RENJANA PENDEKAR : JILID-14


Baju Pwe-giok dari basah telah menjadi kering, sekarang matanya juga sudah merah dan bibirnya pecah karena hawa yang panas. Dengan napas terengah engah ia bergumam, “Di manakah jalan keluarnya...? Demi menipu orang dengan berpura-pura mati, sudah tentu Ki Go-ceng telah meyiapkan jalan keluarnya. Jika aku menjadi dia, di mana lubang keluar itu akan kubuat?”

“Setahuku di rumah maut ini tidak ada jalan keluar lagi,” kata Leng-hong.

“Ada, pasti ada.” ujar Pwe-giok “Kalau tidak, cara bagaimana Ki Go-ceng bisa keluar?”

Leng-hong termangu-mangu sejenak, katanya kemudian : Apakah tidak mungkin jika ada orang yang membukakan pintu dari luar dan melepaskan di dari sini?”

Pwe-giok seperti kena dicambuk orang satu kali, seketika ia melenggong dan tak sanggup bersuara lagi.

Memang betul, dengan sendirinya ada kemungkinan begitu. Orang semacam Ki Go-ceng ini, meski tidak nanti dia menghadapi kejadian yang sulit dipecahkan ini, Pwe-giok merasa apa yang dikatakan Ki Leng-hong itu terhitung yang paling masuk akal.

Apa lagi sesudah orang itu membukakan pintu, mungkin sekali Ki Go-ceng lantas segera membinasakan orang itu. Dengan demikian rahasia pribadinya akan tetap tertutup.

Berpikir sampai di sini, Pwe-giok benar-benar menjadi putus harapan.

Tetapi tiba-tiba terdengar Cia Thian-pi berteriak pula, “He, lihat aneh sekali, orang mati ini tidak kelihatan lagi, hilang sama sekali!”

Pwe-giok memandang lagi ke tempat mayat tadi. Benar saja, dilihatnya patung lilin tadi sudah cair seluruhnya, tapi cairan lilinnya ternyata tidak banyak, ke mana perginya cairan lilin itu?

Dalam benak Pwe-giok terkilas sesuatu, ia coba mendekati kursi batu itu lalu diperiksanya dengan teliti, dan mendadak ia berseru girang, “Aha, dugaanku ternyata tidak meleset. Di rumah maut ini memang betul ada jalan keluar lainnya, jalan keluar itu terletak di bawah patung lilin ini, di bawah kursi batu ini.”

Kiranya di bawah kursi batu itu ada sebuah lubang kecil dan cairan lilin itu justru mengalir keluar melalui lubang kecil ini. Tapi lubang ini sangat kecil, hanya cukup dimasuki dua jari, cara bagaimana manusia dapat menerobos keluar?

“Hm, kukira lebih baik metunggu kematian dengan tenang saja.” jengek Ki Leng-hong. “Jika di bawah kursi ini terdapat jalan keluar, sesudah Ki Go-ceng pergi, cara bagaimana patung lilin dapat berduduk di atas kursi ini, memangnya patung dapat berduduk dengan sendirinya?”

Gemeredep sinar mata Pwe-giok, katanya kemudian, “justru Ki Go-ceng telah memperalat titik ini untuk mengelabui orang, biar pun orang menemukan rahasia patung lilin juga tidak menyangka jalan keluar itu terletak di bawah patung.”

“Apa pun juga, kalau tidak dipindahkan orang, tidak mungkin patung ini dapat berduduk di datas kursi, untuk ini tidak nanti kau dapat memberi penjelasan,” kata Leng-hong.

“Tapi lubang kecil ini dapat memberi penjelasan,” ujar Pwe-giok.

“Lubang kecil ini?” Leng-hong menegas.

“Ya,” jawab Pwe-giok. “Pada saat Ki Go-ceng membuat patung ini, dia benamkan seutas tali di bagian pantat patung ini, lalu tali itu menyusup ke dalam lubang ini. Waktu dia masuk ke lorong di bawah dan tutup lubang dirapatkan kembali, tali ini lantas ditariknya sehingga patung lilin ini diseretnya berduduk di atas kursi.”

“Ya, betul juga, cara ini memang sangat pintar dan bagus.” seru Leng-hong.

“Cara berpikir Ki Go-ceng yang rapi dan bagus sungguh sukar dibandingkan siapa pun,” ujar Pwe-giok. “Cuma sayang, betapa pun rapi perhitungannya tetap tidak pernah terpikir olehnya bahwa rumah ini bakal dipanggang dengan api dan patung lilin ini akhirnya akan cair, sudah tentu mimpi pun tak pernah terpikirkan olehnya bahwa lubang kecil yang tidak ada artinya ini akhirnya dapat membocorkan seluruh rahasianya.”

Ki Leng-hong berdiam sejenak, kemudian dia menghela napas panjang dan berkata, “Ai, kau memang jauh lebih pintar dari pada apa yang pernah kusangka, sungguh cerdik…!”

********************

Papan batu di bawah patung lilin itu memang dapat digeser, di bawahnya memang betul ada sebuah lorong yang gelap.

Pwe-giok menarik napas lega, katanya, “Akhirnya diketahui ada orang hidup yang keluar dari rumah maut ini, bahkan tidak cuma satu orang saja.”

Kini Ki Leng-hong tidak dapat omong lagi, ia hanya ikut masuk ke lorong di bawah tanah itu.

Dengan memayang Cia Thian-pi, Pwe-giok terus merayap ke depan. Lorong ini panjang lagi berkelok-kelok, dengan sendirinya gelap gulita pula, jari sendiri saja tidak kelihatan.

Akhirnya mereka dapat lolos keluar. Tapi siapa yang berani menjamin bahwa jalan tembus ini adalah tempat yang aman? Bisa jadi lorong ini menembus juga ke kamar tidur Ki-hujin sana.

Baru saja Pwe-giok berpikir demikian, tiba-tiba tampak cahaya lampu di depan amat jelas di tempat gelap begini. Di tempat yang ada cahaya lampu pasti juga ada manusianya.

Pwe-giok melepaskan pegangannya pada Cia Thian-pi lantas cepat melompat ke sana. Siapa pun yang dipergoki, setiap saat dia siap merobohkannya dengan sekali hantam. Tapi mendadak Pwe-giok melihat lampu itu adalah lampu yang dibawanya masuk itu.

Pada saat dia ditarik masuk ke kamar Ki-hujin, lampu ini masih tertinggal di sini dan juga belum dipadamkan, jadi lorong ini memang betul jalan yang menembus ke kamar tidur Ki-hujin.

Ternyata baik kamar tidur Ki-hujin mau pun rumah berdinding kertas dengan kasuran bundar serta rumah mati yang misterius itu satu dengan lain ditembusi oleh jalan di bawah tanah ini.

Sudah banyak pengalaman pahit Pwe-giok dan hidup menuju kematian telah dijalaninya. Setelah berputar-putar akhirnya dia tiba kembali di tempat semula. Sungguh ia tidak tahu mesti tertawa atau menangis?!

Ki Leng-hong telah datang pula, ia pun melenggong.

Pwe-giok bergumam, “Menurut pikiranku, jalan di bawah tanah ini selain menembus ke kamar Hujin serta rumah berdinding kertas itu, pasti ada pula jalan keluar keempat.”

“Berdasarkan apa kau bilang demikian?” tanya Leng-hong.

“Sebab Ki Go-ceng dan orang she Ji itu tidak nanti keluar melalui kamar tidur Ki-hujin,” tutur Pwe-giok. “Mereka lebih-lebih tidak mungkin keluar melalui rumah berdinding kertas itu. Makanya kuyakin di sini pasti ada jalan keluar keempat.”

“Ha, jika begitu, kau kira di mana letak jalan keluar keempat itu?” kata Leng-hong dengan girang.

Pwe-giok mengangkat lampu minyak itu dan menyusur ke depan dengan perlahan. Jalan ini kembali menuju ke bawah rumah berdinding kertas itu. Tidak jauh, tiba-tiba ia berpaling dan bertanya kepada Ki Leng-hong, “Apakah kau tahu kapan orang she Ji itu datang ke Sat-jin-ceng sini?”

“Tentu saja kuingat dengan jelas,” jawab Leng-hong. “Hari itu adalah hari ketiga setelah Ki Go-ceng mulai minum racun, yaitu hari ketiga lewat tahun baru. Jadi tepat pada hari tahun baru dia mulai minum racun, tujuannya membikin kegembiraan akan bertambah dengan sedikit rasa duka.”

“Jadi Ce-it (tanggal satu) dia mulai minum racun, lalu hari apa dia masuk ke rumah mati itu?” tanya Pwe-giok.

“Itulah hari Cap-go-meh,” jawab Leng-hong. “Dimulai Ce-it hingga Cap-go-meh, segenap penghuni Sat-jin-ceng sama sibuk membereskan urusan kematiannya sehingga orang pun tidak memperhatikan orang she Ji itu.”

Sementara itu mereka sudah sampai di ruangan kecil di bawah rumah kertas itu, kantung bersulam indah yang berisi sepotong kemala berukir itu masih terletak di tempat tidur, patung lilin Ki Go-ceng juga masih di situ dan seakan-akan sedang memandang mereka.

Mendadak Cia Thian-pi tertawa terkekeh-kekeh pula, serunya, “Pantas saja orang mati itu menghilang, kiranya dia mengeluyur ke sini...”

Pwe-giok ambil batu Giok itu dan termangu-mangu, katanya kemudian, “Kukira orang she Ji itu tidak mengeluyur pergi, Ki-hujin telah salah sangka padanya.”

“Apa alasanmu kau bilang demikian?” tanya Leng-hong heran.

“Waktu kulihat batu Giok ini, aku menjadi heran,” tutur Pwe-giok. “Seumpama orang she Ji itu tidak sayang pada kantung bersulam ini, tidak seharusnya dia meninggalkan batu pualam ini di sini.”

“Ya, tampaknya benda ini adalah benda pusaka keluarganya, bisa jadi dia pergi dengan tergesa-gesa, makanya tertinggal di sini,” kata Leng-hong.

“Tidak, tatkala itu tiada orang tahu rahasia lobang di bawah tanah ini, jika dia menemukan jalan tembus keempat, tentu dia bisa mengeluyur pergi dengan bebas, kenapa dia harus tergesa-gesa; kecuali...”

“Kecuali apa?” tanya Leng-hong.

“Kecuali kepergiannya itu bukan kehendak sendiri melainkan dipaksa orang,” jawab Pwe-giok.

Ki Leng-hong melenggong, katanya kemudian, “Jadi maksud... maksudmu orang she Ji itu telah dipergoki oleh Ki Go-ceng?”

“Kupikir pasti begitu,” kata Pwe-giok. “Waktu Ki Go-ceng menyusup masuk ke lorong ini dan mengetahui di tempat yang dirahasiakan ini ternyata ada orang luar, tentu saja dia tidak tinggal diam, mana bisa dia membiarkan ada orang kedua yang mengetahui rahasia kematiannya yang pura-pura.”

“Jika demikian, jadi orang the Ji itu bukan cuma dipaksa pergi olehnya, bahkan mungkin sekali telah dibunuhnya untuk menghilangkan saksi?!”

“Ya, kurasa Ki Go-ceng pasti telab membunuhnya,” ucap Pwe-giok.

Sampai lama Ki Leng-hong terdiam, katanya kemudian, “Jika dia (maksudnya Ki-hujin) mengetahui si dia sudah mati, bisa jadi dia takkan begitu berduka dan sedih...”

“Masa dia tak akan bertambah sedih jika dia mengetahui kekasihnya sudah mati?” tanya Pwe-giok dengan heran.

Ki Leng-hong tersenyum pedih, jawabnya, “Tahukah kau apa yang menjadi penderitaan terbesar bagi seorang perempuan?”

Dia tidak menunggu jawaban Pwe-giok, namun lantas dijawabnya sendiri, “Yaitu ditinggal oleh orang yang dicintainya. Penderitaan ini bukan saja sangat hebat, bahkan tak mungkin terlupakan selama hidup. Bahwa kekasihnya itu sudah-mati, walau pun dia akan sedih juga tapi hampir tiada artinya jika dibandingkan penderitaan seperti kalau ditinggal pergi. Sebab itulah ada sementara orang perempuan yang tidak sayang membunuh kekasih sendiri, yaitu karena kuatir sang kekasih akan menyukai perempuan lain. Jadi dia lebih suka kekasihnya mati dari pada jatuh ke dalam pelukan wanita lain.”

“Jika demikian, apa bila dia mengetahui kekasihnya sudah mati, ia berbalik akan rnerasa senang?”

“Ya, akan jauh lebih senang,” kata Leng-hong.

“Ai, jalan pikiran orang perempuan sungguh sukar untuk dipahami kaum lelaki,” ujar Pwe-giok sambil menggeleng.

“Lelaki memang tidak seharusnya memahami alam pikiran perempuan dan perempuan juga bukan dilahirkan untuk dipahami orang, tapi supaya dihormati dan dicintai,” jengek Leng-hong.

Pwe-giok tidak menanggapi gadis itu lagi. Sambil memegang lampu minyak itu, dia mulai menyelidiki sekitar tempat itu. Ia yakin jalan keluar keempat pasti berada di dekat tempat tidur itu. Namun dia tidak menemukannya, sementara itu minyak sudah habis, akhirnya lampu itu padam.

Pwe-giok menghela napas, gumamnya, “Tampaknya sekali pun di lorong bawah tanah ini memang ada jalan tembus keempat, tapi dalam keadaan gelap gulita begini jangan harap akan dapat menemukannya.”

“Padahal, tanpa perlu kau cari jalan tembus keempat itu pun kita tetap dapat keluar dari sini,” kata Leng-hong tiba-tiba.

“He, kau punya akal?” tanya Pwe-giok cepat.

“Kukira asalkan kau sanggup membuktikan orang she Ji itu sudah mati, tentu Hujin takkan benci lagi padamu, bisa jadi dia akan segera melepaskan kau,” kata Leng-hong.

Belum lagi Pwe-giok menjawab, mendadak dalam kegelapan ada seorang menanggapi, “Tidak, cara ini tidak tepat.”

“Mengapa tidak tepat?” tanya Leng-hong.

“Jika Ji Pwe-giok sudah mati, cara bagaimana dapat keluar lagi dengan hidup?” ujar orang itu.

Baru sekarang Ki Leng-hong mengenali bahwa suara itu bukan suara Ji Pwe-giok, juga bukan suara Cia Thian-pi. Seketika dia berkeringat dingin dan berteriak tertahan, “Sia... siapa kau?”

“He-he-he-he, masa suaraku saja tidak kau kenal lagi?” ucap orang itu dengan tertawa.

“Cras,” dalam kegelapan menyala sinar api, lalu tertampaklah seraut wajah tua dan kurus penuh bekas penderitaan hidup.

“Ko-lothau!” seru Pwe-giok dan Leng-hong berbareng. “Kenapa kau bisa masuk ke sini?”

Wajah si Ko tua yang kurus pucat itu tampaknya juga misterius di bawah cahaya lampu yang gemerdep di lorong bawah tanah ini. Dia pandang Ki Leng-hong dan tersenyum penuh rahasia, katanya, “Ya, si Ko tua yang biasa bekerja sebagai tukang kayu mana bisa datang ke sini? Tetapi selain Ko tua yang kau ketahui, adakah hal lain yang kau ketahui mengenai diriku?”

Mendadak Ki Leng-hong merasakan sorot mata si kakek memancarkan semacam sinar tajam yang belum pernah dilihatnya, maka tanpa kuasa ia menyurut mundur dan berkata dengan suara gemetar, “Sesungguhnya sia... siapa kau?”

Perlahan-lahan Ko-lothau melangkah lewat di depan Leng-hong. Dia taruh lampu yang dipegangnya di atas almari kecil di ujung tempat tidur sana, sesudah itu mendadak dia membalik tubuh dan memandang si nona dengan sorot mata gemerdep, “Aku inilah orang yang membikin Ki Go-ceng tidak dapat tidur dengan lelap dan tidak dapat makan dengan enak, aku inilah yang membuat Ki Go-ceng merasa tak dapat hidup lebih lama lagi...”

“O, sebabnya Ki Go-ceng terpaksa berlagak merenungkan dosanya di rumah kertas dan terpaksa pura-pura mati, semua itu lantaran dia takut padamu?” seru Pwe-giok.

“He-he-he, kau pun tidak menyangka bukan?” kata Ko-lothau dengan tertawa. “Ya, siapa pun pasti tidak menduga bahwa orang yang paling ditakuti Ki Go-ceng selama ini ternyata adalah seorang tua bangka macam aku ini.”

“Apakah... apakah dia sudah tahu siapa dirimu?” tanya Leng-hong terkejut.

“Sudah tentu dia tahu siapa diriku,” jengek Ko-lothau, “akan tetapi justru dia tidak berani membongkar hal ini, maka terpaksa dia berlagak bodoh dan pura-pura tidak tahu, sebab ia pun tahu sudah lama kuketahui rahasianya.”

“Rahasia apa?” tanya Leng-hong.

“Lebih 20 tahun yang lampau di dunia Kangouw mendadak terjadi banyak peristiwa yang mengguncangkan. Ada pencurian benda pusaka secara besar-besaran dan banyak tokoh ternama terbunuh secara gaib. Si pencuri dan pembunuh itu sangat tinggi kungfunya, apa yang diperbuatnya itu pun sangat bersih tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Meski dunia persilatan waktu itu telah mengerahkan berpuluh tokoh pilihan untuk menyelidikinya, namun tidak dapat menemukan jejaknya. Maklum, siapa pun tidak menyangka orang yang melakukan hal-hal itu adalah Ki Go-ceng yang lagi merenungkan dosanya di rumah kertas dan diketahui tidak pernah keluar rumah sepanjang tahun.”

“Memangnya sudah kuduga apa yang dilakukannya itu pasti mempunyai intrik tertentu,” kata Pwe-giok, ia sangat tertarik oleh cerita si Ko tua.

“Tetapi kalau kau bilang dia adalah pembunuh dan pencuri, jelas aku tak percaya,” kata Leng-hong.

“Ya, bukan kau saja yang tidak percaya. Jika kuceritakan pada waktu itu, di seluruh dunia mungkin juga tiada seberapa orang yang mau percaya,” ujar Ko-lothau dengan gegetun. “Nah, demi membongkar rahasia inilah terpaksa aku menyelundup ke Sat-jin-ceng sini.”

“Kau bilang waktu itu dia sudah tahu siapa dirimu?” tukas Leng-hong. “Jika begitu kenapa dia dapat membiarkan kau tinggal di Sat-jin-ceng dan mengapa tidak dia bunuh dirimu.”

“Jika dia tidak membiarkan aku tinggal di sini, bukankah makin menandakan dia bersalah sehingga takut diketahui orang?” ujar Ko-lothau. “Dan kalau dia bunuh diriku, bukankah akan lebih membuktikan dosa-dosanya? Segala sesuatu selalu dipikirkannya dengan rapi, selamanya dia tidak suka menyerempet bahaya dan main untung-untungan, maka dengan sendirinya ia pun tidak mau mengambil resiko dalam persoalan diriku ini. Makanya meski dia tahu kedatanganku ini sengaja hendak mengawasi gerak-geriknya, terpaksa dia tetap pura-pura tidak tahu.” Ia tertawa, lalu menyambung pula, “Jika tidak demikian, mana bisa Sat-jin-ceng mau menerima seorang tua bangka yang tidak diketahui asal-usulnya.”

“Jadi menurut perhitunganmu, meski dia tahu kedatanganmu ini hendak mengawasi dia, tapi dia berbalik terpaksa harus menerima kau di sini. Meski pun langkah ini amat bagus, tetapi sesudah dia tahu siapa dirimu, bukankah setiap saat dia dapat berjaga-jaga segala kemungkinan? Mana bisa dia memperlihatkan rahasianya di depanmu?” tanya Pwe-giok.

“Sekali pandang saja dia dapat mengetahui asal usul orang lain. Orang pintar seperti dia, mau semudah itu orang hendak membongkar rahasianya? Maka setibaku di sini, segera kusadari jika semua peristiwa yang tiada buktinya takkan terpecahkan untuk selamanya,” jawab Ko-lothau sambil menghela napas.

“Jika demikian, untuk apa lagi kau tinggal di sini selama ini?” kata Leng-hong.

“Selama aku tinggal di sini, memang rahasianya tidak dapat kubongkar, tetapi sedikitnya dapat kuawasi gerik-geriknya agar dia tidak berani lagi keluar dan berbuat jahat,” tutur Ko-lothau. “Dan memang, sejak aku tinggal di sini, segala perbuatan yang menggernparkan dunia Kangouw itu lantas lenyap dan tidak pernah terjadi lagi.”

“Demi untuk mencegah terjadinya kejahatan, Cianpwe sudah mengorbankan nama serta kedudukan sendiri, rela menjadi budak orang, sungguh keluhuran budi dan kebesaran jiwa Cianpwe ini sukar dicari bandingannya,” puji Pwe-giok dengan gegetun.

Tanpa terasa timbul rasa muram pada wajah Ko-lothau, selama hampir 20 tahun ini tentu dilewatkannya dengan susah-payah. Tetapi rasa muram itu hanya sekilas saja menghiasi wajahnya dan segera lenyap. Dia lantas bergelak tertawa dan berkata, “Meski aku telah mengorbankan kenikmatan hidupku sendiri dan melewatkan hari-hari sengsara selama ini, tapi aku pun berhasil memaksa Ki Go-ceng dari pura-pura menjadi sunggguhan, mau tak mau ia menderita juga di rumah kertas itu. Jadi pengorbananku ini terasa cukup berharga juga.”

“O, lantaran dia tidak mampu membunuh dirimu dan juga tidak dapat kabur, akhirnya terpaksa ia pura-pura mati!” kata Pwe-giok.

“Ya, ambisinya sangat besar, dengan sendirinya ia tidak rela mengakhiri hidupnya secara begitu,” tutur Ko-lothau. “Mungkin setelah dipikirnya, akhirnya didapatkan akal pura-pura mati itu. Meski kutahu dia pasti tidak rela mengeram di rumah kertas itu, tapi tak terduga olehku bahwa dia akan mengelabui diriku dengan akal bulusnya itu.”

“Setelah kena diakali, mengapa kau tidak pergi?” tanya Leng-hong.

“Meski waktu itu dia dapat mengelabui diriku, tapi kemudian kupikir dalam urusan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres, sebab kutahu Ki Go-ceng bukanlah manusia yang mudah menyerah dan rela mati begitu saja, apa lagi...” tersembul senyuman pahit pada ujung mulut si Ko tua, lalu sambungnya dengan perlahan, “Semenjak kecil aku sudah terbiasa terluntang-lantung kian kemari, belum pernah aku berdiam pada suatu tempat lebih dari setengah tahun. lapi di sini, tanpa terasa aku telah tinggal sekian tahun, kehidupan yang sederhana ini terasa sudah biasa bagiku, bahkan rasanya sangat enak. Aku sendiri tidak berkeluarga, tidak punya anak isteri, kusaksikan kalian meningkat dewasa, diam-diam aku pun bergembira, makanya...”

“Hm, tidak perlu kau bergembira bagi kami,” jengek Ki Leng-hong. “Kau pergi atau tidak, sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan diriku, kau pun tidak perlu menggunakan diriku sebagai alasan. Kini maksud tujuanmu tinggal di sini sudah tercapai, maka selanjutnya aku tidak kenal lagi padamu.”

Ko-lothau terdiam sejenak, ucapnya kemudian sambil menarik napas panjang, “Ya, betul, setelah maksud tujuanku tinggal di sini sudah tercapai, akhirnya sudah kubuktikan Ki Go-ceng belum lagi mati, selanjutnya aku perlu mengembara lagi ke mana-mana, akan kucari pula jejaknya. Selama belum kutemukan dia, sebelum kusaksikan dia mati di hadapan mataku, selama itu pula aku tidak rela.”

“Hm, setelah dia pergi, mungkin selamanya jangan harap dapat kau temukan dia,” jengek Leng-hong pula.

“Betul juga, jika seterusnya dia mengasingkan diri dan hidup di tempat jauh, tentu dia tak dapat kutemukan lagi. Tapi bila dia melakukan sesuatu kejahatan, segera pula aku dapat menemukan jejaknya. Sedangkan orang macam dia itu jelas tidak rela hidup kesepian.”

Kembali sorot matanya memancarkan sinar yang sangat tajam, jago tua yang sudah lama mengasingkan diri ini kini mendadak telah berubah menjadi kereng dan bersemangat lagi.

Akhirnya Ki Leng-hong tidak tahan, ia bertanya, “Sesungguhnya siapa kau?”

Ko-lothau tersenyum, jawabnya, “Jika selanjutnya kau tidak mau kenal lagi padaku, untuk apa pula kau tanya siapa diriku?”

Ki Leng-hong melengos ke sana dan tidak memandangnya lagi.

Padahal tanpa bertanya pun dia sudah tahu, orang yang dapat membuat Ki Go-ceng takut mustahil tiada mempunyai kisah hidup yang gemilang dan asal-usul yang luar biasa…..

********************

Sesungguhnya siapakah Ko-lothau ini dan bagaimana asal-usulnya…?

Ke mana perginya Ki Go-ceng...?

Semua itu tidak diperhatikan oleh Pwe-giok, yang sedang dipikirnya hanya satu soal saja. Dia memandang sekelilingnya, akhirnya ia bertanya,

“Entah dari manakah Cianpwe masuk ke sini?”

“Kudengar kau sudah mati. Aku jadi ingin tahu cara bagaimana kau mati, maka diam-diam kumasuki kamar Ki-hujin, di situlah tanpa sengaja kutemukan jalan rahasia di balik almari itu. Padahal almari itu selamanya tertutup, entah mengapa sekarang telah terbuka.”

Kiranya seperginya Ji Pwe-giok, Ki-hujin telah lupa menutup kembali almarinya.

Terbelalak Pwe-giok demi mendengar keterangan ini, serunya, “He, jadi pada saat ini di kamarnya tiada orang?”

“Kau ingin keluar melalui sana?” tanya Ko-lothau.

“Jika mereka menyangka aku sudah mati, tentu mereka tidak lagi mengawasi diriku, maka kesempatan ini dapat kugunakan untuk kabur,” kata Pwe-giok.

“Bila kau sudah mati, mana dapat keluar lagi dengan hidup?” bentak Ko-lothau mendadak dengan bengis.

“Jadi maksud Cianpwe...” Pwe-giok melengak dan tak dapat melanjutkan.

“Apa maksudku, masa kau tidak paham?” kata Ko-lothau dengan sinar mata gemerdep, seperti tanpa sengaja ia melirik sekejap ke arah patung lilin Ki Go-ceng.

Mendadak Pwe-giok sadar, serunya, “Aha, betul, jika Ki Go-ceng dapat mengelabui orang dengan pura-pura mati, mengapa aku tidak boleh? Di dunia ini mana ada penyamaran lain yang lebih mudah menghindari pengejaran serta untuk alat penyelidikan rahasia orang lain dari pada pura-pura mati?”

“Bagus, akhirnya kau paham juga,” ujar Ko-lothau dengan tersenyum puas. “Pendek kata, ada permusuhan apa pun juga kau dengan orang lain, asal sudah mati, orang lain takkan mengusut lebih lanjut. Jika kau hendak menyelidiki rahasia orang lain, sesudah kau mati, tentu orang takkan berjaga-jaga lagi akan dirimu.”

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Pantas ketika Ki Go-ceng masuk ke rumah mati itu dia sengaja bilang bahwa kematian seorang akan jauh lebih menggembirakan dari pada hidup. Kiranya di balik ucapannya ini terkandung makna yang amat dalam, cuma sayang waktu itu tiada seorang pun yang paham maksudnya.”

“Tapi sayang, orang lain sama kenal kau sebagai Ji Pwe-giok,” tiba-tiba saja Leng-hong menjengek.

“Ya, betul juga,” jawab Pwe-giok dengan menyengir. “Meski aku dapat berpura-pura mati, tapi wajahku tak dapat mengelabui orang.”

Tapi Ko-lothau tidak menanggapi, ucapnya dengan tenang, “Tuhan menciptakan manusia dengan pintar dan bodoh, cakap dan buruk, tapi tidak pernah menciptakan manusia yang sempurna. Melulu bicara tentang lahiriah saja, sekali pun lelaki cakap yang sama-sama diakui umum pasti juga terdapat sesuatu ciri, dari jaman dahulu hingga kini, baik lelaki mau pun perempuan tidak pernah ada sebuah wajah yang sempurna.”

Ia menatap tajam-tajam muka Pwe-giok, kemudian menyambung pula dengan perlahan. “Misalnya dirimu, kau pun terhitung seorang |elaki cakap, tapi alismu terasa terlalu tebal, matamu rada kekecilan, hidungmu kurang tegak, dan ujung mulutmu juga terasa kurang serasi.”

Pwe-giok tidak tahu mengapa orang tua itu mendadak bicara seperti tukang Kwamia atau tukang nujum di tepi jalan, terpaksa ia cuma menyengir dan menjawab dengan tergagap-gagap, “Ah, mana Wanpwe dapat dianggap orang cakap?”

“Bila mana batiniah seseorang ada cirinya, maka siapa pun tak berdaya memperbaikinya,” kata Ko-lothau pula. “Tetapi kekurangan pada lahiriah, betapa pun dapat ditambal. Sudah lama terkandung niatku hendak menciptakan seorang yang paling cakap, hanya saja aku ingin mencari seorang model yang cocok dan inilah yang sukar. Sebab, betapa pun kita tidak dapat menjadikan seorang yang sumbing atau seorang yang juling untuk berubah menjadi lelaki yang sempurna.”

Sorot matanya yang amat tajam kembali menatap Pwe-giok kemudian menyambung pula, “Sedangkan kau baik lahiriah mau pun tutur-katamu sudah terhitung mendekati sempurna, ciri pada wajahmu juga tidak sulit diperbaiki. Sudah sekian tahun kucari, akhirnya. kutemui dirimu.”

“Memangnya Cianpwe bermaksud meng... mengubah diriku menjadi lelaki cakap?” tanya Pwe-giok dengan terkejut.

“Menjadi lelaki cakap akan banyak manfaatnya,” ujar Ko-lothau dengan tersenyum. “Bisa menjadi lelaki cakap yang sempurna terlebih banyak lagi manfaatnya. Umpamanya, paling tidak setiap perempuan di dunia ini pasti tidak tega mencelakai dirimu lagi.”

“Tapi... tapi terhadap wajahku sekarang ini Wanpwe sudah cukup puas,” seru Pwe-giok.

Ko-lothau tidak menghiraukan, sambil tersenyum ia berkata pula, “Manfaat lain sementara tak perlu kukatakan, manfaat yang paling besar adalah selanjutnya tidak bakal ada orang yang kenal kau sebagai Ji Pwe-giok lagi.”

Pwe-giok melengak bingung, katanya dengan tergegap, “Tapi... tapi dengan wajah yang begitu cakap kan lebih mudah menarik perhatian orang?”

“Karena terpengaruh oleh kecakapan wajahmu, terhadap setiap tindak-tandukmu orang akan menjadi kurang memperhatikannya,” kata Ko-lothau. “Dengan demkian, andaikan dalam gerak-gerik atau tutur katamu ada sesuatu yang tidak betul juga tidak perlu kuatir.”

Pwe-giok berpikir sejenak, akhirnya ia menghela napas panjang dan menjawab, “Baiklah, jika demikian, Wanpwe terpaksa menurut saja.”

Waktu menengadah, dilihatnya Cia Thian-pi masih memandangi patung lilin itu dengan termangu-mangu linglung, sedangkan Ki Leng-hong menghadap ke dinding, terhadap apa yang dipercakapkan Pwe-giok dan Ko-lothau itu dianggapnya seperti tidak melihat dan tidak mendengar.

Lorong di bawah tanah yang kelam itu mendadak terang lagi.

Ko-lothau sudah keluar satu kali, kembalinya sudah membawa bahan makanan dan air minum serta cukup banyak lilin berikut dua buah cermin tembaga. Tersorot oleh cahaya lampu, cermin tembaga itu kelihatan bertambah terang.

Pwe-giok berbaring di tempat tidur, Ko-lothau menutupi muka anak muda itu dengan sepotong kain belacu yang basah, terasa bau obat yang menusuk hidung, seketika Pwe-giok kehilangan ingatan. Dalam keadaan sadar tak sadar sempat didengarnya Ko-lothau lagi berkata, “Tidurlah sepuasnya, sesudah kau mendusin nanti, jadilah kau lelaki cakap yang paling sempurna dan tiada bandingannya…..”

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner