RENJANA PENDEKAR : JILID-15


Entah sudah berapa lama Pwe-giok tertidur nyenyak. Waktu mendusin, mukanya masih terbalut oleh kain basah. Tujuh hari kemudian barulah pembalut itu dibuka.

Ko-lothau menatap wajah Pwe-giok dengan seksama, mirip seorang pelukis yang sedang meneliti buah karyanya dengan sorot mata yang penuh rasa puas dan bangga, lalu dia bergumam, “Dengan wajahmu ini, siapa pula yang sanggup menemukan setitik cirinya? Sudah barang tentu melulu wajahmu ini pun belum cukup, dengan sendirinya masih ada lainnya, sedangkan kau...” dia tepuk pundak Pwe-giok dan berkata pula dengan tertawa, “Kebetulan juga sejak kecil kau telah mendapatkan pendidikan kekeluargaan dan sudah biasa sopan santun dan lemah lembut, lagi pula dari pengalamanmu yang telah kenyang menghadapi berbagai macam bahaya kau lebih terbiasa bersikap tenang dan sewajarnya. Kalau tidak berpengalaman seperti kau dan menganggap mati dan hidup sebagai kejadian yang sepele, tentu kau takkan sedemikian sempurna...”

“Betul, dengan gabungan semua itu, engkau memang cukup memikat setiap anak gadis di dunia ini,” jengek Ki Leng-hong mendadak. “Sungguh aku pun amat bangga bisa memiliki anak buah semacam kau, tak perlu kuatir lagi usahaku takkan berhasil.”

“Siapa yang kau anggap anak buah?” tanya Ko-lothau dengan tercengang.

“Ji Pwe-giok,” jawab Leng-hong pula. “Dengan sendirinya termasuk kau juga.”

Ko-lothau memandangi nona itu dengan terkesima, seperti memandang makhluk yang aneh.

Ki Leng-hong menjengek pula, “Hm, kalau kalian tidak tunduk kepada perintahku, segera akan kubongkar rahasia kalian agar usahamu sia-sia, agar Ji Pwe-giok segera mati.”

“Jika demikian, lekas kau keluar dan beri-tahukan kepada orang, silakan!” kata Ko-lothau sambil menghela napas panjang.

Sekali ini Ki Leng-hong melenggong sendiri ucapnya, “Kau... kau suruh aku membongkar rahasiamu kepada orang lain?”

Ko-lothau tersenyum, katanya, “Dan tak akan kau lakukan, bukan? Aku tahu betul, meski lahirnya kau kelihatan bengis, padahal hatimu jauh lebih bajik dari pada apa yang kau bayangkan sendiri. Sejak kecil kusaksikan kau meningkat dewasa, masa aku tidak paham dengan pribadimu?”

Leng-hong termenung hingga lama, mendadak dia menerjang keluar. Akan tetapi baru beberapa langkah mendadak dia mendekap di dinding dan menangis tergerung-gerung.

Ko-lothau mendekatinya dan membelai rambutnya perlahan, ucapnya, “Anak yang baik, agaknya kau pandang segala urusan secara bersahaja. Hendaknya kau tahu, sekali pun kau ingin menjadi orang jahat juga bukan perbuatan yang mudah. Kadang untuk menjadi orang jahat malahan jauh lebih sulit dari pada menjadi orang baik.”

Pwe-giok berbangkit, dirasakan mukanya rada gatal. Baru saja ia hendak menggaruknya, mendadak Ko-lothau menarik tangannya dan berkata, “Dalam waktu tiga hari belum boleh kau raba mukamu, sebaiknya juga jangan terkena air.”

“Masa aku masih harus menunggu tiga hari di sini?” tanya Pwe-giok.

“Tampaknya kau tidak sabar menunggu lagi, boleh kau keluar saja kalau mau,” kata Ko-lothau. “Cuma kau harus hati2..., Ya, sesungguhnya aku pun tidak sabar ingin kau dilihat orang lain, agar seluruh umat manusia di dunia ini mengetahui bahwa lelaki paling cakap dan sempurna di dunia kini telah lahir!”

Dia memutar kasuran yang menutupi lobang keluar itu, maka cahaya lantas menerangi wajah Ji Pwe-giok.

Sekuatnya Ko-lothau menepuk pula pundak Ji Pwe-giok, katanya sambil tertawa, “Kenapa tidak lekas kau keluar?”

“Aku boleh... boleh keluar sekarang juga?” tanya Ji Pwe-giok dengan ragu2.

“Mengapa tidak?” jawab Ko-lothau dengan tertawa. Hendaklah kau tahu, selanjutnya tidak perlu lagi kau takut bertemu dengan siapa pun, seterusnya tiada orang yang mengenal kau lagi.”

Pwe-giok memandangi Cia Thian-pi sekejap, dilihatnya ketua Tiam-jong-pay itu masih terus bergumam, “Orang mati bisa berkeringat... orang mati telah menghilang...”

Pedih juga hati Pwe-giok. Dia pegang tangan Cia Thian-pi, katanya dengan menyesal, “Cianpwe, engkau...”

“Tak perlu kau pikirkan dia,” seru Leng-hong mendadak sambil berpaling, “Karena aku yang mengakibatkan dia gila, dengan sendirinya akan kujaga dia. Di Sat-jin-ceng ini tiada orang lain yang akan tahu rahasiaku, juga tidak bakal ada orang yang menemukan dia.

“Jadi nona sendiri masih akan berdiam di Sat-jin-ceng sini?” tanya Pwe-giok.

“Mengapa tidak?” jawab Leng-hong ketus.

“Tapi Ki Song-hoa...” Pwe-giok ragu2 untuk meneruskan.

“Hm, kalau dia tahu aku belum mati, asal melihat mukaku mungkin akan lari terbirit-birit, mana dia berani mencari perkara lagi padaku,” jengek Ki Leng-hong. “Maka jangan kuatir terhadap dia, tidak nanti dia berani menanyaiku cara bagaimana kita dapat lari keluar.”

Tiba-tiba saja dia memandang Pwe-giok dengan sorot mata dingin dan tajam. Dia sudah kembali kepada keangkuhannya semula, lalu katanya pula, “Nah, kenapa kau tidak lekas pergi? Apakah perlu tunggu pikiranku berubah lagi?”

Ko-lothau menyela sambil tersenyum, “Ya, tampaknya memang lebih baik lekas kau pergi saja, pikiran orang perempuan memang sangat mudah berubah…..”

********************

Setibanya di luar rumah kertas itu, cahaya sang surya menyinari baju Pwe-giok yang putih bersih itu, pakaian ini dengan sendirinya juga disediakan oleh Ko-lothau.

Dengan baju yang baru, dengan wajah baru, kini Ji Pwe-giok berada kembali di tengah Sat-jin-ceng. Dunia ini seakan-akan sedang menyambut kemunculannya dengan segala sesuatu yang serba baru.

Di bawah cahaya sang surya yang cemerlang, sampai-sampai Sat-jin-ceng yang biasanya seram menakutkan ini pun penuh suasana hangat, tercium bau harum bunga dan kicau burung yang merdu sama sekali tidak tercium bau darah lagi.

Pwe-giok mendekati sebuah sungai kecil. Dengan air sungai ia lantas berkaca, dilihatnya bayangan seorang pemuda tampan seperti lukisan sedang memandangnya.

Pemuda ini kelihatan seperti Ji Pwe-giok, tapi seperti bukan Ji Pwe-giok, meski mata alis pemuda ini menyerupai Ji Pwe-giok, namun entah berapa kali lebih cakap dari pada Ji Pwe-giok.

Jika alis Ji Pwe-giok semula terlampau tebal, sekarang alis pemuda ini sudah dibenahi sedemikian bagusnya. Kalau pemuda yang sekarang ini diibaratkan sebuah lukisan karya seniman nomor wahid, maka Ji Pwe-giok boleh dikatakan cuma barang tiruan dari pelukis kaki lima.

Sampai terkesima sendiri Pwe-giok memandangi bayangan di permukaan air, gumamnya, “Masakah ini diriku...? Wahai Ji Pwe-giok, perlu kau ingat, wajah ini hanya kau pinjam pakai untuk sementara waktu saja, jangan sekali-kali kau melupakan dirimu sendiri.”

Sekonyong-konyong didengarnya suara tindakan orang banyak.

Pwe-giok masih waswas, tanpa terasa dia menyelinap ke balik gunung-gunungan palsu, maka terlihatlah beberapa orang sedang mendatangi sambil mengobrol.

Terdengar seorang di antaranya berkata dengan tertawa, “Menurut cerita yang tersiar di kangouw, konon Sat-jin-ceng ini demikian misteriusnya, amat menyeramkan dan macam-macam lagi, tempat ini dilukiskan seolah-olah istana hantu atau neraka, tapi setelah kita lhat sendiri, ternyata juga tiada ubahnya dengan tempat lain.”

“Kedatanganmu bukan untuk membunuh orang, tentunya kau pun takkan dibunuh orang,” demikian seorang lagi menanggapi. “Kita cuma datang untuk melawat orang mati, dengan sendirinya Sat-jin-ceng dalam pandanganmu menjadi tempat yang biasa saja.”

Dengan tertawa orang ketiga menyela, “Padahal kedatanganku untuk melawat ini hanya pura-pura saja, yang benar aku memang ingin tahu bagaimana bentuknya Sat-jin-ceng. Jika kesempatan ini tidak kugunakan untuk masuk ke Sat-jin-ceng, di hari2 biasa jangan harap akan dapat keluar dengan hidup.”

Begitulah, sambil bersenda-gurau beberapa orang itu lantas berlalu dari situ.

Pikiran Pwe-giok tergerak, diam-diam ia pun ikut menuju ke sana.

Belum lagi sampai di ruangan pendopo sana, dari jauh sudah kelihatan orang banyak berkerumun. Pwe-giok ikut berjubel di tengah orang banyak sehingga apa pun tak terlihat. Hanya didengarnya seorang berkata,

“Meski kematiannya tidak gemilang, tapi yang melawat ternyata luar biasa.”

“Ini kan berkat nama besar ayahnya,” kata orang lain.

Pwe-giok coba menepuk pundak orang itu dan bertanya, “Para pelawat ini entah ksatria-ksatria dari mana saja?”

Orang itu menoleh sambil berkerut kening, tampaknya merasa tidak suka ditanya, tapi demi nampak wajah Pwe-giok, seketika terunjuk senyuman pada wajahnya, jawabnya, “Ah, barangkali anda tidak tahu bahwa yang kita lawat ini adalah Ji Pwe-giok, putera Bu-lim bengcu sekarang.”

“Oo, kiranya dia.” ujar Pwe-giok sambil menyengir.

Orang mengacungkan jari jempolnya lantas berkata pula, “Ji Hong-ho benar-benar tidak memalukan sebagai Bu-lim bengcu. Anaknya mati, tetapi sama sekali ia tidak mengusut bagaimana kematiannya, bahkan ia berkata, ‘Jika anak durhaka ini masih hidup, tetap aku akan menumpasnya bagi kesejahteraan umum. Sekarang dia sudah mati, mengingat hubungan ayah dan anak, terpaksa harus kulawat ke sini’ ...coba, betapa bijaksana dan luhur budinya bu-lim bengcu kita ini. Sebab itulah, meski waktu hidupnya Ji Pwe-giok tidak dihormati, sesudah mati malah menerima penghormatan yang amat besar.”

“Eh, tampaknya anda masih asing, bolehkan mengetahui nama anda yang terhormat?” tanya orang kedua tadi.

Pwe-giok ternsenyum hambar, jawabnya, “Cayhe Ji Pwe-giok adanya.”

Orang itu berjingkat kaget, tetapi segera dia tertawa dan berkata, “Ah..., orang kangouw sama she dan nama tidaklah sedikit. Kalau melihat wajah anda, jelas jauh lebih cakap dari pada Ji Pwe-giok yang mati itu.”

“Ah, masa?” ujar Pwe-giok tersenyum.

Ketika tengah bicara, kerumunan orang banyak mendadak tersingkir ke pinggir, seorang perempuan cantik luar biasa tampak muncul dengan langkah lemah gemulai.

Segera Pwe-giok kenal perempuan cantik ini ialah Hay-hong-hujin yang namanya sudah mengguncangkan dunia itu.

Sebelah tangan nyonya cantik ini menggandeng seorang dara cantik berbaju hitam, muka dikerudungi sutera tipis, meski tidak kelihatan wajahnya dengan jelas, tapi dapat didengar suara tangisnya yang tersedu-sedan.

Tanpa melihat wajah gadis berbaju hitam itu dapatlah Pwe-giok mengetahui siapa dia. Tergetar juga hatinya, tanpa terasa ia terkesima.

Seperti sengaja Hay-hong-hujin meliriknya sekejap dengan mengulum senyum, tapi gadis berbaju hitam itu tetap menunduk dan menangis perlahan tanpa memandang siapa pun juga.

Lirikan Hay-hong-hujin penuh daya tarik, akan tetapi Pwe-giok seperti tidak tahu, maklum baginya saat ini selain gadis baju hitam itu boleh dikatakan tiada seorang lain lagi yang terlihat olehnya.

Terdengar orang2 sedang membicarakan kedatangan Hay-hong-hujin dan gadis berbaju hitam itu.

Seorang berkata, “Nona ini konon adalah bakal istri Ji Pwe-giok, waktu bersembahyang di depan layon tadi sedikitnya tiga kali dia jatuh pingsan, bahkan dengan nekat dia sudah memotong rambutnya.”

Seketika hati Pwe-giok seperti ditusuk-tusuk, hampir saja ia tidak tahan dan menerjang ke sana untuk memberi-tahu siapa dirinya dan meminta nona itu supaya jangan bersedih.

Tetapi saat itu Hay-hong-hujin dan Lim Tay-ih sudah berlalu dan sebisanya Pwe-giok juga menahan perasaanya.

Terdengar ada orang berkata pula dengan menyesal, “Mempunyai ayah dan isteri sebaik ini, jika Ji Pwe-giok itu bisa menjaga diri tentu hidupnya akan bahagia dan mengagumkan orang. Cuma sayang, dia justru tidak tahu diri...”

Di tengah ramai orang bicara itu, tiba-tiba saja seseorang berteriak, “Ji Pwe-giok adalah sahabatku, semasa hidupnya berbuat baik atau jelek janganlah diurus lagi. Tapi sesudah dia mati, bila masih ada orang suka membicarakan baik-buruknya dan terdengar olehku, maka bolehlah dia berhadapan denganku.”

Segera terlihat seorang melangkah tiba dengan wajah penuh rasa sedih dan penasaran, dengan bersitegang ia terus pergi menyusur kerumunan orang banyak. Dia tak lain tak bukan ialah Ang-lian-hoa yang berbudi luhur dan setia kawan itu.

Perasaan Pwe-giok benar-benar disayat-sayat.

Dengan jelas dilihatnya bakal isterinya dan sahabat karibnya lewat di depan matanya, tapi dirinya tidak berani menegur dan menyapanya. Sungguh tiada kejadian lain yang lebih memilukan dari pada sekarang ini. Sekali pun Pwe-giok dapat menahan diri, tidak urung bercucuran juga air matanya.

Untung saat itu siapa pun tidak memperhatikan dia, sebab tokoh yang paling menarik di dunia persilatan saat ini telah muncul, yaitu bu-lim bengcu Ji Hong-ho.

Wajahnya juga penuh rasa duka nestapa, serombongan orang yang ikut di belakangnya juga semua sama menunduk dengan langkah berat, hanya saja air mata mereka tidak sampai menetes.

Dada Pwe-giok serasa mau meledak demi melihat orang ini. Tapi pada saat dan tempat ini, betapa pun sedih dan murkanya juga dapat ditahannya.

Kerumunan orang banyak mulai bubar, setiap orang yang berlalu di depan Pwe-giok tentu menoleh dan memandangnya sekejap dua seakan-akan semuanya terkejut dan heran mengapa di dunia ini ada pemuda setampan ini.

Sampai lama Pwe-giok berdiri bingung di situ, sekonyong-konyong ia melihat wajah Ki Song-hoa, orang kerdil itu sedang memandangnya dengan tertawa.

Meski wajah ini tampaknya kekanak-kanakan dan sedemikian polosnya, tapi bagi Pwe-giok saat ini terasa lebih menyeramkan dari pada ular yang paling berbisa.

Selagi ia hendak tinggal pergi, tak terduga Ki Song-hoa lantas mendekatinya. Diam-diam Pwe-giok terkesiap, pikirnya, “Jangan-jangan dia telah mengenal diriku.”

Langsung Ki Song-hoa mendekati Pwe-giok, ia memberi hormat dan menegur, “Cakap benar saudara ini, sungguh cayhe merasa sangat kagum. Entah sudikah mampir sejenak ke kediamanku untuk minum dua cawan agar cayhe dapat sekedar memenuhi kewajiban sebagai tuan rumah.”

Ucapannya sangat serius dan jujur dengan tersenyum ramah, undangan yang penuh simpatik ini sukar bagi siapa pun untuk menolaknya. Jika orang lain pasti akan segera ikut pergi tanpa sangsi.

Tapi bagi Pwe-giok sekarang, wajah yang simpatik ini justru tiada ubahnya seperti topeng hantu, semakin enak didengar ucapannya semaikin sukar untuk diraba muslihat yang terkandung di dalamnya.

Pwe-giok merasa ngeri, terpaksa dia menjawab, “Ah, mana cayhe berani mengganggu ketenangan cengcu.”

“Jika anda tidak mau berarti memandang rendah padaku,” ucap Ki Song-hoa dengan tertawa, segera ia tarik tangan Ji Pwe-giok dan diajaknya menuju ke dalam rumah.

Tangan orang kerdil ini terasa dingin dan lembab sehingga serupa badan ular, Pwe-giok menjadi bingung dan tidak tahu cara bagaimana melepaskan diri.

Syukurlah pada saat itu pula terdengar seorang gadis berseru dengan suara merdu, “Tamu ini sudah berjanji lebih dulu akan bertemu dengan hujin kami, harap cengcu suka melepaskan dia.”

Sebuah tangan yang putih halus segera terjulur tiba, seperti tak sengaja terus memencet ke urat nadi tangan Ki Song-hoa.

Terpaksa Ki Song-hoa harus lepas tangan, dilihatnya seorang gadis berbaju merah tipis sedang memandangnya dengan matanya yang jeli dan tersenyum nakal.

“Besar amat nyali nona cilik, tahukah engkau siapa aku?” Ki Song-hoa bertanya dengan terkekeh-kekeh.

Dengan tertawa nona baju merah itu menjawab, “Dan tahukah kau siapa hujin kami?”

“Memang ingin kutanya siapa dia?” jawab Ki Song-hoa.

Nona ini berkedip-kedip seperti penuh rahasia, ia mendesis perlahan, “Kuberitahu padamu tapi jangan kau katakan pada orang lain. Beliau adalah Hay-hong-hujin.”

Ki Song-hoa melengak, mendadak ia putar tubuh dan melangkah pergi tanpa menoleh.

Pwe-giok menghela napas lega menyaksikan si kerdil tua itu.

Tiba-tiba didengarnya pula si nona baju merah berkata, “Kau pandangi terus orang kerdil itu, apakah kau merasa berat ditinggal pergi olehnya dan ingin ikut ke sana?”

Karena dipandang oleh mata si nona yang terbelalak lebar itu, Pwe-giok jadi kikuk.

“Kau tahu untuk apa dia mengundangmu ikut ke sana?” tanya si nona.

“Tidak, tidak tahu,” jawab Pwe-giok.

Nona itu tertawa terkikik, katanya, “Dia mengajakmu ke sana adalah untuk membunuhmu. Sebab selama ini dia belum pernah membunuh lelaki setampan engkau, maka dia ingin mencicipi rasanya membunuh seorang pemuda cakap. Menurut pikiranku, membunuh pemuda tampan seperti dirimu ini memang benar jauh lebih merangsang dari pada membunuh orang-orang yang buruk rupa itu.”

“Apakah kau pun ingin coba2?” tanya Pwe-giok dengan tertawa.

Gemerdep biji mata si nona yang jeli itu, jawabnya sambil tertawa genit, “Meski aku memang ingin mencobanya, tapi masa aku tega turun tangan?”

Sambil tertawa mendadak ia jejalkan sepotong lipatan kertas ke tangan Pwe-giok, lalu berlari pergi sambil terkikik-kikik. Tidak seberapa jauh, tiba-tiba dia berpaling dan berseru: ”Anak tolol, untuk apa kau berdiri melongo di situ? Lekaslah buka kertas itu dan dibaca, ada rejeki nomplok masa belum kau rasakan?”

Pwe-giok tercengang, tercium bau harum yang memabukkan, bau harum seperti bau harum yang terbawa Hay-hong-hujin itu.

Segera ia membuka surat itu, dilihatnya di situ tertulis,

Tengah malam nanti di luar Sat-jin-ceng, di depan Hoa-sin-su, tersedia bunga indah dan minuman enak, anda datang atau tidak?

********************

Malamnya, sebelum tengah malam Ji Pwe-giok sudah berada di depan Hoa-sin-su atau kelenting malaikat bunga.

Dia memenuhi undangan itu bukan karena tertarik kepada bunga yang indah, juga bukan terpikat oleh minuman enak, tapi karena ingin bertemu dengan si jelita berkerudung sutera hitam seperti diselimuti oleh kabut tipis itu.

Di bawah sinar bulan di depan Hoa-sin-su yang amat sunyi itu entah mulai kapan sudah berwujud lautan bunga, di tengah onggokan bunga itu setengah berbaring sesosok tubuh yang cantik dengan baju sutera tipis. Di tengah lautan bunga dan di bawah cahaya bulan yang permai tertampak kerlingan mata yang amat menggiurkan dengan tubuh putih mulus membuat orang lupa daratan.

Namun demikian Pwe-giok merasa kecewa juga. Biar pun mendapat pelayanan serupa di surga tetap dirasakannya tidak lebih bahagia dari pada melihat kerlingan mata si ‘dia’ yang amat dirindukannya.

Terdengar suara tawa nyaring berkumandang dari lautan bunga sana, “Kau telah datang, mengapa tidak berani kemari? Apakah kau sudah mabuk sebelum mendekat?”

Dengan langkah lebar Pwe-giok mendekati si cantik, jawabnya sambil tersenyum hambar, “Sebelum mengetahui untuk apa hujin mengundangku ke sini, mana cayhe berani mabuk lebih dulu.”

“Bulan seterang ini, malam seindah ini, jika dapat mengobrol dan minum bersama pemuda tampan seperti kau, bukankah suatu kesenangan hidup? Apakah alasan ini belum cukup dan perlu lagi kau tanya padaku untuk apa kuundang kau kemari?”

Pwe-giok tersenyum, ia menuju ke depan Hay-hong-hujin dan berduduk, ia menuang arak kemudian diminumnya sendiri, berturut-turut dihabiskannya tiga cawan, ia angkat cawan terhadap bulan dan berseru tertawa, “Betul, orang hidup berapa lama, kalau dapat minum bersama di bawah bulan purnama, inilah kesenangan orang hidup yang utama, apa pula yang perlu kutanyakan...”

Sebenarnya Pwe-giok adalah pemuda yang hidup prihatin, tetapi kalau seseorang sudah mengalami beberapa kali hidup kembali dari kematian, maka terhadap segala persoalan di dunia ini akan dipandangnya tawar dan tiada artinya, untuk apa dia mesti mengikat diri dengan susah payah? Sekarang sesuatu urusan yang dianggap orang lain sangat gawat, baginya sudah bukan apa-apa lagi.

Hay-hong-hujin menatapnya dengan tajam, mendadak dia tertawa dan berkata, “Tahukah kau? Makin lama aku semakin tertarik olehmu!”

“Tertarik?” Pwe-giok mengulang dengan tertawa.

“Ya, segala sesuatu mengenai dirimu, semuanya aku merasa tertarik,” jawab Hay-hong-hujin. “Misalnya saja... Siapa dirimu? Dari mana asal usulmu dan dari aliran mana ilmu silatmu?”

“Seorang petualang yang suka mengembara ke segenap pelosok dunia ini, mungkin dia sendiri pun tidak tahu cara bagaimana harus menjawab pertanyaanmu tadi? Bukankah begitu?”

“Usiamu masih muda, memangnya seberapa banyak pengalamanmu? Mengapa caramu bicara seolah-olah sudah kenyang dengan segala macam asam garam kehidupan ini dan seolah-olah sudah hambar terhadap kehidupan ini?”

“Ada beberapa orang, walau pun baru sebulan menghadapi berbagai persoalan, mungkin sudah jauh lebih banyak dari pada apa yang dialami oleh orang lain.”

Mendadak Hay-hong-hujin tertawa nyaring pula, katanya, “Tepat sekali ucapanmu. Tapi sedikitnya kan harus kau katakan namamu dulu?”

Pwe-giok berpikir sejenak, jawabnya kemudian, “Cayhe Ji Pwe-giok.”

“Ji Pwe-giok?” Hay-hong-hujin menegas. Suara tertawanya seketika berhenti.

“Apakah hujin merasa namaku ini tidak baik?” tanya Pwe-giok.

“Aku cuma merasa lucu dengan namamu,” jawab Hay-hong-hujin dengan tertawa cerah. “Bahwa Ji Pwe-giok sendiri ikut melawat kematian Ji Pwe-giok, apakah hal ini tidak kau rasakan lucu?” Dia menatap anak muda ini dengan sorot mata tajam dan ingin tahu apa reaksinya.

Pwe-giok tetap tenang-tenang saja, ucapnya dengan tersenyum hambar, “Ji Pwe-giok ini dan Ji Pwe-giok itu memang ada perbedaanya, meski seorang Ji Pwe-giok telah mati, tapi ada seorang Ji Pwe-giok yang lain masih hidup.”

“Dapatkah kau meyakinkanku bahwa kau sendiri bukan Ji Pwe-giok yang mati itu?” kata Hay-hong-hujin sekata demi sekata.

Pwe-giok terbahak-bahak, “Ha-ha-ha-ha! Memangnya hujin mengira aku ini badan halus?”

Hay-hong-hujin tersenyum, katanya, “Pertama kali kulihat kau segera kurasakan bahwa kau memang rada-rada berbau setan!”

“Oo?”

“Sebab kau ini seperti mendadak muncul di dunia ramai dari alam halus sana. Sebelum kemunculanmu, tidak pernah ada orang yang melihat kau dan juga tiada seorang pun yang tahu asal usulmu.”

“Jangan-jangan hujin sudah menyelidiki seluk beluk diriku?” tanya Pwe-giok.

Hay-hong-hujin tertawa genit, katanya, “Tiada seorang perempuan di dunia ini yang tidak tertarik kepada lelaki semacam kau ini. Dan aku, betapa pun aku kan juga perempuan, betul tidak?”

“Hujin bukan saja perempuan, tetapi boleh dikata hujin adalah perempuannya perempuan, dewinya dewi,” ujar Pwe-giok dengan tertawa.

“Tapi kau ternyata tidak tertarik kepadaku,” kata Hay-hong-hujin. “Waktu aku berlalu di depanmu, kau bahkan melirik saja tidak, bukankah hal ini rada-rada mengherankan?”

Meski senyumnya sedemikian genit, walau pun suaranya begitu lembut, tapi ucapan2 itu seakan-akan semacam duri yang dapat menembus segala rahasia orang hidup di dunia ini.

Diam-diam Pwe-giok terkejut sekali, sedapatnya dia menenangkan diri, jawabnya sambil tersenyum, “Menghadapi kecantikan hujin yang semarak, mana cayhe berani memandang secara kurang sopan?”

“Kukira yang kau pandang hanya orang yang berjalan di sebelahku,” ucap Hay-hong-hujin dengan suara lembut. “Tapi dia memakai cadar sutera hitam, hakikatnya kau tidak dapat mengenal wajahnya. Dari caramu memandang dia, jangan-jangan sudah kau kenal dia sebelumnya?”

“Sia… siapa dia?” tanya Pwe-giok.

“Jangan kau harap akan mengelabui diriku,” ujar Hay-hong-hujin dengan tertawa genit. “Sudah kurasakan kau ialah Ji Pwe-giok yang mati itu. Kau tahu, sampai saat ini di dunia ini belum pernah ada seorang pun yang dapat membohongi aku.”

Hay-hong-hujin yang namanya mengguncangkan dunia ini benar-benar luar biasa, sorot matanya seperti mengandung semacam kekuatan gaib yang dapat menjelajahi segala sesuatu.

Sedapatnya Pwe-giok bersikap tenang dan menahan guncangan perasaanya, jawabnya dengan tertawa hambar, “Di dunia ini mungkin tiada seorang pun yang tega membohongi hujin.”

“Dan kau?” tanya Hay-hong-hujin.

“Cayhe kan juga manusia, betul tidak?” jawab Pwe-giok.

“Bagus, bagus sekali!” Hay-hong-hujin tertawa terkikik-kikik. Mendadak ia bertepuk tangan dan dari balik semak2 bunga sana lantas muncul satu orang.

DI bawah sinar bulan yang cukup terang, pada matanya yang mendelong itu seakan-akan terhimpun kedukaan yang sulit diuraikan, mukanya yang pucat membawa semacam rasa sedih yang tak dapat diutarakan.

Perasaan sedih dan duka yang mendalam itu tak mengurangi kecantikannya, sebaliknya justru menimbulkan semacam daya tarik yang menggetar sukma sehingga kecantikannya tampak seperti bukan lagi kecantikan manusia, melainkan cantiknya dewa bunga di atas langit, mencakup seluruh keindahan bunga yang terdapat di dunia ini.

Seketika itu Pwe-giok merasa langit seakan-akan berputar dan bumi terbalik, napasnya serasa mau berhenti.

Hay-hong-hujin menatapnya dengan tajam, tiap perubahan air mukanya tak terlepas dari pengamatannya. Dia menuding Lim Tay-ih yang muncul dari balik semak-semak bunga itu dan bertanya, “Coba kau pandang dia lebih teliti, kau kenal dia tidak?”

Pwe-giok mengangkat cawan dan ditenggaknya hingga habis, jawabnya, “Tidak kenal.”

“Tidak kenal,” meski cuma dua kata yang sangat sederhana, tapi entah telah memerlukan betapa besar tenaga Pwe-giok untuk bisa mengucapkannya. Kedua kata itu laksana dua bilah belati yang menusuk kerongkongannya, seperti dua bola bara yang telah membakar lidahnya dan menghanguskan hatinya.

Sudah jelas2 orang yang amat dirindukannya, orang yang paling dicintainya, tapi dia justru mengeraskan hati dan menjawab “tidak kenal.” Adakah sesuatu di dunia ini yang lebih menyakitkan hati dari pada kejadian ini?

Sudah terang dia inilah sisa satu2nya sanak keluarganya, tetapi dia justru harus berlagak tidak mengenalnya. Adakah sesuatu di dunia ini yang lebih kejam dari pada kenyataan ini?

Arak wangi telah masuk tenggorokannya, arak sedap berbau wangi, tapi rasanya seakan-akan telah berubah menjadi pahit dan sepat. Kehidupan ini memang mirip arak yang getir ini dan arak getir ini terpaksa harus diminumnya.

Hay-hong-hujin lantas berpaling kepada Lim Tay-ih dan bertanya, “Apakah kau kenal dia ini?”

Wajah Lim Tay-ih yang pucat lesi itu tidak menunjukkan sesuatu perasaannya, jawabnya dingin, “Tidak kenal!”

Sudah jelas si nona adalah bakal isterinya, tetapi di hadapannya menyatakan tidak kenal padanya, ucapan itu mirip dua anak panah yang menancap di ulu hati Ji Pwe-giok.

Akhirnya Hay-hong-hujin menghela napas perlahan, katanya, “Kalau dia juga tidak kenal kau, agaknya kau memang bukan Ji Pwe-giok yang sudah mati itu, lagi pula,.. jika bakal isterinya sendiri saja tidak mau mengakuinya lagi, maka orang itu sekali pun hidup juga sama seperti sudah mati.”

Hati Ji Pwe-giok memang benar-benar telah mati, dia menengadah dan terbahak-bahak, “Bagus sekali ucapan hujin ini, perkenankan cayhe menyuguh hujin tiga cawan.”

Dia menuang dan diminum sendiri, hanya sekejap saja sudah berpuluh cawan arak masuk perutnya, sampai2 Lim Tay-ih sudah pergi juga tak dipandangnya barang sekejap.

“Kau sudah mabuk,” ujar Hay-hong-hujin dengan tertawa.

“Ya, berapa kalikah orang hidup sempat bermabuk?” kata Pwe-giok sambil angkat cawan araknya.

“Betul juga, sekali mabuk dapat membuyarkan seribu kesedihan,” ucap Hay-hong-hujin dengan rawan, “Baiklah, silakan kau mabuk!”

“Cuma sayang, hanya beberapa cawan arak ini belum lagi dapat memabukkan diriku!” kata Pwe-giok, seolah-olah bergumam sendiri.

Dia tahu betapa pun kuat takaran minumnya, tapi arak seratus bunga buatan Hay-hong Hujin ini lain dari pada arak biasa. Sekarang seluruh tubuhnya terasa ringan seakan-akan terbang, rupanya dia benar-benar sudah mabuk.

Terdengar Hay-hong Hujin berkata dengan suara lembut, “Mabuklah, silakan mabuklah..., berkecimpung di tengah Kangouw yang penuh bahaya ini, kalau untuk mabuk saja tidak bisa, maka hidup manusia ini pun terlalu memilukan. Lain kali jika kau masih ingin mabuk, bolehlah kau kemari mencari diriku.”

Di tengah mabuknya Pwe-giok merasa di depan matanya muncul berbagai bayangan orang yang berbentuk macam-macam, tinggi pendek, gemuk kurus, semua ada. Malah setiap orang itu sama beringas menakutkan. Lalu dia seperti mendengar suara Hay-hong Hujin berkata, “Ji Pwe-giok ini hanya seorang pemuda yang baru terjun di dunia Kangouw, kukira kalian akan percaya padaku.”

Dunia Kangouw ternyata sedemikian keji dan berbahaya, terhadap setiap orang asing selalu harus diselidiki asal-usulnya. Jika tidak ada Hay-hong Hujin, mungkin masih banyak sekali kesulitan yang harus dihadapi Pwe-giok.

Rasa terima kasih Ji Pwe-giok terhadap Hay-hong Hujin sungguh tak terkatakan, sedapat-dapatnya dia ingin mengucapkan beberapa kata sebagai tanda terima kasihnya, namun suaranya terasa samar-samar sehingga ia sendiri pun tidak tahu apa yang diucapkannya.

Hanya didengarnya Hay-hong Hujin berkata pula, “Sekali anak muda ini menjadi tamuku, maka selama hidupnya dia adalah tamu kehormatan Pek-hoa-kiong kami. Selanjutnya jika tiada sesuatu keperluan apa-apa, hendaklah kalian jangan mengganggu dia. Sekarang biarkan dia tidur saja…..”

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner