembali pintu ruangan itu. Siang In memandang dengan jantung berdebar-debar. Wanita itu berusia kurang lebih empat puluh tahun, masih tampak cantik dan sikapnya lemah lembut. Wanita itu segera bangkit berdiri sehingga kini kedua orang wanita itu saling pandang.

Wanita yang bukan lain adalah Tan Siang Lin, selir Kaisar dan Ibu Moguhai itu, perlahan-lahan lalu melangkah menghampiri. Dia berhenti setelah berada dalam jarak satu tombak dari Siang In. Mereka saling pandang, kemudian mata wanita itu mengeluarkan air mata yang perlahan menetes ke atas kedua pipinya.

Siang In seketika merasa bahwa wanita ini adalah ibu kandungnya. Ada sesuatu pada diri wanita ini yang menggetarkan jantungnya sehingga dia pun tak dapat menahan keluarnya air mata dari sepasang matanya.

“...engkau... engkau Thio Siang In... anak... Miyana?” Wanita itu menelan ludah kemudian melanjutkan, “Moguhai tidak berada di sini, beberapa hari yang lalu dia keluar kota raja...”

“Saya... saya datang untuk bertemu dengan Ibu...,” kata Siang In dengan suara gemetar.

“Ibu…? Engkau... engkau... sudah tahu...?” Selir kaisar itu berkata lirih dan tergagap.

Siang In mengangguk-angguk. “...aku tahu... engkau ibu kandungku...”

Seperti ditarik sembrani, dua orang wanita itu menubruk ke depan dan saling rangkul.

“Anakku...!”

“Ibu...!”

Keduanya menangis sesenggukan dan saling cium dengan muka basah air mata.

“Anakku..., maafkan Ibumu ini, Nak... terpaksa... terpaksa sekali... begitu terlahir engkau kuberikan kepada Miyana...”

“Ibu sama sekali tidak bersalah,” kata Siang In sambil merangkul erat-erat, “Ibu terpaksa berbuat begitu karena... karena Kaisar...”

“Anakku, Kaisar juga tidak bersalah,” kata selir kaisar itu sambil menarik tangan Siang In dan diajaknya gadis itu duduk di sampingnya. “Sejak ratusan tahun, bangsa Yu-cen yang mendirikan Kerajaan Kin (Cin), memiliki kepercayaan bahwa anak kembar mendatangkan mala petaka. Kaisar juga percaya tentang hal itu maka mereka tidak berani membiarkan anak kembar hidup. Aku terpaksa memisahkan engkau dari Moguhai agar kalian berdua selamat, karena kalau tidak demikian, kalian berdua tentu akan dibunuh begitu ketahuan terlahir kembar. Kebetulan Miyana yang menjadi sahabat baikku, dan yang telah menjadi janda karena suaminya, seorang pangeran sudah meninggal dunia, bersedia menolongku dan membawamu keluar istana.”

Siang In merangkul ibunya dan mengusap air mata dari pipi ibunya dengan sapu tangan. “Sudahlah, Ibu. Harap jangan bersedih. Aku sudah tahu mengenai semua itu, mendengar cerita dari ayah Sie Tiong Lee sendiri.”

Sesudah berhasil menguasai keharuan hati mereka dan menjadi tenang kembali, ibu dan anak ini duduk bersanding sambil saling berpegangan tangan dengan hati merasa bahagia sekali.

“Ibu, ke manakah perginya Pek Hong?”

“Pek Hong? Ahh, ya, aku ingat sekarang. Ayahmu memberi nama Sie Pek Hong kepada Moguhai! Dan engkau menjadi Sie Siang In! Ah, aku benar-benar gembira. Kalian berdua mempunyai darah Han asli karena ayah dan ibu kandungmu adalah orang-orang Han. Pek Hong baru beberapa hari pergi, katanya dia hendak pergi mencari orang-orang yang telah membunuh Han Si Tiong akan tetapi aku tahu bahwa selain itu juga ada hal-hal lain yang membuat dia pergi. Dia dimarahi ayahnya karena selalu menolak pinangan para pangeran dan pemuda bangsawan putera para pejabat. Juga Kaisar melarang dia bergaul dengan Souw Thian Liong biar pun pemuda itu pernah membantu Kerajaan Kin ketika membasmi pemberontak. Kaisar bukan tidak suka kepada Thian Liong, hanya dia ingin menjodohkan Moguhai dengan seorang bangsa Yu-cen. Karena itulah Pek Hong pergi.”

“Ahh, sayang sekali Kaisar berpendirian demikian, Ibu. Souw Thian Liong adalah seorang pendekar budiman yang bijaksana, dan aku melihat keakraban di antara Thian Liong dan Pek Hong.”

“Engkau tentu lebih mengetahui, sebenarnya bagaimanakah hubungan antara Souw Thian Liong dengan Pek Hong? Ketika aku bertanya, Pek Hong menjawab bahwa dia memang kagum dan tertarik sekali kepada pemuda itu, akan tetapi dia sendiri tidak tahu apakah dia mencinta Thian Liong atau hanya kagum.”

Sejenak Siang In termenung. Dia harus mengaku di dalam hatinya bahwa dia sendiri amat kagum dan tertarik kepada Thian Liong dan jika ada kesempatan, bukan mustahil dia pun akan jatuh cinta kepada pemuda itu.

“Aku sendiri tidak tahu pasti, Ibu.”

Selir Kaisar itu menarik napas panjang. “Mudah-mudahan saja Pek Hong bisa melupakan Thian Liong kemudian bisa mencinta seorang pemuda lain yang sesuai dengan keinginan Kaisar. Kalau tidak, tentu akan terjadi kesulitan besar. Kau tahu, Siang In, Kaisar mengira bahwa Pek Hong adalah darah dagingnya sendiri, maka dia sangat menyayangnya. Kalau sampai terjadi dia mencinta Thian Liong, tak dapat aku membayangkan apa yang terjadi. Tentu semua orang akan menderita. Kaisar yang amat mencinta puterinya akan berduka dan marah, Pek Hong sendiri juga akan mengalami kesusahan, mungkin juga akan diusir dari istana dan terpisah dariku, dan aku sendiri tentu akan merana. Ahh, akan tetapi kalau Thian menghendaki, segalanya dapat terjadi. Bukankah jodoh, seperti juga kelahiran dan kematian, berada sepenuhnya di tangan Thian dan tidak ada seorang pun yang mampu mengubahnya?”

“Ibu benar, biarlah kita berdoa saja agar semuanya akan berjalan dengan baik sehingga membahagiakan semua orang.”

“Terima kasih, anakku. Ucapanmu itu sungguh membesarkan hatiku. Sekarang coba kau ceritakan semua pengalamanmu menjadi anak Miyana.”

Dengan singkat Siang In menceritakan keadaannya sebagai puteri Thio Ki dan Miyana, menjadi murid dari mendiang Toat-beng Coa-ong Ouw Kan yang wataknya sama sekali berlawanan dengan hatinya, sampai pengalamannya yang terakhir, bertemu dengan Pek Hong, kemudian mereka berdua diajak oleh ayah kandung mereka, Tiong Lee Cin-jin ke tempat pertapaan di Puncak Pelangi dan mempelajari ilmu yang lebih tinggi.

Mendengar semua itu, Tan Siang Lin menarik napas panjang dan wajahnya berseri ketika dia memandang kepada puterinya. “Ahh, aku merasa bahagia sekali. Ternyata sepasang anak kembarku sekarang sudah menjadi pendekar-pendekar wanita sakti. Anakku, kalau Pek Hong kini menghadapi persoalan karena ayahnya, Kaisar, menghendaki dia berjodoh dengan seorang bangsa Yu-cen, lantas bagaimana dengan engkau sendiri? Untuk urusan perjodohanmu, yang lebih berhak menentukan tentu saja ayah ibumu, Thio Ki dan Miyana karena merekalah yang mengasuh, merawat serta mendidikmu sejak engkau masih bayi. Akan tetapi usiamu kini telah dua puluh tahun, sudah sepatutnya engkau menjadi seorang isteri dan ibu. Apakah engkau telah dijodohkan oleh orang tuamu di Kang-cun? Aku hanya ingin tahu, anakku, bukan ingin mencampuri.”

“Ibu, tanpa disengaja agaknya ada persamaan antara keadaanku dan keadaan Pek Hong. Ayah dan Ibu di Kang-cun juga selalu membujuk agar aku segera memilih dan menerima pinangan seorang di antara mereka yang melamar aku. Tetapi aku selalu menolak karena masih belum ingin terikat rumah tangga. Aku masih ingin bebas.”

“Hemm, bagaimana dengan hatimu? Apakah engkau sudah mempunyai pilihan sendiri?”

Siang In menundukkan mukanya, kemudian terbayanglah wajah Cin Han dan Thian Liong berganti-ganti. “Belum, Ibu, aku masih bingung.”

“Ah, kalian berdua memang serupa benar, badan dan batinnya. Aku tidak dapat memaksa kalian, hanya mendoakan semoga segera menemukan jodoh kalian yang cocok dan dapat hidup berbahagia.”

“Ibu, sayang Pek Hong tidak ada. Saya akan menyusulnya karena kalau dia seorang diri mencari pembunuh seperti yang Ibu ceritakan tadi, mungkin dia perlu bantuan. Apakah dia mengatakan ke mana dia hendak mencari pembunuh itu dan siapakah Han Si Tiong yang dibunuh, siapa pula pembunuhnya?”

“Han Si Tiong adalah sahabat baik Pek Hong. Menurut apa yang pernah diceritakan Pek Hong, Han Si Tiong tewas terbunuh oleh dua orang murid Ouw Kan...”

“Ahh…! Ibu, mengapa Toat-beng Coa-ong membunuh Han Si Tiong dan siapakah Han Si Tiong yang dibela sedemikian rupa oleh Pek Hong?”

“Aku pun hanya mendengar dari cerita Pek Hong. Dulu Han Si Tiong dan isterinya adalah perwira Kerajaan Sung Selatan yang memimpin Pasukan Halilintar. Ketika terjadi perang antara Kerajaan Sung dan Kerajaan Kin (Cin), Pasukan Halilintar ini sangat terkenal dan ditakuti karena kehebatan pemimpinnya. Bahkan ketika seorang pangeran dari Kerajaan Kin yang bernama Pangeran Cu Si maju memimpin pasukan melawan Pasukan Halilintar, Pangeran Cu Si ini tewas di tangan Han Si Tiong dan isterinya. Kematian seorang perwira dalam perang sebenarnya merupakan hal yang wajar, bukan merupakan urusan pribadi, maka Kaisar Kin juga tidak mendendam kepada Han Si Tiong, walau pun beliau merasa berduka atas kematian anggota keluarganya. Akan tetapi ketika itu mendiang Pangeran Hiu Kit Bong yang kemudian memberontak dan tewas, membujuk Kaisar untuk membalas dendam kepada Han Si Tiong dan isterinya. Kaisar lalu mengutus Ouw Kan untuk pergi ke kota raja Sung dan membunuh Han Si Tiong beserta isterinya.”

“Hemm, sungguh tak kusangka. Aku sama sekali tak pernah mendengar tentang hal itu,” kata Siang In lirih.

Sebagai murid Ouw Kan, dia maklum bahwa gurunya itu adalah seorang datuk sesat dan sering kali dia bertentangan dengan gurunya dalam berbagai hal. Namun dia tidak pernah mendengar bahwa gurunya menjadi utusan Kaisar untuk membunuh seorang perwira Sung hanya karena perwira itu merobohkan seorang pangeran dalam perang!

“Akan tetapi Ouw Kan gagal membunuh suami isteri itu karena tidak menemukan mereka di kota raja. Hal ini membuat Ouw Kan merasa malu kepada Kaisar, maka biar pun kaisar sudah melupakan hal itu, bahkan telah sadar bahwa dendam atas gugurnya Pangeran Cu Si dalam perang merupakan suatu kesalahan, dan membatalkan perintahnya kepada Ouw Kan, agaknya Ouw Kan tetap melanjutkan usaha pembunuhan itu karena dendam pribadi. Bahkan ketika dia berusaha membunuh Han Si Tiong dan isterinya, Pek Hong muncul dan membela suami isteri itu, mengusir Ouw Kan. Kemudian Pek Hong yang menjadi sahabat baik Han Si Tiong dan isterinya, meninggalkan kain bertulisan yang isinya melarang Ouw Kan mengganggu suami isteri itu. Pek Hong tidak membenarkan dendam seperti itu, tidak membenarkan kematian dalam perang dibawa menjadi dendam pribadi.”

“Pek Hong memang bijaksana, Ibu.” Siang In memuji. “Kemudian bagaimana, Ibu?”

“Nah, belum lama ini terdengar berita bahwa Ouw Kan sudah dibunuh oleh seorang yang mengaku berjuluk Ang I Mo-li. Beberapa hari kemudian, pada suatu malam Ang I Mo-li itu masuk menyusup ke istana ini untuk membunuh Kaisar! Dia menganggap Kaisar sebagai musuhnya karena dia menyangka bahwa Kaisar Kin yang mengutus Ouw Kan dan murid-muridnya membunuh Han Si Tiong. Pek Hong lalu menyambutnya dan ternyata Ang I Mo-li (Iblis Betina Baju Merah) adalah seorang gadis puteri Han Si Tiong bernama Han Bi Lan dan sudah mengenal Pek Hong. Pek Hong berhasil membujuknya dan menyadarkannya bahwa Kaisar sama sekali tidak mengutus Ouw Kan untuk membunuh ayahnya. Han Bi Lan lalu bercerita kepada Pek Hong bahwa ayahnya, Han Si Tiong, sudah terbunuh oleh dua orang murid Ouw Kan yang bernama... ahh, aku sudah lupa lagi nama mereka...”

“Tentu bernama Bouw Kiang dan Bong Siu Lan!”

“Ya, benar! Eh, Siang In, bagaimana engkau bisa mengetahui nama dua orang pembunuh murid Ouw Kan itu?”

“Tadi telah kuceritakan bahwa aku pernah berguru kepada Toat-beng Coa-ong. Ia adalah Ouw Kan, Ibu, maka aku bisa menduga bahwa yang melakukan pembunuhan itu tentulah dua orang muridnya yang lain, yang bernama Bouw Kiang dan seorang murid perempuan yang bernama Bong Siu Lan. Aku tidak akrab dengan mereka karena tempat tinggal kami berbeda kota dan hanya beberapa kali saja aku pernah bertemu dengan mereka. Juga aku pernah mendengar berita yang tidak baik tentang mereka.”

“Begitulah, Siang In. Han Bi Lan dapat menerima penjelasan Pek Hong sehingga dia pun membatalkan niatnya membunuh Kaisar.”

“Gadis berpakaian merah bernama Han Bi Lan? Rasa-rasanya aku sudah pernah bertemu dengan gadis itu pada saat kami membantu Souw Thian Liong menghadapi pengeroyokan orang-orang Siauw-lim dan Kun-lun, akan tetapi saat itu aku belum mengetahui namanya. Akan tetapi mengapa Pek Hong mati-matian membela kematian Han Si Tiong dan pergi mencari pembunuhnya, Ibu?”

“Menurut Pek Hong, Han Si Tiong dan isterinya adalah orang-orang yang gagah perkasa dan baik, juga dia telah mengenal mereka dengan akrab sekali. Yang membuat Pek Hong merasa penasaran adalah bahwa dia telah meninggalkan tulisan yang melarang Ouw Kan mengganggu suami isteri itu, akan tetapi nyatanya dua orang murid Ouw Kan masih juga menyerang mereka sehingga Han Si Tiong tewas. Karena itu, Pek Hong hendak mencari dua orang itu, ditambah lagi karena dia dimarahi Kaisar akibat belum mau menikah.”

“Ibu, kalau begitu aku harus cepat menyusul Pek Hong. Dua orang pembunuh itu adalah orang-orang yang lihai dan licik. Pek Hong perlu bantuanku, Ibu.”

'Akan tetapi ke mana engkau hendak mencarinya, Siang In?”

“Aku kira dia tentu mencari dua orang pembunuh itu di tempat tinggal Suhu Ouw Kan. Aku akan menyusul ke sana, sekarang juga, Ibu.”

Wanita itu merangkul Siang In. “Tidak, engkau baru saja datang, bagaimana tega untuk meninggalkan aku lagi. Aku masih rindu padamu, Siang In. Besok pagi saja engkau pergi. Malam ini engkau harus berada di sini dan kita bicara melepas kerinduanku!”

Siang In balas merangkul. Ia tidak tega untuk menolak permintaan ibu kandung itu. Maka dia pun menunda perjalanannya menyusul Pek Hong dan bermalam di kamar ibunya, di mana keduanya semalam suntuk bercakap-cakap dengan penuh kebahagiaan. Pada esok harinya barulah selir kaisar itu mengijinkan puterinya meninggalkan istana.....

********************

Pek Hong Nio-cu atau Sie Pek Hong atau juga Puteri Moguhai mendaki bukit menuju kota Ceng-goan. Kota itu letaknya di daerah perbukitan yang berpemandangan indah. Bukan kota dagang yang besar, tetapi lebih merupakan kota pariwisata yang hawanya sejuk dan pemandangannya indah. Penduduknya bertani dan berdagang bunga-bunga yang dapat tumbuh dengan subur di daerah perbukitan itu.

Puteri Moguhai pernah datang ke Ceng-goan dan dia langsung menuju ke sebuah rumah mungil, yaitu rumah tinggal Ouw Kan pemberian Kaisar. Ia sudah mendengar dari Bi Lan bahwa Ouw Kan telah tewas di tangan Puteri Han Si Tiong itu. Akan tetapi ke mana lagi ia dapat mencari dan menyelidiki di mana adanya dua orang murid Ouw Kan itu kalau tidak dia mulai dari tempat tinggal mendiang Toat-beng Coa-ong Ouw Kan?

Ia melihat rumah itu sunyi dan pintu depannya tertutup. Lalu diketuknya daun pintu depan sebab dari keterangan Bi Lan dia mendengar bahwa rumah itu dijaga oleh seorang wanita setengah tua yang tidak diganggu oleh Bi Lan.

Tak lama kemudian, setelah tiga kali dia mengulang ketukannya, terdengar langkah ringan lantas daun pintu dibuka dari dalam. Begitu janda tua penjaga rumah itu melihat seorang gadis muda berdiri di depan pintu, langsung saja dia menjatuhkan diri dan menangis.

“Ampun, Lihiap (Pendekar Wanita)! Ampunkan saya yang tidak bersalah apa-apa dan tak tahu apa-apa. Ampunkan dan harap jangan bunuh saya, Ang I Mo-li...!”

Moguhai tersenyum. Agaknya nenek ini mengira bahwa dia Bi Lan yang memperkenalkan diri sebagai Ang I Mo-li sehingga dia menjadi ketakutan dan minta ampun.

“He, Bibi yang bodoh. Lihat baik-baik siapa aku! Apakah pakaianku berwarna merah? Apa engkau tidak mengenal aku?”

Sekarang wanita itu mengangkat mukanya. Tadi saking ketakutan dia tidak berani melihat langsung secara teliti, langsung saja minta ampun. Setelah mengangkat muka dia melihat seorang gadis yang pakaiannya terbuat dari sutera halus putih bersih. Ketika ia mengenal wajah Puteri Moguhai, ia cepat berlutut menyembah-nyembah.

“Aduh, ampunkan hamba, Yang Mulia Puteri! Hamba tidak mengira bahwa Paduka yang datang maka bersikap tidak semestinya. Ampunkan hamba.” Sungguh pun hatinya terasa tegang, namun rasa takutnya hilang sesudah melihat bahwa gadis itu bukan si pembunuh majikannya.

“Sudahlah, aku tidak marah. Sekarang duduklah yang baik, Bibi, duduk di bangku itu. Aku hendak bicara denganmu dan aku minta agar engkau dapat memberi semua keterangan yang kuminta.”

“Hamba tidak berani...” Pelayan tua itu tetap berlutut.

“Aku perintahkan engkau duduk dan engkau masih tak mau mentaati?” bentak Pek Hong agar nenek itu ketakutan dan taat.

“Ampun... ahh, baik-baik, hamba menaati perintah Paduka.” Dia lalu bangkit dan duduk di atas bangku sambil menundukkan muka dan merangkap kedua tangannya di depan dada memberi hormat.

“Engkau tentu mengetahui bahwa mendiang Ouw Kan memiliki dua orang murid, bukan?”

“Bukan dua, malah murid-murid yang dekat dengan almarhum ada tiga orang.”

“Tiga orang? Coba sebutkan siapa saja mereka!”

“Yang pertama adalah murid wanita. Kalau tidak salah dia bertempat tinggal di kota Kang-cun dan namanya Thio Siang In...”

Pek Hong mengangguk. tentu saja dia sudah tahu karena saudara kembarnya itu pernah bercerita bahwa dia pernah menjadi murid Toat-beng Coa-ong Ouw Kan.

“Lalu yang dua lagi siapa namanya?”

“Yang seorang adalah murid laki-laki bernama Bouw Kiang dan yang seorang lagi murid perempuan bernama Bong Siu Lan.”

“Engkau tahu di mana dua orang murid itu tinggal?”

“Aduh, Tuan Puteri yang mulia, hamba sungguh tidak tahu di mana kedua orang murid itu tinggal. Dahulu, Ang I Mo-li yang membunuh Tuan Besar juga menanyakan hal itu. Akan tetapi hamba sungguh tidak tahu. Mereka hanya kadang-kadang saja datang, bermalam sehari dua hari kemudian pergi lagi. Hamba tidak berani bertanya di mana mereka tinggal. Mereka itu galak-galak, tidak seperti Thio-siocia (Nona Thio) yang sangat ramah dan mau memberi tahu di mana tempat tinggalnya.”

“Coba engkau ingat-ingat, Bibi. Ketika Bouw Kiang dan Bouw Siu Lan datang ke sini dan bercakap-cakap dengan Ouw Kan, mungkin secara kebetulan engkau pernah mendengar sedikit pembicaraan mereka.”

Nenek itu mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. “Hanya sedikit yang hamba ingat, Tuan Puteri. Ketika secara kebetulan hamba sedang menghidangkan makanan dan minuman, mereka menyebut-nyebut tentang Empat Datuk Besar yang katanya sudah menghubungi mereka berdua. Dan Tuan Besar Ouw Kan mengatakan boleh saja bekerja sama dengan Empat Datuk Besar, tetapi tugas terpenting mereka harus dilaksanakan dulu. Nah, hanya itulah yang hamba ingat, akan tetapi hamba tidak tahu apa yang mereka maksudkan.”

Pek Hong dapat menduga. Tugas penting yang harus diselesaikan dulu itu tentulah tugas membunuh Han Si Tiong. Tetapi dia tidak tahu apa maksud mereka berhubungan dengan Empat Datuk Besar.

“Bibi, siapkan kamar yang bersih untukku. Aku akan tinggal di sini selama beberapa hari untuk melakukan penyelidikan di sekitar tempat ini tentang kedua orang itu.”

“Baik, Tuan Puteri, akan hamba persiapkan.”

“O ya, Bibi. Coba gambarkan dulu bagaimana rupanya dua orang murid itu.”

“Yang bernama Bouw Kiang itu adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh enam tahun, bertubuh tinggi besar berwajah tampan dengan kulit yang gelap agak hitam dan dia selalu membawa sebatang tongkat hitam yang terselip pada pinggangnya. Ada pun yang bernama Bong Siu Lan adalah seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun, wajahnya bulat telur, matanya lebar, mulutnya agak lebar akan tetapi dia cantik sekali. Biasanya dia membawa sepasang pedang di punggungnya.”

Demikianlah, sesudah mendapat keterangan dari pelayan itu, Pek Hong kemudian tinggal di bekas rumah Ouw Kan selama beberapa hari. Setiap hari dia melakukan pencarian dan penyelidikan di sekitar daerah itu dengan bertanya-tanya, akan tetapi tidak ada hasilnya. Akhirnya dia pun merasa yakin bahwa dua orang murid Ouw Kan itu pasti tidak berada di daerah itu. Mengingat akan keterangan pelayan, mungkin sekali kedua orang itu sedang mengadakan hubungan dengan Empat Datuk Besar. Akan tetapi di mana?

Selagi dia berjalan perlahan-lahan menuju ke rumah Ouw Kan sambil termenung karena bingung ke mana harus mencari dua orang itu, ketika dia tiba di pintu gerbang kota Ceng-goan, tiba-tiba dia mendengar derap kaki kuda datang dari arah belakang dan terdengar suara nyaring.

“Pek Hong...!”

Puteri Moguhai cepat membalikkan tubuhnya dan wajahnya berseri, mulutnya tersenyum ketika dia mengenal siapa penunggang kuda itu.

“Siang In...!”

Thio Siang In menghentikan kudanya dan melompat turun.

Mereka saling berpegang tangan dengan gembira. “Wah, untung sekali aku dapat bertemu dengan engkau di sini, Pek Hong.”

“Engkau mencari aku? Dari manakah engkau, Siang In?”

“Aku dari kota raja, mengunjungi ibu kita.”

“Ahh, engkau sudah bertemu dengan ibu?”

Siang In mengangguk. “Benar, dan aku mendengar dari ibu bahwa engkau sedang keluar meninggalkan kota raja, katanya engkau hendak mencari dua orang murid Suhu Ouw Kan yang membunuh Han Si Tiong. Aku sudah mendengar semua dari Ibu! Aku lalu mencari ke sini.”

“Mari kita bicara di rumah saja. Sementara ini aku tinggal di rumah bekas... gurumu itu, Siang In.”

Siang In tersenyum ketika mendengar Pek Hong agak ragu menyebut Ouw Kan sebagai gurunya. Dia menepuk pundak saudara kembarnya itu lantas berkata, “Mari kita bicara di sana, lebih leluasa.”

Wanita setengah tua yang menjaga rumah itu, terbelalak melihat kedatangan mereka. Dia tadinya memang sudah merasa heran melihat persamaan wajah Puteri Moguhai dengan wajah Nona Thio, namun sekarang persamaan itu lebih menyolok lagi walau pun tatanan rambut dan dandanan pakaian mereka berdua itu saling berbeda. Akan tetapi dia segera mengenal Siang In.

“Ahh, Thio-siocia! Sudah lama Siocia tidak datang ke sini. Guru Siocia telah...”

“Cukup, Bibi Alun, aku sudah mengetahui semuanya. Engkau yakin benar bahwa engkau tidak mengetahui di mana adanya suheng (kakak seperguruan pria) Bouw Kiang dan suci (kakak seperguruan wanita) Bong Siu Lan? Kalau engkau tahu, katakanlah kepadaku.”

Nenek itu mengerutkan kening sambil memandang kepada Pek Hong. “Semua yang saya ketahui sudah saya ceritakan kepada Tuan Puteri Moguhai, Nona, akan tetapi baru tadi saya teringat bahwa dulu sekali pernah datang seorang Hwesio yang sudah tua, tubuhnya gemuk sekali seperti arca Ji-lai-hud, suara tawanya menggelegar dan amat mengagetkan. Karena suaranya nyaring, dari dapur saya bisa mendengar ketika dia mengatakan bahwa Bouw-kongcu (Tuan Muda Bouw) dan Bong-siocia (Nona Bong) diharapkan kehadirannya di Puncak Pelangi. Nah, hanya itulah yang lupa saya ceritakan kepada Sang Puteri.”

“Aihh! Justru itu amat penting, Bibi!” teriak Pek Hong dan Siang In berbareng. Tentu saja kedua orang gadis ini sangat terkejut karena yang disebut Puncak Pelangi adalah tempat pertapaan ayah kandung mereka, Tiong Lee Cin-jin!

“Tidak salah lagi, mereka pasti pergi ke sana!” kata Pek Hong.

“Kalau begitu kita harus mengejar mereka, sekarang juga!” kata Siang In.

Dua orang gadis itu lalu berangkat meninggalkan kota Ceng-goan menuju barat. Karena jalan menuruni bukit itu cukup terjal dan berbatu-batu, maka keduanya menjalankan kuda mereka dengan santai sambil bercakap-cakap.

“Pek Hong, dulu telah kuceritakan kepadamu bahwa biar pun aku pernah berguru kepada Toat-beng Coa-ong Ouw Kan, akan tetapi aku sama sekali tidak setuju dengan wataknya. Sering kali aku bahkan mencelanya sehingga dia merasa tidak suka kepadaku. Aku selalu akan menentang setiap perbuatan jahat, oleh siapa pun perbuatan itu dilakukan. Karena itu engkau tidak perlu merasa rikuh menentang dua orang murid Suhu Ouw Kan itu. Aku akan membantumu!”

“Ah, aku senang sekali mendengar ucapanmu ini, Siang In. Tidak mengecewakan engkau menjadi puteri Yok-sian Tiong Lee Cin-jin, dan aku bangga mempunyai saudara kembar sepertimu.”

“Aku bahkan lebih bangga lagi kepadamu, Pek Hong. Biar pun sejak kecil engkau hidup di dalam istana, akan tetapi engkau tetap menjadi puteri Yok-sian Tiong Lee Cin-jin, menjadi seorang pendekar wanita yang gagah dan gigih menentang kejahatan. Bahkan namamu terkenal karena engkau telah membela Kerajaan Kin dan juga Kerajaan Sung Selatan dari para pemberontak.”

“Ahh, jasaku tidak banyak. Souw Thian Liong yang benar-benar berjasa dalam menentang para pemberontak di kedua kerajaan itu. Dialah yang sepatutnya menerima pahala, tetapi dia seorang yang sungguh rendah hati, tidak tergoda kemilaunya harta dan kedudukan, dan bijaksana sekali.”

Siang In menghela napas panjang. Dia tahu bahwa saudara kembarnya ini bergaul akrab dengan Souw Thian Liong. Dia sendiri juga sudah mengenal baik pemuda itu dan diam-diam merasa kagum juga kepadanya.

“Pek Hong, engkau... cinta padanya, bukan?”

“Ehh? Mengapa engkau bertanya demikian?”

“Pek Hong, Ibu sudah menceritakan semuanya kepadaku. Menurut cerita beliau, engkau dimarahi Kaisar karena engkau menolak semua pinangan dari para pangeran dan putera bangsawan, juga mengenai Kaisar yang melarang engkau berjodoh dengan Souw Thian Liong karena beliau menghendaki engkau menikah dengan seorang bangsa Yu-cen. Nah, katakan padaku, Pek Hong, apakah engkau benar-benar mencinta Souw Thian Liong?”

Pek Hong Nio-cu menarik napas panjang. “Entahlah, Siang In. Aku sendiri tidak tahu, aku memang kagum sekali kepadanya.”

“Kagum bukan berarti cinta, Pek Hong.”

“Aku tidak tahu. Bagaimana sih rasanya hati yang jatuh cinta?”

“Ahh, aku sendiri pun tidak tahu, Pek Hong. Aku belum pernah jatuh cinta.”

“Hemm, bagaimana hubunganmu dengan Pangeran Cin Han? Apakah engkau tidak cinta padanya?”

“Aku juga tidak tahu, Pek Hong. Aku hanya kagum dan suka padanya karena dia seorang pemuda yang berbudi halus dan sopan, juga bijaksana sekali.”

“Dan tampan...!” Pek Hong melanjutkan.

“Ah, soal tampan atau tidak itu tergantung dari hati kita, Pek Hong. Kalau kita menyukai seseorang dia akan tampak tampan, kalau sebaliknya kita membenci seseorang, dia akan kelihatan buruk seperti setan!”

Dua orang gadis itu tertawa geli.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner