RENJANA PENDEKAR : JILID-16


Pwe-giok benar-benar terus pulas.

Waktu mendusin, bau harum bunga, sinar bulan purnama, semua sudah tidak ada lagi. Yang ada cuma remang-remang sinar sang surya yang meliputi bumi.

Di kejauhan terdengar suara burung berkicau. Menyusul lantas terlihat sesosok bayangan orang yang ramping muncul dari balik kabut pagi dan mendekatinya dengan perlahan.

Kedatangannya laksana membawa suasana baru bagi bumi raya ini. Sinar matanya gemerdep terang, jernih dan murni, berbeda dengan sorot mata Hay-hong-hujin yang tajam dan genit itu, juga tiada sedih dan duka seperti sorot mata Lim Tay-ih. Dunia yang ruwet ini, bagi pandangannya seolah-olah juga sedemikian sederhana, bersahaja tanpa sesuatu hiasan.

Dia pandang Ji Pwe-giok, lalu menegur dengan suara merdu, “Wahai walet yang tersesat, akhirnya kau sadar juga. Di dunia ini masih banyak air sumber yang jernih dan manis, mengapa kau sengaja minum arak?”

Ji Pwe-giok menghela napas perlahan, gumamnya, “Kesusahan orang hidup, dengan sendirinya tak dapat dipahami oleh nona kenari.”

Gadis itu memang si nona kenari Ki Leng-yan. Mendadak ia pun menghela napas, lalu ucapnya dengan sayu, “Tahukah kau si Kenari yang tadinya tidak tahu apa artinya sedih, kini juga mulai gundah?”

“Memangnya kenapa nona merasa gundah?” tanya Pwe-giok dengan tersenyum getir.

Tiba-tiba air mata Ki leng-yan menetes jatuh, jawabnya, “Sarang si Kenari telah penuh digenangi darah. Dia tidak dapat berdiam lagi di situ. O, Kenari yang harus dikasihani, kini tiada tempat lain lagi yang dapat ditujunya.” Mendadak dia pegang tangan Pwe-giok dan menyambung dengan setengah meratap, “O, kumohon padamu, bawalah serta diriku, ke mana pun juga akan kuturut padamu.”

Tergerak hati Pwe-giok, jawabnya dengan suara keras, “Cara bagaimana kau tahu siapa diriku ini? Mengapa kau ingin ikut bersamaku?”

“Kukenal matamu ini,” kata Ki Leng-yan. “Sedemikian bajik, sedemikian bagus matamu ini dan juga sedemikian perwira, sama seperti burung walet. Matamu yang lain dari pada yang lain ini, mana bisa kulupakan?”

Gadis yang linglung ini ternyata memiliki daya pandang sepeka ini. Barang sesuatu yang diketahui setiap orang mungkin takkan dipahami olehnya, tapi sesuatu lain yang tak dapat dipecahkan orang lain justru dapat diketahui olehnya. Mungkin inilah sebabnya dia tidak paham kata-kata manusia, sebaliknya paham bahasa burung.

Pwe-giok terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan tersenyum, “Kau tahu, tak mungkin kau dapat ikut pergi bersamaku, sebab tempat yang hendak kutuju itu di mana-mana penuh bahaya, setiap orang bisa membikin susah padamu.”

“Tidak, aku tidak takut, di bawah perlindunganmu, apa pun aku tidak takut,” jawab Leng-yan tegas.

Dia pandang Pwe-giok dengan termangu-mangu, sorot matanya penuh harap juga penuh kepercayaan terhadap anak muda itu. Menghadapi sorot mata demikian, siapa pula yang tega menolak permintaannya?

Akhirnya Pwe-giok menarik napas panjang, katanya, “Jika kau ingin ikut padaku, sungguh aku pun tidak dapat menolak permintaanmu. Cuma... aku sendiri tidak tahu apakah dapat melindungi diriku sendiri atau tidak, cara bagaimana kutahu akan bisa melindungi dirimu?”

Leng-yan tertawa, katanya, “Kutahu engkau pasti akan menerima permintaanku...”

Begitulah Pwe-giok berjalan di depan dan Leng-yan ikut di belakang, sama sekali ia tidak peduli ke mana pun Pwe-giok akan pergi. padahal Pwe-giok sendiri pun tidak tahu dirinya akan pergi ke mana?

Dia berjalan dengan hati bimbang. Selagi merenungkan ke arah mana harus dituju, tiba-tiba terdengar angin berkesiur, empat orang melayang keluar dari balik pohon sana dan menghadang di depannya. Gerakan keempat orang ini demikian cepat dan gesitnya, jelas semuanya adalah jago-jago kelas tinggi.

Segera Pwe-giok dapat melihat jelas siapa keempat orang ini. Kiranya mereka adalah samaran komplotan jahat itu, yakni Ong Uh-lau, Lim Soh-koan, Ong Sin-jiang dan Sebun Bu-kut.

Ong Uh-lau mendahului maju dan menegur dengan sorot mata tajam, “Kau Ji Pwe-giok bukan?”

“Cahye memang Ji Pwe-giok adanya,” jawab Pwe-giok hambar. “Siapakah anda sekalian dan ada urusan apa?”

Empat pasang mata yang tajam dan kejam itu sama menatap muka Pwe-giok. Mereka ingin tahu bagaimana perubahan sikap anak muda itu, tapi Pwe-giok hanya tenang-tenang saja. Maklumlah, sudah terlampau banyak pengalaman pahit serta kejadian seram yang dialaminya, di dunia ini sesungguhnya tiada sesuatu urusan dapat menakutkan dia lagi.

Ong Uh-lau bergelak tertawa, katanya, “Ji-kongcu baru saja terjun di dunia kangouw dan lantas mendapat perlakuan istimewa dari Hay-hong Hujin, dengan sendirinya Ji-kongcu mempunyai asal-usul yang lain dari pada yang lain pula. Kami tidak berani sembrono, yang kami inginkan adalah belajar kenal dengan ilmu silat Ji-kongcu.”

Pwe-giok terbahak-bahak, jawabnya, “kiranya keterangan Hay-hong Hujin kemarin belum meyakinkan kalian sehingga sekarang kalian hendak memaksa aku mengeluarkan Kungfu perguruanku, maksud tujuan kalian ingin membuktikan apakah diriku ini Ji Pwe-giok yang mati kemarin ini atau bukan?”

Ia sengaja membongkar maksud tujuan mereka. Tapi air muka Ong Uh-lau ternyata tidak berubah, dengan tersenyum ia berkata, “Akhir-akhir ini di dunia Kangouw sedang digemari ilmu tata rias, hal ini kukira cukup diketahui olehmu.”

“Apakah Cayhe mengalami tata-rias, masa kalian tidak dapat melihatnya?” ujar Pwe-giok.

“Ilmu tata rias di dunia ini memang beraneka ragamnya, justru lantaran kami tidak dapat membedakannya, maka terpaksa harus berlaku lebih hati-hati,” ujar Ong Uh-lau dengan tersenyum. “Oleh karena itulah, asalkan anda memperlihatkan sejurus-dua, segera kami akan mengundurkan diri.”

Gemerdep sorot mata Pwe-giok, katanya: “Sungguh aku tidak mengerti, sebab apa Ji Pwe-giok yang telah mati itu bisa membuat kalian sedemikian kuatir, kan jelas dia sudah mati, mengapa kalian masih merasa tidak aman?”

Berubah juga air muka Ong Uh-lau, jawabnya dengan bengis, “Silakan anda menunjukkan sejurus dua jurus dan segera akan kau ketahui sendiri.” Sambil bicara, segera pedangnya menusuk ke depan, serangan cepat dan mantap, inilah jurus ‘Jong-liong-tay-thau’ atau naga tua angkat kepala, suatu jurus ilmu pedang perguruan Ong Uh-lau sendiri.

Ajan tetapi Ji Pwe-giok tidak nanti terpancing dan memperlihatkan ilmu silat perguruannya sendiri. Ilmu silat Bu-kek-pay memang bergaya khas dan tidak sama dengan Kungfu dari perguruan lain. Asalkan dia memainkan satu jurus saja segera akan dapat diketahui asal-usulnya.

Maka mendadak terdengar suara “trang” yang nyaring dan keras, pedang Ong Uh-lau yang menusuk lurus ke depan itu terpukul menceng, padahal tenaganya boleh dikatakan jarang ada bandingannya, tidak urung ia merasakan pergelangan tangannya linu pegal.

Tiba-tiba saja dilihatnya seorang gadis jelita berbaju seputih salju dengan memegang dua pedang pendek telah menghadang di depan Ji Pwe-giok, dengan tertsnyum berkata, “Dia orang baik, kalian jangan membikin susah padanya.”

Berubah air muka Ong Uh-lau, jawabnya, “Siapa nona? Mengapa kau membelanya?”

“Ayahku sangat gemar membunuh orang, Ciciku juga suka membunuh orang,” jawab si nona yang bukan lain dari pada Ki Leng-yan, “meski aku tidak suka membunuh, tapi aku pun tidak suka menyaksikan sahabatku dianiaya orang lain, apa lagi dibunuh.”

Sembari bicara dia terus putar kedua pedang pendeknya. Gerak tubuhnya begitu enteng gemulai, tapi ilmu pedangnya justru sedemikian aneh, cepat lagi ganas.

Sungguh Pwe-giok sendiri pun tidak pernah menyangka nona yang baik itu memiliki ilmu seganas itu.

Baru saja Ki Leng-yan menyelesaikan ucapannya tadi, sekaligus dia sudah melancarkan serangan 49 kali. Begitu gencar serangannya hingga membuat Lim Soh-koan dan tokoh-tokoh yang tergolong jago pedang terkemuka itu sama melongo kaget.

Tapi Ki Leng-yan lantas menghentikan permainan pedangnya, kemudian berkata dengan tertawa, “Orang-orang bilang ilmu pedangku ini sangat keji dan ganas, apakah kalian juga berpendapat demikian?”

“He-he, bagus, ilmu pedang bagus!” kata Ong Uh-lau dengan menyengir.

“Meski ilmu pedangku ini dibilang keji dan ganas tapi tidak kugunakan terhadap manusia,” tutur Ki Leng-yan. “Asalkan tidak digunakan membunuh, betapa pun keji dan ganasnva sesuatu ilmu pedang kan tidak menjadi soal, betul tidak?”

Ong Uh-lau memandangnya sejenak, lalu dipandangnya pula Ji Pwe-giok, tanpa bicara mendadak ia berpaling terus melangkah pergi dan dengan sendirinya diikuti oleh orang-orang lain.

Leng-yan menyimpan kembali kedua pedang pandaknya, seperti tidak pernah terjadi apa pun ia pandang Pwe-giok, katanya dengan tertawa linglung, “Marilah kita pun pergi!”

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Kau minta perlindunganku, tapi siapa tahu justru kau yang melindungi diriku. Selama ini telah kuremehkan dirimu, sungguh tidak terduga ilmu pedangmu sedemikian hebatnya.”

Si nona berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, “Jadi kau pun memuji kebagusan ilmu pedangku, semua burung kawanku juga bilang demikian. Kata mereka, setelah si Kenari mahir ilmu pedang, selanjutnya tidak perlu lagi kuatir diserang oleh elang. Menurut kau, orang-orang tadi elang atau bukan?”

Begitulah sepanjang jalan si nona jelita terus bicara tentang dia dan burung, tertarik juga Pwe-giok oleh ceritanya sehingga tidak merasa kesepian dalam perjalanan.

Semula Pwe-giok merasa sedih juga bagi jalan keluar dirinya, namun setelah dipikir pula, dunia seluas ini, ke mana pun boleh pergi, dengan berkelana di dunia ini kan sekaligus dapat menyelidiki rahasia komplotan jahat itu.

Karena pikiran itu, tekanan batinnya menjadi longgar. Waktu beristirahat di suatu rumah makan, ia minta disediakan dua poci arak seakan-akan hendak merayakan hidup barunya.

Ki Leng-yan ternyata mengiringi dia minum dua cawan. Burung kenari yang cantik ini jadi tambah lincah dan terus mengoceh ke barat dan timur, berulang-ulang ia pun menuang arak dan mengisi nasi di mangkuk Pwe-giok.

Bila Pwe-giok menolak pelayanan itu, maka si nona lantas kurang senang dan mengomel. Ribut antara kedua muda mudi ini sebaliknya menimbulkan rasa takjub dan iri orang lalu.

Malamnya, si kenari yang terus menerus berkicau ini akhirnya tertidur. Tapi di kamarnya sendiri Pwe-giok bergolak-golek tak dapat pulas. Diam-diam dia mengenakan baju lantas keluar.

Rumah penginapan kecil ini terlelak di luar kota. Cahaya bulan menyinari sebuah kolam kecil di kaki bukit sana, di dalam kolam tampak bintik-bintik bintang gemerlapan, angin malam meniup silir-silir membawa bunyi serangga dan suara katak.

Sudah sekian lama, untuk pertama kalinya ini Pwe-giok merasa hatinya rada tenang dan untuk pertama kalinya pula dia dapat menikmati keindahan malam.

Dia terus melangkah ke depan, di bawah keremangan sinar bulan dan bau harum bunga teratai di kolam... Mendadak dua larik sinar pedang menyambar ke tenggorokannya.

Sama sekali tak terduga olehnya bahwa di tengah malam yang indah ini tersembunyi juga hasrat membunuh sekeji ini. Dia terkejut dan cepat menjatuhkan diri ke tanah, syukur sergapan itu sempat dihindarinya.

Pada saat yang sama empat orang berbaju hitam dan berkedok melompat keluar dari tempat gelap, tanpa bicara pedang mereka terus menyerang lagi secepat kilat.

Gerakan Pwe-giok juga tidak berhenti, dia menyelinap keluar dari jaringan sinar pedang musuh. Terdengar dering nyaring sinar pedang, tahu-tahu kain bajunya terkoyak-koyak menjadi potongan kecil dan bertebaran.

Agaknya kawanan seragam hitam itu tidak ingin sekaligus membinasakan dia melainkan cuma hendak memaksa dia mengeluarkan Kungfunya.

Sinar pedang masih terus berkelebat dan membura bagai uIar berbisa, bukan saja baju Pwe-giok sudah terkoyak-koyak, bahkan tubuhnya sudah tergores beberapa jalur luka, tapi dia tetap tidak berani balas menyerang. Semakin dia tidak balas menyerang semakin besar pula curiga orang-orang berseragam hitam.

Mendadak seorang di antaranya mendengus, “Peduli tulen atau palsu, bunuh saja habis perkara!”

“Betul,” jawab seorang lagi. “Lebih baik salah bunuh seribu dari pada lolos satu.”

Meski tahu siapa kawanan baju hitam ini, tetapi Pwe-giok sengaja berteriak, “Jika kalian menghendaki aku turun tangan, mengapa kalian tidak berani memperlihatkan wajah asli? Seorang lelaki sejati mana sudi turun tangan terhadap kawanan cecurut macam kalian ini.”

“Kau tidak mau turun tangan, maka kau harus matl!” jengek orang pertama tadi.

Habis berkata, mereka tidak kenal ampun lagi, sinar pedang mereka membura dengan lebih cepat. Sekali ini jika Pwe-giok tidak balas menyerang, rasanya jiwanya benar-benar bisa melayang.

Pada saat itulah, tiba-tiba segumpal kabut tipis berwarna kemerah-merahan mengambang tiba terbawa angin terus terlibat ke tengah jaringan sinar pedang.

Seketika kawanan baju hitam itu merasa gerak pedang mereka terhalang, ujung pedang seolah-olah melekat pada gumpalan asap tipis itu. Kesempatan itu segera dipergunakan Pwe-giok untuk melompat mundur.

Segera terdengar seorang berdendang dengan suara merdu, “Bunga, bukan bunga, kabut bukan kabut...”

Baru berjangkit suara nyanyian orang itu, serentak timbul rasa takut pada sorot mata kawanan baju hitam berkedok ini, tanpa berjanji keempat orang itu terus melayang pergi dan menghilang dalam kegelapan. Perginya jauh lebih cepat dari pada datangnya.

“Apakah Hay-hong Hujin yang sudah menolong Cayhe?” tanya Pwe-giok dengan suara lantang sambil membungkukkan tubuh.

Tapi dalam kegelapan sama sekali tiada suara jawaban.

Waktu Pwe-giok menengadah, tahu-tahu di hadapannya sudah bertambah seorang yang berwajah pucat dan kening berkerut dengan sorot mata yang layu... Yang muncul ternyata bukan Hay-hong Hujin melainkan Lim Tay-ih.

Debar hati Pwe-giok seketika mengencang, ucapnya dengan tergagap, “Kiranya... kiranya nona, terima kasih banyak-banyak.”

Lim Tay-ih seperti enggan mendengar kata-kata yang bertele-tele itu, jengeknya, “Kenapa kau pakai nama Ji Pwe-giok?”

Pwe-giok jadi melengak, jawabnya gelagapan, “Ini... ini lantaran...”

“Sebaiknya kau ganti nama saja,” kata Tay-ih. “Nama ini tidak membawa alamat baik. Barang siapa memakai nama ini tentu akan mendatangkan kemalangan, bahkan mati. Meski aku diperintahkan Hujin untuk menyelamatkan kau, tetapi paling-paling juga cuma satu kali ini saja kau kutolong!”

Setelah terdiam sejenak, dengan tersenyum getir Pwe-giok bertanya, “Kecuali itu, adakah alasan lain?

“Betul, memang masih ada alasan lain,” jawab Tay-ih. Mendadak ia membalik tubuh dan melangkah beberapa tindak ke sana, lalu menyambung, “Kalau dia sudah mati, aku tidak suka mendengar lagi orang memakai namanya.”

“Tapi aku...”

“Kau pun tidak setimpal memakai nama itu!” jengek Tay-ih.

Pwe-giok melenggong dan menyaksikan bayangan si nona menghilang dalam kegelapan, sukar untuk dijelaskan bagaimana perasaannya. Dia seharusnya berduka karena sikap dingin yang diperlihatkan tunangannya itu. Tapi sikap dingin si nona itu pun menandakan betapa cintanya terhadap Ji Pwe-giok, untuk ini dia harus bersyukur dan bergembira.

Begitulah gundah gulananya hatinya, sebentar pedih sebentar girang, entah manis entah getir…..

********************

Bintang di langit semakin jarang, bulan pun bertambah buram, di ufuk timur sudah mulai remang-remang. Tapi Pwe-giok masih terus melangkah ke depan dengan hati bimbang.

Entah telah berapa lama pula sang surya sudah mulai mengintip di ujung timur. Tiba-tiba saja muncul seorang dengan langkah terhuyung-huyung.

Perawakan orang ini kurus kecil, jenggot berikut rambutnya sudah putih semua, senyum misterius menghias wajahnya. Pwe-giok rnerasa sudah pernah kenal dengan muka orang ini, tapi tidak ingat di mana.

Dilihatnya si kakek kecil ini membawa sebuah lukisan, sesudah dekat mendadak ia angkat lukisannya ke depan Pwe-giok dan menegur, “Coba kau lihat, apa yang kulukis ini?”

Lukisannya itu tampak samar, seperti mega tapi bukan mega, seperti gunung juga bukan gunung, kalau dipandang lebih cermat, rasanya seperti bekas cat yang tumpah di atas kanvas lukisan itu.

Pwe-giok naenggeleng, jawabnya, “Entah, aku tidak tahu.”

“Yang kulukis adalah gunung di depanmu ini, masa tidak dapat kau lihat?” kata pula si kakek kecil.

Mau tak mau Pwe-giok memandang gunung yang tertutup oleh kabut pagi di kejauhan itu, lalu dipandangnya pula lukisan yang dipegang si kakek, sedikit demi sedikit dirasakannya memang rada-rada mirip. Tanpa terasa ia tertawa dan berkata, “Ya, sekarang dapat kulihat persamaannya.”

Mendadak orang tua itu tergelak seperti orang gila, berjingkrak dan menari, tampak jelas girangnya tak terperikan, tapi juga memperlihatkan semacam kelatahan yang aneh.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Pwe-giok heran.

“Aku berhasil, aku berhasil!” teriak si kakek sambil berkeplok gembira.

“Kau berhasil mengenai apa?” tanya Pwe-giok pula.

“Lukisanku telah berhasil,” teriak si kakek. “Akhirnya dapat juga kucapai intisari di dalam lukisanku.”

Pwe-giok menggelengkan kepala sambil memandangi ‘cat tumpah’ hasil lukisan si kakek, katanya dengan menyengir, “Lukisan begini masa dapat dianggap telah berhasil mencapai intisarinya?”

“Coba kau pikir,” kata si kakek, “sudah jelas yang kulukis adalah gunung, tetapi dapat kubuat dia tidak menyerupai gunung. Yang kulukis ini jelas-jelas tidak menyerupai gunung, tapi setelah dipandang dengan cermat terasa seperti gunung pula. Semua ini disebabkan meski bentuk gunungnya tidak kulukis, tapi aku sudah dapat melukis jiwanya, intisarinya sasaran lukisanku.”

Pwe-giok berpikir sejenak, gumamnya kemudian, “Mungkin sedikit sekali orang yang bisa memahami jiwa dari pada lukisanmu ini.”

“Justru orang lain tidak akan dapat memahaminya,” seru si kakek sambil berkeplok. “Tapi asalkan yang kulukis adalah gunung, maka dalam pandanganku lukisan ini ialah gunung, dalam hatiku juga gunung. Hanya aku saja yang paham dan orang lain tetap tidak paham. Cara ini bukankah sangat hebat, sangat bagus?!”

Dia berkeplok sambil bergelak tertawa dan melangkah pergi.

Sebaliknya Pwe-giok berdiri termangu-mangu di situ sambil berpikir, “Jelas-jelas yang kulukis adalah gunung tapi dapat kulukis sehingga tidak menyerupai gunung... Meski tidak kulukiskan bentuk gunungnya, tapi sudah dapat kulukis jiwanya, intisarinya...”

Selain teringat kepada ucapan si kakek tadi, di tepi telinganya seolah-olah terngiang pula wejangan ayahnya dahulu mengenai ilmu pedang. Betapa pun bagus bentuk permainan sesuatu ilmu pedaog, semua itu bukanlah intisari ilmu pedang perguruannya sendiri. Jiwa ilmu pedang Bu-kek-pay terletak pada maksud yang tidak berwujud, terlepas dari pada wujud yang terbatas dan masuk ke alam yang tidak berwujud (abstrak) dan tak berkutub (Bu-kek).

“Apa bila mujijat ini dapat diselami dengan tuntas, maka berarti ilmu pedang yang kau yakinkan telah berhasil…”

Pwe-giok coba merenungkan dan mengulang lagi petuah sang ayah itu, mendadak dia merasa seperti diguyur air dingin, dalam hati seketika terasa “plong,” terasa terang.

Ia mendapatkan setangkai kayu sebagai pedang, dengan perlahan ia menusuk ke depan. Sepenuh hati dan segenap pikiran hanya dipikirnya satu jenis, ‘Thian-te-bu-pian’ (langit dan bumi tak bertepian) dari Bu-kek-kiam-hoat, tapi waktu pedangnya menusuk, gayanya tidak menurut jurus serangan Thian-te-bu-pian yang sebenarnya.

Jurus serangan ini jelas-jelas jurus Thian te-bu-pian, tapi ketika serangan itu dilancarkan jurus itu justru tercakup seluruhnya di dalam serangannya, tidak menyerupai jurus Thian-te-bu-pian, tapi jiwa dan intisari jurus serangan itu justru tercakup seluruhnya di dalam serangan itu.

Kalau dua orang bertempur, bila salah satu pihak dapat melihat lubang kelemahan pihak lawan sehingga dapat mengatasi lebih dulu setiap perubahan gerak lawan, maka dia pasti akan menang. Akan tetapi suatu serangan yang bermaksud, namun tanpa wujud, cara bagaimana pihak lawan akan mampu menghindarinya dan cara bagaimana akan sanggup mematahkannya serta cara bagaimana akan menghindarinya?

Saking kegirangan Pwe-giok lantas tertawa tergelak-gelak dan berteriak, “Sudah dapat kupahami! Sudah kupahami sekarang!”

Tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara nyaring, “Kau memahami apa?”

Segera terdengar pula kicau burung yang ramai di hutan sana, ternyata Ki Leng-yan sejak tadi sudah berada di situ.

Dengan tertawa Pwe-giok menjawab, “Apa yang sudah kupahami, masakah para burung kawanmu itu tidak memberi-tahukannya padamu?”

Sambil termenung Leng-yan mendengarkan sejenak, ucapnya kemudian sambil berkedip-kedip, “Mereka tidak tahu apa yang sudah kau pahami, mereka bilang kau seperti rada-rada sinting.”

“Ha-ha, sudah tentu mereka tidak paham,” ujar Pwe-giok dengan tertawa. “Tapi bolehlah kau katakan kepada mereka bahwa asalkan mereka paham persoalan ini, maka mereka tidak perlu lagi takut kepada elang, malahan manusia juga tidak perlu ditakuti pula.”

“Eh, coba dengar,” kata Leng-yan perlahan sambil tersenyum, “mereka sama menyatakan ucapanmu ini memang benar. Kata mereka, elang memang tiada sesuatu yang perlu ditakuti, yang paling menakutkan di dunia ini adalah manusia!”

Suara tertawa Pwe-giok mulai mereda, ia pandang burung yang beterbangan di tengah hutan di remang-remang fajar sana, tanpa terasa ia menghela napas dan bergumam pula, “Betul juga, manusia memang sangat menakutkan. Sungguh tak tersangka kalian telah memahami soal ini. Sebaliknya manusianya sendiri malah tetap belum paham....”

“Coba lihatlah burung pipit yang baru terbang dari kota sana,” kata Leng-yan dengan rawan. “Dia bilang, seumpama manusia sudah paham akan soal ini toh tetap tak mau mengakui kebenarannya.”

Akhirnya kedua orang pulang ke hotel kecil itu.

Leng-yan telah kenyang tidur, sebaliknya Pwe-giok mulai merasa ngantuk. Ia mendorong pintu kamar sendiri, namun mendadak ia merandek. Ternyata di atas pembaringannya bersimpuh satu orang.

Sinar sang surya yang baru terbit itu menyorot masuk melalui jendela sana dan terlihat jelas wajah orang itu. Kelihatan kepalanya botak kelimis, tetapi wajahnya merah cerah seperti orang muda.

Segera Pwe-giok mengenali orang ini ialah Tong Bu-siang, ketua perguruan keluarga Tong di Sujwan yang terkenal sebagai ahli Amgi atau senjata rahasia nomor satu di dunia.

Tong Bu-siang duduk menunduk dengan mata terpejam, tetapi di sekelilingnya berbaris berpuluh macam senjata rahasia yang gemerlapan, jelas itulah Amgi berasal keluarga Tong yang merontokkan nyali setiap jago persilatan.

Di samping Tong Bu-siang, ada lagi dua orang yang berdiri di kanan-kirinya, meski tetap berpakaian hitam ringkas tapi kedoknya sudah ditanggalkan, jelas mereka ialah Ong Uh-lau dan Sebun Bu-kut.

Pwe-giok menghirup napas panjang-panjang, serunya sambil mengalilingi Ki Leng-yan di luar pintu, “Aha, di kamar sesempit ini ternyata ada juga tamu agung yang berkunjung, selamat bertemu!”

Perlahan Tong Bu-siang membuka matanya, seketika sorot matanya berkelebat seperti kilat, dengan suara berat ia bertanya, “Apakah bocah ini yang kalian maksudkan?”

“Betul,” jawab Ong Uh-lau dengan hormat.

“Bagus, akan kucoba dia!” seru Tong Bu-siang.

Begitu kata ‘dia’ terucapkan, kontan kelima jarinya menyelentik. Serentak barisan Am-gi yang terletak di depannya itu ada lima buah yang menyambar ke depan. Menyusul tangan yang lain juga bekerja, kedua kakinya juga bergerak, sekaligus berpuluh Amgi melayang ke depan, sisanya hanya tinggal tujuh atau delapan buah, sekali tiup, seluruh Amgi itu pun menyambar ke arah Pwe-giok.

Di seluruh tubuh orang tua ini seolah terpasang pesawat khusus dan setiap tempat dapat membidikkan senjata rahasia. Puluhan Am-gi yang berbaris pada pembaringan itu dalam sekejap saja telah dihamburkan seluruhnya.

Padahal bentuk Am-gi itu tak sama, bobotnya juga berbeda, tapi ada yang diselentikkan, ada yang disampuk dengan tangan, ada yang disapu dengan kaki atau ditiup dengan pernapasan yang kuat. Cara menyerangnya dan kekuatannya juga tidak sama, ada yang menyambar dengan cepat dan ada yang lambat, ada yang menyerang lurus langsung, ada yang bergerak melingkar dan ada juga yang berputar-putar di udara untuk kemudian menyerang Pwe-giok dari belakang.

Puluhan Am-gi itu seolah-olah bukan senjata rahasia lagi, tapi lebih menyerupai puluhan jago silat kelas tinggi dengan senjata yang berbeda-beda dan mengerubut Pwe-giok dari berbagai jurusan.

Semenjak Pwe-giok terjun di dunia Kangouw, tidak sedikit lawan tangguh yang pernah ditemuinya. Tapi Am-gi selihay ini sungguh belum pernah dilihat atau didengarnya.

Dengan tetap memegang tangkai kayu tadi, dengan segenap minat dan pikiran segera ia melancarkan jurus serangan ‘Thian-te-bu-pian’, habis itu dengan jurus yang sama dia menyerang pula secara terbalik. Dua serangan dilancarkan secara berlawanan sehingga sukar diraba.

Orang lain hanya melihat tangkai kayunya berputar dua lingkaran dan tidak terlihat cara bagaimana dia bergerak, tahu-tahu terdengar suara “crat-cret” berulang-ulang, berpuluh bentuk senjata rahasia itu entah mengapa sama menancap pada tangkai kayunya.

Seketika Ong Uh-lau dan Sebun Bu-kut melenggong.

Tong Bu-siang juga tercengang, mau-tak-mau ia berseru memuji, “Ilmu pedang bagus!” Lalu dia tepuk bahu Ong Uh-lau dan bertanya, “Dia sudah turun tangan, apakah kalian sudah tahu asal-usul ilmu pedangnya?”

Dengan lesu Ong Uh-lau menjawab, “Belum ketahuan!”

“Ha-ha-ha! Tidak cuma kau saja yang tidak tahu, bahkan berpuluh tahun pengalamanku di dunia Kangouw juga tidak pernah kulihat ilmu pedang sehebat ini,” seru Tong Bu-siang dengan tertawa.

“Tapi dapat kupastikan bahwa di perguruan Bu kek-bun tidak ada ilmu pedang selihay ini.”

“Ya, memang tidak ada!” tukas Ong Uh-lau.

“Sebelumnya memang sudah kuketahui dia pasti bukan Ji Pwe-giok yang mati itu,” kata Tong Bu-siang pula. “Coba pikir jika dia penyamaran Ji Pwe-giok yang pura-pura mati itu, mengapa dia tidak menggunakan nama lain, tapi sengaja tetap memakai nama Ji Pwe-giok?”

Sambil menyengir terpaksa Ong Uh-lau memberi hormat kepada Pwe-giok dan berkata, “Jika tindakan kami terasa agak kasar, mohon Ji-kongcu sudi memberi maaf.”

Pwe-giok tersenyum, katanya, “Ah, tidak menjadi soal, hanya selanjutnya...”

Belum habis ucapannya, mendadak Ki Leng-yan menjerit kaget.

“Blang,” seorang menerobos masuk dengan beringas.

Orang ini memakai baju kasar dan topi kulit semangka, jelas orang ini adalah jongos hotel ini. Tapi jongos yang ramah dan rendah hati ini kini sikapnya telah berubah sama sekali. Kedua matanya tampak merah membara, mulutnya menyeringai sehingga terlihat giginya yang kuning, air mukanya penuh napsu membunuh.

Di tengah jeritan kaget tadi Leng-yan sempat menarik Pwe-giok ke samping, maka jongos hotel itu lantas menerobos langsung ke dalam. Cepat Sebun Bu-kut mendepak sebuah meja kecil di sebelahnya sehingga menyeruduk si jongos.

Tak tersangka sekali hantam jongos itu telah membuat meja itu hancur berkeping-keping.

Diam-diam Pwe-giok terkejut. “Orang macam apakah jongos hotel ini, masa mempunyai tenaga sekuat ini?”

Dalam pada itu Ong Uh-lau juga tidak tinggal diam, pedangnya lantas menusuk. Namun jongos itu sama sekali tidak mengelak, sebaliknya membusungkan dada dan memapak tusukan itu.

“Crat!” tanpa ampun lagi pedang itu menembus dadanya, lalu sekali depak Ong Uh-lau membikin tubuh si jongos mencelat, darah segera berhamburan dan mengotori tangan Oh Uh-lau.

Sambil berkerut kening Ong Uh-lao berkata, “Keparat ini barangkali sudah gila, masa...”

Belum lanjut ucapannya, mendadak Tong Bu-siang sudah melolos belati yang terselip di pinggangnya terus menabas, kontan sebelah lengan Ong Uh-lau dipotongnya mentah-mentah. Ong Uh-lau menjerit kesakitan dan jatuh kelengar.

“Ap... apa maksudmu Cianpwe?” teriak Sebun Bu-kut terkejut.

Wajah Tong Bu-siang yang semula merah cerah itu seketika berubah menjadi pucat, katanya, “Jongos hotel ini telah terkena racun jahat Thian-can-kau dari daerah Miau, dia sudah kehilangan kesadarannya sehingga berubah kuat bukan kepalang, bahkan darah di seluruh tubuhnya juga telah berubah menjadi darah berbisa, barang siapa keciprat setitik darahnya dalam sekejap racun akan terus menjalar ke seluruh tubuh. Bila tangannya ini tidak kubuntungi, hanya sebentar saja seluruh tubuhnya akan membusuk dan mati.”

Keringat dingin berembes di dahi Sebun Bu-kut, ucapnya dengan suara gemetar, “Jadi... jadi inilah salah satu ilmu iblis Thian-can-kau yang disebut Mo-hiat-hu-kut-tay-hoat (ilmu darah iblis pembusuk tulang) itu? Jangan-jangan ada orang Thian-can-kau yang datang kemari?”

Dari suaranya yang gemetar dan ketakutan itu mau tak mau Pwe-giok ikut merinding juga, waktu dia pandang lengan yang putus dan jatuh di lantai itu, ternyata sudah berubah menjadi genangan darah hitam.

Tanpa terasa Pwe-giok bergidik, hati pun berdebar. Bahkan Tong Bu-siang yang terkenal berhati baja pun berkeringat dingin.

“Yang datang di luar itu apakah Khing-hoa-sam-niocu?” tanyanya dengan suara parau.

Segera terdengar; suara tertawa genit di luar sana. Nyaring dan merdu suara tertawanya laksana kicau burung kenari, siapa pun yang mendengar suara tertawa ini pasti akan terguncang perasaannya dan tergetar kalbunya. Namun kulit muka Tong Bu-siang justru berkerut-kerut demi mendengar suara itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner