IMBAUAN PENDEKAR : JILID-09


Memang begitulah maksudnya, tapi hal ini tidak boleh diutarakannya, sebab kalau sampai Oh-lolo tahu jalan pikirannya, tentu dia takkan dapat menolong Cu Lui-ji.

“Tapi umpama begitulah jalan pikiranmu, sekarang kau tetap akan menggempur mundur kami, begitu bukan?” tanya pula si pemuda baju hitam.

Pwe-giok tetap tutup mulut tanpa menjawab. Diam sama dengan mengiakannya.

“Jadi, apa pun juga kau bertekad akan duel denganku?” pemuda baju hitam itu menegas pula.

Pwe-giok menghela napas panjang, jawabnya “Ya, memang begitulah!”

“Tetapi sekarang tentunya kau sudah tahu, paling sedikit pada saat ini kau masih bukan tandinganku, jika kau ingin menggempur mundur kami, bisa jadi kau yang akan kubunuh lebih dulu.”

“Sekali pun begitu tetap akan kulakukan, karena tiada pilihan lain,” jawab Pwe-giok.

“Kau pandang jiwa orang lain sedemikian pentingnya, kenapa memandang enteng jiwamu sendiri?” tanya pemuda baju hitam.

“Bagiku ada yang tidak perlu kulakukan, tetapi ada pula yang harus kulakukan, terhadap mati dan hidup tidak terlalu kuperhatikan,” jawab Pwe-giok hambar.

Mendadak pemuda baju hitam bergelak tawa, serunya, “Bagus, bagus! Sudah lama kata ‘ada yang tak perlu kulakukan dan ada pula yang harus kulakukan’ tidak pernah kudengar, sekarang dapat kudengar lagi, sungguh terasa menyegarkan.”

Di tengah suara tertawanya ia terus mendekati kereta dengan langkah lebar.

Cepat Pwe-giok menghadang di depan orang, ucapnya dengan suara berat, “Bila saat ini hendak kau bunuh dia, terpaksa harus kau bunuh diriku lebih dulu.”

“Aku hanya ingin minta obat penawar padanya,” kata pemuda baju hitam dengan tertawa.

Pwe-giok melengak, ucapnya, “Mana ia mau memberikan obat penawarnya kepadamu?”

Kembali pemuda baju hitam tersenyum, katanya, “Orang lain memang tak bisa menyuruh dia menyerahkan obat penawar, tetapi aku mempunyai caraku sendiri.”

“Kau sanggup?” tanya Pwe-giok ragu.

“Kau tidak percaya?”

Belum lagi Pwe-giok menanggapi, pemuda itu sudah menyambung, “Bila aku tidak dapat menyuruh dia menyerahkan obat penawarnya, biarlah kepalaku ini kuberikan padamu.”

Dengan suatu gerakan enteng, tahu-tahu dia telah menyelinap lewat disamping Pwe-giok.

Keadaan di dalam kereta sunyi senyap, agaknya, Oh-lolo ketakutan setengah mati hingga bernapas saja tidak berani keras-keras. Sesungguhnya siapakah gerangan pemuda baju hitam ini sehingga membuat Oh-lolo ketakutan setengah mati? Apakah dia benar-benar sanggup menyuruh Oh-lolo menyerahkan obat penawarnya?

Dalam pada itu kelihatan pintu kereta telah ditarik oleh pemuda baju hitam sambil berkata, “Kau...” hanya satu kata saja terucapkan, seketika ia melenggong dan tak dapat bersuara pula.

Cahaya sang surya menembus ke dalam kabin kereta melalui pintu yang telah terpentang itu sehingga jok yang berlapiskan kain sutera emas itu kelihatan gemerlapan.

Terlihat Oh-lolo duduk setengah berbaring di atas jok yang bergemerlapan itu, dari lubang hidung, mata, mulut dan telinga mengalirkan darah hitam sehingga wajahnya yang sudah buruk itu bertambah menakutkan.

Akan tetapi pada ujung mulut nenek itu masih terlihat secercah senyuman keji, senyuman mengejek seakan-akan berkata. “Obat penawar takkan kau peroleh, siapa pun tak mampu menyuruhku menyerahkan obat penawar itu. Jika aku mati maka terpaksa Cu Lui-ji harus mengiringi kematianku!”

Darah di dalam tubuh Pwe-giok serasa membeku, butiran keringat merembes keluar pada dahinya. Keji amat nenek ini, mati pun dia tetap membikin celaka orang lain.

Tiba-tiba pemuda baju hitam berpaling dan bertanya kepada Lui-ji, “Racun yang mengenai dirimu ini apakah benar tak dapat dipunahkan dengan cara lain kecuali obat penawarnya?”

Air mata Lui-ji berlinang-linang, ia seperti tidak mendengar apa yang dikatakannya.

Pwe-giok juga amat berduka, ucapnya, “Sekali pun masih dapat dipunahkan dengan obat penawar lain juga waktunya mungkin tidak keburu lagi.”

“Sebab apa?” tanya si pemuda baju hitam.

“Bila mana fajar menyingsing, tentu racun akan bekerja,” tutur Pwe-giok.

“Sampai fajar menyingsing nanti masih ada berapa jam lagi?” tanya si pemuda baju hitam dengan suara parau.

Pwe-giok tidak menjawab, tapi di antara orang yang berseragam hitam ada yang berseru, “Saat ini baru lewat tengah malam, sampai fajar menyingsing nanti masih ada tiga-empat jam lagi.”

“Tiga-empat jam!” pemuda baju hitam bergumam sambil termangu-mangu.

Mendadak Pwe-giok membalik tubuh dan berteriak dengan suara serak, “Sekarang sakit hati kalian sudah terbalaskan, bila mana kalian merasa belum cukup, boleh silakan kalian mencacah mayatnya pula, dengan begitu barulah akan terbukti bahwa kalian adalah laki-laki sejati yang tidak lalai menuntut balas.”

Karena emosi, cara bicaranya menjadi beringas, seakan-akan rasa duka dan marah yang memenuhi rongga dadanya itu hendak ditumpahkan seluruhnya.

Orang-orang berseragam hitam itu sama menunduk. Pada dasarnya mereka adalah orang baik-baik, demi menuntut balas mereka bisa berubah sangat buas, tetapi sekarang dalam hati mereka menjadi tidak tenteram kepada Pwe-giok. Belasan orang itu memberi hormat kepada si pemuda baju hitam, kemudian sama mengundurkan diri dan menghilang dalam kegelapan.

Tanpa terasa Pwe-giok juga menunduk, air mata pun bercucuran.

Tiba-tiba saja Lui-ji menubruk ke dalam pangkuan Pwe-giok sambil menangis keras-keras, ratapnya, “O, Sicek, aku... aku bersalah padamu...”

“Dalam hal apa kau bersalah padaku?” ujar Pwe-giok dengan pedih. “Hanya akulah yang ber... bersalah padamu.”

“Sicek, kau... kau tidak tahu akan diriku,” kata Lui-ji dengan tersedu-sedan.

Tiba-tiba Pwe-giok berkata, “Kau tidak perlu panggil Sicek lagi padaku.”

Tergetar tubuh Lui-ji, “Seb... sebab apa?”

Pwe-giok tersenyum pedih, katanya, “Sesungguhnya tidak seberapa banyak aku lebih tua dari padamu, pantasnya kau panggil kakak padaku, bukankah sejak mula kau tidak ingin menjadi keponakanku melainkan berharap akan menjadi adik perempuanku?”

Lui-ji menengadah dan memandang Pwe-giok dengan termangu-mangu, entah terkejut, entah girang? Meski di tengah air mata yang berlinang itu sekilas terunjuk rasa girangnya, tapi dalam sekejap ia menjadi berduka pula.

Memandangi wajah yang cantik seperti bunga yang sedang mekar, memandangi kerlingan mata si nona yang menggetar sukma itu, dalam hati Pwe-giok juga berduka dan menyesal tak terkatakan.

Diam-diam Pwe-giok memaki dirinya sendiri, “Sudah jelas kutahu isi hatinya, kenapa baru sekarang aku terima permintaannya? Dan sekarang jiwanya tinggal tiga empat jam saja, kehidupannya yang terlalu singkat ini boleh dikatakan tidak pernah merasakan bahagia, mengapa tidak sejak dulu-dulu kuterima kehendaknya supaya dia mendapat kesempatan lebih banyak untuk bergembira?”

Si pemuda baju hitam seperti menghela napas panjang kemudian berkata, “Sayang!” lalu berpaling lagi ke sana, pandangannya tertuju lagi ke dalam kabin kereta, baru sekarang dilihatnya di dinding kabin ada beberapa baris huruf.

Jelas huruf-huruf itu digores dengan kuku jari Oh-lolo yang mirip cakar burung itu, dengan sendirinya tulisannya tidak begitu jelas, namun masih dapat terbaca, begini bunyinya :

Di belakang ada Thian-sip, di depan ada Thian-long. Dunia seluas ini, tetapi tiada tempat untuk bersembunyi. Dengan kematian terbebaslah segalanya, hendaklah kalian jangan cemas. Pulangkan jenazahku, akan kuhadiahi...

Segera Lui-ji dapat melihat tulisan tersebut, dia membacanya beberapa kali, tiba-tiba dia bergumam, “Thian-long (serigala langit)? Siapakah Thian-long?”

“Aku inilah Thian-long,” kata si pemuda baju hitam.

Lui-ji memandangnya sekejap, lalu berkata, “Orang baik-baik, mengapa mesti memakai nama buas begitu?”

“Nama ini tidak buas, tapi melambangkan sebuah bintang besar,” tutur si pemuda berbaju hitam.

“Bintang besar?” Lui-ji menegas.

“Ya,” jawab pemuda baju hitam dengan angkuh. “Menurut catatan kuno, di sebelah timur ada bintang besar mirip serigala. Bintang ini sukar terlihat dengan mata telanjang, sebab bintang ini selalu muncul dan menghilang bersama matahari.”

“Kecuali itu apakah kau tidak mempunyai nama lain?” tanya Lui-ji sambil mengernyitkan kening.

“Ada, namaku yang lain ialah Hay Tong-jing,” tutur pemuda itu.

“Hay Tong-jing?” Lui-ji mengulang nama tersebut.

Pemuda berbaju hitam alias Hay Tong-jing itu tersenyum. Ia berpaling memandang Pwe-giok yang sedang dirundung kesedihan. Katanya kemudian, “Kulihat kau adalah seorang pemuda yang amat berbudi. Tapi kalian tidak perlu murung, aku yakin masih ada harapan untuk memperoleh obat penawar yang dikatakan nenek celaka ini, terutama kalau melihat tulisan yang ditinggalkannya ini, di sini jelas ia menyatakan, asal jenazahnya dipulangkan ke rumahnya, maka dia akan menghadiahkan... Hadiah apa tidak sempat ditulisnya, tapi kukira yang dimaksudkan adalah obat penawarnya.”

“Walaupun begitu, ke mana lagi harus kita kembalikan jenazahnya?” ujar Lui-ji

“Kutahu, tempat tinggalnya tidak terlampau jauh dari sini, tentu masih keburu, tanggung beres,” kata Hay Tong-jing. “Marilah kalian ikut padaku.”

Segera ia angkat mayat Oh-lolo dan melompat ke atas kudanya, ia memberi tanda agar Pwe-giok dan Lui-ji mengikutinya.

Tanpa ragu lagi Pwe-giok dan Lui-ji mengeluarkan ginkang mereka mengintil di belakang kuda Hay Tong-jing.

Kira-kira antara dua-tiga jam mereka menempuh perjalanan, diam-diam Pwe-giok dan Lui-ji merasa gelisah mengingat waktu bekerjanya racun sudah sangat dekat.

“Apakah masih jauh?” tanya Lui-ji sambil berlari.

“Sudah dekat, itu, di dinding benteng sana,” jawab Hay Tong-jing.

Waktu mereka memandang ke muka, terlihatlah tembok benteng membentang megah di depan sana. Dari tembok bentengnya yang tinggi besar itu dapatlah dibayangkan kota ini pasti sangat ramai dan makmur. Cuma sekarang sudah jauh malam, bahkan dekat pagi, suasana sunyi senyap, pintu gerbang benteng tampak tertutup rapat.

“Apakah Oh-lolo tinggal di kota ini?” tanya Pwe-giok.

“Ya, tak tersangka olehmu, bukan?” ujar Hay Tong-jing.

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Melihat tindak-tanduknya, selama hidup ini tentu tak sedikit dia bermusuhan dengan orang, tadinya kukira tempat tinggalnya pasti pada suatu tempat yang sangat terpencil dan dirahasiakan, tak tersangka dia justru berdiam di dalam kota yang ramai.”

“Tempat tinggalnya justru sengaja diatur sehingga sukar diduga orang,” tutur Hay Tong-jing. “Bagaimana, sanggupkah kalian melintasi tembok kota ini?”

“Jangan kuatir,” kata Lui-ji, “Biar pun tembok ini lebih tinggi lagi juga kami masih sanggup melintasinya, hanya kawanmu yang berkaki empat ini mungkin...”

“Kau pun tidak perlu kuatir baginya, ia pun sanggup memanjat ke atas,” jengek Hay Tong-jing.

“Baik, kau sendiri yang bicara demikian, justru kami ingin menyaksikan cara bagaimana dia akan naik ke atas tembok, memangnya mendadak dia akan tumbuh sayap?” jengek Lui-ji.

Sambil bicara diam-diam ia menghimpun tenaga, tapi mendadak ia berkata kepada Pwe-giok, “Wah, kepalaku terasa agak pening, bagaimana kalau kau pegang diriku?”

Meski demikian ucapnya, sebenarnya ia kuatir Pwe-giok kekurangan tenaga, maka diam-diam ingin membantunya.

Pwe-giok menepuk tangan si nona, ucapnya kemudian dengan suara lembut, “Orang lain menganggap kau ini nakal dan jahil, padahal kau adalah nona yang amat halus budi, anak perempuan yang lemah lembut.”

Muka Lui-ji menjadi merah, tapi hangat pula perasaannya, ia tidak tahu bahwa apa yang diucapkan Pwe-giok itu bukan ditujukan kepadanya.

Mendadak terdengar suara kesiur angin seperti anak panah terlepas dari busurnya, tahu-tahu Hay Tong-jing sudah melayang ke atas tembok benteng, kedua tangannya terangkat lurus ke atas dengan menyanggah mayat Oh-lolo.

Lui-ji mencibir, jengeknya, “Coba kau lihat lagaknya yang sombong itu, dimana dan kapan pun ia selalu ingin pamer kepandaiannya, mirip orang yang kaya mendadak, sedapatnya ingin orang lain mengetahui akan kekayaannya.”

Pwe-giok tersenyum, katanya, “Orang muda yang sudah menguasai kungfu setinggi itu, seumpama agak sombong kan juga pantas, apa lagi orang sombong biasanya tentu dapat dipercaya, sebab dia pasti tidak sudi berbuat sesuatu yang memalukan.”

“Tapi usiamu sendiri juga belum tua, kungfumu juga hebat, mengapa kau tidak sombong sedikit pun?”

“Sebab... sebab aku memang tidak dapat dibandingkan dia.”

“Siapa bilang kau tidak dapat dibandingkan dia?” ujar Lui-ji dengan suara lembut. “Dalam pandanganku, walau pun sepuluh orang Hay Tong-jing juga tidak dapat membandingi kau seorang.”

Dia tidak memberi kesempatan bicara kepada Pwe-giok, segera ia menariknya kemudian melompat bersama ke atas tembok benteng.

Tatkala itu suasana aman sentosa, semua penjaga benteng sudah tertidur, sejauh mata memandang di dalam benteng hanya berkelipnya lampu yang jarang, seluruh kota sudah tenggelam di dalam tidur.

Lui-ji memandang Hay Tong-jing sekejap, ia bertanya, “Kenapa cuma kau saja yang naik ke sini, kenapa kawanmu itu tidak kau ajak?”

“Bilakah pernah kulihat kuda yang main ginkang?” jawab Hay Tong-jing dengan tertawa.

“Tapi baru saja kau bilang kudamu dapat naik ke sini?” kata Lui-ji dengan melengak.

“Kata-kataku tadi hanya untuk mengapusi anak kecil saja,” ujar Hay Tong-jing dengan tak acuh.

Sungguh tidak kepalang gemas Cu Lui-ji, tapi tidak mampu balas mendebat, sebab kalau dia mendebat, sama halnya dia mengakui dirinya adalah anak kecil.

Untuk pertama kalinya Cu Lui-ji benar-benar ketanggor alias ketemu batunya…..

********************

Di bawah cahaya bulan, wuwungan rumah yang berderet-deret itu tampak laksana perak yang berserakan. Dari kejauhan kadang berkumandang suara kentongan peronda hingga bumi raya ini terasa semakin hening.

Setelah meraka melintasi beberapa jalan raya, samar-samar terdengar suara orang yang ramai. Suara orang yang sedang memanggil kereta, ada yang sedang mengantar tamu dan ada yang sedang membual seperti orang mabuk.

Terdengar suara nyaring seorang gadis sedang berkata sambil tertawa, “Thio-siauya dan Ci-siauya, besok malam hendaknya kalian datang agak siangan, aku akan turun ke dapur dan mengolah sendiri beberapa macam masakan lezat untuk dahar kalian.”

Suara seorang lelaki menjawab sambil bergelak tertawa, “Ha-ha-ha, bagus, bagus, bagus, asalkan si macan betina di rumah si Ci ini tidak meraung, tentu kami akan datang sedini-dininya.”

Lalu suara seorang nenek menukas dengan tertawa, “Sebaiknya Tan-siauya juga kalian ajak sekalian, katakan kepadanya Bun-bun sudah sangat rindu padanya.”

Seorang lelaki lain terkekeh-kekeh dan berkata, “He-he, yang dirindukan Bun-bun kalian mungkin bukan orangnya melainkan fulusnya!”

“Ai, Ci-siauya, janganlah kau sembarang menuduh,” kata nenek itu. “Nona kami mungkin tidak bersungguh-sungguh kepada orang lain, tapi terhadap kalian bertiga, sungguh kalau bisa para nona kami ingin memperlihatkan isi hatinya kepada kalian.”

“Hiang-hiang, apakah benar kau pandang diriku tak sama dengan orang lain?” tanya Thio-siauya kepada gadis langganannya.

“Sungguh mati, tentu saja lain,” jawab si nona yang bernama Hiang-hiang. “Memangnya perlu kukorek keluar hatiku untuk membuktikan kesungguhanku?”

Maka bergelak tertawalah Thio-siauya dan Ci-siauya, lalu berangkatlah keretanya.

Sejenak kemudian terdengar suara si nenek mengomel. “Sialan, dasar pelit, kedua bocah ini paling-paling cuma habis satu cawan saja, tetapi selalu ngendon sampai lewat tengah malam, hanya mengganggu langganan lain saja.”

Si Hiang-hiang juga mengomel, “Memang, kalau datang lagi besok, bila gelang emas yang dia janjikan tidak terbukti, tentu akan kukerjai dia!”

********************

Lui-ji melenggong setelah mengikuti percakapan mereka, tanyanya, “Wah, apa pekerjaan orang-orang ini?”

“Masa kau tidak tahu?” kata Hay Tong-jing. “Kecuali kaum perampok, di dunia ini hanya pekerjaan inilah yang tidak memakai modal.”

Lui-ji ingin bertanya pula, tetapi mendadak dia paham apa arti ucapan Hay Tong-jing itu. Dengan muka merah ia pun mengomel, “He, meng... mengapa kau bawa kami ke tempat setan ini?”

“Kalau tidak kubawa kalian ke sini habis kubawa ke mana?” jawab Hay Tong-jing.

Pwe-giok terkejut, katanya, “Masa di sinilah ru... rumah Oh-lolo?”

“Ya, tak tersangka, bukan?” kata Hay Tong-jing.

Pwe-giok tertegun, ucapnya kemudian, “Memang betul juga, tempat tinggalnya ini justru sengaja membikin orang tidak pernah menduganya, sebab siapa pun yang akan mencari dia untuk menuntut balas, tentu tiada seorang pun yang berpikir dia adalah germo rumah pelacuran ini.”

“Bahkan siapa saja yang masuk rumah pelacuran, tentu akan lupa daratan, apa lagi kalau arak sudah masuk perut dan berhadapan dengan si cantik, maka sukarlah untuk menjaga rahasia, sebab itu segala apa yang terjadi di dunia kangouw, hampir semuanya diketahui oleh Oh-lolo,” demikian tutur Hay Tong-jing.

Tiba-tiba saja Lui-ji menjengek, “Hm, tampaknya banyak sekali pengetahuanmu mengenai tempat beginian, tentunya pengalamanmu juga sangat luas.”

“Betul, pengalamanku memang sangat banyak,” jawab Hay Tong-jing tak acuh, “melulu di ‘Bong-hoa-lau’ ini saja, sedikitnya ada tujuh orang nona cantik langgananku, salah satu di antaranya adalah Hiang-hiang (si harum) yang disebut-sebut tadi.”

Lui-ji mencibir. Baru saja ia hendak berkata pula, cepat Pwe-giok menyeletuk, “Bila Hay-heng tidak apal dengan tempat ini, mana tahu bahwa Bong-hoa-lau inilah sarangnya Oh-lolo.”

Sembari bicara mereka sudah belok ke jalan raya di depan sana, tertampaklah sebuah rumah dengan pintu bercat merah, di depan pintu tergantung lampu merah berkerudung, ada papan nama yang bertuliskan ‘Bong-hoa-lau’ (Rumah memandang bunga).

Saat itu ada dua lelaki berbaju cekak sedang berbenah di luar pintu, tampaknya sebentar lagi rumah hiburan ini akan tutup pintu. Terlihat ada seorang berjubah panjang warna hijau berdiri di ambang pintu sedang mengamat-amati lampu berkerudung itu sambil memberi pesan kepada dua pekerja tadi agar kerudung lampu yang telah hangus itu besok diganti yang baru.

Agaknya ia pun merasakan ada orang mendekatinya, mendadak ia berpaling.

Di bawah cahaya lampu terlihatlah usia orang ini antara 40-an, tapi masih tampak gagah, rambut tersisir licin, jenggot juga terpelihara, bajunya juga perlente, tampaknya seorang yang biasa hidup senang-senang dan ongkang-ongkang saja, tapi juga mirip seorang ahli pelesir. Orang macam begini ternyata berdiri di ambang pintu rumah pelacuran, bahkan berlagak seperti germonya, hal ini sungguh sangat aneh.

Baru saja Hay Tong-jing mendekati, kedua lelaki berbaju cekak tadi lantas menyongsong kedatangannya sambil memberi hormat serta menyapa, “Ahh, kiranya Hay-siauya! Sudah lebih dua bulan anda tak pernah berkunjung kemari, hari ini entah angin apa yang meniup anda ke sini? Tapi mengapa Hay-siauya datang begini malam?”

“Untung nona Hiang-hiang belum lagi tidur, dia seolah-olah mengetahui akan kedatangan Hay-siauya, maka sejak petang tadi dia sudah duduk menanti di kamarnya dan tidak mau menerima tamu mana pun juga,” demikian tukas seorang lagi.

Hay Tong-jing tidak menghiraukan mereka, dia hanya terbelalak menatap orang berbaju hijau tadi.

Terpaksa orang itu memberi hormat, katanya sambil mengiring tawa, “Sudah jauh malam, rumah hiburan ini baru saja akan kami tutup, tapi lantaran anda adalah langganan kami, maka...”

“Kau inikah tuan rumahnya?” potong Hay Tong-jing sebelum lanjut ucapan orang.

Orang itu mengiakan dengan tertawa.

“Kenapa tidak pernah kulihat kau sebelum ini?” kata Hay tong-jing pula.

“Cayhe orang awam, apa bila terlampau sering muncul di depan umum, bukankah malah akan mengganggu kesenangan para tuan tamu?” jawab orang itu dengan tertawa.

“Betul juga,” dengus Hay Tong-jing. “Orang yang datang ke sini bertujuan untuk mencari perempuan, bila mana yang dihadapi adalah lelaki, tentu seleranya akan berkurang. Tapi sebabnya kau bersembunyi kukira mungkin bukan karena kau kuatir akan menghilangkan selera langgananmu, betul tidak?”

Wajah lelaki perlente itu tadinya berseri-seri, makin bicara makin terasa tidak klop. maka senyum simpulnya perlahan lantas berubah menjadi menyengir dan akhirnya dia hendak angkat langkah seribu.

Akan tetapi sudah terlambat, mendadak Hay Tong-jing membentak. “Berhenti!”

Orang itu menyengir dan berkata, “Cayhe akan memanggil Hiang-hiang untuk...”

“Tidak perlu kau panggil Hiang-hiang, yang kucari ialah dirimu,” kata Hay Tong-jing.

“Diriku?” orang itu menegas.

“Ya, meski kau tidak kenal aku, namun kukenal kau,” ujar Hay Tong-jing.

Air muka orang itu berubah pucat, jawabnya sambil menyengir, “Wah, jangan-jangan nona di sini telah berbuat kesalahan apa-apa sehingga membikin marah tuan tamu.”

“Memang betul ada orang di sini yang bersalah padaku,” kata Hay Tong-jing.

“O, siapa dia? Apakah Hiang-hiang?” cepat orang itu bertanya.

“Bukan!” jawab Hay Tong-jing.

“Apakah... apakah Siau-siau (si kecil)?”

“Bukan Siau-siau, tapi Lolo (situa)!”

Kembali air muka orang itu berubah, ia terkekeh dan berkata, “Aih, tuan sungguh senang bergurau.”

Dalam pada itu Lui-ji juga sudah mendekat, lalu ucapnya dengan tidak sabar, “Untuk apa banyak omong dengan orang macam begini? Suruh dia memanggil lakinya Oh-lolo keluar saja!”

“Tahukah kau siapa orang ini?” tanya Hay Tong-jing tiba-tiba.

Lui-ji terkejut, serunya, “Apakah... apakah dia inilah lakinya Oh-lolo?”

Bahwa nenek jompo itu ternyata bersuamikan seorang lelaki necis begini, sungguh mimpi pun tak pernah terbayang oleh Cu Lui-ji.

Didengarnya Hay Tong-jing berkata kembali, “Apakah kau tahu sebabnya dia senantiasa bersembunyi dan tidak berani menemui orang luar?”

“Tidak tahu,” jawab Lui-ji.

“Sebabnya di masa lampau ia pun seorang tokoh yang cukup ternama di dunia kangouw. tapi sekarang dia telah menjadi germo, bila mana hal ini diketahui oleh para sahabatnya, bukankah pamor nenek moyangnya akan runtuh habis-habisan?”

Lui-ji berkedip-kedip, tanyanya kemudian, “Apakah dia cukup terkenal di dunia kangouw?”

“Ya, lumayan,” jawab Hay Tong-jing.

“Siapa namanya?” tanya Lui-ji.

“Dia inilah tuan muda Bau-bok-sam-ceng dari Hong-san, di dunia kangouw dikenal dengan julukan ‘Ji-hoa-kiam-khek’ (pendekar pedang laksana bunga), namanya Ji Yak-ih.”

“Ji-hoa-kiam-khek? Hah, boleh juga julukan ini,” ujar Lui-ji dengan tertawa. “Cuma sayang, hakekatnya sekuntum bunga ditancapkan pada satu onggok kotoran sapi, orang ganteng begini ternyata beristerikan seorang nenek jompo sejelek siluman.”

“Masa kau tidak pernah melihat seorang nona cilik belasan tahun diperistri oleh seorang kakek jompo?” tanya Hay Tong-jing.

“Itu tidak dapat dipersamakan...”

“Kenapa tidak sama?” tukas Hay Tong-jing. “Nona cilik yang menjadi isteri kakek jompo, tujuannya tentu ingin mendapat warisan si kakek. Tapi orang ini mengawini Oh-lolo bukan kemaruk kepada harta, melainkan mengincar ilmu silat Oh-lolo.”

Wajah Ji Yak-ih sebentar merah sebentar pucat, Lui-ji menduga bila mana orang ini tidak kalap dan menyerang, tentu juga akan gemas setengah mati.

Siapa tahu, sampai sekian lamanya dia tetap diam saja, bahkan air mukanya berseri-seri pula, katanya, “Jika kalian hendak mencari diriku, kenapa tidak berduduk di dalam saja!”

“Hm, umpamanya tidak kau undang juga kami akan masuk sendiri ke sana,” jengek Hay Tong-jing.

Kedua lelaki berbaju cekak yang sedang membersihkan lantai tadi sampai terkesima pula mengikuti percakapan mereka. Mendadak mereka hendak mengeluyur pergi, tapi tiba-tiba Hay Tong-jing membalik tubuh lalu menyerahkan barang yang dijinjingnya kepada mereka sambil berkata,

“Gotong masuk ke dalam sana!”

Kedua orang itu takut-takut untuk menerimanya, tapi juga tidak berani menolak. Mereka merasa tangan agak lemas, baru saja barang yang disodorkan itu mereka angkat, hampir saja terjatuh ke tanah.

Syukur Hay Tong-jing keburu menyanggah dengan tangannya, kemudian berkata dengan bengis, “Apakah kau tahu barang apa ini?”

“Ti... tidak tahu,” jawab lelaki perlente tadi.

Belum Hay Tong-jing berkata pula, tiba-tiba Lui-ji menyela dengan tertawa, “Barang ini tak ternilai harganya, jika terbanting rusak, tentu celakalah kalian!”

Lelaki perlente tadi berkedip-kedip, tanyanya, “Apakah hadiahnya Hay-siauya untuk nona Hiang-hiang (si harum)?”

“Betul, memang hadiah yang sengaja kami antar kemari,” tukas Lui-ji. “Tapi bukan untuk si nona harum, melainkan untuk si bau.”

Orang itu melengak, sambil menyengir ia pun berkata, “Ah, nona ini suka bergurau, di sini mana ada nona yang bernama si bau?”

“Sekuntum bunga ditancapkan di atas kotoran sapi, masakah tidak bau?” ujar Lui-ji sambil mengikik tawa.

Kedua orang berbaju cekak tadi tidak berani bersuara lagi, mereka angkat lonjoran barang antaran itu dan digotong ke dalam. Butiran keringat tampak menghiasi muka mereka.

Pria perlente alias Ji Yak-ih itu masih tersenyum simpul dan menyambut tamunya dengan ramah, tapi biji matanya terus berputar, tiada sesuatu gerak-gerik orang yang dapat lolos dari pengawasannya.....

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner