CHENG HOA KIAM : JILID-16


Pukulan itu hebat bukan.main. Pukulan Toat-sim-ciang (Pukulan Tangan Pencabut Hati) warisan Tok-sim Sian-li yang amat hebat, di samping mengandung tenaga lweekang juga mengandung hawa beracun. Orang biasa tidak akan sanggup menahan dan akan tewas seketika kalau terkena pukulan ini.

Namun tubuh Kwee Sun Tek sudah mengandung kekuatan sinkang yang sangat tangguh. Apa lagi karena matanya huta, ia selalu melindungi tubuhnya dengan aliran sinkang untuk menjaga serangan gelap. Terkena pukulan hebat itu ia terjengkang dan roboh bergulingan. Dadanya terasa sakit, tetapi tidak mengganggu pernapasannya, berarti ia tidak menderita luka terlalu hebat. Sekali berpoksai (bersalto) ia sudah berdiri lagi!

Kun Hong melengak. Pukulannya tadi amat hebat, tapi kakek ini ternyata hanya terguling saja dan dapat segera bangun kembali. Dari kenyataan ini saja sudah jelas bahwa dia tak akan dapat menangkan kakek aneh ini. Maka ia cepat lari, mengambil jalan memutar dan kembali ke rumah batu untuk mengambil pedang Cheng-hoa-kiam!

Dia sengaja lari turun dari puncak dulu. Ketika melihat kakek itu mengejar, dia menyelinap dan memutar kemudian lari naik lagi sebelum Kwee Sun Tek maklum akan siasatnya.

Dengan mudah dia mendaki puncak kemudian memasuki rumah batu, langsung menuju ke ruangan belakang di mana pedang Cheng-hoa-kiam tersimpan. Akan tetapi matanya segera terbelalak kaget ketika melihat bahwa peti tempat pedang itu terbuka, sedangkan pedang itu sendiri telah lenyap!

"Celaka...!" ia berseru dan membanting kaki. Ia telah didahului oleh orang lain.

Tiba-tiba ia teringat akan bayangan aneh yang ia lihat sekelebatan ketika ia pertama kali datang di tempat itu. Cepat ia melompat melalui pintu dan mencari ke seluruh isi rumah. Namun hasilnya sia-sia belaka. Ia tidak melihat seorang pun manusia.

"Kwee Sun Tek manusia celaka!” Ia memaki marah. "Kalau tidak karena dia, pedang itu tentu sudah kubawa tadi!" Kun Hong menjadi marah sekali dan kemarahan ini memuncak ketika dia melihat kedatangan Kwee Sun Tek dari jauh. Ia tidak peduli lagi akan kelihaian orang tua itu yang tadi sudah ia rasai, saking marahnya ia malah lari memapaki orang tua itu sambil berseru, "Manusia celaka, karena kau maka pedang yang hendak kubawa telah hilang!"

Kwee Sun Tek berhenti dan terkejut.

"Hilang? Kalau bukan kau maling kecil yang mengambil, siapa lagi?!" bentaknya.

"Setan! Kalau aku yang ambil tak perlu aku berdiam lebih lama di sini!" Kun Hong marah bukan main, lantas menyerang dengan hebat. Karena usahanya untuk merampas pedang dan mencoba kepandaian Wi Liong gagal, ia menumpahkan kemarahannya kepada Kwee Sun Tek.

Sementara itu Sun Tek heran sekali. Kalau pemuda ini memang betul mantu atau masih ada hubungan dengan Kwa Cun Ek, tak mungkin macam ini orangnya. Dan pemuda yang datang hendak mencuri pedang ini mengapa bilang pedangnya hilang dan marah-marah kepadanya? Benar-benar pemuda aneh sekali!

"Kau benar-benar manusia tidak tahu diri! Kepandaianmu masih begini rendah berani naik ke Wuyi-san untuk berlagak. Biar pun aku orang tua yang sudah lemah, jangan kau kira aku takut padamu!” jawab Sun Tek sambil menangkis.

Dua orang ini bertempur dengan hebat. Namun baru dua puluh jurus lebih saja Kun Hong terpaksa harus mengakui kehebatan ilmu silat serta tenaga lawan. Setiap kali lengannya beradu dengan lengan lawan, dia merasa tulang-tulangnya sakit semua. Kalau dia tidak memiliki kegesitan yang ia warisi dari Tok-sim Sian-li, kiranya sukar baginya untuk masih dapat bertahan.

Pukulan yang dilakukan oleh kedua tangan kakek itu menyambar-nyambar dahsyat. Kun Hong mulai terdesak hebat dan setelah lewat iima puluh jurus, dia hanya dapat mengelak dan menangkis, selalu main mundur saja. Sama sekali dia tidak diberi kesempatan untuk membalas.

Hebat sekali kemajuan Kwee Sun Tek selama sepuiuh tahun ini. Kini dia sudah menjadi seorang sakti yang memiliki kepandaian tinggi sekali.

"Kun Hong, jangan khawatir. Biar aku yang membikin mampus anjing buta ini!" terdengar suara nyaring dibarengi sinar putih berkelebat menyilaukan mata ketika sebatang pedang menyambar leher Kwee Sun Tek.

Kwee Sun Tek kaget bukan main ketika tahu-tahu ada hawa dingin menyambar cepat. Ia mengibaskan lengan bajunya sambil melompat mundur.

Kun Hong cepat memandang dan melihat gurunya. Tok-sim Sian-li, sudah berdiri dengan pedang di tangan! Yang membikin Kun Hong kaget dan heran adalah melihat pedang itu, bukan lain pedang Cheng-hoa-kiam yang lenyap tadi. Kiranya Tok-sim Sian-li yang sudah mengambil pedang itu!

Kun Hong menjadi merah mukanya. Ia malu dan penasaran. Masa melawan seorang buta saja ia kalah? Dari malu dan penasaran ia menjadi marah. Maka dengan seruan keras ia menerjang maju lagi, menyerang Kwee Sun Tek yang masih berdiri miring.

Namun kakek buta itu dengan mudah menangkis, bahkan mengerahkan tenaga di dalam tangkisannya ini, membuat Kun Hong terhuyung ke samping, hampir roboh. Pada saat itu, Tok-sim Sian-li sudah menerjang maju dengan pedang Cheng-hoa-kiam, menyerang Sun Tek dengan tusukan pada leher dibarengi cengkeraman tangan kiri dengan pukulan Toat-sim-ciang yang berbahaya.

Sun Tek cepat menggeser kaki mengelak sambil mengebutkan lengan bajunya menangkis pukulan ini. Di lain saat, orang buta itu sudah dikeroyok dan dihujani serangan oleh Tok-sim Sian-li dan Kun Hong.

Sungguh pun tingkat kepandaiannya masih menang setingkat kalau dibandingkan dengan Kun Hong atau Tok-sim Sian-li, tapi dikeroyok dua Sun Tek merasa berat juga. Terutama sekali serangan dengan pedang oleh wanita iblis itu, benar-benar berbahaya. Orang buta ini hanya dapat mengandalkan pendengarannya yang tajam, namun pedang itu demikian tipis dan ringannya hingga suaranya ketika menyambar tidak begitu dapat ditangkap oleh pendengaran.

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan Kwee Sun Tek yang buta itu, tiba-tiba berkesiur angin lantas terdengar Kun Hong bersama gurunya berseru kaget, lalu memutar tubuh dan keduanya berlari tunggang-langgang turun dari puncak Wuyi-san seperti orang dikejar setan! Kwee Sun Tek tidak mengejar, malah segera memutar tubuhnya kemudian menjatuhkan diri berlutut ke arah rumah batu.

"Terima kasih atas pertolongan Sian-su. Akan tetapi mengapa Sian-su membiarkan saja mereka pergi membawa pedang Cheng-hoa-kiam?”

Terdengar suara halus dari dalam rumah batu, suara Thian Te Cu.

"Pedang itu masih haus darah, belum sampai waktunya menjadi milik Wi Liong."

Kwee Sun Tek menarik nanas panjang, maklum bahwa orang sakti itu tidak mau banyak bicara seperti biasanya dan.akan percuma saja kalau dia bertanya tentang pemuda yang mengaku suami Kwa Siok Lan itu. Hatinya gelisah bukan main dan sejak itu setiap hari ia mengharapkan kembalinya Wi Liong, keponakannya…..

********************

Sementara itu. Kun Hong dan Tok-sim Sian-li lari secepatnya turun dari puncak. Setelah tiba dalam sebuah hutan di lereng, baru mereka berhenti dan terengah-engah mengambil napas.

"Berbahaya sekali..." kata Kun Hong sambil menghapus peluh dingin dari dahinya dengan lengan baju.

"Apa kubilang dulu!" kata Tok-sim Sian-li, wajahnya yang masih kelihatan cantik itu agak pucat. "Thian Te Cu benar sakti dan lihai sekali. Hanya Thai Khek Sian-su yang sanggup melawannya. Baiknya Thian Te Cu tidak bermaksud membunuh kita. Jika dia bermaksud demikian, apa kau kira kita bisa melarikan diri? Karena itu kita harus cepat-cepat pergi ke pantai timur mencari Thai Khek Sian-su di Pulau Pek-go-to.”

Kun Hong mengangguk-angguk. Memang pengalamannya tadi sangat hebat. Ketika dia dan Tok-sim Sian-li sedang mendesak Kwee Sun Tek yang buta tetapi cukup tangguh itu, tiba-tiba dia dan Tok-sim Sian-li merasa didorong-dorong orang dari depan. Pendorongnya tidak kelihatan, namun ada semacam tenaga aneh yang tidak tampak mendorong-dorong mereka, mengacaukan semua serangan mereka bahkan telinga mereka mendengar suara perlahan namun jelas sekali.

"Pergilah...! Pergilah...!"

Maklum bahwa mereka sedang menghadapi orang yang mempunyai kesaktian luar biasa, baik Kun Hong mau pun Tok-sim Sian-li menjadi keder bergidik, dan tanpa banyak cakap lagi segera melarikan diri tunggang-langgang.

"Kau harus menjadi mund Thai Khek Sian-su, barulah kau bisa mengimbangi kepandaian pemuda yang menjadi murid Thian Te Cu." kata pula Tok-sim Sian-li yang maklum akan isi hati pemuda murid dan kekasihnya itu. "Inikah pedang yang kau idam-idamkan? Boleh kau terima, karena pedang ini memang kuambil untukmu."

"Niocu, bagaimana kau bisa sampai di sini dan mengambil pedang ini?" tanya Kun Hong dengan suara halus sambil menerima pedang. Betapa pun jemunya kepada Tok-sim Sian-li. wanita cabul yang dahulu menjadi gurunya ini memang benar-benar cinta kepadanya.

Tok-sim Sian-li tertawa, memperlihatkan giginya yang masih berderet rapi menarik. "Anak baik, kau kira begitu mudah saja meninggalkan aku? Aku tahu bahwa kau yang keras hati ini tentu akan melanjutkan perjalanan ke Wuyi-san, maka aku segera mengejar secepat mungkin. Ketika kau dikejar oleh si mata buta, aku mempergunakan kesempatan itu untuk mengambil Cheng-hoa-kiam lalu datang membantumu."

Kun Hong mengangguk-angguk, lalu mereka berdua melanjutkan perjalanan turun Gunung Wuyi-san untuk menuju ke pantai laut timur mencari Thai Khek Sian.

Lama Kun Hong diam saja setelah menyelipkan pedang di punggung. Pemuda ini masih mengenang pertemuan serta pertempuran melawan Kwee Sun Tek tadi. Sesudah tinggal dekat dengan Thian Te Cu, baru Kwee Sun Tek saja sudah menjadi demikian kosen, apa lagi Wi Liong, pikirnya gelisah.

Kemudian dia teringat akan percakapannya dengan Sun Tek tentang Kwa Cun Ek, maka dia menengok kepada Tok-sim Sian-li yang berjalan di sampingnya. Kebetulan sejak tadi wanita ini selalu menatap wajahnya yang tampan, menatap dari samping dengan pandang mata penuh kasih mesra dan sayang.

"Niocu. apakah kau mengenal nama Kwa Cun Ek?"

Secara tiba-tiba ditanya tentang nama orang yang tentu saja dikenal sangat baik itu, Tok-sim Sian-li menjadi terkejut bukan kepalang sampai alisnya terangkat tinggi dan digerak-gerakkan. Bagaimana ia tidak mengenal Kwa Cun Ek? Dahulu Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek adalah kekasihnya, maiah menjadi calon suaminya! Akhirnya entah mengapa Kwa Cun Ek meninggalkannya lalu menikah dengan Tung-hai Sian-li sampai memiliki seorang anak perempuan bernama Kwa Siok Lan. Untuk menenteramkan hatinya yang berdebar itu, dia lalu pura-pura bertanya.

"Kwa Cun Ek yang manakah?”.

"Kwa Cun Ek yang tinggal di Poan-kun dan yang dijuluki Siang-jiu Lo-thian."

Mendengar ini Tok-sim Sian-ii tidak kaget lagi karena sekarang dia memang sudah dapat memulihkan hatinya. Dengan sikap tenang dia menjawab,

"Dia seorang tokoh kang-ouw yang cukup terkenal. Tentu saja aku mengenalnya. Tetapi mengapa kau bertanya tentang dia?"

Kun Hong tertawa. "Kwee Sun Tek yang buta itu menyangka aku betul-betul calon mantu Kwa Cun Ek, tunangan dari nona Kwa Siok Lan yang katanya telah ditunangkan dengan keponakannya!" Sambil tertawa-tawa geli Kun Hong kemudian menceritakan bagaimana dia mempermainkan Kwee Sun Tek dan tanpa disengaja membawa-bawa nama Kwa Cun Ek yang sama sekali tidak dikenalnya.

"Bagaimana bisa ada hal yang demikian kebetulan?" Tok-sim Sian-li berseru heran. "Dan yang lebih kebetulan lagi, aku dengan Kwa Cun Ek adalah... adalah kenalan baik sekali. Dia memang mempunyai anak perempuan, anak dari Tung-hai Sian-li. isterinya yang kini telah diceraikannya. Sudahlah, kelak kau akan dapat bertemu dengan mereka. Sekarang, paling perlu mari kita mencari Thai Khek Sian-su agar kau diberi pelajaran lebih mendalam karena kepandaianmu masih jauh ketinggalan kalau dibandingkan dengan murid Thian Te Cu."

Kun Hong maklum akan kebenaran ucapan ini. Memang sejak bertanding melawan Kwee Sun Tek yang buta, kemudian merasakan tangan Thian Te Cu yang sakti, ia bergidik dan dapat menduga bahwa ia tentu akan kalah lagi jika menghadapi Wi Liong.

Thai Khek Sian adalah sucouw-nya, karena tokoh ini masih terhitung paman guru dari Bu-ceng Tok-ong, tentu kepandaiannya amat hebat. Alangkah baiknya jika dia bisa mewarisi kepandaian sucouw ini.

Maka berangkatlah Kun Hong bersama Tok-sim Sian-li menuju pantai laut timur, ke Puiau Pek-go-to yang berada di antara Kepulauan Couw-san-to. Kedatangan mereka disambut dengan gembira oleh Thai Khek Sian dan selir-selirnya.

Thai Khek Sian sendiri masih belum hilang rasa cintanya terhadap Tok-sim Sian-li, karena itu kedatangan wanita ini tentu saja menggembirakan hatinya. Ada pun selir-selirnya yang jumlahnya belasan orang, muda-muda dan cantik-cantik itu, juga diam-diam merasa amat gembira menerima tamu seorang pemuda ganteng seperti Kam Kun Hong!

Dalam waktu singkat saja Kun Hong sudah menjadi ‘sahabat baik’ dari Cheng In dan Ang Hwa, dua orang selir berbaju hijau dan ungu yang merupakan selir-selir kepala, sekaligus juga murid-murid terkasih dari Thai Khek Sian.

Kembali Tok-sim Sian-li membuktikan cinta kasihnya yang amat mendalam terhadap Kun Hong. Dengan mempergunakan pengaruhnya di depan Thai Khek Sian, ia membujuk dan mengingatkan Thai Khek Sian akan janjinya dulu untuk menurunkan kepandaian kepada Kam Kun Hong.

"Anak itu bakatnya luar biasa. Golongan kita masih belum mempunyai ahli waris. Jika kau tidak menurunkan kepandaiamnu kepada seorang murid yang benar-benar pandai, siapa kelak yang akan menjaga nama kita? Siapa yang akan mengimbangi murid Thian Te Cu yang juga sudah menurunkan kepandaiannya kepada seorang pemuda bernama Thio Wi Liong?" Demikian antara lain Tok-sim Sian-li membujuk gembong Mokauw itu.

Hati Thai Khek Sian langsung tergerak ketika mendengar bahwa musuhnya sejak muda, Thian Te Cu, sudah menurunkan kepandaian kepada muridnya. Tentu saja segala macam janji dengan mudah dapat dia bataikan, akan tetapi kenyataan bahwa Thian Te Cu sudah menurunkan kepandaian kepada seorang murid, tak boleh ia biarkan begitu saja. Melawan Thian Te Cu sama-sama tuanya ia masih tidak gentar, akan tetapi kalau ada murid muda yang menggantikannya, inilah yang berat baginya. Ia harus mendapatkan murid yang baik pula untuk menyaingi musuh besar itu

Demikianlah, setelah puas mendapat kenyataan bahwa Kun Hong betul-betul mempunyai ‘tulang baik’, Thai Khek Sian mulai menurunkan kepandaiannya kepada pemuda itu yang belajar dengan amat tekunnya. Selama ini Kun Hong sudah mendapat bimbingan Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li. maka kini ia hanya menerima beberapa ilmu tambahan saja, yaitu ilmu pukulan-pukulan yang aneh dan sakti dari sucouw-nya, Thai Khek Sian yang aneh luar biasa dan bukan seperti manusia biasa itu. Di lain fihak, Thai Khek Sian girang sekali melihat kemajuan murid baru ini.

"Setahun saja kau belajar seperti ini, kutanggung kau tidak akan kalah oieh murid si tua bangka Thian Te Cu!"

Mendengar ini Kun Hong girang sekali dan belajar semakin giat. Sementara itu Tok-sim Sian-li selalu mendampinginya, dan tentu saja dalam segala hal dia membantu muridnya yang terkasih. Hanya satu hal yang terasa menyakitkan hatinya, yaitu adanya hubungan yang tidak wajar antara muridnya itu dengan para selir muda Thai Khek Sian.

Namun anehnya, Thai Khek Sian sendiri tidak merasa apa-apa, menganggap hal itu ‘biasa saja’, bahkan menganjurkan Cheng In dan Ang Hwa agar melayani murid baru ini sebaik-baiknya karena kelak murid baru inilah yang akan menggantikan kedudukannya sebagai gembong Mokauw!

Pada suatu hari, ketika secara kebetulan Thai Khek Sian melihat pedang di tangan Kun Hong, tokoh besar ini berseru heran. "Aahhh. bukankah itu Cheng-hoa-kiam?"

Sebelum Kun Hong sempat menjawab, pedang itu seperti ‘terbang’ dari tangannya lantas tahu-tahu telah pindah ke tangan guru besar itu. Thai Khek Sian mengamat-amati pedang itu, kemudian mengangguk-angguk.

"Tak salah lagi, ini Cheng-hoa-kiam! Mengapa pedang ini bisa terjatuh ke tanganmu? Apa Gan Tui sudah mati?"

Kun Hong tidak tahu siapa itu Gan Tui yang disebut sucouw-nya. "Teecu mendapatkan pedang ini dari tangan seorang bernama Kwee Sun Tek." Katanya.

Kemudian Kun Hong menceritakan apa yang dia ketahui dari pedang itu. Mula-mula dari tangan Sun Tek dirampas oleh Bu-ceng Tok-ong, lalu dari Bu-ceng Tok-ong berpindah ke tangan Thian Te Cu sampai akhirnya dia dan Tok-sim Sian-li berhasil mengambil pedang itu dari Wuyi-san, merampasnya dari tangan Kwee Sun Tek.

Thai Khek Sian memutar-mutar bola matanya. menimang-nimang pedang itu dan bibirnya tersenyum aneh. "Tidak aneh kalau Thian Te Cu merampas pedang ini dan itu berarti dia masih ingat urusan lama. Akan tetapi ia membiarkan kau merampasnya itu berarti hatinya sudah dingin lagi. Cheng-hoa-kiam... Cheng-hoa-kiam kau benar-benar tidak pernah tua! Dahulu mengacaukan hati orang-orang muda, sekarang kembali terjatuh ke dalam tangan orang muda. Ha-ha-ha! Dan orang-orang muda yang dulu kau permainkan sekarang telah menjadi kakek-kakek seperti Thian Te Cu!" Kembali Thai Khek Sian tertawa bergelak.

Kun Hong terheran-heran. Baru sekarang dia melihat Thai Khek Sian tertawa dan bicara agak panjang. Biasanya orang aneh ini hanya berbicara seperlunya saja dan tidak pernah tertawa. Ketika ia bertemu dengan Tok-sim Sian-li, ia menceritakan pengalamannya tadi.

"Niocu. apakah kau tahu tentang riwayat Cheng-hoa-kiam yang agaknya dikenal baik oleh Sucouw?" tanyanya.

Tok-sim Sian-li menggeleng kepalanya, akan terapi ia pun tertarik sekali.

"Biar aku akan mencoba agar sucouw-mu suka menceritakannya kepadaku," jawabnya.

Kekuasaan wanita terhadap pria memang luar biasa. Betapa pun keras hati seorang pria, pada suatu waktu akan datang seorang wanita yang akan sanggup menghancur-luluhkan hatinya yang keras itu.

Thai Khek Sian terkenal sebagai seorang yang keras hati, seorang aneh yang tidak dapat dipengaruhi oleh siapa pun dan apa pun juga. Belasan orang selirnya yang muda-muda dan cantik-cantik juga tidak dapat mempengaruhinya. Akan tetapi agaknya Tok-sim Sian-li merupakan kelemahannya. Inilah satu-satunya wanita yang dapat mempengaruhinya dan menembus kekerasannya.

Sesudah dirayu oleh Tok-sim Sian-li, luluh juga hati Thai Khek Sian dan setengah malam lamanya dia bercerita mengenai pedang Cheng-hoa-kiam yang menyangkut riwayatnya di waktu muda. Agar kita semua mengenal Cheng-hoa-kiam dan tokoh-tokoh besar itu pada waktu muda, mari kita ikuti ceritanya yang singkat-seperti di bawah ini…..

********************

Pedang Cheng-hoa-kiam sebenarnya adalah pedang rampasan dari Suku Bangsa Yucen (Nucen) yang bertempat tinggal di sebelah utara Shansi, yaitu ketika terjadi pertempuran hebat antara bala tentara Sung dengan bala tentara Nucen. Panglima Besar Sung yang terkenal gagah perkasa Gak Hui, merampas pedang ini dan selanjutnya pedang ini jatuh dari tangan ke tangan panglima-panglima besar hingga yang terakhir sekali, pada puluhan tahun yang lampau, terjatuh ke dalam tangan seorang panglima she Bu yang kemudian menjauhkan diri dari pergaulan ramai dan menjadi pertapa di Wuyi-san bernama Bu Tek Cinjin.

Dia pergi bertapa diikuti oleh dua orang kawannya, juga panglima-panglima yang berilmu tinggi, yaitu panglima she Yap dan she Kui. Akhirnya tiga orang ini menjadi kakek-kakek pertapa yang sangat disegani orang dan terkenal dengan sebutan Wuyi Sam-lojin (Tiga Orang Kakek Gunung Wuyi).

Rupanya takdir sudah menentukan bahwa di antara tiga orang kakek berusia lima puluh tahun ini akhirnya terjadi perpecahan. Dan sebab perpecahannya benar-benar membikin kaget seluruh dunia kaag-ouw, sebab yang amat memalukan dan tak masuk di akal yaitu sebabnya adalah karena... seorang gadis!

Gadis itu seorang yatim piatu yang hidup sengsara, menjadi pelayan seorang kaya raya lalu digoda oleh majikannya sehingga akhirnya melarikan diri dan hendak membunuh diri di dalam hutan. Akan tetapi ketika tubuhnya sudah tergantung dengan leher diikat dengan ikat pinggang sendiri, datang Wuyi Sam-lojin menolong dan menyelamatkan nyawanya.

Gadis ini lalu dibawa ke Wuyi-san dan di sinilah mulai terjadi percekcokan. Mereka saling berebut untuk mengangkat gadis itu sebagai... murid, tidak mau saling mengalah sampai terjadi adu kepandaian yang sangat hebat.

Dan gadis itu lari ke dalam pondok, ketakutan dan makin berduka karena dia menganggap dirinya hanya menimbulkan keributan di antara tiga orang kakek sakti yang tadinya hidup tenteram. Dapat dibayangkan betapa menyesal dan sebal hatinya karena dia menyangka bahwa tiga orang kakek itu memperebutkannya untuk maksud yang tidak baik, mengira bahwa tiga orang kakek ini tergila-gila kepadanya!

Oleh karena itu, ketika akhirnya nafsu marah tiga orang tua ini agak mereda dan mencari gadis itu, mereka mendapatkan gadis itu telah tewas dengan leher hampir putus di dalam pondok. Dengan nekat gadis itu telah membunuh diri, menggorok lehernya sendiri dengan menggunakan pedang pusaka yang tergantung di tembok!

Bu Tek Cinjin marah sekali. ”Kita menolong gadis ini hanya untuk membunuhnya! Betapa rendahnya! Pedang ini menjadi saksi akan kebodohan kita!"

Dia lalu mengusir dua orang sahabatnya itu yang pergi berpencaran dengan marah pula. Pedang pusaka itu lalu disimpan oleh Bu Tek Cinjin dan pada gagangnya diukir dua huruf ‘Cheng Hoa’ yaitu nama gadis yang tewas itu! Demikianlah, mulai saat itu pedang pusaka rampasan Gak Hui dari Suku Bangsa Nucen yang tadinya tidak diketahui apa namanya, sekarang namanya menjadi Cheng-hoa-kiam.

Sesudah tinggal berpencaran, tiga orang kakek dari Wuyi-san yang sakti itu tidak pernah dapat melupakan peristiwa itu. Mereka saling marah dan berpisah karena berebut murid, maka setelah hidup sendiri-sendiri mereka masing-masing mengambil seorang murid. Bu Tek Cinjin menjadi guru Thian Te Cu, kakek she Yap menjadi guru Thai Khek Sian, ada pun kakek she Kui menjadi guru Gan Yan Ki yang kemudian menjadi tokoh besar dunia kang-ouw pula.

Sayang sekali Gan Yan Ki lantas meninggal dalam usia tiga puluh tahun lebih, mengikuti isterinya yang telah meninggal lebih dahulu karena sakit. Lebih sayang lagi, ilmunya yang tinggi, yang dia pelajari dari kakek she Kui, hanya sebagian saja yang dapat dia turunkan kepada putera tunggalnya yang baru berusia tiga belas tahun. Puteranya ini adalah Gan Tui yang kemudian lebih terkenal dengan nama Beng Kun Cinjin!

Rupa-rupanya permusuhan atau dendam karena urusan kecil antara ‘tiga orang kakek’ ini berlangsung turun temurun. Sesudah mereka tidak ada lagi di dunia, murid-murid mereka juga tak akur dan selalu bersaing. Terutama sekali Thai Khek Sian murid kakek Yap yang sudah mewariskan seluruh kepandaiannya, selalu mencari kesempatan untuk mengadu kepandaian dengan dua orang murid lain. Akan tetapi ia kalah jauh oleh Gan Yan Ki mau pun oleh Thian Te Cu.

Dengan perasaan hati sakit akhirnya Thai Khek Sian merantau ke barat, mempelajari ilmu silat tinggi dari partai hitam, kemudian kembali dengan membawa ilmu yang sangat tinggi dan menyeramkan. Akan tetapi, tetap saja dia harus mengakui keunggulan Thian Te Cu yang masih terhitung suheng-nya itu.

Pedang Cheng-hoa-kiam tetap dijadikan rebutan. Tadinya oleh Bu Tek Cinjin pedang itu diberikan kepada Thian Te Cu. Beberapa kali Thai Khek Sian mencoba untuk merampas pedang itu, akan tetapi dia selalu kalah oleh Thian Te Cu, meski pun kekalahan itu hanya terjadi setelah melalui pergulatan yang sengit dan seni. Boleh dibilang tingkat kepandaian mereka seimbang, hanya saja tenaga dalam Thian Te Cu lebih matang dan hawa sakti di dalam tubuhnya lebih murni.

Makin tua mereka semakin dingin terhadap urusan pedang itu. Akhirnya ketika Gan Yan Ki meninggal dunia, sebagai seorang suheng. apa lagi sebagai orang yang mulai tertarik oleh iimu kebatinan, Thian Te Cu menjadi kasihan dan datang menengok. Ia amat kasihan melihat Gan Tui, bahkan dia lalu memberikan pedang Cheng-hoa-kiam kepada Gan Tui dan menurunkan beberapa macam ilmu pukulan kepada anak yang usianya baru belasan tahun itu.

Demikianlah riwayat singkat dari Cheng-hoa-kiam. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, pedang Cheng-hoa-kiam itu oleh Gan Tui atau Beng Kun Cinjin lalu diberikan kepada murid perempuannya, Kwee Goat. Kemudian, ketika Beng Kun Cinjin tersesat dan tergila-gila oleh Kui Hui Niang sehingga rela diperalat oleh penjajah menjadi kepala pengawal, pedang itu dibawa oleh Kwee Sun Tek yang menyelamatkan Thio Wi Liong. Kemudian pedang itu dirampas oleh Bu-ceng Tok-ong dari tangan Kwee Sun Tek, kemudian dari tangan Raja Racun ini diambil kembali oleh Thian Te Cu.

Karena teringat akan riwayat pedang itu yang membawa nama orang yang menjadi biang keladi permusuhan antara tiga orang saudara sendiri, maka Thian Te Cu membiarkan saja pedang itu dibawa pergi oleh Tok-sim Sian-li, meski pun kalau dia mau, tentu saja dengan mudah dia dapat mencegahnya.

Maka tentu saja Thai Khek Sian terheran-heran melihat pedang Cheng-hoa-kiam berada di tangan muridnya yang baru, Kun Hong, dan diam-diam dia pun sangat heran mengapa Thian Te Cu mendiamkan saja pedang beriwayat itu diambil oleh Kun Hong, padahal dulu beberapa kali ia mencoba untuk merampas selalu gagal. Alangkah banyaknya perubahan pada sikap Thian Te Cu, pikirnya.

Cerita mengenai pedang ini yang dituturkan oleh Thai Khek Sian kepada Tok-sim Sian-li, oleh wanita ini kemudian disampaikan pula kepada Kun Hong. Pemuda itu mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Ah, jika begitu sebetulnya Thian Te Cu masih suheng (kakak seperguruan) dari sucouw. Yang tidak kumengerti mengapa pedang yang katanya oleh Thian Te Cu diberikan kepada Gan Tui atau Beng Kun Cinjin kemudian bisa berada pada Kwee Sun Tek? Benar-benar aku tidak mengerti!"

"Aku sendiri pun tidak mengerti, dan Thai Khek Sian-su sendiri tidak dapat menceritakan hal itu. Sudah amat lama dia tidak mengadakan hubungan, baik dengan Thian Te Cu mau pun dengan GanTui yang kemudian bernama Beng Kun Cinjin itu."

"Beng Kun Cinjin itu, apakah juga selihai sucouw atau Thian Te Cu? Dan dia sekarang di mana?”

"Aku sudah mendengar tentang dia. Lihai juga, meski pun tidak selihai Thai Khek Sian-su tentunya. Pernah dia membasmi Lima Siluman Huang-ho dan banyak sudah orang-orang kang-ouw yang kalah olehnya. Dahulu dia amat ganas dan gemar berkelahi, senang sekali mencoba kepandaian orang lain. Sayang aku sendiri belum pernah berjumpa dengan dia sehingga belum dapat mengatakan sampai di mana lihainya. Tapi aku pernah mendengar ia diangkat menjadi koksu oleh Kaisar Mongol dan akhir-akhir ini katanya ia meninggalkan kedudukannya dan entah berada di mana tak seerang pun pernah membicakannya lagi."

Entah kenapa hati Kun Hong tergerak hingga dia ingin sekali mengetahui siapakah Beng Kun Cinjin dan orang macam apa adanya dia. Nama Gan Tui dan Beng Kun Cinjin amat menarik hatinya, apa lagi karena orang itu pernah diwarisi beberapa macam ilmu pukulan oleh Thian Te Cu. Ingin ia bertemu dengan orang itu. Tentu saja baik dia sendiri mau pun Tok-sim Sian-li tak pernah menyangka bahwa sesungguhnya Beng Kun Cinjin Gan Tui itu bukan lain adalah ayah pemuda itu!

Maklum bahwa di bawah bimbingan Thian Te Cu tentu ilmu kepandaian Wi Liong sangat tinggi, Kun Hong lalu belajar dengan amat tekun sehingga menyenangkan hati Thai Khek Sian. Apa lagi di situ terdapat Tok-sim Sian-li yang sering merayu hati gembong Mokauw itu supaya menurunkan ilmunya yang tinggi-tinggi kepada Kun Hong.....

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner