RENJANA PENDEKAR : JILID-13


“Aku terbelalak memandangi dia, dia juga terbelalak menatap diriku. Dia malah berkata, ‘Akulah Cia Thian-pi dari Tiam-jong, mengapa kau tidur di tempatku?’ Waktu itu aku masih sangsi kalau mabukku belum lenyap, aku menjadi bungung oleh ucapannya itu. Serupa kau tapi aku pun berteriak ‘Kau Cia Thian-pi...? Lantas siapa diriku?’”

“Rupanya karena pengalaman Cianpwe itu, maka sesudah mendengar ucapanku tadi Cianpwe lantas yakin diriku ini Ji Pwe-giok tulen,” ucap Pwe-giok dengan menyesal. “Tapi apa pula yang diperbuat oleh bangsat itu kemudian?”

“Setelah mendengar teriakanku, bangsat itu malah mendamperat diriku. Dia menuduh aku memalsukan wajahnya, bahkan menyatakan bahwa orangnya dapat dipalsu, tetapi ilmu pedang Tiam-jong-pay tidak dapat dipalsu. Dia justru menantang aku agar menentukan siapa lebih unggul, yang unggul ialah Cia Thian-pi tulen, yang asor adalah palsu dan harus enyah.”

“Jika begitu, jelas ilmu pedang bangsat itu bukan tandingan Cianpwe,” ujar Pwe-giok.

“Kau salah sangka.” kata Cia Thian-pi dengan tersenyum pedih, “alangkah kejinya dan perencanaan orang-orang itu sungguh sukar dibayangkan. Ternyata di luar tahuku dalam arak yang kuminum itu telah diberinya obat bius sehingga aku tidak mampu mengerahkan tenaga sama sekali. Belum sampai tiga jurus pedangku sudah tersampuk jatuh oleh pedangnya dan ilmu pedang yang digunakannya memang betul Tiam-jong-kiam-hoat tulen.”

“Dan Cianpwe lantas didesak pergi secara begitu?” tanya Pwe-giok.

“Memangnya apa yang dapat kuperbuat lagi?” tutur Cia Thian-pi. “Tatkala mana Ji Hong-ho, Ong Uh-lau dan lain-lain serentak muncul juga, rupanya mereka sebelumnya sudah bersembunyi di situ, dalam kedudukannya sebagai Bengcu, dia telah menyingkirkan anak muridku ke tempat lain, lalu...”

“Mungkin waktu itu Cianpwe sendiri tidak tahu bahwa mereka pun palsu seluruhnya,” kata Pwe-giok dengan gemas.

“Ya, pada waktu itu aku memang tidak pernah membayangkan akan terjadi begitu. Demi nampak datangnya Bengcu, aku menjadi girang. Siapa tahu mereka lantas menuduh aku inilah yang memalsukan Cia Thian-pi.” dengan tangan gemetar ia pegang tangan Pwe-giok, tangannya sudah penuh keringat, nadanya sangat sedih, sembungnya pula,

“Saat itulah baru kerasakan betapa susahnya orang yang terfitnah. Dadaku serasa mau meledak, tetapi apa dayaku, anggota badan terasa lemas, aku tidak sanggup melawan, akhirnya aku dibekuk oleh mereka dan diangkut ke atas kereta serta dibawa pergi...”

“Orang... orang she Ji itu pun berada di kereta itu?” tanya Pwe-giok.

“Meski pun dia tidak ikut di dalam kereta, tetapi dia memerintahkan beberapa lelaki kekar membawa pergi diriku, jelas aku hendak dibunuhnya di tempat jauh yang sepi. Waktu itu keadaanku hampir tak bertenaga sama sekali, orang biasa saja tidak dapat kulawan, apa lagi anak buah bangsat itu.”

“Jika demikian, bahwa Cianpwe masih dapat menyelamatkan diri, boleh dikatakan lolos dari lubang jarum.”

“Ya, kalau tindakan mereka tidak terlalu rapi, bisa jadi aku takkan hidup sampai saat ini.”

“Aneh, mengapa berbalik bergitu?” tanya Pwe-giok heran.

“Coba kalau meraka membunuhku di sembarangan tempat, tentu jiwaku telah melayang. Tetapi mereka justru kuatir pebuatan jahat mereka diketahui orang, kuatir pula tindakan mereka akan meninggalkan bukti...” ia tersenyum pedih dan menyambung pula, “Padahal hendak membunuh orang macam diriku rasanya juga tidak mudah, mereka harus mencari suatu tempat yang baik. Sedangkan tempat pembunuhan yang terbaik di seluruh dunia ini mungkin tiada yang lebih baik dari pada Sat-jin-ceng.”

“Betul, di Sat-jin-ceng ini membunuh orang ibaratnya orang membabat rumput, siapa pun tidak peduli dan tanpa perkara.” ujar Pwe-giok dengan menyesal.

Dia menunggu cerita Cia Thian-pi lebih lanjut, namun sampai di sini Cia Thian-pi lantas berhenti dan tidak menyambung lagi.

Selang sejenak Pwe-giok tidak tahan, ia bertanya, “Melihat luka Cianpwe yang parah ini, mungkin kawanan bangsat itu sengaja membuat Cianpwe tersiksa untuk kemudian mati dengan sendirinya.”

“Ya, memang begitu kehendak mereka,” kata Cia Thian-pi.

“Dan entah cara bagaimana Cianpwe mendapat pertolongan dan mengapa pula sampai di sini?” Pwe-giok coba memancing.

Cia Thian-pi berpikir sejenak, tuturnya kemudian, “Sudah tentu ini pun secara kebetulan saja, cuma... cuma kejadian ini menyangkut rahasia orang ketiga, sebelum mendapat persetujuannya, maafkan, tidak dapat kuceritakan padamu.”

Dan sebelum Pwe-giok bertanya pula, dengan tertawa dia bertanya, “Dan dengan cara bagaimana kau pun datang kesini?”

Pwe-giok menghela napas sedih, jawabnya, “Tecu... Tecu sudah dianggap orang mati dan dikubur di sini.”

“Orang mati?” Cia Thian-pi menegas dengan heran. “Jangan-jangan kau...” Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba seorang menyela dengan dingin,

“Ucapannya memang tidak salah, dia memang sudah mati satu kali, cuma saat ini dia sudah hidup kembali.”

Di bawah cahaya yang remang-remang muncul sesosok bayangan putih dengan rambut terurai, tertampak matanya yang indah mempesona dan wajahnya yang cantik laksana dewi itu. Di tempat yang suram begini tempaknya lebih mirip badan halus dan membuat orang yang melihatnya seakan-akan berhenti bernapas.

Perpaduan antara badan halus dan dewi itu bukan lain ialah Ki Leng-hong.

Cia Thian-pi seperti juga terkesima oleh kecantikan yang tiada taranya serta keangkeran yang sukar dilukiskan itu. Ia termangu mangu sejenak, kemudian berkata dengan tertawa, “Ahh, jangan nona berkelakar, orang mati mana bisa hidup kembali?”

“Akulah yang membuatnya hidup kembali.” kata Leng-hong dengan perlahan.

Suaranya amat hambar, seolah-olah memang mengandung semacam kekuatan gaib yang bisa mengendalikan mati atau hidup manusia. Sorot matanya yang dingin itu seakan-akan menyembunyikan segala macam rahasia yang menentukan mati atau hidup seseorang.

Cia Thian-pi han Ji Pwe-giok saling pandang tak dapat bicara.

Dilihatnya Ki Leng-hong telah mendekati patung lilin yang serupa dengan patung di lorong bawah tanah itu serta menyembahnya tiga kali dengan khidmat. Mendadak ia berkata, “Di makam ini seluruhnya adalah leluhur keluarga Ki. Tentunya kalian merasa heran mengapa aku cuma menyembah dia saja? Biarlah kuberi-tahu, sebabnya ia pernah menyelamatkan diriku, seperti halnya aku telah menyelamatkan kalian.”

Pwe-giok dan Cia Thian-pi tambah bingung dan tidak tahu bagaimana harus menjawab.

Ki Leng-hong telah bangkit dan membalik tubuh, ditatapnya Cia Thian-pi, katanya, “Dalam keadaan kempas-kempis dan tidak berdaya, jelas kau pasti akan terbunuh. Akulah yang membuat mereka menyangka kau sudah mati, kemudian kupancing pergi mereka dan membawa kau kesini, kau tahu tidak?”

“Ya, budi pertolongan nona takkan kulupakan selama hidup.” kata Thian-pi.

“Sebagai seorang ketua suatu perguruan ternama, ternyata harus ditolong oleh seorang gadis yang tidak terkenal, tentu dalam hati kau merasa malu, makanya tadi ketika ditanya orang, kau enggan menjelaskannya, begitu bukan?”

“Ah, nona telah salah paham.” jawab Thian-pi sambil menyengir. “soalnya Cayhe ingin...”

“Aku memang berpikiran sempit,” dengan ketus Ki Leng-hong memotong. “Barang siapa sudah kutolong, selama hidupnya harus selalu ingat kepada budi pertolonganku, kalau tidak, aku pun dapat membuatnya mati. Untuk itu hendaklah kau ingat dengan baik.”

Cia Thian-pi melongo mendengarkan perkataan Ki Leng-hong itu.

Nona itu tidak menggubrisnya lagi, ia berpaling ke arah Pwe-giok dan berkata pula, “Dan kau, hakikatnya kau sudah mati, setiap orang sudah merabai mayatmu dan menyatakan kau sudah mati. Tetapi aku sudah membuat kau hidup kembali, Meski di mulut kau tidak bicara, di dalam hati tentu kau tidak percaya. Orang mati masa bisa hidup kembali, begitu bukan?”

Pwe-giok terdiam sejenak, katanya kemudian, “Cayhe tidak pernah menaruh curiga, tetapi sekarang telah kupikirkan, rahasia mati dapat hidup kembali pasti terletak pada arak yang kuminum itu.”

“Meski tampaknya engkau dungu nyatanya tidaklah bodoh,” jengek Leng-hong. “Memang betul, arak yang kuberikan itu bukanlah Toan-jiong-ciu millik Hujin, tapi To-ceng-ciu (arak menghindari cinta).”

“Hah, arak bernama To-ceng, sungguh nama yang bagus sekali,” kata Pwe-giok dengan tertawa.

“Konon arak ini buatan seorang sastrawan termashur pada jaman dahulu.” tutur Ki Leng-hong. “Ia terlibat di tengah tiga perempuan yang mencintai dia. Selama puluhan tahun dia terombang-ambing di tengah kerumunan wanita cantik itu, akhirnya ia merasa kewalahan dan ingin membebaskan diri, sebab itulah dia berusaha menyuling arak khas ini. Setelah diminum, seketika pernapasannya berhenti, kaki dan tangan dingin serupa dengan orang mati, akan tetapi dalam waktu 24 jam dapat hidup kembali. Berkat arak itulah dia dapat melepaskan diri dari godaan ketiga perempuan itu sehingga dapat bebas, sebab itulah dia menamakan araknya sebagai To-ceng-ciu.”

“Sungguh tak tersangka arak buatan orang yang romantis di jaman dahulu, sekarang telah menyelamatkan jiwaku.” ujar Pwe-giok dengan menghela napas.

“Tetapi jangan kau lupakan, yang menyelamatkan kau bukan To-ceng-ciu itu melainkan aku.” jengek Leng-hong.

“Budi kebaikan nona sudah tentu takkan kulupakan selama hidup.” kata Pwe-giok sambil menyengir.

Dengan tatapan tajam Leng-hong bertanya pula padanya, “Tahukah kau, sebab apa aku menolongmu?”

“Aku... ini...” Pwe-giok menjadi gelagapan. Sudah tentu, siapa pun tidak dapat menjawab pertanyaan ini.

“Jika kau sangka aku menolongmu lantaran aku jatuh cinta padamu, maka salahlah kau,” kata Leng-hong pula. “Sama sekali aku bukan perempuan yang mudah jatuh cinta, kau pun tidak perlu bangga terhadap diri sendiri.”

Sekenanya dia menerka jalan pikiran orang lain tanpa peduli betul atau salah, juga tidak memberi kesempatan bagi orang lain untuk membantah. Dengan muka merah baru saja Pwe-giok hendak bicara tapi sudah didahului lagi olehnya, “Sebabnya kutolong kau sama halnya seperti kutolong Cia Thian-pi, yakni agar kau selalu ingat budi pertolonganku.”

Seketika Pwe-giok melenggong juga.

Didengarnya Leng-hong berkata pula, “Tentunya kalian sekarang sedang berpikir di dalam hati bahwa aku ini bukan seorang Kuncu (kesatria sejati), memberi pertolongan dengan mengharapkan balas jasa.”

“Ah, mana Cayhe berani berpikir demikian.” kata Cia Thian-pi.

“Kau tidak berpikir demikian, aku justru berpikir begitu,” jengek Leng-hong. “Aku memang bukan seorang Kuncu, aku memang mengharapkan balas jasa. Sesudah kuselamatkan jiwa kalian, coba, cara bagaimana kalian akan membalas budi padaku?”

Cia Thian-pi menjadi bingung, dipandangnya Ji Pwe-giok, tapi ternyata anak muda itu pun sedang memandangnya. Keduanya jadi saling pandang dengan melongo dan tidak dapat menjawab.

“Bagaimana, setelah menerima budi pertolonganku, apakah kalian tidak ingin membalas?” tanya Leng-hong dengan gusar.

“Budi pertolongan nona sudah tentu...” tergagap-gagap Pwe-giok.

“Huh, jika kalian ingin balas budi, kalian harus menyatakan dengan tegas cara balas budi yang nyata. Aku tidak suka dengan segala omong kosong tentang selama hidup takkan melupakan budi pertolonganmu segala.”

Seperti orang menagih utang saja cara si nona mendesak orang membalas budi, sungguh jarang ada orang macam begini di dunia ini.

Cia Thian-pi hanya menggeleng dengan menyengir saja, katanya kemudian, “Entah cara bagaimana kami harus membalas budi menurut pendapat nona?”

Mendadak Ki Leng-hong berpaling menghadapi orang mati tadi lantas berkata, “Tahukah kalian siapa dia?”

“Bukankah dia... ayah Ki Song-hoa?” kata Pwe-giok.

Dia tidak bilang ‘kakekmu’, tapi bilang ‘ayah Ki Song-hoa’, sebab dia sudah dapat meraba riwayat hidup nona ini pasti ada sesuatu yang ganjil dan rahasia, hakikatnya tidak mau mengakui bahwa dirinya adalah keturunan keluarga Ki.

Benar juga, Ki Leng-hong lantas berkata, “Betul dia inilah Ki Go-ceng, aku menghormat dan menyembah padanya bukan lantaran dia ayah Ki Song-hoa, juga bukan disebabkan dia pernah menyembuhkan penyakitku yang parah, tapi karena kepintarannya, dia pernah meramal bahwa di dunia Kangouw pasti akan timbul kekacauan yang belum pernah terjadi selama ini, dan diriku ini justru dilahirkan karena jaman kacau ini...”

Mendadak dia membalik tubuh lagi ke sini, sorot matanya tampak merah membara. Dia berteriak pula, “Jika aku dilahirkan pada jaman demikian, maka jaman ini harus menjadi milikku pula. Sebab itulah kuminta kalian tunduk pada perintahku, bantulah pekerjaanku. Aku telah menghidupkan kalian, aku pun menghendaki kalian rela mati bagiku.”

Sungguh Pwe-giok dan Cia Thian-pi tak pernah menyangka nona yang masih muda belia ini ternyata mempunyai ambisi sebesar ini, tanpa terasa mereka jadi melenggong.

Dari bajunya Ki Leng-hong lalu mengeluarkan sebuah botol kayu kecil, katanya, “Di dalam botol ini ada dua biji obat, makanlah kalian, bila kalian siuman nanti, kalian akan berubah menjadi manusia baru, sama sekali baru, orang lain tak akan kenal kalian lagi, aku pun menghendaki kalian melupakan segala apa yang telah lalu dan cuma mengabdi bagiku, sebab jiwa kalian adalah pemberianku.”

“Dan kalau kami tidak mau terima?” kata Cia Thian-pi dengan air muka berubah.

“Hm,” Leng-hong mendengus. “Jangan lupa, setiap saat dapat kucabut pula nyawamu.”

Dia terus melangkah maju dua tindak. Tanpa terasa Cia Thian-pi dan Pwe-giok langsung menyurut mundur dua tindak.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar seorang tertawa latah di luar rumah hantu itu, “Budak busuk, kau sendiri tidak bisa hidup lebih lama lagi, masih coba mengancam orang lain?”

Terdengar suara tertawanya yang seram itu membawa semacam kegilaan yang sangat mengerikan..

“Ki Song-hoa!” teriak Pwe-giok tanpa terasa, entah terkejut entah girang.

Belum lenyap suara Pwe-giok, secepat angin Leng-hong melayang keluar kamar itu.

Cepat Pwe-giok ikut berlari keluar, tapi tertampak pintu batu yang berat itu sudah tertutup rapat. Baru saja Leng-hong melayang sampai di depan pintu, “krek” dari luar terdengar bunyi gembok terkunci.

“Ha-ha-ha-ha! Budak busuk!” demikian terdengar pula tertawa latah Ki Song-hoa di luar pintu. “Kau kira tidak ada orang yang berani datang ke sini, bukan? Kau kira tiada orang yang dapat mengetahui rahasiamu, he? Tetapi, ha-ha-ha-ha, sedikit kau lengah, akhirnya jiwamu harus amblas di tanganku.”

Pucat wajah Leng-hong yang kaku dan dingin itu, jelas dia tertegun dan ketakutan, sebab ia tahu apa bila pintu batu itu sudah digembok dari luar, maka siapa pun jangan harap akan dapat keluar lagi.

“Ha-ha-ha-ha!” terdengar Ki Song-hoa terbahak-bahak pula. “Seharusnya kau tahu bahwa selamanya tiada seorang pun yang dapat keluar dengan hidup dari rumah setan ini. Dan mengapa kau masuk juga kesitu? Sungguh teramat besar nyalimu... Memang sengaja kuberi-tahukan rahasia membuka gembok kepadamu, sudah kuperhitungkan pada suatu ketika kau pasti tidak tahan dan ingin coba melihat ke dalam. Ha-ha, budak busuk, kau kira dirimu sangat pintar, tetapi akhirnya kau terjebak juga olehku.”

Makin jauh suara tertawa latah itu, sehingga akhirnya tak terdengar lagi. Tetapi Ki Leng-hong masih berdiri mematung di tempatnya. Tiba-tiba saja air matanya bercucuran, yang menyedihkan dia mungkin bukan jiwanya akan melayang, tetapi cita-citanya, ambisinya yang belum terlaksana dan kini harus hancur dalam sekejap.

Mau tak mau Pwe-giok dan Cia Thian-pi juga melenggong dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Sampai lama sekali Ki Leng-hong berdiri di tempatnya seperti orang linglung, kemudian ia membalik tubuh perlahan dan mendekati sebuah kursi batu yang lowong serta duduk di situ. Ia memandang sekelilingnya, mendadak ia tertawa seperti orang gila, teriaknya,

“Ha-ha-ha! Biar mati pun tidak kesepian, masih ada sekian banyak orang yang mengiringi diriku.”

Cia Thian-pi terperanjat, cepat dia bertanya, “Apakah... apakah nona juga akan menanti kematian di sini?”

“Ya,” jawab Leng-hong. “Menanti datangnya kematian secara perlahan-lahan, rasanya pasti lain dari pada yang lain dan sangat menarik.”

“Meng... mengapa nona tidak berdaya keluar dari sini?” tanya Thian-pi pula.

“Keluar? Ha-ha-ha!” Leng-hong tertawa hingga suaranya serak. “Sekali sudah tergembok di rumah setan ini, mana ada harapan buat keluar.”

“Apakah betul rumah ini tidak pernah dimasuki orang hidup?” tanya Thian-pi

“Pernah, bahkan banyak,” jawab Leng-hong “Cuma, hanya ada orang hidup yang masuk dan tidak ada orang hidup yang keluar.”

Mendadak Pwe-giok menimbrung, “Orang yang menggotong mayat ini kesini apakah juga tidak ada yang keluar dengan hidup?”

“Tidak ada orang menggotong mayat ke sini.” jawab Leng-hong dengan tertawa seram.

“Tidak ada orang menggotong mayat ke sini, lalu apakah mayat-mayat ini masuk sendiri ke sini?” tanya Thian-pi dengan terkesiap.

“Ya, memang benar, masuk sendiri ke sini!” ucap Leng-hong dengan sekata demi sekata.

Cia Thian-pi memandang mayat sekelilingnya, mayat-mayat itu pun seakan-akan sedang memandangnya dengan dingin, tanpa terasa ia merinding, katanya dengan rada gemetar, “Ah, janganlah nona bergurau.”

“Dalam keadaan demikian, siapa yang bergurau dengan kau?” jengek Leng-hong

“Tapi... tapi mana ada... mana ada mayat yang dapat berjalan sendiri di dunia ini?” ujar Thian-pi dengan mandi keringat dingin.

“Sebabnya sebelum mayat-mayat ini berduduk di kursi masing-masing, mereka memang orang hidup,” tutur Leng-hong. “Sesudah berduduk di kursinya, mereka lantas berubah menjadi mayat.”

“Seb... sebab apa?” tanya Thian-pi, bulu romanya sama berdiri.

“Inilah rahasia keluarga Ki!” ucap Ki Leng-hong dengan tersenyum misterius.

“Sudah begini, masa nona tidak mau menjelaskan?” kata Thian-pi.

Leng-hong menatap ke depan dengan sorot mata yang kabur, ucapnya perlahan, “Setiap anggota keluarga Ki, di dalam darah mereka ada semacam sifat pembawaan yang gila, sifat yang suka menghancurkan diri sendiri. Dalam keadaan tertentu, penyakitnya itu bisa jadi mendadak kumat, tatkala mana bukan saja orang lain akan dihancurkannya, bahkan ia akan menghancurkan dirinya sendiri.”

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula dengan sekata demi sekata, “Di mulai sejak leluhur keluarga Ki sampai pada Ki Go-ceng, tiada seorang pun yang tidak mati dengan embunuh diri!”

“Jika mereka masuk ke sini dengan hidup, lalu membunuh diri dengan berduduk di kursi ini, mengapa jenazah mereka sampai sekarang belum lagi membusuk? Jelas jenazah ini telah diberi sesuatu obat. Kalau orang sudah mati, masa dapat menggunakan obat untuk mengawetkan jenazahnya sendiri?”

“Hal ini disebabkan ketika mereka bermaksud mati, sebelumnya mereka sudah minum semacam obat campuran dari berbagai jenis racun, di antara belasan macam racun ini satu sama lain bertentangan sehingga bekerjanya racun sangat lambat, akan tetapi dapat membuat otot daging mereka menjadi kaku sedikit demi sedikit, ketika anggota badan mereka sudah mati dan cuma tinggal kedua kaki saja yang dapat berjalan, lalu mereka masuk ke rumah ini dan berduduk di kursi batu untuk menanti datangnya ajal.”

Ki Leng-hong tersenyum tak acuh, katanya pula, “Begitulah mereka menganggap selama menanti datangnya kematian itu adalah saat orang hidup yang paling aneh dan menarik. Mereka menyaksikan sendiri anggota badan sendiri sedikit demi sedikit mulai kaku dan menjalar ke bagian lain, semua ini mereka anggap sebagai suatu kenikmatan yang sukar dicari, bahkan jauh lebih menyenangkan dari pada menyaksikan penderitaan orang lain. Maklumlah, mereka sudah terlampau banyak menyaksikan kematian orang lain, hanya menyaksikan kematiannya sendiri barulah dapat mendatangkan semacam rangsangan baru bagi kepuasan mereka.”

Di rumah hantu yang seram ini, siapa pun pasti akan mengkirik mendengar cerita yang aneh dan sukar dimengerti ini.

“Gila, benar-benar gila...” gumam Pwe-giok sambil memandangi mayat-mayat itu dengan bingung. “Pantas Ki-hujin bilang mereka semua orang gila, waktu hidup gila, sesudah mati juga gila.”

“Ya. sekujur badan mereka sudah dirembesi oleh racun yang aneh itu, maka jenazah mereka pun takkan busuk selamanya,” kata Leng-hong pula.

Cia Thian-pi merinding pula, ucapnya dengan gemetar, “Pantas tidak pernah ada orang hidup keluar dari rumah maut ini, kiranya mereka telah mengubur dirinya sendiri di sini.”

“Dan keadaan kita sekarang juga serupa mereka,” sambung Leng-hong dengan dingin, “terpaksa kita harus berduduk di sini untuk menunggu datangnya elmaut. Keadaan kita sekarang sama juga mengubur diri sendiri.”

Dia pandang jenazah Ki Go-ceng di sebelahnya, lalu menyambung pula dengan tenang, “Aku masih ingat pada hari dia mengubur dirinya sendiri. Pagi-pagi kami semuanya hadir di depan rumah ini untuk mengantar keberangkatannya, dengan langkah berat dia masuk kesini. Mendadak ia menoleh dan berkata kepada kami dengan tertawa, ‘Meski lahirnya kalian kelihatan berduka, namun di dalam hati kalian tentu menertawakan diriku sebagai orang bodoh. Padahal kalian tidak perlu pura-pura berduka, sebab selama hidupku justru tidak pernah segembira seperti sekarang ini.’...”

Sungguh Cia Thian-pi tidak ingin mendengarkan lagi, akan tetapi mau tak mau ia harus mendengarkan.

Ki Leng-hong telah menyambung pula, “Kami tidak ada yang berani menjawab, maka dengan tertawa dia berkata pula, ‘Kelak kalian akan tahu bahwa seorang kalau sudah mati akan jauh lebih gembira dari pada waktu hidup.’ – Waktu itu mukanya sudah mulai kaku, meski kedengaran dia tertawa, tapi air mukanya tiada sesuatu tanda tertawa, tampaknya menjadi sangat menakutkan. Tatkala mana Leng-yan baru berumur sepuluhan tahun, dia menangis ketakutan.”

Nyata Ki Leng-hong ini suka mencari kepuasan dengan berlaku sadis kepada orang lain, semakin sedih orang lain, maka semakin gembira dia. Sudah jelas orang lain tidak suka mendengar ceritanya, dia justru bercerita terus, bahkan bercerita secara hidup dan nyata.

Membayangkan ceritanya dan memandang pula mayat di hadapannya sekarang, tambah ngeri hati Cia Thian-pi, mendadak ia pun tertawa seperti orang gila, makin keras suara tertawanya dan tidak dapat berhenti.

“He, Cia-Cianpwe, kenapa kau?” seru Pwe-giok kuatir.

Tapi Cia Thian-pi masih terus tertawa, seperti tidak pernah mendengar teguran Pwe-giok itu. Cepat Pwe-giok mendekatinya lalu menggoyang tubuhnya, dilihatnya tertawanya yang terkial-kial itu benar-benar seperti orang gila.

Mendadak Pwe-giok menampar pipinya, dengan begitu tawa Cia Thian-pi baru berhenti, ia tercengang sejenak, tapi mendadak ia menangis tergerung-gerung.

“Saking ketakutan orang ini mungkin sudah menjadi gila,” ujar Leng-hong dengan tenang. “Gila juga baik, paling sedikit dia tidak perlu merasakan siksaan menanti ajal ini.”

Tiba-tiba Pwe-giok membalik tubuh dan menghadapi Ki Leng-hong, katanya tegas, “Meski pernah kau tolong aku satu kali, tapi sekarang aku pun sedang menunggu kematian, hal ini sama seperti jiwaku sudah kubayar kembali kepadamu. Selanjutnya kita sudah tiada utang-piutang lagi, sudah lunas. Dan kalau kau masih bertindak sesuatu yang menusuk perasaan orang, jangan kau salahkan diriku jika terpaksa aku bertindak kasar padamu.”

Ki Leng-hong memandangi Pwe-giok sejenak, akhirnya dia berpaling ke sana dan tidak bicara lagi.

Tanpa terasa Pwe-giok mengusap keringat di dahinya. Aneh, ia heran kenapa ia merasa kegerahan?

Rupanya di dalam rumah batu itu semakin panas rasanya, agaknya Ki Leng-hong juga merasakan hal ini, dia berseru, “He... api! Si gila itu hendak memanggang kita di sini.”

Benar juga, lubang kecil di atap itu tampak mulai berasap tipis.

“Rupanya dia kuatir kematian kita kurang cepat, maka ingin memanggang mati kita,” kata Leng-hong pula. “Padahal kalau kita jelas harus mati, bisa mati lebih cepat memang lebih baik.”

“Mengapa dia tidak mencari jalan yang lebih cepat?” ujar Pwe-giok dengan menyesal.

“Hm, masa kau belum paham?” jengek Leng-hong. “Kalau menggunakan cara lain, tentu mayat-mayat ini akan ikut rusak, selamanya dia menghormati orang mati, sudah tentu dia tidak mau membikin susah orang mati. Pula, orang mati kan juga tidak takut dipanggang dengan api, betul tidak?”

Sementara itu tangis Cia Thian-pi telah berhenti, dengan termangu-mangu ia memandang ke depan. Di depannya itu ialah mayat Ki Go-ceng, ia sedang bergumam sendiri, “Aneh... sungguh aneh...”

Sampai belasan kali ia bilang ‘aneh’, tapi tidak di gubris Pwe-giok mau pun Ki Leng-hong.

Saat itu Leng-hong lagi duduk diam seperti orang linglung, betapa pun dia juga orang she Ki, ia benar-benar seperti sedang menanti ajal, seolah-olah sedang merasakan nikmatnya menunggu kematian.

Sebaliknya Pwe-giok tidak dapat diam, betapa pun ia masih menaruh setitik harapan akan meloloskan diri dari tempat ini. Namun ‘rumah maut’ ini benar-benar sebuah kuburan, di dunia ini mana ada orang yang dapat keluar dari kuburan?

Sekonyong-konyong Cia Thian-pi menuding mayat Ki Go-ceng sambil tertawa terkekeh-kekeh, “Ha, coba kalian lihat, sungguh aneh, orang mati dapat berkeringat... Orang mati juga dapat berkeringat!”

Suara tertawanya yang keras itu menimbulkan gema suara yang nyaring di rumah batu itu.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas, ia menyesal sekali melihat ketua suatu perguruan ternama di daerah selatan ini kini benar-benar telah berubah menjadi orang gila. Mustahil, orang mati mana bisa berkeringat!

Dengan tak acuh ia melangkah ke sana dan tanpa terasa ia pun memandang sekejap pada mayat Ki Go-ceng itu.

DIlihatnya muka orang mati yang kelihatan dingin dan seram itu benar-benar merembes keluar butiran keringat sebesar kedelai.

Jadi orang mati ini benar-benar berkeringat!

Selama setengah bulan ini entah sudah betapa banyak kejadian aneh dan misterius yang dialami Pwe-giok, tapi tiada sesuatu yang lebih aneh dan menakutkan dari pada kejadian ini. Orang mati bisa berkeringat!

Dengan mata terbelalak ia pandang butiran keringat yang menetes dari muka orang mati ini. Ia menjadi ketakutan sehingga kaki dan tangan terasa lemas, sungguh ia pun hampir gila saking takutnya.

Mau tidak mau Ki Leng-hong juga memandang ke sana. Mendadak ia berteriak dengan gemetar, “He, dia benar-benar ber... berkeringat!”

Tapi jelas tidak masuk akal, orang mati mana bisa ketakutan? Orang mati mana bisa berkeringat?

Sungguh kejadian yang sukar dibayangkan dan siapa yang dapat memberi penjelasan mengenai rahasia ini?

Makin panas hawa di dalam rumah batu ini dan butiran keringat di muka orang mati ini pun semakin banyak.

Mendadak Pwe-giok berjingkrak sambil berteriak, “Ah, patung lilin, ternyata orang mati ini pun sebuah patung lilin!”

“Dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan dia masuk ke sini, mana bisa berubah menjadi patung lilin? ” ujar Leng-hong.

Pwe-giok terus melompat ke sana, dipuntirnya kepala ‘orang mati’ itu, seketika kepala orang mati itu copot. Benar, ‘orang mati’ ini memang betul cuma sebuah patung lilin.

Di tempat yang remang-remang dan seram, di tengah mayat tulen sebanyak ini, di dalam ‘rumah maut’ yang penuh dengan kisah yang menakutkan ini, dengan sendirinya tiada seorang pun yang tahu bahwa di antara mayat mayat ini ada sesosok mayat palsu.

Pwe-giok mengusap keringat yang membasahai tubuhnya, ia merasa lemas seperti sudah kehabisan tenaga.

Ki Leng-hong juga sangat kaget, ia meraung, “Ini bukan patung lilin, pasti bukan patung lilin, aku menyaksikan sendiri dia masuk ke sini!”

Memang, jika ini betul patung lilin, lalu ke mana perginya Ki Go-ceng?

“Setelah masuk kemari, bisa jadi dia telah keluar lagi.” ujar Pwe-giok dengan tersenyum getir.

“Mungkin dia tidak sungguh-sungguh minum racun itu, bisa jadi dia cuma pura pura mati,” kata Leng-hong. “Tapi setelah masuk ke sini pintu lantas digembok dari luar, hakikatnya dia tidak dapat keluar lagi... Dan kalau dia tidak dapat keluar, tentu dia akan mati di sini, mengapa sekarang bisa berubah menjadi patung lilin?”

Mendadak mata Pwe-giok bersinar, serunya, “DI rumah maut ini pasti ada lagi jalan keluar yang lain. Ki Go-ceng pasti keluar melalui jalan rahasia itu. Jika dia dapat keluar, tentu kita juga dapat keluar!”

Berpiki demikian, seketika terbangkit semangatnya, ia tidak peduli dinding sekeliling sudah terbakar panas, segera ia mulai menyelidiki.

Orang yang berasal dari perguruan ‘Bu-kek-bun’ sudah tidak asing lagi dengan ilmu alam dan ilmu pasti, terutama mengenai segala macam peralatan rahasia. Tapi Pwe-giok telah meneliti setiap pelosok rumah batu ini dan tetap tidak menemukan jalan keluarnya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner