JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-30


Dalam jarak sekitar tujuh tombak di mana Thian Liong dan Bi Lan berdiri, mereka berhenti melangkah. Tung-sai yang berdiri paling depan agaknya diserahi tugas menjadi pimpinan atau wakil pembicara. Ia mengeluarkan gerengan seperti auman singa, kemudian berkata dengan suara yang menggetarkan jantung karena mengandung tenaga sakti yang kuat.

“Tiong Lee Cin-jin! Keluarlah engkau untuk menerima kematianmu!”

Dari dalam pondok terdengar suara tawa, lembut dan lirih saja akan tetapi anehnya dapat terdengar dengan jelas oleh mereka semua, bahkan juga oleh gerombolan yang berada di luar pekarangan!

Lalu muncul Tiong Lee Cin-jin dengan pakaian bersih, wajahnya cerah mengembangkan senyum, melangkah perlahan keluar dari pondok lalu berdiri di depan Thian Liong dan Bi Lan, menghadapi rombongan Empat Datuk Besar itu. Sejenak pandangan matanya yang lembut menatap ke arah empat orang itu satu demi satu, lalu dia berkata lembut.

“Ahh, kiranya Empat Datuk Besar yang datang bertamu! Pak-sian Liong Su Kian, See-ong Hui Kong Hosiang, Tung-sai Kui Tong dan Lam-kai Gui Lin! Selamat datang di tempatku yang sederhana ini, semoga kalian berempat sehat-sehat saja!”

“Tiong Lee Cin-jin, kami datang bukan untuk bertamu, tetapi hendak menebus kekalahan kami dahulu! Hayo, majulah melawan kami. Hari ini saatnya engkau menerima kematian!”

“Siancai-siancai-siancai...! (Damai-damai-damai)!” kata Tiong Lee Cin-jin tenang. “Tung-sai dan Saudara sekalian. Sejak dulu aku siap menerima saat kematianku yang pasti akan tiba padaku pada saat Tuhan menghendaki. Kematian takkan dapat dihindarkan manusia, siapa pun juga adanya dia! Kalau Tuhan telah menghendaki seseorang mati, biar pun dia bersembunyi di lubang semut, maut pasti akan datang menjemput! Dan sebaliknya, kalau Tuhan tidak menghendaki seseorang mati, biar pun iblis menyerang kalang kabut, semua itu pasti akan luput! Aku hanya berserah diri kepada Kekuasaan Tuhan, tetapi tidak akan menyerah kepada kalian, walau kalian membawa seribu orang kawan sekali pun!”

Pada saat itu terdengar derap kaki dua ekor kuda menuju ke pekarangan pondok itu dan terjadi keributan ketika para anak buah Empat Datuk Besar hendak menghalangi. Mereka dibuat jatuh berpelantingan oleh dua orang gadis cantik yang sudah melompat turun dari atas kuda mereka dan kini lari memasuki pekarangan.

“Ayah...!” Mereka berseru dengan suara berbareng.

Semua orang yang datang di tempat itu, termasuk Bi Lan, tentu saja terkecuali Tiong Lee Cin-jin dan Souw Thian Liong, terbelalak heran memandang kepada dua gadis yang kini dirangkul dengan kedua tangan Tiong Lee Cin-jin itu. Mereka itu begitu persis satu sama lain. Hanya pakaian dan bentuk rambut saja yang berbeda.

Yang seorang mengenakan pakaian serba putih dari sutera halus, rambutnya digelung ke atas seperti kebiasaan wanita kaum bangsawan. Ada pun gadis yang kedua, yang wajah dan tubuhnya tiada bedanya dengan gadis baju putih, berpakaian serba hijau dan terdapat bunga mawar merah di rambutnya yang disanggul seperti wanita Han biasa.

“Pek Hong! Siang In! Kalian datang juga? Mengapa begini kebetulan?” Tiong Lee Cin-jin bertanya sambil tersenyum dan memandang ke arah mereka yang datang menyerbu itu.

“Ayah, aku dan Siang In mendengar akan adanya gerombolan orang jahat yang hendak membunuh Ayah, maka kami segera pergi ke sini,” kata Pek Hong.

“Benar, Ayah. Mari kita basmi orang-orang sesat yang busuk itu!” kata Siang In.

“Tenang dan sabarlah, anak-anakku sayang. Biarkan aku bicara dengan mereka.”

Dengan lembut Tiong Lee Cin-jin memberi isyarat kepada dua orang puterinya agar berdiri di belakangnya. Dua orang gadis itu melangkah ke belakang ayah mereka dan tersenyum kepada Souw Thian Liong yang menyambut mereka dengan hati gembira pula.

“Syukur kalian datang!” katanya lirih.

“Kami juga girang sekali melihatmu di sini, Thian Liong. Dan ini... ah, engkau Han Bi Lan, bukan? Bagus kulihat kalian sudah berbaikan!” kata Pek Hong atau Puteri Moguhai.

Pada saat itu kembali Tung-sai mengeluarkan suara gerengan yang menggetarkan itu.

“Wah, ada singa mengaum!” kata Siang In dengan senyum mengejek.

“Singa apa? Masa singa kakinya dua! Itu tentu sebangsa monyet!” kata Puteri Moguhai, tentu saja dengan suara mengejek.

Melihat sikap dua orang gadis kembar itu, sejak tadi Han Bi Lan merasa geli dan di dalam hatinya timbul rasa suka terhadap mereka. Keduanya cantik jelita, keduanya anak-anak orang terhormat. Puteri Moguhai adalah puteri Kaisar, dan Ang Hwa Sian-li Thio Siang In adalah puteri seorang pedagang kaya! Alangkah jauh bedanya dengan dirinya sendiri! Dia tahu tentang mereka berdua dari cerita Thian Liong. Dan kini, dia melihat dan mendengar sendiri dua orang gadis itu menyebut ayah kepada Tiong Lee Cin-jin!

Mereka begitu cantik, begitu anggun, begitu kaya dan terhormat, sedangkan dia? Ibunya saja seorang bekas pelacur! Dan mereka tampak demikian akrab dengan Thian Liong! Di balik kegembiraannya bertemu dua orang gadis kembar ini, ada sesuatu yang membuat hatinya merasa tidak enak, membuat dia rasanya ingin menangis!

“Tiong Lee Cin-jin, majulah dan lawan kami!” bentak Tung-sai menyambung gerengannya tadi.

“Tung-sai, sejak dahulu sudah kuberi-tahu kepadamu bahwa aku tidak ingin bermusuhan dan tidak ingin berkelahi dengan siapa pun juga.”

“Akan tetapi kami ingin berkelahi denganmu! Kami ingin membunuhmu untuk menebus kekalahan-kekalahan kami dahulu!”

“Siancai...! Alangkah bodohnya. Kalian semua renungkan baik-baik, apa gunanya semua permusuhan ini? Bila kalian kalah, kalian rugi apakah? Kalau kalian menang, keuntungan apa yang kalian dapat?”

“Sudah, jangan cerewet, Tiong Lee Cin-jin! Kalau engkau tidak berani bertanding melawan kami, hayo engkau berlutut dan mohon maaf kepada kami, baru kami akan melepaskan dan membiarkan engkau hidup!”

“Aku tidak bersalah apa pun kepada kalian, untuk apa minta ampun. Pula, andai kata aku melakukan dosa, aku hanya minta ampun kepada Tuhan. Tung-sai, apakah engkau akan mengajukan puluhan orang ini untuk mengeroyok aku?”

“Hemm, kami lihat engkau pun telah mengumpulkan orang-orang yang akan membelamu. Kita boleh mengadu kesaktian, tak perlu keroyokan. Kami mengajukan seorang atau dua orang jago untuk ditandingi jagoanmu.”

Lam-kai memberi isyarat kepada Kui Tung, muridnya yang paling dibanggakan. Kui Tung mengangguk lalu dia maju ke depan.

“Aku Kui Tung yang maju pertama mewakili rombongan kami. Hayo, siapa di antara kalian yang berani melawan aku?”

Han Bi Lan hendak maju, akan tetapi dia sudah didahului Ang Hwa Sian-li Thio Siang In yang menyentuh lengannya dan berbisik.

“Biar aku saja yang menghadapinya.” Lalu gadis ini memandang kepada Tiong Lee Cin-jin untuk minta persetujuannya. Kakek itu mengangguk dan berkata sambil tersenyum.

“Majulah, akan tetapi ingat, aku tidak menghendaki pembunuhan di sini.”

“Baik, Ayah,” kata Siang In dan dia telah meloncat dengan gerakan ringan sekali ke depan Kui Tung. Siang In tersenyum mengejek.

“Aih, Muka Kuda, engkau belum jera juga melakukan kejahatan? Dahulu sebagai kepala perampok engkau masih bisa lolos dari tanganku. Kini mari kita teruskan perkelahian itu!”

Diam-diam Kui Tung merasa gentar karena dahulu, dia dan Can Kok bertanding melawan Siang In dan Puteri Moguhai dan dia terdesak oleh gadis yang kini berdiri di depannya itu. Kalau ketika itu tidak ada Can Kok yang dapat mendesak Puteri Moguhai, tentu dia kalah oleh gadis berbaju hijau ini.

Akan tetapi saat ini dia memiliki banyak kawan yang tangguh. Empat Datuk Besar berada di situ, masih ada lagi Can Kok yang sangat lihai, ada lagi Jiu To murid Pak-sian, Golam orang Mongol murid Gwat Kong Lhama, dan dua orang murid Ouw Kan, yaitu Bouw Kiang dan Bong Siu Lan yang lihai. Selain itu di belakang ada tiga puluh orang lebih anak buah Tung-sai yang sengaja dibawa dari Pulau Udang dan rata-rata memiliki ketangguhan lebih dari orang biasa. Hal ini membuat hatinya tabah dan berani.

“Srattt!” Dia mencabut sebatang tongkat yang terselip di pinggangnya.

“Ang Hwa Sian-li, sekarang tiba saat pembalasanku. Engkau akan mampus di tanganku!” setelah berkata demikian, cepat sekali tongkatnya sudah meluncur dan menusuk ke arah dada gadis itu.

Ang Hwa Sian-li Thio Siang In sudah pernah bertanding dengan pemuda muka kuda ini dan dia tahu bahwa tongkat di tangan lawannya itu bukan sembarang tongkat, melainkan tongkat yang di dalamnya tersembunyi sebatang pedang. Karena itu dia sudah mencabut sepasang pedangnya dan menangkis.

“Tranggg...!”

Bunga api berpijar dan gadis itu lalu mainkan ilmu pedangnya, yaitu Toat-beng Siang-kiam (Sepasang Pedang Pencabut Nyawa) yang gerakannya dahsyat.

Segera terjadilah perkelahian mati-matian. Kedua pihak mengeluarkan semua kepandaian mereka, namun ada bedanya. Kalau Kui Tung mengerahkan segenap tenaga dan semua serangannya dimaksudkan untuk membunuh, sebaliknya Siang In membatasi tenaganya agar serangan sepasang pedangnya tidak sampai mematikan lawan sesuai dengan pesan ayahnya yang tidak berani dia langgar.

Selain tinggi dan lihai ilmu silatnya, Empat Datuk Besar itu juga amat cerdik dan curang. Melihat betapa Tiong Lee Cin-jin hanya ditemani oleh empat orang muda, mereka hendak mempergunakan kelebihan jumlah mereka untuk mendapatkan kemenangan tanpa harus main keroyokan beramai-ramai. Maka dia memberi isyarat kepada Bouw Kiang dan Bong Siu Lan, dua orang murid mendiang Ouw Kan itu dan mereka yang sebelumnya memang sudah mengatur rencana, maju bersama.

Bouw Kian memegang tongkat hitamnya, sedangkan Bong Siu Lan mencabut sepasang pedangnya. Bouw Kiang lantas berseru,

“Hayo, siapa berani menandingi kami kakak beradik seperguruan?”

Bi Lan menghadap Tiong Lee Cin-jin, minta persetujuan tanpa mengeluarkan kata-kata. Kakek itu tersenyum, mengangguk dan memesan pula, “Majulah. Akan tetapi ingat, tidak boleh membunuh.”

Bi Lan mengangguk, lalu dia melangkah maju menghadapi dua orang itu. Gadis berusia dua puluh tahun ini terlihat cantik dan gagah bukan main. Pakaiannya serba merah muda, menempel ketat hingga mencetak tubuhnya yang padat ramping dengan lekuk lengkung tubuh yang indah menggairahkan.

Wajahnya bulat telur, rambutnya hitam panjang ditata menjadi kepang dua, pada dahi dan pelipisnya bergantungan anak rambut yang melingkar-lingkar. Dahinya berkulit putih dan halus, alis matanya hitam, kecil namun tebal dengan bentuk melengkung seperti dilukis.

Sepasang matanya begitu jeli dan bening seperti bintang, tajam dan biar pun agak redup seperti tertutup awan tipis tetapi berwibawa. Hidungnya kecil mancung dan lucu, mulutnya memiliki daya tarik yang kuat dengan bibir yang merah basah tanpa gincu dan di kanan kiri mulutnya terhias lesung pipit yang membuat mulut itu tampak sangat menggairahkan dan menarik. Dagunya meruncing manis dan kulitnya putih mulus. Namun di balik semua kejelitaannya itu tersembunyi sesuatu yang gagah berwibawa.

Bi Lan memandang dua orang itu dengan penuh perhatian. Pemuda itu mukanya seperti muka kuda, walau pun masih dapat dikatakan tampan. Sepasang matanya tampak lincah dan cerdik curang, juga jelas membayangkan watak yang cabul mata keranjang. Ada pun gadis yang berusia sekitar dua puluh tahun itu juga cantik, tetapi mulutnya agak lebar dan matanya liar.

“Kalian yang bernama Bouw Kiang dan Bong Siu Lan?” tanya Bi Lan.

Dun orang saudara seperguruan itu mengangguk. Tadi mereka sudah mendapat bisikan dari Kui Tung bahwa gadis baju merah ini adalah Han Bi Lan, maka mereka memandang penuh kebencian.

“Dan engkau ini tentu Si Jahat Han Bi Lan yang sudah membunuh guru kami Ouw Kan!” teriak Bong Siu Lan marah.

“Tidak keliru! Aku membunuh Ouw Kan karena dia sudah mengutus kalian berdua untuk menyerang ayah ibuku!”

“Sekarang kamilah yang akan membunuhmu untuk membalaskan kematian suhu!” bentak Bouw Kiang dan mereka berdua segera menerjang tanpa memberi peringatan lagi.

Tongkat hitam yang mengandung racun itu digerakkan Bouw Kiang, menyambar ke arah kepala Bi Lan, sedangkan Bong Siu Lan menggerakkan sepasang pedangnya, membuat gerakan menggunting ke arah leher dan pinggangnya.

Bi Lan sekarang berbeda dengan Bi Lan dahulu. Ketika dahulu dia menerima gemblengan dari gurunya yang pertama, yaitu Jit Kong Lhama, dia sudah mendapatkan ilmu silat yang lihai. Kemudian, dia mempelajari ilmu rahasia simpanan Kun-lun-pai dari kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang membuat kepandaiannya bertambah hebat.

Tapi yang telah membuat dia seperti sekarang, menjadi seorang gadis yang sakti, adalah sesudah dia bertemu gurunya yang terakhir, Heng-si Ciauw-jiok (Si Mayat Hidup Berjalan) yang hanya mengajarkan tiga belas jurus ilmu Sin-ciang Tin-thian serta memperdalam dan memperkuat tenaga sinkang-nya.

Walau pun dia dikeroyok dua orang murid Ouw Kan yang lihai itu, namun Bi Lan dengan mudah saja berkelebatan menghindarkan diri. Semenjak menjadi murid Si Mayat Hidup, dia tidak lagi memerlukan bantuan senjata karena benda apa pun bisa dia jadikan senjata ampuh!

Sambaran sepasang pedang dan tongkat hitam itu dia hindarkan dengan cara mengelak, menangkis dengan dua tangan kosong, bahkan sekali-kali dia menggerakkan kepala dan rambutnya yang dikepang dua dapat dia gunakan untuk menangkis pedang atau tongkat tanpa ada rambut yang putus sedikit pun, sebaliknya pedang dan tongkat yang tertangkis tergetar hebat dan terpental!

Mereka saling serang dan seperti yang terjadi pada pertandingan pertama di mana Siang In membatasi tenaganya karena tidak ingin membunuh lawannya, juga Bi Lan membatasi tenaganya. Ia memang membenci dua orang yang mengakibatkan kematian ayahnya ini. Kalau saja dia tidak segan kepada Tiong Lee Cin-jin yang pesannya tak ingin dibantahnya, tentu dua orang itu telah diserangnya dengan hebat dan dibunuhnya dalam waktu singkat!

Kembali Tung-sai memberi isyarat, sekali ini kepada pasangan ketiga, yaitu Jiu To murid Pak-sian dan Golam murid Gwat Kong Lhama. Dia memperhitungkan bahwa dua orang ini akan dilawan oleh Puteri Moguhai dan Souw Thian Liong sehingga di pihak musuh tinggal Tiong Lee Cin-jin yang akan dihadapi oleh Empat Datuk Besar dan Can Kok sehingga dia memperhitungkan akan bisa membunuh Tiong Lee Cin-jin yang juga dikenal sebagai Yok-sian (Tabib Dewa atau Dewa Obat) itu.

Seperti halnya Kui Tung, Jiu To dan Golam juga berbesar hati karena merasa kuat dengan adanya banyak kawan. Maka mereka melangkah maju dengan sikap gagah, Jiu To sudah menghunus pedangnya dan Golam melolos rantai baja yang tadi dililitkan di pinggangnya.

Tiong Lee Cin-jin mengangguk ketika Moguhai minta persetujuannya untuk menghadapi dua orang ini. Sie Pek Hong atau Puteri Moguhai yang dikenal dengan julukan Pek Hong Nio-cu, melompat ke hadapan dua orang itu sambil mencabut pedang bengkoknya. Tanpa banyak cakap lagi Jiu To dan Golam telah menggerakkan senjata mereka dan menyerang Moguhai. Puteri Tiong Lee Cin-jin itu mengelebatkan pedang bengkoknya.

“Trangg...! Cringgg...!”

Tampak bunga api berpijar dan berhamburan saat pedang bengkok itu menangkis pedang di tangan Jiu To dan rantai baja yang digerakkan Golam menyambar ke arah kepala gadis itu.

Seperti juga Siang In, sesudah mendapat gemblengan dari ayah kandung mereka, Puteri Moguhai kini juga memperoleh kemajuan hebat. Tenaga sakti yang mengalir di tubuhnya demikian kuatnya sehingga bukan saja tenaganya mampu menandingi tenaga dua orang pengeroyoknya, tetapi dia juga mempunyai kecepatan gerakan yang membuat dua orang pengeroyoknya bingung seolah menghadapi lawan bayangan.

Namun dua orang ini sudah memiliki tingkat kepandaian yang tinggi, ditambah lagi Puteri Moguhai tidak mengerahkan seluruh tenaga karena tidak ingin membunuh mereka seperti yang dikehendaki Tiong Lee Cin-jin, maka pertandingan itu juga berlangsung seru bukan main.

Sesudah tiga orang gadis pendekar itu menghadapi lawannya masing-masing, kini tinggal Tiong Lee Cin-jin dan Souw Thian Liong yang tersisa di pihak Yok-sian. Tung-sai lantas menyuruh Can Kok maju.

Begitu Can Kok melangkah maju dengan bibir tersenyum mengejek dan sikap yang amat congkak, Thian Liong mendapat perkenan gurunya untuk menghadapi pemuda sombong yang matanya bersinar aneh tanda ada kelainan dalam pikirannya. Sesudah melihat Thian Liong maju menghadapinya, Can Kok membentak sombong.

“Kau minggirlah! Aku datang untuk membunuh Tiong Lee Cin-jin, bukan untuk bertanding melawan bocah yang tiada artinya semacam kau!”

Kemarahan Thian Liong tidak dapat disulut oleh ucapan yang sombong dan memandang remeh itu. Dia tersenyum dan berkata dengan tenang.

“Can Kok, engkau perlu belajar seratus tahun lagi agar pantas menjadi lawan Suhu. Suhu bukan lawanmu. Akulah lawanmu dan engkau boleh mengeluarkan segala kemampuanmu untuk mengalahkan aku.”

Can Kok marah sekali dan seperti kebiasaan anehnya kalau dia marah, dia mengeluarkan suara mengguguk seperti orang menangis! Suara ini sesungguhnya mengandung getaran tenaga dalam yang amat kuat. Bahkan Thian Liong yang diserang langsung oleh suara itu merasa betapa jantungnya tergetar! Namun dengan pengerahan tenaga sakti dia mampu melindungi tubuhnya sehingga getaran suara itu lewat begitu saja tanpa mengganggunya.

Tanpa memberi peringatan apa pun mendadak tubuh Can Kok sudah membuat lompatan seperti terbang menerjang ke arah Thian Liong seperti seekor burung rajawali menyerang kelinci! Kedua lengannya dikembangkan, sedangkan jari-jari tangannya membentuk cakar menyerang ke arah kepala dan leher Thian Liong!

Thian Liong maklum akan kelihaian lawan yang digembleng secara khusus oleh Empat Datuk Besar ini. Dia mengenal serangan dahsyat yang berbahaya, maka dia pun segera mengerahkan tenaganya menyambut. Dua tangannya memapaki serangan Can Kok dan dua pasang tangan yang sama-sama memiliki tenaga sakti yang kuat, bertemu di udara.

“Blaarrr...!”

Ketika dua pasang tangan bertemu, terasa getaran mengguncang sekelilingnya sehingga mereka yang sedang bertanding di pekarangan itu pun bisa merasakan getaran itu. Akibat pertemuan dua tenaga sakti yang amat dahsyat itu, Thian Liong yang menangkis sambil berdiri di atas tanah, tertekan dan kedua kakinya ambles ke dalam tanah sampai ke mata kakinya. Akan tetapi tubuh Can Kok yang menyerang dari atas tadi, terpental sampai jauh dan setelah membuat pok-sai (salto) lima kali baru dia turun ke atas tanah dengan wajah agak pucat.

Sambil mengeluarkan seruan melengking Can Kok telah menyerbu kembali dan mengirim serangan-serangan maut. Akan tetapi Thian Liong tetap tenang dan menyambut semua serangan itu dengan kokoh sehingga semua rangkaian serangan itu dapat dia hindarkan dengan elakan atau tangkisan.

Mereka segera bertanding dengan sangat serunya. Keduanya mengeluarkan semua jurus simpanan masing-masing karena tahu bahwa lawannya memiliki kesaktian.

Sesudah melihat seluruh pembantunya maju menghadapi lawan mereka masing-masing, Tung-sai beserta tiga orang datuk lainnya menghampiri Tiong Lee Cin-jin sambil tertawa mengejek.

“Ha-ha-ha, Tiong Lee Cin-jin, sekarang hadapilah kami berempat! Sudah bertahun-tahun kami mencari kesempatan ini, dan sekali ini kami akan berhasil membunuhmu!”

“Siancai, hidup satu kali di dunia maya ini, tidak mencari kedamaian malah menimbulkan kekacauan dan permusuhan, membiarkan nafsu setan merajalela menguasai hati kalian. Ingatlah bahwa setiap orang akan memetik dan makan buah dari pohon yang ditanamnya sendiri. Sebelum semua terlambat, aku minta kepada kalian untuk menghentikan semua permusuhan dan perkelahian ini dan pergilah dengan damai.”

Akan tetapi ucapan Yok-sian itu bukannya menyadarkan mereka, malah bagaikan minyak menyiram api, makin mengobarkan kemarahan mereka. Mereka berempat mengeluarkan teriakan khas masing-masing, lantas bergerak cepat sekali, mengambil posisi mengepung Tiong Lee Cin-jin dari empat jurusan. Pak-sian dan See-ong berada di kanan kiri Yok-sian, Lam-kai di belakangnya dan Tung-sai di depannya!

Dikepung Empat Datuk Besar itu, Yok-sian Tiong Lee Cin-jin masih bersikap tenang saja. Namun kewaspadaannya telah menyatu sehingga tak ada sedikit pun juga gerakan empat orang itu yang tidak tertangkap panca indranya.

Pak-sian sudah memegang senjatanya yang berupa sebatang tongkat hitam berkepala ular. Tongkat ini selain kuat sekali, mampu beradu dengan senjata logam yang kuat dan ampuh, juga mengandung racun yang sangat berbahaya. Dia berdiri di sebelah kiri Tiong Lee Cin-jin.

Sambil menyeringai lebar seperti kebiasaannya, See-ong yang berdiri di sebelah kanan pertapa itu memegang sebatang hud-tim (kebutan dewa) yang berbulu putih panjang. Biar pun bulu kebutan itu nampak lemas, namun See-ong dapat membuatnya menjadi kaku seperti bulu-bulu baja.

Lam-kai yang berdiri di belakang, memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kemerahan. Pedang ini sebenarnya berwarna putih seperti perak, namun karena tangan Lam-kai mengandung tenaga sakti Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah), maka tenaga yang mengandung warna merah itu lalu menjalar ke dalam pedang sehingga pedangnya mengeluarkan sinar kemerahan. Tentu saja pedang itu ampuh bukan main.

Yang paling hebat adalah Tung-sai. Orang pertama dari Empat Datuk Besar ini memegang sebatang tombak yang terkenal sebagai tombak maut sehingga Tung-sai juga disebut Bu-tek Sin-jio (Tombak Sakti Tanpa Tanding).

Sebagai isyarat kepada ketiga orang rekannya, Tung-sai segera mengeluarkan gerengan bagai seekor singa marah. Itulah Sai-cu Ho-kang (Auman Singa) yang bisa menggetarkan jantung dan melumpuhkan lawan. Setelah mengeluarkan auman itu dia segera menyerang dengan tombaknya. Serangannya sangat dahsyat sehingga tombak itu menembus udara mengeluarkan suara berdesing seperti melesatnya anak panah, menusuk ke arah dada Tiong Lee Cin-jin. Pada detik-detik berikutnya, tiga senjata di tangan para datuk yang lain juga sudah datang menyerang.

Akan tetapi tubuh Tiong Lee Cin-jin telah berkelebatan di antara sinar empat senjata yang menyambarnya itu. Serangan bertubi-tubi itu dapat dihindarkan Tiong Lee Cin-jin dengan elakan atau tangkisan kedua tangannya. Dengan tangan kosong Tiong Lee Cin-jin berani menangkis senjata-senjata ampuh semua pengeroyoknya! Hal ini saja sudah merupakan kenyataan yang amat hebat, apa lagi ketika setiap tangkisan itu membuat para datuk itu merasa tangan mereka yang memegang senjata tergetar.

Pertempuran yang terjadi di pekarangan luas itu sangat seru. Tetapi setelah berlangsung puluhan jurus, ternyata pihak Tiong Lee Cin-jin berhasil mendesak lawan-lawannya, Ang Hwa Sian-Li Thio Siang In dapat membuat Kui Tung kewalahan dan main mundur. Juga Pek Hong Nio-cu, Puteri Moguhai yang dikeroyok Jiu To dan Golam membuat dua orang itu terus mundur dan kerepotan menghindarkan diri dari sambaran pedang bengkok puteri itu. Bi Lan juga membuat Bouw Kiang dan Bong Siu Lan bingung dan kewalahan dengan gerakannya yang sangat aneh ketika gadis ini mainkan ilmu silat Sin-ciang Tin-thian yang dia pelajari dari Si Mayat Hidup!

Pertandingan antara Thian Liong dan Can Kok juga amat seru. Sekali ini dua orang muda itu dapat bertanding dengan bebas dan masing-masing mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga mereka. Karena Thian Liong tidak ingin membunuh lawan, maka tentu saja daya serangannya kurang kuat dan tidak sepenuhnya. Hal ini membuat keadaan mereka menjadi seimbang sehingga pertandingan itu menjadi seru bukan main.

Tiong Lee Cin-jin maklum bahwa kalau pertempuran itu tidak segera diakhiri, dia khawatir empat orang muda yang membantunya itu tidak akan dapat menahan diri lagi kemudian melakukan pembunuhan. Maka dia pun mengeluarkan bentakan halus dan tiba-tiba empat orang pengeroyoknya itu berteriak kaget karena ada kekuatan dahsyat yang tidak dapat mereka tahan sehingga senjata mereka itu terpental dan terlepas dari pegangan mereka! Ketika mereka terbelalak memandang, mereka melihat Tiong Lee Cin-jin berdiri tegak di tengah antara mereka, dengan kedua lengan bersedakap (bersilang) dan kedua matanya terpejam!

Tung-sai memberi isyarat kepada tiga orang rekannya, lalu mereka berempat menggerak-gerakkan tangan menghimpun tenaga sakti dalam kedua lengan mereka. Suara mengiuk dan mendesis ketika empat orang itu sedang menghimpun tenaga sakti dapat ditangkap oleh Tiong Lee Cin-jin. Kakek ini lalu mengangkat kedua tangannya dalam bentuk sembah ke atas kepala. Dengan begini maka tubuhnya menjadi terbuka dan tidak terlindung.

Empat Datuk Besar itu lalu menerjang ke depan dengan lompatan, dan pada waktu yang bersamaan mereka sudah melancarkan pukulan. Sepasang tangan Tung-sai dengan jari-jari terbuka menghantam ke dada Tiong Lee Cin-jin sehingga kedua telapak tangannya itu menempel pada dada pertapa itu. Pada saat yang hampir bersamaan, tiga orang datuk lainnya juga memukul dengan pengerahan sinkang. Lam-kai memukulkan kedua telapak tangannya ke punggung, Pak-sian dan See-ong memukulkan telapak tangannya ke arah lambung kiri dan kanan. Empat pasang telapak tangan itu memukul dengan kuat sekali.

“Plak-plak-plak-plak!”

Tangan-tangan yang mengandung tenaga sinkang itu lantas menempel pada tubuh Tiong Lee Cin-jin dan melekat di situ! Wajah Tiong Lee Cin-jin tampak agak menyeringai seperti menahan sakit. Sejenak lima orang itu diam tak bergerak, akan tetapi empat orang Datuk Besar itu terus mengerahkan tenaga sakti untuk menembus hawa yang melindungi tubuh Tiong Lee Cin-jin.

Terjadilah adu tenaga sinkang yang hebat sekali. Kalau dilihat dari luar, mereka itu seperti telah berubah menjadi arca, diam tak bergerak, akan tetapi dari ubun-ubun kepala mereka mengepul uap tebal!

Tiba-tiba saja Tiong Lee Cin-jin mengembangkan kedua tangannya yang tadinya dirangkap menyembah ke atas itu.

“Blaarrr...!”

Tubuh Empat Datuk Besar itu terlempar ke belakang lalu terbanting roboh tidak bergerak lagi! Tiong Lee Cin-jin membelalakkan kedua matanya, wajahnya berubah pucat, lalu dia pun duduk terkulai lemas dan bersila di atas tanah.

Robohnya empat orang pemimpin itu seolah menjadi isyarat karena tiga puluh orang lebih anak buah Pulau Udang itu segera berteriak-teriak lalu mereka menyerbu masuk sambil mengamangkan senjata. Mereka mengeroyok empat orang muda yang masih bertanding dan mulai mendesak lawan-lawannya itu!

Maka terjadilah pertempuran kacau balau. Kini Thian Liong, Bi Lan, Moguhai dan Siang In dikeroyok sekitar empat puluh orang.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner