CHENG HOA KIAM : JILID-20


"Ha-ha-ha, kiranya orang-orang tua malah tidak tahu cara menghormati datangnya tamu." Kata-katanya ini hanya untuk mengacaukan perhatian lawan, karena tiba-tiba saja ia telah menyelinap dan di lain saat ia telah berkelebat mendekati Pui Eng Lan, murid perempuan yang cantik manis dari Pak-thian Koai-jin.

Eng Lan bukan seorang gadis lemah. Begitu melihat musuh mendekat ia lantas mengirim pukulan dengan tangan kanan. Akan tetapi sambil tertawa Kun Hong menangkap lengan ini dan sekali jari tangannya menotok, tubuh Eng Lan telah menjadi lemas dan Kun Hong menyambar tubuh itu terus dibawa melompat ke atas.

Biar pun tokoh-tokoh kang-ouw besar seperti Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong, tapi mereka sama sekali tidak menyangka akan hal ini sampai mereka tertegun dan tidak lekas melakukan sesuatu untuk mencegah tamu muda itu membawa lari Eng Lan.

"Kun Hong, jangan kurang ajar!" bentakan lirih ini terdengar dari mulut Wi Liong, disusul suara tertahan dari Kun Hong dan… tubuh Eng Lan yang tadinya sudah dibawa melompat ke atas itu terlepas dari pondongannya dan jatuh ke bawah dalam keadaan masih lemas. Baiknya jatuhnya tepat di atas Wi Liong, maka pemuda ini segera menerima dengan dua tangannya, dan tubuh gadis yang ringan itu jatuh ke dalam pelukan kedua lengannya.

Ada pun Kun Hong yang pada saat itu sudah diserbu lagi oleh Siok Lan, Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong. secepat kilat melompat ke arah jendela bulan terus melompat ke atas jembatan tambang sambil memutar sebatang pedang yang tahu-tahu telah dia cabut keluar dari balik bajunya.

Untuk sejenak matanya menatap ke arah Wi Liong penuh pertanyaan, merasa penasaran dan heran. Namun mulutnya tidak berkata apa-apa karena dia tidak sempat lagi, didesak terus oleh tiga orang lawannya yang lihai. Siok Lan yang melihat pemuda itu mulai berlari melalui jembatan tambang, cepat mengayun pedang membacok tambang itu.

"Ahh, jangan...!" kata Pak-thian Koai-jin hendak mencegah, akan tetapi terlambat.

Tambang itu sudah putus oleh sabetan pedang di tangan Kwa Siok Lan, sedangkan See-thian Hoat-ong lalu berkata, "Biar saja, Koai-jin. Anjing Bangsa Mongol sudah sepatutnya mampus di dalam jurang!”

Akan tetapi segera ketiga orang ini terbelalak memandang ke bawah dengan kagum. Biar pun tambang itu sudah putus dan tubuh Kun Hong terjerumus ke bawah, tetapi pada saat-saat terakhir pemuda ini masih sempat menyambar tambang itu, menggunakan kakinya menjejak pinggiran jurang dan... dengan enaknya ia merayap melalui tambang itu terus ke atas. selamat sampai di seberang jurang!

Dari jauh tampak pemuda ini tertawa-tawa, lalu mengacung-acungkan pedangnya sambil memperdengarkan suaranya yang dikirim dengan pengerahan khikang istimewa,

"Kalau hendak mengadu tenaga, tunggulah tiga hari lagi!" Kemudian bayangan pemuda itu lenyap. Pak-thian Koai-jin menarik napas panjang.

"Hebat...!" katanya perlahan. "Kepandaian pemuda itu benar-benar mengagumkan sekali. Ginkang-nya dan khikang-nya demikian sempurna, entah sampai di mana kelihaian ilmu silatnya...!”

Memang kakek ini sangat suka melihat orang pandai, apa lagi yang dipujinya itu seorang pemuda yang ganteng, lincah dan juga sifatnya agak nakal seperti dia sendiri, sungguh pun kenakalannya bukan berarti jahat.

Selagi tiga orang itu masih tertegun memandang keluar jendela, tiba-tiba terdengar suara Pui Eng Lan menjerit lirih.

"Lepaskan aku... tak tahu malu kau...!"

Secepat kilat Siok Lan memutar tubuh memandang, juga dua orang kakek itu menoleh. Pak-thian Koai-jin tertawa terkekeh-kekeh melihat Wi Liong masih berdiri memondong tubuh Eng Lan. Pemuda ini seperti kena tenung (sihir), berdiri bengong memandang keluar jendela.

Memang Wi Liong tadi terkejut, heran, dan juga marah melihat sepak-terjang Kun Hong. Terkejut karena melihat kepandaian Kun Hong demikian tinggi, heran melihat bahwa tadi Kun Hong mempergunakan gerakan yang mirip sekali dengan ilmu lompat yang ia pelajari dari gurunya, kemudian ia marah melihat pedang yang berada di tangan Kun Hong. Itulah Cheng-hoa-kiam, tak salah lagi!

Kiranya Kun Hong pula yang mencuri pedang dan berani naik ke Wuyi-san? Benar-benar kurang ajar sekali! Saking terlampau dikuasai perasaan ini ia sampai lupa kalau sejak tadi ia memondong tubuh seorang gadis cantik yang tubuhnya ia sambar agar jangan sampai terbanting ke atas lantai!

Tadi Eng Lan terkena totokan Kun Hong yang dilakukan secara istimewa hingga tubuhnya menjadi lemas. Ia telah mencoba untuk mengerahkan lweekang-nya agar dapat terbebas dari totokan, namun percuma saja. Celakanya, pemuda yang menerimanya dari kejatuhan tadi, tidak cepat-cepat menurunkannya malah terus memondongnya seperti seorang ayah memondong anaknya! Saking jengkel dan malu Eng Lan lantas menjerit minta dilepaskan dan memaki Wi Liong tak tahu malu.

Wi Liong memang tadi tidak sengaja memondong tubuh Eng Lan terlalu lama. Sekarang dia kaget dan malu sekali. Ketika dia melihat gadis langsing itu menoleh dan memandang padanya dengan mata mengandung cemooh dengan bibirnya agak terbuka mengejek, dia menjadi makin malu sampai meningkat menjadi bingung. Dalam kebingungannya dia tidak menurunkan tubuh Eng Lan, malah dibawa berjalan menghampiri gadis langsing itu lantas menyodorkan tubuh Eng Lan seperti orang mengembalikan barang kepada pemiliknya!

"Ha-ha-ha! Turunkan dia di sini," kata Pak-thian Koai-jin sambil tertawa nakal. "Apa kau mau menggendongnya selama hidup? Ha-ha-ha!"

Wi Liong menjadi makin merah mukanya dan cepat-cepat ia menghampiri Pak-thian Koai-jin lalu menurunkan tubuh Eng Lan di atas lantai.

Jago tua dari utara yang bertubuh pendek kecil berpakaian pengemis ini sambil tertawa ha-ha-he-he menotokkan tongkatnya dan seketika itu juga Eng Lan sudah dapat bergerak. Begitu bangkit dia segera melompat sambil tangan kanannya cepat menyambar.

"Plak!” pipi kiri Wi Liong menjadi makin merah karena ditampar oleh Eng Lan.

"Lho, mengapa nona menamparku? Apa salahku…?” tanya Wi Liong terheran.

"Mengapa... mengapa kau pondong aku?!” Eng Lan membentak dengan muka merah dan mata basah air mata. Gadis ini merasa malu dan jengah sehingga membuat dia menjadi marah kepada pemuda tampan ini.

"Ha-ha-ha, Eng Lan anak bodoh! Tentu saja ia suka memondongmu. Pemuda mana yang tak akan suka memondongmu? Ha-ha-ha, orang muda. Kau tadi bilang namamu Thio Wi Liong dan pamanmu Kwee Sun Tek? Apakah dia adalah orang gagah buta yang dahulu pernah membawamu ke puncak Kun-lun-san?”

"Benar, locianpwe. Dan barangkali locianpwe tidak tahu bahwa pemuda tadi kukenal baik, karena dia adalah Kam Kun Hong, putera Seng-goat-pian Kam Ceng Swi di Kun-lun-san, bocah yang dulu bersama aku diculik oleh Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li."

Pak-thian Koai-jin menepuk jidatnya sendiri. "Aduhhh... diakah itu? Dulu aku pernah suka sekali melihatnya dan ingin mengambilnya sebagai murid." Matanya bersinar-sinar ketika ia memandang kepada Wi Liong. "Wi Liong, kau anak baik. Dia ini muridku, namanya Pui Eng Lan, yatim-piatu dan aku adalah walinya. Karena kau tadi telah memondongnya, dan aku pun suka melihatmu, aku akan merasa girang sekali kalau muridku ini dapat berjodoh denganmu. Hoat-ong, bagaimana pendapatmu dengan usulku ini?”

Memang orang-orang kang-ouw seperti Pak-thian Koai-jin ini aneh. Namanya saja sudah Pak-thian Koai-jin (Orang Aneh dari Kutub Utara), orangnya nakal, suka menggoda orang dan jika bicara seenaknya sendiri saja. Masa begitu berjumpa hendak memunguit mantu?

Dapat dibayangkan betapa bingungnya Wi Liong mendengar kata-kata itu. Lebih-lebih lagi Eng Lan. Kasihan gadis ini yang menjadi amat kikuk dan jengah. Mukanya sebentar pucat sebentar merah, membuat dia tampak jelita bukan main. Bila tadi ia bersikap galak, maka sekarang mati kutunya, memutar tubuh dan berdiri membelakangi mereka semua sambil menundukkan dan menutupi muka dengan kedua tangan.

Tak seorang pun di antara mereka tahu betapa hebat kegoncangan hati Kwa Siok Lan di saat itu. Tanpa diketahui oleh siapa pun juga, ia menjadi saksi betapa tunangannya, calon suaminya, di depannya telah dilamar orang lain! Akan tetapi gadis ini dapat mengeraskan hatinya, bahkan diam-diam dia malah ingin sekali mendengar bagaimana jawaban Thio Wi Liong, tunangannya yang baru kali ini dilihatnya.

Sementara itu See-thian Hoat-ong mengangguk-anggukan kepala, "Memang cocok sekali. Pemuda ini baik, kepandaiannya pun lumayan karena dia sanggup memasuki tempat ini!" Sambil berkata demikian See-thian Hoat-ong menanggalkan bajunya.

Kini terlihatlah pakaian perangnya yang tadi sengaja dia tutup dengan pakaian biasa agar tak menimbulkan kecurigaan di dalam kota. Inilah pakaian perangnya sebagai Raja Muda Sin-kiang yang selalu dipakainya untuk mencerminkan bahwa biar pun negaranya sudah dikalahkan oleh bala tentara Mongol, dalam hatinya tetap saja dia memaklumkan perang.

"Kau dengar, pilihanku memang tak keliru!" kata Pak-thian Koai-jin sambil terkekeh-kekeh girang dan menepuk-nepuk pundak Wi Liong. "Pilihanmu pun tidak akan keliru kalau kau memperoleh seorang jodoh seperti muridku Pui Eng Lan ini, orang muda,. Kau belum tahu betapa besar semangatnya, betapa berani hatinya. Dialah yang menyeret-nyeretku untuk mendatangi gedung keluarga Liu di kota raja dan berhasil menewaskan bandot tua she Liu yang sudah membunuh enci-nya (kakak perempuannya) sekeluarga. Untung aku bertemu dengan Hoat-ong dan murid keponakannya yang begitu baik hati suka membantu, kalau tidak belum tentu kami dapat berhasil. Apa lagi sesudah ternyata bahwa gedung keluarga Liu itu dijaga oleh Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li. Hemmm, berbahaya sekali!”

Wi Liong hampir tidak mendengarkan kata-kata yang melantur dari kakek itu. Dia sudah terpukul dan bingung sekali ketika mendengar hendak ditarik menjadi mantu! Tidak dapat disangkalnya lagi bahwa Eng Lan adalah seorang gadis yang tiada cacad celanya, wajah cantik manis sekali, bentuk tubuh indah menarik, berwatak gagah dan berkepandaian lihai lagi. Mau apa lagi? Meski pun dalam pandangannya Eng Lan tidak semenarik gadis tinggi langsing keponakan See-thian Hoat-ong itu, tapi tak boleh disangkal lagi bahwa sukarlah mencari seorang seperti Eng Lan di antara seratus orang gadis!

Dia hendak dijodohkan begitu saja dengan seorang gadis cantik menarik seperti Eng Lan, sementara di situ masih ada seorang dara langsing yang betul-betul membuatnya tertarik. Dan dia sudah ditunangkan oleh pamannya dengan seorang gadis lain, seorang gadis she Kwa yang tinggal di kota Poan-kun dan selama hidupnya belum pernah dilihatnya, entah buruk entah cacad yang karena belum dilihatnya tak mungkin dapat ditentukan apakah dia menyukainya ataukah tidak!

"Bagaimana, Wi Liong? Nyatakan kesanggupanmu menerima perjodohan ini!" Mendadak Pak-thian Koai-jin mendesak sambil terkekeh-kekeh lagi, sangat girang melihat wajah Wi Liong dan wajah Eng Lan kemerahan dan kedua orang muda itu malu dan jengah bukan main. Memang kakek ini tukang menggoda orang.

"Maaf, locianpwe. Bukan sekali-kali aku menampik kebaikan hatimu, malah aku berterima kasih sekali sebab ada orang menaruh perhatian dan kepercayaan kepadaku yang bodoh. Akan tetapi… tentang perjodohan... terpaksa aku tidak dapat menerimanya...!"

"Ehhh...? Apa Eng Lan masih kurang cantik?” Benar-benar keterlaluan Pak-thian Koai-jin menggoda orang, sampai-sampai muridnya tak kuat mendengarkan terus dan larilah Eng Lan ke dalam sambil menutupi mukanya.

"Sekali-kali bukan begitu, locianpwe. Nona Pui sudah terlampau baik bagi seorang seperti aku, malah akulah yang tak berharga baginya. Akan tetapi... aku... aku sudah mempunyai seorang calon jodoh yang sudah ditentukan oleh paman Kwee..."

Untuk sejenak Pak-thian Koai-jin kelihatan tertegun, akan tetapi wajahnya berseri kembali dan senyumnya muncul lagi pada mukanya yang lucu.

"Aha, muda-muda sudah mempunyai calon isteri? Sungguh tergesa-gesa sekali! Tentu dia cantik, secantik Eng Lan, kah? Kau tentu suka sekali padanya, heh? Kapan menikahnya? Jangan lupa undang aku orang tua, jangan terlalu pelit dengan arakmu."

Merah sekali wajah Wi Liong, bukan hanya karena malu, juga karena mendongkol.

"Locianpwe, siapa sih yang memikirkan pernikahan? Aku ditunangkan di luar kehendakku. Kalau saja aku tidak mau menyakitkan hati paman, kalau saja bukan karena aku hendak berbakti terhadap paman, tentu perjodohan itu akan kutolak, tentu ikatannya kuputuskan dan pertunangannya kubatalkan."

Wi Liong mengeluarkan kata-kata ini dengan sungguh-sungguh sambil mengerling ke arah gadis tinggi langsing itu. Memang di dalam hatinya pemuda ini sudah merasa tidak setuju terhadap keputusan pamannya yang menjodohkannya dengan seorang gadis yang sama sekali tidak dikenalnya. Apa lagi sesudah sekarang berjumpa dengan gadis langsing itu, makin kecewa hatinya bahwa dia telah bertunangan dengan gadis lain!

Dapat dibayangkan betapa hebat pengaruh kata-kata ini terhadap Siok Lan sendiri. Gadis ini menjadi pucat, menggigit bibirnya dan segera meninggalkan tempat itu menyusul Eng Lan. Juga gadis ini menahan air matanya, dan perasaannya ketika meninggalkan tempat itu tidak berbeda dengan perasaan hati Eng Lan, yaitu perasaan hati seorang gadis yang merasa ditolak oleh seorang pemuda!

Pada saat itu pula terdengar suara pekik memanjang dari seberang jurang dan Souw Lo Hosiang, ketua kelenteng itu muncul dari pintu, cepat menjura kepada dua orang kakek itu sambil berkata,

"Pinceng melihat dua orang di seberang jurang, seorang wanita dan seorang kakek yang buntung tangan kirinya. Harap ji-wi sicu memberi petunjuk." Hwesio ini adalah murid Bhok Lo Cinjin, maka dia berlaku amat hormat kepada dua orang kakek yang menjadi sahabat baik gurunya itu, yang dia ketahui memiliki kepandaian tinggi.

Seperti hampir semua anggota Siauw-lim-pai, juga Souw Lo Hosiang ini berjiwa patriot dan selalu menentang penjajah Mongol. Sebab itu dia rela kelentengnya dipergunakan sebagai tempat pertemuan dan tempat persembunyian orang-orang gagah, malah ia menyediakan tenaga untuk membantu bersama murid-muridnya.

Mendengar laporan yang disampaikan sendiri oleh ketua kelenteng, Pak-thian Koai-jin lalu tertawa bergelak dan See-thian Hoat-ong juga tersenyum girang.

"Tua bangka buntung itu tentu Lam-san Sian-ong!" kata Pak-thian Koai-jin sambil bertepuk tangan.

Beramai mereka lalu menuju ke jendela bulan untuk memandang keluar. Kelihatanlah dua orang tamu itu, tak begitu jelas karena jurang itu memang lebar sekali, akan tetapi mudah mengenal kakek gemuk pendek yang buntung tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang sebatang tongkat bambu yang butut. Di sampingnya berdiri seorang wanita yang dari jauh kelihatan cantik.

"Wanita berbaju biru itu apakah bukan Tung-hai Sian-li?” kata See-thian Hoat-ong sambil mengerutkan kening.

See-thian Hoat-ong adalah adik seperguruan dari Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek, jadi dia merupakan paman guru dari Kwa Siok Lan. Dia menemani Siok Lan ke kota Peking untuk membantu pergerakan para orang gagah karena Kwa Cun Ek sendiri berhalangan pergi dan sedang menderita sakit. Memang semenjak ditinggal pergi oleh isterinya, yaitu Tung-hai Sian-li, sering kali Kwa Cun Ek termenung penuh kedukaan dan sering kali menderita sakit di dada.

Sekarang muncul Tung-hai Sian-li, sedangkan Kwa Siok Lan berada di situ. Ibu dan anak yang tidak pernah bertemu muka semenjak Siok Lan berusia satu tahun dan ditinggalkan, sekarang akan bertemu! See-thian Hoat-ong mengkhawatirkan kalau akan terjadi sesuatu yang tak diingini antara ibu dan anaknya ini.

"Hei, setan-setan gundul yang di kelenteng, mana jembatan tambang kalian?" teriak Lam-san Sian-ong dengan suaranya yang nyaring sambil tongkat di tangan kanannya diacung-acungkan.

"Kakek buntung, kenapa kau tidak lantas terbang saja ke sini?” Pak-thian Koai-jin berseru menggoda.

"Pengemis kelaparan, sayapku belum tumbuh, mana bisa terbang?”

Selagi dua orang kakek aneh yang sama pendek sama gemuknya itu berkelakar dengan mempergunakan tenaga khikang untuk ‘mengirim' suara mereka satu kepada yang lain, Souw Lo Hosiang memberi perintah kepada murid-muridnya untuk mengambil tambang dan panahnya. Empat orang murid menggotong gulungan tambang yang panjang dan kuat, seorang murid lain membawa sebuah gendewa besar dan berat.

Souw Lo Hosiang adalah murid Bhok Lo Cin-jin yang amat pandai mempergunakan anak panah. Ia pula yang menciptakan jembatan tambang yang hanya dapat dipasang olehnya secara istimewa, yaitu menggunakan anak panahnya.

Dengan tenang tetapi cepat dia memasangkan sebatang anak panah yang berat dan kuat terbuat dari pada baja tulen di gendewanya, setelah ekor anak panah itu diikat oleh ujung tambang. Dia berdiri di belakang jendela bulan, memasang kuda-kuda yang teguh seperti biasa para anak murid Siauw-lim-pai memasang kuda-kuda, mementang gendewa sampai hampir melengkung bundar, lalu mulutnya berseru,

"Haaaiiiihhh…!"

Terdengar suara menciut dan anak panah itu lantas meluncur seperti burung terbang ke seberang jurang sambil membawa tambang yang melayang di belakangnya laksana ular yang panjang sekali.

Sangat indah kelihatannya anak panah yang di belakangnya diikuti tambang itu dan anak panah itu akhirnya dengan tepat sekali menancap pada batang pohon besar yang tumbuh di seberang jurang. Jika tidak mempunyai tenaga lweekang yang matang dan kepandaian ilmu memanah yang mahir, tidak mungkin dapat melakukan apa yang sudah diperlihatkan oleh Souw Lo Hosiang tadi.

"Bagus!" Pak-thian Koai-jin memuji.

Sementara itu Lam-san Sian-ong dan kawannya yang berada di seberang jurang segera mengikatkan ujung tambang itu kuat-kuat pada batang pohon besar. Tambang lalu ditarik oleh Souw Lo Hosiang sampai menegang kemudian ujungnya yang sebelah sini diikatkan pada tiang yang berada di luar ruangan, maka siaplah jembatan tambang itu.

Lam-san Sian-ong bersama kawannya kemudian melompat ke atas tambang dan berlari dengan enaknya seperti pemain akrobat tambang yang mahir. Hal ini tidak mengherankan bila mana orang mengenal siapa Lam-san Sian-ong dan kawannya itu yang setelah dekat ternyata benar Tung-hai Sian-li adanya.

Lam-san Sian-ong, kakek yang tangan kirinya buntung itu, mempunyai ilmu yang sudah terkenal di seluruh wilayah selatan, sedangkan Tung-hai Sian-li, siapakah di antara orang kang-ouw yang tidak pernah mendengar namanya? Orangnya jujur dan galak akan tetapi pedang dan ilmu silatnya lebih galak lagi!

Sebagai tuan rumah Souw Lo Hosiang lalu menyambut kedatangan dua orang tamu yang sudah dikenal baik siapa adanya itu dengan menjura dan berkata, "Sungguh merupakan kehormatan yang sangat besar bagi kelenteng buruk ini menerima kunjungan ji-wi yang terhormat. Selamat datang...!”

Tung-hai Sian-li balas menjura sebagaimana mestinya, wajahnya yang cantik dan masih terlihat muda itu nampak sungguh-sungguh dan bibirnya memperlihatkan senyum sopan. Akan tetapi Lam-san Sian-ong hanya menggerak-gerakkan tangannya yang buntung tanpa membalas penghormatan orang, hanya berkata,

"Siauw-lim-pai benar-benar partai terbesar, di mana-mana terdapat muridnya yang pandai. Ilmu memanah tadi benar-benar tidak jelek. Kau ini seorang hwesio tidak pernah makan daging bisa mempunyai tenaga sehebat itu, benar-benar mengagumkan sekali."

Souw Lo Hosiang hanya tersenyum menjura dan merendahkan diri. Dia sudah kenal baik watak orang aneh ini. Bukan Lam-san Sian-ong namanya kalau bicaranya genah! Sudah menjadi watak Lam-san Sian-ong kalau bicara tidak karuan atau seenak perutnya sendiri saja.

Lam-san Sian-ong lantas menghadapi Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong sambil berkata, "Kedatanganku bersama Tung-hai Sian-li ini untuk menyelamatkan nyawa kalian dari bahaya maut!”

"Lam-san Sian-ong, enak saja kau bicara!" suara See-thian Hoat-ong menggeledek. "Apa kau kira kami memerlukan bantuanmu kalau hanya ingin menjaga keselamatan diri saja?"

"Hoat-ong, peduli apa dengan obrolan kosong Lam-san Sian-ong si kakek buntung?" kata Pak-thian Koai-jin mengejek. "Lebih baik kita bicara dengan Tung-hai Sian-li. Sebenarnya apakah yang terjadi dan berita apa yang kalian bawa?” tanya Pak-thian Koai-jin kepada wanita itu.

Sebelum menjawab, Tung-hai Sian-li melirik ke arah Thio Wi Liong yang sejak tadi masih berdiri di pojok dengan pandang mata penuh kekaguman dan kegembiraan dapat bertemu dengan orang-orang ternama di dunia kang-ouw. "Aku mengenal kalian, juga mengenal Souw Lo Hosiang dan murid-muridnya. Akan itetapi di sini kulihat seorang pemuda asing, tak enak untuk bicara!”

Pak-thian Koai-jin tertawa dan memang kakek ini memiliki watak yang aneh sekali. Melihat orang tersinggung dia malah suka, melihat orang tergoda malah ditertawakan, wataknya persis seorang bocah yang bengal sekali. Mendengar ucapan Tung-hai Sian-li ia mengerti betapa tersinggung dan tak enak hati Wi Liong, maka sengaja ia berkata,

"Kalau begitu mari kita bicara di luar ruangan ini!" Cepat dia mengajak kawan-kawannya keluar dari ruangan dan sebentar saja Wi Liong ditinggal seorang diri!

Diam-diam pemuda ini mendongkol sekali dan merasa tidak suka kepada Tung-hai Sian-li, wanita yang dianggapnya amat galak dan penuh curiga. Dia tersenyum mengejek karena orang-orang yang menganggap diri sebagai pentolan-pentolan dunia kang-ouw itu terlalu memandang rendah padanya. Mereka itu sama sekali tidak.tahu bahwa biar pun mereka mengadakan pembicaraan di luar ruangan itu dengan suara perlahan, namun tetap saja pendengarannya yang tajam masih bisa menangkap pembicaraan itu dengan cukup jelas!

Akan tetapi hatinya sudah panas, mana ia sudi mendengarkan percakapan orang? Malah dia sengaja menjauhkan diri dan berdiri di depan jendela bulan. Hanya karena mendengar disebutnya nama Beng Kun Cinjin membuat Wi Liong terpaksa harus memasang telinga mendengarkan juga.

"Mereka menyangka bahwa Beng Kun Cinjin bersembunyi di sini, maka mereka datang dengan pengerahan tenaga ratusan orang prajurit pilihan. Di antara mereka terdapat Bu-ceng Tok-ong, Tok-sim Sian-li, Hek-mo Sai-ong serta beberapa orang Panglima Mongol yang kosen. Kita bukan tandingan mereka sama sekali, dan melawan berarti membuang nyawa cuma-cuma. Untuk apa kita melayani mereka?" terdengar Tung-hai Sian-li berkata.

“Jalan ke sini sama sekali tidak ada, dan tanpa jembatan tambang tidak mungkin mereka mampu sampai ke sini. Takut apa? Kalau mereka berani melalui jembatan tambang, kita tinggal merobohkan mereka seorang demi seorang. " kata Pak-thian Koai-jin.

"Ahh, tidak bisa begitu," See-thian Hoat-ong mencela. Dia seorang bekas raja muda, juga bekas panglima perang, tentu saja paham akan siasat perang. "Barisan Mongol dipimpin panglima-panglima yang pandai. Mereka takkan begitu goblok untuk mencoba menyerbu ke sini lewat jembatan tambang. Ada dua macam serangan mereka, pertama menghujani anak panah sampai kelenteng ini terbakar habis dan ke dua mengurung sekeliling jurang memutuskan jalan keluar sehingga kita akan menjadi kering dan kelaparan di tempat ini."

"Waduh, itu benar-benar bukan jalan mati yang enak." Pak-thian Koai-jin berkelakar, "Dari pada mati terpanggang atau mati kelaparan, lebih baik kita terbang pergi saja!"

"Itulah jalan yang terbaik,” kata See-thian Hoat-ong, "kita lari dari sini bukan karena takut musuh, hanya agar jangan mati konyol. Biar pun kita lari, masih ada bahaya terkepung di seberang sana. Akan tetapi lebih baik dikeroyok lalu tewas di dalam pertempuran dengan golok di tangan dari pada mati konyol di sini tanpa mampu membalas sedikit pun kepada musuh."

Pada saat itu pula dari dalam muncul Kwa Siok Lan dan Pui Eng Lan. Mereka mendengar orang bercakap-cakap dan mendengar suara wanita, maka dengan heran mereka segera keluar.

Anehnya tidak hanya mata Eng Lan yang merah bekas menangis, malah mata Siok Lan juga terlihat tanda-tanda bekas menangis! Hal ini tidak mengherankan bila diingat betapa mendongkol dan marahnya mendengar tunangannya, calon suaminya, menyatakan tidak suka akan ikatan jodoh itu!

Melihat Tung-hai Sian-li membalikkan tubuh lantas memandang kepada dua orang gadis itu, Pak-thian Koai-jin segera tertawa dan memperkenalkan muridnya, "Tung-hai Sian-li, jangan curiga. Yang hitam manis itu adalah muridku. Pui Eng Lan...!"

Akan tetapi Tung-hai Sian-li seperti tidak mendengar ucapannya ini dan matanya menatap wajah Siok Lan dengan tajam. Sebaliknya, ketika Siok Lan mendengar Pak-thian Koai-jin menyebut wanita itu Tung-hai Sian-li, seketika itu pula wajahnya menjadi pucat dan kedua matanya terbelalak menatap wanita itu, bibirnya gemetar dan tubuhnya agak menggigil.

Dia melangkah maju tiga tindak, matanya seakan-akan membakar seluruh tubuh Tung-hai Sian-li, telunjuknya menuding dan bibirnya yang gemetar itu berkata perlahan,

“Kau... kau Tung-hai Sian-li...?” Ia segera memutar tubuhnya dan menutupi muka dengan kedua tangan, menangis terisak-isak.

Jadi inikah ibunya? Wanita cantik jelita dan gagah perkasa ini ibu kandungnya? Keharuan membuat seluruh tubuhnya menggigil!

Tentu dia akan menubruk, merangkul ibu kandungnya yang sering kali ia impi-impikan ini kalau saja tidak teringat olehnya betapa ibunya dengan keji telah meninggalkan ayahnya dan meninggalkan dia ketika dia berusia satu tahun! Perbuatan ini dianggapnya sebuah perbuatan yang paling kejam tiada taranya, perbuatan yang tidak boleh diampunkan!

Ia bangga melihat ibunya demikian cantik, gagah dan nampak masih muda, akan tetapi ia menjadi benci sebenci-bencinya kalau teringat akan perbuatan ibunya terhadap ayahnya, teringat betapa ayahnya menderita, betapa ayahnya sering kali jatuh sakit dan mengigau menyebut-nyebut nama ibunya.

Tung-hai Sian-li adalah seorang wanita yang jujur dan galak. Dengan dua langkah lebar ia telah berada di belakang Siok Lan, dan sekali tangannya bergerak dia sudah memegang pundak Siok Lan lalu diputarnya tubuh gadis itu sehingga menghadapinya.

"Siapa kau? Apa maksud sikapmu yang aneh ini? Hayo kau bilang!" Diguncang-guncang tubuh Siok Lan dengan tangannya yang amat kuat sehingga gadis itu terhuyung-huyung.

See-thian Hoat-ong cepat melangkah maju lalu berkata dengan suaranya yang tegas dan kereng. "Tung-hai Sian-li, dia adalah puteri suheng yang kau tinggalkan ketika dia masih berusia satu tahun!”

Bagaikan disambar geledek. Tung-hai Sian-ii tersentak mundur, wajahnya pucat sekali.

"Kau... kau...?” katanya perlahan dan di lain saat dia telah menubruk dan merangkul Siok Lan. Untuk sesaat Siok Lan menyerah kepada perasaan hatinya membalas pelukan kasih sayang ibunya, akan tetapi segera dia merenggut diri terlepas dan berkata.

"Tidak... tidak…! Kau bukan ibuku... kau… kau wanita yang mencelakai hidup ayahku... pergi kau...!"


Tung-hai Sian-li berdiri terpaku, tak bergerak dan tidak tahu harus berbuat apa. Matanya basah oleh air mata yang sudah belasan tahun tidak pernah mengalir dari matanya, kedua tangan terkepal, hatinya tidak karuan rasanya. Semua orang berdiri tertegun, juga terharu menghadapi pertemuan luar biasa ini.

Mendadak terdengar teriakan nyaring sekali. "Kun Hong, kalau kau laki-laki, tunggu aku di seberang situ. Aku Thio Wi Liong, masih ingatkah kau? Mari kita ulangi pibu yang dahulu untuk melihat siapa yang lebih unggul!"

Dari seberang jurang terdengar jawaban nyaring. "Aha, bagus sekali! Jadi kaukah itu? Ke sinilah, aku sudah siap menghajarmu setengah mampus!”

Mendengar teriakan-teriakan ini semua orang berlari ke ruangan itu dan melihat Wi Liong sudah melompat ke atas jembatan tambang. Pemuda itu menoleh dan berkata kepada Pak-thian Koai-jin,

"Locianpwe harap bawa kawan-kawan menyeberang, biar aku yang menjaga di sana."

Semua orang mendongkol karena siapa percaya omongan pemuda itu? Di seberang sana kelihatan Kun Hong, Bu-ceng Tok-ong, Tok-sim Sian-li dan yang lain-lain, bahkan tampak pula barisan di lereng bukit, bagaimana pemuda itu bisa menjaga di sana? Tentu untuk menyombong saja dan sebetulnya pemuda itu hendak melarikan diri.

"Celaka, jangan-jangan dia itu mata-mata musuh yang sengaja memancing kita!" tiba-tiba Pui Eng Lan berkata dan tangannya bergerak. Sebatang piauw lantas menyambar ke arah punggung Wi Liong.

Tanpa terasa lagi Siok Lan mengeluarkan teriakan kaget. Teriakan ini disusul oleh seruan-seruan kaget dan kagum dari lain orang yang berada di situ ketika melihat betapa piauw yang tepat mengenai punggung Wi Liong lantas runtuh ke bawah seperti mengenai tubuh terbuat dari karet saja.

Wi Liong seperti tidak merasakan apa-apa dan berjalan terus. Benar-benar mengherankan sekali. Pemuda yang berjalan di atas tali itu sedang menggunakan dua lengannya untuk menahan keseimbangan tubuh, yang kelihatan begitu lemah, bagaimana dapat menahan serangan piauw seakan-akan punggungnya itu disentuh oleh tangan yang halus.....?


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner