IMBAUAN PENDEKAR : JILID-12


“Kalau begitu, siapa pula yang membunuh ibunda Oh-lolo?” tanya Lui-ji.

“Siapa lagi, ialah diriku ini,” kata Yak-ih.

Kali ini Lui-ji benar-benar terkejut, serunya, “Kau yang membunuh dia? Bilakah kau bunuh dia?”

“Pada waktu kalian datang kemari, mungkin mayatnya sudah membusuk,” tutur Yak-ih.

Kembali Lui-ji melengak, ucapnya, “Habis, siapa pula nenek yang kami lihat itu?”

Hiang-hiang tertawa, mendadak ia berbicara dengan suara yang sudah berubah, ucapnya dengan terputus-putus, “Biar... biarkan dia mati, entah sudah... sudah berapa kali kusuruh budak itu jangan... jangan mencelakai orang lain, tapi dia tidak... tidak mau menurut.”

Seketika Lui-ji melongo, serunya, “He, kiranya... kiranya nenek yang kami lihat itu adalah dirimu ini.”

“Betul, memang aku inilah yang menyamarnya,” jawab Hiang-hiang dengan tersenyum.

“O, rupanya setelah gagal mencelakai kami, segera kau kembali ke kamarmu sendiri dan cepat-cepat berdandan untuk memulihkan wajahmu yang asli, begitu bukan? Pantas Hay Tong-jing tidak dapat menemukan dirimu.”

“Ya, memang begitulah,” jawab Hiang-hiang.

“Jelas kalian berdua memang berniat mengkhianati Oh-lolo, maka pada waktu dia keluar rumah, lalu kau sendiri menyamar sebagai orang tua itu, supaya penghuni rumah hiburan ini tidak curiga. Apa lagi orang tua ini juga jarang-jarang muncul di depan umum dan orang luar pun tidak menaruh perhatian.”

“Betul, cocok seperti apa yang kalian katakan, lantaran mengincar kungfu-nya, maka aku kawin dengan Oh-lolo,” ujar Ji Yak-ih sambil tersenyum. “Sekarang sudah hampir seluruh kepandaiannya telah kukuasai, dengan sendirinya aku tidak memerlukan dia lagi, malah muak rasanya kalau melihat cecongornya itu, maka sudah lama ingin kubunuh dia, cuma sayang belum ada kesempatan baik.”

“Dan pada waktu dia keluar rumah inilah lebih dahulu kami membunuh ibunya,” sambung Hiang-hiang. “Kami sedang menunggu pulangnya untuk membereskan dia sekalian, siapa tahu kalian sudah mendahului memberi bantuan kepada kami.”

Lui-ji terdiam sejenak sambil berkedip-kedip, lantas ucapnya, “Jika kami sudah membantu kehendak kalian, mengapa kalian masih juga ingin mencelakai kami?”

“Kan semenjak tadi sudah kukatakan, semua ini adalah perintah atasan, kami sendiri tidak berkuasa,” ujar Ji Yak-ih.

“Perintah atasan apa? Masakan kalian juga mempunyai cukong?” Lui-ji menegas dengan terkejut.

“Betul,” sahut Yak-ih.

“Siapa dia?” tanya LuI-ji.

“Kalau kalian bertemu dengan beliau tentu kalian akan paham,” ujar Hiang-hiang dengan tertawa.

Lui-ji tercengang sejenak, ucapnya kemudian, “Maksudmu, kami kenal dia?”

“Mungkin kenal,” kata Hiang-hiang.

Lui-ji tidak bertanya lebih lanjut, sebab dia memang tidak perlu tanya lagi. Diam-diam dia melirik Pwe-giok sekejap, di dalam hati mereka sudah tahu sama tahu, jelas orang yang mendalangi Ji Yak-ih itu pasti Ji Hong-ho adanya.

Lebih dahulu Ji Yak-ih dan Hiang-hiang dibeli lalu mereka memperalat Oh-lolo. Sesudah Oh-lolo tiada gunanya lagi, mereka lantas diperintahkan membunuhnya.

Inilah cara yang biasa digunakan oleh Ji Hong-ho, dengan cara yang sama pula ia hendak menumpas Thian-can-kaucu, bahkan besar kemungkinan setiap tokoh Bu-lim terkemuka jaman ini juga telah menjadi incarannya. Betapa luas dan rapi rencananya sungguh sukar untuk dibayangkan.

“Kiranya dia juga yang menyuruh kau supaya mengerjai kami, jadi kalian bukan bertujuan menuntut balas bagi Oh-lolo,” kata Lui-ji.

Hiang-hiang menguap ngantuk, sambil mengucek matanya yang sepat dia berkata, “Bila mana kami hendak membalaskan sakit hati Oh-lolo, yang akan kami kerjai lebih dulu tentu adalah orang she Hay itu.”

“Dan kalian tidak mengapa-apakan dia?” Pwe-giok ikut bertanya.

“Dia toh bukan sasaran yang dikehendaki juragan kami, untuk apa kami bersusah payah mengeluarkan tenaga percuma?” jawab Hiang-hiang.

Entah sebab apa, Hiang-hiang yang semula tampak lincah dan penuh gairah itu, sekarang terlihat lesu, sebentar-sebentar menguap seperti ingin tidur, sedikit pun tidak bersemangat lagi.

Waktu Pwe-giok memandang Ji Yak-ih, orang ini pun berulang menguap, sampai-sampai air mata dan ingusnya juga menetes, mukanya juga lesu seperti mendadak bertambah tua belasan tahun. Apa bila melihat keadaannya sekarang, siapa pun tidak percaya dia adalah lelaki cakap dan gagah tadi.

Pwe-giok tidak dapat mengorek keterangan lagi dari mereka, sebab mereka bukan cuma malas bicara, bahkan mereka pun malas mendengarkan, kini keadaan mereka lebih mirip mayat hidup belaka.

Sama sekali Lui-ji tidak paham sebab apakah mereka bisa mendadak berubah menjadi begini?

Kedua orang yang tadinya masih segar bugar, dalam waktu singkat bisa berubah menjadi layu.

Selang sejenak, sambil menguap Hiang-hiang bertanya kepada Ji Yak-ih,

“Apakah kau pun kehabisan rangsum?”

“Ehm,” Yak-ih mengangguk.

“Huh, aku tahu kau pasti punya simpanan, kalau tidak bagi sedikit, lihat saja nanti kalau tidak kuganyang kau,” jengek Hiang-hiang mendadak.

Keadaan Yak-ih bertambah lesu, sampai mata pun malas membentangkannya, jawabnya, “Jika aku menyembunyikan setitik saja, anggaplah aku ini piaraanmu.”

Cara bicara mereka tadi selalu sopan santun, namun kata-kata mereka sekarang sudah berubah kasar seperti umpatan kuli-kuli dermaga atau bicokok di tempat judi, bahkan dari percakapan mereka itu jelas di antara mereka berdua tiada tanda adanya hubungan intim, semua ini sungguh di luar dugaan dan sangat mengherankan.

Apa lagi di rumah hiburan ini setiap saat dapat disediakan santapan lezat, tetapi mengapa mereka bilang kehabisan ‘rangsum’ segala?

Selagi Pwe-giok merasa curiga, tiba-tiba di luar jendela sana ada orang mendesis, “Ssst! Juragan datang!”

Menyusul lantas terdengar suara kresek-kresek orang berjalan melintasi pekarangan luar sana. Yang datang agaknya ada tujuh atau delapan orang.

Seketika semangat Ji Yak-ih dan Hiang-hiang bangkit, mereka segera memburu ke dekat pintu dan berdiri dengan tangan lurus ke bawah, kelihatannya tegang, tetapi seperti juga bergembira. Mungkin saking senangnya, dengan mengikik tawa Hiang-hiang lalu berkata,

“Syukur kepada Thian yang Maha Pemurah, akhirnya juragan datang juga, kalau tidak...”

“Tutup mulutmu!” bentak Yak-ih mendadak dengan suara tertahan.

Sembari bicara ia terus menyingkap kerai, kemudian masuklah berturut-turut delapan atau sembilan orang, semuanya memakai mantel hitam panjang menyentuh tanah, memakai topi lebar sehingga hampir menutupi seluruh wajah mereka. Ke sembilan orang ini seperti berasal dari satu mesin cetak, serupa, tak terlihat ada suatu perbedaan.

Mendadak Lui-ji menjengek, “Hmm, tak tersangka seorang Bu-lim-bengcu yang terhormat juga suka bertindak secara sembunyi-sembunyi begini. Tapi biar pun kau terbakar menjadi abu juga tetap dapat kukenali kau.”

Mendadak satu di antara ke sembilan orang itu tertawa dan berkata, “Kau kenal diriku? Memangnya siapa aku ini?”

Suaranya ternyata halus merdu, jelas suara kaum wanita.

Lui-ji jadi tercengang, ucapnya kemudian, “Dengan sendirinya bukan kau yang kumaksud, tapi ialah...”

“Ialah siapa?” orang itu menegas pula.

Sinar mata Lui-ji lantas menyapu kian kemari di antara ke sembilan orang itu. Tak terduga delapan di antara sembilan orang itu lantas menanggalkan topi dan membuka mantelnya.

Ternyata semuanya adalah anak-anak gadis yang masih sangat muda dan sangat cantik, semuanya berpakaian yang sangat serasi dengan garis tubuhnya, garis tubuh yang pasti mendebarkan jantung lelaki manapun juga. Walau pun orang buta sekarang juga dapat melihat bahwa mereka bukanlah samaran lelaki.

Kembali Lui-ji melengak, sorot matanya lantas hinggap pada tubuh orang terakhir.

Perawakan orang ini seperti lebih tinggi sedikit dari pada ke delapan orang yang lainnya, sikapnya juga lebih mantap dan anggun.

Lui-ji mencibir, jengeknya,

“Sekarang tidak kau perlihatkan wajahmu, Ji Hong-ho?”

Mendadak orang itu tertawa, ucapnya dengan perlahan, “Ji Hong-ho? Kau kira aku ini Ji Hong-ho?”

Segera dia menanggalkan topinya, segera ke delapan orang tadi berebut bantu membuka mantelnya.

Kini wajahnya dapat terlihat dengan jelas. Mana bisa dia ini Ji Hong-ho? Dia juga seorang perempuan muda, bahkan terlebih cantik, lebih mempesona.

Baru sekarang Lui-ji benar-benar melenggong dan tak dapat bicara lagi.

Tetapi Ji Pwe-giok justru sepuluh kali lebih terkejut dari pada Lui-ji, sungguh tidak terpikir olehnya bahwa ‘juragan’ yang disebut-sebut oleh Ji Yak-ih dan Hiang-hiang ternyata bukan lain dari pada Ki Leng-hong dari Sat-jin-ceng.

Kini masih siang hari, cahaya di dalam rumah cukup terang, Pwe-giok dapat melihat jelas keadaan Ki Leng-hong. Nyata nona ini sudah jauh lebih masak dibandingkan dahulu, juga bertambah cantik. Namun sinar matanya terlebih tajam dari pada dulu, sikapnya juga lebih dingin, bahkan ditambah semacam wibawa yang membikin orang tunduk bila berhadapan dengan dia.

Ki Leng-hong juga sedang mengamat-amati Pwe-giok, ucapnya dengan tertawa hambar, “Tampaknya kau sangat terkejut, masa tak terpikir olehmu akan diriku?”

Pwe-giok menghela nafas panjang, jawabnya, “Ya, mestinya sejak tadi-tadi harus kuingat padamu.” Dia pandang Ji Yak-ih dan Hiang-hiang sekejap, kemudian menyambung pula, “Setelah melihat perubahan mereka tadi seharusnya kuingat akan dirimu.”

“Oo?” Ki Leng-hong bersuara heran.

“Sebab hanya orang yang terkena racunmu itulah yang bisa berubah secepat itu, berubah sedemikian memelas, sebab aku sendiri pun pernah merasakan penderitaan semacam itu,” kata Pwe-giok dengan menghela nafas.

Ki Leng-hong juga menghela nafas, katanya, “Cuma sayang, belum sempat kau rasakan nikmatnya, kalau tidak tentu akan kau ketahui bahwa barang siapa yang telah merasakan kenikmatan semacam itu, maka penderitaan apa pun juga akan terasa setimpal.”

Mendadak ia berpaling dan tanya Ji Yak-ih, “Betul tidak?”

Cepat Ji Yak-ih dan Hiang-hiang bertekuk lutut dan mengiakan.

Ki Leng-hong menuding mereka berdua kemudian berkata pula, “Coba kau lihat mereka ini, yang lelaki tentu gemar main perempuan, yang perempuan juga sangat bergairah dan memerlukan lelaki. Kedua orang ini tinggal bersama, maka boleh diibaratkan kayu kering dan api yang mudah menyala dan terbakar. Tetapi aku berani menjamin bahwa di antara mereka berdua pasti tak ada hubungan pribadi. Nah, apakah kau tahu sebab apa mereka tidak berhasrat untuk mengadakan hubungan intim?”

Pwe-giok tidak menjawab, tapi Lui-ji segera bertanya, “Sebab apa?”

“Sebab pada hakekatnya mereka sudah tidak bergairah untuk berbuat begituan,” tutur Ki Leng-hong. “Padahal berbuat begituan adalah hal yang paling menyenangkan di dunia ini, setiap lelaki mau pun perempuan tentu berhasrat ingin melakukannya. Tapi bagi mereka hal begitu sedikit pun tidak ada artinya. Apakah kau tahu sebabnya?”

Sekali ini Lui-ji juga tidak bersuara lagi.

Maka dengan perlahan Ki Leng-hong menjawabnya sendiri,

“Sebabnya adalah karena kenikmatan yang kuberikan kepada mereka berpuluh kali lebih menyenangkan dari pada berbuat begituan. Setiap orang yang sudah pernah merasakan nikmatnya ‘Kek-lok-wan’ (obat maha nikmat) yang kuberikan, terhadap urusan lain akan dirasakan hambar dan tidak ada rasanya lagi.”

“Kek-lok-wan apa yang kau maksudkan?” akhirnya Lui-ji tidak tahan dan bertanya juga.

Ki Leng-hong tersenyum, jawabnya, “Yaitu semacam obat dewa yang paling ajaib di dunia ini. Kau ingin mencicipi atau tidak?”

Lui-ji berkedip-kedip, ucapnya, “Mencicipi juga boleh. Bagiku, semakin keras racun suatu benda, semakin ingin kucicipi.”

“Kau pun ingin mencicipi?” Tiba-tiba Pwe-giok berteriak. “Masakah tidak kau lihat keadaan dua orang ini? Memangnya kau kira mereka adalah orang lemah seperti ini? Apakah kau tahu lantaran Kek-Lok-wan yang disebut itulah maka mereka tidak sayang menjual dirinya sendiri, tidak sayang dihina dan dianiaya orang, bahkan rela melacurkan diri dan menjadi bandit.”

Sudah cukup lama Lui-ji berkumpul dengan anak muda itu dan tidak pernah melihat cara bicaranya yang beringas seperti sekarang ini. Nyata dia sedemikian benci terhadap Kek-lok-wan tersebut.

Waktu ia pandang Ji Yak-ih dan Hiang-hiang, kedua orang sama menunduk malu karena cercaan Pwe-giok itu.

Dengan melotot Pwe-giok berteriak pula, “Tetapi kecanduan Kek-Lok-wan ini juga bukan tak bisa dipunahkan, aku justru pernah mengalami sendiri, asalkan kalian mempunyai hati yang teguh, punya keberanian, sanggup menahan siksaan untuk sementara waktu, maka kalian pasti dapat membebaskan diri dari pengaruhnya. Dengan begitu kalian akan dapat bangkit kembali menjadi manusia baru. Kalau tidak, kalian akan semakin tenggelam dan selamanya akan diperbudak olehnya.”

Air muka Ji Yak-ih dan Hiang-hiang tampak terangsang, akan tetapi Ki Leng-hong lantas mengeluarkan sebuah kotak kecil dan menuang satu biji pil berwarna coklat tua, ucapnya dengan perlahan,

“Satu kotak Kek-Lok-wan ini mestinya kusediakan untuk kalian, tapi sekarang kalian tidak ingin menikmatinya lagi, biarlah kuberikan saja kepada orang lain.”

Demi mengendus bau khas obat itu, seketika rasa malu dan emosi yang bergejolak pada wajah Ji Yak-ih dan Hiang-hiang tadi sirna seluruhnya. Seketika kedua orang berubah lagi menjadi beringas. Mirip seperti anjing lapar yang melihat tulang, dengan pandangan rakus mereka melototi kotak yang dipegang Ki Leng-hong itu.

Sekonyong-konyong kedua orang itu berlutut sambil menyembah, dengan suara gemetar mereka lalu meratap, “O, sama sekali tidak ada maksud kami akan begitu, kata-kata tadi seluruhnya diucapkan oleh dia.”

Ki Leng-hong memandang mereka dengan dingin, dengusnya, “Jika demikian, jadi tiada maksud kalian hendak melepaskan diri dari Kek-lok-wan?”

“Ya, ti... tidak!” jawab Ji Yak-ih dan Hiang-hiang berbareng.

“Masa kalian rela diperbudak olehnya selama hidup?” tanya Ki Leng-hong.

“Ya... ya...” Hiang-hiang dan Ji Yak-ih berebut menjawab lebih dulu.

“Huh, manusia tak berguna,” omel Ki Leng-hong, “Ini, ambil!”

Mendadak ia hamburkan isi kotak kecil yang dipegangnya sehingga pil kecil-kecil itu lantas bergelindingan memenuhi lantai. Serentak Ji Yak-ih beserta Hiang-hiang merangkak dan berebut memungutnya.

Pwe-giok menghela nafas, sungguh dia tidak tega menyaksikan tingkah laku mereka.

“Nah, sekarang tentunya kau tahu betapa besar kekuatan Kek-lok-wan ini,” kata Ki Leng-hong. “Tentunya tidak setiap orang dapat membebaskan diri dari kekuasaannya seperti kau.”

Tiba-tiba saja dia tertawa, lalu menyambung pula dengan perlahan, “Terhadap tekad dan keberanianmu, sungguh aku pun sangat kagum.”

Pwe-giok tidak menghiraukan ocehannya. Tapi Ki Leng-hong lantas berkata pula,

“Mengapa kau tidak menggubris diriku? Betapa pun juga kita kan sahabat lama. Apa lagi aku pun pernah banyak membantu kesukaranmu, tapi kenapa begitu melihat diriku lantas ingin mengelak seperti takut kepada ular berbisa.”

Pwe-giok diam sejenak, akhirnya menghela nafas dan berkata, “Betul, memang banyak kau bantu kesukaranku, aku pun tahu harus membalas kebaikanmu, tapi... tapi...”

“Jangan kuatir, saat ini belum tiba waktunya aku minta balas jasamu,” kata Ki Leng-hong dengan tertawa.

“Jika demikian, apakah kau... kau ingin...”

“Aku hanya ingin mengadakan suatu transaksi denganmu.”

“Transaksi?” Pwe-giok menegas.

“Ya, transaksi, persetujuan jual beli, bisnis kata orang!” Leng-hong mengitari Pwe-giok, lalu menyambung,

“Tahukah kau bahwa sesungguhnya kau ini seorang yang sangat aneh. sejak pertama kali kulihat kau lantas kulihat pada dirimu terdapat banyak hal-hal yang aneh.”

“Hal-hal yang aneh bagaimana?” tanya Pwe-giok. “Di... dimana letak keanehanku?”

Mendadak Ki Leng-hong berpaling, Ji Yak-ih dan Hiang-hiang diusirnya keluar, pintu kamar ditutupnya rapat-rapat, lalu berkata dengan perlahan,

“Pertama, mestinya kau ini putera tunggal Ji Hong-ho, tapi malah...”

Belum habis ucapannya, berteriaklah Lui-ji dengan kaget sekali, “Apa katamu? Dia putera Ji Hong-ho?”

Ki Leng-hong tersenyum, jawabnya, “Masakah kau tidak tahu? Ya, dia memang putera Ji Hong-ho, dengan sendirinya kau tidak tahu. Selain aku dan Ko-lauthau memang tidak ada orang ketiga lagi yang tahu rahasia ini.”

Lui-ji melototi Pwe-giok dengan melongo, saking kejutnya hingga tidak sanggup bersuara pula.

“Dapat menjadi putera Bu-lim-bengcu jaman ini kan sesuatu yang membanggakan dan terhormat. Tapi dia tidak sudi dan pura-pura mati agar orang mengira dia adalah seorang Ji Pwe-giok yang lain.”

“Se... sebab apakah dia begitu?” tanya Lui-ji.

“Bukan saja dia tak mau mengakui Ji Hong-ho sebagai ayahnya, juga tidak mau mengaku Lim Tay-ih sebagai bakal istrinya, bahkan membiarkan Lim Tay-ih salah paham padanya dan lebih suka dibunuh oleh nona Lim itu.” Dia tertawa sejenak, lalu melanjutkan, “Hari itu kusaksikan sendiri pedang Lim Tay-ih menusuk tubuhnya hingga aku menjadi rada sedih baginya.”

“Apa yang terjadi itu mungkin disebabkan persoalan mereka terlalu membuatnya berduka, hanya aku saja yang bisa memahami perasaannya sebab aku... aku pun...” sampai di sini Lui-ji tidak meneruskan lagi.

“Masa ayahmu juga berbuat hal-hal yang membikin kau kecewa dan berduka, maka kau pun tidak sudi mengakui dia sebagai ayahmu?” tanya Ki Leng-hong.

Lui-ji menggigit bibir dan tidak menjawabnya.

“Tapi keadaannya jelas berbeda dengan keadaanmu,” kata Leng-hong pula.

“Memangnya dia kenapa?” tanya juga Lui-ji.

“Bukannya dia tidak sudi mengakui Ji Hong-ho sebagai ayahnya, dia hanya menganggap Ji Hong-ho yang sekarang ini adalah Ji Hong-ho palsu,” tutur Ki Leng-hong.

Keterangan ini membuat Lui-ji terkejut, bahkan air muka Pwe-giok sendiri juga berubah.

Leng-hong memandangnya dengan tersenyum, katanya pula,

“Di dunia ini banyak orang yang mengira rahasianya sendiri pasti tak akan diketahui orang lain, padahal sejak purbakala hingga sekarang tiada sesuatu rahasia yang mutlak dapat mengelabui orang lain. Betul tidak?”

Dia tahu tidak nanti Pwe-giok menjawab pertanyaannya itu, maka dia lantas menyambung pula,

“Bahkan di dunia ini banyak peristiwa yang terjadi di luar dugaan orang. seperti kejadian sekarang, kau kira sudah dapat menghindarkan diriku, tetapi di sini justru kupergoki kau lagi.”

“Maksudmu...”

“Maksudku kejadian tempo hari,” sela Leng-hong sebelum lanjut ucapan Pwe-giok, “Yaitu waktu berada di kota kecil yang sepi itu, di sana kau kira tak akan bertemu dengan siapa pun, tak kau duga orang yang melihat dirimu di sana waktu itu sesungguhnya jauh lebih banyak dari pada sangkaanmu.”

Pwe-giok menghela nafas panjang, gumamnya, “Ya, memang jauh lebih banyak dari pada perkiraanku.”

“Kau tahu, aku pun terkejut ketika melihat kau dan Lim Tay-ih masuk ke hotel itu...”

“Tapi sampai sekarang aku tetap tidak paham, kenapa kau bisa berada di kota kecil itu?” sela Pwe-giok.

“Aku berada di sana karena menguntit jejak Sebun Bu-kut,” tutur Leng-hong. “Sebab sejak kupergoki dia, terhadap tindak tanduk orang seperti itu aku lantas menaruh curiga, selalu kurasakan mereka itu bukan manusia baik-baik.”

Pwe-giok tersenyum getir, ucapnya, “Kami tidak mengira karena menguntit jejak mereka sehingga kalian memergoki diriku di sana.”

“Aku pun tidak menduga bahwa mereka sebenarnya sedang menguntit dirimu,” kata Leng-hong. “Lebih-lebih tak kuduga Ang-lian-hoa juga akan muncul di kota kecil itu. Kemudian baru diketahui bahwa hal itu disebabkan Kay-pang akan mengadakan suatu pertemuan di daerah Sujwan, maka Ang-Lian-hoa kebetulan lalu di sana.”

“Aih, di dunia ini memang terlalu banyak kejadian yang kebetulan,” ujar Pwe-giok dengan gegetun.

“Ketika Ang-lian-hoa melihat kalian, mungkin dia jauh lebih terkejut dari pada aku,” tutur Leng-hong pula. “Sebab sama sekali tak tersangka olehnya bahwa nona Lim yang dingin seperti es itu bisa masuk hotel bersama seorang lelaki yang baru saja dikenalnya, bahkan tinggal di dalam suatu kamar yang sama.”

Lui-ji seperti mau bicara apa-apa, tapi urung setelah memandang Pwe-giok sekejap.

“Maka dengan sendirinya Ang-lian-hoa ingin menyelidiki duduk perkaranya,” kata Leng-hong pula. “Tapi dia harus menjaga gengsi, tidak nanti dia mengintip urusan pribadi orang lain secara diam-diam, sebab itulah dia lalu memerintahkan seorang anak buahnya yang bernama Song-losu agar menyamar sebagai pelayan hotel.”

“Hmm, memang sudah kuketahui gerak-gerik pelayan itu rada-rada tidak beres,” jengek Pwe-giok. “Begitu memasuki kamarku dia lantas... lantas memandang tubuh nona Lim. Pelayan umumnya mana ada yang berani begitu?”

“Masa sudah kau ketahui dia adalah anak buah Ang-lian-hoa?” tanya Leng-hong.

“Meski tidak dapat kupastikan, tapi aku tahu umumnya orang-orang yang bekerja sebagai pelayan dan sejenisnya itu bila tidak ada kontak dengan Kay-pang tentu akan sulit sekali mempertahankan profesinya itu.”

Leng-hong tertawa, ucapnya, “Dan mungkin tidak pernah kau duga bahwa Song-losu itu diam-diam juga termasuk anak buahku.”

“Hah, masa... masakah dia juga sudah kecanduan Kek-lok-wan?” seru Pwe-giok terkejut.

“Ya, begitulah,” jawab Leng-hong.

“Makanya sebelum dia menyampaikan laporan kepada Ang-lian-hoa, setiap gerak-gerikmu lebih dulu telah dilaporkannya padaku. Menurut laporannya, katanya sikap kalian berdua amat aneh. Malahan waktu untuk kedua kalinya dia masuk kamarmu, dilihatnya nona Lim sedang menangis dengan kepala tertutup selimut, sebaliknya kau berdiri termangu-mangu menghadapi dinding seperti malu bertemu dengan orang lain.”

“Apa lagi yang dilaporkannya?” tanya Pwe-giok.

“Dia bilang, sesungguhnya dia kenal nona Lim, sebab dahulu waktu nona Lim mengalami kesulitan, dia juga menyamar sebagai pelayan lantas diam-diam meneruskan berita yang diselundupkan nona Lim. Tapi sekali ini nona Lim seperti tidak kenal dia lagi.”

Pwe-giok lantas teringat pada kejadian itu, sebab Ang-lian-hoa pernah bercerita padanya bahwa berita yang diselundupkan Lim Tay-ih itu adalah pesan si nona agar Ang-lian-hoa mempercayai si Ji Pwe-giok.

Semua ini adalah kejadian beberapa bulan yang lalu, tapi kalau terpikir sekarang rasanya seperti sudah lama sekali, seolah-olah kejadian pada jelmaan hidup yang lalu.

Ki Leng-hong bercerita lebih lanjut,

“Setelah menerima laporan Song-losu itu, aku juga merasa heran, timbullah keinginanku untuk pergi kesana, tetapi siapa tahu Sebun Bu-kut berikut begundalnya sudah berada di sana lebih dulu, bahkan Ang-lian-hoa juga ikut kesana.”

“Ya, aku pun tahu hotel itu telah kedatangan tamu yang tidak sedikit,” ujar Pwe-giok.

“Kemudian lantas kulihat nona Lim tiba-tiba menerjang keluar dari kamar sambil berkaok-kaok, menyusul kau lantas ditusuknya dengan pedang, tampaknya dia hendak melubangi tubuhmu dengan sekali tusuk,” Leng-hong memandang Pwe-giok dengan terbelalak, lalu bertanya, “Sebab apakah dia bertindak begitu?”

Pwe-giok termenung hingga sekian lamanya, jawabnya kemudian setelah menarik napas panjang, “Seperti katamu tadi, aku tidak memberi-tahukan padanya bahwa aku inilah... Ji Pwe-giok yang bakal suaminya itu. Dia... dia menganggap aku berbuat sesuatu yang tidak baik padanya, maka dia ingin membunuhku.”

Ki Leng-hong tersenyum hambar, katanya, “Melihat kejadian itu, Ang-lian-hoa, Sebun Bu-kut berikut begundalnya tentu juga mempunyai pikiran begitu, mereka pun yakin kau telah berbuat tidak senonoh terhadap nona Lim. Keteranganmu tadi pasti akan dipercaya oleh mereka, tapi aku...”

“Masa kau tidak percaya?” tanya Pwe-giok.

“Ya, satu kata pun aku tidak percaya,” jawab Leng-hong.

“Memangnya kau kira apa yang telah terjadi?” tanya Pwe-giok pula.

“Pertama, kuyakin dia sudah tahu kau inilah Ji-Pwe-giok yang dulu itu, kalau tidak, mana mungkin dia masuk hotel bersamamu dan tinggal di dalam satu kamar...”

“Tapi mungkin... mungkin dia memang sedang mencari kesempatan untuk membunuhku,” kata Pwe-giok.

Leng-hong tertawa, katanya, “Apa bila dia ingin membunuhmu, dimana-mana kan terbuka kesempatan baginya, lalu kenapa mesti menunggu sampai berada di hotel? Sebabnya dia baru bertindak sesudah masuk hotel, tujuannya hanya untuk main sandiwara saja, kalau penontonnya sudah hadir semua barulah dia mulai main.”

Air muka Pwe-giok semakin pucat, desisnya, “Untuk apa dia main sandiwara?”

“Untuk para penontonnya,” kata Leng-hong dengan tertawa. “Sebab kalian sudah melihat kedatangan Sebun Bu-kut bersama begundalnya, bahkan tahu diam-diam mereka sedang mengintai gerak-gerik kalian, maka si nona berlagak bertengkar dengan kau dan seperti ingin membunuhmu, dengan demikian maka orang-orang itu tentu tak akan curiga bahwa kau adalah Ji Pwe-giok yang dahulu itu.”

Ia tertawa dan berhenti sejenak, lalu menyambung dengan perlahan, “Justru lantaran aku tahu rahasiamu, makanya dapat kuterka semua ini, kalau aku sudah dapat menerkanya, untuk apa lagi kau bohongi aku, kan tiada gunanya?”

Kembali Pwe-giok termenung pula hingga lama, katanya kemudian, “Umpama terkaanmu betul, lalu kau mau apa?”

“Tidak mau apa-apa,” jawab Leng-hong. “Aku cuma kagum dan iri padamu yang memiliki bakal isteri sedemikian pintar dan bijaksana...”

Mendengar kata-kata ‘bakal isteri’ itu, seketika itu juga muka Lui-ji berubah merah padam, kemudian mendadak berubah pucat pula, sungguh ia ingin mendekap telinganya, tak sudi mendengarkannya.

Sementara itu Ki Leng-hong telah menyambung, “Berbareng itu aku pun sangat berkuatir bagimu, sebab orang semacam Ji Hong-ho, biar pun untuk sementara dapat kau tipu, tapi lambat laun rahasiamu tetap saja akan diketahui olehnya. Pada waktu itu ada maksudku hendak memperingatkan dirimu, tapi siapa tahu begitu melihat diriku kau lantas ketakutan seperti melihat setan dan lari terbirit-birit.”

Sekali ini Pwe-giok termenung hingga agak lama, setelah menghela napas ia pun berkata, “Lalu apa pula transaksi yang kau sebut tadi?”

“Semua rahasiamu telah kuketahui,” jawab Leng-hong, ”bila mana kubeberkan rahasiamu ini, seketika akan mendatangkan mala petaka bagimu. Tapi kau tidak perlu kuatir, bukan saja akan kututupi rapat rahasiamu ini, bahkan kau akan kubantu pula.”

“Membantuku bagaimana?” tanya Pwe-giok.

“Dapat kubantu kau menghancurkan Ji-Hong-ho gadungan itu, sebab aku sendiri pun ingin menghancurkan dia,” jawab Leng-hong sekata demi sekata.

Pwe-giok menarik nafas panjang, katanya, “Betul, aku tahu ambisimu yang ingin menjadi Bu-lim-bengcu, akan tetapi untuk itu kau harus menghancurkan dia lebih dulu, dan untuk menghancurkan dia, lebih dulu harus pula kau bongkar rahasianya, karena itu kau lantas ingat kepadaku, dari pada kau bilang akan membantu diriku, kan lebih tepat jika dikatakan kau bantu dirimu sendiri.”

Ki Leng-hong tertawa, katanya, “Saat ini kita berdua mempunyai musuh yang sama, jadi bukan soal lagi tentang siapa membantu siapa, kukira sama saja apakah kau bantu aku atau kubantu kau.”

“Dan kalau aku tidak sudi bekerja sama dengan orang macam kau ini?”

“Kan sederhana saja... sekarang juga akan kubunuh kau...”

Pwe-giok menghela nafas, katanya, “Aih, tampaknya aku sudah tidak mempunyai pilihan lain, begitu bukan?”

“Ya, memang begitulah,” jawab Ki Leng-hong. Ia tertawa cerah, lalu menyambung, “Tapi kalau kau mau bekerja sama denganku, tahu akan kubantu kau dengan sepenuh tenaga, mungkin tidak kau ketahui betapa kekuatanku, untuk itu dapat kuberi-tahukan kepadamu bahwa di sekitar utara dan selatan sungai panjang (Tiangkang atau Yang-tze-kiang), pada sepanjang lembah Sungai Kuning, dari Saypak (barat laut) sampai Saylam (barat daya), di setiap kota besar yang penting rata-rata terdapat anak buahku, asalkan kuberi perintah, tentu mereka akan menjual nyawa bagimu.”

“Jika kekuasaanmu benar sebesar ini, mengapa kau masih ingin menjadi Bu-lim-bengcu, lalu apa manfaatnya bagimu?”

Ki Leng-hong tertawa, katanya, “Setiap orang memiliki hobinya sendiri, ada orang gemar minum arak, ada yang kemaruk harta, ada pula yang suka main perempuan, dan hobiku adalah kekuasaan.”

“Kekuasaan?” Pwe-giok menegas dengan melengak.

“Ya, kekuasaan,” jawab Ki Leng-hong. “Orang yang tidak pernah berkuasa, selamanya tidak akan tahu bagaimana rasanya kekuasaan itu, dan cita-citaku yang terbesar selama hidupku ini adalah ingin melihat para ksatria Bu-lim di seluruh dunia ini sama berlutut dan tunduk di hadapanku, tapi sekarang... sekarang aku hanya dapat beraksi secara rahasia saja, apa bila gagal, maka selamanya aku pun takkan melihat matahari lagi.”

“Ada sementara orang yang bilang arak dapat mengacaukan watak dan perempuan bisa merugikan kesehatan, tetapi menurut pendapatku, yang paling celaka di dunia ini mungkin adalah ‘kekuasaan’ yang kau inginkan itulah,” kata Pwe-giok dengan menyesal.

Sorot mata Ki Leng-hong mendadak berubah menjadi merah membara, ucapnya sekata demi sekata, “Tapi jika ada sesuatu yang paling menarik di dunia ini, maka hal itu adalah kekuasaan. Betul tidak?”

“Tapi hendaklah kau renungkan lagi. Meski sekarang Ji Hong-ho jadi Bu-lim-bengcu, tapi kau kan tidak pernah tunduk dan menyembah padanya, bila kau jadi Bengcu, dari mana pula kau tahu tidak ada orang lain yang secara diam-diam berkhianat dan membangkang padamu?”

“Itu adalah hal lumrah,” ujar Ki Leng-hong, “Biar pun menjadi raja juga pasti ada bawahan yang berkhianat dan memberontak. Yang penting asalkan setiap orang mau menghormat dan tunduk di hadapanku, biar pun ada yang secara diam-diam membangkang juga tidak menjadi soal.”

“Tapi kedudukan Bu-lim-bengcu macam begitu akan dapat bertahan berapa lama?” tanya Pwe-giok

“Asalkan dapat berkuasa satu hari... walau pun cuma satu hari juga sudah puas bagiku,” kata Leng-hong.

Pwe-giok menghela nafas pula, gumamnya, “Aih, kekuasaan, kekuasaan! Tak tersangka kata-kata ini mempunyai daya tarik sebesar ini.....?”


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner