IMBAUAN PENDEKAR : JILID-03


Selang agak lama, terlihatlah Thian-cia-sing tersenyum pula dan berkata, “Kalau memang kau ada hubungan dengan si makhluk tua aneh itu, maka aku pun tak akan minta tolong lagi padamu. Tapi ada beberapa soal tidak boleh tidak harus kutanyai kau.”

“Apa yang Cayhe ketahui pasti akan kukatakan, apa yang kukatakan pasti jelas,” jawab Ji Hong-ho

“Konon demi membantu Cu Bi, si Hong Sam telah ngendon di sini untuk beberapa tahun, apakah betul keterangan ini?” tanya Thian-cia-sing.

“Memang betul,” jawab Hong-ho.

“Dan di manakah mereka sekarang? Apakah mati terbakar?”

“Waktu api berkobar mereka masih berada di sini, tapi sesudah api padam ternyata tiada ditemukan mayatnya.”

“Dari mana kau tahu tiada terdapat mayatnya?”

Ji Hong-ho menghela napas, ucapnya, “Sebab tidak terlihat sepotong tulang belulang apa pun di sini.”

Thian-cia-sing berkerut kening, tiba-tiba dia tertawa dan berkata pula, “Konon entah dari siapa Cu Bi mendapatkan sesuatu barang, kabarnya barang siapa mendapatkan barang ini akan bisa malang melintang di dunia ini, entah berita ini betul atau tidak?”

“Sumber berita Cianpwe ternyata amat tajam, berita ini memang betul,” jawab Ji Hong-ho dengan tertawa.

“Kalau begitu, tadi kalian sedang menggali di sini, agaknya kalian sedang mencari barang tersebut?”

“Memang begitulah,” kata Hong-ho.

“Dan sudah kau temukan belum?” tanya Thian-cia-sing.

Jawab Hong-ho sambil menyengir, “Tempat kediaman Cu Bi ini sudah kami gali sedalam dua tiga tombak, makin lama makin basah tanahnya, jelas sudah hampir mencapai mata air di bawah tanah, tapi secarik kertas saja tidak diketemukan.”

Thian-cia-sing terkikik-kikik, katanya, “Bekerja harus sampai akhir, mana boleh kepalang tanggung, kenapa tidak kau gali lagi lebih dalam?”

Ji Hong-ho tidak bicara lagi, ia mengedipi Lim Soh-koan. Keduanya mengangkat cangkul terus melompat ke dalam kubangan tadi. Tak lama kemudian terlihatlah mata air muncrat ke atas dengan kerasnya.

Dengan basah kuyup Ji Hong-ho dan Lim Soh-koan lantas melompat ke atas.

“Tetap tidak ditemukan apa pun,” tutur Hong-ho sambil menyengir.

Thian-cia-sing berpikir sejenak, katanya kemudian, “Jika demikian, tampaknya Cu Bi tidak menyembunyikan barang itu di sini.”

“Tampaknya memang demikian,” ujar Ji Hong-ho dengan menyesal.

“Sudahlah, barang demikian, tidak ketemu akan lebih baik, supaya tidak membikin celaka orang,” ujar Thian-cia-sing dengan tertawa. Makin riang tertawanya sehingga terkial-kial, bernapas saja kelihatan sesak.

Ji Hong-ho berdehem, lalu berkata, “Apa bila Cianpwe tidak ada pesan lain, Cayhe ingin mohon diri saja.”

Thian-cia-sing tertawa sambil memberi tanda, “Ya, ya. Pergilah, pergi lekas! Makin cepat makin baik. Selanjutnya sebaiknya juga jangan sampai kulihat kau lagi. Bila melihat kau, segera kuingat kepada si makhluk tua aneh itu, dan bila teringat kepada si makhluk tua aneh kepalaku lantas pusing.”

Ji Hong-ho dan Lim Soh-koan lantas pergi dengan sangat cepat.

Melihat kedua orang itu bisa lolos dengan selamat, diam-diam Pwe-giok menggeleng dan menghela napas gegetun.

Seperginya Ji Hong-ho dan Lim Soh-koan, terdengar Thian-cia-sing berseru pula dengan tertawa, “Di dalam sana kan panas dan tidak tembus hawa, lebih baik keluar saja, di luar lebih nyaman.”

Kecuali anak buahnya yang menggotong ranjang besar itu, kini di sekitar sana tidak ada orang lain lagi.

Selagi Pwe-giok heran dengan siapakah Thian-cia-sing bicara, mendadak dilihatnya orang gendut itu lagi menggapai-gapai ke arahnya.

Baru sekarang Pwe-giok tahu tempat sembunyinya telah diketahui Thian-cia-sing. Keruan dia terkejut dan keluar keringat dingin.

Lui-ji menghela napas, gumamnya, “Lihai amat orang gendut ini.”

Habis berkata segera ia mendahului menerobos keluar. Pwe-giok ingin mencegahnya tapi sudah terlambat. Nyata keberanian anak dara ini tidak kalah dari siapa pun juga.

Agaknya Thian-cia-sing juga tak mengira orang yang mengintip di tempat gelap itu adalah seorang nona cilik cantik yang terlihat lemah lembut, tanpa terasa ia pun memperlihatkan rasa heran.

Sementara itu Lui-ji telah berhadapan dengan dia, ucapnya sambil berkeplok dan tertawa, “Wah, makanan enak sebanyak ini kenapa kau makan sendiri, bolehkah kau bagi sedikit padaku? Ai, hampir saja aku mengiler!”

Sembari bicara, tanpa permisi lagi ia terus mencomot sebuah apel besar dan digeragoti dengan lahapnya.

Sampai sekian lama Thian-cia-sing memelototi Lui-ji, tegurnya kemudian, “Kau tidak takut padaku?”

“Ai, melihat orang ramah dan baik hati serta lucu seperti kau, hatiku justru amat gembira, kenapa aku takut padamu?” jawab Lui-ji dengan tertawa.

“Tidakkah kau lihat caraku membunuh orang tadi?”

“Ah, ksatria besar seperti dirimu ini mana bisa membunuh seorang nona cilik? Aku tidak perlu kuatir.”

“Ha-ha-ha, menarik, sungguh menarik!” seru Thian-cia-sing dengan tertawa, “Tak kukira anak dara sekecil ini ternyata mempunyai mulut yang lebih manis dari pada Oh-lolo yang licin melebihi rase tua itu. Bahkan kau pun gemar makan, tampaknya malah seperti anak perempuanku.”

“Menjadi anakmu juga boleh, setiap hari bisa makan enak, juga tidak takut dihina orang, cuma sayang...”

“Cuma sayang, tidak ada gunanya biar pun kau mengumpak diriku,” tukas Thian-cia-sing dengan tertawa, “sebab semenjak tadi sudah kulihat masih ada orang lain yang sembunyi bersamamu di sana. Kenapa dia belum lagi keluar, apakah takut?”

“Takut? Kau kira dia takut padamu?” tukas Lui-ji dengan tertawa, “Apakah kau tahu siapa dia?”

Mendadak si gendut tersenyum penuh arti dan memicingkan sebelah matanya, ucapnya, “Ha-ha-ha-ha, sekecil ini kau sudah punya pacar barang kali?”

Seketika mata Lui-ji mendelik, omelnya, “Jangan kau sembarang omong, meski sicek-ku orangnya tampan dan halus, tetapi kalau marah, wah, sampai sacek juga rada-rada takut padanya.”

“Sacek-mu? Siapa dia?” tanya Thian-cia-sing.

“Kau kenal dia,” jawab Lui-ji dengan perlahan. “Tadi baru saja kau sebut namanya.”

“O, maksudmu Hong Sam?” si gendut jadi melengak.

“Betul, betapa lihaynya sacek tentunya kau tahu dengan jelas,” kata Lui-ji dengan tertawa.

“Aha, sungguh lucu dan menggelikan,” seru Thian-cia-sing sambil berkeplok dan tertawa, “Saudaranya Hong Sam ternyata main sembunyi di dalam tungku dan takut dilihat orang, tetapi malah menyuruh seorang nona cilik untuk membual baginya, ha-ha-ha-ha, sungguh perutku bisa meledak saking gelinya.”

Bahwa sampai saat ini Pwe-giok masih tetap bersembunyi di sana, diam-diam Lui-ji juga merasa heran. Betapa pun Ji Pwe-giok pasti bukan seorang penakut, kalau dia tidak mau keluar tentu ada alasannya.

Tetapi Lui-ji juga tidak dapat menerka apa alasannya, terpaksa dia melototi Thian-cia-sing lagi dan mengomel, “Kenapa kau berani bersikap kasar terhadap sacek dan sicek-ku?”

Si gendut tertawa terkial-kial, katanya, “Ha-ha-ha, apakah kau kira aku takut kepada Hong Sam...? Sungguh lelucon besar jika aku takut padanya..”

Lui-ji memang belum pernah melihat ada orang tidak gentar terhadap Hong Sam. Selagi dia melenggong, tiba-tiba di dalam tungku sana seorang berteriak sambil tertawa, “Ha-ha-ha, apakah kau kira aku takut kepada Hong Sam…? Sungguh lelucon besar jika aku takut padanya..”

Suara tertawa itu kecil melengking, serupa suara Thian-cia-sing, bila didengarnya sepintas lalu rasanya mirip gema suara Thian-cia-sing.

Keruan Lui-ji sangat terkejut, sebab diketahuinya orang yang bersuara itu pasti bukan Ji Pwe-giok. Lantas siapa? Padahal di dalam tungku sana jelas-jelas cuma tinggal Pwe-giok seorang saja.

Tampaknya Thian-cia-sing juga terkejut demi mendengar suara tertawa tadi, dia berkata pula, “Jika kau tidak keluar, mengapa kau menirukan cara bicaraku?”

Kembali orang di dalam tungku juga berkata, “Jika kau tidak berani keluar, mengapa kau menirukan cara bicaraku?”

“Se... sesungguhnya siapa kau?” tanya Thian-cia-sing, dia tak dapat tertawa lagi, bahkan suaranya sudah rada serak.

Tiba-tiba orang di dalam tungku juga mengeluarkan suara serak yang persis sama sambil menirukan, “Se... sesungguhnya siapa kau?”

Sampai sekian lamanya Thian-cia-sing tertegun, mendadak ia tertawa pula dan berseru, “Aku keparat, jahanam, sontoloyo, selain menirukan orang bicara, kepandaian lain sama sekali tidak punya.”

Kontan orang di tungku meniru pula, “Aku keparat, jahanam, sontoloyo, selain menirukan orang bicara, kepandaian lain sama sekali tidak punya.”

Si gendut berseru pula, “Manusia paling tidak tahu malu, paling rendah di dunia ialah Eng-seng-diong (si kutu peniru suara) dari Hwe-seng-kok (lembah gema suara)!”

Orang itu menirukan, “Manusia paling tidak tahu malu, paling rendah di dunia ialah Eng-seng-diong (si kutu peniru suara) dari Hwe-seng-kok (lembah gema suara)!”

Apa pun yang dikatakan oleh Thian-cia-sing selalu ditirukan orang itu, satu kata saja tidak kurang bahkan suara tiruannya juga persis.

Lui-ji merasa heran, kejut dan juga geli, terbayang olehnya bila dirinya bicara apa pun dan selalu ditirukan orang, maka betapa rasa dongkol dan gemas sungguh sukar dilukiskan.

Dilihatnya Thian-cia-sing telah mandi keringat, dengan suara serak dia menjerit, “Jika kau berani menirukan suaraku lagi, segera kubunuh kau!”

Akan tetapi orang itu pun menirukan lagi dengan suara serak, “Jika kau berani menirukan suaraku lagi, segera kubunuh kau!”

“Kau... kau...” Thian-cia-sing jadi gelagapan sendiri, tubuhnya yang menyerupai gumpalan daging raksasa itu tiba-tiba melejit ke udara, seperti angin puyuh saja ia terus menyusup ke dalam kereta raksasa tadi.

Menyusul kereta itu lantas dilarikan dengan sangat cepat, belasan lelaki telanjang dada itu pun berlari ke sana dengan menggotong tempat tidur itu, begitu cepat seolah-olah diuber setan.

Lui-ji terkesima menyaksikan itu, dari tungku sana juga tiada kumandang suara lagi. Dia termangu-mangu sejenak, lantas melangkah kembali ke tungku dan memanggil dengan suara perlahan, ’Sicek, adakah kau berada di dalam?”

Namun tiada jawaban. Pwe-giok seperti sudah pergi dari situ.

Keruan Lui-ji kaget, cepat dia memburu kesana dan melongok ke depan tungku, dilihatnya Pwe-giok masih berada di situ, dengan mata melotot memandangnya.

Lui-ji menarik napas lega, ucapnya dengan tertawa, “Tadi kukira orang lain, kiranya sicek masih mempunyai kepandaian simpanan, caramu menirukan suaranya telah membuat si gendut ketakutan dan kabur seperti melihat setan.”

Tetapi Ji Pwe-giok masih saja memandangnya dengan melongo, bahkan mata pun tidak berkedip.

Kembali Lui-ji terkejut, serunya, “He, Sicek ken... kenapa kau tidak bicara?” Pada waktu ia merabanya, tangan Pwe-giok ternyata kaku seperti kayu.

Tangan Lui-ji sendiri pun menjadi dingin saking kagetnya. Cepat dia menyusup ke dalam tungku, dilihatnya sekujur badan Pwe-giok sama kaku, mata melotot, jelas hiat-to tertutuk orang.

Waktu dia pandang ujung belakang tungku, entah sejak kapan di situ sudah tembus satu lubang, angin terasa meniup masih dari sana. Lui-ji mendapat ajaran ilmu Tiam-hoat dari Hong-sam Sianseng, maka segala kungfu menutuk dari berbagai aliran dan golongan di dunia persilatan sedikit banyak dipahaminya.

Segera ia menepuk Hiat-to Pwe-giok yang tertutuk sehingga terbuka lalu bertanya, “Sicek, apakah yang terjadi, masa ada orang datang ke sini?”

Pwe-giok termenung sejenak, lalu mengembus napas panjang, ucapnya kemudian, “Betul, ada orang datang kemari, tapi aku sendiri tidak tahu jelas yang datang ini sesungguhnya manusia atau setan.”

Ternyata tadi baru saja Pwe-giok bermaksud keluar menyusul Lui-ji, mendadak sebuah tangan terjulur dari belakang tanpa suara dan menutuk hiat-tonya.

“Tangan itu terjulur melalui lubang ini?” seru Lui-ji terkejut.

“Betul,” jawab Pwe-giok.

“Jadi ia membuat lubang tepat di belakang Sicek, tapi sama sekali Sicek tidak mendengar suatu suara?” Lui-ji menegas pula.

“Ya, apa pun tidak kudengar, batu yang khusus digunakan membuat tungku ini memang sangat kuat dan keras, tetapi berada di tangan orang ini sudah berubah menjadi empuk seperti tahu,” tutur Pwe-giok dengan gegetun.

Membayangkan betapa hebat tenaga orang, Lui-ji merasa ngeri juga, tanyanya kemudian, “Lalu bagaimana?”

“Lalu kurasakan ada seseorang menerobos masuk kesini melalui lubang ini.”

“Tapi lubang ini hanya sebesar mangkuk, cara bagaimana dia dapat menerobos masuk?”

“Dengan sendirinya ilmu yang digunakannya adalah Siok-kut-kang.”

Siok-kut-kang atau ilmu mengerutkan tulang bukan suatu kungfu yang luar biasa, tetapi kalau taraf Siok-kut-kangnya sudah mampu membuat tubuhnya mengerut hingga mampu menerobos lubang kecil ini, maka ilmu mengerutnya boleh dikatakan luar biasa.

Lui-ji termenung sejenak, katanya kemudian, “Dan kemudian dia lantas menirukan cara bicara Thian-cia-siang tadi?”

Pwe-giok mengiakan.

“Bagaimana bentuk orang itu, tentunya Sicek melihatnya?” tanya Lui-ji.

Tapi Pwe-giok menggeleng, jawabnya dengan menyesal, “Tidak, aku tidak melihatnya.”

Lui-ji terbelalak heran, “Dia berada di sini tetapi Sicek tidak melihatnya, apakah dia mahir ilmu menghilang?”

“Hakekatnya aku tidak mampu berpaling untuk memandangnya, aku cuma merasakan dia menerobos masuk lalu merosot keluar lagi dengan cepat.”

“Menerobos masuk dan memberosot keluar lagi, memangnya dia seekor ikan?” ujar Lui-ji dengan geli.

“Bicara sejujurnya, biar pun ikan dalam air juga tidak segesit dia,” tutur Pwe-giok dengan gegetun. “Tubuh orang ini hakekatnya seperti segumpal asap belaka, siapa pun jangan harap dapat merabanya.”

Lui-ji berkerut kening, ucapnya, “Dari nada ucapan Thian-cia-sing tadi, agaknya orang ini datang dari Hwe-seng-kok, mengapa tidak pernah kudengar nama tempat Hwe-seng-kok. Juga Sacek tak pernah bercerita kepadaku. Jika Thian-cia-sing tidak takut kepada Sacek, mengapa dia ketakutan setengah mati terhadap orang ini? Di samping itu, tadi Ji Hong-ho sudah memberi isyarat tangan kepada Thian-cia-sing, apakah tokoh yang dimaksudkan ini adalah orang yang suka menirukan bicara orang ini?”

Air muka Pwe-giok tampak berubah, ia tidak mendengar pertanyaan Lui-ji, tapi bergumam sendiri, “Hwe-seng-kok... Hwe-seng-kok..., sebenarnya di manakah letak Hwe-seng-kok ini?”

Lui-ji tertawa, katanya, “Seumpama aku tahu di mana letak Hwe-seng-kok, tetap saja aku tidak mau kesana, paling baik kalau selama hidupku ini jangan bertemu lagi dengan orang dari Hwe-seng-kok itu. Pikir saja, bila mana ada orang siang dan malam selalu mengintil di belakangku, apa pun yang kukatakan selalu ditirukannya, andaikan tidak mati kaku saking gemasnya tentu juga akan gila.”

Sungguh dia tidak berani membayangkan lebih jauh. Kalau teringat di dunia ini ada orang demikian, seketika itu merinding seperti lehernya dililit oleh seekor ular.

Pada saat itulah mendadak di luar sana berkumandang suara orang merintih.

Sambil menggenggam tangan Pwe-giok, Lui-ji cepat mengintai keluar. Dilihatnya seorang dengan muka berlumuran darah sedang berdiri sempoyongan di tengah puing sana.

Tampak tubuhnya mengejang, kedua tangan mendekap muka, apa bila bukan cambang-bauknya yang memenuhi wajahnya, mungkin tiada orang yang mengenal lagi.

Diam-diam Lui-ji menghela nafas lega, bisiknya kepada Pwe-giok, “Si Hiang brewok, dia belum lagi mati.”

Selagi Pwe-giok bermaksud keluar untuk memeriksa keadaan Hiang brewok itu, tiba-tiba dilihatnya sinar mata orang gemeredep sambil celingukan kian kemari, sikapnya sangat misterius seperti kuatir kepergok orang lain.

Tatkala mana tiada bayangan seorang pun di sekitar itu. Li-toh-tin yang tadinya jaya dan makmur kini telah berubah menjadi kota kuburan.

Mendadak Hiang brewok tertawa terkekeh-kekeh, padahal hidung serta kupingnya sudah terpotong, tapi ia masih sanggup tertawa. Hal ini sungguh mengejutkan.

Mendingan kalau dia tidak tertawa. Lantaran tertawa maka lukanya pecah kembali, darah mengalir pula, tapi sedikit pun dia tidak merasakan sakit, dia merasa terus tertawa tiada hentinya. Suara tertawanya kedengaran seram, tampangnya lebih mirip setan.

Tambah kencang Lui-ji menggenggam tangan Pwe-giok.

Terdengar si brewok lagi terkekeh-kekeh pula dan berseru, “Ji Hong-ho, wahai Ji Hong-ho, biar pun kau lebih lihay dari pada siapa pun juga, tetapi kau tetap sia-sia belaka dan yang makan nangkanya adalah aku Hiang brewok.” Sembari bicara dia terus melompat ke dalam kubangan.

Lui-ji terkejut dan bergirang, katanya dengan suara tertahan, “He, kiranya barang itu telah ditemukan olehnya. Cuma dia menyadari, sekali pun barang itu diserahkan juga jiwanya tetap akan amblas, maka diam-diam dia menyembunyikan barang temuannya. Di dalam kubangan itu tentu penuh batu dan tanah liat, asalkan ditanam begitu saja pasti tidak akan terlihat orang.”

Mata Pwe-giok juga terbeliak. Didengarnya suara tertawa latah si berewok berkumandang dari kubangan situ. Cepat Pwe-giok dan Lui-ji menerobos keluar dari tempat sembunyinya dan merunduk ke tepi kubangan.

Tampaklah seperti anak kecil saja si berewok berduduk di dalam kubangan yang penuh lumpur itu, tubuhnya basah kuyup, kedua tangannya merangkul erat-erat sebuah peti besi kecil dan sedang berteriak gembira tertawa, “Ini milikku, ini punyaku, kini tibalah saatnya si berewok malang melintang di dunia ini...”

“Hmm, tidaklah terlalu cepat kau bergirang?!” jengek Lui-ji mendadak.

Serentak Hiang berewok melompat bangun seperti kerbau gila, tetapi ketika diketahuinya yang berdiri di atas adalah pemuda yang pernah mengalahkan Lo-cinjin itu, seketika dia menjadi lemas dan lesu, peti besi itu dirangkulnya semakin erat. Serunya dengan suara gemetar, “Ka...kalian mau apa?”

“Kami pun tidak mau apa-apa,” kata Lui-ji, “hanya ingin meminta kembali peti itu.”

Dengan kelabakan si berewok berusaha menyembunyikan peti ke belakang, kemudian ia menjawab dengan terkekeh. “Peti apa maksudmu? Mana ada peti?”

Melihat kelakuan orang Lui-ji merasa geli sekaligus juga kasihan. Ia menggeleng, katanya dengan menyesal, “Tidak ada gunanya, biar pun kau sembunyikan juga tiada gunanya.”

Kembali si berewok melonjak dan meraung gusar, “Sekali pun peti ini berada padaku, lalu mau apa? Peti ini milikku, kudapatkan dengan imbalan sebuah hidung dan dua kupingku. Barang siapa ingin merampasnya dariku harus penggal dulu kepalaku.”

“Apakah kau ingin kepalamu dipenggal? Itu kan bukan pekerjaan sulit!” kata Lui-ji dengan tertawa.

Si berewok memandangnya dengan mata mendelik, teriaknya dengan suara parau, “Kau... kau...” tiba-tiba tubuhnya mengejang pula, belum lanjut ucapannya lantas roboh terkulai.

Lui-ji melompat turun dan memeriksa napasnya, katanya kemudian sambil menggeleng, “Sudah mati, orang ini sudah mati, sungguh tak disangka di dunia ini ada orang yang mati gemas begini.”

“Jika seorang lagi kegirangan, lalu mendadak lenyaplah segala harapan, kukira siapa pun tak akan tahan oleh pukulan berat ini, apa lagi lukanya memang cukup parah,” ujar Pwe-giok dengan menyesal.

“Ini kan tidak dapat menyalahkan aku,” kata Lui-ji. “Betapa pun barang ini kan tidak dapat kuberikan kepadanya.”

“Betul, bukan salahmu, tapi dia yang terlalu tamak,” ucap Pwe-giok.

Meski pun sudah mati tetapi kedua tangan Hiang berewok masih tetap memeluk peti besi itu sekuatnya, untuk melepaskannya Lui-ji memerlukan mencongkelnya dengan cangkul.

“Ingin kulihat sesungguhnya apa isi peti ini, mengapa orang-orang sampai rela mati demi mendapatkannya,” gumam anak dara itu.

Kiranya isi peti itu bukan suatu benda mestika segala, melainkan cuma sepotong belahan bambu dan satu buku jurnal, yaitu buku yang biasa terdapat pada perusahaan dagang.

Belahan bambu hanya sepotong sebesar telapak tangan, di permukaannya terukir sebuah karung, ukirannya sangat jelek. Dipandang dari sudut mana pun juga tiada terdapat tanda berharga pada sepotong bambu ini.

Buku jurnal itu pun buku dagang yang sangat umum, sama seperti buku jurnal yang biasa digunakan catatan sesuatu perusahaan dagang, malahan buku ini masih polos, tiada satu huruf apa pun.

Pwe-giok dan Lui-ji sama melongo. Sungguh tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa barang yang diperebutkan orang dengan mati-matian ini tidak lebih hanyalah dua macam benda yang tak berharga sama sekali.

Sejenak Lui-ji termenung, katanya kemudian, “Untuk dua macam benda ini Ji Hong-ho tidak sayang membakar sebuah kota, bahkan tidak sedikit orang yang rela mengorbankan jiwanya, huh, persetan benar!”

Segera dia buang dua macam barang itu ke tanah, bahkan hendak disepaknya dengan kaki.

Tetapi Pwe-giok keburu mencegahnya, dipungutnya kedua benda itu, katanya, “Apa pun juga kedua barang ini diperoleh secara tidak mudah, boleh kau simpan saja sebagai tanda kenang-kenangan.”

“Mengenang siapa? Mengenang si berewok ini?” tukas Lui-ji sambil tertawa getir, “Kalau tahu begini, biarkan saja peti ini dibawa pergi oleh dia.”

“Menurut pendapatku, ibumu pasti takkan menyembunyikan dua macam benda yang tak berharga secara prihatin dengan rahasia begini, bisa jadi nilai benda ini sekarang belum kita ketahui.”

“Tapi kalau cuma satu buku catatan yang kosong begini, berapa harganya?”

Terpaksa Pwe-giok hanya menyengir saja, sebab dia sendiri tidak dapat menjawabnya.

Dengan tertawa Lui-ji berkata kembali, “Bila Sicek merasa sayang untuk membuangnya, bolehlah kau simpan saja buat dirimu sendiri. Aku tidak ingin menyimpan buku rongsokan begitu, untuk apa anak perempuan menyimpan barang demikian, kan terlalu tolol?”

“Tapi dipandang bagaimana pun kau sama sekali tidak mirip seorang tolol,” ujar Pwe-giok sambil tertawa. Dia benar-benar menyimpan barang tidak berharga itu ke dalam bajunya. Lalu mayat yang bergelimpangan di sana diceburkannya ke dalam kubangan dan diuruk dengan tanah galian tadi.

Lui-ji menghela nafas, ucapnya sambil tersenyum, “Hati Sicek memang amat baik, entah anak perempuan mana yang beruntung akan menjadi isteri Sicek.”

Pwe-giok ingin tertawa, tapi tak bisa, sebab lantas teringat olehnya akan Lim Tay-ih, juga teringat kepada Kim-yan-cu. Tanpa terasa dia menghela nafas panjang, ucapnya dengan rawan, “Kukira siapa pun juga sebaiknya jangan berkumpul bersamaku, sebab dia hanya akan mengalami kesialan belaka.”

Lui-ji berkedip-kedip, tanyanya kemudian, “Dengan ucapanmu ini apakah Sicek hendak menyatakan tak akan membawa serta diriku.”

Tanpa menunggu jawaban Pwe-giok, dengan menunduk ia berkata lagi, “Meski aku sudah sebatang kara dan tiada tempat tujuan, tetapi kalau Sicek merasa keberatan membawa serta diriku, tentu aku pun tidak berani memaksa kehendak Sicek.”

Pwe-giok menepuk bahu anak dara itu, katanya dengan tertawa, “Aih, nona cilik jangan berpikir yang bukan-bukan. Umpama betul Sicek tak ingin membawa serta dirimu, setelah mendengar ucapanmu ini, mau tak mau Sicek harus berubah pikiran.”

Maka tertawalah Lui-ji sambil menengadah, katanya, “Jika demikian, sekarang kita akan pergi ke mana?”

Padahal Pwe-giok sendiri tidak tahu harus pergi kemana, sebab dia sendiri pun kini tidak mempunyai rumah lagi.

Setelah berpikir sejenak barulah ia berkata seperti bergumam sendiri, “Entah orang Tong-keh-ceng sekarang sudah mengetahui lenyapnya Tong Bu-siang atau belum, dan entah Kim-yan-cu sekarang apakah masih berada di sana?”

“Apakah Sicek bermaksud pergi ke Tong-keh-ceng?” tanya Lui-ji.

“Ya, boleh juga ke sana,” kata Pwe-giok.

“Bagus sekali,” Lui-ji berkeplok senang, “memang sudah lama kudengar Tong-keh-ceng adalah tempat yang menarik.”

Pada saat itu pula sekonyong-konyong terdengar suara ribut orang banyak dari kejauhan sana, terdengar pula suara tangis anak kecil dan orang perempuan. Agaknya Ji Hong-ho sudah melepas pulang penduduk Li-toh-tin ini.

Cepat Lui-ji menarik tangan Pwe-giok dan diajak berlari pergi dengan jalan memutar.

Setibanya di luar kota, hawa terasa nyaman dan segar, tiada berbau anyirnya darah dan hangusnya puing, cuma suara tangisan penduduk Li-toh-tin sayup-sayup masih terdengar.

“Sicek,” tiba-tiba Lui-ji bertanya, “kau kira Ji Hong-ho benar-benar akan mengganti rugi kepada penduduk Li-toh-tin atau tidak?”

“Orang ini sedang berusaha mencari nama dan menegakkan wibawa, sudah tentu dia tak akan mau kehilangan kepercayaan para pendukungnya,” kata Pwe-giok.

“Tetapi penderitaan batin mereka apakah dapat diberi ganti rugi?” ujar Lui-ji. “Seseorang kalau rumahnya sudah terbakar, biar pun diberi ganti sebuah rumah baru juga rasa derita itu sukar dihilangkan.”

“Tetapi luka betapa dalamnya tentu akan sembuh, betapa berat penderitaan seseorang, lama-lama tentu juga akan terlupakan, hanya kenangan yang menggembirakan saja yang tetap hidup abadi, lantaran inilah maka manusia dapat hidup terus.”

“Betul juga, orang yang tidak dapat melupakan penderitaan di masa silam tentu hidupnya tidak ada artinya lagi.”

Sementara itu sang surya sudah terbit, tetumbuhan di musim rontok sudah mulai layu, namun padi di sawah sepanjang tepi jalan justru menguning dengan suburnya, bumi raya ini penuh diliputi gairah hidup.

Memang, bau harum bunga apa di dunia ini yang bisa lebih harum dari pada padi yang menguning di sawah?

Lui-ji menarik nafas dalam-dalam, katanya dengan tertawa, “Betapa pun juga aku masih tetap hidup dan akan tetap hidup. Aku masih muda, dunia seluas ini, kemana pun aku dapat pergi, apa yang mesti aku resahkan?”

Dia pentang kedua tangannya dan berlari ke depan menyongsong semilir angin sejuk.

Melihat senyum si nona yang cerah, hati Pwe-giok tanpa terasa ikut lapang. Pada saat itu tiba-tiba dari tengah sawah sana berkumandang suara orang merintih, seorang mengeluh dengan terputus-putus, “Ai, orang muda tidak... tidak seharusnya putus asa, hanya nenek semacam... semacam diriku saja...”

Cara bicaranya seperti sangat susah payah, sampai di sini ia terus terbatuk-batuk dengan keras sehingga tidak sanggup melanjutkan ucapannya.

Mendengar suara itu, Pwe-giok dan Lui-ji terkejut. Cepat Lui-ji berlari balik dan memegang tangan Pwe-giok, lalu melotot ke arah suara di tengah sawah tadi sambil menegur,

“Apakah kau Oh-lolo?”

Orang itu memang benar Oh-lolo. Ia terbatuk-batuk lagi sejenak, habis itu baru menjawab dengan napas megap-megap, “Betul, memang diriku. Oh, siauya dan siocia yang berhati baik, sudilah memberi semangkuk air bagi nenek yang telah sekarat ini? Berjalan saja aku tidak sanggup lagi.”

Lui-ji mengerling, tiba-tiba ia tertawa dan berseru, “Hah, kau rase tua ini, kau kira kami dapat kau tipu?”

“Oh, nona yang baik, sekali ini sungguh-sungguh kumohon... kumohon dengan sangat,” Pinta Oh-lolo dengan suara gemetar. “Mulutku hampir pecah saking... saking keringnya, aih, sinar matahari ini terlalu panas.”

Segera Lui-ji menarik tangan Pwe-giok, katanya, “Sicek marilah kita pergi, jangan gubris nenek setan ini, barang siapa menghiraukan dia tentu akan celaka sendiri.”

Mendadak Oh-lolo lantas menongol dari balik padi yang menguning itu dengan wajahnya yang berlepotan darah, tapi segera dia roboh lagi sambil berseru dengan suara parau, “Ji-kongcu, kutahu engkau orang yang baik hati, kumohon sudilah kau beri sedikit air padaku, mati pun aku akan berterima kasih padamu.”

Tanpa bicara Pwe-giok melepaskan tangan Lui-ji, lalu berlari pergi. Lui-ji menghela napas, ucapnya, “Dengarkan, nenek celaka. Sicek sudah pergi mengambil air bagimu, sebab dia memang orang yang baik hati. Tetapi kalau kau berdusta padanya, tentu akan kupotong lidahmu supaya selanjutnya kau tak bisa membohongi orang lagi.”

Sembari bicara ia terus melompat ke tengah sawah. Maka terlihatlah Oh-lolo meringkuk di semak-semak mirip seperti seekor anjing yang terluka, tubuhnya penuh lumpur, bibirnya memang tampak kering hingga pecah.

Melihat Lui-ji, nenek itu seperti mau tersenyum, tapi baru saja bibirnya bergerak, seketika ia meringis kesakitan. Sambil mendekap kepalanya ia terbatuk-batuk lagi sekian lamanya. lalu berkata dengan suara gemetar,

“Nona yang baik, tidakkah kau lihat nenek sudah hampir mati? Untuk apa kutipu orang lagi?”

Lui-ji tidak mengira nenek celaka ini akan berubah menjadi begini. Dia melongo sejenak, katanya kemudian sambil menggeleng, “Bila mana kau tahu akan berakhir dengan begini, mungkin kau takkan menipu orang.”

“Ini memang akibat perbuatanku sendiri, aku pun tidak menyesali orang lain,” ucap Oh-lolo dengan pedih. “Tapi kalau bukan usiaku sudah lanjut, biar pun terluka lebih parah juga takkan berubah sepayah ini.”

Lui-ji tahu keadaan nenek ini bukan cuma akibat luka luar saja, yang gawat adalah karena hampir sebagian besar tenaga dalamnya sudah disedot oleh Hong-sam Sianseng. Karena kehilangan tenaga terlalu banyak, ditambah lagi sekarang banyak mengeluarkan darah, biar pun usia jauh lebih muda juga tak akan tahan.

Padahal usianya sudah selanjut ini, tampaknya tiada seorang sanak-kadang, apa bila dia mati di sini mungkin mayatnya pun tak terkubur. Tanpa terasa Lui-ji menjadi rada kasihan padanya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner