IMBAUAN PENDEKAR : JILID-01


Sang surya memancarkan cahayanya yang cerlang cemerlang, akan tetapi Li-toh-tin, kota kecil dengan hotel satu-satunya, Li-keh-can serta bangunan berloteng kecil yang berada di seberangnya telah berubah menjadi tumpukan puing.

Saat itu Ji Pwe-giok dan Cu Lui-ji sedang bersembunyi di dalam tungku Li-keh-can yang tidak terbakar dan asyik mengisahkan pengalaman masing-masing pada masa lampau.

Melalui lubang tungku yang biasanya digunakan untuk menambah kayu bakar itu dapatlah mereka melihat segala apa yang terjadi di luar.

Tiba-tiba mereka mendengar suara langkah orang. Empat laki-laki berbaju hitam tampak masuk ke Li-keh-can yang sudah hancur ini.

Keempat orang ini semuanya tegap dan kekar, langkahnya cepat, tetapi kaki serta tangan tampak kasar dan besar, kulit badannya amat hitam, sekali pandang saja dapat diketahui mereka pasti sudah biasa bekerja kasar. Meski tubuh mereka kasar dan kuat, akan tetapi soal ilmu silat pasti tidak tinggi, bisa jadi belum lama mereka ikut berkecimpung di dunia kangouw. Untuk memimpin orang-orang semacam ini sudah tentu jauh lebih mudah dari pada memerintah orang kangouw kawakan.

Seorang yang berjalan paling depan membawa sebuah tombak, di belakangnya seorang membawa sejenis senjata garpu, dua orang lagi membawa golok dan perisai.

Begitu masuk ke hotel yang sudah berbentuk puing itu, mereka langsung membacok dan menabas kian kemari di sekeliling tumpukan puing itu, kelakuan mereka seperti ingin tahu kalau-kalau di dalam tumpukan puing itu tersembunyi orang.

Lui-ji memandang Pwe-giok sekejap, meski pun tidak bersuara namun di dalam hati jelas si nona sangat memuji tindakan Pwe-giok yang amat teliti dan hati hati. Apa bila mereka bersembunyi di tempat lain, bukan mustahil saat ini sudah dipergoki orang.

Terdengar orang yang membawa tombak tadi tertawa lantas berkata, “Tindakan Tongcu terasa agak berlebihan. Sesudah pembakaran ini, mana ada orang yang bersembunyi di sini?”

Orang yang membawa garpu menanggapi dengan tertawa, “Apa kau kira tindakan Tongcu ini adalah kehendaknya sendiri?”

“Bukan kehendaknya sendiri, memangnya kehendak siapa?” tanya orang yang membawa tombak.

Tiba-tiba orang yang membawa garpu itu mendesis, “Akan kuceritakan, tetapi kalian tidak boleh bilang lagi kepada orang lain. Keluarnya Tongcu sekali ini konon hanya karena ingin membantu orang she Ji yang menjabat Bu-lim-bengcu itu.”

“Masa membakar juga atas kehendaknya?” ujar yang membawa tombak.

“Dengan sendirinya juga kehendaknya,” kata yang membawa garpu. “Jika tidak untuk apa jauh-jauh Tongcu datang ke kota kecil ini untuk membakar?”

Baru sekarang Pwe-giok dan Lui-ji mengetahui bahwa keempat orang ini bukan anak buah Ji Hong-ho. Bahwa orang lain yang disuruh membakar oleh Ji Hong-ho, maka selanjutnya tanggung jawab ini dapat dibebankan kepada orang itu.

Sambil bicara beberapa orang itu lantas menuju keluar.

Lui-ji menghela napas gegetun, ucapnya dengan suara tertahan, “Ji Hong-ho benar-benar licik, mau berbuat apa pun selalu mengatur jalan mundur secara rapi, jika orang lain yang menanggung dosanya, tentu kedudukan Bu-lim-bengcunya takkan terganggu sedikit pun.”

“Ya, memang,” tukas Pwe-giok, “perbuatan apa pun, baik membunuh atau membakar, dia selalu mendalangi di belakang layar, tetapi apa bila terbongkar tentu orang lain juga yang menanggung dosanya.”

“Kalau untuk membunuh dia mencari Lo-cinjin, lalu siapa yang dia cari untuk membakar?” kata Lui-ji. “Dan... siapa pula ’Tongcu’ yang disebut-sebut tadi?”

Pwe-giok berpikir, lalu berkata, “Mungkin pemilik ’Pi-lik-tong’ dari Kang-lam yang terkenal sebagai ahli dan pembuat mesiu yang tiada bandingnya di dunia ini, kalau bukan dia yang membakar, tidak mungkin api menjalar secepat ini.”

“Tahukah kau siapa pemilik Pi-lik-tong itu?” tanya Lui-ji.

“Lui Hong,” jawab Pwe-giok.

“Pi-lik-tong, Lui Hong... Pi-lik-tong, Lui Hong...” Lui-ji berguman mengulang-ulang nama itu hingga belasan kali seolah-olah kuatir akan lupa lagi.

“Akan kau tuntut balas padanya?” ucap Pwe-giok sambil berkerut kening.

“Meski pun dia bukan biang keladi dalam persoalan ini, tapi bagaimana pun juga dia yang turun tangan membakar rumahku,” kata Lui-ji dengan perlahan. “Bila tidak kubalas bakar ludes rumahnya, kan kurang adil.”

Pwe-giok termenung sejenak, tanpa terasa dia menghela napas panjang.

Perangai anak dara ini ternyata sedemikian keras dan tinggi hati, bila mana orang berbuat salah padanya, maka akan terukir di dalam lubuk hatinya. Usianya sekarang masih kecil, bila dia mengembara seorang diri, betapa pun akan membuat orang merasa kuatir.

Dalam pada itu, mendadak di kejauhan sana ada seorang bergelak tertawa dan berseru, “Aha…! Lui-cu-sin-hwe (api sakti mutiara geledek) dari Pi-lik-tong memang tidak bernama kosong, baru hari ini terbuka mataku, sungguh sangat mengagumkan...”

Jelas itulah suara Lim Soh-koan, dia sengaja berbicara dengan suara keras seperti orang yang berteriak, seakan-akan kuatir bila mana orang tidak tahu bahwa Lui Hong yang telah membakar Li-toh-tin ini.

Lalu seorang terbahak-bahak dan menanggapi. “Hanya setitik api ini saja mungkin sudah meludeskan bahan berlaksa tahil perak kami.”

Suara tertawa ini penuh rasa bangga dan senang, jelas dia inilah Lui Hong, pemilik pabrik mesiu Pi-lik-tong di Kang-lam yang terkenal.

Lui-ji mendengus, omelnya, “Orang she Lui ini ternyata maha tolol, orang lain memperalat dan menonjolkan dia kepada musuh, tapi dia malah merasa bangga.”

“Ssst,” desis Pwe-giok, “mata dan telinga orang-orang itu sangat tajam, hendaklah jangan bersuara.”

Sementara itu kelihatan beberapa orang sedang melangkah mendekat sambil bersenda-gurau.

Terlihat Ji Hong-ho berjalan di depan bersama seorang tua yang gagah berjubah merah tua. Lim Soh-koan dan beberapa orang lagi mengintil di belakang. Kakek berjubah merah ini melangkah dengan lagak tuan besar, seolah-olah dia yang paling jempolan di dunia ini.

Hendaklah diketahui bahwa Pi-lik-tong ini sangat terkenal di dunia persilatan, bukan saja senjata rahasianya yang berwujud mesiu sangat ditakuti, bahkan juga berusaha menjual bahan peledak dan sebagainya sehingga mengeduk keuntungan yang tidak sedikit, maka kekayaan keluarga Lui yang memiliki pabrik mesiu itu sudah sukar dihitung. Sebab itulah Lui Hong yang sudah biasa hidup senang dan amat dihormati itu merasa dirinya sebagai seorang tokoh jempolan.

Ke empat orang berseragam hitam yang masuk ke Li-keh-can tadi kini berdiri di tepi jalan dan menyambut kedatangan sang majikan dengan hormat.

“Ditemukan orang atau tidak?” tanya Lui Hong sambil mengerling anak buahnya.

“Kecuali perempuan tadi tidak diketemukan orang lain lagi,” jawab orang yang memegang tombak tadi.

“Bagus, mundur saja kalian,” kata Lui Hong.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas menyesal. Perempuan yang dimaksudkan mereka itu tak perlu disangsikan lagi pasti Gin-hoa-nio adanya. Meski sejak semula ia sudah tahu Gin-hoa-nio tentu sukar meloloskan diri, kini sesudah terbukti benar, hatinya tetap merasa tidak enak dan rada menyesal. Betapa pun juga kedatangan Gin-hoa-nio ini kan bersama dengan dirinya?

Dilihatnya ke empat lelaki berseragam hitam tadi masih berdiri dengan kepala tertunduk di tepi jalan, sedangkan rombongan Lui-hong sudah lalu ke sana.

Lim Soh-koan yang membuntuti paling akhir mendadak tersenyum, lantas berkata kepada keempat orang itu, “Kalian tentunya sama lelah.”

“Ah, biasa saja,” ucap salah seorang itu dengan hormat.

“Melihat cara kalian yang amat cekatan, tampaknya kalian tidak cuma sekali dua kali saja membereskan tempat kebakaran, makanya pengalaman kalian sedemikian banyak,” kata Lim Soh-koan pula.

“Betul,” jawab orang tadi. “Pekerjaan ini bagi kami boleh dikatakan pekerjaan biasa, hanya pekerjaan rutin saja.”

Mendadak Lim Soh-koan menarik muka, katanya dengan pelahan, “Perbuatan membakar dan membunuh begini kalian anggap pekerjaan rutin?”

Orang itu jadi melengak, barulah air mukanya berubah.

“Creng!” tahu-tahu Lim Soh-koan sudah lolos pedangnya dan secepat kilat menusuknya.

Leng-hoa-kiam andalan Lim Soh-koan terkenal cepat luar biasa, mana bisa empat orang itu berkelit, apa lagi mimpi pun mereka tidak mengira akan diserang oleh Lim Soh-koan.

Maka terlihatlah sinar pedang berkelebat, “sret-sret-sret-sret” empat kali susul menyusul, lantas terdengar empat kali jeritan disertai berhamburnya darah. Keempat orang itu sudah menggeletak tak bernyawa dan menjadi empat setan penasaran karena tidak tahu sebab apa mereka terbunuh.

Keruan Lui Hong terkejut, dia berpaling dan berteriak, “He, Lim Soh-koan. ap... apa yang kau lakukan?”

Lim Soh-koan mengeluarkan sapu tangan putih dari saku bajunya dan pelahan mengusap darah yang mengotori pedangnya, kemudian berkata dengan suara bengis, “Di hadapan Bengcu, orang-orang ini berani main bakar rumah rakyat yang tak berdosa, maka dapat dibayangkan betapa sewenang-wenangnya pada hari-hari biasa. Jika mereka tidak cepat dibinasakan, apakah harus dibiarkan mereka membikin celaka rakyat jelata lebih banyak lagi?!”

“Apa... apa maksudmu ini?!” teriak Lui Hong dengan gusar.

“Bengcu, coba... coba dengarkan apa ucapannya itu.”

Dengan tak acuh Ji Hong-ho menjawab, “Ucapannya memang benar, setiap pengganas yang suka main bunuh dan bakar pantas dibinasakan oleh siapa pun juga.”

Lui Hong menyurut mundur dua tindak, serunya dengan wajah pucat, “Tapi... tapi engkau sendiri yang merencanakan pembakaran Li-toh-tin ini, kaulah yang mengupah Pi-lik-tong kami dengan lima laksa tahil perak dan menyuruh kami meledakkan tempat ini, kenapa... kenapa sekarang kau malah menuduh kami yang bersalah?’

Ji Hong-ho tampak berkerut kening lantas mendamprat pelahan, “Huh, tindakan orang she Ji selamanya selalu terang-terangan, mana bisa jauh-jauh mengundang kau ke sini untuk melakukan hal yang tidak terpuji ini, Kau sembarangan menuduh orang, jangan menyesal kalau Bengcu-mu ini terpaksa bertindak untuk menumpas kejahatan bagi dunia kangouw.”

Keringat tampak memenuhi kepala Lui Hong, teriaknya dengan suara parau, “Kau... kau... manusia munafik, bangsat yang berlagak kesatria, kena... kenapa kau sengaja menjebak diriku? Kau...”

Belum habis kata-katanya, sinar pedang sudah bergulung menyambar tiba. Dengan suara bengis Lim Soh-koan mendamprat, “Alangkah beraninya kau bicara kotor kepada Bengcu, melulu dosamu ini saja sudah harus dihukum mati.” Hanya dua tiga kalimat ia bicara, tapi pedangnya sudah menyerang tujuh atau delapan kali.

Meski pada pinggang Lui Hong juga tergantung sebatang golok, tetapi kesempatan untuk menghunus golok saja tidak ada, tahu-tahu pundaknya sudah terluka. Sembari berkelit ia terus berteriak teriak,

“Kalian semua yang hadir di sini apakah cuma bisa menyaksikan aku dibinasakan secara begini? Dimana lagi letak keadilan dunia kangouw?”

Tapi orang-orang yang ikut datang bersama mereka itu semuanya berlagak memandang ke langit seolah-olah tidak melihat dan mendengar apa pun.

Sementara itu jubah merah Lui Hong telah terkoyak-koyak, sebuah kopiah emas pengikat rambut juga sudah terbatas putus, rambutnya semrawut seperti orang gila.

Meski nama Pi-lik-tong sangat terkenal, tapi bukan unggul dalam hal ilmu silat melainkan karena mesiunya. Dari orang tuanya Lui Hong menerima warisan yang amat besar, sejak kecil dia sudah hidup senang, hampir tidak pernah berlatih silat dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya Lim Soh-koan adalah ahli pedang yang amat berpengalaman, hakekatnya dia tidak memberi kesempatan kepada Lui Hong untuk mencabut goloknya.

Setelah terserang belasan kali lagi, kini napas Lui Hong sudah megap-megap dan mandi keringat. Mendadak ia tertawa latah dengan suara serak, teriaknya. “Bagus orang she Ji, kau hendak membunuhku untuk menghilangkan saksi, biarlah kusempurnakan niatmu ini!” Habis berkata segera dia menubruk maju menyongsong ujung pedang Lim Soh-koan.

Rupanya dia tidak tahan serangan lawan sehingga menjadi nekat, maka tanpa ampun lagi pedang menembus dadanya. Waktu Lim Soh-koan menarik pedangnya, seketika darah segar menyembur seperti air mancur.

Sambil mendekap dada Lui Hong lantas mundur terhuyung-huyung, matanya yang merah menyapu pandang sekejap kepada semua orang, teriaknya pula dengan suara pedih,

“Bagus, bagus! Akhirnya baru kukenal betul kalian yang sok mengaku sebagai pendekar berbudi ini!”

Sedemikian seram tertawanya hingga membuat orang merinding.

Tak terasa lagi Lui-ji menggenggam tangan Pwe-giok dengan telapak tangan berkeringat dingin, sebaliknya tangan Pwe-giok juga dingin seperti es.

Dalam pada itu dari jauh tampak berlari datang dua orang, meski pun kedua orang ini juga memakai baju hitam ketat, tapi air mukanya kaku dingin, sorot matanya lebih-lebih dingin sehingga mirip orang yang memakai topeng. Tampaknya mereka bukan anak buah Pi-lik-tong melainkan begundal Ji Hong-ho sendiri, tampaknya mereka pun membawa semacam senjata, sesudah dekat baru diketahui masing-masing membawa sebuah cangkul.

Lim Soh-koan menyimpan kembali pedangnya, lalu berkata, “Beberapa mayat ini tak perlu dikubur, bawa saja dan perlihatkan kepada segenap penduduk Li-toh tin, katakan Bengcu kita telah menjatuhkan hukuman setimpal kepada penjahat yang main bakar. Akan tetapi segala kerugian di Li-toh-tin tetap akan diusut oleh Bengcu untuk mendapatkan ganti rugi sepenuhnya.”

Kedua orang tadi mengiakan sambil memberi hormat.

Tiba-tiba dari balik tumpukan puing sana ada orang berkeplok tertawa, “Ha-ha-ha, bagus, bagus, bagus sekali! kata ’usut’ ini sungguh istilah yang sangat indah!”

Berubah air muka Lim Soh-koan, sambil meraba pedangnya, ia membentak, “Siapa itu?!”

“He-he-he, Lim-tayhiap tidak perlu terkejut, aku tidak lebih hanya setengah potong nenek yang sudah hampir masuk liang kubur,” ucap orang itu dengan terkekeh-kekeh. “Jika Lim-tayhiap juga ingin membunuh diriku sekalian untuk melenyapkan saksi hidup, kukira lebih mudah dari pada memites mati seekor semut.”

Dari suaranya tahulah Pwe-giok dan Lui-ji bahwa pembicara itu ialah Oh-lolo.

Lui-ji menggertak gigi hingga gemerutuk, badan pun terasa gemetar.

Pwe-giok tahu anak dara ini membenci nenek keji itu sampai merasuk ke tulang, pelahan ia menepuk tangan Lui-ji agar anak dara ini bersabar.

Tangan yang kecil ini terasa dingin sekali, tanpa terasa timbul pula rasa kasihan Pwe-giok sehingga dipegangnya hingga lama.

Lui-ji malah langsung menunduk dan tidak memandangnya, entah mengapa tangan kecil yang dingin itu mendadak berubah menjadi panas membara.

Namun Pwe-giok tidak lagi memperhatikan perubahan ini, sebab pada waktu itu Oh-lolo kelihatan muncul dengan langkahnya yang reyot, dari mulutnya terdengar suara “krat-krut” seperti sedang makan kacang goreng.

Sembari berjalan nenek itu pun berkeluh kesah, “Ai, semakin ompong seseorang semakin suka makan kacang pula. Sesuatu yang tak dapat dilakukan, semakin menarik pula untuk dikerjakan. Tampaknya setiap orang memang mempunyai bakatnya sendiri-sendiri, betul tidak menurut kalian?”

Tadinya Lim Soh-koan bermaksud memburu maju, tapi demi melihat pendatang ini benar-benar seorang nenek yang sudah hampir masuk liang kubur, dia batal mendekatinya dan menantikan perkembangan selanjutnya dengan tenang.

Betapa pun dia seorang kangouw kawakan, dia tahu semakin aneh seseorang, semakin tidak boleh diremehkan dan direcoki, terutama sebangsa nenek-nenek dan kakek-kakek.

Air muka Ji Hong-ho tampak berubah juga, tapi sedapatnya ia tersenyum dan menyapa, “Cianpwe ini apakah...”

Belum selesai dia berucap, berulang Oh-lolo menggoyang tangannya dan berseru, “Wah, janganlah Ji-tayhiap menyebut Cianpwe padaku, Nenek konyol macam diriku ini mana ada rejeki untuk menjadi Cianpwe bagi seorang Bu-lim-bengcu. Sebutan Cianpwe barusan ini sedikitnya akan mengurangi umurku sepuluh tahun, bila mana kau panggil sekali lagi, bisa jadi nenek reyot ini akan menghadap Giam-lo-ong (Raja Akhirat).”

Meski bicaranya amat pelahan, tapi ia seperti sengaja tidak memberi kesempatan bicara bagi orang lain. Belum habis kata-katanya tadi, tatapannya sudah beralih lagi ke arah Lim Soh-koan, kemudian menyambung, “Nama besar Leng-hoa-kiam Lim-tayhiap sudah lama kukagumi, tapi yang keketahui adalah ilmu pedang Lim-tayhiap maha cepat, sama sekali aku tidak tahu bahwa Lim-tayhiap juga seorang ahli bahasa. Istilah ’usut’ tadi benar-benar tepat sekali dan sukar dicari di dalam kamus.”

Sudah tentu Lim Soh-koan merasakan kata-kata yang bernada menyindir itu, terpaksa ia hanya menyengir dan menjawab, “Tapi Cayhe tidak merasakan ada keistimewaan pada istilah itu.”

“Hanya istilah yang tepat saja baru kelihatan keindahannya, meski istilah itu hanya satu kata yang biasa,” ucap Oh-lolo dengan tertawa. Dia tunjuk puing yang masih mengepul itu sambil menyambung pula, “Di situ tadinya adalah sebuah toko kelontong, meski pun tidak besar, tapi persediaan barangnya cukup banyak dan beraneka ragamnya, nilainya paling tidak ada beberapa ribu tahil perak, betul tidak?”

“Perkiraan Cianpwe tentunya tidak salah,” ujar Lim Soh-koan dengan mengiring tawa.

“Toko yang serupa ini kukira ada belasan buah di Li-toh-tin ini, bahkan ada pula beberapa keluarga hartawan tinggal di sekitar sini, maka kobaran api sedikitnya sudah meludeskan beberapa puluh laksa tahil perak, betul tidak?”

“Taksiran Cianpwe tentunya benar,” kembali Lim Soh-koan mengiakan.

“Dan beberapa puluh laksa tahil perak yang ludes terbakar itu seharusnya adalah menjadi tanggung-jawab paduka tuan Bengcu kita ini untuk menggantinya, tetapi anda tadi cuma menyatakan akan usut kejadian ini, maka tanggung-jawab memberi ganti rugi ini akan kau bebankan kepada orang lain,” sampai di sini Oh-lolo tertawa terkekeh-kekeh pula. “Lantas cara bagaimana akan kau usut? Siapa yang harus diusut? Kukira tidak perlu ditanyakan lagi, dengan sendirinya adalah Pi-lik-tong di Kang-lam sana. Harta kekayaan Pi-lik-tong sudah tentu tak cuma berpuluh laksa tahil perak saja, sepuluh kali lipat kukira juga lebih, maka setelah mengganti kerugian Li-toh-tin yang terbakar ini tentu masih tersisa sebagian besar. Dengan demikian maka paduka tuan Bengcu kita tidak saja sudah menjadi orang yang maha bijaksana dan berbudi luhur karena sudah membela penduduk Li-toh-tin yang menjadi korban, bahkan beliau sendiri juga akan mendapat rejeki nomplok. He-he, jual beli cara begini sungguh nenek reyot macam diriku ini pun ingin melakukannya.”

Air muka Lim Soh-koan dan lain-lain sudah sama berubah, tetapi Ji Hong-ho masih tetap tak acuh. Dengan tersenyum dia berkata, “Jika demikian, bolehlah kuserahkan jual-beli ini kepada Hujin (nyonya).”

“Hujin?” Oh-lolo menegas. “He-he-he, mengapa kau sebut Hujin padaku? Padahal selama hidupku ini belum pernah kawin. tahu tidak bahwa sampai saat ini aku ini masih perawan tulen. Ya, apa boleh buat, sudah tua begini, ingin menjadi Hujin rasanya juga sudah tidak ada yang mau lagi.”

Ji Hong-ho tersenyum dan berkata pula, “Kalau begitu ada keperluan apakah kedatangan nona? Katakan saja terus terang, tentu akan kupenuhi.”

“Nona? Ha-ha-ha! Nona?!” Oh-lolo tertawa terpingkal-pingkal. “Sedikitnya sudah 50 tahun tidak ada yang memanggil nona padaku. Panggilanmu ini membuat seluruh ruas tulangku seolah-olah lepas semua, cukup dengan panggilanmu ini maka nenek sudah tak tega lagi mencari perkara padamu, kau tidak perlu kuatir.”

Meski Ji Hong-ho masih tetap tersenyum, tapi beberapa begundalnya sudah tidak tahan.

Seorang bernama ‘Bu-eng-cu’ To Hui, si tanpa bayangan, langsung membentak dengan gusar, “Kalau Bengcu bersikap baik hati padamu, hendaklah kau pun jangan terlalu latah, walau pun benar kau mempunyai sejurus dua, kukira Bengcu dan Lim-tayhiap juga tidak pandang sebelah mata, hendaklah kau tahu diri sedikit.”

“He-he, nenek reyot biasanya cukup tahu diri,” ujar Oh-lolo dengan tertawa, “Jangankan di sini telah berkumpul sekian banyak kesatria dan pahlawan besar, melulu seorang Bu-eng-cu To Hui saja sudah lebih dari cukup untuk membereskan nenek reyot macam diriku ini.”

To Hui hanya mendengus saja.

Oh-lolo menghela napas, katanya pula, “Cuma nenek reyot mungkin sudah bosan hidup, makanya berani datang ke sini. Kuharap To-toaya sekalian sempurnakan harapanku saja, berikan sekali bacokan padaku.”

Tanpa terasa To Hui memandang sekejap ke arah Ji Hong-ho, seperti ingin tanya apakah sang Bengcu tahu asal-usul nenek ini. Akan tetapi wajah Ji Hong-ho tidak memperlihatkan sesuatu perasaan pun, mulut juga membungkam tanpa komentar.

Dalam pada itu si nenek malah terus berjongkok sibuk makan kacangnya, tampaknya tak ada sesuatu yang ditakutinya, seperti juga memang sudah bosan hidup dan menunggu orang membunuhnya.

To Hui berdehem dua kali, lalu tertawa dan berkata, “Kalau kau kenal namaku, tentunya kau tahu orang she To tak akan sembarang menyerang kau. Bila kubunuh seorang nenek macam kau ini, kalau tersiar, bukankah akan ditertawakan oleh kawan dunia kangouw?”

Oh-lolo terkekeh-kekeh, katanya, “He-he, tadinya kukira To-toaya ini seorang tokoh yang gilang-gemilang, siapa tahu kau tidak lebih hanya seekor beruang yang main gertak saja. Kalau seorang nenek saja tidak berani kau hadapi, kalau kelak tersiar, tidakkah kau akan lebih-lebih ditertawakan?”

Lim Soh-koan dan si berewok she Hiang saling pandang sekejap, lantas sama tersenyum. Senyuman mereka inilah yang membikin panas hati To Hui.

Dia menjadi murka sekali pun tahu si nenek pasti bukan orang yang mudah direcoki, biar pun diketahuinya orang lain hendak menggunakan dia sebagai batu penguji untuk menjajal kemampuan si nenek.

Tapi ia tidak tahan lagi, mendadak ia meraung terus menerjang si nenek, bentaknya, “Kau sendiri yang cari mampus, jangan kau sesalkan orang she To!”

Kalau dia berjuluk ‘Bu-eng-cu’ atau si tanpa bayangan, maka ginkang-nya pasti juga tidak rendah.

Di tengah berkelebatnya bayangan, serentak golok juga sudah dicabutnya, baru lenyap suaranya, tahu-tahu dia pun sudah berada di depan Oh-lolo, kegesitannya memang cocok dengan julukannya sebagai ‘si tanpa bayangan’.

Orang hanya sempat melihat sinar golok berkilat membacok Oh-lolo, tidak juga kelihatan si nenek berdiri, bahkan tidak nampak dia melakukan sesuatu gerakan. Tetapi mendadak suara raungan To Hui terhenti di tengah jalan, sambil berjumpalitan di udara To Hui lantas melompat mundur dengan tangan mencengkeram leher sendiri serta mata melotot lebar seperti mata ikan mas. Dada juga naik-turun, napasnya seperti mau putus.

Tiada seorang pun yang tahu mengapa mendadak To Hui bisa berubah menjadi demikian, semua orang saling pandang dengan bingung dan terkejut.

Waktu memandang Oh-lolo, nenek itu masih tetap berjongkok pada tempatnya dan asyik makan kacang, sambil menggeleng kepala ia berkata, “Ai, dasar anak rakus, hanya kuberi persen satu biji kacang goreng, lalu dia tidak sampai hati membunuhku. Agaknya kacang goreng si nenek sangat enak sekali rasanya.”

Baru sekarang semua orang tahu bahwa pada saat To Hui meraung tadi, si nenek sudah menjentik satu biji kacang ke mulutnya. Sampai-sampai tokoh macam Lim Soh-koan juga tidak melihat cara bagaimana Oh-lolo mengerjai To Hui.

Diam-diam Pwe-giok membatin, “Sungguh luar biasa, cara menyambitkan senjata rahasia begini mungkin Tong Bu-siang pun akan mengaku tidak sanggup.”

Berpikir demikian baru sekarang dia ingat kepada Tong Bu-siang gadungan yang ternyata tidak turut serta di dalam rombongan Ji Hong-ho ini. Apa yang terjadi selama dua hari ini sungguh terlalu banyak sehingga membuatnya hampir lupa segalanya. Padahal Tong Bu-siang gadungan itu satu-satunya petunjuk baginya untuk menyelidiki seluk beluk muslihat keji komplotan jahat yang menghancurkan keluarganya itu. Lantaran ikut campur urusan orang lain sehingga melupakan urusan penting pribadi.

Lui-ji merasa kedua tangan Pwe-giok tiba-tiba berubah lebih dingin, mukanya juga penuh keringat yang menghiasi dahinya. Perlahan-lahan dia mengusap dahi pemuda itu dengan sapu tangannya. Tetapi Pwe-giok masih menatap ke depan sana, seperti tidak merasakan apa yang dilakukan anak dara itu.

Dalam pada itu butiran keringat yang memenuhi jidat To Hui jauh lebih banyak dari pada keringat yang diusap Lui-ji tadi. Kini golok pun sudah dibuangnya, kedua tangan mencekik leher sendiri dan dia berteriak dengan suara parau,

“Kacang... ka...”

“Ai, apakah barang kali kacangku telah membikin To-tayhiap jadi keselak?” tanya Oh-lolo sambil tertawa. “Kenapa tidak To-tayhiap tumpahkan keluar?”

Namun mendadak To Hui meraung murka seperti orang gregetan, tangannya dimasukan ke dalam mulut, tampaknya seperti hendak mengorek keluar kacang yang menyangkut di kerongkongannya, tentu saja ia terbatuk-batuk dan muka pun merah padam seperti orang yang tak dapat bernapas.

Maklum, tangannya terlampau besar, meski dia mengorek sebisanya, tetap sukar baginya untuk mengeluarkan biji kacang yang sudah tertelan itu, suara batuknya makin kerap dan bertambah keras, air muka dari merah berubah menjadi biru, air matanya dan ingus juga bercucuran. Sekonyong-konyong tubuhnya mengejang, setelah itu mendadak ia meraung keras-keras.

“Krek-krek!”

Berbareng dengan suara gemertak di mulutnya ini, ia terus roboh terlentang. Darah segar muncrat dari mulutnya, kedua tangannya bergerak-gerak seperti orang gila, darah lantas terpercik dari jarinya seperti hujan gerimis.

Ternyata tangan kanannya tersisa dua buah jari saja, rupanya ketiga jari yang digunakan mengorek kerongkongan tadi telah dikertaknya hingga putus.

Si berewok she Hiang bermaksud membangunkan rekannya itu, tapi baru maju dua tindak dia malah segera menyurut mundur lagi tiga tindak, sebab mendadak ia teringat sesuatu. Tanyanya kepada Lim Soh-koan, “Apakah... apakah kacang itu beracun...?”

Lim Soh-koan hanya mengangguk saja tanpa menjawab.

Tiba-tiba saja terdengar suara krak-kruk orang yang mengunyah sesuatu, rupanya To Hui sedang mengganyang jarinya sendiri. Mungkin saking tersiksanya hingga dia tak sanggup bertahan lagi.

Melihat racun si nenek sedemikian keji dan lihay, semua orang sama berkeringat dingin dan tiada satu pun berani bicara.

Dengan adem-ayem Oh-lolo lalu berkata sambil tertawa, “Wah, kacang goreng dimakan bersama jari, rasanya pasti lain dari pada yang lain. Bagus juga caramu makan enak ini, selama hidup nenek justru tidak pernah makan cara begini.”

Melihat muka To Hui penuh berlumuran darah, mendengar pula suaranya mengganyang jari sendiri, tentu saja semua orang merasa mual. Kini Oh-lolo menambahi lagi kata-kata demikian, maka si berewok Hiang menjadi tidak tahan lagi dan mendadak dia berlari ke pinggir sana kemudian tumpah-tumpah.

Pada waktu dia berpaling kembali, tangan To Hui sudah tidak dapat bergerak lagi, suara mengunyah juga tidak terdengar lagi, yang masih terdengar hanya suara napasnya yang lemah.

Sejenak kemudian suara napas itu pun lenyap, darah yang mengalir dari ujung mulut dan dari jari putus To Hui telah berubah pula menjadi warna hitam seperti tinta.

Oh-lolo menghela napas, gumamnya “Tidak kusangka seorang jago ternama seperti Bu-eng-cu To Hui juga tidak tahan keselak satu biji kacang goreng!”

Tiba-tiba Ji Hong-ho menghela napas panjang dan berucap, “Kiranya Oh-lolo yang tiba!”

Mendengar nama ‘Oh-lolo’ disebut, seketika semua orang berteriak kaget.

Sebaliknya Oh-lolo sendiri lantas terkekeh-kekeh, katanya, “Dari ucapanmu ini, agaknya baru sekarang kau kenal aku ini Oh-lolo?”

“Hendaknya Lolo sudi memaafkan bila mana kami punya mata tapi tak bisa melihat,” ucap Ji Hong-ho.

Oh-lolo menatapnya lekat-lekat, seperti baru pertama kali ini melihatnya. Wajahnya yang penuh keriput tapi bersifat licin itu pun menampilkan rasa kejut dan heran.

Meski Ji Hong-ho masih tetap tersenyum, tetapi jelas juga merasa tidak tenteram karena dipandang setajam itu oleh si nenek, siapa pun akan merasa tidak enak dipandang oleh mata yang licik dan licin seperti mata rase tua itu.

Akhirnya Oh-lolo menghela napas, katanya sambil menggeleng, “Sungguh kau seorang yang amat hebat, sampai si nenek juga tak dapat memahami dirimu. Jika tadi kau pinjam tanganku untuk membunuh To Hui, sekarang sesudah To Hui mati, mengapa kau masih berlagak tidak kenal padaku?”

Ji Hong-ho tersenyum, jawabnya, “Cayhe memang...”

“Kau kan kenal diriku,” Oh-lolo menjengek. “Sudah 20 tahun lamanya kau kenal nenek ini. Setiap orang yang berjumpa satu kali saja denganku, selama hidup tidak akan kulupakan pula. Apa lagi antara kau dan aku kan juga ada sedikit hubungan, masakah kau lupa?”

Senyuman yang selalu menghiasi wajah Ji Hong-ho seketika beku, perubahan ini mungkin tidak diperhatikan oleh orang lain, tapi tidak terlepas dari pengamatan Ji Pwe-giok.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner