CHENG HOA KIAM : JILID-28


"Kau sudi mendengarkan nona? Biarlah kuceritakan kepadamu. Hanya padamu seorang aku mau bercerita. Aku sudah naik ke Kun-lun-san dengan maksud mencari ayahku, Kam Ceng Swi untuk minta dia... dia... ahh, tak perlu kuceritakan apa keperluanku mencarinya. Akan tetapi, setelah tiba di puncak Kun-lun-san secara curang sekali aku dikeroyok oleh orang-orang Kun-lun-pai dan ditawan secara licik, lalu aku dipukul sehingga terluka hebat dan membuat aku hanya akan hidup dua tahun lagi kecuali kalau aku bisa mendapatkan obat tertentu yang sangat sukar dicari, melebihi sukarnya masuk sorga! Ini semua masih belum seberapa..." Kun Hong menarik napas panjang dan nampak sedih sekali, mukanya menjadi pucat dan jelas kelihatan ia menahan air matanya, "yang hebat... aku mendengar kenyataan pahit bahwa Kam Ceng Swi yang semula kuanggap ayahku itu ternyata bukan ayahku... dan... dan aku tidak diketahui anak siapa, tidak tahu siapa ayahku, ibuku sudah meninggal dan... dan...”

Kun Hong tidak mampu melanjutkan ceritanya. Entah kenapa di depan gadis ini dia dapat mencurahkan isi hatinya serta seluruh perasaannya sehingga dia menjadi berduka bukan main, padahal tadinya ia tak begitu peduli akan nasib dirinya. Di depan Eng Lan ia merasa dirinya begitu penting dan menghadapi kenyataan tentang dirinya yang tidak berayah ibu ia menjadi terharu bukan main.

Dia menyembunyikan muka di antara kedua lututnya dan diam-diam menghapus dua titik air mata yang tanpa tertahankan lagi keluar dari kedua matanya. Baru sekali ini Kun Hong menitikkan air mata, air mata yang benar-benar keluar dari lubuk hatinya karena merasa betapa percakapan dengan Eng Lan ini demikian sungguh-sungguh menembus ke dalam sanubari.

Sebuah tangan yang halus menyentuh pundaknya, demikian mesra sentuhan itu sampai Kun Hong merasa betapa tubuhnya menggigil. Sudah banyak ia mendekati wanita, sudah banyak wanita mencintanya, akan tetapi belum pernah sentuhan jari tangan wanita dapat membuat dia menggigil seluruh tubuhnya. Ketika perlahan dia mengangkat mukanya dan menengadah, ia melihat Eng Lan menunduk dan memandang kepadanya dengan air mata bercucuran!

"Kun Hong..." suaranya lirih halus, menggetar penuh perasaan terharu, "jangan berduka, bukan hanya kau anak yatim piatu, aku pun tiada ayah bunda."


Memang Eng Lan tidak dapat menahan perasaannya lagi. Sejak bertemu dengan pemuda itu di lubuk hatinya sudah dipenuhi rasa kagum. Hanya karena pemuda itu dianggap fihak musuh maka ia mengeraskan hati dan rasa kagumnya menjadi kebencian maka membuat ia menyerang pemuda itu di Kelenteng Siauw-lim dahulu.

Walau pun pada umumnya Kun Hong memperlihatkan sikap jahat dan nakal, akan tetapi terhadap dia pemuda ini memperlihatkan kebaikan budi. Bahkan tanpa tedeng aling-aling lagi pemuda itu menyatakan cinta kasihnya. Di luar kesadarannya sendiri, bahkan di luar kehendaknya yang diperkuat wataknya sebagai seorang pendekar yang patriotik, secara diam-diam gadis ini ternyata telah jatuh cinta kepada Kun Hong.

Tadinya ia masih dapat mengeraskan hati, masih bisa membantah hasrat hatinya sendiri, akan tetapi ketika melihat pemuda itu berduka, mendengar kata-kata yang mengharukan dan mendengar kenyataan bahwa pemuda ini pun seorang yatim piatu seperti halnya dia, patahlah semua pertahanan di hati Eng Lan dan tanpa daya lagi gadis itu memperlihatkan kelunakan dan kelemahannya.

"Eng Lan..." Dengan hati tak karuan rasa, bahagia duka terharu bercampur aduk menjadi satu, Kun Hong lalu memeluk kedua kaki gadis itu.

Eng Lan berdongak ke atas dengan kedua mata dimeramkan. Air matanya menetes turun di kedua pipinya, tangan kirinya menekan dada, sedangkan tangan kanannya membelai rambut pemuda itu. Kemudian gadis itu limbung dan dia tentu roboh terguling kalau tidak cepat-cepat Kun Hong memeluknya.

Eng Lan merasa dirinya aman sentosa di dalam pelukan Kun Hong, menemukan kembali kasih sayang ayah bunda dan kasih sayang sanak saudara yang selama ini tidak pernah dirasainya, semua itu bercampur dengan kasih sayang seorang pemuda yang dicintanya di luar kehendaknya! Dalam keadaan hampir pingsan karena bergeloranya perasaan, Eng Lan menyembunyikan mukanya di dada Kun Hong.

Di lain fihak Kun Hong mendapatkan sesuatu yang sangat mengherankan hatinya sendiri. Pada waktu itu dia merasa bangga dan bahagia sekali, akan tetapi anehnya, tidak seperti biasanya dengan wanita lain, terhadap Eng Lan hatinya bersih dari pada segala kekotoran nafsu. Kasih sayangnya terhadap Eng Lan mendalam dan sedikit pun tidak pernah timbul dalam pikirannya untuk menguasai gadis ini berdasarkan nafsu.

Ia mencinta Eng Lan dan mengharapkan cinta imbalan. Maka dia berlaku hati-hati sekali, hanya tangannya mengelus-elus rambut yang hitam halus dan harum itu. Akhirnya dapat juga Kun Hong menekan perasaan yang bergelombang, yang tadi membuat ia mendadak menjadi gagu. Ia berbisik di dekat telinga Eng Lan.

"Eng Lan, dewi pujaanku... terima kasih... terima kasih bahwa di dunia ini, di mana semua orang baik-baik memusuhiku. membenciku, masih ada kau seorang dewi yang sudi untuk mempedulikan orang seperti aku... terima kasih Eng Lan dan aku bersumpah, aku takkan mencinta orang lain kecuali engkau. Kelak... bila mana Thian mengijinkan aku hidup lebih lama, bila mana aku bisa mendapatkan obat untuk menyambung nyawa... kelak aku akan mencari gurumu, akan mengajukan pinangan secara hormat untukmu..."

"Kun Hong..." Eng Lan membalas bisikan dengan lirih, hampir tak kedengaran, "kau tidak jahat... kau orang baik... ooohhh, betapa ingin aku meneriakkan di telinga mereka bahwa kau bukan orang jahat. Tidak, kau tidak jahat!"

Kun Hong tersenyum pahit. "Aku memang jahat, Eng Lan. Kau tidak bisa membayangkan betapa jahatnya aku! Pikiranku kotor, hatiku selalu ingin melihat orang menderita. Setiap kali melihat wanita cantik aku tergila-gila... ah, betapa jahatnya aku. Akan tetapi sekarang, demi engkau... aku akan membuang semua itu jauh-jauh...!"

Tiba-tiba Eng Lan seakan-akan orang baru sadar dari tidur dan mimpi. Ia tersentak kaget, melihat dirinya berpelukan dengan Kun Hong ia merenggut tubuhnya, mengeluarkan jerit lirih, melompat berdiri sambil menyambar pedangnya kemudian menyabetkan pedang itu ke lehernya!

"Eng Lan...!"

Secepat kilat Kun Hong bergerak menyambar tangan gadis itu dan merampas pedang lalu membuang pedang itu jauh-jauh. Eng Lan mengeluarkan isak tertahan, cepat berlari pergi sambil menangis tersedu-sedu.

"Aku... aku gadis hina-dina... aku lebih baik mati...!" keluhnya di antara tangis sambil lari terhuyung-huyung, dengan sapu tangan menutupi mukanya yang banjir air mata.

"Eng Lan... tunggu aku...! Kau hendak ke mana...? Ah. Eng Lan kekasihku, kau kenapa?" teriak Kun Hong sambil lari mengejar.

Karena ilmu lari cepat Kun Hong memang jauh lebih cepat, maka sebentar saja dia dapat menyusul dan dia memegang lengan gadis itu. Eng Lan meronta-ronta sambil berteriak-teriak.

"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku... Kun Hong, kau bunuhlah aku, jangan seret aku ke jurang kehinaan. Ahh suhu, ampunkan teecu yang telah menjadi seorang berbatin hina..." Gadis itu menangis makin sedih ketika tidak berdaya melepaskan diri dari pegangan Kun Hong.

Kun Hong kembali menjatuhkan diri berlutut di depan Eng Lan.

"Eng Lan, akulah orangnya yang siap sedia kau kutuk, kau maki atau kau bunuh sekali pun kalau aku yang membikin kau bersedih. Eng Lan, apakah karena aku hanya tinggal hidup dua tahun lagi maka kau tiba-tiba mengubah sikapmu? Apakah karena aku seorang penjahat yang sudah mengakui kejahatannya maka kau menjadi benci dan jijik padaku?"

"Tidak... tidak... Kun Hong, kau tidak tahu saja. Tadinya aku datang untuk membalaskan penghinaan yang kau jatuhkan atas diri enci Siok Lan dan keluarganya. Akan tetapi... apa yang kulakukan di sini... ahh, benar-benar tak patut aku..."

Kun Hong bangkit berdiri dan tersenyum, menggunakan tangan mengangkat muka gadis itu dengan memegang dagunya.

"Anak manis! Anak nakal! Begitu saja kau hendak memenggal lehermu yang indah itu? Hai, nanti dulu, manis! Aku mencintamu dengan seluruh jiwaku, hal ini kau sudah yakin, bukan? Dan kau pun mencintaku, aku percaya penuh akan hal ini. Apa salahnya semua ini? Bukankah cinta kasih kita suci dan bersih? Mengapa harus malu? Kecuali kalau kau merasa bahwa kau jauh lebih tinggi, lebih bersih dan lebih mulia dari pada aku, tidak ada yang harus dibuat malu!"

Eng Lan menghapus matanya dengan sapu tangan, lalu menatap wajah yang tampan dan nampak sungguh-sungguh itu. Dia melihat sinar terang pada wajah itu dan kembali cinta kasihnya bangkit. Dia tersenyum dan mengangguk!

"Naaahh, begitu baru anak manis yang kusayang. Eng Lan, sekali lagi aku menyatakan kepadamu, demi kehormatanku sebagai laki-laki, aku sama sekali tidak memiliki niat atau sengaja hendak menghina keluarga Kwa. Hanya kebetulan saja aku mendengar tentang Kwa Cun Ek, malah aku sama sekali tidak tahu apakah Kwa Cun Ek itu mempunyai anak gadis ketika aku membohong dan mempermainkan Kwee Sun Tek." Lalu dengan singkat ia menceritakan pertemuannya dengan Kwee Sun Tek ketika ia mencuri pedang Cheng-hoa-kiam.

Setelah mendengar penuturan Kun Hong, Eng Lan pura-pura marah, cemberut, kemudian menegur. "Kau memang nakal. Untuk apa kau mencuri pedang orang?”

Wajah Kun Hong menjadi merah. Heran, pikirnya dalam hati, ditegur begini saja hatinya berdebar seperti anak kecil mencuri kueh ditegur ibunya!

"Aku hanya... ingin mempunyai pedang pusaka ampuh dan di samping itu, sejak kecil aku memang sudah ada keinginan menguji kepandaian Wi Liong. Selain itu," ia menyambung cepat-cepat, "pedang Cheng-hoa-kiam ini memang dahulunya bukan milik supek Thian Te Cu, melainkan milik susiok Gan Yan Ki. Entah bagaimana bisa berada di Wuyi-san. Oleh karena memang nenek moyang guru-guru kami selalu bermusuhan dan bersaing, maka aku sengaja hendak memperlihatkan bahwa perguruan kami tidak kalah oleh mereka. Dan sebagai bukti, Cheng-hoa-kiam sekarang berada di tanganku."

Eng Lan menggeleng-geleng kepalanya. "Aku tidak tahu dan tidak peduli akan itu semua, pokoknya aku percaya bahwa kau tidak jahat, Kun Hong."

"Terima kasih, kau bagaikan dewi kahyangan yang turun ke bumi untuk mengangkat aku dari lembah kesengsaraan," seru Kun Hong girang sambil memegang lengan gadis itu.

"Nanti dulu, aku tak akan berjanji apa-apa kepadamu sebelum kau penuhi permintaanku," kata Eng Lan sungguh-sungguh.

Kun Hong melebarkan mata dan mengangkat alis. "Permintaan apa...?"

"Jawablah dengan sejujurnya, apakah kau betul-betul tidak mencinta enci Siok Lan?"

Kun Hong benar-benar terkejut dan heran mendengar pertanyaan ini, juga ia merasa amat penasaran mengapa gadis ini masih saja menyangsikan hatinya.

"Kalau mencinta bagaimana dan kalau tidak bagaimana?" tanyanya sambil tersenyum menggoda.

"Kalau kau mencintanya, sekarang juga kau bersama aku harus pergi ke Poan-kun untuk minta maaf dan sekalian mengajukan pinangan secara sah. Kalau kau tidak mencintanya, sekarang juga kau bersama aku harus pergi ke Wuyi-san untuk mengakui kesalahanmu di depan Thio Wi Liong, kemudian membujuk atau memaksa pemuda itu agar menyambung ikatan jodohnya dengan enci Siok Lan yang sudah diputuskan oleh pamannya."

Sampai lama sekali Kun Hong menatap wajah kekasihnya itu dengan mata mengandung keheranan dan kekaguman besar.

"Eng Lan... Eng Lan... demikian anehkah watak semua gadis secantik engkau? Yang kau bicarakan itu adalah urusan Siok Lan dan Wi Liong, mengapa kau mau bersusah payah dalam uruan ini dan mengajak aku serta pula? Suhu sering berkata bahwa tidak perlu kita mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kita, yang tidak menguntungkan kita!"

Eng Lan membanting-banting kakinya dengan hati gemas, "Itulah celakanya! Kau sudah diracuni oleh ajaran-ajaran busuk! Selalu berpikir untuk keuntungan diri sendiri. Kun Hong, engkau tidak tahu bahwa di luar dunia golonganmu, kita manusia tidak selalu memikirkan kepentingan sendiri, bahkan selalu mencari kesempatan untuk memikirkan dan menolong orang lain. Mengenai enci Siok Lan dan perjodohannya, tidak dapat dipungkiri lagi kaulah biang keladinya sampai perjodohan itu diputuskan. Oleh karena itu engkau pula orangnya yang harus menyambungnya kembali."

Ucapan ini terdengar baru bagi telinga Kun Hong. Selama ia berkumpul dengan Thai Khek Sian, para selirnya, Tok-sim Sian-li, Bu-ceng Tok-ong, serta lain-lain tokoh dari golongan mereka, selalu orang mengutamakan kepentingan sendiri. Ia mengangguk-angguk dengan kening berkerut lalu bertanya lagi,

"Kalau aku yang menjadi biang keladinya, lalu mengapa kau juga bersusah-payah, malah tadi kau siap mempertaruhkan nyawa membela Siok Lan?"

Eng Lan menggigit bibir dengan hati gemas. "Anak bodoh! Kalau bukan kau yang menjadi biang keladinya, aku tak akan susah-payah seperti ini. Hayo jawab, kau pilih yang mana, mengawini Siok Lan atau menyambung kembali ikatan jodoh antara dia dan Wi Liong?”

Kun Hong benar-benar tidak mengerti. Akan tetapi mendengar desakan pertanyaan tadi, terpaksa dia menjawab. "Tentu saja aku tidak akan mengawini Siok Lan karena aku tidak mencintanya."

”Kalau begitu kita harus ke Wuyi-san sekarang juga," kata Eng Lan.

Di dalam hatinya. Kun Hong merasa gentar untuk pergi ke Wuyi-san. Ia tidak takut kalau harus berhadapan dengan Kwee Sun Tek orang tua buta itu, juga menghadapi Wi Liong sekali pun dia tidak takut. Akan tetapi yang membuat hatinya gentar adalah Thian Te Cu, kakek yang sebetulnya masih terhitung supek-nya (uwa guru) sendiri.

Andai kata supek-nya turun tangan, dia dapat berdaya apakah? Betapa pun juga, melihat sepasang mata bintang gadis itu menatap wajahnya penuh selidik, Kun Hong mengertak gigi dan berkata gagah,

"Baik, kupenuhi permintaanmu. Mari kita mencari Wi Liong dan kalau perlu akan kupaksa dia pergi ke Poan-kun untuk menyambung tali perjodohannya dengan Kwa Siok Lan."

Eng Lan tersenyum girang dan dengan mesra memegang tangannya. "Kalau begitu mari kita lekas berangkat!" Dia telah menarik tangan Kun Hong dan pemuda ini sambil tertawa terpaksa mengikuti gadis itu berlari cepat.

“Eng Lan, nanti dulu! Kau mengajakku ke Wuyi-san, tapi kenapa lari ke sana? Kita harus menyeberang sungai ini!"

Eng Lan berhenti, sejenak tercengang lalu tertawa. Sambil bergandengan tangan mereka pun masuk ke dalam perahu yang telah ditinggal pergi oleh pemiliknya tadi, lalu Kun Hong mendayung perahu itu ke seberang. Diam-diam dia tersenyum geli melihat kini gadis itu sama sekali tidak peduli lagi bahwa mereka sudah memakai perahu orang lain.

Anehnya bagi Kun Hong, setelah tiba di seberang, dia terdorong oleh semacam perasaan yang membuat dia turun tangan mengikat perahu itu pada sebatang akar pohon supaya perahu itu jangan hilang dan hanyut. Heran sekali, baru sekali ini dia melakukan sesuatu demi kepentingan lain orang, dalam hal ini demi kepentingan si tukang perahu agar jangan sampai kehilangan perahunya. Dan dia tahu dengan penuh keyakinan bahwa perasaan ini timbul karena Eng Lan!

Eng Lan tampak gembira sekali. Memang dia gembira karena akhirnya dia toh akan dapat berjasa dalam membela Siok Lan. Kalau saja ia berhasil memperbaiki kembali perjodohan Siok Lan dan tunangannya!

Dengan Kun Hong di sampingnya ia merasa besar hati dan pasti usahanya akan berhasil. Melihat wajah pemuda ini saja sudah mendatangkan keyakinan baginya bahwa bersama Kun Hong, dia akan sanggup melakukan hal-hal besar.

"Eng Lan, aku masih tidak mengerti, mengapa justru karena aku biang keladinya, maka kau mau bersusah-payah?" di tengah perjalanan Kun Hong bertanya.

Eng Lan memandang kepadanya dengan senyum simpul. "Kelak kau akan tahu sebabnya tetapi sekarang tak usah kau sebut-sebut hal itu."

Kun Hong melengak. Alangkah besarnya cinta kasih di dalam hatinya terhadap gadis ini. Dengan Eng Lan di sampingnya, hidup ini seakan-akan baru baginya. Dia merasa tenang, tenteram, penuh kebahagiaan.

Di lain fihak, Eng Lan yang sudah menyerahkan kasihnya kepada Kun Hong, diam-diam mempergunakan perjalanan jauh ini sebagai ujian terhadap kekasihnya. Di lubuk hatinya ia sudah percaya bahwa kekasihnya ini pada hakekatnya adalah seorang yang baik, akan tetapi kalau belum terbukti, kelak hanya akan menjadi gangguan batin baginya. Maka dia sengaja tidak menjauhkan diri dan hendak menyaksikan bagaimana watak asli dari Kun Hong.

Akibatnya hebat bagi Kun Hong. Sering kali pada waktu malam, apa bila terpaksa mereka bermalam di dalam hutan karena jauh dari kampung, melihat Eng Lan tidur pulas di bawah pohon dan penuh kepercayaan kepadanya, pemuda ini duduk menjauh, bersandar pohon dan semalam suntuk tak dapat memejamkan matanya. Pelbagai rangsangan hawa nafsu yang digerakkan oleh setan dan tak pernah menjauhi manusia, membuat ia panas dingin. Tetapi setiap kali dia menatap wajah gadis itu, hatinya melembut dan semua rangsangan itu dapat dia tekan.

Tidak, pikirnya, Eng Lan bukan seperti wanita lain. Dia mencinta gadis ini dengan murni, penuh kelembutan dan kehormatan. Dia hanya membuka jubahnya lalu diselimutkan pada tubuh gadis itu. Seekor nyamuk kecil saja yang berani mengganggu Eng Lan, tentu akan mampus oleh sambaran tangannya.

Demikianlah, berpekan-pekan hubungan mereka makin erat dan makin yakinlah hati Eng Lan bahwa pilihan hatinya tidak keliru. Kun Hong benar-benar seorang laki-laki yang boleh dipercaya. Belum pernah dia diganggu di sepanjang perjalanan. Hanya beberapa kali saja, apa bila mereka sedang duduk berhadapan menghadapi api unggun di dalam hutan untuk mengusir dingin, pemuda itu berkata,

"Eng Lan, sesudah selesai tugasku menemui Wi Liong, kau harus kembali kepada suhu-mu. Aku akan mencari obat dan... dan hanya kalau kelak aku telah terhindar dari bahaya maut yang mengeram di dalam tubuhku barulah aku akan mencarimu, akan meminangmu dari tangan suhu-mu. Sementara itu kita... kita tak boleh berkumpul seperti ini..."

"Kenapa, Kun Hong...?”

"Tidak baik. Eng Lan. Dan... dan merupakan siksaan bagiku... semua itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan besarnya kekhawatiranku kalau-kalau aku... tak dapat menahan gelora hatiku... aku khawatir sekali..."

Eng Lan tersenyum apa bila mendengar keluhan ini, senyum bangga dan girang. Ia tahu akan perjuangan batin kekasihnya, tahu bahwa pemuda ini sedang memerangi pengaruh kehidupan lama yang kotor di dalam batinnya. Dan dia senang sekali melihat Kun Hong berada di fihak yang menang.

Dia mencinta pemuda ini, mencinta dengan sepenuh jiwanya. Kepada Kun Hong seorang dia menggantungkan harapannya. Baik Kun Hong menjadi sadar mau pun tetap jahat, dia tetap mencintanya. Oleh karena itu gadis ini tidak gentar menghadapi bahaya, meski pun dia tahu betul bahwa melakukan perjalanan bersama seorang pemuda seperti Kun Hong, merupakan bahaya besar bagi seorang gadis.

Sungguh pun ia berkepandaian, namun apa dayanya terhadap Kun Hong? Kalau pemuda itu runtuh pertahanan batinnya, maka dia akan menjadi korban Dan andai kata terjadi hal demikian, ia akan mengundurkan diri dari Kun Hong, akan mengundurkan diri dari dunia karena idam-idaman dan cita-citanya berarti sudah hancur. Akan tetapi sebaliknya kalau pemuda itu lulus dalam ‘ujian’ ini, dia benar-benar akan menemui kebahagiaan sejati.

Demikianlah, sesudah melakukan perjalanan cukup lama akhirnya dua orang muda-mudl ini tiba di Wuyi-san. Karena Kun Hong sudah pernah mendatangi tempat itu, maka mudah saja ia mencari jalan mendaki bukit itu. Hari telah mulai gelap ketika mereka akhirnya tiba di puncak, di mana tempat tinggal Thian Te Cu sudah kelihatan. Rumah besar terbuat dari batu bertumpuk yang nampak kokoh kuat itu membuat jantung Kun Hong berdebar lebih keras dari biasanya.

“Kita berhenti di sini dulu," katanya sambil berhenti lalu duduk di atas sebuah batu.

"Mengapa berhenti? Bukankah lebih baik kita langsung menemui Thio Wi Liong?" tanya Eng Lan.

"Tidak. Aku tak mau menimbulkan keributan. Kalau si tua buta mendengar kedatanganku, pasti dia akan marah-marah dan membikin ribut. Lebih baik kita menunggu dan sedapat mungkin aku hendak menjumpai Wi Liong sendiri saja."

Ucapan ini memang sesungguhnya, hanya harus ditambah sedikit bahwa selain alasan di atas, sebenarnya Kun Hong juga jeri sekali kalau sampai kedatangannya diketahui oleh Thian Te Cu dan membuat marah orang tua itu. Melihat gadis itu memandang heran dan ragu-ragu, dia lalu melanjutkan.

"Eng Lan, kau pun tahu malam ini terang bulan purnama. Kiranya tak akan sukar mencari Wi Liong. Dengan pemuda itu mungkin kita bisa bicara secara baik-baik, akan tetapi tidak demikian dengan pamannya yang keras hati."

Karena Eng Lan sendiri belum pernah bertemu dengan Kwee Sun Tek, dan ia pun merasa jeri melihat bangunan yang megah dan kokoh itu, dia menurut saja akan kehendak Kun Hong. Menantilah dua orang muda-mudi ini agak jauh dari bangunan tempat tinggal Thian Te Cu itu, duduk di atas batu-batu hitam.

Tiba-tiba Eng Lan memandang wajah Kun Hong ketika dia mendengar suara yang keluar dari perut yang lapar. Ia teringat bahwa sehari itu Kun Hong belum makan sesuatu. Sudah dua hari dua malam tidak pernah bertemu dengan dusun sehingga mereka hanya makan buah-buahan di hutan. Celakanya, sehari tadi mereka hanya mendapatkan sedikit buah-buah yang masak dan Kun Hong menyuruhnya menyantap semua sedangkan pemuda itu sendiri hanya minum air gunung dengan alasan dia belum lapar.

Kun Hong juga merasa betapa perutnya yang perih kelaparan sudah mengeluarkan suara perlahan. Seketika wajahnya memerah dan dia tersenyum sambil berkata kepada Eng Lan yang memandangnya dengan kasihan.

"Perut tak tahu diri, sering dimanja menjadi tidak tahu malu! Padahal dahulu sudah sering kali aku mengalami tidak makan sampai berhari-hari."

Eng Lan menarik napas panjang. Alangkah sengsaranya kehidupan pemuda ini, hidupnya sunyi dan kosong.

"Kau tentu lapar sekali, Kun Hong."

"Ah, tidak apa. Sudah jamak sekali-kali mengurangi makan. Seorang gagah menganggap makan soal ke dua. Kalau kita sudah berumah tangga, tentu takkan terjadi hal seperti ini, kelaparan di atas gunung," kelakarnya sambil tertawa.

Berdebar jantung Eng Lan mendengar ucapan ini.

"Pulang ke rumah..." katanya perlahan tanpa memandang Kun Hong, sebaliknya menatap wajah bulan purnama yang mulai timbul dari timur.

Kata-kata ini sangat besar pengaruhnya, sangat sedap didengar dan indah sekali artinya. Pulang ke rumah, rumah dia dan Kun Hong, suaminya. Rumah yang penuh kebahagiaan, di mana mereka hidup aman tenteram, kasih-mengasihi, dilengkapi pula oleh suara tawa anak-anak! Selamanya belum pernah dia merasakan kebahagiaan rumah tangga, seperti juga Kun Hong!

Bukan main indahnya pemandangan di puncak itu ketika bulan purnama bersinar-sinar di angkasa raya yang bersih dan cerah. Semua nampak bermandi cahaya keemasan, redup hening, sejuk bersih. Jika memandang ke bawah tampaklah puncak-puncak pohon hitam kekuningan, kadang-kadang bergerak tertiup angin, berombak-ombak membuat dua orang muda itu merasa duduk di atas sebuah perahu besar yang terapung di samudera luas. Kalau menengok ke puncak bukit, kelihatan bangunan dengan genteng-gentengnya yang hitam merah bermandikan cahaya kuning, mengkilat seperti habis dicuci.

"Eng Lan, aku telah menceritakan kepadamu tentang riwayatku semenjak kecil. Sekarang sambil menanti bulan naik tinggi, kau ceritalah tentang dirimu. Selama ini yang kuketahui tentang kau hanya bahwa kau seorang gadis bernama Pui Eng Lan murid Pak-thian Koai-jin."

Eng Lan menjawab lirih. "Apa sih yang menarik tertang riwayatku? Semenjak kecil selalu mengalami kesengsaraan belaka."

"Dewiku, kesengsaraan hidup pada waktu kecil tak patut disesalkan, malah mereka yang belum pernah merasai kesengsaraan hidup harus dikasihani karena jiwa mereka menjadi lemah. Kesengsaraan hidup di waktu kecil merupakan gemblengan hidup, membuat orang menjadi tabah dan memiliki pengalaman. Bukankah pengalaman-pengalaman yang pahit dan berbahaya itu justru dapat menjadi kenangan yang tidak mudah dilupakan dan nikmat dibicarakan?”

Eng Lan menatap wajah kekasihnya di bawah sinar bulan purnama dengan pandang mata berseri akan tetapi dia juga terharu. Benar sekali dugaannya, kekasihnya ini bukan pada dasarnya jahat, melainkan sudah terkena noda hitam karena dahulunya selalu berdekatan dengan pergaulan kotor.

"Riwayatku singkat dan sama sekali tidak menarik." Ia mulai menuturkan keadaan dirinya. "Entah masih ada berapa banyak gadis yang mempunyai riwayat seperti aku, yang hingga kini masih terus-menerus berulang, riwayat anak-anak malang para petani dusun."

Kun Hong mendengarkan dengan penuh perhatian, sepasang matanya yang tajam luar biasa itu menatap wajah Eng Lan penuh perasaan cinta kasih dan iba hati.

"Ayah bundaku adalah petani-petani dusun yang miskin. Sampai sekarang pun aku masih bertanya-tanya di dalam hati mengapa para petani yang mengerjakan sawah ladang, yang memeras keringat bercocok tanam kadang kala malah tidak dapat makan, bahkan banyak yang mati kelaparan. Tak mengerti aku mengapa di kota-kotalah tempat beras dan sayur berlimpah-limpah sedangkan di dusun, di tempat tumbuh dan dikerjakannya semua bahan pangan itu orang-orang sampai kekurangan dan kelaparan. Tentu saja pada akhirnya aku mengerti bahwa inilah gara-gara para tuan tanah, gara-gara para penghisap darah rakyat yang memperlakukan para petani lebih buruk dari pada kerbau atau anjing. Begitu payah kehidupan para petani, tidak saja banyak di antara mereka yang mati kelaparan, bahkan banyak yang terpaksa menjual anak-anak mereka, yang wanita untuk dijadikan permainan para tuan tanah dan pembesar setempat, sedangkan yang laki-laki untuk dijadikan budak, dijadikan kerbau berkaki dua!"

Kun Hong memandang heran. Baru sekali ini dia mendengar hal-hal seperti itu dan sukar baginya untuk mempercayai. Semenjak dulu dia tidak pernah dihadapkan dengan hal-hal seperti itu. Dunianya yang dahulu hanyalah mempergunakan kepandaian untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan sandang-pangan mau pun kebutuhan lain, tanpa peduli bagaimana caranya mendapatkan itu. Baik dengan merampok mau pun mencuri, asalkan terpenuhi hasrat hati dan kebutuhan.

"Oleh karena keadaan hidup yang tercekik itu, bagi kaum tani menikah berarti menambah beban hidup yang luar biasa, permulaan dari semua kesengsaraan karena sudah hampir lajim menjadi kenyataan bahwa memiliki anak berarti sebuah mala petaka besar. Banyak sekali kandungan digugurkan, malah tidak jarang orang terpaksa mencekik mati bayi yang baru lahir, apa lagi kalau bayinya perempuan..."

"Setan...!" Kun Hong memaki kaget. "Bagaimana manusia bisa sekeji itu? Banyak sudah aku melihat perbuatan kejam, akan tetapi belum pernah yang sekeji itu!"

"Siapa itu yang kau katakan kejam dan keji?'

"Siapa lagi kalau bukan setan-setan yang mencekik mati bayi sendiri yang baru terlahir?”

"Kau keliru. Mereka itu lebih patut dikasihani dari pada dimaki meski pun aku sendiri tidak dapat menyetujui perbuatan itu," kata Eng Lan sambil menarik napas panjang.

"Lebih patut dikasihani?" Kun Hong tiba-tiba tertawa bergelak. "Eng Lan, kadang-kadang kau membuat aku bingung. Dengan kau di dekatku, aku mulai belajar membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, tetapi pernyataanmu bahwa orang-orang yang mencekik mati bayinya sendiri yang baru terlahir kau sebut patut dikasihani dari pada dimaki, benar-benar membuat aku bingung.”

"Itulah kalau kau hanya melihat suatu peristiwa dari sudut terakhir saja tanpa menjenguk awalnya atau tidak mencari tahu tentang sebab-sebabnya. Ketahuilah Kun Hong, mereka yang terpaksa membunuh bayi sendiri itu melakukannya dengan mata tertutup sambil air matanya bercucuran, malah tanpa terlihat darah pun bercucuran di dalam hatinya. Mereka melakukannya karena terpaksa, karena maklum bahwa apa bila anak itu dibiarkan hidup, apa lagi kalau perempuan, kelak hanya akan mengalami kesengsaraan hidup yang tiada taranya. Baru membesarkannya saja sudah setengah mati, ayah bunda telah kekurangan makan, mana bisa ditambah mulut seorang anak lagi, apa lagi kalau perempuan? Setelah anak itu besar, akhirnya dia hanya akan digelandang pergi oleh tuan-tuan tanah, ya yang muda, ya yang kakek-kakek, mereka semua itu bandot-bandot belaka. Untuk mencegah hal ini kelak terjadi, malapetaka hebat yang tidak saja akan menimpa anak perempuannya akan tetapi mungkin menyeret sekeluarga, jalan satu-satunya hanya membunuh anak itu sebelum menimbulkan rasa kasih sayang yang besar."

Kun Hong melompat berdiri dan membanting-banting kakinya. Wajahnya merah dan dia kelihatan marah sekali. Dicabutnya pedang Cheng-hoa-kiam lalu diputar-putarnya pedang itu cepat bagaikan kilat menyambar-nyambar, mulutnya mengeluarkan geraman-geraman perlahan yang menggetarkan hati Eng Lan.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner