IMBAUAN PENDEKAR : JILID-16


Tetapi Pwe-giok sudah dapat melihatnya, jelas orang ini adalah si baju hijau yang sangat misterius itu. Kiranya dia juga telah berjaga-jaga sebelumnya dan telah menyiapkan orang menunggunya di sini.

Terlihat si baju hijau juga sangat gugup dan gelisah, begitu melayang turun dia langsung menggerundel, “Tahukah kau sudah pukul berapa sekarang?”

“Justru lantaran kami memburu waktu, di tengah jalan as kereta patah sehingga datang terlambat...” Demikian perempuan pertama tadi memberi penjelasan. “Lantas bagaimana dengan kau sendiri? Mengapa kau tidak menunggu?”

“Soalnya aku merasa di belakangku seperti ada orang menguntit, karena itu aku sengaja berputar dulu ke tempat lain,” tutur si baju hijau dengan suara parau, sembari bicara dia terus menyusup ke dalam kereta.

Kepala perempuan yang menongol tadi juga mengkeret ke dalam, terdengar dia bertanya, “Bagaimana, apakah urusannya sudah beres?”

“Wah, ceritanya sangat panjang, lekas berangkat saja!” sahut si baju hijau.

Segera si kusir bersuara menghalau kudanya dan dengan cepat kereta itu dilarikan lagi ke depan.....

********************

Meski pun Ong Uh-lau sudah cacat, betapa pun juga dia adalah seorang tokoh Kangouw kawakan, tetapi si baju hijau ini ternyata mampu meloloskan diri dari penguntitannya, jelas orang ini pun cukup cerdik dan cekatan.

Perempuan yang berada di dalam kereta itu tampaknya juga amat prihatin, lagi pula pada umumnya perempuan memang jauh lebih cermat dan hati-hati dari pada kaum lelaki, apa bila sekarang hendak menguntit jejak mereka tanpa diketahui, rasanya pasti bukan suatu pekerjaan yang mudah.

Apa lagi lari kereta itu sangat cepat, dengan tenaga Pwe-giok dan Lui-ji sekarang mungkin sukar mengintil secara ketat di belakang mereka.

Selagi Pwe-giok ragu-ragu, tiba-tiba saja Lui-ji melompat keluar dari balik bak air. Tubuh si nona yang kecil mungil dan gesit laksana kucing sekaligus melompat ke belakang kereta terus menyusup ke bawah.

Pwe-giok ingin mencegah, tapi sudah terlambat, dilihatnya Lui-ji telah menempel di bawah kereta, tangannya yang kecil tampak menggapai perlahan padanya, kemudian menghilang dalam kegelapan bersama kereta itu.

Nona cilik itu sungguh pemberani. Meski merasa kuatir, terpaksa Pwe-giok mengikutinya dari kejauhan. Dalam keadaan demikian ia lebih-lebih harus berusaha agar tidak diketahui lawan, sebelum jelas meraba seluk beluk serta asal usul lawan dia lebih-lebih tidak boleh sembarang bertindak.

Untunglah di tengah malam buta yang sunyi senyap, meski pun kereta itu sudah dilarikan sangat jauh toh suara gemertak rodanya masih terdengar, dan Pwe-giok lantas menyusul ke sana menuruti arah suara roda kereta.

Kota ini masih asing bagi Pwe-giok, hakekatnya dia tidak dapat membedakan jalan, dia cuma tahu jalan yang dilalui kereta itu semuanya jalan batu yang rajin.

Baru sekarang dia mengetahui bahwa kota ini ternyata sangat besar. Sudah cukup lama dia menguntit kereta itu tetapi belum lagi keluar kota.

Kini bajunya telah basah kuyup oleh keringat, tenaga pun mulai tidak tahan, sebab meski dia baru tidur nyenyak cukup lama, tetapi sesudah bangun belum lagi makan sebutir nasi pun.

Manusia adalah besi, nasi adalah baja, betapa pun kuatnya seseorang juga tidak mampu melawan rasa lapar.

Dia boleh tiga hari tiga malam tidak tidur dan dapat bertahan sekuatnya, namun satu hari tidak makan nasi saja rasanya sudah lemas, sepasang kaki terasa lunglai, sekujur badan terasa kosong.

Untunglah pada saat itu laju kereta mulai melambat, suara detak kaki kuda yang semula sangat kerap kini sudah mulai jarang-jarang.

Pwe-giok menghela nafas lega. Tetapi baru saja dia bermaksud berhenti untuk mengusap keringat, begitu dia mengangkat kepala memandang kesana, seketika dia tercengang, air mukanya juga berubah pucat.

Dilihatnya balok batu jalan raya yang licin dan gemerlap dengan butiran-butiran embun, di kejauhan sana ada bayangan gapura besar, di tepi jalan juga ada bak air tempat minum kuda.

Hah, tempat ini bukankah tempat yang sudah dilaluinya tadi?

Busyet! Jadi kereta ini hanya berputar kayun kian kemari di dalam kota. Apakah si baju hijau terlalu iseng habis makan kenyang, maka di tengah malam buta pesiar menumpang kereta.

Diam-diam Pwe-giok telah merasakan gelagat yang tak enak. Segera ia memburu kesana sekuatnya dan dilihatnya kereta kuda itu masih berjalan perlahan ke depan. Jelas tampak olehnya kuda kelabu berceplok hitam dan kereta berkabin yang cukup indah serta si kusir yang kepalanya berikat handuk putih.

Semuanya itu bisa dilihat jelas oleh Pwe-giok, dan jelas-jelas pula kereta ini adalah kereta yang di kuntitnya tadi.

Tetapi mengapa kereta ini hanya berputar-putar saja di dalam kota, bahkan berputar balik ke tempat semula. Sesungguhnya apa kehendak si baju hijau yang sangat misterius itu? Sungguh Pwe-giok merasa bingung dan sukar mencari jawabannya.

Ia menjadi serba runyam. Coba bayangkan, ia mengejar setengah malam, letihnya bukan kepalang, dan hasilnya dia kembali ke tempat semula. Jika tahu begini sebelumnya, lebih baik dia menunggu saja di sini.

Sementara itu kentongan kelima (antara pukul 4-5) sudah lewat, fajar belum menyingsing, di jalan raya masih jarang ada orang lalu, hanya di ujung jalan sana ada sebuah warung yang sudah menyalakan lampu.

Kiranya warung ini menjual kembang tahu, angin malam yang sejuk kini sudah membawa bau sedap kembang tahu serta wedang kacang hijau,

Dalam keadaan dan saat demikian, bau sedap ini bagi Pwe-giok mungkin tergolong daya tarik yang paling besar di dunia ini. Hampir saja dia tidak tahan lagi dan ingin menyerbu ke dalam warung itu untuk makan sekenyangnya.

Akan tetapi dia tetap bertahan. Dia tidak boleh meninggalkan kereta itu!

Siapa tahu kereta itu lantas berhenti juga di depan warung itu. Cepat Pwe-giok melompat ke emper rumah yang gelap di tepi jalan, dia sembunyi di balik sebuah tong sampah.

Dilihatnya si kusir turun dari keretanya dengan kemalas-malasan, ia minta satu mangkuk wedang kacang. Sambil berjongkok di depan warung ia minum wedang kacang itu dengan nikmatnya. Sembari minum kadang-kadang dia pun berhenti dulu untuk menghela nafas, rasanya seperti sangat puas dengan wedang kacang yang sedap itu.

Anehnya si baju hijau dan kedua perempuan tadi tidak nampak ikut turun, di dalam kereta juga tiada sesuatu suara apa pun, padahal jejak mereka tadi kelihatan sangat misterius dan dilakukan dengan tergesa-gesa, mengapa sekarang mereka cukup sabar berduduk di dalam kereta untuk menunggu si kusir minum wedang kacang dengan perlahan?

Makin dipikir semakin dirasakan oleh Pwe-giok ada sesuatu yang tidak beres. Waktu dia mengintai ke bawah kereta, keadaan gelap gulita dan tidak terlihat apa pun, entah Lui-ji masih menempel di situ atau tidak.

Mau tak mau Pwe-giok merasa cemas dan gelisah.

Dalam pada itu si kusir sudah habis minum wedang kacangnya. Dia berdiri dan mengulet, dilemparkannya beberapa mata uang ke dalam mangkuk, tampaknya dia akan berangkat lagi.

Betapa pun sabarnya Pwe-giok kini juga tidak tahan lagi, mendadak dia keluar dari tempat sembunyinya, dia menggapai dan memanggil,

“Hei, kusir, kereta itu menerima penumpang tidak?”

Kusir itu mengusap mukanya dengan handuknya yang sudah kumal, lalu jawabnya sambil tertawa, “Jika kereta kosong tidak terima penumpang, apakah kusirnya tidak makan angin belaka?”

Kereta kosong?!

Seketika tangan Pwe-giok berkeringat dingin, dengan langkah lebar dia lantas mendekati kereta, mendadak ia menyingkap kerai pintu kereta dan melongok ke dalam... Benar juga, kabin kereta kosong melompong, tiada seorang pun. Waktu ia melongok ke bawah kereta, Cu Lui-ji juga tidak kelihatan lagi.

Keruan kejut Pwe-giok tak terkatakan, ia tidak pantang apa-apa lagi, tiba-tiba ia menubruk maju, baju kuduk kusir itu dicengkeramnya, bentaknya dengan bengis,

“Kemana perginya para tamu penumpangmu tadi?”

Ya, kemana perginya para penumpangnya tadi?

Dan kemana pula perginya Lui-ji…..?

********************

Tadi kereta dilarikan dengan amat cepat, Lui-ji sembunyi di bawah kereta, tulang sekujur badan seolah-olah retak akibat diguncangkan oleh kereta itu. Debu yang ditimbulkan oleh kaki kuda dan roda kereta seolah-olah sengaja memusuhi dia, selalu menerobos ke dalam hidungnya. Sungguh ia merasa hidungnya itu hampir berubah menjadi cerobong asap.

Penderitaan itu sungguh sukar ditahan, tapi Lui-ji terpaksa menggertak gigi dan bertahan sedapatnya. Dia bukan saja harus menahan nafas, bahkan juga harus tutup mulut, malah harus memegangi as roda sekuatnya agar dia tidak terjatuh dan mungkin digilas oleh roda kereta.

Untunglah pada saat itu dari dalam kabin terdengar suara orang berbicara, hal ini sedikit banyak telah memencarkan perhatiannya dan juga memencarkan rasa deritanya, maka ia lantas pasang telinga dan mendengarkan dengan cermat...

Didengarnya si perempuan pertama tadi sedang berkata,

“Ai, selama ini sungguh aku hampir mati rindu kepadamu. Bagaimana dengan kau? Rindu kepadaku tidak?”

Terdengar si baju hijau lagi terbatuk-batuk.

Maka perempuan itu berkata pula, “Apakah kau tidak merindukan diriku...? Mengapa kau tidak bicara?”

Lalu suara perempuan yang lain mengikik tawa dan berkata,

“Tidak perlu kau berpantang, ada apa boleh kau katakan saja, anggaplah aku sudah tidur, bukan saja aku tidak mendengarkan percakapan kalian, aku pun pasti takkan mengintip.”

Karena itu si baju hijau barulah menghela nafas, ucapnya,

“Jika aku tidak memikirkan dirimu, mana... mana bisa kulakukan hal-hal demikian ini!”

“Apakah kau menyesal?” tanya si perempuan.

“Tidak, sama sekali aku tidak menyesal,” jawab si baju hijau dengan suara lembut namun tegas. “Demi kau, apa pun juga dapat kulakukan dan pasti takkan menyesal.”

Perempuan tadi kedengaran bersuara tertahan seperti mendadak dia dipeluk oleh si lelaki, habis itu lantas tidak terdengar suara apa-apa lagi.

Meski Lui-ji tidak paham apa yang terjadi, tetapi diketahuinya juga bahwa dalam keadaan begitu rasanya berdiam akan lebih baik dari pada bersuara.

Dia hanya heran apakah si baju hijau rela menjual keluarga Tong hanya demi membela kekasihnya itu? Lantas siapakah gerangan perempuan ini? Ada hubungan apa pula antara dia dengan keluarga Tong di Sujwan.

Selang agak lama baru terdengar si perempuan menghela nafas lega, nafas kepuasan. Lalu sambil tertawa dan setengah mengomel ia menghardik,

“Kau budak mampus, katamu tidak akan mengintip, mengapa sekarang mengintip?”

Perempuan yang lain tertawa ngikik, jawabnya,

“Habis, siapa yang tahan melihat kedua kakimu menyepak kian kemari, malah kusangka kau mengidap penyakit ayan.”

“Sialan!” omel si perempuan pertama.

“Setan cilik ini mungkin lagi birahi dan ingin punya lelaki, makanya ia bicara seperti orang gila begini,”

Perempuan lain menimpali dengan tertawa, “Ai, entah siapa yang sedang birahi dan ingin dipeluk lelaki, sampai satu detik saja tidak tahan, masa di dalam kereta lantas hendak... hendak main...”

Cepat si baju hijau batuk-batuk lagi, selanya, “Eh, apakah kalian sudah mengatur tempat tujuan kita?”

“Tidak usah kuatir,” kata perempuan yang lain, “Begitu toaci menerima beritamu, segera semua urusan langsung dibereskannya. Lantaran kuatir siang hari tak leluasa menempuh perjalanan cepat, malah terlebih dahulu dia telah menyuruh orang mengatur suatu tempat tinggal di luar kota, dan sekarang juga kita akan menuju kesana untuk istirahat dan besok malam baru kita berangkat lagi.”

Dia mengikik tawa, kemudian menyambung lagi, “Padahal Toaci bukan kuatir tidak leluasa menempuh perjalanan di siang hari segala, dia hanya ingin anu dulu denganmu...”

“Hus, setan cilik, apa kau minta kurobek mulutmu?!” bentak perempuan yang pertama.

Tampaknya kedua toaci beradik itu bersenda-gurau dengan riang gembira, sedangkan si baju hijau agaknya menanggung sesuatu pikiran, dia berkata dengan suara tertahan,

“Siapakah yang kau suruh mengatur tempat tinggal itu?”

“Dengan sendirinya orang yang dapat dipercaya,” jawab si perempuan.

“Aih, orang yang dapat dipercaya di dunia ini sebenarnya tidak banyak,” kata si baju hijau, “Untuk itu kau...”

“Aku cuma menyuruh dia mengatur pondokan dan tidak kukatakan untuk keperluan apa, dia juga tidak kenal kau...,” demikian kata si toaci. “Tapi kalau kau masih berkuatir, setiba di sana biarlah nanti kubunuh dia.”

Sampai di sini, Lui-ji terkejut pula. Sungguh tak terpikir olehnya kedua toaci beradik yang menarik ini ternyata berhati sekeji itu, membunuh orang dianggapnya seperti makan nasi sehari-hari saja.

Selang sejenak si baju hijau berkata pula, “Apakah tempat yang telah diatur untuk kalian itu sudah diketahui terletak dimana?”

“Begitu keluar kota segera kita dapat menghubungi dia,” ujar si Toaci.

Si baju hijau termenung sejenak, katanya lagi,

“Jika demikian boleh kau suruh kusir mengendarai keretanya berputar kayun saja di dalam kota.”

“Berputar kayun di dalam kota? Untuk apa?” si Toaci menegas dengan melengak.

“Sesampainya di depan sana kita lantas melompat keluar, kita keluar kota sendiri dengan berjalan kaki, biarkan kereta ini tetap berputar di dalam kota, dengan demikian, andai kata ada orang menguntit kereta ini juga takkan menjadi soal lagi.”

Perempuan yang lain tertawa, ucapnya, “Sungguh tidak nyana nyalimu berubah menjadi sekecil ini, kuingat dahulu kau bukan seorang penakut begini.”

“He, jangan... jangan-jangan telah terjadi sesuatu?” tanya sang Toaci.

“O, tidak, semua syaratku sudah diterima mereka seluruhnya,” kata si baju hijau.

“Kalau begini, urusannya kan sudah berhasil, apa lagi yang kau takutkan?” ujar si Toaci.

Si baju hijau menghela nafas, katanya, “Justru lantaran urusan sudah jadi maka aku harus lebih berhati-hati.”

“Aneh, kenapa bisa begitu?” tanya sang toaci.

“Sebab selalu kurasakan ada sesuatu yang tak enak, bisa jadi mereka akan membunuhku untuk menutup mulutku!”

“Siapa saja yang bertemu denganmu tadi?” tanya si perempuan kedua tadi.

“Begundal Ji Hong-ho yang paling dipercaya, yaitu Ong Uh-lau dan... dan Tong Bu-siang palsu itu.”

Perempuan kedua itu menjengek, “Hmm, jika menguntit, jangan harap lagi mereka dapat pulang dengan hidup.”

“Dua orang ini tidak menguatirkan, tapi masih ada seorang lagi yang amat menakutkan,” tutur si baju hijau.

“Siapa dia?”

“Dia mengaku bernama Yang Cu-kang, entah nama asli atau samaran.”

“Apakah ilmu silat orang ini sangat tinggi?”

Si baju hijau menghela napas, katanya, “Selama hidup sungguh aku belum pernah melihat jago silat yang lebih hebat dari dia, di depannya kungfu-ku yang kulatih selama berpuluh tahun ini sama seperti permainan anak kecil yang tiada artinya.”

Agaknya kedua toaci beradik itu pun rada terkejut, seketika keadaan menjadi hening.

Lalu si baju hijau berkata pula, “Apa pun juga tidak ada jeleknya kalau kita sedikit berhati-hati, lebih-lebih... ” dia menghela napas panjang, lalu menyambung pula, “Segala sesuatu urusanku kan lebih ruwet dari pada kalian...”

Dengan tertawa perempuan muda itu memutus ucapannya, “Sudahlah, jangan mengeluh lagi, jika kau masih saja mengeluh, sebentar Toaci bisa menangis. Biarlah kuturuti semua kehendakmu.”

Selang sebentar terdengar dia berkata kepada sang kusir, “Lau Wong, kami akan turun di depan sana, tapi kereta ini jangan berhenti, boleh kau larikan dengan cepat dan berputar kayun di dalam kota, sedikitnya satu jam baru boleh kau hentikan.”

Terdengar si kusir mengiakan.

Lalu perempuan itu berkata pula, “Awas, jika kau bocorkan jejak kami satu kata saja atau kau malas dan tidak menjalankan keretamu sebelum satu jam, maka hukuman apa yang akan kau terima tentunya kau sudah tahu sendiri.”

“Ya, ham... hamba tidak berani,” jawab si kusir.

“Aku pun tahu kau pasti tidak akan berani,” ujar perempuan itu dengan tertawa, “Apa lagi ke mana kami akan menuju hakekatnya juga tidak kau ketahui.”

Mendengar mereka akan melompat keluar dari kereta, mulailah Lui-ji merasa gelisah. Jika dia meneruskan penguntitannya terhadap ketiga orang ini, maka dia pasti akan kehilangan kontak dengan Ji Pwe-giok. Sebaliknya kalau dia tertinggal di situ untuk memberi kabar kepada Pwe-giok, maka dia akan kehilangan jejak selanjutnya ketiga orang itu.

Padahal hanya diketahuinya pondokan yang dituju mereka terletak di luar kota, tapi rumah di luar kota entah beberapa ratus jumlahnya, dari mana dia tahu rumah mana yang akan menjadi pondokan mereka?

Selagi gelisah, tiba-tiba Lui-ji ingat sekotak Yanci (pupur merah, gincu) yang dibawanya, Yanci ini adalah kado pemberian nona penghuni Bong-hoa-lau pada waktu dia ‘menikah’ semalam.

Yanci ini sangat bagus warnanya, bahkan kotaknya juga sangat indah buatannya, konon produksi termashur pabrik kosmetik ‘Thian-hiang-cay’ di Peking. Lui-ji sangat senang pada Yanci itu, maka satu kotak lantas disimpannya di dalam baju. Tatkala mana tak terpikirkan olehnya bahwa yanci ini akan berguna baginya.

Tapi sekarang terpikirlah olehnya. Dengan sebelah tangannya ia mengeluarkan kotak kecil yanci itu, dia remas pecah dusnya, dengan yanci itu dia menulis beberapa huruf di bawah kereta, bunyinya,

Aku menguntit keluar kota...’

Meski hanya beberapa huruf saja ditulisnya, tetapi tangan sudah terasa pegal. Selagi dia mengaso dan hendak menulis lagi, mendadak ada suara di dalam kabin kereta, terdengar si baju hijau berkata,

“Di sini kelihatan sepi, ayo kita keluar!”

Setelah itu lalu tampak tiga orang melompat keluar kereta, sekali kaki mereka menempel pada tanah, serentak mereka melejit lebih jauh lagi ke sana. Gerakan kedua Toaci beradik itu ternyata jauh lebih cepat dan gesit dari pada si baju hijau.

Segera Lui-ji juga kendurkan pegangannya, “bluk”, ia terbanting di tanah dan hampir saja kelenger, namun dia tidak menghiraukan rasa sakit lagi, cepat dia melompat bangun terus mengejar ke sana.

Ia merasa ginkang sendiri jauh lebih tinggi satu tingkat ketimbang ketiga orang itu, maka sedikit pun ia tidak kuatir jejaknya akan diketahui lawan.

Sementara itu si kusir sudah melarikan kereta ke arah lain dan juga tidak mengetahui ada seorang jatuh dari bawah keretanya.

Diam-diam Lui-ji bersyukur dan bergirang sekali dengan hasil kerja dirinya ini. Dia merasa penguntitannya sekali ini boleh dikatakan ‘tabah dan hati-hati, gesit dan bersih’, walau pun tokoh Kangouw kawakan juga belum tentu dapat bekerja sebagus ini.

Ia lupa bahwa orang yang semakin berpengalaman di dunia kangouw umumnya nyalinya justru bertambah ciut. Orang yang bernyali besar seperti dia tidak nanti tahan 20 atau 30 tahun berkecimpung di dunia kangouw. Sebab orang demikian biasanya pasti tak berumur panjang.

Dilihatnya tiga orang di depan itu makin menuju ke tempat yang sepi dan terpencil, karena itu langkah mereka pun tidak lagi berhati-hati seperti semula, tidak ada seorang pun yang menoleh ke belakang.

Tentu saja Lui-ji bertambah berani, diam-diam dia pun tambah senang, pikirnya, “Kalian menyangka sudah dapat melepaskan diri dari orang yang menguntit, tentunya kalian tidak tahu masih ada diriku!”

Kini dia sudah bisa melihat jelas perawakan kedua toaci beradik itu, mereka berbaju yang sangat serasi dengan garis tubuh mereka masing-masing, potongan badan mereka amat menggiurkan orang, meski sedang berlari dengan ginkang juga tampak pinggang mereka yang ramping dengan gaya yang menarik.

Cuma sayang Lui-ji tetap belum sempat melihat wajah mereka.

Setelah berjalan sekian jauhnya, kedua kakak beradik kembali bersenda gurau lagi.

Karena tidak berani terlampau dekat, maka Lui-ji tidak dapat mengikuti apa yang sedang dipercakapkan mereka.

Dalam pada itu di ufuk timur sana sudah remang-remang, fajar sudah mulai menyingsing. Tertampak sawah membentang di depan sana, padi menguning melambai-lambai terusap angin laksana gelombang ombak.

Di pinggir sawah sana ada tiga atau lima buah gubuk, di ujung rumah meringkuk seekor anjing penjaga. Ketika mencium bau orang asing, mendadak anjing itu melompat bangun dan menggonggong.

Di belakang rumah sana terdapat sebuah kolam ikan, di samping kolam ada kebun kecil dengan tanaman sayur yang tampak hijau segar, kebun itu dikitari oleh pagar bambu yang dirambati akar-akaran yang berbunga kuning kecil dan sedang mekar dengan indahnya.

Itulah gambaran sebuah rumah petani yang aman tenteram dan adem-ayem. Akan tetapi Lui-ji justru merasa seperti ada sesuatu yang kurang. Ia memang dibesarkan di suatu kota kecil, terhadap pemandangan dan suasana pedusunan sudah tidak asing lagi. Di sini juga ada sawah dan padi, ada kebun dan sayur, ada rumah gubuk, ada kolam ikan, malah juga ada anjing penjaga rumah.

Lantas apa yang dirasakannya masih kurang?

Mendadak ketiga orang di depan itu berhenti, kemudian celingukan kian kemari, sesudah itu mereka lantas langsung menuju ke rumah petani itu. Perempuan yang berbadan lebih padat itu malahan berkata dengan tertawa,

“Tentu inilah tempatnya, pasti tidak salah lagi.”

Dia berbicara dengan suara cukup keras, sampai Lui-ji juga dapat mendengarnya dengan jelas.

Si baju hijau juga berkata, seperti lagi bertanya, “Dari mana kau tahu pasti tidak salah?”

Lalu perempuan tadi menjawab, “Sebab di sini tidak ada ayam berkotek, pernahkah kau melihat orang kampung tidak piara ayam?”

Perempuan yang lain menyela dengan tertawa, “Orang tani piara ayam atau tidak, Toa-siauya (tuan muda) yang hidup senang di gedung megah seperti dia mana bisa tahu.”

Si baju hijau seperti benar-benar tidak paham, kembali ia bertanya, cuma suaranya amat rendah sehingga tidak terdengar oleh Lui-ji.

Maka perempuan muda satunya berkata pula dengan tertawa, “Keluarga petani tidak ada yang tidak piara ayam, tapi ayam jantan adalah makhluk yang paling dipantang oleh kami. Bahwa rumah ini tidak ada ayam, tentu karena semua ayam di sini sudah dibunuh oleh orang suruhan kita itu.”

Mendengar sampai di sini barulah Lui-ji teringat bahwa sesuatu yang dirasakan kurang tadi kiranya adalah ayam yang dibicarakan mereka itu. Sebab ia pun tahu pada umumnya kaum petani pasti piara ayam.

Tapi mengapa kedua perempuan ini bilang pantang pada ayam jago atau jantan?

Hal ini biar pun direnungkan orang selama tiga hari tiga malam mungkin juga belum dapat memahami alasannya. Akan tetapi hanya berpikir sejenak saja Lui-ji lantas mendapatkan jawabannya, tahulah dia apa sebabnya.

Tanpa terasa ia tertawa geli sendiri dan bergumam. “Wah, kiranya mereka adalah sekaum dengan diriku, menarik juga jika demikian.”

Dia tahu ayam jantan merupakan musuh dari segala makhluk berbisa, terutama sebangsa kalajengking, kelabang dan sebagainya. Sebab itulah golongan dan aliran Kangouw yang mengandalkan keahlian mereka dalam hal penggunaan racun, semua memandang ayam jago sebagai makhluk yang tidak mendatangkan berkah, semuanya pantang melihatnya, apa lagi memelihara.

Usia Lui-ji masih muda, tentunya tak banyak mengetahui seluk beluk orang kangouw, tapi dia adalah seorang ahli racun, ahli yang tiada taranya, dengan sendirinya alasan orang-orang itu pantang melihat ayam jago dengan segera dapat dipahaminya.

Sementara itu orang di dalam rumah gubuk itu telah terjaga bangun oleh suara gonggong anjing tadi.

Seorang laki-laki berbaju hijau tampak melongok keluar. Ketika melihat kedua perempuan muda itu, seketika dia pun berdiri dengan sikap hormat sehingga urung menguap kantuk, dengan membungkuk tubuh dia menyapa,

“Baru sekarang Tongcu tiba? Maaf hamba tidak sempat menyambut kedatanganmu.”

Kedua perempuan muda itu hanya mengulapkan tangannya, lalu masuk ke rumah gubuk itu. Anjing tadi masih terus menyalak, tapi setelah didepak satu kali oleh lelaki tadi, sambil mengaing anjing itu lari terbirit-birit dengan mencawat ekor.

Pintu rumah gubuk itu kemudian tertutup, menyusul cahaya lampu lantas kelihatan terang di balik jendela.

Perlahan-lahan Lui-ji merunduk kesana, dia sembunyi di belakang rumah gubuk lain yang dijadikan lumbung padi. Meski melihat kedatangan orang asing lagi, tapi anjing itu rupanya sudah kapok dan tak berani menggonggong pula, hanya lidahnya tampak terjulur dengan nafas terengah-engah.

Kertas perekat pada jendela tampaknya masih baru, masih putih bersih, Lui-ji ingin sekali mendekat jendela untuk mengintip, tapi sesudah dipikir lagi kini pondokan ketiga orang ini sudah diketahui, seharusnya dia cepat putar balik ke kota untuk mencari Pwe-giok, sebab dia dapat membayangkan saat ini anak muda itu pasti sangat gelisah karena tidak dapat menemukan dia.

Selagi dia merasa ragu, entah mesti maju atau harus mundur, tanpa terduga pada saat itu pula di sampingnya mendadak ada orang mengikik tawa, suara tawa nyaring seperti bunyi keleningan.

Keruan Lui-ji terkejut, cepat ia berpaling, dilihatnya dua orang muncul dari depan lumbung, siapa lagi kalau bukan kedua perempuan misterius tadi.

Akhirnya dapatlah dia melihat muka mereka.

Nyata mereka tidak cuma cantik, bahkan juga membawa semacam daya tarik yang sukar dilukiskan, daya tarik genit ini seolah-olah timbul dari tulangnya sehingga tidak dapat ditiru oleh siapa pun.

Meski pakaian mereka hanya terbuat dari kain kasar, tetapi para nona penghibur di Bong-hoa-lau sana satu jari saja tak dapat membandingi mereka, bahkan menjadi babunya saja tidak setimpal.

Perempuan yang tubuhnya lebih padat agaknya bermata lebih besar sedikit, namun adik perempuannya tampaknya lebih kuat daya tariknya, tertawanya juga lebih menggiurkan.

Sambil tertawa si adik memandang Lui-ji, ucapnya dengan lembut, “Eh, nona cilik, angin pagi sedingin ini, apakah kau tidak takut masuk angin?”

Mata Lui-ji yang jeli itu berkedip-kedip, dia pun menjawab sambil tertawa, “Justru lantaran merasa kegerahan di rumah, maka aku keluar untuk mencari angin.”

“Ooo, kau tinggal di sekitar sini?” tanya perempuan muda tadi.

Lui-ji mengiakan.

“Jika demikian, kita kan tetangga.”

“Memangnya, siapa bilang bukan?” ujar Lui-ji dengan tertawa.

Perempuan muda itu tertawa, katanya, “Kalau kita bertetangga, marilah duduk di dalam, kebetulan ada bakso yang baru saja kubikin, masih panas-panas, segar menghangatkan badan.”

Dengan tertawa Lui-ji menjawab, “Baiklah, semenjak tadi memang ada maksudku hendak belajar kenal dengan kalian, apa lagi sekarang akan disuguhi bakso.”

Semenjak tadi si Toaci hanya berdiri dengan tertawa, sekarang ia pun menyatakan setuju dengan berkeplok, “Kami baru saja pindah ke sini dan lagi merasa kesepian karena tidak ada kenalan, siapa tahu di pedusunan ini ada nona sepintar dan secantik kau ini.”

Begitulah, mereka terus membawa Lui-ji ke dalam rumah, bahkan berulang-ulang memuji Lui-ji, katanya, “cantik dan lincah” dan bermacam-macam lagi, tampaknya seperti benar-benar sangat gembira.

Padahal dengan sendirinya sejak tadi-tadi mereka sudah mengetahui jejak mereka diikuti Lui-ji. Mereka memang sengaja berlagak lengah, maksudnya justru hendak memancing Lui-ji ke sini.

Kini setelah diketahui Lui-ji hanya seorang nona cilik, dengan sendirinya pula tidak begitu dirisaukan oleh mereka. Tidak tahunya bahwa Lui-ji sendiri juga tidak memandang berat mereka.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner