CHENG HOA KIAM : JILID-33


Untuk menghilangkan kegelisahan yang timbul, Wi Liong lalu mampir ke sebuah warung memesan minuman. Dia mengaso minum teh wangi sambil berpikir, menghafalkan kata-kata yang harus dia ucapkan di depan bekas calon mertuanya nanti. Bibirnya berkemak-kemik matanya merenung.

"Lo-enghiong," dia seharusnya menyebut gak-hu (ayah mertua), tetapi karena pamannya telah membatalkan ikatan jodoh, maka lebih baik menyebut lo-enghiong (orang tua gagah perkasa), "harap sudi memaafkan karena saya sudah berani berlaku lancang menghadap lo-enghiong. Saya datang membawa pesan paman Kwee untuk menyatakan penyesalan dan maafnya kepada lo-enghiong bahwa paman telah berlaku khilaf, telah berani berlaku kasar dan memutuskan ikatan jodoh hanya karena bisa dibodohi dan dipermainkan orang jahat. Sekarang paman telah mengetahui sejelasnya, bahwa... Kwa-siocia tidak bersalah. Selanjutnya paman dan saya menyerah kepada lo-enghiong, mengakui kesalahan kami dan siap menerima segala hukuman yang akan dijatuhkan kepada paman dan saya..."

Kata-kata ini dia hafalkan di luar kepala. Dia tidak perlu menyinggung-nyinggung tentang disambungnya kembali ikatan jodoh, bahkan dia mengharapkan kemarahan orang tua she Kwa itu dan dia sudah siap sedia menerima penghinaan, bahkan sanggup pula menerima pukulan dari kakek itu, asal saja urusan beres sampai di situ saja dari perjodohan jangan disambung lagi!

Setelah debar jantungnya mereda kembali, Wi Liong membayar uang teh lalu bertanya di mana rumah keluarga Kwa. Tukang warung memandang kepadanya dengan mata dibuka lebar, agaknya terheran. Wi Liong maklum akan keheranan orang, dapat menduga bahwa tentu mengherankan orang Poan-kun bila ada orang yang tidak mengetahui tempat tinggal seorang ternama seperti Kwa Cun Ek.

"Siauwte bukan penduduk Poan-kun maka belum tahu di mana rumah Kwa-lo-enghiong," katanya menerangkan. Tukang warung itu mengangguk-angguk, lalu memberi petunjuk di mana letak rumah keluarga Kwa itu. Wi Liong menghaturkan terima kasih lalu menuju ke rumah itu.

Hatinya kembali dag-dig-dug setelah ia memasuki halaman rumah Kwa Cun Ek. Memang ia menghadapi urusan yang sangat tidak menyenangkan. Ketika melihat seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh gemuk dan bermuka ramah sekali, tersenyum terus berdiri di ruangan depan sambil memandangnya, hati Wi Liong menjadi makin sibuk.

Kalau bekas calon mertua itu orang galak dan sombong, ia malah dapat menghadapinya dengan seenaknya. Akan tetapi kalau seramah itu mukanya, ia menjadi makin tidak enak! Cepat-cepat ia membungkuk dan mengangkat tangan memberi hormat.

Dapatlah dibayangkan betapa kaget dan malunya ketika ia mendengar orang itu berkata, "Kongcu mencari siapa? Apakah mencari Kwa-loya (tuan besar Kwa)?”

Ketika Wi Liong mengangkat muka, ia melihat mulut yang tadi tersenyum-senyum itu kini tertawa lebar, nampaknya girang sekali. Mendengar orang ini menyebut Kwa-loya. baru ia sadar bahwa kiranya orang yang ia sangka tuan rumah ini hanya seorang pelayan saja! Mukanya menjadi merah ketika ia menjawab, "Benar, aku mohon bertemu dengan Kwa-lo-enghiong. harap twako suka memberi-tahu ke dalam."

Pelayan itu tertawa lebar lalu membungkuk-bungkuk sambil berkata. "Kongcu baik sekali, begitu menghormat kepada seorang pelayan, tidak seperti kongcu-kongcu lain..."

Untuk menyembunyikan rasa malunya karena tadi salah duga, Wi Liong berkata, "Bagiku pelayan atau majikan sama saja, sama-sama manusia, apa sih bedanya?”

Pelayan itu menjadi makin senang dan heran. Dia membungkuk-bungkuk lagi lalu mundur ke dalam rumah untuk melaporkan kedatangan seorang kongcu (tuan muda) yang sangat ganteng, halus tutur sapanya dan suka menghormati seorang pelayan!

Saking girangnya mendapat penghormatan dari tamu muda itu, pelayan gemuk itu sampai lupa menanyakan nama tamunya sehingga ketika melapor kepada Kwa Cun Ek, ia hanya berkata bahwa di luar ada seorang tuan muda mohon berjumpa dengan Kwa Cun Ek, dan bahwa tamu muda itu tampan dan sopan santun sekali.

Kwa Cun Ek segera keluar diiringi oleh isterinya. Ketika tiba di ruangan depan, Kwa Cun Ek hanya melihat seorang pemuda yang tampan dan kelihatan seperti seorang terpelajar lemah. Akan tetapi di sampingnya, Tung-hai Sian-li langsung mengeluarkan seruan kaget ketika melihat Wi Liong.

Di lain fihak Wi Liong juga menjadi kikuk bukan main ketika melihat Tung-hai Sian-li yang segera dikenalnya berada di samping orang tua bertubuh tinggi besar, gagah perkasa dan berjenggot panjang bagus terpelihara itu. la segera dapat menduga bahwa tentu dia inilah yang bernama Kwa Cun Ek, yang memang sangat pantas menjadi seorang tokoh gagah. Akan tetapi kenapa Tung-hai Sian-li berada di situ pula? Betapa pun juga dia segera maju dan menjura dengan hormat sekali sehingga menimbulkan rasa suka pada perasaan Kwa Cun Ek.

Dengan tersenyum ramah Kwa Cun Ek membalas penghormatan tamu. Sama sekali dia tidak melihat bagaimana Tung-hai Sian-li di sampingnya memandang pemuda itu dengan muka merah dan mata bernyala-nyala penuh kemarahan.

"Hiantit, silakan duduk. Angin baik manakah yang membawa kau datang ke rumahku ini? Kepentingan apa gerangan yang kau bawa?"

Semenjak isterinya kembali berada di sampingnya, memang Kwa Cun Ek sudah menjadi seorang manusia yang jauh berbeda dari pada kemarin-kemarin. Kini tidak saja ia nampak segar, sehat dan pakaiannya rapi, akan tetapi juga ia menjadi seorang yang amat ramah, manis budi dan kelihatan bahagia sekali. Ia sangat mencinta isterinya, apa lagi sekarang, setelah isterinya itu meninggalkannya selama belasan tahun!

Memang Wi Liong paling takut menghadapi keramahan bekas calon mertua ini. Kembali dia berdebar-debar ketika melangkah maju, memberi hormat lagi kemudian mengucapkan hafalannya,

"Lo-enghiong, harap sudi memaafkan bahwa saya berani berlaku lancang menghadap lo-enghiong. Saya datang..."

"Nanti dulu, hiantit." Kwa Cun Ek cepat memotong sambil tertawa lebar sehingga di balik jenggot panjang itu nampak deretan gigi yang kuat dan rapi. "Kau bernama siapakah dan dari mana?"

Gangguan ini mengacaukan hafalan Wi Liong yang menjadi gugup.

"Saya datang... ehh, saya yang rendah bernama Thio Wi Liong... dan... dan saya datang membawa pesan dari paman Kwee..."

Seketika wajah Kwa Cun Ek berubah. Saking terkejut, heran, menyesal dan marah, dia sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi! Tung-hai Sian-li segera maju ke depan dan suara wanita ini terdengar lantang nyaring ketika ia berkata,

"Pamanmu si buta itu telah datang menghina kami dengan tuduhan-tuduhannya yang keji dan kotor. Apakah sekarang kau datang hendak menghina kami dengan mengandalkan kepandaianmu? Kalau benar begitu, jangan dikira kami takut, orang muda!"

Setelah berkata demikian tangan Tung-hai Sian-li bergerak dan...”sratt!" pedangnya telah dicabutnya!

Karuan saja Wi Liong menjadi makin bingung dan gugup. Akan tetapi pemuda ini memang aneh. Begitu menghadapi kekasaran atau kesombongan, semangatnya mendadak bangkit kembali, maka ia berkata dengan suara dingin,

"Tung-hai Sian-li, ada sangkut-paut apakah sehingga kau ikut-ikutan mencampuri urusan kami? Kuharap kau suka meninggalkan kami dahulu karena aku ada urusan penting untuk dibicarakan dengan Kwa-lo-enghiong. Nanti kalau urusan kami sudah selesai, boleh kalau kau hendak bicara denganku."

Tung-hai Sian-h bagaikan dibakar isi dadanya. Mukanya makin merah dan matanya yang bagus jeli itu berapi-api. "Setan kurang ajar! Kau dan pamanmu telah menghina Siok Lan anakku! Kau hendak bicara dengan suamiku sama saja bicara dengan aku!"

Kalau saat itu lantai yang diinjaknya tiba-tiba amblas, kiranya Wi Liong tak akan sekaget ketika mendengar brondongan kata-kata yang sama sekali tak diduga-duganya ini! Celaka tiga belas setengah! Dia yang bertugas menjadi duta perdamaian, yang diharapkan akan dapat meredakan kemarahan fihak keluarga Kwa yang kehormatannya tersinggung akibat kelalaian pamannya, kini bukan meredakan kemarahan bahkan sebaliknya memperbesar nyala api. Dia sudah bersikap kurang ajar kepada nyonya rumah, ibu Siok Lan atau isteri Kwa Cun Ek yang dianggapnya orang lain yang usil mulut!

Tanpa terasa matanya terbelalak, mulutnya ternganga dan otomatis tangannya bergerak ke belakang menggaruk-garuk kepala di belakang telinga yang sebetulnya tidak gatal.

"A... a... pa... ba... gaimana...?" Dia bertanya ap-ap-ep-ep tidak karuan saking gagapnya.

Sementara itu Kwa Cun Ek sudah bisa meredakan guncangan hatinya ketika mendengar bahwa pemuda ganteng lemah-lembut yang kini berdiri di depannya ini bukan lain adalah bekas calon mantunya. Dia menyentuh lengan isterinya untuk menyabarkan hati isterinya, lalu melangkah maju setindak dan berkata, kini suaranya kaku dan sikapnya angkuh.

"Thio Wi Liong, kau datang mencari aku sebetulnya mau apakah?"

Wi Liong mengerutkan alis, mengerahkan segenap tenaga otaknya untuk mengingat-ingat hafalannya. Akan tetapi entah mengapa, tiba-tiba saja ia kehilangan semua itu. Kata-kata yang sudah dirangkai dan dihafalkan di luar kepala di warung teh tadi, kini lenyap sama sekali. Otaknya tiba-tiba menjadi tumpul.

Dia memeras otak sampai keringat sebesar kacang hijau berkumpul pada dahinya, namun dia tetap tak dapat mengingat rangkaian kata-kata itu. Akhirnya dia berkata sekenanya,

"Saya diutus oleh paman Kwee untuk minta maaf atas kekhilafan paman karena paman telah mendengarkan omongan orang jahat. Paman Kwee merasa menyesal sekali telah... telah memutuskan perjodohan... dan... dan... ya sudah cukup begitulah...!"

Dengan ujung bajunya Wi Liong menghapus keringatnya dari muka. Agaknya terlalu keras ia menghapus sehingga kulit mukanya menjadi merah sekali ketika ia menurunkan tangan yang menggosok muka.

"Hemmm... pamanmu benar-benar telah melakukan hal yang sangat ceroboh. Betapa pun juga, aku masih dapat memaklumi mengingat bahwa dia sudah buta sehingga tidak dapat membedakan antara kebohongan dan sungguh-sungguh. Akan tetapi selain minta maaf, apakah tidak ada pesan lain tentang ikatan yang sudah dia putuskan?"

"Ti... tidak...!" Wi Liong membohong dengan suara perlahan sehingga untuk menguatkan pernyataannya, ia menggeleng kepalanya keras-keras. Terpaksa ia membohong.

Sebenarnya pamannya masih ingin sekali berbesan dengan kakek gagah ini, masih ingin menyambung kembali ikatan jodoh yang sudah diputuskan oleh pamannya. Akan tetapi bagaimana dia bisa menerima penyambungan kembali bila seluruh jiwa dan hatinya telah terikat oleh Bu-beng Siocia (Nona Tak Bernama)? Kini semua sudah terlanjur, kebetulan ada kesempatan baik ini, setelah ikatan terputus oleh pamannya, biarlah tinggal terputus sehingga leluasa baginya untuk mencari Nona Tak Bernama!

Jawabannya yang terlihat dipaksakan ketika mengatakan "tidak" tadi, ternyata tidak lepas dari pandang mata Tung-hai Sian-li yang amat tajam. Bagi nyonya gagah ini, ia lebih suka bermantukan Kun Hong dari pada Wi Liong yang biar pun sudah ia saksikan kelihaiannya, namun sikapnya terlalu lemah-lembut, kurang gagah. Apa lagi terutama sekali karena Kun Hong sudah pernah menolongnya maka hati nyonya ini lebih condong kepada Kun Hong. Ia melangkah maju dan berkata kepada Wi Liong, suaranya keras menuntut kepastian.

"Orang muda, katakan sejelasnya. Pamanmu mengharapkan disambungnya kembali tali perjodohan antara kau dan anakku atau tidak? Jawab yang betul, tak perlu ragu-ragu dan sungkan-sungkan!"

Kwa Cun Ek mengangguk-angguk menyetujui ucapan isterinya, meski pun dia anggap hal itu terlampau kasar.

Terjadi perang dalam kepala Wi Liong, perang antara kebaktian terhadap pamannya yang menjadi pengganti orang tuanya dengan cinta kasih yang mendalam terhadap Nona Tak Bernama. Seperti biasa dan sering kali terjadi dalam hati para muda, cinta kasihlah yang menang. Pemuda yang selama hidupnya diajar supaya jangan membohong dan memang belum pernah membohong itu, sekali ini terpaksa membohong karena beratnya desakan cinta kasih yang membara di dalam hatinya. Dia menggeleng sebagai pengganti jawaban "tidak"!

Berubah wajah Kwa Cun Ek. Dia merasa tersinggung dan penasaran, juga sangat marah. Kwee Sun Tek yang selama ini dianggapnya sahabat sejati, seorang gagah perkasa yang sangat dia hormati, ternyata sekarang malah menjadi satu-satunya orang di dunia ini yang berani menghinanva secara luar batas.

Mula-mula melontarkan fitnahan keji dan kotor kepada puterinya, kemudian membatalkan pertunangan dan sekarang, walau pun minta maaf, namun pada hakekatnya masih tetap menghinanya, buktinya tidak mau menyambung kembali ikatan yang telah dipatahkannya secara paksa dan kasar!

"Dan sekarang, orang muda," Tung-hai Sian-li melanjutkan kata-katanya, senyuman pada bibirnya yang manis itu penuh ejekan, "Bagaimana dengan pendapatmu sendiri? Apakah kau juga tidak mempunyai niat untuk menyambung kembali ikatan jodohmu yang diputus karena kebodohan pamanmu?"

Dapat dibayangkan betapa sukarnya mulut Wi Liong menjawab pertanyaan yang bagaikan ujung pedang runcing ditodongkan di depan ulu hatinya ini. Akan tetapi wajah Nona Tak Bernama terbayang di hadapan matanya, maka sambil meramkan matanya dia menjawab pasti,

"Yang putus biar putus, aku menurut kehendak paman."

Terdengar isak makin keras lalu disambung sedu-sedan. Cepat Kwa Cun Ek dan Tung-hai Sian-li menengok, juga Wi Liong ikut memandang ke dalam dengan hati merasa tak enak. Sejak tadi dia sudah khawatir kalau-kalau akan mendengar bekas tunangannya menangis atau melihat munculnya tunangan itu. Bagaimana pun juga diam-diam dia merasa kasihan pada tunangannya yang belum pernah dilihatnya itu, gadis yang sama sekali tak berdosa akan tetapi secara tak berdaya telah ‘diikatkan’ kepadanya!

"Siok Lan, ke sinilah kau! Lihat macam apa manusia yang pernah menjadi tunanganmu!" teriak Tung-hai Sian-li yang sudah marah sekali kepada Wi Liong dan Kwee Sun Tek.

Terdengar isak makin keras lalu disambung suara campur sedu-sedan, "Tid... tidak, ibu... aku tak sudi lagi melihat mukanya...!"

"Bu Beng Siocia...!" Suara Wi Liong bukan seperti suara manusia ketika ia mengeluarkan sebutan ini.

Pada saat itu pula berkelebat bayangan orang di dalam rumah, orang yang melarikan diri ke belakang dengan cepat sekali. Wi Liong yang mendengar suara tadi sudah mengenal gadis pujaannya, dan sekarang tak ragu-ragu lagi ketika melihat bayangan tubuh langsing tinggi dengan rambut dibungkus sutera di bagian atas.

Seketika ia menjadi limbung, semangatnya seperti meninggalkan tubuhnya dan mukanya berobah pucat seperti kertas putih.

"Bu Beng Siocia...! Ahhh... apa yang telah kulakukan...?" Dua kali ia memukul kepalanya sendiri dengan kedua tangannya sehingga pipinya menjadi bengkak-bengkak dan darah mengalir dari mulutnya. Kemudian seperti orang gila dia menubruk maju, lari pesat sekali memasuki rumah dan mengejar ke belakang sambil berteriak-teriak.

"Bu Beng Siocia...! Bu Beng Siocia...!"

Tung-hai Sian-li dan suaminya bertukar pandang dengan muka pucat, kemudian mereka juga berlari cepat mengejar. Akan tetapi mereka tertinggal jauh sekali oleh Wi Liong yang sudah mengejar laksana kilat menyambar cepatnya.

"Bu Beng Siocia...!" Wi Liong berteriak lagi setelah dia dapat mengejar dekat.

"Jangan kejar aku...! Aku tak sudi lagi melihat mukamu...!" Siok Lan berkata dengan isak tangisnya yang menyesakkan dada. Dara ini mengerahkan seluruh ginkang-nya untuk lari secepat mungkin dari tempat dan orang yang sangat dibencinya, karena orang yang amat dicintanya ini telah menghinanya sehebat-hebatnya.

"Tunggu... Siok Lan... tungguuu... siapa sangka kau Siok Lan?" terengah-engah Wi Liong berkata karena pukulan batin yang dideritanya pada saat itu melebihi seluruh tenaga yang ada padanya. Sesudah dapat menyusul, dia cepat menyambar tangan gadis itu dan sekali sentakan saja gadis itu telah didekapnya.

"Bu-beng Siocia... Siok Lan... kau adalah tunanganku sendiri... kau... kau ampunkan aku, Siok Lan..."

Untuk beberapa detik Siok Lan menangis tersedu-sedan di atas dada orang yang paling dicintanya dan sekaligus paling dibencinya itu. Kemudian dia merenggutkan tubuhnya dari pelukan Wi Liong.

"Keparat jahanam tak tahu malu! Jangan kau sentuh aku! Siapa sudi padamu...? Minggir!"

Siok Lan menendang keras sekali dan tepat mengenai perut Wi Liong yang sama sekali tidak mau mengelak atau menangkis. Tubuh pemuda itu terlempar dan membentur batu karang yang berada di belakangnya, roboh terguling-guling. Mukanya yang telah bengkak itu lecet-lecet, akan tetapi dia bangun kembali. Melihat Siok Lan sudah berlari cepat lagi, dia pun melompat dan mengejar.

"Siok Lan... pujaanku... Siok Lan...!" Ia mengejar terus.

Sambil menangis Siok Lan terus berlari. Hati gadis ini terasa hancur. Dulu pada saat dia bertemu dengan pemuda yang menjatuhkan hatinya ini, pemuda yang sebenarnya adalah tunangannya sendiri akan tetapi begitu bodoh sehingga tidak mengenalnya, dia sengaja mempermainkan Wi Liong. Dia sudah bersiap-siap untuk mempermainkan tunangannya, dan pada saat Wi Liong datang ke Poan-kun untuk membatalkan pertunangannya seperti telah dijanjikan pemuda itu kepadanya, dia akan muncul, tidak saja mencegah pemuda itu membatalkan, juga akan mentertawakannya dan dia sudah membayangkan betapa akan lucu kemudian mesra pertemuan itu. Akan tetapi celaka sekali, paman pemuda itu telah mendahuluinya, telah merusak rencananya dengan pembatalan ikatan jodoh!

Kalau paman pemuda itu yang membatalkan hal itu bukan main-main lagi dan merupakan penghinaan besar. Apa lagi kini Wi Liong muncul bukan untuk memenuhi janjinya dahulu, bukan merupakan pemuda yang hendak membatalkan perjodohan karena cinta padanya, tetapi sebagai pemuda utusan pamannya yang meski pun sudah mengakui kesalahannya, namun tetap tidak ada niatan untuk menyambung kembali ikatan jodoh.

Alangkah hebat penghinaan ini dan betapa pun besar cinta kasihnya kepada Wi Liong, tak mungkin ia dapat melanjutkan perjodohan itu. Menyambung kembali berarti mencemarkan kehormatan dan nama orang tuanya, berarti akan menjatuhkan penghinaan yang sebesar-besarnya di atas kepala ayah bundanya yang terkenal sebagai jago-jago dunia kang-ouw!

"Tidak... minggat kau. Aku benci padamu, benciiii...! Tidak dengarkah engkau...?"

Akan tetapi Wi Liong terus mengejar.

Siok Lan adalah seorang gadis yang keras hati, lebih keras dari ibunya. Melihat bahwa tak mungkin ia dapat lari dari Wi Liong yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi darinya, ia menjadi nekat. Dengan gerakan mendadak dia mencabut pedangnya dan membalikkan tubuh lalu sambil memekik. "Mati kau...!" ia menyabetkan pedangnya secara membuta ke arah Wi Liong.

Pemuda ini dalam keadaan setengah sadar karena tekanan batin yang dideritanya amat hebat. Dia tidak mengelak sehingga dengan tepat pedang itu membacok paha kirinya.

"Cappp...!" Wi Liong roboh terguling, darah mengucur deras dari luka di pahanya.


Baiknya pemuda ini sudah menggembleng diri secara hebat sekali sehingga biar pun dia tidak mengerahkan lweekang atau tenaga untuk menahan sabetan, namun hawa sinkang di tubuhnya membuat urat-uratnya kuat dan dagingnya otomatis dapat menahan serangan dari luar sehingga ia hanya menderita luka di luar saja yang berdarah banyak. Lain orang tentu sudah putus pahanya disambar pedang gadis itu.

"Bunuh aku... kau bunuh saja aku...!” kata Wi Liong dengan muka pucat ketika dia roboh terguling.

Melihat darah, Siok Lan menjadi makin kalap. Ia mengangkat pedangnya, siap ditusukkan ke arah leher pemuda yang pada saat itu sangat dibencinya. Akan tetapi pada saat ujung pedang sudah mendekati tenggorokan Wi Liong, pandang mata Siok Lan bentrok dengan sinar mata pemuda itu yang menatapnya penuh kedukaan dan cinta kasih.

Naik sedu-sedan di kerongkongan Siok Lan sehingga membuat tangannya menggigil dan ujung pedang itu menurun, melukai kulit dada Wi Liong dan merobek bajunya. Pada saat itu pula dari jauh sudah muncul Kwa Cun Ek yang berteriak nyaring,

“Siok Lan...!"

Gadis itu kaget, membalikkan tubuh dan lari lagi secepatnya. Wi Liong melompat bangun, agak terpincang namun berkat ginkang-nya yang luar biasa tingginya, sudah dapat berlari lagi cepat sekali walau terpincang-pincang.

Darah menetes di atas tanah, di sepanjang jalan yang dilaluinya. Darah segar, sebagian besar dari paha kirinya dan sebagian dari dadanya. Kepalanya serasa dipukuli palu besar, berdenyut-denyut sakit. Ini adalah akibat pukulannya sendiri tadi, pukulan yang dilakukan dengan keras sekali dan dalam keadaan menyesal, duka dan marah terhadap diri sendiri. Pukulannya ini di luar kesadarannya sudah melukainya sendiri, luka yang tidak seberapa akan tetapi karena mengguncang otak, menjadi hebat dan berbahaya!

Melihat pemuda itu sudah mengejar sampai ke dalam hutan di sebelah timur kota Poan-kun, Siok Lan menjadi bingung. Akhirnya, sesudah napas Wi Liong yang terengah-engah sudah terdengar di belakangnya, Siok Lan mengambil keputusan nekat lalu melompat ke dalam sebuah jurang!

"Bu-beng Siocia...!" Pekik yang dikeluarkan oleh Wi Liong ini hebat sekali, seperti raungan seekor singa terluka.

Dengan kecepatan yang sukar diikuti pandangan mata, pemuda ini melompat, melempar diri terjun ke dalam jurang itu, kedua kakinya mengait akar pohon sedangkan tangannya menangkap tubuh Siok Lan. Semua ini terjadi hanya dalam beberapa detik saja dan apa yang dilakukan oleh Wi Liong ini kiranya hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah tak mempedulikan kematian lagi. Dalam keadaan sadar Wi Liong tidak akan dapat melakukan olehnya, sungguh pun kepandaiannya amat tinggi.

Perbuatan yang dilakukan oleh Wi Liong ini walau pun mengandalkan kepandaian tinggi, tetapi terutama sekali berkat kenekatan yang luar biasa terdorong oleh putus asa. Melihat kekasihnya melempar diri ke dalam jurang, Wi Liong cepat menyusul dan melompat pula. Karena kepandaiannya sangat tinggi, lompatannya demikian cepatnya sehingga dia dapat menyusul Siok Lan dan ketajaman perasaannya membuat ia ingat untuk mengaitkan kaki kepada apa saja yang dapat menahan tubuhnya, kemudian ia berhasil untuk menyambar pinggang Siok Lan pada saat itu juga!

"Lepaskan aku, keparat!" Siok Lan meronta-ronta.

Gadis ini sudah mengambil keputusan nekat untuk mati saja. Dia mempergunakan kedua tangannya untuk memukul, dan kedua kakinya menendang-nendang. Sayang pedangnya sudah terlempar lenyap ketika dia melompat ke dalam jurang tadi, kalau tidak agaknya dia akan menggunakan pedangnya itu.

Betapa pun tinggi kepandaian Wi Liong, akan tetapi jika dipukul dan ditendang oleh gadis yang berilmu tinggi juga, tentu saja dia tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Lebih-lebih karena kaki kirinya terasa lumpuh, agaknya terlampau banyak darah keluar. Kini tubuhnya mulai gemetar menggigil dan sukar baginya untuk mempertahankan diri lagi. Akan tetapi dia tidak mau melepaskan tubuh kekasihnya.

"Jahanam, lepaskan aku!" teriak Siok Lan sambil memukul-mukul lagi sekenanya.

Pada saat itu Kwa Cun Ek dan isterinya sudah tiba di pinggir jurang dengan muka pucat dan napas terengah-engah.

"Lan-ji...!" Kwa Cun Ek berseru kaget melihat keadaan puterinya, dipegang pinggangnya oleh kedua tangan Wi Liong yang menggantungkan kaki pada akar pohon di tebing jurang, kira-kira sepuluh kaki dalamnya dari bibir atas tebing. Apa bila cekalan Wi Liong terlepas, atau kalau pemuda itu jatuh ke bawah... tentu puterinya akan celaka!

"Siok Lan... jangan pukul dia...!"

Tung-hai Sian-li juga memekik kaget dengan wajah pucat. Kemudian wanita yang hampir pingsan ini menyembunyikan mukanya di dada suaminya sambil terisak-isak. Mereka tak berdaya menolong.

Mendengar seruan-seruan mereka, pikiran Wi Liong yang telah gelap dan tidak karuan itu seperti mendapat sinar terang. Cepat ia mencengkeram pinggang gadis itu dengan tangan kiri, melepaskan tangan kanan dan begitu tangan kanannya bergerak, dia sudah menotok jalan darah Siok Lan sehingga gadis ini tak dapat bergerak lagi.

"Kwa-lo-enghiong, awas, terimalah puterimu...!" seru Wi Liong yang mengerahkan seluruh tenaga pada kedua lengannya, kemudian melemparkan tubuh Siok Lan ke atas sepenuh tenaga.

Tubuh itu lalu melayang ke atas melampaui mulut jurang. Kwa Cun Ek cepat menyambar tubuh puterinya yang segera dipeluk dan ditangisi Tung-hai Sian-li. Akan tetapi ketika Kwa Cun Ek menengok ke bawah, dia meramkan matanya melihat betapa berbareng dengan terlemparnya tubuh Siok Lan ke atas, kaitan kaki Wi Liong pada akar itu lantas terlepas dan tubuh pemuda itu meluncur ke bawah sampai lenyap dari pandangan mata!

Kwa Cun Ek menahan napas dan membuka lagi matanya yang menjadi basah. Dia tidak mengerti apakah yang sudah terjadi sebenarnya maka demikian aneh sikap Wi Liong dan Siok Lan. Betapa pun juga, agaknya Wi Liong telah merenggut nyawa Siok Lan dari maut dengan pengorbanan nyawa sendiri. Karena, bagaimana orang masih dapat hidup setelah terjatuh ke dalam jurang yang sedemikian dalamnya?

Akan tetapi dia tak dapat berbuat sesuatu, malah hendak menjaga agar Siok Lan jangan sampai tahu lebih dulu akan kengerian yang terjadi pada diri pemuda aneh itu. Ketika dia memandang puterinya, ternyata pengaruh totokan pada gadis itu sudah dibebaskan oleh ibunya, akan tetapi Siok Lan telah roboh pingsan. Dengan hati tidak karuan rasa, suami isteri itu lalu membawa pulang Siok Lan, kemudian, setelah gadis itu direbahkan di dalam kamarnya dan dirawat oleh ibunya, Kwa Cun Ek lantas pergi ke hutan itu untuk mencari mayat Wi Liong agar dia dapat mengurus penguburannya secara baik-baik.

Walau pun biasanya berhati baja, kali ini Tung-hai Sian-li menyetujui kehendak suaminya, malah mendesak suaminya berangkat cepat-cepat agar jenazah pemuda itu tidak menjadi korban binatang buas. Pesanan ini dia ucapkan dengan air mata berlinang.

Akan tetapi, menjelang senja Kwa Cun Ek pulang dengan muka lesu dan tangan kosong. Isterinya menyambut di ruangan depan.

"Lan-ji sudah siuman, sejak tadi menangis saja tapi sekarang sudah tertidur. Bagaimana usahamu mencarinya...?" berkata Tung-hai Sian-li perlahan.

Kwa Cun Ek menggeleng kepalanya dengan muka sedih. "Agaknya kekhawatiranmu telah terbukti. Aku hanya melihat bekas-bekas darah dan robekan-robekan pakaian, tapi... tapi tidak menemukan jenazahnya, agaknya... aku takut... jenazahnya telah digondol binatang buas..." Kwa Cun Ek tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi karena keharuan membuat kerongkongannya tersumbat.

Tung-hai Sian-li mendekap mulut sendiri agar jangan mengeluarkan suara tangisan. Akan tetapi dari celah-celah jari dan ujung lengan baju yang dipakai menutupi mulut dan mata, tampak mengalir butiran-butiran air mata.

Keharuan suami isteri ini diakhiri dengan tidur karena lelah. Baru menjelang subuh mereka dapat tidur. Tekanan-tekanan batin membuat mereka amat lelah. Setelah mereka bangun, keharuan itu berganti dengan kepanikan dan gelisah karena kamar Siok Lan telah kosong! Gadis itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas!

"Siok Lan...!" Tung-hai Sian-li menjerit kemudian di lain saat wanita ini sudah berlari cepat meninggalkan rumahnya.

"Hui Goat...!" Suaminya memanggil sambil mengejair keluar.

"Aku tidak akan pulang sebelum bertemu dengan Siok Lan!" kata Tung-hai Sian-li sambil mempercepat larinya.

Kwa Cun Ek menarik napas panjang berkali-kali sambil berdiri mematung di depan rumah. Sejenak kemudian beberapa orang tetangga melihat orang gagah ini pergi meninggalkan rumahnya sambil menggendong sebuah bungkusan kuning terisi bekal perjalanan.

Sesudah Siok Lan dan Tung-hai Sian-li pergi, untuk apa dia tinggal di rumah? Dia harus menemukan mereka, kalau tidak, biar dia tak usah pulang, sampai mati...!

Memang peruntungan manusia tidak menentu, berputar seperti roda, sebentar di atas dan sebentar di bawah. Ini mengingatkan orang agar jangan menjadi congkak sombong pada waktu jaya dan jangan putus asa dan kecil hati di waktu menderita…..

********************

"Pak tua, tolong kau urus baik-baik kudaku ini, aku hendak mendaki ke puncak. Ini uang untuk biayanya. Kalau nanti aku turun dan mendapatkan kudaku terawat baik-baik, maka akan kuberi hadiah lagi. Dan sekalian aku titip sekantong uang ini, awas jangan hilang," Demikian pesan Kun Hong kepada seorang petani miskin yang tinggal di kaki Bukit Wuyi-san.

Tentu saja petani tua yang miskin itu sangat girang menerima hadiah uang perak hanya untuk meiawat kuda beberapa hari saja. Namun kegirangannya ini menjadi ketakutan dan kekhawatiran ketika dia melihat sekantong uang perak dan emas itu dititipkan kepadanya. Selama hidup, sampai lima puluh tahun lebih, jangankan melihat, dalam mimpi pun belum pernah dia melihat uang sebanyak itu!

Sesudah Kun Hong pergi, dengan badan menggigil petani itu menyimpan sekantong uang itu ke dalam biliknya di dalam pondoknya yang butut. Memang sungguh aneh, orang yang begitu miskin dan tinggal di dalam pondok yang begitu butut tetapi menyimpan uang emas dan perak yang kalau dibelikan pondok seperti itu, kiranya bisa mendapat beberapa ratus buah berikut tanahnya! Padahal untuk makan setiap harinya saja kadang-kadang kakek ini terpaksa berpuasa karena tidak ada yang dimakan.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner