RENJANA PENDEKAR : JILID-17


Terdengar suara merdu itu berucap pula dengan tertawa genit, “Betapa pun pandangan Tong-loyacu memang terlebih tajam, hanya sekilas melihat saja lantas tahu kami kakak beradik yang datang kemari.”

“Untuk apa kalian datang ke Tionggoan sini?” tanya Tong Bu-siang dengan bengis.

“Dengan sendirinya kedatangan kami ini adalah hendak mengunjungi Tong-loyacu,” jawab suara genit tadi. “Lebih dulu kami sudah mendatangi kediaman Tong-loyacn, tapi Loyacu telah berangkat ke Hong-ti. karena itu kami lantas menyusul kemari. Meski agak terlambat sehingga tidak keburu ikut menyaksikan keramaian pertemuan besar di Hong-ti, tapi dapat berjumpa di sini dengan Tong-loyacu, betapa pun perjalanan kami ini tidaklah sia-sia.”

Dia berbicara sambil tertawa, suaranya enak didengar, sama halnya mengobrol dengan orang tua di rumah, siapa pun tidak menyangka di balik suara merdu dan kata-kata ramah ini tersembunyi hasrat membunuh yang sukar diraba.

Namun jago tua yang namanya mengguncangkan dunia Kangouw ini ternyata gemetar juga mendengar ucapan itu, sambil memegang belatinya dia bertanya pula, “Jadi kalian... kalian sudan pergi ke rumahku?”

Suara itu menjawab dengan tertawa, “Loyacu jangan kuatir, meski kami telah berkunjung ke sana, akan tetapi mengingat Toacihu, sama sekali kami tidak mengganggu apa pun di tempatmu, bahkan seekor semut pun tidak terinjak mati.”

Meski merasa lega juga mendengar keterangan itu, tapi tiba-tiba Tong Bu-siang bertanya pula dengan gusar, “Siapa itu Toacihu (kakak ipar, suami kakak) yang kau maksud?”

Suara genit itu menjawab, “Sungguh pun Tong-kongcu pemuda yang cakap dan pintar, tapi Toaci kami juga nona cantik yang serba mahir. Jadi kedua muda-mudi adalah suatu pasangan yang setimpal, ini kan jodoh yang ditakdirkan?”

“Omong kosong, kentut busuk!” damperat Tong Bu-siang dengan gusar.

Agaknya orang itu tidak marah, terbukti suaranya masih tetap enak didengar, katanya, “Apa lagi mereka berdua memang sudah cocok satu sama lain, si tampan dan si cantik sudah sama-sama ikat janji di taman bunga akan sehidup semati, mengapa Tong-loyacu justru berusaha hendak membuyarkan pasangan merpati ini?”

“Omong kosong!” teriak Tong Bu-siang. “Anak durhaka itu lantaran tidak tahu asal-usul perempuan siluman itu, makanya dia terpikat. Sekarang dia sudah sadar dan tidak sudi beristerikan perempuan siluman itu.”

“Ah, kukira belum tentu,” ujar suara nyaring merdu itu dengan tertawa. “Tong-kongcu adalah seorang pemuda yang berperasaan, tidak nanti dia mengingkari janjinya kepada Toaci kami. Apa lagi, gadis secantik Toaci kami itu, laki-laki mana di dunia ini yang tidak suka padanya? Jika ada, maka lelaki itu pasti gendeng.”

“Tidak bisa, keputusanku sudah bulat, tidak nanti pikiranku berubah, tiada gunanya kalian banyak bicara lagi,” teriak Tong Bu-siang dengan bengis “Mengingat hubungan kalian dengan anak durhaka itu di masa lampau, lekas kalian pulang saja agar tidak terjadi apa-apa yang tidak diinginkan.”

“Jadi sudah pasti Tong-loyacu tidak setuju?” tanya suara genit tadi.

“Ya, tidak nanti berubah,” jawab Tong Bu-siang tegas.

“Dan Loyacu takkan menyesal?” tanya pula suara merdu itu.

“Biar pun seluruh keluarga Tong mati semuanya juga takkan bersedia menerima menantu seperti perempuan siluman itu!” bentak Tong Bu-siang dengan murka.

Sejenak suara genit tadi terdiam, lalu dia berucap pula dengan tertawa, “Wah, tampaknya sukar bagiku untuk membujuk Loyacu, maka terpaksa aku mesti minta perantara seorang comblang.”

Sesudah mendengar sampai di situ, tahulah Pwe-giok bahwa kedatangan Khing-hoa-sam-niocu atau tiga perempuan bunga ini adalah untuk melamar suami kepada Tong Bu-siang. Agaknya sang Toaci atau kakak tertua dari Sam-niocu itu sudah ada ikatan janji dengan Tong-kongcu. Cara mereka memaksakan perjodohan ini tampak mendekati pemerasan, tetapi tekad Tong Bu-siang yang berkeras tidak mau terima perjodohan anaknya ini pun agak keterlaluan.

Selagi Pwe-giok berpikir siapakah comblang yang dimaksudkan itu, apakah si comblang akan sanggup membujuk Tong Bu-siang, tiba-tiba terdengar suara daun jendela terbuka, dari luar lantas melayang masuk satu orang.

Kedua mata orang ini melotot serupa mata ikan emas, air mukanya hitarn kebiru-biruan, kedua pundaknya, dadanya serta punggungnya seluruhnya menancap tujuh bilah belati emas yang gemerdep, tangkai belati pun terbingkai batu permata yang berkilauan.

Dengan mata yang melotot seperti mata ikan mati itu, pendatang ini terus menatap Tong Bu-sing, darah segar tampak meleleh dari ujung matanya, sikapnya sungguh misterius dan juga menyeramkan sekali.

Leng-yan memegangi tangan Ji Pwe-giok dengan mengigil. Muka Sebun Bu-kut tampak pucat dan basah seperti kehujanan, rupanya keringat dinginnya sudah bercucuran seperti air hujan.

Serentak Tong Bu-siang melompat bangun sambil berteriak, “Inilah Kim-to-ho-hiat dari Thian-can-kau!”

Belum lenyap suaranya, mendadak sinar emas gemerdep, tujuh bilah belati emas itu terus melayang keluar jendela membentuk satu garis lurus. Kiranya pada gagang belati yang berhias batu manikam itu terikat pula satu benang emas yang halus.

Ketika ketujuh belati itu melayang keluar, dari lubang luka belati itu langsung menyembur keluar tujuh pancuran darah segar. Seketika itu terjadi hujan darah sehingga memenuhi seluruh kamar.

Sebelumnya Tong Bu-siang telah angkat Ong Uh-lau lantas dilemparkan keluar pintu, ada pun dia sendiri melompat ke atas belandar ruangan. Ji Pwe-giok juga tidak tinggal diam, dengan angin pukulannya dia menolak cipratan darah itu.

Hanya Sebun Bu-kut saja yang lebih lamban reaksinya. Meski ia pun sempat melompat ke atas belandar, tetapi tubuhnya sudah terciprat beberapa titik darah berbisa itu. Tapi ia memang pemberani, dengan nekat ia menyayat kulit daging sendiri yang terciprat darah itu.

Ketika darah berbisa yang berhamburan laksana hujan itu mengenai dinding, seketika dinding yang terkapur putih itu berubah menjadi hitam hangus.

Setiap kungfu yang dikeluarkan Khing-hoa-sam-niocu ternyata sama membawa suasana yang seram dan mengerikan, setiap kungfunya harus minta korban jiwa. Sungguh keji luar biasa.

Pwe-giok berkerut kening, tiba-tiba ia melayang keluar jendela, ia ingin tahu bagaimana macamnya Khing-hoa-sam-niocu yang cantik tapi keji itu.

“Hei, Ji-kongcu, hati-hati.” seru Tong Bu-siang khawatir.

Tapi Ki Leng-yan lantas menanggapi dengan tertawa linglung, “Jangan kuatir, di dunia ini pasti tiada perempuan yang tega mencelakai dia…..!”

********************

Di luar jendela sana ada sebatang pohon besar, pada dahan pohon itu terikat empat atau lima orang, semuanya dalam keadaan tidak sadar, agaknya terbius oleh sesuatu obat.

Di depan pohon berdiri tiga gadis maha cantik, semuanya memakai mantel panjang warna hitam, begitu panjangnya mantel mereka sehingga menyentuh tanah dan menutupi tubuh mereka yang ramping.

Rambut mereka tergelung tinggi di atas kepala, pada bagian atas pelipis sama memakai hiasan bunga permata, yang satu memakai bunga emas gemerdep, satu lagi bunga perak yang berkilau dan seorang lagi memakai bunga yang berwarna hitam gelap.

Gadis yang memakai hiasan bunga emas itu beralis lentik agak menegak, matanya yang jeli itu mengembeng air mata seperti gadis yang lagi dirundung kesedihan. Jelas gadis bunga emas ini adalah sang Toaci yang sedang kasmaran itu.

Gadis yang berhias bunga perak berwajah bulat, matanya selalu mengerling genit, lirikan matanya dapat membuat luluh hati lelaki yang berhati baja sekali pun.

Gadis ketiga yang memakai bunga hitam gelap paling cantik, lirikan matanya juga paling menggiurkan, senyumnya yang paling manis, kalau bicara, belum berucap telah tertawa. Barang siapa memandangnya sekejap saja pasti akan jatuh hati kepadanya.

Mungkinkah tiga gadis maha cantik ini adalah tokoh dari agama jahat yang paling terkenal dan paling disegani di dunia persilatan sekarang ini, yaitu Khing-hoa-sam-niocu.

Apakah ketiga pasang tangan yang halus dan mulus ini pun dapat menggunakan kungfu yang misterius serta maha keji itu sehingga jiwa manusia dipandang mereka seperti permainan anak kecil?

Jika tidak menyaksikan sendiri kelihayan mereka, tentu Pwe-giok juga tidak percaya akan kekejian mereka.

Tiga pasang mata jeli dengan lirikan memabukkan itu sama terpusat pada diri Pwe-giok, seakan-akan menembus dada anak muda itu, ingin tahu isi hatinya.

Mendadak Thi-hoa niocu, yaitu si nona bunga besi berkata dengan tertawa genit, “Ehh, pemuda bagus dari mana ini? Kedatanganmu ke sini apakah hendak memikat perempuan dari keluarga baik-baik seperti kami ini?”

Dengan hambar Pwe-giok menjawab, “Kedatanganku ini hanya ingin belajar kenal dengan kehebatan cara para nona membunuh orang.”

Thi-hoa-niocu terhitung yang paling seksi di antara ketiga Khing-hoa-sam-niocu. Dengan langkah gemulai ia mendekati Pwe-giok, katanya pula dengan senyum manis, “Membunuh katamu? Wah, ucapanmu sungguh menakutkan. Membunuh otang hanya akan merusak kecantikan anak perempuan. Selamanya kami tak berani membunuh. Apakah anda sering membunuh orang?”

Dia berbicara dengan suara lembut dan senyum selalu dikulum serta menatap Pwe-giok dengan pandangan yang tulus sehingga mirip benar seorang nona cilik yang selamanya tidak pernah membunuh, bahkan tidak tahu apa artinya membunuh.

Meski tahu jelas nona ini tidak saja membunuh, bahkan memandang jiwa manusia tidak lebih berharga dari pada jiwa semut, tetapi melihat cara bicaranya dan melihat sikapnya sekarang, Pwe-giok menjadi tidak percaya pada pandangannya sendiri. Ia berkerut kening dan bertanya dengan ragu, “Maksudmu, kedua orang tadi bukan dibunuh olehmu?”

Mata Thi-hia-niocu terbelalak lebar, seperti terkesiap dan heran, jawabnya, “Kau bilang kedua orang yang masuk ke rumah itu?”

Pwe-giok mengiyakan.

“Bukan kau yang membunuh kedua orang itu?”

“Aku…?!” Pwe-giok jadi melengak sendiri.

“Jelas-jelas kedua orang tadi masuk ke sana dalam keadaan segar bugar dan telah kalian bunuh, masa sekarang kalian malah menuduh diriku?!” kata Thi-hoa-niocu.

Ia berbalik menghantam Pwe-giok, cara bicaranya juga tegas. Meski penasaran, seketika Pwe-giok jadi kalah berbantah.

Thi-hoa-niocu menghela nafas, katanya pula, “Aku tahu, setelah kau bunuh orang, tentu perasaanmu tidak enak. Tetapi engkau pun tidak perlu berduka, asalkan lain kali jangan sembarangan membunuh kan beres?!”

Mestinya Pwe-giok yang hendak memberi nasihat kepadanya, sekarang si nona berbalik memberi wejangan, keruan anak muda itu serba runyam, rasa gusarnya menjadi sukar dihamburkan.

Maklum, menghadapi nona cantik, lincah, pintar, dan binal seperti ini, jika digunakan sikap kasar dengan membentak, memaki atau memukulnya kan tidak pantas.

Kembali Thi-hoa-niocu tersenyum manis, ia kebaskan sapu tangannya dengan perlahan dan berkata pula, “Jika hatimu kesal, marilah ikut padaku. Bisa jadi akan kubikin hatimu menjadi riang.”

Dia terus melangkah beberapa tindak ke sana, lalu menoleh, dilihatnya Pwe-giok tetap berdiri tenang di tempatnya tanpa ikut melangkah dan juga tiada sesuatu perubahan. Keruan hati Thi-hoa-niocu terkejut, namun senyum yang menghias wajahnya bertambah manis sehingga rasa kejutnya tidak kelihatan.

Rupanya pada sapu tangannya itu tersembunyi semacam obat bius yang paling lihay dari Thian-can-kau. Apa yang dipergunakan Thi-hoa-nio ini disebut ‘Lo-pek-ciau-hun-tay-hoat’ atau ilmu sapu tangan penghisap sukma. Gerak tangannya kelihatan enteng saja, tetapi sesungguhnya memerlukan kecermatan yang luar biasa, baik gerakannya, pengaturan waktunya, arah angin, semuanya harus diperhitungkan dengan tepat.

Selain itu, lebih dahulu pihak lawan harus dirayu sehingga setengah linglung dan sama sekali tidak berjaga-jaga, untuk ini sudah tentu diperlukan daya pelet dan kecerdikan, jadi lambaian sapu tangan yang kelihatannya sepele ini sebenarnya memerlukan pengetahuan yang luas dan dalam, sebab itulah ia termasuk satu di antara ke tujuh ilmu iblis berbisa dari Thian-can-kau.

Selama ini entah sudah berapa banyak orang kangouw yang terjungkal di bawah ‘Lo-pek-ciau-hun-hoat’ ini, mengingat usia Ji Pwe-giok yang masih muda belia, Thi-hoa-nio yakin pasti dapat merobohkannya.

Siapa tahu, biar pun masih muda usia tapi Pwe-giok sudah kenyang pengalaman, sudah berkali-kali ia menghadapi peristiwa yang menentukan mati dan hidup, terhadap siapa pun dia senantiasa waspada, maka begitu melihat gelagat tidak baik, segera dia menahan pernapasannya.

Begitulah Thi-hoa-nio menjadi terkejut, namun di mulut dia masih bicara dengan manis, “Wah, besar amat lagakmu, masa diundang dengan hormat saja tidak mau?!”

Terdengar seorang menukas sambil tertawa di kejauhan, “Kalau kongcu sudi ikut pergi bersama kami kakak beradik, kujamin kongcu pasti takkan kecewa!”

Suaranya berat dan rada parau, namun penuh daya pikat yang menggetar sukma, setiap katanya seolah-olah mengkili-kili hati setiap lelaki.

Di tengah suara tertawa, tertampaklah Gin-hoa-nio (si bunga perak) telah muncul, begitu riang wajahnya seolah-olah alisnya lagi tertawa dan matanya juga sedang tertawa. Hampir setiap bagian sekujur badannya seperti sedang tertawa genit terhadap Pwe-giok.

Belum lagi orangnya mendekat, bau harumnya yang merangsang telah tersiar lebih dulu, sebelah tangannya yang membelai rambut dengan kerlingan mata yang menggiurkan, katanya pula dengan tersenyum getir, “Ku tahu kongcu pasti takkan menolak ajakan kami bukan?”

“Bukan,” jawab Pwe-giok dengan hambar, jawaban yang sederhana.

Gin-hoa-nio terlihat melengak juga, tapi ia lantas berkata pula dengan lenggokan pinggang menggiurkan, “Masa kongcu sampai hati?”

Setiap gerak-gerik Gin-hoa-nio seolah-olah ingin memancing kaum lelaki berbuat sesuatu, setiap kerlingan dan senyumnya cukup menimbulkan gairah kaum lelaki.

Namun Pwe-giok masih tetap memandangnya dengan hambar, mirip orang yang sedang menonton suatu permainan. Hakekatnya Pwe-giok tak perlu bicara, sikapnya yang dingin dan menghina ini sudah lebih tajam dari pada kata-kata apa pun juga.

Gin-hoa-nio menghela napas, ucapnya, “Kau tidak mau ikut, juga tidak pergi, memangnya untuk apa kau cuma berdiri saja di sini?”

“Aku ingin tahu Khing-hoa-sam-niocu masih mempunyai kemahiran apa lagi?” jawab Pwe-giok dengan tertawa.

Mendadak air muka Gin-hoa-nio berubah, ia tertawa terkekeh-kekeh dan berseru, “Baik!”

Begitu kata “baik” terucapkan, serentak ketiga kakak beradik itu lantas berputar dengan cepat, mantel mereka yang longgar lantas ikut berkibar sehingga tubuh mereka kelihatan.

Seketika Pwe-giok melenggong.

Sungguh tak terduga bahwa tubuh di dalam mantel itu ternyata telanjang bulat. Di antara tubuh yang putih mulus itu hanya bagian pinggul saja yang menggunakan sepotong gaun hijau yang cekak sehingga kelihatan kedua kakinya yang jenjang. Dadanya padat dengan kulit badan yang putih bersih.

Mantel hitam mereka mendadak terbang seperti kupu-kupu raksasa, rambut mereka yang panjang terurai di atas dada yang putih, dada yang kelihatan kenyal dan tergetar-getar.

Gaya tarian mereka tampak halus dengan sepasang tangan yang mulus serta kaki yang jenjang mempesona, semua ini seakan-akan sedang menggapai-gapai Pwe-giok.

Lambat laun pipi ketiga nona ini bersemu merah dengan mata separuh terbuka dan mulut setengah terpentang, dada berombak naik turun dan mengeluarkan suara yang menggetar sukma. Inilah suara kehausan dan gerakan yang penuh harap. Semua ini benar-benar bisa membikin gila kaum lelaki.

Namun Pwe-giok masih tetap memandangnya dengan hambar, sorot matanya juga tidak dialihkan ke jurusan lain.

Kini gaya tari mereka yang semula kelihatan ruwet itu mulai berubah menjadi sederhana dan sangat bersahaja, mereka seperti masih meronta-ronta di tengah kehausan, bergeliat, berkeluk-keluk, bergemetar dan memohon...

Mendadak Pwe-giok menghela napas, katanya, “Nona Kim-hoa, gaya tarianmu ini kalau dilihat Tong-kongcu, lantas bagaimana jadinya?”

Tubuh Kim-hoa-nio tampak bergemetar mirip kena dicambuk orang. Akan tetapi tariannya masih tetap berlangsung.

Sekonyong-konyong Gin-hoa-nio tertawa nyaring dan serentak ketiga nona itu berjungkir dengan kepala di bawah, dengan tangan sebagai kaki mereka menari dengan gaya lebih gila lagi.

Dapatlah dibayangkan jika perempuan telanjang berjungkir dengan kaki bergerak-gerak di udara dan rambut terurai di lantai dan... tidak perlu menyaksikan sendiri juga setiap orang dapat membayangkan betapa gilanya gaya tersebut. Kalau ada lelaki yang tidak berdebar-debar jantungnya dan timbul reaksi badaniah yang spontan demi menyaksikan tari yang gila ini, maka lelaki itu pasti punya penyakit jika tidak mau dikatakan abnormal.

“Awas, itulah Siau-hun-thian-mo-bu!” tiba-tiba saja terdengar suara Tong Bu-siang berseru dengan suara gemetar.

“Blang,” mendadak daun jendela ditutupnya, ia tidak berani memandang lagi. Siau-hun-thian-mo-bu, tarian iblis pembetot sukma, siapa pun tidak tahan melihat tarian gila ini.

Rupanya Tong Bu-siang menyadari betapa lihay daya tarik tarian itu, apa bila dirinya tidak tahan seketika bisa tertimpa bencana, sungguh ia tidak berani menyerempet bahaya ini.

Suasana sunyi sepi, hanya terdengar suara napas dan keluhan yang menggetar sukma saja, seperti membawa semacam irama aneh yang dapat menghancurkan iman setiap lelaki.

Sejenak kemudian, “blang,” daun jendela yang tertutup tadi mendadak berlubang karena dibobol dari dalam, rupanya Tong Bu-siang tidak tahan oleh suara keluhan yang sangat merangsang itu, betapa pun dia ingin melihatnya.

Wajah orang tua ini kelihatan merah padam, sorot matanya seolah-olah membara, sekujur badannya gemetar. Saking tak tahan beberapa kali dia hendak menerjang keluar kamar, akan tetapi dia menggertak gigi dan bertahan sekuatnya, celakanya matanya justru sukar dipejamkan. Tarian iblis pembetot sukma ini benar-benar menimbulkan daya pikat yang sukar dibayangkan.

Di bawah bimbingan orang tua yang kereng, sejak kecil watak dan iman Pwe-giok sudah terpupuk dengan kuat. Melulu soal iman, di antara tokoh-tokoh Bu-lim sekarang mungkin tiada seberapa orang yang bisa menandingi dia. Jika tiada keteguhan iman yang melebihi orang lain ini, mungkin dia sudah gila selama lebih sebulan ini mengalami pukulan yang luar biasa ini. Walau pun demikian, tidak urung jantungnya sekarang juga berdebur-debur dan hampir tiada bertenaga lagi.

Pada saat itu cahaya sang surya menyorot terlebih terang, di depan matanya seolah-olah terlapis sinar kelabu yang gemerlapan, waktu ia mengawasi lebih cermat, di sekelilingnya ternyata sudah terjalin selapis jaring halus.

Jaring halus berwarna putih kelabu telah mengurungnya di tengah, benang perak yang halus dan hampir tidak kelihatan oleh mata telanjang itu terus terjulur dari ujung jari Khing-hoa-sam-niocu.

Tiba-tiba Thi-hoa-nio melompat ke atas, kemudian berdiri tegak, ucapnya sambil tertawa, “Boleh juga ketajaman matamu, akhirnya dapat kau lihat juga.”

“Cara nona mempertontonkan keindahan tubuhmu ini, apakah tujuan kalian adalah untuk memasang jaring labah-labah yang tiada artinya ini?” tanya Pwe-giok dengan gegetun.

“Salah besar jika demikian pikiranmu,” jawab Thi-hoa-nio dengan tertawa. “Thian-mo-sin-bu sendiri yang kami tarikan ini memang sudah penuh daya pikat, jika kau tidak percaya, boleh kau lihat Tong-loyacu itu, bila mana kami tidak mengingat kepada Tong-kongcu, mungkin... mungkin ahli Am-gi nomor satu yang termashur ini sekarang sudah... sudah...” dia sengaja tidak melanjutkan dan tertawalah terkial-kial.

Tanpa terasa Pwe-giok berpaling ke sana, dilihatnya Tong Bu-siang bersandar di ambang jendela dengan lunglai, tampaknya sedikit pun tiada bertenaga pula.

Nyata apa yang dikatakan Thi-hoa-nio barusan memang bukan bualan, bila mana Thian-mo-bu ini ditujukan kepada Tong Bu-siang, saat ini mungkin jago Am-gi nomor satu ini sudah mati di bawah kerumunan nona-nona bunga ini. Mau tak mau terkesiap juga Pwe-giok.

Sampai sekian lama Thi-hoa-nio tertawa, sesudah itu mendadak ia berkata pula dengan menyesal, “Cuma sayang, kau ini lebih mirip patung, sama sekali tidak tahu menikmati keindahan orang perempuan, maka terpaksa kami melepaskan Gin-si (benang perak), tapi ini pun bukan benang labah-labah.”

“Habis apa kalau bukan benang labah-labah?” tanya Pwe-giok.

“Akan kuberi-tahukan, supaya tambah pengetahuanmu.” ujar Thi-hoa-nio. “Inilah ‘Ceng-si’ yang dikeluarkan oleh ‘Thian-can’ (ulat sutera sakti), makhluk sakti agama kami.”

“Ceng-si (benang cinta)...? Bagus juga nama ini,” ujar Pwe-giok dengan tersenyum.

“Apa bila sudah terlibat oleh Ceng-si ini, maka sukarlah melepaskan diri. Benang cinta ini akan mengikat dan merasuk tulang, betapa nikmat rasanya yang menggetar kalbu itu, mimpi pun tak dapat kau bayangkan,” kata Thi-hoa-nio pula dengan tertawa genit. “Cuma sayang, terlampau cepat kau melihat benang cinta ini tadi, kalau tidak, tentu sekarang kenikmatannya sudah kau rasakan.”

Pwe-giok tahu Thian-can-ceng-si ini pasti keji bukan main. Tadi apa bila dirinya sampai terlibat oleh benang itu, maka jangan harap akan bisa terlepas lagi, mau tak mau harus pasrah nasib untuk diperlakukan sesuka mereka, tatkala mana mungkin minta hidup tak dapat, ingin mati pun sukar.

Nyata, dalam waktu singkat tadi meski tampaknya tiada terjadi sesuatu yang berbahaya, tetapi sesungguhnya dia sudah berada di ambang pintu neraka dan untung bisa pulang balik.

Teringat begitu, tanpa terasa Pwe-giok berkeringat dingin, namun pada lahirnya dia tetap tenang-tenang saja, katanya dengan tersenyum, “Cayhe cukup maklum, semakin indah nama sesuatu benda, semakin keji pula benda itu. Seperti Siau-hun-san (Puyer pembuyar sukma), To-ceng-ciu (Arak pelarian cinta) dan sebagainya, kuyakin Ceng-si andalan kalian ini pasti juga sejenisnya.”

Mulut Thi-hoa-nio menjengkit, ucapnya, “Ceng-si agama kami ini tidak dapat dibandingi benda apa pun di dunia ini, barang sebangsa Sian-hun-san, To-ceng-ciu dan sebagainya mana dapat disejajarkan dengan Ceng-si?”

“Jika demikian, tadi waktu para nona menumpahkan Ceng-si dari tangan, kenapa benang itu tidak kalian libatkan pada tubuhku, sungguh sampai saat ini aku merasa tidak paham.”

“Sudah kubilang kau ini orang tolol, nyatanya kau memang bebal sekali,” ujar Thi-hoa-nio dengan tertawa genit. “Tadi jika kami benar-benar langsung melibat dirimu dengan Ceng-si, bukankah segera akan diketahui olehmu? Hanya satu dua utas Ceng-si mana dapat mengikat patung seperti kau ini?”

“Oo, kiranya demikian.” ucap Pwe-giok dengan tersenyum.

Melihat senyuman anak muda itu, segera Thi-hoa-nio merasa dirinya telah terpancing dan terlanjur bicara tentang daya guna Ceng-si. Ia berkedip-kedip, lalu berkata pula dengan tertawa, “Tapi saat ini kau sudah terkurung rapat oleh Ceng-si kami bertiga dan jangan harap akan dapat lolos lagi, lebih baik kau berlutut dan menyerah kepada kami, kujamin pasti akan memuaskan kau.”

“Para nona memiliki Ceng-si, aku kan juga punya Hui-kiam (pedang tajam),” kata Pwe-giok. Habis bicara, sekali tangannya bergetar, Am-gi keluarga Tong yang menancap di ranting kayu yang masih dipegangnya itu segera ada dua buah melayang ke sana.

Meski kedua biji Am-gi ini terpental karena tenaga sentakan ranting kayu itu, namun dari suara mendesingnya yang amat keras, jelas jauh lebih kuat dari pada ditimpukkan dengan tangan orang lain.

Tak terduga, Am-gi sekuat itu sama sekali tak berguna, begitu menyentuh jaring cinta itu, sama seperti laron masuk ke jaring, meronta tapi tak bisa terlepas, menerjang namun tak dapat tembus.

Pwe-giok jadi teringat pada dirinya sendirinya yang terikat oleh benang cinta Lim Tay-ih, selama ini pikirannya selalu dirundung rindu dan sukar dilupakan, entah pula bagaimana nantinya.

Teringat sampai di sini, seketika itu timbul macam-macam pikirannya, ucapnya dengan tersenyum getir, “Nama Ceng-si yang nona gunakan ini sungguh nama yang amat bagus dan sukar dicari.”

“Dan sekarang kau sudah menyerah?” tanya Thi-hoa-nio dengan tertawa.

Pwe-giok termangu-mangu seperti orang linglung, seolah-olah tidak mendengar apa yang diucapkan si nona.

Thi-hoa-nio berkata pula, “Jika kau tidak segera menjawab, sekali jaring kami tarik maka seketika kau akan menjadi setan bagi cinta.”

“Bisa menjadi setan bagi cinta mungkin akan lebih baik dari pada selama hidup senantiasa dirundung rindu,” jawab Pwe-giok dengan menghela napas panjang.

“Baiklah jika memang begitulah kehendakmu!” seru Thi-hoa-nio.

Dia bertepuk tangan perlahan, lapisan jaring yang putih kelabu itu lantas mulai ringkas ke tengah, perlahan-lahan mendesak ke tubuh Ji Pwe-giok. Bila tubuhnya sampai tersentuh Ceng-si, maka sukarlah melepaskan diri. Benang cinta ini memang tiada ubahnya seperti benang kematian!

Entah apa yang terpikir oleh Ji Pwe-giok, tampaknya ia tidak menyadari malaikat elmaut selangkah demi selangkah sedang mendekatinya.

Dipandang dari jauh Pwe-giok seperti berdiri di tengah-tengah tiga dewi cantik dan sedang bersenda gurau, siapa yang tidak mengiler melihat adegan yang menggiurkan ini? Siapa pula yang tahu sesungguhnya anak muda itu sudah terjeblos ke dalam jaringan maut.

Kim-hoa-nio hanya memandangi Pwe-giok dengan termangu-mangu, ucapnya dengan rawan, “Menjadi setan bagi cinta memang jauh lebih baik dari pada hidup dirundung rindu tak sampai, tampaknya kau telah berpengalaman dengan cinta, seumpama mati pun tak menjadi soal.”

Mendadak Pwe-giok tertawa dan bersenandung, “Ingin tak rindu, membuat orang cepat tua, setelah berpikir, tetap rindu jua...” di tengah senandungnya perlahan ia ayun ranting kayunya setengah lingkaran, Am-gi yang menancap pada ranting kayu itu seluruhnya lengket pula pada jaring cinta itu hingga berwujud suatu lingkaran.

“Hi-hi, dengan besi rongsokan ini kau kira dapat membobol benang cinta kami ini?” kata Thi-hoa-nio dengan tertawa mengikik.

Belum lenyap suaranya, dengan ranting kayu sebagai pedang, Pwe-giok terus menusuk berpuluh kali, setiap kali tusukannya tepat mengenai Am-gi yang menempel di ‘jaring cinta’ itu. Tenaga tusukan yang digunakan sangat kuat.

Thi-hoa-nio merasa pergelangannya tergetar hebat, bukan saja jaring itu sukar ditarik dan ringkas, sebaliknya malah terasa membentang lebar, tanpa terasa ia berseru, “Sungguh cerdik caramu ini, rasanya aku pun rada-rada kagum padamu.”

Hendaklah diketahui bahwa benang ulat sutera alam itu mempunyai daya lengket yang sangat kuat, benda apa pun bila melengket lantas sukar terlepas, karena benang itu pun bisa mulur mengkeret, maka ditolak atau dipentang sekuatnya tetap sukar membobolnya.

Bila melulu menggunakan ‘pedang’ dan langsung menusuk ‘jaring cinta’ itu, sekali pedang melengket, sekali pun besar tenaganya dan dapat melubangi jaring itu, namun orangnya tetap akan terlilit juga di tengah jaring.

Tetapi sekarang Pwe-giok menghamburkan lebih dulu am-gi sebanyak itu dan menempel pada jaring, lalu ‘pedang’ menghantam am-gi dengan sendirinya berbagai senjata rahasia itu takkan melengket pada benda lain dan Pwe-giok lantas dapat memainkan pedangnya dengan leluasa.

Cara ini tampaknya sangat sederhana, tapi bila tiada mempunyai kecerdasan luar biasa tidak nanti mampu berpikir sejauh ini. Sekarang ranting kayu di tangan Pwe-giok sudah berubah menjadi sebilah pedang serba guna.

Terdengar serentetan suara ‘trang tring’ yang nyaring. Susul menyusul Pwe-giok menusuk lebih gencar, tenaga yang dilontarkan juga semakin kuat, padahal jaring itu sedang ditarik dan diringkaskan oleh ketiga nona bunga itu, sebaliknya Am-gi yang ditusuk pedangnya menerjang keluar dengan kuat, akhirnya ujung berbagai senjata rahasia itu pun tertembus keluar jaring.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner