JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-29


“Eh, Siang In. Aku tahu benar bahwa Cin Han itu amat mencintamu. Kalau tidak salah dia pernah meminangmu tetapi engkau menolak pinangan itu karena ketika dipinang, engkau belum pernah bertemu dengan dia. Sesudah engkau berkenalan dengan dia, bagaimana perasaan hatimu sekarang?”

Wajah Siang In berubah kemerahan, tapi dia tersenyum. “Dia seorang pemuda yang baik sekali, Pek Hong. Terus terang saja aku memang merasa tertarik dan suka kepadanya, akan tetapi sayang... dia seorang siucai (sasterawan) yang lemah. Aku ragu apakah aku dapat hidup bahagia dan cocok dengan dia mengingat pendidikan antara kami yang amat berbeda. Dia ahli sastra sedangkan aku ahli silat.”

“Wah, keadaan kita sungguh senasib dan sama, Siang In. Aku pun tertarik pada seorang pemuda bangsawan bangsa Yucen, akan tetapi seperti juga Cin Han, pemuda itu adalah seorang yang hanya mendapat pendidikan bun (sastra). Sebetulnya keadaannya sebagai seorang putera pangeran bangsa Yucen sudah cocok dengan keinginan Kaisar, juga aku pun mengenal baik ayahnya dan aku tahu bahwa ayahnya seorang yang gagah perkasa, baik budi dan setia kepada Kaisar. Akan tetapi... ya itu tadi, sayang dia seorang pemuda lemah.”

Dua orang gadis itu kini termenung. Siang In membayangkan wajah Cin Han, sedangkan Pek Hong membayangkan wajah Pangeran Kuang Lin.

“Siang In, mari kita mempercepat perjalanan kita ke tempat pertapaan ayah, selain untuk menjaganya kalau-kalau dia terancam orang-orang sesat, juga kita bisa minta nasihatnya tentang masalah perjodohan kita.”

“Baiklah, Pek Hong. Aku kira hanya ayah yang akan dapat menunjukkan jalan terbaik bagi kita.”

Dua orang gadis itu lalu membalapkan kuda mereka menuju ke Pegunungan Go-bi.....

********************

Pondok itu berdiri di puncak sebuah bukit. Dari atas puncak tampak pemandangan alam yang teramat indah. Terutama di waktu matahari terbit atau di waktu matahari tenggelam, pemandangan itu sungguh membuat orang terpesona, seakan-akan melihat taman sorga terbentang di depannya.

Sungguh sukar menggambarkan keindahan pemandangan yang dibentuk oleh awan dan sinar matahari. Terlebih lagi jika pelangi yang mengandung semua warna itu juga tampak melengkung di depan, membuat orang lupa bahwa dia sedang berada di dunia, bukan di alam lain.

Matahari pagi sudah naik agak tinggi hingga sinarnya yang hangat terasa nyaman sekali menembus kedinginan puncak itu. Sejuk dan segar. Pondok kayu yang kokoh itu berada di Puncak Pelangi, salah satu di antara begitu banyak puncak perbukitan di Pegunungan Gobi.

Kakek itu duduk bersila di atas sebuah bangku batu bundar dan rata, yang permukaannya bersih dan halus. Dia seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh lima tahun. Wajahnya bersih tanpa jenggot dan kumis, wajah yang berbentuk bulat dengan dagu meruncing. Sepasang matanya lembut dan bersinar-sinar cerah seperti mata orang yang merasa lega dan puas, mata orang berbahagia.

Rambutnya yang sudah bercampur uban itu diikat dengan pita kuning. Pakaiannya hanya terdiri dari kain yang dilibat-libatkan di tubuhnya, di bagian pinggang diikat sabuk sutera putih. Sepatunya dari kain tebal dengan lapisan besi. Mata yang tajam, hidung mancung dan mulut yang bentuknya indah itu membuat wajahnya tampak tampan.

Dia adalah Tiong Lee Cin-jin yang dikenal banyak tokoh besar dunia persilatan sebagai Yok-sian (Dewa Obat atau Tabib Dewa) dan nama aslinya adalah Sie Tiong Lee.

Beberapa ekor burung gereja bercicitan dan terbang turun dari pucuk pohon. Tanpa takut sedikit pun mereka beterbangan dekat tempat Tiong Lee Cin-jin duduk. Bahkan ada yang hinggap di atas batu tepat di kakinya dan ada pula yang demikian beraninya hinggap di atas pundaknya. Agaknya burung-burung kecil itu sudah terbiasa berbuat seperti itu dan sudah yakin benar bahwa mereka aman dan tidak akan diganggu. Bahkan lebih dari itu, mereka seolah menagih!

Tiong Lee Cin-jin tersenyum, merasa bahwa burung-burung itu memang menagih. Dia lalu mengambil sekepal butiran gandum dan menyebarkannya di atas tanah depan batu yang didudukinya. Ramailah burung-burung itu berloncatan dan mulai mematuki biji-biji gandum sambil mengeluarkan bunyi hiruk pikuk.

Tiong Lee Cin-jin tersenyum bahagia sambil memandang ke kawanan burung gereja yang setiap pagi pasti menemaninya di situ.

Tiba-tiba Tiong Lee Cin-jin mengangkat muka, memandang tajam ke arah bawah puncak sebelah timur. Dia melihat dua titik hitam yang bergerak mendaki bukit dan sebentar saja dua titik hitam itu mulai berbentuk dua tubuh manusia yang dengan mempergunakan ilmu berlari cepat mendaki bukit menuju puncak. Mulut kakek itu tersenyum lebar dan matanya bersinar, wajahnya berseri.

Bayangan dua orang itu semakin jelas dan mereka itu adalah Souw Thian Liong dan Han Bi Lan yang menyamar pria dan menggunakan nama Han.

Seperti kita ketahui, pemuda dan gadis itu melakukan perjalanan bersama dan bersepakat untuk saling membantu. Han Bi Lan berusaha mencari dua orang murid mendiang Toat-beng Coa-ong Ouw Kan yang telah membunuh ayahnya, sedangkan Souw Thian Liong hendak mengunjungi gurunya, Tiong Lee Cin-jin untuk mengabarkan bahwa Empat Datuk Besar mengancam gurunya itu dan dia akan membantu gurunya.

Dalam perjalanan mereka, kedua orang muda ini mendengar bahwa dua orang murid Ouw Kan yang dicari Bi Lan itu agaknya bergabung dengan Empat Datuk Besar dan mungkin hendak membantu Empat Datuk Besar menyerang Tiong Lee Cin-jin di Puncak Pelangi. Maka mereka berdua lalu cepat melakukan perjalanan menuju Puncak Pelangi.

Setelah tiba di depan kakek itu, mereka berdua segera berlutut memberi hormat.

“Suhu, teecu datang menghadap,” kata Thian Liong.

“Locianpwe, maafkan kalau saya mengganggu,” kata Han Bi Lan.

Tiong Lee Cin-jin tertawa dan mengangguk-angguk sambil memandang kepada dua orang muda itu.

“Thian Liong, siapakah nona yang ikut datang berkunjung bersamamu ini?”

Bi Lan kagum. Kakek ini sekali pandang saja sudah mengetahui bahwa ia seorang wanita, padahal penyamarannya itu bagus sekali sehingga di sepanjang perjalanan tak ada orang yang mengetahui rahasianya.

Sebelum Thian Liong menjawab, Bi Lan sudah mendahuluinya. “Maaf kalau saya terpaksa menyamar sebagai laki-laki agar leluasa dalam perjalanan, Locianpwe. Nama saya adalah Han Bi Lan dan saya melakukan perjalanan bersama Souw Thian Liong untuk saling bantu menghadapi orang-orang jahat yang lihai.”

“He-he-he, sungguh menarik sekali. Seorang gadis dengan kepandaian seperti yang kau miliki, siapakah yang akan berani mengganggumu, Nona? Kalian duduklah di batu depan itu agar lebih enak kita bicara.”

Thian Liong dan Bi Lan mengucapkan terima kasih, lantas duduk di atas batu datar, saling berhadapan dengan kakek itu. Bi Lan menjadi makin kagum. Sekali pandang saja kakek itu sudah mengetahui bahwa dia memiliki ilmu kepandaian tinggi!

“Suhu, teecu mengharap keadaan Suhu baik-baik dan sehat saja,” kata Thian Liong.

“Keadaanku baik-baik saja, Thian Liong. Terima kasih dan puji syukur kepada Thian yang senantiasa melimpahkan berkatnya kepada tubuh yang renta ini. Sekarang ceritakan apa yang mendorong kalian datang ke sini.”

Thian Liong segera menceritakan tentang pertemuan antara Empat Datuk Besar di Pulau Iblis telaga See-ouw yang telah mendidik seorang murid sehingga lihai sekali dengan niat khusus agar murid itu membalaskan sakit hati Empat Datuk Besar kepada Tiong Lee Cin-jin.

Tiong Lee Cin-jin mendengarkan cerita Thian Liong dengan sikap tenang seolah tidak ada apa-apa yang perlu khawatirkan. Dia bukan meremehkan orang-orang yang mengancam dirinya, akan tetapi bagi Tiong Lee Cin-jin, gangguan dari golongan sesat sudah semenjak dulu dia alami dan hal itu merupakan hal yang wajar saja baginya. Kekuasaan setan tidak akan pernah berhenti untuk menyeret manusia ke dalam kesesatan dan selalu golongan sesat memusuhi golongan yang hidup sebagai pengabdi kebenaran dan keadilan.

“Kalau itu yang mereka kehendaki, biarlah, Thian Liong. Hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Aku akan berusaha melindungi diriku sedapat mungkin, dan selanjutnya terserah kepada keputusan Thian. Yang harus terjadi terjadilah, seperti yang sudah ditentukan oleh Thian. Tidak perlu khawatir.”

“Akan tetapi, maaf, Suhu. Teecu menduga bahwa mereka itu akan mengerahkan semua tenaga golongan sesat untuk menyerang Suhu. Tentu saja teecu tidak dapat berdiam diri, Suhu. Maka teecu lalu sengaja datang berkunjung dan menghadap Suhu untuk memberi-tahu akan ancaman itu agar Suhu dapat bersiap-siap, dan teecu dapat membantu Suhu kalau mereka datang menyerbu.”

“Baiklah jika engkau mengkhawatirkan diriku, Thian Liong. Akan tetapi bagaimana dengan Nona ini?”

“Suhu pernah melihat Bi Lan ketika dulu teecu hendak dihukum para pimpinan Siauw-lim dan Kun-lun karena fitnah dan Nona ini juga membelaku menghadapi serangan mereka. Han Bi Lan ini adalah puteri dari Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi yang dahulu bersama teecu dihukum penjara di istana Kerajaan Sung karena menentang Menteri Chin Kui, Suhu.”

Tiong Lee Cin-jin mengangguk-angguk, memandang kepada Bi Lan.

“Ya, aku ingat. Bukankah ayahmu Han Si Tiong itu bersama ibumu memimpin Pasukan Halilintar di bawah pimpinan mendiang Jenderal Gak Hui yang gagah perkasa itu, Bi Lan?”

“Benar sekali, Locianpwe. Akan tetapi sebagai akibat dari perang itu, ayah saya dibunuh orang.”

“Siancai...! Bagaimana ceritanya?”

“Dalam perang itu ayah saya telah merobohkan seorang pangeran Kerajaan Kin sehingga menimbulkan dendam. Kaisar kerajaan itu lantas mengutus Toat-beng Coa-ong Ouw Kan untuk membunuh ayah ibuku. Walau pun usahanya gagal dan Kaisar Kerajaan Kin sudah mencabut perintahnya, tapi Ouw Kan masih penasaran lalu pada suatu hari dia mengutus dua orang muridnya untuk membunuh ayah dan ibu saya. Usaha itu berhasil, ayah saya mereka bunuh. Maka saya lalu mencari Toat-beng Coa-ong Ouw Kan dan saya berhasil membalas dendam, saya telah membunuh Toat-beng Coa-ong Ouw Kan itu.”

Kakek itu meagangguk-angguk.

“Hemm, aku tidak heran kalau engkau mampu mengalahkan Ouw Kan. Bi Lan, siapakah gurumu?”

“Guru saya adalah Jit Kong Lhama...”

“Hemm, aneh sekali. Meski pun tingkat kepandaian Jit Kong Lhama lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Toat-beng Coa-ong Ouw Kan, tetapi selisihnya tidak banyak. Apa bila engkau hanya menerima ilmu dari Jit Kong Lhama, kiranya akan sukar bagimu untuk bisa mengalahkannya. Aku juga melihat ada tenaga aneh dalam dirimu, Bi Lan, yang mungkin sekali bahkan lebih kuat dari pada tenaga yang dimiliki Jit Kong Lhama!” Sambil berkata demikian Tiong Lee Cin-jin menatap wajah Bi Lan dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Kembali Bi Lan merasa kagum, bahkan juga terkejut. Penglihatan kakek itu benar-benar tajam seolah menembus dirinya sehingga terhadap Tiong Lee Cin-jin kiranya tak mungkin dia menyembunyikan sesuatu tentang dirinya. Dia memandang ke arah Thian Liong yang kebetulan juga sedang memandang kepadanya. Dari pandang mata Thian Liong gadis itu seolah dapat membaca suara hatinya bahwa guru pemuda itu mengetahui segalanya dan lebih baik berterus terang saja!

“Sebenarnya, Locianpwe, saya telah menerima gemblengan dari seorang guru lain selama satu tahun.”

“Ah, gurumu itu tentu seorang manusia luar biasa yang memiliki kesaktian yang tinggi, Bi Lan.”

“Guru saya itu berjuluk Heng-si Ciauw-jiok (Mayat Hidup Berjalan), Locianpwe.”

“Siancai...! Jadi benar dia itu masih hidup? Heh-heh-heh, dulu aku sudah merasa sangsi mendengar kabar bahwa dia tewas dikeroyok para datuk. Ternyata dia masih hidup! Bukan main, hebat sekali tingkat kepandaiannya, tidak akan mungkin dapat dikuasai sembarang orang!”

“Ada yang aneh sekali tentang datuk itu, Suhu. Menurut cerita Bi Lan, sebelum menerima Bi Lan sebagai murid selama setahun, Si Mayat Hidup itu menyuruh Bi Lan berjanji bahwa setelah belajar setahun, Bi Lan harus menguburnya hidup-hidup! Akan tetapi Bi Lan tidak mau melakukan hal itu dan dia kabur meninggalkan orang aneh itu.”

“Siancai...! Kenapa engkau mengeluarkan janji seperti itu, Bi Lan? Berjanji harus ditepati! Baik sekali jika engkau tidak melaksanakan penguburan hidup-hidup terhadap orang yang sudah memberimu ilmu-ilmu selama setahun. Akan tetapi, berjanji itulah yang salah! Dan manusia macam Si Mayat Hidup itu pasti akan terus mencarimu untuk menuntut engkau melaksanakan apa yang telah kau janjikan itu.”

“Aduh, Locianpwe, saya mohon petunjuk. Ketika itu memang saya sedang dalam keadaan bingung dan ingin memperdalam ilmu sehingga mau saja disuruh berjanji seperti itu.”

“Ya, aku tahu. Bahkan sekarang pun engkau masih dalam keadaan kacau, batinmu masih mengalami guncangan dan tekanan berat. Sesungguhnya apakah yang menjadi ganjalan hatimu, Bi Lan? Siapa tahu aku akan dapat memberikan petunjuk untuk membebaskanmu dari tekanan batin itu.”

“Suhu, sesungguhnya teecu yang membuat batin Bi Lan tertekan. Karena dulu dia pernah meminjam kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang seharusnya teecu serahkan kepada Kun-lun-pai seperti yang telah Suhu perintahkan, maka teecu lalu menghukumnya dengan menampar tubuh belakangnya seperti menghajar anak kecil. Bi Lan merasa sakit hati, lalu berusaha memperdalam ilmu silatnya untuk membalas perbuatan teecu yang dia anggap penghinaan itu. Akan tetapi dia sudah membalasnya, Suhu, dan teecu yakin sekarang dia sudah tidak mendendam lagi.”

Tiong Lee Cin-jin tersenyum lebar. “He-he-heh, kalian ini orang-orang muda sungguh lucu. Kadang melakukan perbuatan yang berlawanan dengan perasaan hati sendiri. Benarkah engkau tidak mendendam lagi kepada muridku ini, Bi Lan?”

Bi Lan menggelengkan kepala sambil mengerling ke arah pemuda itu.

“Tidak Locianpwe, urusan saya dengan Thian Liong sudah beres dan tidak ada ganjalan lagi.”

“Bagus! Tetapi aku tetap melihat betapa engkau menyimpan kedukaan di dalam hatimu, Bi Lan. Mengapa demikian? Atau, jika urusan itu tidak dapat kau beri-tahukan orang lain, tidak perlu kau ceritakan. Hanya aku ingin memperingatkan bahwa tidak baik membiarkan hatimu terus digerogoti gundah gulana dan duka nestapa. Seperti juga dendam kebencian, perasaan itu akan melemahkan jantung dan meracuni darahmu kalau dibiarkan berlarut-larut.

“Maafkan saya, Locianpwe. Saya tidak dapat menceritakan apa yang sedang saya derita, biarlah hal itu menjadi rahasia saya sendiri. Agaknya sudah nasib saya, sudah kodratnya saya harus hidup menderita batin seperti ini.”

Ucapan Bi Lan terdengar sedikit gemetar sehingga Thian Liong sendiri merasa heran dan bertanya-tanya dalam hatinya. Apa gerangan yang menyebabkan dara itu menderita batin seperti itu.

Apakah karena kematian ayahnya? Akan tetapi kematian ayahnya sudah dibalas dengan kematian Ouw Kan dan kini mereka sedang menantikan munculnya dua orang murid Ouw Kan yang membunuh Han Si Tiong. Jadi, kalau benar urusan itu, semestinya Bi Lan tidak menderita batin.

“Ho-ho, anak baik. Jangan sekali-kali kita menyalahkan kodrat! Kodrat adalah terjadinya rencana Thian, yang tidak bisa diubah oleh siapa pun juga. Akan tetapi Thian tidak pernah merencanakan penderitaan bagi manusia. Segala macam penderitaan adalah akibat dari ulah manusia sendiri. Bila kita mengalami hal-hal yang tak menyenangkan, misalnya jika kita menjadi orang yang amat miskin hidupnya, hal itu bukan kodrat semata. Keadaan itu merupakan tantangan dan kita sebagai manusia berkewajiban untuk berikhtiar, berusaha sekuat kemampuan kita agar bisa mengubah keadaan itu! Penderitaan batin bukan timbul karena keadaan itu sendiri, melainkan karena kita tidak bisa menerima kenyataan seperti apa adanya. Yang terpenting dalam kehidupan adalah ikhtiar, usaha, bekerja karena hidup ini berarti gerak, dan gerakan yang tepat adalah bekerja, berikhtiar. Kita berikhtiar sekuat tenaga melalui jalan yang tidak melanggar hukum Thian, ikhtiar yang tidak melalui tindak kejahatan. Dan sebagai landasan adalah berserah diri kepada Thian karena pada akhirnya Thian yang akan menentukan. Memang harus diakui bahwa ikhtiar saja belum tentu dapat mengatasi keadaan, tetapi kalau kita sudah berusaha sekuat mungkin, berarti kita sudah memenuhi tugas hidup. Kemudian selanjutnya, apa pun yang terjadi setelah kita berusaha sekuat mungkin terserah kepada keputusan Thian. Kehendak Thian selalu terjadi, di mana pun dan kapan pun. Perasaan kita dalam menerima kenyataan ini tidak masuk hitungan. Kenyataan ini dapat saja oleh umum disebut enak atau tidak enak, menyenangkan atau menyusahkan, namun seorang bijaksana tidak akan menuruti keinginannya sendiri.”

“Terima kasih, Locianpwe. Lalu, apa bila ada sesuatu yang terasa sangat pahit sehingga menimbulkan perasaan kecewa, penasaran, marah dan terutama sekali sedih, apa yang harus saya lakukan?”

Kakek itu tersenyum. “Pertanyaan yang baik sekali, Bi Lan. Apa yang harus kita lakukan kalau timbul semua perasaan yang tidak enak itu? Nah, jangan lakukan apa-apa, Bi Lan. Yang penting mengertilah dengan sepenuh lahir batin bahwa yang menimbulkan perasaan tidak enak itu adalah si-aku yang berulah di dalam pikiran. Aku dirugikan, apa yang terjadi tidak cocok dengan keinginanku, aku dipermalukan, aku dibeginikan, dibegitukan maka bermunculanlah semua perasaan itu. Ini hanya permainan pikiran belaka, Bi Lan. Bila kita tidur dan pikiran tidak bekerja, ke mana perginya semua perasaan tidak enak yang kau sebut tadi? Semua perasaan itu tentu menghilang bersama dengan berhentinya pikiran. Apa pun yang terjadi adalah suatu kenyataan, sudah terjadi dan tidak akan dapat diubah oleh kita! Munculnya semua perasaan itu takkan menolong keadaan bahkan membuatnya semakin parah. Bila terjadi sesuatu yang terasa pahit dan menyedihkan seperti yang kau katakan tadi, kewajiban kita yang utama adalah berusaha sekuat tenaga untuk mengubah keadaan itu. Kalau semua ikhtiar sepenuhnya dari kita tidak berhasil mengubahnya, maka hadapilah peristiwa itu sebagai suatu kenyataan! Sebagai suatu keadaan apa adanya dan telah dikehendaki Thian, dengan penyerahan lahir batin. Jika kita menyerah sepenuhnya, maka kekuasaan Thian yang akan bekerja sehingga kita dapat menghadapi semuanya itu tanpa penderitaan. Penyerahan ini mendatangkan kekuatan yang ampuh, Bi Lan, karena kalau kita sudah benar-benar menyerah, kekuasaan Thian akan berkarya dengan ajaib.”

Bi Lan menarik napas panjang. Pikirannya menjadi terang. Memang selama ini, semenjak dia mengetahui akan kehidupan ibunya di masa lalu sebagai seorang pelacur, dia merasa kecewa, penasaran dan malu sekali. Timbullah perasaan iba diri yang berlebihan. Semua perasaan yang mengganggu itu timbul dari bayang-bayang pemikiran.

Bagaimana kalau semua orang mengetahui bahwa dia anak seorang bekas pelacur? Ke mana harga dirinya? Dan Thian Liong! Jika dia tahu...! Dapatkah dia menerima kenyataan tentang ibunya itu, menerima dengan ikhlas?

Alangkah berat rasa hatinya! Bagaimana kalau Thian Liong mengetahui kenyataan itu? Apakah pemuda itu tidak akan memandang rendah padanya? Ke mana harga dirinya? Bi Lan semakin pusing.

“Locianpwe, saya dapat memahami petunjuk Locianpwe. Persoalannya sekarang terserah kepada diri saya sendiri dan saya akan mencoba untuk mengatasi gejolak hati ini.”

“Siancai! Kesadaran akan mendatangkan penerangan. Mudah-mudahan kekuasaan Thian Yang Maha Kasih akan membantumu, Bi Lan. Sekarang kalian bersihkan badan dan tukar pakaianmu yang penuh debu itu, lalu kita makan bersama. Di dapur telah tersedia makan pagi, tinggal menghangatkan saja.”

“Locianpwe, biarlah saya yang akan menyiapkan semua itu,” kata Bi Lan.

“Baiklah. Aku akan menanti di sini.”

Thian Liong dan Bi Lan memasuki pondok. Thian Liong yang pernah tinggal di situ selama sepuluh tahun ketika ia digembleng ilmu oleh Tiong Lee Cin-jin, memberi petunjuk kepada Bi Lan di mana adanya tempat mandi dari sebuah mata air di belakang pondok, di mana adanya dapur dan lain-lain.

Mereka mandi bergantian dan sesudah selesai mandi, Thian Liong melihat Bi Lan muncul dalam pakaian wanita! Alangkah cantik jelitanya! Thian Liong sampai terpesona dan terus memandangi gadis itu dengan mulut melongo!

“Ihh, Thian Liong! Engkau ini mengapa sih?” Bi Lan menegur dan tersipu, karena ia dapat melihat betapa mata pemuda itu memandang penuh kagum dan hal sekecil ini saja sudah mendatangkan perasaan yang amat menyenangkan hatinya. Ahh, betapa dia ingin Thian Liong kagum kepadanya, kagum akan segala-galanya dan menghargainya. Tapi ibunya...!

“Ahh, aku... aku... hanya terkejut karena tidak menyangka engkau akan berganti pakaian wanita. Engkau... engkau... cantik sekali, Bi Lan!”

Bi Lan tersenyum, kedua pipinya menjadi merah dan matanya bersinar-sinar. “Sudahlah, cepat mandi dan tukar pakaian sana! Aku mau menyiapkan makanan untuk Locianpwe.”

Thian Liong pergi ke belakang dan Bi Lan memasuki dapur. Agaknya kakek yang hidup seorang diri itu pagi tadi telah memasak air dan bubur, akan tetapi dibiarkan dingin. Bi Lan cepat menyalakan api dan menghangatkan makanan dan minuman air teh.

Tak lama kemudian, Thian Liong yang telah selesai mandi dan berganti pakaian, bersama Bi Lan keluar dan mempersilakan Tiong Lee Cin-jin untuk makan. Tiong Lee Cin-jin juga tersenyum lebar saat melihat Bi Lan yang sekarang telah berubah menjadi seorang gadis cantik.

“Aihh, engkau cantik sekali, Bi Lan!” katanya.

Gadis itu tersipu-sipu dan diam-diam merasa heran kenapa pujian yang keluar dari mulut kakek itu sama benar dengan pujian Thian Liong tadi. Apakah Thian Liong mempelajari cara memuji seorang gadis dari kakek itu pula?

“Ahh, Locianpwe terlalu memuji...!” katanya tersipu.

Mereka lalu makan bubur yang hanya dimasak dengan lobak dan sayur hijau, akan tetapi cukup lezat karena tubuh mereka lelah dan perut mereka lapar sekali.

Baru saja mereka selesai makan, ketika Bi Lan yang dibantu Thian Liong menyingkirkan mangkok sumpit ke dapur, tiba-tiba saja Tiong Lee Cin-jin berkata sambil menghela napas panjang.

“Wah, mereka sudah datang!”

Thian Liong dan Bi Lan terkejut bukan main. Mereka tak mendengar apa-apa. Akan tetapi Thian Liong merasa yakin akan kebenaran ucapan gurunya, maka dia segera bergegas keluar dari pondok, diikuti oleh Bi Lan.

Sesudah tiba di luar pondok, baru mereka melihat serombongan orang yang berlari cepat mendaki puncak itu! Orang-orang itu berlari dan berlompatan dengan begitu cepat tanpa menimbulkan suara gaduh. Bagaimana mungkin Tiong Lee Cin-jin yang berada di dalam pondok dapat mengetahui akan kedatangan mereka?

Akan tetapi mereka tak mau memusingkan hal itu karena keduanya yakin akan kesaktian Tiong Lee Cin-jin. Sebaliknya mereka menunggu di depan pondok sambil mencoba untuk mengenal orang-orang yang mendaki puncak itu. Ternyata mereka semuanya berjumlah sepuluh orang!

Yang berada paling depan adalah seorang pemuda tampan berkulit putih, wajahnya bulat, matanya mencorong dan mulutnya tersenyum mengejek, sebatang pedang tergantung di punggung. Di sebelahnya adalah seorang kakek kurus pucat berpakaian tambal-tambalan dan di punggungnya juga tergantung sebatang pedang.

“Hemm, itu adalah Can Kok dan Lam-kai (Pengemis Selatan)!” kata Thian Liong.

Di belakang mereka tampak seorang kakek berpakaian seperti tosu (Pendeta Agama To), tubuhnya tinggi kurus rambutnya sudah putih semua dan dia memegang sebatang tongkat hitam berkepala ular. Di sebelah kirinya berjalan seorang laki-laki berusia empat puluhan tahun yang tubuhnya tinggi kurus dan berkumis tebal.

“Dan itu tentu Pak-sian (Dewa Utara) dengan muridnya, Jui To yang dulu secara curang menyerangmu sehingga engkau terluka,” kata Bi Lan.

Ternyata mereka berjalan sepasang-sepasang. Urutan ketiga adalah seorang kakek yang berpakaian hwesio (Pendeta Buddha) yang tubuhnya pendek gendut dan di punggungnya terselip sebatang hudtim (kebutan dewa). Di sebelahnya berjalan seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar, bermuka bopeng dengan kulit hitam. Dari pakaiannya dapat diduga bahwa dia tentu seorang berbangsa Mongol.

“Wah, itu Golam murid Goat Kong Lhama!” kata Bi Lan menuding ke arah orang Mongol itu.

“Dan hwesio gendut itu adalah See-ong (Raja Barat),” kata pula Thian Liong. “Pasangan di samping mereka itu adalah Tung-sai (Singa Timur) dan di dekatnya itu... hemm... aku tidak mengenalnya. Mungkin aku belum pernah bertemu dengan dia atau aku lupa lagi...”

Pemuda yang berjalan di dekat See-ong itu berusia kurang lebih dua puluh delapan tahun. Bentuk mukanya memanjang ke depan seperti muka kuda, tubuhnya jangkung kurus dan kumisnya tebal.

“Melihat pakaiannya yang biar pun bersih dan baru namun dihias tambal-tambalan itu, dia tentu murid Lam-kai (Pengemis Selatan),” kata Bi Lan. “Dan pasangan terakhir itu, lihat...! Tidak usah diragukan lagi, pemuda dan gadis itu pastilah Bouw Kiang dan Bong Siu Lan dua orang murid Ouw Kan yang telah menyerang ayah ibuku hingga mengakibatkan ayah tewas!”

Dugaan Bi Lan memang benar. Pemuda berpakaian tambal-tambalan itu adalah Kui Tung, murid Lam-kai, sedangkan pasangan kelima itu adalah Bouw Kiang dan Bong Siu Lan!

Tiba-tiba saja Thian Liong berkata dengan seruan tertahan. “Lihat, Bi Lan! Lihat jauh di belakang mereka itu!”

Bi Lan segera memandang, dan benar saja. Jauh di belakang rombongan sepuluh orang yang mendaki puncak dengan ilmu berlari cepat mereka tampak sekitar tiga puluh orang yang tertinggal karena agaknya ilmu kepandaian mereka tidak setinggi sepuluh orang itu.

“Ahh, kiranya jahanam-jahanam itu membawa puluhan orang anak buah! Mari kita amuk dan gempur mereka sebelum tiba di sini, Thian Liong!”

Sebelum Thian Liong menjawab, terdengarlah suara lembut Tiong Lee Cin-jin dari dalam pondok. “Jangan turun tangan. Orang bijaksana mempergunakan ilmunya untuk membela diri, bukan untuk menyerang orang lain. Kalian tunggu sampai mereka datang, aku akan menemui mereka.”

Mendengar suara Tiong Lee Cin-jin itu, Thian Liong dan Bi Lan lantas berdiri dengan sikap tenang, memandang ke arah sepuluh orang yang diikuti sekitar tiga puluh orang mendaki puncak. Akhirnya sepuluh orang itu sudah tiba di pekarangan yang luas dan mereka pun berhenti berlarian.

Bouw Kiang dan Bong Siu Lan bergabung dengan rombongan Empat Datuk Besar ketika mereka diajak oleh Jiu To murid Pak-sian. Jiu To ini bersama dua orang sute-nya yang telah terbunuh oleh Bi Lan terkenal sebagai Sam-pak-liong (Tiga Naga Utara) dan menjadi sahabat baik mendiang Ouw Kan, karena itu dia mengenal pula Bouw Kiang dan Bong Siu Lan.

Sepuluh orang itu berhenti di pekarangan dan mereka melihat Thian Liong dan Han Bi Lan berdiri tegak di depan pondok dengan sikap tenang tetapi sama sekali tak nampak gentar. Empat Datuk Besar tidak heran melihat Souw Thian Liong di sana karena mereka sudah mendengar bahwa Souw Thian Liong adalah murid Tiong Lee Cin-jin. Akan tetapi mereka heran melihat Han Bi Lan.

Akan tetapi Jiu To langsung berkata kepada gurunya dengan suara lantang. “Suhu, gadis itulah yang telah membunuh Sute Kai Ek dan Lee Song!”

“Keparat, kalau begitu dia yang telah membunuh Suhu pula!” teriak Bong Siu Lan marah.

Dia dan Bouw Kiang telah mendengar tentang gadis ini yang berpakaian serba merah dan berjuluk Ang I Mo-li (Iblis Wanita Baju Merah), yang telah membunuh guru mereka selagi mereka tak berada di sana. Mereka mengenal Han Bi Lan dari cerita Jiu To tentang gadis baju merah itu.

Mendengar ini Bi Lan menahan kemarahannya. Dengan suara menggetar karena marah dia berbisik kepada Thian Liong sambil mengepal tinju. “Tidak salah, Thian Liong, mereka tentulah pembunuh ayahku!”

“Tenang, Bi Lan, tunggu sampai Suhu keluar.”

Bi Lan sangat menghormati Tiong Lee Cin-jin, maka dia tidak berani membantah. Mereka berdua hanya memandang ke arah sepuluh orang itu yang sekarang sedang melangkah mendekati pondok.

Tiga puluh orang anak buah mereka itu pun sudah tiba di luar pekarangan, agaknya siap menanti komando.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner