CHENG HOA KIAM : JILID-12


Tidak saja di pantai Hai-liong-pang merajai para nelayan, juga di laut perahu-perahu yang berbendera naga ini menjadi raja. Ke mana saja perahu-perahu ini berlayar mencari ikan, perahu-perahu nelayan lain daerah harus segera pergi dan mengalah. Perahu-perahu Hai-liong-pang ini menjelajah sampai jauh ke lautan timur, mengunjungi tempat-tempat yang paling banyak ikannya.

Memang harus diakui bahwa semenjak penangkapan ikan di daerah Ningpo dimonopoli oleh Hai-liong-pang, hasil penangkapan ikan menjadi makin banyak, berkat perahu-perahu yang kuat dan jala-jala ikan yang lebih baik. Tetapi sebagian besar dari hasil pendapatan itu masuk ke dalam gedung dan gudang tiga orang saudara Phang ini!

Namun tiga orang she Phang itu benar-benar tidak sadar bahwa mereka sudah bermain-main di dekat goa naga dan sarang harimau, tidak sadar bahwa mereka telah melebarkan sayap dan mencari pengaruh di tempat yang amat berbahaya.

Perlu diketahui bahwa Ningpo terletak di tepi pantai, dan tidak jauh dari pantai itu terdapat kelompok Kepulauan Cou-san-to. Salah satu di antara kepulauan ini terdapat Pulau Pek-go-to (Pulau Buaya Putih) yang menjadi sarang atau tempat tinggal Thai Khek Sian, tokoh utama dari Mokauw!

Lebih celaka lagi tiga orang she Phang ini belum pernah mengenal Thai Khek Sian dan tidak tahu bahwa Thai Khek Sian adalah ‘rajanya’ orang jahat! Kalau saja mereka sudah mengenal Thai Khek Sian, biar mati pun kiranya mereka takkan berani mencari pengaruh di dekat tempat itu.

Satu bulan yang lalu, pada suatu hari selagi tiga buah perahu Hai-liong-pang mencari ikan dan tanpa sengaja mendekati Pulau Pek-go-to, tiba-tiba muncul sebuah perahu kecil yang ditumpangi oleh dua orang wanita muda yang cantik.

Sembilan orang nelayan dan kaki tangan Hai-liong-pang yang berada di atas tiga perahu ikan itu menjadi tercengang. Bagaimana di tengah laut tiba-tiba muncul dua orang wanita muda cantik dengan perahu sekecil itu?

Setiap perahu ikan ditumpangi oleh dua orang nelayan dan seorang kaki tangan Hai-liong-pang yang bertindak selaku pengawas. Jadi pada waktu itu terdapat enam orang nelayan dan tiga orang Hai-liong-pang. Enam orang nelayan itu yang masih percaya dengan tahyul segera menjadi ketakutan dan mengira bahwa dua orang wanita cantik itu adalah dewi-dewi laut! Akan tetapi tiga orang Hai-iiong-pang memandang kagum dan salah seorang di antara mereka yang terkenal mata keranjang berlancang mulut,

"Aduhai… dari mana datangnya nona-nona cantik di atas lautan? Apakah sengaja datang hendak menghibur hatiku sesudah aku lelah berlayar mencari ikan? Mari sini, nona-nona cantik, sini bersama Ciam-ko. Jangan malu-malu...”

Celaka bagi orang she Ciam ini. Ucapan lancang kurang ajar yang keluar dari mulutnya itu merupakan ucapan terakhir karena tiba-tiba dia terjungkal ke dalam laut dan tidak timbul lagi! Dua orang wanita itu terus menggerak-gerakkan tangan mereka dan…

"Krak-krak-krak!"

Terdengar suara tiga kali. Ketika semua orang memandang ke atas tiang layar, ternyata gambar naga sebagai tanda keangkeran Hai-liong-pang telah patah gagangnya kemudian bendera-bendera itu melayang-layang jatuh ke bawah!

Dapatlah dibayangkan betapa kagetnya para nelayan, lebih-lebih lagi dua orang Hai-liong-pang yang melihat kawan mereka terjungkal ke laut dan tewas. Seorang di antara mereka menegur marah.

“Siapakah kalian yang begitu berani mati mematahkan tiang bendera Hai-liong-pang dan membunuh kawan kami?"

Dua orang wanita muda itu tertawa, suara ketawa mereka terdengar merdu dan seorang di antara mereka yang berbaju hijau menjawab,

"Kalian orang-orang Hai-liong-pang sungguh tak tahu diri. seperti kucing berlagak di depan harimau! Sudah lama Sian-su membiarkan saja kalian berlagak dan menganggap orang-orang Hai-liong-pang seperti orang-orang gila yang tidak perlu diurus. Akan tetapi hari ini kalian berani mendekati Pek-go-to dan berani memasang bendera, sudah sepatutnya jika kalian dimusnahkan ke dalam laut. Tetapi untuk sementara cukup seorang di antara kalian saja yang merasakan kelihaian kami. Mau tahu kami siapa? Kami adalah pelayan-pelayan dari Thai Khek Sian-su dan katakan kepada pemimpin-pemimpin kalian agar supaya pada tanggal lima belas malam mengadakan perjamuan di rumah makan Tung-thian di Ningpo. Sian-su tentu akan mengutus seorang wakil dan memberi petunjuk lebih jauh!"

Seperti yang lain-lain, dua orang itu telah mendengar bahwa Pulau Pek-go-to didiami oleh orang-orang aneh, akan tetapi karena selama ini Thai Khek Sian-su dan para pelayannya tidak pernah melakukan sesuatu yang diketahui oleh penduduk sekitar itu, mereka tidak tahu betul Thai Khek Sian-su itu orang macam apa. Ucapan wanita itu membikin panas perut dua orang Hai-liong-pang, karena terang-terangan ketua mereka dipandang rendah sekali.

"Sian-su kalian itu orang macam apakah begitu tidak memandang kepada pangcu (ketua) kami? Mana bisa begitu bertemu lantas memerintahkan pangcu kami untuk mengadakan penyambutan? Benar-benar terlalu sekali!"

Seorang di antara dua wanita yang berbaju ungu mengeluarkan suara menghina. "Hemm, sudah mendengar perintah tidak lekas pergi, memang kalian ingin mampus! Terimalah ini sebagai peringatan!”

Nona baju ungu ini menggerakkan tangan dan dua sinar emas berkelebat. Dua orang Hai-liong-pang yang berdiri di perahu masing-masing cepat mencoba untuk mengelak, akan tetapi gerakan mereka sangat terlambat. Datangnya benda bersinar itu sangat cepat dan tahu-tahu mereka merasa telinga kiri mereka sakit sekali. Ketika mereka meraba, ternyata telinga kiri mereka telah lenyap, terbabat putus oleh senjata rahasia kim-ji-piauw (piauw uang logam) dan lenyap entah terlempar ke mana.

Hebatnya, ketika mereka memandang kembali, dua orang nona itu dengan perahu mereka yang kecil telah berada jauh sekali dari tempat itu. seakan-akan perahu itu dapat terbang! Baru sekarang dua orang Hai-liong-pang itu ketakutan.

"Cepat putar perahu. Kita pulang...!" perintah mereka kepada para nelayan yang segera melakukan perintah ini dengan hati girang oleh karena sejak tadi mereka memang sudah sangat ketakutan dan mengira dua orang wanita itu sebangsa jin atau dewi-dewi lautan.

Sambil meringis-ringis kesakitan dua orang Hai-liong-pang itu memberi laporan kepada tiga orang saudara Phang ketua Hai-liong-pang. Tentu saja mereka menjadi marah sekali, terutama Phang Hui yang termuda.

"Kurang ajar sekali! Orang macam apakah Thai Khek Sian di Pulau Pek-go-to itu? Mari kita siapkan barisan dan menyerbu pulau itu!"

"Jangan terburu nafsu dulu. Sepanjang kabar angin, orang-orang yang tinggal di pulau itu memang aneh. Siapa tahu mereka adalah orang-orang sakti yang mengasingkan diri. Kita harus berlaku hati-hati dan terlebih dulu mengadakan penyelidikan sebelum lancang turun tangan." kata Phang Cu, orang ke dua yang terhitung paling cerdik di antara ketiga orang ketua itu.

"Betul apa yang dikatakan oleh ji-te," kata Phang Kong yang tertua. "Kita harus bertindak hati-hati. Aku mendengar bahwa daerah ini sering kali dilalui oleh orang-orang aneh, tentu ada hubungannya dengan Pulau Pek-go-to. Kita tak boleh bertindak gegabah, apa lagi jika mendengar laporan orang kita, baru pelayan-pelayan saja kepandaiannya begitu hebat."

"Lalu tindakan apa yang hendak twako lakukan sekarang?” tanya Phang Hui yang merasa kewalahan karena kedua orang kakaknya sependapat dan hendak bersikap hati-hati, tidak seperti dia yang ingin menggempur saja.

"Tak ada lain jalan, kita harus menunggu sampai tanggal lima belas. Biar kita mendengar lebih dahulu apa kehendak mereka, baru kemudian mengambil keputusan harus bersikap bagaimana."

Demikianlah, tiga orang saudara yang menjadi ketua Hai-liong-pang itu menunggu hingga tanggal lima belas. Seperti telah diceritakan di bagian depan, pada tanggal lima belas sore di rumah makan Tung-thian, tujuh orang Hai-liong-pang sudah memesan tempat dan siap menunggu kedatangan tiga orang ketua Hai-liong-pang itu yang hendak menyambut tamu dari Pek-go-to.

Tiga orang ketua ini tidak mau berlaku sembrono. Paling sukar adalah menghadapi lawan yang belum dikenal keadaannya dan belum dikenal siapa. Oleh karena itu mereka sudah memasang penjagaan terlebih dahulu, bahkan telah diatur baihok (barisan pendam) yang bersembunyi di sekeliling tempat itu untuk melindungi keselamatan para ketua Hai-liong-pang.

Seperti sudah dituturkan di bagian depan, di ruang bawah tinggal sedikit saja tamu yang masih berani duduk, di antaranya adalah delapan orang pemuda kaya penduduk Ningpo serta seorang pemuda yang duduk menyendiri di pojok ruangan. Suasana di ruang bawah itu sunyi, seakan-akan semua orang terpengaruh oleh sesuatu yang menakutkan. Hal ini terutama sekali ditimbulkan oleh sikap para pelayan yang nampak sibuk dan gelisah.

Untuk menghilangkan suasana tidak enak ini, para pemuda itu mulai bersenda-gurau dan karena mereka memang orang-orang muda yang gembira, sebentar saja keadaan di situ menjadi ramai dan para pelayan juga mulai berani tersenyum.

“Tar…! Tarr…! Tarrr…!” Tiba-tiba terdengar suara dari depan pintu rumah makan.

Seperti jengkerik-jengkerik yang tadinya riuh bersuara dan kini terpijak diam, semua orang tidak berani membuka suara, bahkan menoleh saja mereka tak berani, hanya mengerling diam-diam ke arah pintu depan.

Keadaan hening itu hanya berlangsung sebentar saja karena segera terpecah oleh suara orang bernyanyi sederhana diiringi suara berdetar tadi. Suaranya nyaring, nadanya tenang menyenangkan, nyanyiannya seperti orang membaca sajak dan iramanya sederhana.

"Kata-kata yang jujur tidak bagus,
sebaliknya kata-kata yang bagus tidak jujur.
Orang baik tidak banyak cakap,
sebaliknya yang banyak cakap tidak baik.
Orang yang pandai tidak sombong,
sebaliknya yang sombong tidak pandai
Orang bijaksana tidak menyimpan,
ia menyumbangkan miliknya sampai habis,
akan tetapi ia makin menjadi kaya.
Ia memberi dan terus memberi,
akan tetapi ia makin berkelebihan.
Jalan yang ditempuh oleh Langit,
selalu menguntungkan, tidak merugikan.
Maka jalan yang ditempuh orang bijaksana,
juga selalu memberi, tidak merebut jasa!


Inilah sajak terakhir dari kitab To-tik-king, ajaran Nabi Lo Cu dari Agama To. Semua orang yang mendengar ini tersenyum, juga pemuda yang duduk menyendiri di sudut tersenyum kagum. Walau pun tidak semua orang hafal akan isi sajak To-tik-king, akan tetapi sajak-sajak Agama To mudah dikenal amat berbeda dengan sajak-sajak Agama Buddha.

Sebelum nyanyian itu habis, penyanyinya sudah muncul di depan pintu, terus masuk ke rumah makan itu dan duduk di atas sebuah kursi kosong. Orang ini sudah tua, sedikitnya berusia lima puluh tahun, jenggot dan kumisnya terpelihara baik-baik, pakaiannya rapi dan wajahnya tampak gembira sekali.

Suara berdetar tadi adalah suara ujung tali yang diikatkan di pinggangnya, ujung tali ini ia gerak-gerakkan seperti pecut hingga mengeluarkan bunyi yang mengiringi nyanyiannya.

Delapan orang pemuda yang tadinya juga ikut diam dan tegang kini tertawa-tawa setelah melihat bahwa yang datang hanya seorang kakek aneh, pakaian dan sikapnya bukan tosu (pendeta To) akan tetapi datang-datang menyanyi ayat kitab To-tik-king.

"Ha-ha-ha, lopek (paman tua), kau benar-benar mengagetkan orang saja!" kata seorang di antara para pemuda itu.

"Lopek yang baru datang pandai bernyanyi, harus dihadiahi arak hangat!” kata pemuda ke dua.

“Betul, ajak dia menemani kita makan minum menambah kegembiraan!” kata yang lain.

Beramai-ramai mereka berdiri menghampiri orang yang baru datang, lantas dengan sikap gembira orang-orang muda ini mengajaknya duduk makan minum bersama.

Kakek itu tersenyum gembira pula.

“Betapa senangnya menjadi orang-orang muda,” katanya. “Yang ada hanya kegembiraan, tiada yang lain lagi. Hidup kalau tidak mengenal gembira, apalah artinya? Baik, undangan kalian kuterima!”

Dengan langkah lebar ia pun menghampiri meja para pemuda itu kemudian duduk di atas sebuah bangku, disambut tempik sorak para muda yang menjadi gembira sekali.

“Lopek, tadi di dalam nyanyian kau bilang bahwa kata-kata bagus tidak jujur dan kata-kata jujur tidak bagus, apa sih artinya?” tanya seorang pemuda setelah kakek itu dipersilakan minum.

Kakek itu menghirup araknya, mengangguk-angguk lalu berkata, “Kalian para orang muda perlu betul mengerti hal ini. Dengar baik-baik. Kalau ada orang bicara dengan mulut manis dan enak didengar olehmu, jangan lantas kau menaruh kepercayaan penuh, karena kata-kata manis dan bagus itu belum tentu jujur. Malah semua penipu pandai bermulut manis. Sebaliknya, orang-orang jujur kalau memberi nasihat sering menyakitkan hati, akan tetapi kata-kata yang kasar dan tidak bagus inilah yang kadang-kadang malah sangat berharga karena jujur.”

“Lopek, bagaimana contohnya kata-kata jujur yang tidak bagus?” tanya seorang pemuda.

Kakek itu memandang pemuda itu, kemudian tersenyum dan berkata, “Orang muda, terus terang kukatakan bahwa kau ini tampan, tetapi yang begitu saja tidak mengerti, agaknya kau kurang cerdik karena hidungmu terlalu besar sehingga kau lebih pandai menggunakan hidung dari pada otak.”

Meledak suara ketawa para orang muda itu, kecuali si hidung besar yang menjadi merah mukanya dan memandang dengan mata melotot kepada kakek itu.

Si kakek cepat menyambung kata-katanya. “Nah, nah, inilah contohnya. Kata-kataku tadi sejujurnya, coba saja kau tanyakan kepada siapa pun juga, tentu semua bilang hidungmu terlalu besar. Kata-kata ini jujur, akan tetapi bagimu tentu tidak bagus, bukan?”

Terang kakek ini bicara sambil berkelakar, maka si hidung besar itu akhirnya pun tertawa dan suasana di ruang bawah menjadi penuh gelak tawa. Bahkan tamu-tamu lain yang tadi merasa tengkuknya dingin kini sudah merasa hangat lagi.

Tiba-tiba terdengar seruan keras di depan pintu.

"Semua diam jangan berisik. Samwi-pangcu telah datang!" Inilah suara para penjaga tadi, yaitu orang-orang Hai-liong-pang. Mereka sudah memasuki ruangan bawah dengan sikap tegak seperti serdadu-serdadu menanti datangnya jenderal.

Semua orang kembali merasa tegang dan gelisah. Bahkan para pemuda tadi juga merasa tegang dan tidak berani mengeluarkan suara. Akan tetapi kakek tadi tersenyum-senyum, menenggak cawan araknya dan tiba-tiba ia berkata perlahan, "Kalau ini suara yang kasar dan tidak menyenangkan, juga tidak bisa dibilang bagus!"

Suaranya perlahan saja, akan tetapi jelas terdengar di ruangan itu oleh karena keadaan memang sangat sunyi. Mendengar ini, para pemuda itu cekikikan sukar dapat menahan ketawa. Mereka lirak-lirik ke arah para penjaga Hai-liong-pang dengan mulut tersenyum-senyum.

"Itu suara yang sombong!" bisik seorang pemuda di balik ujung lengan bajunya. Semua orang terkejut, akan tetapi sukar diketahui siapa di antara delapan orang pemuda itu yang mengeluarkan kata-kata ini tadi.

Akan tetapi kakek itu mengangguk-angguk, "Orang yang pandai tak akan sombong, maka yang berseru sombong tadi tentulah sebangsa gentong kosong!"

Tak dapat ditahan lagi, para pemuda itu tertawalah cekakak-cekikik mendengar kata-kata kakek ini yang mengangguk-angguk sambil menggerak-gerakkan mulut. Penjaga anggota Hai-liong-pang yang tadi berseru, menjadi marah. Dengan langkah lebar dia menghampiri kakek ini dan membentak,

"Kau ini pengemis kelaparan berani main gila di depan tuan besarmu?”

Kakek itu menengok perlahan, lalu tersenyum sambil menudingkan telunjuknya ke muka orang itu, "Menurut penglihatanku, mukamu tidak kukenal dan muka seperti mukamu ini mana patut disebut tuan besar?”

Suara dan lagaknya yang lucu membuat para pemuda itu kembali tertawa.

"Kurang ajar kau!” Si penjaga itu mengulurkan tangan mencengkeram leher baju kakek itu, hendak diseretnya keluar. Akan tetapi pada saat itu tiba-tiba para penjaga lain berseru bahwa para pangcu sudah tiba, maka penjaga ini pun melepaskan cengkeramannya dan berdiri tegak memberi hormat.

Semua orang memandang ke arah pintu. Muncullah tiga orang laki-laki setengah tua yang rata-rata bertubuh kate gemuk memasuki rumah makan itu diiringkan oleh selosin penjaga yang bersenjata lengkap. Sesudah sampai di anak tangga, tiga orang pangcu itu memberi isyarat dengan tangan melarang para pengiringnya ikut naik, dan naiklah mereka bertiga ke loteng, sedangkan para penjaga atau pengiring ini berdiri berbaris di kanan kiri anak tangga!

Penjaga yang tadi hendak menghajar kakek itu, tentu saja tidak berani ribut-ribut di depan pangcu-nya. Dia hanya melotot dan berbisik di telinga kakek itu,

“Awas kau, nanti akan kuhajar kau!” Setelah berkata demikian penjaga itu beserta kawan-kawannya lalu kembali menjaga di luar rumah makan.

Akan tetapi kakek itu hanya tertawa-tawa saja, tampaknya tidak takut sama sekali. Sikap kakek ini membuat rasa takut para pemuda itu pun lenyap dan mereka tetap bergembira sambil bersenda gurau seperti tadi.

“Tambah lagi araknya!” teriak mereka kepada seorang pelayan. “Lopek ini harus dijamu sampai mabok!”

“Siapakah nama lopek yang mulia?” seorang pemuda bertanya.

“Ha, apa perlunya menanyakan nama? Apa sih artinya nama? Ketika lahir kita semua tak bernama…” jawab kakek itu sambil tersenyum-senyum.

“Ahh, jangan begitu, lopek. Kalau tidak diberi nama, bagaimana kita bisa saling mengenal dan memanggil?”

“Aku she Kam, panggil saja Kam si gelandangan.”

Para pemuda itu tertawa lagi. Sikap kakek itu memang lucu dan sangat peramah. Jarang ada orang tua yang suka bergaul dengan anak-anak muda, maka sebentar saja kakek ini sudah menarik perhatian para pemuda itu.

Gangguan karena datangnya tiga orang ketua Hai-liong-pang tadi sudah mereka lupakan, juga mereka tidak peduli lagi bahwa di loteng itu menjaga dua belas anggota Hai-liong-pang di kanan kiri seperti barisan. Para penjaga ini memandang ke arah anak-anak muda itu dengan mata melotot, akan tetapi agaknya mereka ini bertugas menjaga saja sehingga tidak berani meninggalkan pos penjagaan mereka.

Selagi orang-orang muda itu tertawa-tawa. dari loteng terdengar bentakan keras, "Hee. yang di bawah semuanya diam! Jangan ribut-ribut!"

Ketika para pemuda itu menengok, di kepala tangga muncul seorang di antara tiga ketua tadi. Yang muncul adalah Phang Hui, berdiri dengan muka merah sambil tangan kanannya memegang sumpit. Memang Phang Hui ini terkenal ngesing (brangasan). Ketika melihat bahwa yang ribut-ribut dan bersenda-gurau seolah-olah tak mengindahkan kehadiran tiga orang ketua Hai-liong-pang itu hanya serombongan pemuda biasa dan seorang kakek, ia membentak lagi.

"Kalau aku mendengar suara ketawa-tawa lagi, sumpitku ini tak akan mengenal ampun!" Setelah berkata begitu, tangannya bergerak dan sebatang sumpit meluncur ke bawah.

"Crepp...!” Sumpit bambu itu seperti sebatang anak panah, menancap di atas meja kayu yang tebal dan keras itu, menancap sampai setengahnya lebih dan bergoyang-goyang.

Para pemuda itu meleletkan lidah dan menjadi pucat. Kalau sumpit itu ditujukan kepada mereka, kepala atau dada mereka bisa bolong tertusuk sumpit dan nyawa mereka takkan tertolong lagi! Seketika mereka tak berani usil lagi.

Dengan lagak sombong Phang Hui meludah lalu pergi dari kepala tangga untuk kembali ke meja saudara-saudaranya di loteng. Kakek tadi tertawa geli.

"Ha-ha-ha, alangkah bagusnya. Sedangnya kita bergembira datang pelawak menghibur kita dan main sulap!"

"Sssttt...” beberapa orang pemuda cepat memberi peringatan kepada kakek yang mereka anggap lancang itu. Kali ini mereka tidak berani lagi menyambut kelakar si kakek, malah menjadi semakin gelisah kalau-kalau para ketua Hai-liong-pang yang terkenal kejam dapat mendengar ejekan tadi.

Phang Hui tidak mendengar, dan para penjaga di tangga yang mendengar hanya melotot, namun para penjaga di luar rumah makan mendengarnya! Masuklah tujuh orang anggota Hai-liong-pang itu, dipimpin oleh orang yang tadi mengancam si kakek. Mereka menuju ke meja rombongan pemuda itu dengan sikap mengancam.

"Siapa tadi yang berani mengeluarkan omongan menghina Sam-pangcu?” tanya kepala rombongan itu yang berkumis tebal.

Para pemuda tak ada yang berani bergerak, sementara tamu-tamu lain diam-diam sudah membayar makanan lantas menyelinap pergi meninggalkan ruangan itu. Hanya pemuda bertopi yang duduk seorang diri di pojok masih minum araknya sambil matanya melirik ke arah rombongan orang Hai-liong-pang.

Kakek itu tersenyum-senyum menjawab. "Siapa sih yang menghina orang? Apa yang kau maksudkan dengan penghinaan itu, pak kumis?"

Si kumis tebal membelalakkan matanya. "Tadi ada yang menyebut pangcu ke tiga kami sebagai pelawak. Siapa yang bicara begitu tadi?”

"Aah, kalau yang bicara tadi adalah aku sendiri..."

Tangan kanan si kumis tebal bergerak dan pundak kakek itu tahu-tahu telah dicengkeram, terus diseret keluar. Penjaga-penjaga lain tertawa namun tidak ikut keluar karena mereka menjaga kalau-kalau para pemuda itu ada yang hendak membela kakek itu.

Akan tetapi pemuda-pemuda itu mana berani menentang orang-orang Hai-liong-pang yang sudah terkenal sebagai jagoan-jagoan tukang pukul? Mereka hanya dapat saling pandang dengan muka pucat, berdebar-debar dan amat mengkhawatirkan keadaan kakek peramah tadi.

Celaka sekali, kakek itu tentu akan dibunuh, pikir mereka, atau setidaknya akan dipukul dan dihajar hingga setengah mati. Membunuh atau menyiksa orang sampai setengah mati adalah pekerjaan biasa dari orang-orang Hai-liong-pang dan para pembesar pun tidak ada yang mampu menghukum mereka!

Beberapa saat yang menegangkan hati lewat dengan sunyi dan semua mata memandang ke arah pintu depan ke mana kakek itu tadi diseret keluar ke tempat gelap. Para pemuda sudah membayangkan tubuh kakek itu menggeletak di sisi jalan dalam keadaan mati atau setengah hidup sedangkan penyiksanya, si kumis tebal itu, kembali memasuki ruangan itu dengan senyum mengejek.

Betul saja, tampak seseorang memasuki ruangan itu dengan langkah tenang. Akan tetapi semua mata langsung terbelalak lebar ketika melihat bahwa yang masuk adalah si kakek tadi, masuk sambil berjalan tenang, tersenyum-senyum lalu duduk di tempatnya yang tadi dekat pemuda-pemuda itu seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu!

"Jaman sekarang ini orang-orang sudah lupa akan keadaan asalnya, lupa bahwa sebagai manusia, dia adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya. Orang-orang sekarang hidup menurutkan nafsu duniawi, lebih jahat dari pada binatang yang tidak memiliki akal budi, lebih kejam dari pada setan. Yang kuat menindas yang lemah, yang kaya mengisap yang miskin, di dunia mana ada keadilan?"

Melihat kakek aneh itu datang lagi tanpa menderita sesuatu, para pemuda menjadi lega hatinya. Akan tetapi mereka merasa tidak enak melihat kakek ini bicara sendiri. Seorang di antara mereka lalu berkata,

"Tetapi, lopek, bagaimana kau bisa bilang tidak ada keadilan sedangkan kita mempunyai pemerintah dan banyak terdapat pemimpin-pemimpin?"

Kakek itu tersenyum mengejek. "Pemimpin? Yang mana yang kau maksudkan pemimpin itu?"

"Lho, bukankah pejabat-pejabat pemerintah yang berpangkat tinggi itu biasanya kita sebut pemimpin?" kata si pemuda.

"Hah, orang-orang berpangkat itu kau anggap pemimpin? Cih, mereka memualkan perut saja!" kata si kakek dengan lagak lucu sehingga keberanian pemuda-pemuda itu timbul lagi dan tertawa, biar pun perlahan-lahan dan tertahan.

Sementara itu dua orang penjaga telah melangkah maju. Mereka tidak melihat kembalinya si kumis dan mengira kakek ini tentu telah dimaafkan oleh si kumis, atau mungkin sekali di luar kakek ini sudah melakukan siasat menyogok. Siapa tahu kakek yang pakaiannya rapi ini mempunyai banyak uang dan senang menyogok. Karena itu dua orang penjaga ini pun mengharapkan keuntungan, maka tanpa banyak cakap lagi mereka telah menyeret kakek itu keluar, seorang menarik sebelah lengan.

"Eh, ehh, kalian ini mau apa sih?” tanya kakek itu sambil meronta-ronta, namun dia tidak dapat terlepas dan terus diseret keluar.

"Kau tak tahu aturan, membikin ribut saja di sini. Barangkali kau memang ingin mampus!" bentak seorang di antara dua penjaga itu.

Kembali untuk beberapa lama para pemuda menanti dengan hati gelisah dan... sekali lagi kakek itu muncul sendiri dari depan pintu, berjalan tenang seperti tadi lalu duduk lagi. Dua orang penjaga itu tidak kelihatan masuk lagi!

“Sekali-kali kalian tidak boleh menganggap orang-orang berpangkat sebagai pemimpin, apa lagi pemimpin rakyat. Mereka itu hanya pembesar-pembesar yang besar mulut besar kepala dan besar perut pula! Besar mulut karena pandai sekali bicara menina-bobokkan rakyat, besar kepala karena mengandalkan kedudukan untuk berlaku sewenang-wenang, dan besar perut karena mereka melakukan korupsi dan mbadok (makan) uang rakyat dan negara untuk menggendutkan perut dan kantong sendiri! Pembesar-pembesar macam ini adalah penjahat-penjahat yang berkedok pangkat, mereka ini bahkan lebih berbahaya dari pada penjahat biasa, karenanya aku benci sekali terhadap mereka." Kakek itu berbicara dengan bernafsu sekali dan agaknya ia sama sekali tidak pernah terganggu oleh penjaga-penjaga yang tadi menyeretnya keluar.

Sebetulnya apakah yang telah terjadi? Pertanyaan ini pun memasuki benak para penjaga lain. Akan tetapi selagi mereka hendak keluar, dari luar masuklah dua orang wanita cantik berbaju hijau dan ungu!

Dua orang wanita ini masih muda, usianya paling banyak tiga puluh tahun, cantik-cantik dan pakaiannya mewah. Namun sikap mereka angker dan pedang yang menggemblok di punggung menandakan bahwa mereka bukanlah wanita sembarangan.

Dengan langkah tenang. tanpa menengok ke kanan kiri mereka langsung menuju ke anak tangga yang menyambung ruangan itu ke loteng. Tetapi begitu melihat pemuda-pemuda yang berada di situ, mereka melirik dan sedikit tersenyum, membuat hati para pemuda itu menjadi berdebar tertarik. Begitu bertemu dengan pemuda-pemuda, sikap kedua wanita ini menjadi genit!

Akan tetapi tiba-tiba dua orang wanita itu mengerling ke arah pemuda yang duduk di pojok dan... sejenak mereka menahan tindakan kaki, lalu tersenyum lebar, saling pandang dan saling berbisik,

"Sayang kita ada urusan penting,” terdengar si baju hijau berbisik. Mereka lalu melangkah ke anak tangga, sedikit pun tak peduli kepada para penjaga Hai-liong-pang yang menjaga di kanan kiri tangga.

Seorang penjaga melangkah maju memalangkan gagang tombaknya di depan dua orang wanita itu.

"Loteng sudah diborong oleh pangcu kami, harap nona-nona turun.”

Si baju hijau tersenyum manis, kemudian menyentuh gagang tombak itu dengan dua jari tangannya yang runcing dan halus. "Kalian ini penjaga macam apakah? Tidak tahu bahwa kami datang dari Pek-go-to hendak menemui Hai-liong-pangcu?"

Penjaga itu kaget dan cepat melangkah mundur, tiba-tiba mukanya berubah pucat karena tahu-tahu gagang tombaknya telah patah menjadi dua! Dua orang wanita muda itu dengan langkah menggairahkan menaiki tangga loteng sambil tersenyum-senyum.

Untuk beberapa lama para penjaga menjadi gelisah. Sama sekali mereka tak menyangka bahwa tokoh Pek-go-to yang hendak dijamu oleh para pangcu mereka ternyata adalah dua orang wanita muda dan cantik. Tetapi betapa hebatnya kepandaian dua orang wanita itu tadi terbukti bahwa sekali sentuh dengan jari tangan, gagang tombak seorang penjaga telah patah menjadi dua!

Untuk beberapa lama mereka lupa akan kakek aneh dan lupa kenapa para penjaga yang tadi menyeret kakek itu tidak nampak masuk kembali ke dalam ruangan. Akan tetapi para pemuda yang menemani kakek itu timbul hati curiga sehingga diam-diam salah seorang di antara mereka telah melangkah keluar untuk melihat apa yang terjadi di luar.

Tak lama kemudian dia masuk kembali dengan wajah pucat, berbisik-bisik kepada kawan-kawannya dan segera mereka membayar makanan dan minuman lalu bubar tergesa-gesa, memandang kepada kakek itu dengan kagum dan juga takut. Melihat gelagat tidak baik antara para penjaga dan kakek itu, tamu-tamu lain juga berangsur-angsur bubar sehingga akhirnya di ruang bawah rumah makam itu tinggal si kakek, para penjaga dan orang muda bertopi yang duduk di pojok seorang diri.

Pemuda ini ternyata amat tampan. Kulit mukanya putih dan halus, matanya jernih tajam, alisnya tebal menghitam, hidungnya mancung dan gerak-geriknya halus seperti seorang terpelajar. Pemuda ini begitu tampannya, pantas saja kalau dua orang wanita cantik yang mempunyai sifat-sifat cabul dan genit itu tadi memandangnya sambil berbisik-bisik.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner