IMBAUAN PENDEKAR : JILID-14


Cuma sayang, dia ketanggor. Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang bahkan sama sekali tidak melirik padanya, apa lagi tertarik.

Setelah para pelayan menyiapkan makanan dan minuman, dengan goyang pinggul Hiang-hiang lantas mendekati tamunya. Ia mengangkat poci arak dan sengaja mempertontonkan tangannya yang putih mulus itu di depan mata orang.

Gelang kemala hijau yang dipakainya sama berdentingan, suaranya pun halus merdu, biar tanpa arak juga suara tertawanya cukup memabukkan tamunya. Tapi sayang, Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang tetap tidak menggubrisnya, seperti tidak melihatnya sama sekali.

Namun Hiang-hiang belum putus asa. Dengan suara nyaring seperti bunyi keleningan dia berkata,

“Silakan tuan-tuan mencicipi arak simpananku ini, biasanya arak ini tidak sembarangan kusuguhkan kepada tamuku, hanya sekarang harus dikecualikan sebab hanya tiga ksatria ternama seperti kalian inilah yang...”

Belum habis ucapannya mendadak Tong Bu-siang mendelik dan memotong ucapannya,

“Dari mana kau tahu kami ini ksatria ternama? Siapa yang beri-tahukan padamu?”

Hiang-hiang mengerling genit, katanya dengan senyuman menggiurkan, “Masakah perlu diberi-tahu? Sekali melihat sikap kalian yang berwibawa ini, kalau bukan ksatria ternama mana bisa sekereng ini?”

Tong Bu-siang mendengus, katanya, “Kami ini kaum pedagang, kekayaan kami memang boleh diandalkan...”

“Creng”, mendadak Ong Uh-lau melemparkan sepotong emas murni diatas meja, katanya,

“Kau ingin memiliki emas ini atau tidak?”

Meski Bong-hoa-lau ini rumah hiburan yang biasanya dipenuhi tamu berduit, tetapi emas seberat ini tidaklah mudah diperoleh apa bila tak ada hubungan intim antara tamu dengan langganannya.

Hiang-hiang pura-pura menunduk, ucapnya dengan menggigit bibir,

“Apakah tuan ingin... ingin...”

“Aku ingin kau keluar dari sini!” tukas Ong Uh-lau, “Keluarlah dengan membawa emas ini, dan sebaiknya jangan masuk kemari kalau tidak dipanggil.”

Lui-ji menyangka sekali ini Hiang-hiang pasti tidak dapat tertawa lagi. Siapa tahu, sambil mengerling Hiang-hiang berkata pula dengan tertawa genit,

“Aih, jika demikian, biarlah kuucapkan terima-kasih saja.” Habis berucap segera dia comot emas itu dan benar-benar melangkah pergi.

Mendadak orang yang duduk membelakangi Pwe-giok itu berseru, “Nanti dulu!”

Hiang-hiang menoleh dan tersenyum genit, tanyanya, “Ada apa lagi?”

Tangan orang itu terjulur ke depan, tahu-tahu setangkai bunga goyang berhiaskan mutiara besar sudah tersunggih di tangannya.

Bunga goyang berhias mutiara ini jelas jauh lebih berharga dari pada sepotong emas tadi. Seketika perhatian semua orang tertarik oleh perhiasan ini, hanya Pwe-giok seorang saja yang tetap memperhatikan tangan orang itu.

Tangan itu tidak kasar, bahkan jarinya halus dan lentik, tercuci sangat bersih, meski baru saja memegang tali kendali kuda dan menempuh perjalanan jauh, tetapi tangannya tetap tidak kotor sedikit pun.

Tangan ini tampaknya tidak terlalu kuat, tetapi sangat mantap, dengan menyunggih bunga mutiara dan terjulur begitu tetap kelihatan mantap tidak bergoyang sedikit pun.

Dada Hiang-hiang tampak naik turun, dengan terengah-engah dia berkata, “Selama hidup tidak pernah kulihat mutiara seindah ini, bolehkah aku memegangnya?”

“Untuk apa hanya memegang saja? Jika kau suka, boleh kuberikan padamu,” kata orang itu.

Suaranya ternyata suara orang muda, bahkan kedengarannya rada kemalas-malasan.

Hiang-hiang menjawab sambil tersenyum senang, “Jelas kau tahu bahwa tak ada seorang pun perempuan yang dapat menolak pemberian perhiasan sebagus ini, kenapa kau perlu tanya lagi padaku?”

“Tapi kalau kau suka pada perhiasan ini, kau harus tinggal di sini dan mengiringiku minum arak,” kata orang itu.

Seketika timbul rasa kejut dan heran pada wajah Hiang-hiang, tanpa terasa dia pandang Tong Bu-siang dan Ong Uh-lau, dilihatnya air muka kedua orang itu bersungut menahan rasa marah, tapi tidak berani menyatakan keberatannya.

Dengan sendirinya Pwe-giok jauh lebih terkejut dan heran dari pada Hiang-hiang.

Siapakah gerangan pemuda itu? Mengapa dia sengaja memusuhi Ong Uh-lau? Dengan terang-terangan Ong Uh-lau mengusir Hiang-hiang, tapi dia justru minta agar Hiang-hiang menemaninya minum arak.

Tampaknya Ong Uh-lau hanya berani marah tetapi tidak berani bicara. Masa orang she Ong ini jeri terhadap pemuda itu?

Bahwa mereka adalah satu rombongan dan datang bersama, jelas mereka pun sedang melakukan sesuatu yang penuh rahasia, agaknya pemuda itu pun anak buah Ji Hong-ho.

JIka begitu, mengapa dia memusuhi Ong Uh-lau dan mengapa Ong Uh-lau jeri padanya. Padahal setahu Pwe-giok, kedudukan Ong Uh-lau dalam komplotan Ji Hong-ho gadungan itu tidaklah rendah, juga bukan seorang penakut, tapi mengapa mengalah kepada pemuda ini?

Tiba-tiba Pwe-giok merasakan pemuda inilah betul-betul seorang tokoh yang misterius...

Dengan sendirinya Hiang-hiang menurut dan berduduk lagi di situ. Malah ia sengaja duduk di pangkuan pemuda itu, sekujur badannya terbenam dalam pelukan orang itu.

Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang saling pandang sekejap, mereka berpaling ke arah lain dan tidak mau memandang lagi rekannya.

“Huh, munafik, hipokrit,” ejek pemuda itu dengan bergelak tertawa. “Sebabnya dunia ini kacau balau begini adalah karena terlalu banyak manusia munafik.” Dia rangkul pinggang Hiang-hiang yang ramping, lalu menyambung pula dengan tertawa,

“Tapi antara kau dan aku tiada bedanya, sama-sama siaujin (manusia kecil, rendah) tulen, makanya kita berdua jauh lebih gembira dari pada orang lain, betul tidak?”

Hiang-hiang terkikik-kikik di dekat telinga pemuda itu, ucapnya, “Ya, bukan saja jauh lebih gembira dari pada orang lain, bahkan juga jauh lebih menarik dari pada orang lain.”

“Ha-ha-ha, ucapan bagus, ucapan tepat! Harus kuhormati kau tiga cawan!” seru pemuda itu sambil bergelak.

Ia benar-benar menuang tiga cawan arak berturut-turut, sambil mengetuk poci arak ia pun berdendang, “Manusia hidup jarang ketemu waktu gembira, mumpung ada kesempatan janganlah dilewatkan. Malam yang sejuk dan indah begini, mana boleh tanpa minum arak. Marilah mari, aku pun menyuguh kalian tiga cawan arak!”

Sekali ini Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang ternyata sangat penurut, mereka benar-benar angkat cawan dan menenggaknya hingga habis meski dengan ogah-ogahan dan berkerut kening, cara minum arak mereka ini mengingatkan orang kepada anak kecil yang dipaksa minum obat.

Tetapi pemuda itu masih terus menenggak araknya secawan demi secawan, berbareng ia terus lalap santapan yang tersedia, malahan seperti santapan itu kurang lezat, berulang ia menggigit hidung Hiang-hiang pula.

Hiang-hiang tertawa cekakak dan cekikik, mendadak ia menjerit.

“Sakit?” tanya pemuda itu.

Hiang-hiang membenamkan kepalanya di dada orang sambil menjawab, “O, tidak!”

“Ha-ha-ha-ha!” Pemuda itu tertawa.

“Sudah kuberikan bunga mutiara yang bernilai ribuan tahil emas tadi, jadi aku pun berhak menggigit kau dan terpaksa kau pun menjawab tidak sakit, Inilah manusia, setiap manusia ada harganya, ada tarifnya sendiri-sendiri, bedanya cuma tinggi atau rendah tarif saja.”

“Dan engkau sendiri apakah pasang tarif?” tanya Hiang-hiang dengan aleman.

“He, kau ingin membeli diriku?”

“Ehmm, akan kubeli kau dan kubawa pulang dan kusembunyikan di dalam kamar.”

Pemuda itu tertawa keras, ucapnya, “Cuma sayang, harga diriku terlampau tinggi, apa bila kau mencari duit mati-matian seperti sekarang, setiap tamu kau terima dan seluruh hasil pendapatanmu kau kumpulkan, setelah menabung 30 atau 50 tahun, mungkin masih ada harapan.”

“Wah, sementara itu bukankah aku sudah menjadi nenek-nenek?” ujar Hiang-hiang sambil mengikik tawa.

“Asal ada duit, biar pun nenek-nenek juga tidak menjadi soal.”

Mendengar sampai di sini, di balik ruang rahasia Lui-ji tidak tahan lalu mendesis, “Busyet, tampaknya orang ini cocok menjadi saudara angkat Ji Yak-ih.”

Ki Leng-hong menghela nafas perlahan, katanya, “Orang ini mungkin sepuluh kali lebih pintar dari pada Ji Yak-ih dan juga berpuluh kali lebih menakutkan.”

“Tetapi orang semacam dia inilah yang juga pantas disebut sebagai siaujin tulen,” tukas Pwe-giok.

Dilihatnya pemuda itu berturut-turut menghabiskan tiga cawan arak lagi, lantas memukul meja dan berseru dengan tertawa, “Meski sekarang kau tidak mampu membeli diriku, tapi aku mampu membeli dirimu. Kau beli diriku atau aku yang membeli dirimu, akhirnya kan juga sama saja?”

Mendadak ia bangkit, Hiang-hiang diseretnya sambil berguman, “Wah, rasanya aku telah mabuk dan ingin bobok, marilah kita...”

Dengan sempoyongan ia terus tarik Hiang-hiang ke kamar sebelah sana, terdengar suara tertawa Hiang-hiang dan pintu kamar pun tertutup.

Selang sejenak terdengar pemuda tadi telah berdendang pula, dendangnya orang mabuk, suaranya semakin lirih dan akhirnya tak terdengar lagi.

Tiba-tiba saja seluruh rumah hiburan itu berubah menjadi sunyi senyap. Lui-ji dan lain-lain yang mengintip di balik ruang rahasia sana juga tidak berani bersuara lagi.

Selang sejenak pula, Tong Bu-siang menggeleng kepala dan berucap dengan menyesal, “Sungguh aku tidak mengerti, kenapa Bengcu menyuruh orang macam begini ikut ke sini bersama kita.”

Ong Uh-lau terpekur sejenak, sahutnya, “Perintah Bengcu, sudah tentu cukup beralasan.”

“Tapi orang sialan ini sebenarnya orang macam apa, kau tahu?” tanya Tong Bu-siang.

“Aku pun tidak tahu,” jawab Ong Uh-lau.

“Yang jelas Bengcu menaruh kepercayaan penuh padanya, sebab itulah beliau memberi pesan wanti-wanti kepadaku agar kita tunduk kepada perintahnya, apa pun kehendaknya harus kita turuti.”

Tong Bu-siang menghela nafas, katanya, “Tapi dalam keadaan demikian orang ini hanya tahu makan minum dan berfoya-foya, urusan lain tidak ambil pusing, malahan terus pergi tidur segala. Orang macam begini masa dapat dipercaya?”

Ong Uh-lau termenung sejenak, tapi akhirnya tetap mengemukakan kata-kata yang sama, yaitu, “Atas pesan Bengcu, tentu ada alasannya.”

Baru sekarang Pwe-giok tahu sampai Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang juga tidak tahu asal-usul si pemuda yang misterius ini.

Semenjak awal hingga akhir pemuda itu tetap berduduk membelakangi Pwe-giok hingga yang kelihatan hanyalah bayangan samping saja, malahan hanya pandangan sekilas saja. Diketahuinya wajah pemuda itu sangat cakap, tapi juga seperti pemalas, membuka mata saja rasanya enggan.

Tapi sampai saat ini Pwe-giok dapat memastikan sesuatu, yakni bukan saja ia tidak kenal pemuda ini, bahkan tidak pernah melihatnya sebelum ini.

Dalam pada itu, Tong Bu-siang beserta Ong Uh-lau masih tetap duduk diam di sana, arak setetes pun tidak minum, makanan setitik juga tidak disentuh. Malah keduanya kelihatan rada tegang dan mulai gelisah.

Selang sekian lama lagi, tiba-tiba Tong Bu-siang tertawa dan berkata, “Kuharap orang itu bisa lekas datang, biar kita menyelesaikan urusan kita di luar dan biarkan dia menikmati menjadi pengantin baru, coba nanti cara bagaimana dia akan bertanggung jawab terhadap Bengcu”

Ong Uh-lau melotot lagi kepadanya sambil menjengek, “Hmm, caramu bicara ini apakah takkan ketahuan belangmu?”

“Ketahuan belangku apa?” jawab Tong Bu-siang dengan mendelik.

“Ingat, sekarang kau ini dalam kedudukan apa?”

“Sudah tentu aku tahu.”

“Bila mana kau dalam kedudukan sebagai seorang Ciangbunjin suatu perguruan ternama, caramu bicara hendaknya juga berbau sebagai seorang berpengaruh. Tapi caramu bicara yang menginginkan orang lain tertimpa malang dan mengharapkan kekacauan dunia ini hanya memperlihatkan kau ini berasal dari kaum rendahan.”

Seketika Tong Bu-siang melenggong, mukanya sebentar pucat sebentar merah. Tiba-tiba saja ia menggebrak meja dan berteriak, “Aku tahu kalian memandang hina padaku, sebab dahulu aku cuma seorang perawat kuda saja. Tetapi kau sendiri, kau ini kutu macam apa pula? Memangnya kau kira kau ini benar-benar Kanglam-tayhiap Ong Uh-lau segala?”

“Tutup bacotmu!” bentak Ong Uh-lau dengan gusar.

“Aku justru ingin omong lagi,” sahut Tong Bu-siang dengan muka merah padam. “Ya, jika aku ingin omong terus, apa yang dapat kau lakukan terhadapku? Memangnya dapat kau bunuh diriku?”

“Biar kubunuh kau, memangnya takut apa?” kata Ong Uh-lau dengan beringas.

“Huh, masa aku percaya kau berani? Ingat, saat ini aku adalah ketua keluarga Tong yang disegani, bila mana kau bunuh diriku, ke mana lagi akan kau cari seorang Tong Bu-siang yang lain?”

Ong Uh-lau melotot sekian lama, lalu mendadak dia tertawa, katanya, “Ai, sudahlah, apa yang kukatakan tadi, semuanya adalah demi kebaikanmu, sebab kalau sampai rahasiamu terbongkar, bagimu mau pun bagiku sama-sama tidak ada faedahnya.”

Maka tertawalah Tong Bu-siang, ucapnya, “Jangan kuatir, latihanku selama dua tahun ini masa percuma saja?”

Mendengar sampai di sini, tangan Pwe-giok sudah berkeringat dingin.

Nyata ‘Tong Bu-siang’ ini tadinya hanyalah seorang perawat kuda saja, bisa jadi lantaran mukanya serupa dengan Tong Bu-siang asli, maka dia terpilih untuk dijadikan Tong Bu-siang imitasi.

Jika demikian, lalu siapa pula orang yang menyaru sebagai Ong Uh-lau ini? Dan siapa lagi yang menyamar sebagai Lim Soh-koan, Ong Tay-oh, Sebun Bu-kut dan lain-lain, berasal dari orang macam apakah mereka itu?

Sudah tentu, bisa jadi mereka semula cuma seorang kusir, seorang koki, seorang tukang sayur, seorang penambal sepatu, bahkan bukan mustahil seorang germo.

Lalu, orang macam apa pula ‘Ji Hong-ho’ itu?

Mungkinkah tingkatannya lebih terhormat dari pada orang-orang ini...?

Bisa jadi karena dia lebih berbakat dan lebih giat berlatih, maka selain wajah serta gerak-geriknya dapat menirukan Hong-ho Lojin dengan persis, bahkan juga berhasil mempelajari kungfu Bu-kek-bun dengan baik. Namun apa pun juga, asalnya pasti seorang Siaujin yang rendah.

Berpikir sampai di sini, seluruh badan Pwe-giok rasanya seperti mau meledak.

Dalam pada itu Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang tampak semakin gelisah. Tong Bu-siang lantas berbangkit dan mondar-mandir di dalam ruangan sambil bergumam, “Aneh, kenapa belum datang... Kenapa belum datang?”

“Jika dia tidak datang, biar pun gelisah juga tiada gunanya,” ujar Ong Uh-lau. “Lebih baik berduduk dan menunggu saja.”

Tong Bu-siang menggosok-gosok jenggotnya sambil berkata, “Kau tidak gelisah, akulah yang gelisah. Jika dia tidak datang, bagaimana?”

“Urusan ini juga menyangkut kepentingannya, mana bisa dia tidak datang,” ujar Ong Uh-lau.

“Semoga tidak terjadi apa-apa atas dirinya,” kata Tong Bu-siang sambil menghela napas.

Sesungguhnya siapakah gerangan yang mereka tunggu itu?

Mengapa mereka begitu tegang dan juga tampak misterius?

Saking tak tahan hampir saja Lui-ji bertanya. Namun pada saat itu pula mendadak di luar jendela terdengar suara “kok-kok” dua kali, seperti suara burung kokok beluk.

Seketika semangat Tong Bu-siang terbangkit, dia segera melompat ke depan jendela dan menjawab dengan suara “cuat-cuit” dua kali. Dari luar ada suara mencicit pula, lalu Tong Bu-siang membuka daun jendela, dan dari luar segera melayang masuk seorang laki-laki berbaju hijau.

Dandanan orang ini mirip seperti seorang petani yang baru saja habis pulang mencangkul dari sawah. Kain bajunya kasar, berlepotan lempung lagi. Ikat kepalanya yang juga terbuat dari kain hijau kini pun sudah basah kuyup, jelas dia menempuh perjalanan dengan cepat dan tergesa-gesa.

Muka orang ini hitam hangus seperti pantat kuali, bila diperhatikan baru ketahuan bahwa mukanya dipoles dengan hangus berminyak agar wajah aslinya tidak dikenal orang.

Serentak Ong Uh-lau bangkit dan menyambut kedatangan orang, tegurnya dengan suara tertahan, “Angin apakah yang meniup sahabat ke sini?”

Orang itu celingukan sejenak, kemudian dia pun menjawab dengan suara tertahan, “Angin tenggara yang meniup dari barat laut.”

“Adakah sahabat melihat sesuatu di tengah perjalanan?” tanya Ong Uh-lau pula.

“Kulihat si kakek lagi makan permen dan si cucu lagi minum arak,” sahut orang itu.

Tanya jawab ini sangat lucu dan mengada-ada saja, jelas hanya untuk mencocokkan kode rahasia masing-masing.

Air muka On Uh-lau kelihatan merasa lega, dia lantas memberi hormat dan berkata pula, “Silakan duduk, sudah lama kami menunggu di sini.”

“Mengapa tamu Bong-hoa-lau ini hanya terdiri atas kalian saja?” tanya orang itu.

“Sebab semua nona penghuni rumah hiburan ini sedang pergi menghibur, tidak menerima tamu,” tutur Ong Uh-lau.

“Masa rumah hiburan begini pakai libur segala?” kata orang itu rada tercengang.

“Maklumlah, bila mana para nona penghuni rumah hiburan macam begini sedang datang bulan, ‘palang merah’ menurut istilah mereka, maka tamu apa pun akan ditolak.”

Baru sekarang orang itu menghela nafas lega, pandangannya segera tertarik pada arak dan santapan di atas meja...

“Apakah saudara belum lagi bersantap?” tanya Ong Uh-lau.

“Ya, terus terang saja sudah dua hari Cayhe tidak makan satu butir nasi apa pun,” jawab orang itu sambil menyengir dan menelan air liur.

Aneh sekali! Orang macam apakah dia ini, mengapa jejaknya demikian misterius dan juga sedemikian konyol, sampai mesti menempuh perjalanan selama dua hari dengan puasa? Jangan-jangan dia lagi menghindari pengejaran seseorang, karena itulah dia tidak sempat makan dan juga tidak berani muncul di depan umum?

Lalu jauh-jauh Ong Uh-lau dan Tong Bu-siang datang ke sini untuk menunggu orang ini, apa pula maksud tujuan mereka...?

Dalam pada itu orang berbaju hitam itu sudah duduk dan mulai makan. Walau pun sudah kelaparan, namun cara makannya tidak rakus, tampaknya cukup sopan dan terpelajar.

Dalam bertingkah laku sopan demikian, tidak mungkin orang dapat berpura-pura. Sebab itulah seorang hartawan yang kaya mendadak akan tetap kelihatan kedodoran, seorang pengemis biar pun diberi pakaian mahkota juga tetap tidak memper seorang raja.

Untuk hal demikian ini, sekali pandang saja Pwe-giok langsung tahu bahwa orang berbaju hijau ini pasti berasal dari keluarga terhormat.

Selang sejenak pula barulah orang itu menaruh sumpitnya, tiba-tiba ia melototi Tong Bu-siang dan berkata, “Coba, silakan Anda lepas baju dan celana dan perlihatkan padaku.”

Bahwa seorang yang kelihatan berasal dari keluarga terhormat dan terpelajar mendadak menyuruh orang lain ‘membuka celana untuk diperlihatkan kepadanya’, sungguh kejadian yang sukar dipercaya.

Yang lebih aneh lagi ialah Tong Bu-siang ternyata menuruti permintaan itu, ia benar-benar membuka baju dan mencopot celana.

Perlahan Lui-ji mengomel, ia berpaling dan malu untuk memandangnya, tetapi tidak urung hatinya ingin tahu apa yang akan dilakukan orang berbaju hijau itu setelah menyuruh Tong Bu-siang membuka pakaian. Ia coba melirik lagi ke sana, dilihatnya Tong Bu-siang tidak membuka pakaian hingga telanjang bulat, saat itu sebelah kakinya yang penuh bulu lebat tampak selonjor di atas kursi.

Sambil menunjuk satu jalur panjang bekas luka pada kaki Tong Bu-siang itu, Ong Uh-lau berkata dengan tersenyum, “Bekas luka ini kukerjakan menurut contoh bekas luka pada kaki Bu-siang Lojin, baik panjangnya mau pun lebar dan dalamnya kujamin persis seperti bekas luka pada Bu-siang Lojin itu.”

“He-he-he, caranya bekerja seperti halnya hendak mengukir stempel di pahaku ini,” tukas Tong Bu-siang dengan menyengir, “Sampai tiga hari lamanya dia mengukir dan hasilnya memang sangat memuaskan, akan tetapi yang runyam adalah diriku, meski belasan kati arak Hoa-tiau kuhabiskan, sakitnya tetap tidak kepalang.”

Orang berbaju hijau itu manggut-manggut, katanya, “Bagus, tapi tahukah kau siapa yang membuat bekas luka ini?”

“Ini kan Bu-siang Lojin...”

“Ingat!” sela orang itu, “Sekarang kau sendiri ialah Bu-siang Lojin.”

Tong Bu-siang tertawa, ucapnya, “Ya, betul. Tentang... tentang bekas luka ini, terjadinya pada waktu aku masih muda, karena kepincuk kepada seorang gadis suku Pai. Jauh-jauh aku pergi ke lembah sungai Nu di perbatasan Yunan sana, sendirian kuterjang delapan benteng Kimsah, sebab Kimsah-cecu (kepala benteng Kimsah) telah merampas berlaksa tahil pasir emas suku bangsa Pai si gadis. Meski pun kedelapan Cecu yang menjadi biang keladinya sudah kubunuh dengan senjata rahasiaku, tetapi pahaku juga terkena bacokan golok mereka. Kalau saja aku tidak selalu membawa obat luka ‘Yunan-peh-uo’, bisa jadi pahaku ini harus kupotong.”

“Kemudian bagaimana?” tanya si baju hijau.

“Kemudian baru kuketahui kalau gadis Pai itu sengaja memperalat diriku untuk merampas kembali pasir emas milik bangsanya itu, padahal dia sendiri telah memiliki kekasih pilihan sendiri. Pada saat aku merawat lukaku di pembaringan, diam-diam gadis itu kabur dengan kekasihnya.”

Si baju hijau menghela napas panjang, tukasnya, “Ya, begitulah, maka semenjak itu kau anggap gadis suku Pai rata-rata tidak setia, semuanya suka menipu, lantaran itu pula kau lalu berkeras melarang anakmu menikah dengan Kim-hoa-nio yang juga berasal dari suku bangsa minoritas itu.”

Baru sekarang Pwe-giok paham sebab musabab Tong Bu-siang benci kepada Kim-hoa-nio, rupanya bukan disebabkan Kim-hoa-nio adalah anggota dan puteri ketua Thian-can-kaucu, tapi lantaran nona itu berasal dari suku bangsa Pai.

Tak tersangka olehnya bahwa Tong Bu-siang yang kelihatan kaku dan prihatin itu, pada masa mudanya adalah seorang pemuda pecinta, sebab kalau bukan pemuda yang sok romantis tentu dia takkan tertipu oleh perempuan.

Sementara itu Ong Uh-lau sudah memutar badan Tong Bu-siang, dia tuding codet pada punggungnya dan berkata pula, “Bekas luka ini pun cukup baik bukan?”

“Ya, bagus, sama seperti aslinya,” ujar si baju hijau.

“Dan bekas luka itu terjadi pada waktu aku berumur 26. Demi untuk menuntut balas bagi saudara misanku, aku berduel dengan tokoh golok sakti Ban-sing-to, dan hasilnya adalah codet ini. Meski pun punggungku terbacok oleh goloknya, namun pedangku juga sempat menembus tenggorokannya.”

“Tepat,” ujar si baju hijau. “Lalu di tubuhmu seluruhnya ada berapa banyak bekas luka?”

“Seluruhnya ada sembilan tempat,” sahut Tong Bu-siang, “kecuali dua codet yang paling besar ini masih terdapat lagi empat tempat bekas luka pedang dan dua tempat bekas luka golok, serta satu tempat luka terbakar akibat senjata api si Pat-pi-thian-ong.”

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung pula, “Dua di antara empat bekas luka itu adalah akibat tusukan Gin-leng-kiam-khek, hal itu terjadi lantaran dia berani menista nama baik perguruan kami, Waktu itu umurku 28, selama setahun kucari dia tiga kali untuk berduel, dua kali pertama hampir saja aku mati di bawah pedangnya, pada ketiga kalinya barulah kubinasakan dia.”

“Selain kesembilan tempat bekas luka ini, apakah di tubuhmu tiada bekas luka lain lagi?” tanya si baju hijau.

“Sepertinya tidak... tidak ada lagi,” jawab Tong bu-siang setelah berpikir sejenak.

“Masa tidak ada lagi, umpamanya gigimu...”

“Oya, betul, gigiku kurang tiga biji, sebab pada waktu muda aku tidak kenal artinya takut, hampir setiap jago ternama kutantang untuk mengukur kungfu masing-masing. Suatu kali aku menantang jago silat nomor satu di lereng Tiang-pek-san, dan hasilnya daguku kena ditonjoknya sehingga tiga biji gigiku bagian atas rompal, bahkan mulutku bengkak hingga lima hari tak dapat makan dan bicara.”

“Hendaknya kau jangan lupa bahwa kejadian itu adalah salah satu kebanggaanmu selama hidup.” kata si baju hijau. “Sebab jago Tiang-pek-san itu terkenal berwatak keras dan tidak kenal ampun. Barang siapa berani mencari perkara padanya, walau pun orang berkepala besi juga akan dihancurkan olehnya, tetapi dia cuma merontokkan tiga biji gigimu, sebab itulah biar pun kau kalah bertanding, namun kekalahanmu cukup gemilang, lantaran itu pula sering kali kau membuka mulut untuk memperlihatkan mulutmu yang ompong akibat gigi rontok ditonjok lawan itu.”

“Ya, aku tidak pernah lupa.” sahut Tong Bu-siang.

Sampai di sini, diam-diam Pwe-giok merasa terharu dan sedih bagi nasib Tong Bu-siang. Padahal tokoh-tokoh yang disebutnya itu terkenal sangat lihay pada masa beberapa puluh tahun yang lalu, tapi Tong Bu-siang berani mendatangi jago-jago itu dan menantang duel padanya, ini menandakan masa muda tong Bu-siang pasti seorang yang tidak takut pada langit dan tidak gentar pada bumi, benar-benar seorang ksatria yang gagah berani.

Sungguh tak tersangka olehnya bahwa setelah tua, Tong Bu-siang bisa berubah menjadi pengecut, penakut seperti tikus.

Meski dia telah mengkhianati Pwe-giok, tapi Pwe-giok tidak dendam padanya, sebaliknya malah merasa orang tua itu harus dikasihani. Dan sekarang duplikatnya sudah tersedia, maka nasibnya selanjutnya pasti lebih mengenaskan.

Terdengar si baju hijau sedang menghela napas, lantas berkata, “Ada sementara urusan yang pasti takkan menarik perhatian orang lain, tapi sebisanya kita harus tetap waspada. Sebab sedikit rahasia kita diketahui orang, akibatnya semua urusan bisa runyam, bahkan jiwamu mungkin juga akan amblas.”

“Betul,” kata Tong Bu-siang, “jika ingin bekerja besar harus lebih berhati-hati, aku paham peraturan ini.”

Si baju hijau termenung sejenak, katanya kemudian, “Kebiasaanmu sehari-hari juga tidak boleh teledor sedikit pun. Misalnya, sekarang ini kau sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan, tetapi setiap urusan penting dalam perkampunganmu masih harus diselesaikan atau diputuskan olehmu. Oleh sebab itulah anak muridmu setiap hari masih tetap datang menyambangi kau pada waktu tertentu serta untuk meminta petunjukmu.”

“Ya, aku tahu, semua itu dilakukan pada waktu aku sarapan pagi,” kata Tong Bu-siang.

“Dan apakah kau tahu apa-apa saja yang kau makan setiap hari?” tanya pula si baju hijau.

“Aku tahu orang Sujwan tidak biasa makan bubur, sebab itu setiap pagi aku sarapan satu piring nasi goreng dengan telur dadar, terkadang juga sarapan nasi goreng babat pedas, makin pedas makin baik, sebab orang Sujwan memang terkenal doyan cabai.”

“Apakah semua itu dapat kau biasakan?”

“Pada saat permulaan memang tidak biasa, bila makan pedas keringat lantas bercucuran, tapi setelah berlangsung dua tahun semua itu pun menjadi biasa bagiku.”

“Dan tahukah kau biasanya berapa hari kau mandi satu kali?” tanya pula si baju hijau, lalu ia pun tanya berbagai urusan, baik yang penting mau pun yang sepele, dan semuanya itu dijawab oleh ‘Tong Bu-siang’ dengan sangat lancar, sampai-sampai setiap hari Tong Bu-siang yang asli berak berapa kali juga diketahuinya dengan jelas.

Dari sini dapatlah diketahui bahwa komplotan mereka ini betul-betul telah menguasai lahir batin Tong Bu-siang, setiap gerak-geriknya dan setiap kebiasaannya sudah dipelajarinya dengan tuntas tanpa kekurangan apa pun juga.

Ki Leng-hong menghela napas, ucapnya, “Untuk pekerjaan ini, entah berapa banyak Ji Hong-ho itu telah memeras pikiran dan tenaga.”

“Tentunya perbuatannya ini ada imbalannya,” ujar Pwe-giok dengan mengertak gigi.

“Betul, dengan begitu maka segala sesuatu, harta benda mau pun kekuasaan Tong-keh-ceng di Sujwan yang bersejarah ratusan tahun akan berpindah seluruhnya ke tangannya, jadi tenaga dan pikiran serta biaya berapa banyak yang dikeluarkannya tetap berharga, tidak rugi,” demikian kata Leng-hong.

“Mereka menunggu kedatangan orang berbaju hijau ini, kiranya mereka sengaja hendak menguji Tong Bu-siang gadungan ini, apakah sudah memenuhi syarat atau belum untuk tampil ke pentas,” tukas Lui-ji. “Akan tetapi, orang macam apa pula orang serba hijau ini? Mengapa dia menguasai sejelas ini seluk-beluk kehidupan Tong Bu-siang? Seakan-akan bagaimana bau kentut Tong Bu-siang juga diketahuinya.”

“Kukira orang ini pasti anak murid keluarga Tong,” kata Pwe-giok setelah berpikir sejenak.

“Ya, dia bukan sekedar anak murid keluarga Tong saja, bahkan pasti orang yang sangat berdekatan dengan Tong Bu-siang,” kata Ki Leng-hong.

“Dan sekarang ia telah mengkhianati Tong Bu-siang dan menjualnya,” kata Pwe-giok pula. “Apa bila Tong Bu-siang mengetahui dirinya bakal dikhianati anak murid sendiri, mungkin dia takkan mengkhianati orang.”

Dalam pada itu si baju hijau sudah mengecek semua persoalan terhadap Tong Bu-siang gadungan, dia sedang berduduk dan memandangi mereka dengan diam saja.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner