IMBAUAN PENDEKAR : JILID-08


Kereta itu dilarikan terlebih cepat. Berulang Oh-lolo memberi petunjuk arahnya dari kabin kereta, tetapi sejauh itu tidak mau menjelaskan nama tempat tujuan mereka. Rupanya dia kuatir bila mana tempat tujuan sudah diketahui oleh Pwe-giok, bisa jadi dia akan ditinggal di tengah jalan. Terhadap nenek yang licin dan licik dan juga banyak curiga ini, Pwe-giok benar-benar tidak berdaya.

Hari sudah gelap, namun kereta itu masih terus dilarikan sepanjang malam, entah sudah berapa jauhnya perjalanan itu. Tanpa kenal lelah Pwe-giok terus mengendarai kereta kuda itu, sebab ia tahu sisa waktunya sudah tidak banyak lagi.

Sampai keesokan paginya telah genap tiga hari sedangkan jalan yang harus ditempuhnya entah masih berapa jauhnya. Meski sangat lelah, terpaksa Pwe-giok bertahan sekuatnya.

Mereka hanya membeli makanan sekadarnya ketika lalu di suatu kota kecil, Lui-ji membeli satu keranjang jeruk, sepanjang jalan ia mengupas jeruk dan diberikan kepada Pwe-giok.

Anak dara itu tampak tidak tenteram. Dia tidak sedih karena keselamatannya sendiri, tapi seperti ada suatu rahasia yang tersimpan dalam lubuk hatinya. Beberapa kali tampaknya ia hendak bicara, tapi ditahan sebisanya.

Sesungguhnya rahasia apa yang tersembunyi di dalam hati nona cilik itu?

Terhadap anak dara yang pintar dan juga pengasih itu, Pwe-giok benar-benar tak berdaya apa pun.

Petangnya, sampailah mereka di suatu kota yang tidak terlalu kecil.

Penduduk kota ini tentunya bukan orang udik, namun ketika melihat munculnya sebuah kereta kuda yang dilarikan secepat ini, mau tak mau semua orang sama berpaling.

Orang berlalu lalang di jalan raya cukup ramai, terpaksa lari kereta dilambatkan.

Di kedua tepi jalan terdapat beraneka macam toko, tapi secara keseluruhan rumah minum dan restoran terhitung paling banyak. Rupanya penduduk kota ini pun serupa penduduk di tempat lain, terhadap urusan lain boleh dikesampingkan, tapi terhadap perut sendiri harus diperlakukan dengan istimewa.

Saat itu belum waktunya orang makan malam, tapi di rumah makan telah ramai terdengar bendo mencacah daging, bau arak dan bau sedap masakan menimbulkan selera makan.

“He, berhenti, berhenti!” seru Oh-lolo mendadak.

Pwe-giok terkejut dan cepat menarik tali kendali, sebab tidak tahu apa yang terjadi. Ia lalu menoleh dan bertanya, “Ada apa?”

“Sudah dua tiga hari ini yang kita makan hanya jajanan belaka, mumpung sekarang ada santapan lezat, kita harus makan minum sepuasnya untuk memuaskan selera yang telah kutahan sekian lama,” kata Oh-lolo.

“Kau ingin masuk restoran?” Pwe-giok menegas.

“Betul,” jawab Oh-lolo dengan tertawa. “Baru saja kucium bau sate kambing, tampaknya restoran masakan khas utara yang bernama Ti-bi-lau itu lumayan juga.”

Pwe-giok hampir tak percaya dengan telinganya sendiri. Demi menempuh perjalanan dan memburu waktu, sudah dua tiga hari dia tidak bisa tidur dan tidak istirahat, tapi sekarang nenek celaka ini justru ingin masuk restoran untuk makan enak dan minum arak.

Bila orang lain, bukan mustahil nenek itu akan diberi satu gamparan keras, paling sedikit juga akan berjingkrak dan mencaci-maki.

Akan tetapi Pwe-giok memang pemuda yang sabar, ia cuma diam sejenak, lalu berucap dengan tak acuh, “Baiklah, mari kita ke sana.”

Lui-ji melenggong, serunya. “He, kau terima permintaannya?”

Pwe-giok mengiakan.

Oh-lolo tertawa, katanya, “Jangan kau kira bocah ini hanya menurut saja kepada setiap kehendakku, padahal ia amat maklum persoalannya, ia tahu biar pun berbantah denganku juga tiada gunanya, toh akhirnya tetap harus memenuhi permintaanku.”

Masakan restoran Ti-bi-lau memang harus dipuji. Selain daging kambing panggang atau sate kambing, bebek panggangnya juga empuk dan lezat sekali. Lui-ji merasa heran saat melihat Oh-lolo melalap sepotong kulit bebek panggang, dimakan dengan saus manis dan acar, ia tanya,

“Kenapa kau tidak makan dagingnya?”

Hampir saja makanan di dalam mulut Oh-lolo tersembur keluar, ia tertawa dan menjawab, “Budak bodoh, makan bebek panggang harus kulitnya yang dimakan, hanya orang-orang tolol yang berebut makan dagingnya.”

“Masa?” kata Lui-ji dengan ragu.

“Ya, masa belum pernah kau makan bebek panggang?” tanya Oh-lolo.

Lui-ji terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan hambar, “Apanya yang aneh kalau tidak pernah makan bebek panggang? Bubur asin masakanku juga belum pernah kau rasakan!”

Oh-lolo terpingkal-pingkal saking gelinya. Sedangkan Pwe-giok merasa terharu. Anak dara yang bersifat keras ini ternyata tidak pernah makan bebek panggang yang sangat umum ini, padahal di dunia ini masih banyak santapan enak lain yang tentu saja belum pernah dilihatnya. Nyata dia belum lagi merasakan kesenangan orang hidup, tapi kesengsaraan orang hidup sudah terlalu banyak dirasakannya.

Karena rasa haru dan duka itu sehingga Pwe-giok tidak melihat ada seseorang yang baru saja naik ke loteng restoran itu, tetapi mendadak mundur lagi ke bawah, hanya setengah kepalanya saja yang menongol di ujung tangga untuk mengintip.

Setelah memandang sejenak, lalu orang itu berlari pergi secepat terbang.

Tak lama kemudian, di tengah remang senja itu mendadak ada selarik sinar api hijau yang menjulang tinggi ke udara…..

********************

Malamnya udara ternyata jauh lebih terang dari pada waktu senja, sebab kini bulan sudah menghias di tengah cakrawala. Sinar bulan di kala musim rontok biasanya memang lebih cemerlang. Jalan raya yang rata membentang panjang itu seperti berlapiskan perak.

Ketika mereka makan, Pwe-giok telah minta pegawai restoran agar berusaha mencarikan ganti dua ekor kuda.

Kuda baru sudah tentu tidak segagah kuda semula, tapi kuda yang gagah bagaimana pun bila sudah berlari terus menerus dua tiga hari tentu juga hampir roboh terkulai. Sebaliknya kuda baru dengan tenaga baru tentu masih dapat berjalan cepat.

Begitulah Pwe-giok terus mengendarai keretanya dan dilarikan lebih cepat, ia pikir waktu makan yang terbuang itu harus dikejar kembali.

Sementara itu sudah larut malam, di jalan raya tak nampak orang mau pun kereta berlalu lalang.

Oh-lolo meraba perutnya yang terisi penuh itu, katanya dengan tertawa, “Jangan gelisah, jangan tergesa-gesa, kalau kubilang masih keburu tentunya tidak perlu kau kuatir.”

“Apakah tempat tinggalmu sudah dekat?” tanya Lui-ji.

“Ya, tidak jauh lagi,” jawab Oh-lolo.

“Masih ada siapa lagi di rumahmu?” tanya Lui-ji pula.

“Sudah tentu masih ada sanak keluargaku, tidak banyak, juga tidak sedikit...” tapi nenek itu tidak menjelaskan lagi.

Lui-ji ingin bertanya pula, namun segera terpikir olehnya umpama mau bicara juga tentu jangan harap akan dapat memancing keterangan dari rase tua yang licin ini.

Mendadak terdengar suara “serrrr” bergema di udara. Dari tempat kegelapan di tepi jalan kembali ada selarik sinar api biru menjulang tinggi ke angkasa.

Oh-lolo tidak dapat melihat, tetapi dapat didengarnya, sambil berkerut kening ia bertanya, “Suara apakah itu?”

“Tidak ada apa-apa,” jawab Pwe-giok, walau pun demikian ucapnya, di dalam hati dia pun rada curiga.

Panah berapi yang biasanya dipergunakan sebagai tanda bahaya itu tentunya tidak akan dilepaskan tanpa sebab musabab. Sekarang panah berapi itu dilepaskan pada saat kereta mereka lewat, jelas yang dituju adalah mereka.

Lantas siapakah gerangannya? Apakah Ji Hong-ho sudah dapat mengetahui jejak mereka pula?

Makin cepat Pwe-giok melarikan kudanya, tangan yang memegang tali kendali pun mulai berkeringat dingin.

Pada saat itulah mendadak terlihat bayangan orang berkelebat di depan, seperti sengaja hendak menghadang jalan mereka.

Pwe-giok menggreget, dengan nekat ia cambuk kudanya dan menerjang terus ke depan.

Orang-orang itu tidak bersuara menyuruh berhenti, tapi berbaris di tengah jalan sehingga kereta itu tampak akan menubruk mereka.

Tubrukan keras begitu sungguh luar biasa, biar pun orang-orang itu adalah jago-jago silat kelas tinggi, betapa pun juga badan mereka tetap terdiri dari darah daging, mana sanggup tahan diterjang sedahsyat itu oleh kereta yang dilarikan sedemikian cepatnya.

“Minggir! Kalau tidak...” bentak Pwe-giok sambil mengayun cambuknya.

Namun sebelum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong dari tepi jalan melayang tiba dua batang tombak yang dengan tepat menyelonong masuk ke tengah ruji roda kereta. Maka terdengarlah serentetan suara “krek-krek” yang keras, ruji kereta sama patah, tetapi roda juga lantas terkunci oleh batang tombak sehingga tidak dapat menggelinding lagi. Namun lari kuda tadi terlalu cepat sehingga kereta masih terseret maju cukup jauh.

Suara roda-roda kereta yang menggosok tanah itu menimbulkan suara gemericit laksana jeritan binatang buas yang sedang sekarat.

Dahi Pwe-giok penuh keringat dan sebagian sudah membasahi matanya, tetapi dia masih terus berusaha melarikan kudanya. Namun karena roda kereta sudah terkunci sehingga seperti direm, tentu saja kereta tak dapat bergerak lagi.

Segera terdengar seorang membentak dengan bengis, “Hmm, ikan di dalam jaring masa ingin lari lagi?”

Di tengah suara bentakan itu seorang lelaki berbaju hitam lantas tampil ke muka dan tepat menghadang di depan kereta, tatkala mana lari kuda sudah berkurang karena roda kereta tak dapat berputar lagi, tapi kalau sampai tertumbuk, sedikitnya akan mencelat kemudian menggeletak.

Namun lelaki itu tidak gentar sedikit pun, kedua matanya mencorong terang dan melototi kepala kuda dengan gusar, mendadak kedua kepalan menghantam sekaligus. Terdengar suara “prak-prek” dua kali dan kereta pun tergetar.

Belum sempat kedua ekor kuda itu meringkik, tahu-tahu telah roboh terkulai, kepala kuda hancur memar terkena hantaman lelaki itu.

Pwe-giok sendiri bertenaga raksasa pembawaan, tapi tak terpikir olehnya bahwa di dunia ini benar-benar ada orang yang mampu membinasakan kuda yang sedang lari. Seketika dia tercengang.

Di dalam kereta Oh-lolo dan Cu Lui-ji tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar, mereka cuma merasa kereta itu bergetar keras, lalu berhenti sama sekali.

“Ji-kongcu ini sungguh banyak aral rintangannya, tidak sedikit orang yang selalu mencari perkara padanya,” ujar Oh-lolo dengan menghela nafas.

Lui-ji menggigit bibir, dia membuka pintu kereta lalu melompat keluar. Tanpa memandang orang-orang yang menghadang di depan sana, ia menengadah dan tanya Pwe-giok yang nongkrong di atas.

“Sicek, apakah kau kenal orang-orang ini?”

“Tidak,” jawab Pwe-giok.

Kedua mata Lui-ji berkedip-kedip, katanya pula, “Apakah mereka bukan anak buah orang itu (maksudnya Ji Hong-ho)?”

“Tampaknya bukan,” ujar Pwe-giok.

Lui-ji menjadi rada tercengang, katanya pula, “Kalau begitu jangan-jangan mereka adalah kaum bandit?”

“Juga bukan,” jawab Pwe-giok.

Baru sekarang Lui-ji berpaling, memandang orang berbaju hitam itu.

Di bawah sinar bulan, terlihatlah perawakannya yang ramping, tinggi semampai, berwajah hitam mengkilat, dua matanya yang besar jeli itu juga sedang memandangi Lui-ji dengan rada terkesiap juga, agaknya orang itu pun tidak menduga bahwa dari dalam kereta akan keluar seorang nona cilik secantik ini.

Segera Lui-ji menjengek, “Hmm, tampaknya kau masih muda, mengapa tidak belajar yang baik, masih banyak pekerjaan halal, kenapa sengaja menjadi bandit yang membegal dan merampok?”

Pemuda baju hitam itu berkerut kening, ia tidak menanggapi teguran Lui-ji, tapi berpaling dan tanya orang-orangnya, “Apakah kalian tidak keliru?”

Salah seorang berseragam hitam di belakangnya cepat menjawab, “Tidak, tidak mungkin keliru, kulihat dengan mata kepalaku sendiri.”

Sinar mata pemuda baju hitam yang mencorong itu segera beralih pula ke arah Lui-ji, lalu tanyanya dengan bengis, “Kau she Oh?”

“Kau sendiri she Oh, namamu Oh-soat-pat-to (ngaco-belo),” jawab Lui-ji.

Kembali pemuda baju hitam mengernyitkan kening, ia berpaling dan tanya Pwe-giok, “Kau lebih tua, kenapa kau tidak bicara?”

Pwe-giok tertawa hambar, lalu jawabnya, “Di tengah malam buta begini kalian merintangi perjalanan orang lain, membinasakan kuda orang, tidak tanya dulu juga tidak menjelaskan alasanmu, lalu apa yang perlu kubicarakan?”

“Betul,” tukas Lui-ji, “jangan kaukira karena tenagamu besar lalu kau bisa berlagak kereng di depan Sicekku. Orang semacam kau ini, sekali hantam saja Sicek akan membikin kau mencelat lima tombak jauhnya.”

Sekonyong-konyong pemuda baju hitam menengadah dan bergelak tawa, katanya, “Nona cilik, besar amat nyalimu, di kolong langit ini, kecuali kau mungkin tiada orang kedua yang berani bicara padaku seperti ini.”

“Oo, jika demikian, agaknya kau ini bukan sembarangan orang,” ujar Lui-ji.

“Boleh kau tanya Oh-lolo yang sembunyi di dalam kereta itu, saat ini dia pasti sudah tahu siapa diriku,” kata pemuda baju hitam.

“Apakah kedatangan kalian ditujukan kepada Oh-lolo?” tanya Pwe-giok.

Pemuda baju hitam itu mendadak berhenti tertawa dan menjawab dengan kereng, “Betul, dan ada hubungan apa antara kau dengan dia?”

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Cayhe tidak ada hubungan apa apa dengan Oh-lolo, kalian hendak mencari dia, sebenarnya Cayhe tidak boleh ikut campur, tapi sekarang...”

“Dan sekarang kau pasti akan ikut campur, begitu?” pemuda baju hitam menegas dengan bengis.

Pwe-giok tidak menjawab melainkan termenung sejenak, lalu bertanya pula, “Entah kalian ada permusuhan apa dengan dia?”

Tiba-tiba pemuda baju hitam bergelak tertawa pula, serunya, “Kau tanya ada permusuhan apa antara kami dengan dia? Ha-ha-ha, bagus!” Mendadak ia berpaling ke belakang dan bertanya, “Ong-jiko, coba katakan, ada permusuhan apa antara kau dengan Oh-lolo?”

Dengan suara parau seorang berseragam hitam yang berdiri di ujung sana lantas berkata, “Segenap keluargaku yang terdiri dari 19 jiwa, seluruhnya mati di tangannya, istriku sudah berlutut di depannya dan memohon dengan sangat agar dia suka mengampuni ibuku yang sudah berusia lebih 70 tahun itu, tetapi dia... dia tidak... ” sampai di sini ia tidak sanggup meneruskan lagi karena air mata telah bercucuran.

“Dan kau, Tio-toako, ada permusuhan apa antara kau dan Oh-lolo?” kembali pemuda baju hitam berseru.

Dengan suara gemetar orang yang disebut Tio-toako itu lantas menutur, “Biar pun bukan ibuku tapi... tapi kelima anakku, yang paling... paling kecil baru berusia satu tahun, hanya disebabkan mendiang ayahku pernah berbuat salah kepadanya, lalu dia... dia membunuh anak-istriku tanpa sisa seorang pun.”

“Dan kau bagaimana, Sun-heng?” tanya pula si pemuda baju hitam.

Orang she Sun itu tidak segera menjawab, akan tetapi dengan sisa sebelah tangannya dia menarik baju sendiri hingga robek, tertampaklah sekujur badannya hitam hangus, kulit daging sukar dibedakan lagi.

Dengan suara kereng pemuda baju hitam tadi lantas berteriak pula, “Nah, sudah kau lihat bukan? Sun-heng ini dahulu pernah bersalah kepada seorang anggota keluarganya, lalu dia mengikat Sun-heng pada sebuah pilar dan memanggangnya selama tiga jam.”

Pwe-giok tidak tega lagi melihat dan mendengar. Dia menghela napas panjang, katanya, “Sudahlah kalian tidak perlu omong lagi, Cayhe sudah paham.”

“Untuk menuntut balas kepadanya, orang-orang ini telah mengorbankan jiwa enam orang hingga akhirnya dapat menemukan sarangnya, mereka bersembunyi di sekitar daerah ini, sudah lebih setahun mereka menunggu, dan baru sekarang orangnya diketemukan,” tutur pemuda itu. “Nah, coba kau pikir, apakah lantaran kau hendak ikut campur urusan ini lalu orang-orang ini akan mundur dan melepaskan nenek celaka itu?”

Pwe-giok jadi melenggong dan tidak sanggup bicara lagi.

Bicara sejujurnya, betapa pun dia tidak pantas turut campur urusan ini. Apa lagi saat ini tenaganya juga belum pulih, umpama hendak ikut campur juga bukan tandingan pemuda baju hitam ini. Tapi kalau dia membiarkan orang-orang ini menuntut balas dan membunuh Oh-lolo, akibatnya Lui-ji akan ikut menjadi korban, sebab obat penawar racun tentu sukar diperoleh lagi. Ia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Didengarnya pemuda baju hitam berkata pula, “Aku bicara sebanyak ini padamu, bukan disebabkan aku takut kau akan ikut campur urusan ini, soalnya kulihat kalian adalah orang yang baik-baik dan tentunya bukan manusia yang tidak tahu aturan.”

“Tetapi kalau Cayhe pasti akan ikut campur, lalu bagaimana?” jawab Pwe-giok kemudian sambil menghela napas menyesal.

Dengan angkuh pemuda baju hitam menjawab “Asalkan kau mampu mengalahkan aku dengan sekali pukul atau setengah tendangan, akan kulepaskan dia!”

“Baik, aku setuju!” jawab Pwe-giok, serentak ia terus bergerak hendak menubruk maju.

“Nanti dulu!” tiba-tiba Lui-ji berteriak. “Aku ingin bicara dulu dengan Sicek!”

“Aku tahu apa yang hendak kau katakan,” ujar Pwe-giok dengan rawan. “Kukira tidak... tidak perlu kau omong lagi!”

Tapi Lui-ji lantas menarik tangannya dan berkata, “Tidak, aku harus bicara dulu padamu, Sicek, maukah kau kemari sebentar?”

Pwe-giok memandang Lui-ji dan pemuda baju hitam sekejap, katanya, “Kau...”

“Jangan kuatir,” jengek pemuda itu, “Jika sudah kusanggupi kau, sebelum diketahui kalah atau menang antara kita, tidak nanti Oh-lolo kuganggu seujung jari pun.”

Lui-ji lantas menarik Pwe-giok ke samping, katanya, “Sicek, buat apa kau me... mengadu jiwa bagi Oh-lolo?”

Pwe-giok diam saja tanpa menjawab.

“Aku tahu tindakan Sicek ini adalah demi diriku,” kata Lui-ji pula. “Tetapi orang ini terang bukan orang yang ngawur, kenapa Sicek tidak bicara baik-baik dengan dia dan suruh dia menunggu satu hari.”

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Apa bila Oh-lolo tahu sehari lagi dia tetap akan mati, mana dia mau melepaskan dirimu. Apa lagi orang-orang itu pun belum tentu mau percaya dengan keterangan kita, mana mungkin mereka mau melepas harimau kembali ke gunung membiarkan Oh-lolo pulang dulu ke rumah?”

Lui-ji melenggong, ujarnya kemudian sambil menunduk. “Kukira cara berpikir Sicek terlalu jelimet, tapi aku...”

“Sudahlah, jangan kau bicara lagi, sekali ku kehendaki Oh-lolo menolong kau, maka dia harus ku tolong lebih dulu, diantara kedua hal ini tiada pilihan lain, tiada gunanya kau omong lagi.”

“Akan tetapi Sicek sendiri...”

“Tidak perlu kau kuatir diriku,” kata Pwe-giok dengan tertawa, “betapa pun kuat kepalan pemuda baju hitam itu juga belum tentu mampu mengalahkan aku, sekarang kurasakan tenagaku sudah pulih sebagian besar.”

Perlahan ia melepaskan pegangan Lui-ji lantas menuju ke sana dengan langkah lebar.

Memandangi bayangan punggung Pwe-giok, majemuk benar perasaan Lui-ji, ya girang, ya sedih, ya terharu, ya sesal, ya gelisah, ya kuatir.

Dia tahu bila mana Ji Pwe-giok sudah bertekad akan bertindak sesuatu, maka siapa pun tak mampu menghalanginya. Kini dia hanya berharap semoga Pwe-giok akan menangkan pertandingan itu.

Tapi pemuda baju hitam yang angkuh itu tampaknya juga yakin pasti akan menang, jelas dia memiliki kungfu maha tinggi dan asal usul yang mengejutkan orang. Mampukah Pwe-giok mengalahkan dia?

Lui-ji menunduk sedih, tanpa terasa air matanya bercucuran pula.

Semenjak tadi pemuda baju hitam selalu menatap Pwe-giok, mengawasi sikapnya waktu bicara, mengamati gerak-geriknya. Ketika Pwe-giok mendekatinya, segera ia tanya, “Kau akan mulai?”

“Ya boleh kita mulai sekarang,” jawab Pwe-giok tegas.

Melihat tekad Ji Pwe-giok, pemuda baju hitam itu pun menghela napas panjang, ucapnya, “Sayang, sungguh sayang!”

Sejak tadi Pwe-giok juga memperhatikannya, dilihatnya usia orang ini masih muda, tetapi berdirinya setegak gunung Thay yang kukuh, tampaknya bahkan lebih mantap dari pada Lo-cinjin.

Dia hanya berdiri begitu saja, tanpa pasang kuda-kuda, namun seluruh badannya seolah-olah terjaga rapat, sedikit pun tiada peluang yang dapat diserang musuh.

Diam-diam Pwe-giok mengerahkan tenaga, ia merasa jalan darahnya sudah lancar, tidak ada lagi rasa kaku, ia tahu khasiat obat bius sudah punah. Akan tetapi setelah bekerja keras tiga hari tiga malam tanpa istirahat dan tidur, betapa pun badan terasa pegal dan linu.

Dalam keadaan demikian sebenarnya bukan waktunya untuk berkelahi dengan orang, tapi musuh sudah berada di depan, terpaksa Pwe-giok membangkitkan semangat, ucapnya sambil memberi hormat, “Silakan!”

“Awas, sekali turun tangan biasanya aku tidak kenal ampun, kau harus hati-hati,” kata pemuda baju hitam dengan suara kereng.

Di tengah bentakan, langkah kedua orang saling bergeser, dalam sekejap saja keduanya sudah sama-sama menyerang tiga kali.

Begitu menyerang segera keduanya sama menarik kembali serangannya, nyata mereka sama hendak menguji kekuatan lawan. Memang demikianlah sikap prihatin pada waktu bertempur antara tokoh terkemuka.

Baru sekarang Pwe-giok tahu pemuda angkuh ini tidaklah meremehkan dia. Meski sejak semula Pwe-giok sudah merasakan orang pasti bukan lawan empuk, akan tetapi ia sendiri pun cukup bergaya dan berwibawa, kukuh laksana gunung.

Meski kedua orang ini sama-sama masih muda, tapi sekali bergebrak jelas kelihatan luar biasa, lamat-lamat sudah menyerupai gaya seorang pemimpin besar suatu aliran.

Dalam pada itu, di sekeliling kereta tadi kecuali beberapa orang berseragam hitam, tiba-tiba dari tempat gelap melompat keluar pula belasan orang sehingga mereka terkepung di tengah.

Sorot mata orang-orang ini membayangkan rasa cemas dan benci, namun sikap mereka tidak tegang, jelas mereka cukup yakin akan kemampuan pemuda baju hitam. Semuanya percaya betapa pun hebat lawannya akhirnya si pemuda baju hitam pasti akan menang.

Hanya sekejap saja kedua orang sudah saling labrak belasan jurus, namun tiada sesuatu jurus serangan yang istimewa. Lebih-lebih si pemuda baju hitam, meski tenaganya kuat dan serangannya mantap, akan tetapi jurus serangannya amat umum. Namun jurus-jurus serangannya yang umum itu justru tidak sama dengan ilmu silat dari golongan mana pun di dunia ini.

Biasanya ilmu silat dari suatu aliran tersendiri tentu ada jurus serangan istimewa yang diandalkannya, akan tetapi kungfu pemuda ini justru begitu-begitu saja, tidak sedahsyat ilmu pukulan Siau-lim-pay, juga tidak selincah kungfu Bu-tong-pay. Jadi tidak ada sesuatu yang aneh, malahan sepintas pandang seperti tidak ada gunanya sama sekali.

Diam-diam Lui-ji juga merasa heran sekali, belum pernah dilihatnya orang yang bertenaga dalam sehebat ini justru menggunakan jurus serangan tak becus begini. Tanpa terasa dia bergembira.

Ia pikir kalau pemuda ini bukan belajar kepada guru yang bodoh seperti kerbau, tentunya dia berlatih sendiri secara ngawur, maka hasilnya juga kungfu kampungan seperti cakar kucing.

Dia pun heran mengapa Ji Pwe-giok tidak mengeluarkan Kungfu lihai seperti apa yang digunakan untuk menghadapi Lo-cinjin itu. Padahal bertarung dengan lawan bodoh seperti pemuda baju hitam ini cukup dua tiga jurus saja tentu Pwe-giok dapat merobohkannya. Adalah kejadian aneh bila lawan dapat menangkis atau menghindar.

Saking tak sabar, hampir saja Lui-ji berteriak, “Orang sudah menyatakan tak kenal ampun padamu, kenapa Sicek masih sungkan padanya, memangnya kau hanya main-main saja dengan dia?”

Dia tidak tahu bahwa saat itu sama sekali Pwe-giok tidak bermaksud main-main, bahkan serba susah, malahan hampir saja dia menyerah kalah.

Kungfu pemuda baju hitam itu tampaknya bergaya kampungan, bodoh seperti kerbau, tapi bagi pandangan Pwe-giok, kungfu lawan justru tiada tandingannya di dunia ini. Hanya dia saja yang tahu betapa lihainya jurus serangan lawan.

Hal ini seperti halnya orang bermain catur. Setiap langkah seorang master catur mungkin dianggap jamak oleh orang awam, namun sesudah pihak lain bergilir melangkah barulah dirasakan bahwa langkah lawan itu ternyata amat hebat, hanya satu langkah itu saja telah membikin buntu semua jalannya sehingga sukar berkutik.

Pwe-giok sendiri tidak mengira bahwa jurus serangan lawan yang kelihatan biasa itu bisa menimbulkan daya tekanan sekuat itu. Melawan jurus serangan demikian, segala jurus serangan aliran dan golongan lain di dunia ini menjadi tidak ada nilainya lagi. Sungguh dia tidak tahu apakah di dunia ini ada orang lain yang mampu mematahkan jurus serangan pemuda baju hitam ini?

Dalam pertempuran, bila mana setiap gerakannya telah tertutup buntu oleh lawan, maka baginya tidak ada jalan lain kecuali mandah disembelih orang saja. Pantas pemuda baju hitam itu yakin pasti menang, sebab dia memang tidak mungkin terkalahkan.

Tiba-tiba saja pemuda baju hitam itu berkata, “Apa bila kau mendapat petunjuk dari guru yang pandai, kau memang bibit pilihan yang dapat dipupuk, cuma sayang guru yang kau temukan kebanyakan cuma tukang gegares belaka!”

Hati Pwe-giok menjadi panas, serunya dengan mendongkol, “Kukira belum tentu tukang gegares semuanya!”

“Memangnya kau masih mempunyai jurus simpanan yang belum pernah kau keluarkan?” ejek pemuda baju hitam.

Darah Pwe-giok menjadi mendidih, ejekan lawan telah mendorongnya untuk mengeluarkan segenap tenaga yang masih tersisa padanya.

Sesungguhnya dia merasa lemas, kepala juga terasa pening, hakekatnya tidak tahu jurus serangan bagus apa yang harus dia gunakan, malah dia pun malas untuk memikirkannya. Namun kata-kata pemuda baju hitam itu telah menyinggung perasaannya, timbul sifatnya yang tidak mau tunduk meski harus mati sekali pun, bergolak darah keangkuhannya dan membangkitkan semangatnya yang gagah berani, maju terus pantang mundur.

Kini darah yang bergolak sudah menyadarkan benaknya yang pening tadi, mendadak dia setengah berputar, kedua tangan menyerang bergantian.

Serangan berantai ini sambung menyambung, sekilas pandang kedua tangan seperti lagi membuat lingkaran demi lingkaran, tanpa putus dan tanpa berhenti.

Agaknya pemuda baju hitam itu pun sudah menyangka perubahan serangan Pwe-giok itu, cepat ia menyurut mundur, ia tidak balas menyerang lagi, melainkan terbelalak mengikuti setiap jurus serangan Pwe-giok.

Bahwa pemuda baju hitam itu tidak menyerang lagi, sekarang Lui-ji malah dapat melihat kelihayannya. Tangannya tidak bergerak, bahunya tidak bergoyang, tidak menangkis dan juga tidak balas menyerang. Tapi betapa pun Pwe-giok berganti jurus serangan tetap tak dapat menyenggol seujung bajunya.

Jurus serangan Pwe-giok masih terus memburu laksana air raksa tumpah, setiap lubang dimasukinya. Tapi pemuda baju hitam itu tetap tenang-tenang saja, dia hanya menggeser dengan enteng saja dan entah cara bagaimana, tahu-tahu dia sudah meluncur ke bagian luang serangan Pwe-giok itu.

Jelas-jelas Lui-ji menyaksikan serangan Pwe-giok kacek beberapa senti saja pasti dapat mengenai sasarannya, tetapi entah mengapa, tenaga Pwe-giok seolah-olah hanya sampai di situ saja dan sukar ditambah lagi sehingga sukar bergerak lebih jauh.

Setelah mengikuti sejenak pula pertarungan mereka itu, akhirnya tangan Lui-ji berkeringat dingin, diam-diam ia terkejut sekali, “Tak tersangka orang yang kelihatannya bodoh dalam gerakan dan lambat dalam serangan ini, kakinya bisa selincah ini!”

Dia tidak sadar bahwa pondasi ilmu silat justru terletak pada kedua kaki. Betapa lihaynya sesuatu serangan, bila mana tidak disertai langkah kaki yang kuat dan tepat, maka akan percumalah serangannya, bahkan untuk bertahan juga diperlukan langkah kaki yang kuat. Dan langkah kaki pemuda baju hitam ini justru tidak ada bandingannya, langkah kaki yang khas.

Dalam sekejap saja Pwe-giok telah menyerang belasan jurus. Tiba-tiba terdengar pemuda baju hitam itu membentak, “Berhenti!”

Begitu terdengar suaranya, mendadak tubuhnya melayang ke atas, sekali loncat setinggi empat tombak. Dalam keadaan demikian sekali pun Pwe-giok tak mau berhenti, terpaksa juga harus berhenti.

Dari bawah memandang ke atas, tubuh pemuda baju hitam itu seolah berhenti mengapung di udara dan tidak bergerak lagi. Ginkang sehebat ini, sungguh belum pernah dilihat Lui-ji selama ini.

Terdengar si pemuda baju hitam itu bertanya dengan suara kereng, “Apakah kau anggota keluarga Hong dari Kanglam?”

Sebelum Pwe-giok bersuara, cepat Lui-ji mendahului, “Apakah kau kenal sacek-ku?”

Belum habis ucapannya, si pemuda baju hitam telah hinggap di depannya, matanya yang terbelalak itu menampilkan rasa terkejut dan heran, tanyanya, “Apakah Hong Sam adalah Sacek-mu?”

“Hm, jika kau tahu nama beliau, kenapa bicaramu sekasar ini?” dengus Lui-ji.

Pemuda baju hitam memandang Pwe-giok sekejap, lalu berkata, “Kau panggil dia sicek, jangan-jangan dia...”

“Sicek dengan sendirinya adalah saudara sacek,” tukas Lui-ji.

“Masa kau ini adiknya Hong Sam?” seru si pemuda baju hitam.

Ucapan ini ditujukan kepada Pwe-giok, akan tetapi Lui-ji telah mendahului menjawab, “Ya, dengan sendirinya.”

Sejenak pemuda itu melototi Pwe-giok, lalu menghela napas gegetun dan berkata, “Adik Hong Sam ternyata mau menjual nyawa bagi Oh-lolo, pantas saja anggota keluarga Hong makin hari makin merosot.”

Lui-ji tak tahan, serunya, “Sebabnya Sicek bergebrak denganmu bukan lantaran membela Oh-lolo, tapi demi diriku.”

“Demi dirimu?” pemuda baju hitam itu menegas dengan melengak.

“Tentunya kau tahu kemahiran menggunakan racun Oh-lolo yang tak ada bandingannya,” kata Lui-ji.

“Huh, kepandaian rendahan begitu apa artinya bagiku?” jengek pemuda baju hitam.

“Bila mana kau sendiri terkena racunnya baru kau tahu rasa dan tidak dapat omong lagi,” Lui-ji balas mengejek.

“Hah, untuk bisa meracuni diriku, mungkin dia harus bertambah lagi sepuluh buah kepala,” seru pemuda baju hitam dengan tertawa pongah. Mendadak ia memandang Lui-ji sambil bertanya, “Jangan-jangan kau terkena racunnya?”

“Benar, saat ini kami sedang menggiring dia pulang ke rumahnya untuk mengambil obat penawar. Orang mati tentunya tak dapat mengambil obat penawar, maka kami merintangi maksudmu akan membunuhnya.”

“Jika demikian, mengapa tidak sejak tadi kau katakan?” kata si pemuda dengan berkerut kening.

“Bila mana kami katakan tadi, apakah kau percaya?” tanya Lui-ji.

Pemuda itu termenung sejenak, jawabnya kemudian, “Ya, tentu aku tidak akan percaya. Kalau kalian katakan tadi, tentu kukira kalian adalah sanak keluarga Oh-lolo dan hendak membelanya, mana bisa kulepas kalian pergi.”

“Jujur juga kau ini,” ujar Lui-ji.

“Apa lagi, umpama aku percaya keteranganmu dan memberi kesempatan kepada kalian untuk mengambil obat penawar, habis itu baru aku turun tangan, tetapi kukira kalian pun takkan mendapatkan obat penawarnya, sebab kalau Oh-lolo tahu akhirnya dia tetap akan mati, tidak nanti dia rela menyerahkan obat penawarnya kepada kalian.”

“Betul, makanya sicek-ku terpaksa harus bergebrak denganmu,” kata Lui-ji, “sebab Sicek sudah memperhitungkan dengan baik, bila ingin Oh-lolo menyelamatkan diriku, lebih dulu Oh-lolo harus diselamatkan.”

Sorot mata si pemuda baju hitam perlahan bergeser ke arah Ji Pwe-giok, katanya, “Telah bersusah payah juga kau demi untuk menolong dia.”

Pwe-giok tersenyum hambar, ucapnya, “Kalau kau jadi diriku, pasti kau pun akan berbuat demikian.”

Mendadak pemuda baju hitam berkata dengan suara bengis, “Tetapi apakah kalian tahu berapa banyak orang yang telah menjadi korban keganasan Oh-lolo, tahukah kalian kalau dia tidak mati, selanjutnya entah berapa lagi orang yang akan terbunuh olehnya. Hanya demi menyelamatkan jiwa nona ini, jiwa orang lain lantas tak terpikir olehmu?”

“Hal ini sudah kupikirkan,” jawab Pwe-giok sambil menghela napas.

Gemerdep sinar mata pemuda baju hitam, katanya, “Apakah maksudmu setelah Oh-lolo menyerahkan obat penawarnya, lalu akan kau serahkan dia kepada kami?”

Pwe-giok membungkam tanpa menjawab.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner