CHENG HOA KIAM : JILID-30


Kakek itu mengeluarkan suara aneh, seperti orang heran dan kagum, juga penasaran. Ia menarik kembali kedua tangannya hingga ukurannya menjadi biasa, kemudian ia melawan Wi Liong dengan dua tangan kosong. Biar pun ia bertangan kosong akan tetapi Wi Liong harus menghadapi sepasang tangan ditambah sepasang ujung lengan baju yang tak kalah ampuhnya oleh sepasang pedang!

Setelah beberapa gebrakan barulah Wi Liong tahu bahwa lawannya benar-benar tangguh dan yang amat mengherankan hatinya adalah langkah-langkah yang dipergunakan kakek ini tidak banyak bedanya dengan langkah-langkah ilmu silatnya sendiri. Jelas dapat dilihat olehnya bahwa ilmu kepandaian mereka berasal dari satu sumber.

Wi Liong boleh merasa beruntung bahwa saat itu Kun Hong berada di situ. Menghadapi kakek botak ini saja dia sudah mendapat lawan setanding. Kalau dua orang kakek lain itu datang mengeroyok kiranya dia takkan kuat menahan karena dua kakek itu pun memiliki ilmu silat yang lihai. Dengan adanya Kun Hong maka dua orang kakek itu tidak mendapat kesempatan membantu kawannya yang sedang bertanding melawan Wi Liong.

Kun Hong memang boleh dipuji. Pemuda ini sudah terluka hebat, tetapi dengan semangat menggelora dia masih dapat membuat dua orang lawannya sukar untuk mengalahkannya. Sekali ini pedang Cheng-hoa-kiam betul-betul memperlihatkan keampuhannya. Berkali-kali terdengar suara nyaring disusul oleh muncratnya bunga api. Dua orang kakek itu biar pun mulai mendesak namun hati mereka penasaran karena pedang mereka sudah mulai rusak dan gempil setelah berkali-kali beradu dengan Cheng-hoa-kiam.

Melihat kekasihnya yang terluka itu dikeroyok, tadinya Eng Lan segera mencabut pedang dan membantu. Akan tetapi baru beberapa belas jurus saja ia sudah terdesak mundur. Ia hendak nekat terus, akan tetapi Kun Hong berseru menyuruh ia mundur.

Pemuda ini tak mau melihat kekasihnya terancam bahaya. Ia maklum bahwa betapa pun tinggi Eng Lan mewarisi ilmu silat dari Pak-thian Koai-jin, tapi dua orang ini masih terlalu berbahaya bagi gadis itu. Dua orang ini memiliki tingkat kepandaian yang mungkin tidak kalah oleh Pak-thian Koai-jin sendiri!

Sementara itu, setelah berkali-kali mengeluarkan seruan aneh, kakek botak yang sedang bertempur melawan Wi Liong harus mengakui bahwa gerakan senjata suling pemuda itu benar-benar sulit ditembus. Kakek ini telah mengerahkan tenaga, memusatkan semangat untuk mengalahkan Wi Liong, tetapi sia-sia belaka. Pertahanan pemuda ini demikian kuat seperti benteng baja yang tak mungkin ditembus atau dihancurkan.

"Bagus! Murid Thian Te Cu lumayan juga. Biar lain kali kami minta tambahan pelajaran dari Thian Te Cu sendiri!" seru kakek botak ini yang disusul dengan suitan keras dan kata-kata terhadap dua orang lain yang mengeroyok Kun Hong, "Mundur...!"

Dua orang kakek itu masih penasaran. Sebelum mundur, yang tinggi mencoba melakukan serangan dari bawah dengan babatan pedangnya. Kun Hong melompat ke atas dan pada saat itu yang gemuk pendek mengeluarkan seruan keras, melepaskan pedangnya lantas kedua tangannya bergerak, yang kiri merampas pedang yang kanan melakukan pukulan dorongan dengan tenaga gwakang sepenuhnya. Ia sudah maklum bahwa lawan muda itu tadi sudah terluka oleh pukulan gwakang-nya, maka sekarang dalam saat-saat terakhir ia hendak menggunakan lagi serangan seperti ini.

Kun Hong terkejut bukan main. Maklumlah dia bahwa kalau dia menyambut serangan ini maka nyawanya bisa melayang. Dia lebih sayang nyawanya dari pada pedangnya, maka terpaksa dia melempar tubuh ke belakang sambil menyambitkan Cheng-hoa-kiam ke arah penyerangnya. Kakek gemuk pendek itu tertawa lebar dan cepat dia menyambar pedang itu dengan mudah, lalu sambil teritawa-tawa dia berlari pergi dengan dua orang kawannya.

Melihat mereka pergi, Wi Liong cepat berseru, ”Samwi siapakah supaya kelak aku dapat melaporkan kepada suhu tentang kedatangan kalian!"

Tiga orang itu sudah tidak kelihatan lagi bayangannya dan keadaan di situ sudah menjadi amat sunyi. Tiba-tiba terdengar jawaban dari jauh sekali, terdengar lapat-lapat tapi jelas.

"Im-yang Siang-cu dan Thai It Cinjin yang berkunjung...!"

Wi Liong menghela napas panjang. Gerakan tiga orang itu benar-benar cepat bukan main sehingga dalam sekejap mata saja sudah tiba di tempat jauh.

"Sungguh lihai dan berbahaya..." katanya sambil menggunakan sapu tangan menghapus keringat di jidatnya.

Kalau Wi Liong memuji-muji tiga orang yang datang menyerbu Wuyi-san tadi, adalah Kun Hong yang memaki-maki dan membanting kaki. "Celaka, tiga keparat itu telah merampas pedangku!" Dia lalu menghampiri Wi Liong dan berkata kasar. "Semua ini adalah karena gara-garamu. Sekarang sesudah para pengganggu keparat itu pergi, hayo kita teruskan urusan kita. Kau mau atau tidak pergi ke Poan-kun memenuhi permintaanku tadi?!”

Wi Liong tersenyum. "Kau manusia yang aneh. Sudah kukatakan aku tidak ingin berjodoh dengan nona Kwa Siok Lan atau dengan siapa pun juga menurut perantaraanmu. Habis kau mau apa?”

"Kalau begitu kau harus kuseret ke sana!" Sesudah berkata demikian, Kun Hong segera menerjang dan menyerang Wi Liong dengan dahsyat.

Wi Liong cepat menangkis, akan tetapi begitu kedua lengan orang-orang muda itu saling bentur, Wi Liong melompat ke belakang dan berseru kaget, "Kau terluka...!"

Dalam pertemuan kedua lengan tadi, terpaksa Kun Hong menggunakan tenaganya dan kembali ia muntah darah dan terhuyung-huyung. Eng Lan cepat memeluknya dan gadis ini marah sekali melihat keadaan kekasihnya. Ia menudingkan telunjuknya ke arah Wi Liong sambil berkata keras,

"Manusia tidak berbudi! Walau pun Kun Hong yang menjadi gara-gara sampai pamanmu memutuskan perjodohan, akan tetapi Kun Hong telah mengakui kesalahannya. Mengingat bahwa enci Siok Lan tidak bersalah apa-apa, sudah sepatutnya kalau kau menyambung kembali ikatan itu. Akan tetapi kau tidak sudi mendengarkan malah sengaja menantang Kun Hong. Tak tahukah bahwa Kun Hong tadi terluka karena melayani dua orang musuh yang menyerbu Wuyi-san?"

"Eng Lan, aku tidak minta pujian dari dia!" Kun Hong berseru dan kembali ia muntahkan darah.

Eng Lan mengajaknya pergi sambil berkata. "Kun Hong, kita sudah melakukan kewajiban kita. Bila dia tidak mau, hal itu bukanlah perkara kita. Sekarang lebih baik aku yang akan menerangkan semuanya kepada enci Siok Lan, bahwa bukan hanya karena mendengar kata-kata Kun Hong perjodohan itu dibatalkan, melainkan karena orangnya memang tidak suka!"

"Tidak, Eng Lan, kau... kau kembalilah kepada suhu-mu... biarlah aku yang membereskan urusan ini. Aku yang hendak ke Poan-kun...” kata Kun Hong lemah.

Keduanya kemudian pergi dari situ perlahan-lahan, dipandang oleh Wi Liong yang merasa merah dan bingung. Mengapa agaknya ada hubungan demikian akrab antara Kun Hong dan Eng Lan? Ia benar-benar tidak mengerti dan lebih heran lagi menyaksikan sikap Kun Hong. Jika dibandingkan dengan tempo hari, sikap pemuda itu benar-benar seperti seekor harimau berubah menjadi domba.

"Aku telah berjanji kepada nona tanpa nama itu untuk memutuskan sendiri pertunanganku dengan Kwa Siok Lan. Biar pun paman sudah mendahuluiku, sekarang timbul perkara ini, kebetulan sekali. Aku harus pergi sendiri ke sana dan memberi penjelasan kepada orang tua she Kwa agar tidak ada ganjalan hati lagi." pikirnya, kemudian pemuda ini memasuki bangunan yang sunyi.

Pada waktu itu ia memang tinggal seorang diri saja di situ. Pamannya dan gurunya turun gunung dan sedang menjelajah puncak-puncak lain seperti biasa. Sering kali pamannya yang buta itu diajak oleh Thian Te Cu mendaki puncak-puncak di sekitar situ dan mereka pergi sampai beberapa pekan…..

********************

"Kun Hong, kau terluka, kau pucat dan nampak sangat lemah. Jangan kau pergi seorang diri, urusan enci Siok Lan biarlah kita tunda dahulu. Lebih baik kau segera mencari obat untuk lukamu. Mari kuantar kau, Kun Hong. Sungguh tidak baik dalam keadaan seperti kau ini melakukan perjalanan seorang diri..." Ucapan ini dikeluarkan oleh Eng Lan yang menjadi gelisah sekali melihat keadaan Kun Hong.

Mereka sudah turun dari Gunung Wuyi-san dan Eng Lan berkali-kali menolak ketika Kun Hong menyuruh gadis ini pergi saja meninggalkannya.

"Eng Lan kau harus mengerti bahwa yang menimbulkan gara-gara sehingga kau sendiri sampai repot, adalah aku seorang. Karena itu, untuk menebus kesalahanku ini, harus aku pula yang membereskannya. Tentang pergi ke Gunung Bayangkara untuk mencari obat guna luka di dadaku, itu pun akan segera kulakukan. Akan tetapi kau jangan turut, adikku sayang. Selama ini aku masih dapat menekan gelora hatiku, akan tetapi... aku khawatir, aku takut, benar-benar aku takut kalau membayangkan betapa pada suatu saat mungkin aku akan lupa dan setan akan menguasai hatiku. Lebih baik kita berpisah sekarang. Kau kembalilah kepada suhu-mu dan aku bersumpah, sesudah sembuh pasti aku akan segera mencarimu, akan kupinang kau dari tangan suhu-mu."

Untuk beberapa lama Eng Lan nampak ragu. Kemudian dia pun teringat bahwa memang tidak pantas baginya kalau dia terus-menerus melakukan perjalanan berdua dengan Kun Hong. Dengan hati terharu dia lalu melepaskan pedangnya dan memberikan pedang itu kepada Kun Hong.


"Kau terimalah pedang ini dan kuharap takkan lama dapat melihat kau datang membawa pedang ini kembali kepadaku. Tempat tinggal suhu tak sukar dicari karena di mana-mana dia dikenal orang."

Kun Hong menerima pedang itu lantas mendekapnya di dadanya. "Pedang ini jauh lebih berharga dari pada Cheng-hoa-kiam," katanya sungguh-sungguh.

Memang dia tidak bicara main-main. Walau pun pedang itu bukan pedang pusaka seperti Cheng-hoa-kiam, tapi pedang itu pemberian kekasihnya, seolah-olah mewakili kekasihnya akan mengawani dia ke mana pun dia pergi.

"Kun Hong, kau berhati-hatilah... dan pesanku... ingatlah selalu padaku dan ingat bahwa aku tidak suka melihat engkau... tersesat seperti dulu lagi..." Sesudah berkata demikian, sambil menghapus air matanya Eng Lan lalu berlari pergi meninggalkan Kun Hong yang berdiri mematung.

Setelah Eng Lan pergi, barulah dia merasa betapa sebenarnya dadanya amat sakit dan tubuhnya amat lemah. Hampir saja dia merobohkan diri di atas tanah kalau saja dia tidak ingat bahwa tugasnya masih banyak dan terutama sekali bahwa di situ ada Eng Lan yang menanti-nantinya penuh harapan.

Aku harus berhasil, pikirnya, berhasil dalam semua tugasku dan berhasil mencarikan obat penyembuh lukaku. Pikiran ini menguatkan hatinya dan pemuda ini menahan rasa sakit di dadanya lalu melanjutkan perjalanan dengan semangat menuju Pegunungan Bayangkara.

Dia tidak mungkin pergi ke Poan-kun lebih dulu sebelum lukanya terobati, maka dia lebih dulu mementingkan pengobatan lukanya supaya dapat melakukan tugasnya dengan baik dan tidak terganggu oleh luka itu. Dia maklum bahwa sebelum luka di dadanya diobati, dia tidak bisa terlalu mengandalkan kepandaiannya dan sekali bertemu dengan lawan tangguh seperti malam tadi, maka nyawanya berada dalam bahaya…..

********************

Tepat pada esok harinya sesudah Kun Hong dan Eng Lan turun gunung, dari lain jurusan kelihatan dua orang kakek mendaki Gunung Wuyi-san. Mereka ini bukan lain adalah Thian Te Cu sendiri bersama Kwee Sun Tek.

Kakek sakti yang sudah mengasingkan diri dari dunia ramai ini sekarang kesenangannya hanya melihat-lihat tamasya alam yang indah di puncak-puncak pegunungan sekitar Wuyi-san, memetik daun obat sambil mengirup hawa segar. Kalau sedang menikmati keadaan puncak-puncak gunung, kakek ini betah sekali sampai berhari-hari.

Kwee Sun Tek sekarang mulai mempelajari ilmu batin. Ia menemukan hiburan luar biasa dalam mengikuti Thian Te Cu. Matanya memang sudah buta sehingga ia tidak dapat lagi menikmati pemandangan indah, namun mata hatinya sudah mulai terbuka dan dia dapat memandang hal-hal yang lebih indah lagi dengan mata hatinya.

Kepandaiannya juga meningkat secara luar biasa sehingga biar pun matanya tidak dapat melihat, tapi dia dapat mengikuti perjalanan kakek sakti itu melalui bukit-bukit dan tempat-tempat yang sukar dilalui orang yang waras matanya.

Begitudua orang kakek ini sampai di puncak, Thian Te Cu terus saja memasuki bangunan untuk beristirahat di kamarnya, sedangkan Kwee Sun Tek yang biasa duduk di atas batu besar depan bangunan, lalu berjalan menuju ke tempat itu. Akan tetapi ketika tangannya menyentuh batu itu, keningnya berkerut dan dia tidak jadi duduk.

"Paman, kau sudah pulang?" tiba-tiba saja Wi Liong menegur pamannya ketika pemuda ini keluar setelah mendengar suara mereka.

"Wi Liong, pada saat aku keluar, siapakah yang datang mengunjungimu?" Kwee Sun Tek meraba batu tempat duduknya tadi, lalu berkata lagi, "Batu ini sudah dipindahkan orang, tentu bukan kau."

"Memang tadi malam banyak orang yang datang, paman. Pertama-tama datang Kun Hong si pencuri pedang itu bersama murid Pak-thian Koai-jin. Maksud kedatangannya hendak mengakui kesalahannya bahwa dulu ia telah mempermainkan paman dengan pengakuan bahwa ia mempunyai hubungan dengan nona Kwa Siok Lan. Padahal sama sekali ia tidak kenal, dahulu itu hanya kelakar saja. Oleh karena itu ia hendak memaksaku ke Poan-kun untuk... untuk menyambung kembali pertunangan yang telah kau batalkan."

Kwee Sun Tek terduduk di atas batu. Pada saat itu mata hatinya terbuka dan ia melihat dengan jelas sekali akan kesalahan dan kecerobohannya. Ia menarik napas panjang.

"Percuma saja Thaisu membimbing manusia seperti aku! Sejak dulu aku tidak berobah, terburu nafsu dan keras hati. Ahh, kalau begitu aku harus menemui Kwa Cun Ek untuk minta maaf." Kemudian sikapnya berobah dan ia berkata lagi. "Kurang ajar setan cilik Kun Hong itu. Selain mencuri pedang dia malah mempermainkan aku sehingga terjadi perkara sulit ini. Dan tentunya kau sudah merampas pedangnya dan memberi hajaran kepadanya, bukan?"

"Tidak bisa, paman. Pada saat itu datang tiga orang aneh, yang begitu datang langsung menyerang aku dan Kun Hong hingga Kun Hong terluka hebat di dalam dadanya. Mereka itulah yang melontarkan batu ini ke atas genteng pada waktu aku dan Kun Hong sedang bercakap-cakap di atas genteng."

"Siapa mereka?" Sun Tek bertanya heran.

"Mereka mengaku bernama Thai It Cinjin dan dua orang lagi berjuluk Im-yang Siang-cu..."

Kwee Sun Tek nampak tercengang. "Aahhh... mereka? Sungguh aneh, baru saja kemarin Thaisu bercerita kepadaku mengenai mereka..." Kwee Sun Tek lalu menceritakan kepada Wi Liong tentang tiga orang kakek itu seperti yang kemarin ia dengar dari Thian Te Cu.

Thai It Cinjin itu sesungguhnya adalah adik ipar dari Gan Yan Ki, seorang yang semenjak mudanya berwatak kasar dan buruk sekali. Akan tetapi dia ini bukan orang sembarangan, melainkan seorang jago dari Bu-tong yang memiliki ilmu tinggi. Sejak Gan Yan Ki masih hidup, Thai It Cinjin ini sudah ingin sekali mewarisi ilmu silat tinggi dari Gan Yan Ki sebagai murid Kui Cinjin, seorang di antara tiga Wuyi Sam-lojin.

Melihat muka isterinya, pendekar besar Gan Yan Ki memberi petunjuk ilmu silat kepada adik ipar ini, maka tak mengherankan apa bila Thai It Cinjin mempunyai dasar-dasar ilmu silat Wuyi-san. yaitu ilmu silat keturunan dari Wuyi Sam-lojin yang terjatuh kepada Thian Te Cu, Thai Khek Sian, dan Gan Yan Ki.

Sesudah Gan Yan Ki meninggal dalam usia tiga puluh tahun, Thai It Cinjin yang berwatak sombong hendak memperlihatkan jasa, meneruskan permusuhan atau persaingan antara murid-murid tiga kakek Wuyi-san, kemudian dia mendatangi Thian Te Cu untuk mengadu kepandaian sebagai wakil dari Gan Yan Ki yang sudah tewas! Akan tetapi dia kalah oleh Thian Te Cu.

Betapa pun juga Thai It Cinjin tidak mau menerima kalah, lalu belajar lagi memperdalam kepandaiannya, bahkan kini ia belajar bersama dua orang sute-nya dari Bu-tong-pai, yaitu Im-yang Siang-cu yang masing-masing memiliki sebutan tersendiri Im Thian Cu dan Yang Thian Cu.

"Sungguh tidak tersangka sama sekali tiga orang ini masih berani datang lagi. Biar belajar seratus tahun lagi, mana mungkin mereka sanggup menandingi Thaisu? Lalu bagaimana selanjutnya? Kau toh tidak kalah oleh mereka?" Kwee Sun Tek mengakhiri penuturannya yang ringkas.

"Aku melawan Thai It Cinjin. Kakek itu memang lihai bukan kepalang, semua gerakannya mempunyai dasar yang sama dengan ilmu yang diajarkan oleh suhu. Baiknya aku dapat menjaga diri dan tidak sampai kalah. Sementara itu Kun Hong dikeroyok oleh Im Thian Cu dan Yang Thian Cu. Dua orang itu pun lihai bukan kepalang sedangkan Kun Hong sudah terluka parah, maka akhirnya pedang Cheng-hoa-kiam kena dirampas oleh mereka lantas dibawa pergi, bersama Tai lt Cinjin."

"Hemmm, mereka itu keterlaluan sekali. Thaisu terlampau sabar terhadap mereka, orang-orang yang tidak tahu diri dan sombong. Lalu... bagaimana dengan pemuda murid Thai Khek Sian itu?”

"Ia pergi dalam keadaan terluka parah. Paman, aku melihat sesuatu yang aneh dalam diri Kun Hong. Agaknya ia tidak seperti dahulu lagi, malah... malah aku mulai merasa kasihan kepadanya. Kun Hong dahulu terculik bukan atas kehendak sendiri, ia menjadi murid Thai Khek San juga bukan atas kehendaknya sendiri, maka hubungannya dengan orang-orang jahat sudah membuat dia tersesat. Hal ini benar-benar tak dapat disalahkan kepadanya. Aku masih mengharapkan pada suatu hari dia insyaf dan mengambil jalan benar..."

Dengan termenung Kwee Sun Tek berkata, "Jahat atau baiknya sesuatu tindakan dalam hidup sepenuhnya tergantung dari kotor bersihnya pikiran sendiri. Memang keadaan di sekeliling seseorang amat mempengaruhi keadaan pikirannya pula, akan tetapi biasanya, perbuatan yang telah menjadi kebiasaan, baik ia buruk mau pun baik. lambat-laun menjadi watak yang amat sukar dirobah.”

"Kecuali kalau perobahan itu juga dipaksakan dengan memberi pergaulan yang baik dan bersih, bukan begitu, paman? Sudah banyak contohnya, betapa bekas-bekas orang jahat menjadi baik kembali setelah dia masuk menjadi hwesio..."

"Memang ada yang tertolong, akan tetapi banyak pula yang tak berhasil sehingga mereka menjadi penjahat berselimut jubah pendeta yang lebih berbahaya lagi, Semua ini, tentang merobah diri ke arah kebaikan, tergantung dari kuat lemahnya batin mereka. Harus ada sesuatu yang amat besar pengaruhnya terhadap dirinya baru orang itu mudah dituntun ke arah kebaikan."

Wi Liong mengangguk-angguk dan bibirnya tersenyum. Seakan-akan ada cahaya terang yang membuka matanya. Terbayang wajah Eng Lan yang cantik manis dan sikap gadis ini terhadap Kun Hong. Bukankah sikap itu membayangkan cinta kasih yang besar? Dengan cinta kasih yang besar ini bukan tak mungkin jika kelak Kun Hong akan dituntun ke jalan kebenaran!

"Apa yang sedang kau renungkan?" tegur Kwee Sun Tek yang perasaannya begitu tajam sehingga kesunyian seakan-akan berbisik kepadanya.

Wi Liong terkejut. "Tidak ada apa-apa, paman. Hanya aku menjadi kasihan kalau teringat kepada Seng-goat-pian Kam Ceng Swi, tokoh besar Kun-lun-pai yang gagah perkasa itu. Alangkah akan bahagia hatinya kalau Kun Hong puteranya itu berobah menjadi seorang pendekar yang budiman."

"Kau betul, Kam Ceng Swi memang seorang gagah yang patut dihargai."

Hening sejenak, lalu terdengar Kwee Sun Tek berkata dengan suara lemah mengandung kedukaan. "Aku harus pergi menemui Kwa Cun Ek dan minta maaf atas kecerobohanku, dan kalau mungkin menyambung lagi perjodohan itu..."

"Tidak, paman... jangan!"

"Apa maksudmu?"

"Kumaksudkan... ehh, kiranya tidak perlu paman sendiri pergi ke Poan-kun. Biarlah aku yang akan pergi ke sana dan tentu saja aku akan minta maaf atas terjadinya hal itu, akan tetapi... tentang perjodohan itu... kurasa amat tidak baik kalau disambung lagi."

"Wi Liong, apa alasan ucapanmu ini?" Wi Liong maklum bahwa andai kata pamannya itu masih dapat melihat, tentu sepasang mata itu akan menembusi hatinya dan tentu ia tidak akan dapat menyembunyikan perasaan hatinya lebih lama lagi dari pamannya!

"Karena aku... eh, kurasa bahwa mereka tentu sakit hati sekali atas pemutusan ikatan itu dan... dan... belum tentu mereka mau menerima kalau kita yang minta supaya disambung lagi. Kalau mereka menolak, berarti ganjalan akan selalu ada di antara mereka dan kita. Biarkanlah mereka sendiri yang mengambil keputusan, biarlah mereka yang menentukan apakah pertunangan itu hendak dilanjutkan ataukah tidak, dengan demikian kita memberi penghormatan kepada mereka dan kita bersikap sebagai orang bersalah yang menunggu keputusan pengadilan.”

Kwee Sun Tek merasa terharu dan menaruh tangan di pundak keponakannya.

“Wi Liong, kau mengalami semua ini karena kelalaianku, karena… karena mataku buta. Kalau tidak, kiranya tak mungkin setan cilik itu dapat menipuku. Wi Liong, ucapanmu tadi memang ada betulnya. Akan tetapi bagaimana… bagaimana kalau mereka itu demikian marahnya sehingga tidak mau menyambung lagi ikatan perjodohanmu?”

Muka Wi Liong menjadi merah sekali. Ia merasa berdosa dan malu karena seakan-akan ia membohongi pamannya. Bukan itulah alasannya mengapa dia tidak setuju kalau fihaknya yang mengusulkan penyambungan kembali ikatan jodoh. Alasan sebenarnya ialah karena dia tidak suka dijodohkan dengan Kwa Siok Lan, karena dia mencinta gadis tinggi langsing yang hanya dia kenal orangnya tapi dia tidak tahu namanya, yang dia beri nama Bu-beng Siocia (Nona Tak Bernama)!

Akan tetapi, bagaimana mungkin dia mengaku kepada pamannya? Tentu akan membikin hati pamannya sakit. Dalam keadaan terpaksa dia telah menyeleweng, yaitu tidak bicara sejujurnya kepada pamannya yang sudah menjadi pengganti orang tuanya.

“Paman, kalau mereka tidak mau menyambung lagi, biarkan saja. Aku sendiri pun belum memikirkan soal perjodohan, apalagi karena tugasku mencari musuh ayah bundaku belum terlaksana.”

Diingatkan tentang musuh besar ini, yang tidak saja sudah membunuh ayah ibu Wi Liong, akan tetapi juga telah membikin buta kedua matanya, Kwee Sun Tek seketika melupakan urusan perjodohan dan mukanya menjadi merah.

“Kau pergilah dan cari keparat Beng Kun Cinjin Gan Tui itu sampai dapat!” katanya.

“Baik, paman. Di antara tempat-tempat yang belum kukunjungi adalah sepanjang pantai timur. Aku hendak mencari jejaknya di sana dan kalau saja manusia itu belum mati, tentu pada suatu hari aku akan dapat berhadapan muka dengan dia! Sesudah urusan di Poan-kun beres, aku akan langsung menuju ke timur.”

Kwee Sun Tek menarik napas panjang. “Agaknya aku takkan bisa bernapas lega sebelum kau berhasil membasmi manusia keji itu. Akan tetapi pesanku, Wi Liong, kau yang hati-hati dan lemah lembut menghadapi keluarga Kwa yang sudah tersinggung kehormatannya karena menjadi korban kecerobohanku. Sedapat mungkin perbaikilah kembali hubungan antara mereka dengan kita. Kemudian aku akan menunggumu di sini sampai satu tahun lamanya. Jangan pergi lebih lama dari setahun.”

Wi Liong lalu berkemas dan seperti biasa, ia tidak berpamit kepada suhu-nya sebab Thian Te Cu tidak mau diganggu kalau tidak kakek sakti ini sendiri yang menghendaki. Sesudah minta diri dari pamannya yang memeluknya mesra, pemuda itu kembali turun gunung, sambil membawa bekal pakaian dan tidak lupa membawa senjatanya, yaitu sulingnya…..

********************

Kita kembali pada Kun Hong yang sedang melakukan perjalanan menuju ke Pegunungan Bayangkara dalam keadaan payah. Semakin hari mukanya menjadi bertambah pucat dan tubuhnya mulai mengurus. Akan tetapi berkat semangatnya yang besar dia masih mampu mempertahankan diri.

Dia merasa heran sekali mengapa tubuhnya sekarang menjadi demikian lemah sehingga menghadapi penderitaan luka di dadanya itu saja sampai begini sengsara. Dia tidak tahu bahwa di samping luka oleh pukulan Im-yang-lian-hoan yang bertambah akibat pukulan gwakang dari Yang Thian Cu seorang di antara Im-yang Siangcu, masih ada hal lain yang membuat dia menjadi lemah, yaitu tidak lain adalah perasaan asmara yang menimbulkan rindu dendam dan kelemahan.

Tidak pernah sedetik pun dilewatkannya tanpa teringat akan Eng Lan, gadis yang sudah membetot seluruh semangatnya dan yang bayangannya selalu mengikutinya, baik dalam tidur mau pun dalam sadar. Rindunya untuk dapat berdekatan dengan gadis itu, melihat sinar matanya, mendengar suaranya, merasakan sentuhan jari tangannya, semuanya ini membuat Kun Hong menjadi semakin lemah.

Dalam keadaan sakit jasmani orang harus kuat rohaninya untuk melawan penderitaan itu sehingga penyakitnya segera sembuh. Akan tetapi bagi Kun Hong adalah sebaliknya. Jasmaninya terluka hebat, rohaninya juga ‘luka’ karena asmara, karena berpisah dengan gadis yang dicinta sepenuh jiwanya.

Pada suatu hari dia telah tiba di kaki Pegunungan Bayangkara setelah berbulan lamanya melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Harapannya timbul kembali ketika melihat gunung menjulang tinggi di depannya. Kalau bertemu dengan ‘hwesio muka hitam’ tentu dia akan dibebaskan dari siksaan ini, tentu rasa sakit di dadanya akan lenyap, demikian kata mendiang Liong Tosu.

Tiba-tiba dia mendengar suara orang berkata-kata dengan nada yang aneh seperti orang membaca sajak. Cepat dia menuju ke pinggir lorong dan dilihatnya dari jauh mendatangi seorang laki-laki tua menunggang keledai.

Binatang keledai itu berjalan seenaknya, perlahan saja namun tetap menimbulkan debu mengebul di belakangnya karena hari itu memang panas hingga tanah menjadi berdebu. Orang itu menunggang keledai sambil tangannya memegang sebuah kitab dan membaca dengan suara nyaring, jelas dan lambat seakan-akan huruf-huruf di dalam buku itu harus diingatnya benar. Kun Hong menjadi geli dan ingin tahu apa gerangan yang dibaca oleh orang itu. la mendengarkan penuh perhatian.

"Hi no ai lok ci bi hoat, wi ci tiong.
Hoat ji hai tiong ciat, wi ci hoo.
Tiong ya cia. thian he ci tai pun ya.
Hoo ya cia, thian he ci tat too ya.
"

Setelah membaca kata-kata bersajak ini dengan nada sungguh-sungguh hingga terdengar amat lucu dan aneh di tempat yang sunyi itu, orang tadi mengerutkan kening dan bibirnya berkemak-kemik, terdengar dia mengulangi satu demi satu semua kata-kata yang tadi dia baca, kemudian dia mencoba menguraikan arti setiap kalimat dengan suara yang keras. Sajak atau ujar-ujar di atas artinya begini:

"Sebelum timbul rasa SENANG, MARAH, DUKA dan GEMBIRA, maka disebut TIONG (Lurus/lempang / tegak).

Jika dapat mengendalikan perasaan-perasaan yang timbul itu maka disebut HOO (Akur/ selaras/ sesuai).

TIONG itulah merupakan pokok terbesar pari pada dunia.

HOO adalah jalan utama dari pada dunia.
"

Selama hidupnya belum pernah Kun Hong mendengar ini dan entah mengapa, ia merasa amat tertarik. Orang tua itu pun sekarang sudah lewat di depannya dan menengok, lalu mengangguk-angguk tersenyum ramah kepadanya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner