RENJANA PENDEKAR : JILID-36


Saat ini belum musim dingin, tapi orang ini memakai beberapa lapis selimut tebal. Sekujur badannya terbungkus rapat di dalam selimut, hanya kepalanya saja yang muncul di luar. Di sampingnya berduduk seorang anak perempuan yang tampaknya baru berusia 11 atau 12, anak ini kelihatan ketakutan sehingga tubuhnya meringkuk menjadi satu, hanya kedua matanya yang besar itu sedang memandang pendatang-pendatang yang tidak diundang ini.

Setelah mengetahui siapa-siapa yang menghuni kamar ini, Gin-hoa-nio tidak banyak pikir lagi, dengan tertawa manis dia menyapa, “Sudah jauh malam begini, apakah kalian belum tidur?”

Nona cilik itu mengiakan sambil manggut-manggut.

“Jika tidak tidur, kenapa tidak menyalakan lampu, seperti kucing saja bersembunyi dalam kegelapan,” kata Gin-hoa-nio pula.

Kembali nona cilik itu hanya terbelalak dan menggeleng.

Orang yang tampaknya sakit sudah sangat parah itu tiba-tiba tersenyum rawan, ucapnya, “Di sini tidak ada lampu.”

“Tidak ada lampu?” Gin-hoa-nio menegas dengan berkerut kening.

Si sakit menarik napas, ucapnya, “Jiwaku sudah tinggal menunggu ajal saja, apa gunanya cahaya lampu? Menanti datangnya ajal dalam kegelapan akan mengurangi rasa takut dan gelisah.”

Dia bicara dengan suara lemah, ada hawa tidak ada tenaga, seolah-olah napasnya setiap saat bisa berhenti.

Gin-hoa-nio memandanginya sejenak, katanya kemudian, “Orang sebanyak ini mendadak menerobos masuk kamarmu, apakah kau tidak takut?”

“Orang yang sudah hampir mati, rasanya tidak ada sesuatu lagi di dunia ini yang perlu dia takuti,” ujar si sakit dengan hambar.

“Betul,” tukas Gin-hoa-nio dengan tertawa, “orang yang sudah hampir mati memang ada faedahnya juga. Misalnya... mestinya akan kubunuh kau, tapi sekarang aku menjadi tidak tega.”

Tiba-tiba dia meraba kepala anak perempuan itu dan bertanya dengan suara halus, “Dan kau... apakah kau pun tidak takut?”

Anak perempuan itu berpikir sejenak, jawabnya kemudian dengan suara perlahan, “Sacek (paman ketiga) toh sudah hampir meninggal, maka aku pun tidak ingin hidup lagi.”

“Makanya kau tidak takut?” Gin-hoa-nio menegas.

“Y, tidak takut,” jawab anak perempuan itu dengan mata terbelalak lebar.

“Jika kau tidak takut, dengan sendirinya kau tak akan berseru dan berteriak bukan?” tanya Gin-hoa-nio.

“Sacek suka ketenangan, selamanya aku tidak pernah bicara dengan suara keras,” jawab anak itu.

“Ehm, bagus, jika demikian hidupmu akan bertahan lebih lama,” ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa.

Ia tidak menghiraukan dua orang ini lagi. Dia mendorong jendela yang di depan itu, hanya sedikit saja daun jendela itu terbuka, lalu dia mengintai ke bawah. Ternyata setiap gerak-gerik di rumah seberang sana dapat terlihat dengan jelas.

Sementara itu obor yang dipegang Gin-hoa-nio sudah padam, keadaan gelap gulita pula, suasana juga sunyi senyap, hanya terkadang terdengar suara “kletak,” suara jatuhnya biji catur di luar sana, suaranya nyaring menyentak pendengaran.

Si Sakit telah memejamkan matanya, namun mata si nona cilik justru gemerdep di dalam kegelapan. Diam-diam Pwe-giok mendekatinya lalu bertanya dengan suara halus,

“Adik cilik, siapa namamu?”

“Ah, pertemuan secara kebetulan, untuk apa anda tahu namaku,” jawab anak perempuan itu dengan sayu.

Anak perempuan sekecil ini dapat mengucapkan kata-kata seperti orang tua, Pwe-giok malah jadi melengak.

Siapa tahu anak dara itu bahkan menatap Pwe-giok sekian lama, tiba-tiba ia berkata pula, “Tetapi lantaran sudah kau tanya, boleh juga kukatakan padamu. Namaku Cu Liu-ji, Liu artinya air mata, sebab sejak kecil aku memang anak yang suka mengucurkan air mata.”

“Dan sekarang kau...”

“Sekarang tidak mengucurkan air mata lagi, mungkin sumber air mataku sudah kering.”

Pwe-giok termangu-mangu sejenak, katanya kemudian dengan gegetun, “Apakah Sacek-mu sudah lama sakit?”

“Ya, sudah empat-lima tahun.”

“Kau yang merawat dia selama ini?”

“Ehmm,” Cu Lui-ji mengangguk.

“Masa tiada ditemani orang lain?”

“Sacek tidak memiliki sanak keluarga lain, hanya diriku.” tutur Cu Lui-ji dengan perlahan.

Pwe-giok menghela nafas panjang, terbayang olehnya empat-lima tahun yang lalu, tatkala mana anak perempuan ini hanya berumur tujuh atau delapan tahun. Itulah usia anak yang lagi nakal dan paling suka bermain, tapi nona cilik ini justru harus menemani seorang sakit yang sudah kempas-kempis dan telah hidup selama empat-lima tahun di loteng kecil yang sunyi dan rawan ini, malahan di malam hari pun tanpa lampu.

Setelah menghela nafas panjang, Pwe-giok tidak tahu pula apa yang harus diucapkannya.

Suasana di dalam rumah sunyi senyap seperti kuburan, di tengah keheningan yang amat mencekam inilah fajar menyingsing dan perlahan-lahan tampak cahaya remang-remang menembus kertas jendela, di kejauhan mulai ramai terdengar ayam berkokok.

Ciong Cing telah tertidur dengan mendekap di atas tubuh Kwe Pian-sian. Sorot mata Kwe Pian-sian masih terus menatap lekat-lekat kepada orang sakit yang hampir mati itu dan entah apa pula yang sedang dipikirnya.

Tiba-tiba saja Gin-hoa-nio menguap ngantuk, ucapnya dengan menghela nafas perlahan, “Setengah malam kedua orang itu main catur, tetapi biji catur yang bergeser hanya tiga kali, tampaknya biar pun sampai lima tahun ke depan pertandingan mereka ini belum juga berakhir...”

Tiba-tiba pula dia mendekati si anak perempuan dan berkata dengan tersenyum, “Kutahu kau adalah anak perempuan yang pintar, maukah kau turun ke bawah sana, buatkan nasi yang agak lembek serta beberapa macam sayur untuk sarapan para paman dan bibi ini?”

Cu Lui-ji sama sekali tidak bergeser, jawabnya dengan tak acuh, “Tidak, aku tidak mau pergi, tidak boleh kutinggalkan sacek.”

“Pergilah sayang, anak kecil mana boleh membantah kehendak orang tua?” ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa.

Cu Lui-ji sama sekali tidak memandangnya, jawabnya pula, “Tidak, aku tidak mau!”

Tertawa Gin-hoa-nio tambah lembut, ucapnya dengan suara halus, “Kutahu sama sekali kau tidak takut padaku, makanya tidak menurut kepada perkataanku, begitu bukan?”

Di mulut dia bicara lembut, tetapi tangannya telah menampar satu kali di muka Cu Lui-ji. Muka nona cilik yang putih pucat itu seketika merah bengkak, akan tetapi dia tetap tidak bergerak, bahkan mata pun tidak berkedip, seperti tidak mempunyai daya rasa apa pun, hanya tetap terbelalak memandang Gin-hoa-nio.

Gin-hoa-nio berkerut kening, tanyanya dengan tersenyum, “Apa yang kau lihat? Apa kau anggap tamparanku tadi kurang keras, begitu?”

Segera ia hendak memukul pula, tapi tangannya keburu dipegang Pwe-giok.

“Ai, aku tahu kau akan ikut campur lagi,” kata Gin-hoa-nio dengan gegetun.

Pwe-giok berkata dengan dingin, “Kalau kau masih ingin berada bersamaku, selanjutnya hendaknya...”

Belum lanjut ucapannya, mendadak Cu Lui-ji mendekap mukanya sambil berseru dengan suara gemetar, “O, sakit... sakit sekali kau pukul diriku!”

Gin-hoa-nio jadi melengak, tanyanya, “Kupukul kau tadi dan baru sekarang kau rasakan sakit?”

“Oo, sakit... sakit sekali... mati aku!” teriak Cu Lui-ji pula.

Melenggong Gin-hoa-nio memandangi anak dara yang aneh itu, seketika ia tidak sanggup bicara pula.

Sungguh tak terpikir olehnya bahwa di dunia ini ada manusia yang berdaya rasa selambat ini, orang telah memukulnya sejak tadi, sekian lama kemudian baru dia merasakan sakit. Terlongong Gin-hoa-nio memandangi nona cilik itu sehingga urusan makan nasi pun jadi terlupakan.

Pada saat itulah, si sakit yang seakan-akan sudah tidur itu tiba-tiba menghela nafas dan berkata, “Jika kau takut sakit, kenapa tidak kau turuti perkataan orang, pergilah ke bawah dan menanak nasi.”

Mendadak Cu Lui-ji mendelik, katanya sambil memelototi Gin-hoa-nio, “Sacek yang suruh aku maka kuturuti, jika orang lain, biar pun aku mati dipukul juga takkan kukerjakan.”

Dengan perlahan ia turun dari tempat tidur dan alon-alon ia turun ke bawah loteng.

Melihat perawakan si nona yang kurus dan lemah dengan wajah yang sangat pucat, diam-diam Pwe-giok menghela nafas menyesal.

Baru sekarang Gin-hoa-nio tertawa cerah, katanya, “Tak tersangka-sangka watak anak ini sedemikian keras, tampaknya serupa aku waktu kecil...” mendadak ia berhenti bicara, biji matanya tampak berputar, mungkin teringat sesuatu olehnya, segera ia menyambung pula dengan tertawa, “Tapi jika anak ini serupa diriku waktu kecil, setelah kita makan nasinya, maka jangan harap lagi akan dapat pergi dari sini dengan hidup. Rasanya aku harus turun ke bawah untuk mengawasi dia.”

“Anak masih sekecil itu, masa kau takut diracuni olehnya?” ucap Pwe-giok dengan dahi berkernyit.

“Ketika aku lebih kecil dari pada dia, orang yang mati kuracuni sudah lebih dari 80 orang,” kata Gin-hoa-nio sambil menoleh dan tertawa genit.

“O, jadi dia tidak takut padamu, dan sekarang kau malah takut padanya?” ujar Pwe-giok dengan tertawa hambar.

Gin-hoa-nio melenggong, sungguh ia sendiri pun tidak tahu kenapa bisa timbul semacam perasaan jeri yang sulit dilukiskan terhadap anak perempuan yang kurus kecil ini. Padahal menghadapi sorot mata Kwe Pian-sian yang begitu lihai saja dia tak merasa takut sedikit pun, tapi ketika anak perempuan itu menatapnya, dalam hati terasa rada ngeri.

Sampai sekian lama ia melenggong, katanya kemudian dengan tersenyum, “Betapa pun kan tiada buruknya jika hati-hati, masa pesan orang tua ini kau lupakan?”

Pwe-giok menghela nafas, katanya, “Dari pada kau yang turun ke bawah, lebih baik aku saja turun.”

Di bawah loteng juga cuma terdiri dari satu ruangan, hampir setengah ruangan tertimbun kayu bakar dan sebagainya, hanya tersisa sebuah sudut yang sempit, di situ ada gentong air, rak mangkuk dan tungku.

Cu Lui-ji terlihat berjongkok di samping gentong dan sedang mencuci beras, sudah sekian kali ia membilas berasnya, tapi hanya satu biji gabah saja diambilnya dari beras cuciannya dan dikumpulkannya di samping.

Sesudah beras masuk kuali, lalu gabah yang dikumpulkannya tadi dibungkusnya dengan secarik kertas, kemudian dia membersihkan lantai sebersih-bersihnya.

Pwe-giok melihat ruangan seluas ini terawat dengan sangat resiknya, bahkan tungku yang setiap hari digunakan juga tiada bekas-bekas minyak setitik pun. Dapur ini ternyata jauh lebih bersih dari pada ruangan tamu orang lain.

Tangan yang kurus dan putih kecil itu setiap hari harus melakukan pekerjaan sebanyak dan seberat ini, tubuh yang kurus kecil ini masa mampu melaksanakan tugas sebanyak ini?

Tanpa terasa Pwe-giok menghela nafas pula, katanya kemudian, “Apakah setiap hari kau bersihkan ruangan ini sebersih ini?”

“Aku sudah terbiasa hidup serba bersih,” ucap Cu Lui-ji dengan tak acuh. “Karena itulah bila kulihat sesuatu yang kotor, aku lantas mual-mual. Sesungguhnya, jika tidak terpaksa, memangnya siapa yang mau berkumpul dengan orang-orang yang tidak bersih?!”

Mendadak ia berpaling dan menatap Pwe-giok serta bertanya, “Betul tidak?”

Tergerak hati Pwe-giok, jawabnya sambil menyengir, “Benar, siapa pun tidak nanti suka berada bersama orang yang tidak bersih.”

Mencorong sinar mata anak dara itu, ucapnya pula dengan suara perlahan, “Jika begitu... mengapa kau berada bersama orang yang tidak bersih?”

Seketika Pwe-giok langsung melenggong, sungguh dia tidak tahu cara bagaimana harus menjawabnya.

Sungguh aneh anak perempuan ini, kadang-kadang dia kelihatan begitu lemah dan harus dikasihani, namun ada kalanya dia berubah seperti orang dewasa yang sudah kenyang merasakan asam garamnya orang hidup.

Dalam pada itu Cu Lui-ji telah menggeser ke sana, dia berduduk di satu bangku kecil dan mulai mengipasi api tungku sambil berbicara, “Meski aku sangat jarang keluar, tapi di atas loteng kecil ini banyak sekali yang dapat kulihat. Bila mana kulihat hal-hal yang menarik lantas kuceritakan kepada Sacek, kalau tidak entah betapa kesepiannya dia.”

“Di... di atas loteng ini sering kau lihat hal-hal yang menarik?” Pwe-giok bertanya dengan keheranan.

“Ya, sering...!” jawab Cu Lui-ji.

Sejenak kemudian, mendadak dia berpaling pula dan berkata, “Satu hari, pernah kulihat seorang perempuan yang sangat cantik, dan dengan caranya yang sangat aneh dia telah membunuh sekian banyak orang. Coba apakah kau tahu siapa dia?”

“Ya, aku tahu ialah orang yang memukul kau tadi,” jawab Pwe-giok.

“Siapa yang memukulku tadi? Aku sudah lupa,” kata Cu Lui-ji dengan tersenyum hambar.

Mendadak Pwe-giok melihat muka si nona yang merah bengkak terpukul tadi kini sudah halus putih lagi, sama sekali tiada meninggalkan bekas setitik pun. Didengarnya Cu Lui-ji berkata pula,

“Bila orang memukulmu, kalau kau tidak mampu membalas, maka jalan paling baik adalah melupakan saja kejadian itu agar hatimu tidak sedih.”

“Tapi... tapi sesudah kau dipukul orang, apakah betul harus selang sekian lama barulah kau rasakan sakit?” tanya Pwe-giok.

Cu Lui-ji mencibir lantas tertawa, katanya, “Kalau sudah kena pukul kan mesti merasakan sakit, perihal cepat merasakan sakit atau pun terlambat merasakan sakit tidaklah menjadi soal. Sebab, makin cepat kau rasakan sakit, makin senang orang yang memukul kau itu. Kalau selang sekian lama baru kau merasakan sakitnya, maka orang lain pun tidak dapat bergembira lagi.” Ia merandek sebentar, kemudian menyambung pula, “Kalau aku sudah dipukul, kenapa aku mesti membikin orang bergembira pula?”

Kembali Pwe-giok melenggong. Anak sekecil ini ternyata penuh dengan pikiran-pikiran yang serba aneh, macam-macam jalan pikirannya yang aneh, sungguh sukar untuk diraba orang lain.

Pada saat itulah sekonyong-konyong di luar terdengar suara roda kereta dan ringkik kuda, menyusul kemudian ramai dengan suara orang, jelas suara-suara itu berkumandang dari rumah di seberang…..

********************

Halaman Li-keh-can memang sudah berjubel-jubel dengan orang, bahkan makin datang makin banyak. Meski Pwe-giok tidak dapat melihat jelas-jelas siapa mereka, tapi dia dapat memastikan mereka pasti tokoh-tokoh Kangouw.

“Untuk apa orang-orang ini datang ke sini? Apa mau melihat setan?” demikian Gin-hoa-nio menggerundel.

“Jika Bu-lim-bengcu sekarang sedang main catur dengan ketua keluarga Tong dari Sujwan yang termashur, siapa orang Kangouw yang tidak ingin menontonnya?” kata Kwe Pian-sian dengan tenang. “Cukup tiga hari saja berita ini tersiar, maka halaman hotel Li itu pasti akan jebol dibanjiri pengunjung.”

“Entah keparat siapa yang menyiarkan berita ini?” kata Gin-hoa-nio dengan gemas.

Sudah tentu tidak ada orang yang menjawab pertanyaannya, tapi Pwe-giok lantas paham persoalannya. Dengan sendirinya berita itu sengaja disiarkan oleh Ji Hong-ho sendiri.

Sang ‘Bu-lim-bengcu’ sengaja menyiarkan berita hangat ini supaya orang dunia persilatan menyaksikan dia lagi main catur dengan Tong Bu-siang. Maka anak murid keluarga Tong takkan curiga lagi akan hilangnya Tong Bu-siang secara mendadak.

Sedangkan orang lain menyaksikan Bu-lim-bengcu yang terhormat itu sedang main catur dengan ‘Tong Bu-siang’ maka biar pun Tong Bu-siang ini palsu, dengan sendirinya lantas berubah menjadi tulen.

Begitulah saat itu di halaman hotel sana sedang ramai orang memperbincangkan kejadian itu. Ada yang berkata. “Inikah Ji Hong-ho yang baru saja diangkat menjadi Bu-lim bengcu? Nyata memang hebat, pantas tokoh semacam Ang-lian Pangcu juga menyerah padanya.”

“Entah dapat tidak kita minta Bengcu keluar untuk berbicara sebentar!” kata seorang lagi.

Maka tertampaklah Lim Soh-koan muncul keluar, serunya dengan lantang, “Diharap para pengunjung suka tenang dan sabar, babak permainan catur ini tampaknya masih harus berlangsung tiga atau lima hari lagi, kukira lebih baik kalian mencari pondokan dulu, nanti bila Bengcu telah menyelesaikan permainan catur ini barulah beliau dapat leluasa bicara dengan kalian. Kalau kalian ada kesulitan apa-apa boleh juga nanti dikemukakan supaya Bengcu dapat membereskan urusan kalian.”

Seketika bergemalah sorak sorai orang banyak. Nyata ketua ‘Bu-kek-pay’ yang menjadi Bu-lim-bengcu ini sangat dihormati dan disegani orang Kangouw. Tetapi hal ini membuat perasaan Pwe-giok bertambah tertekan.

Terlihat Lim Soh-koan masuk ke dalam rumah, di halaman hotel lantas ramai lagi orang berbicara. “Apakah ia ini Leng-hoa-kiam Lim Soh-koan yang tersohor di utara dan selatan Tiangkang? Konon dia memiliki seorang puteri kesayangan dan terkenal sebagai wanita tercantik di dunia Kangouw.”

“Ya, tapi sayang sejak dahulu kala hingga kini orang cantik kebanyakan pendek umur dan bernasib buruk. Nona Lim ini mestinya sudah bertunangan dengan putera Bengcu kita, siapa tahu, belum lagi pernikahan berlangsung, lebih dulu Ji-kongcu sudah tewas di Sat-jin-ceng.”

“Siapa yang membunuhnya, masa Bengcu tidak menuntut balas bagi kematian anaknya?”

“Khabarnya Ji-kongcu ini rada-rada tidak beres otaknya. Sudah lama Bengcu putus asa terhadap putera satu-satunya itu. Sekali pun nona Lim jadi menikah dengan dia juga harus disayangkan.”

Demikianlah berisik orang ramai itu membicarakan hal ikhwal Lim Tay-ih dan Ji Pwe-giok. Seketika Pwe-giok sendiri jadi terkesima. Butiran keringat tampak menghias dahinya.

Tiba-tiba Gin-hoa-nio menutup daun jendela, katanya dengan nada menyesal, “Coba, kau dengar tidak? Jelas mereka masih akan tinggal di sini, maka entah berapa lama lagi kita harus menunggu.”

“Kau tidak perlu menunggu lagi,” mendadak Pwe-giok berbangkit.

Gin-hoa-nio berkejut, “Kau... kau akan...”

“Ada sementara urusan, semakin kau hindari, semakin main sembunyi-sembunyi, orang pun semakin mencurigai kau. Akan jauh lebih baik apa bila kita hadapi saja secara terang-terangan... Lambat laun hal ini sudah mulai kupahami.”

Ucapan Pwe-giok ini entah ditujukan kepada orang lain atau bicara kepada dirinya sendiri.

Tapi Gin-hoa-nio lantas tertawa, katanya,” Apa yang kau maksudkan, sungguh aku tidak mengerti!”

Tapi sebelum habis perkataan Gin-hoa-nio, Pwe-giok terus turun ke bawah, ia membuka pintu dan keluar.

Cepat Gin-hoa-nio menyingkap daun jendela sedikit. Selang sejenak kemudian, benarlah dilihatnya Pwe-giok telah masuk ke halaman rumah sana, dia menyisihkan orang-orang yang berkerumun itu dan langsung masuk ke dalam.

“Dia mempunyai sahabat seperti diriku, dengan sendirinya nyalinya berubah besar,” kata Kwe Pian-sian dengan tersenyum.

Gin-hoa-nio menghela napas, ucapnya dengan suara perlahan, “Sebelum dia bersahabat dengan kau, dia pun sudah bernyali besar, lahiriah orang ini tampak lemah lembut seperti kucing, padahal dia terlebih menakutkan dari pada harimau…..”

********************

Ketika Pwe-giok masuk ke halaman rumah sana, serentak berpuluh pasang mata segera memandangnya dengan terpesona. Maklum, jejaka setampan ini, biar pun lelaki juga ingin memandangnya beberapa kejap.

Akan tetapi pandangan Pwe-giok tidak terarah kepada siapa pun, dengan tersenyum dia menyisihkan kerumunan orang banyak dan langsung masuk ke ruangan dalam.

Serentak para penonton pertandingan catur sama menoleh dengan melengak, Lim Soh-koan berkerut kening dan menegur, “Siapakah Anda? Bengcu sedang...”

“Cahye Ji Pwe-giok!” jawab Pwe-giok sebelum lanjut ucapan orang.

Mendengar nama ‘Ji Pwe-giok’ seketika wajah Lim soh-koan berubah pucat pasi. Di luar sayup-sayup juga terjadi kegemparan.

Semula ‘Ji Hong-ho’ dan Tong Bu-siang tengah memusatkan perhatian pada papan catur, kini tanpa terasa mereka pun berpaling dengan terkejut, Pwe-giok hanya dipandangnya sekejap saja. Namun hal ini pun sudah cukup bagi Pwe-giok untuk memastikan bahwa Ji Hong-ho ini tak mengenal wajah aslinya. ‘Tong Bu-siang’ itu juga pasti tak mengenalnya, berdasarkan ini dia yakin Tong Bu-siang ini pasti palsu.

Sinar mata ‘Ji Hong-ho’ tampak gemerdep, dengan tersenyum dia berucap, “Namamu Ji Pwe-giok? Sungguh tidak nyana nama Anda sama dengan nama puteraku yang sudah almarhum, sungguh sangat kebetulan.”

Berhadapan dengan orang ini, benar-benar hati Pwe-giok seolah-olah tertusuk-tusuk dan berdarah. Tapi lahirnya dia tetap tenang-tenang saja, dia malah tersenyum dan menjawab, “Aha, sungguh beruntung dan bahagia bahwa aku dapat bernama dengan putera Anda.”

“Entah ada keperluan apakah kedatangan Anda ini?” Tanya Ji Hong-ho dengan mengulum senyum.

“Aku ingin kembali ke sini untuk mengambil sesuatu barang,” jawab Pwe-giok.

“Oo, masa di sini terdapat barangmu?” ujar Ji Hong-ho dengan tertawa.

“Ya. Sebab beberapa hari yang lalu aku pernah mondok di sini dan tanpa sengaja sedikit barangku ketinggalan di sini,” kata Pwe-giok pula.

Tampaknya Ji Hong-ho amat tertarik oleh cerita Pwe-giok itu, dengan tertawa ia berkata, “Di dalam hotel sudah tentu banyak tamu yang pergi datang, semoga barang Anda masih terdapat di sini.”

Pwe-giok menatapnya dengan tenang, sejenak kemudian barulah dia berkata, “Barangku yang ketinggalan ini terletak di tempat yang tidak menyolok, asalkan Bengcu mengizinkan, segera ku...”

“Asalkan barangnya masih ada, silakan Anda mengambilnya,” jawab Ji Hong-ho dengan tertawa.

“Jika demikian, maafkan kalau aku berlaku sembrono,” ujar Pwe-giok.

Tiba-tiba saja tubuhnya mengapung lurus ke atas, ia melayang ke atas belandar, seluruh tubuh kaki mau pun tangan sama sekali tidak memperlihatkan bergerak, bahkan dengkul juga tidak nampak tertekuk sedikit pun, tapi tahu-tahu tubuhnya terapung ke atas.

Inilah ‘Kan-te-poat-jong’ atau membedol bawang di tanah tandus, semacam ginkang yang paling sukar dilatih.

Hendaklah maklum, di dunia persilatan terdapat macam-macam perguruan, cara berlatih ginkang setiap perguruan itu pun berbeda-beda dan mempunyai cara-cara khas sendiri. Tapi bila mencapai gaya semacam ‘Kan-te-poat-jong’ ini, maka dapat dikatakan ginkang-nya sudah mencapai puncaknya yang paling sempurna.

Anak murid Bu-tong-pay misalnya, bila sudah mencapai tingkatan ‘Kan-te-poat-jong’ ini, maka gerak dan gayanya akan sama seperti ini, begitu pula aliran lain, biar pun Siau-lim pay Go-bi-pay atau Tiam-jong-pay, kalau sudah menguasai ginkang hingga tarap Kan-te-poat-jong, maka gayanya juga sama, tiada beda sedikit pun.

Sebabnya Pwe-giok menggunakan gaya ginkang tertinggi ini, maksud tujuannya adalah agar orang lain tidak dapat mengenali asal-usul ilmu silatnya. Malahan supaya orang lain menganggap dia sengaja hendak pamer ginkang-nya yang hebat.

Ji Hong-ho lantas berkeplok dan tertawa, katanya, “Wah, ginkang yang jempol!”

Kalau sang Bengcu sudah berkata demikian, dengan sendirinya orang yang berkerumun di halaman hotel itu sama bersorak memuji. Hanya Gin-hoa-nio saja yang berada di loteng kecil itu tidak memperhatikan gerakan apa yang dilakukan Pwe-giok. Sebab yang buru-buru ingin diketahuinya hanyalah harta karunnya yang disembunyikan itu, apakah dapat ditemukan kembali atau tidak.

Waktu dilihatnya Pwe-giok melompat turun dan tangannya benar-benar sudah memegang sebuah bungkusan kain hitam yang sangat besar dan berat, maka bergiranglah Gin-hoa-nio, hampir saja ia bersorak gembira.

“Masih ada barangnya?” dengan tersenyum Kwe Pian-sian bertanya

“Tentu saja ada,” ucap Gin-hoa-nio sambil tertawa bangga. “Kan sudah kukatakan, barang simpananku tidak nanti dapat ditemukan orang lain.”

Kwe Pian-sian tertawa, katanya, “Hebat sekali Ji Pwe-giok, bukan saja tabah, bahkan juga punya otak. Ia berani mengambil bungkusanmu secara terang-terangan disaksikan orang sebanyak itu. Dalam keadaan demikian, andai kata Ji Hong-ho mengincar barangmu juga tidak akan leluasa untuk turun tangan.”

“Aha, sekarang dia telah hampir keluar... Wah, celaka...” sudah tertawa girang mendadak Gin-hoa-nio mengeluh pula, air mukanya yang bergembira itu pun seketika lenyap.

Sambil berkerut kening Kwe Pian-sian bertanya, “Ada apa? Masa Ji Hong-ho tidak mau melepaskan dia pergi?”

Mata Gin-hoa-nio kelihatan melotot, ucapnya dengan suara parau, “Sialan! Agaknya rase tua itu (maksudnya Ji Hong-ho yang licin) tidak enak untuk main kekerasan, dia hanya menyatakan ingin bersahabat dengan Ji Pwe-giok dan berkeras minta Ji Pwe-giok tinggal saja di situ.”

“Dan bagaimana sikap Ji Pwe-giok?” tanya Kwe Pian-sian.

“Tampaknya dia dapat menahan perasaannya. Dia malah tertawa... Nah, sekarang dia sedang bicara, katanya sehabis Ji Hong-ho selesai main catur tentu dia akan datang lagi untuk mohon petunjuk.”

“Kau dengar apa yang dibicarakannya?” tanya Kwe Pian-sian.

“Berisik sekali di pekarangan sana, mana dapat kudengar ucapannya? Hanya dari gerak bibirnya bisa kuterka sebagian besar apa yang diucapkannya”

Kwe Pian-sian tertawa, katanya, “Wah, banyak juga kepandaianmu...”

Mendadak Gin-hoa-nio berseru tertahan, “Wah, celaka! Rase tua itu mendadak mengaduk biji caturnya, bahkan dia menyatakan kalau bisa berada bersama dan mengobrol dengan ksatria muda seperti Ji Pwe-giok, biar pun tidak main catur juga tak menjadi soal baginya.”

“Wah, kalau begitu, kalau Ji Pwe-giok tidak ngotot dan main kekerasan, tampaknya tidak mudah baginya untuk keluar,” kata Kwe Pian-sian sambil berkerut kening.

Gin-hoa-nio tampak cemas juga, katanya, “Dalam keadaan begini, mana bisa dia bersikap keras? Tampaknya dia juga rada gugup...”

Baru bicara sampai di sini, mendadak terdengar seorang berseru lantang di halaman sana dengan tertawa, “Ha-ha-ha, permainan catur yang menarik ini sukar dicari bandingannya, kalau Bengcu tinggalkan setengah jalan bukankah para penggemar catur seperti kami ini akan sangat kecewa?”

“He, siapa orang itu?” seru Kwe Pian-sian.

Wajah Gin-hoa-nio menampilkan rasa girang, katanya pula, “Ahh, orang ini ternyata dapat mengembalikan biji catur pada papannya seperti keadaan sebelum diaduk, bahkan satu biji saya tidak keliru... Wah, nampaknya dia memang hebat...”

Belum habis ucapannya, serentak Kwe Pian-sian melompat mendekatnya kemudian ikut mengintai!

Terlihat di seberang sana, di dalam ruangan sudah bertambah dengan seorang pengemis muda berbaju berwarna merah tua, kelihatan baru, tapi penuh tambalan. Kiranya dia inilah Ang-lian Pangcu yang termashur.

Terlihat Ji Hong-ho sedang tertawa dan berkata, “Tak tersangka ternyata Ang-lian Pangcu juga penggemar catur, tampaknya terpaksa harus kulanjutkan permainan ini”

Kwe Pian-sian hanya memandang sekejap saja ke sana dan segera menutup rapat-rapat daun jendela, keringat dingin pun berketes-ketes.

Gin-hoa-nio memandangnya sekejap, lalu katanya sambil tertawa genit, ”He, kenapa kau sangat takut padanya?”

Kwe Pian-sian mundur kembali ke tempat duduknya tadi, mana dia mampu bersuara lagi.

Gin-hoa-nio bergumam, “Benar-benar aneh, apakah Ang-lian-hoa memang sengaja datang untuk membantu Ji Pwe-giok? Jika benar kawan baik Ji Pwe-giok, mengapa dia diam saja ketika melihat Ji Pwe-giok dilukai oleh Lm Tay-ih...”

Dalam pada itu terdengarlah suara terbukanya pintu di bawah, serentak Kwe Pian-sian melonjak bangun. Dia menghela napas lega ketika dilihatnya yang naik ke atas adalah Ji Pwe-giok. Cepat dia bertanya dengan suara parau,

”Apakah Ang-lian-hoa melihat kau masuk ke sini?”

“Untuk apa dia memperhatikan diriku?” jawab Pwe-giok dengan perlahan.

“Masa dia tidak kenal kau?” tanya Kwe Pian-sian

“Tidak kenal,” jawab Pwe-giok sambil menghela napas menyesal.

Tentu saja dia sangat menyesal. Baru saja dia berhadapan dengan sahabat baiknya, tapi tidak berani menegur sapa, bahkan harus mengeluyur pergi secara diam-diam. Saat ini hatinya justru terasa sangat pedih.

Meski dia kembali dengan menyesal, tetapi kepergiannya tadi bukannya sama sekali tidak membawa hasil. Betapa pun dia dapat mengetahui bahwa ‘Tong Bu-siang’ yang sedang bermain catur itu adalah palsu. Maka diharapkannya semoga Tong Bu-siang yang asli itu belum lagi terbunuh.

Sementara itu Gin-hoa-nio sudah lantas mengambil bungkusan hitam yang dibawa pulang Pwe-giok itu lantas berkata, “Tempat ini tidak boleh ditinggali lama-lama, sesudah barang ini ditemukan, hayo lekas kita berangkat”

“Sebelum Ang-lian-hoa pergi, betapa pun kita juga tidak dapat pergi,” kata Kwe Pian-sian sambil menarik muka.

Gin-hoa-nio tertawa genit, katanya, “Kau takut dipergoki dia, tapi aku kan tak perlu takut. Kalau aku berkeras harus pergi, lalu bagaimana?”

“Kau takkan pergi,” ucap Kwe Pian-sian sekata demi sekata.

Gin-hoa-nio mengerling, tertawa tambah manis, katanya, “Betul, tentu saja aku tidak akan pergi. Kalau kau masih tinggal di sini, mana dapat aku tinggal pergi?”

Ia masih memegangi bungkusan hitam yang dibawa pulang Pwe-giok tadi. Ia menoleh ke sana dan ke sini mirip orang udik yang kuatir kecopetan, sungguh kalau bisa ia ingin telan bulat-bulat bungkusan itu, dengan demikian barulah aman rasanya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner