IMBAUAN PENDEKAR : JILID-02


Lui-ji merasakan tangan Pwe-giok sedingin es, tapi mendadak berubah panas membara, bahkan dapat dirasakannya denyut jantung dan gemetar tubuhnya.

Dalam pada itu terdengar Oh-lolo lagi berkata, “Jelas kau kenal padaku, kenapa berlagak tidak kenal?”

Hampir saja Pwe-giok berteriak, “Dia tidak berlagak, tapi dia memang tidak kenal padamu, sebab dia bukanlah Ji Hong-ho yang kau temui 20 tahun yang lalu itu, dia ini Ji Hong-ho gadungan.”

Terpaksa Pwe-giok menggertak gigi sekuatnya sehingga tidak sampai bersuara. Otot-otot daging mukanya sampai berkerut-kerut saking menahan derita perasaannya.

Melihat wajah yang demikian ini, Lui-ji ikut merinding, tidak tersangka olehnya wajah Pwe-giok dapat berubah sedemikian menakutkan.

Mendadak terdengar Ji Hong-ho bergelak tertawa, serunya. “Kejadian 20 tahun yang lalu sudah lama kulupakan, untuk apa Lolo mengingatnya?”

“Tapi urusan demikian selamanya takkan kulupakan,” jengek Oh-lolo.

Ji Hong-ho bermaksud menutupi kecanggungannya dengan suara tertawanya, tetapi demi mendengar ucapan si nenek yang terakhir ini, seketika suara tawanya berubah lebih kasar dari pada suara kayu digergaji. Tanyanya kemudian dengan suara serak,

“Jadi kedatanganmu ini bermaksud hendak menuntut balas?”

Gemerdep sinar mata Oh-lolo, sejenak Ji Hong-ho dipandangnya pula, lalu dia menjawab dengan perlahan, “Betul, dan tentunya kau tahu cara bagaimana si nenek akan menuntut balas. Barang siapa pernah bersalah padaku, si nenek pasti akan membalasnya dengan berlipat ganda, kalau ditambah lagi dengan rente selama 20 tahun, maka... ha-ha-ha...”

Dia jejalkan dua biji kacang ke dalam mulut lantas dikunyahnya dengan bernapsu seakan-akan kacang goreng itu adalah Ji Hong-ho yang sedang diganyang.

Tiba-tiba Lim Soh-koan berteriak, “Biar pun Cianpwe adalah orang kosen dunia persilatan, tapi hendaklah jangan kau lupa akan kedudukan Ji-tayhiap sekarang!”

“Kedudukan apa?” tanya Oh-lolo dengan mendelik.

“Jika Cianpwe melakukan suatu tindakan terhadap Bengcu, maka sama halnya Cianpwe memusuhi segenap orang Bu-lim,” ucap Lim Soh-koan dengan bengis.

Oh-lolo tetap tertawa, katanya, “Apakah seluruh orang Bu-lim berada di sini? Ehh, kenapa tidak kulihat? Yang terlihat oleh nenek hanyalah kalian berlima, kalau cuma kalian berlima saja rasanya nenek masih sanggup melayani.”

Lim Soh-koan menggenggam pedangnya erat-erat, butiran keringat telah merembes pada jidatnya. Si berewok Hiang berdehem sambil menyurut mundur dua tindak, lantas berkata, “Jika Cianpwe ada permusuhan lama dengan Bengcu, sudah tentu Cayhe tidak akan ikut campur.”

“Nah, tinggal empat orang sekarang,” ucap Oh-lolo dengan tenang.

Seorang di sebelah si berewok Hiang berwajah kuning, dia pun berdehem dan berkata, “Orang she Song biasanya tidak suka ikut campur urusan orang lain, apa lagi urusan para Bu-lim-cianpwe. cayhe lebih-lebih tidak berani ikut campur.”

“Nah, tinggal tiga,” tukas Oh-lolo pula.

Seorang lagi berbadan jangkung, segera dia pun berseru, “Selamanya Cayhe maju atau mundur selalu bersama-sama Song-heng, maka apa yang menjadi pikiran Song-heng juga menjadi pikiranku.”

“Bagus, tinggal dua,” kata Oh-lolo dengan tertawa. “Wah, tampaknya sahabat orang she Ji rata-rata memang kaum pendekar sejati, kalau mereka memang kaum pendekar sejati, kalau mereka bukan orang semacam ini, tentunya kau tidak akan mencari mereka, betul tidak?”

“Creng!” Lin Soh-koan meloloskan pedangnya, tapi baru saja terlolos separuh, mendadak Ji Hong-ho memegang tangannya.

Lim Soh-koan terkesiap, tanyanya dengan suara tertahan, “Apakah Bengcu ingin menanti dia turun tangan lebih dulu?”

Ji Hong-ho tersenyum hambar, ucapnya, “Dia tak akan turun tangan. Jika dia bermaksud bertindak sesuatu, tentu dia takkan bicara seperti ini.”

Lim Soh-koan merasa sangsi, namun Oh-lolo sudah lantas berkeplok tertawa, katanya, “Betul juga, tampaknya orang yang bisa menduduki singgasana Bengcu memang lain dari pada yang lain. Apa yang kukatakan ini hanya sebagai pemberi-tahuan saja bahwa kalian sekarang sudah berada dalam genggamanku, makanya kalau nenek bertanya hendaklah kalian menjawab sejujur-jujurnya.”

“Apa yang hendak kau tanyakan?” tanya Ji Hong-ho.

Oh-lolo menuding si berewok bertiga, lalu berkata, “Biar pun nama ketiga orang ini cukup terkenal di dunia kangouw, tapi kalau dijumlahkan rasanya tidak laku satu tahil perak. Tapi sekarang kau sengaja membohongi Ang-lian-hoa dan lain-lainnya sehingga mereka sudah pergi dari sini, sebaliknya kau malah membawa orang-orang ini ke sini, sesungguhnya apa maksud tujuanmu di balik semua perbuatanmu ini?”

Ji Hong-ho berdiam sejenak, jawabnya kemudian, “Apa yang hendak kulakukan masakah Lolo tidak tahu?”

“Mungkin nenek tahu, tapi mungkin pula tidak tahu,” uajr Oh-lolo. “Pendeknya nenek ingin mendengar dari mulutmu sendiri, dengan begitu barulah hati nenek bisa tenteram.”

Ji Hong-ho berpikir sejenak, katanya kemudian, “Tujuanku adalah ingin mencari sesuatu barang di sini, nilai barang ini tak bisa ditaksir oleh siapa pun, tapi nenek sendiri tentunya sudah tahu.”

Mencorong sinar mata Oh-lolo, ucapnya, “Dan kalau barang itu ditemukan, apakah nenek juga akan mendapat bagian?”

Hong-ho tersenyum, jawabnya, “Setiap orang yang hadir di sini tentu akan mendapatkan bagiannya.”

Serentak Oh-lolo melompat bangun, dia melemparkan sebuah cangkul kepada si Hiang berewok dan berseru, “Jika demikian, kalian menunggu apa lagi…?”

********************

Pondasi bangunan berloteng kecil itu ternyata amat kuat, ketika dicangkul rasanya seperti mencangkul papan besi saja, di samping menerbitkan suara nyaring memekakkan telinga, bahkan memercikkan lelatu api.

Lelaki jangkung tadi berpakaian yang terbuat dari bahan sutera, baju yang mentereng itu kini sudah basah kuyup oleh air keringatnya. Sembari ayun cangkulnya ia menggerundel, “Cong-piauthau dari Tin-wan-piaukiok, Thi-kim-kong Han Tay-goan serta tuan muda dari Ban-bok-ceng Song Ing-seng, kini sudah menjadi kuli penggali tanah, coba, apakah tidak runyam?”

Kawannya yang bernama Song Ing-seng yang berwajah kuning itu menyengir, katanya, “Ini kan kita lakukan dengan suka rela, bukan?”

“Betul,” berkata si jangkung, Han Tay-goan, “kita memang suka rela. Demi mendapatkan barang itu, jangankan cuma menggali tanah, sekali pun aku disuruh menguras kakus juga tidak menjadi soal. Yang kukuatirkan hanya kalau nanti barang ini sudah ditemukan, lalu mereka akan melupakan kita.”

Sembari bicara ia pun melirik ke sana. Dilihatnya Ji Hong-ho, Oh-lolo dan Lim Soh-koan berdiri cukup jauh, maka beranilah dia bicara tanpa takut.

Song Ing-seng menjawab, “Kalau mereka tidak mau memberi bagian kepada kita, untuk apa pula kita didatangkan ke sini?”

“Justru aku kuatir kita hanya akan dijadikan kuli belaka,” ujar Han Tay-goan.

Sambil mengusap keringat Song Ing-seng berkata, “Kuyakin Ji Hong-ho bukan manusia demikian.”

“Hm, semula aku pun percaya dia bukan orang demikian, tapi sekarang...” Han Tay-goan mendengus, “coba, kau lihat nasib Lui Hong atau tidak? Bisa jadi nasib kita nanti juga tak berbeda banyak dengan mereka.”

Mendadak ia berpaling ke sana dan bertanya kepada si Hiang berewok, “He, Hiang-lotoa, kau dengar percakapan kami tidak?”

Cambang Hiang berewok juga penuh butiran keringat, dengan suara parau ia menjawab, “Biar pun dengar lantas mau apa? Memangnya sekarang kita dapat berhenti?”

Tiba-tiba terdengar Lim Soh-koan berteriak kepada mereka. “Apakah kalian menemukan sesuatu?”

“Tidak, tidak menemukan apa-apa,” jawab si berewok Hiang.

Oh-lolo lantas menjengek, “Hm, hendaklah kalian kerja segiatnya, jika tidak menemukan apa-apa tentu kalian yang akan menerima akibatnya.”

“Tapi... tapi kalau barang itu tidak berada di sini?” tanya si berewok.

“Kalau barang itu tidak berada di situ, kalian lantas kupendam hidup-hidup,” kata Oh-lolo.

Dalam pada itu Lui-ji tidak tahan lagi, ia membisiki Pwe-giok, “sekarang mereka tentu tak mendengar suara kita.”

Pwe-giok mengangguk.

“Sesungguhnya barang apa yang ditanam ibu di sana? Setahuku, kedatangan ibu di sini bertekad hendak menjadi nyonya yang baik, ingin hidup bahagia berumah tangga, maka barang perhiasan sedikit pun tidak dibawanya ke sini.”

“Yang hendak mereka cari sekarang pasti bukan barang sebangsa perhiasan,” ujar Pwe-giok.

“Masa?” tanya Lui-ji

“Tapi batu permata yang kau keluarkan itu kan tidak disimpan kembali, setiap orang yang naik ke loteng sana tentu juga melihatnya,” kata Pwe-giok.

“Ya, tapi kan terbungkus rapat dengan kain?”

“Walau pun terbungkus rapat, tetapi orang yang berpengalaman seperti mereka itu tentu dapat melihat apa yang terbungkus di dalamnya. apa lagi dalam kegelapan, cahaya batu permata tetap dapat tembus keluar. Sebab itulah, apa bila yang mereka kehendaki adalah batu permata, tentu bungkusan benda berharga itu takkan dibiarkan ikut terbakar.”

“Habis apa yang mereka cari?” ucap Lui-ji sambil berkerut kening.

Pwe-giok tidak menjawabnya, sebab ia sendiri pun tidak tahu.

Sementara itu lubang galian si Hiang berewok sudah cukup dalam, pondasi loteng kecil itu sudah berubah menjadi sebuah kubangan beberapa meter persegi.

Ketiga orang itu berada di dalam kubangan, dipandang dari tempat persembunyian Pwe-giok kepalanya saja tidak kelihatan, hanya kadang kala terlihat ada sepotong dua potong batu atau kayu dilempar ke atas.

Kini Oh-lolo, Ji Hong-ho dan Lim Soh-koan juga sudah berdiri di tepi kubangan itu, mereka kelihatan mulai gelisah. Akhirnya suara galian itu berubah menjadi lunak, tiada batu kerikil lagi yang terlempar ke atas. Nyata batu koral yang digunakan sebagai pondasi pun sudah tergali keluar semua dan telah menembus ke bagian yang cuma tanah liat melulu.

Sejenak kemudian Lim Soh-koan berkata pula, “Mungkin Siau-hun-kiongcu memang tidak menyembunyikan barang itu di sini, bisa jadi memang tidak dibawanya kemari.”

“Dibawanya kemari, bahkan disembunyikan di sini,” ucap Oh-lolo.

“Dari mana Cianpwe tahu?” tanya Soh-koan.

“Tentu saja aku tahu, apa bila kau mau menggunakan otakmu tentu kau akan tahu juga,” jawab Oh-lolo dengan dingin.

“Ya, tentu Tonghong Bi-giok mengetahui dengan pasti bahwa barang itu disembunyikan di sini, makanya dia tidak mau pergi,” kata Ji Hong-ho. “Dengan sendirinya pula Tonghong-sengcu mempergunakan barang itu sebagai syarat pertukaran, makanya Li-thian-ong dan lain-lain mau diundang ke sini.”

Lim Soh-koan menggigit bibir, ujarnya, “Tapi kalau Siau-hun-kiongcu telah memiliki barang ini, mengapa dia tidak memanfaatkannya, sebaliknya malah dipendam di bawah tanah?”

“Hal ini disebabkan dia sudah bertekad akan menjadi seorang nyonya rumah tangga yang baik, tetapi dia pun tidak ingin barang itu jatuh ditangan orang lain, maka...” sampai di sini Oh-lolo mendengus lalu menyambung, “itulah akibatnya kalau seorang perempuan sudah jatuh cinta, sering kali dia dapat bertindak sesuatu yang aneh dan lucu.”

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara ringkik kuda disusul dengan suara menggelindingnya roda kereta.

Oh-lolo, Ji Hong-ho dan Lim Soh-koan sama kaget dan cepat berpaling.

Pada kesempatan itulah Lui-ji lantas membisiki Pwe-giok pula, “Tahulah aku barang apa yang hendak mereka cari!”

“Oo?” Pwe-giok merasa heran.

“Yang sedang mereka cari pastilah sejilid kitab pusaka ilmu silat yang amat hebat,” bisik Lui-ji. “Entah dari mana ibu mendapatkan kitab pusaka itu, tetapi sebelum beliau sempat berlatih sudah keburu bertemu dengan Tonghong Bi-giok, oleh karena ibu bertekad akan hidup berumah tangga dengan baik, maka segala macam ilmu silat sudah tiada gunanya lagi baginya. Sebab itulah ibu lantas menyembunyikan kitab pusaka itu. Tetapi celakanya, apa yang dilakukan ibu itu justru diketahui oleh Tonghong Bi-giok.”

Sembari mendengarkan berulang Pwe-giok mengangguk, karena penuturan anak dara itu memang sangat masuk di akal, betapa pun Pwe-giok tidak menemukan jawaban lain yang melebihi cerita Lui-ji itu.

Ketika Lui-ji selesai bercerita, tertampak sebuah kereta kuda telah menerobos ke tengah kota yang sudah berwujud puing itu.

Dari pada dikatakan sebuah kereta, akan lebih tepat kalau dikatakan sebuah rumah yang dapat bergerak. Sebuah rumah yang dipasangi roda kereta lantas ditarik oleh enam belas ekor kuda.

Jika tetap dikatakan sebuah kereta kuda, maka di dunia ini mungkin tidak ada kereta kuda yang lebih besar dari pada kereta ini. Mungkin ruangan di kereta ini cukup untuk memuat ratusan penumpang.

Ji Hong-ho mengernyitkan kening, tanyanya kepada Lim Soh-koan, “Apakah sudah kau pasang penjaga di sekitar sini?”

“Sudah,” jawab Soh-koan.

“Jika begitu apakah mereka semuanya tertidur, masa kereta ini dibiarkan saja menerobos ke sini? Umpama kata mereka tidak merintanginya, paling tidak kan mesti memberi tanda bahaya,” kata Ji Hong-ho pula.

Dalam pada itu kereta tadi sudah berhenti di kejauhan, mereka menyangka percakapan mereka pasti tidak didengar oleh lawan. Tak terduga, baru habis ucapan Ji Hong-ho, tiba-tiba di dalam kereta itu ada orang menanggapi dengan tertawa,

“Hal ini pun tidak dapat kau salahkan mereka, sebab mereka memang sudah siap hendak melepaskan panah api, tapi sayang sebelum sempat berbuat begitu kepala mereka sudah terpenggal lebih dulu,” orang itu tertawa terkikik-kikik, lalu menyambung, “Tentunya dapat kau bayangkan, jika orang sudah kehilangan kepala, lalu apa lagi yang dapat dibuatnya?”

Kata-kata ini sebenarnya berlebihan, namun orang itu justru menganggap sebagai lelucon yang paling lucu hingga tertawa terkial-kial, seolah-olah di dunia ini tiada lelucon lain yang lebih lucu.

Begitulah, sembari bicara sambil tertawa, suaranya kecil, tawanya juga renyah, terdengar seperti suara anak perempuan yang belum lagi akil balik, yang suka merasa geli terhadap kebanyakan kejadian di dunia ini, misalnya orang kentut saja dapat membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.

Orang macam ini kebanyakan bersifat periang, ramah tamah, bila dapat bertemu dengan orang seperti ini kebanyakan orang akan merasa senang. Akan tetapi, sekarang Oh-lolo justru tidak merasa senang sedikit pun.

Begitu mendengar suara tertawa orang, segera nenek ini seperti mau mengeluyur pergi, tapi ketika ia memandang kubangan sana, tampaknya merasa berat pula untuk pergi.

Selagi ragu-ragu, mendadak pintu kereta raksasa itu terbuka, belasan lelaki kekar dengan setengah badan telanjang, hanya memakai celana satin warna merah, menggotong keluar sebuah ranjang besar.

Ukuran ranjang ini pun betul-betul mengejutkan, di atas ranjang penuh tertimbun beraneka macam barang, ada ayam dan babi panggang yang terlihat lezat, ada buah-buahan yang warnanya kelihatan segar, ada manisan dan nyamikan, ada pula berbagai minuman botol dan kaleng, pokoknya makanan dan minuman enak apa pun yang kau bayangkan pasti terdapat di tempat tidur itu. Dan di tengah-tengah barang makanan dan minuman itulah berduduk seorang dengan setengah berbaring.

Melihat orang ini, sampai Ji Hong-ho juga hampir saja tertawa geli.

Karena yang berbaring itu dari pada dikatakan sebagai manusia, akan lebih tepat kalau dikatakan hanya seonggok daging. Onggokan daging yang ditumpuk dengan beberapa ratus kati daging gemuk pilihan.

Badannya hampir tidak memakai kain apa pun, dan ini pun tidak dapat menyalahkan dia. Bayangkan saja, bila perutnya yang gendut itu sudah melambai sampai ke dengkul, cara bagaimana pula dia akan memakai celana? Bila dua orang menyunggih perutnya dengan kepala, bisa jadi sekadarnya baru dapat memberinya pakai sebuah cawat.

Waktu itu si Hiang berewok, Song Ing-seng dan Hay Tay-goan baru saja melompat naik dari dalam kubangan, ketika mendadak melihat makhluk seaneh itu, mereka terkejut dan juga geli.

Tapi orang gendut itu telah mendahului tertawa terkikik-kikik, katanya, “Orang suka bilang An Lok-san (seorang panglima perang di jaman dinasti Tong) gemuk seperti babi, tetapi menurut keyakinanku, dua orang An-Lok-san juga tidak segemuk diriku. Di dunia ini kalau ada lomba orang gemuk, aku pasti akan ikut dan aku pasti akan keluar sebagai juaranya. Betul tidak?”

Makhluk raksasa sebegini suara bicaranya ternyata lirih rendah seperti anak perempuan kecil, maka si Hiang berewok dan lain-lain tidak tahan lagi, mereka sama tertawa geli.

Si gendut juga ikut tertawa, malah terlebih riang dari pada siapa pun juga, sampai-sampai wajah Lim Soh-koan yang tadinya tampak tegang juga mengendor.

Di antara mereka hanya seorang saja yang sama sekali tidak menampilkan senyuman setitik pun, orang itu ialah Oh-lolo. Dia berdiri kaku seperti patung.

Pada saat itulah si gendut sudah memandangnya, ucapnya dengan tertawa terkikik-kikik, “He, orang lain sama tertawa, mengapa kau malah tidak tertawa? Melihat orang gendut semacam diriku, masa kau tidak merasa geli?”

Muka Oh-lolo yang penuh keriput itu terpaksa menampilkan secercah senyuman, sudah tentu senyuman yang lebih tepat dikatakan menyengir.

Hal ini membuat si nenek terlihat tambah tua, mestinya dia tampak berusia 80-an tahun, kini tampaknya sudah 160 tahun. Dengan menyengir ia berusaha mengumpak, “Gendut? Mana ada orang gendut? Kenapa nenek tidak melihatnya?”

“Kan jelas aku berada di depanmu, masa tidak kau lihat? kata si gendut.

“Ah, Cianpwe cuma bertubuh amat kekar, mana bisa dihitung gendut? ujar Oh-lolo sambil menyengir.

Mendadak si gendut menarik muka, katanya dengan gusar, “Kau kira setiap orang gemuk pantang dikatai oleh orang lain, makanya kau hendak menjilat pantatku?”

Melihat wajah orang yang menampilkan rasa marah, Oh-lolo justru berbalik merasa lega. Dengan mengiring tawa ia menjawab, “Tetapi yang kukatakan adalah sebenarnya.”

“Tidak, kau tidak omong sebenarnya,” ujar si gendut. “Mestinya harus kupotong lidahmu.” Mendadak dia menghela napas panjang, lalu menggeleng dan menyambung, “Tetapi aku benar terlalu gemuk, saking gemuknya sehingga bergerak saja malas, untuk itu hendaklah kau suka bantu aku, sudilah kau potong lidahmu sendiri. Kalau tidak potong lidah, potong hidung juga bolehlah!”

Dia bicara dengan serius, tentu saja orang lain akan tertawa geli, bahwasanya dia minta bantuan orang lain, yang diminta justru agar orang lain suka memotong hidungnya sendiri.

Di dunia ini mungkin tiada sesuatu yang lebih mustahil dari pada hal ini.

Siapa tahu Oh-lolo tidak banyak cingcong lagi.

“Sret!” mendadak dia lolos pedang yang tergantung di pinggang Lim Soh-koan, kontan dia benar-benar memotong hidung sendiri.

Baru saja hidung yang berlumuran darah itu jatuh, segera Oh-lolo membuang pedang dan berlari pergi sambil mendekap mukanya.

Keruan Lim Soh-koan dan lain-lain sama melenggong dan tiada satu pun yang sanggup tertawa lagi.

Si gendut lantas berkeplok sambil tertawa gembira, teriaknya, “Ha-ha, di dunia ini ternyata ada orang yang mengiris hidungnya sendiri, masa kalian tidak tertawa?”

Tapi semua orang hanya saling pandang saja, betapa pun mereka tidak sanggup tertawa.

Si gendut menghela napas, katanya, “Aih, mengapa kalian sama sekali tidak tahu hal-hal yang menarik, sungguh sangat mengecewakan aku.” Mendadak ia tuding Song Ing-seng dan bertanya, “Eh, siapa namamu?”

“Cay... Cayhe Song... Song Ing-seng.”

“Tadi kulihat kau tertawa dengan riang gembira, lalu mengapa sekarang kau tidak tertawa lagi?” tanya si gendut.

Sebisanya Song Ing-seng ingin tertawa, akan tetapi wajahnya ternyata lebih buruk dari pada menangis.

“Sudahlah, jika kau tidak paham akan kesenangan, apa gunanya kau mempunyai telinga, kumohon tolong padamu, sudilah kau bantu memotong kupingmu sendiri!” demikian pinta si gendut.

Kalau kata-kata ini diucapkan orang lain, mungkin gigi Song Ing-seng akan copot karena tertawa geli. Tetapi sekarang dia tidak lagi merasakan lucu, bahkan ketakutan setengah mati.

Ia memandang perut si gendut yang kedodoran itu, pikirnya, “Oh-lolo saja takut terhadap orang gemuk ini, tentunya dia memang sangat lihay. Tetapi umpama aku tidak sanggup melawannya, masa aku tak dapat lari saja secepatnya?”

Berpikir demikian, tanpa bersuara lagi segera dia membalik tubuh lantas angkat langkah seribu.

Si gendut bergelak tertawa, katanya, “Coba kalian lihat, orang ini telah lari, sebab apakah dia lari?”

Ilmu silat Song Ing-seng terhitung kelas tinggi juga di dunia kangouw. Kini dia lari dengan ketakutan, sudah tentu cepatnya laksana burung terbang, hanya sekejap saja, selagi si gendut bicara, dia sudah berlari berpuluh tombak jauhnya.

Semua orang merasa yakin si gendut pasti tak mampu mengejarnya.

Tak terduga, pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara “wuut”, selarik cahaya perak terus meluncur ke sana secepat meteor jatuh, hanya sekejap saja cahaya perak itu telah menyusul Song Ing-seng, sekali berputar mengelilingi badan Song Ing-seng, segera cahaya perak itu melayang kembali ke tangan si gendut.

Waktu semua orang mengawasi, kiranya cuma sebuah piring perak tempat buah-buahan.

Song Ing-seng kelihatan masih terus berlari ke depan, tapi baru dua-tiga langkah, separuh badan bagian atas mendadak menekuk patah ke belakang, lalu darah pun menyembur ke udara seperti air mancur. Kedua kakinya masih sempat berlari lagi tiga langkah ke depan, habis itu barulah ambruk.

Hiang berewok dan lain-lain tergolong kaum pembunuh kejam, tetapi adegan ngeri begini selama hidup pun belum pernah mereka lihat.

Hanya dengan sebuah piring perak si gendut itu sanggup menabas badan orang sebatas pinggang hingga putus menjadi dua, kungfu sehebat ini sungguh mendengar saja mereka belum pernah.

Sekali ini mereka baru benar-benar melenggong ketakutan.

Tapi si gendut lantas berkeplok tertawa pula, serunya “Coba kalian lihat, orang mati masih dapat berlari, lucu atau tidak? Apakah kalian tidak merasa geli, kenapa tiada seorang pun yang tertawa?”

Tanpa disuruh lagi, kali ini Han Tay-goan mengerahkan segenap tenaganya dan bergelak tertawa sekerasnya.

“Nah, tertawa, ada orang tertawa!” seru si gendut dengan senang, “Eh, siapa namamu?”

“Cayhe Han... Han Tay-goan!”

“Kau tertawa segembira ini, apakah karena kau merasa aku si gendut ini sangat lucu?”

“Ya, sangat lucu, kau si gendut ini benar-benar sangat lucu dan menggelikan.”

“Ha-ha-ha, tampaknya cuma kau saja yang tahu hal-hal yang lucu, dan kuyakin kau pasti suka menolong berbuat sesuatu bagi si gendut.”

Seketika Han Tay-goan seperti tercekik lehernya, dengan suara parau dia berkata, “Aku sudah bicara demikian dan kau masih... masih hendak...”

“Habis kalau bukan kau yang menolong diriku, siapa lagi yang akan menolong?”

Seketika Han Tay-goan melonjak dan meraung murka, “Kau si gendut jahanam, kau babi mampus, biar aku adu jiwa denganmu!”

Di tengah raungannya, segera ia angkat cangkulnya dan menerjang ke sana.

Si gendut benar-benar seperti tidak mampu bergerak sedikit pun, sama sekali dia tidak mampu mengelakkan serangan Han Tay-goan. Cangkul itu dengan tepat memacul di atas perutnya. Orang segendut itu, perut sebesar itu, bila mana tercangkul, perut tentu akan robek dan darah pasti akan mengalir lebih banyak dari pada orang biasa.

Siapa tahu, ketika pacul itu mengenai perutnya, badan si gendut sama sekali tidak terluka, apa lagi mengucurkan darah. Sebaliknya cangkul itu seakan-akan terhisap oleh gumpalan daging, meski Han Tay-goan telah mengerahkan segenap tenaganya tetap saja tak dapat menariknya kembali.

Si gendut masih tetap tertawa gembira. Ketika sebelah tangannya menampar muka Han Tay-goan, kontan sesosok tubuh mencelat seperti layang-layang yang putus benangnya, melayang ke udara dan berjumpalitan beberapa kali, habis itu baru terbanting ke bawah. Namun kepalanya sudah hancur seperti buah tomat yang pecah.

Hiang berewok terkesima ketakutan. Ia berjuluk ‘Sin-kun-bu-tek’ atau pukulan sakti tanpa tandingan, dengan sendirinya tenaga pukulannya maha dahsyat, tetapi tenaga pukulan si gendut ternyata berpuluh kali lipat lebih kuat dari padanya. Sungguh tidak pernah terpikir olehnya bahwa di dunia ini ada orang yang bertenaga sebesar ini.

Dalam pada itu sorot mata si gendut sudah beralih ke arahnya lantas bertanya dengan tertawa, “Ehh, siapa namamu?”

Kedua kaki si berewok terasa lemas seluruhnya. Tanpa disuruh, “brek”, dia terus berlutut dan berkata dengan suara gemetar, “Siaujin (hamba) she Hiang, jika Cianpwe menyuruh hamba potong hidung, segera hidung akan kupotong, bila hamba disuruh potong kuping, segera pula hamba akan potong kuping, pasti takkan lari dan juga pasti takkan melawan.”

Si gendut menghela napas, katanya, “Aku sangat tertarik oleh cambangmu yang lebat ini. Sebenarnya aku cuma ingin memotong cambangmu saja, tapi kau sendiri rela memotong hidung dan mengiris kuping, ya, apa boleh buat?”

Seketika Hiang berewok jadi melenggong sendiri, ya takut ya menyesal.

Si gendut berkata pula, “Nah, kalau kau sendiri sudah suka rela, mengapa tidak lekas kau kerjakan?”

Terpaksa Hiang berewok nekat, golok dicabutnya, dia pikir seseorang biar pun kehilangan hidung dan kuping kan jauh lebih baik dari pada kepalanya hancur.

Akibatnya, dia menjerit terus jatuh pingsan.

Lalu si gendut berkata pula dengan tertawa. “Konon di sini ada seorang yang menjabat Bu-lim-bengcu segala, siapakah gerangan sebenarnya?”

“Dialah diriku,” jawab Ji Hong-ho.

Sampai sekarang Ji Hong-ho masih tetap tenang dan sabar, sampai Pwe-giok dan Lui-ji diam-diam merasa kagum juga.

“Ehm, tampaknya hanya kau yang menyerupai seorang Bu-lim-bengcu,” ucap si gendut dengan tertawa. “Eh, maukah kau menolong diriku?”

Akhirnya tiba juga giliran Ji Hong-ho!

Pwe-giok menggenggam kencang tangan Lui-ji, entah girang, entah tegang. Meski dalam hatinya amat ingin menyaksikan iblis jahat ini dibinasakan orang, akan tetapi dia pun tidak menghendaki dia mati sekarang, lebih-lebih tidak ingin dia dibunuh oleh orang lain. Betapa pun Pwe-giok bertekad akan membunuh musuh ini dengan tangan sendiri untuk mencuci bersih nama kotor dan dendam keluarga Ji.

Akan tetapi, biar pun dia tidak rela, apa daya? Jika kepandaiannya dibandingkan si gendut ibaratnya capung hendak menggoyangkan cagak.

Tiba-tiba terdengar Ji Hong-ho berkata dengan suara tertahan, “Apa bila sang Thian-cia-sing ada perintah, mana Cayhe berani membangkang?”

Seketika wajah si gendut memperlihatkan rasa kejut, tanyanya, “Kau tahu namaku?”

Ji Hong-ho tersenyum, ia menjawab seperti berpantun, “Thian-cia-sing (bintang pemakan), liang-cing-cing (terang benderang), semua dimakan habis tanpa tandingan, sepuluh laksa prajurit dapat mengisi perutnya... Sudah lama kudengar keperkasaan Cianpwe, selama ini pula tidak pernah kulupakan.”

“Dari siapa kau mendengar cerita tentang diriku?” kembali si gendut atau Thian-cia-sing, menarik muka pula.

Ji Hong-ho tidak bersuara, tetapi memberi isyarat tangan. Cuma sayang, dipandang dari tempat sembunyi Pwe-giok, gerak tangan Ji Hong-ho itu teraling tubuhnya sehingga tidak kelihatan.

Yang jelas air muka si gendut lantas rada berubah dan bertanya pula, “O, kau kenal dia?”

Dengan tersenyum Ji Hong-ho menjawab pula, “Berkat kebijaksanaan beliau, Cayhe tidak dipandangnya sebagai orang luar.”

Thian-cia-sing tidak bicara lagi, tapi terus menerus mencomot makanan dan dijejalkan ke dalam mulut, entah makanan itu babi atau ayam panggang, buah-buahan, manisan atau asinan, semuanya di makan, seperti mesin pabrik, giling terus.

Baru sekarang Pwe-giok melihat bahwa makanan yang tertimbun di atas tempat tidur itu kini sudah lebih separuhnya dimakan oleh si gendut. Nyata julukan ‘makan habis seluruh dunia tanpa tandingan’ memang tidak bernama kosong.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner