RENJANA PENDEKAR : JILID-18


Tiba-tiba Pwe-giok bersiul panjang sambil tubuhnya berputar kencang, pedang menggaris, lingkaran senjata rahasia yang berjajar itu tertolak lebih keras oleh pedang itu. Senjata rahasia pertama merenggang satu-dua inci ke samping dan menyampuk senjata rahasia kedua. Maka senjata rahasia kedua itu dapat merobek jaring cinta itu beberapa inci lagi terus menghantam senjata rahasia ketiga dan begitu seterusnya...

Hanya dalam sekejap saja ‘Jaring Cinta’ itu hampir terobek seluruhnya, ketika Pwe-giok menyingkap dengan ujung ranting kayunya, segera orangnya menerobos keluar sambil bersiul panjang melengking.

Khing-hoa-sam-niocu seakan-akan kesima menyaksikan olah Pwe-giok yang luar biasa itu, baru sekarang mereka terkejut sadar dan cepat melompat mundur bersama.

“Bagus, bagus sekali,” seru Thi-hoa-nio dengan tertawa. “Di kolong langit ini kau orang pertama yang dapat menerobos keluar dari Ceng-bang (jaring cinta) ini. Kau memang hebat dan pantas dibanggakan...”

Di tengah suara tertawanya yang seram, mendadak ia mencabut sebilah golok emas yang menancap di pohon, sekali berkelebat, lengan beberapa orang teringkus di batang pohon itu ditabasnya mentah-mentah. Darah segar berhamburan, tetapi orang-orang itu seperti tidak merasa sakit, mereka malah tertawa seperti orang gendeng.

Thi-hoa-nio lantas melemparkan lengan kutung yang berlumuran darah itu kepada Pwe-giok.

Dengan gusar Pwe-giok membentak; “Sampai sekarang kalian masih membikin celaka orang?”

Cepat dia melompat mundur. Dia tahu darah yang muncrat dari lengan kutung itu pasti darah berbisa yang bisa membikin celaka orang. Saking gemasnya melihat kekejian Thi-hoa-nio itu, segera Pwe-giok melayang ke atas dan hendak menerjang mereka.

Tapi mendadak “blang,” suara letusan menggelegar, beberapa lengan kutung itu tiba-tiba meledak dan berubah menjadi kabut darah yang mengerikan. Kabut berdarah itu tersebar dengan sangat cepat dan membanjir ke arah Pwe-giok.

Saat itu Pwe-giok masih terapung di atas. Dia terkejut, sebisanya dia melejit di angkasa sehingga tubuh sendiri terpental lebih cepat ke belakang dan turun kembali ke bawah. Dilihatnya kabut berdarah itu masih terus menjalar, cuma jaraknya sekarang sudah mulai menjauh.

Didengarnya suara Thi-hoa-nio yang seram berkumandang dari jauh, “Sekali Thian-can (ulat sutera sakti) menyusup tulang, sebelum mati takkan berhenti, boleh kau tunggu saja nanti...”

Kabut itu pun mulai menipis, tetapi bayangan Khing-hoa-Sam-niocu sudah tidak kelihatan lagi, hanya golok emas yang menancap di pohon itu tampak masih bergoyang-goyang.

Kebetulan angin meniup, seketika tercium bau darah yang anyir. Pwe-giok ingin tumpah, sungguh tidak kepalang kejutnya mengingat apa yang terjadi barusan.

Terdengar Tong Bu-siang berkata sambil menghela napas panjang, “Inilah ilmu andalan Thian-can-kau yang dinamakan Kim-to-kay-te, Hiat-sun-tay-hoat (Golok emas membelah tubuh, ilmu menghilang di balik kabut darah). Sekali ilmu ini dikeluarkan, maka di dunia ini mungkin tiada seorang pun yang mampu menangkap mereka.”

Ahli senjata rahasia nomor satu yang termashur ini tampak bersandar lemas di ambang jendela dan memandang jauh ke depan, sorot matanya juga menampilkan rasa kejut dan takut yang tak terhingga, seperti membayangkan bahaya dan petaka yang bakal timbul.

“Agama iblis sekeji dan kejam ini, mengapa tiada orang yang mau menumpas mereka?” kata Pwe-giok dengan menyesal.

Tong Bu-siang tersenyum getir, katanya, “Memangnya siapa yang sanggup menumpas mereka? Ilmu silat Thian-can-mo-kau sungguh teramat keji, orang biasa hakekatnya tidak dapat mendekati mereka, begitu menempel tubuh mereka seketika jiwa melayang”

“Siapakah Kaucu mereka?” tanya Pwe-giok.

“Kaucu Thian-can-kau hakekatnya tidak pernah dilihat oleh siapa pun juga, jejaknya sukar diketahui, pergi datang tanpa bekas serupa hantu, wajah aslinya tak pernah dikenal orang, bahkan siapa namanya juga tiada yang tahu.”

“Aku tidak percaya kalau di dunia ini tiada seorang pun yang mampu mengatasi dia!” ujar Pwe-giok.

“Ilmu silat Thian-can-kau memang sangat keji, tapi juga tidak sembarangan mengganggu orang, jejaknya juga sangat jarang ditemukan di wilayah Tionggoan, mereka kebanyakan berkeliaran di pegunungan sunyi dan di daerah terpencil, bila mana mereka tidak mencari orang lain, hakekatnya orang lain pun sukar menemukan mereka.”

“Namun aku tetap yakin pasti ada orang yang akan menumpas mereka,” kata Pwe-giok pula perlahan setelah termenung sejenak.

Mata Tong Bu-siang terbelalak, katanya, “Ya, mungkin kau... kau masih muda dan berani, tinggi pula ilmu silatmu, apa bila kelak ada orang yang mampu menumpas Thian-can-kau, maka... maka orang itu pastilah kau. Mengenai diriku...” dia menyengir, lalu menyambung pula, “Pada waktu muda hidupku tidak teratur dan suka menuruti bisikan hati, iman tidak teguh. Jadi ilmu jahat Thian-can-kau kebetulan adalah lawan maut bagiku.”

Baru sekarang Pwe-giok tahu apa sebabnya seorang guru besar dunia persilatan terkenal ini demikian jeri terhadap Khing-hoa-sam niocu dan begitu mudah dipengaruhi oleh tarian gila tadi.

Mendadak Sebun Bu-kut melongok keluar dan memandang Pwe-giok dengan tersenyum misterius, katanya, “Thian-can merasuk tulang, sebelum mati tidak akan berhenti. Sekali terlibat mereka maka jarang ada orang yang dapat lepas dengan hidup. Meski sekarang mereka sudah pergi, tapi Ji-kongcu masih perlu hati-hati.”

“Untuk ini tidak perlu anda ikut kuatir,” jawab Pwe-giok dengan tersenyum hambar.

“Jika demikian, biarlah Cayhe mohon diri lebih dulu,” kata Sebun Bu-kut. Mendadak dia berpaling kepada Tong Bu-siang dan bertanya, “Dan Tong Cianpwe...?”

Tong Bu-siang tampak ragu, katanya, “Ji-kongcu...”

“Cianpwe silakan pergi saja dan tidak perlu kuatir bagiku,” sela Pwe-giok dengan tertawa, “Bila aku tidak dapat menjaga diriku sendiri, cara bagaimana aku akan berkelana di dunia Kangouw kelak?”

Tong Bu-siang berpikir sejenak, katanya pula, “Ya, kuyakin kau pasti sanggup menjaga dirimu sendiri. Hanya perlu kau ingat, masa paling lihay dari racun ulat ini hanya tujuh hari, asalkan kau dapat bertahan tujuh hari pertama, selanjutnya tentu tidak berbahaya lagi.”

“Tetapi untuk tujuh hari itulah sampai sekarang belum pernah ada orang yang sanggup menghindarinya” kata Sebun Bu-kut dengan seram. Habis itu, sekuatnya ia memayang Ong Uh-lau dan diajak pergi.

Menunggu setelah Tong Bu-siang juga pergi, barulah Ki Leng-yan muncul sambil tertawa, katanya, “Memang aku tahu di dunia ini tiada seorang perempuan pun yang sampai hati mem...” belum habis ucapannya, mendadak Pwe-giok jatuh terkapar.

Terlihat wajahnya pucat menghijau, bibirnya bergemetar, sekujur badan menggigil. Leng-yan coba merabanya, terasa badan pemuda itu panas seperti dibakar.

Rupanya tadi waktu kabut berdarah mulai buyar, tanpa terasa dia sudah menghisapnya setitik. Waktu itu dia memang sudah merasakan gelagat tidak enak, tetapi baru sekarang racun itu mulai bekerja.

Leng-yan seperti terkesima saking cemasnya, dipandangnya Pwe-giok dengan termangu-mangu, katanya kemudian, “Akhirnya kau terkena juga... terkena juga racun mereka.”

Pwe-giok merasa seluruh badan sebentar dingin sebentar panas, ia tahu keracunan tidak ringan, tetapi dia memang berbudi luhur, selalu memikirkan orang lain lebih dulu. Ia kuatir Leng-yan berkuatir dan berduka baginya, maka sedapatnya ia berlagak tenang. katanya dengan tertawa, “Sejak tadi aku tahu keracunan, tapi... tapi tak berhalangan...”

Leng-yan berpikir sejenak, katanya kemudian, “Jika sejak tadi tahu keracunan, mengapa tidak kau katakan?”

“Kau tahu Sebun Bu-kut dan komplotannya itu bermaksud jahat padaku,” tutur Pwe-giok. “Jika tadi aku perlihatkan tanda-tanda keracunan, mungkin mereka takkan meninggalkan diriku. Sebab itulah aku bertahan sekuatnya hingga sekarang.”

Meski untuk bicara saja rasanya sangat sulit, namun Pwe-giok bertahan dan berusaha memberi penjelasan kepada Ki Leng-yan, diharapkannya semoga anak perempuan yang masih polos dan suci bersih ini bisa lebih banyak memahami seluk-beluk orang hidup.

Nona itu menghela napas, katanya, “Ai, kenapa manusia selalu punya macam-macam soal ruwet begitu, burung tentu tidak...”

Memandangi wajah si nona yang kekanak-kanakan dan linglung itu, susah juga hati Pwe-giok. Ia tahu ucapan Sebun Bu-kut tadi bukan untuk menakutinya, Khing-hoa-sam-niocu pasti tidak akan melepaskan dia, selama tujuh hari ini pasti sukar dilewatkan. Apa lagi sekarang dirinya keracunan, untuk berdiri saja tidak kuat.

Kalau sekarang dia didampingi orang lain, mungkin dapat membantu dia menghindarkan mala petaka ini, celakanya yang mengiringinya sekarang adalah Ki Leng-yan yang linglung dan tidak dapat bertindak apa pun.

Semakin dipikir semakin gelisah Pwe-giok, apa bila Khing-hoa-Sam-niocu datang lagi dan melihat Ki Leng-yan, mungkin anak dara ini takkan diampuni. Teringat demikian, cepat ia berseru, “Kawanan burung sedang menantikan dirimu, lekas kau pergi mencari mereka saja!”

“Dan kau?” tanya Leng-yan.

“Aku... aku akan istirahat di sini,” jawab Pwe-giok.

Leng-yan berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tertawa: ‘Biarlah kutunggu kau di sini, bila kau sudah sembuh, kita pergi bersama.” Dengan tersenyum lantas ia berduduk dan sama sekali tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Pwe-giok dalam keadaan gawat.

Pwe-giok merasa darah di dalam tubuhnya bergolak hebat, mulut mendadak terasa kaku dan mati rasa, ingin bicara namun bibir tak dapat bergerak lagi. Maka terpaksa ia hanya memandangi Ki Leng-yan dengan sorot mata yang cemas.

Dilihatnya wajah Ki Leng-yan yang tersenyum simpul itu makin lama makin kabur, makin jauh, suaranya juga seperti semakin lirih seolah-olah berkumandang dari tempat yang tak kelihatan, sayup-sayup terdengar nona itu berkata,

”Jangan kuatir, bila mana kawanan burung sakit, aku pun senantiasa menjaga mereka, setiap hari kusuapi obat kepada mereka, obatku sangat manjur, setelah kau minum tentu akan jauh lebih segar.”

Pwe-giok ingin berteriak, “Aku bukan burung, mana boleh minum obat burung!”

Namun satu kata pun tidak dapat diucapkannya, ia merasa Leng-yang telah menjejalkan sebiji obat ke mulutnya, pil itu lantas cair dan mengalir ke dalam kerongkongan, malahan terasa membawa semacam bau harum yang aneh.

Ia merasa pikirannya mulai tenang, badan terasa segar dan enak sekali, selang sejenak pula mendadak ia terpulas.

Begitulah Pwe-giok tertidur dan mendusin dan tertidur pula. Apa bila mendusin, Ki leng-yan lantas menyuapi dia satu biji obat, sehabis minum obat rasanya menjadi segar, lalu tertidur pula dengan nyenyaknya.

Mula-mula bila mendusin dia masih terus mendesak: ‘Lekas kau pergi saja, larilah lekas, setiap saat Khing-hoa-Sam-niocu bisa muncul lagi.”

Tetapi akhirnya dia merasa badan sedemikian segarnya, terhadap segala urusan penuh keyakinan. Biar pun Khing-hoa-Sam-niocu sekarang datang lagi rasanya juga tidak takut pula.

Ia sendiri tidak paham mengapa bisa timbul perasaan begitu, ia pun tidak tahu apakah masa tujuh hari yang konyol itu sudah lewat atau belum…..

********************

Entah berapa hari sudah berlalu…..

Suatu hari mendadak Pwe-giok sadar kembali, sadar seluruhnya. Dia merasa tubuhnya segar bugar, sedikit pun tidak ada tanda-tanda lemas sehabis keracunan, bahkan rasanya penuh semangat, penuh gairah.

Ki leng-yan juga sedang memandangnya dengan tersenyum. “Obatku memang manjur, bukan?” demikian tanya si nona.

Pwe-giok tertawa, jawabnya, “Ya, memang sangat manjur, sungguh obat mujarab yang jarang ada bandingannya...”

Sembari bicara ia pun memandang sekelilingnya. Baru sekarang dia mengetahui dirinya masih berada di kamar itu, meski mayat dan darah sudah tersapu bersih, tapi segera teringat lagi olehnya akan ‘Khing-hoa-niocu’. Ia terkesiap, tanyanya, “Sudah berapa lama aku tertidur?”

“Rasanya seperti sudah delapan atau sembilan hari,” jawab Leng-yan.

“Apa? Sembilan hari...? Dan mereka tidak datang?” seru Pwe-giok kaget.

Tujuh hari yang konyol itu ternyata sudah dilaluinya tanpa sadar. Ia terkejut dan bergirang pula, sungguh rada-rada tidak percaya.

“Kau merindukan mereka?” tanya Leng-yan.

“Aku cuma... cuma merasa heran mengapa mereka tidak datang lagi,” jawab Pwe-giok dengan menyengir.

“Dan mengapa kau tidak pergi saja, apakah sengaja menunggu kedatangan mereka?” kata Leng-yan dengan tenang-tenang.

Mendadak Pwe-giok melonjak bangun, lalu serunya, “He, betul juga. mereka pasti tidak menyangka aku masih berada di sini, mereka tentu akan mengejar ke tempat jauh sana dan tidak tahu bahwa aku belum pergi dari sini,” Ia pegang tangan leng-yan, katanya dengan tertawa, “Meski tindakan ini rada-rada menyerempet bahaya, tapi dalam keadaan terpaksa, kukira akal ini adalah akal paling bagus yang dapat dipikirkan, syukur kau dapat memikirkan akal ini.”

“Akal apa? Aku tidak tahu!” kata Leng-yan dengan tertawa linglung.

Pwe-giok melengak, dipandangnya wajah yang masih polos, bersih dan kekanak-kanakan itu, entah nona ini benar-benar orang gendeng dan berbuat secara kebetulan saja, atau sebenarnya memiliki kecerdasan yang luar biasa.

Leng-yan berbangkit, mendadak dia tertawa lantas berkata, “Marilah kita pergi, mereka sedang menunggu kau di luar!”

“Apa? mereka menunggu di luar?” Pwe-giok menegas dengan kaget.

“Ya,” jawab Leng-yan sambil tertawa, “Waktu kau tertidur, banyak pula kudapatkan kawan baru di sini, ada kakak gagak, ada adik pipit. Sudah kubicarakan dengan mereka, bila mana sakitmu sudah sembuh, akan kubawa kau berkenalan dengan mereka.”

Sementara itu sinar sang surya tampak memancar masuk melalui jendela, waktu masih pagi, di luar memang benar ramai burung berkicau.

Pwe-giok lalu ikut keluar bersama Ki Leng-yan. Begitu melihat kawanan burung, dengan tertawa senang nona itu lantas berlari ke sana.

Pwe-giok melihat pohon itu masih tegak berdiri di sana dihembus silir angin pagi, cuma orang-orang yang semula terikat di pohon itu sudah tak kelihatan lagi.

Tiba-tiba teringat olehnya pondokan yang letaknya meski terpencil ini toh tidak terlalu jauh dari perkampungan lain. Jika di tempat ini mendadak mati orang sebanyak ini, mengapa tiada orang bertanya atau menyelidiki apa yang terjadi. Sesungguhnya orang-orang yang terikat di pohon itu orang hidup atau mati?

Selain itu, tempat penginapan ini sekarang juga tiada nampak bayangan seorang pun. Aneh, apakah semuanya sudah lari dan tiada yang mengurus? Jika tidak ada lagi yang mengurus, mengapa dirinya dapat tinggal di sini sampai delapan atau sembilan hari?

Pertanyaan-pertanyaan ini cukup membuatnya pusing kepala. Sekali pun Pwe-giok telah sadar, tetapi cara bagaimana pula harus diselesaikannya Ki Leng-yan yang sama sekali tidak paham seluk-beluk kehidupan manusia ini?

Berpikir sampai di sini, timbul juga rasa curiga Pwe-giok. Dipandangnya Leng-yan yang sedang berkeplok dan berjingkrak gembira di kejauhan itu, pikirnya, “Jangan-jangan nona ini tidak gendeng sungguh-sungguh, tetapi cuma pura-pura bodoh... Mungkinkah selama beberapa hari ini sudah pernah kedatangan orang lain yang membantu dia menyelesaikan urusan di sini. Tapi mengapa dia tidak omong padaku?”

Tapi segera terpikir lagi, “Ah, dengan susah payah orang telah menolong diriku, tapi aku malah mencurigai dia, betapa pun tidak pantas. jika dia bermaksud jahat padaku, untuk apa pula dia menyelamatkan diriku?”

Dilihatnya Ki Leng-yan sedang berlari-lari kemari dengan tertawa riang, serunya sesudah dekat, “Mereka (maksudnya kawanan burung) memberi-tahukan padaku bahwa di depan sana ada sebuah tempat yang baik, maukah kita melihatnya ke sana?”

Di bawah cahaya sang surya, kelihatan pipi si nona bersemu merah laksana buah apel yang mulai masak, sinar matanya mencorong terang, begitu jernih dan polos seolah-olah tidak tahu betapa licik dan kejinya kehidupan manusia ini.

“Marilah ikut!” ajak Leng-yan pula sambil menarik tangan Pwe-giok.

Pwe-giok merasa tiada halangan untuk menolak, maka dia ikut melangkah ke sana.

Tidak lama kemudian, tertampak di depan sana ada sebuah perkampungan yang cukup megah, pintu gerbang perkampungan itu bercat merah mentereng, dapat diduga penghuni gedung ini pasti bukan sembarang orang.

“Sudah sampai, mari kita masuk ke sana,” kata Leng-yan tiba-tiba sambil menarik tangan Pwe-giok. “Di dalam sini banyak hal yang menarik, hayo kita melihatnya.’

“Ini rumah siapa? Mana boleh sembarangan masuk ke rumah orang lain?” ujar Pwe-giok dengan tersenyum getir.

“Tidak apa-apa, masuk saja,” ajak Leng-yan pula.

Dengan lagak rumah ini aku punya, nona itu lantas menolak pintu dan masuk tanpa permisi. Terpaksa Pwe-giok ikut terseret masuk ke sana.

Halaman di dalam ternyata sangat luas, ruangan tamu juga terpasang sangat mewah.

Langsung Ki Leng-yan masuk ruangan tamu terus berduduk. Anehnya juga tiada orang yang merintanginya. Padahal halaman rumah ini terawat rapi dan amat bersih, jelas ada penghuninya.

“Mumpung tuan rumahnya belum keluar, marilah kita lekas pergi saja,” ajak Pwe-giok.

Tapi Leng-yan tidak menghiraukannya, sebaliknya ia malah berkata: “Hayo ambilkan teh.”

Sejenak kemudian, benarlah seorang laki-laki berbaju hijau (seragam kaum hamba yang umum) membawakan dua mangkuk teh dan ditaruh dengan hormat di atas meja, tanpa bersuara terus tinggal pergi pula dengan kepala tertunduk.

Leng-yan minum seteguk teh yang disuguhkan itu, lalu berseru pula, “Perutku lapar!”

Hanya dalam sekejap saja segera beberapa orang menghidangkan santapan yang diminta dengan sikap yang sangat menghormat, bukan saja tidak bersuara sepatah pun kepada mereka, bahkan memandang saja tidak berani.

Melenggonglah Pwe-giok, ia mengira dirinya sedang bermimpi.

Segera Leng-yan mengangkat sumpit, katanya dengan tertawa, “Hayolah makan, kenapa sungkan-sungkan?” Dia pun mendahului menyumpit hidangan kemudian dimakan dengan nikmatnya.

Pwe-giok sendiri tiada napsu makan, dia termenung-menung. Sejenak kemudian dia tidak tahan dan bertanya, “Apakah tuan rumah di sini memang kenalanmu?”

Leng-yan tidak menggubrisnya, dia makan lagi beberapa sumpit. Mendadak dia pegang meja terus didomplangkan, keruan mangkuk piring jatuh berantakan.

“Mana orangnya?!” teriak si nona.

Beberapa lelaki baju hijau berlari keluar dengan tergopoh-gopoh, semuanya mengunjuk rasa gugup dan takut, semuanya berdiri di hadapan Leng-yan dengan kepala tertunduk, sampai bernapas saja tidak berani keras-keras.

Dengan mata melotot Leng-yan berteriak, “Kenapa begini asin masakan Haysom-ah-ciang (teripang masak kuah telapak kaki itik), siapa yang menghidangkannya tadi?”

“Hamba!” cepat salah seorang lelaki baju hijau menjawab dengan suara gemetar sambil berlutut.

“Apakah kau sengaja hendak membikin aku mati keasinan?” teriak Leng-yan pula.

Pwe-giok tidak tahan, ia ikut bicara, “Dia kan tidak mencicipi, dari mana tahu rasanya asin atau cemplang, mana boleh kau menyalahkan dia. Apa lagi kita makan gratis di tempat orang lain, masa kau marah-marah malah?”

Leng-yan tertawa, katanya, “O, aku tidak tahu urusan, jangan kau marah padaku.”

“Ai, kau...”

Belum lanjut ucapan Pwe-giok, sekonyong-konyong laki-laki baju hijau yang berlutut itu berseru, “Hamba tidak layak menghidangkan makanan yang terlalu asin ini, hamba pantas mampus, tangan yang membawa hidangan ini lebih-lebih harus mampus...” mendadak ia melolos sebilah belati dari pinggangnya dan “krek,” kontan ia potong tangan sendiri.

Terkejut Pwe-giok, dilihatnya orang itu kesakitan setengah mati, butiran peluh memenuhi dahinya, namun tidak berani merintih sedikit pun, tangan kanan memegangi pergelangan tangan kiri yang buntung itu dengan darah bercucuran, namun tetap berlutut dan tidak berani berdiri.

“Ehm, mendingan begini,” kata Leng-yan dengan tertawa manis.

“He, ken... kenapa kau berubah menjadi sekejam ini?” seru Pwe-giok.

“Mereka kan bukan burung, kenapa aku harus menyayang mereka?” jawab si nona.

“Memangnya manusia tidak lebih berharga dari pada burung?” kata Pwe-giok.

“Mereka suka dan rela, kenapa kau ribut bagi mereka?” ujar Leng-yan dengan tertawa.

“Di dunia ini mana ada orang yang suka rela membikin cacat anggota tubuh sendiri?” seru Pwe-giok dengan gusar.

Leng-yan tidak menanggapinya, dia pandang lelaki berbaju hijau sambil bertanya dengan tertawa, “Kalian tunduk kepada perintahku secara suka rela, begitu bukan?”

Tidak saja lelaki baju hijau yang membuntungi tangan sendiri, bahkan semua hamba itu menjawab serentak, “Ya, secara suka rela.”

“Bagus!” kata Leng-yan dengan gembira. “Jika demikian, coba kalian memotong dua jari masing-masing”

Kata-kata ini membikin Pwe-giok terperanjat.

Siapa tahu orang-orang ini benar-benar lantas melolos pisau dan “krak-krek,” beramai-ramai mereka memotong dua jarinya sendiri.

“Kalian berbuat demikian secara suka rela, bukan?” tanya Leng-yan pula.

“Ya, suka rela.” jawab orang-orang itu tanpa peduli darah mengucur dari tangan masing-masing.

“Kalian tidak merasa sakit, sebaliknya malah sangat senang, betul tidak?” tanya Leng-yan pula.

“Betul, hamba gembira sekali,” jawab orang-orang itu berbareng.

“Kalau gembira, kenapa tidak tertawa?” kata Leng-yan.

Serentak tertawalah orang-orang itu meski sebenarnya semua kesakitan setengah mati, dengan sendirinya tertawa demikian lebih tepat dikatakan meringis.

Merinding Pwe-giok menyaksikan kejadian luar biasa ini, tanpa terasa ia pun berkeringat dingin.

Benar-benar sukar dibayangkan, kaum lelaki yang kekar dan segar ini seakan-akan telah menjadi boneka semata-mata. Mereka hanya mengiakan apa yang dikatakan Ki Leng-yan dan perintah nona itu lantas dilakukan. Sungguh kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa pun Pwe-giok tidak percaya di dunia ini ada kejadian aneh begini.

Leng-yan berpaling dan tertawa kepadanya, katanya, “Tahukah kau sebab apa mereka tunduk kepada perkataanku?”

“Mer... mereka...” Pwe-giok gelagapan.

Tapi Leng-yan lantas menukas, “Sebab mereka telah menjual sukmanya kepadaku.”

Bulu roma Pwe-giok merasa berdiri seluruhnya, serunya kaget, “Ap... apakah kau sudah gila...”

Si nona tersenyum tenang, katanya pula, “Bukan saja sukma mereka telah kubeli, bahkan sukmamu selekasnya juga akan kubeli. Bukan saja mereka tunduk kepada perintahku, nanti kau pun harus tunduk.”

Pwe-giok menjadi gusar, teriaknya, “Kau berani... ber...”

“Sekarang kedua kakimu sudah lemas, sekujur badanmu tidak bertenaga lagi, berdiri saja tidak sanggup, cukup dengan satu jari saja dapat kurobohkan kau!” kata Leng-yan sambil tertawa.

Mendadak Pwe-giok berdiri, tetapi memang betul, kedua kakinya terasa lemas, “bluk,” ia jatuh terduduk pula.

“Selang sebentar lagi sekujur badanmu akan terasa sebentar dingin dan sebentar panas, habis itu seluruh badan akan terasa sakit dan gatal, rasanya seperti beribu-ribu semut sedang menyusup ke dalam kulit dagingmu.”

Padahal tidak perlu sebentar lagi, sekarang juga Pwe-giok sudah mempunyai perasaan begitu, dengan suara gemetar ia bertanya, “Kau... kau turun tangan keji padaku?”

“He-he, selain diriku masa ada orang lain?” jawab Leng-yan dengan tersenyum manis.

Gemerutuk gigi Pwe-giok saking ngerinya, teriaknya parau, “Meng... mengapa tidak kau bunuh saja diriku?”

“Orang berguna seperti kau ini, kan sayang jika kubunuh?” ujar si nona dengan tertawa.

Keringat dingin memenuhi dahi Pwe-giok, tanyanya dengan parau, “Sesungguhnya apa kehendakmu?”

“Meski sekarang kau merasa seperti terjeblos di dalam neraka,” kata Leng-yan pula “Tapi asalkan kau mau menjual sukma kepadaku, segera dapat kubawa kau menuju ke surga, bahkan ke dunia yang jauh lebih gembira dari pada surga.”

Pwe-giok merasa tidak tahan lagi akan siksaan ini, dengan suara serak ia bertanya, “Apa yang kau inginkan?”

“Sekarang, hendaklah segera kau pergi ke suatu tempat yang disebut Kim-khak-ceng, 23 penghuni perkampungan itu, tua-muda, laki-perempuan harus kau bunuh seluruhnya...” kata Leng-yan sambil tertawa. “Lo Cu-liang, pemilik perkampungan itu terkenal kaya-raya, sekarang aku sangat memerlukan harta-bendanya itu.”

“Apakah dalam keadaan begini aku sanggup membunuh orang?” tanya Pwe-giok dengan tersenyum pedih.

Saat ini kau memang tidak sanggup membunuh, tapi setiba di Kim-khak-ceng segera kau akan berubah menjadi maha kuat, bila tenagamu tidak kau keluarkan malah akan terasa tersiksa, rasanya seperti mau meledak,” kata si nona.

Siksaan yang sukar ditahan ini hampir membuat Pwe-giok lupa segalanya, sekuatnya ia berdiri dan menerjang keluar pintu, tapi mendadak dia berlari balik dan berteriak dengan parau, “Tidak, tak dapat kulakukan hal ini.”

“Kau harus! Harus kau lakukan! Apakah kau ingin bertaruh denganku?” kata Leng-yan dengan tertawa.

Dengan suara gemetar Pwe-giok berkata, “Tadinya kukira kau ini anak perempuan yang tulus dan bersih, siapa tahu semua ini cuma pura-pura saja, kau berlagak seperti tidak tahu apa-apa agar orang lain tidak was-was terhadap dirimu, siapa tahu kau terlebih... lebih keji dari pada Ki Leng-hong!”

“Hi-hi,” Leng-yan tertawa misterius. “Memangnya kau kira aku ini siapa?”

Pwe-giok memandangnya tajam, tiba-tiba dilihatnya sorot mata si nona yang polos dan bersih itu memancarkan sinar tajam laksana mata elang. Tanpa terasa Pwe-giok bergidik, ucapnya, “He, kau... kau inilah Ki Leng-hong!”

Nona itu tertawa terkekeh-kekeh. Dia memang bukan Ki Leng-yang melainkan Ki Leng-hong. Katanya dengan tertawa, “Sudah belasan hari kau menjadi orang tolol dan baru sekarang kau tahu siapa diriku. He-he-he, memangnya kau kira aku benar-benar paham bahasa burung? Di dunia ini mana ada manusia yang benar-benar memahami bahasa burung? Biar pun si idiot Leng-yan sendiri juga belum tentu paham. Apa yang kau pahami adalah hasil penyelidikanku sendiri dengan segenap daya upayaku, kalau manusia saja tidak tahu, dari mana burung bisa tahu? Huh, kau sok anggap dirimu pintar, masa hal ini tak dapat kau pahami?”

Gemetar sekujur badan Pwe-giok, katanya, “Pantas, pantas saja kau berkeras ingin ikut denganku. Pantas kau memperhitungkan Khing-hoa-sam-niocu pasti tak akan datang lagi, apa lagi datang ke hotel kecil itu...”

“Ya, meski pun kau terkena racun Khing-hoa-Sam-niocu, tapi tidak terlalu berat, malahan tampaknya kau pernah minum semacam obat mujarab apa yang mempunyai daya tahan sangat kuat terhadap segala jenis racun.”

“Betul, itulah Siau-hoan-tan dari Kun-lun-pay...”

“Tepat.” sela Leng-hong dengan tertawa.

“Cuma Siau-hoan-tan Kun-lun-pay itu biar pun dapat menawarkan segala macam racun, namun terhadap Kek-lok-wan (pil maha girang) yang kuberikan padamu ini sedikit pun tak berguna.”

“Kek-lok-wan apa?” Pwe-giok menegas dengan kaget. “Jadi Kek-lok-wan yang kau beri minum padaku ini sudah membikin keadaanku menjadi rusak sedemikian rupa? Apakah orang-orang itu pun sudah terkena racun Kek-lok-wanmu, maka... maka sukma mereka pun dijual kepadamu?!”

“Kalau Kek-lok-wanku kau anggap sebagai racun, maka itu sama seperti kau menghina diriku,” kata Leng-hong.

“Meski sekarang kau sangat menderita, tapi cukup minum satu biji Kek-lok-wan, seketika semua rasa derita akan lenyap, bahkan semangatmu akan timbul berlipat ganda dan membuatmu merasa nikmat tak terhingga.”

“Apakah... apakah Kek-lok-wanmu ini bisa membuat orang ketagihan?” tanya Pwe-giok dengan suara gemetar. “Barang siapa sudah keracunan obat ini maka setiap hari harus meminumnya, kalau tidak tentu akan merasa tersiksa dan tak tertahankan?”

“Memang benar perkataanmu,” kata Leng-hong dengan tertawa. “Dalam kek-lok-wanku ini terkandung semacam getah tumbuh-tumbuhan yang berasal dari negeri barat, tumbuhan ini berbunga amat indah, tapi getah buahnya dapat membuat hidup orang seperti terbang ke awang-awang, tapi juga dapat membikin orang hidup lebih menderita dari pada mati.”

Mendadak ia berpaling lantas bertanya kepada orang-orang berbaju hijau, “Hidup kalian sekarang bukankah sangat bahagia?”

“Ya, selamanya hamba tidak pernah merasa sebahagia sekarang ini.” sahut orang-orang itu serentak.

“Dan bagaimana kalau tidak kuberi Kek-lok-wan kepada kalian?” tanya Leng-hong pula.

Seketika wajah orang-orang itu berkerut-kerut, sorot matanya menampilkan rasa kuatir, jelas rasa takut ini timbul dari lubuk hati yang dalam, semuanya munduk-munduk sambil memohon dengan sangat, “Mohon ampun, nona, apa pun akan hamba lakukan bagi nona, asalkan setiap hari nona memberi satu biji Kek-lok-wan.”

“Demi memperoleh satu biji Kek-lok-wan, kalian tidak akan segan-segan menjual ayah-ibu bahkan istrinya sendiri, begitu bukan?” tanya Leng-hong lagi.

Serentak orang-orang itu mengiakan.

Leng-hong berpaling ke arah Pwe-giok dan tertawa, katanya, “Meski kau tak punya ayah-ibu dan istri untuk dijual, tapi kau dapat menjual dirimu sendiri. Dengan tubuhmu sebagai imbalannya akan kau dapatkan kebahagiaan sukmamu yang tidak terhingga, tidakkah ini cukup berharga bagimu?”

Keringat bercucuran dari dahi Pwe-giok, serunya dengan tergagap, “Aku... aku...”

Leng-hong berkata dengan suara lembut, “Kau sudah tak berdaya melawan lagi. Selama delapan hari itu, setiap hari Kek-lok-wan yang kuberi minum kepadamu selalu kutambah kadarnya, kecanduanmu sekarang telah jauh lebih dalam dari pada mereka, penderitaan yang kau rasakan hakekatnya tidak mungkin dapat ditahan oleh siapa pun juga, kukira lebih baik kau tunduk dan menurut perintah saja.”

Pwe-giok menggertak gigi, saking tersiksanya sampai bicara pun sukar.

“Lebih cepat kau menyatakan tunduk, lebih cepat pula akan berkurang rasa deritamu itu, kalau tidak, kau hanya akan tersiksa lebih lama secara sia-sia, sebab akhirnya kau toh pasti akan menyerah juga,” habis berkata Leng-hong lantas mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dan menuang keluar sebiji obat berwarna coklat. Seketika tercium aroma harum yang aneh.

Dengan sorot mata yang rakus orang-orang berbaju hijau itu sama memelototi pil yang dipegang Leng-hong itu, tampang mereka itu mirip anjing kelaparan yang melihat tulang, bahkan orang-orang ini tampaknya terlebih rendah dari pada anjing.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner