JODOH SI NAGA LANGIT : JILID-31


Sungguh sulit bagi empat orang itu. Sebenarnya kalau mereka mau mengamuk, dengan kesaktian mereka masih ada kemungkinan mereka mengalahkan mereka semua. Tetapi untuk dapat mengalahkan mereka yang banyak itu, empat orang ini harus mengamuk dan membunuh. Padahal mereka tidak berani melanggar larangan Tiong Lee Cin-jin yang tidak menghendaki terjadinya pembunuhan di situ. Hal ini membuat mereka kini dikeroyok ketat seperti empat ekor harimau dikeroyok serombongan anjing yang jumlahnya banyak.

Pada saat yang gawat itu, tiba-tiba saja terdengar sorak sorai dan lima puluh lebih orang prajurit Kin menyerbu masuk ke pekarangan itu, dipimpin dua orang pemuda tampan yang menggerakkan pedang mereka.

Begitu menghadapi serbuan prajurit yang jumlahnya lebih banyak, maka pihak anak buah Empat Datuk Besar menjadi terkejut dan kewalahan. Banyak di antara mereka roboh dan pekarangan itu mulai banjir darah mereka yang terluka dan tewas.

Mendadak Siang In terbelalak ketika melihat seorang pemuda berpakaian seperti seorang siucai (sastrawan) datang membantunya. Pemuda ini memainkan pedangnya dan ternyata ilmu silat pedangnya juga cukup hebat. Yang membuat Siang In terbelalak adalah ketika dia mengenal siapa pemuda itu.

“Han-ko (Kakak Han)...!” serunya sesudah mengenal bahwa pemuda itu adalah Cin Han putera Pangeran Cin Boan yang tinggal di kota Kang-cun yang tadinya dia kenal sebagai seorang sastrawan yang dianggapnya seorang kutu buku yang lemah!

“In-moi, mari kita basmi penjahat-penjahat ini!” Cin Han berkata sambil membabat roboh seorang anak buah gerombolan itu.

“Han-ko, jangan bunuh orang...!” Siang In berseru, gembira, heran dan juga terharu.

Sementara itu Moguhai juga terkejut bukan main ketika Kuang Lin, saudara sepupunya muncul membantunya dan mengamuk dengan pedangnya. Hampir dia tak percaya bahwa itu adalah benar-benar Pangeran Kuang Lin. Dia baru yakin ketika pemuda itu berseru.

“Dinda Moguhai, mari kita hancurkan gerombolan jahat ini!”

Seperti juga Siang In, Moguhai berseru. “Kanda Kuang Lin, benar engkaukah ini?” Ketika melihat betapa pangeran itu mengamuk dan merobohkan dua orang pengeroyok, Moguhai berseru, “Kanda, jangan bunuh orang!”

Keadaan sekarang menjadi terbalik sama sekali. Para prajurit itu tentu saja sama sekali tidak tahu bahwa mereka dilarang membunuh, maka anak-anak buah Empat Datuk Besar itu lantas berpelantingan. Melihat keadaan pihaknya terancam bahaya, Can Kok memberi aba-aba nyaring.

“Hayo kita lari!”

Can Kok beserta kawan-kawannya segera melarikan diri menuruni puncak itu, diikuti sisa anak buah mereka yang belum roboh, meninggalkan kawan-kawan yang telah tewas dan terluka parah. Mereka menjadi semakin gentar ketika mendapat kenyataan bahwa Empat Datuk Besar juga telah tewas!

Para prajurit hendak melakukan pengejaran, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara lembut penuh wibawa.

“Berhenti semua! Jangan mengejar!”

Semua orang terkejut dan berhenti.

“Suhu...!” Teriakan ini keluar dari mulut Thian Liong yang cepat berlari menghampiri Tiong Lee Cin-jin. Puteri Moguhai dan Siang In juga lari menghampiri. Mereka melihat Tiong Lee Cin-jin bangkit berdiri dengan wajah pucat sekali dan kedua matanya basah, bahkan ada beberapa titik air mata keluar dari sepasang matanya.

Dua orang gadis itu merangkul dari kanan kiri, tidak berani memanggil ayah karena di situ terdapat banyak orang. Ayah kandungnya ini sudah pesan wanti-wanti (dengan sungguh-sungguh) agar mereka berdua tidak membuka rahasia mereka di depan umum karena hal itu dapat mendatangkan akibat yang sangat hebat dalam kehidupan mereka berdua. Kini dua orang gadis itu hanya merasa khawatir sekali.

Thian Liong berlutut di depan kaki gurunya.

“Suhu..., apakah yang menyebabkan Suhu berduka? Suhu... tidak... terluka bukan?”

Tiong Lee Cin-jin memandang ke sekeliling, ke arah orang-orang yang tewas dan terluka, terutama kepada jenazah Empat Datuk Besar. Kemudian dia berkata lirih.

“Aku telah menyebabkan kematian mereka. Tempat ini sudah menjadi tempat terkutuk di mana terjadi pembunuhan-pembunuhan antara manusia.” Suaranya terdengar menggetar sedih.

“Tetapi teecu (murid) tadi sempat melihatnya. Empat Datuk Besar itu tewas bukan Suhu bunuh, melainkan salah mereka sendiri. Mereka terpukul tenaga serangan mereka sendiri yang membalik,” bantah Thian Liong yang membela gurunya.

“Sama saja, akulah yang menjadi penyebab kematian mereka. Dan semua pertempuran ini, bunuh-membunuh ini, terjadi karena aku pula. Ahh, Thian…, hamba sudah menanam karma yang tidak baik... hamba siap memetik buahnya...”

“Suhu...!” Thian Liong berseru dan dua orang gadis itu mulai menangis di kedua pundak ayah kandungnya.

Thian Liong memandang wajah gurunya yang tampak amat berduka dan dia pun menjadi terharu sekali. Tiong Lee Cin-jin tersenyum sambil mengelus kepala dua orang gadis itu, meletakkan telapak kedua tangannya di atas kepala mereka lalu berkata lembut.

“Pek Hong..., Siang In..., pulanglah kalian. Jadilah manusia yang baik seutuhnya. Jadilah anak yang baik, isteri yang baik, ibu yang baik, warga negara yang baik, manusia yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Kelak, apa bila kalian menikah, akan aku usahakan agar aku dapat menghadirinya.”

Dua orang gadis itu hanya dapat merangkul dan menangis.

“Thian Liong, kau bersihkan tempat ini dari semua bekas perkelahian dan pembunuhan, kemudian turun dari sini, laksanakan kewajibanmu sebagai seorang pembela kebenaran dan keadilan. Jangan lagi engkau mencari aku di sini karena aku takkan berada di tempat terkutuk ini lagi.”

Kemudian dia menoleh kepada Bi Lan. “Han Bi Lan, engkau anak baik, kupujikan semoga engkau hidup berbahagia, akan tetapi berhati-hatilah terhadap Si Mayat Hidup karena dia pasti akan menagih janji.”

Pada saat itu, kedua orang putera pangeran itu, Cin Han dan Kuang Lin yang sejak tadi hanya berdiri mendengarkan, menghampiri Tiong Lee Cin-jin.

“Locianpwe, saya Cin Han murid Kui Sim Tosu menghaturkan hormat. Saya telah banyak mendengar akan nama besar Locianpwe dari Suhu.”

Tiong Lee Cin-jin memandang Cin Han dan mengangguk-angguk.

“Bagus, Kui Sim Tosu adalah seorang yang bijaksana dan engkau muridnya yang baik.”

“Locianpwe, saya Kuang Lin, sute (adik seperguruan) dari Suheng Cin Han. Harap sudi memaafkan kami kalau kedatangan kami membawa pasukan ini ternyata tidak berkenan di hati Locianpwe.”

Kembali Tiong Lee Cin-jin mengangguk-angguk. “Sungguh baik nasib Kui Sim Tosu dapat memiliki dua orang murid yang baik budi bahasanya, juga lumayan ilmu silatnya. Melihat kalian dua orang pemuda yang bersikap lemah lembut dan berpakaian sebagai siucai, aku dapat mengatakan bahwa kalian berdua, Cin Han dan Kuang Lin, tentulah bun-bu-coan-jai (ahli sastra dan silat).”

Kedua pemuda bangsawan Kin itu memberi hormat. “Kami masih mengharapkan banyak petunjuk dari Locianpwe yang mulia.”

Kakek itu mengangguk-angguk, kemudian melihat kembali ke arah mayat dan tubuh yang terluka bergelimpangan, menghela napas panjang lantas berkata. “Sudah, aku tidak tahan berada di sini lebih lama lagi. Pek Hong, Siang In, Thian Liong, aku pergi!”

Setelah berkata demikian Tiong Lee Cin-jin berkelebat sedemikian cepatnya sehingga dia seolah menghilang dari situ. Pek Hong atau Moguhai dan Siang In saling rangkul sambil menangis.

Thian Liong berkata kepada Cin Han dan Kuang Lin, “Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan ji-wi (kalian berdua).”

Cin Han dan Kuang Lin membalas penghormatan Thian Liong, kemudian Cin Han berkata, “Saudara Souw Thian Liong, biar pun baru sekali ini aku berjumpa denganmu, tetapi nama besarmu sudah lama kudengar. Kerajaan Kin menganggap engkau sebagai pendekar dan jasamu besar sekali terhadap Kerajaan Kin. Perkenalkan, aku bernama Cin Han, putera Pangeran Cin Boan dan tinggal di kota Kang-cun. Ini sute-ku bernama Kuang Lin, putera Pangeran Kuang dan tinggal di kota raja.”

“Senang sekali aku dapat berkenalan dengan putera-putera pangeran. Sekarang, menaati perintah Suhu tadi, aku ingin membersihkan tempat ini,” kata Thian Liong.

“Jangan khawatir, kami akan memerintahkan pasukan supaya membersihkan tempat ini, mengubur yang tewas dan mengurus yang terluka. Mereka merupakan tawanan pasukan kami,” kata Cin Han.

“Terima kasih, Pangeran.”

“Jangan sebut aku Pangeran, cukup Cin Han saja,” kata Cin Han.

Dia lalu menghampiri Thio Siang In yang telah menghentikan tangisnya karena sepasang saudara kembar ini merasa malu bila membiarkan tangis menguasai dirinya, tidak pantas bagi orang-orang gagah perkasa seperti mereka.

“Han-ko, aku benar-benar tidak pernah menyangka bahwa engkau ternyata bukan hanya merupakan seorang siucai (satrawan) akan tetapi juga seorang bu-hiap (pendekar silat)!”

“Ahh, tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan ilmu silatmu, In-moi!”

“Bagaimana engkau bisa datang ke sini membawa pasukan?” tanya Siang In, jantungnya berdebar karena kagum dan juga amat girang karena ternyata pemuda yang mencintanya ini bukan seorang pemuda lemah, melainkan seorang gagah pula.

“Nanti saja kita bicara, In-moi. Sekarang aku hendak mengatur pembersihan tempat ini.” Cin Han tersenyum dan meninggalkan Siang In.

Pangeran Kuang Lin juga menghampiri Moguhai dan keduanya saling pandang.

“Kanda Kuang Lin, selama ini engkau membodohi aku!” kata Moguhai cemberut.

“Ehh? Membodohi bagaimana, Dinda Moguhai?”

“Habis, engkau berlagak seorang siucai yang lemah, kiranya engkau murid Kui Sim Tosu yang sudah kudengar namanya sebagai seorang yang tinggi ilmu kepandaiannya.”

“Ahh, aku bukan sengaja berbohong, Dinda. Aku hanya malu untuk mengaku bahwa aku pernah belajar silat, malu kepadamu karena aku tahu bahwa engkau seorang pendekar wanita yang amat lihai.”

“Akan tetapi bagaimana engkau dan Pangeran Cin Han dapat tiba-tiba muncul membawa pasukan?”

“Nanti saja, Dinda Moguhai. Sekarang aku hendak membantu Suheng Cin Han mengatur pembersihan tempat ini.” Sesudah berkata demikian, Kuang Lin pergi menyusul Cin Han yang mulai membagi-bagi tugas kepada pasukan kerajaan.

Thian Liong diam-diam girang sekali melihat betapa Siang In mengenal baik Pangeran Cin Han dan Moguhai mengenal baik Pangeran Kuang Lin. Meski pun baru satu kali bertemu, dia merasa kagum dan suka kepada dua orang pangeran itu. Mereka tampan, gagah dan ramah, tidak angkuh seperti para muda bangsawan kebanyakan. Diam-diam dia berharap agar dua orang pangeran itu akan dapat menjadi jodoh gadis kembar itu.

Thian Liong lalu menghampiri dua orang gadis kembar itu yang kini sudah tampak gembira lagi.

“Wah, kita masih beruntung dua orang pangeran itu datang membawa pasukan sehingga pertempuran dapat segera dihentikan. Akan tetapi, tadi aku melihat bahwa kalian sudah akrab dengan mereka!”

Moguhai tersenyum. “Ketahuilah, Thian Liong. Pangeran Cin Han itu adalah calon suami Siang In!”

“Ihh, jangan ngawur!” kata Siang In sambil mencubit lengan Moguhai. “Liong-ko, jangan percaya obrolannya!”

“Wih, siapa yang membuat obrolan kosong? Thian Liong, dia bahkan sudah dilamar oleh Pangeran Cin Han!” kata Moguhai dan terkekeh-kekeh ketika Siang In hendak mencubit kembali.

“Liong-ko, engkau tahu? Pangeran Kuang Lin itu adalah pilihan hati Pek Hong! Hayo, mau sangkal? Engkau sendiri yang menceritakan kepadaku bahwa engkau tertarik dan kagum kepada Pangeran Kuang Lin, hanya engkau sayangkan dia lemah seperti sangkaanmu. Dan sekarang ternyata dia gagah perkasa. Hemm... ke mana lagi?”

Kini Moguhai yang pura-pura marah.

“Sudahlah, kalian harus bersikap jujur dan terbuka,” kata Thian Liong. “Kalau memang kalian saling mencinta dengan dua orang pangeran itu, apa salahnya? Aku pun suka dan kagum kepada mereka, dan aku pun ikut bahagia bila kalian dapat menjadi isteri mereka yang hidup bahagia, ha-ha-ha!” Sekarang Thian Liong tertawa-tawa, menertawakan kedua orang gadis yang tersipu-sipu malu dengan muka kemerahan.

“Ehh, Thian Liong! Itu Han Bi Lan, dia lari dari sini!” Moguhai tiba-tiba berseru.

Thian Liong terkejut, menengok dan benar saja, dia melihat Bi Lan pergi menuruni puncak itu.

“Lan-moi...!” Thian Liong memanggil dan dia pun mengejar gadis baju merah itu.

Kini giliran Moguhai dan Siang In yang tertawa-tawa, menertawakan Thian Liong yang berlari-larian mengejar Bi Lan sambil memanggil nama gadis itu. Tawa mereka semakin geli ketika mereka melihat Bi Lan menoleh lalu gadis itu berlari cepat. Thian Liong tetap mengejarnya dan sebentar saja dua bayangan mereka sudah tidak tampak lagi.

Dua orang gadis kembar itu masih tertawa-tawa ketika Cin Han dan Kuang Lin datang menghampiri mereka.

“Ehh, ada apa sih kalian tertawa-tawa?” tanya Cin Han.

“Dinda Moguhai, apa sih yang lucu?” tanya pula Kuang Lin kepada Moguhai.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Moguhai. “Hanya kami merasa geli melihat Thian Liong dan Bi Lan berkejar-kejaran menuruni puncak.”

Dua orang pemuda itu menengok ke bawah, akan tetapi mereka tidak melihat lagi Thian Liong dan Bi Lan.

“Biar aku cari dia, untuk berpamit,” kata Cin Han.

“Tidak perlu, Han-ko, biarkan mereka berdua,” kata Siang In. Jawaban ini sudah cukup membuat dua orang pemuda itu mengerti.

“Kalau begitu marilah kita meninggalkan puncak ini. Para prajurit sudah kami perintahkan untuk mengurus semua mayat dan yang luka, juga membersihkan tempat ini seperti yang dipesan Locianpwe Tiong Lee Cin-jin tadi!' kata Cin Han.

“Betul, mari kita tinggalkan puncak ini. Kami telah menyiapkan kuda untuk kita berempat,” kata pula Kuang Lin.

Dua orang gadis itu tidak membantah dan tidak lama kemudan mereka berempat sudah menunggang kuda, sepasang-sepasang. Perlahan-lahan kuda mereka menuruni puncak. Puteri Moguhai bercakap-cakap dengan Pangeran Kuang Lin, sedangkan di depan mereka Thio Siang In berjejer dengan Cin Han juga asyik bercakap-cakap perlahan. Wajah mereka berempat berseri-seri penuh senyum. Mereka melakukan perjalanan satu jurusan, yaitu ke kota raja, walau pun Siang In dan Cin Han akan berhenti di kota Kang-cun yang tidak jauh letaknya dari kota raja.....

********************

“Bi Lan tunggu...!” Souw Thian Liong berseru memanggil gadis yang berlari cepat sekali di depannya itu. Jarak di antara mereka cukup jauh, tapi seruan Thian Liong yang didorong tenaga sinkang itu dapat terdengar oleh Bi Lan.

Gadis itu sama sekali tidak berhenti, malah menoleh pun tidak, melainkan berlari semakin cepat! Sejak menerima gemblengan Si Mayat Hidup, kepandaian Bi Lan sudah meningkat pesat sehingga kini larinya seperti terbang cepatnya.

Thian Liong merasa heran dan penasaran sekali. Selama melakukan perjalanan bersama, ketika Bi Lan menyamar sebagai seorang pemuda bernama Han, sikap gadis itu sangat baik kepadanya. Sangat ramah dan terkadang sinar mata gadis itu jelas membayangkan bahwa hatinya senang sekali. Malah dia mulai merasa yakin bahwa Bi Lan juga suka atau cinta kepadanya seperti juga dia yang telah lama jatuh cinta kepada gadis itu. Akan tetapi mengapa kini Bi Lan berlari demikian cepat seolah tidak mau lagi bertemu dan berbicara dengannya?

Timbul bermacam dugaan di dalam hatinya dan dia teringat bahwa tadi, dua orang murid Ouw Kan yang dimusuhi gadis itu karena mereka menyebabkan kematian ayahnya, dapat meloloskan diri dan tidak terbunuh. Dan hal itu terjadi karena Tiong Lee Cin-jin melarang dilakukannya pembunuhan di situ. Apakah Bi Lan kecewa dan marah karena tidak diberi kesempatan membunuh dua orang musuhnya itu?

“Bi Lan, tunggu! Aku mau bicara!” teriaknya lagi.

Akan tetapi gadis itu malah berlari semakin cepat. Kalau dia kehendaki, tentu saja Thian Liong sejak tadi mampu menyusul Bi Lan. Betapa pun lihainya gadis itu, dalam hal tenaga sakti ia masih belum mampu menandingi Thian Liong. Akan tetapi Thian Liong tidak mau melakukan hal itu, khawatir kalau-kalau akan menyinggung hati Bi Lan. Kini, karena gadis itu tidak mau berhenti dan tidak mau menjawab, dia berteriak lagi.

“Bi Lan! Berhentilah atau jawablah mengapa engkau melarikan diri dariku! Kalau engkau diam saja dan tetap berlari, aku akan menyusulmu!”

Bi Lan tetap tidak menjawab dan tidak berhenti, maka Thian Liong lalu berlari cepat sekali untuk mengejar gadis itu. Sesudah tiba dekat, dengan terkejut dan heran dia mendengar gadis itu berlari sambil menangis!

Dia melompat jauh ke depan kemudian turun di depan Bi Lan sehingga gadis itu terpaksa berhenti.

“Pergi! Pergilah engkau beramah tamah akrab dengan kedua orang gadis cantik itu! Aku memang orang yang tidak berharga...! Tinggalkan aku...!” Bi Lan menangis tersedu-sedu, tubuhnya lemas sehingga ia jatuh berlutut dan menutupi mukanya dengan dua tangannya. Tubuhnya terguncang ketika ia menangis sampai mengguguk.

Dengan hati bingung dan khawatir Thian Liong berlutut dekat Bi Lan lalu berkata dengan lembut dan hati-hati. “Lan-moi (Adik Lan)..., engkau marah padaku? Apakah kesalahanku padamu, Lan-moi? Kalau aku bersalah, hukumlah aku, aku akan rela menerimanya. Akan tetapi kalau penyebab kemarahanmu karena Siang In dan Moguhai, engkau salah sangka. Mereka itu adalah saudara-saudara seperguruanku, murid Suhu Tiong Lee Cin-jin. Tidak ada hubungan apa pun antara kami bertiga selain saudara seperguruan.”

Gadis itu masih menangis, tangisnya membayangkan betapa dia berada dalam keadaan yang berduka sekali. Thian Liong merasa iba dan juga khawatir.

“Aih, Bi Lan, bicaralah kepadaku, aku mohon kepadamu, jangan membuat aku bingung. Katakanlah, mengapa engkau menangis begini sedih? Apakah... apakah engkau merasa kecewa kepada Suhu Tiong Lee Cin-jin karena engkau tidak boleh membunuh dua orang murid Ouw Kan itu?”

Bi Lan tak dapat menjawab karena masih terisak-isak, akan tetapi mendengar pertanyaan itu, dia menggeleng-geleng kepalanya. Thian Liong merasa lega, dan dia maklum bahwa dalam keadaan seperti itu, Bi Lan takkan mampu bicara. Maka dia pun lalu mendiamkan saja, memberikan kesempatan kepada gadis itu untuk menumpahkan segala ganjalan hati dan pikirannya melalui tangisnya.

Akhirnya gadis itu berhasil menguasai dirinya dan tangisnya mereda, lalu berhenti, hanya sesekali terisak-isak. Thian Liong lalu berkata lagi dengan lembut.

“Lan-moi, selama melakukan perjalanan bersama, hatiku merasa gembira sekali karena kita bergaul dengan akrab. Akan tetapi mengapa kini tiba-tiba engkau menjauhkan diri dan menangis? Apakah yang menjadi sebabnya kalau tadi engkau menyangkal bahwa engkau kecewa kepada Suhu?”

Bi Lan menyusut mata dan hidungnya dengan sapu tangan dan sekarang dia telah tenang kembali. Akan tetapi suaranya masih gemetar ketika dia berkata.

“Mengapa engkau mengejarku? Mengapa engkau meninggalkan Ang Hwa Sian-li dan Pek Hong Nio-cu? Mereka tentu menantimu. Kembalilah kepada mereka dan jangan hiraukan aku yang bodoh dan hina-dina ini.”

Thian Liong menyangka bahwa Bi Lan ini agaknya merasa cemburu kepada dua orang gadis itu, maka dia cepat berkata, “Mereka tidak akan menunggu aku, Lan-moi. Mereka berdua sudah mempunyai teman yang dekat sekali, mungkin menjadi calon suami-suami mereka, yaitu Pangeran Cin Han dan Pangeran Kuang Lin.”

Keterangan ini semakin menenangkan hati Bi Lan. Harus dia akui bahwa tadi dia merasa iri melihat Thian Liong tertawa-tawa ketika berbicara dengan dua orang gadis itu. Bukan cemburu, melainkan iri karena dia teringat akan keadaan dirinya yang anak bekas pelacur, sedangkan kedua orang gadis itu adalah anak-anak orang yang terhormat dan makmur, terutama sekali Puteri Moguhai. Hal ini membuat ia merasa rendah diri dan sedih sekali.

Jelas dan tidak aneh kalau Thian Liong lebih tertarik kepada mereka. Akan tetapi setelah mendengar keterangan Thian Liong bahwa dua orang gadis itu telah memiliki calon suami, dia menjadi lebih tenang, sungguh pun ingatan akan keadaan dirinya masih membuat dia sedih dan batinnya tertekan sekali.

“Mengapa engkau mengejarku?” Ia bertanya dan sepasang matanya yang kemerahan dan agak membengkak karena tangisnya tadi kini menatap tajam wajah Thian Liong.

Pemuda itu meragu. Apakah sekarang dia harus berterus terang menyatakan isi hatinya? Bagaimana kalau pernyataannya itu salah alamat lantas membuat Bi Lan semakin marah dan benci kepadanya?

Sejak pertemuan mereka yang pertama kali sudah terjadi ketegangan di antara mereka. Dan gadis ini pernah sakit hati dan mendendam kepadanya. Akan tetapi teringat kepada Siang In dan Moguhai yang agaknya juga telah mendapatkan pilihan hati masing-masing, dia pun nekat memberanikan diri.

“Aku mengejarmu karena aku tidak mau kau tinggalkan begitu saja, karena aku ikut susah melihat engkau bersedih dan... karena... aku cinta padamu, Bi Lan!”

Pernyataan cinta Thian Liong ini tidak mengejutkan hati Bi Lan sebab perasaan wanitanya sudah lama dapat menangkap cinta kasih pemuda itu kepadanya melalui sinar mata dan sikap serta ucapannya. Mendengar pernyataan ini, dia tidak menjadi marah seperti yang dikhawatirkan Thian Liong, sebaliknya dia malah mulai menangis lagi!

“Tidak... tidak..., aku... aku tidak berharga... aku seorang hina dina...!”

Thian Liong memegang kedua pundak gadis itu dan mengguncangnya perlahan. “Bi Lan, mengapa engkau berkata begitu? Dalam pandanganku, engkau adalah gadis yang paling mulia di dunia ini! Siapa yang berani mengatakan bahwa engkau seorang yang hina dan tidak berharga? Akan kuhajar mulut kotor orang yang mengatakan itu!”

“Liong-ko, aku tidak berharga menjadi... menjadi...”

“Siapa bilang tidak berharga, Lan-moi? Kalau engkau sudi, sekarang juga aku meminang engkau untuk menjadi isteriku!”

“Tidak Liong-ko, tidak! Engkau akan diejek dan dicemooh semua orang. Aku tidak pantas menjadi isterimu..., namamu akan ikut tercemar...”

“Lan-moi, apa sih maksud ucapanmu itu? Engkau adalah seorang pendekar wanita yang gagah perkasa dan baik budi, penegak kebenaran dan keadilan. Dan lebih dari itu, engkau puteri mendiang Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi, suami isteri yang terhormat dan dikagumi, dihormati banyak orang! Engkau adalah gadis paling mulia yang pernah kujumpai! Kalau mau bicara tentang tidak berharga, sebenarnya justru akulah yang tidak berharga untuk menjadi pendamping hidupmu. Kalau memang itu masalahnya, katakan saja, Lan-moi. Aku memang hanya seorang pemuda yatim piatu yang miskin dan papa...”

“Cukup! Liong-ko! Jangan merendahkan diri seperti itu. Aku amat menghormatimu, amat mengagumimu. Tetapi sungguh, aku sama sekali tidak berbohong kalau aku mengatakan bahwa aku tidak berharga untuk menjadi isterimu! Ahhh, engkau tidak tahu...!” Gadis itu menundukkan mukanya yang menjadi pucat.

Thian Liong kembali menangkap kedua pundak Bi Lan dan berkata dengan suara tegas. “Bi Lan, di mana kegagahanmu? Tidak pantas puteri mendiang Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi, suami isteri pemimpin Pasukan Halilintar yang gagah perkasa kalau engkau menjadi begini penakut untuk bicara terus terang! Katakanlah kepadaku apa yang mengganjal di hatimu. Percayalah, aku pasti akan menerima hal yang paling buruk sekali pun dengan tabah!”

“Benarkah itu? Apakah engkau masih dapat... mencintaku bila engkau mengetahui bahwa namaku tercemar, kotor dan hina?”

“Moi-moi, aku cinta padamu! Bukan pada namamu! Ceritakanlah dan bersikaplah terbuka, jujur dan tabah sebagai mana layaknya seorang pendekar!”

Mendengar ini, timbul semangat Bi Lan dan muncul keberaniannya. Ia bangkit dan duduk di atas sebuah batu dan Thian Liong segera duduk di atas batu lain di depannya.

“Baiklah Liong-ko, aku akan bercerita sejujurnya. Terserah bagaimana tanggapanmu nanti. Dengarlah baik-baik. Liong-ko, aku adalah anak seorang pelacur! Ibu kandungku, Liang Hong Yi, adalah seorang bekas pelacur!”

Sepasang mata Thian Liong terbelalak, mukanya berubah merah sekali, alisnya berkerut dan dia menatap wajah Bi Lan dengan tajam. Suaranya mengandung penuh teguran saat dia berkata, “Bi Lan! Jangan menjadi anak durhaka! Bibi Liang Hong Yi adalah seorang pendekar wanita, mengapa engkau demikian tega untuk memberi keterangan seperti itu? Siapa pun tidak akan percaya!”

“Liong-ko, apa kau sangka aku senang mendapatkan kenyataan ini? Hatiku hancur lebur, dunia seperti kiamat bagiku, hidup seolah-olah tak ada gunanya lagi. Aku malu, Liong-ko, terutama malu kepadamu! Akan tetapi yang kuceritakan adalah sesungguhnya. Tadinya aku juga tidak percaya, akan tetapi setelah kutanyakan langsung kepada ibuku, dia... dia mengaku terus terang bahwa memang benar dahulu sebelum menikah dengan ayah, dia adalah seorang pelacur!” Kembali gadis itu terisak, akan tetapi dengan air mata menuruni kedua pipinya, dia lalu menatap wajah Thian Liong. “Nah, sekarang kalau engkau hendak memaki, menghina aku, lakukanlah!”

Kini tiba giliran Thian Liong yang bungkam. Dia berdiam diri seperti orang linglung, hanya memandang gadis itu dengan mata tak percaya, terkejut dan heran.

Bagaimana mungkin wanita setengah tua yang gagah perkasa itu, dahulu pernah menjadi seorang pelacur? Bagaimana seorang pendekar gagah perkasa seperti mendiang Han Si Tiong dapat menikah dengan seorang pelacur?

Melihat pemuda itu hanya bengong, Bi Lan menyusut air matanya dan suaranya tergetar dan terputus-putus ketika dia bertanya, “Sekarang kau... kau jijik dan benci kepadaku...?” Setelah berkata demikian, gadis itu melompat jauh kemudian berlari sekuatnya.

“Bi Lan...!”

Thian Liong juga melompat dan mengejar. Sesudah berhasil menyusul, dari belakang dia menubruk dan memeluk tubuh gadis itu sehingga mereka berdua jatuh bergulingan di atas rumput. Bi Lan bangkit berdiri, akan tetapi sebelum dia sempat lari, Thian Liong sudah merangkulnya.

“Lepaskan aku! Engkau nanti ikut kotor kalau berdekatan dengan aku!”

“Bi Lan jangan bersikap begitu. Aku cinta padamu, Lan-moi.”

“Hemm, bagaimana engkau dapat mencinta aku setelah engkau tahu bahwa aku ini anak pelacur?”

Tanpa melepaskan gadis itu dari rangkulannya Thian Liong berkata, “Bi Lan, dengarlah. Aku mencinta engkau! Mengerti? Aku cinta engkau, siapa pun juga namamu! Aku cinta engkau, anak siapa pun engkau, baik raja mau pun anak pengemis, anak pendeta mau pun anak penjahat! Aku cinta engkau, Bi Lan, tidak cukupkah itu?”

“Tapi... tapi ibuku...”

“Hushh, jangan lanjutkan. Ibumu tetap Ibumu, apa pun dan bagaimana pun keadaannya. Engkau wajib menghormatinya, menyayangnya, dan berbakti kepadanya! Ibumu seorang pendekar wanita, seorang isteri setia, seorang ibu yang baik, seorang wanita terhormat. Setiap orang manusia sudah pasti pernah melakukan dosa, pernah sesat jalan. Tidak ada manusia sempurna di dunia ini. Akan tetapi, kalau manusia yang melakukan dosa mohon pengampunan kepada Thian kemudian bertobat dan tidak mengulang lagi dosa yang telah dilakukan, maka Tuhan itu Maha Murah, Maha Kasih, dan Maha Adil! Mungkin di waktu mudanya ibumu pernah sesat jalan, tetapi setelah menjadi isteri Paman Han Si Tiong, dia telah bertobat dan meninggalkan kesesatannya.”

Bi Lan memandang wajah Thian Liong dan kini dia tidak meronta lagi. Tubuhnya menjadi lemas dan wajahnya pucat, agaknya dia sudah mengalami guncangan-guncangan batin yang amat hebat.

“Benarkah semua omonganmu, Liong-ko? Engkau tidak menganggap rendah, kotor dan hina kepada Ibuku?”

Thian Liong menggeleng kepalanya dan tersenyum. “Tidak, Lan-moi. Pekerjaan melacur memang tidak baik dan. merendahkan martabat kaum wanita. Akan tetapi pelacur bukan penjahat. Lelaki yang datang melacur lebih rendah, kotor dan hina, jahat pula. Terutama para laki-laki yang sudah mempunyai pacar, tunangan atau isteri karena perbuatannya itu berarti mengkhianati pacar, tunangan, atau isterinya. Walau pun pelacur itu tidak baik dan patut dicegah, namun pelacur bukan penjahat dan tidak mengkhianati siapa-siapa. Dalam pandanganku, Bibi Liang Hong Yi tetap seorang wanita terhormat dan mulia.”

Sekarang Bi Lan menangis sambil merapatkan mukanya di dada Thian Liong sehingga air matanya menembus baju Thian Liong membasahi dadanya. Thian Liong merasa seolah-olah air mata itu menembus kulit dagingnya lantas menyiram jantungnya, mendatangkan perasaan nyaman dan bahagia.

“Liong-ko, tadinya aku takut sekali... takut jika engkau membenciku, meninggalkan aku... padahal hanya engkaulah satu-satunya orang di dunia ini yang kupandang, kuhormati dan kukagumi, satu-satunya orang yang kucinta...”

Thian Liong mendekap kepala itu dan mengelus rambut Bi Lan.

“Lan-moi sayang, di sana masih ada seorang yang kau cinta, yang juga kucinta dan amat kuhormati, yaitu ibumu! Mari kita menghadap ibumu untuk minta doa restunya.”

“Ibu... entah di mana, Liong-ko!”

“Ehh...? Mengapa begitu?”

Tanpa melepaskan diri dari pelukan Thian Liong, Bi Lan lalu menceritakan semua yang dia alami bersama ibunya sejak ayahnya tewas. Bagaimana dia lalu meninggalkan ibunya karena menyesal, kecewa, malu dan berduka sesudah dia mendengar pengakuan ibunya bahwa ibunya dahulu adalah seorang pelacur.

“Aku pergi meninggalkannya dan aku tidak tahu dia sekarang berada di mana, Liong-ko.”

“Mari kita mencarinya, Lan-moi. Kita pergi ke kota raja dan mencarinya sampai dapat kita temukan.”

Bi Lan hanya mengangguk sambil terisak. Sampai lama mereka saling berpelukan sampai akhirnya Bi Lan berhenti menangis. Kemudian kedua orang itu menuruni bukit itu sambil bergandengan tangan, dengan sinar mata penuh gairah hidup, dengan semangat baru, menyongsong kehidupan yang cerah, penuh kasih sayang, penuh harapan.....

T A M A T



>>>>   SERIAL SI NAGA LANGIT TAMAT SAMPAI DI SINI   <<<<


Pilih JilidPILIH JUDULT A M AT
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner