IMBAUAN PENDEKAR : JILID-19


Petang harinya sampailah mereka di suatu kota yang cukup ramai. Mereka mondok pada satu hotel yang banyak tamunya, makan di restoran pada saat ramai dikunjungi tamu lain.

Pwe-giok memandang ke sekelilingnya, terlihat semua meja sudah dipenuhi tamu, dengan sendirinya ia tidak menemukan Yang Cu-kang. Tapi bagaimana dengan Hwe-sing-diong? Jangan-jangan Hwe-sing-diong itu termasuk di antara tetamu ini.

Tiba-tiba Pwe-giok berteriak, “Wahai, dengarkan! Sekarang aku bicara lagi, ayolah silakan kau pun bersuara!”

Suaranya keras dan lantang, keruan membikin kaget setiap tamu yang sedang makan itu, semuanya sama menoleh dan memandangnya dengan melongo heran, malah ada yang menyangka dia sebagai orang sinting.

Tapi Pwe-giok dan lain-lain juga memandangi setiap orang dengan melotot, sebab mereka juga ingin tahu sekarang gema suara itu akan berkumandang dari mana?

Tak tahunya, sampai sekian lama, tetap tiada sesuatu gema apa pun. Semua tamu masih memandangi mereka dengan heran dan mengira mereka adalah rombongan orang gila.

Sesungguhnya sikap dan gerak-gerik Pwe-giok beserta kawan-kawannya memang serupa orang sinting. Mereka diliputi rasa heran, cemas, tapi akhirnya menjadi girang dan sama bergelak tertawa.

Dengan sendirinya tetamu lain tak dapat menerka hal apa yang membuat mereka tertawa gembira begitu.

Saking senangnya, hampir-hampir saja Lui-ji berjingkrak dan berteriak-teriak. Sebisanya ia tahan suaranya dan berkata, “Hwe-sing-diong sudah pergi, kalian dengar tidak?”

“Ya, betul, kami dengar,” jawab Kim-hoa-nio dan Tong Giok serentak.

Tetamu lain tentu saja bertambah heran. Sudah jelas mereka tidak mendengar apa-apa, tetapi mengapa justru bilang dengar? Apa namanya kalau bukan orang gila?

“Jika demikian agaknya memang betul dia Hwe-sing-diong yang tulen,” ujar Lui-ji dengan tertawa. “Sebab kalau dia Yang Cu-kang, tentu dia tak akan pergi.”

Agaknya Pwe-giok masih was-was, ia coba berkata pula, “Jika dia sudah merecoki diriku, kenapa mendadak pergi?”

Meski dia sengaja bicara dengan suara keras, namun tetap tiada gema suara apa pun.

Lui-ji juga sengaja menunggu sejenak, setelah keadaan tetap tenang saja, dengan tertawa barulah dia berkata, “Bisa jadi sebenarnya dia tidak ingin mencari perkara padamu, cuma lantaran kau telah memalsukan suaranya untuk menggertak Yang Cu-kang, maka dia pun sengaja menggoda dirimu supaya kau kapok.”

“Benar,” tukas Kim-hoa-nio dengan tertawa cerah, “mungkin sekarang dia merasa sudah cukup menggoda dirimu, maka malas bermain-main lagi denganmu.”

Dengan sendirinya makan malam mereka ini berlangsung dengan amat meriah. Tapi Pwe-giok tetap jarang bicara, hal ini bukannya dia kuatir akan direcoki Hwe-sing-diong lagi, tapi lantaran terlalu sedikit kesempatan bicara baginya.

Bayangkan kalau tiga perempuan bersama satu meja, mana ada kesempatan bicara bagi kaum lelaki.

Yang paling pendiam di antara ketiga perempuan itu ialah Thi-hoa-nio, terus menerus dia memandang Lui-ji dan Pwe-giok, seolah-olah ingin tahu apakah mereka benar-benar telah kawin.

Dan ketika mereka selesai makan, dapatlah Thi-hoa-nio menarik kesimpulan tentang hal tersebut. Ternyata Pwe-giok minta disediakan lima buah kamar, dia berkata,

“Hari ini kita harus istirahat sebaik-baiknya supaya besok kita bisa menempuh perjalanan dengan bersemangat, begitu juga supaya dapat bekerja dengan penuh bergairah.”

Tiba-tiba Pwe-giok tertawa kepada Kim-hoa-nio dan Tong Giok, lalu berkata pula, “Hanya kamar kalian saja yang berdempetan, malahan ada pintu tembusnya. Biar pun lima buah kamar yang kupesan, tapi aku cukup tahu akan kebutuhan keadaan.”

Kim-hoa-nio melirik Tong Giok, sekejap wajah dua orang itu menjadi merah. Betapa pun mereka belum menikah secara resmi. Maka Kim-hoa-nio lantas berkata,

“Malam ini kita harus istirahat sebaik-baiknya, pintu tembus itu pasti takkan terpakai.”

Mendingan dia tidak bicara. Begitu dia omong maka serentak tertawalah semua orang, sampai-sampai Tong Giok juga tidak tahan dan ikut tertawa.

Keruan muka Kim-hoa-nio tambah merah, omelnya, “Jangan kau senang, sebentar akan kukunci pintu tembus itu, coba kau akan senang lagi atau tidak?”

Sehabis bicara, dia sendiri pun lalu tertawa dan berlari masuk ke kamarnya sendiri. Meski sekarang mereka masih dalam kesulitan tapi saat yang paling kritis, paling berbahaya kini sudah terlalui, maka hati semua orang dapat bergembira.

Yang paling gembira sekarang tampaknya ialah Thi-hoa-nio.

Tiba-tiba ia tertawa kepada Lui-ji dan berkata, “Toaci-ku dan Cihu-ku (suami toaci) belum menikah, makanya mereka masih harus tidur terpisah. Tetapi kalian kan sudah menikah, mengapa kalian tidak tinggal bersama di dalam satu kamar?”

Setelah melihat Pwe-giok masuk ke kamarnya dan pintu lantas ditutup, hati Lui-ji memang menjadi tidak enak. Sekarang ditanya Thi-hoa-nio, seketika dia bersungut dan menjawab dengan marah, “Urusan kami suami-isteri, perlu apa ikut kau pikirkan?”

Habis berkata dia terus berlari ke kamarnya sendiri dan menutup pintu.

Thi-hoa-nio memandang pintu kamar Pwe-giok, kemudian memandang pula cahaya bulan di langit, mendadak dia menghela napas panjang dan berucap dengan hampa, “Malam ini sungguh masih sangat panjang, mungkin agak terlalu panjang.....”

********************

Kamar Kim-hoa-nio memang benar ada dua pintu, sebuah pintu keluar yang menembus ke serambi, dan pintu yang lain dengan sendirinya pintu tembus ke kamarnya Tong Giok.

Tanpa membuka sepatu Kim-hoa-nio langsung melemparkan tubuhnya ke tempat tidur. Dia berguling kian kemari, seperti ingin cepat-cepat tidur, tetapi sepasang matanya justru terpentang lebar-lebar dan memandangi pintu tembus itu.

Sungguh sangat mengecewakan, di balik pintu itu ternyata tiada setitik suara apa pun.

Apakah Tong Giok sudah tidur? Apakah dia dapat pulas?

Dengan menggigit bibir tiba-tiba Kim-hoa-nio merangkak bangun. Dengan berjinjit-jinjit dia mendekati pintu tembus itu, melangkah dengan berjengkat-jengkit, persis seperti maling takut kepergok.

Padahal di dalam kamar kecuali dia sendiri seekor lalat saja tidak ada.

Kim-hoa-nio pun merasa geli sendiri. Dia termangu-mangu sejenak sambil menggigit bibir, lalu menjulurkan tangan dan bermaksud mengetuk pintu, tapi tangan yang baru terjulur itu segera ditarik kembali.

Sejauh itu di balik pintu sana masih tetap tiada terdengar gerak-gerik apa pun.

Diam-diam Kim-hoa-nio merasa mendongkol, pikirnya, “Sialan! Jika kau tidak mau kemari, memangnya aku yang harus ke situ? Aku justru tidak mau mencarimu lebih dahulu, ingin kulihat apa abamu?”

Sembari menggerundel, segera ia mendekat tempat tidur dan menjatuhkan dirinya lagi ke atas kasur.

Sekali ini dia bukan hanya membuka sepatunya, bahkan juga melepaskan kaos kakinya. Dipandangnya kaki sendiri yang putih halus itu dan entah kenapa, tanpa terasa mukanya menjadi merah.

Pantas juga hotel ini selalu penuh tamu, sebab servis mereka sangat memuaskan, setiap kamar teratur dengan resik dan apik, setiap hari seprai dan selimut selalu diganti, malah seluruh kamar berbau harum.

Di dalam kamar yang beraroma harum, di atas tempat tidur yang empuk, terdengar pula suara nyanyian merdu sayup-sayup dari kejauhan, lagu berirama sendu yang mengenang kekasih.

Busyet! Dalam suasana demikian mana dia dapat pulas?

Perlahan Kim-hoa-nio meraba kakinya yang mulus itu. Sebenarnya kakinya sudah pegal karena berjalan sejauh ini, namun ketika dia meraba kulit kaki yang halus itu, rasanya seperti... seperti mau...

Ia pun tidak dapat menjelaskan apa yang dirasakannya itu, yang pasti mukanya menjadi bertambah merah.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar pintu berbunyi perlahan, seperti ada orang mengetuk pintu.

Tanpa disuruh lagi Kim-hoa-nio terus melompat turun, sampai sepatu juga tidak sempat dipakainya, dengan kaki telanjang dia mendekat kesana dan hendak membuka pintu. Tapi tangan yang baru terjulur itu segera mengkeret lagi.

Dengan menggigit bibir ia berkata sambil tertawa ngikik, “Aku tahu kau pasti tidak tahan. Padahal hari-hari selanjutnya masih sangat panjang, lalu untuk apa kita mesti terburu-buru begini? Masa barang resmi kita jadikan barang gelap?”

Tetapi di balik pintu sana tiada suara apa-apa lagi. Apakah Tong Giok menjadi marah dan tidak menggubrisnya?

Dengan suara halus Kim-hoa-nio berkata pula, “Bukan maksudku melarang kau ke sini, tapi telinga mereka sangat tajam, bila terdengar mereka, bukankah akan dijadikan buah tertawaan?”

Padahal sebenarnya ia sendiri pun tidak sabar lagi dan ingin cepat-cepat membuka pintu, hanya tadi Tong Giok telah membikin dia menunggu sekian lama, maka sekarang dia juga ingin membiarkan Tong Giok merasakan betapa gelisahnya orang menunggu.

Baginya, cukup Tong Giok memohon satu kali saja dan minta dia buka pintu, bahkan tak perlu memohon, cukup bersuara saja, atau cukup mengetuk pintu sekali lagi, maka daun pintu segera akan dibukanya.

Akan tetapi sampai sekian lama, di balik pintu sana tetap tidak ada suara apa pun.

Kim-hoa-nio tidak tahan, ia berkata pula, “He, apakah kau marah?”

Tidak ada jawaban. Dia tidak tahan lantas berkata lagi, “He, orang mampus! Mengapa kau tidak bicara?”

Makin keras suara Kim-hoa-nio, tapi keadaan di balik pintu sana semakin sunyi.

Mendadak ia merasakan gelagat tidak enak, tanpa pikir lagi segera ia membuka pintu dan menerjang ke dalam kamar Tong Giok…..

********************

Di kamar lain Thi-hoa-nio juga sedang berbaring di atas tempat tidurnya sambil mengulum senyum.

Kini rasa kesal dan rasa sedihnya sudah lenyap seluruhnya, sebab dilihatnya Ji Pwe-giok tidak tidur sekamar dengan Cu Lui-Ji.

Meski Pwe-giok juga takkan tidur sekamar dengan dia, tetapi asalkan anak muda itu tidak tidur dengan orang lain, maka cukup puas baginya, cukup menyenangkan dia.

Ia sendiri pun merasakan jalan pikirannya ini sangat aneh, bahkan rada-rada lucu. Ia tidak tahu bahwa jalan pikiran kebanyakan perempuan memang sering aneh dan lucu.

Gerundelan Kim-hoa-nio di dalam kamarnya tadi dapat didengarnya. Maklumlah, hotel ini bukan hotel kelas wahid, segala sesuatunya tentu masih ada kekurangannya, termasuk dindingnya yang tidak terlalu tebal itu.

Didengarnya Kim-hoa-nio tengah berkata, ”untuk apa terburu-buru... nanti dijadikan buah tertawaan...”

Diam-diam Thi-hoa-nio tertawa geli, pikirnya, “Tabiat toaci memang aneh, jelas-jelas dia mengharapkan kedatangan orang, tetapi justru pura-pura tidak mau dan membikin orang gelisah.”

Ketika didengarnya Kim-hoa-nio lagi berkata, “Eh, apakah kau marah? …He, kenapa kau tidak bicara?”

Maka Thi-hoa-nio bertambah geli, diam-diam membatin, “Tidak tersangka Tong Giok juga pintar bermain sandiwara, dengan lagak emoh begini tentu toaci berbalik tidak tahan dan ingin menyeberang ke sana.”

Kemudian lantas didengarnya suara pintu dibuka.

Ia tahu sang toaci akhirnya tidak tahan dan mendahului masuk ke kamar Tong Giok. Biar pun dia tertawa geli, tapi muka sendiri juga mulai merah sebab terbayang olehnya...

Nyata terlalu banyak dan terlampau jauh yang dibayangkannya, maka mukanya menjadi merah.

Tetapi tak tersangka olehnya bahwa pada saat itu juga mendadak terdengar jeritan Kim-hoa-nio.

Jeritan ngeri dan menakutkan, membuat bulu roma orang berdiri.

Jelas itu bukan jeritan orang bersenda gurau atau teriakan orang berasyik masyuk, juga bukan suara ‘keluhan’ yang dibayangkan Thi-hoa-nio tadi. Dia tidak tahan lagi dan segera melonjak bangun lalu menerjang ke sana…..

********************

Di sebelah sana Cu Lu-ji juga berbaring di tempat tidurnya, tetapi dia sedang meneteskan air mata.

Ia memang sangat sedih, hal ini bukan disebabkan Pwe-giok tidak mengajaknya bersama satu kamar, tapi lantaran dia memaksa Ji-pwe-giok telah membiarkan dia diolok-olok oleh Thi-hoa-nio.

Bukannya dia ingin benar-benar tidur sekamar dengan Ji-Pwe-giok, cukup asalkan Pwe-giok membolehkan dia masuk ke kamarnya, sekali pun nanti dia harus tidur di lantai yang dingin juga tidak menjadi soal.

Bahkan dia bersedia merangkak keluar kembali melalui jenjela apa bila sudah masuk ke kamar, pokoknya asalkan Thi-hoa-nio menyaksikan dia dan Pwe-giok masuk bersama ke kamar, maka puaslah dia.

Dia tidak mendengar suara gerundelan Kim-hoa-nio, tapi suara jeritan Kim-hoa-nio dapat didengarnya. Ia pun merasa jeritan itu amat aneh dan amat menakutkan, dengan terkejut ia pun melompat turun dari tempat tidurnya dan berlari keluar.

Setibanya di luar, dilihatnya pintu kamar Ji Pwe-giok, Kim-hoa-nio dan Thi-hoa-nio sama terbuka. Segera pula didengarnya suara Pwe-giok dan Thi-hoa-nio berkumandang keluar dari kamar Tong-Giok. Menyusul lantas didengarnya suara tangis Kim-Hoa-nio yang serak dan sangat memilukan.

Apakah yang terjadi di kamar Tong Giok?

Berpikir saja tidak sempat segera Lui-ji menerjang masuk ke sana. Dilihatnya tubuh Tong Giok setengah bersandar di tepi tempat tidur, wajahnya yang tadinya sangat cakap itu kini telah berubah menjadi seram, menyeringai dengan kulit muka berkerut, tapi tidak terdapat noda darah pada tubuhnya, juga tidak ada bekas luka. Hanya kedua tangannya mengepal kencang, otot hijau tampak menonjol di punggung tangannya.

Terlihat pula Kim-hoa-nio telah terkulai di lantai sambil menangis sesambatan. Thi-hoa-nio jongkok di sampingnya dan perlahan membelai rambut sang toaci sembari menghiburnya dengan lirih, namun air mata Thi-hoa-nio sendiri juga bercucuran.

Muka Pwe-giok tampak pucat lesi, kelihatan sangat berduka dan terkejut tapi juga murka. Tangannya juga terkepal kencang hingga ruas-ruas jarinya sampai putih saking kerasnya menggenggam.

Baru saja Lui-ji menerjang ke dalam kamar, seketika dia seperti terpaku di situ dan tidak dapat bergerak lagi.

Di halaman hotel juga mulai banyak suara orang. Nyata ada tamu lain yang ikut terjaga bangun dan semuanya ingin tahu apa yang telah terjadi. Akan tetapi tidak ada orang yang benar-benar berani menjenguknya ke sini, sebab pada umumnya orang yang berpergian biasanya berpedoman mementingkan diri sendiri dari pada campur urusan orang lain yang mungkin malah akan mendatangkan berbagai kesulitan.

Sementara itu Pwe-giok telah menutup pintu kamar Tong Giok, kedua tangannya tampak gemetar sehingga hampir saja tidak kuat memalang pintu.

Lui-ji cepat mendekati anak muda itu, tanyanya dengan suara tertahan, “Cara bagaimana dia bisa mati?”

Pwe-giok hanya menggeleng tanpa menjawab. Perlahan diangkatnya jenazah Tong Giok lantas dibaringkan di atas tempat tidur. Nyata, luka lecet saja tidak terdapat di tubuh Tong Giok.

Lalu cara bagaimana kematiannya? Mengapa dia mati?

Pwe-giok termenung sejenak, ia balik tanya Lui-ji, “Apakah dia kena racun? Racun apa?”

Lui-ji juga tidak menjawab, ia angkat cangkir teh di atas meja dan menghirupnya seceguk, lalu mengeleng-geleng, cangkir teh dijilatnya pula, lalu menggeleng lagi.

“Tidak beracun?” tanya Pwe-giok.

“Tidak!” jawab Lui-ji.

Gemerdep sinar mata Pwe-giok, tiba-tiba ia bermaksud membuka tangan Tong Giok yang mengepal itu, tapi cepat Lui-ji mencegahnya sambil berkata dengan suara tertahan,

“Biarkan aku yang membukanya.”

Demikian erat genggaman Tong Giok, baru saja satu jarinya dipentang oleh Lui-ji, segera darah mengucur keluar, malahan darah ini bersemu hitam.

Lui-ji mementang lagi dua jari Tong Giok, tertampaklah di dalam genggamannya terdapat satu biji bunga duri yang terbuat dari besi, duri yang tajam itu menancap di tengah telapak tangannya.

Lui-ji menghela napas panjang, ucapnya, “Amgi apa ini? Sungguh lihay, aku pun rasanya tidak tahan.”

Air muka Pwe-giok bertambah kelam dan prihatin, katanya dengan perlahan dan tegas, “Ini adalah Tok-cit-le (duri berbisa) keluarga Tong, begitu masuk darah lantas menyumbat tenggorokan, hanya sekejap saja jiwa orang akan melayang.”

Lui-ji tercengang, ucapnya, “Jadi ini Tok-cit-le keluarga Tong yang termashur itu? Masa... masa dia bunuh diri?”

“Tiga bulan yang lalu mungkin dia bisa bunuh diri, tapi sekarang...”

Pwe-giok tidak melanjutkan ucapannya, hanya memandangi Kim-hoa-nio dengan rawan.

Tong Giok sekarang memang tidak perlu bunuh diri.

“Dia! Pasti dia!” seru Lui-ji mendadak…

********************

Fajar sudah menyingsing, lambat laun Kim-hoa-nio sudah bisa ditenangkan, bahkan tidak kelihatan lagi ada tanda-tanda berduka. Hanya dikeluarkannya sejumlah uang perak dan menyuruh pegawai hotel agar menguruskan tanah kuburan, membeli peti mati, harga tidak ditawar, yang penting cepat.

Setiap urusan hingga yang kecil-kecil juga diperiksa dan diawasi langsung oleh Kim-hoa-nio, dengan tangan sendiri pula ia mengganti baju bagi Tong Giok, betapa pun orang lain menganjurkan ia supaya mengaso dulu tetap tak digubrisnya, orang ingin membantu juga ditolaknya.

Terpaksa Pwe-giok dan lain-lain hanya duduk mengelilinginya dan menyaksikan Kim-hoa-nio mondar-mandir.

“Biarkan saja dia bekerja,” ucap Lui-ji dengan perlahan, “seorang kalau sibuk tentu dapat melupakan duka.”

“Tapi kedukaannya ini mungkin tak mudah dilupakannya,” ujar Pwe-giok dengan muram.

Sejak tadi Thi-hoa-nio hanya duduk menunduk saja, kini tiba-tiba dia pun ikut bicara, “Kau kira perbuatan Yang Cu-kang?”

“Siapa lagi selain dia?” jawab Lui-ji.

Thi-hoa-nio menggigit bibir, katanya pula, “Waktu berada di luar lumbung padi kenapa dia tidak turun tangan?”

Pwe-giok menjawab dengan menyengir, “Bisa jadi dia menganggap kita toh tidak mampu lolos dari cengkeramannya, maka dia sengaja menyiksa kita beberapa hari lagi, apa lagi dia telah kutipu, tentu dia ingin menagih utang padaku, pokok berikut rentenya.”

Thi-hoa-nio termenung sejenak, gumamnya kemudian, “Memang orang macam inilah dia, hanya dia saja yang dapat berbuat demikian.” Ia menengadah dan memandang Pwe-giok lekat-lekat, kemudian menambahkan dengan sekata demi sekata, “Bisa jadi secara diam-diam dia masih membuntuti kita dan tidak pergi.”

“Ya, memang,” jawab Pwe-giok.

Sorot mata Thi-hoa-nio berpindah dari wajah Pwe-giok lantas memandangi pohon Yangliu yang hanya satu-satunya di halaman situ dengan perasaan hampa, pohon sebatang kara itu tampaknya harus dikasihani.

Sesudah termangu-mangu sekian lama, katanya pula dengan perlahan, “Aku tahu dia tak akan puas hanya membunuh satu orang saja, dia masih akan membunuh lagi, membunuh dengan perlahan satu persatu sehingga kita terbunuh semuanya.”

Baru saja sorot mata Lui-ji turut beralih ke pohon Yangliu itu, demi mendengar kata-kata tersebut tanpa terasa ia bergidik, serupa pohon yang sebatang kara itu, ia pun merasakan dinginnya angin barat yang menyayat dan sunyinya bumi raya ini.

Selang agak lama barulah Pwe-giok tertawa dan berkata, “Rasanya tidaklah mudah kalau dia ingin membunuh kita semua.”

Ketika mereka teringat kepada Kim-hoa-nio, nona itu ternyata sudah tidak berada di situ lagi.

Angin barat meniup semakin kencang, sorot mata Yang Cu-kang yang dingin itu seakan-akan sudah bergabung bersama angin barat itu dan sedang mengintai setiap gerak-gerik mereka di mana dan kapan pun juga.

Lui-ji merapikan leher bajunya, lalu dengan suara tertahan bertanya kepada Thi-hoa-nio, “Ke mana perginya Toaci-mu? Kau kira dia akan...”

Belum habis ucapannya, mendadak Thi-hoa-nio berlari keluar.

Lui-ji menghela napas, ucapnya dengan sedih, “Setelah Tong Giok mati, sungguh kukuatir Kim-hoa-nio juga akan...”

Pwe-giok seperti tidak suka mendengar ucapan ‘bunuh diri’, maka dia segera memotong, “Tampaknya dia sangat teguh imannya, kedua kakak beradik itu bukan orang yang lemah dan mudah putus asa.”

“Jika dia berduka, aku malah tidak perlu kuatir,” kata Lui-ji. “Tetapi dia mendadak berubah menjadi tenang dan dingin, kedukaan seorang perempuan tidak nanti hilang secepat ini.”

Pwe-giok termenung, tiba-tiba saja dia merasa selama dua hari ini Lui-ji seolah-olah telah bertambah dewasa, mendadak berubah jauh lebih masak dan memahami banyak hal.

Lui-ji mengerling. Dia seperti dapat menerka isi hati anak muda itu, maka katanya sambil menunduk, “Pada umumnya seorang anak lelaki perlu waktu sangat lama untuk bisa jadi dewasa, tidak sama dengan seorang anak perempuan. Pada umumnya anak perempuan memang lebih cepat dewasa dari pada seorang anak lelaki, terkadang dalam satu malam saja sudah menjadi dewasa.”

Pwe-giok tetap termenung dan tidak menanggapi, sebab ia tidak tahu apa yang harus dia ucapkan. Dari ucapan Lui-ji tadi tiba-tiba saja dia teringat pada orang yang pernah bilang, “Seorang anak perempuan, betapa banyak umurnya, asalkan telah menikah, maka dalam satu malam saja dapat berubah menjadi dewasa.”

Dia tidak tahu beginikah maksud Cu Lui-ji itu? Namun dia tidak berani tanya.

Sesungguhnya dia memang tidak berani merundingkan urusan ini dengan nona itu.

Untunglah pada saat itu juga Thi-hoa-nio telah kembali, bahkan Kim-hoa-nio juga tampak ikut masuk. Kini dia sudah tukar pakaian, bukan saja baju baru bahkan warnanya sangat menyolok, malahan bersulam bunga yang semarak.

Betapa pun juga sekarang bukan waktunya untuk memakai baju seperti itu. Pwe-giok jadi heran, kenapa Kim-hoa-nio sengaja berganti pakaian begini, tanpa terasa dia memandang pakaiannya dengan terbelalak.

Meski mata Kim-hoa-nio masih kelihatan merah karena habis menangis, namun mukanya sudah berbedak tipis. Dia duduk di depan Pwe-giok, malahan tertawa terhadap Pwe-giok dan berkata, “Menurut kau, baju ini indah tidak?”

Siapa pun takkan menyangka dia akan bertanya demikian dalam keadaan begini. Keruan Pwe-giok juga melengak, terpaksa dia menyengir dan menjawab, “Ya, sangat bagus!”

Kim-hoa-nio tersenyum, katanya, “Ibu pernah memberi-tahukan kepadaku, seorang kalau merasa letih dan merasa kotor, sebaiknya bergantilah baju baru maka akan merasa lebih segar.”

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Dan sekarang benarkah kau rasakan lebih segar?”

Namun Kim-hoa-nio seperti tidak mendengar pertanyaan ini. Dia hanya meraba perlahan sulaman bunga yang halus pada bajunya itu, lalu tiba-tiba dia tertawa dan berkata pula kepada Pwe-giok,

“Aku sendirilah yang menyulam bunga ini, dan Tong Giok pun belum pernah melihat aku memakai baju ini. Kaulah orang... orang pertama, maksudku lelaki pertama yang melihat aku memakai baju ini.”

Meski dia bicara dengan perlahan dan lembut, Lui-ji jadi melengak mendengar ucapannya itu, pikirnya, “Kenapa dia bicara hal-hal demikian kepada Pwe-giok, masa Tong Giok baru saja mati dan segera dia ingin menggoda lelaki lain?”

Segera Lui-ji melotot, meski ia tahu kemungkinan demikian tidaklah besar, namun dia toh berpikir demikian dan tanpa terasa menjadi marah juga.

Didengarnya Kim-hoa-nio sedang berkata pula, “Konon koki di sini paling mahir membuat ayam goreng ham, bebek panggang, Ang-sio-hi-bin dan Ko-lok-bak, maka sudah kupesan agar disediakan santapan lezat ini, kita sudah capai sehari suntuk, kita harus makan enak dan minum barang dua-tiga cawan.”

Dia baru saja kematian calon suami, tapi sekarang sudah ingin minum arak.

Lui-ji tidak tahan, dengan suara keras ia bertanya, “Masakah ada seleramu untuk makan minum?”

Kim-hoa-nio tertawa, jawabnya, “Orang mati tidak bisa hidup kembali, mengapa kita harus berduka. Yang mati sudahlah, yang hidup justru harus menjaga kesehatan sendiri dengan lebih baik, kalau tidak, yang mati tentu tidak akan tenteram di alam baka.”

Kata-kata demikian seyogyanya diucapkan orang lain untuk menghiburnya, tapi sekarang dia sendiri yang berucap untuk menghibur orang lain. Keruan Lui-ji jadi melongo kesima.

Sementara itu santapan yang dipesan sudah diantar dan memenuhi satu meja. Kim-hoa-nio sendiri segera menuangkan arak lantas mendahului angkat cawannya sambil berseru, “Marilah, kita habiskan satu cawan dahulu!”

Pwe-giok jadi sangsi, dia seperti sudah melihat sesuatu, juga seperti ingin bicara sesuatu. Pada waktu menuang arak, senantiasa Pwe-giok memperhatikan tangan Kim-hoa-nio.

Sebaliknya Lui-ji justru selalu mengawasi Pwe-giok. Dia kira anak muda ini takkan minum arak, tapi mendadak Pwe-giok angkat cawan terus menenggaknya hingga habis.

Karena itu kata-kata yang akan diucapkan anak muda itu pun ikut terminum lagi ke dalam perut bersama arak.

Melihat Lui-ji tidak ikut minum, Kim-hoa-nio berkata, “Nona Cu, kau...”

“Kau berniat minum, aku tidak ingin minum,” seru Lui-ji.

“Apa pun juga, aku harus minum arak ini, nona Cu...”

“Apa pun juga aku takkan minum arak ini,” tukas Lui-ji dengan ketus.

Kim-hoa-nio tersenyum, tetap dengan lemah-lembut. Ia memandang cawan arak yang dia pegang dan warna arak yang merah, di bawah cahaya sang surya warna arak itu seperti darah.

Senyuman Kim-hoa-nio mulai menampilkan perasaan pedih, dia bergumam pula perlahan menghapalkan dua bait syair kuno, syair berduka cita mengenangkan kekasih yang telah meninggal, arak yang dipandangnya lekat-lekat itu sekali ini dengan cepat ditenggaknya...

“He, Toaci, kau...” Thi-hoa-nio kuatir bukan main melihat kelakuan kakaknya, cawan arak sendiri tanpa terasa terlepas dan pecah berantakan.

Dengan suara lembut Kim-hoa-nio berucap, “Aku amat baik, aku amat gembira, selama ini tidak pernah aku gembira seperti sekarang, sebab aku tahu selanjutnya aku akan selalu berada bersama dia dan tiada seorang pun yang dapat memisahkan kami lagi.”

Baru sekarang Lui-ji terkejut, dia rampas cawan arak orang. Pwe-giok juga berdiri dengan kuatir.

Kim-hoa-nio memegang tangan Lui-ji dengan lembut, ucapnya, “Tak perlu kau cicipi, arak ini tidak beracun.”

“Tapi kau... kau...” Lui-ji tidak sanggup meneruskan lagi.

“Racunnya sudah sejak tadi berada dalam perutku, pada saat pertama setelah aku tahu Giok cilik mati dan aku pun...”

Dia tidak dapat menyelesaikan ucapannya itu.

Sedikitnya, kematiannya tidaklah menderita, kalau hidup justru akan lebih menderita…..

********************

Sudah dekat magrib pula.

Angin barat menderu-deru pula. Air pun gemercik mengalir di kejauhan.

Lui-ji memandangi gundukan kuburan yang baru itu, mendadak dia menangis keras, dan akhirnya dia pun berkata berulang-ulang, “Mengapa aku tidak minum arak itu, mengapa... mengapa tidak kuminum arak itu?”

Gumpalan awan tebal mengalingi sang surya yang sudah hampir terbenam, seakan-akan sengaja menyembunyikan cahayanya yang terakhir dan tidak memperbolehkan manusia memandangi kegemilangannya sebelum kegelapan tiba.

Meski tidak hujan, namun cuaca terasa lebih kelam dari pada waktu hujan.

Lui-ji berkata sambil mengucurkan air mata. “Ternyata dia sudah bertekad hendak mati, mengapa sebelumnya tidak kulihat maksudnya ini, mengapa? Mengapa aku masih juga menyalahkan dia...”

Pwe-giok hanya memandangi gundukan tanah kuning kemerah-merahan itu. Terbayang olehnya kedua muda-mudi yang saling mencintai itu. Mengapa akhir dari pada muda-mudi yang saling cinta itu selalu adalah segundukan tanah belaka?

Diam-diam ia mengusap matanya yang basah dan berkata, “Marilah pergi!”

Lui-ji mengangkat kepalanya dan berkata dengan suara parau, “Pergi! Apakah cuma kata ini saja yang dapat kau ucapkan?”

Pwe-giok terdiam sejenak, katanya kemudian dengan muram, “Habis, apa lagi yang dapat kukatakan?”

Tiba-tiba saja Thi-hoa-nio berkata, “Sedikitnya kita tidak perlu tinggal di sini dan menangis melulu.”

“Mengapa?” tanya Lui-ji. “Mengapa...?”

Thi-hoa-nio memandang ke sekeliling, seperti ingin mencari angin barat yang bersembunyi di dalam kegelapan senja itu. Kemudian sekata demi sekata ia menjawab, “Sebab jika dia melihat kita sedang menangis sedih, tentu dia akan sangat gembira! Mengapa air mata kita ini tidak kita cucurkan di tempat lain saja?”

Setiap orang tentu dapat menerka siapa yang dimaksudkannya itu.

Tanpa terasa Lui-ji juga memandang sekelilingnya, apakah betul di balik kegelapan senja itu ada sepasang mata yang dingin sedang memandang dengan mengejek mereka yang tengah menangis?

Pwe-giok berkata pula, “Ayolah pergi saja!”

Serentak Lui-ji berbangkit dan menjawab. “Ya, mari pergi…!”

********************

Bintang belum lagi ada yang menghiasi angkasa, tatkala mana adalah saat yang paling guram di tengah cakrawala ini. Kini mereka menyusuri lembah sungai dengan airnya yang mengalir tak pernah berhenti itu.

Langkah Pwe-giok paling cepat, bahkan langkahnya amat berat seakan-akan tanah pasir di bawah kakinya itu hendak diinjaknya hingga hancur lebur, hendak menghancur-luluhkan bumi raya ini.

Apa daya sekarang? Akhirnya Tong Giok mati juga!

Satu-satunya harapannya kembali putus. Rencana hatinya selama ini lagi-lagi mengalami kegagalan, kepada siapa pula selanjutnya dia harus mengimbau?

Sekarang ia hampir-hampir putus asa sama sekali, hampir melepaskan segala usahanya, sebab apa pun perjuangannya dan bagaimana pun dia bekerja keras, pihak lawan cukup melambaikan tangan perlahan saja dan mereka dapat menghancurkan semua tumpuan harapannya.

Lereng gunung di bawah gumpalan awan tampak demikian besar, sedemikian misterius, sedemikian kukuh tak tergoyahkan. Tetapi lawannya ternyata jauh lebih kukuh, lebih kuat dari pada gunung raksasa itu, juga serupa gumpalan awan yang tinggi di angkasa itu, tak dapat diraba, tak dapat diraih.

Menghadapi lawan demikian, siapa pun akan menyerah dan mengaku kalah.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner