CHENG HOA KIAM : JILID-24


Pegunungan Kun-lun adalah daerah yang amat luas. Panjangnya meliputi daerah Propinsi Cinghai memanjang ke barat sampai ke Tibet. Jarang sekali terlihat orang di daerah yang liar ini, kecuali para pertapa yang memang selalu mencari tempat-tempat sunyi seperti itu. Bahkan di sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Kun-lun-san, terdapat kelenteng besar yang merupakan kompleks perumahan para tosu dari Kun-lun-pai, partai persilatan yang sudah terkenal di dunia kang-ouw.

Kam Kun Hong berlari-lari di lereng Pegunungan Kun-lun-pai dengan wajah amat gembira. Wajahnya yang tampan nampak berseri, rambutnya yang hitam tebal itu digelung ke atas. diikat dengan sapu tangan putih, membuat mukanya nampak bundar putih tampan sekali, matanya bersinar-sinar. Hatinya gembira melihat pegunungan yang telah amat dikenalnya ini.

Dulu dia pernah tinggal di puncak Kun-lun-san, di dalam kelompok perumahan Kun-lun-pai bersama ayahnya, Seng-goat-pian Kam Ceng Swi. Belasan tahun ia meninggalkan tempat ini, sejak ia diculik oleh Tok-sim dan Tok-ong. Tiga belas tahun ia tidak bertemu dengan ayahnya. Kadang-kadang dia merasa rindu juga, akan tetapi ada kalanya dia tidak ingin bertemu dengan ayahnya. Entah mengapa.

Akan tetapi kali ini dengan penuh harapan ia mendaki Bukit Kun-lun untuk dapat bertemu dengan ayahnya. Bukan hanya karena rindu, terutama sekali hendak mengajukan sebuah permintaan, yaitu meminang Pui Eng Lan murid dari Pak-thian Koai-jin.

Sebenarnya dia sendiri tidak tahu di mana tempat tinggal nona itu atau gurunya, tetapi dia percaya bahwa ayahnya tentu akan mengetahuinya. Ayahnya amat luas pengalaman dan pergaulannya, mustahil tidak tahu di mana tinggalnya Pak-thian Koai-jin, kakek kang-ouw berpakaian pengemis, bertubuh kecil pendek, matanya besar, nakal dan senjatanya juga aneh, mangkok butut dan tongkat bambu itu.

Hari sudah menjelang senja ketika dia tiba di lereng di mana dahulu Tok-sim Sian-li dan Bu-ceng Tok-ong menculik dia dan Wi Liong. Kun Hong berhenti dan merenung. Seakan-akan baru kemarin saja terjadinya hal itu. Masih jelas terbayang di depan matanya ketika dia berkelahi dengan Wi Liong. Masih teringat ketika Pak-thian Koai-jin mempermainkan tubuhnya, melempar lalu menangkap tubuhnya, dan mau mengambil murid padanya.

"Dari mana dan siapakah nama orang muda yang datang ke tempat sunyi ini?" mendadak terdengar orang menegur sampai Kun Hong menjadi terkejut. Dari cara kedatangan orang ini yang begitu tiba-tiba tanpa dia melihatnya, sudah dapat diduga oleh Kun Hong bahwa orang ini tentu memiliki kepandaian tinggi.

Ia seorang kakek kurus bermata sipit, jenggotnya yang sedikit tak terpelihara, rambutnya digelung ke atas. Dia tidak membawa apa-apa, hanya di punggungnya tergantung sebuah tempat arak terbuat dari kulit buah waluh yang dikeringkan.

Karena berada di tempat perguruan ayahnya, Kun Hong tidak berani berlaku lancang dan kurang hormat. Dia segera menjura dan menjawab,

'Siauwte adalah Kam Kun Hong, sengaja datang hendak menghadap ayahku, Kam Ceng Swi. Entah siapakah lo-enghiong ini, apakah seorang anak murid Kun-lun-pai?”

Orang itu melengak, memandang tajam lantas tertawa bergelak. "Kau putera Seng-gwat-pian? Ha-ha-ha, tidak nyana Kam-twako mempunyai seorang putera begini ganteng dan gagah! Eh Kam Kun Hong, ketahuilah, aku Cin Cin Cu sahabat baik ayahmu, seperti adik sendiri. Ha-ha, alangkah senangnya mempunyai seorang keponakan yang begini ganteng. Pertemuan ini harus dirayakan dengan minum arak wangi."

Sambil berkata demikian orang yang bernama Cin Cin Cu itu menurunkan ciu-ouw (tempat arak) dari punggungnya dan membuka sumbatnya. Betul saja tercium bau arak yang amat harum oleh Kun Hong.

"Maaf, siok-siok (paman). Bukan kurang menghormat, akan tetapi aku ingin sekali cepat bertemu dengan ayah. Nanti setelah bertemu dengan ayah, tentu dengan senang hati aku akan melayanimu minum arak," kata Kun Hong sambil tersenyum.

“Tidak bisa. tidak bisa. Ayahmu kebetulan tidak berada di sini," kata Cin Cin Cu.

"Tidak berada di sini?" Kun Hong bertanya dengan suara kecewa sekali. "Ke manakah perginya ayah?"

"Kau ikutlah ke sini, minum arak. Tak ada yang lebih nikmat dari pada minum arak sambil memandang bulan purnama dari tempat sunyi." Kakek itu lalu melompat dan tahu-tahu dia telah duduk di atas sebuah cabang pohon yang menjulang ke atas sebuah jurang yang curam.

Cabang itu bergoyang-goyang naik turun dan hanya orang yang berkepandaian tinggi saja yang berani duduk di tempat seperti itu, dengan melompat dari bawah pula. Sekali cabang itu patah, tentu orangnya akan terjerumus ke dalam jurang yang amat dalam!

”Anak muda. kau ke sinilah temani aku minum arak, mengagumi bulan sambil mengobrol seenaknya."

Kun Hong merasa ditantang. Ajakan kakek itu seakan ingin mencoba kepandaiannya. Di samping itu dia juga ingin sekali mendengar di mana adanya ayahnya supaya dia dapat menyusulnya. Pemuda ini lantas mengenjotkan kedua kakinya, mengerahkan ginkang-nya dan melayang ke atas cabang itu, duduk di sebelah kanan kakek tadi.

Diam-diam Cin Cin Cu kaget dan kagum bukan main karena cabang itu sedikit pun tidak bergoyang! Padahal ketika tadi ia melompat ke situ, cabang itu masih bergoyang-goyang. Terang bahwa dalam ilmu ginkang, dia malah kalah oleh pemuda ini! Padahal dia adalah seorang ahli ginkang yang telah mendapat julukan Bu-beng-kwi (Setan Tanpa Bayangan)!

"Bagus, kau seorang pemuda gagah, pantas menjadi keponakanku, pantas kuberi hadiah secawan arak harum!" katanya sambil mengeluarkan sebuah cawan arak yang amat kecil kemudian menuangkan arak dari tempat arak itu ke dalam cawan sampai penuh.

Kun Hong menerima cawan penuh arak itu dan tersenyum. Alangkah kikirnya kakek ini, cawan araknya saja demikian kecil, hanya seperempat cawan arak biasa! Tetapi karena gembira juga melihat bahwa dari tempat itu ternyata mereka dapat melihat bulan purnama yang baru timbul dari timur, Kun Hong menyatakan terima kasih lalu menghirup araknya sekaligus. Tapi alangkah kagetnya ketika dia merasa betapa arak itu langsung menyengat lidah dan mulutnya. Arak yang demikian keras, demikian harum dan demikian enak, yang belum pernah dia minum selama hidupnya. Hampir dia tersedak.

Cin Cin Cu tertawa ketika menerima cawan yang sudah kosong. "Ha-ha-ha, kau kira arak ini sama dengan arak yang boleh kau beli dari segala warung? Ha-ha-ha-ha, arak ini telah menyimpan sari cahaya bulan bertahun-tahun lamanya, namanya juga arak cahaya bulan! Kau dapat menenggak habis sekaligus tanpa tersedak, itu menandakan bahwa lweekang-mu sudah sangat tinggi. Kau seorang muda yang begini lihai, patut minum cawan ke dua!" Kembali ia menuangkan arak ke dalam cawan sampai penuh lalu memberikannya kepada Kun Hong.

Sekarang tahulah Kun Hong bahwa kakek ini tidak pelit melainkan araknya yang istimewa dan tidak bisa disamakan dengan arak lain yang boleh ditenggak sampai berpuluh cawan besar. Timbul kegembiraannya, ia menerima cawan itu sambil mengucapkan terima kasih.

"Lo-enghiong patut menjadi pamanku, patut menjadi saudara ayah..."

"Ha-ha-ha. tentu saja. Memang aku Cin Cin Cu dengan Kam Ceng Swi seperti adik dan kakak. Selanjutnya kau boleh menyebutku paman Cin!"

Kun Hong juga tertawa. "Paman Cin benar-benar baik sekali. Tidak tahu apakah kau juga mengerti mengapa ayah turun gunung dan sekarang berada di mana?”

"Ayahmu turun gunung menuju ke Peking untuk membantu perjuangan orang-orang gagah sedunia yang berusaha membendung pengaruh Mongol yang makin meracuni semangat orang-orang kang-ouw. Kabarnya orang-orang Mokauw sudah terang-terangan membantu para penghianat dan pembesar Mongol. Karena itu ayahmu tidak dapat menahan hatinya dan sudah mendahului kami turun gunung. Apa lagi ketika ia mendengar bahwa manusia-manusia busuk macam Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-Li juga ikut-ikut menjadi anjing penjilat Bangsa Mongol, bahkan kabarnya si gembong Mokauw Thai Khek Sian juga turut serta!" Saat berkata demikian, tiba-tiba Cin Cin Cu menghentikan sikapnya yang tertawa-tawa, sebaliknya kini menatap wajah Kun Hong dengan tajam penuh selidik!

Ucapan itu memang benar merupakan serangan mendadak yang menikam isi dada Kun Hong, akan tetapi pemuda ini bisa mengendalikan diri dan untuk menutupi mukanya yang menjadi merah, ia meneguk arak di dalam cawannya sekaligus ke dalam mulut. Kali ini ia tidak akan tersedak lagi karena ia sudah bersiap menghadapi arak keras itu.

Cin Cin Cu kembali tertawa bergelak. "Ayahmu memang sungguh bersemangat, seorang gagah perkasa yang mulutnya saja sering kali bilang tidak peduli urusan dunia, namun di dalam hatinya selalu membela rakyat kecil yang terus-menerus menjadi korban ganasnya kekuasaan. Kau pun seorang gagah, mari minum cawan ke tiga. Kau.tahu hanya tokoh-tokoh nomor satu dari Go-bi-pai yang sanggup menghabiskan tiga cawan arak sinar bulan ini sekaligus!”

Kembali cawan diisi penuh dan mendengar ucapan terakhir ini. darah muda dalam tubuh Kun Hong membuat dia pantang mundur. Apa bila tokoh-tokoh nomor satu dari Go-bi-pai sanggup, masa ia tidak sanggup? Padahal pandang matanya sudah mulai berkunang dan kepalanya mulai berdenyut-denyut.

Dari tempat tinggi itu ia melihat jurang di bawah ternganga seperti mulut hitam yang besar mengerikan. Bulan yang tadinya bundar dan terang, sekarang masih terang bahkan lebih terang, hanya bundarnya sudah pletat-pletot dan kadang kala terlihat seperti ada dua atau tiga bertumpuk-tumpuk.

Akan tetapi sebagai seorang muda yang tidak mau kalah, Kun Hong malu kalau menolak. Dia menerima cawan itu dan minum habis sekali tenggak. la mengambil keputusan untuk segera melompat turun sesudah menenggak cawan ke tiga lantas bercakap-cakap di atas tanah. Akan tetapi, begitu isi cawan ke tiga memasuki perutnya, matanya menjadi gelap, denyut di kepalanya makin hebat dan tiba-tiba Cin Cin Cu bergerak melompat dari tempat itu, dari alas cabang pohon.

Kun Hong maklum bahwa kalau dia tidak lekas-lekas turun, ia bisa jatuh terguling. Cepat dia melompat, akan tetapi oleh karena pandang matanya sudah kabur, lompatannya tidak tepat dan tubuhnya melayang ke pinggir jurang!

"Bagus, Cin Cin Cu sicu. Terima kasih atas pertolonganmu ini!" terdengar suara halus dan sehelai tambang meluncur seperti ular panjang, lalu melibat tubuh Kun Hong yang masih melayang dan menariknya dengan sentakan kuat sekali ke atas tanah. Tambang ini yang dipegang seorang tosu tua sudah menolong Kun Hong dari bahaya terjerumus ke dalam jurang.

Kun Hong bergulingan di atas tanah dalam keadaan setengah pingsan. Tosu tua itu terus mengikat kaki tangannya dengan tambang tadi. Biar pun dia sudah tua sekali akan tetapi gerakannya amat cekatan dan segera muncul lima enam orang tosu yang membantunya. Sebentar saja Kun Hong sudah menjadi orang tawanan yang dibelenggu, sama sekali tak berdaya.

Tosu tua bertubuh tinggi kurus berambut putih ini bukan lain adalah Pek Mau Sianjin atau juga terkenal disebut Kun-lun Lojin, couwsu atau guru besar dari Kun-lun-pai! Beberapa orang tosu lain adalah anak-anak muridnya atau tokoh-tokoh utama dari partai Kun-lun.

Cin Cin Cu menjura sambil menghela napas panjang. "Thian memang tidak menghendaki kejahatan merajalela di dunia. Kebetulan sekali selagi aku turun gunung hendak pulang, muncul pemuda ini yang memang kita cari-cari. Bila ia tidak lekas-lekas mengaku putera Seng-gwat-pian, mana aku bisa mengenal murid Thai Khek Stan?" Ia menggeleng-geleng kepala dan berkata lagi. "Sungguh berbahaya sekali! Dari lompatannya ke atas cabang saja sudah membuktikan bahwa dia benar-benar lihai sekali."

"Syukur ia datang sendiri, tak usah kita susah-susah mencarinya," kata Pek Mau Sianjin, kemudian ia menyuruh murid-muridnya agar menggusur pemuda itu dan membawanya ke kelenteng serta menjaganya dengan ketat.

Siapakah Cin Cin Cu dan mengapa dia bersama tokoh-tokoh Kun-lun-pai menawan Kun Hong mempergunakan arak keras yang agaknya dicampuri obat memabokkan?

Cin Cin Cu adalah seorang tokoh Go-bi-pai. partai persilatan yang tak kalah ternama oleh Kun-lun-pai. Dia adalah sute (adik seperguruan) dari Pak-thian Koai-jin dan Hu Lek Siansu yang menjadi ketua Go-bi-pai. Seperti juga Pak-thian Koai-jin, Cin Cin Cu ini amat gemar merantau, tidak suka berdiam di gunung seperti Hu Lek Siansu dan saudara-saudaranya yang lain.

Cin Cin Cu hidup seperti burung, terbang ke sana ke mari tidak ada yang melarang, hidup sebatang kara bersama guci araknya. Dia seorang yang amat doyan minum arak, maka julukannya Bu-eng-kwi (Setan Tanpa Bayangan) kadang-kadang ditambah dengan ciu-kwi (Setan Arak)!

Seperti halnya Pak-thian Koai-jin. Cin Cin Cu juga seorang yang berjiwa patriotik, tidak rela melihat tanah airnya dijajah oleh orang-orang Mongol. Akan tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa menghadapi kekuatan yang maha besar dari bala tentara Mongol. Paling-paling hanya mengganggu dan mengacau saja seperti yang dilakukan oleh pendekar-pendekar lainnya.

Dalam hal ilmu silat, meski pun tidak sepandai Pak-thian Koai-jin, kiranya tidak kalah jauh oleh suheng-nya, Hu Lek Siansu, hwesio yang menjadi ketua Go-bi-pai. Ada kelebihannya dari kedua orang suheng-nya itu, ialah bahwa Cin Cin Cu mahir ilmu pengobatan.

Ketika melakukan perjalanan ke Peking, Cin Cin Cu mendengar tentang keadaan di sana, mendengar bahwa Thai Khek Sian, gembong utama dari Mokauw telah mengutus seorang muridnya yang pandai bernama Kam Kun Hong, dikawani oleh Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li, untuk memperkuat kedudukan kaki tangan Mongol.

Sesudah mendengar bahwa murid Thai Khek Sian itu adalah putera Kam Ceng Swi yang dulu diculik oleh Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li yang kini menjadi murid Thai Khek Sian, Cin Cin Cu segera menuju ke Kun-lun-pai. Kam Ceng Swi adalah murid Kun-lun-pai, jika puteranya sekarang menjadi jago Mongol, bukankah hal itu bisa mencemarkan nama baik partai Kun-lun-pai yang menjadi partai sahabat dari perkumpulannya?

Cin Cin Cu lebih tahu dari pada Kun Hong mana jalan terdekat menuju ke Kun-lun, maka dia datang lebih dulu dari Kun Hong, meski pun selisihnya hanya dua hari. Diceritakannya kepada Pek Mau Sianjin tentang pemuda putera Kam Ceng Swi itu. Semua tokoh Kun-lun-pai masih teringat akan Kun Hong yang memang pernah tinggal di situ, maka kagetlah mereka. Terutama sekali Pek Mau Sianjin.

"Kita harus tangkap dia dan beri hukuman. Sayang Kam Ceng Swi sedang turun gunung, kalau tidak tentu hal ini bisa kita rundingkan dengan dia sebagai ayahnya."

Dua hari Cin Cin Cu melepaskan lelah di puncak Kun-lun-san yang permai. Pada hari ke tiga ia turun gunung pada waktu senja. Seperti sudah diceritakan, secara kebetulan sekali dia bertemu dengan Kun Hong. Dia belum pernah melihat pemuda ini, akan tetapi begitu mendengar pengakuan Kun Hong, dia cepat mengatur siasat untuk menangkapnya.

Tentu saja Cin Cin Cu tidak akan menggunakan bantuan arak obatnya sekiranya dia tidak lebih dulu mengetahui sampai di mana kelihaian pemuda ini. Itulah sebabnya dia sengaja menguji kepandaian Kun Hong di atas cabang.

Arak yang diminum Kun Hong sebanyak tiga cawan itu bukan sembarang arak, melainkan arak pilihan yang sangat keras dan kuat. Dua cawan pertama tidak dicampuri apa-apa, akan tetapi melihat Kun Hong sudah agak pusing, cawan ke tiga dicampuri obat pemabok oleh Cin Cin Cu di luar tahu Kun Hong.

Biar pun Kun Hong memiliki kepandaian tinggi, lebih tinggi dari pada kepandaian jago tua Go-bi-pai ini, namun Kun Hong tetap seorang pemuda yang masih hijau. Ia terlalu percaya kepada Cin Cin Cu dan tidak merasa bahwa dia sedang ‘diloloh’ sampai mabok. Sekarang dia dilempar ke dalam kamar tahanan dalam keadaan terbelenggu dan mabok setengah pingsan. Sampai sehari semalam ia tidak sadar, seperti orang tidur.

Dapatlah dibayangkan betapa kaget hati pemuda ini ketika bangun kembali mendapatkan dirinya sedang terbaring di atas dipan bambu dalam keadaan terbelenggu. Dia berusaha mengerahkan tenaga melepaskan ikatannya, namun sia-sia belaka.

Tambang itu adalah tambang yang terbuat dari pada benang perak yang amat kuat. Kulit dagingnya akan lebih dulu rusak sebelum dia dapat memutuskan tambang itu. Ia maklum bahwa ia telah tertawan oleh orang pandai. Ia pun mengingat-ingat.

"Cin Cin Cu manusia curang!" mendadak dia memaki keras sesudah dia teringat kembali akan pengalamannya sebelum ia pingsan. "Lepaskan aku dan mari kita bertanding secara jantan kalau kau memang laki-laki!"

Biar pun kaki tangannya terikat, sekali menggerakkan tubuh Kun Hong sudah melompat ke arah pintu dan begitu saja dia menumbukkan tubuhnya kepada daun pintu.

"Braakkk…!”

Pecahlah daun pintu itu dihantam pundaknya. Dia jatuh bergulingan keluar dan ketika dia mengangkat muka memandang, dia melihat banyak tosu tua telah mengurungnya dengan pedang di tangan, dipimpin oleh tosu berambut putih yang masih dia kenal karena tosu ini bukan lain adalah Pek Mau Sianjin, sucouw-nya atau guru dari ayahnya.

"Sucouw!" teriaknya girang. "Tolong lepaskan ikatan kaki tangan teecu. Teecu ditipu dan ditawan oleh seorang penjahat bernama Cin Cin Cu yang tadi malam berkeliaran di sini!"

"Cin Cin Cu adalah sahabat pinto (aku) dan yang membelenggumu bukan dia, melainkan pinto sendiri!” Pek Mau Sianjin menjawab dengan suaranya yang halus dan sikapnya yang lemah-lembut, namun sungguh-sungguh dan kereng sekali.

Di samping kemarahannya, juga kakek tua ini sangat kagum menyaksikan pemuda putera Kam Ceng Swi yang dulu merupakan seorang bocah nakal tetapi sekarang telah memiliki kepandaian hebat. Bahkan dibelenggu kaki tangannya masih dapat menghancurkan pintu kamar tahanan!

Sedangkan Kun Hong, ketika mendengar kata-kata ini seketika melompat bangun saking herannya, lupa bahwa kaki tangannya masih terbelenggu sehingga walau pun dia berhasil melompat berdiri tapi dia terhuyung-huyung dan melompat-lompat seperti seekor monyet untuk menjaga keseimbangan tubuhnya agar jangan jatuh terguling. Setelah dapat berdiri tegak dia melihat tosu tua itu sudah menodongkan ujung pedang kepadanya. Pedangnya sendiri, Cheng-hoa-kiam ternyata telah dirampas.

"Apa... apa artinya ini? Mana ayah…, mengapa Kun-lun-pai memusuhiku?"

"Kam Kun Hong, tak perlu kau menyeret nama baik ayahmu. Jawablah, apakah kau benar menjadi murid Thai Khek Sian?” tanya Pek Mau Sianjin.

"Kalau betul mengapa? Berdosakah menjadi muridnya!” Kun Hong mulai penasaran dan suaranya tidak menghormat lagi. Dia mulai memandang rendah kepada sucouw-nya yang telah menangkap dirinya secara curang.

Kun-lun Lojin atau Pek Mau Sianjin ketua Kun-lun-pai itu menghela napas panjang. "Jadi kau betul murid Thai Khek Sian? Dan kau menjadi wakil gurumu itu untuk membantu para penghianat bangsa dan para bangsawan penjajah Bangsa Mongol?”

"Memang aku mewakili suhu untuk membantu penjagaan keamanan kota raja dari para pengacau. Apa salahnya pula?" jawab Kun Hong berani.

"Memang tidak salah, kalau saja kau bukan anak Kam Ceng Swi," kata ketua Kun-lun-pai itu. "Akan tetapi sebagai keturunan seorang tokoh Kun-lun-pai. perbuatanmu itu tidak saja berarti merusak nama baik ayahmu, malah kau sudah merusak nama baik Kun-lun-pai di dunia kang-ouw. Karena kau putera Kam Ceng Swi, maka kau terhitung cucu murid pinto dan karenanya kau juga seorang anak murid Kun-lun-pai. Oleh karena inilah maka pinto harus menangkapmu dan menghabiskan riwayat sepak-terjangmu yang benar-benar amat memalukan itu."

"Susiok, dia telah bercampur gaul dengan orang-orang Mokauw, juga dengan perempuan cabul seperti Tok-sim Sian-li, kedua hal itu saja telah cukup untuk menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Apa lagi ditambah dengan peristiwa-peristiwa yang timbul akibat sepak-terjangnya yang sudah seperti iblis Mokauw, suka mengganggu wanita dan sebagainya!" kata seorang tosu yang sudah gatal-gatal tangannya untuk segera menjatuhkan hukuman itu.

Ketua Kun-lun-pai menarik napas panjang. "Sungguh pinto menyesal sekali. Kau seorang berbakat baik dan sekarang telah memiliki kepandaian tinggi sekali. Akan tetapi ilmu sesat yang kau miliki hanya akan menjerumuskan engkau ke dalam lembah kehinaan, menyeret nama baik orang tua dan partai. Karena itu dengan hati berat terpaksa pinto menjatuhkan hukuman mati kepadamu, Kam Kun Hong!"

"Nanti dulu!" teriak Kun Hong marah sekali.

"Hemmm, apa kau takut mampus?!" bentak tosu murid keponakan Pek Mau Sianjin yang tadi memperingatkan susiok-nya tentang keburukan watak Kun Hong.

"Kalianlah yang takut mampus, masih tanya lagi kepadaku? Kalau kalian gagah dan tidak takut mati, hayo lepaskan aku dan boleh kalian mengeroyokku. Hendak kulihat sampai di mana sih kehebatan Kun-lun-pai. Masa nama besar Kun-lun-pai ternyata sekarang hanya terbukti dengan menawan seorang pemuda secara curang lantas membunuhnya seperti orang membunuh ayam? Cih, tidak malukah kalian?”

"Bocah ingusan bermulut besar! Berani kau menghina Kun-lun-pai?" teriak tosu tadi yang bernama Ban Heng Tosu, murid keponakan Pek Mau Sianjin.

Guru dari Ban Heng Tosu adalah seorang suheng dari ketua Kun-lun-pai itu, atau kakak seperguruannya yang suka merantau. Akhirnya suheng ini meninggal dalam perantauan, sambil meninggalkan surat untuk Pek Mau Sianjin agar suka memelihara muridnya, yaitu Ban Heng Tosu yang membawa surat peninggalannya.

Ban Heng Tosu terkenal berwatak keras. Dia membentak Kun Hong berbareng menusuk dada pemuda itu dengan pedangnya. Gerakannya cepat bukan main sampai-sampai Pek Mau Sianjin tak sempat mencegahnya. Akan tetapi secepat-cepatnya gerakan Ban Heng Tosu, Kun Hong masih lebih cepat lagi. Biar pun kedua tangan dan kakinya dibelenggu, ia berhasil miringkan tubuh.

"Breettt!" Baju Kun Hong robek di bagian dada.

"Ban Heng, jangan menjatuhkan hukuman sendiri!" bentak Pek Mau Sianjin melihat Ban Heng Tosu masih melanjutkan serangannya karena penasaran melihat tusukannya dapat dielakkan oleh orang muda yang kaki tangannya sudah dibelenggu ini.

"Bleekkk...!”

“Aauuukkkhh!"

Cepat sekali terjadinya hal aneh yang membuat semua orang tertegun ini. Ketika pedang di tangan Ban Heng Tosu sudah menyerang lagi, tiba-tiba tubuh Kun Hong melayang dan pemuda ini sudah mengirim tendangan yang dilakukan dengan dua kaki, tepat mengenai dada tosu sombong itu.

Ban Heng Tosu terlempar ke belakang lalu menggeletak tak bergerak lagi, dari mulutnya keluar darah. Sedangkan Kun Hong yang melakukan tendangan dalam kedudukan seperti itu juga tertolak ke belakang lalu jatuh seperti balok pohon dilempar.

Pek Mau Sianjin cepat menghampiri Ban Heng Tosu kemudian memeriksa keadaan murid keponakan ini. Segera dia mengeluarkan obat bubuk dan dicekokkan ke dalam mulut tosu yang sudah mau mati itu, lalu mengurut-urut dadanya beberapa lama.

"Ia terluka hebat, syukur tak akan tewas," kata ketua Kun-lun-pai akhirnya sambil bangkit berdiri memandang Kun Hong yang kini masih rebah di atas lantai dengan ujung banyak pedang ditodongkan ke tubuhnya. Sedikit saja dia bergerak tentu tubuhnya akan menjadi bulan-bulanan banyak pedang para tosu itu.

"Kau terlalu berbahaya..." kata Pek Mau Sianjin. akan tetapi dalam suaranya terkandung rasa kagum. "Kau terlalu lihai dan terlalu jahat, karena itu terpaksa pinto tak segan-segan menangkapmu mengandalkan arak Cin Cin Cu. Kam Kun Hong, orang seperti engkau ini bila dibiarkan hidup, selain akan mencemarkan nama baik orang tua dan partai, juga akan mendatangkan banyak kesengsaraan bagi rakyat." Ketua Kun-lun-pai ini menoleh kepada murid-muridnya. "Ikat dia di Kim-kio (jembatan emas)!"

Kun Hong lalu diseret dan dibawa ke jembatan emas yang dimaksudkan ketua partai itu. Jembatan emas ini adalah sebuah jembatan terbuat dari pada kayu kuning yang melintang di atas jurang yang sangat dalam sampai tidak kelihatan dasarnya. Di tengah jembatan ini terdapat tiangnya dan inilah tempat latihan ginkang juga tempat menghukum murid-murid murtad.

Selain partai Siauw-lim-pai yang sangat keras terhadap murid-murid yang menyeleweng, Kun-lun-pai adalah partai ke dua yang amat berdisiplin dan tidak kenal ampun. Pengurus-pengurus Kun-lun-pai selalu terdiri dari orang-orang yang berdisiplin dan menjunjung tinggi panji kepartaian. Nama baik partai harus dinomor satukan, jauh lebih berharga dari pada nyawa sendiri, apa lagi nyawa murid menyeleweng yang akan mencemarkan nama partai.

Biasanya, bila ada murid yang menyeleweng dan sudah dijatuhi hukuman mati, ketuanya sendiri yang melakukan hukuman itu, yakni dengan cara membunuh murid penyeleweng di atas jembatan emas (kim-kio) itu. Akan tetapi karena ketua Kun-lun-pai adalah seorang pendeta To yang mencucikan diri, cara membunuhnya juga tidak menusuk dengan begitu saja, melainkan dengan cara menyambitkan pedang pusaka dari jarak jauh ke arah dada yang terhukum!

Untuk menghukum Kun Hong, Pek Mau Sianjin telah memegang pedang pusaka Kun-lun-pai, berdiri dalam jarak seratus langkah dari tempat di mana Kun Hong sudah diikat erat-erat pada tiang jembatan.

Sebelum melaksanakan hukuman Pek Mau Sianjin mengeluarkan suara kereng sebagai keputusan hukuman.

”Kam Kun Hong. kau sebagai putera Kam Ceng Swi berarti anak murid Kun-lun-pai, akan tetapi kau telah mencemarkan nama baik Kun-lun-pai dengan menjadi rnurid orang-orang Mokauw dan terutama sekali oleh perbuatanmu yang membantu penjajah asing Bangsa Mongol. Oleh karena itu, demi nama baik Kun-lun-pai yang kami junjung tinggi melebihi segala apa, kami mengambil keputusan untuk menghukum mati kepadamu agar bahaya kecemaran nama partai lebih lanjut dapat dilenyapkan. Kam Kun Hong, atas nama Kun-lun-pai pinto (aku) hendak melakukan hukuman atas dirimu, bersiaplah!" Selesai berkata Pek Mau Sianjin telah mengangkat tangan yang memegang pedang.

Kun Hong yang sejak tadi mencoba untuk mengerahkan tenaga dan melepaskan diri dari ikatan ternyata sia-sia belaka karena ikatan itu kuat sekali, kini sudah tidak melihat jalan keluar. Dia tenang-tenang saja memandang ketua Kun-lun-pai dengan tajam, sama sekali tak gentar menghadapi maut yang bersembunyi di balik ujung pedang pusaka yang setiap saat akan menembusi jantungnya!

Para tosu Kun-lun-pai diam-diam memuji. Jarang sekali ada anak murid Kun-lun-pai yang dihukum mati karena belum tentu tiga tahun sekali terjadi penyelewengan, tapi anak murid lain yang menghadapi maut tentu akan menjadi pucat atau setidaknya meramkan mata. Pemuda ini sama sekali tidak demikian! Dia menghadapi kematian dengan mata mendelik dan bibir tersenyum mengejek!

"Murid iblis tentu saja sudah bukan manusia lagi...," kata seorang tosu.

"Dia sangat hebat, sayang menyeleweng...,” kata seorang tosu tua sambil menarik napas panjang.

"Kasihan sekali Seng-gwat-pian Kam Ceng Swi...," kata lagi tosu ke tiga.

Ketika Pek Mau Sianjin melangkah mundur tiga tindak, semua tosu berdiam dan semua mata ditujukan ke arah Kun Hong. Semua orang tahu bahwa kakek ketua Kun-lun-pai itu hendak melakukan gerakan Sin-liong-hian-bwe (Naga Sakti Mengulur Ekornya), yaitu ilmu pedang yang dilakukan dengan jalan menimpukkan pedang sambil memutar tubuh.

Gerakan ini hanya sanggup dilakukan oleh jago-jago kelas utama dari Kun-lun-pai karena pedang jauh sekali bedanya dengan senjata timpuk semacam piauw dan lain-lain. Dengan penggunaan ilmu lweekang tinggi serta latihan bertahun-tahun, pedang yang ditimpukkan ini akan meluncur seperti anak panah dan akan mengenai sasarannya dengan ketepatan seratus kali timpuk seratus kali kena!

Akan tetapi pada saat itu, terdengar bunyi keras.

"Tar...! Tarr…! Tarrr…!" diikuti seruan. "Suhu, tunggu dulu. Jangan bunuh dia...!"

Bayangan orang berkelebat dan Seng-goat-pian Kam Ceng Swi sudah berlutut di depan Pek Mau Sianjin! Semua tosu kaget dan khawatir sekali melihat sikap Kam Ceng Swi ini. Sikap ini dapat diartikan merintangi ketua yang hendak menjalankan tugas menghukum, dan ini boleh dianggap membela yang menyeleweng dan ikut berdosa pula!

Kam Ceng Swi adalah tokoh Kun-lun-pai yang amat disegani dan disayang oleh para tosu karena dia adalah bekas seorang pembesar Cin yang setia dan berbudi. Selain ini sepak-terjang Kam Ceng Swi sebagai seorang pendekar besar juga telah banyak mendatangkan pujian bagi Kun-lun-pai. Maka semua tosu sangat khawatir melihat sikapnya, takut kalau-kalau pendekar ini akan mendapat kesalahan dari ketua.

Pek Mau Sianjin mengerutkan alisnya. Kam Ceng Swi adalah murid tersayang baginya, murid yang kepandaiannya hampir mengimbangi kepandaiannya sendiri oleh karena Kam Ceng Swi berkenan menggerakkan hati Liong Tosu, susiok-nya yang mengasingkan diri di belakang gunung. Kalau bukan Kam Ceng Swi yang merintangi pelaksanaan hukuman ini tentu dia sudah menjadi marah sekali. Namun betapa pun besar rasa sayangnya kepada Kam Ceng Swi, rintangan ini benar-benar membuat hatinya tersinggung.

"Kam Ceng Swi, mau apa kau menghalangi pinto menurunkan hukuman terhadap orang yang berdosa?" tegurnya.

"Suhu, harap ampunkan teecu. Apakah dosa Kun Hong maka hendak dijatuhi hukuman mati? Sebagai ayahnya kiranya teecu berhak mengetahui sebab-sebabnya."

“Hemmm kau memang tidak tahu ataukah pura-pura tidak tahu? Dia telah menjadi murid orang-orang Mokauw, telah membantu Bangsa Mongol dan kau masih bertanya lagi akan dosa-dosanya?"

"Maaf, suhu. Menurut teecu tidak seharusnya dia dihukum secara anak murid Kun-lun-pai sebab dia bukanlah murid Kun-lun-pai!" bantah Kam Ceng Swi. "Belum pernah dia diambil sumpahnya sebagai anak murid Kun-lun-pai, lalu bagaimana dia sekarang bisa dikenakan hukuman secara murid Kun-lun-pai?"

Pek Mau Sianjin melengak. Betul juga ucapan ini!

"Akan tetapi, Ceng Swi, kau harus ingat, dia adalah puteramu. Kalau dia mencemarkan namamu berarti mencemarkan nama Kun-lun-pai juga!"

”Tidak bisa, suhu. karena... karena dia itu... bukan anak teecu!”

Kagetlah semua orang, termasuk Kam Kun Hong sendiri.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner